P. 1
PRS_002_-_Bidadari_Sungai_Ular

PRS_002_-_Bidadari_Sungai_Ular

|Views: 48|Likes:
Dipublikasikan oleh rd_s

More info:

Published by: rd_s on May 19, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/19/2012

pdf

text

original

BIDADARI SUNGAI ULAR oleh Teguh S. Cetakan pertama, 1990 Penerbit Cintamedia, Jakarta Gambar sampul oleh Tony G.

Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa Izin tertulis dari penerblt Teguh S. Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Bidadari Sungai Ular 128 hal ; 12 x 18 cm
Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel Convert : Abu Keisel Editor : Deeemart86 Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/

1
Seekor kuda putih tinggi kekar berlari bagai kilat menyusuri tepian sungai. Bentuk sungai yang berliku-liku, seakan-akan bergerak bagai seekor ular naga yang menyusuri lereng dan bukit-bukit di sekitarnya. Oleh karena bentuknya yang mirip dengan ular naga, maka sungai itu dinamakan sungai ular. Kuda itu ditunggangi seorang wanita cantik dengan pakaian serba biru. Wajahnya basah oleh keringat. Sebilah pedang bertengger di pung-gungnya. Dia adalah Saka Lintang, anak angkat Geti Ireng, ketua gerombolan Panjl Tengkorak. Ditinggalkannya Lembah Tengkorak, setelah seorang pendekar muda yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti mengobrak-abrik partainya, Panji Tengkorak. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti. Episode: Iblis Lembah Tengkorak). "Hooop...!" Saka Lintang menarik tali kekang kudanya kuat-kuat. Kuda putih meringkik kencang lalu berhenti. Dengan gerakan ringan dan tangkas, Saka Lintang melompat dari kudanya. Ketika kakinya sampai di tanah, segera dijejakkan kakinya hingga tubuhnya melenting ke udara dan hinggap di pohon yang cukup tinggi. Saka Lintang bertengger pada sebuah cabang pohon, seraya matanya mengawasi bagian hulu sungai. Bibirnya tersenyum kctika sebuah perahu besar dengan layar lebar mulai terlihat. Di ujung tiang layar, berkibar selembar bendera bergamhar bunga melati yang dilingkari rantai. Dari lambang gambar bendera, dapat dipastikan kalau kapal layar itu milik seorang saudagar kaya dari Kadipaten Balungan. Sebuah Kadipaten kecil di wilayah Timur kerajaan Singasari yang berpenduduk cukup makmur. "Suiiit...!" Saka Lintang bersiul nyaring yang disertai tenaga dalam.

Mendengar siul yang bergema itu, serentak dari rimbunan semak-semak tepi sungai bermunculan empat buah perahu berukuran sedang, dikayuh oleh beberapa orang. Saka Lintang segera terjun diiringi gerakan salto beberapa kali, dan hinggap tepat di punggung kudanya. Gadis itu lantas menghentak tali kekang kudanya, lalu memacu ke arah perahu gerombalannya yang makin dekat. Ketika perahunya yang berwarna biru pekat itu telah menepi, Saka Lintang menarik tali kekang kuda, dan tanpa berpikir banyak dia segera melompat ke udara. Perahu yang telah siap menunggunya itu menerima tubuh Saka Lintang yang hinggap di tengah-tengahnya "Ayo, cepat! Kepung kapal layar itu!" teriak Saka Lintang. Enam orang laki-laki bertubuh kekar segera mengayuh dayung. Perahu itu pun meluncur deras mendekati kapal layar besar. Tiga perahu lain yang berwarna biru pekat pula, bergerak menyerang. Sedangkan di kapal layar besar itu tengah terjadi kesibukan. Beberapa orang telah siap dengan panah yang mengarah pada gerom bolan Saka Lintang. "Awas, panah!" teriak Saka Lintang ketika melihat anak panah meluncur deras. Saka Lintang pun mencabut pedangnya. Dengan cepat pedang itu telah berputar-putar bagai baling-baling. Anakanak panah yang meluncur cepat itu rontok seketika tersapu oleh pedang. Layaknya sebuah payung yang melindungi dari serangan hujan. Empat perahu Saka Lintang makin dekat ke arah kapal layar. Sementara anak-anak panah terus meluncur mencari mangsa. Namun anak buah Saka Lintang mudah saja merontokkannya. Saka Lintang tersenyum melihat keberhasilan anak buahnya itu. "Serang...!" teriak Saka Lintang nyaring. Mendengar abaaba itu serentak anak buah Saka Lintang yang berseragam biru pekat berlompatan ke atas kapal layar. Gerakan

pindahkan semua barang berharga ke perahu kita!" perintah Saka Lintang. Saka Lintang dan pasukannya berhasil menguasai kapal layar. Anak buah Saka Lintang yang berjumlah kira-kira dua puluh orang itu segera mengerjakan perintahnya. Tubuh-tubuh mulai ambruk bergelimang darah menyusul suara jeritan hasil kelebatan pedang Saka Lintang. Sebilah golok besar tergantung di ping gangnya. Memang orang-orang di atas kapal bukan tandingan Saka Lintang dan anak buahnya." sahut laki-laki yang dipanggil Codet Memang di pipi kanannya terdapat guratan panjang sehingga menambah seram wajahnya. Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan wajah ditumbuhi cambang mendekati Saka Lin¬tang. Matanya tajam mengawasi sekitar geladak kapal yang penuh oleh darah. Sementara pertarungan kini bergejolak di atas kapal layar. Dimasukkan pedangnya ke dalam sarung di punggung. "Hamba menemukan satu peti berisi perhiasan emas dan perak. Beberapa lawan malah menyelamatkan diri dengan terjun ke sungai. Codet?" tanya Saka Lintang datar. Dibungkukkan badannya sedikit di de-pan Saka Lintang yang berdiri angkuh. Jelas mereka bukan orang-orang sembarangan. Kesibukan kembali terjadi. Kedua tangannya berada di atas pinggang. "Bagus. Tuan Putri. Dan memang. "Ada apa. Banyak sudah lawan yang telah berjatuhan. 'Tuan Putri ingin melihat- . "Hoi! Angkat semua yang berharga!" teriak Codet keras. "Buang semua mayat ke sungai!" perintah Saka Lintang. Diseret dan dilemparkan seluruh mayat ke sungai. Sekejap saja permukaan sungai telah berubah warnanya menjadi merah oleh darah. Rata-rata mereka memiliki ilmu silat cukup tinggi.mereka sangat ringan dan cepat. Saka Lintang mengamuk bagai banteng terluka.

"Hamba. "Turunkan bendera kapal. Dia sangat terkesan ketika masuk ke sebuah bilik dalam kapal. bawa pulang!" Codet berlalu setelah sebelumnya memberi hormat Saka Lintang melangkah memasuki bilik kapal kembali. Dia ingin memiliki kapal . Kenapa harus dipiklrkan? Yang penting aku suka kapal ini!" dengus Saka Lintang dalam hati. Dijatuhkan tubuhnya ke atas pembaringan yang berlapiskan kain sutra lembut. Dilangkahkan kakinya dengan angkuh melewati laki-laki tegap dan kasar itu. Tuan Putri. baru sekarang dia mendapat sebuah kapal layar yang mengagumkan. Di dalam bilik ini.lihat?" ujar Codet sambil membungkuk lagi. "Codet!" panggil Saka Lintang. Saka Lintang merasa bagai putri raja. Tapi kenapa bendera kapal menunjukkan milik saudagar Gantar dari Kadipaten Balungan? Atau mungkin kapal ini telah dijual oleh saudagar itu kepada bangsawan kerajaan? "Ah! Masa bodoh. Rasanya sayang kalau kapal ini mesti dibakar seperti yang sudah-sudah. "Hamba siap menjalankan perintah. Hanya sebentar saja Saka Lintang telah menelusuri bagianbagian kapal. kapal layar ini pasti milik seorang bangsawan kaya. Sungguh nyaman berada di pembaringan ini." "Kemudian kapal ini. ganti dengan bendera kita!" perintah Saka Lintang. Saka Lintang menduga. Atau paling tidak putri bangsawan. Bilik itu memang cukup indah. Saka Lintang tidak menyahut. Rasanya tidak mungkin Kadipaten memiliki kapal seindah ini. Selama malang melintang menguasai sungai ular ini. Kapal layar ini tidak terlalu besar. Mulutnya tak henti-hentinya berdecak kagum." jawab Codet sambil membungkukkan badan. bagaikan peraduan seorang bangsawan. Codet mengikuti dari belakang. Saka Lintang tersenyum-senyum sendiri.

. Saka Lintang menoleh ke pintu ketika diketuk dari luar. akulah ratu sungai Ular ini! Bidadari sungai Ular. Perhiasannya semua dari emas.!" Saka Lintang tertawa sambil berteriakteriak bagai orang glla. Dihampirinya sebuah meja terbuat dari batu pualam. .Ha ha ha. Dia duduk di kursi berukir di samping meja pualam itu. "Ha ha ha. "Masuk!" bentak Saka Lintang karena merasa terganggu kenikmatannya.. Matanya memperhatikan guci arak. Tanpa terasa. Saka Lintang menari-nari berputar mengelilingi bilik kapal. "Hamba menemukan seorang wanita bersembunyi di balik tumpukan peti. Arak desa Cacah memang telah terkenal kenikmatannya. Tawanya belum berhenti. Dia membungkuk sedikit memberi hormat. "Hm. Basah sudah tenggorokannya oleh arak.ini. Codet menjentikkan jarinya. arak buatan desa Cacah. Wajahnya menyimpan rasa takut yang dalam. Harganya hanya terjangkau oleh orangorang kaya. Kepalanya terangguk-angguk beberapa kali. Sungguh tinggi seleranya. Cantik dan berkulit kuning langsat.." sahut Codet. siapa dia?" tanya Saka Lintang mengerutkan kening. "Hm... Pakaiannya dari sutra halus.. Dia telah menenggak habis arak itu. "Ada apa lagi?" tanya Saka Lintang kembali memasang sikap angkuh.. Arak ini memang pilihan kaum bangsawan. gelas peraknya telah kosong." gumam Saka Lintang sambil menuang arak ke dalam gelas perak. Kemudian muncul dua orang laki-laki mengapit seorang wanita muda berusia sekitar tujuh belas tahun. Dengan kapal ini dia bisa lebi h leluasa menjadi penguasa sungai Ular. Codet muncul setelah pintu terbuka..

Pengawalnya yang berjumlah tidak kurang dari tiga puluh orang tewas semuanya. Padahal orang tuanya sudah melarang. Dia tidak pernah belajar ilmu silat. "Siapa kau?" tanya Saka Lintang... "Aku. Tapi berusaha mengangkat kepalanya pelan-pelan.Saka Lintang memberi isyarat agar anak buahnya keluar.. tidak dapat berbuat apa-apa." "O. Dia sungguh sangat menyesal ikut dengan kapal ini. Intan Kemuning mulai terisak. aku berjanji tidak akan mengatakan apa-apa pada ayahanda. Tidak diduga sama sekali. Sedangkan awak kapalnya mencari selamat dengan terjun sungai. kan? Siapa kau?" dengus Saka Lintang mulai kesal karena wanita itu diam saja. aku Intan Kemuning. Tapi Intan Kemuning ingin menikmati perjalanan melalui sungai Ular bersama kapal yang baru di beli ayahnya untuk pesiar. Codet menutup pintunya lagi. "Ha ha ha.. "Kau dengar pertanyaanku. Intan Kemuning telah dibujuk agar pulang bersama-sama saja tewat jalan darat." rengek Intan Kemuning." jawab wanita muda itu tergagap. Saka Lintang kembali mengamati wanita muda itu. tubuhnya seketika mengejang.. rupanya kau putri seorang patih? Tidak seharusnya putri seorang patih kerajaan seperti tikus kena gebuk begitu!" 'Tolong bebaskan aku. Ketakutannya kian sangat. Mukanya pucat dan tubuhnya gemetar. Intan Kemuning yang sehari-harinya tinggal di tembok kebangsawanan. *** Kapal mewah terus melaju menyusuri alur sungai Ular . Ketika matanya tertumbuk pada Saka Lintang. gerombolan perom-pak membegal kapal itu.!" Saka Lintang tertawa gelak. Jadi wajar saja kalau di a begitu ketakutan melihat para perompak mengganas di kapalnya. "Aku putri patih kerajaan Galung. Wanita muda itu tidak menjawab.

tidak ada istilah perem puan harus tunduk pada kaum laki-laki." "Bodoh! Itu artinya kau sudah dijajah laki-laki. Apa kau tidak pernah belajar ilmu kanuragan?" tanya Saka Lintang. "Pijatanmu enak juga.diiringi empat perahu gerombolannya. Masing-masing perahu berisi barang. Matanya tajam menatap wajah Intan Kemuning yang tertunduk. "Apa enaknya? Kau akan dijajah laki-laki." sahut Intan Kemuning pelan. sangat terkejut mendengar kata-kata Intan Kemuning. "Aku tidak bisa menentang keinginan Ayahanda. tahu!" Saka Lintang jadi terhenyak hatinya. biar suami betah di rumah. "Bibi Emban. Katanya. Sementara di dalam bilik kapal mewah. Siapa yang mengajari?" tanya Saka Lintang. "Kalau kau tidak berbuat macam-macam dan menuruti . Punggung yang terbuka itu terasa nikmat setelah Intan Kemuning memijitinya. Dia dengan terpaksa harus mengikuti perintah Saka Lintang yang menjadi pemimpin perompak sungai Ular. Intan Kemuning hanya tertunduk saja. Saka Lintang yang hidup dari dibesarkan di lingkungan keras. Beliau menginginkan aku menjadi seorang wanita bangsawan sejati. Saka Lintang membalikkan badan dan merapikan pakaiannya kembali. Dalam kamus hidupnya.barang berharga dan djkawal oleh empat orang. Perhiasan yang melekat di tubuhnya juga sudah ditanggalkan. istri harus pintar memijat. Ayahanda tidak mengijinkan aku belajar ilmu-ilmu keprajuritan." polos sekali jawaban Intan Kemuning." dengus Saka Lintang gemas. Intan Kemuning hanya bisa menerima nasib saja menjadi budak kepala perompak itu. Dia tidak terima kaumnya jadi bulan-bulanan kaum lelaki. 'Tidak. "Kau bilang tadi bahwa kau anak patih. Saka Lintang tengah berbaring tengkurap dengan punggung terbuka.

Hidupnya penuh kekerasan. Saka Lintang bangkit dari pembaringannya. "Mereka tidak akan mengganggumu! Dengan syarat. Saka Lintang merasa seolah-olah dialah yang diinjakinjak kaum lelaki setelah mendengar per-jalanan hidup Intan Kemuning. Pikirnya. "Aku hidup di lingkungan laki-laki kasar dan brutal. Nasibnya sekarang berada di tangan pemimpin perompak ini. Lebih-lebih setelah mendengar penuturannya yang polos itu.. membangkang sedikit saja bisa-bisa mati konyol! Atau malah dijadikan pemuas nafsu anak buah Saka Lintang. dirinya dianggap "baik".? Intan Kemuning tidak sanggup membayangkannya.tiba jadi iba melihat Intan Kemuning.kata-kataku. kau harus turuti kata-kataku!" kata Saka Lintang. Tubuhnya menggigll ketakutan. tapi mengapa kau baik padaku?" tanya Intan Kemuning tidak mengerti dengan sikap Saka Lintang. Nyawa taruhannya!" jelas Saka Lintang. Coba kau pikirkan! Baru lihat anak buahku yang hanya bisa main gertak saja.. Tidak ada pilihan lain bagi Intan Kemuning kecuali menyanggupi kemauan Saka Lintang. Telinganya terasa dikilik. Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. kau sudah ketakutan setengah mati. Untung kau tidak digagahi!" Intan Kemuning terlonjak kaget. . Tangannya selalu dilumuri darah. "Kau seorang pemimpin perompak. Kenapa m asih ada juga orang yang mengatakan dirinya baik? Apa tidak salah pendengarannya? Masih adakah kebaikan di hatinya? Dia sendiri tidak tahu mengapa tiba. aku akan mengajarimu ilmu olah kanuragan dan ilmu-ilmu kesaktian lainnya. Tapi mereka semua tunduk pada perintahku! Berani menentang dan kurang ajar. Supaya kau tidak jadi wanita yang lemah. Hatinya berontak dan dengan seketika dia ingin segera nienjadikan Intan Kemuning seorang wanita yang kuat seperti dirinya.

Kenapa harus hidup dengan orang dan lingkungan yang sama sekali asing? Intan Kemuning tidak dapat mem bayangkan apakah dia bisa hidup dengan cara seperti ini. "Maaf. 'Tapi. "Masuk!" teriak Saka Lintang. "Untuk jadi pengikutku. Saka Lintang tersenyum melihat cara Intan Kemuning minum arak. Ragu-ragu Intan Kemuning menerima segelas arak yang disodorkan buatnya. Saka Lintang menoleh ke pintu setelah diketuk dari luar. Hatinya hanya bisa mengeluh dan menyesali diri. Tiba-tiba Intan Kemuning terbatuk-batuk dan berdahak beberapa kali. Diraihnya guci arak. Intan Kemuning terdiam. "Ayo." "Di istanaku. Codet muncul. Intan Kemuning memejamkan matanya. apalagi memasak.. kecuali sanggup memasaknya sendiri!" potong Saka Lintang." ucap Intan Kemuning setelah reda batuknya. diminumnya arak itu sedikit. Tangannya gemetar memegang gelas itu.. belum pernah dia minum arak! Mencium baunya saja.Dilangkahkan kakinya mendekati meja. "Lama-lama kau akan terbiasa. kepalanya terasa pening. "Aku tidak biasa minum arak.. harus bisa minum arak!" paksa Saka Lintang." tolak Intan Kemuning. aku tidak bisa. Sebab selama hidupnya. lalu dituangkan ke dalam dua gel as pe-rak Satu gelas disodorkan pada Intan Kemuning. Sambil menahan napas. Wajahnya memerah dan matanya berair. Saka Lintang makin tertawa keras. semua minum arak! Tidak ada air minum. Intan Kemuning juga memandang ke arah pintu." sahut Saka Lintang kalem. . minum!" paksa Saka Lintang lagi. segelas lagi buat dirinya. Menginjakkan kakinya ke dapur saja tidak pernah.

laki-laki tadi hanya bentuknya saja yang kasar. "Sebentar lagi kapal sandar." iapor Codet. Intan Kemuning yang polos. "Pergilah! Laksanakan tugasmu!" Codet membungkuk lagi. mudah sekali jatuh simpati pada sikap Saka Lintang. Namun bayangan kekejaman di wajah Saka Lintang makin sirna dalam pandangan Intan Kemuning. kemudian berbalik Pintu kamar kembali tertutup rapat. tapi mampu menguasai dan memerintah lakilaki bertampang kasar dan bengis. "Kau lihat. Hatinya sedikit diliputi keraguan. biar saja. Saka Lintang. Nyalinya kecil. Dia tidak yakin apakah mampu seperti Saka Lintang. Tuan Putri. *** . kalau ada yang berani mengganggu Intan Kemuning. Tuan Putri. Saka Lintang memandang Intan Kemuning yang masih duduk di tepi pembaringan. cantik. Intan Kemuning hanya menelan ludah saja. akan berurusan denganku! Dia kini jadi adik angkatku!" ujar Saka Lintang keras. Meski dia tadi sempat melihat bagaimana Saka Lintang membantai para pengawal Kadipaten dengan kejam. Dari sini Intan Kemuning mulai bersimpati pada wanita yang usianya tidak terpaut jauh dari dirinya itu." "Tunggu!" cegah Saka Lintang melihat Codet akan berbalik. "Hamba. Tuan Putri. Dia selalu ngeri jika lihat tampang laki-laki yang kasar dan kejam. Codet membungkukkan badannya lagi. masih muda." Codet membungkuk hormat. "Beritahu pada semua anggota."Ada apa?" tanya Saka Lintang. Dia hanya melihat suatu kelembutan dan kebaikan hati dalam diri Saka Lintang sebagai wanita yang tegar." "Hamba laksanakan. "Hm. Aku dan Intan tetap di sini Kalian bereskan semua barang-barang." Saka Lintang menjentikkan jarinya.

Apa Tuan Putri tidak salah mengangkat dia jadi adik?" takut-takut Codet bicara sambil ibu jari tangannya diarahkan pada Intan Kemuning. Hasilnya memang tidak mengecewakan. Dia itu seorang putri patih. Mereka takut terhadap Bi dadari Sungai Ular!" sahut Codet. "Kau tidak keluar. Cukup keras latihan yang diberikan.. Saka Lintang tidak pernah lagi ikut merompak kapal yang lewat di sungai Ular. Tuan Putri. "Kau tidak berolok-olok padaku.. Tuan Putri. Hampir-hampir Intan Kemuning tidak sanggup menjalaninya. Codet?" "Mana berani hamba mengolok-olok Tuan Putri? Bisabisa kepala hamba pisah dari badan. Tuan Putri. "Hari ini tidak ada kapal yang lewat. apa akibatnya menentang kehendakku?" "Hamba.Seminggu rasanya belum cukup bagi Intan Kemuning untuk menyesuaikan diri di lingkungan para perompak.. Codet selalu pulang membawa hasil." "Bagus kalau kau tahu!" Codet melirik Intan Kemuning yang duduk di bangku bawah pohon. Pemimpin perompak dipercayakan pada Codet. Di sekelilingnya kecuali Saka Lintang. "Maksudmu. "Kau kupercaya untuk jadi wakilku.. "Kau tahu. "Benar..." "Cukup!" sentak Saka Lintang memotong. hanya laki-laki berwajah kasar dan sc-ram." sahut Codet. Dan selama seminggu itu Saka Lintang telah memberi dasar-dasar ilmu olah kanuragan. "Maaf." Codet cepat-cepat menghormat. Berbahaya sekali buat kita kalau. Sejak itu pula. Bukan untuk mengaturku! Paham?!" "Hamba mengerti. Agak jauh memang. . Sebuah buku bersampul hitam lusuh berada di tangannya. Intan?" jawab Saka Lintang. Codet?" tanya Saka Lintang melihat Codet tengah berm alas-malasan.

" jawab Codet. Mereka tahu kalau Codet mengincar Intan Kemuning. "Cari hiburan!" Ketiga orang Itu tertawa seketika. Dan sekarang jumlah gerombolan ini tidak kurang dari tiga puluh orang. Kehidupan seperti itu memang bukan hal yang asing bagi mereka. Codet hanya menggerutu saja sambil membayangkan wajah Intan Kemuning."Sekarang pergilah! Dan jangan coba-coba mengusik Intan Kemuning!" Codet membungkuk lalu pergi. tapi takut kepada Saka Lintang. Sepuluh anak buahnya pun ikut dalam gerombolan ini." kata Codet sambil mencomot sepotong daging rusa. Codet melangkah pergi. Ketiga temannya mengikuti sambil tertawa-tawa. Semua lakilaki di tempat itu pasti berkhayal dapat menikmati kemulusan tubuhnya. Tapi justru baru kali ini mereka tunduk oleh seorang wanita! Codet menghampiri tiga orang temannya yang duduk melingkar menghadapi rusa panggang. Tapi hanya sekedar berkhayal. "Ke desa. "Ke mana. Codet yakin kalau buku itu berisi dasar-dasar ilmu pukulan tangan kosong dan latihan pengerahan tenaga dalam. Matanya masih sempat melirik Intan Kemuning. Sebagai pelampiasan nafsunya. Dikhawatirkan Intan Kemuning akan jadi duri dalam daging! Codet sendiri dulu adalah seorang begal sebelum dikalah kan Saka Lintang. Mereka semua bekas begal yang biasa berkeliaran mencari mangsa di hutan-hutan atau merambah desa-desa. Tidak . dia sering pergi ke desa terdekat. Det?" tanya salah seorang. Kemudian dia berjanji untuk selalu setia dan mengabdi pada gadis itu. "Kalian ikut aku. Bau harum menusuk hidung dan membangkitkan selera. "Cari apa ke desa?" tanya yang lain. Tak ada orang yang tak tertarik dengan Intan Kemuning.

Intan Kemuning memang selalu di bawah lindungan Saka Lintang. oleh karena Intan Kemuning putri seorang patih. Mereka takut oleh aturan yang diberikan Saka Lintang. sudah tentu pihak Kadipaten tidak akan ringgal diam. Pikirnya. Hal inilah yang selalu mengganggu pikiran Codet. Ini jelas menyulitkan mereka. Codet menyayangkan pemimpinnya yang tidak menyadari kemungkinan yang akan berakibat fatal! *** .lebih. Apalagi jika nanti Intan Kemuning berkhianat.

Dilaporkan bahwa kapal yang membawa Putri Intan Kemuning dirampok gerombolan Bidadari Sungai Ular." tamtama itu memberi hormat. "Bedebah!" geram Patih Giling Wesi murka. Gusti Patih. Sudah seminggu ini Patih Giling Wesi memerintahkan prajurit-prajurit pilihan untuk mencari kapal layar yang membawa putrinya. telah kembali pagi tadi. Gusti Patih. Gusti Patih. kita berangkat sekarang juga ke sungai Ular!" perintah Patih Giling Wesi. Tidak peduli kapal siapa yang akan jadi sasaran. Gerahamnya sampai bergemerutuk dengan wajah merah padam. Sampai saat ini mereka belum memperoleh kabar berita sama sekali. Di Pendopo Kepatihan. Melangkah hilir mudik dengan hati diselimuti kegelisahan. Matanya memandang ke depan Pendopo. ada apa?" tanya Patih Giling Wesi setelah tamtama itu mendekat memberi hormat. "Hamba menerima Iaporan dari beberapa telik sandi. "Tamtama." jawab tamtama itu. lalu melangkah mundur. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Patih Giling Wesi seperti orang kebingungan." tamtama itu menuturkan dengan sikap hormat. "Cepat laporkan!" "Beberapa telik sandi yang hamba kirim untuk mencari keterangan tentang Putri Intan Kemuning. "Kumpulkan prajurit pilihan. Seorang tamtama berjalan tergopoh-gopoh menuju Pendopo. "Sendika. Istrinya terheran-heran melihat wajah suaminya yang merah padam. "Gerombolan Bidadari Sungai Ular sangat ganas.2 Suasana di Kadipaten kerajaan Galung tengah dirundung duka. Patih Giling Wesi bergegas masuk ke kamar pribadinya." lanjut tamtama itu lagi. Dan betapa terkejutnya istri Patih Giling Wesi ketika .

Air matanya menganak sungai di pipi. tapi firasatku mengatakan bahwa Intan Kemuning masih hidup. .!" Rara Angken menekap mulutnya. Perompak itu memang ganas. "Untuk apa pedang itu?" tanya Rara Angken. Tenangkan hatimu. Berdoal ah agar anak kita selamat.. "Intan. anakku. "Aku pergi...suaminya mengambil pedang pusaka.. Rara Anken masih terisak." sahut Patih Giling Wesi." lembut suara Patih Giling Wesi. tidak ada gunanya kau menangis. Pedih hati Patih Giling Wesi melihat istrinya menangis. berada di kamar ini.. Dia baru sadar kalau istrinya.. Namun kakinya melangkah tegap." pamit Patih Giling Wesi setelah menarik napas panjang. Telah lam a patih itu tidak menyentuhnya lagi. Pikirannya terpusat penuh pada keselamatan putri mereka. "Berdoalah pada Hyang Widi untuk keselamatan anak kita." Patih Giling Wesi menoleh. Sementara sekitar lima puluh prajurit bersenjata lengkap sudah berbaris menunggunya di depan Pendopo. Aku berjanji akan membawa kembali anak kita." lirih suara Rara Angken. sehingga tak sadar kalau istrinya sejak tadi memperhatikan tingkah lakunya." ujar Patih Giling Wesi sambil mengelus-elus kepala dan bahu istrinya.. "Kang Mas. Dinda... 'Tapi mengapa harus membawa pedang pusaka?" "Beberapa telik sandi melaporkan kalau kapal yang membawa Intan Kemuning dirampok oleh Gerombolan Bidadari Sungai Ular. "Aku akan mencari Intan Kemuning.. terayun ke luar kamar. "Dinda Rara Angken." "Oh.. Nada suaranya bergetar penuh kecemasan." Rara Angken tak kuasa lagi menahan air matanya. "Kang Mas. Rara Angken.

. duduk tenang seorang pemuda tampan yang tengah menghadapi guci arak. Pemuda itu tidak merasa terganggu oleh ulah prajurit kepatihan yang memacu kuda dengan cepat itu. Patih Giling Wesi segera memacu kudanya dengan cepat diikuti oleh pasukannya. mereka lewati. Di punggungnya bertengger sebilah pedang dengan gagang berbentuk kepala burung rajawali. Dia adalah Rangga.. Semua orang dalam kedai menoleh. . Pemuda itu mengenakan baju rompi putih yang lusuh. Semua orang yang berada di jalan segera menepi. Di antara pengunjung kedai. Tetapi yang terlihat hanya kepulan debu saja. Padahal banyak orang dalam kedai bertanya-tanya dan mendugaduga. Tiba kini sebuah kedai mereka lewati. Para prajurit bergegas menaiki kudanya masing-masing. Sebuah jalan desa yang kanari kirinya berdiri rumah penduduk. patih yang terkena! pemberang itu segera melompat ke punggung kuda dengan gerakan yang lincah.!" Patih Giling Wesi meng-geprak kudanya agar lebih kencang lagi. Tanpa banyak basa-basi lagi. Tidak heran kalau para prajuritnya tertinggal di bela-kang. Mereka terheran-heran melihat banyak prajurit yang sudah terkenal kedigjayaannya seperti akan perang. Padahal mereka telah memacu kudanya secepat mungkin.. Kepatihan kembali sepi setelah mereka ke luar dari benteng diiringi oleh mata beberapa penjaga yang terkesima.Seorang prajurit menuntun seekor kuda hitam tinggi kekar ketika Patih Giling Wesi tiba di depan Pendopo.! Hiya. Kuda hitam mengkilat itu mendengus-dengus berlari bagai anak panah melesat cepat Kuda Patih Giling Wesi memang kuda pilihan. Derap langkah kuda terdengar bergemuruh meninggalkan kepulan debu bergulung-gulung.. "Hiya.

Mereka hanya pemuda-pemuda yang besar mulut tanpa nyali sedikit pun. Dari tongkat dan pakaiannya semua orang tahu dia adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah. Kakek tua itu bersandar pada tiang kedai. "Kakek gembel! Kau jangan bicara sembarangan!" bentak salah seorang dari dua pemuda tadi. bernama Hanggara. "He he he. "Seperti akan perang saja prajurit-prajurit itu. Yang memakai baju berwarna merah. Patih Giling Wesi ikut serta. Pasti ada sesuatu yang gawat. Merah padam wajah kedua pemuda itu..Pendekar Rajawali Sakti." sahut temannya. Sedangkan yang berpakaian warna hijau bernama Rangkasa. Hanya tokoh-tokoh tertentu saja yang tahu nama aslinya. Tapi jarang yang tahu kalau nama sebenamya adal ah Aki Lungkur.. Mereka putra-putra para punggawa kerajaan." Aki Lungkur atau si Pengemis Sakti Tongkat Merah itu hanya terkekeh saja. Bunga Kepatihan yang menjadi incaran dan impian putra-putra bangsawan dan punggawa kerajaan. hilangnya Intan Kemuning belum tersebar luas kecuali para prajurit pilihan. Memang. Dari pakaiannya dapat ditebak kalau mereka anak seorang bangsawan kaya. 'Tidak biasanya. "Kecongkakanmu melebihi tingginya gunung. Dan semua orang tahu siapa Intan Kemuning. Dia tahu siapa dua pemuda congkak itu. Ternyata seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah menyangga tubuhnya.. Rangga melirik ke arah suara itu. Jelas ucapan . Atau paling tidak anak saudagar." terdengar suara dari meja tidak jauh dari tempat duduk Rangga. "Mereka mencari putri Intan Kemuning!" Semua orang di kedai terdongak dan menatap arah suara yang datang tiba-tiba itu. Dua anak muda duduk menghadapi empat guci arak. tapi matamu buta! Kau tidak bisa melihat kejadian di sekelilingmu!" Aki Lungkur bergumam.

maka gerombolan perompak itu bukan saja berhadapan dengan para prajurit tetapi juga dengan tokoh-tokoh sakti dunia persilatan. rupanya dua orang gerombolan Bidadari Sungai Ular ada pula di kedai itu. Seorang pelayan tua sekaligus pemilik kedai menghampiri. Tanpa diketahui orang-orang di kedai. Aki Lungkur dengan cepat melompat dan hilang dari pandangan mata. Rasanya sulit dipercaya bila putri seorang patih yang terkenal dengan julukan Singa Medan Laga bisa ditawan oleh gerombolan Bidadari Sungai Ular. Dan kini keadaan kedai menjadi sunyi. Mereka mendengar pembicaraan Aki Lungkur dan segera angkat kaki ketika kakek tua itu menghilang. . Tinggal Rangga sendirian masih duduk menghadapi mejanya. Kakang Badil. "Kita harus laporkan segera pada Tuan Putri.Pengemis Sakti Tongkat Merah tertuju pada mereka. Hanggara dan Rangkasa saling berpandangan. kalau aku benar maka aku minta kalian membebaskan putri Intan Kemuning dari sarang Bidadari Sungai Ular!" Setelah selesai kata-katanya. Suara menggumam terdengar bagai lebah ditepuk sarangnya. Kalau kata-kataku salah. Tapi. "Benar. 'Pacu kudamu dan kita ambil jalan pintas. Kata-kata kakek tua tadi bisa jadi ada benamya tetapi patut dipertanyakan pula. Semua orang tahu kalau hal itu benar-benar terjadi." sahut temannya. Satu persatu pengunjung kedai berlalu pergi dari tempat itu. Maka kalau berita itu sampai tersebar luas. Adi Gering!" Mereka pun memacu kudanya dengan cepat. 'Tanyakan pada Gusti Rara Angken." bisik salah seorang. Patih Giling Wesi mempunyai banyak sahabat dari tokoh-tokoh rimba persilatan. kalian boleh memancung leherku. Bahkan dua pemuda congkak sudah sejak tadi meninggalkan kedai. bukan tidak mungkin mereka akan membantu Patih Giling Wesi.

Si gembel Itu tahu kalau Intan Kemuning ada di sini. "Kami punya berita penting. Tuan?" Pak Tua menawarkan." Badil setengah berbisik Matanya menerobos ke dalam.. "Tidak. Tuan Putri. Penunggang kuda itu adalah Badil dan Gering. Pak Tua itu duduk di depan Rangga." kata Badil segera membungkukkan badannya. Dengan tergesa-gesa Badil menghampiri pintu dan mengetuknya dengan keras." jelas Badil ketika Saka Lintang telah berada di luar rumah.. Dia melangkah dua tindak'Tadi hamba berdua minum-minum di kedai Pak Tua. Inilah markas gerombolan Bidadari Sungai Ular. Dia yang menyebar kabar itu. "Tidak!" sahut Badil dan Gering bersamaan. Dua ekor kuda berpacu memasuki hutan di kaki lereng bukit Guntur. dua orang dari gerombolan Bidadari Sungai Ular.. Di situ hamba melihat serombongan prajurit berkuda dipimpin langsung oleh Patih Giling Wesi. Aku perlu teman ngobrol" sahut Rangga. duduklah di sini. "Ada apa?" tanya Saka Lintang angkuh. Penuh dengan kesigapan. "Kalau begitu.. siapkan semua yang ada. *** Matahari hampir condong ke Barat. kedua tangan Saka Lintang telah berada di pinggang.. "Lalu?" desak Saka Lintang sudah bisa menebak "Di situ juga ada Pengemis Sakti Tongkat Merah. Ketika pintu terbuka. "Katakan cepat!" "Menyangkut. Intan." lanjut Badil. "Kau takut?" cibir Saka Lintang.'Tambah lagi araknya. Saka Lintang mengerutkan keningnya. Tuan Putri.. Sambut . mereka melompat turun setelah kuda yang mereka tunggangi berhenti di depan rumah terbuat dari kayu.

Kadang-kadang kasar...." kata Gering. "Tidak.. Dia menghampiri Intan Kemuning yang menunggu di balai tengah-tengah ruangan. Yang dimaksud tikus tentulah orang. "Mengapa kau memandangiku begitu?" tanya Saka Lintang risih dipandangi terus. "Kakak Lintang. "Aku. Dia takut Saka Lintang tersinggung. Tapi setiap kali akan bertanya. tidak apa-apa. "Ada tikus yang mencoba masuk." "Apa yang kau herankan?" tanya Saka Lin¬tang. di saat itu pula niatnya diurungkan. Kadang-kadang dia harus berpikir lebih dulu untuk dapat mengerti.. tikus bodoh yang cari mampus!" Intan Kemuning mulai mengerti. 'Tikus. Itulah Saka Lintang. Sebenarnya ingin sekali Intan bertanya." cepat-cepat Gering membungkuk.?" Intan Kemuning belum mengerti. "Ada apa Kakak Lintang?' tanya Intan." jawab Saka Lintang lalu duduk di balai berhadapan dengan Intan Kemuning. aku heran saja.kedatangan mereka!" perintah Saka Lintang tegas. Tapi di balik kekasaran-nya. "Hamba laksanakan. "Jumlah mereka banyak. Bukan hanya kata-katanya saja yang sulit dimengerti. Ketika kedua orang itu telah pergi. Saka Lintang bergegas masuk ke kamar kembali.? Ha ha ha.. "Aku. Intan Kemuning dapat melihat suatu pelampiasan kekesalan pada Saka Lintang.." sahut Intan Kemuning tergagap. "Mereka hanya tikus!" bentak Saka Lintang. Sikapnya pun demikian.!" Saka Lintang tertawa gelak . Dia tahu gelagat kalau Saka Lintang sudah membentak keras.... Tuan Putri.. kadang-kadang lembut. Tuan Putri.... Bukan tikus sebenarnya. "Yah.." pelan suara Intan Kemuning. Dia mendengar nada cemas pada suara Gering. Intan Kemuning harus bisa menjaga diri dan berbuat apa saja yang dikehendaki Saka Lintang.

" ujar Saka Lintang setelah reda tawanya. "Kakak Lintang mau ke mana?" tanya Intan Kemuning ketika Saka Lintang turun dari balai. lalu keluar. Saka Lintang melenting tinggi lalu membuat gerakan berputar beberapa kali di udara dan hinggap dengan manis di atap rumah. bersemadilah!" Intan Kemuning mengangguk kembali. Saka Lintang melompat turun. berjalan sepuluh orang dipimpin oleh Badil dan sepuluh orang lagi dipimpin oleh Gering. Saka Lintang sedikit kagum pada Codet yang pandai mengatur anak buahnya." sahut Saka Lintang. Kenapa dia sampai tertawa gelak seperti itu? Namun dalam tawa itu. setelah kau selesai latihan tenaga dalam.Intan Kemuning makin bingung melihat Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. Sebentar matanya mengawasi keadaan sebelum menutup pintu. "Nah. "Ke luar! Aku akan kembali lagi jika kau sudah selesai berlatih. Saka Lintang melangkah dan menoleh sebentar pada Intan Kemuning. tidak usah memikirkan aku! Yang penting. Intan Kemuning hanya mengangguk. sekarang giatlah berlatih. berlatihlah sekarang!" perintah Saka Lintang. Di belakang mereka. Padahal kata-katanya tidak ada yang lucu. . Perdalamlah lagi agar lebih sempurna. Bibirnya tersungging melihat Intan Kemuning mulai berlatih. Intan Kemuning menangkap semacam kegetiran yang ditutup-tutupi di wajah Saka Lintang. Mata Saka Lintang menatap lurus ke depan. Pandangannya berkeliling. "Sudahlah. "Ingat. Tampak sekitar sepuluh orang berjalan menuju sungai Ular dipirhpin oleh Codet. Dengan gerakan indah. Aku lihat jurus-jurus pukulan tangan kosongmu sudah mantap. Lima belas orang berjaga-jaga di markas mereka. Bibirnya tersenyum melihat anak buahnya telah siap menanti datangnya para prajurit kepatihan.

Saat kakinya mendarat di tanah, kem bali dilentingkan tubuhnya dan hinggap di atas punggung kudanya. Segera dia menggebrak kudanya lalu melesat cepat menuju ke sungai Ular yang tidak jauh dari lereng bukit Guntur markas Saka Lintang sekarang ini. Sungai Ular memang indah dipandang, namun menyimpan keganasan yang luar biasa. Sebentar saja Saka Lintang telah sampai di sungai Ular mendahului anak buahnya. Matanya yang bulat bening memandang sekitar sungai yang tenang. Setenang sikapnya saat ini. Codet menggerak-gerakkan tangannya ke atas ketika mereka telah sampai di sungai itu. Dengan seketika anak buahnya berpencar masuk ke dalam semak-semak dan ke balik bongkahan-bongkahan batu. Kini di tepi sungai tersisa empat orang. Mereka semua memang terlatih baik dalam menguasai daerah sekitar sungai Ular. Maka dal am sekejap saja tidak ada orang yang terlihat. Mereka bagaikan lenyap ditelan bumi. Pandai menyamarkan diri dengan alam! "Dengar...!" seru Saka Lintang tiba-tiba. "Suara kuda," gumam Codet. "Hm, siapa dia," gumam Saka Lintang. *** Suara kaki kuda kuda makin jelas terdengar. Saka Lintang mengerutkan keningnya. Dia hanya mendengar langkah dari satu ekor kuda saja. Matanya langsung melirik Badil. "Hamba akan menyongsong, Tuan Putri!" ujar Badil mengerti maksud lirikan Saka Lintang. Badil dengan cepat melompat ke kudanya. Segera digebahnya kuda itu. Dengan cepat kuda yang ditunggangi Badil sudah tidak terlihat lagi. Lenyap di balik rimbunan pepohonan. Badil memacu kudanya menuju arah datangnya suara kaki kuda.

Tiba-tiba ditarik tali kekang kudanya dan seketika tubuhnya melontar tinggi. Kakinya dengan sigap hinggap di sebuah batang pohon yang tinggi. Matanya dengan seksama berkeliling. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada seekor kuda yang ditunggangi seorang pemuda. Tampak dua bilah pedang bertengger di punggungnya. "Kala Srenggi," desis Badil mengenali penunggang kuda itu. Badil menunggu beberapa saat sampai Kala Srenggi mendekat. Kemudian dia meloncat turun ketika Kala Srenggi tepat di bawah pohon yang dinaiki Badil. Kala Srenggi dengan tangkas melompat dari kudanya ketika merasakan ada penyerang gelap dari atas. Pedang Badil segera membabat namun luput Dia kecewa. Padahal dia yakin penunggang kuda itu akan pecah kepalanya tersambar pedang. Yang didapati hanya tempat kosong saja, "Licik!" dengus Kala Srenggi ketika kakinya menjejak di tanah. "Kau juga lebih licik dariku, Kala Srenggi," balas Badil. "Siapa kau?' tanya Kala Srenggi yang heran melihat penyerang gelapnya tahu tentang dirinya. "Aku Badil. Macan Gunung Sinai!" sahut Badil angkuh. "Hm..., Macan Gunung Sinai sampai nyasar ke bukit Guntur," gumam Kala Srenggi mencibir. "Ada urusan apa kau datang ke sini?" tanya Badil. "Aku hanya lewat," jawab Kala Srenggi acuh. "Tidak seorang pun diijinkan masuk ke bukit Guntur!" "He! Sejak kapan aku...." Kala Srenggi belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Badil telah menyerang dengan cepat. Kala Srenggi agak kewalahan menghindari serangan-serangan pedang Badil yang cepat dan berbahaya. Macan Gunung Sinai memang bukan nama kosong, dan Kala Srenggi tahu itu. Dengan cepat dia bersalto di udara. Tangannya segera menarik pedang

kembarnya. Sret! Traaang! Dua pedang berbenturan di udara. Pijaran api akibat benturan pedang berlompatan bersamaan dengan terpentalnya dua orang itu. Mereka memang bukan orang sembarangan. Tanpa kesulitan apa-apa, kaki mereka telah menjejak di tanah dengan lincah. Dua orang itu sama-sama kaget dan sama-sama merasakan kesemutan setelah pedang mereka beradu. Kini mereka sama-sama menyiapkan jurus-jurus selanjutnya. Sambil berteriak nyaring, mereka kem bali terlibat dalam pertarungan sengit. Masing-masing ingin segera menjatuhkan. Namun sampai lima jurus berlalu, belum ada yang terdesak. Memasuki jurus selanjutnya masih tetap seimbang. Beberapa kali ujung pedang mereka hampir menemui sa-saran satu sama lain. Namun semuanya masih dapat dihindari. Hingga pada suatu ketika, Kala Srenggi melompat mundur sejauh dua tombak sambil memasukkan pedang kembar ke sarung di punggungnya. Kini dikeluarkannya 'Aji Racun Merah". Melihat lawan tengah mengerahkan ilmu andalan, Badil pun tak ketinggalan dengan ilmu andalannya pula. Mereka sudah saling berhadapan siap menyerang dengan kesaktian masing-masing. "Hiya...!" "Hiya...!" Kedua orang itu melompat berbarengan. Kini kedua telapak tangan mereka bertemu di udara. Ledakan keras terjadi, disusul dengan terpentalnya dua tubuh. Kala Srenggi jatuh bergulingan di tanah beberapa depa. Sedangkan Badil tidak kalah parah. D ari hidung dan mulutnya ke luar darah. "Uhk!" Badil memuntahkan darah merah kehitaman. Sambil menahan rasa sakit di dadanya, Badil berusaha bangkit. Tubuhnya sempoyongan. Sementara Kala Srenggi juga berusaha berdiri. D ari sudut bibimya mengalir darah

segar. Tangan kirinya menghitam terkena ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil. "Setan! Salah satu di antara kita harus mampus!" geram Kala Srenggi. "Huh!" Badil hanya mendengus. Badil sadar kalau tubuhnya telah dialiri 'Racun Merah' dan hidupnya tak akan bertahan lebih lam a lagi. Kala Srenggi pun demikian. Dia terluka parah. Mereka samasama kepalang basah. Kembali ajian masing-masing mulai mengarah satu sama lain. "Berhenti!" tiba-tiba suara bentakan melengking nyaring. Namun terlambat! Kedua orang itu sudah kembali melompat dan beradu di udara. Kala Srenggi lagi-lagi bergulingan di tanah. Dari mulutnya menyembur darah kental kehitaman. Dia berusaha bangun, tetapi malah jatuh dan tak bergerak sama sekali. Mati. Kedua tangannya seperti hangus terbakar. Di pihak Badil, lebih mengerikan. Dia tergeletak dengan dada pecah. Darah bersimbah membasahi tubuhnya. Badil tewas seketika setelah tubuhnya tenanting di tanah. Sebuah bayangan biru berkelebat dan mendarat di tengah-tengah arena pertarungan tadi. Dia adalah Saka Lintang, kemudian disusul oleh Codet dan Gering. Kedua orang itu terkejut melihat Badil tewas dengan dada pecah. Saka Lintang malah tenang-tenang saja. "Hm, Kala Srenggi," gumam Saka Lintang. Gadis itu mengayunkan langkahnya mendekati mayat Kala Srenggi. Sebentar diamati dan dengan ujung kakinya dibalikkan tubuh Kala Srenggi. Tampak di bagian dadanya hangus terbakar. Tidak ada luka di tubuhnya. Juga tidak ada tanda-tanda Kala Srenggi masih hidup. Saka Lintang mengambil ranting, lalu menekan dada Kala Srenggi dengan ranting. Terkejut juga Saka Lintang ketika melihat dada Kala Srenggi yang mendadak ambrol setelah tersentuh ranting. Bagai ditiup angin saja! Dada Itu

" agak bergetar suara Codet. tinggalkan saja di sini!" Tanpa banyak bicara. Tuan Putri. Gering menatap Saka Lintang yang hanya terlihat bayangan bajunya saja di antara pepohonan. "Kuburkan kedua mayat ini. Saka Lintang membalikkan tubuhnya. kemudian melanjutkan langkahnya. Tanpa menghiraukan Codet lagi." sahut Codet." ucap Gering.kini berlubang besar tembus sampai ke punggung. "Tidakkah. "Bagaimana?" tanya Saka Lintang menoleh pada dua anak buahnya.. 'Tuan Putri yang memerintahku. Sungguh dahsyat ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil. Tak ada seorang pun yang sedia menguburkannya.. Saka Lintang hanya melirik. mereka meninggalkan dua sosok mayat yang tergeletak di tanah. Toh tadi dia juga sudah memerintahkan untuk mengubur mayat itu. 'Terima kasih. mereka belum bicara. Gering yang setiap hari selalu bersama-sama dengan Badil merasa tidak tega juga terhadap mayat temannya itu. Dia hanya berdiri dengan pandangan berganti-ganti dari Saka Lintang ke arah Gering yang tengah menggali dengan pedangnya. Sebentar lagi gelap." "Bantu dia!" potong Saka Lintang cepat sambil menunjuk pada Gering." sahut Codet.. Codet bergegas mengham-\piri Gering dan membantu menguburkan mayat Badil.. Gering . "Mati. Kini malah Codet yang bimbang. Sampai selesai menguburkan Badil." perintah Saka Lintang. 'Tuan Putri.. "Kalau begitu." sahut Codet. Saka Lintang melangkah cepat. Dia kembali lagi lantas menggali tanah. Tetapi untungnya.. Sungguh tragis nasib mayatmayat itu. 'Tidak ada waktu.

"Biarkan saja dia jadi santapan anjing hutan!" kata Codet Gering mengangkat bahunya. *** . mereka tinggalkan tempat itu. Kini dengan hati lega.menatap mayat Kala Srenggi. Meninggalkan salah seorang teman yang kini terbaring di dalam tanah. Mereka memang tidak pernah mengurus mayat musuh.

tapi tidak sedikit pun jejak kapal layar yang membawa putrinya ditemukan. Belum sempat Patih Giling Wesi beristirahat banyak. tiba-tiba terdengar . Matanya mengamati sebentar.3 Matahari baru saja menampakkan diri. istirahat!" teriak tamtama Rapaksa keras. tibatiba datang seorang prajurit berlari-lari menghampirinya. "Siapkan prajurit!" perintah Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi pun telah turun dari kudanya lalu menghampiri sebuah batu besar yang menjorok ke sungai. Para prajurit serentak turun dari kuda masing-masing. Berarti telah terjadi sesuatu pada kapal itu. kita istirahat sebentar di sini. "Adya Bala. Rapaksa berlari menghampiri. Ada noda darah melekat di kalung itu. "Beritahu prajurit. Hamba menemukan tanda keprajuritan di pinggir sungai." kata Patih Giling Wesi. Mereka mencari tempat beristirahat dan membuka perbekalan. Patih Giling Wesi lantas menyambar kalung itu. "Rapaksa!" "Hamba. Dia segera memberi hormat setelah tiba di depan Path Giling Wesi. Rapaksa belum sempat menjawab. Gusti Patih." kata prajurit itu sambil menyerahkan sebuah kalung tanda keprajuritan. Gusti Patih. Didekatinya Patih Giling Wesi. Sinarnya membias menerangi mayapada. "Ampun. Dia duduk di atas batu menatap ke arah sungai yang berliku. Semalaman dia mencari di sekitar sungai Ular." salah seorang tamtama segera mendekat. Patih Giling Wesi duduk di atas punggung kudanya dengan lesu. Dan yang jelas kejadiannya di sungai Ular ini! "Rapaksa!" teriak Path Giling Wesi.

"Setan! Kembalikan putriku!" geram Patih Giling Wesi." desis Patih Giling Wesi "Rupanya ada tamu agung berkenan mengunjungi wilayahku!" Patih Giling Wesi dan para prajuritnya terkejut mendengar suara yang tinggi menggema dibarengi pengerahan tenaga dalam yang sempurna. Patih Giling Wesi cepat melompat ke arah lima prajuritnya yang tewas. "Bidadari Sungai Ular!" jawab Saka Lintang mantap... "Bidadari Sungai Ular. Patih Giling Wesi makin geram menyadari keadaannya telah terkepung. Dua kelompok itu hampir seimbang jumlah-nya. Dia mencabut sebatang tombak dari salah seorang prajuritnya yang sudah tidak bergerak itu. Dengan angkuh dia berdiri di atas batu tempat Patih Giling Wesi tadi beristirahat. Begitu prajurit bersiap. Sebuah tombak berwarna biru dengan tangkai berukir huruf yang rapi dan indah." "Adya Bala!" teriak Patih Giling Wesi memberi aba-aba. "Siapa kau?!" bentak Patih Giling Wesi. Mereka semua telah siap dengan senjata di tangan.teriakan dan disusul dengan rubuhnya lima orang prajurit. Serentak para prajurit yang lain bersiaga. Dada mereka tertancap tombak. "Intan Kemuning akan kukembalikan pada saatnya nanti. Dia tidak lain adalah Saka Lintang. bermunculan orangorang yang semuanya ber-seragam biru. Kelihatannya prajurit Kepatihan lebih banyak. tidak semudah itu patih yang gagah. Tapi bukan berarti mereka bisa dengan mudah mengalahkan gerombolan ini. Rasa terkejut mereka belum juga hilang ketika tiba-tiba muncul seorang wanita cantik mengenakan pakaian serba biru. Mereka semua memiliki tingkat kepandaian rata-rata di atas para prajurit pilihan sekali pun. "Ha ha ha.. seketika itu pula dari rimbunan semak dan dari balik bongkahan batu. Percuma saja kau kerahkan seluruh prajurit! Mereka hanya .

dan harus dimusnahkan!" geram Patih Giling Wesi. Bunyi senjata beradu dan teriakan-teriakan pertempuran terdengar membahana. Namun yang dihadapinya adalah Gering yang cukup tinggi ilmunya. Sudah tak tertahankan lagi amarah Patih Giling Wesi. Jerit-jerit kematian makin sering terdengar menyayat dari pihak prajurit. Tubuh mereka seperti lenyap ditelan gulungan sinar . sebuah bayangan berkelebat menghadang. Sedang dari pihak Bi dadari Sungai Ular. mungkin kepalanya sudah terpisah dari badan tersambar pedang Gering yang berkelebat cepat. "Huh! Sontoloyo!" dengus Patih Giling Wesi. Maka pertempuran pun berlangsung sengit. Bahkan beberapa kali dia dapat membalas serangan itu. Pikirannya hanya terpusat pada keselamatan putrinya. Tidak heran kalau Gering dapat mengimbangi permainan pedang Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi berteriak melengking dan merubah permainan pedangnya. Kalau saja bukan Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi tak ketinggalan dengan cepat melompat menerjang Saka Lintang." kata Saka Lintang meremehkan. Yang terlihat kini hanya bayangbayang pedang yang bergulung-gulung menyelimuti tubuh Gering. Segera diperintahkan prajuritnya untuk menyerang. Pertarungan makin seru dan tak terlihat lagi oleh mata biasa. belum ada satu pun yang tewas. Patih gagah. Gering berdiri dengan pedang terhunus. Menyadari lawan telah menggunakan jurus yang ampuh. Tetapi belum sampai dekat Saka Lintang. "Tidak semudah itu. Sementara itu pertarungan semakin sengit. Patih Giling Wesi tidak membuang-buang waktu lagi. Beberapa prajurit telah banyak yang roboh. Gering pun segera merubah jurusnya pula. "Kalian perompak liar.mengantar nyawa ke tempat ini!" ujar Saka Lintang pongah. Dia menerjang dengan jurus-jurus mautnya.

"Kau akan bernasib lebih buruk dari temanmu!" dengus Patih Giling Wesi.. Gerakan-gerakan Codet makin ngawur.!" tiba-tiba Gering berteriak memekik. "Majulah. Patih Giling Wesi harus lebih hati-hati lagi. Hanya Gering yang kelihatan terluka parah dan kini dirawat oleh anak buah Saka Lintang.. setan!" geram Patih Giling Wesi.. Di saat yang genting itu. Serangan-serangan yang dibangun Codet memang lebih dahsyat dan berbahaya di bandirig Gering. Sedang dari pihaknya. Jumlah mereka makin berkurang.!" Codet menjerit keras. Kelihatannya. Sementara Patih Giling Wesi terus mendesak dengan penuh nafsu. Tepat seperti dugaan Saka Lintang. Codet mencabut golok besarnya. Tampaknya prajurit-prajurit Kepatihan makin kewalahan dan terdesak. .pedang yang menimbulkan suara bersiutan.. Rupanya ujung pedang Patih Giling Wesi telah mengenai sasarannya. Hingga pada suatu kesempatan. tiba-tiba Codet menerjang masuk. dada telah basah oleh darah.. Di luar arena pertarungan. Gering segera mundur sambil menekap dadanya yang robek.. "Aaaakh. hanya dua yang tewas. Saka Lintang hanya mengamati saja sambil bibimya menyungging senyum. Dia merasakan angin sambaran golok lawannya menimbulkan hawa panas. Gadis ini cukup memaklumi keadaan Gering karena lawannya memang tangguh. "Aaaakh. Benda tajam itu berkelebat cepat dan mengarah ke bagian-bagian tubuh Patih Giling Wesi. Saka Lintang sudah bisa menduga kalau sebentar lagi Codet akan jatuh. Kedudukan Codet pun kelihatan makin kewalahan. Namun ketika berada di tangan Codet seperti ringan saja.. golok itu berat sekali. "Sebaliknya kau akan kukirim ke neraka!" sembur Codet. Ketika tubuhnya keluar dari gulungan sinar pedang.

namun kelihatan sekali kalau Patih Giling Wesi bertarung menggunakan otak yang dingin. 'Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi mengamuk membabi buta. Gerakannya cepat. Codet limbung sebentar. Apalagi orangorangnya makin banyak yang tumbang. Darah segar segera muncrat ketika pedang itu ditarik ke luar. bahkan dengan cepat mendahuluinya. Saka Lintang jadi geram. Patih Giling Wesi dengan cepat melompat ke tengah-tengah prajurit-prajuritnya yang sedang kewalahan menerima gempuran yang datang bagai air bah. lalu ambruk tak berkutik. Dia cepat membaca gerakan lawan. Dia pun dapat mematahkan serangan lawan sebelum sampai. Seketika pertempuran terhenti. Memang tidak sia-sia dia dijuluki Singa Medan Laga. Seperti orang kesetanan layaknya. sukar diduga. seketika bangkit kembali melihat pemimpinnya mengamuk bagai banteng terluka. Meskipun hatinya terbakar am arah. pasti ada seorang lawan yang ambruk mandi darah. Sepuluh orang sudah roboh di ujung pedang Patih Giling Wesi dalam tempo yang singkat. Mereka seperti memberi peluang bagi masing-masing pemimpin untuk berlaga. Prajuritprajurit yang semula kendor semangatnya. tubuhnya mencelat ke udara dan menghadang serangan Patih yang mengamuk. "Huh!" Patih Giling Wesi mendengus sambil menyemburkan ludahnya. Patih Giling Wesi menatap tajam pada Saka Lintang yang sudah menghunus pedangnya. akulah lawanmu!" teriak Saka Lintang. . Prajurit Kepatihan tinggal lima belas orang jumlahnya. Bersamaan dengan itu. Setiap pedangnya berkelebat.Pedang Patih Giling Wesi berhasil menembus dada Codet. Melihat orang-orangnya kewalahan menghadapi amukan Singa Medan Laga. Sebentar saja. dua puluh mayat sudah menggeletak. Masing-masing kelompok melompat mundur.

Aku hanya ingin memberirnu sedikit pelajaran agar kau tidak lagi pongah!" kalem dan tenang sekali suara Saka Lintang. Sedikit saja lemah. Dirubahnya serangan dengan menggunakan jurus-jurus andalan. Dia hanya menghindar dan menangkis dengan gerakangerakan indah memukau... dia harus mengerahkan tenaga dan kepandaiannya. "Awas kepala!" teriak Saka Lintang tiba-tiba. Patih Giling Wesi. gerakan yang menyambar kepala hanya tipuan belaka. Tetapi dalam menghadapi tokoh rimba persilatan seperti Saka Lintang ini. "Bocah setan!" geram Patih Giling Wesi merasa terhina. "Aku tidak akan membunuhmu. Tapi tak disangka-sangka.. kali ini Saka Lintang tidak mainmain lagi. Mengingat dirinya adalah seorang patih yang disegani. Jurus yang digunakan patih ini memang dahsyat. akibatnya sangat fatal. putrimu yang cantik akan jadi ratu setan!" dia langsung menyerang dengan jurus-jurus berbahaya. Semua serangan-serangannya. Dan memang. Sejak tadi sudah diperhatikannya jurus-jurus Patih Giling Wesi. Saka Lintang sengaja tidak membalas serangan lawan. "Ha ha ha. Dia telah tahu kelebihan dan kelemahannya. Patih Giling Wesi memang tangguh dalam olah keprajuritan. Patih Giling Wesi mulai merasa sulit menghadapi."Serahkan anakku. Dengan cepat pedang Saka Lintang berputar mengarah ke perut yang lowong. Untung Patih Giling Wesi cepat menarik pedangnya. penuh gerak tipu yang berbahaya. Sedangkan sasaran sesungguhnya adalah perut. atau kau harus mati di ujung pedangku!" dengus Patih Giling Wesi. Trang! . Saka Lintang melayaninya sambil tertawa -tawa. Patih Giling Wesi tidak mau menyerah begitu saja. Patih Giling Wesi terkejut Cepat-cepat dia menggerakkan pedangnya melindungi kepala. mentah dan rontok di tengah jalan oleh gadis ini.

Seratus jurus telah berlalu dengan cepat. Tiga puluh jurus telah berlalu. *** Pertarungan antara Patih Giling Wesi dengan Saka Lintang telah meningkat pada taraf yang genting. Saka Lintang kini meningkatkan permainan jurusjurusnya. Tebasan dan tusukan pedangnya makin berbahaya dan menimbulkan tenaga dorongan yang dahsyat. Terlambat sedikit saja. Mereka m asih seimbang meskipun telah mengeluarkan jurus-jurus pedang tingkat tinggi. langsung hancur berkeping-keping. Masing-masing belum ada yang terdesak. . Saka Lintang mengakui kehebatan patih ini. Batang-batang pohon segera tumbang terkena tebasan pedang Patih Giling Wesi. "Setan! Ilmu apa yang dia pakai?" dengus Saka Lintang dalam hati. Patih Giling Wesi belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Daun-daun segera berguguran terkena sambaran angin kelebatan pedang yang menimbulkan suara gemuruh bagai angin puting beliung. Kenyataannya sangat tak disangka sama sekali. Semua sama-sama dahsyat. Dalam hati. Kombinasi antara ilmu pedang dengan jurus 'Pukulan Geledek' yang dikeluarkannya kini.Dua pedang berbenturan tepat di depan perut Patih Giling Wesi. sangat dahsyat. Selain pedang yang menyambar-nyambar. Patih Giling Wesi dapat bergerak melebi hi kecepatan angin topan. Dengan 'Ajian Sayuti Angin'. Sedangkan Patih Giling Wesi juga sudah mengeluarkan kesaktiannya. tapi kelihatannya belum ada seorang pun yang terdesak. Batu-batuan dan pohon-pohon yang terkena pukulannya. perut itu pasti sobek. Semula Saka Lintang menduga kalau kepandaian Patih Giling Wed berada jauh di bawahnya. pukulan tangan kiri Saka Lintang juga mencari sasaran.

Bahkan lewat begitu saja. Sedapat mungkin dihindarinya benturan senjata. Trang! Trak! Saka Lintang melompat mundur dengan wajah terkejut. tangan kanan Saka Lintang melayang mengarah dadanya. Tangannya yang sudah terulur cepat. tidak bisa membabat-nya putus. Gerakan-gerakan tubuh Saka Lintang jadi berubah. dengan cepat dan tak terduga sama sekali. "Mampus kau!" bentak Patih Giling Wesi kembali melancarkan serangan mautnya. "Ah!" Saka Lintang memekik manja. Tidak sebanding dengan gerakan tangan yang lemah itu! Patih Giling Wesi segera menyadari kalau gerakan lemah gemulai yang mengundang birahi itu sangat berbahaya dan dapat mematikan lawan. Patih itu terkejut bukan kepa-lang. Matanya mengerling genit disertai gerak-gerak bibir yang mengundang birahi.. Buru-buru gadis itu memasukkan pedang ke dalam sarungnya. Perih dan bergetar ke seluruh persendian tangannya. Tapi. Meliuk-liuk dengan indahnya dengan tangan bergerak-gerak lemah gemulai. tangan Saka Lintang selalu bergetar bagai tersengat ribuan kala berbisa.. Dia seperti menari.Setiap kali pedangnya membentur pedang Patih Giling Wesi. Tangannya seperti dijalari jutaan semut yang menggigit. . Patih itu berusaha untuk tidak terpengaruh pada setiap gerakan tubuh yang indah itu. Bagian ujung pedangnya sempal.. dengan lembut ditarik. Sulit dipercaya! Pedang yang sudah sedernikian dekat tangan Saka Lintang yang bergerak lemah. Sesaat Patih Giling Wesi terpana.. Padahal tebasan pedang patih itu sangat cepat. Dan kini dia telah siap dengan jurus 'Tarian Bidadari'... Hatinya mendadak bergetar melihat tubuh indah meliuk-liuk dan sikap yang mengundang birahi. Namun tiba-tiba. "Setan!" dengus Patih Giling Wesi dengan cepat melompat sambil membabatkan pedangnya. Dan.

Tetapi serangan dahsyat itu tidak pernah dapat menyentuh tubuh Saka Lintang.. Ujung pedang patih itu hanya menyerempet beberapa ram but saja. Di samping harus menghadapi jurus aneh itu. Daya pikat yang di pancarkan Saka Lintang begitu kuat Gerakan-gerakan patih itu jadi tidak teratur karena terpecah konsentrasinya. Sekuat daya Patih Giling Wesi menekan nafsu birahinya yang semakin berkobar-kobar. Tetapi tak urung. "Huh! Ilmu setan mana yang dipakainya?" dengus Patih Giling Wesi. Serangan Patih Giling Wesi yang bertubi-tubi mengarah pada bagian-bagian yang mematikan. dia juga harus berperang dengan batinnya sendiri. . tepukan lembut itu menyerempet bahunya. "Racun. Namun dari anginnya sudah dapat dirasa. mencari kelemahan jurus aneh yang dimainkan lawannya itu."Ouw!" Saka Lintang hanya mendesah manja sambil menggerakkan tubuh dengan indah. Patih Giling Wesi makin kewalahan. Patih Giling Wesi merasakan suatu hawa panas menyebar. Itulah kelebihan dari jurus Tarian Bidadari yang membuat lawan jadi frustasi karena mengira serangannya berhasil.. Untung saja patih itu masih memiliki sedikit kewaspadaan sehingga tepukan tangan Saka Lintang berhasil dihindari. Seketika dia tersentak kaget. "hey! Uts!" Tiba-tiba Patih Giling Wesi tersentak. Mendadak kepala Patih Giling Wesi terasa pening. Patih Giling Wesi memutar otak. Belum dapat dipastikan racun itu berbahaya atau tidak.!" desisnya. namun dengan manis Saka Lintang berhasil mengelak. Setiap kali pedangnya berkelebat dan dipastikan akan menebas lawan. Segera Patih Giling Wesi mengerahkan hawa mumi ke seluruh tubuhnya. Tangan halus gemulai itu mendadak hampir menepuk pundaknya.

mendadak sebuah blsikan lembut terdengar di telinganya. Patih Giling Wesi tidak dapat berpikir lebih banyak lagi. menahan napas!" bisik hati Patih Giling Wesi. Ya. Tetapi lewat dari sepuluh.Secara tidak l angsung. Tetapi kalau tidak begitu. Bisikan yang entah datang dari mana. Patih Giling Wesi menatap Saka Lintang yang berdiri tenang dengan bibir menyungging senyum memikat. Tubuhnya jadi terasa hangat. "Jalan satu-satunya harus menahan panas. Bisa-bisa malah mati karena di dalam tubuh terjadi pertentangan dua hawa yang ber-lainan. Di saat Patih Giling Wesi dalam kebingungan. Dalam hati Patih Giling Wesi mengatakan bahwa tidak mungkin bertarung sambil menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni. dia telah menghirup hawa racun yang disebar oleh telapak tangan Saka Lintang. Patih Giling Wesi seperti kehilangan akal dalam menghadapi lawannya kali ini. Hawa murni itu telah menutup seluruh aliran darahnya. Sepertinya suara itu begitu dekat dan jelas. tetapi pandanglah matanya. . racun bakal terhisap lagi! Untuk menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni juga terlalu besar resikonya. Tapi apakah mampu menahan napas sambil bertarung? Kalau hanya sepuluh jurus saja dia masih mampu.lahan rasa pening di kepala berkurang. Sementara Saka Lintang telah mulai lagi dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Yang jelas bisikan itu mengatakan tentang kelemahan jurus 'Tarian Bidadari'. Perlahan. Patih Giling Wesi membuka lagi jalan darahnya setelah terasa racun yang terhisap tadi telah keluar dari tubuhnya. *** "Jangan hiraukan tangannya. rasanya tidak mungkin.

Dia jadi geram karena kelemahan jurus andalannya terbaca lawan. sering luput dari perhatian. Tanpa ragu-ragu lagi.Arahkan pedang pada pusarnya. digunakan pernapasan perut di samping memandang mata lawan. Hatinya gembira. kelihatan Saka Lintang mulai kebingungan. "Ih!" Saka Lintang terkejut ketika ujung pedang patih itu berhasil merobek baju bagian perutnya." terdengar lagi bisikan itu. Patih Giling Wesi segera bergerak mengikuti setiap gerakan kaki Saka Lintang. Mudah dan sederhana sekali petunjuk yang diberikan sehingga Patih Giling Wesi dengan cepat memahaminya. Rupanya gerakan-gerakan lemah lembut Saka Lintang harus dihadapi pula dengan gerakan yang lemah sedikit kaku. Sedangkan pada bagian perut yang terbuka. "Pusatkan napas pada perut. Pedangnya terhunus ke arah pusar. Kian lama gerakannya menjadi kacau. baru dua petunjuk saja. . "Ikuti setiap gerak kakinya. Untuk bisa melakukannya. Cukup besar sayatan menggores bajunya. Dia sudah mulai merasakan kalau Saka Lintang menemui kesulitan. Merah pada wajah gadis itu menahan malu." bisikan itu terdengar lagi. tidak beraturan. Hembuskan melalui mulut. Namun semuanya tertutupi oleh gerakan-gerakan lemah gemulainya. Saka Lintang segera melompat mundur. Patih Giling Wesi makin gembira karena merasa di atas angin. Bahkan beberapa kali ujung pedang Patih Giling Wesi hampir menembus perutnya. Saka Lintang mulai sulit menebarkan racun lewat pukulannya. Semangat timbul lagi. Dan benar saja. Setiap gerakan Saka Lintang selalu dapat dibaca olehnya. Cepat-cepat ditutupinya bagian yang terbuka itu. Mungkin karena lawan telah terpengaruh oleh gerakan-gerakan yang mengundang syahwat itu." jelas bisikan itu. patih itu segera menatap mata Saka Lintang.

Patih Giling Wesi sangat menghormatinya meski dia hanya seorang yang lebih mirip pengemis. jangan campuri urusanku!" . Sebentar dia melompat. Gerakan-gerakan yang diperlihatkan memang aneh. Saka Lintang hanya mendengus saja. Tingkat kepandaiannya memang sulit diukur. "Huh! Ilmu setan mana lagi yang digunakannya?!" dengus Patih Giling Wesi. Jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Kini disiapkannya jurus andalannya yang terakhir. mundurlah. Dia sudah tahu siapa kakek tua itu. Kemudian muncul seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah di tangannya. "Ular harus dilawan dengan tongkat!" kata kakek tua yang tidak lain adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah atau Aki Lungkur. Kadang lambat. Dia sama sekali tidak tahu kalau patih itu mendapat petunjuk dari bisikan misterius yang hanya dapat didengar oleh patih itu sendiri. "Aki Lungkur. Patih Giling Wesi pun mundur dua tindak. Dia bukan lawanmu. biar lebih cepat kau kukirim ke neraka!" dengus Patih Giling Wesi.hingga jadi lupa terhadap daerah lowong itu.. "He he he. tetapi segera berubah cepat.. Dalam menghadapi Patih Giling Wesi. "Bedebah! Kakek busuk. Saka Lintang kali ini memang menelan pil pahit." desis Patih Giling Wesi. "Adi Patih Giling Wesi. Seketika dia menduga kalau kakek tua inilah yang membisikkannya tadi." kata Aki Lungkur lagi." kata Aki Lungkur tanpa mengecilkan kepandaian patih itu... "Selamatkan putrimu di bukit Guntur.!" Suara terkekeh tiba-tiba terdengar menggema dari segala penjuru. "Keluarkan seluruh kesaktianmu. Mulutnya mendesis bagai ular. kemudian merayap cepat menyusur tanah..

Hati-hatilah.. mereka langsung menyerang para prajurit yang belum pergi jauh itu." gumam Rangga menghitung. Seorang gadis." Aki Lungkur terkekeh lagi. Aki... Dia tahu kalau dirinya telah memasuki daerah markas Bidadari Sungai Ular. *** Pada waktu yang bersamaan. si Pendekar Rajawali Sakti.. "Cepatlah berangkat! Jangan buang-buang waktu lagi." sahut Patih Giling Wesi. hanya 15. 2.. Aki Lungkur tahu siapa lawan yang dihadapinya kini.bentak Saka Lintang geram. Terbukti Patih Giling Wesi tidak mampu menandinginya. Ah. Suara siulannya berhenti. Saka Lintang segera memerintahkan anak buahnya menghalangi para prajurit Kepatihan itu. Dari gagang pedang yang menempel di punggungnya dapat diketahui kalau pemuda itu adalah Rangga. "Hm. Rangga terus melenggang.. "He he he. Tanpa dikomando lagi..... Bibirnya menyungging senyum. "1. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu." kembali Rangga . Dan kini telah mengepung dirinya. 3. Sambil bersiul-siul dengan irama yang tak jelas...." kata Aki Lungkur tanpa mempedulikan bentakan Saka Lintang. "Baik. Bersama prajuritprajuritnya dia menuju bukit Guntur. Telinganya yang tajam menangkap suara gerak langkah kaki tersembunyi. mungkin rumah itu sarangnya... Tanpa mendapat peringatan pun. seorang pemuda berbaju rompi putih berjalan menelusuri kaki bukit Guntur sambil bersiul-siul. Rangga masih melenggang tenang. Patih Giling Wesi segera berangkat. anak angkat Geti Ireng. Kepalanya tergeleng-geleng begitu mendengar suara berkeresek. Tentulah kepandaiannya tidak bisa dianggap enteng.

galak sekali. kembali! Atau tubuhmu kujadikan dendeng!" ancam Jambak. "Teman-teman. Dia segera melompat dengan ilmu peringan tubuhnya. "Lho. 'Tidak ada seorang pun yang boleh memasuki kawasan ini!" kata Jambak galak. Bagaikan terbang saja. Kelima belas orang itu hanya melongo. serang keparat ini!" perintah Jambak. mendadak dari rimbunan semak-semak bermunculan orang-orang berpakai an serba biru dengan senjata terhunus. Dia salah seorang kepercayaan si Bidadari Sungai Ular. Pedangnya terayun cepat mengarah kepala Rangga. Jambak yang memiliki kepandaian cukup tinggi.bergumam ketika melihat sebuah rumah kayu di depannya. "Aku hanya pengembara dan kebetulan lewat sini. Rangga melayang menuju rumah kayu di tebing bukit. Diayunkan langkahnya. Dan. Seketika empat belas orang temannya dengan cepat mengurung Rangga sambil berteriak-teriak mengacungkan senjata. Digenjot kakinya. Namun tebasan pedang itu hanya mengenai angin." jawab Rangga kalem. "Jangan banyak tanya. Rangga hanya tersenyum saja. Tidak terlalu sulit untuk mencapai sana. Namanya Jambak. Jambak jadi gusar karena kata-katanya tidak digubris sama sekali. "Waduh. Rangga hanya tersenyun. kenapa?" Rangga berlagak dungu." "Pergi!" bentak Jambak keras. segera memerintahkan . Ayo. "Siapa kau? Apa maksudmu datang ke sini?" tanya orang yang membentak tadi." Rangga berlagak kaget. "Berhenti!" bentak salah seorang dengan keras. dan dengan cepat tubuhnya melenting di udara. Tanpa peduli Rangga meneruskan perjalanannya. Rumah beratap rurnbia itu bertengger di kaki lereng yang cukup terjal. "Wuih! Sadis sekali.

belum ada satu pun senjata yang berhasil menyentuh tubuhnya. Rangga masih sempat melirik ke arah pintu rumah yang terbuka. Namun bagi Rang-ga.macam senjata beradu dengan tombak di tangan Rangga. Dalam keadaan dikeroyok seperti itu. Sekejap saja seorang dari pengeroyoknya yang menggenggam tombak terhuyung ke belakang. dan menggiurkan. "Hm. Dan tibatiba muncul seorang wanita muda. Macam-macam bentuk senjata bertebaran mengepung tubuh Pendekar Rajawali Sakti. "Maaf. Rangga tidak lagi kewalahan. Dia sendiri berlompatan dengan bantuan ilmu peringan tubuhnya.. Tombak itu telah berpindah tangan. tangan Rangga bergerak cepat. pinjam tombakmu!" kata Rangga kalem. kalian hanya kronco!" dengus Rangga begitu kakinya menjejak tanah di depan rumah kayu itu.teman-temannya mengejar. Namun sampai sejauh ini. Rangga bagai seekor belut. Rupanya Rangga menggunakan satu jarinya untuk menotok kening orang itu. Jambak yang datang lebih dulu dari teman-temannya dengan cepat menyerang ganas. sehingga kening orang itu bolong! Kini dengan tombak di tangan. mengenakan pakaian merah muda dari bahan sutra halus di depan pintu. Sangat keras totokannya. Selesai ucapannya. semua serangan Jambak hanya dianggap main-main saja. Licin dan berkelit ke sana kemari menghindari segala bentuk serangan yang datang bertubi-tubi. Rangga hanya berkelit menghindari tebasan pedang yang datang bagai air bah itu.. cantik. Kaki Rangga baru bergerak jika datang serangan lain secara keroyokan. Rangga sedikit terpana melihat kecantikan wanita yang tidak lain adalah Intan . Dan kini orang itu telah ambruk tak berkutik. Darah menguncur deras dari keningnya yang bolong.. Denting macam. Dia hanya meliuk-liukkan tubuhnya tanpa menggeser kaki sedikit pun.

Rangga menggerakkan tombaknya semakin cepat. Rangga kini sibuk menghadapi para pengeroyoknya yang semakin ganas. menyusul dua orang terhuyung-huyung lalu ambruk. Tubuh-tubuh bermandikan darah mulai bergelim-pangan. Serentak dari balik-balik pepohonan muncul sekitar dua puluh orang berpakaian serba hitam. Belum lagi kering darah itu.Kemuning. Siulan itu menggema dipantulkan oleh bukit-bukit batu dan lembah. "Jambak. Pekik kematian kini terdengar saling susul.!" seru Jambak gembira melihat berkelebatnya sebuah bayangan. "Dia coba-coba menggerogoti lumbung. siapa tikus itu?" tanya Bayangan Hitam. "Cukup!" Tiba-tiba terdengar bentakan keras melengking. . Hatinya bergetar juga. Sebentar saja sesosok tubuh kurus tinggi berbalut baju hitam ketat telah berdiri di tengah-tengah lapangan depan rumah kayu itu. Darah segar segera mengucur dari dada yang robek itu. "Bayangan hitam. Dua orang kini terhuyung sambil menekap dada. Lebih-lebih setelah mendengar l agi suara jeritan panjang melengking. dapat ditebak kalau orang itu wanita.. Jambak merasakan lawannya bukan tandingan mereka semua. Sebentar saja sudah delapan orang yang telah mengantar nyawa. Dari raut wajah yang panjang kurus.. disusul am-bruknya dua orang lagi. Namun dia tidak dapat memperhatikan lebih lama lagi. Terdengarlah siulan yang panjang dan melengking tinggi. Mereka semua menyandang pedang di punggung. lalu ambruk tidak berkutik lagi." "Huh! Lalu di mana Gusti Putrimu?' "Menghadang perusuh di sungai Ular." Si Bayangan Hitam mendongak seraya memonyongkan bibir. "Bagi dua!" teriak Bayangan Hitam.

"Sebutkan namamu sebelum kau kukirim ke neraka!" . Bantu Gusti Putrimu!" perintah Bayangan Hitam. Meski Saka Lintang telah mengetahui asal-usulnya. Jadi Bayangan Hitam adalah bibi angkatnya.Tanpa banyak omong. *** Bayangan Hitam bukan orang lain bagi Saka Lintang. Lagi pula. "Sombong!" dengus Bayangan Hitam sedikit gusar. orang-orang yang baru bermunculan itu segera membentuk dua kelompok. Dia adalah seorang tokoh sakti yang tangguh dan sukar dicari tandingannya. Secercah harapan muncul dan terbias di wajah mereka melihat kehadiran Bayangan Hitam. Episode: Iblis Lembah Tengkorak) "Siapa kau. Bayangan Hitam datang membawa anak buahnya. "Namaku tak ada artinya buatmu. terima kasih" Jambak membungkukkan tubuhnya. Benar-benar suatu kebetulan. Dari julukannya. Dia adik kandung Geti Ireng. dapat dipastikan kalau tokoh ini dari aliran hitam. anak muda?!" tanya Bayangan Hitam. Dari sekilas pandang saja. Segera mereka berlari menuruni lereng bukit menuju sungai Ular. ayah angkat Saka Lintang. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti." jawab Rangga. Sisa empat orang teman-teman Jambak masih terdiam di tempatnya. "Oh. Wanita kurus ini sangat baik terhadap Saka Lintang. namun dia sama sekali tidak membenci Bayangan Hitam. Rangga sudah dapat mengukur tingkat kepandaian perempuan kurus ini. Bayangan Hitam tidak pernah ingin ikut campur dalam urusan Geti Ireng. bawa satu kelompok orangku. Semangat mereka timbul kembali setelah hampir diporak-porandakan. Mereka semua tahu siapa Bayangan Hitam. Jambak cepat memberi isyarat pada salah satu kelompok Bayangan Hitam. "Jambak.

Dia segera mencabut pedangnya ketika Bayangan Hitam telah siap dengan . "Aku datang untuk mengambil Putri Intan Kemuning!" Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu rumah kayu. untuk apa perempuan kurus atau Bayangan Hitam itu muncul."Aku Pendekar Rajawali Sakti. "Bertemu saja baru kali ini. Lebih-lebi h setelah menyaksikan sepak terjangnya yang dengan mudah merobohkan sepuluh orang dalam satu jurus yang diulangulang terus. Mendengar namanya saja. bagaimana mungkin aku berhutang nyawa padamu?" "Kau membunuh saudara laki-lakiku! Kau harus bayar dengan nyawamu!" "Siapa saudaramu?' "Geti Ireng atau Iblis Lembah Tengkorak!" Rangga mengerutkan keningnya. "Aku membunuh saudaramu. Kini dia mengerti sudah. karena dia membantai keluargaku!" lantang dan mantap suara Rangga. Tapi diam-diam Intan Kemuning tertarik juga melihat ketampanannya. Wajahnya tampak berubah merah. Tak disangkasangka dia bertemu dengan pembunuh kakak laki-lakinya. pasti tingkat kepandaiannya tinggi sekali. Dia tidak kenal dengan pemuda tampan itu. Kelihatannya dia telah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. bocah setan! Kau berhutang nyawa padaku!" ujar Bayangan Hitam. "Kebetulan kau muncul. Bukan hanya Intan Kemuning yang terkejut Ternyata Bayangan Hitam pun kaget setengah mati. Kalau anak muda ini dapat membunuh Iblis Lembah Tengkorak. "Aku tidak peduli! Yang jelas kau harus bayar nyawa saudaraku!" Rangga yang sudah mengukur kepandaian Bayangan Hitam tidak sungkan-sungkan lagi." lantang suara Rangga. Apalagi si pem bunuh itu masih muda dan tampan. baru kali ini. terkejut.

Sebentar saja sepuluh jurus telah berlalu. Sedangkan pedang Bayangan Hitam menderu-deru menimbulkan hawa panas. Rangga tidak merasakan apa-apa waktu pedangnya berbenturan tadi.pedangnya. satu jurus andalan tingkat pertama. Dia pun bersiap-siap mengerahkan jurus 'Cakar Rajawali'. Yang kelihatan hanya bayangan hitam. Bibirnya mengulum senyum. Sinar hitam menggulung-gulung bagai asap tebal. takjub. Kalau saja Bayangan Hitam tadi tidak melompat. Kini dia mengeluarkan jurus andalannya juga. dan biru saling berkelebat Semua yang ada di situ melongo. putih. "Keluarkan ilmu kesaktianmu. Bayangan Hitam pun tak kalah siapnya. Rangga segera memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Bayangan Hitam segera melompat mundur satu tombak. tapi sinar matanya tajam menatap lurus Bayangan Hitam. Sret! 'Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam. Jari-jari tangannya seperti kaku. Dirasakan tangannya kesemutan ketika pedangnya beradu. Bayangan Hitam segera menyerang Rangga dengan jurus-jurus pedang yang dahsyat Sekejap saja mereka telah bertarung dengan jurus-jurus pedang tingkat tinggi. Dua sinar berbeda saling sambar dengan hebat-nya. . Pedangnya melintang di depan dada. Mereka telah saling berhadapan. Pedang Rangga berputar-putar berkelebat memancarkan sinar biru yang menyilaukan. Kini tubuh mereka tidak terlihat jelas. Trang! Dua pedang beradu menimbulkan pijaran bunga api. anak setan!" geram Bayangan Hitam sambil membuang pedangnya begitu saja. bisa jadi tangan kanannya pisah dari badan terbabat pedang Rangga. "Edan!" dengus Bayangan Hitam melihat ujung pedangnya buntung. Kian lama pertarungan kian seru. Sementara Rangga tidak bergeming sedikit pun.

Sulit diiihat denjan mata biasa. Kin dengan jurus 'Bayangan Maut'. Kedua tangan yang selalu mengembang bagai sepasang sayap itu menyambarnyambar mengikuti gerakan tubuh Rangga yang kadang melayang.!" desis Rangga memuji dengan tulus "Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam. Seketika batu itu hancur berkeping-keping menyebar ke segala penjuru."Bersiaplah!" Bayangan Hitam segera menggebrak setelah selesai memberi peringatan.. Rangga berdecak kagum melihat kedahsyatan pukulan Bayangan Hitam.. kadang menukik "Akh!" Tiba-tiba Bayangan Hitam memekik kesakitan. Seketika Bayangan Hitam merubah jurusnya. Rangga mengerutkan keningnya ketika merasakan angin sambaran pukulan yang sangat dahsyat.!" Suara ledakan keras terdengar ketika tangan Bayangan Hitam menghantam batu. Rangga pun segera merubah jurusnya menjadi 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Bayangan Hitam sampai terperanjat. Kakinya bergerakgerak lincah mengimbangi gerakan Bayangan Hitam yang sangat cepat. Pertarungan dua tokoh sakti itu kembali berlangsung. karena kaki-kaki Rengga saling susul mengarah kepala. Debu mengepul di udara disertai angin yang menderu-deru bagai terjadi topan.. Kini hanya dua bayangan hitam dan putih berkelebat. Tubuhnya . Beberapa pohon tumbang terkena sambaran angin pukulan Rangga. Kedua kaki Rangga makin bergerak cepat. Kedua tangan Rangga mengembang. "Hebat. "Glaaar. Kedua tangainya menyambar-nyambar menimbulkan deru angin kencang. tubuhnya berar-benar seperti bayangan saja.. Kedua kaki Rangga kini tidak lagi menjejak tanah.

Tanpa dapat dihindari lagi. Tulang pundaknya patah sehingga sulit digerakkan lagi. Sedangkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya menghadapi anak buah Bidadari Sungai Ular. Patih itu mengamuk terus.!" teriak Bayangan Hitam keras melengking. Saka Lintang tidak mungkin membantu orang-orangnya. 'Tuan Putri. Setiap pedangnya berkelebat selalu menimbulkan korban.terhuyung dua tombak. "Kurang ajar!" geram Rangga sengit. Prajurit Kepatihan yang dipimpin Patih Giling Wesi itu kini berada di atas angin. Dia berusaha menghindari kepala. pertempuran masih berlangsung sengit. Dia sendiri kewalahan menghadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah. Semangatnya segera . tibatiba muncul sepuluh orang berpakaian serba hitam dipimpin oleh Jambak. Saka Lintang berseri-seri wajah nya. Empat orang anak buah Bidadari Sungai Ular yang tersisa membantu mengeroyok Rangga. Bibi Bayangan Hitam datang!" teriak Jambak. *** Sementara di sungai Ular. Saka Lintang bertarung dengan Pengemis Sakti Tongkat Merah. Yang tersisa hanya delapan orang saja. tapi tidak bisa lagi menarik pundaknya. Denting senjata bercampur dengan jerit kematian.. Serentak sepuluh orang berpakaian serba hitam bergerak menyerang Rangga. kaki Rangga berhasil mengenai pundaknya. "Serang. Makin lama orang-orang berpakaian serba biru semakin berkurang jumlahnya. Saat gerom bolan perom pak itu makin terdesak.. Bayangan Hitam mengeram menahan sekit yang luar biasa karena menyadari tangan kirinya tidak bisa digerakkan lagi. Mereka penasaran karena belum bisa menggoreskan pedang ke tubuh Rangga.

Saka Lintang segera melompat keluar dari pertarungan ketika ada kesempatan. "Biar orang-orang ini aku yang hadapi!" Patih Giling Wesi segera melompat tinggi dan bersalto di udara. "Berada di markas!" sahut Jambak. Dengan cepat dia berlari menggunakan ilmu peringan tubuh. Lima orang membantu anak buah Saka Lintang. Tubuhnya mencelat tinggi di udara dan jatuh tepat di samping Patih Giling Wesi. lalu berteriak nyaring. Kini keadaannya jadi berbalik. Orang-orang dari Bayangan Hitam lebih tinggi tingkat kepandaiannya dan lebih ganas dalam bertarung. Bagaikan kilat tubuh patih itu dan kini sudah jauh meninggalkan pertempuran. Satu persatu orang-orang berpakaian serba hitam tersungkur berlumuran darah disertai jerit kesakitan. "Di mana Bibi Bayangan Hitam sekarang?" tanya Saka Lintang di sela-sela pertarungan. "Lalu. Begitu kakinya menginjak tanah. Pengemis Sakti Tongkat Merah mendengar hal itu merasa bersyukur karena Pendekar Rajawali Sakti telah sampai di sarang gerombolan Bidadari Sungai Ular..?" Saka Lintang terkejut. Pengemis Sakti Tongkat Merah mengamuk memutar-mutar tongkat saktinya. Pengemis Sakti Tongkat Merah yang sejak tadi mendengar. langsung dikeluarkannya ilmu lari cepat. Apalagi melihat anak buah Bayangan Hitam ikut bertempur. lima orang lagi membantu mengeroyok Pengemis Sakti Tongkat Merah. .. 'Tengah menghadapi Pendekar Rajawali Sakti. bagaimana Intan?" tanya Saka Lintang dengan cemas. "Cepat ke bukit Guntur! Selamatkan putrimu!" perintah Kakek Pengemis itu." jawab Jambak.bangkit mendengar Bayangan Hitam ikut membantu. Saka Lintang mendekati Jam bak yang tengah mengeroyok Kakek Sakti Tongkat Merah. "Apa.

Seketika sepuluh orang mengambil posisi melingkar mengepung Rangga. "Cari kesempatan! Kejar mereka!" teriak Jam bak gusar. Tongkatnya seperti hidup menyambar. Ki. Perintah Jambak seperti tertelan angin. sedangkan pedangnya berkelebat ke arah tubuh lawan yang kosong. pertarungan masih berlangsung sengit. Rangga mengamuk menghadapi Bayangan Hitam yang dibantu oleh kaki tangannya. Kini jumlah mereka makin berkurang saja. Aki Lungkur bergerak cepat menyambar setiap orang yang berusaha keluar dari medan pertarungan. 'Tapi. Mata Rangga tajam mengamati gerakan sepuluh orang yang berputar mengelilinginya sambil pedangnya tersilang . Mereka seperti menghadapi seribu pengemis. selalu menghalangi setiap orang yang akan mengejar para prajurit. Rangga mencabut pedangnya dan mengerahkan ilmu pedangnya yang dipadu dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Di markas gerombolan Bidadari Sungai Ular.!" seorang prajurit tidak tega meninggalkan orang tua itu sendirian. "Jangan membantah!" dengus Aki Lungkur. "Cepat susul Gustimu!" teriak Aki Lungkur kepada para prajurit. Sementara Kakek Pengemis kian waspada. Empat orang ber-pakaian biru keluar dari arena. Jambak memutar otaknya mencari jalan agar sebagian temannya bisa keluar dari pertarungan... "Rantai Bayangan!" teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. Gerakan kakinya lincah menghindari setiap serangan lawan.Mereka bukanlah lawan Pengemis Sakti Tongkat Merah.nyambar mencari mangsa. Delapan prajurit Kepatihan itu langsung beriari menyusul pemimpinnya. Kakek sakti menebas tongkatnya sehingga satu persatu bergelimpangan. Jurus ke-tiga dari rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'.

datang dari segala penjuru secara berganrJan. “Bola Rantai Hitam!” teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. Tiba-tiba dia menjerit kuat sekali. Dengan serentak sisa anak buahnya mengeluarkan sebuah bola besi berwarna hitam yang bergigi runcing di sekelilingnya dan dihubungkan dengan rantai halus . Makin lama makin cepat Yang terlihat kini hanya bayangan hitam yang bergerak melingkar. Pedangnya dimasukkan ke dalam sarungnya di punggung. Tetapi dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti dapat menguasai diri.. Ternyata teriakan-teriakan itu hanya untuk memecah konsentrasinya. Seperti mata rantai.. Serangan-serangan itu sulit ditebak. "Bedebah! Kurang ajar!" Bayangan Hitam menggeram melihat empat anak buahnya roboh hanya sekali gebrakan saja. Trang! Trang! Trang! Kepingan-kepingan logam pedang yang patah meluncur deras ke arah orang-orang berpakaian serba hitam yang kebingungan. Dengan gerakan manis.di depan dada.. "Hiya! Yeah.!" Rangga kebingungan juga menghadapi pola serangan yang ganjil ini. "Aaaakh.!" Beberapa tubuh yang tidak sempat mengelak langsung bergelimpangan dengan dada teriembus patahan pedang mereka sendiri menyusul jeritan kematian. Tubuhnya berputar cepat bagai baling-baling. Gencar sekali. Mata Rangga tidak lepas mengamati setiap serangan yang datang.. Pedang mereka terkena sambaran pedang biru menyilaukan. Sedangkan yang selamat hanya memegang pedang yang tinggal setengah saja. Rangga mendarat di tanah. Rangga tidak akan menggunakan senjata jika lawan tidak pula menggunakannya. mereka bekerja sama dengan gerakan-gerakan yang teratur dan menunjang.

Keenam orang itu segera membentuk lingkaran. "Bedebah!" geram Bayangan Hitam. dan hanya menggabung-gabungkan saja dengan berbagai kombinasi. Tangan mereka memutar-mutar rantai panjang dengan bola-bola bergigi di ujungnya. Rangga membiarkan tubuhnya terbelit rantai-rantai dengan bola bergigi itu. Sungguh hebat tenaga dalam Rangga. Rangga yang masih berada di atas. "Aaaakh. Suaranya menderu-deru bagai angin topan. Dia segera menyerang Bayangan Hitam dengan gabungan tiga rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Rantai-rantai hanya terlihat beberapa jengkal saja. Rangga pun mengerahkan gabungan dari tiga rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Seketika bola-bola itu menderu-deru silih berganti. "Lepaskan!" teriak Bayangan Hitam. Rangga turun dengan manis. Kelima anak buahnya . Tiba-tiba tubuh mereka terangkat ikut meluncur bersama Rangga yang semakin tinggi. dilontarkan oleh keenam orang itu. Apa-lagi sebelah tangannya tidak bisa digerakkan.. Kali ini dia tidak ingin lagi membiarkan lawan mengatur siasat.berwarna hitam pula. Dengan satu teriakan melengking.. Sebelum menjejakkan kakinya di tanah. Dia masih menganggap belum perlu merubah jurus. Tentu Bayangan Hitam jadi kelabakan.. dengan gerakan cepat mengumpulkan dan melemparkan rantai-rantai itu kepada pemiliknya.!" seorang dari mereka menjerit keras. "Serang.. Lima orang lainnya masih bisa menyelamatkan diri.!" teriak Bayangan Hitam memberi komando. dia melesat ke udara bagai seekor rajawali. Keenam orang itu serentak melepaskan rantai. Bolabola besi lainnya menghantam tanah lalu melesak ke dalam. Kepalanya hancur terhantam bola hitam miliknya sendiri. mereka bersalto di udara.

Dan tanpa terduga sama sekali..!" Bayangan Hitam menoleh.ditambah empat anak buah kelompok Bidadari Sungai Ular.!" tiba-tiba terdengar suara bentakan keras menggelegar. Dia menggeram dengan gigi gemerutuk melihat semua anak buahnya tewas. kaki Rangga melayang ke arah kepala. sehingga pertempuran sekejap saja berhenti. Bayangan Hitam pun kini hanya bisa bertahan tanpa mampu memberikan serangan balasan. Begitu hebatnya suara bentakan tadi. Dilihatnya Saka Lintang berlari cepat dan segera melompat sambil menghunus pedang. Bahkan lima orang anggota Bayangan Hitam telah jadi mayat. Siapakah yang membentak itu? *** . langsung membantunya.r!" Gerakan Rangga dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' begitu cepat sehingga keempat orang itu tidak bisa melindungi kepalanya. Tiba-tiba saja empat pedang terlempar ke udara. Apalagi kini mereka tanpa senjata. Mereka segera menggelepar dengan kepala pecah. "Lepas!" sentak Rangga.. "Bibi. Tapi hanya empat orang saja yang menggunakan senjata. "Mundur. Kraaak! "Aaaa.. Seketika Saka Lintang terlibat dalam pertempuran pula.. Dengan cepat Rangga segera mengganti ketiga jurusnya sehingga lawan kebingungan.. Dari mulutnya terus keluar umpatan dan cacian yang tidak berhenti. Rangga kini dikeroyok sepuluh orang.

Hanya kemunculan mereka saja yang tidak selalu bersamaan. Blar. Kakek itu mencelat bersamaan dengan hancurnya pohon itu. Terpaksa dia kini mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. untung paman cepat datang. Mereka sibuk mendirikan partai sendiri-sendiri.. Banyak tokoh menduga kal au mereka tengah bentrok.. . Tokoh ini beraliran hitam dan dulunya merupakan suami Bayangan Hitam. Seorang tokoh tua sakti bernama Nambi muncul di tengah-tengah arena pertarungan. Rangga kembali memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Kini pedang itu terarah pada sebuah pohon besar. Belum sempat menjejakkan kakinya ke tanah. sehingga mereka tidak hiraukan status suami istri. Sampai sekarang pun mereka masih suami istri. Rangga telah disibukkan dengan sinar merah yang datang lagi.." Saka Lintang gembira. "Paman Nambi. "Hm. Dengan sigap Pendekar Rajawali Sakti itu melompat menghindari sinar merah yang datang tiba-tiba itu. Rangga cepat mengibaskan tangannya..Seberkas sinar merah meluncur deras menyambar Rangga. Tepat saat kakinya menginjak tanah. dengan seketika dia telah menggenggam pedangnya. Dari pedang pun meluncur sinar biru bergulunggulung. apa yang terjadi.. Dia dikenal dalam rimba persilatan dengan nama Setan Jubah Merah.! Pohon besar itu hancur berkeping-keping tersambar sinar biru. "Paman. Mata Rangga yang tajam cepat mengetahui dari mana datangnya sinar merah itu... Lintang?" tanya Nambi sambil mengamati mayat-mayat yang bergelimpangan.!" seru Saka Lintang. muncul seorang kakek tua berjubah merah. Hanya saja watak mereka yang terbiasa malang melintang di rimba persilatan.

" jawab Saka Lintang. Mungkin kalau Pengemis Sakti Tongkat Merah tidak ikut campur. "Anak muda. "Sudah kuperingatkan. Setan Jubah Merah melom pat cepat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Saka Lintang memandang Rangga. Setan Jubah Merah segera mengerahkan . Ada nada kesedihan daiam suaranya. Benih-benih cinta kembali muncul. "Dan kau tidak mampu mengatasinya?" Saka Lintang hanya tertunduk saja. jangan cari perkara dengan pihak kerajaan. Masih saja membandel!" tegur paman angkat Saka Lintang. Saka Lintang pasti mampu mengalahkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya. paman." jawab Saka Lintang. Bayangan Hitam. Seluruh anak buahnya mati. Pundak itu melesak ke dalam. Namun bibit dendam dan kebencian juga bertumbuhan. Untuk kedua kalinya dia harus berhadapan dengan pemuda yang telah merobek-robek hatinya ini. "Pendekar Rajawali Sakti. Seketika hatinya bergetar. silahkan baca Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Iblis Lembah Tengkorakl "Siapa dia?" tanya Nambi atau Setan Jubah Merah. Tetapi tak diduga sama sekali akibatnya jadi demikian. hadapi aku!" bentak Setan Jubah Merah. "Hati-hati. Dia sadar. Saka Lintang melirik Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu. Nambi memandang pada istrinya. Tapi sekarang? Apal agi Pendekar Rajawali Sakti ikut membantu. Kakang!" Bayangan Hitam memperingatkan."Perkumpulanku dihancurkan. Patah! Mendadak hatinya panas. Matanya agak menyipit melihat ke arah pundak perempuan tua itu. ini adal ah kesalahannya. (Untuk lebih jelas. Pertempuran sengit tidak dapat dihindari lagi. Maksud Saka Lintang hanya ingin merubah Intan Kemuning menjadi seorang pendekar wanita.

Dengan cepat dia mengimbanginya. Tapi semua itu tidak berpengaruh terhadap Rangga. pertarungan pun menjadi sengit. Kek!" Rangga menyalurkan seluruh tenaga ke kedua telapak tangannya. Lalu digerakkan tangannya yang makin lama makin cepat. Dia hanya mengukur tingkat kepandaian lawan. baiklah! Maafkan. Darah mengucur deras dari pangkal lengan yang bolong dua jari itu. Nambi sedikit terperangah. Setiap pukulannya mengandung hawa racun yang mematikan. Bahkan selalu merendah. "Akh!" Setan Jubah Merah memekik tertahan. "Bersiaplah. Jurus tangan kosongnya sangat dahsyat. Dia sempat mendengar permintaan maaf Rangga sebelum melancarkan serangan. "Maaf!" seru Rangga. Hati kecilnya berkata kal au dia merasa salut terhadap anak muda itu. Hasilnya sungguh tak terduga . "Serang aku!" teriak Nambi. Dengan jurus ini. Dia terhuyung satu tombak ke belakang. Sudah menjadi sifatnya untuk tidak mengeluarkan jurus-jurus berbahaya sebelum dia mengetahui tingkat kepandaian lawan. Pemuda itu tidak congkak. Kakek!" sahut Rangga dengan hormat Nambi terdongak mendengar kata-kata Rangga. Kini Rangga menghadapi lawan dengan jurus 'Cakar Rajawali'.jurus-jurus andalannya. Baru kali ini didapatkan lawan yang mau menghormat pada dirinya. Seketika jari-jari tangannya meregang kaku. "Bocah setan! Jangan salahkan aku jika sampai menurunkan tangan kejam!" geram Nambi sengit melihat Rangga hanya berkelit tanpa mem-balas serangan. Jari-jari tangan Rangga berhasil menusuk pangkal lengan kiri Nambi. Rangga kebal terhadap segal a je-nis racun. "Kalau itu keinginanmu. Rangga tidak bermaksud memandang enteng lawan. Nambi mengemerutukkan gerahamnya.

Setan Jubah Merah menggeram menahan marah. Dia menggelepar-gelepar dengan kepala hancur. Setan Jubah Merah yang telah berhasil menghentikan darah dengan totokannya. segera ikut mengeroyok Rangga. Kemarahan dan dendamnya sudah sampai ubun-ubun.. "Kakang. Kini Rangga berhadapan langsung dengan tiga orang tokoh yang memiliki kepandaian yang luar biasa.!" Saka Lintang memekik kaget. Rangga mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' lalu disusul dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Posisi Rangga kian terdesak oleh serangan yang beruntun.!" Bayangan Hitam menjerit kesakitan. Kembali Pendekar Rajawali Sakti harus melayani serangan beruntun Bayangan Hitam.sekali..!" jerit Bayangan Hitam cemas melihat darah mengucur dari lengan suaminya. sehingga Bayangan Hitam tidak dapat menguasai diri lagi.. Pendekar Rajawali Sakti segera menggabungkan jurus 'Cakar Rajawali' dengan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Begitu cepat perubahan jurus yang dilakukan Rangga. Saka Lintang pun tidak ingin ketinggalan. Sementara pertarungan sengit berlangsung. "Kubunuh kau. "Aaaakh. Secepat kilat Setan Jubah Merah menyerang dengan jurus-jurus mautnya. bocah setan!" teriak Nambi. Bayangan Hitam langsung melompat menyerang Rangga. Lengan Nambi bolong oleh tusukan jari-jari Rangga. Dia tidak lagi memandang perasaan cintanya pada Rangga. Sasarannya kini ke arah Bayangan Hitam. Mereka segera mengeroyok Rangga... kemudian diam tak bergerak l agi. Sedangkan Saka Lintang mengerahkan jurus 'Pukulan Geledek'nya. Kaki Rangga telak bersarang di kepala Bayangan Hitam. lima orang .. Sementara Saka Lintang kembali menyerang dengan jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. "Bibi.

. seketika nafsu birahinya bangkit. sekarang aku minta bayaran darimu.. "He he he. Liumya tertahan. Mata orang itu liar merayapi wajah gadis cantik di depannya.. "Ah. "Ih!" Intan Kemuning menepis tangan laki-laki yang terulur hendak menjamah. ternyata kau punya isi juga. "Kau yang menjadi gara-gara. jangan!" *** ." orang itu menyeringai.anggota Bayangan Hitam yang tersisa menyeret gurunya ke tempat yang lebih baik Tetapi salah seorang dari mereka. kebetulan melihat Intan Kemuning yang belum beranjak dari pintu pondok. Jakunnya turun naik menahan gejolak birahi yang bergelora dalam dada. Melihat kecantikan Intan Kemuning." gertak laki-laki itu. "Mau apa kau?" Intan Kemuning bergidik. "Ah!" Intan Kemuning kaget ketika tiba-tiba seseorang telah ada di depannya.

. Intan Kemuning jadi lupa kalau dia telah belajar dasar-dasar ilmu olah kanuragan. Tangan-tangan kasar kini menelusuri bukit yang indah itu. Lima pasang mata menatap ke a rah dada yang putih mulus tanpa berkedi p. Hanya bagian bawah saja yang masih tertutup. Tanpa menghiraukan jeritan. Tubuh Intan Kemuning seketika jadi polos.6 Intan Kemuning makin kaget ketika orang itu telah menubruk dan memeluknya. Intan Kemuning terus meronta-ronta sambil menjerit-jerit. Bret! "Auuuh. 'Tidak..!" Intan Kemuning memekik ketika tangan lakilaki yang menindihnya.! Lepaskan!" jerit Intan Kemuning putus asa. Segera mereka berlarian ke pondok. Di dalam pondok. Bret! Lagi-lagi baju Intan Kemuning dirobek paksa.. Laki-laki itu makin liar merejam tubuh Intan Kemuning.. merobek bajunya.. "Auh! Lepaskan.. laki-laki itu menyeretnya masuk ke pondok Rupanya perbuatan salah seorang anggota Bayangan Hitam menarik perhatian empat orang lainnya. Tangannya memukuli tubuh lelaki kasar yang telah menindihnya. Intan Kemuning cepat menutupi bagian dadanya yang terbuka. namun seorang laki-laki lainnya maju dan menarik tangan Intan Kemuning.!" jerit Intan Kemuning. Keempat orang yang sebelumnya . Kini bagian dada yang membukit indah terbuka. Bahkan empat laki-laki anggota Bayangan Hitam lainnya telah mengelilingi serta menatap wajah dan tubuh yang indah itu. Mereka kini tidak peduli dengan mayat gurunya. Rasa panik dan ketakutan yang amat sangat membuat dia lupa segalanya. Dia meronta-ronta mencoba melepaskan diri.

. tiba-tiba. Salah seorang dari tiga orang yang tersisa. segera dua orang anggota Bayangan Hitam itu mendobrak dinding pondok.. kalian semua!" teriak Patih Giling Wesi kalap. Dari mulutnya keluar rintihan memohon belas kasihan. tidak bisa menahan diri lagi. Pedangnya kian cepat berputar menyerang tiga orang laiki-laki itu. Melihat tiga orang temannya telah tewas. "Binatang! Mampus. "Aaaakh!" kematian kembali terdengar." rintih Intan Kemuning memelas. ambruk dengan dada tergores panjang dan dalam. Air bening mulai menitik dari sudut matanya...!" Patih Giling Wesi yang hendak mengejar. hancur berantakan. Tiga orang lainnya segera melompat menyebar... Brak! Pintu poridok yang tertutup.. berbalik ketika putrinya memanggil. "Binatang!" Patih Giling Wesi segera menerjang marah. kabur. Tangan-tangan mereka makin liar menjelajah ke seluruh tubuh gadis cantik itu. Darah segera membasahi lantai. "Ayah. Mereka mendekat dan meraba-raba tubuh yang putih mulus itu. Lima orang yang tengah dirasuki iblis itu terperangah. Mereka hanya bisa berkelit saja. Pedang Patih Giling Wesi berkelebat cepat Seketika saja dua kepala telah terpisah dari tubuh. Tepat ketika seorang laki-laki akan membuka bagian bawah pakaiannya. Intan Kemuning benar-benar putus asa. Dia bersyukur karena kelima laki-laki itu belum sempat merenggut kehormatannya. Dengan terpaksa mereka mel ayani hanya dengan tangan kosong karena tidak memiliki senjata lagi. jangan. 'Tidak. Air matanya makin deras mengalir.hanya berdiri saja. Namun kelima orang sudah tidak peduli lagi. Intan Kemuning berlari lalu menubruk .. Intan Kemuning cepat-cepat mengenakan pakaiannya kembali yang sudah tercabik-cabik itu.

Dia ingat kalau pemuda tampan yang telah menggetarkan hatinya tengah bertempur di luar. 'Pemimpin perampok itu sangat baik. Kakak Lintang selalu melindungiku. Pemuda itu kini menghadapi dua tokoh sakti." jawab Intan Kemuning tanpa melepaskan pelukannya. Mereka orang-orang Bayangan Hitam.. Dia mengangkatku sebagai adiknya. "Mereka tidak mengganggumu." "Pemuda siapa?" "Oh!" Intan seperti tersadar.. "Oh. Malu. "Mereka tidak ada yang menggangguku. Nduk?" tanya Patih Giling Wesi dengan suara tersendat. Mereka saling berpelukan menumpahkan seluruh air mata dan rindu. . Jari-jari tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi Intan Kemuning." "Lalu." Seketika Intan Kemuning tersentak. Kembali mereka terdiam sambil berpelukan. Intan?" tanya Patih Giling Wesi. syukurlah. "Kau tidak apa-apa. Nak?" tanya patih itu masih diliputi perasaan cemas. Biar bagaimana pun juga. Ayah." sahut Intan Kemuning. orang-orang itu?" "Mereka bukan orang-orang Bidadari Sungai Ular. Sejenak ditatap putrinya.ayahnya. Ayah." "Maksudmu. "Ada apa. Pelan-pelan Patih Giling Wesi melepaskan pelukannya. "Tidak. Ditumpahkan segala kerinduan dan kegembiraan karena dapat berkumpul lagi. Dia baik sekali padaku. Ayah." desah Patih Giling Wesi. Bidadari Sungai Ular itu?" "Betul. "Pemuda itu.. hatinya masih khawatir terhadap putrinya yang baru saja terbebas dari tawanan perompak itu.

. Patih Giling Wesi tersadar. Dan ketika Intan Kemuning menyebut pemuda itu. Mereka menyaksikan pertempuran antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah. sehingga tidak tahu ada pertempuran di luar. Dalam hati dia merasa kagum juga terhadap pemuda tampan itu.. namun Patih Giling Wesi lebih terpusat pada suara rintihan wanita di dalam pondok itu...Seketika kedua pipinya merah merona. Patih Giling Wesi mengikutinya.. Patih Giling Wesi seolah baru sadar kalau putrinya telah menjadi seorang gadis remaja. Sekelebat memang dia melihat pertempuran itu. Pelan-pelan Intan Kemuning mengangkat kepalanya.. "Intan.." Patih Giling Wesi menggandeng anaknya ke luar pondok itu. dan baru berhenti setelah berada dua tombak dari pondok. siapakah pemuda itu? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak patih itu." lembut suara Patih Giling Wesi. Ah. Tanpa disadari di a telah mencemaskan pendekar muda yang sejak tadi menarik perhatiannya. "Ayo. Kepalanya tertunduk. Namun Intan Kemuning melangkah terus.. Patih Giling Wesi tersenyum melihat Intan Kemuning tidak berkedip m enatap setiap gerakan Rangga. apakah Intan Kemuning jatuh cinta? Apakah dengan pemuda tampan yang kini sedang bertarung melawan dua tokoh sakti itu? Kalau benar. Patih Giling Wesi terdongak begitu mendengar suara pertempuran di luar. *** Pertempuran masih terus berlangsung di sungai Ular. Kini .. Rasa haru dan gembira telah membutakan mata dan menulikan telinganya. Mereka berhenti melangkah di depan pintu yang sudah hancur. Pendekar itu telah merebut sekeping hatinya.

Aki Lungkur menghentikan langkahnya.. Tak luput. Mayat menyebar di mana-mana. Kakinya seperti tidak menapak tanah. sebentar saja kakek tua itu telah jauh melangkah. keempat orang yang memang tidak punya nyali lagi." terdengar suara mengejek. Bau anyir darah telah mengundang anjing-anjing hutan untuk menyantap mayat-mayat yang bergelimpangan.. Layaknya kapas yang dihembus angin. Ujung tongkat Pengemis Sakti itu merobek-robek dada mereka." gumam Aki Lungkur pelan.. Pelan-pelan kakinya meninggalkan tempat pembantaian itu. "Ah." keluh Aki Lungkur .. Bau anyir darah menyebar terbawa angin. "He he he. "Mudah-mudahan Pendekar Rajawali Sakti bisa mengatasi keadaan. Aki Lungkur mengayunkan langkah menuju bukit Guntur. "He he he. Darah segar menyembur disertai jeritan kesakitan saling susul. Langkah yang kelihatan pelan. Cukup sekali gebrak saja. Pengemis Sakti Tongkat Merah mau mengotori tangannya hanya untuk membantai cacing-cacing tanah. kalian hanya membuang nyawa sia-sia.!" Pengemis Sakti Tongkat Merah terkekeh. Itulah ilmu 'Sayiti Angin' yang dikeluarkannya.yang dihadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah hanya empat orang saja. burung bangkai pun telah berkeliling di angkasa minta bagian. kini jadi mengerikan. aku malas main petak umpet." gumam Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah. Orang yang menguasai ilmu ini dapat meminjam hembusan angin untuk mendorong tubuhnya. Ironis sekali. 'Tidak disangka. tapi kenyataannya. Suara itu jelas menggunakan tenaga dalam yang luar biasa. Tempat yang indah dan menyejukkan itu. dibuat tidak berkutik. "Kasihan. Kakek Pengemis Sakti kembali terkekeh.!" Tiba-tiba terdengar suara terkekeh. Keempat orang itu kini ambruk kehilangan nyawa.

" tenang sekali Aki Lungkur menyahut. "Aku rasa kau tidak perlu ke bukit Guntur.." "Dengan menghadang jalanku. Untaian tasbih tergenggam di tangan kanannya.terus melanjutkan langkahnya." 'Phih! Aku sengaja menghadangmu untuk mencegah agar kau tidak ikut campur urusan keponakanku!" "Keponakan? Ha ha ha. Kata-kata itu baginya adalah penghinaan yang luar biasa. tiba-tiba di depan Aki Lungkur muncul seorang laki-laki gendut berkepala botak mengenakan jubah kuning. Pendeta Murtad. Aki Lungkur. mengapa kau lari dari Lembah Tengkorak waktu itu? Kenapa tidak kau bantu keponakanmu? Itukah paman yang baik?" Merah padam wajah Pradya Dagma. maka kau juga berurusan denganku!'' sahut Pradya Dagma. "Sudah kukatakan. "Aku rasa tanganmu tidak lebih bersih dari-pada tanganku. "Kalau kau mencampuri urusan Saka Lintang. Langkahnya baru tiga tindak. Kau akan menambah kotor tanganmu saja. Melihat hal ini." kata Aki Lungkur berusaha mengalah. tetapi sakit didengamya. aku tidak ada urusan denganmu. "Rupanya kau. sudahlah! Aku tidak ada urusan denganmu. Aki Lungkur!" ." kata Pendeta Murtad yang nama aslinya Pradya Dagma. aku mau pergi!" dengus Aki Lungkur sedikit jengkel. Kata-kata Aki Lungkur tenang diucapkannya. Minggir. Aki Lungkur melangkah melanjutkan perjalanan tanpa peduli.! Apa aku tidak salah dengar? Kapan kau punya keponakan!" "O. "Ah. kau sudah mencampuri urusan orang lain. 'Tapi aku tidak pernah usil dengan urusan orang lain." dengus Aki Lungkur. Pradya Dagma makin merasa terhina. "Heh! Rupanya kau cari penyakit?" "Kau yang cari kematian. Dengan cepat dia kembali menghadang..

mengapa Aki Lungkur selalu menolak setiap tantangan Pradya Dagma. Terpaksa Aki Lungkur harus menghadapinya dengan hati. Dia pun tak ingin mencampuri urusan Pradya Dagma meskipun tindakan dan perbuatan Pradya Dagma selalu merugikan orang lain. Akibat suatu perselisihan. rupanya Pradya Dagma masih menyimpan api dendam. Pendeta Murtad itu telah melancarkan serangan-serangan berbahaya. Pendeta Murtad ini rupanya benar-benar ingin membunuhnya. Dia tidak mau mengakui keunggulan Aki Lungkur. sebenarnya tidak ada urusan apa-apa. Aki Lungkur sendiri sebenarnya tidak melayani meski pun Pendeta Murtad itu selalu cari perkara dengannya. Kelihatannya dia ingin membunuh Pengemis Sakti ini.hati. Dia bersiap-siap ketika melihat Pendeta Murtad itu telah membuka jurus-jurus ampuhnya. Pengemis Tongkat Merah melayaninya dengan setengahsetengah. . Itulah sebabnya. Tanpa dapat dicegah lagi. terutama tasbihnya yang menjadi andalan. Padahal. Mereka sama-sama murid Resi Brahespati.Aki Lungkur mendelik. dua tokoh sakti berlainan aliran itu bertempur dengan sengit Diantara mereka berdua. Antara Aki Lungkur dengan Pradya Dagma. sebenarnya masih saudara seperguruan. Dia tahu kalau Pradya Dagma sangat berbahaya. Padahal setiap kali mereka bentrok. "Jangan katakan aku kejam kalau kau kukirim ke neraka. Aki Lungkur selalu bersikap mengalah. Dia masih memandang hormat pada Resi Brahespati. Lungkur!" sahut Pradya Dagma keras. "Aku tidak peduli kau melawan atau tidak!" Gigi Aki Lungkur beradu menahan geram. Dia masih mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Sebab Pradya Dagma anak tunggal dari gurunya itu. "Pradya Dagma. hentikan semua ketololanmu!" bentak Aki Lungkur gusar.

Dia segera membuang diri ke tanah. Secepat itu pula.” "Kau pun akan. Aki Lungkur belum bersiap-siap. aku tidak menurunkan tangan kejam padamu!" Rupanya Aki Lungkur sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi." "Demi Resi Brahespati. maka menyusullah suara teriakan keras. Kedua tokoh itu mempergunakan jurus yang didapat dari sumber yang sama. "Kalau kau laki-laki. "Hey. Segera dia melenting cepat. Pradya Dagma terkekeh melihat Aki Lungkur mulai terpancing kemarahannya. Dibukanya jurus 'Tongkat Sakti'. jangan hanya bisa menghindar!" ejek Pradya Dagma. *** . Aki Lungkur terkejut. Hanya beberapa kali lompatan saja. senang tinggal di neraka bersama iblis. dia melenting dan berdiri di tanah dengan kokoh. Dua tokoh sakti itu pun saling menyerang. aku masih ada urusan yang lebih penting. Aki Lungkur kembali bergulingan di tanah. tunggu!" Pradya Dagma segera mengejar. "Kelakuanmu sudah melampaui batas."Maaf. Pukulan Pradya Dagma menghantam sebatang pohon besar. Dia pun segera mengerahkan jurus 'Tasbih Sakti'. Pradya Dagma!" geram Aki Lungkur. tiba-tiba datang serangan berikut. Mereka sama-sama telah mengenal jurus masing-masing. Setelah mereka saling pandang. Seluruh pikiran dan hatimu sudah tertutup iblis." ujar Aki Lungkur masih berusaha mengalah. "Kau memang sudah tidak bisa di beri hati. Seketika pohon itu tumbang disertai suara gemuruh. dia telah berhasil mengejar disertai satu pukulan dengan tenaga dalam yang penuh.

Lungkur! Kau sengaja mengalah!" desis Pradya Dagma. Mereka paham betul dengan kelemahan dan kelebihan jurus-jurus masing-masing. Sedikit demi sedikit Pradya Dagma mulai kewalahan dan terdesak. mungkin dada itu telah jebol. Hingga pada suatu saat. Lima jurus kini telah mereka lewati. Dadanya terasa sesak. Jika Pradya Dagma mempergunakannya untuk maksud-maksud kejahatan.Kali ini Aki Lungkur tidak main-main lagi. Tendangan Pradya Dagma telak. Dia malah mempergunakan kesempatan itu untuk mendesak. Jurus demi jurus berlalu dengan cepat. Kaki Pradya Dagma berhasil menghantam dadanya. Bahkan serangan-serangan balasannya tidak tanggungtanggung mengarah ke bagian-bagian tubuh lawan yang mematikan.. Tubuh pengemis tua itu terdorong dua tombak. Aki Lungkur selalu membelokkannya. Jurusjurus yang mereka pergunakan juga beraliran sama. Bahkan dia kelihatan tidak ada semangat lagi untuk melanjutkan pertarungan. . Hatinya tetap tidak mengijinkan untuk melukai saudara seperguruannya ini. Kemauan saudara seperguruannya dilayani dengan sungguh-sungguh. Dibiarkan dirinya terdesak. Matanya berkunang-kunang. Timbul sifat mengalah dalam hati Aki Lungkur. Masing-masing belum ada yang terdesak. "Akhl" Aki Lungkur memekik tertahan.. disertai tenaga dalam yang hebat Kalau bukan Aki Lungkur. maka Aki Lungkur mempergunakannya untuk membela yang lemah dan menumpas kejahatan. kelihatan lebih unggul ketika memasuki jurus yang keseratus. hanya penerapannya yang lain. Beberapa kali ujung tongkat itu hampir menyentuh tubuh Pradya D agma. Tapi Pradya Dagma sudah tidak peduli. Aki Lungkur yang selalu memperdalam dan menyempumakan ilmunya. "Kau menghinaku.

Dia tidak mengerti. Pradya Dagma kembali menyerang dengan jurus-jurusnya. Terpaksa Aki Lungkur harus jatuh bangun menghindari serangan beruntun itu. "Aku berusaha mengalah. tibatiba Resi Brahespati telah lenyap dari pandangan. Resi. Rasanya memang masih terasa berat untuk menjatukan tangan kepada Pradya Dagma. Bahkan dia tadi menyebut-nyebut resi. "Ampunkan muridmu yang hina ini. Ketika Aki Lungkur ingin melanjutkan kata-katanya. Ketika posisinya menguntungkan..!" Aki Lungkur terkejut menerima petuah itu. Pradya Dagma yang melihat sikap Aki Lungkur.. Masih terngiang-ngiang kata-kata gurunya tadi.."Aku mengaku kalah.." "Resi. ayahnya itu yang padahal tengah berdiri di depannya." lembut berwibawa suara Resi Brahespati. Segera Aki Lungkur memantapkan hati untuk memberi pelajaran kepada saudara seperguruannya yang murtad ini. mengapa tiba-tiba Aki Lungkur seperti ketakutan. aku tidak peduli dengan sikapmu! Ayo lawan aku!" bentak Pradya D agma. dan berlutut saat dia tahu yang berdiri di depannya adalah Resi Brahespati." kata Aki Lungkur ter-sendat "Sudah aku katakan." Aki Lungkur tidak melanjutkan kata-katanya. terheranheran. Kini yang berdiri di depannya hanyalah Pradya Dagma. Belum juga Aki Lungkur bersiap-siap. Aki Lungkur . Pradya Dagma memang tidak melihat kedatangan Resi Brahespati." ucap Aki Lungkur dengan kepala tertunduk. "Dia benar-benar sudah murtad! Aku mengijinkan kalau kau menjatuhkan tangan padanya. tapi Pradya Dagma. "Bangunlah. Seketika pengemis tua itu menjatuhkan diri. Beri dia pelajaran agar matanya terbuka. Tiba-tiba di depan Aki Lungkur seperti berdiri seorang resi. tidak layak kau berbuat begitu.

Dari sudut bibirnya keluar darah segar... Aku puas. "Dagma. Pradya Dagma yang setingkat di bawah Aki Lungkur. Aki Lungkur tidak segan-segan lagi melayaninya. "Dagma. Pada suatu kesempatan yang baik. dan. Aki Lungkur mencabut tongkatnya yang menembus dada pendeta murtad itu. minta ampunlah kau pada ayahmu!" kata Aki Lungkur lantang. Sementara kata-kata Resi Brahespati terus terngiang." hibur Aki Lungkur." lemah dan tersendat suara Pradya Dagma. . mengapa Pradya Dagma menginginkan mati di tangannya. Tubuh Pradya Dagma pun ambruk dengan darah muncrat dari dadanya yang bolong.!" suara Aki Lungkur bergetar.ngiang di telinga Aki Lungkur... kembali terdesak. 'Tidak. Aki Lungkur cepat-cepat menghampiri dan merangkul tubuh gemuk itu. Pradya Dagma kembali menyerang membabi buta. "Demi Resi Brahespati. Kini keinginanku tercapai sudah.. Pendeta Murtad itu terdorong sejauh tiga tombak.segera membalas tanpa memberi am pun lagi.. Pradya Dagma tersenyum.. Lungkur. Terima kasih." Aki Lungkur tidak mengerti.. "Aku senang bisa mati di tangan tokoh sakti sepertimu. kau harus hidup. Napasnya tersendat-sendat. kau mau memenuhi keinginanku. "Setan!" dengus Pradya Dagma sambil menyeka darah yang terus mengalir.. dengan cepat pukulan Aki Lungkur bersarang di dada Pradya Dagma.. Kemudian disusul dengan tendangan keras. "Aaaakh. "Jangan sebut-sebut ayahku!" Setelah berkata demikian. Hal inilah yang membuat pengemis tua itu tidak memberi kesempatan kepada Pradya Dagma untuk membalas. Darah makin banyak keluar. Kita akan bersama-sama lagi. Tongkatnya kini berkelebat cepat.!" Jeritan melengking terdengar.

Seharusnya malam itu kubiarkan saja dia membunuhku." Aki Lungkur hanya tertunduk saja."Aku sudah berjanji pada Komala. Tetapi sebelum hari bahagia itu dilangsungkan. aku menyelinap ke kamarnya." "Dagma. "Semula aku hanya ingin memperkosa saja. Tapi kini. Mereka telah merencanakan untuk memasuki jenjang perkawinan. Dia mengambil pisau. Hubungan mereka telah direstui oleh Resi Brahespati. Lungkur! Di depan mayatnya aku berjanji. "Aku merasa iri karena Komala menjatuhkan pilihan kepadamu. Tapi perbuatanku malah menghilangkan nyawanya. Kini keinginanku menebus dosa pada Komala terlaksana sudah. Lungkur tidak ada niat lagi mendekati wanita. Malam itu." Pradya Dagma meneruskan ceritanya. Di desa dekat padepokan itu tinggallah seorang gadis bernama Komala. Bahkan sudah ham pir dilupakannya. Lungkur. Hingga tua dia tidak pernah menikah. Lungkur. hanya tanganmu lah yang bisa membunuhku. Sejak itu. Dia tak tahu harus bagaimana lagi. Dia cantik dan menjadi kembang desa itu. dan aku berusaha mencegahnya. sehari sebelum pernikahanmu dengan Komala. Ingatannya seketika mundur puluhan tahun yang lalu. hanya kau yang boleh membunuhku. seluruh desa dan padepokan geger. Ternyata Komala membuka hatinya pada seorang pemuda bernama Lungkur. . Waktu itu mereka masih sama-sama muda dan tinggal di padepokan Resi Brahespati. peristiwa itu sepertinya baru saja terjadi. kau bicara apa?" Aki Lungkur makin tidak mengerti. Aku telah memperkosa dan membunuhnya. Aku tidak sengaja membunuhnya. Aku ingin membuatmu kecewa dan sakit hati. Peristiwa itu sudah lama terjadi. Komala kedapatan mati dengan leher tertembus pisau. Setitik air bening mulai menggulir di pipi Aki Lungkur.

'Terima kasih. Hatiku akan tenang jika kau mau memaafkan aku. *** ." kata Pradya Dagma lagi. Keinginannya telah terkabul. Lungkur. Kalau saja hal itu diketahuinya sejak dulu. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Dia baru sadar kalau perbuatan Pradya Dagma hanyalah untuk memancing kemarahan agar dapat membunuhnya. Ternyata di balik hatinya yang keji." sahut Aki Lungkur. Bi birnya menyungging senyum. Aki Lungkur benar-benar sedih. Tidak ada yang tahu kalau seluruh perbuatan Pradya Dagma hanyalah pancingan agar Aki Lungkur dapat membunuhnya. "Sejak lama aku selalu memaafkanmu. sikap Pradya Dagma berada di jalan yang salah. masih tersimpan sedikit jiwa ksatria." Pradya Dagma menutup mata dengan tenang setelah mengucapkan kata maaf dan terima kasih. mungkin Aki Lungkur akan segera membunuhnya agar kesengsaraan hidup Pradya D agma tidak berl arut-larut. Teguh pada janji dan pendinannya Hanya sayangnya."Maafkan aku. Menerima kenyataan itu.

Mereka bingung menghadapi gerakan-gerakan yang sulit diduga arah dan tujuannya. kian lebar saja terbuka. Dalam gerakan-gerakan membingungkan itu. "Yeaaah.. Bahkan kalau mungkin menggabungkan keempatnya sekaligus.!" Tiba-tiba Rangga berteriak nyaring. Bagian dada yang membukit terbungkus kulit putih mulus itu tidak lepas dari tatapan mata Patih Giling Wesi. Kibasan Rangga berhasil dielakkan. Seketika itu pula. namun bajunya harus direlakan terjambret. tangannya mengembang dengan cepat Tubuhnya kini melayang. Lintang!" teriak Setan Jubah Merah tiba-tiba. Saka Lintang sedapat mungkin menutupi bagian tubuhnya yang terbuka itu.7 Pertarungan antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah ki an berlangsung sengit di bukit Guntur. "Hait!" Saka Lintang melentingkan tubuhnya ke belakang sejauh dua tombak. "Awas. Tetapi dengan cepat dipusatkan kembali perhatiannya pada Setan Jubah Merah. Mata Rangga pun sempat menatap ke bagian indah itu. Mukanya merah menahan malu. Kadang dia menggabungkan dua atau tiga jurus.. "Kurang ajar" geram Saka Lintang. Lalu dengan cepat dia . Kedua tangannya bergerak-gerak cepat mengibas mencari sasaran. Rangga masih tetap menggunakan empat jurus gabungan dari jurus 'Rajawali Sakti'. Baju di bagian dada yang memang sudah sobek. Seketika darahnya seperti berhenti mengalir. Dengan demikian lawannya benar-benar kerepotan. Rangga selalu mengganti-ganti jurus. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah bagai kepiting rebus.

tiba-tiba tangan Rangga bergerak menyambar gagang pedang dalam genggaman Saka Lintang.kembali menerjang sambil menghunus pedangnya.. "Kena!" teriak Saka Lintang keras. . Dia tahu kalau hawa racun telah menyebar di sekelilingnya. Tetapi racun jenis apa pun tak ada pengaruhnya bagi Rangga. Pukulan tangan kiri Saka Lintang tepat menghantam dada Rangga. Menyadari Saka Lintang telah menebar racun.. Belum sempat gadis itu menyadari apa yang terjadi.. Setan Jubah Merah menahan napas.. Wajah Saka Lintang seketika berubah setelah menyadari tangannya tidak dapat ditarik lagi dari tubuh Rangga. Saka Lintang semakin panik. Ditebaskan pedang yang ada di tangan kanannya ke leher Rangga. Namun semakin ditarik. Gadis itu tidak tahu kalau sebenamya Rangga sengaja membiarkan tangan beracun itu masuk ke dalam bagian dada yang lowong. gadis itu menggedor dada Rangga sekali lagi dengan tangan kanannya. "Ah. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam dan penyaluran racun ke telapak tangannya. Tetapi Rangga malah kelihatan tenang-tenang saja. kedua telapak tangan Saka Lintang kini menempel erat di dada Rangga. Di luar dugaan. Saka Lintang jadi geram. Trak! Rangga hanya menyentil pedang itu dengan jurus 'Cakar Rajawali'.. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedangnya. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedang dengan jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Sekuat tenaga gadis itu menarik tangannya.!" pekik Saka Lintang tertahan. Seketika dari ujung pedang sampai pangkal lengan Saka Lintang bergetar. namun. semakin kuat telapak tangannya menempel. Bahkan bibimya menyungging senyum.

Cepat-cepat dihilangkan hawa racun dari tubuhnya. Setan Jubah Merah terkejut. sebenamya dia bisa saja menebaskan pedang yang terebut tadi. lakilaki tua itu menelan pil yang diberikan Saka Lintang.. "Akh!" tiba-tiba Setan Jubah Merah memekik keras. kau tidak apa-apa?" tanya Saka Lintang cemas. Saka Lintang pun tak urung kaget pula. Dengan cepat dia melompat dan menangkap tubuh gadis itu yang melayang deras.. Rangga menggunakan gadis itu menjadi tameng. "Pengecut! Lepaskan gadis itu!" bentak Setan Jubah Merah.. Kedua matanya dipejamkan. "Oh. "Uh! Racunmu. sehingga Setan Jubah Merah tidak tahu harus berbuat apa. Dihampirinya Setan Jubah Merah yang tengah meringis memegangi tangannya sendiri. Setan Jubah Merah pun bersila." kata Setan Jubah Merah sambil meringis. tentu! Ini. Perlahanlahan dari ujung kepalanya mengepul asap tipis."Setan!" dengus Saka Lintang geram. "Paman. Tanpa banyak tanya lagi. "Semadilah. Jika saja gerakan Setan Jubah Merah tidak cepat." ujar Saka Lintang. terimalah!" Tiba-tiba saja tubuh Saka Lintang terpental keras. Tetapi hal itu tidak dilakukannya. Cepat-cepat dilepaskan tangannya. tubuh Saka Lintang dipastikan hancur menubruk batu besar. Paman. Saka Lintang merogoh saku jubahnya. Dia tidak bisa leluasa melancarkan pukulan mautnya. Dia kaget setengah mati karena tubuh Saka Lintang masih menyebarkan hawa racun. Matanya menatap Setan Jubah Merah yang kebingungan. Seketika tubuhnya seperti terbakar. Keringat membasahi . dan mengeluarkan sebuah pil berwarna merah darah. Dia malah membuang pedang itu jauh-jauh. Kalau Rangga mau. Seluruh tubuh Setan Jubah Merah bergetar. Diberikannya pil itu kepada Setan Jubah Merah.

Tapi semua perasaan dan keinginan itu ditekan dalam-dalam sam pai ke dasar hatinya. Sikap Rangga yang masa bodoh itu membuat Intan Kemuning cemas. Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak tahu sama sekali kalau dua tokoh itu meluruk ke arahnya. Kini Pendekar Rajawali Sakti tengah duduk tenang di atas batu besar. Dia memperhatikan saja kedua lawannya yang tengah sibuk itu. dibarengi oleh hilangnya asap tipis yang mengepul di kepala laki-laki tua itu. Saka Lintang dan Setan Jubah Merah. Intan Kemuning merasakan jantungnya berdetak keras. Setan Jubah Merah membuka matanya ketika getaran pada tubuhnya berhenti sama sekali. Rangga membalasnya dengan senyum manis pula. seluruh tubuh lakilaki tua itu mulai tenang. Sesekali matanya melirik Intan Kemuning yang berdiri di samping ayahnya. Sementara. Dia gelisah karena dua tokoh sakti begitu . Tanpa sadar Intan Kemuning melontarkan senyuman manis pada pendekar muda itu. kemudian disambung dengan melentingnya dua tubuh ke arah Rangga. dua tokoh tingkat tinggi. "Hoek!" Cairan kental berwarna kehitaman dimuntahkan oleh Setan Jubah Merah. "Hiya!" "Yeah!" Dua teriakan keras saling susul.seluruh tubuhnya. Rangga seperti tidak peduli dengan lawan yang sudah bersiap-siap menyerang kembali. Sedikit demi sedikit. Mulutnya malah bersiul-siul dengan irama tak menentu. Kalau saja saat ini tidak ada ayahnya. Setiap kali Rangga melirik ke arahnya. tel ah kembali bersiap-siap menghadapi lawannya yang tengah duduk tenang itu. ingin sekali Intan Kemuning menghambur dan memeluk pemuda itu. Tak diduga. Rangga masih tenang.

Dia hanya tersenyum-senyum saja.cepat menyerang. "Pendekar Raj awali Sakti. Serangan yang dibarengi pengerahan tenaga dalam.. tampak Rangga masih duduk di atas tumpukan batu-batu yang hancur." Intan Kemuning mendesah lega melihat pendekar tampan itu masih hidup. Batu yang sebesar kerbau itu saja hancur. begitu cepat datangnya. Tanpa disadari. Apakah dia hancur bersama batu itu? Batin Intan Kemuning bertanyatanya penuh kecemasan. Dia seperti membiarkan saja pukulan itu menghantam tubuhnya. Kedua tokoh sakti Itu terperanjat melihat hasil gempurannya tidak berpengaruh apa-apa terhadap lawannya. Intan Kemuning benar-benar tidak dapat menyembunyikan kecemasannya. "Oh. bagaimana dengan Rangga? Debu masih mengepal tebal. Rupanya dia mengerti apa yang telah melanda putrinya ini. . Patih Giling Wesi kembali perhatiannya tercurah pada ketiga tokoh yang kini telah bertarung kembali. Dia tidak melihat pendekar itu. awas!" Intan Kemuning tidak dapat lagi mengendalikan diri. *** Berangsur-angsur asap tebal yang mengepul sirna disapu angin. "Akh!" Intan Kemuning memekik tertahan. Peringatan gadis itu tepat bersamaan dengan dua tubuh yang meluruk menerjang Rangga. Akibatnya memang dahsyat. Jelas kalau Rangga tadi tidak sedikit pun menghindar. Sikap duduknya tidak berubah sedikit pun. Batu tempat Rangga duduk. sepasang mata tengah mengawasi pertarungan itu dari balik pohon.. Ketika debu itu hilang sama sekali.. Sikap gadis itu tidak lepas dari pengamatan Patih Giling Wesi. jadi berkeping keping disertai ledakan keras terkena pukulan itu.

Kakinya bergerak mengarah kepala lawan. Sementara itu Rangga sudah kembali melayani dua lawannya yang kian bernafsu untuk mengakhiri pertarungan alot dan panjang ini. Dia harus mempertimbangkan kehadiran Setan Jubah Merah. Begitu cepatnya jurus itu sehingga Saka Lintang tidak punya kesempatan lagi untuk mengelak. "Kejam! Setan! Kubunuh kau!" pekik Saka Lintang marah. Dia tidak ingin lagi berbuat konyol yang hampir merenggut nyawa paman angkatnya.Jelas pemilik sepasang mata itu bukan orang sembarangan. . Sekejap saja tubuhnya telah melambung di udara. Dia terkena 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang tak terduga dilepaskan Rangga. Tubuhnya terlontar ke belakang sejauh tiga tombak. Tubuhnya meluruk turun deras.. Kedua tangannya merentang mengepak bagai sayap rajawali. Dalam sekejap sekitar tempat pertarungan telah terselimuti oleh hawa racun yang mematikan. "Paman. lalu diam tak bergerak sama sekali. Kehadirannya saja tidak diketahui sama sekali. Seketika Rangga merubah jurusnya. Secepat kilat. Setan Jubah Merah meregang nyawa sebentar. "Aaaa..!" Setan Jubah Merah meraung keras. Gadis itu segera menyerang Rangga dengan mengeluarkan jurus andalan terakhirnya. Kali ini digunakannya jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Rangga kembali merubah jurusnya.!" pekik Saka Lintang. Kini Saka Lintang hanya sesekali saja melontarkan pukulan beracunnya.. Seluruh dadanya seperti hangus terbakar. Jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun' yang dipadu dengan jurus 'Tarian Bidadari'.. "Maaf. Kakek!" seru Rangga tiba-tiba. Dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tangan Rangga berhasil menghantam telak dada Setan Jubah Merah. dirubahnya jurus itu menjadi 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.

"Ah. Patih Giling Wesi mendekat diikuti Intan Kemuning. hebat. "Uts! Hampir lupa kalau di sini masih ada orang lain. Darah seketika membasahi tanah.. lalu diam tak bergerak l agi." kata Rangga teringat ketika dia memberikan sebungkus bekal makanan.. kalau tidak salah. Dari balik pohon muncul seorang kakek tua berpakaian compang-camping." sahut Aki Lungkur. Mati bersama rasa cinta. "Ah. "He he he…. kakek yang berada di kedai minum tempo hari." Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah menggeleng-gelengkan kepalanya. "Penglihatanmu tajam. Siapa lagi kalau bukan Pengemis Sakti Tongkat Merah.. Rangga mendekat Aki Lungkur terkekeh.. Mari!!" Ketika mereka akan melangkah.. lalu mereka makan bersama di pinggir tegalan." kat a Rangga dengan tutur kata yang halus. Gadis itu selalu menundukkan kepala terus."Aaaa. hebat. Gadis itu ambruk dengan kepala hancur berantakan.. tiba-tiba terdengar suara Patih Giling Wesi mencegah. Dia mati di tangan laki-laki yang dicintainya. Rangga kembali mendarat Matanya memperhatikan tubuh Saka Lintang yang meregang nyawa.!" Saka Lintang memekik keras." kata Aki Lungkur. "Menakjubkan.. Aku pengemis tua yang hina. Sungguh tragis kematian gadis ini. "Tunggu!" Mereka menoleh dan berbalik bersamaan... Kalau sudah . anak muda. tetapi matanya melirik pada Rangga. "Bagaimana kalau kita makan bersama lagi di bawah pohon sambil menikmati udara segar. Rangga menoleh ke arah suara itu. Hatinya makin berdebar-debar kalau kebetulan matanya beradu pandang." tiba-tiba terdengar suara terkekeh. benci dan dendam. Di tangannya tergenggam tongkat berwarna merah.. tawaran yang menggairahkan..

" kata Rangga buruburu. Nama hamba Rangga. Sepertinya dia pernah mengenal wajah itu." Patih Giling Wesi mengamati wajah Rangga dengan teliti sekali." Patih Giling Wesi menggumamkan nama itu beberapa kali. Tapi..demikian. Rangga memperhatikan dengan pandangan bertanyatanya. "Kisanak. "Nama memang bisa saja sama. Dia tidak ingin masa lalunya terungkap lagi.." jawab Rangga merendah. Patih Giling Wesi tengah berusaha mengingat-ingat. Wajahnya sangat mirip dengan Adipati Karang Setra. siapa namamu dan dari mana kau berasal?" tanya Patih Giling Wesi. Biarlah kenangan pahit itu dia sendiri yang tahu. Sedangkan kejadiannya tidak jauh dari jurang Lembah . cepat-cepat matanya dialihkan mencari pandangan lain. Tibatiba dia tersentak Benar! Tidak salah lagi. anak laki-laki Adipati hilang tanpa bekas. Masalahnya. Rangga jadi bertanya-tanya." Patih Giling Wesi setengah bergumam. Tapi di mana? Kapan pernah bertemu? Ingatannya terus berputar. Episode: Iblis Lembah Tengkorak). Tetapi Patih Giling Wesi sedikit ragu-ragu juga.. Memang benar gumaman patih ini. Dua puluh tahun yang lalu terjadi musibah pada rom bongan Sang Adipati yang hendak menuju ke kota Kerajaan Ayahandanya. "Hamba hanya seorang pengembara hina Gusti Patih.. (Baca serial: Pendekar Rajawali Sakti. Rangga terkejut juga mendengarnya. Cepat-cepat diturupi rasa kaget itu dengan senyum.. apakah Patih Giling Wesi kenal dengan ayahnya? "Nama bisa saja sama. "Namamu mirip dengan seorang putra Adipati yang hilang dua puluh tahun lalu. kalau boleh tahu. Gusti Patih. "Rangga..

Bangkai. Dia berusaha memecahkan teka-teki ini. Semua orang menduga kalau anak itu pasti masuk ke jurang Lembah Bangkai. Karena sudah pasti. Antara percaya dan tidak. Siapakan anak muda perkasa yang ada di depannya ini? *** . siapa saja yang masuk ke dalam jurang itu tak akan pernah selamat. Patih Giling Wesi seperti berperang dengan batinnya sendiri. Antara mengakui dan membantah.

Matanya beralih memandang Intan Kemuning. Cepat dialihkan pandangannya ke tempat lain." Patih Giling Wesi mengundang. Mereka segera menghampiri patih itu. Rangga menoleh pada Aki Lungkur yang berdiri di sampingnya. Rangga belum menjawab. Patih Giling Wesi . Dia belum dapat memastikan perihal anak muda ini. Patih itu sendiri sampai saat ini masih berusaha memecahkan teka-teki itu. yang jelas jasanya sangat besar." sahut Rangga mendesah. "Kalau begitu. sudi kau mampir sebentar di Kepatihan. telah menunggu delapan orang prajurit Kepatihan. Tapi bibirnya sempat memberikan senyum manis. diikuti oleh tujuh orang prajurit-prajurit lain. "Baiklah. Jika tidak mengganggu perjalananmu . Di kaki bukit. Kalau tidak ada pendekar muda ini. Seketika dua pasang mata saling berpandangan. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Semua seperti menunggu pembicaraan Patih Giling Wesi. meninggalkan mayat-mayat yang bergelimpangan dan siap jadi santapan anjing-anjing hutan. Mereka menuruni bukit Guntur. Batin Patih Giling Wesi bicara sendiri. Kisanak. "Aku sangat berhutang budi padamu. Rapaksa segera melom pat dari kudanya. Ah! Siapa pun dia.8 Beberapa saat suasana di bukit Guntur hening. Intan Kemuning jadi gelagapan. Masingmasing menunggang kuda dan menuntun seekor kuda pula. mari kita berangkat sekarang!" ajak Patih Giling Wesi. Keempat orang itu segera meninggalkan tempat itu. Tentu dia setuju karena antara dia dan patih itu telah terjalin suatu persahabatan. Pengemis tua itu mengangguk-angguk kepalanya. entah bagaimana nasib putrinya.

Perjalanan kini dilanjutkan dengan menunggang kuda. Intan Kemuning telah diajari naik kuda oleh Saka Lintang. dan kini mereka telah dekat dengan sebuah desa yang dekat dengan bukit Guntur. Akhirnya pikiran patih itu tenang setelah melihat putrinya sangat lihai menunggang kuda. Patih Giling Wesi membantu Intan Kemuning yang sedikit kesulitan turun dari . tidak menyusuri tepian sungai Ular. Penjaga pintu segera membuka pintu ketika melihat Patih Giling Wesi yang datang bersama putrinya. Nyawa mereka korbankan hanya untuk menyelamatkan seorang putri patih. "Hh. Rombongan kecU berkuda itu terus meninggalkan bukit Guntur yang terlihat hijau. Patih Giling Wesi selalu berada di samping Intan Kemuning. sudahlah. Hamba datang terlambat Hamba mencari kuda-kuda dulu. Semula Patih Giling Wesi khawatir juga terhadap Intan Kemuning. Sungguh besar jasa mereka. Mari kita kembali ke Kepatihan. "Ampun. Setahunya Intan Kemuning tidah pernah belajar naik kuda. Mereka melewati jalur pintas. dan berhenti tepat di depan pendopo. *** Matahari telah condong ke Barat ketika rombongan itu sampai di pintu Gerbang Kepatihan.mengamati sisa prajurit-prajuritnya. Mereka pun segera masuk ke dalam benteng Kepatihan." kata Rapaksa melapor." sahut Patih Giling Wesi mendesah berat. Gusti Patih. Patih itu tidak tahu kalau selama jadi tawanan perampok. Rombongan itu terus melewati desa itu. Hutan dirambah. Hatinya masih bertanya-tanya tentang kelihaian putrinya menunggang kuda. Dan kini hamba hanya dapat lima belas ekor. Setelah melompat turun dari kudanya. padang diarungi.

Di mana lagi dia dapat minum arak selezat ini kalau tidak mendapat undangan dari Patih Giling Wesi? Patih Giling Wesi selalu memperhatikan sikap dan tutur kata Rangga. Mereka kemudian duduk melingkar menghadapi meja. 'Terima kasih. "Silahkan. Beberapa orang pelayan datang menyediakan suguhan. Seketika dia teringat sewaktu masih tinggal di Kadipaten. Anda berdua adalah tamu kehormatanku. Rangga memandangi bangunan indah dan megah di depannya.kudanya." ucap Rangga sambil mengangkat gelas yang sudah terisi arak manis. Beda dengan Aki Lungkur. Kediamannya juga tak kalah indahnya dengan bangunan itu. membuat dia lupa sejenak terhadap Rangga. Biasanya tokoh-tokoh rimba persilatan selalu tidak peduli dengan tata krama. Memang tidak ada salahnya menginap barang sehari setelah sepanjang hari menguras tenaga menyabung . Sebenarnya Rangga ingin menolak. "Oh. Rangga minum sedikit dengan sikap Sopan. Tentu saja aku tidak keberatan!" Aki Lungkur cepat menerima sebelum Rangga membuka suara. "Mari silahkan masuk. Sikap Rangga memang tidak seperti pendekar-pendekar lainnya. Sementara Intan Kemuning telah berlari masuk ke dalam keputrenan. Dari situ dia merasa sedang berhadapan dengan seorang pemuda bangsawan. "Aku senang sekali jika kalian sudi menginap di sini barang satu atau dua malam." kata Patih Giling Wesi lagi. Patih Giling Wesi membawa dua tamunya masuk ke bangsal utama Pendopo itu. tentu." kata Patih Giling Wesi. dia hanya bisa angkat bahu saja. Rasa rindu yang menggebu ingin segera bertemu ibundanya. Dia menenggak habis arak wangi mahal itu." Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya untuk minum. Tetapi karena Aki Lungkur sudah menerima.

dilihatnya Intan Kemuning tengah duduk di bangku taman sendirian. Dua orang punggawa dat ang mendekat. dan memang kelihatannya Intan Kemuning juga tengah memandang ke arahnya. Setelah mendapat anggukan dari Patih Giling Wesi. Rangga masih duduk di kursinya. Kedua punggawa itu kembali memberi hormat.nyawa. "Silahkan. Dia menyilahkan Rangga masuk. dan segera pergi setelah tugasnya selesai. Rangga menoleh ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Entah melihat atau tidak. Di sebuah kamar yang indah dan luas. Rangga memandangi setiap ruangan yang dilewatinya. Diamatinya sebentar. Rangga mengernyitkan keningnya melihat pengemis tua itu seperti terburu-buru. "Patih Giling Wesi curiga padamu." perintah Patih Giling Wesi. Mereka memberi hormat. Bergegas dia membukanya. "Antarkan tamu-tamuku ke tempat istirahatnya. yang jelas pandangan itu tertuju pada Rangga. "Apanya yang gawat?" tanya Rangga tidak mengerti. Aku Lungkur bangkit dan melangkah pergi ke tempat istirahatnya. Saat matanya menatap ke arah taman." Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya mengikuti para punggawa yang mengantarkan ke peristirahatan. Dia hanya menatap laki- . Rangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Indah sekali ruangan ini. punggawa itu berhenti. dia pun bangkit melangkah mengikuti punggawa. "Ada apa." Rangga masih belum mengerti. "Gawat!" sahut Aki Lungkur. Ki?" tanya Rangga. Aki Lungkur segera menerobos masuk dan menutup kembali. Patih Giling Wesi menepuk tangannya dua kali.

Yang penting aku sudah menganggapmu sahabat. Aki. Aku membaca gelagat lain di balik niat luhur Patih Giling Wesi. meskipun dadanya bergemuruh." "Jangan berprasangka buruk. Gadis itu memang cantik." "Mengapa Aki memberitahuku?" "Karena kau baik. Rangga tidak ingin menjadi seorang pendekar tanpa masa lalu. Dia tidak mau berteletele melayani segala macam prasangka. Memang hatinya telah menduga. .laki tua itu tak berkedip. Laki-laki pengemis tua itu kembali ke luar setelah berpesan macam-macam. Rangga hanya mengangguk dan mengiyakan saja. Dia menduga kau anak Adipati yang hilang dua puluh tahun yang lalu. "Hati-hatilah. Rangga kembali memandang ke arah taman. hal apa yang akan dikatakan Aki Lungkur tadi. 'Terima kasih. Makanya aku segera ke sini menemuimu." ucap Rangga. Tapi aku yakin kau tidak akan menerimanya. Sepeninggal Aku Lungkur." "Dia menduga begitu?" Rangga terkejut. "Patih Giling Wesi memerintahkan beberapa punggawa untuk menyelidiki asal-usulmu." Rangga hanya tersenyum saja. Dia meminta Aki Lungkur untuk pergi beristirahat. "Benar! Aku mendengar sendiri. Bukankah kalian bersahabat?" "Aku tidak berprasangka buruk. Niatnya yang tersembunyi memang baik. Intan Kemuning masih duduk di sana memandang ke arahnya. Tak ada orang di seluruh Kepatihan yang tidak tertarik pada gadis ini. Kau seorang pendekar yang banyak dibutuhkan oleh kaum lemah." Rangga berusaha bersikap tenang. Aku tidak peduli siapa dirimu. Masa lalu yang tidak perlu diketahui orang lain.

Rasa-nya dia ingin seribu kali mendengamya. pasti ada seorang pangeran tampan dan gagah menghampirimu. Ketat sekali penjagaan di Kepatihan ini.Rangga sendiri sebenamya juga tertarik." sahut Intan Kemuning tergagap. Setiap sudut. Dia tersenyum saja. "Adakah pangeran yang cocok untukku?" tanya Intan Kemuning ingin menegaskan. *** Intan Kemuning memandang Rangga yang melangkah menghampirinya. Pujian Rangga mengena di hatinya. "Sepantasnya kau mendapatkan seorang pangeran yang gagah dan tampan." Seketika wajah Intan Kemuning menyemburat merah dadu. boleh. Sikapnya tetap anggun meskipun selama beberapa hari ditempa dengan latihan-latihan keras oleh Saka Lintang. Matanya tajam mengawasi setiap tempat yang dilalui." "Apa?" "Wajahmu." "Siapa pangeran itu?" Rangga tidak menjawab." sahut Intan Kemuning." kata Rangga. . "Oh! Boleh. Dia tidak beranjak dari duduknya. Jantungnya jadi berdetak tidak beraturan. Jiwa kebangsawanannya tetap tidak luntur. "Ya." "Kapan?" "Satu saat nanti. "Boleh aku duduk di sini?" tanya Rangga. dua orang prajurit pasti ada di situ. "Satu saat nanti. Rangga melangkahkan kakinya ke luar kamar. "Indah sekali taman ini. 'Tapi ada yang lebih indah lagi untuk dipandang." desah Rangga setelah duduk di samping gadis itu.

info/ http://kangzusi. Pelan-pelan Intan Kemuning menundukkan kepalanya.com/ http://dewi-kz.Beberapa saat mereka terdi am saling tatap. SELESAI Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel Convert : Abu Keisel Editor : Deeemart86 Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi. Intan. "Oh.. "Semoga aku yang menjadi pangeran itu.„." bisik Rangga dekat sekali dengan wajah Intan Kemuning.cc/ . Hatinya berbunga-bunga.. Kedua lengannya berkembang masuk ke dalam pelukan Rangga." Intan Kemuning tidak mampu berkata-kata lagi.info/ http://cerita_silat.. Dan mereka memperketat rangkulan-nya.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->