BIDADARI SUNGAI ULAR oleh Teguh S. Cetakan pertama, 1990 Penerbit Cintamedia, Jakarta Gambar sampul oleh Tony G.

Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa Izin tertulis dari penerblt Teguh S. Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Bidadari Sungai Ular 128 hal ; 12 x 18 cm
Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel Convert : Abu Keisel Editor : Deeemart86 Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/

1
Seekor kuda putih tinggi kekar berlari bagai kilat menyusuri tepian sungai. Bentuk sungai yang berliku-liku, seakan-akan bergerak bagai seekor ular naga yang menyusuri lereng dan bukit-bukit di sekitarnya. Oleh karena bentuknya yang mirip dengan ular naga, maka sungai itu dinamakan sungai ular. Kuda itu ditunggangi seorang wanita cantik dengan pakaian serba biru. Wajahnya basah oleh keringat. Sebilah pedang bertengger di pung-gungnya. Dia adalah Saka Lintang, anak angkat Geti Ireng, ketua gerombolan Panjl Tengkorak. Ditinggalkannya Lembah Tengkorak, setelah seorang pendekar muda yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti mengobrak-abrik partainya, Panji Tengkorak. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti. Episode: Iblis Lembah Tengkorak). "Hooop...!" Saka Lintang menarik tali kekang kudanya kuat-kuat. Kuda putih meringkik kencang lalu berhenti. Dengan gerakan ringan dan tangkas, Saka Lintang melompat dari kudanya. Ketika kakinya sampai di tanah, segera dijejakkan kakinya hingga tubuhnya melenting ke udara dan hinggap di pohon yang cukup tinggi. Saka Lintang bertengger pada sebuah cabang pohon, seraya matanya mengawasi bagian hulu sungai. Bibirnya tersenyum kctika sebuah perahu besar dengan layar lebar mulai terlihat. Di ujung tiang layar, berkibar selembar bendera bergamhar bunga melati yang dilingkari rantai. Dari lambang gambar bendera, dapat dipastikan kalau kapal layar itu milik seorang saudagar kaya dari Kadipaten Balungan. Sebuah Kadipaten kecil di wilayah Timur kerajaan Singasari yang berpenduduk cukup makmur. "Suiiit...!" Saka Lintang bersiul nyaring yang disertai tenaga dalam.

Mendengar siul yang bergema itu, serentak dari rimbunan semak-semak tepi sungai bermunculan empat buah perahu berukuran sedang, dikayuh oleh beberapa orang. Saka Lintang segera terjun diiringi gerakan salto beberapa kali, dan hinggap tepat di punggung kudanya. Gadis itu lantas menghentak tali kekang kudanya, lalu memacu ke arah perahu gerombalannya yang makin dekat. Ketika perahunya yang berwarna biru pekat itu telah menepi, Saka Lintang menarik tali kekang kuda, dan tanpa berpikir banyak dia segera melompat ke udara. Perahu yang telah siap menunggunya itu menerima tubuh Saka Lintang yang hinggap di tengah-tengahnya "Ayo, cepat! Kepung kapal layar itu!" teriak Saka Lintang. Enam orang laki-laki bertubuh kekar segera mengayuh dayung. Perahu itu pun meluncur deras mendekati kapal layar besar. Tiga perahu lain yang berwarna biru pekat pula, bergerak menyerang. Sedangkan di kapal layar besar itu tengah terjadi kesibukan. Beberapa orang telah siap dengan panah yang mengarah pada gerom bolan Saka Lintang. "Awas, panah!" teriak Saka Lintang ketika melihat anak panah meluncur deras. Saka Lintang pun mencabut pedangnya. Dengan cepat pedang itu telah berputar-putar bagai baling-baling. Anakanak panah yang meluncur cepat itu rontok seketika tersapu oleh pedang. Layaknya sebuah payung yang melindungi dari serangan hujan. Empat perahu Saka Lintang makin dekat ke arah kapal layar. Sementara anak-anak panah terus meluncur mencari mangsa. Namun anak buah Saka Lintang mudah saja merontokkannya. Saka Lintang tersenyum melihat keberhasilan anak buahnya itu. "Serang...!" teriak Saka Lintang nyaring. Mendengar abaaba itu serentak anak buah Saka Lintang yang berseragam biru pekat berlompatan ke atas kapal layar. Gerakan

Kesibukan kembali terjadi. "Hamba menemukan satu peti berisi perhiasan emas dan perak. Tuan Putri. Saka Lintang dan pasukannya berhasil menguasai kapal layar.mereka sangat ringan dan cepat. Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan wajah ditumbuhi cambang mendekati Saka Lin¬tang. Saka Lintang mengamuk bagai banteng terluka. Matanya tajam mengawasi sekitar geladak kapal yang penuh oleh darah. Rata-rata mereka memiliki ilmu silat cukup tinggi. pindahkan semua barang berharga ke perahu kita!" perintah Saka Lintang. Banyak sudah lawan yang telah berjatuhan. Beberapa lawan malah menyelamatkan diri dengan terjun ke sungai. Tubuh-tubuh mulai ambruk bergelimang darah menyusul suara jeritan hasil kelebatan pedang Saka Lintang. Sementara pertarungan kini bergejolak di atas kapal layar. Dimasukkan pedangnya ke dalam sarung di punggung. "Buang semua mayat ke sungai!" perintah Saka Lintang. Jelas mereka bukan orang-orang sembarangan. "Ada apa. Codet?" tanya Saka Lintang datar. Dan memang. Memang orang-orang di atas kapal bukan tandingan Saka Lintang dan anak buahnya. Kedua tangannya berada di atas pinggang. Diseret dan dilemparkan seluruh mayat ke sungai. "Hoi! Angkat semua yang berharga!" teriak Codet keras. Sebilah golok besar tergantung di ping gangnya." sahut laki-laki yang dipanggil Codet Memang di pipi kanannya terdapat guratan panjang sehingga menambah seram wajahnya. Dibungkukkan badannya sedikit di de-pan Saka Lintang yang berdiri angkuh. Sekejap saja permukaan sungai telah berubah warnanya menjadi merah oleh darah. 'Tuan Putri ingin melihat- . Anak buah Saka Lintang yang berjumlah kira-kira dua puluh orang itu segera mengerjakan perintahnya. "Bagus.

Rasanya sayang kalau kapal ini mesti dibakar seperti yang sudah-sudah. Di dalam bilik ini. bawa pulang!" Codet berlalu setelah sebelumnya memberi hormat Saka Lintang melangkah memasuki bilik kapal kembali. Dia sangat terkesan ketika masuk ke sebuah bilik dalam kapal. Tapi kenapa bendera kapal menunjukkan milik saudagar Gantar dari Kadipaten Balungan? Atau mungkin kapal ini telah dijual oleh saudagar itu kepada bangsawan kerajaan? "Ah! Masa bodoh. Saka Lintang merasa bagai putri raja. baru sekarang dia mendapat sebuah kapal layar yang mengagumkan. Saka Lintang tidak menyahut. Hanya sebentar saja Saka Lintang telah menelusuri bagianbagian kapal." jawab Codet sambil membungkukkan badan. Kenapa harus dipiklrkan? Yang penting aku suka kapal ini!" dengus Saka Lintang dalam hati. Kapal layar ini tidak terlalu besar. Dilangkahkan kakinya dengan angkuh melewati laki-laki tegap dan kasar itu. Mulutnya tak henti-hentinya berdecak kagum. Rasanya tidak mungkin Kadipaten memiliki kapal seindah ini." "Kemudian kapal ini. Tuan Putri. ganti dengan bendera kita!" perintah Saka Lintang. Saka Lintang menduga. Saka Lintang tersenyum-senyum sendiri. "Hamba. Bilik itu memang cukup indah. bagaikan peraduan seorang bangsawan. Atau paling tidak putri bangsawan. Dijatuhkan tubuhnya ke atas pembaringan yang berlapiskan kain sutra lembut. Codet mengikuti dari belakang.lihat?" ujar Codet sambil membungkuk lagi. kapal layar ini pasti milik seorang bangsawan kaya. Sungguh nyaman berada di pembaringan ini. "Turunkan bendera kapal. "Hamba siap menjalankan perintah. Dia ingin memiliki kapal . Selama malang melintang menguasai sungai ular ini. "Codet!" panggil Saka Lintang.

"Hm. Saka Lintang menoleh ke pintu ketika diketuk dari luar. siapa dia?" tanya Saka Lintang mengerutkan kening. "Hm. Kepalanya terangguk-angguk beberapa kali. "Ha ha ha. akulah ratu sungai Ular ini! Bidadari sungai Ular.. Basah sudah tenggorokannya oleh arak.!" Saka Lintang tertawa sambil berteriakteriak bagai orang glla. Dia duduk di kursi berukir di samping meja pualam itu. Harganya hanya terjangkau oleh orangorang kaya. Wajahnya menyimpan rasa takut yang dalam. Arak ini memang pilihan kaum bangsawan. "Ada apa lagi?" tanya Saka Lintang kembali memasang sikap angkuh. . Dihampirinya sebuah meja terbuat dari batu pualam. Arak desa Cacah memang telah terkenal kenikmatannya. Dengan kapal ini dia bisa lebi h leluasa menjadi penguasa sungai Ular.ini... "Hamba menemukan seorang wanita bersembunyi di balik tumpukan peti." sahut Codet... Matanya memperhatikan guci arak. Cantik dan berkulit kuning langsat. Kemudian muncul dua orang laki-laki mengapit seorang wanita muda berusia sekitar tujuh belas tahun. Saka Lintang menari-nari berputar mengelilingi bilik kapal. Codet muncul setelah pintu terbuka.. Dia telah menenggak habis arak itu. Pakaiannya dari sutra halus. Sungguh tinggi seleranya. Perhiasannya semua dari emas. arak buatan desa Cacah.Ha ha ha. Codet menjentikkan jarinya. Tawanya belum berhenti. "Masuk!" bentak Saka Lintang karena merasa terganggu kenikmatannya. gelas peraknya telah kosong." gumam Saka Lintang sambil menuang arak ke dalam gelas perak. Dia membungkuk sedikit memberi hormat.. Tanpa terasa..

tidak dapat berbuat apa-apa. Intan Kemuning yang sehari-harinya tinggal di tembok kebangsawanan. Tapi Intan Kemuning ingin menikmati perjalanan melalui sungai Ular bersama kapal yang baru di beli ayahnya untuk pesiar. aku Intan Kemuning.. Mukanya pucat dan tubuhnya gemetar. Codet menutup pintunya lagi. Saka Lintang kembali mengamati wanita muda itu. "Siapa kau?" tanya Saka Lintang. Sedangkan awak kapalnya mencari selamat dengan terjun sungai.!" Saka Lintang tertawa gelak. Ketakutannya kian sangat. Dia tidak pernah belajar ilmu silat. Tapi berusaha mengangkat kepalanya pelan-pelan. "Aku putri patih kerajaan Galung." rengek Intan Kemuning. Dia sungguh sangat menyesal ikut dengan kapal ini. Pengawalnya yang berjumlah tidak kurang dari tiga puluh orang tewas semuanya. gerombolan perom-pak membegal kapal itu." "O. "Kau dengar pertanyaanku. Padahal orang tuanya sudah melarang.. Intan Kemuning mulai terisak. "Ha ha ha. "Aku. kan? Siapa kau?" dengus Saka Lintang mulai kesal karena wanita itu diam saja.. Intan Kemuning telah dibujuk agar pulang bersama-sama saja tewat jalan darat.. Jadi wajar saja kalau di a begitu ketakutan melihat para perompak mengganas di kapalnya. rupanya kau putri seorang patih? Tidak seharusnya putri seorang patih kerajaan seperti tikus kena gebuk begitu!" 'Tolong bebaskan aku. aku berjanji tidak akan mengatakan apa-apa pada ayahanda." jawab wanita muda itu tergagap. Wanita muda itu tidak menjawab.. tubuhnya seketika mengejang. Ketika matanya tertumbuk pada Saka Lintang. *** Kapal mewah terus melaju menyusuri alur sungai Ular . Tidak diduga sama sekali.Saka Lintang memberi isyarat agar anak buahnya keluar.

" dengus Saka Lintang gemas. Dia dengan terpaksa harus mengikuti perintah Saka Lintang yang menjadi pemimpin perompak sungai Ular.diiringi empat perahu gerombolannya. Intan Kemuning hanya bisa menerima nasib saja menjadi budak kepala perompak itu. Masing-masing perahu berisi barang. Siapa yang mengajari?" tanya Saka Lintang. "Aku tidak bisa menentang keinginan Ayahanda. Sementara di dalam bilik kapal mewah. "Bibi Emban. Saka Lintang yang hidup dari dibesarkan di lingkungan keras. Matanya tajam menatap wajah Intan Kemuning yang tertunduk. Apa kau tidak pernah belajar ilmu kanuragan?" tanya Saka Lintang. "Kau bilang tadi bahwa kau anak patih. Katanya. tidak ada istilah perem puan harus tunduk pada kaum laki-laki. Saka Lintang tengah berbaring tengkurap dengan punggung terbuka. tahu!" Saka Lintang jadi terhenyak hatinya." polos sekali jawaban Intan Kemuning. Beliau menginginkan aku menjadi seorang wanita bangsawan sejati. "Apa enaknya? Kau akan dijajah laki-laki. Intan Kemuning hanya tertunduk saja. 'Tidak.barang berharga dan djkawal oleh empat orang." "Bodoh! Itu artinya kau sudah dijajah laki-laki. Dia tidak terima kaumnya jadi bulan-bulanan kaum lelaki. Ayahanda tidak mengijinkan aku belajar ilmu-ilmu keprajuritan. "Kalau kau tidak berbuat macam-macam dan menuruti . Dalam kamus hidupnya. "Pijatanmu enak juga. Perhiasan yang melekat di tubuhnya juga sudah ditanggalkan. sangat terkejut mendengar kata-kata Intan Kemuning. Saka Lintang membalikkan badan dan merapikan pakaiannya kembali. Punggung yang terbuka itu terasa nikmat setelah Intan Kemuning memijitinya. istri harus pintar memijat." sahut Intan Kemuning pelan. biar suami betah di rumah.

Pikirnya. Saka Lintang merasa seolah-olah dialah yang diinjakinjak kaum lelaki setelah mendengar per-jalanan hidup Intan Kemuning.. Supaya kau tidak jadi wanita yang lemah. Tidak ada pilihan lain bagi Intan Kemuning kecuali menyanggupi kemauan Saka Lintang. Untung kau tidak digagahi!" Intan Kemuning terlonjak kaget. Kenapa m asih ada juga orang yang mengatakan dirinya baik? Apa tidak salah pendengarannya? Masih adakah kebaikan di hatinya? Dia sendiri tidak tahu mengapa tiba.tiba jadi iba melihat Intan Kemuning. kau harus turuti kata-kataku!" kata Saka Lintang. Nasibnya sekarang berada di tangan pemimpin perompak ini. "Mereka tidak akan mengganggumu! Dengan syarat. membangkang sedikit saja bisa-bisa mati konyol! Atau malah dijadikan pemuas nafsu anak buah Saka Lintang. Tangannya selalu dilumuri darah. "Kau seorang pemimpin perompak. Nyawa taruhannya!" jelas Saka Lintang. Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. Coba kau pikirkan! Baru lihat anak buahku yang hanya bisa main gertak saja. Hatinya berontak dan dengan seketika dia ingin segera nienjadikan Intan Kemuning seorang wanita yang kuat seperti dirinya. "Aku hidup di lingkungan laki-laki kasar dan brutal. Telinganya terasa dikilik. Saka Lintang bangkit dari pembaringannya.? Intan Kemuning tidak sanggup membayangkannya. tapi mengapa kau baik padaku?" tanya Intan Kemuning tidak mengerti dengan sikap Saka Lintang. dirinya dianggap "baik". Tubuhnya menggigll ketakutan. kau sudah ketakutan setengah mati.kata-kataku. Hidupnya penuh kekerasan.. aku akan mengajarimu ilmu olah kanuragan dan ilmu-ilmu kesaktian lainnya. Tapi mereka semua tunduk pada perintahku! Berani menentang dan kurang ajar. Lebih-lebih setelah mendengar penuturannya yang polos itu. .

diminumnya arak itu sedikit. Wajahnya memerah dan matanya berair. 'Tapi.. Diraihnya guci arak. apalagi memasak. aku tidak bisa. Saka Lintang menoleh ke pintu setelah diketuk dari luar. semua minum arak! Tidak ada air minum." ucap Intan Kemuning setelah reda batuknya.. segelas lagi buat dirinya.. . Kenapa harus hidup dengan orang dan lingkungan yang sama sekali asing? Intan Kemuning tidak dapat mem bayangkan apakah dia bisa hidup dengan cara seperti ini. "Maaf. Intan Kemuning juga memandang ke arah pintu. "Masuk!" teriak Saka Lintang." sahut Saka Lintang kalem. Tangannya gemetar memegang gelas itu. Intan Kemuning terdiam. "Aku tidak biasa minum arak. minum!" paksa Saka Lintang lagi. "Ayo. Hatinya hanya bisa mengeluh dan menyesali diri. Tiba-tiba Intan Kemuning terbatuk-batuk dan berdahak beberapa kali. kepalanya terasa pening." "Di istanaku. harus bisa minum arak!" paksa Saka Lintang. Ragu-ragu Intan Kemuning menerima segelas arak yang disodorkan buatnya. Intan Kemuning memejamkan matanya.Dilangkahkan kakinya mendekati meja. Menginjakkan kakinya ke dapur saja tidak pernah. Codet muncul. "Untuk jadi pengikutku. Sambil menahan napas." tolak Intan Kemuning. belum pernah dia minum arak! Mencium baunya saja. "Lama-lama kau akan terbiasa. Saka Lintang makin tertawa keras. Saka Lintang tersenyum melihat cara Intan Kemuning minum arak. Sebab selama hidupnya. kecuali sanggup memasaknya sendiri!" potong Saka Lintang. lalu dituangkan ke dalam dua gel as pe-rak Satu gelas disodorkan pada Intan Kemuning.

" "Hamba laksanakan. Dia hanya melihat suatu kelembutan dan kebaikan hati dalam diri Saka Lintang sebagai wanita yang tegar. "Kau lihat. Tuan Putri. kemudian berbalik Pintu kamar kembali tertutup rapat. Dia selalu ngeri jika lihat tampang laki-laki yang kasar dan kejam. Hatinya sedikit diliputi keraguan. Tuan Putri. mudah sekali jatuh simpati pada sikap Saka Lintang. Intan Kemuning yang polos. Meski dia tadi sempat melihat bagaimana Saka Lintang membantai para pengawal Kadipaten dengan kejam." iapor Codet. Dari sini Intan Kemuning mulai bersimpati pada wanita yang usianya tidak terpaut jauh dari dirinya itu. Nyalinya kecil. Saka Lintang memandang Intan Kemuning yang masih duduk di tepi pembaringan." "Tunggu!" cegah Saka Lintang melihat Codet akan berbalik."Ada apa?" tanya Saka Lintang. tapi mampu menguasai dan memerintah lakilaki bertampang kasar dan bengis. "Pergilah! Laksanakan tugasmu!" Codet membungkuk lagi." Saka Lintang menjentikkan jarinya. laki-laki tadi hanya bentuknya saja yang kasar. biar saja. Codet membungkukkan badannya lagi. "Hm. cantik. "Beritahu pada semua anggota. Aku dan Intan tetap di sini Kalian bereskan semua barang-barang. "Hamba. "Sebentar lagi kapal sandar. Dia tidak yakin apakah mampu seperti Saka Lintang. Intan Kemuning hanya menelan ludah saja. akan berurusan denganku! Dia kini jadi adik angkatku!" ujar Saka Lintang keras. Saka Lintang. Tuan Putri. kalau ada yang berani mengganggu Intan Kemuning. Namun bayangan kekejaman di wajah Saka Lintang makin sirna dalam pandangan Intan Kemuning. masih muda." Codet membungkuk hormat. *** .

Intan?" jawab Saka Lintang. "Maaf. Agak jauh memang. Dia itu seorang putri patih. Hampir-hampir Intan Kemuning tidak sanggup menjalaninya. Hasilnya memang tidak mengecewakan. Di sekelilingnya kecuali Saka Lintang. Saka Lintang tidak pernah lagi ikut merompak kapal yang lewat di sungai Ular. "Maksudmu. "Kau tidak berolok-olok padaku. Sebuah buku bersampul hitam lusuh berada di tangannya. "Hari ini tidak ada kapal yang lewat. Mereka takut terhadap Bi dadari Sungai Ular!" sahut Codet. Tuan Putri. Codet?" "Mana berani hamba mengolok-olok Tuan Putri? Bisabisa kepala hamba pisah dari badan. Tuan Putri. "Kau tidak keluar.. Codet selalu pulang membawa hasil." "Bagus kalau kau tahu!" Codet melirik Intan Kemuning yang duduk di bangku bawah pohon. Apa Tuan Putri tidak salah mengangkat dia jadi adik?" takut-takut Codet bicara sambil ibu jari tangannya diarahkan pada Intan Kemuning. Codet?" tanya Saka Lintang melihat Codet tengah berm alas-malasan. Sejak itu pula.." Codet cepat-cepat menghormat. "Benar. Berbahaya sekali buat kita kalau. Tuan Putri. Pemimpin perompak dipercayakan pada Codet." "Cukup!" sentak Saka Lintang memotong.Seminggu rasanya belum cukup bagi Intan Kemuning untuk menyesuaikan diri di lingkungan para perompak. . "Kau tahu. Cukup keras latihan yang diberikan. Bukan untuk mengaturku! Paham?!" "Hamba mengerti. hanya laki-laki berwajah kasar dan sc-ram... apa akibatnya menentang kehendakku?" "Hamba. Dan selama seminggu itu Saka Lintang telah memberi dasar-dasar ilmu olah kanuragan.. "Kau kupercaya untuk jadi wakilku.." sahut Codet.

Ketiga temannya mengikuti sambil tertawa-tawa. Tapi justru baru kali ini mereka tunduk oleh seorang wanita! Codet menghampiri tiga orang temannya yang duduk melingkar menghadapi rusa panggang. Mereka semua bekas begal yang biasa berkeliaran mencari mangsa di hutan-hutan atau merambah desa-desa. "Cari hiburan!" Ketiga orang Itu tertawa seketika. Tidak . Tapi hanya sekedar berkhayal. "Kalian ikut aku. Codet melangkah pergi. tapi takut kepada Saka Lintang. Bau harum menusuk hidung dan membangkitkan selera." kata Codet sambil mencomot sepotong daging rusa. Matanya masih sempat melirik Intan Kemuning. Mereka tahu kalau Codet mengincar Intan Kemuning."Sekarang pergilah! Dan jangan coba-coba mengusik Intan Kemuning!" Codet membungkuk lalu pergi. Codet yakin kalau buku itu berisi dasar-dasar ilmu pukulan tangan kosong dan latihan pengerahan tenaga dalam. Dan sekarang jumlah gerombolan ini tidak kurang dari tiga puluh orang. "Ke mana." jawab Codet. Sebagai pelampiasan nafsunya. Tak ada orang yang tak tertarik dengan Intan Kemuning. Det?" tanya salah seorang. dia sering pergi ke desa terdekat. Sepuluh anak buahnya pun ikut dalam gerombolan ini. Semua lakilaki di tempat itu pasti berkhayal dapat menikmati kemulusan tubuhnya. Codet hanya menggerutu saja sambil membayangkan wajah Intan Kemuning. Dikhawatirkan Intan Kemuning akan jadi duri dalam daging! Codet sendiri dulu adalah seorang begal sebelum dikalah kan Saka Lintang. Kemudian dia berjanji untuk selalu setia dan mengabdi pada gadis itu. "Cari apa ke desa?" tanya yang lain. Kehidupan seperti itu memang bukan hal yang asing bagi mereka. "Ke desa.

Ini jelas menyulitkan mereka. Intan Kemuning memang selalu di bawah lindungan Saka Lintang. Mereka takut oleh aturan yang diberikan Saka Lintang. Hal inilah yang selalu mengganggu pikiran Codet. Pikirnya. Apalagi jika nanti Intan Kemuning berkhianat.lebih. sudah tentu pihak Kadipaten tidak akan ringgal diam. Codet menyayangkan pemimpinnya yang tidak menyadari kemungkinan yang akan berakibat fatal! *** . oleh karena Intan Kemuning putri seorang patih.

Sampai saat ini mereka belum memperoleh kabar berita sama sekali.2 Suasana di Kadipaten kerajaan Galung tengah dirundung duka. "Sendika." tamtama itu memberi hormat. "Hamba menerima Iaporan dari beberapa telik sandi. "Tamtama." lanjut tamtama itu lagi. ada apa?" tanya Patih Giling Wesi setelah tamtama itu mendekat memberi hormat. "Cepat laporkan!" "Beberapa telik sandi yang hamba kirim untuk mencari keterangan tentang Putri Intan Kemuning. telah kembali pagi tadi. "Kumpulkan prajurit pilihan. Patih Giling Wesi seperti orang kebingungan. Dan betapa terkejutnya istri Patih Giling Wesi ketika . Sudah seminggu ini Patih Giling Wesi memerintahkan prajurit-prajurit pilihan untuk mencari kapal layar yang membawa putrinya." tamtama itu menuturkan dengan sikap hormat. Gerahamnya sampai bergemerutuk dengan wajah merah padam. kita berangkat sekarang juga ke sungai Ular!" perintah Patih Giling Wesi. Melangkah hilir mudik dengan hati diselimuti kegelisahan. Dilaporkan bahwa kapal yang membawa Putri Intan Kemuning dirampok gerombolan Bidadari Sungai Ular. "Gerombolan Bidadari Sungai Ular sangat ganas. Gusti Patih. Istrinya terheran-heran melihat wajah suaminya yang merah padam. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Di Pendopo Kepatihan. Tidak peduli kapal siapa yang akan jadi sasaran. Matanya memandang ke depan Pendopo." jawab tamtama itu. Gusti Patih. "Bedebah!" geram Patih Giling Wesi murka. Patih Giling Wesi bergegas masuk ke kamar pribadinya. Seorang tamtama berjalan tergopoh-gopoh menuju Pendopo. Gusti Patih. lalu melangkah mundur.

Telah lam a patih itu tidak menyentuhnya lagi. "Aku akan mencari Intan Kemuning.. "Berdoalah pada Hyang Widi untuk keselamatan anak kita. "Untuk apa pedang itu?" tanya Rara Angken. Perompak itu memang ganas. . Rara Anken masih terisak. Tenangkan hatimu.. Dinda." "Oh. "Aku pergi. Namun kakinya melangkah tegap. Dia baru sadar kalau istrinya. sehingga tak sadar kalau istrinya sejak tadi memperhatikan tingkah lakunya.." lembut suara Patih Giling Wesi..!" Rara Angken menekap mulutnya." ujar Patih Giling Wesi sambil mengelus-elus kepala dan bahu istrinya." Patih Giling Wesi menoleh. "Kang Mas. 'Tapi mengapa harus membawa pedang pusaka?" "Beberapa telik sandi melaporkan kalau kapal yang membawa Intan Kemuning dirampok oleh Gerombolan Bidadari Sungai Ular. terayun ke luar kamar.suaminya mengambil pedang pusaka." sahut Patih Giling Wesi. anakku.. "Dinda Rara Angken.." Rara Angken tak kuasa lagi menahan air matanya. Nada suaranya bergetar penuh kecemasan.. tidak ada gunanya kau menangis. Pedih hati Patih Giling Wesi melihat istrinya menangis. "Kang Mas.. Aku berjanji akan membawa kembali anak kita... Pikirannya terpusat penuh pada keselamatan putri mereka. Berdoal ah agar anak kita selamat." pamit Patih Giling Wesi setelah menarik napas panjang. Rara Angken. berada di kamar ini.. "Intan." lirih suara Rara Angken. tapi firasatku mengatakan bahwa Intan Kemuning masih hidup. Sementara sekitar lima puluh prajurit bersenjata lengkap sudah berbaris menunggunya di depan Pendopo. Air matanya menganak sungai di pipi.

Sebuah jalan desa yang kanari kirinya berdiri rumah penduduk. . Kepatihan kembali sepi setelah mereka ke luar dari benteng diiringi oleh mata beberapa penjaga yang terkesima. patih yang terkena! pemberang itu segera melompat ke punggung kuda dengan gerakan yang lincah. "Hiya.. Di antara pengunjung kedai. Mereka terheran-heran melihat banyak prajurit yang sudah terkenal kedigjayaannya seperti akan perang. Tiba kini sebuah kedai mereka lewati. Pemuda itu tidak merasa terganggu oleh ulah prajurit kepatihan yang memacu kuda dengan cepat itu. Kuda hitam mengkilat itu mendengus-dengus berlari bagai anak panah melesat cepat Kuda Patih Giling Wesi memang kuda pilihan. mereka lewati. Para prajurit bergegas menaiki kudanya masing-masing. Derap langkah kuda terdengar bergemuruh meninggalkan kepulan debu bergulung-gulung... Patih Giling Wesi segera memacu kudanya dengan cepat diikuti oleh pasukannya. Tetapi yang terlihat hanya kepulan debu saja. Semua orang yang berada di jalan segera menepi. Pemuda itu mengenakan baju rompi putih yang lusuh. Di punggungnya bertengger sebilah pedang dengan gagang berbentuk kepala burung rajawali. Padahal banyak orang dalam kedai bertanya-tanya dan mendugaduga. Tanpa banyak basa-basi lagi. duduk tenang seorang pemuda tampan yang tengah menghadapi guci arak.. Semua orang dalam kedai menoleh.! Hiya. Dia adalah Rangga. Padahal mereka telah memacu kudanya secepat mungkin.Seorang prajurit menuntun seekor kuda hitam tinggi kekar ketika Patih Giling Wesi tiba di depan Pendopo.!" Patih Giling Wesi meng-geprak kudanya agar lebih kencang lagi. Tidak heran kalau para prajuritnya tertinggal di bela-kang.

Jelas ucapan . tapi matamu buta! Kau tidak bisa melihat kejadian di sekelilingmu!" Aki Lungkur bergumam." Aki Lungkur atau si Pengemis Sakti Tongkat Merah itu hanya terkekeh saja. 'Tidak biasanya.. Pasti ada sesuatu yang gawat.Pendekar Rajawali Sakti. Dan semua orang tahu siapa Intan Kemuning. Bunga Kepatihan yang menjadi incaran dan impian putra-putra bangsawan dan punggawa kerajaan. Mereka hanya pemuda-pemuda yang besar mulut tanpa nyali sedikit pun. Merah padam wajah kedua pemuda itu. Sedangkan yang berpakaian warna hijau bernama Rangkasa. "Kecongkakanmu melebihi tingginya gunung. Mereka putra-putra para punggawa kerajaan. "Mereka mencari putri Intan Kemuning!" Semua orang di kedai terdongak dan menatap arah suara yang datang tiba-tiba itu. Yang memakai baju berwarna merah. "Kakek gembel! Kau jangan bicara sembarangan!" bentak salah seorang dari dua pemuda tadi. Ternyata seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah menyangga tubuhnya. "Seperti akan perang saja prajurit-prajurit itu. bernama Hanggara. Kakek tua itu bersandar pada tiang kedai. Memang. Dari pakaiannya dapat ditebak kalau mereka anak seorang bangsawan kaya. Rangga melirik ke arah suara itu." terdengar suara dari meja tidak jauh dari tempat duduk Rangga. Dia tahu siapa dua pemuda congkak itu. hilangnya Intan Kemuning belum tersebar luas kecuali para prajurit pilihan." sahut temannya. Patih Giling Wesi ikut serta. Tapi jarang yang tahu kalau nama sebenamya adal ah Aki Lungkur. Dari tongkat dan pakaiannya semua orang tahu dia adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah. Dua anak muda duduk menghadapi empat guci arak. Atau paling tidak anak saudagar. Hanya tokoh-tokoh tertentu saja yang tahu nama aslinya. "He he he...

Dan kini keadaan kedai menjadi sunyi. . Kakang Badil. Semua orang tahu kalau hal itu benar-benar terjadi. Tanpa diketahui orang-orang di kedai. kalau aku benar maka aku minta kalian membebaskan putri Intan Kemuning dari sarang Bidadari Sungai Ular!" Setelah selesai kata-katanya. "Benar.Pengemis Sakti Tongkat Merah tertuju pada mereka. Bahkan dua pemuda congkak sudah sejak tadi meninggalkan kedai. Rasanya sulit dipercaya bila putri seorang patih yang terkenal dengan julukan Singa Medan Laga bisa ditawan oleh gerombolan Bidadari Sungai Ular. Patih Giling Wesi mempunyai banyak sahabat dari tokoh-tokoh rimba persilatan." bisik salah seorang. Adi Gering!" Mereka pun memacu kudanya dengan cepat. rupanya dua orang gerombolan Bidadari Sungai Ular ada pula di kedai itu. Tapi. Kata-kata kakek tua tadi bisa jadi ada benamya tetapi patut dipertanyakan pula. 'Pacu kudamu dan kita ambil jalan pintas. Seorang pelayan tua sekaligus pemilik kedai menghampiri." sahut temannya. Satu persatu pengunjung kedai berlalu pergi dari tempat itu. Aki Lungkur dengan cepat melompat dan hilang dari pandangan mata. Maka kalau berita itu sampai tersebar luas. Tinggal Rangga sendirian masih duduk menghadapi mejanya. kalian boleh memancung leherku. Kalau kata-kataku salah. "Kita harus laporkan segera pada Tuan Putri. maka gerombolan perompak itu bukan saja berhadapan dengan para prajurit tetapi juga dengan tokoh-tokoh sakti dunia persilatan. Mereka mendengar pembicaraan Aki Lungkur dan segera angkat kaki ketika kakek tua itu menghilang. Suara menggumam terdengar bagai lebah ditepuk sarangnya. 'Tanyakan pada Gusti Rara Angken. bukan tidak mungkin mereka akan membantu Patih Giling Wesi. Hanggara dan Rangkasa saling berpandangan.

Ketika pintu terbuka. Pak Tua itu duduk di depan Rangga.." Badil setengah berbisik Matanya menerobos ke dalam. "Tidak. "Kalau begitu. Dua ekor kuda berpacu memasuki hutan di kaki lereng bukit Guntur. "Lalu?" desak Saka Lintang sudah bisa menebak "Di situ juga ada Pengemis Sakti Tongkat Merah. "Kami punya berita penting. Dia yang menyebar kabar itu. Di situ hamba melihat serombongan prajurit berkuda dipimpin langsung oleh Patih Giling Wesi. *** Matahari hampir condong ke Barat." jelas Badil ketika Saka Lintang telah berada di luar rumah. duduklah di sini. "Kau takut?" cibir Saka Lintang." kata Badil segera membungkukkan badannya. kedua tangan Saka Lintang telah berada di pinggang. "Tidak!" sahut Badil dan Gering bersamaan. Tuan?" Pak Tua menawarkan. mereka melompat turun setelah kuda yang mereka tunggangi berhenti di depan rumah terbuat dari kayu.. Saka Lintang mengerutkan keningnya. Tuan Putri. Tuan Putri. siapkan semua yang ada. "Ada apa?" tanya Saka Lintang angkuh. Aku perlu teman ngobrol" sahut Rangga.. Inilah markas gerombolan Bidadari Sungai Ular. dua orang dari gerombolan Bidadari Sungai Ular. Penunggang kuda itu adalah Badil dan Gering... Intan. Dia melangkah dua tindak'Tadi hamba berdua minum-minum di kedai Pak Tua. Sambut . Dengan tergesa-gesa Badil menghampiri pintu dan mengetuknya dengan keras." lanjut Badil.'Tambah lagi araknya. Penuh dengan kesigapan. Si gembel Itu tahu kalau Intan Kemuning ada di sini. "Katakan cepat!" "Menyangkut..

.. Itulah Saka Lintang... di saat itu pula niatnya diurungkan.." "Apa yang kau herankan?" tanya Saka Lin¬tang. Dia takut Saka Lintang tersinggung... tidak apa-apa. Sebenarnya ingin sekali Intan bertanya. Intan Kemuning harus bisa menjaga diri dan berbuat apa saja yang dikehendaki Saka Lintang. Tapi setiap kali akan bertanya.. Dia tahu gelagat kalau Saka Lintang sudah membentak keras. Kadang-kadang kasar. Saka Lintang bergegas masuk ke kamar kembali. "Mereka hanya tikus!" bentak Saka Lintang. Tuan Putri. "Ada apa Kakak Lintang?' tanya Intan. "Tidak." kata Gering. 'Tikus." sahut Intan Kemuning tergagap. Tapi di balik kekasaran-nya. Bukan hanya kata-katanya saja yang sulit dimengerti.. "Aku.?" Intan Kemuning belum mengerti. "Kakak Lintang.? Ha ha ha. Kadang-kadang dia harus berpikir lebih dulu untuk dapat mengerti. "Yah. "Hamba laksanakan.!" Saka Lintang tertawa gelak . Yang dimaksud tikus tentulah orang... kadang-kadang lembut. Bukan tikus sebenarnya. "Jumlah mereka banyak. Sikapnya pun demikian. Dia mendengar nada cemas pada suara Gering." jawab Saka Lintang lalu duduk di balai berhadapan dengan Intan Kemuning. aku heran saja. tikus bodoh yang cari mampus!" Intan Kemuning mulai mengerti. Tuan Putri.." pelan suara Intan Kemuning..." cepat-cepat Gering membungkuk. "Aku.kedatangan mereka!" perintah Saka Lintang tegas. Dia menghampiri Intan Kemuning yang menunggu di balai tengah-tengah ruangan. Ketika kedua orang itu telah pergi. "Ada tikus yang mencoba masuk. "Mengapa kau memandangiku begitu?" tanya Saka Lintang risih dipandangi terus.. Intan Kemuning dapat melihat suatu pelampiasan kekesalan pada Saka Lintang.

setelah kau selesai latihan tenaga dalam. tidak usah memikirkan aku! Yang penting. bersemadilah!" Intan Kemuning mengangguk kembali. sekarang giatlah berlatih. Tampak sekitar sepuluh orang berjalan menuju sungai Ular dipirhpin oleh Codet. Lima belas orang berjaga-jaga di markas mereka." sahut Saka Lintang. lalu keluar. Mata Saka Lintang menatap lurus ke depan." ujar Saka Lintang setelah reda tawanya. Perdalamlah lagi agar lebih sempurna. "Nah. Saka Lintang melangkah dan menoleh sebentar pada Intan Kemuning. Sebentar matanya mengawasi keadaan sebelum menutup pintu. berjalan sepuluh orang dipimpin oleh Badil dan sepuluh orang lagi dipimpin oleh Gering. Pandangannya berkeliling. Padahal kata-katanya tidak ada yang lucu.Intan Kemuning makin bingung melihat Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. Intan Kemuning hanya mengangguk. berlatihlah sekarang!" perintah Saka Lintang. Intan Kemuning menangkap semacam kegetiran yang ditutup-tutupi di wajah Saka Lintang. Dengan gerakan indah. . Saka Lintang melenting tinggi lalu membuat gerakan berputar beberapa kali di udara dan hinggap dengan manis di atap rumah. "Kakak Lintang mau ke mana?" tanya Intan Kemuning ketika Saka Lintang turun dari balai. Saka Lintang sedikit kagum pada Codet yang pandai mengatur anak buahnya. Aku lihat jurus-jurus pukulan tangan kosongmu sudah mantap. Saka Lintang melompat turun. "Ke luar! Aku akan kembali lagi jika kau sudah selesai berlatih. Bibirnya tersenyum melihat anak buahnya telah siap menanti datangnya para prajurit kepatihan. "Ingat. Kenapa dia sampai tertawa gelak seperti itu? Namun dalam tawa itu. "Sudahlah. Bibirnya tersungging melihat Intan Kemuning mulai berlatih. Di belakang mereka.

Saat kakinya mendarat di tanah, kem bali dilentingkan tubuhnya dan hinggap di atas punggung kudanya. Segera dia menggebrak kudanya lalu melesat cepat menuju ke sungai Ular yang tidak jauh dari lereng bukit Guntur markas Saka Lintang sekarang ini. Sungai Ular memang indah dipandang, namun menyimpan keganasan yang luar biasa. Sebentar saja Saka Lintang telah sampai di sungai Ular mendahului anak buahnya. Matanya yang bulat bening memandang sekitar sungai yang tenang. Setenang sikapnya saat ini. Codet menggerak-gerakkan tangannya ke atas ketika mereka telah sampai di sungai itu. Dengan seketika anak buahnya berpencar masuk ke dalam semak-semak dan ke balik bongkahan-bongkahan batu. Kini di tepi sungai tersisa empat orang. Mereka semua memang terlatih baik dalam menguasai daerah sekitar sungai Ular. Maka dal am sekejap saja tidak ada orang yang terlihat. Mereka bagaikan lenyap ditelan bumi. Pandai menyamarkan diri dengan alam! "Dengar...!" seru Saka Lintang tiba-tiba. "Suara kuda," gumam Codet. "Hm, siapa dia," gumam Saka Lintang. *** Suara kaki kuda kuda makin jelas terdengar. Saka Lintang mengerutkan keningnya. Dia hanya mendengar langkah dari satu ekor kuda saja. Matanya langsung melirik Badil. "Hamba akan menyongsong, Tuan Putri!" ujar Badil mengerti maksud lirikan Saka Lintang. Badil dengan cepat melompat ke kudanya. Segera digebahnya kuda itu. Dengan cepat kuda yang ditunggangi Badil sudah tidak terlihat lagi. Lenyap di balik rimbunan pepohonan. Badil memacu kudanya menuju arah datangnya suara kaki kuda.

Tiba-tiba ditarik tali kekang kudanya dan seketika tubuhnya melontar tinggi. Kakinya dengan sigap hinggap di sebuah batang pohon yang tinggi. Matanya dengan seksama berkeliling. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada seekor kuda yang ditunggangi seorang pemuda. Tampak dua bilah pedang bertengger di punggungnya. "Kala Srenggi," desis Badil mengenali penunggang kuda itu. Badil menunggu beberapa saat sampai Kala Srenggi mendekat. Kemudian dia meloncat turun ketika Kala Srenggi tepat di bawah pohon yang dinaiki Badil. Kala Srenggi dengan tangkas melompat dari kudanya ketika merasakan ada penyerang gelap dari atas. Pedang Badil segera membabat namun luput Dia kecewa. Padahal dia yakin penunggang kuda itu akan pecah kepalanya tersambar pedang. Yang didapati hanya tempat kosong saja, "Licik!" dengus Kala Srenggi ketika kakinya menjejak di tanah. "Kau juga lebih licik dariku, Kala Srenggi," balas Badil. "Siapa kau?' tanya Kala Srenggi yang heran melihat penyerang gelapnya tahu tentang dirinya. "Aku Badil. Macan Gunung Sinai!" sahut Badil angkuh. "Hm..., Macan Gunung Sinai sampai nyasar ke bukit Guntur," gumam Kala Srenggi mencibir. "Ada urusan apa kau datang ke sini?" tanya Badil. "Aku hanya lewat," jawab Kala Srenggi acuh. "Tidak seorang pun diijinkan masuk ke bukit Guntur!" "He! Sejak kapan aku...." Kala Srenggi belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Badil telah menyerang dengan cepat. Kala Srenggi agak kewalahan menghindari serangan-serangan pedang Badil yang cepat dan berbahaya. Macan Gunung Sinai memang bukan nama kosong, dan Kala Srenggi tahu itu. Dengan cepat dia bersalto di udara. Tangannya segera menarik pedang

kembarnya. Sret! Traaang! Dua pedang berbenturan di udara. Pijaran api akibat benturan pedang berlompatan bersamaan dengan terpentalnya dua orang itu. Mereka memang bukan orang sembarangan. Tanpa kesulitan apa-apa, kaki mereka telah menjejak di tanah dengan lincah. Dua orang itu sama-sama kaget dan sama-sama merasakan kesemutan setelah pedang mereka beradu. Kini mereka sama-sama menyiapkan jurus-jurus selanjutnya. Sambil berteriak nyaring, mereka kem bali terlibat dalam pertarungan sengit. Masing-masing ingin segera menjatuhkan. Namun sampai lima jurus berlalu, belum ada yang terdesak. Memasuki jurus selanjutnya masih tetap seimbang. Beberapa kali ujung pedang mereka hampir menemui sa-saran satu sama lain. Namun semuanya masih dapat dihindari. Hingga pada suatu ketika, Kala Srenggi melompat mundur sejauh dua tombak sambil memasukkan pedang kembar ke sarung di punggungnya. Kini dikeluarkannya 'Aji Racun Merah". Melihat lawan tengah mengerahkan ilmu andalan, Badil pun tak ketinggalan dengan ilmu andalannya pula. Mereka sudah saling berhadapan siap menyerang dengan kesaktian masing-masing. "Hiya...!" "Hiya...!" Kedua orang itu melompat berbarengan. Kini kedua telapak tangan mereka bertemu di udara. Ledakan keras terjadi, disusul dengan terpentalnya dua tubuh. Kala Srenggi jatuh bergulingan di tanah beberapa depa. Sedangkan Badil tidak kalah parah. D ari hidung dan mulutnya ke luar darah. "Uhk!" Badil memuntahkan darah merah kehitaman. Sambil menahan rasa sakit di dadanya, Badil berusaha bangkit. Tubuhnya sempoyongan. Sementara Kala Srenggi juga berusaha berdiri. D ari sudut bibimya mengalir darah

segar. Tangan kirinya menghitam terkena ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil. "Setan! Salah satu di antara kita harus mampus!" geram Kala Srenggi. "Huh!" Badil hanya mendengus. Badil sadar kalau tubuhnya telah dialiri 'Racun Merah' dan hidupnya tak akan bertahan lebih lam a lagi. Kala Srenggi pun demikian. Dia terluka parah. Mereka samasama kepalang basah. Kembali ajian masing-masing mulai mengarah satu sama lain. "Berhenti!" tiba-tiba suara bentakan melengking nyaring. Namun terlambat! Kedua orang itu sudah kembali melompat dan beradu di udara. Kala Srenggi lagi-lagi bergulingan di tanah. Dari mulutnya menyembur darah kental kehitaman. Dia berusaha bangun, tetapi malah jatuh dan tak bergerak sama sekali. Mati. Kedua tangannya seperti hangus terbakar. Di pihak Badil, lebih mengerikan. Dia tergeletak dengan dada pecah. Darah bersimbah membasahi tubuhnya. Badil tewas seketika setelah tubuhnya tenanting di tanah. Sebuah bayangan biru berkelebat dan mendarat di tengah-tengah arena pertarungan tadi. Dia adalah Saka Lintang, kemudian disusul oleh Codet dan Gering. Kedua orang itu terkejut melihat Badil tewas dengan dada pecah. Saka Lintang malah tenang-tenang saja. "Hm, Kala Srenggi," gumam Saka Lintang. Gadis itu mengayunkan langkahnya mendekati mayat Kala Srenggi. Sebentar diamati dan dengan ujung kakinya dibalikkan tubuh Kala Srenggi. Tampak di bagian dadanya hangus terbakar. Tidak ada luka di tubuhnya. Juga tidak ada tanda-tanda Kala Srenggi masih hidup. Saka Lintang mengambil ranting, lalu menekan dada Kala Srenggi dengan ranting. Terkejut juga Saka Lintang ketika melihat dada Kala Srenggi yang mendadak ambrol setelah tersentuh ranting. Bagai ditiup angin saja! Dada Itu

Gering yang setiap hari selalu bersama-sama dengan Badil merasa tidak tega juga terhadap mayat temannya itu. Dia hanya berdiri dengan pandangan berganti-ganti dari Saka Lintang ke arah Gering yang tengah menggali dengan pedangnya." agak bergetar suara Codet.kini berlubang besar tembus sampai ke punggung.. "Kuburkan kedua mayat ini. mereka belum bicara. "Mati. Toh tadi dia juga sudah memerintahkan untuk mengubur mayat itu. Saka Lintang hanya melirik." sahut Codet." perintah Saka Lintang. kemudian melanjutkan langkahnya.. Saka Lintang melangkah cepat. 'Tuan Putri. mereka meninggalkan dua sosok mayat yang tergeletak di tanah.. Tetapi untungnya. Tak ada seorang pun yang sedia menguburkannya. "Tidakkah. Sungguh dahsyat ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil. tinggalkan saja di sini!" Tanpa banyak bicara. Dia kembali lagi lantas menggali tanah. Tuan Putri. Codet bergegas mengham-\piri Gering dan membantu menguburkan mayat Badil. 'Tuan Putri yang memerintahku. Kini malah Codet yang bimbang. Saka Lintang membalikkan tubuhnya. "Kalau begitu." sahut Codet.. Sebentar lagi gelap. "Bagaimana?" tanya Saka Lintang menoleh pada dua anak buahnya. 'Terima kasih. Tanpa menghiraukan Codet lagi." ucap Gering. Gering menatap Saka Lintang yang hanya terlihat bayangan bajunya saja di antara pepohonan.. Sungguh tragis nasib mayatmayat itu." sahut Codet." "Bantu dia!" potong Saka Lintang cepat sambil menunjuk pada Gering.. Gering . Sampai selesai menguburkan Badil. 'Tidak ada waktu.

Mereka memang tidak pernah mengurus mayat musuh.menatap mayat Kala Srenggi. mereka tinggalkan tempat itu. Meninggalkan salah seorang teman yang kini terbaring di dalam tanah. Kini dengan hati lega. *** . "Biarkan saja dia jadi santapan anjing hutan!" kata Codet Gering mengangkat bahunya.

kita istirahat sebentar di sini. Mereka mencari tempat beristirahat dan membuka perbekalan. Dan yang jelas kejadiannya di sungai Ular ini! "Rapaksa!" teriak Path Giling Wesi. "Adya Bala. tapi tidak sedikit pun jejak kapal layar yang membawa putrinya ditemukan. "Siapkan prajurit!" perintah Patih Giling Wesi.3 Matahari baru saja menampakkan diri. istirahat!" teriak tamtama Rapaksa keras. Semalaman dia mencari di sekitar sungai Ular. Ada noda darah melekat di kalung itu. Gusti Patih. Didekatinya Patih Giling Wesi. Berarti telah terjadi sesuatu pada kapal itu." salah seorang tamtama segera mendekat. Gusti Patih. Dia duduk di atas batu menatap ke arah sungai yang berliku. Rapaksa belum sempat menjawab. "Beritahu prajurit. tibatiba datang seorang prajurit berlari-lari menghampirinya. Patih Giling Wesi pun telah turun dari kudanya lalu menghampiri sebuah batu besar yang menjorok ke sungai. Rapaksa berlari menghampiri. Patih Giling Wesi lantas menyambar kalung itu. Para prajurit serentak turun dari kuda masing-masing. Belum sempat Patih Giling Wesi beristirahat banyak. Hamba menemukan tanda keprajuritan di pinggir sungai. tiba-tiba terdengar . "Rapaksa!" "Hamba. Dia segera memberi hormat setelah tiba di depan Path Giling Wesi. Sinarnya membias menerangi mayapada. Matanya mengamati sebentar." kata prajurit itu sambil menyerahkan sebuah kalung tanda keprajuritan." kata Patih Giling Wesi. "Ampun. Patih Giling Wesi duduk di atas punggung kudanya dengan lesu.

. tidak semudah itu patih yang gagah. Dia mencabut sebatang tombak dari salah seorang prajuritnya yang sudah tidak bergerak itu. "Siapa kau?!" bentak Patih Giling Wesi." desis Patih Giling Wesi "Rupanya ada tamu agung berkenan mengunjungi wilayahku!" Patih Giling Wesi dan para prajuritnya terkejut mendengar suara yang tinggi menggema dibarengi pengerahan tenaga dalam yang sempurna. Dia tidak lain adalah Saka Lintang.. "Setan! Kembalikan putriku!" geram Patih Giling Wesi. "Intan Kemuning akan kukembalikan pada saatnya nanti. Percuma saja kau kerahkan seluruh prajurit! Mereka hanya . Dengan angkuh dia berdiri di atas batu tempat Patih Giling Wesi tadi beristirahat. Begitu prajurit bersiap. Rasa terkejut mereka belum juga hilang ketika tiba-tiba muncul seorang wanita cantik mengenakan pakaian serba biru. Tapi bukan berarti mereka bisa dengan mudah mengalahkan gerombolan ini. Dada mereka tertancap tombak. seketika itu pula dari rimbunan semak dan dari balik bongkahan batu. "Ha ha ha. Mereka semua telah siap dengan senjata di tangan.teriakan dan disusul dengan rubuhnya lima orang prajurit.. Patih Giling Wesi cepat melompat ke arah lima prajuritnya yang tewas. Patih Giling Wesi makin geram menyadari keadaannya telah terkepung. "Bidadari Sungai Ular. "Bidadari Sungai Ular!" jawab Saka Lintang mantap. Serentak para prajurit yang lain bersiaga. Dua kelompok itu hampir seimbang jumlah-nya." "Adya Bala!" teriak Patih Giling Wesi memberi aba-aba. Kelihatannya prajurit Kepatihan lebih banyak. Mereka semua memiliki tingkat kepandaian rata-rata di atas para prajurit pilihan sekali pun. Sebuah tombak berwarna biru dengan tangkai berukir huruf yang rapi dan indah. bermunculan orangorang yang semuanya ber-seragam biru.

Beberapa prajurit telah banyak yang roboh. Patih Giling Wesi tidak membuang-buang waktu lagi. Kalau saja bukan Patih Giling Wesi. Patih gagah. "Huh! Sontoloyo!" dengus Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi berteriak melengking dan merubah permainan pedangnya.mengantar nyawa ke tempat ini!" ujar Saka Lintang pongah. Bahkan beberapa kali dia dapat membalas serangan itu. Menyadari lawan telah menggunakan jurus yang ampuh. Maka pertempuran pun berlangsung sengit. Sudah tak tertahankan lagi amarah Patih Giling Wesi. Sedang dari pihak Bi dadari Sungai Ular. sebuah bayangan berkelebat menghadang. Pikirannya hanya terpusat pada keselamatan putrinya. Yang terlihat kini hanya bayangbayang pedang yang bergulung-gulung menyelimuti tubuh Gering. Bunyi senjata beradu dan teriakan-teriakan pertempuran terdengar membahana. Patih Giling Wesi tak ketinggalan dengan cepat melompat menerjang Saka Lintang. Pertarungan makin seru dan tak terlihat lagi oleh mata biasa." kata Saka Lintang meremehkan. Segera diperintahkan prajuritnya untuk menyerang. Sementara itu pertarungan semakin sengit. "Tidak semudah itu. "Kalian perompak liar. Tidak heran kalau Gering dapat mengimbangi permainan pedang Patih Giling Wesi. belum ada satu pun yang tewas. Gering berdiri dengan pedang terhunus. Tetapi belum sampai dekat Saka Lintang. Gering pun segera merubah jurusnya pula. Namun yang dihadapinya adalah Gering yang cukup tinggi ilmunya. Dia menerjang dengan jurus-jurus mautnya. mungkin kepalanya sudah terpisah dari badan tersambar pedang Gering yang berkelebat cepat. Jerit-jerit kematian makin sering terdengar menyayat dari pihak prajurit. dan harus dimusnahkan!" geram Patih Giling Wesi. Tubuh mereka seperti lenyap ditelan gulungan sinar .

Sementara Patih Giling Wesi terus mendesak dengan penuh nafsu. Namun ketika berada di tangan Codet seperti ringan saja. Tepat seperti dugaan Saka Lintang.!" Codet menjerit keras. Di luar arena pertarungan. Saka Lintang sudah bisa menduga kalau sebentar lagi Codet akan jatuh. Codet mencabut golok besarnya.. "Aaaakh. Jumlah mereka makin berkurang. dada telah basah oleh darah. "Sebaliknya kau akan kukirim ke neraka!" sembur Codet. Rupanya ujung pedang Patih Giling Wesi telah mengenai sasarannya.. Ketika tubuhnya keluar dari gulungan sinar pedang. Hingga pada suatu kesempatan. Dia merasakan angin sambaran golok lawannya menimbulkan hawa panas. tiba-tiba Codet menerjang masuk.. Kelihatannya.. "Majulah. Saka Lintang hanya mengamati saja sambil bibimya menyungging senyum. Kedudukan Codet pun kelihatan makin kewalahan. hanya dua yang tewas. . "Aaaakh. Gerakan-gerakan Codet makin ngawur.. Patih Giling Wesi harus lebih hati-hati lagi.. setan!" geram Patih Giling Wesi. Gadis ini cukup memaklumi keadaan Gering karena lawannya memang tangguh. Hanya Gering yang kelihatan terluka parah dan kini dirawat oleh anak buah Saka Lintang. Sedang dari pihaknya. golok itu berat sekali. "Kau akan bernasib lebih buruk dari temanmu!" dengus Patih Giling Wesi..pedang yang menimbulkan suara bersiutan.!" tiba-tiba Gering berteriak memekik. Di saat yang genting itu. Tampaknya prajurit-prajurit Kepatihan makin kewalahan dan terdesak. Gering segera mundur sambil menekap dadanya yang robek. Benda tajam itu berkelebat cepat dan mengarah ke bagian-bagian tubuh Patih Giling Wesi. Serangan-serangan yang dibangun Codet memang lebih dahsyat dan berbahaya di bandirig Gering.

Memang tidak sia-sia dia dijuluki Singa Medan Laga. Patih Giling Wesi dengan cepat melompat ke tengah-tengah prajurit-prajuritnya yang sedang kewalahan menerima gempuran yang datang bagai air bah. sukar diduga. Mereka seperti memberi peluang bagi masing-masing pemimpin untuk berlaga. seketika bangkit kembali melihat pemimpinnya mengamuk bagai banteng terluka. Patih Giling Wesi mengamuk membabi buta. Sebentar saja. Prajurit Kepatihan tinggal lima belas orang jumlahnya. dua puluh mayat sudah menggeletak.Pedang Patih Giling Wesi berhasil menembus dada Codet. Patih Giling Wesi menatap tajam pada Saka Lintang yang sudah menghunus pedangnya. Gerakannya cepat. "Huh!" Patih Giling Wesi mendengus sambil menyemburkan ludahnya. pasti ada seorang lawan yang ambruk mandi darah. Saka Lintang jadi geram. lalu ambruk tak berkutik. bahkan dengan cepat mendahuluinya. namun kelihatan sekali kalau Patih Giling Wesi bertarung menggunakan otak yang dingin. Seperti orang kesetanan layaknya. . Seketika pertempuran terhenti. tubuhnya mencelat ke udara dan menghadang serangan Patih yang mengamuk. Codet limbung sebentar. Dia pun dapat mematahkan serangan lawan sebelum sampai. Dia cepat membaca gerakan lawan. Meskipun hatinya terbakar am arah. Prajuritprajurit yang semula kendor semangatnya. 'Patih Giling Wesi. Bersamaan dengan itu. Apalagi orangorangnya makin banyak yang tumbang. akulah lawanmu!" teriak Saka Lintang. Masing-masing kelompok melompat mundur. Melihat orang-orangnya kewalahan menghadapi amukan Singa Medan Laga. Darah segar segera muncrat ketika pedang itu ditarik ke luar. Setiap pedangnya berkelebat. Sepuluh orang sudah roboh di ujung pedang Patih Giling Wesi dalam tempo yang singkat.

Dengan cepat pedang Saka Lintang berputar mengarah ke perut yang lowong. "Ha ha ha. penuh gerak tipu yang berbahaya. Sejak tadi sudah diperhatikannya jurus-jurus Patih Giling Wesi. "Aku tidak akan membunuhmu. Saka Lintang melayaninya sambil tertawa -tawa."Serahkan anakku. Sedangkan sasaran sesungguhnya adalah perut. dia harus mengerahkan tenaga dan kepandaiannya. atau kau harus mati di ujung pedangku!" dengus Patih Giling Wesi. Tetapi dalam menghadapi tokoh rimba persilatan seperti Saka Lintang ini. Semua serangan-serangannya.. Dia hanya menghindar dan menangkis dengan gerakangerakan indah memukau. Dirubahnya serangan dengan menggunakan jurus-jurus andalan. "Bocah setan!" geram Patih Giling Wesi merasa terhina. Dia telah tahu kelebihan dan kelemahannya. Mengingat dirinya adalah seorang patih yang disegani. Patih Giling Wesi tidak mau menyerah begitu saja. Patih Giling Wesi mulai merasa sulit menghadapi. Untung Patih Giling Wesi cepat menarik pedangnya. Patih Giling Wesi. Trang! . putrimu yang cantik akan jadi ratu setan!" dia langsung menyerang dengan jurus-jurus berbahaya. gerakan yang menyambar kepala hanya tipuan belaka. Dan memang. Patih Giling Wesi memang tangguh dalam olah keprajuritan. mentah dan rontok di tengah jalan oleh gadis ini.. Sedikit saja lemah. Jurus yang digunakan patih ini memang dahsyat. akibatnya sangat fatal.. Tapi tak disangka-sangka. "Awas kepala!" teriak Saka Lintang tiba-tiba. Saka Lintang sengaja tidak membalas serangan lawan. Aku hanya ingin memberirnu sedikit pelajaran agar kau tidak lagi pongah!" kalem dan tenang sekali suara Saka Lintang. kali ini Saka Lintang tidak mainmain lagi. Patih Giling Wesi terkejut Cepat-cepat dia menggerakkan pedangnya melindungi kepala.

Terlambat sedikit saja. Daun-daun segera berguguran terkena sambaran angin kelebatan pedang yang menimbulkan suara gemuruh bagai angin puting beliung. sangat dahsyat. Selain pedang yang menyambar-nyambar. Saka Lintang mengakui kehebatan patih ini. tapi kelihatannya belum ada seorang pun yang terdesak. pukulan tangan kiri Saka Lintang juga mencari sasaran.Dua pedang berbenturan tepat di depan perut Patih Giling Wesi. Tiga puluh jurus telah berlalu. *** Pertarungan antara Patih Giling Wesi dengan Saka Lintang telah meningkat pada taraf yang genting. Batu-batuan dan pohon-pohon yang terkena pukulannya. Sedangkan Patih Giling Wesi juga sudah mengeluarkan kesaktiannya. Dengan 'Ajian Sayuti Angin'. Semula Saka Lintang menduga kalau kepandaian Patih Giling Wed berada jauh di bawahnya. Patih Giling Wesi belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Batang-batang pohon segera tumbang terkena tebasan pedang Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi dapat bergerak melebi hi kecepatan angin topan. Tebasan dan tusukan pedangnya makin berbahaya dan menimbulkan tenaga dorongan yang dahsyat. Seratus jurus telah berlalu dengan cepat. langsung hancur berkeping-keping. Kombinasi antara ilmu pedang dengan jurus 'Pukulan Geledek' yang dikeluarkannya kini. Masing-masing belum ada yang terdesak. "Setan! Ilmu apa yang dia pakai?" dengus Saka Lintang dalam hati. perut itu pasti sobek. Saka Lintang kini meningkatkan permainan jurusjurusnya. . Semua sama-sama dahsyat. Kenyataannya sangat tak disangka sama sekali. Dalam hati. Mereka m asih seimbang meskipun telah mengeluarkan jurus-jurus pedang tingkat tinggi.

.Setiap kali pedangnya membentur pedang Patih Giling Wesi. Namun tiba-tiba. "Mampus kau!" bentak Patih Giling Wesi kembali melancarkan serangan mautnya. Sulit dipercaya! Pedang yang sudah sedernikian dekat tangan Saka Lintang yang bergerak lemah. Hatinya mendadak bergetar melihat tubuh indah meliuk-liuk dan sikap yang mengundang birahi.. Patih itu berusaha untuk tidak terpengaruh pada setiap gerakan tubuh yang indah itu.. Perih dan bergetar ke seluruh persendian tangannya.. Trang! Trak! Saka Lintang melompat mundur dengan wajah terkejut. Buru-buru gadis itu memasukkan pedang ke dalam sarungnya. Sesaat Patih Giling Wesi terpana. Patih itu terkejut bukan kepa-lang. tidak bisa membabat-nya putus. Bagian ujung pedangnya sempal. Tangannya seperti dijalari jutaan semut yang menggigit. Padahal tebasan pedang patih itu sangat cepat. Tapi. Dan kini dia telah siap dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Tidak sebanding dengan gerakan tangan yang lemah itu! Patih Giling Wesi segera menyadari kalau gerakan lemah gemulai yang mengundang birahi itu sangat berbahaya dan dapat mematikan lawan. . tangan Saka Lintang selalu bergetar bagai tersengat ribuan kala berbisa. dengan lembut ditarik.. tangan kanan Saka Lintang melayang mengarah dadanya. "Ah!" Saka Lintang memekik manja. "Setan!" dengus Patih Giling Wesi dengan cepat melompat sambil membabatkan pedangnya. Dan. Sedapat mungkin dihindarinya benturan senjata. Dia seperti menari. Tangannya yang sudah terulur cepat. dengan cepat dan tak terduga sama sekali. Meliuk-liuk dengan indahnya dengan tangan bergerak-gerak lemah gemulai. Gerakan-gerakan tubuh Saka Lintang jadi berubah. Bahkan lewat begitu saja.. Matanya mengerling genit disertai gerak-gerak bibir yang mengundang birahi.

Segera Patih Giling Wesi mengerahkan hawa mumi ke seluruh tubuhnya. Ujung pedang patih itu hanya menyerempet beberapa ram but saja.. Tetapi tak urung. Patih Giling Wesi makin kewalahan. Serangan Patih Giling Wesi yang bertubi-tubi mengarah pada bagian-bagian yang mematikan. Di samping harus menghadapi jurus aneh itu. Itulah kelebihan dari jurus Tarian Bidadari yang membuat lawan jadi frustasi karena mengira serangannya berhasil.. Setiap kali pedangnya berkelebat dan dipastikan akan menebas lawan. . Namun dari anginnya sudah dapat dirasa. Belum dapat dipastikan racun itu berbahaya atau tidak. Untung saja patih itu masih memiliki sedikit kewaspadaan sehingga tepukan tangan Saka Lintang berhasil dihindari."Ouw!" Saka Lintang hanya mendesah manja sambil menggerakkan tubuh dengan indah. dia juga harus berperang dengan batinnya sendiri. Tetapi serangan dahsyat itu tidak pernah dapat menyentuh tubuh Saka Lintang. "Huh! Ilmu setan mana yang dipakainya?" dengus Patih Giling Wesi. "hey! Uts!" Tiba-tiba Patih Giling Wesi tersentak. tepukan lembut itu menyerempet bahunya. Seketika dia tersentak kaget. mencari kelemahan jurus aneh yang dimainkan lawannya itu. Tangan halus gemulai itu mendadak hampir menepuk pundaknya. Patih Giling Wesi memutar otak. Sekuat daya Patih Giling Wesi menekan nafsu birahinya yang semakin berkobar-kobar. Patih Giling Wesi merasakan suatu hawa panas menyebar. namun dengan manis Saka Lintang berhasil mengelak. Mendadak kepala Patih Giling Wesi terasa pening. Daya pikat yang di pancarkan Saka Lintang begitu kuat Gerakan-gerakan patih itu jadi tidak teratur karena terpecah konsentrasinya. "Racun.!" desisnya.

Tetapi kalau tidak begitu. dia telah menghirup hawa racun yang disebar oleh telapak tangan Saka Lintang. Dalam hati Patih Giling Wesi mengatakan bahwa tidak mungkin bertarung sambil menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni. Bisikan yang entah datang dari mana. racun bakal terhisap lagi! Untuk menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni juga terlalu besar resikonya. Tapi apakah mampu menahan napas sambil bertarung? Kalau hanya sepuluh jurus saja dia masih mampu. Hawa murni itu telah menutup seluruh aliran darahnya. Tubuhnya jadi terasa hangat. Patih Giling Wesi seperti kehilangan akal dalam menghadapi lawannya kali ini. mendadak sebuah blsikan lembut terdengar di telinganya. *** "Jangan hiraukan tangannya. Bisa-bisa malah mati karena di dalam tubuh terjadi pertentangan dua hawa yang ber-lainan. Patih Giling Wesi menatap Saka Lintang yang berdiri tenang dengan bibir menyungging senyum memikat. menahan napas!" bisik hati Patih Giling Wesi. Di saat Patih Giling Wesi dalam kebingungan.lahan rasa pening di kepala berkurang. tetapi pandanglah matanya. Ya. Tetapi lewat dari sepuluh. Yang jelas bisikan itu mengatakan tentang kelemahan jurus 'Tarian Bidadari'. Patih Giling Wesi tidak dapat berpikir lebih banyak lagi. Sepertinya suara itu begitu dekat dan jelas. "Jalan satu-satunya harus menahan panas. rasanya tidak mungkin. Patih Giling Wesi membuka lagi jalan darahnya setelah terasa racun yang terhisap tadi telah keluar dari tubuhnya. Perlahan. .Secara tidak l angsung. Sementara Saka Lintang telah mulai lagi dengan jurus 'Tarian Bidadari'.

Arahkan pedang pada pusarnya. kelihatan Saka Lintang mulai kebingungan. baru dua petunjuk saja. Patih Giling Wesi makin gembira karena merasa di atas angin. Dan benar saja. Dia jadi geram karena kelemahan jurus andalannya terbaca lawan. Patih Giling Wesi segera bergerak mengikuti setiap gerakan kaki Saka Lintang." jelas bisikan itu. "Pusatkan napas pada perut. Setiap gerakan Saka Lintang selalu dapat dibaca olehnya. "Ikuti setiap gerak kakinya. Bahkan beberapa kali ujung pedang Patih Giling Wesi hampir menembus perutnya. . sering luput dari perhatian. Tanpa ragu-ragu lagi. Pedangnya terhunus ke arah pusar. Mudah dan sederhana sekali petunjuk yang diberikan sehingga Patih Giling Wesi dengan cepat memahaminya. "Ih!" Saka Lintang terkejut ketika ujung pedang patih itu berhasil merobek baju bagian perutnya. Saka Lintang segera melompat mundur. Kian lama gerakannya menjadi kacau." bisikan itu terdengar lagi." terdengar lagi bisikan itu. patih itu segera menatap mata Saka Lintang. tidak beraturan. Sedangkan pada bagian perut yang terbuka. Dia sudah mulai merasakan kalau Saka Lintang menemui kesulitan. Untuk bisa melakukannya. Cepat-cepat ditutupinya bagian yang terbuka itu. Hatinya gembira. digunakan pernapasan perut di samping memandang mata lawan. Namun semuanya tertutupi oleh gerakan-gerakan lemah gemulainya. Mungkin karena lawan telah terpengaruh oleh gerakan-gerakan yang mengundang syahwat itu. Hembuskan melalui mulut. Saka Lintang mulai sulit menebarkan racun lewat pukulannya. Rupanya gerakan-gerakan lemah lembut Saka Lintang harus dihadapi pula dengan gerakan yang lemah sedikit kaku. Semangat timbul lagi. Cukup besar sayatan menggores bajunya. Merah pada wajah gadis itu menahan malu.

. "Aki Lungkur. jangan campuri urusanku!" . Patih Giling Wesi pun mundur dua tindak. Tingkat kepandaiannya memang sulit diukur. kemudian merayap cepat menyusur tanah. tetapi segera berubah cepat. "Huh! Ilmu setan mana lagi yang digunakannya?!" dengus Patih Giling Wesi. "Ular harus dilawan dengan tongkat!" kata kakek tua yang tidak lain adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah atau Aki Lungkur. Dia sama sekali tidak tahu kalau patih itu mendapat petunjuk dari bisikan misterius yang hanya dapat didengar oleh patih itu sendiri. Mulutnya mendesis bagai ular. Dia bukan lawanmu.. Dalam menghadapi Patih Giling Wesi. Sebentar dia melompat.hingga jadi lupa terhadap daerah lowong itu. Kini disiapkannya jurus andalannya yang terakhir." desis Patih Giling Wesi. Seketika dia menduga kalau kakek tua inilah yang membisikkannya tadi. "Keluarkan seluruh kesaktianmu.!" Suara terkekeh tiba-tiba terdengar menggema dari segala penjuru.. Patih Giling Wesi sangat menghormatinya meski dia hanya seorang yang lebih mirip pengemis. Kadang lambat.. Kemudian muncul seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah di tangannya. biar lebih cepat kau kukirim ke neraka!" dengus Patih Giling Wesi. "Bedebah! Kakek busuk. Dia sudah tahu siapa kakek tua itu.. Jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Saka Lintang hanya mendengus saja. mundurlah. Saka Lintang kali ini memang menelan pil pahit." kata Aki Lungkur tanpa mengecilkan kepandaian patih itu. "Adi Patih Giling Wesi. Gerakan-gerakan yang diperlihatkan memang aneh. "Selamatkan putrimu di bukit Guntur. "He he he." kata Aki Lungkur lagi.

Telinganya yang tajam menangkap suara gerak langkah kaki tersembunyi. seorang pemuda berbaju rompi putih berjalan menelusuri kaki bukit Guntur sambil bersiul-siul. "1. Dari gagang pedang yang menempel di punggungnya dapat diketahui kalau pemuda itu adalah Rangga.bentak Saka Lintang geram. Saka Lintang segera memerintahkan anak buahnya menghalangi para prajurit Kepatihan itu. Rangga masih melenggang tenang. Rangga terus melenggang. *** Pada waktu yang bersamaan. si Pendekar Rajawali Sakti. Bibirnya menyungging senyum. Tanpa mendapat peringatan pun. Tanpa dikomando lagi." Aki Lungkur terkekeh lagi. Suara siulannya berhenti. hanya 15. Terbukti Patih Giling Wesi tidak mampu menandinginya. Patih Giling Wesi segera berangkat. Sambil bersiul-siul dengan irama yang tak jelas.. anak angkat Geti Ireng.. "Baik. 3. 2.... Hati-hatilah.. mereka langsung menyerang para prajurit yang belum pergi jauh itu.. "He he he. Bersama prajuritprajuritnya dia menuju bukit Guntur. Ah.. Kepalanya tergeleng-geleng begitu mendengar suara berkeresek. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu." kembali Rangga ." kata Aki Lungkur tanpa mempedulikan bentakan Saka Lintang. Dia tahu kalau dirinya telah memasuki daerah markas Bidadari Sungai Ular. Aki.. Tentulah kepandaiannya tidak bisa dianggap enteng... Dan kini telah mengepung dirinya.. Seorang gadis.." gumam Rangga menghitung. "Cepatlah berangkat! Jangan buang-buang waktu lagi. "Hm. mungkin rumah itu sarangnya." sahut Patih Giling Wesi.. Aki Lungkur tahu siapa lawan yang dihadapinya kini..

Rangga hanya tersenyun. Namanya Jambak. Pedangnya terayun cepat mengarah kepala Rangga. Digenjot kakinya. Seketika empat belas orang temannya dengan cepat mengurung Rangga sambil berteriak-teriak mengacungkan senjata. "Siapa kau? Apa maksudmu datang ke sini?" tanya orang yang membentak tadi. Tidak terlalu sulit untuk mencapai sana.bergumam ketika melihat sebuah rumah kayu di depannya. galak sekali. Ayo. "Jangan banyak tanya. dan dengan cepat tubuhnya melenting di udara. "Wuih! Sadis sekali. Rangga hanya tersenyum saja. Kelima belas orang itu hanya melongo. kenapa?" Rangga berlagak dungu. Dan. "Berhenti!" bentak salah seorang dengan keras. Jambak jadi gusar karena kata-katanya tidak digubris sama sekali. segera memerintahkan . Rangga melayang menuju rumah kayu di tebing bukit. "Teman-teman." jawab Rangga kalem. kembali! Atau tubuhmu kujadikan dendeng!" ancam Jambak. Namun tebasan pedang itu hanya mengenai angin. Diayunkan langkahnya. serang keparat ini!" perintah Jambak. 'Tidak ada seorang pun yang boleh memasuki kawasan ini!" kata Jambak galak. "Waduh." Rangga berlagak kaget. Dia segera melompat dengan ilmu peringan tubuhnya. Jambak yang memiliki kepandaian cukup tinggi. "Aku hanya pengembara dan kebetulan lewat sini. Tanpa peduli Rangga meneruskan perjalanannya. Rumah beratap rurnbia itu bertengger di kaki lereng yang cukup terjal. Bagaikan terbang saja. Dia salah seorang kepercayaan si Bidadari Sungai Ular. "Lho. mendadak dari rimbunan semak-semak bermunculan orang-orang berpakai an serba biru dengan senjata terhunus." "Pergi!" bentak Jambak keras.

Sangat keras totokannya. Rangga sedikit terpana melihat kecantikan wanita yang tidak lain adalah Intan .teman-temannya mengejar. Dalam keadaan dikeroyok seperti itu. kalian hanya kronco!" dengus Rangga begitu kakinya menjejak tanah di depan rumah kayu itu. Rangga tidak lagi kewalahan. semua serangan Jambak hanya dianggap main-main saja. Sekejap saja seorang dari pengeroyoknya yang menggenggam tombak terhuyung ke belakang. Selesai ucapannya. sehingga kening orang itu bolong! Kini dengan tombak di tangan. Rangga hanya berkelit menghindari tebasan pedang yang datang bagai air bah itu. Rangga masih sempat melirik ke arah pintu rumah yang terbuka. cantik. Namun sampai sejauh ini. Rangga bagai seekor belut. mengenakan pakaian merah muda dari bahan sutra halus di depan pintu. belum ada satu pun senjata yang berhasil menyentuh tubuhnya. Namun bagi Rang-ga. pinjam tombakmu!" kata Rangga kalem. Rupanya Rangga menggunakan satu jarinya untuk menotok kening orang itu. "Maaf.macam senjata beradu dengan tombak di tangan Rangga. dan menggiurkan.. Denting macam. tangan Rangga bergerak cepat. Dia sendiri berlompatan dengan bantuan ilmu peringan tubuhnya. Tombak itu telah berpindah tangan. "Hm. Kaki Rangga baru bergerak jika datang serangan lain secara keroyokan. Darah menguncur deras dari keningnya yang bolong.. Dan tibatiba muncul seorang wanita muda. Licin dan berkelit ke sana kemari menghindari segala bentuk serangan yang datang bertubi-tubi. Jambak yang datang lebih dulu dari teman-temannya dengan cepat menyerang ganas. Dia hanya meliuk-liukkan tubuhnya tanpa menggeser kaki sedikit pun.. Dan kini orang itu telah ambruk tak berkutik. Macam-macam bentuk senjata bertebaran mengepung tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

lalu ambruk tidak berkutik lagi. Pekik kematian kini terdengar saling susul. Mereka semua menyandang pedang di punggung. Hatinya bergetar juga. Jambak merasakan lawannya bukan tandingan mereka semua.!" seru Jambak gembira melihat berkelebatnya sebuah bayangan. Dari raut wajah yang panjang kurus... "Bagi dua!" teriak Bayangan Hitam." Si Bayangan Hitam mendongak seraya memonyongkan bibir. dapat ditebak kalau orang itu wanita. Namun dia tidak dapat memperhatikan lebih lama lagi. siapa tikus itu?" tanya Bayangan Hitam. Dua orang kini terhuyung sambil menekap dada. "Dia coba-coba menggerogoti lumbung. Rangga menggerakkan tombaknya semakin cepat. Sebentar saja sudah delapan orang yang telah mengantar nyawa." "Huh! Lalu di mana Gusti Putrimu?' "Menghadang perusuh di sungai Ular. "Jambak. Rangga kini sibuk menghadapi para pengeroyoknya yang semakin ganas. Lebih-lebih setelah mendengar l agi suara jeritan panjang melengking. menyusul dua orang terhuyung-huyung lalu ambruk. Sebentar saja sesosok tubuh kurus tinggi berbalut baju hitam ketat telah berdiri di tengah-tengah lapangan depan rumah kayu itu. . disusul am-bruknya dua orang lagi. Siulan itu menggema dipantulkan oleh bukit-bukit batu dan lembah. "Bayangan hitam. Darah segar segera mengucur dari dada yang robek itu. Belum lagi kering darah itu. "Cukup!" Tiba-tiba terdengar bentakan keras melengking.Kemuning. Tubuh-tubuh bermandikan darah mulai bergelim-pangan. Serentak dari balik-balik pepohonan muncul sekitar dua puluh orang berpakaian serba hitam. Terdengarlah siulan yang panjang dan melengking tinggi.

anak muda?!" tanya Bayangan Hitam.Tanpa banyak omong. Dari julukannya. Dia adalah seorang tokoh sakti yang tangguh dan sukar dicari tandingannya. Bayangan Hitam datang membawa anak buahnya. Bantu Gusti Putrimu!" perintah Bayangan Hitam. Secercah harapan muncul dan terbias di wajah mereka melihat kehadiran Bayangan Hitam. "Namaku tak ada artinya buatmu. ayah angkat Saka Lintang. "Sombong!" dengus Bayangan Hitam sedikit gusar. "Sebutkan namamu sebelum kau kukirim ke neraka!" . dapat dipastikan kalau tokoh ini dari aliran hitam. Sisa empat orang teman-teman Jambak masih terdiam di tempatnya. Semangat mereka timbul kembali setelah hampir diporak-porandakan. Meski Saka Lintang telah mengetahui asal-usulnya. Mereka semua tahu siapa Bayangan Hitam. *** Bayangan Hitam bukan orang lain bagi Saka Lintang. Benar-benar suatu kebetulan. Wanita kurus ini sangat baik terhadap Saka Lintang. Dia adik kandung Geti Ireng. terima kasih" Jambak membungkukkan tubuhnya. Lagi pula. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti. orang-orang yang baru bermunculan itu segera membentuk dua kelompok. Jadi Bayangan Hitam adalah bibi angkatnya. Bayangan Hitam tidak pernah ingin ikut campur dalam urusan Geti Ireng. Episode: Iblis Lembah Tengkorak) "Siapa kau. "Oh. namun dia sama sekali tidak membenci Bayangan Hitam. Dari sekilas pandang saja. Rangga sudah dapat mengukur tingkat kepandaian perempuan kurus ini. Segera mereka berlari menuruni lereng bukit menuju sungai Ular. "Jambak." jawab Rangga. bawa satu kelompok orangku. Jambak cepat memberi isyarat pada salah satu kelompok Bayangan Hitam.

untuk apa perempuan kurus atau Bayangan Hitam itu muncul. Apalagi si pem bunuh itu masih muda dan tampan. "Aku datang untuk mengambil Putri Intan Kemuning!" Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu rumah kayu. bocah setan! Kau berhutang nyawa padaku!" ujar Bayangan Hitam. terkejut. Lebih-lebi h setelah menyaksikan sepak terjangnya yang dengan mudah merobohkan sepuluh orang dalam satu jurus yang diulangulang terus." lantang suara Rangga. Kini dia mengerti sudah. Kelihatannya dia telah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Wajahnya tampak berubah merah. baru kali ini. Kalau anak muda ini dapat membunuh Iblis Lembah Tengkorak. "Aku membunuh saudaramu. "Aku tidak peduli! Yang jelas kau harus bayar nyawa saudaraku!" Rangga yang sudah mengukur kepandaian Bayangan Hitam tidak sungkan-sungkan lagi. Tapi diam-diam Intan Kemuning tertarik juga melihat ketampanannya. Mendengar namanya saja. "Bertemu saja baru kali ini. Tak disangkasangka dia bertemu dengan pembunuh kakak laki-lakinya."Aku Pendekar Rajawali Sakti. karena dia membantai keluargaku!" lantang dan mantap suara Rangga. Bukan hanya Intan Kemuning yang terkejut Ternyata Bayangan Hitam pun kaget setengah mati. Dia tidak kenal dengan pemuda tampan itu. bagaimana mungkin aku berhutang nyawa padamu?" "Kau membunuh saudara laki-lakiku! Kau harus bayar dengan nyawamu!" "Siapa saudaramu?' "Geti Ireng atau Iblis Lembah Tengkorak!" Rangga mengerutkan keningnya. pasti tingkat kepandaiannya tinggi sekali. "Kebetulan kau muncul. Dia segera mencabut pedangnya ketika Bayangan Hitam telah siap dengan .

Pedang Rangga berputar-putar berkelebat memancarkan sinar biru yang menyilaukan. bisa jadi tangan kanannya pisah dari badan terbabat pedang Rangga. . Kini tubuh mereka tidak terlihat jelas. anak setan!" geram Bayangan Hitam sambil membuang pedangnya begitu saja. Kian lama pertarungan kian seru. Yang kelihatan hanya bayangan hitam. "Keluarkan ilmu kesaktianmu. Trang! Dua pedang beradu menimbulkan pijaran bunga api. Rangga segera memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Bayangan Hitam segera menyerang Rangga dengan jurus-jurus pedang yang dahsyat Sekejap saja mereka telah bertarung dengan jurus-jurus pedang tingkat tinggi. Rangga tidak merasakan apa-apa waktu pedangnya berbenturan tadi. Bayangan Hitam segera melompat mundur satu tombak. Sedangkan pedang Bayangan Hitam menderu-deru menimbulkan hawa panas. Bayangan Hitam pun tak kalah siapnya. Bibirnya mengulum senyum. Sret! 'Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam. takjub. putih. Sebentar saja sepuluh jurus telah berlalu. "Edan!" dengus Bayangan Hitam melihat ujung pedangnya buntung.pedangnya. satu jurus andalan tingkat pertama. Dirasakan tangannya kesemutan ketika pedangnya beradu. Jari-jari tangannya seperti kaku. Dua sinar berbeda saling sambar dengan hebat-nya. tapi sinar matanya tajam menatap lurus Bayangan Hitam. Sinar hitam menggulung-gulung bagai asap tebal. Mereka telah saling berhadapan. Kini dia mengeluarkan jurus andalannya juga. Pedangnya melintang di depan dada. dan biru saling berkelebat Semua yang ada di situ melongo. Kalau saja Bayangan Hitam tadi tidak melompat. Sementara Rangga tidak bergeming sedikit pun. Dia pun bersiap-siap mengerahkan jurus 'Cakar Rajawali'.

Kakinya bergerakgerak lincah mengimbangi gerakan Bayangan Hitam yang sangat cepat. Sulit diiihat denjan mata biasa.. Rangga pun segera merubah jurusnya menjadi 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Kedua tangan Rangga mengembang.. Kini hanya dua bayangan hitam dan putih berkelebat. Rangga mengerutkan keningnya ketika merasakan angin sambaran pukulan yang sangat dahsyat.!" Suara ledakan keras terdengar ketika tangan Bayangan Hitam menghantam batu. Pertarungan dua tokoh sakti itu kembali berlangsung."Bersiaplah!" Bayangan Hitam segera menggebrak setelah selesai memberi peringatan. Rangga berdecak kagum melihat kedahsyatan pukulan Bayangan Hitam.. karena kaki-kaki Rengga saling susul mengarah kepala. Kin dengan jurus 'Bayangan Maut'. tubuhnya berar-benar seperti bayangan saja. Beberapa pohon tumbang terkena sambaran angin pukulan Rangga. Kedua kaki Rangga kini tidak lagi menjejak tanah. Kedua tangainya menyambar-nyambar menimbulkan deru angin kencang. Bayangan Hitam sampai terperanjat. Debu mengepul di udara disertai angin yang menderu-deru bagai terjadi topan.!" desis Rangga memuji dengan tulus "Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam.. Kedua kaki Rangga makin bergerak cepat. Tubuhnya . kadang menukik "Akh!" Tiba-tiba Bayangan Hitam memekik kesakitan. "Hebat. "Glaaar. Seketika batu itu hancur berkeping-keping menyebar ke segala penjuru. Kedua tangan yang selalu mengembang bagai sepasang sayap itu menyambarnyambar mengikuti gerakan tubuh Rangga yang kadang melayang. Seketika Bayangan Hitam merubah jurusnya.

'Tuan Putri.!" teriak Bayangan Hitam keras melengking. pertempuran masih berlangsung sengit.. Saka Lintang bertarung dengan Pengemis Sakti Tongkat Merah. kaki Rangga berhasil mengenai pundaknya. Semangatnya segera . tibatiba muncul sepuluh orang berpakaian serba hitam dipimpin oleh Jambak. Tanpa dapat dihindari lagi. Dia berusaha menghindari kepala. Saka Lintang berseri-seri wajah nya. Serentak sepuluh orang berpakaian serba hitam bergerak menyerang Rangga. Denting senjata bercampur dengan jerit kematian. tapi tidak bisa lagi menarik pundaknya.terhuyung dua tombak. Bibi Bayangan Hitam datang!" teriak Jambak. Prajurit Kepatihan yang dipimpin Patih Giling Wesi itu kini berada di atas angin. Tulang pundaknya patah sehingga sulit digerakkan lagi. Patih itu mengamuk terus. Mereka penasaran karena belum bisa menggoreskan pedang ke tubuh Rangga. Empat orang anak buah Bidadari Sungai Ular yang tersisa membantu mengeroyok Rangga. Makin lama orang-orang berpakaian serba biru semakin berkurang jumlahnya. Dia sendiri kewalahan menghadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah. Saka Lintang tidak mungkin membantu orang-orangnya. "Serang. *** Sementara di sungai Ular. Saat gerom bolan perom pak itu makin terdesak.. "Kurang ajar!" geram Rangga sengit. Bayangan Hitam mengeram menahan sekit yang luar biasa karena menyadari tangan kirinya tidak bisa digerakkan lagi. Setiap pedangnya berkelebat selalu menimbulkan korban. Yang tersisa hanya delapan orang saja. Sedangkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya menghadapi anak buah Bidadari Sungai Ular.

"Apa. "Cepat ke bukit Guntur! Selamatkan putrimu!" perintah Kakek Pengemis itu. Bagaikan kilat tubuh patih itu dan kini sudah jauh meninggalkan pertempuran. lalu berteriak nyaring. Dengan cepat dia berlari menggunakan ilmu peringan tubuh.. "Lalu. Kini keadaannya jadi berbalik. Satu persatu orang-orang berpakaian serba hitam tersungkur berlumuran darah disertai jerit kesakitan. Apalagi melihat anak buah Bayangan Hitam ikut bertempur. langsung dikeluarkannya ilmu lari cepat. Saka Lintang mendekati Jam bak yang tengah mengeroyok Kakek Sakti Tongkat Merah.bangkit mendengar Bayangan Hitam ikut membantu. 'Tengah menghadapi Pendekar Rajawali Sakti. lima orang lagi membantu mengeroyok Pengemis Sakti Tongkat Merah." jawab Jambak. Pengemis Sakti Tongkat Merah mendengar hal itu merasa bersyukur karena Pendekar Rajawali Sakti telah sampai di sarang gerombolan Bidadari Sungai Ular. Pengemis Sakti Tongkat Merah yang sejak tadi mendengar.?" Saka Lintang terkejut. Orang-orang dari Bayangan Hitam lebih tinggi tingkat kepandaiannya dan lebih ganas dalam bertarung. bagaimana Intan?" tanya Saka Lintang dengan cemas. . Tubuhnya mencelat tinggi di udara dan jatuh tepat di samping Patih Giling Wesi. "Berada di markas!" sahut Jambak. Begitu kakinya menginjak tanah. Saka Lintang segera melompat keluar dari pertarungan ketika ada kesempatan.. "Biar orang-orang ini aku yang hadapi!" Patih Giling Wesi segera melompat tinggi dan bersalto di udara. Pengemis Sakti Tongkat Merah mengamuk memutar-mutar tongkat saktinya. Lima orang membantu anak buah Saka Lintang. "Di mana Bibi Bayangan Hitam sekarang?" tanya Saka Lintang di sela-sela pertarungan.

"Cari kesempatan! Kejar mereka!" teriak Jam bak gusar. "Rantai Bayangan!" teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. "Cepat susul Gustimu!" teriak Aki Lungkur kepada para prajurit. Perintah Jambak seperti tertelan angin. "Jangan membantah!" dengus Aki Lungkur. pertarungan masih berlangsung sengit. Seketika sepuluh orang mengambil posisi melingkar mengepung Rangga. Ki. Rangga mencabut pedangnya dan mengerahkan ilmu pedangnya yang dipadu dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.!" seorang prajurit tidak tega meninggalkan orang tua itu sendirian.. sedangkan pedangnya berkelebat ke arah tubuh lawan yang kosong. Kini jumlah mereka makin berkurang saja.nyambar mencari mangsa. Gerakan kakinya lincah menghindari setiap serangan lawan. Jambak memutar otaknya mencari jalan agar sebagian temannya bisa keluar dari pertarungan. Rangga mengamuk menghadapi Bayangan Hitam yang dibantu oleh kaki tangannya. Di markas gerombolan Bidadari Sungai Ular. Mereka seperti menghadapi seribu pengemis. Empat orang ber-pakaian biru keluar dari arena. Delapan prajurit Kepatihan itu langsung beriari menyusul pemimpinnya. 'Tapi. Jurus ke-tiga dari rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Kakek sakti menebas tongkatnya sehingga satu persatu bergelimpangan. Tongkatnya seperti hidup menyambar.Mereka bukanlah lawan Pengemis Sakti Tongkat Merah. selalu menghalangi setiap orang yang akan mengejar para prajurit. Aki Lungkur bergerak cepat menyambar setiap orang yang berusaha keluar dari medan pertarungan. Mata Rangga tajam mengamati gerakan sepuluh orang yang berputar mengelilinginya sambil pedangnya tersilang . Sementara Kakek Pengemis kian waspada..

di depan dada. datang dari segala penjuru secara berganrJan.. Gencar sekali. Serangan-serangan itu sulit ditebak. Pedangnya dimasukkan ke dalam sarungnya di punggung. "Hiya! Yeah.. mereka bekerja sama dengan gerakan-gerakan yang teratur dan menunjang.!" Beberapa tubuh yang tidak sempat mengelak langsung bergelimpangan dengan dada teriembus patahan pedang mereka sendiri menyusul jeritan kematian. Tubuhnya berputar cepat bagai baling-baling. Rangga tidak akan menggunakan senjata jika lawan tidak pula menggunakannya. Mata Rangga tidak lepas mengamati setiap serangan yang datang.. “Bola Rantai Hitam!” teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. Trang! Trang! Trang! Kepingan-kepingan logam pedang yang patah meluncur deras ke arah orang-orang berpakaian serba hitam yang kebingungan. Seperti mata rantai. Dengan gerakan manis.!" Rangga kebingungan juga menghadapi pola serangan yang ganjil ini. Makin lama makin cepat Yang terlihat kini hanya bayangan hitam yang bergerak melingkar. Tetapi dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti dapat menguasai diri. Dengan serentak sisa anak buahnya mengeluarkan sebuah bola besi berwarna hitam yang bergigi runcing di sekelilingnya dan dihubungkan dengan rantai halus . Rangga mendarat di tanah. "Bedebah! Kurang ajar!" Bayangan Hitam menggeram melihat empat anak buahnya roboh hanya sekali gebrakan saja. Ternyata teriakan-teriakan itu hanya untuk memecah konsentrasinya. Pedang mereka terkena sambaran pedang biru menyilaukan. Tiba-tiba dia menjerit kuat sekali.. Sedangkan yang selamat hanya memegang pedang yang tinggal setengah saja. "Aaaakh.

Suaranya menderu-deru bagai angin topan. Seketika bola-bola itu menderu-deru silih berganti. "Bedebah!" geram Bayangan Hitam. Tiba-tiba tubuh mereka terangkat ikut meluncur bersama Rangga yang semakin tinggi.. "Serang. Kali ini dia tidak ingin lagi membiarkan lawan mengatur siasat. dilontarkan oleh keenam orang itu. dengan gerakan cepat mengumpulkan dan melemparkan rantai-rantai itu kepada pemiliknya. Keenam orang itu serentak melepaskan rantai.berwarna hitam pula. "Lepaskan!" teriak Bayangan Hitam. Dia masih menganggap belum perlu merubah jurus. Sungguh hebat tenaga dalam Rangga.. Dengan satu teriakan melengking. Apa-lagi sebelah tangannya tidak bisa digerakkan. Keenam orang itu segera membentuk lingkaran.. Dia segera menyerang Bayangan Hitam dengan gabungan tiga rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'.!" teriak Bayangan Hitam memberi komando. dia melesat ke udara bagai seekor rajawali. Rangga pun mengerahkan gabungan dari tiga rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. dan hanya menggabung-gabungkan saja dengan berbagai kombinasi. Kepalanya hancur terhantam bola hitam miliknya sendiri. Rantai-rantai hanya terlihat beberapa jengkal saja. Bolabola besi lainnya menghantam tanah lalu melesak ke dalam.!" seorang dari mereka menjerit keras. Kelima anak buahnya . Lima orang lainnya masih bisa menyelamatkan diri. Rangga yang masih berada di atas. Tentu Bayangan Hitam jadi kelabakan.. "Aaaakh. Sebelum menjejakkan kakinya di tanah. Tangan mereka memutar-mutar rantai panjang dengan bola-bola bergigi di ujungnya. mereka bersalto di udara. Rangga turun dengan manis. Rangga membiarkan tubuhnya terbelit rantai-rantai dengan bola bergigi itu.

r!" Gerakan Rangga dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' begitu cepat sehingga keempat orang itu tidak bisa melindungi kepalanya.. Rangga kini dikeroyok sepuluh orang. langsung membantunya. Dari mulutnya terus keluar umpatan dan cacian yang tidak berhenti. Begitu hebatnya suara bentakan tadi. Bayangan Hitam pun kini hanya bisa bertahan tanpa mampu memberikan serangan balasan.ditambah empat anak buah kelompok Bidadari Sungai Ular. Dan tanpa terduga sama sekali.. Tapi hanya empat orang saja yang menggunakan senjata.. Mereka segera menggelepar dengan kepala pecah. Apalagi kini mereka tanpa senjata. Seketika Saka Lintang terlibat dalam pertempuran pula. Dilihatnya Saka Lintang berlari cepat dan segera melompat sambil menghunus pedang. kaki Rangga melayang ke arah kepala. Bahkan lima orang anggota Bayangan Hitam telah jadi mayat.!" Bayangan Hitam menoleh. "Bibi.!" tiba-tiba terdengar suara bentakan keras menggelegar. Kraaak! "Aaaa.. "Lepas!" sentak Rangga.. Tiba-tiba saja empat pedang terlempar ke udara. "Mundur. Dengan cepat Rangga segera mengganti ketiga jurusnya sehingga lawan kebingungan. sehingga pertempuran sekejap saja berhenti. Siapakah yang membentak itu? *** . Dia menggeram dengan gigi gemerutuk melihat semua anak buahnya tewas.

Lintang?" tanya Nambi sambil mengamati mayat-mayat yang bergelimpangan. Tepat saat kakinya menginjak tanah. Dia dikenal dalam rimba persilatan dengan nama Setan Jubah Merah. Kini pedang itu terarah pada sebuah pohon besar.!" seru Saka Lintang. "Hm. Hanya saja watak mereka yang terbiasa malang melintang di rimba persilatan. Hanya kemunculan mereka saja yang tidak selalu bersamaan. Rangga telah disibukkan dengan sinar merah yang datang lagi.. Mata Rangga yang tajam cepat mengetahui dari mana datangnya sinar merah itu. Tokoh ini beraliran hitam dan dulunya merupakan suami Bayangan Hitam. Sampai sekarang pun mereka masih suami istri. Blar.. Dari pedang pun meluncur sinar biru bergulunggulung. Kakek itu mencelat bersamaan dengan hancurnya pohon itu. Banyak tokoh menduga kal au mereka tengah bentrok... apa yang terjadi." Saka Lintang gembira. "Paman Nambi. "Paman. untung paman cepat datang. Terpaksa dia kini mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. muncul seorang kakek tua berjubah merah.Seberkas sinar merah meluncur deras menyambar Rangga. dengan seketika dia telah menggenggam pedangnya.. . Seorang tokoh tua sakti bernama Nambi muncul di tengah-tengah arena pertarungan. Rangga kembali memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Mereka sibuk mendirikan partai sendiri-sendiri. sehingga mereka tidak hiraukan status suami istri. Dengan sigap Pendekar Rajawali Sakti itu melompat menghindari sinar merah yang datang tiba-tiba itu. Belum sempat menjejakkan kakinya ke tanah. Rangga cepat mengibaskan tangannya.! Pohon besar itu hancur berkeping-keping tersambar sinar biru...

Untuk kedua kalinya dia harus berhadapan dengan pemuda yang telah merobek-robek hatinya ini. Kakang!" Bayangan Hitam memperingatkan. Mungkin kalau Pengemis Sakti Tongkat Merah tidak ikut campur. Patah! Mendadak hatinya panas." jawab Saka Lintang. Bayangan Hitam. "Pendekar Rajawali Sakti. silahkan baca Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Iblis Lembah Tengkorakl "Siapa dia?" tanya Nambi atau Setan Jubah Merah. Setan Jubah Merah segera mengerahkan . Pundak itu melesak ke dalam. Maksud Saka Lintang hanya ingin merubah Intan Kemuning menjadi seorang pendekar wanita. Tetapi tak diduga sama sekali akibatnya jadi demikian. "Dan kau tidak mampu mengatasinya?" Saka Lintang hanya tertunduk saja."Perkumpulanku dihancurkan. "Hati-hati. Pertempuran sengit tidak dapat dihindari lagi." jawab Saka Lintang. Saka Lintang pasti mampu mengalahkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya. Namun bibit dendam dan kebencian juga bertumbuhan. Seluruh anak buahnya mati. (Untuk lebih jelas. Seketika hatinya bergetar. Masih saja membandel!" tegur paman angkat Saka Lintang. jangan cari perkara dengan pihak kerajaan. paman. Benih-benih cinta kembali muncul. Dia sadar. ini adal ah kesalahannya. Nambi memandang pada istrinya. "Anak muda. Setan Jubah Merah melom pat cepat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Tapi sekarang? Apal agi Pendekar Rajawali Sakti ikut membantu. Ada nada kesedihan daiam suaranya. "Sudah kuperingatkan. Saka Lintang memandang Rangga. hadapi aku!" bentak Setan Jubah Merah. Matanya agak menyipit melihat ke arah pundak perempuan tua itu. Saka Lintang melirik Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu.

Kek!" Rangga menyalurkan seluruh tenaga ke kedua telapak tangannya. "Bocah setan! Jangan salahkan aku jika sampai menurunkan tangan kejam!" geram Nambi sengit melihat Rangga hanya berkelit tanpa mem-balas serangan. Kakek!" sahut Rangga dengan hormat Nambi terdongak mendengar kata-kata Rangga. Tapi semua itu tidak berpengaruh terhadap Rangga. Nambi mengemerutukkan gerahamnya. "Kalau itu keinginanmu.jurus-jurus andalannya. "Maaf!" seru Rangga. Dia terhuyung satu tombak ke belakang. Hati kecilnya berkata kal au dia merasa salut terhadap anak muda itu. Hasilnya sungguh tak terduga . baiklah! Maafkan. Dengan cepat dia mengimbanginya. Kini Rangga menghadapi lawan dengan jurus 'Cakar Rajawali'. Nambi sedikit terperangah. Dengan jurus ini. Baru kali ini didapatkan lawan yang mau menghormat pada dirinya. Pemuda itu tidak congkak. Sudah menjadi sifatnya untuk tidak mengeluarkan jurus-jurus berbahaya sebelum dia mengetahui tingkat kepandaian lawan. pertarungan pun menjadi sengit. Jurus tangan kosongnya sangat dahsyat. Dia hanya mengukur tingkat kepandaian lawan. Bahkan selalu merendah. Seketika jari-jari tangannya meregang kaku. Dia sempat mendengar permintaan maaf Rangga sebelum melancarkan serangan. Setiap pukulannya mengandung hawa racun yang mematikan. "Bersiaplah. Rangga kebal terhadap segal a je-nis racun. Darah mengucur deras dari pangkal lengan yang bolong dua jari itu. Jari-jari tangan Rangga berhasil menusuk pangkal lengan kiri Nambi. "Serang aku!" teriak Nambi. "Akh!" Setan Jubah Merah memekik tertahan. Rangga tidak bermaksud memandang enteng lawan. Lalu digerakkan tangannya yang makin lama makin cepat.

Setan Jubah Merah menggeram menahan marah. "Bibi.. Dia tidak lagi memandang perasaan cintanya pada Rangga. Bayangan Hitam langsung melompat menyerang Rangga. Posisi Rangga kian terdesak oleh serangan yang beruntun. Kini Rangga berhadapan langsung dengan tiga orang tokoh yang memiliki kepandaian yang luar biasa..!" jerit Bayangan Hitam cemas melihat darah mengucur dari lengan suaminya. Sedangkan Saka Lintang mengerahkan jurus 'Pukulan Geledek'nya. "Aaaakh. Rangga mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' lalu disusul dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Secepat kilat Setan Jubah Merah menyerang dengan jurus-jurus mautnya. segera ikut mengeroyok Rangga.. Kaki Rangga telak bersarang di kepala Bayangan Hitam.!" Saka Lintang memekik kaget. Saka Lintang pun tidak ingin ketinggalan. Setan Jubah Merah yang telah berhasil menghentikan darah dengan totokannya. Kembali Pendekar Rajawali Sakti harus melayani serangan beruntun Bayangan Hitam. Lengan Nambi bolong oleh tusukan jari-jari Rangga. bocah setan!" teriak Nambi. sehingga Bayangan Hitam tidak dapat menguasai diri lagi. Sementara Saka Lintang kembali menyerang dengan jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Kemarahan dan dendamnya sudah sampai ubun-ubun..sekali. Begitu cepat perubahan jurus yang dilakukan Rangga. Sementara pertarungan sengit berlangsung. Mereka segera mengeroyok Rangga.!" Bayangan Hitam menjerit kesakitan. kemudian diam tak bergerak l agi. Pendekar Rajawali Sakti segera menggabungkan jurus 'Cakar Rajawali' dengan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'... "Kubunuh kau. Sasarannya kini ke arah Bayangan Hitam. Dia menggelepar-gelepar dengan kepala hancur. lima orang . "Kakang.

. ternyata kau punya isi juga.anggota Bayangan Hitam yang tersisa menyeret gurunya ke tempat yang lebih baik Tetapi salah seorang dari mereka. "Ih!" Intan Kemuning menepis tangan laki-laki yang terulur hendak menjamah. seketika nafsu birahinya bangkit. "He he he. "Ah. sekarang aku minta bayaran darimu." gertak laki-laki itu.. Melihat kecantikan Intan Kemuning." orang itu menyeringai. "Kau yang menjadi gara-gara. "Mau apa kau?" Intan Kemuning bergidik.. jangan!" *** . kebetulan melihat Intan Kemuning yang belum beranjak dari pintu pondok. Mata orang itu liar merayapi wajah gadis cantik di depannya. "Ah!" Intan Kemuning kaget ketika tiba-tiba seseorang telah ada di depannya. Jakunnya turun naik menahan gejolak birahi yang bergelora dalam dada. Liumya tertahan.

.. Hanya bagian bawah saja yang masih tertutup. Segera mereka berlarian ke pondok.6 Intan Kemuning makin kaget ketika orang itu telah menubruk dan memeluknya. Laki-laki itu makin liar merejam tubuh Intan Kemuning. Di dalam pondok. Tubuh Intan Kemuning seketika jadi polos. laki-laki itu menyeretnya masuk ke pondok Rupanya perbuatan salah seorang anggota Bayangan Hitam menarik perhatian empat orang lainnya. Tanpa menghiraukan jeritan.!" jerit Intan Kemuning.!" Intan Kemuning memekik ketika tangan lakilaki yang menindihnya.. Dia meronta-ronta mencoba melepaskan diri. Intan Kemuning cepat menutupi bagian dadanya yang terbuka.. Intan Kemuning terus meronta-ronta sambil menjerit-jerit. Bret! "Auuuh. merobek bajunya. namun seorang laki-laki lainnya maju dan menarik tangan Intan Kemuning. Intan Kemuning jadi lupa kalau dia telah belajar dasar-dasar ilmu olah kanuragan. "Auh! Lepaskan.. Bahkan empat laki-laki anggota Bayangan Hitam lainnya telah mengelilingi serta menatap wajah dan tubuh yang indah itu. 'Tidak. Mereka kini tidak peduli dengan mayat gurunya. Keempat orang yang sebelumnya . Bret! Lagi-lagi baju Intan Kemuning dirobek paksa.! Lepaskan!" jerit Intan Kemuning putus asa. Tangannya memukuli tubuh lelaki kasar yang telah menindihnya. Tangan-tangan kasar kini menelusuri bukit yang indah itu. Kini bagian dada yang membukit indah terbuka.. Rasa panik dan ketakutan yang amat sangat membuat dia lupa segalanya. Lima pasang mata menatap ke a rah dada yang putih mulus tanpa berkedi p.

.!" Patih Giling Wesi yang hendak mengejar. Darah segera membasahi lantai. Lima orang yang tengah dirasuki iblis itu terperangah. Melihat tiga orang temannya telah tewas." rintih Intan Kemuning memelas. "Binatang!" Patih Giling Wesi segera menerjang marah. tiba-tiba. Dari mulutnya keluar rintihan memohon belas kasihan. Mereka mendekat dan meraba-raba tubuh yang putih mulus itu. Pedang Patih Giling Wesi berkelebat cepat Seketika saja dua kepala telah terpisah dari tubuh.. Brak! Pintu poridok yang tertutup. kabur. Dia bersyukur karena kelima laki-laki itu belum sempat merenggut kehormatannya.hanya berdiri saja. tidak bisa menahan diri lagi.. Pedangnya kian cepat berputar menyerang tiga orang laiki-laki itu. Air matanya makin deras mengalir. 'Tidak.. "Aaaakh!" kematian kembali terdengar. Salah seorang dari tiga orang yang tersisa. Dengan terpaksa mereka mel ayani hanya dengan tangan kosong karena tidak memiliki senjata lagi. berbalik ketika putrinya memanggil. Intan Kemuning benar-benar putus asa. ambruk dengan dada tergores panjang dan dalam. Tepat ketika seorang laki-laki akan membuka bagian bawah pakaiannya.. Intan Kemuning cepat-cepat mengenakan pakaiannya kembali yang sudah tercabik-cabik itu.. Air bening mulai menitik dari sudut matanya. Tiga orang lainnya segera melompat menyebar. segera dua orang anggota Bayangan Hitam itu mendobrak dinding pondok.. "Ayah. jangan. Mereka hanya bisa berkelit saja. hancur berantakan. Namun kelima orang sudah tidak peduli lagi. "Binatang! Mampus. Intan Kemuning berlari lalu menubruk . Tangan-tangan mereka makin liar menjelajah ke seluruh tubuh gadis cantik itu. kalian semua!" teriak Patih Giling Wesi kalap..

Nak?" tanya patih itu masih diliputi perasaan cemas. Ditumpahkan segala kerinduan dan kegembiraan karena dapat berkumpul lagi." "Pemuda siapa?" "Oh!" Intan seperti tersadar. hatinya masih khawatir terhadap putrinya yang baru saja terbebas dari tawanan perompak itu." desah Patih Giling Wesi. "Oh. Sejenak ditatap putrinya. Ayah." "Maksudmu. "Kau tidak apa-apa. Dia baik sekali padaku. .ayahnya. Pemuda itu kini menghadapi dua tokoh sakti. orang-orang itu?" "Mereka bukan orang-orang Bidadari Sungai Ular. Dia mengangkatku sebagai adiknya. Intan?" tanya Patih Giling Wesi. "Mereka tidak ada yang menggangguku. "Ada apa. Ayah." sahut Intan Kemuning. syukurlah. Biar bagaimana pun juga. Jari-jari tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi Intan Kemuning. Kakak Lintang selalu melindungiku. Bidadari Sungai Ular itu?" "Betul." "Lalu. "Pemuda itu. Dia ingat kalau pemuda tampan yang telah menggetarkan hatinya tengah bertempur di luar. "Mereka tidak mengganggumu.. Mereka saling berpelukan menumpahkan seluruh air mata dan rindu. Nduk?" tanya Patih Giling Wesi dengan suara tersendat. Ayah.. 'Pemimpin perampok itu sangat baik. Mereka orang-orang Bayangan Hitam. Malu. Kembali mereka terdiam sambil berpelukan." jawab Intan Kemuning tanpa melepaskan pelukannya." Seketika Intan Kemuning tersentak. Pelan-pelan Patih Giling Wesi melepaskan pelukannya. "Tidak..

Dan ketika Intan Kemuning menyebut pemuda itu.. Pendekar itu telah merebut sekeping hatinya. Patih Giling Wesi tersenyum melihat Intan Kemuning tidak berkedip m enatap setiap gerakan Rangga.Seketika kedua pipinya merah merona.. Sekelebat memang dia melihat pertempuran itu.. Tanpa disadari di a telah mencemaskan pendekar muda yang sejak tadi menarik perhatiannya... apakah Intan Kemuning jatuh cinta? Apakah dengan pemuda tampan yang kini sedang bertarung melawan dua tokoh sakti itu? Kalau benar. "Intan... Rasa haru dan gembira telah membutakan mata dan menulikan telinganya." lembut suara Patih Giling Wesi.. Mereka berhenti melangkah di depan pintu yang sudah hancur.." Patih Giling Wesi menggandeng anaknya ke luar pondok itu. Patih Giling Wesi terdongak begitu mendengar suara pertempuran di luar. Patih Giling Wesi seolah baru sadar kalau putrinya telah menjadi seorang gadis remaja. *** Pertempuran masih terus berlangsung di sungai Ular. Kepalanya tertunduk. Kini . Ah. sehingga tidak tahu ada pertempuran di luar. siapakah pemuda itu? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak patih itu. Patih Giling Wesi tersadar. Patih Giling Wesi mengikutinya. Pelan-pelan Intan Kemuning mengangkat kepalanya. Dalam hati dia merasa kagum juga terhadap pemuda tampan itu. "Ayo. namun Patih Giling Wesi lebih terpusat pada suara rintihan wanita di dalam pondok itu. Mereka menyaksikan pertempuran antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah. dan baru berhenti setelah berada dua tombak dari pondok. Namun Intan Kemuning melangkah terus.

" keluh Aki Lungkur . Kakinya seperti tidak menapak tanah." gumam Aki Lungkur pelan. Mayat menyebar di mana-mana.!" Tiba-tiba terdengar suara terkekeh. Itulah ilmu 'Sayiti Angin' yang dikeluarkannya. tapi kenyataannya. Kakek Pengemis Sakti kembali terkekeh. Bau anyir darah menyebar terbawa angin. "Mudah-mudahan Pendekar Rajawali Sakti bisa mengatasi keadaan. Tak luput. Pelan-pelan kakinya meninggalkan tempat pembantaian itu. dibuat tidak berkutik. "He he he. Orang yang menguasai ilmu ini dapat meminjam hembusan angin untuk mendorong tubuhnya. Cukup sekali gebrak saja." gumam Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah. Ujung tongkat Pengemis Sakti itu merobek-robek dada mereka.. Pengemis Sakti Tongkat Merah mau mengotori tangannya hanya untuk membantai cacing-cacing tanah.yang dihadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah hanya empat orang saja. kalian hanya membuang nyawa sia-sia. keempat orang yang memang tidak punya nyali lagi. Keempat orang itu kini ambruk kehilangan nyawa." terdengar suara mengejek.. "Ah. sebentar saja kakek tua itu telah jauh melangkah.. "He he he. kini jadi mengerikan. Tempat yang indah dan menyejukkan itu. burung bangkai pun telah berkeliling di angkasa minta bagian.!" Pengemis Sakti Tongkat Merah terkekeh.. Ironis sekali. 'Tidak disangka. aku malas main petak umpet. Aki Lungkur mengayunkan langkah menuju bukit Guntur. Bau anyir darah telah mengundang anjing-anjing hutan untuk menyantap mayat-mayat yang bergelimpangan. Langkah yang kelihatan pelan. Darah segar menyembur disertai jeritan kesakitan saling susul. Suara itu jelas menggunakan tenaga dalam yang luar biasa. Aki Lungkur menghentikan langkahnya. Layaknya kapas yang dihembus angin. "Kasihan.

"Heh! Rupanya kau cari penyakit?" "Kau yang cari kematian. sudahlah! Aku tidak ada urusan denganmu. Kata-kata Aki Lungkur tenang diucapkannya. "Aku rasa kau tidak perlu ke bukit Guntur. Kata-kata itu baginya adalah penghinaan yang luar biasa. "Aku rasa tanganmu tidak lebih bersih dari-pada tanganku. Aki Lungkur. "Ah. Langkahnya baru tiga tindak." "Dengan menghadang jalanku. Untaian tasbih tergenggam di tangan kanannya. Pendeta Murtad. Kau akan menambah kotor tanganmu saja. tiba-tiba di depan Aki Lungkur muncul seorang laki-laki gendut berkepala botak mengenakan jubah kuning.! Apa aku tidak salah dengar? Kapan kau punya keponakan!" "O. aku tidak ada urusan denganmu. mengapa kau lari dari Lembah Tengkorak waktu itu? Kenapa tidak kau bantu keponakanmu? Itukah paman yang baik?" Merah padam wajah Pradya Dagma. 'Tapi aku tidak pernah usil dengan urusan orang lain.." 'Phih! Aku sengaja menghadangmu untuk mencegah agar kau tidak ikut campur urusan keponakanku!" "Keponakan? Ha ha ha." tenang sekali Aki Lungkur menyahut.. Aki Lungkur melangkah melanjutkan perjalanan tanpa peduli. aku mau pergi!" dengus Aki Lungkur sedikit jengkel." kata Pendeta Murtad yang nama aslinya Pradya Dagma." dengus Aki Lungkur. "Kalau kau mencampuri urusan Saka Lintang. maka kau juga berurusan denganku!'' sahut Pradya Dagma. Minggir. Pradya Dagma makin merasa terhina. "Rupanya kau." kata Aki Lungkur berusaha mengalah. Dengan cepat dia kembali menghadang. tetapi sakit didengamya. Aki Lungkur!" . kau sudah mencampuri urusan orang lain.terus melanjutkan langkahnya. "Sudah kukatakan. Melihat hal ini.

hentikan semua ketololanmu!" bentak Aki Lungkur gusar. Pendeta Murtad itu telah melancarkan serangan-serangan berbahaya. Lungkur!" sahut Pradya Dagma keras. "Jangan katakan aku kejam kalau kau kukirim ke neraka. Dia masih memandang hormat pada Resi Brahespati. Tanpa dapat dicegah lagi. sebenarnya tidak ada urusan apa-apa. sebenarnya masih saudara seperguruan. mengapa Aki Lungkur selalu menolak setiap tantangan Pradya Dagma. Itulah sebabnya. "Aku tidak peduli kau melawan atau tidak!" Gigi Aki Lungkur beradu menahan geram. Antara Aki Lungkur dengan Pradya Dagma.Aki Lungkur mendelik.hati. Mereka sama-sama murid Resi Brahespati. rupanya Pradya Dagma masih menyimpan api dendam. Aki Lungkur selalu bersikap mengalah. dua tokoh sakti berlainan aliran itu bertempur dengan sengit Diantara mereka berdua. "Pradya Dagma. Pendeta Murtad ini rupanya benar-benar ingin membunuhnya. Dia masih mengeluarkan jurus-jurus andalannya. . Dia bersiap-siap ketika melihat Pendeta Murtad itu telah membuka jurus-jurus ampuhnya. Padahal setiap kali mereka bentrok. Dia tahu kalau Pradya Dagma sangat berbahaya. Padahal. Dia pun tak ingin mencampuri urusan Pradya Dagma meskipun tindakan dan perbuatan Pradya Dagma selalu merugikan orang lain. Akibat suatu perselisihan. Aki Lungkur sendiri sebenarnya tidak melayani meski pun Pendeta Murtad itu selalu cari perkara dengannya. Sebab Pradya Dagma anak tunggal dari gurunya itu. terutama tasbihnya yang menjadi andalan. Dia tidak mau mengakui keunggulan Aki Lungkur. Pengemis Tongkat Merah melayaninya dengan setengahsetengah. Kelihatannya dia ingin membunuh Pengemis Sakti ini. Terpaksa Aki Lungkur harus menghadapinya dengan hati.

Kedua tokoh itu mempergunakan jurus yang didapat dari sumber yang sama. maka menyusullah suara teriakan keras. dia telah berhasil mengejar disertai satu pukulan dengan tenaga dalam yang penuh. Dua tokoh sakti itu pun saling menyerang. Pradya Dagma terkekeh melihat Aki Lungkur mulai terpancing kemarahannya. Aki Lungkur belum bersiap-siap. "Kelakuanmu sudah melampaui batas. Seketika pohon itu tumbang disertai suara gemuruh."Maaf. aku tidak menurunkan tangan kejam padamu!" Rupanya Aki Lungkur sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Pradya Dagma!" geram Aki Lungkur.” "Kau pun akan. Secepat itu pula. senang tinggal di neraka bersama iblis. "Kau memang sudah tidak bisa di beri hati. "Hey." "Demi Resi Brahespati. "Kalau kau laki-laki. Pukulan Pradya Dagma menghantam sebatang pohon besar. Aki Lungkur kembali bergulingan di tanah. *** . Setelah mereka saling pandang. Hanya beberapa kali lompatan saja. Dibukanya jurus 'Tongkat Sakti'. Dia segera membuang diri ke tanah. dia melenting dan berdiri di tanah dengan kokoh. Aki Lungkur terkejut. aku masih ada urusan yang lebih penting." ujar Aki Lungkur masih berusaha mengalah. jangan hanya bisa menghindar!" ejek Pradya Dagma. tiba-tiba datang serangan berikut. tunggu!" Pradya Dagma segera mengejar. Mereka sama-sama telah mengenal jurus masing-masing. Seluruh pikiran dan hatimu sudah tertutup iblis. Segera dia melenting cepat. Dia pun segera mengerahkan jurus 'Tasbih Sakti'.

Masing-masing belum ada yang terdesak. Dadanya terasa sesak. Kemauan saudara seperguruannya dilayani dengan sungguh-sungguh. Aki Lungkur yang selalu memperdalam dan menyempumakan ilmunya. Dibiarkan dirinya terdesak. Jurus demi jurus berlalu dengan cepat. . Mereka paham betul dengan kelemahan dan kelebihan jurus-jurus masing-masing. disertai tenaga dalam yang hebat Kalau bukan Aki Lungkur. mungkin dada itu telah jebol. kelihatan lebih unggul ketika memasuki jurus yang keseratus. Tendangan Pradya Dagma telak. Lungkur! Kau sengaja mengalah!" desis Pradya Dagma. Jurusjurus yang mereka pergunakan juga beraliran sama. Lima jurus kini telah mereka lewati.. Hatinya tetap tidak mengijinkan untuk melukai saudara seperguruannya ini. maka Aki Lungkur mempergunakannya untuk membela yang lemah dan menumpas kejahatan. Tapi Pradya Dagma sudah tidak peduli.. Hingga pada suatu saat. Bahkan dia kelihatan tidak ada semangat lagi untuk melanjutkan pertarungan. Kaki Pradya Dagma berhasil menghantam dadanya. Sedikit demi sedikit Pradya Dagma mulai kewalahan dan terdesak. Dia malah mempergunakan kesempatan itu untuk mendesak. Matanya berkunang-kunang. Bahkan serangan-serangan balasannya tidak tanggungtanggung mengarah ke bagian-bagian tubuh lawan yang mematikan. Tubuh pengemis tua itu terdorong dua tombak. Timbul sifat mengalah dalam hati Aki Lungkur. hanya penerapannya yang lain. Beberapa kali ujung tongkat itu hampir menyentuh tubuh Pradya D agma. Aki Lungkur selalu membelokkannya.Kali ini Aki Lungkur tidak main-main lagi. Jika Pradya Dagma mempergunakannya untuk maksud-maksud kejahatan. "Kau menghinaku. "Akhl" Aki Lungkur memekik tertahan.

"Aku mengaku kalah.." ucap Aki Lungkur dengan kepala tertunduk." "Resi. Beri dia pelajaran agar matanya terbuka. tapi Pradya Dagma. Dia tidak mengerti. ayahnya itu yang padahal tengah berdiri di depannya. Masih terngiang-ngiang kata-kata gurunya tadi. mengapa tiba-tiba Aki Lungkur seperti ketakutan. Segera Aki Lungkur memantapkan hati untuk memberi pelajaran kepada saudara seperguruannya yang murtad ini. tibatiba Resi Brahespati telah lenyap dari pandangan. terheranheran. Ketika posisinya menguntungkan. "Bangunlah. Seketika pengemis tua itu menjatuhkan diri. Resi. aku tidak peduli dengan sikapmu! Ayo lawan aku!" bentak Pradya D agma. Pradya Dagma memang tidak melihat kedatangan Resi Brahespati.. Aki Lungkur . Pradya Dagma kembali menyerang dengan jurus-jurusnya. Ketika Aki Lungkur ingin melanjutkan kata-katanya. Pradya Dagma yang melihat sikap Aki Lungkur. "Ampunkan muridmu yang hina ini. Bahkan dia tadi menyebut-nyebut resi. Terpaksa Aki Lungkur harus jatuh bangun menghindari serangan beruntun itu. tidak layak kau berbuat begitu. "Dia benar-benar sudah murtad! Aku mengijinkan kalau kau menjatuhkan tangan padanya.." lembut berwibawa suara Resi Brahespati. Tiba-tiba di depan Aki Lungkur seperti berdiri seorang resi. dan berlutut saat dia tahu yang berdiri di depannya adalah Resi Brahespati.." kata Aki Lungkur ter-sendat "Sudah aku katakan." Aki Lungkur tidak melanjutkan kata-katanya. Belum juga Aki Lungkur bersiap-siap. Rasanya memang masih terasa berat untuk menjatukan tangan kepada Pradya Dagma. Kini yang berdiri di depannya hanyalah Pradya Dagma. "Aku berusaha mengalah.!" Aki Lungkur terkejut menerima petuah itu.

dan.. "Demi Resi Brahespati. . "Dagma. Sementara kata-kata Resi Brahespati terus terngiang. Aki Lungkur tidak segan-segan lagi melayaninya. Kini keinginanku tercapai sudah. mengapa Pradya Dagma menginginkan mati di tangannya. kau harus hidup. Pradya Dagma yang setingkat di bawah Aki Lungkur." lemah dan tersendat suara Pradya Dagma. "Jangan sebut-sebut ayahku!" Setelah berkata demikian.. Tongkatnya kini berkelebat cepat.ngiang di telinga Aki Lungkur. "Setan!" dengus Pradya Dagma sambil menyeka darah yang terus mengalir. Terima kasih... Aku puas. Aki Lungkur mencabut tongkatnya yang menembus dada pendeta murtad itu.. kembali terdesak. Aki Lungkur cepat-cepat menghampiri dan merangkul tubuh gemuk itu. "Dagma. "Aaaakh. Lungkur. Kita akan bersama-sama lagi. Darah makin banyak keluar.segera membalas tanpa memberi am pun lagi. kau mau memenuhi keinginanku." hibur Aki Lungkur.. Napasnya tersendat-sendat. Pada suatu kesempatan yang baik.!" Jeritan melengking terdengar. 'Tidak. Pendeta Murtad itu terdorong sejauh tiga tombak.. Dari sudut bibirnya keluar darah segar. Hal inilah yang membuat pengemis tua itu tidak memberi kesempatan kepada Pradya Dagma untuk membalas.. dengan cepat pukulan Aki Lungkur bersarang di dada Pradya Dagma. Pradya Dagma kembali menyerang membabi buta." Aki Lungkur tidak mengerti. Pradya Dagma tersenyum. Tubuh Pradya Dagma pun ambruk dengan darah muncrat dari dadanya yang bolong..!" suara Aki Lungkur bergetar. "Aku senang bisa mati di tangan tokoh sakti sepertimu. minta ampunlah kau pada ayahmu!" kata Aki Lungkur lantang. Kemudian disusul dengan tendangan keras..

Lungkur. Kini keinginanku menebus dosa pada Komala terlaksana sudah. Ingatannya seketika mundur puluhan tahun yang lalu. Aku telah memperkosa dan membunuhnya. hanya tanganmu lah yang bisa membunuhku. Tapi perbuatanku malah menghilangkan nyawanya. Lungkur. Tapi kini." Aki Lungkur hanya tertunduk saja. Ternyata Komala membuka hatinya pada seorang pemuda bernama Lungkur. Malam itu. Komala kedapatan mati dengan leher tertembus pisau. Di desa dekat padepokan itu tinggallah seorang gadis bernama Komala. Seharusnya malam itu kubiarkan saja dia membunuhku. Lungkur! Di depan mayatnya aku berjanji. "Semula aku hanya ingin memperkosa saja." "Dagma. Aku tidak sengaja membunuhnya. seluruh desa dan padepokan geger. Mereka telah merencanakan untuk memasuki jenjang perkawinan. Dia tak tahu harus bagaimana lagi."Aku sudah berjanji pada Komala. Dia mengambil pisau. Tetapi sebelum hari bahagia itu dilangsungkan. aku menyelinap ke kamarnya. hanya kau yang boleh membunuhku. Aku ingin membuatmu kecewa dan sakit hati. dan aku berusaha mencegahnya. Waktu itu mereka masih sama-sama muda dan tinggal di padepokan Resi Brahespati. peristiwa itu sepertinya baru saja terjadi. Hingga tua dia tidak pernah menikah. kau bicara apa?" Aki Lungkur makin tidak mengerti." Pradya Dagma meneruskan ceritanya. Lungkur tidak ada niat lagi mendekati wanita. Bahkan sudah ham pir dilupakannya. "Aku merasa iri karena Komala menjatuhkan pilihan kepadamu. sehari sebelum pernikahanmu dengan Komala. Sejak itu. . Peristiwa itu sudah lama terjadi. Dia cantik dan menjadi kembang desa itu. Setitik air bening mulai menggulir di pipi Aki Lungkur. Hubungan mereka telah direstui oleh Resi Brahespati.

Lungkur. "Sejak lama aku selalu memaafkanmu. mungkin Aki Lungkur akan segera membunuhnya agar kesengsaraan hidup Pradya D agma tidak berl arut-larut." sahut Aki Lungkur." Pradya Dagma menutup mata dengan tenang setelah mengucapkan kata maaf dan terima kasih. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Bi birnya menyungging senyum. Hatiku akan tenang jika kau mau memaafkan aku. Aki Lungkur benar-benar sedih."Maafkan aku. *** . Kalau saja hal itu diketahuinya sejak dulu. masih tersimpan sedikit jiwa ksatria. Ternyata di balik hatinya yang keji. sikap Pradya Dagma berada di jalan yang salah. Dia baru sadar kalau perbuatan Pradya Dagma hanyalah untuk memancing kemarahan agar dapat membunuhnya. Tidak ada yang tahu kalau seluruh perbuatan Pradya Dagma hanyalah pancingan agar Aki Lungkur dapat membunuhnya. 'Terima kasih." kata Pradya Dagma lagi. Menerima kenyataan itu. Teguh pada janji dan pendinannya Hanya sayangnya. Keinginannya telah terkabul.

7 Pertarungan antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah ki an berlangsung sengit di bukit Guntur. Kadang dia menggabungkan dua atau tiga jurus. Rangga selalu mengganti-ganti jurus. "Hait!" Saka Lintang melentingkan tubuhnya ke belakang sejauh dua tombak. Seketika itu pula. Bahkan kalau mungkin menggabungkan keempatnya sekaligus. Lintang!" teriak Setan Jubah Merah tiba-tiba. Kedua tangannya bergerak-gerak cepat mengibas mencari sasaran.!" Tiba-tiba Rangga berteriak nyaring. Kibasan Rangga berhasil dielakkan. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah bagai kepiting rebus. namun bajunya harus direlakan terjambret. Dalam gerakan-gerakan membingungkan itu. Mereka bingung menghadapi gerakan-gerakan yang sulit diduga arah dan tujuannya. Tetapi dengan cepat dipusatkan kembali perhatiannya pada Setan Jubah Merah.. Rangga masih tetap menggunakan empat jurus gabungan dari jurus 'Rajawali Sakti'. Bagian dada yang membukit terbungkus kulit putih mulus itu tidak lepas dari tatapan mata Patih Giling Wesi. Baju di bagian dada yang memang sudah sobek. Mata Rangga pun sempat menatap ke bagian indah itu.. kian lebar saja terbuka. "Yeaaah. Seketika darahnya seperti berhenti mengalir. tangannya mengembang dengan cepat Tubuhnya kini melayang. Lalu dengan cepat dia . "Kurang ajar" geram Saka Lintang. "Awas. Dengan demikian lawannya benar-benar kerepotan. Mukanya merah menahan malu. Saka Lintang sedapat mungkin menutupi bagian tubuhnya yang terbuka itu.

Setan Jubah Merah menahan napas. Gadis itu tidak tahu kalau sebenamya Rangga sengaja membiarkan tangan beracun itu masuk ke dalam bagian dada yang lowong. Trak! Rangga hanya menyentil pedang itu dengan jurus 'Cakar Rajawali'. Tetapi Rangga malah kelihatan tenang-tenang saja. "Kena!" teriak Saka Lintang keras. gadis itu menggedor dada Rangga sekali lagi dengan tangan kanannya. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedangnya.. semakin kuat telapak tangannya menempel. tiba-tiba tangan Rangga bergerak menyambar gagang pedang dalam genggaman Saka Lintang. Belum sempat gadis itu menyadari apa yang terjadi. Namun semakin ditarik. Ditebaskan pedang yang ada di tangan kanannya ke leher Rangga. Tetapi racun jenis apa pun tak ada pengaruhnya bagi Rangga.. Wajah Saka Lintang seketika berubah setelah menyadari tangannya tidak dapat ditarik lagi dari tubuh Rangga. Seketika dari ujung pedang sampai pangkal lengan Saka Lintang bergetar. Saka Lintang semakin panik. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam dan penyaluran racun ke telapak tangannya. "Ah. Pukulan tangan kiri Saka Lintang tepat menghantam dada Rangga. Menyadari Saka Lintang telah menebar racun. Dia tahu kalau hawa racun telah menyebar di sekelilingnya.!" pekik Saka Lintang tertahan. Di luar dugaan. Saka Lintang jadi geram.. Sekuat tenaga gadis itu menarik tangannya. Bahkan bibimya menyungging senyum.. namun. kedua telapak tangan Saka Lintang kini menempel erat di dada Rangga.kembali menerjang sambil menghunus pedangnya. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedang dengan jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'.. .

Seketika tubuhnya seperti terbakar. Perlahanlahan dari ujung kepalanya mengepul asap tipis. Seluruh tubuh Setan Jubah Merah bergetar. Matanya menatap Setan Jubah Merah yang kebingungan. Rangga menggunakan gadis itu menjadi tameng. Diberikannya pil itu kepada Setan Jubah Merah. "Paman. Cepat-cepat dihilangkan hawa racun dari tubuhnya. tubuh Saka Lintang dipastikan hancur menubruk batu besar. "Akh!" tiba-tiba Setan Jubah Merah memekik keras. Tetapi hal itu tidak dilakukannya. lakilaki tua itu menelan pil yang diberikan Saka Lintang. dan mengeluarkan sebuah pil berwarna merah darah."Setan!" dengus Saka Lintang geram. Kalau Rangga mau. Dihampirinya Setan Jubah Merah yang tengah meringis memegangi tangannya sendiri. Saka Lintang merogoh saku jubahnya. tentu! Ini. Setan Jubah Merah terkejut.. Dia tidak bisa leluasa melancarkan pukulan mautnya. Setan Jubah Merah pun bersila." ujar Saka Lintang. Jika saja gerakan Setan Jubah Merah tidak cepat. "Uh! Racunmu. "Pengecut! Lepaskan gadis itu!" bentak Setan Jubah Merah. Cepat-cepat dilepaskan tangannya. kau tidak apa-apa?" tanya Saka Lintang cemas. Dia malah membuang pedang itu jauh-jauh. Kedua matanya dipejamkan. Dengan cepat dia melompat dan menangkap tubuh gadis itu yang melayang deras. Dia kaget setengah mati karena tubuh Saka Lintang masih menyebarkan hawa racun. "Semadilah.. Tanpa banyak tanya lagi. Saka Lintang pun tak urung kaget pula. sehingga Setan Jubah Merah tidak tahu harus berbuat apa. "Oh. Paman.. Keringat membasahi . terimalah!" Tiba-tiba saja tubuh Saka Lintang terpental keras. sebenamya dia bisa saja menebaskan pedang yang terebut tadi." kata Setan Jubah Merah sambil meringis.

Rangga masih tenang. Saka Lintang dan Setan Jubah Merah. "Hoek!" Cairan kental berwarna kehitaman dimuntahkan oleh Setan Jubah Merah. "Hiya!" "Yeah!" Dua teriakan keras saling susul. Tanpa sadar Intan Kemuning melontarkan senyuman manis pada pendekar muda itu. Tapi semua perasaan dan keinginan itu ditekan dalam-dalam sam pai ke dasar hatinya. Sementara. ingin sekali Intan Kemuning menghambur dan memeluk pemuda itu. Dia gelisah karena dua tokoh sakti begitu . Dia memperhatikan saja kedua lawannya yang tengah sibuk itu. dua tokoh tingkat tinggi. Kalau saja saat ini tidak ada ayahnya. Kini Pendekar Rajawali Sakti tengah duduk tenang di atas batu besar. Rangga membalasnya dengan senyum manis pula. Sesekali matanya melirik Intan Kemuning yang berdiri di samping ayahnya. tel ah kembali bersiap-siap menghadapi lawannya yang tengah duduk tenang itu. Intan Kemuning merasakan jantungnya berdetak keras. seluruh tubuh lakilaki tua itu mulai tenang. Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak tahu sama sekali kalau dua tokoh itu meluruk ke arahnya. dibarengi oleh hilangnya asap tipis yang mengepul di kepala laki-laki tua itu.seluruh tubuhnya. Sikap Rangga yang masa bodoh itu membuat Intan Kemuning cemas. kemudian disambung dengan melentingnya dua tubuh ke arah Rangga. Rangga seperti tidak peduli dengan lawan yang sudah bersiap-siap menyerang kembali. Setiap kali Rangga melirik ke arahnya. Mulutnya malah bersiul-siul dengan irama tak menentu. Sedikit demi sedikit. Setan Jubah Merah membuka matanya ketika getaran pada tubuhnya berhenti sama sekali. Tak diduga.

"Pendekar Raj awali Sakti.. sepasang mata tengah mengawasi pertarungan itu dari balik pohon. "Akh!" Intan Kemuning memekik tertahan. Akibatnya memang dahsyat. Jelas kalau Rangga tadi tidak sedikit pun menghindar. Batu yang sebesar kerbau itu saja hancur. Dia tidak melihat pendekar itu. "Oh. Peringatan gadis itu tepat bersamaan dengan dua tubuh yang meluruk menerjang Rangga.. jadi berkeping keping disertai ledakan keras terkena pukulan itu. *** Berangsur-angsur asap tebal yang mengepul sirna disapu angin. begitu cepat datangnya. Sikap gadis itu tidak lepas dari pengamatan Patih Giling Wesi. Dia seperti membiarkan saja pukulan itu menghantam tubuhnya. Rupanya dia mengerti apa yang telah melanda putrinya ini. . awas!" Intan Kemuning tidak dapat lagi mengendalikan diri. Serangan yang dibarengi pengerahan tenaga dalam.. Sikap duduknya tidak berubah sedikit pun. Ketika debu itu hilang sama sekali. Tanpa disadari. tampak Rangga masih duduk di atas tumpukan batu-batu yang hancur. Patih Giling Wesi kembali perhatiannya tercurah pada ketiga tokoh yang kini telah bertarung kembali. Batu tempat Rangga duduk.cepat menyerang. bagaimana dengan Rangga? Debu masih mengepal tebal. Kedua tokoh sakti Itu terperanjat melihat hasil gempurannya tidak berpengaruh apa-apa terhadap lawannya. Apakah dia hancur bersama batu itu? Batin Intan Kemuning bertanyatanya penuh kecemasan. Intan Kemuning benar-benar tidak dapat menyembunyikan kecemasannya. Dia hanya tersenyum-senyum saja." Intan Kemuning mendesah lega melihat pendekar tampan itu masih hidup.

"Aaaa. Tubuhnya meluruk turun deras. Kini Saka Lintang hanya sesekali saja melontarkan pukulan beracunnya. "Kejam! Setan! Kubunuh kau!" pekik Saka Lintang marah. "Maaf.!" Setan Jubah Merah meraung keras.. . Dia harus mempertimbangkan kehadiran Setan Jubah Merah. Jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun' yang dipadu dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Kehadirannya saja tidak diketahui sama sekali.. Kedua tangannya merentang mengepak bagai sayap rajawali. Gadis itu segera menyerang Rangga dengan mengeluarkan jurus andalan terakhirnya.. Rangga kembali merubah jurusnya. Seluruh dadanya seperti hangus terbakar. Kakinya bergerak mengarah kepala lawan.Jelas pemilik sepasang mata itu bukan orang sembarangan. Sekejap saja tubuhnya telah melambung di udara. Sementara itu Rangga sudah kembali melayani dua lawannya yang kian bernafsu untuk mengakhiri pertarungan alot dan panjang ini. Tubuhnya terlontar ke belakang sejauh tiga tombak. Secepat kilat. Dia terkena 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang tak terduga dilepaskan Rangga.. Kakek!" seru Rangga tiba-tiba. Setan Jubah Merah meregang nyawa sebentar. Dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tangan Rangga berhasil menghantam telak dada Setan Jubah Merah. Seketika Rangga merubah jurusnya.!" pekik Saka Lintang. Begitu cepatnya jurus itu sehingga Saka Lintang tidak punya kesempatan lagi untuk mengelak. Dalam sekejap sekitar tempat pertarungan telah terselimuti oleh hawa racun yang mematikan. Kali ini digunakannya jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. lalu diam tak bergerak sama sekali. Dia tidak ingin lagi berbuat konyol yang hampir merenggut nyawa paman angkatnya. "Paman. dirubahnya jurus itu menjadi 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.

. tiba-tiba terdengar suara Patih Giling Wesi mencegah. Dari balik pohon muncul seorang kakek tua berpakaian compang-camping. "Ah. hebat.. tetapi matanya melirik pada Rangga.." tiba-tiba terdengar suara terkekeh. kakek yang berada di kedai minum tempo hari. Gadis itu ambruk dengan kepala hancur berantakan." sahut Aki Lungkur. "He he he…." kat a Rangga dengan tutur kata yang halus. lalu diam tak bergerak l agi. "Uts! Hampir lupa kalau di sini masih ada orang lain. Kalau sudah . tawaran yang menggairahkan.. kalau tidak salah. Mati bersama rasa cinta. Aku pengemis tua yang hina." Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah menggeleng-gelengkan kepalanya.. Siapa lagi kalau bukan Pengemis Sakti Tongkat Merah. anak muda. "Penglihatanmu tajam. Mari!!" Ketika mereka akan melangkah.!" Saka Lintang memekik keras. Rangga mendekat Aki Lungkur terkekeh."Aaaa. "Bagaimana kalau kita makan bersama lagi di bawah pohon sambil menikmati udara segar. hebat. "Tunggu!" Mereka menoleh dan berbalik bersamaan. Hatinya makin berdebar-debar kalau kebetulan matanya beradu pandang. "Ah. Rangga kembali mendarat Matanya memperhatikan tubuh Saka Lintang yang meregang nyawa..." kata Aki Lungkur. Sungguh tragis kematian gadis ini. Gadis itu selalu menundukkan kepala terus.... Di tangannya tergenggam tongkat berwarna merah. benci dan dendam. Darah seketika membasahi tanah. Rangga menoleh ke arah suara itu. Patih Giling Wesi mendekat diikuti Intan Kemuning. Dia mati di tangan laki-laki yang dicintainya. lalu mereka makan bersama di pinggir tegalan. "Menakjubkan.." kata Rangga teringat ketika dia memberikan sebungkus bekal makanan.

. Cepat-cepat diturupi rasa kaget itu dengan senyum. Rangga jadi bertanya-tanya. Rangga memperhatikan dengan pandangan bertanyatanya. Nama hamba Rangga." jawab Rangga merendah. "Hamba hanya seorang pengembara hina Gusti Patih. Gusti Patih. anak laki-laki Adipati hilang tanpa bekas. Biarlah kenangan pahit itu dia sendiri yang tahu. Episode: Iblis Lembah Tengkorak). Tibatiba dia tersentak Benar! Tidak salah lagi. Memang benar gumaman patih ini. Patih Giling Wesi tengah berusaha mengingat-ingat.. cepat-cepat matanya dialihkan mencari pandangan lain.." Patih Giling Wesi menggumamkan nama itu beberapa kali.. Tetapi Patih Giling Wesi sedikit ragu-ragu juga.demikian.." Patih Giling Wesi mengamati wajah Rangga dengan teliti sekali. Masalahnya. apakah Patih Giling Wesi kenal dengan ayahnya? "Nama bisa saja sama." Patih Giling Wesi setengah bergumam. "Kisanak. "Nama memang bisa saja sama.. Sedangkan kejadiannya tidak jauh dari jurang Lembah . "Namamu mirip dengan seorang putra Adipati yang hilang dua puluh tahun lalu. siapa namamu dan dari mana kau berasal?" tanya Patih Giling Wesi. Tapi. Sepertinya dia pernah mengenal wajah itu. Dia tidak ingin masa lalunya terungkap lagi. (Baca serial: Pendekar Rajawali Sakti. Rangga terkejut juga mendengarnya. Wajahnya sangat mirip dengan Adipati Karang Setra. kalau boleh tahu. Dua puluh tahun yang lalu terjadi musibah pada rom bongan Sang Adipati yang hendak menuju ke kota Kerajaan Ayahandanya." kata Rangga buruburu. "Rangga. Tapi di mana? Kapan pernah bertemu? Ingatannya terus berputar.

Bangkai. Antara percaya dan tidak. Patih Giling Wesi seperti berperang dengan batinnya sendiri. Karena sudah pasti. Semua orang menduga kalau anak itu pasti masuk ke jurang Lembah Bangkai. Dia berusaha memecahkan teka-teki ini. Antara mengakui dan membantah. Siapakan anak muda perkasa yang ada di depannya ini? *** . siapa saja yang masuk ke dalam jurang itu tak akan pernah selamat.

Batin Patih Giling Wesi bicara sendiri. mari kita berangkat sekarang!" ajak Patih Giling Wesi. Kalau tidak ada pendekar muda ini. Matanya beralih memandang Intan Kemuning. Masingmasing menunggang kuda dan menuntun seekor kuda pula. Semua seperti menunggu pembicaraan Patih Giling Wesi. Pengemis tua itu mengangguk-angguk kepalanya. "Aku sangat berhutang budi padamu. meninggalkan mayat-mayat yang bergelimpangan dan siap jadi santapan anjing-anjing hutan. Tidak ada yang mengeluarkan suara. diikuti oleh tujuh orang prajurit-prajurit lain. yang jelas jasanya sangat besar.8 Beberapa saat suasana di bukit Guntur hening. "Baiklah. Mereka segera menghampiri patih itu. Rangga menoleh pada Aki Lungkur yang berdiri di sampingnya. Tapi bibirnya sempat memberikan senyum manis. Tentu dia setuju karena antara dia dan patih itu telah terjalin suatu persahabatan. Ah! Siapa pun dia. Patih Giling Wesi . telah menunggu delapan orang prajurit Kepatihan. Jika tidak mengganggu perjalananmu . "Kalau begitu. sudi kau mampir sebentar di Kepatihan. Kisanak. Di kaki bukit. Dia belum dapat memastikan perihal anak muda ini. Cepat dialihkan pandangannya ke tempat lain. Keempat orang itu segera meninggalkan tempat itu." sahut Rangga mendesah." Patih Giling Wesi mengundang. Rangga belum menjawab. Mereka menuruni bukit Guntur. entah bagaimana nasib putrinya. Patih itu sendiri sampai saat ini masih berusaha memecahkan teka-teki itu. Seketika dua pasang mata saling berpandangan. Rapaksa segera melom pat dari kudanya. Intan Kemuning jadi gelagapan.

tidak menyusuri tepian sungai Ular. Patih Giling Wesi membantu Intan Kemuning yang sedikit kesulitan turun dari ." kata Rapaksa melapor. Intan Kemuning telah diajari naik kuda oleh Saka Lintang. Setahunya Intan Kemuning tidah pernah belajar naik kuda. Hamba datang terlambat Hamba mencari kuda-kuda dulu. Perjalanan kini dilanjutkan dengan menunggang kuda. *** Matahari telah condong ke Barat ketika rombongan itu sampai di pintu Gerbang Kepatihan. "Hh. Mari kita kembali ke Kepatihan. sudahlah. Patih Giling Wesi selalu berada di samping Intan Kemuning. Mereka melewati jalur pintas. "Ampun. Dan kini hamba hanya dapat lima belas ekor. Gusti Patih. Rombongan kecU berkuda itu terus meninggalkan bukit Guntur yang terlihat hijau. Setelah melompat turun dari kudanya. Akhirnya pikiran patih itu tenang setelah melihat putrinya sangat lihai menunggang kuda. Patih itu tidak tahu kalau selama jadi tawanan perampok. dan kini mereka telah dekat dengan sebuah desa yang dekat dengan bukit Guntur. Penjaga pintu segera membuka pintu ketika melihat Patih Giling Wesi yang datang bersama putrinya. Mereka pun segera masuk ke dalam benteng Kepatihan. padang diarungi." sahut Patih Giling Wesi mendesah berat. Hatinya masih bertanya-tanya tentang kelihaian putrinya menunggang kuda. Hutan dirambah. Sungguh besar jasa mereka. Rombongan itu terus melewati desa itu.mengamati sisa prajurit-prajuritnya. dan berhenti tepat di depan pendopo. Nyawa mereka korbankan hanya untuk menyelamatkan seorang putri patih. Semula Patih Giling Wesi khawatir juga terhadap Intan Kemuning.

kudanya." kata Patih Giling Wesi lagi. 'Terima kasih. Sikap Rangga memang tidak seperti pendekar-pendekar lainnya. Seketika dia teringat sewaktu masih tinggal di Kadipaten. Patih Giling Wesi membawa dua tamunya masuk ke bangsal utama Pendopo itu. Tetapi karena Aki Lungkur sudah menerima. Beberapa orang pelayan datang menyediakan suguhan. Rasa rindu yang menggebu ingin segera bertemu ibundanya. membuat dia lupa sejenak terhadap Rangga. Beda dengan Aki Lungkur. Rangga minum sedikit dengan sikap Sopan." kata Patih Giling Wesi. Sementara Intan Kemuning telah berlari masuk ke dalam keputrenan." ucap Rangga sambil mengangkat gelas yang sudah terisi arak manis. "Mari silahkan masuk. Mereka kemudian duduk melingkar menghadapi meja. Memang tidak ada salahnya menginap barang sehari setelah sepanjang hari menguras tenaga menyabung . "Aku senang sekali jika kalian sudi menginap di sini barang satu atau dua malam. Anda berdua adalah tamu kehormatanku. "Oh. Dia menenggak habis arak wangi mahal itu. Tentu saja aku tidak keberatan!" Aki Lungkur cepat menerima sebelum Rangga membuka suara. dia hanya bisa angkat bahu saja. "Silahkan. Di mana lagi dia dapat minum arak selezat ini kalau tidak mendapat undangan dari Patih Giling Wesi? Patih Giling Wesi selalu memperhatikan sikap dan tutur kata Rangga. Dari situ dia merasa sedang berhadapan dengan seorang pemuda bangsawan. Kediamannya juga tak kalah indahnya dengan bangunan itu. Sebenarnya Rangga ingin menolak. Rangga memandangi bangunan indah dan megah di depannya. tentu." Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya untuk minum. Biasanya tokoh-tokoh rimba persilatan selalu tidak peduli dengan tata krama.

" perintah Patih Giling Wesi. Rangga memandangi setiap ruangan yang dilewatinya. "Gawat!" sahut Aki Lungkur." Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya mengikuti para punggawa yang mengantarkan ke peristirahatan. "Patih Giling Wesi curiga padamu." Rangga masih belum mengerti. Ki?" tanya Rangga. Aku Lungkur bangkit dan melangkah pergi ke tempat istirahatnya. Setelah mendapat anggukan dari Patih Giling Wesi.nyawa. yang jelas pandangan itu tertuju pada Rangga. Kedua punggawa itu kembali memberi hormat. Di sebuah kamar yang indah dan luas. "Apanya yang gawat?" tanya Rangga tidak mengerti. Rangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Rangga menoleh ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Rangga mengernyitkan keningnya melihat pengemis tua itu seperti terburu-buru. Rangga masih duduk di kursinya. Dia menyilahkan Rangga masuk. Patih Giling Wesi menepuk tangannya dua kali. Dia hanya menatap laki- . Bergegas dia membukanya. "Antarkan tamu-tamuku ke tempat istirahatnya. punggawa itu berhenti. Indah sekali ruangan ini. dan segera pergi setelah tugasnya selesai. Dua orang punggawa dat ang mendekat. dan memang kelihatannya Intan Kemuning juga tengah memandang ke arahnya. Mereka memberi hormat. dilihatnya Intan Kemuning tengah duduk di bangku taman sendirian. Entah melihat atau tidak. "Silahkan. dia pun bangkit melangkah mengikuti punggawa. "Ada apa. Diamatinya sebentar. Aki Lungkur segera menerobos masuk dan menutup kembali. Saat matanya menatap ke arah taman.

Sepeninggal Aku Lungkur." ucap Rangga. "Benar! Aku mendengar sendiri. "Hati-hatilah. Rangga hanya mengangguk dan mengiyakan saja. Makanya aku segera ke sini menemuimu. Intan Kemuning masih duduk di sana memandang ke arahnya. hal apa yang akan dikatakan Aki Lungkur tadi. Memang hatinya telah menduga.laki tua itu tak berkedip." "Jangan berprasangka buruk. Aki. Rangga kembali memandang ke arah taman. Aku membaca gelagat lain di balik niat luhur Patih Giling Wesi." Rangga hanya tersenyum saja. . Niatnya yang tersembunyi memang baik. Aku tidak peduli siapa dirimu. Dia tidak mau berteletele melayani segala macam prasangka." "Mengapa Aki memberitahuku?" "Karena kau baik. Rangga tidak ingin menjadi seorang pendekar tanpa masa lalu. Tapi aku yakin kau tidak akan menerimanya. Gadis itu memang cantik. Dia meminta Aki Lungkur untuk pergi beristirahat. Dia menduga kau anak Adipati yang hilang dua puluh tahun yang lalu. Kau seorang pendekar yang banyak dibutuhkan oleh kaum lemah. Tak ada orang di seluruh Kepatihan yang tidak tertarik pada gadis ini. Yang penting aku sudah menganggapmu sahabat." "Dia menduga begitu?" Rangga terkejut. Masa lalu yang tidak perlu diketahui orang lain. Laki-laki pengemis tua itu kembali ke luar setelah berpesan macam-macam." Rangga berusaha bersikap tenang. Bukankah kalian bersahabat?" "Aku tidak berprasangka buruk. "Patih Giling Wesi memerintahkan beberapa punggawa untuk menyelidiki asal-usulmu. 'Terima kasih. meskipun dadanya bergemuruh.

"Oh! Boleh." desah Rangga setelah duduk di samping gadis itu. Jantungnya jadi berdetak tidak beraturan. "Sepantasnya kau mendapatkan seorang pangeran yang gagah dan tampan. 'Tapi ada yang lebih indah lagi untuk dipandang. Rasa-nya dia ingin seribu kali mendengamya. "Adakah pangeran yang cocok untukku?" tanya Intan Kemuning ingin menegaskan. Jiwa kebangsawanannya tetap tidak luntur. Dia tidak beranjak dari duduknya. "Satu saat nanti. Dia tersenyum saja.Rangga sendiri sebenamya juga tertarik. "Ya. pasti ada seorang pangeran tampan dan gagah menghampirimu." "Siapa pangeran itu?" Rangga tidak menjawab." "Kapan?" "Satu saat nanti. *** Intan Kemuning memandang Rangga yang melangkah menghampirinya." "Apa?" "Wajahmu." sahut Intan Kemuning. Ketat sekali penjagaan di Kepatihan ini." sahut Intan Kemuning tergagap. dua orang prajurit pasti ada di situ. "Indah sekali taman ini. Pujian Rangga mengena di hatinya." kata Rangga. Setiap sudut. boleh. ." Seketika wajah Intan Kemuning menyemburat merah dadu. "Boleh aku duduk di sini?" tanya Rangga. Matanya tajam mengawasi setiap tempat yang dilalui. Rangga melangkahkan kakinya ke luar kamar. Sikapnya tetap anggun meskipun selama beberapa hari ditempa dengan latihan-latihan keras oleh Saka Lintang.

com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi." Intan Kemuning tidak mampu berkata-kata lagi." bisik Rangga dekat sekali dengan wajah Intan Kemuning.„.Beberapa saat mereka terdi am saling tatap.cc/ .info/ http://cerita_silat. "Oh. SELESAI Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel Convert : Abu Keisel Editor : Deeemart86 Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi.... Intan. "Semoga aku yang menjadi pangeran itu. Dan mereka memperketat rangkulan-nya. Hatinya berbunga-bunga. Pelan-pelan Intan Kemuning menundukkan kepalanya. Kedua lengannya berkembang masuk ke dalam pelukan Rangga.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful