Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

  • 1.1 Maksud

    • 1.1.1 Memisahkan fraksi butiran sedimen pada ukuran (diameter) butir tertentu.

    • 1.1.2 Menentukan nilai koefisien sortasi, skewness dan kurtosi baik secara grafis maupun matematis.

    • 1.1.3 Menginterpretasikan lokasi pengendapan dan setting geologi berdasarkan nilai koefisien sortasi, skewness dan kurtosis.

  • 1.2 Tujuan

    • 1.2.1 Dapat memisahkan fraksi butiran sedimen pada ukuran (diameter) butir tertentu.

    • 1.2.2 Dapat menghitung dan menentukan nilai median diameter, koefisien sortasi, skewness dan kurtosis baik secara grafis maupun matematis.

    • 1.2.3 Dapat menginterpretasikan lokasi pengendapan dan setting geologi

  • berdasarkan nilai koefisien sortasi, skewness dan kurtosis.

    BAB II PENGOLAHAN DATA

    2.1 Bagian Hulu

    2.1.1 Metode Grafis

     

    Ukuran

    Diameter

    Diameter

    Mid

    frekuensi

    %

    %

    No.

    Butir

    (mm)

    phi

    Point (m)

    (gr)

    frekuensi

    kumulatif

       

    0.0039

    8

           
     
    • 1 Lanau

       

    0.0507

    30

    3

    3

       

    0.0625

    4

           
     
    • 2 Pasir Sangat

    Halus

       

    0.09375

    71

    7.1

    10.1

       

    0.125

    3

           
     
    • 3 Pasir Halus

       

    0.1875

    93

    9.3

    19.4

       

    0.25

    2

           
     
    • 4 Pasir Sedang

       

    0.375

     
    • 173 17.3

    36.7

       

    0.5

    1

           
     
    • 5 Pasir Kasar

       

    0.75

     
    • 355 35.5

    72.2

       

    1

    0

           
     
    • 6 Pasir Sangat

    Kasar

       

    1.5

     
    • 232 23.2

    95.4

       

    2

    -1

           
     
    • 7 Kerikil

       

    3

    46

    4.6

    100

       

    4

    -2

           

    Harga So menurut Folk dan Ward (1957):

    • d 0.063 mm

    =

     

    log 0.063

    Ф 5

    =

    =

    3.989

    • d 0.15 mm

    =

    Ф 16

    log 2 log 0.15

    =

    log 2

    =

    2.737

    d

    Ф 25

    d

    Ф 50

    =

    0.262 mm

    log 0.262

    =

     

    log 2

    =

    1.932

    =

    0.457 mm

    log 0.457

    =

     

    log 2

    =

    1.129

    d

    =

    0.79 mm

    Ф 75

    =

    =

    0.340

     

    Sortasi (So):

    So

    =

     

    4

     

    =

     

    4

    log 2

    d

    Ф 84

    =

    1 mm

    log 1

    =

     

    log 2

    =

    0

    =

    1.5 mm

    log 1.5

    =

     

    log 2

    =

    -0.584

    log 0.79

    d

    Ф 95

    Harga So, SK, dan K menurut Folk dan Ward (1957):

    84 16 + 95 5

    6.6

    +

    0 – 2.737
    0 – 2.737

    (-0.584) 3.898

    6.6

    (-0.684) + 0.693 0.009 (very well sorted) Skewness (Sk):

    =

    =

    Sk

    =

    16

    84

    50

    2

    84

    2(

    16)

    +

    5

     

    (

    95

    95

    50

    2

    5)

    =

    2.737 + 0 2 (1.129) 2(0 2.737)

    0.249 (fine skewed) Kurtosis (K):

    =

    +

    (-0.584) 3.989 2 (1.129) -0.584 3.989

    K

     

    95

    5

    =

    2.44(

    75

    25)

    =

     

    (-0.584) 3.989

     

    2.44 (-0.34- 1.932)

    =

    1.177 (lepto kurtic)

     

    2.1.2 Perhitungan Metode Matematis

     

    Sortasi

     

    So =

     f .( m  x ) 2 100
     f
    .(
    m  x
    ) 2
    100

    Skewness

     

    Sk

     

    f

    .(

    mx

    )

    3

    =

    100.

    So

    3

    Kurtosis

     

    K

     

    f

    .(

    mx

    )

    4

    =

    100.

    So

    4

    =

    Harga So, SK, dan K menurut Folk dan Ward (1957):

    233.6931 = = 1.528 (poorly sorted) 100 425.9347 = 100.3.5675 = 1.193 (strongly fine skewed)
    233.6931
    =
    = 1.528 (poorly sorted)
    100
    425.9347
    =
    100.3.5675
    = 1.193 (strongly fine skewed)
    • 2637.469 = 4.838 (Extremly Lepto Kurtic)

    100.5.4511

    2.2 Bagian Hilir

    2.2.1 Metode Grafis

       

    Diameter

    Diameter

    Mid

    frekuensi

    %

    %

    No.

    Ukuran Butir

    (mm)

    phi

    Point (m)

    (gr)

    frekuensi

    kumulatif

       

    0.0039

    8

           
     
    • 1 Lanau

       

    0.0507

    62

    6.2

    6.2

       

    0.0625

    4

           
     
    • 2 Pasir Sangat

    Halus

       

    0.09375

     
    • 189 18.9

    25.1

       

    0.125

    3

           
     
    • 3 Pasir Halus

       

    0.1875

     
    • 287 28.7

    53.8

       

    0.25

    2

           
     
    • 4 Pasir Sedang

       

    0.375

     
    • 196 19.6

    73.4

       

    0.5

    1

           
     
    • 5 Pasir Kasar

       

    0.75

     
    • 178 17.8

    91.2

       

    1

    0

           
     
    • 6 Pasir Sangat

    Kasar

       

    1.5

     
    • 32 3.2

    94.4

       

    2

    -1

           
     
    • 7 Kerikil

       

    3

     
    • 56 5.6

    100

       

    4

    -2

           

    Harga So menurut Folk dan Ward (1957):

    d

    Ф 5

    d

    Ф 16

    d

    Ф 25

    =

    0.05 mm

    log 0.05

    =

    =

    log 2

    4.32

    0.073 mm

    =

    =

    log 0.073

    log 2

    =

    3.78

    =

    0.093 mm

    log 0.093

    =

     

    log 2

    =

    3.43

    d

    Ф 50

    d

    Ф 75

    =

    0.167 mm

    log 0.167

    =

    =

    log 2

    2.58

    0.385 mm

    =

    =

    log 0.385

    log 2

    =

    1.37

    d

    =

    0.53 mm

    Ф 84

    =

    log 0.53

    log 2

    =

    0.92

    • d =

    1.5 mm

    Ф 95

    =

    log 1.5

    log 2

    = -0.584

    Harga So, SK, dan K menurut Folk dan Ward (1957):

    Sortasi (So):

    So

    =

    84 16 + 95 5

    4

    6.6

    =

    0.92 – 3.78 4
    0.92 – 3.78
    4

    +

    (-0.584) 4.32

    6.6

    (-0.715) + 0.742 1.457 (very well sorted) Skewness (Sk):

    =

    =

    Sk

    =

    16

    84

    50

    2

    84

    2(

    16)

    +

    5

     

    (

    95

    95

    50

    2

    5)

    =

    • 0.92 + 3.78 2 (2.58) 2(0.92 3.78)

    -0.299 (coarse skewed) Kurtosis (K):

    =

    +

    (-0.584) 4.32 2 (2.58)

    -0.584 4.32

    K

     

    95

    5

    =

    2.44(

    75

    25)

    =

     

    (-0.584) 4.32

     
    • 2.44 (1.37- 3.43)

     

    =

    0.97 (meso kurtic)

     

    2.2.2 Perhitungan Metode Matematis

     

    Sortasi

     

    So =

     f m  x .( ) 2 100
     f m  x
    .(
    ) 2
    100

    Skewness

     

    Sk

     

    f mx

    .(

    )

    3

    =

    100.

    So

    3

    Kurtosis

    K

     

    f mx

    .(

    )

    4

    =

    100.

    So

    4

    =

    Harga So, SK, dan K menurut Folk dan Ward (1957):

    282 .3344 = = 1.680 (poorly sorted) 100 82.74796 = 100.4.742 = 0.1745 ( fine skewed)
    282 .3344
    =
    = 1.680 (poorly sorted)
    100
    82.74796
    =
    100.4.742
    = 0.1745 ( fine skewed)

    2728.15

    • 100.7.966 = 3.424 (Extremly Lepto Kurtic)

    BAB III PEMBAHASAN

    Granulometri adalah suatu analisa ukuran butir pada batuan sedimen silisiklastik. Dalam granulometri ini lebih mengutamakan bagaimana sebaran butiran batuan sedimen klastik tersebut. Dalam analisis pemisahan ukuran butir ini digunakan dua cara yaitu dengan cara grafis dan cara matematis.

    3.1 Analisis Granulometri Bagian Hulu (Cara Grafis dan Cara Matematis)

    Dari hasil perhitungan dengan cara grafis dan matematis ini, didapat nilai dari parameter granulometri yaitu tampak ada perbedaan yang cukup terlihat antara hasil perhitungan menggunakan cara grafis dengan cara matematis. Nilai koefisien sortasi dengan cara grafis menunjukkan klasifikasi very well sorted yang berarti proses sortasi didaerah hulu berjalan dengan baik yang berarti menunjukkan tingkat keseragaman butir yang sangat baik dengan keadaan tersebut bahwa arus yang terjadi di daerah hulu cukup tenang. Nilai skewness untuk perhitungan cara grafis didapat hasil fine skewed. Dilihat dari diagram batang dibawah ini menandakan bahwa nilai skewednya berharga negatif dimana jumlah butir yang kasar lebih banyak dibanding dengan jumlah butir yang halus. Tetapi hal ini berkebalikan dengan kurva skewed bahwa apabila butiran kasar lebih dominan dibanding dengan butir halus berarti menunjukan harga yang positif.

    15 kerikil pasir sangat kasar pasir kasar pasir sedang pasir halus pasir sangat halus lanau 10
    15
    kerikil
    pasir sangat kasar
    pasir kasar
    pasir sedang
    pasir halus
    pasir sangat halus
    lanau
    10
    5
    20
    25
    30
    35
    40
    ukuran butir
    0

    Gambar 3.1 Diagram batang bagian hulu

    Kemudian parameter yang terakhir yakni kurtosis, untuk perhitungan cara grafis didapat hasil lepto kurtic menandakan pesebaran ukuran butir tidak merata.

    Sedangkan, berdasarkan perhitungan matematis didapat hasil poorly sorted yang berarti proses sortasi berjalan buruk yang mengindikasikan bahwa ukuran butir tidak seragam dengan keadaan tersebut bahwa arus yang terjadi di daerah hulu deras. Dengan perhitungan cara matematis didapat hasil strongly fine skewed. Hal tersebut menandakan bahwa harga skewednya positif berarti jumlah butiran halus lebih banyak disbanding jumlah butiran kasar. Hasil tersebut hampir sama, berarti didapat hasil butir halus yang lebih banyak dari butir kasar. Kemudian dengan cara matematis didapat hasil extremely lepto kurtic. Dalam klasifikasi, hasil ini juga terlihat berbeda.

    Dilihat dari cara matematisnya, hasil pengolahan data yang dilakukan menggunakan interval nilai untuk mendapatkan nilai mid point dan frekuensi yang dapat dijadikan patokan dalam penentuan nilai (mØ).f, (mØ x), dan (mØ x ).f dan seterusnya dengan menghitung pangkat dari nilai (mØ x ).f dengan pangkat 2, 3, dan 4. Dari cara matematis ini juga dapat dicari mean, standart deviasi, nilai skewness (Sk), dan nilai kuortosis (K).Dari data data yang ada dibuatlah histogram dengan hubungan %

    berat dan phi (Φ). Φ merupakan satuan skala dari nomor mesh / diameter dari penyaring.

    berat dan phi ( Φ). Φ merupakan satuan skala dari nomor mesh / diameter dari penyaring.

    Gambar 3.2 Tabel hjulstrom hulu

    Secara matematis pada bagian hulu jika dilihat dari tabel hjulstrom termasuk kedalam daerah terdeposisi dimana nilai sortasi secara matematis sebesar 0.75 dilihat dari jumlah frekuensi terbesar yaitu berupa pasir sangat kasar yang memakai mid point dari frekuensi. Hal tersebut dapat diketahui pada daerah hulu ini memilki kecepatan aliran sungai sebesar 8 cm/s.

    berat dan phi ( Φ). Φ merupakan satuan skala dari nomor mesh / diameter dari penyaring.

    Gambar 3.3 Rezim aliran (Simon dkk,,1965)

    Dengan memakai tabel rezim aliran pada daerah hulu ini dapat dilihat struktur sedimennya berupa ripples (Simon dkk,,1965). Dengan struktur sedimen berupa ripples menandakan lingkungan pengendapannya dibantu dengan energi gelombang.

    3.2 Analisis Granulometri Bagian Hilir (Cara Grafis dan Cara Matematis)

    Dari hasil perhitungan dengan cara grafis dan matematis ini, didapat nilai dari parameter granulometri yaitu tampak ada perbedaan yang cukup terlihat antara hasil perhitungan menggunakan cara grafis dengan cara matematis. Nilai koefisien sortasi dengan cara grafis menunjukkan klasifikasi very well sorted yang berarti proses sortasi didaerah hulu berjalan dengan baik yang berarti menunjukkan tingkat keseragaman butir yang sangat baik dengan keadaan tersebut bahwa arus yang terjadi di daerah hulu cukup tenang. Nilai skewness untuk perhitungan cara grafis didapat hasil coarse skewed. Dilihat dari diagram batang dibawah ini menandakan bahwa nilai skewednya berharga positif dimana jumlah butir yang halus lebih banyak dibanding dengan jumlah butir yang kasar. Tetapi hal ini berkebalikan dengan kurva skewed bahwa apabila butiran halus lebih dominan dibanding dengan butir kasar berarti menunjukan harga yang negatif.

    5 0 19.6 Klasifikasi Butir 30 25 20 15 10 lanau pasir sangat halus pasir halus
    5
    0
    19.6
    Klasifikasi Butir
    30
    25
    20
    15
    10
    lanau
    pasir sangat halus
    pasir halus
    pasir sedang
    pasir kasar
    pasir sangat kasar
    kerikil

    Gambar 3.4 Diagram batang bagian hilir

    Kemudian parameter yang terakhir yakni kurtosis, untuk perhitungan cara grafis didapat hasil meso kurtic menandakan pesebaran ukuran butir merata (normal). Sedangkan, berdasarkan perhitungan matematis didapat hasil poorly sorted yang berarti proses sortasi berjalan buruk yang mengindikasikan bahwa ukuran butir tidak seragam dengan keadaan tersebut bahwa arus yang terjadi di daerah hulu deras. Dengan perhitungan cara matematis didapat hasil fine skewed. Hal tersebut menandakan bahwa harga skewednya positif berarti jumlah butiran halus lebih banyak disbanding jumlah butiran kasar. Hasil tersebut hampir sama, berarti didapat hasil butir halus yang lebih banyak dari butir kasar. Kemudian dengan cara matematis didapat hasil extremely lepto kurtic menandakan pesebaran ukuran butir sangat tidak merata. Dalam klasifikasi, hasil ini juga terlihat berbeda. Dilihat dari cara matematisnya, hasil pengolahan data yang dilakukan menggunakan interval nilai untuk mendapatkan nilai mid point dan frekuensi yang dapat dijadikan patokan dalam penentuan nilai (mØ).f, (mØ x), dan (mØ x ).f dan seterusnya dengan menghitung pangkat dari nilai (mØ x ).f dengan pangkat 2, 3, dan 4. Dari cara matematis ini juga dapat dicari mean, standart deviasi, nilai skewness (Sk), dan nilai kuortosis (K).Dari data data yang ada dibuatlah histogram dengan hubungan % berat dan phi (Φ). Φ merupakan satuan skala dari nomor mesh / diameter dari penyaring.

    Kemudian parameter yang terakhir yakni kurtosis, untuk perhitungan cara grafis didapat hasil meso kurtic menandakan pesebaran

    Gambar 3.5 Tabel hjulstrom hilir

    Secara matematis pada bagian hilir jika dilihat dari tabel hjulstrom termasuk kedalam daerah terdeposisi dimana nilai sortasi secara matematis sebesar 0.1875 dilihat dari jumlah frekuensi terbesar yaitu berupa pasir halus yang memakai mid point dari frekuensi. Hal tersebut dapat diketahui pada daerah hulu ini memilki kecepatan aliran sungai sebesar 2cm/s.

    Secara matematis pada bagian hilir jika dilihat dari tabel hjulstrom termasuk kedalam daerah terdeposisi dimana nilai

    Gambar 3.6 Rezim aliran (Simon dkk,,1965)

    Dengan memakai tabel rezim aliran pada daerah hilir ini dapat dilihat struktur sedimennya berupa ripples (Simon dkk,,1965). Dengan struktur sedimen berupa ripples menandakan lingkungan pengendapannya dibantu dengan energi gelombang.

    3.3 Perbandingan Hulu dan Hilir ( Perbandingan Antara Cara Grafis dengan Cara Matematis )

    Tabel 3.1 Perbedaan antara hulu dan hilir

    Perbandingan

    Hulu

    Hilir

    Nilai Koefisien Sortasi

    Poorly sorted

    Poorly well sorted

    Harga Skewness

    Fine skewed

    Strongly fine skewed

    Harga Kurtosis

    Exteremely lepto kurtic

    Exteremely lepto kurtic

    Proses Sedimen

    Terdeposisi

    Terdeposisi

    Kecepatan Aliran

    8 cm/s

    2 cm/s

    Struktur Sedimen

    riples

    riples

    Lingkungan

    Daearah energi

    Daerah energi

    Pengendapan

    bergelombang

    bergelombang

    BAB IV

    PENUTUP

    4.1 Kesimpulan

    • 4.1.1 Hulu

    Berdasarkan perhitungan matematis didapat hasil poorly sorted yang berarti proses sortasi berjalan buruk yang mengindikasikan bahwa ukuran butir tidak seragam dengan keadaan tersebut bahwa arus yang terjadi di daerah hulu deras Pada daerah hulu jika dilihat dari tabel hjulstrom termasuk kedalam daerah terdeposisi yang memilki kecepatan aliran sungai sebesar 8 cm/s. Pada daerah hilir ini dapat dilihat struktur sedimennya berupa ripples (Simon dkk,,1965). Dengan struktur sedimen berupa ripples menandakan lingkungan pengendapannya dibantu dengan energi gelombang.

    • 4.1.2 Hilir

    Berdasarkan perhitungan matematis didapat hasil poorly sorted yang berarti proses sortasi berjalan buruk yang mengindikasikan bahwa ukuran butir tidak seragam dengan keadaan tersebut bahwa arus yang terjadi di daerah hulu deras. Pada daerah hilir jika dilihat dari tabel hjulstrom termasuk kedalam daerah terdeposisi yang memilki kecepatan aliran sungai sebesar 2cm/s.

    Pada daerah hilir ini dapat dilihat struktur sedimennya berupa ripples (Simon dkk,,1965). Dengan struktur sedimen berupa ripples menandakan lingkungan pengendapannya dibantu dengan energi gelombang.