Anda di halaman 1dari 2

DIAGNOSA

Apendisitis
AwAS pecAh!
Umumnya, si penderita akan merasakan sakit perut yang terfokus di bagian kanan bawah.
ApendiSitiS AdAlAh rAdAng pAdA orgAn ApendikS (USUS BUntU) yang disebabkan adanya bendungan pada lumennya (saluran) karena terjadi pembesaran kelenjar limphoid pada sub mukosa apendiks. hal ini dapat dipicu oleh seringnya terjadi infeksi saluran napas atas atau diare yang berulang. gejala pertama yang umum ditemukan adalah perasaan sakit pada ulu hati atau episgastrium disertai mual dan muntah. dua puluh empat jam kemudian, pasien akan merasakan demam yang dilanjutkan pada rasa sakit perut kanan bawah yang menetap. gejala ini akan berakhir pada rasa sakit di daerah perut kanan bawah pasien jika yang bersangkutan menginjakkan kaki kanan ke tanah atau melipat tungkainya. gejala-gejala tersebut termasuk ciri yang menandakan adanya kemungkinan pasien menderita apendisitis akut. pada apendisitis kronis, umumnya pasien hanya merasakan gejala nyeri perut kanan bawah yang ringan. Bahkan, pada beberapa kasus pasien hanya merasakan mual. Apendisitis akut awal yang berhasil membaik dengan terapi obat-obatan dapat menjadi apendisitis kronis. Apendisitis akut merupakan keadaan yang berbahaya karena dapat menyebabkan apendiks pecah (perforasi). Untuk dapat menegakkan diagnosa apendisitis, dibutuhkan pemeriksaan yang komplet; dilakukan anamnesa mengenai lama sakitnya dan keluhan lainnya seperti gejala yang telah disebutkan di atas. Setelah itu, akan dilakukan pemeriksaan fisik dan dilihat apakah ada nyeri tekan pada kanan bawah atau ada nyeri ketok pada dinding perut.

Gambar Usus Buntu dilihat dengan Laparoskopi

DIAGNOSA

apendisitis akut, Apabila anamnesis perlu sesegera dan pemeriksaan fisik menunjukkan mungkin hal yang posidilakukan operasi, tif atau sesuai, mengingat adanya maka hal tersebut kemungkinan tidak berarti bahwa pecahnya pasien menderita apendisitis. Ada apendiks. beberapa pemeriksaan penunjang yang masih harus dilakukan, seperti pemeriksaan darah dan pemeriksaan urin (urinalisa). pemerikapendiks tidak dapat tergambar saan urin diperlukan untuk menalias filling defect, kemungkinan getahui apakah terdapat leukosit pasien menderita apendisitis tinggi atau apakah terdapat sel kronis. dengan pemeriksaan darah merah atau kristal pada yang lengkap dan anamnesis urin. pasien dengan tersangka yang komplet, penyakit-penyakit kencing batu atau infeksi saluran yang juga mungkin terjadi pada kemih menunjukkan sel darah perut sebelah kanan bawah pun merah atau kristal pada urin. dapat disingkirkan. pemeriksaan lain yang terpenting Untuk keadaan apendisitis akut, adalah ultrasonografi. pemerikperlu sesegera mungkin dilakusaan ini dapat melihat apendiks kan operasi, mengingat adanya yang terinfeksi dengan gambaran kemungkinan pecahnya apenapendiks yang menjadi besar atau diks. Sedangkan pada keadaan mengandung cairan nanah pada apendiks kronis, waktu operasi rongga perut. Apabila pasien yang masih dapat ditunda tergantung diperiksa berjenis kelamin wanita, dari keadaan pasien. maka dengan pemeriksaan ultrasonografi ini juga dapat dilihat Sebelum 1992, semua operasi kelainan pada genitalia interna, apendiks dilakukan dengan seperti hamil, adanya kista, hamil melakukan pembedahan insisi di luar kandungan, dan pecahnya pada perut sebelah kanan yang kista endometrium yang memiliki terkecil insisinya (kurang kebih nyeri yang serupa 3,5 cm atau lebih). pada operasi ini, rata-rata lama perawatan meApabila apendiksnya sudah termakan waktu hampir enam hari. jadi lama, maka perlu dilakukan Setelah berkembangnya operasi pemeriksaan Apendikogram. laparoskopi di indonesia, operasi pasien akan diminta minum cairapendiks hanya memerlukan an seperti susu yang merupakan insisi yang kecil (0,5 cm 2 buah zat kontras. Selama 24 jam kemudam 1,2 cm pada umbilikal atau dian, akan dilakukan pemotretan pusar) guna mengakses rongga dengan alat rontgen konvensional. perut (abdomen). Apabila dengan pemeriksaan ini

Untuk keadaan

2
Keterangan: 1. Letak usus buntu 2. USG Abdomen yang menunjukkan Appendisitis (Donut sign)

pada operasi konvensional (insisi lebih dari 3,5 cm), diperlukan lama rawat yang lebih panjang. Selain itu, operasi jenis ini juga masih memerlukan antibiotik dan obat pengurang rasa sakit (analgetik) yang lebih banyak. hal ini pun belum termasuk masa penyembuhan dan kemudahan mobilisasi pada usia yang produktif yang mesti diperhitungkan. Atas alasan itu, cara konvensional seperti ini semakin lama semakin ditingalkan, dan umumnya orang mulai beralih kepada laparoskopi. Meski begitu, operasi laparoskopi memang lebih mahal karena sifat alat-alatnya ada yang hanya sekali pakai.

dr. A. Sigit Tjahyono, Sp.B, Sp.BTKV(K) Dokter Spesialis Bedah Umum RS Puri Indah