BIDADARI SUNGAI ULAR oleh Teguh S. Cetakan pertama, 1990 Penerbit Cintamedia, Jakarta Gambar sampul oleh Tony G.

Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa Izin tertulis dari penerblt Teguh S. Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Bidadari Sungai Ular 128 hal ; 12 x 18 cm
Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel Convert : Abu Keisel Editor : Deeemart86 Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/

1
Seekor kuda putih tinggi kekar berlari bagai kilat menyusuri tepian sungai. Bentuk sungai yang berliku-liku, seakan-akan bergerak bagai seekor ular naga yang menyusuri lereng dan bukit-bukit di sekitarnya. Oleh karena bentuknya yang mirip dengan ular naga, maka sungai itu dinamakan sungai ular. Kuda itu ditunggangi seorang wanita cantik dengan pakaian serba biru. Wajahnya basah oleh keringat. Sebilah pedang bertengger di pung-gungnya. Dia adalah Saka Lintang, anak angkat Geti Ireng, ketua gerombolan Panjl Tengkorak. Ditinggalkannya Lembah Tengkorak, setelah seorang pendekar muda yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti mengobrak-abrik partainya, Panji Tengkorak. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti. Episode: Iblis Lembah Tengkorak). "Hooop...!" Saka Lintang menarik tali kekang kudanya kuat-kuat. Kuda putih meringkik kencang lalu berhenti. Dengan gerakan ringan dan tangkas, Saka Lintang melompat dari kudanya. Ketika kakinya sampai di tanah, segera dijejakkan kakinya hingga tubuhnya melenting ke udara dan hinggap di pohon yang cukup tinggi. Saka Lintang bertengger pada sebuah cabang pohon, seraya matanya mengawasi bagian hulu sungai. Bibirnya tersenyum kctika sebuah perahu besar dengan layar lebar mulai terlihat. Di ujung tiang layar, berkibar selembar bendera bergamhar bunga melati yang dilingkari rantai. Dari lambang gambar bendera, dapat dipastikan kalau kapal layar itu milik seorang saudagar kaya dari Kadipaten Balungan. Sebuah Kadipaten kecil di wilayah Timur kerajaan Singasari yang berpenduduk cukup makmur. "Suiiit...!" Saka Lintang bersiul nyaring yang disertai tenaga dalam.

Mendengar siul yang bergema itu, serentak dari rimbunan semak-semak tepi sungai bermunculan empat buah perahu berukuran sedang, dikayuh oleh beberapa orang. Saka Lintang segera terjun diiringi gerakan salto beberapa kali, dan hinggap tepat di punggung kudanya. Gadis itu lantas menghentak tali kekang kudanya, lalu memacu ke arah perahu gerombalannya yang makin dekat. Ketika perahunya yang berwarna biru pekat itu telah menepi, Saka Lintang menarik tali kekang kuda, dan tanpa berpikir banyak dia segera melompat ke udara. Perahu yang telah siap menunggunya itu menerima tubuh Saka Lintang yang hinggap di tengah-tengahnya "Ayo, cepat! Kepung kapal layar itu!" teriak Saka Lintang. Enam orang laki-laki bertubuh kekar segera mengayuh dayung. Perahu itu pun meluncur deras mendekati kapal layar besar. Tiga perahu lain yang berwarna biru pekat pula, bergerak menyerang. Sedangkan di kapal layar besar itu tengah terjadi kesibukan. Beberapa orang telah siap dengan panah yang mengarah pada gerom bolan Saka Lintang. "Awas, panah!" teriak Saka Lintang ketika melihat anak panah meluncur deras. Saka Lintang pun mencabut pedangnya. Dengan cepat pedang itu telah berputar-putar bagai baling-baling. Anakanak panah yang meluncur cepat itu rontok seketika tersapu oleh pedang. Layaknya sebuah payung yang melindungi dari serangan hujan. Empat perahu Saka Lintang makin dekat ke arah kapal layar. Sementara anak-anak panah terus meluncur mencari mangsa. Namun anak buah Saka Lintang mudah saja merontokkannya. Saka Lintang tersenyum melihat keberhasilan anak buahnya itu. "Serang...!" teriak Saka Lintang nyaring. Mendengar abaaba itu serentak anak buah Saka Lintang yang berseragam biru pekat berlompatan ke atas kapal layar. Gerakan

Tubuh-tubuh mulai ambruk bergelimang darah menyusul suara jeritan hasil kelebatan pedang Saka Lintang. Dimasukkan pedangnya ke dalam sarung di punggung. pindahkan semua barang berharga ke perahu kita!" perintah Saka Lintang. Banyak sudah lawan yang telah berjatuhan. Dan memang." sahut laki-laki yang dipanggil Codet Memang di pipi kanannya terdapat guratan panjang sehingga menambah seram wajahnya. Tuan Putri. "Bagus. "Buang semua mayat ke sungai!" perintah Saka Lintang. Kedua tangannya berada di atas pinggang. Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan wajah ditumbuhi cambang mendekati Saka Lin¬tang.mereka sangat ringan dan cepat. Saka Lintang mengamuk bagai banteng terluka. Saka Lintang dan pasukannya berhasil menguasai kapal layar. "Hamba menemukan satu peti berisi perhiasan emas dan perak. Memang orang-orang di atas kapal bukan tandingan Saka Lintang dan anak buahnya. "Ada apa. Sekejap saja permukaan sungai telah berubah warnanya menjadi merah oleh darah. Beberapa lawan malah menyelamatkan diri dengan terjun ke sungai. Codet?" tanya Saka Lintang datar. Dibungkukkan badannya sedikit di de-pan Saka Lintang yang berdiri angkuh. Matanya tajam mengawasi sekitar geladak kapal yang penuh oleh darah. Diseret dan dilemparkan seluruh mayat ke sungai. Sementara pertarungan kini bergejolak di atas kapal layar. 'Tuan Putri ingin melihat- . Rata-rata mereka memiliki ilmu silat cukup tinggi. Jelas mereka bukan orang-orang sembarangan. Anak buah Saka Lintang yang berjumlah kira-kira dua puluh orang itu segera mengerjakan perintahnya. Kesibukan kembali terjadi. "Hoi! Angkat semua yang berharga!" teriak Codet keras. Sebilah golok besar tergantung di ping gangnya.

bawa pulang!" Codet berlalu setelah sebelumnya memberi hormat Saka Lintang melangkah memasuki bilik kapal kembali. Saka Lintang menduga." "Kemudian kapal ini." jawab Codet sambil membungkukkan badan. Dijatuhkan tubuhnya ke atas pembaringan yang berlapiskan kain sutra lembut. "Hamba. "Codet!" panggil Saka Lintang. Kenapa harus dipiklrkan? Yang penting aku suka kapal ini!" dengus Saka Lintang dalam hati. "Hamba siap menjalankan perintah. Atau paling tidak putri bangsawan. Tuan Putri. Di dalam bilik ini. baru sekarang dia mendapat sebuah kapal layar yang mengagumkan. Sungguh nyaman berada di pembaringan ini. Kapal layar ini tidak terlalu besar. Saka Lintang merasa bagai putri raja. Saka Lintang tidak menyahut. Saka Lintang tersenyum-senyum sendiri. Rasanya tidak mungkin Kadipaten memiliki kapal seindah ini. bagaikan peraduan seorang bangsawan. Selama malang melintang menguasai sungai ular ini. Dilangkahkan kakinya dengan angkuh melewati laki-laki tegap dan kasar itu. ganti dengan bendera kita!" perintah Saka Lintang. Hanya sebentar saja Saka Lintang telah menelusuri bagianbagian kapal. Dia ingin memiliki kapal . Mulutnya tak henti-hentinya berdecak kagum. "Turunkan bendera kapal. Bilik itu memang cukup indah. Tapi kenapa bendera kapal menunjukkan milik saudagar Gantar dari Kadipaten Balungan? Atau mungkin kapal ini telah dijual oleh saudagar itu kepada bangsawan kerajaan? "Ah! Masa bodoh.lihat?" ujar Codet sambil membungkuk lagi. Rasanya sayang kalau kapal ini mesti dibakar seperti yang sudah-sudah. Codet mengikuti dari belakang. Dia sangat terkesan ketika masuk ke sebuah bilik dalam kapal. kapal layar ini pasti milik seorang bangsawan kaya.

Perhiasannya semua dari emas. "Masuk!" bentak Saka Lintang karena merasa terganggu kenikmatannya.!" Saka Lintang tertawa sambil berteriakteriak bagai orang glla. arak buatan desa Cacah." sahut Codet. Matanya memperhatikan guci arak. Pakaiannya dari sutra halus... Dia telah menenggak habis arak itu.Ha ha ha. Saka Lintang menari-nari berputar mengelilingi bilik kapal. Dia membungkuk sedikit memberi hormat. Sungguh tinggi seleranya. Basah sudah tenggorokannya oleh arak. "Hm. Tanpa terasa. Kemudian muncul dua orang laki-laki mengapit seorang wanita muda berusia sekitar tujuh belas tahun. "Hm.ini. Codet menjentikkan jarinya... Dihampirinya sebuah meja terbuat dari batu pualam. Cantik dan berkulit kuning langsat. akulah ratu sungai Ular ini! Bidadari sungai Ular. siapa dia?" tanya Saka Lintang mengerutkan kening. Dengan kapal ini dia bisa lebi h leluasa menjadi penguasa sungai Ular. "Ada apa lagi?" tanya Saka Lintang kembali memasang sikap angkuh. Kepalanya terangguk-angguk beberapa kali.. "Hamba menemukan seorang wanita bersembunyi di balik tumpukan peti. Arak desa Cacah memang telah terkenal kenikmatannya.." gumam Saka Lintang sambil menuang arak ke dalam gelas perak. Harganya hanya terjangkau oleh orangorang kaya. Codet muncul setelah pintu terbuka.. "Ha ha ha. Wajahnya menyimpan rasa takut yang dalam. Arak ini memang pilihan kaum bangsawan. Saka Lintang menoleh ke pintu ketika diketuk dari luar. gelas peraknya telah kosong.. Dia duduk di kursi berukir di samping meja pualam itu. . Tawanya belum berhenti.

tidak dapat berbuat apa-apa.. "Aku." rengek Intan Kemuning. Tapi Intan Kemuning ingin menikmati perjalanan melalui sungai Ular bersama kapal yang baru di beli ayahnya untuk pesiar. Ketika matanya tertumbuk pada Saka Lintang. Saka Lintang kembali mengamati wanita muda itu." "O. Jadi wajar saja kalau di a begitu ketakutan melihat para perompak mengganas di kapalnya. "Aku putri patih kerajaan Galung. Ketakutannya kian sangat. Mukanya pucat dan tubuhnya gemetar. Dia sungguh sangat menyesal ikut dengan kapal ini. Dia tidak pernah belajar ilmu silat. Padahal orang tuanya sudah melarang. Intan Kemuning telah dibujuk agar pulang bersama-sama saja tewat jalan darat. "Ha ha ha. aku Intan Kemuning.. Wanita muda itu tidak menjawab. "Siapa kau?" tanya Saka Lintang.!" Saka Lintang tertawa gelak. "Kau dengar pertanyaanku. Tapi berusaha mengangkat kepalanya pelan-pelan. Tidak diduga sama sekali. aku berjanji tidak akan mengatakan apa-apa pada ayahanda. Sedangkan awak kapalnya mencari selamat dengan terjun sungai.. *** Kapal mewah terus melaju menyusuri alur sungai Ular .. Codet menutup pintunya lagi. Pengawalnya yang berjumlah tidak kurang dari tiga puluh orang tewas semuanya. gerombolan perom-pak membegal kapal itu. Intan Kemuning mulai terisak." jawab wanita muda itu tergagap. tubuhnya seketika mengejang..Saka Lintang memberi isyarat agar anak buahnya keluar. kan? Siapa kau?" dengus Saka Lintang mulai kesal karena wanita itu diam saja. Intan Kemuning yang sehari-harinya tinggal di tembok kebangsawanan. rupanya kau putri seorang patih? Tidak seharusnya putri seorang patih kerajaan seperti tikus kena gebuk begitu!" 'Tolong bebaskan aku.

" "Bodoh! Itu artinya kau sudah dijajah laki-laki. "Kau bilang tadi bahwa kau anak patih." dengus Saka Lintang gemas. Dalam kamus hidupnya. Siapa yang mengajari?" tanya Saka Lintang. 'Tidak. tahu!" Saka Lintang jadi terhenyak hatinya. Saka Lintang tengah berbaring tengkurap dengan punggung terbuka. Beliau menginginkan aku menjadi seorang wanita bangsawan sejati. Perhiasan yang melekat di tubuhnya juga sudah ditanggalkan. "Apa enaknya? Kau akan dijajah laki-laki." sahut Intan Kemuning pelan." polos sekali jawaban Intan Kemuning. Punggung yang terbuka itu terasa nikmat setelah Intan Kemuning memijitinya.barang berharga dan djkawal oleh empat orang. Masing-masing perahu berisi barang. Katanya. Apa kau tidak pernah belajar ilmu kanuragan?" tanya Saka Lintang. Sementara di dalam bilik kapal mewah. Dia tidak terima kaumnya jadi bulan-bulanan kaum lelaki. "Bibi Emban. biar suami betah di rumah. "Pijatanmu enak juga. Saka Lintang yang hidup dari dibesarkan di lingkungan keras. sangat terkejut mendengar kata-kata Intan Kemuning.diiringi empat perahu gerombolannya. Dia dengan terpaksa harus mengikuti perintah Saka Lintang yang menjadi pemimpin perompak sungai Ular. Intan Kemuning hanya tertunduk saja. Intan Kemuning hanya bisa menerima nasib saja menjadi budak kepala perompak itu. Ayahanda tidak mengijinkan aku belajar ilmu-ilmu keprajuritan. "Kalau kau tidak berbuat macam-macam dan menuruti . tidak ada istilah perem puan harus tunduk pada kaum laki-laki. "Aku tidak bisa menentang keinginan Ayahanda. Matanya tajam menatap wajah Intan Kemuning yang tertunduk. Saka Lintang membalikkan badan dan merapikan pakaiannya kembali. istri harus pintar memijat.

tapi mengapa kau baik padaku?" tanya Intan Kemuning tidak mengerti dengan sikap Saka Lintang. Tapi mereka semua tunduk pada perintahku! Berani menentang dan kurang ajar. aku akan mengajarimu ilmu olah kanuragan dan ilmu-ilmu kesaktian lainnya.kata-kataku. Telinganya terasa dikilik. Nasibnya sekarang berada di tangan pemimpin perompak ini. Coba kau pikirkan! Baru lihat anak buahku yang hanya bisa main gertak saja. Tidak ada pilihan lain bagi Intan Kemuning kecuali menyanggupi kemauan Saka Lintang. membangkang sedikit saja bisa-bisa mati konyol! Atau malah dijadikan pemuas nafsu anak buah Saka Lintang. .. kau sudah ketakutan setengah mati. dirinya dianggap "baik". "Mereka tidak akan mengganggumu! Dengan syarat. kau harus turuti kata-kataku!" kata Saka Lintang. Hatinya berontak dan dengan seketika dia ingin segera nienjadikan Intan Kemuning seorang wanita yang kuat seperti dirinya. Lebih-lebih setelah mendengar penuturannya yang polos itu. Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. Kenapa m asih ada juga orang yang mengatakan dirinya baik? Apa tidak salah pendengarannya? Masih adakah kebaikan di hatinya? Dia sendiri tidak tahu mengapa tiba. Untung kau tidak digagahi!" Intan Kemuning terlonjak kaget. "Aku hidup di lingkungan laki-laki kasar dan brutal.? Intan Kemuning tidak sanggup membayangkannya. Hidupnya penuh kekerasan. "Kau seorang pemimpin perompak.. Saka Lintang bangkit dari pembaringannya.tiba jadi iba melihat Intan Kemuning. Saka Lintang merasa seolah-olah dialah yang diinjakinjak kaum lelaki setelah mendengar per-jalanan hidup Intan Kemuning. Tangannya selalu dilumuri darah. Tubuhnya menggigll ketakutan. Pikirnya. Supaya kau tidak jadi wanita yang lemah. Nyawa taruhannya!" jelas Saka Lintang.

Intan Kemuning memejamkan matanya.. Intan Kemuning terdiam. semua minum arak! Tidak ada air minum. Saka Lintang menoleh ke pintu setelah diketuk dari luar. Diraihnya guci arak." ucap Intan Kemuning setelah reda batuknya. "Untuk jadi pengikutku. Menginjakkan kakinya ke dapur saja tidak pernah. "Aku tidak biasa minum arak. . Tiba-tiba Intan Kemuning terbatuk-batuk dan berdahak beberapa kali. aku tidak bisa." sahut Saka Lintang kalem. kepalanya terasa pening. Kenapa harus hidup dengan orang dan lingkungan yang sama sekali asing? Intan Kemuning tidak dapat mem bayangkan apakah dia bisa hidup dengan cara seperti ini. Wajahnya memerah dan matanya berair. diminumnya arak itu sedikit. Tangannya gemetar memegang gelas itu. lalu dituangkan ke dalam dua gel as pe-rak Satu gelas disodorkan pada Intan Kemuning. harus bisa minum arak!" paksa Saka Lintang. "Lama-lama kau akan terbiasa. segelas lagi buat dirinya. "Masuk!" teriak Saka Lintang. Intan Kemuning juga memandang ke arah pintu. Hatinya hanya bisa mengeluh dan menyesali diri.Dilangkahkan kakinya mendekati meja. Ragu-ragu Intan Kemuning menerima segelas arak yang disodorkan buatnya. "Maaf. "Ayo. kecuali sanggup memasaknya sendiri!" potong Saka Lintang. Saka Lintang tersenyum melihat cara Intan Kemuning minum arak.. 'Tapi. Sebab selama hidupnya." "Di istanaku. Saka Lintang makin tertawa keras.. apalagi memasak. Codet muncul." tolak Intan Kemuning. minum!" paksa Saka Lintang lagi. belum pernah dia minum arak! Mencium baunya saja. Sambil menahan napas.

"Beritahu pada semua anggota. Tuan Putri. Aku dan Intan tetap di sini Kalian bereskan semua barang-barang." Codet membungkuk hormat. "Hamba. Hatinya sedikit diliputi keraguan. kalau ada yang berani mengganggu Intan Kemuning." Saka Lintang menjentikkan jarinya. tapi mampu menguasai dan memerintah lakilaki bertampang kasar dan bengis. Intan Kemuning hanya menelan ludah saja. Dari sini Intan Kemuning mulai bersimpati pada wanita yang usianya tidak terpaut jauh dari dirinya itu. *** . Tuan Putri. biar saja. "Sebentar lagi kapal sandar. Saka Lintang. kemudian berbalik Pintu kamar kembali tertutup rapat. Namun bayangan kekejaman di wajah Saka Lintang makin sirna dalam pandangan Intan Kemuning." "Hamba laksanakan." "Tunggu!" cegah Saka Lintang melihat Codet akan berbalik. akan berurusan denganku! Dia kini jadi adik angkatku!" ujar Saka Lintang keras. Intan Kemuning yang polos. Nyalinya kecil. cantik. Codet membungkukkan badannya lagi. Tuan Putri. mudah sekali jatuh simpati pada sikap Saka Lintang. "Pergilah! Laksanakan tugasmu!" Codet membungkuk lagi. masih muda."Ada apa?" tanya Saka Lintang. Dia hanya melihat suatu kelembutan dan kebaikan hati dalam diri Saka Lintang sebagai wanita yang tegar. Dia tidak yakin apakah mampu seperti Saka Lintang. Dia selalu ngeri jika lihat tampang laki-laki yang kasar dan kejam. Meski dia tadi sempat melihat bagaimana Saka Lintang membantai para pengawal Kadipaten dengan kejam. "Hm. "Kau lihat." iapor Codet. Saka Lintang memandang Intan Kemuning yang masih duduk di tepi pembaringan. laki-laki tadi hanya bentuknya saja yang kasar.

Berbahaya sekali buat kita kalau.. Di sekelilingnya kecuali Saka Lintang.. Agak jauh memang. Hasilnya memang tidak mengecewakan. Hampir-hampir Intan Kemuning tidak sanggup menjalaninya." "Bagus kalau kau tahu!" Codet melirik Intan Kemuning yang duduk di bangku bawah pohon. Tuan Putri. Dia itu seorang putri patih. "Kau tidak keluar.Seminggu rasanya belum cukup bagi Intan Kemuning untuk menyesuaikan diri di lingkungan para perompak. Mereka takut terhadap Bi dadari Sungai Ular!" sahut Codet.. "Kau kupercaya untuk jadi wakilku." Codet cepat-cepat menghormat. "Kau tahu. Cukup keras latihan yang diberikan. apa akibatnya menentang kehendakku?" "Hamba. Intan?" jawab Saka Lintang. Codet?" tanya Saka Lintang melihat Codet tengah berm alas-malasan. "Maksudmu. Codet selalu pulang membawa hasil..." sahut Codet. Tuan Putri. Saka Lintang tidak pernah lagi ikut merompak kapal yang lewat di sungai Ular. "Maaf. Apa Tuan Putri tidak salah mengangkat dia jadi adik?" takut-takut Codet bicara sambil ibu jari tangannya diarahkan pada Intan Kemuning." "Cukup!" sentak Saka Lintang memotong. Dan selama seminggu itu Saka Lintang telah memberi dasar-dasar ilmu olah kanuragan. Bukan untuk mengaturku! Paham?!" "Hamba mengerti. Tuan Putri. Sebuah buku bersampul hitam lusuh berada di tangannya. . Sejak itu pula. "Hari ini tidak ada kapal yang lewat. "Benar. Pemimpin perompak dipercayakan pada Codet.. hanya laki-laki berwajah kasar dan sc-ram. "Kau tidak berolok-olok padaku. Codet?" "Mana berani hamba mengolok-olok Tuan Putri? Bisabisa kepala hamba pisah dari badan.

tapi takut kepada Saka Lintang. Dan sekarang jumlah gerombolan ini tidak kurang dari tiga puluh orang." jawab Codet. Sepuluh anak buahnya pun ikut dalam gerombolan ini. Tapi hanya sekedar berkhayal. Codet melangkah pergi. "Ke mana. "Ke desa. Mereka tahu kalau Codet mengincar Intan Kemuning. Sebagai pelampiasan nafsunya." kata Codet sambil mencomot sepotong daging rusa. Matanya masih sempat melirik Intan Kemuning. Det?" tanya salah seorang. Ketiga temannya mengikuti sambil tertawa-tawa. "Kalian ikut aku. "Cari apa ke desa?" tanya yang lain. Codet yakin kalau buku itu berisi dasar-dasar ilmu pukulan tangan kosong dan latihan pengerahan tenaga dalam. Bau harum menusuk hidung dan membangkitkan selera. Kemudian dia berjanji untuk selalu setia dan mengabdi pada gadis itu. Dikhawatirkan Intan Kemuning akan jadi duri dalam daging! Codet sendiri dulu adalah seorang begal sebelum dikalah kan Saka Lintang. Tidak . Tapi justru baru kali ini mereka tunduk oleh seorang wanita! Codet menghampiri tiga orang temannya yang duduk melingkar menghadapi rusa panggang. dia sering pergi ke desa terdekat. Mereka semua bekas begal yang biasa berkeliaran mencari mangsa di hutan-hutan atau merambah desa-desa. Codet hanya menggerutu saja sambil membayangkan wajah Intan Kemuning. Kehidupan seperti itu memang bukan hal yang asing bagi mereka. Tak ada orang yang tak tertarik dengan Intan Kemuning. Semua lakilaki di tempat itu pasti berkhayal dapat menikmati kemulusan tubuhnya."Sekarang pergilah! Dan jangan coba-coba mengusik Intan Kemuning!" Codet membungkuk lalu pergi. "Cari hiburan!" Ketiga orang Itu tertawa seketika.

lebih. oleh karena Intan Kemuning putri seorang patih. Apalagi jika nanti Intan Kemuning berkhianat. Mereka takut oleh aturan yang diberikan Saka Lintang. Pikirnya. Ini jelas menyulitkan mereka. Hal inilah yang selalu mengganggu pikiran Codet. Intan Kemuning memang selalu di bawah lindungan Saka Lintang. sudah tentu pihak Kadipaten tidak akan ringgal diam. Codet menyayangkan pemimpinnya yang tidak menyadari kemungkinan yang akan berakibat fatal! *** .

"Gerombolan Bidadari Sungai Ular sangat ganas. kita berangkat sekarang juga ke sungai Ular!" perintah Patih Giling Wesi. Dilaporkan bahwa kapal yang membawa Putri Intan Kemuning dirampok gerombolan Bidadari Sungai Ular. Istrinya terheran-heran melihat wajah suaminya yang merah padam. telah kembali pagi tadi. Gusti Patih. "Cepat laporkan!" "Beberapa telik sandi yang hamba kirim untuk mencari keterangan tentang Putri Intan Kemuning. Patih Giling Wesi seperti orang kebingungan. Melangkah hilir mudik dengan hati diselimuti kegelisahan." jawab tamtama itu. "Bedebah!" geram Patih Giling Wesi murka. Dan betapa terkejutnya istri Patih Giling Wesi ketika . lalu melangkah mundur. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Tidak peduli kapal siapa yang akan jadi sasaran. Di Pendopo Kepatihan. Gerahamnya sampai bergemerutuk dengan wajah merah padam. Gusti Patih. "Hamba menerima Iaporan dari beberapa telik sandi. ada apa?" tanya Patih Giling Wesi setelah tamtama itu mendekat memberi hormat. Sudah seminggu ini Patih Giling Wesi memerintahkan prajurit-prajurit pilihan untuk mencari kapal layar yang membawa putrinya. Gusti Patih. Sampai saat ini mereka belum memperoleh kabar berita sama sekali. "Tamtama." tamtama itu memberi hormat.2 Suasana di Kadipaten kerajaan Galung tengah dirundung duka. Seorang tamtama berjalan tergopoh-gopoh menuju Pendopo. "Sendika. Matanya memandang ke depan Pendopo." tamtama itu menuturkan dengan sikap hormat. "Kumpulkan prajurit pilihan." lanjut tamtama itu lagi. Patih Giling Wesi bergegas masuk ke kamar pribadinya.

"Berdoalah pada Hyang Widi untuk keselamatan anak kita. berada di kamar ini.. "Kang Mas.!" Rara Angken menekap mulutnya.. sehingga tak sadar kalau istrinya sejak tadi memperhatikan tingkah lakunya. "Intan. terayun ke luar kamar. "Untuk apa pedang itu?" tanya Rara Angken. "Kang Mas. Telah lam a patih itu tidak menyentuhnya lagi. anakku." lirih suara Rara Angken. Pedih hati Patih Giling Wesi melihat istrinya menangis.. 'Tapi mengapa harus membawa pedang pusaka?" "Beberapa telik sandi melaporkan kalau kapal yang membawa Intan Kemuning dirampok oleh Gerombolan Bidadari Sungai Ular." Patih Giling Wesi menoleh.. Perompak itu memang ganas." ujar Patih Giling Wesi sambil mengelus-elus kepala dan bahu istrinya. Nada suaranya bergetar penuh kecemasan.. Sementara sekitar lima puluh prajurit bersenjata lengkap sudah berbaris menunggunya di depan Pendopo. . Rara Angken. Berdoal ah agar anak kita selamat. Namun kakinya melangkah tegap.. Dinda.. "Aku akan mencari Intan Kemuning. tapi firasatku mengatakan bahwa Intan Kemuning masih hidup. Air matanya menganak sungai di pipi." Rara Angken tak kuasa lagi menahan air matanya. Rara Anken masih terisak.. Tenangkan hatimu.." "Oh. "Aku pergi. Aku berjanji akan membawa kembali anak kita.suaminya mengambil pedang pusaka.. "Dinda Rara Angken." pamit Patih Giling Wesi setelah menarik napas panjang." sahut Patih Giling Wesi.. tidak ada gunanya kau menangis. Dia baru sadar kalau istrinya. Pikirannya terpusat penuh pada keselamatan putri mereka." lembut suara Patih Giling Wesi.

Para prajurit bergegas menaiki kudanya masing-masing. "Hiya. Sebuah jalan desa yang kanari kirinya berdiri rumah penduduk.. Tiba kini sebuah kedai mereka lewati.. Tanpa banyak basa-basi lagi. Pemuda itu mengenakan baju rompi putih yang lusuh. Patih Giling Wesi segera memacu kudanya dengan cepat diikuti oleh pasukannya. mereka lewati. Mereka terheran-heran melihat banyak prajurit yang sudah terkenal kedigjayaannya seperti akan perang. Padahal banyak orang dalam kedai bertanya-tanya dan mendugaduga. Pemuda itu tidak merasa terganggu oleh ulah prajurit kepatihan yang memacu kuda dengan cepat itu. . Kepatihan kembali sepi setelah mereka ke luar dari benteng diiringi oleh mata beberapa penjaga yang terkesima. Tetapi yang terlihat hanya kepulan debu saja. patih yang terkena! pemberang itu segera melompat ke punggung kuda dengan gerakan yang lincah. Semua orang dalam kedai menoleh.Seorang prajurit menuntun seekor kuda hitam tinggi kekar ketika Patih Giling Wesi tiba di depan Pendopo. Derap langkah kuda terdengar bergemuruh meninggalkan kepulan debu bergulung-gulung. duduk tenang seorang pemuda tampan yang tengah menghadapi guci arak.!" Patih Giling Wesi meng-geprak kudanya agar lebih kencang lagi. Padahal mereka telah memacu kudanya secepat mungkin. Di antara pengunjung kedai.. Dia adalah Rangga. Kuda hitam mengkilat itu mendengus-dengus berlari bagai anak panah melesat cepat Kuda Patih Giling Wesi memang kuda pilihan.. Tidak heran kalau para prajuritnya tertinggal di bela-kang. Di punggungnya bertengger sebilah pedang dengan gagang berbentuk kepala burung rajawali. Semua orang yang berada di jalan segera menepi.! Hiya.

" Aki Lungkur atau si Pengemis Sakti Tongkat Merah itu hanya terkekeh saja. Dari pakaiannya dapat ditebak kalau mereka anak seorang bangsawan kaya. Yang memakai baju berwarna merah. hilangnya Intan Kemuning belum tersebar luas kecuali para prajurit pilihan. "Mereka mencari putri Intan Kemuning!" Semua orang di kedai terdongak dan menatap arah suara yang datang tiba-tiba itu.. "Kecongkakanmu melebihi tingginya gunung. Kakek tua itu bersandar pada tiang kedai. "Seperti akan perang saja prajurit-prajurit itu." sahut temannya. Patih Giling Wesi ikut serta. tapi matamu buta! Kau tidak bisa melihat kejadian di sekelilingmu!" Aki Lungkur bergumam. Dari tongkat dan pakaiannya semua orang tahu dia adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah." terdengar suara dari meja tidak jauh dari tempat duduk Rangga. Hanya tokoh-tokoh tertentu saja yang tahu nama aslinya. Dan semua orang tahu siapa Intan Kemuning. "He he he. Merah padam wajah kedua pemuda itu. Jelas ucapan . Bunga Kepatihan yang menjadi incaran dan impian putra-putra bangsawan dan punggawa kerajaan. 'Tidak biasanya. Mereka putra-putra para punggawa kerajaan. Sedangkan yang berpakaian warna hijau bernama Rangkasa. Ternyata seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah menyangga tubuhnya. Atau paling tidak anak saudagar. Rangga melirik ke arah suara itu. Tapi jarang yang tahu kalau nama sebenamya adal ah Aki Lungkur. Memang. Dua anak muda duduk menghadapi empat guci arak.Pendekar Rajawali Sakti. "Kakek gembel! Kau jangan bicara sembarangan!" bentak salah seorang dari dua pemuda tadi. bernama Hanggara.. Dia tahu siapa dua pemuda congkak itu. Mereka hanya pemuda-pemuda yang besar mulut tanpa nyali sedikit pun. Pasti ada sesuatu yang gawat..

. kalian boleh memancung leherku. Suara menggumam terdengar bagai lebah ditepuk sarangnya. maka gerombolan perompak itu bukan saja berhadapan dengan para prajurit tetapi juga dengan tokoh-tokoh sakti dunia persilatan. Kakang Badil. 'Pacu kudamu dan kita ambil jalan pintas. Semua orang tahu kalau hal itu benar-benar terjadi. Kata-kata kakek tua tadi bisa jadi ada benamya tetapi patut dipertanyakan pula. Tanpa diketahui orang-orang di kedai." bisik salah seorang. "Kita harus laporkan segera pada Tuan Putri. Dan kini keadaan kedai menjadi sunyi. Mereka mendengar pembicaraan Aki Lungkur dan segera angkat kaki ketika kakek tua itu menghilang. Bahkan dua pemuda congkak sudah sejak tadi meninggalkan kedai. 'Tanyakan pada Gusti Rara Angken. Aki Lungkur dengan cepat melompat dan hilang dari pandangan mata. Adi Gering!" Mereka pun memacu kudanya dengan cepat. Satu persatu pengunjung kedai berlalu pergi dari tempat itu. Seorang pelayan tua sekaligus pemilik kedai menghampiri. Patih Giling Wesi mempunyai banyak sahabat dari tokoh-tokoh rimba persilatan. Maka kalau berita itu sampai tersebar luas. kalau aku benar maka aku minta kalian membebaskan putri Intan Kemuning dari sarang Bidadari Sungai Ular!" Setelah selesai kata-katanya. bukan tidak mungkin mereka akan membantu Patih Giling Wesi. rupanya dua orang gerombolan Bidadari Sungai Ular ada pula di kedai itu. Kalau kata-kataku salah.Pengemis Sakti Tongkat Merah tertuju pada mereka. Hanggara dan Rangkasa saling berpandangan." sahut temannya. Rasanya sulit dipercaya bila putri seorang patih yang terkenal dengan julukan Singa Medan Laga bisa ditawan oleh gerombolan Bidadari Sungai Ular. "Benar. Tinggal Rangga sendirian masih duduk menghadapi mejanya. Tapi.

Ketika pintu terbuka. "Ada apa?" tanya Saka Lintang angkuh. Dia yang menyebar kabar itu. Tuan?" Pak Tua menawarkan... Tuan Putri. "Lalu?" desak Saka Lintang sudah bisa menebak "Di situ juga ada Pengemis Sakti Tongkat Merah. siapkan semua yang ada. Dengan tergesa-gesa Badil menghampiri pintu dan mengetuknya dengan keras.'Tambah lagi araknya. dua orang dari gerombolan Bidadari Sungai Ular." kata Badil segera membungkukkan badannya." jelas Badil ketika Saka Lintang telah berada di luar rumah. "Katakan cepat!" "Menyangkut. "Kami punya berita penting. *** Matahari hampir condong ke Barat.." Badil setengah berbisik Matanya menerobos ke dalam. Aku perlu teman ngobrol" sahut Rangga. duduklah di sini. "Tidak!" sahut Badil dan Gering bersamaan. mereka melompat turun setelah kuda yang mereka tunggangi berhenti di depan rumah terbuat dari kayu. Sambut . Inilah markas gerombolan Bidadari Sungai Ular. "Kalau begitu. Saka Lintang mengerutkan keningnya. kedua tangan Saka Lintang telah berada di pinggang. Pak Tua itu duduk di depan Rangga.... Intan. Di situ hamba melihat serombongan prajurit berkuda dipimpin langsung oleh Patih Giling Wesi. Tuan Putri. Si gembel Itu tahu kalau Intan Kemuning ada di sini." lanjut Badil. "Tidak. Penunggang kuda itu adalah Badil dan Gering. Dua ekor kuda berpacu memasuki hutan di kaki lereng bukit Guntur. Dia melangkah dua tindak'Tadi hamba berdua minum-minum di kedai Pak Tua. "Kau takut?" cibir Saka Lintang. Penuh dengan kesigapan.

kadang-kadang lembut.?" Intan Kemuning belum mengerti. Dia mendengar nada cemas pada suara Gering." sahut Intan Kemuning tergagap. "Hamba laksanakan.. Sebenarnya ingin sekali Intan bertanya.. "Tidak. "Mengapa kau memandangiku begitu?" tanya Saka Lintang risih dipandangi terus." cepat-cepat Gering membungkuk... Dia menghampiri Intan Kemuning yang menunggu di balai tengah-tengah ruangan.? Ha ha ha. di saat itu pula niatnya diurungkan. Sikapnya pun demikian.. Dia tahu gelagat kalau Saka Lintang sudah membentak keras. aku heran saja.kedatangan mereka!" perintah Saka Lintang tegas." kata Gering. tidak apa-apa. Ketika kedua orang itu telah pergi." "Apa yang kau herankan?" tanya Saka Lin¬tang.. Bukan hanya kata-katanya saja yang sulit dimengerti... Itulah Saka Lintang. "Yah. "Aku. Dia takut Saka Lintang tersinggung... Intan Kemuning dapat melihat suatu pelampiasan kekesalan pada Saka Lintang. 'Tikus. Intan Kemuning harus bisa menjaga diri dan berbuat apa saja yang dikehendaki Saka Lintang. Bukan tikus sebenarnya. Tapi di balik kekasaran-nya. "Aku. Kadang-kadang dia harus berpikir lebih dulu untuk dapat mengerti. tikus bodoh yang cari mampus!" Intan Kemuning mulai mengerti. "Ada tikus yang mencoba masuk. "Kakak Lintang. Saka Lintang bergegas masuk ke kamar kembali. Tuan Putri. Tapi setiap kali akan bertanya." pelan suara Intan Kemuning.. Yang dimaksud tikus tentulah orang.. Tuan Putri. "Ada apa Kakak Lintang?' tanya Intan. Kadang-kadang kasar." jawab Saka Lintang lalu duduk di balai berhadapan dengan Intan Kemuning. "Jumlah mereka banyak.. "Mereka hanya tikus!" bentak Saka Lintang.!" Saka Lintang tertawa gelak ...

setelah kau selesai latihan tenaga dalam. Pandangannya berkeliling. "Nah. Sebentar matanya mengawasi keadaan sebelum menutup pintu. Perdalamlah lagi agar lebih sempurna. Bibirnya tersungging melihat Intan Kemuning mulai berlatih. "Kakak Lintang mau ke mana?" tanya Intan Kemuning ketika Saka Lintang turun dari balai. Saka Lintang melangkah dan menoleh sebentar pada Intan Kemuning. Dengan gerakan indah. Saka Lintang melenting tinggi lalu membuat gerakan berputar beberapa kali di udara dan hinggap dengan manis di atap rumah. lalu keluar. Padahal kata-katanya tidak ada yang lucu. berlatihlah sekarang!" perintah Saka Lintang. "Ingat. Intan Kemuning menangkap semacam kegetiran yang ditutup-tutupi di wajah Saka Lintang. Aku lihat jurus-jurus pukulan tangan kosongmu sudah mantap.Intan Kemuning makin bingung melihat Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. Bibirnya tersenyum melihat anak buahnya telah siap menanti datangnya para prajurit kepatihan. Di belakang mereka. . sekarang giatlah berlatih. Kenapa dia sampai tertawa gelak seperti itu? Namun dalam tawa itu. Lima belas orang berjaga-jaga di markas mereka. Saka Lintang sedikit kagum pada Codet yang pandai mengatur anak buahnya. "Ke luar! Aku akan kembali lagi jika kau sudah selesai berlatih. tidak usah memikirkan aku! Yang penting. berjalan sepuluh orang dipimpin oleh Badil dan sepuluh orang lagi dipimpin oleh Gering. bersemadilah!" Intan Kemuning mengangguk kembali. Tampak sekitar sepuluh orang berjalan menuju sungai Ular dipirhpin oleh Codet." ujar Saka Lintang setelah reda tawanya. Mata Saka Lintang menatap lurus ke depan. Intan Kemuning hanya mengangguk. "Sudahlah. Saka Lintang melompat turun." sahut Saka Lintang.

Saat kakinya mendarat di tanah, kem bali dilentingkan tubuhnya dan hinggap di atas punggung kudanya. Segera dia menggebrak kudanya lalu melesat cepat menuju ke sungai Ular yang tidak jauh dari lereng bukit Guntur markas Saka Lintang sekarang ini. Sungai Ular memang indah dipandang, namun menyimpan keganasan yang luar biasa. Sebentar saja Saka Lintang telah sampai di sungai Ular mendahului anak buahnya. Matanya yang bulat bening memandang sekitar sungai yang tenang. Setenang sikapnya saat ini. Codet menggerak-gerakkan tangannya ke atas ketika mereka telah sampai di sungai itu. Dengan seketika anak buahnya berpencar masuk ke dalam semak-semak dan ke balik bongkahan-bongkahan batu. Kini di tepi sungai tersisa empat orang. Mereka semua memang terlatih baik dalam menguasai daerah sekitar sungai Ular. Maka dal am sekejap saja tidak ada orang yang terlihat. Mereka bagaikan lenyap ditelan bumi. Pandai menyamarkan diri dengan alam! "Dengar...!" seru Saka Lintang tiba-tiba. "Suara kuda," gumam Codet. "Hm, siapa dia," gumam Saka Lintang. *** Suara kaki kuda kuda makin jelas terdengar. Saka Lintang mengerutkan keningnya. Dia hanya mendengar langkah dari satu ekor kuda saja. Matanya langsung melirik Badil. "Hamba akan menyongsong, Tuan Putri!" ujar Badil mengerti maksud lirikan Saka Lintang. Badil dengan cepat melompat ke kudanya. Segera digebahnya kuda itu. Dengan cepat kuda yang ditunggangi Badil sudah tidak terlihat lagi. Lenyap di balik rimbunan pepohonan. Badil memacu kudanya menuju arah datangnya suara kaki kuda.

Tiba-tiba ditarik tali kekang kudanya dan seketika tubuhnya melontar tinggi. Kakinya dengan sigap hinggap di sebuah batang pohon yang tinggi. Matanya dengan seksama berkeliling. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada seekor kuda yang ditunggangi seorang pemuda. Tampak dua bilah pedang bertengger di punggungnya. "Kala Srenggi," desis Badil mengenali penunggang kuda itu. Badil menunggu beberapa saat sampai Kala Srenggi mendekat. Kemudian dia meloncat turun ketika Kala Srenggi tepat di bawah pohon yang dinaiki Badil. Kala Srenggi dengan tangkas melompat dari kudanya ketika merasakan ada penyerang gelap dari atas. Pedang Badil segera membabat namun luput Dia kecewa. Padahal dia yakin penunggang kuda itu akan pecah kepalanya tersambar pedang. Yang didapati hanya tempat kosong saja, "Licik!" dengus Kala Srenggi ketika kakinya menjejak di tanah. "Kau juga lebih licik dariku, Kala Srenggi," balas Badil. "Siapa kau?' tanya Kala Srenggi yang heran melihat penyerang gelapnya tahu tentang dirinya. "Aku Badil. Macan Gunung Sinai!" sahut Badil angkuh. "Hm..., Macan Gunung Sinai sampai nyasar ke bukit Guntur," gumam Kala Srenggi mencibir. "Ada urusan apa kau datang ke sini?" tanya Badil. "Aku hanya lewat," jawab Kala Srenggi acuh. "Tidak seorang pun diijinkan masuk ke bukit Guntur!" "He! Sejak kapan aku...." Kala Srenggi belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Badil telah menyerang dengan cepat. Kala Srenggi agak kewalahan menghindari serangan-serangan pedang Badil yang cepat dan berbahaya. Macan Gunung Sinai memang bukan nama kosong, dan Kala Srenggi tahu itu. Dengan cepat dia bersalto di udara. Tangannya segera menarik pedang

kembarnya. Sret! Traaang! Dua pedang berbenturan di udara. Pijaran api akibat benturan pedang berlompatan bersamaan dengan terpentalnya dua orang itu. Mereka memang bukan orang sembarangan. Tanpa kesulitan apa-apa, kaki mereka telah menjejak di tanah dengan lincah. Dua orang itu sama-sama kaget dan sama-sama merasakan kesemutan setelah pedang mereka beradu. Kini mereka sama-sama menyiapkan jurus-jurus selanjutnya. Sambil berteriak nyaring, mereka kem bali terlibat dalam pertarungan sengit. Masing-masing ingin segera menjatuhkan. Namun sampai lima jurus berlalu, belum ada yang terdesak. Memasuki jurus selanjutnya masih tetap seimbang. Beberapa kali ujung pedang mereka hampir menemui sa-saran satu sama lain. Namun semuanya masih dapat dihindari. Hingga pada suatu ketika, Kala Srenggi melompat mundur sejauh dua tombak sambil memasukkan pedang kembar ke sarung di punggungnya. Kini dikeluarkannya 'Aji Racun Merah". Melihat lawan tengah mengerahkan ilmu andalan, Badil pun tak ketinggalan dengan ilmu andalannya pula. Mereka sudah saling berhadapan siap menyerang dengan kesaktian masing-masing. "Hiya...!" "Hiya...!" Kedua orang itu melompat berbarengan. Kini kedua telapak tangan mereka bertemu di udara. Ledakan keras terjadi, disusul dengan terpentalnya dua tubuh. Kala Srenggi jatuh bergulingan di tanah beberapa depa. Sedangkan Badil tidak kalah parah. D ari hidung dan mulutnya ke luar darah. "Uhk!" Badil memuntahkan darah merah kehitaman. Sambil menahan rasa sakit di dadanya, Badil berusaha bangkit. Tubuhnya sempoyongan. Sementara Kala Srenggi juga berusaha berdiri. D ari sudut bibimya mengalir darah

segar. Tangan kirinya menghitam terkena ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil. "Setan! Salah satu di antara kita harus mampus!" geram Kala Srenggi. "Huh!" Badil hanya mendengus. Badil sadar kalau tubuhnya telah dialiri 'Racun Merah' dan hidupnya tak akan bertahan lebih lam a lagi. Kala Srenggi pun demikian. Dia terluka parah. Mereka samasama kepalang basah. Kembali ajian masing-masing mulai mengarah satu sama lain. "Berhenti!" tiba-tiba suara bentakan melengking nyaring. Namun terlambat! Kedua orang itu sudah kembali melompat dan beradu di udara. Kala Srenggi lagi-lagi bergulingan di tanah. Dari mulutnya menyembur darah kental kehitaman. Dia berusaha bangun, tetapi malah jatuh dan tak bergerak sama sekali. Mati. Kedua tangannya seperti hangus terbakar. Di pihak Badil, lebih mengerikan. Dia tergeletak dengan dada pecah. Darah bersimbah membasahi tubuhnya. Badil tewas seketika setelah tubuhnya tenanting di tanah. Sebuah bayangan biru berkelebat dan mendarat di tengah-tengah arena pertarungan tadi. Dia adalah Saka Lintang, kemudian disusul oleh Codet dan Gering. Kedua orang itu terkejut melihat Badil tewas dengan dada pecah. Saka Lintang malah tenang-tenang saja. "Hm, Kala Srenggi," gumam Saka Lintang. Gadis itu mengayunkan langkahnya mendekati mayat Kala Srenggi. Sebentar diamati dan dengan ujung kakinya dibalikkan tubuh Kala Srenggi. Tampak di bagian dadanya hangus terbakar. Tidak ada luka di tubuhnya. Juga tidak ada tanda-tanda Kala Srenggi masih hidup. Saka Lintang mengambil ranting, lalu menekan dada Kala Srenggi dengan ranting. Terkejut juga Saka Lintang ketika melihat dada Kala Srenggi yang mendadak ambrol setelah tersentuh ranting. Bagai ditiup angin saja! Dada Itu

Sebentar lagi gelap.. Gering ." "Bantu dia!" potong Saka Lintang cepat sambil menunjuk pada Gering.. mereka belum bicara. 'Tidak ada waktu. Sungguh tragis nasib mayatmayat itu. Gering yang setiap hari selalu bersama-sama dengan Badil merasa tidak tega juga terhadap mayat temannya itu. Sampai selesai menguburkan Badil. Codet bergegas mengham-\piri Gering dan membantu menguburkan mayat Badil. 'Tuan Putri. "Tidakkah. Dia kembali lagi lantas menggali tanah.kini berlubang besar tembus sampai ke punggung. kemudian melanjutkan langkahnya. Toh tadi dia juga sudah memerintahkan untuk mengubur mayat itu. Dia hanya berdiri dengan pandangan berganti-ganti dari Saka Lintang ke arah Gering yang tengah menggali dengan pedangnya. "Mati.." sahut Codet.. Saka Lintang melangkah cepat. Saka Lintang membalikkan tubuhnya." sahut Codet. Kini malah Codet yang bimbang. Tetapi untungnya. Tuan Putri.. 'Tuan Putri yang memerintahku. Gering menatap Saka Lintang yang hanya terlihat bayangan bajunya saja di antara pepohonan." agak bergetar suara Codet. "Kalau begitu. Tak ada seorang pun yang sedia menguburkannya. 'Terima kasih." sahut Codet. Sungguh dahsyat ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil. tinggalkan saja di sini!" Tanpa banyak bicara. "Bagaimana?" tanya Saka Lintang menoleh pada dua anak buahnya.." perintah Saka Lintang. "Kuburkan kedua mayat ini. Tanpa menghiraukan Codet lagi." ucap Gering. mereka meninggalkan dua sosok mayat yang tergeletak di tanah. Saka Lintang hanya melirik.

Meninggalkan salah seorang teman yang kini terbaring di dalam tanah.menatap mayat Kala Srenggi. "Biarkan saja dia jadi santapan anjing hutan!" kata Codet Gering mengangkat bahunya. Kini dengan hati lega. Mereka memang tidak pernah mengurus mayat musuh. *** . mereka tinggalkan tempat itu.

Dan yang jelas kejadiannya di sungai Ular ini! "Rapaksa!" teriak Path Giling Wesi." salah seorang tamtama segera mendekat. Berarti telah terjadi sesuatu pada kapal itu. Sinarnya membias menerangi mayapada. "Beritahu prajurit. "Ampun. Ada noda darah melekat di kalung itu.3 Matahari baru saja menampakkan diri. Semalaman dia mencari di sekitar sungai Ular. "Adya Bala. tibatiba datang seorang prajurit berlari-lari menghampirinya. kita istirahat sebentar di sini. Gusti Patih." kata prajurit itu sambil menyerahkan sebuah kalung tanda keprajuritan. Belum sempat Patih Giling Wesi beristirahat banyak. tapi tidak sedikit pun jejak kapal layar yang membawa putrinya ditemukan. "Rapaksa!" "Hamba. Para prajurit serentak turun dari kuda masing-masing. "Siapkan prajurit!" perintah Patih Giling Wesi. Dia segera memberi hormat setelah tiba di depan Path Giling Wesi. Hamba menemukan tanda keprajuritan di pinggir sungai. Didekatinya Patih Giling Wesi. istirahat!" teriak tamtama Rapaksa keras." kata Patih Giling Wesi. Matanya mengamati sebentar. Rapaksa berlari menghampiri. Patih Giling Wesi duduk di atas punggung kudanya dengan lesu. Dia duduk di atas batu menatap ke arah sungai yang berliku. Patih Giling Wesi pun telah turun dari kudanya lalu menghampiri sebuah batu besar yang menjorok ke sungai. tiba-tiba terdengar . Rapaksa belum sempat menjawab. Patih Giling Wesi lantas menyambar kalung itu. Mereka mencari tempat beristirahat dan membuka perbekalan. Gusti Patih.

"Bidadari Sungai Ular!" jawab Saka Lintang mantap. bermunculan orangorang yang semuanya ber-seragam biru. Begitu prajurit bersiap. "Siapa kau?!" bentak Patih Giling Wesi. "Setan! Kembalikan putriku!" geram Patih Giling Wesi. Kelihatannya prajurit Kepatihan lebih banyak. Rasa terkejut mereka belum juga hilang ketika tiba-tiba muncul seorang wanita cantik mengenakan pakaian serba biru.." desis Patih Giling Wesi "Rupanya ada tamu agung berkenan mengunjungi wilayahku!" Patih Giling Wesi dan para prajuritnya terkejut mendengar suara yang tinggi menggema dibarengi pengerahan tenaga dalam yang sempurna. Dia tidak lain adalah Saka Lintang. Dia mencabut sebatang tombak dari salah seorang prajuritnya yang sudah tidak bergerak itu. Sebuah tombak berwarna biru dengan tangkai berukir huruf yang rapi dan indah. Dua kelompok itu hampir seimbang jumlah-nya. Patih Giling Wesi cepat melompat ke arah lima prajuritnya yang tewas. Mereka semua memiliki tingkat kepandaian rata-rata di atas para prajurit pilihan sekali pun.teriakan dan disusul dengan rubuhnya lima orang prajurit. "Intan Kemuning akan kukembalikan pada saatnya nanti. Patih Giling Wesi makin geram menyadari keadaannya telah terkepung. Serentak para prajurit yang lain bersiaga. Dengan angkuh dia berdiri di atas batu tempat Patih Giling Wesi tadi beristirahat.. tidak semudah itu patih yang gagah.. Dada mereka tertancap tombak. Percuma saja kau kerahkan seluruh prajurit! Mereka hanya . Tapi bukan berarti mereka bisa dengan mudah mengalahkan gerombolan ini. Mereka semua telah siap dengan senjata di tangan. "Bidadari Sungai Ular. seketika itu pula dari rimbunan semak dan dari balik bongkahan batu. "Ha ha ha." "Adya Bala!" teriak Patih Giling Wesi memberi aba-aba.

Patih Giling Wesi tidak membuang-buang waktu lagi. Pertarungan makin seru dan tak terlihat lagi oleh mata biasa.mengantar nyawa ke tempat ini!" ujar Saka Lintang pongah. sebuah bayangan berkelebat menghadang. Beberapa prajurit telah banyak yang roboh. "Kalian perompak liar. Tidak heran kalau Gering dapat mengimbangi permainan pedang Patih Giling Wesi. Pikirannya hanya terpusat pada keselamatan putrinya. Gering pun segera merubah jurusnya pula. Segera diperintahkan prajuritnya untuk menyerang. "Huh! Sontoloyo!" dengus Patih Giling Wesi. Bunyi senjata beradu dan teriakan-teriakan pertempuran terdengar membahana. dan harus dimusnahkan!" geram Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi berteriak melengking dan merubah permainan pedangnya. Sudah tak tertahankan lagi amarah Patih Giling Wesi. Yang terlihat kini hanya bayangbayang pedang yang bergulung-gulung menyelimuti tubuh Gering. Dia menerjang dengan jurus-jurus mautnya. Menyadari lawan telah menggunakan jurus yang ampuh. Sementara itu pertarungan semakin sengit." kata Saka Lintang meremehkan. "Tidak semudah itu. belum ada satu pun yang tewas. Tubuh mereka seperti lenyap ditelan gulungan sinar . Patih gagah. Namun yang dihadapinya adalah Gering yang cukup tinggi ilmunya. Kalau saja bukan Patih Giling Wesi. Sedang dari pihak Bi dadari Sungai Ular. mungkin kepalanya sudah terpisah dari badan tersambar pedang Gering yang berkelebat cepat. Gering berdiri dengan pedang terhunus. Tetapi belum sampai dekat Saka Lintang. Bahkan beberapa kali dia dapat membalas serangan itu. Maka pertempuran pun berlangsung sengit. Jerit-jerit kematian makin sering terdengar menyayat dari pihak prajurit. Patih Giling Wesi tak ketinggalan dengan cepat melompat menerjang Saka Lintang.

. setan!" geram Patih Giling Wesi.. "Aaaakh. Patih Giling Wesi harus lebih hati-hati lagi. Saka Lintang sudah bisa menduga kalau sebentar lagi Codet akan jatuh. Dia merasakan angin sambaran golok lawannya menimbulkan hawa panas. Di luar arena pertarungan. Hingga pada suatu kesempatan. Gering segera mundur sambil menekap dadanya yang robek. "Aaaakh. Rupanya ujung pedang Patih Giling Wesi telah mengenai sasarannya. Gadis ini cukup memaklumi keadaan Gering karena lawannya memang tangguh. Saka Lintang hanya mengamati saja sambil bibimya menyungging senyum. Kelihatannya. dada telah basah oleh darah. golok itu berat sekali.pedang yang menimbulkan suara bersiutan.. Jumlah mereka makin berkurang. "Kau akan bernasib lebih buruk dari temanmu!" dengus Patih Giling Wesi. Tepat seperti dugaan Saka Lintang.. Gerakan-gerakan Codet makin ngawur. Namun ketika berada di tangan Codet seperti ringan saja. Serangan-serangan yang dibangun Codet memang lebih dahsyat dan berbahaya di bandirig Gering. Di saat yang genting itu. Sedang dari pihaknya. Kedudukan Codet pun kelihatan makin kewalahan. "Majulah. hanya dua yang tewas. Ketika tubuhnya keluar dari gulungan sinar pedang. tiba-tiba Codet menerjang masuk... Sementara Patih Giling Wesi terus mendesak dengan penuh nafsu.. "Sebaliknya kau akan kukirim ke neraka!" sembur Codet. Tampaknya prajurit-prajurit Kepatihan makin kewalahan dan terdesak. Codet mencabut golok besarnya. Benda tajam itu berkelebat cepat dan mengarah ke bagian-bagian tubuh Patih Giling Wesi.!" tiba-tiba Gering berteriak memekik..!" Codet menjerit keras. Hanya Gering yang kelihatan terluka parah dan kini dirawat oleh anak buah Saka Lintang.

Prajurit Kepatihan tinggal lima belas orang jumlahnya.Pedang Patih Giling Wesi berhasil menembus dada Codet. Seperti orang kesetanan layaknya. Sepuluh orang sudah roboh di ujung pedang Patih Giling Wesi dalam tempo yang singkat. Memang tidak sia-sia dia dijuluki Singa Medan Laga. sukar diduga. Meskipun hatinya terbakar am arah. Codet limbung sebentar. Mereka seperti memberi peluang bagi masing-masing pemimpin untuk berlaga. Setiap pedangnya berkelebat. Patih Giling Wesi dengan cepat melompat ke tengah-tengah prajurit-prajuritnya yang sedang kewalahan menerima gempuran yang datang bagai air bah. Dia cepat membaca gerakan lawan. tubuhnya mencelat ke udara dan menghadang serangan Patih yang mengamuk. Sebentar saja. Patih Giling Wesi mengamuk membabi buta. seketika bangkit kembali melihat pemimpinnya mengamuk bagai banteng terluka. . Patih Giling Wesi menatap tajam pada Saka Lintang yang sudah menghunus pedangnya. "Huh!" Patih Giling Wesi mendengus sambil menyemburkan ludahnya. Bersamaan dengan itu. akulah lawanmu!" teriak Saka Lintang. Saka Lintang jadi geram. Darah segar segera muncrat ketika pedang itu ditarik ke luar. Melihat orang-orangnya kewalahan menghadapi amukan Singa Medan Laga. Prajuritprajurit yang semula kendor semangatnya. Gerakannya cepat. Apalagi orangorangnya makin banyak yang tumbang. dua puluh mayat sudah menggeletak. Dia pun dapat mematahkan serangan lawan sebelum sampai. pasti ada seorang lawan yang ambruk mandi darah. Masing-masing kelompok melompat mundur. namun kelihatan sekali kalau Patih Giling Wesi bertarung menggunakan otak yang dingin. bahkan dengan cepat mendahuluinya. lalu ambruk tak berkutik. Seketika pertempuran terhenti. 'Patih Giling Wesi.

Sedangkan sasaran sesungguhnya adalah perut. Semua serangan-serangannya. Patih Giling Wesi. mentah dan rontok di tengah jalan oleh gadis ini.. putrimu yang cantik akan jadi ratu setan!" dia langsung menyerang dengan jurus-jurus berbahaya. kali ini Saka Lintang tidak mainmain lagi. atau kau harus mati di ujung pedangku!" dengus Patih Giling Wesi.. Patih Giling Wesi terkejut Cepat-cepat dia menggerakkan pedangnya melindungi kepala."Serahkan anakku. Tetapi dalam menghadapi tokoh rimba persilatan seperti Saka Lintang ini. "Aku tidak akan membunuhmu. Dengan cepat pedang Saka Lintang berputar mengarah ke perut yang lowong. dia harus mengerahkan tenaga dan kepandaiannya. "Bocah setan!" geram Patih Giling Wesi merasa terhina. gerakan yang menyambar kepala hanya tipuan belaka. Saka Lintang melayaninya sambil tertawa -tawa. akibatnya sangat fatal. Trang! .. Untung Patih Giling Wesi cepat menarik pedangnya. Sejak tadi sudah diperhatikannya jurus-jurus Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi tidak mau menyerah begitu saja. Dia telah tahu kelebihan dan kelemahannya. Saka Lintang sengaja tidak membalas serangan lawan. Sedikit saja lemah. Tapi tak disangka-sangka. Jurus yang digunakan patih ini memang dahsyat. Dirubahnya serangan dengan menggunakan jurus-jurus andalan. Dia hanya menghindar dan menangkis dengan gerakangerakan indah memukau. Aku hanya ingin memberirnu sedikit pelajaran agar kau tidak lagi pongah!" kalem dan tenang sekali suara Saka Lintang. Mengingat dirinya adalah seorang patih yang disegani. "Ha ha ha. "Awas kepala!" teriak Saka Lintang tiba-tiba. Patih Giling Wesi memang tangguh dalam olah keprajuritan. Patih Giling Wesi mulai merasa sulit menghadapi. penuh gerak tipu yang berbahaya. Dan memang.

Saka Lintang mengakui kehebatan patih ini. Semua sama-sama dahsyat. Patih Giling Wesi dapat bergerak melebi hi kecepatan angin topan. Batang-batang pohon segera tumbang terkena tebasan pedang Patih Giling Wesi. Dalam hati. Selain pedang yang menyambar-nyambar. Semula Saka Lintang menduga kalau kepandaian Patih Giling Wed berada jauh di bawahnya. Tiga puluh jurus telah berlalu. langsung hancur berkeping-keping. Patih Giling Wesi belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya. pukulan tangan kiri Saka Lintang juga mencari sasaran. . Dengan 'Ajian Sayuti Angin'. Saka Lintang kini meningkatkan permainan jurusjurusnya. *** Pertarungan antara Patih Giling Wesi dengan Saka Lintang telah meningkat pada taraf yang genting. "Setan! Ilmu apa yang dia pakai?" dengus Saka Lintang dalam hati. sangat dahsyat. Mereka m asih seimbang meskipun telah mengeluarkan jurus-jurus pedang tingkat tinggi. Batu-batuan dan pohon-pohon yang terkena pukulannya. Seratus jurus telah berlalu dengan cepat. Tebasan dan tusukan pedangnya makin berbahaya dan menimbulkan tenaga dorongan yang dahsyat. Terlambat sedikit saja. perut itu pasti sobek. Daun-daun segera berguguran terkena sambaran angin kelebatan pedang yang menimbulkan suara gemuruh bagai angin puting beliung. Sedangkan Patih Giling Wesi juga sudah mengeluarkan kesaktiannya.Dua pedang berbenturan tepat di depan perut Patih Giling Wesi. Kombinasi antara ilmu pedang dengan jurus 'Pukulan Geledek' yang dikeluarkannya kini. Kenyataannya sangat tak disangka sama sekali. Masing-masing belum ada yang terdesak. tapi kelihatannya belum ada seorang pun yang terdesak.

Bahkan lewat begitu saja. Tangannya seperti dijalari jutaan semut yang menggigit. Bagian ujung pedangnya sempal. Sedapat mungkin dihindarinya benturan senjata. Matanya mengerling genit disertai gerak-gerak bibir yang mengundang birahi.. tangan kanan Saka Lintang melayang mengarah dadanya. Dia seperti menari. Namun tiba-tiba. Hatinya mendadak bergetar melihat tubuh indah meliuk-liuk dan sikap yang mengundang birahi. Tidak sebanding dengan gerakan tangan yang lemah itu! Patih Giling Wesi segera menyadari kalau gerakan lemah gemulai yang mengundang birahi itu sangat berbahaya dan dapat mematikan lawan. dengan cepat dan tak terduga sama sekali. . tidak bisa membabat-nya putus. Dan. dengan lembut ditarik. Dan kini dia telah siap dengan jurus 'Tarian Bidadari'. tangan Saka Lintang selalu bergetar bagai tersengat ribuan kala berbisa. Patih itu berusaha untuk tidak terpengaruh pada setiap gerakan tubuh yang indah itu. Padahal tebasan pedang patih itu sangat cepat. Buru-buru gadis itu memasukkan pedang ke dalam sarungnya... "Setan!" dengus Patih Giling Wesi dengan cepat melompat sambil membabatkan pedangnya. Sulit dipercaya! Pedang yang sudah sedernikian dekat tangan Saka Lintang yang bergerak lemah. Tapi..Setiap kali pedangnya membentur pedang Patih Giling Wesi. Patih itu terkejut bukan kepa-lang. Gerakan-gerakan tubuh Saka Lintang jadi berubah. "Ah!" Saka Lintang memekik manja. "Mampus kau!" bentak Patih Giling Wesi kembali melancarkan serangan mautnya. Meliuk-liuk dengan indahnya dengan tangan bergerak-gerak lemah gemulai. Perih dan bergetar ke seluruh persendian tangannya. Trang! Trak! Saka Lintang melompat mundur dengan wajah terkejut. Sesaat Patih Giling Wesi terpana... Tangannya yang sudah terulur cepat.

. Serangan Patih Giling Wesi yang bertubi-tubi mengarah pada bagian-bagian yang mematikan. Daya pikat yang di pancarkan Saka Lintang begitu kuat Gerakan-gerakan patih itu jadi tidak teratur karena terpecah konsentrasinya. Di samping harus menghadapi jurus aneh itu. Seketika dia tersentak kaget. Mendadak kepala Patih Giling Wesi terasa pening. Segera Patih Giling Wesi mengerahkan hawa mumi ke seluruh tubuhnya. Patih Giling Wesi makin kewalahan. Itulah kelebihan dari jurus Tarian Bidadari yang membuat lawan jadi frustasi karena mengira serangannya berhasil. Namun dari anginnya sudah dapat dirasa. Tangan halus gemulai itu mendadak hampir menepuk pundaknya. mencari kelemahan jurus aneh yang dimainkan lawannya itu. Setiap kali pedangnya berkelebat dan dipastikan akan menebas lawan. "Huh! Ilmu setan mana yang dipakainya?" dengus Patih Giling Wesi.. Patih Giling Wesi merasakan suatu hawa panas menyebar."Ouw!" Saka Lintang hanya mendesah manja sambil menggerakkan tubuh dengan indah. Patih Giling Wesi memutar otak. namun dengan manis Saka Lintang berhasil mengelak. Sekuat daya Patih Giling Wesi menekan nafsu birahinya yang semakin berkobar-kobar.!" desisnya.. dia juga harus berperang dengan batinnya sendiri. Belum dapat dipastikan racun itu berbahaya atau tidak. tepukan lembut itu menyerempet bahunya. Tetapi serangan dahsyat itu tidak pernah dapat menyentuh tubuh Saka Lintang. Ujung pedang patih itu hanya menyerempet beberapa ram but saja. "Racun. Untung saja patih itu masih memiliki sedikit kewaspadaan sehingga tepukan tangan Saka Lintang berhasil dihindari. "hey! Uts!" Tiba-tiba Patih Giling Wesi tersentak. Tetapi tak urung.

Patih Giling Wesi tidak dapat berpikir lebih banyak lagi. Hawa murni itu telah menutup seluruh aliran darahnya. Sementara Saka Lintang telah mulai lagi dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Tetapi lewat dari sepuluh. Di saat Patih Giling Wesi dalam kebingungan.lahan rasa pening di kepala berkurang. . Patih Giling Wesi seperti kehilangan akal dalam menghadapi lawannya kali ini. Bisa-bisa malah mati karena di dalam tubuh terjadi pertentangan dua hawa yang ber-lainan.Secara tidak l angsung. Tubuhnya jadi terasa hangat. Ya. Tapi apakah mampu menahan napas sambil bertarung? Kalau hanya sepuluh jurus saja dia masih mampu. Bisikan yang entah datang dari mana. Patih Giling Wesi membuka lagi jalan darahnya setelah terasa racun yang terhisap tadi telah keluar dari tubuhnya. tetapi pandanglah matanya. Yang jelas bisikan itu mengatakan tentang kelemahan jurus 'Tarian Bidadari'. racun bakal terhisap lagi! Untuk menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni juga terlalu besar resikonya. *** "Jangan hiraukan tangannya. rasanya tidak mungkin. Patih Giling Wesi menatap Saka Lintang yang berdiri tenang dengan bibir menyungging senyum memikat. Perlahan. mendadak sebuah blsikan lembut terdengar di telinganya. menahan napas!" bisik hati Patih Giling Wesi. "Jalan satu-satunya harus menahan panas. dia telah menghirup hawa racun yang disebar oleh telapak tangan Saka Lintang. Sepertinya suara itu begitu dekat dan jelas. Dalam hati Patih Giling Wesi mengatakan bahwa tidak mungkin bertarung sambil menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni. Tetapi kalau tidak begitu.

Saka Lintang segera melompat mundur. Bahkan beberapa kali ujung pedang Patih Giling Wesi hampir menembus perutnya. Mungkin karena lawan telah terpengaruh oleh gerakan-gerakan yang mengundang syahwat itu. Dia sudah mulai merasakan kalau Saka Lintang menemui kesulitan. Rupanya gerakan-gerakan lemah lembut Saka Lintang harus dihadapi pula dengan gerakan yang lemah sedikit kaku. Dia jadi geram karena kelemahan jurus andalannya terbaca lawan. Cukup besar sayatan menggores bajunya. Namun semuanya tertutupi oleh gerakan-gerakan lemah gemulainya. baru dua petunjuk saja." bisikan itu terdengar lagi. "Pusatkan napas pada perut. "Ikuti setiap gerak kakinya. Tanpa ragu-ragu lagi.Arahkan pedang pada pusarnya. sering luput dari perhatian. digunakan pernapasan perut di samping memandang mata lawan." jelas bisikan itu. kelihatan Saka Lintang mulai kebingungan. Semangat timbul lagi. "Ih!" Saka Lintang terkejut ketika ujung pedang patih itu berhasil merobek baju bagian perutnya. Sedangkan pada bagian perut yang terbuka. Saka Lintang mulai sulit menebarkan racun lewat pukulannya. tidak beraturan. Merah pada wajah gadis itu menahan malu. Untuk bisa melakukannya." terdengar lagi bisikan itu. Kian lama gerakannya menjadi kacau. Dan benar saja. . Setiap gerakan Saka Lintang selalu dapat dibaca olehnya. Cepat-cepat ditutupinya bagian yang terbuka itu. Patih Giling Wesi makin gembira karena merasa di atas angin. Mudah dan sederhana sekali petunjuk yang diberikan sehingga Patih Giling Wesi dengan cepat memahaminya. patih itu segera menatap mata Saka Lintang. Hatinya gembira. Hembuskan melalui mulut. Pedangnya terhunus ke arah pusar. Patih Giling Wesi segera bergerak mengikuti setiap gerakan kaki Saka Lintang.

.. Dia sama sekali tidak tahu kalau patih itu mendapat petunjuk dari bisikan misterius yang hanya dapat didengar oleh patih itu sendiri. Gerakan-gerakan yang diperlihatkan memang aneh.hingga jadi lupa terhadap daerah lowong itu." desis Patih Giling Wesi. "Bedebah! Kakek busuk.!" Suara terkekeh tiba-tiba terdengar menggema dari segala penjuru.. "Ular harus dilawan dengan tongkat!" kata kakek tua yang tidak lain adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah atau Aki Lungkur. Tingkat kepandaiannya memang sulit diukur. "Huh! Ilmu setan mana lagi yang digunakannya?!" dengus Patih Giling Wesi. Kemudian muncul seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah di tangannya. Saka Lintang hanya mendengus saja. tetapi segera berubah cepat. Mulutnya mendesis bagai ular. Kini disiapkannya jurus andalannya yang terakhir." kata Aki Lungkur lagi. Kadang lambat. Dia bukan lawanmu. kemudian merayap cepat menyusur tanah. jangan campuri urusanku!" ." kata Aki Lungkur tanpa mengecilkan kepandaian patih itu. Sebentar dia melompat. Jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'.. "Adi Patih Giling Wesi. Saka Lintang kali ini memang menelan pil pahit. Dalam menghadapi Patih Giling Wesi. "Keluarkan seluruh kesaktianmu. Dia sudah tahu siapa kakek tua itu.. Patih Giling Wesi sangat menghormatinya meski dia hanya seorang yang lebih mirip pengemis. "He he he. Seketika dia menduga kalau kakek tua inilah yang membisikkannya tadi. Patih Giling Wesi pun mundur dua tindak. "Aki Lungkur. "Selamatkan putrimu di bukit Guntur. mundurlah. biar lebih cepat kau kukirim ke neraka!" dengus Patih Giling Wesi.

" gumam Rangga menghitung. Bibirnya menyungging senyum." kata Aki Lungkur tanpa mempedulikan bentakan Saka Lintang. Terbukti Patih Giling Wesi tidak mampu menandinginya. 3.. Bersama prajuritprajuritnya dia menuju bukit Guntur. Rangga masih melenggang tenang. Patih Giling Wesi segera berangkat." Aki Lungkur terkekeh lagi. Dari gagang pedang yang menempel di punggungnya dapat diketahui kalau pemuda itu adalah Rangga..... "Cepatlah berangkat! Jangan buang-buang waktu lagi. anak angkat Geti Ireng." sahut Patih Giling Wesi. Dan kini telah mengepung dirinya. 2. mereka langsung menyerang para prajurit yang belum pergi jauh itu. Tanpa mendapat peringatan pun.. hanya 15. Dia tahu kalau dirinya telah memasuki daerah markas Bidadari Sungai Ular. "Hm...bentak Saka Lintang geram. Aki Lungkur tahu siapa lawan yang dihadapinya kini... Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu. "He he he. seorang pemuda berbaju rompi putih berjalan menelusuri kaki bukit Guntur sambil bersiul-siul. Tanpa dikomando lagi. si Pendekar Rajawali Sakti." kembali Rangga . Rangga terus melenggang. mungkin rumah itu sarangnya. Tentulah kepandaiannya tidak bisa dianggap enteng. Seorang gadis.. Saka Lintang segera memerintahkan anak buahnya menghalangi para prajurit Kepatihan itu. Ah.. Aki. Telinganya yang tajam menangkap suara gerak langkah kaki tersembunyi.. Kepalanya tergeleng-geleng begitu mendengar suara berkeresek. Hati-hatilah.. Suara siulannya berhenti. "1. Sambil bersiul-siul dengan irama yang tak jelas. "Baik. *** Pada waktu yang bersamaan..

"Siapa kau? Apa maksudmu datang ke sini?" tanya orang yang membentak tadi. "Wuih! Sadis sekali." "Pergi!" bentak Jambak keras. Kelima belas orang itu hanya melongo. kembali! Atau tubuhmu kujadikan dendeng!" ancam Jambak. dan dengan cepat tubuhnya melenting di udara." Rangga berlagak kaget. Jambak yang memiliki kepandaian cukup tinggi. Tanpa peduli Rangga meneruskan perjalanannya. "Lho. Jambak jadi gusar karena kata-katanya tidak digubris sama sekali. "Waduh. Diayunkan langkahnya. "Jangan banyak tanya. Pedangnya terayun cepat mengarah kepala Rangga. Seketika empat belas orang temannya dengan cepat mengurung Rangga sambil berteriak-teriak mengacungkan senjata. "Teman-teman. Namanya Jambak. Bagaikan terbang saja. Tidak terlalu sulit untuk mencapai sana. Rumah beratap rurnbia itu bertengger di kaki lereng yang cukup terjal. Ayo. Dan. galak sekali. Namun tebasan pedang itu hanya mengenai angin. "Berhenti!" bentak salah seorang dengan keras. Digenjot kakinya." jawab Rangga kalem.bergumam ketika melihat sebuah rumah kayu di depannya. Dia segera melompat dengan ilmu peringan tubuhnya. Rangga melayang menuju rumah kayu di tebing bukit. segera memerintahkan . kenapa?" Rangga berlagak dungu. 'Tidak ada seorang pun yang boleh memasuki kawasan ini!" kata Jambak galak. "Aku hanya pengembara dan kebetulan lewat sini. Dia salah seorang kepercayaan si Bidadari Sungai Ular. mendadak dari rimbunan semak-semak bermunculan orang-orang berpakai an serba biru dengan senjata terhunus. Rangga hanya tersenyun. serang keparat ini!" perintah Jambak. Rangga hanya tersenyum saja.

pinjam tombakmu!" kata Rangga kalem. dan menggiurkan. Dia sendiri berlompatan dengan bantuan ilmu peringan tubuhnya. Tombak itu telah berpindah tangan. Rangga sedikit terpana melihat kecantikan wanita yang tidak lain adalah Intan .. sehingga kening orang itu bolong! Kini dengan tombak di tangan. Rangga bagai seekor belut. Rangga hanya berkelit menghindari tebasan pedang yang datang bagai air bah itu. Rangga tidak lagi kewalahan.. Macam-macam bentuk senjata bertebaran mengepung tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Denting macam. "Maaf. Dan kini orang itu telah ambruk tak berkutik. kalian hanya kronco!" dengus Rangga begitu kakinya menjejak tanah di depan rumah kayu itu. tangan Rangga bergerak cepat. belum ada satu pun senjata yang berhasil menyentuh tubuhnya. semua serangan Jambak hanya dianggap main-main saja. Sekejap saja seorang dari pengeroyoknya yang menggenggam tombak terhuyung ke belakang. Namun sampai sejauh ini. Jambak yang datang lebih dulu dari teman-temannya dengan cepat menyerang ganas. cantik.macam senjata beradu dengan tombak di tangan Rangga. Selesai ucapannya. Rangga masih sempat melirik ke arah pintu rumah yang terbuka. mengenakan pakaian merah muda dari bahan sutra halus di depan pintu. Sangat keras totokannya. Licin dan berkelit ke sana kemari menghindari segala bentuk serangan yang datang bertubi-tubi. Dia hanya meliuk-liukkan tubuhnya tanpa menggeser kaki sedikit pun. Kaki Rangga baru bergerak jika datang serangan lain secara keroyokan. Dalam keadaan dikeroyok seperti itu.. Dan tibatiba muncul seorang wanita muda. Namun bagi Rang-ga. Rupanya Rangga menggunakan satu jarinya untuk menotok kening orang itu.teman-temannya mengejar. Darah menguncur deras dari keningnya yang bolong. "Hm.

Jambak merasakan lawannya bukan tandingan mereka semua. dapat ditebak kalau orang itu wanita. Sebentar saja sudah delapan orang yang telah mengantar nyawa. "Bayangan hitam. Darah segar segera mengucur dari dada yang robek itu. . Pekik kematian kini terdengar saling susul." Si Bayangan Hitam mendongak seraya memonyongkan bibir. Serentak dari balik-balik pepohonan muncul sekitar dua puluh orang berpakaian serba hitam.!" seru Jambak gembira melihat berkelebatnya sebuah bayangan. "Jambak. Hatinya bergetar juga. Dari raut wajah yang panjang kurus. "Bagi dua!" teriak Bayangan Hitam. Mereka semua menyandang pedang di punggung. siapa tikus itu?" tanya Bayangan Hitam. Namun dia tidak dapat memperhatikan lebih lama lagi. Sebentar saja sesosok tubuh kurus tinggi berbalut baju hitam ketat telah berdiri di tengah-tengah lapangan depan rumah kayu itu. menyusul dua orang terhuyung-huyung lalu ambruk.. lalu ambruk tidak berkutik lagi. "Dia coba-coba menggerogoti lumbung. Siulan itu menggema dipantulkan oleh bukit-bukit batu dan lembah. Tubuh-tubuh bermandikan darah mulai bergelim-pangan. "Cukup!" Tiba-tiba terdengar bentakan keras melengking.Kemuning. disusul am-bruknya dua orang lagi. Belum lagi kering darah itu. Rangga menggerakkan tombaknya semakin cepat." "Huh! Lalu di mana Gusti Putrimu?' "Menghadang perusuh di sungai Ular. Terdengarlah siulan yang panjang dan melengking tinggi. Rangga kini sibuk menghadapi para pengeroyoknya yang semakin ganas. Dua orang kini terhuyung sambil menekap dada. Lebih-lebih setelah mendengar l agi suara jeritan panjang melengking..

anak muda?!" tanya Bayangan Hitam. Bantu Gusti Putrimu!" perintah Bayangan Hitam. Sisa empat orang teman-teman Jambak masih terdiam di tempatnya. *** Bayangan Hitam bukan orang lain bagi Saka Lintang. Dari sekilas pandang saja. Dia adalah seorang tokoh sakti yang tangguh dan sukar dicari tandingannya. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti. "Sombong!" dengus Bayangan Hitam sedikit gusar. Bayangan Hitam tidak pernah ingin ikut campur dalam urusan Geti Ireng. "Jambak. Semangat mereka timbul kembali setelah hampir diporak-porandakan. Mereka semua tahu siapa Bayangan Hitam. Dia adik kandung Geti Ireng. orang-orang yang baru bermunculan itu segera membentuk dua kelompok. terima kasih" Jambak membungkukkan tubuhnya. Benar-benar suatu kebetulan. Segera mereka berlari menuruni lereng bukit menuju sungai Ular. "Namaku tak ada artinya buatmu." jawab Rangga. Meski Saka Lintang telah mengetahui asal-usulnya. Lagi pula. "Oh. Jambak cepat memberi isyarat pada salah satu kelompok Bayangan Hitam. Wanita kurus ini sangat baik terhadap Saka Lintang. Episode: Iblis Lembah Tengkorak) "Siapa kau. Jadi Bayangan Hitam adalah bibi angkatnya. "Sebutkan namamu sebelum kau kukirim ke neraka!" . bawa satu kelompok orangku. Dari julukannya. Rangga sudah dapat mengukur tingkat kepandaian perempuan kurus ini. Secercah harapan muncul dan terbias di wajah mereka melihat kehadiran Bayangan Hitam.Tanpa banyak omong. namun dia sama sekali tidak membenci Bayangan Hitam. ayah angkat Saka Lintang. dapat dipastikan kalau tokoh ini dari aliran hitam. Bayangan Hitam datang membawa anak buahnya.

"Aku tidak peduli! Yang jelas kau harus bayar nyawa saudaraku!" Rangga yang sudah mengukur kepandaian Bayangan Hitam tidak sungkan-sungkan lagi."Aku Pendekar Rajawali Sakti." lantang suara Rangga. Dia segera mencabut pedangnya ketika Bayangan Hitam telah siap dengan . Bukan hanya Intan Kemuning yang terkejut Ternyata Bayangan Hitam pun kaget setengah mati. Wajahnya tampak berubah merah. "Kebetulan kau muncul. baru kali ini. Kini dia mengerti sudah. bocah setan! Kau berhutang nyawa padaku!" ujar Bayangan Hitam. Mendengar namanya saja. Kelihatannya dia telah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. "Aku datang untuk mengambil Putri Intan Kemuning!" Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu rumah kayu. "Bertemu saja baru kali ini. "Aku membunuh saudaramu. terkejut. Apalagi si pem bunuh itu masih muda dan tampan. Kalau anak muda ini dapat membunuh Iblis Lembah Tengkorak. Dia tidak kenal dengan pemuda tampan itu. Tapi diam-diam Intan Kemuning tertarik juga melihat ketampanannya. bagaimana mungkin aku berhutang nyawa padamu?" "Kau membunuh saudara laki-lakiku! Kau harus bayar dengan nyawamu!" "Siapa saudaramu?' "Geti Ireng atau Iblis Lembah Tengkorak!" Rangga mengerutkan keningnya. Lebih-lebi h setelah menyaksikan sepak terjangnya yang dengan mudah merobohkan sepuluh orang dalam satu jurus yang diulangulang terus. untuk apa perempuan kurus atau Bayangan Hitam itu muncul. Tak disangkasangka dia bertemu dengan pembunuh kakak laki-lakinya. karena dia membantai keluargaku!" lantang dan mantap suara Rangga. pasti tingkat kepandaiannya tinggi sekali.

"Keluarkan ilmu kesaktianmu. Sementara Rangga tidak bergeming sedikit pun. Pedangnya melintang di depan dada. Dua sinar berbeda saling sambar dengan hebat-nya. tapi sinar matanya tajam menatap lurus Bayangan Hitam. bisa jadi tangan kanannya pisah dari badan terbabat pedang Rangga.pedangnya. satu jurus andalan tingkat pertama. Kalau saja Bayangan Hitam tadi tidak melompat. Trang! Dua pedang beradu menimbulkan pijaran bunga api. Sret! 'Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam. Kini tubuh mereka tidak terlihat jelas. Sebentar saja sepuluh jurus telah berlalu. Kini dia mengeluarkan jurus andalannya juga. Rangga tidak merasakan apa-apa waktu pedangnya berbenturan tadi. Bibirnya mengulum senyum. putih. Sedangkan pedang Bayangan Hitam menderu-deru menimbulkan hawa panas. Jari-jari tangannya seperti kaku. Yang kelihatan hanya bayangan hitam. Mereka telah saling berhadapan. Pedang Rangga berputar-putar berkelebat memancarkan sinar biru yang menyilaukan. takjub. "Edan!" dengus Bayangan Hitam melihat ujung pedangnya buntung. dan biru saling berkelebat Semua yang ada di situ melongo. Dia pun bersiap-siap mengerahkan jurus 'Cakar Rajawali'. Bayangan Hitam segera menyerang Rangga dengan jurus-jurus pedang yang dahsyat Sekejap saja mereka telah bertarung dengan jurus-jurus pedang tingkat tinggi. Bayangan Hitam segera melompat mundur satu tombak. . Sinar hitam menggulung-gulung bagai asap tebal. Kian lama pertarungan kian seru. Bayangan Hitam pun tak kalah siapnya. Rangga segera memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. anak setan!" geram Bayangan Hitam sambil membuang pedangnya begitu saja. Dirasakan tangannya kesemutan ketika pedangnya beradu.

Bayangan Hitam sampai terperanjat. tubuhnya berar-benar seperti bayangan saja. "Glaaar. karena kaki-kaki Rengga saling susul mengarah kepala. Seketika Bayangan Hitam merubah jurusnya. Kedua tangan yang selalu mengembang bagai sepasang sayap itu menyambarnyambar mengikuti gerakan tubuh Rangga yang kadang melayang.!" desis Rangga memuji dengan tulus "Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam. Kini hanya dua bayangan hitam dan putih berkelebat. Tubuhnya . Debu mengepul di udara disertai angin yang menderu-deru bagai terjadi topan. Kedua kaki Rangga kini tidak lagi menjejak tanah. kadang menukik "Akh!" Tiba-tiba Bayangan Hitam memekik kesakitan. Sulit diiihat denjan mata biasa... Kin dengan jurus 'Bayangan Maut'. Rangga pun segera merubah jurusnya menjadi 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. "Hebat. Kakinya bergerakgerak lincah mengimbangi gerakan Bayangan Hitam yang sangat cepat.!" Suara ledakan keras terdengar ketika tangan Bayangan Hitam menghantam batu. Pertarungan dua tokoh sakti itu kembali berlangsung. Kedua tangan Rangga mengembang. Seketika batu itu hancur berkeping-keping menyebar ke segala penjuru. Kedua tangainya menyambar-nyambar menimbulkan deru angin kencang. Rangga mengerutkan keningnya ketika merasakan angin sambaran pukulan yang sangat dahsyat.. Kedua kaki Rangga makin bergerak cepat. Beberapa pohon tumbang terkena sambaran angin pukulan Rangga. Rangga berdecak kagum melihat kedahsyatan pukulan Bayangan Hitam.."Bersiaplah!" Bayangan Hitam segera menggebrak setelah selesai memberi peringatan.

Tulang pundaknya patah sehingga sulit digerakkan lagi. Prajurit Kepatihan yang dipimpin Patih Giling Wesi itu kini berada di atas angin. Semangatnya segera .. Saka Lintang tidak mungkin membantu orang-orangnya. Denting senjata bercampur dengan jerit kematian. "Kurang ajar!" geram Rangga sengit. tibatiba muncul sepuluh orang berpakaian serba hitam dipimpin oleh Jambak.. "Serang. Dia berusaha menghindari kepala.terhuyung dua tombak. Makin lama orang-orang berpakaian serba biru semakin berkurang jumlahnya. pertempuran masih berlangsung sengit. Dia sendiri kewalahan menghadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah. Saka Lintang bertarung dengan Pengemis Sakti Tongkat Merah. Patih itu mengamuk terus. Yang tersisa hanya delapan orang saja. tapi tidak bisa lagi menarik pundaknya. Sedangkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya menghadapi anak buah Bidadari Sungai Ular. Bibi Bayangan Hitam datang!" teriak Jambak. Saka Lintang berseri-seri wajah nya. *** Sementara di sungai Ular. Serentak sepuluh orang berpakaian serba hitam bergerak menyerang Rangga. Tanpa dapat dihindari lagi. Saat gerom bolan perom pak itu makin terdesak. Empat orang anak buah Bidadari Sungai Ular yang tersisa membantu mengeroyok Rangga. Setiap pedangnya berkelebat selalu menimbulkan korban. Bayangan Hitam mengeram menahan sekit yang luar biasa karena menyadari tangan kirinya tidak bisa digerakkan lagi.!" teriak Bayangan Hitam keras melengking. kaki Rangga berhasil mengenai pundaknya. Mereka penasaran karena belum bisa menggoreskan pedang ke tubuh Rangga. 'Tuan Putri.

Satu persatu orang-orang berpakaian serba hitam tersungkur berlumuran darah disertai jerit kesakitan. Pengemis Sakti Tongkat Merah yang sejak tadi mendengar. Lima orang membantu anak buah Saka Lintang. 'Tengah menghadapi Pendekar Rajawali Sakti.?" Saka Lintang terkejut. "Di mana Bibi Bayangan Hitam sekarang?" tanya Saka Lintang di sela-sela pertarungan. lalu berteriak nyaring.." jawab Jambak. lima orang lagi membantu mengeroyok Pengemis Sakti Tongkat Merah. .. Orang-orang dari Bayangan Hitam lebih tinggi tingkat kepandaiannya dan lebih ganas dalam bertarung. "Cepat ke bukit Guntur! Selamatkan putrimu!" perintah Kakek Pengemis itu. Bagaikan kilat tubuh patih itu dan kini sudah jauh meninggalkan pertempuran. "Lalu. bagaimana Intan?" tanya Saka Lintang dengan cemas. Tubuhnya mencelat tinggi di udara dan jatuh tepat di samping Patih Giling Wesi. "Berada di markas!" sahut Jambak. Kini keadaannya jadi berbalik. Pengemis Sakti Tongkat Merah mengamuk memutar-mutar tongkat saktinya.bangkit mendengar Bayangan Hitam ikut membantu. "Biar orang-orang ini aku yang hadapi!" Patih Giling Wesi segera melompat tinggi dan bersalto di udara. Pengemis Sakti Tongkat Merah mendengar hal itu merasa bersyukur karena Pendekar Rajawali Sakti telah sampai di sarang gerombolan Bidadari Sungai Ular. Dengan cepat dia berlari menggunakan ilmu peringan tubuh. Saka Lintang mendekati Jam bak yang tengah mengeroyok Kakek Sakti Tongkat Merah. langsung dikeluarkannya ilmu lari cepat. Begitu kakinya menginjak tanah. "Apa. Apalagi melihat anak buah Bayangan Hitam ikut bertempur. Saka Lintang segera melompat keluar dari pertarungan ketika ada kesempatan.

Kakek sakti menebas tongkatnya sehingga satu persatu bergelimpangan. "Jangan membantah!" dengus Aki Lungkur. Di markas gerombolan Bidadari Sungai Ular. Tongkatnya seperti hidup menyambar. Rangga mencabut pedangnya dan mengerahkan ilmu pedangnya yang dipadu dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.Mereka bukanlah lawan Pengemis Sakti Tongkat Merah. pertarungan masih berlangsung sengit. selalu menghalangi setiap orang yang akan mengejar para prajurit. Delapan prajurit Kepatihan itu langsung beriari menyusul pemimpinnya. Sementara Kakek Pengemis kian waspada. "Cari kesempatan! Kejar mereka!" teriak Jam bak gusar. Perintah Jambak seperti tertelan angin. Seketika sepuluh orang mengambil posisi melingkar mengepung Rangga. Jurus ke-tiga dari rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Kini jumlah mereka makin berkurang saja. 'Tapi.. Jambak memutar otaknya mencari jalan agar sebagian temannya bisa keluar dari pertarungan. Mata Rangga tajam mengamati gerakan sepuluh orang yang berputar mengelilinginya sambil pedangnya tersilang . Gerakan kakinya lincah menghindari setiap serangan lawan.!" seorang prajurit tidak tega meninggalkan orang tua itu sendirian. "Cepat susul Gustimu!" teriak Aki Lungkur kepada para prajurit.nyambar mencari mangsa. "Rantai Bayangan!" teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. Empat orang ber-pakaian biru keluar dari arena. Aki Lungkur bergerak cepat menyambar setiap orang yang berusaha keluar dari medan pertarungan. sedangkan pedangnya berkelebat ke arah tubuh lawan yang kosong. Rangga mengamuk menghadapi Bayangan Hitam yang dibantu oleh kaki tangannya.. Ki. Mereka seperti menghadapi seribu pengemis.

. Trang! Trang! Trang! Kepingan-kepingan logam pedang yang patah meluncur deras ke arah orang-orang berpakaian serba hitam yang kebingungan. Mata Rangga tidak lepas mengamati setiap serangan yang datang. Seperti mata rantai. Pedangnya dimasukkan ke dalam sarungnya di punggung. Sedangkan yang selamat hanya memegang pedang yang tinggal setengah saja.di depan dada.. Dengan gerakan manis.!" Rangga kebingungan juga menghadapi pola serangan yang ganjil ini.!" Beberapa tubuh yang tidak sempat mengelak langsung bergelimpangan dengan dada teriembus patahan pedang mereka sendiri menyusul jeritan kematian. Tetapi dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti dapat menguasai diri. Gencar sekali. Tiba-tiba dia menjerit kuat sekali. "Aaaakh. Rangga mendarat di tanah.. Dengan serentak sisa anak buahnya mengeluarkan sebuah bola besi berwarna hitam yang bergigi runcing di sekelilingnya dan dihubungkan dengan rantai halus .. Serangan-serangan itu sulit ditebak. "Hiya! Yeah. Tubuhnya berputar cepat bagai baling-baling. Pedang mereka terkena sambaran pedang biru menyilaukan. mereka bekerja sama dengan gerakan-gerakan yang teratur dan menunjang. Ternyata teriakan-teriakan itu hanya untuk memecah konsentrasinya. “Bola Rantai Hitam!” teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. Rangga tidak akan menggunakan senjata jika lawan tidak pula menggunakannya. datang dari segala penjuru secara berganrJan. Makin lama makin cepat Yang terlihat kini hanya bayangan hitam yang bergerak melingkar. "Bedebah! Kurang ajar!" Bayangan Hitam menggeram melihat empat anak buahnya roboh hanya sekali gebrakan saja.

Rangga turun dengan manis. Kepalanya hancur terhantam bola hitam miliknya sendiri. Dengan satu teriakan melengking. Sungguh hebat tenaga dalam Rangga. Dia masih menganggap belum perlu merubah jurus. Rangga pun mengerahkan gabungan dari tiga rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. "Serang. dan hanya menggabung-gabungkan saja dengan berbagai kombinasi. Bolabola besi lainnya menghantam tanah lalu melesak ke dalam. Kali ini dia tidak ingin lagi membiarkan lawan mengatur siasat. Rangga yang masih berada di atas. Keenam orang itu segera membentuk lingkaran. Tentu Bayangan Hitam jadi kelabakan. "Lepaskan!" teriak Bayangan Hitam. dia melesat ke udara bagai seekor rajawali. Keenam orang itu serentak melepaskan rantai. Kelima anak buahnya . Rantai-rantai hanya terlihat beberapa jengkal saja. Seketika bola-bola itu menderu-deru silih berganti.. Lima orang lainnya masih bisa menyelamatkan diri. "Aaaakh. Tangan mereka memutar-mutar rantai panjang dengan bola-bola bergigi di ujungnya. Sebelum menjejakkan kakinya di tanah.berwarna hitam pula.!" seorang dari mereka menjerit keras. Apa-lagi sebelah tangannya tidak bisa digerakkan. dilontarkan oleh keenam orang itu.!" teriak Bayangan Hitam memberi komando. "Bedebah!" geram Bayangan Hitam. Rangga membiarkan tubuhnya terbelit rantai-rantai dengan bola bergigi itu. Dia segera menyerang Bayangan Hitam dengan gabungan tiga rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. mereka bersalto di udara.. Tiba-tiba tubuh mereka terangkat ikut meluncur bersama Rangga yang semakin tinggi. dengan gerakan cepat mengumpulkan dan melemparkan rantai-rantai itu kepada pemiliknya. Suaranya menderu-deru bagai angin topan...

Bayangan Hitam pun kini hanya bisa bertahan tanpa mampu memberikan serangan balasan. Dengan cepat Rangga segera mengganti ketiga jurusnya sehingga lawan kebingungan.r!" Gerakan Rangga dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' begitu cepat sehingga keempat orang itu tidak bisa melindungi kepalanya. "Lepas!" sentak Rangga. Dilihatnya Saka Lintang berlari cepat dan segera melompat sambil menghunus pedang. Tiba-tiba saja empat pedang terlempar ke udara.. Kraaak! "Aaaa... Dan tanpa terduga sama sekali. Rangga kini dikeroyok sepuluh orang. Bahkan lima orang anggota Bayangan Hitam telah jadi mayat. "Bibi.. Dia menggeram dengan gigi gemerutuk melihat semua anak buahnya tewas. langsung membantunya.!" Bayangan Hitam menoleh. Seketika Saka Lintang terlibat dalam pertempuran pula. Siapakah yang membentak itu? *** . Dari mulutnya terus keluar umpatan dan cacian yang tidak berhenti. Apalagi kini mereka tanpa senjata. sehingga pertempuran sekejap saja berhenti..!" tiba-tiba terdengar suara bentakan keras menggelegar.ditambah empat anak buah kelompok Bidadari Sungai Ular. "Mundur. Mereka segera menggelepar dengan kepala pecah. kaki Rangga melayang ke arah kepala. Begitu hebatnya suara bentakan tadi. Tapi hanya empat orang saja yang menggunakan senjata.

Blar. sehingga mereka tidak hiraukan status suami istri. Sampai sekarang pun mereka masih suami istri... Tokoh ini beraliran hitam dan dulunya merupakan suami Bayangan Hitam.. Lintang?" tanya Nambi sambil mengamati mayat-mayat yang bergelimpangan. muncul seorang kakek tua berjubah merah.. "Paman. Dari pedang pun meluncur sinar biru bergulunggulung.Seberkas sinar merah meluncur deras menyambar Rangga. Rangga kembali memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Dia dikenal dalam rimba persilatan dengan nama Setan Jubah Merah.. untung paman cepat datang. Mata Rangga yang tajam cepat mengetahui dari mana datangnya sinar merah itu.. apa yang terjadi.." Saka Lintang gembira. Belum sempat menjejakkan kakinya ke tanah.! Pohon besar itu hancur berkeping-keping tersambar sinar biru. . dengan seketika dia telah menggenggam pedangnya. Hanya saja watak mereka yang terbiasa malang melintang di rimba persilatan.!" seru Saka Lintang. Kakek itu mencelat bersamaan dengan hancurnya pohon itu. Seorang tokoh tua sakti bernama Nambi muncul di tengah-tengah arena pertarungan. Mereka sibuk mendirikan partai sendiri-sendiri. "Paman Nambi. "Hm. Terpaksa dia kini mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Kini pedang itu terarah pada sebuah pohon besar. Rangga cepat mengibaskan tangannya. Hanya kemunculan mereka saja yang tidak selalu bersamaan. Banyak tokoh menduga kal au mereka tengah bentrok. Tepat saat kakinya menginjak tanah. Rangga telah disibukkan dengan sinar merah yang datang lagi. Dengan sigap Pendekar Rajawali Sakti itu melompat menghindari sinar merah yang datang tiba-tiba itu.

Setan Jubah Merah melom pat cepat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Patah! Mendadak hatinya panas. "Anak muda." jawab Saka Lintang. "Pendekar Rajawali Sakti. "Sudah kuperingatkan." jawab Saka Lintang. Masih saja membandel!" tegur paman angkat Saka Lintang. Mungkin kalau Pengemis Sakti Tongkat Merah tidak ikut campur. Pundak itu melesak ke dalam. Maksud Saka Lintang hanya ingin merubah Intan Kemuning menjadi seorang pendekar wanita. Tapi sekarang? Apal agi Pendekar Rajawali Sakti ikut membantu. Seluruh anak buahnya mati. ini adal ah kesalahannya. Kakang!" Bayangan Hitam memperingatkan. Nambi memandang pada istrinya. Ada nada kesedihan daiam suaranya. Untuk kedua kalinya dia harus berhadapan dengan pemuda yang telah merobek-robek hatinya ini. Saka Lintang melirik Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu. Saka Lintang pasti mampu mengalahkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya. Matanya agak menyipit melihat ke arah pundak perempuan tua itu. "Dan kau tidak mampu mengatasinya?" Saka Lintang hanya tertunduk saja. Benih-benih cinta kembali muncul. Namun bibit dendam dan kebencian juga bertumbuhan. jangan cari perkara dengan pihak kerajaan. hadapi aku!" bentak Setan Jubah Merah. Pertempuran sengit tidak dapat dihindari lagi. Tetapi tak diduga sama sekali akibatnya jadi demikian. paman. silahkan baca Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Iblis Lembah Tengkorakl "Siapa dia?" tanya Nambi atau Setan Jubah Merah. (Untuk lebih jelas. Setan Jubah Merah segera mengerahkan . Dia sadar. Seketika hatinya bergetar. "Hati-hati. Bayangan Hitam."Perkumpulanku dihancurkan. Saka Lintang memandang Rangga.

Sudah menjadi sifatnya untuk tidak mengeluarkan jurus-jurus berbahaya sebelum dia mengetahui tingkat kepandaian lawan. Darah mengucur deras dari pangkal lengan yang bolong dua jari itu. Baru kali ini didapatkan lawan yang mau menghormat pada dirinya. Jurus tangan kosongnya sangat dahsyat. Kek!" Rangga menyalurkan seluruh tenaga ke kedua telapak tangannya. Bahkan selalu merendah. baiklah! Maafkan. "Bocah setan! Jangan salahkan aku jika sampai menurunkan tangan kejam!" geram Nambi sengit melihat Rangga hanya berkelit tanpa mem-balas serangan. Hasilnya sungguh tak terduga . Setiap pukulannya mengandung hawa racun yang mematikan. Seketika jari-jari tangannya meregang kaku. "Kalau itu keinginanmu.jurus-jurus andalannya. Hati kecilnya berkata kal au dia merasa salut terhadap anak muda itu. "Bersiaplah. "Maaf!" seru Rangga. "Serang aku!" teriak Nambi. Rangga kebal terhadap segal a je-nis racun. Dengan cepat dia mengimbanginya. Kakek!" sahut Rangga dengan hormat Nambi terdongak mendengar kata-kata Rangga. Tapi semua itu tidak berpengaruh terhadap Rangga. Nambi mengemerutukkan gerahamnya. Dia sempat mendengar permintaan maaf Rangga sebelum melancarkan serangan. Pemuda itu tidak congkak. Rangga tidak bermaksud memandang enteng lawan. Jari-jari tangan Rangga berhasil menusuk pangkal lengan kiri Nambi. Dia terhuyung satu tombak ke belakang. Nambi sedikit terperangah. Lalu digerakkan tangannya yang makin lama makin cepat. Dengan jurus ini. Dia hanya mengukur tingkat kepandaian lawan. "Akh!" Setan Jubah Merah memekik tertahan. pertarungan pun menjadi sengit. Kini Rangga menghadapi lawan dengan jurus 'Cakar Rajawali'.

. Dia menggelepar-gelepar dengan kepala hancur.. Kembali Pendekar Rajawali Sakti harus melayani serangan beruntun Bayangan Hitam. "Kubunuh kau. Mereka segera mengeroyok Rangga.!" Saka Lintang memekik kaget. Setan Jubah Merah yang telah berhasil menghentikan darah dengan totokannya. Sedangkan Saka Lintang mengerahkan jurus 'Pukulan Geledek'nya. Pendekar Rajawali Sakti segera menggabungkan jurus 'Cakar Rajawali' dengan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'..!" Bayangan Hitam menjerit kesakitan. Bayangan Hitam langsung melompat menyerang Rangga. Rangga mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' lalu disusul dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Begitu cepat perubahan jurus yang dilakukan Rangga. Sementara pertarungan sengit berlangsung. Kemarahan dan dendamnya sudah sampai ubun-ubun.. kemudian diam tak bergerak l agi. Setan Jubah Merah menggeram menahan marah. "Bibi.!" jerit Bayangan Hitam cemas melihat darah mengucur dari lengan suaminya. Kaki Rangga telak bersarang di kepala Bayangan Hitam. "Kakang. lima orang . Posisi Rangga kian terdesak oleh serangan yang beruntun. Kini Rangga berhadapan langsung dengan tiga orang tokoh yang memiliki kepandaian yang luar biasa.. Secepat kilat Setan Jubah Merah menyerang dengan jurus-jurus mautnya. Sementara Saka Lintang kembali menyerang dengan jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Lengan Nambi bolong oleh tusukan jari-jari Rangga. "Aaaakh. segera ikut mengeroyok Rangga.. bocah setan!" teriak Nambi. Sasarannya kini ke arah Bayangan Hitam. sehingga Bayangan Hitam tidak dapat menguasai diri lagi. Dia tidak lagi memandang perasaan cintanya pada Rangga. Saka Lintang pun tidak ingin ketinggalan.sekali.

Mata orang itu liar merayapi wajah gadis cantik di depannya. "Ah!" Intan Kemuning kaget ketika tiba-tiba seseorang telah ada di depannya. "Ih!" Intan Kemuning menepis tangan laki-laki yang terulur hendak menjamah. "Ah. "Mau apa kau?" Intan Kemuning bergidik. seketika nafsu birahinya bangkit.. jangan!" *** . "Kau yang menjadi gara-gara. Melihat kecantikan Intan Kemuning. sekarang aku minta bayaran darimu. Jakunnya turun naik menahan gejolak birahi yang bergelora dalam dada." gertak laki-laki itu.anggota Bayangan Hitam yang tersisa menyeret gurunya ke tempat yang lebih baik Tetapi salah seorang dari mereka. Liumya tertahan. "He he he." orang itu menyeringai. ternyata kau punya isi juga... kebetulan melihat Intan Kemuning yang belum beranjak dari pintu pondok.

Tubuh Intan Kemuning seketika jadi polos. Dia meronta-ronta mencoba melepaskan diri. Intan Kemuning jadi lupa kalau dia telah belajar dasar-dasar ilmu olah kanuragan. Tangan-tangan kasar kini menelusuri bukit yang indah itu. Laki-laki itu makin liar merejam tubuh Intan Kemuning. Intan Kemuning terus meronta-ronta sambil menjerit-jerit... Bahkan empat laki-laki anggota Bayangan Hitam lainnya telah mengelilingi serta menatap wajah dan tubuh yang indah itu. Kini bagian dada yang membukit indah terbuka. Bret! Lagi-lagi baju Intan Kemuning dirobek paksa. merobek bajunya. Tanpa menghiraukan jeritan. namun seorang laki-laki lainnya maju dan menarik tangan Intan Kemuning. "Auh! Lepaskan. laki-laki itu menyeretnya masuk ke pondok Rupanya perbuatan salah seorang anggota Bayangan Hitam menarik perhatian empat orang lainnya. 'Tidak. Lima pasang mata menatap ke a rah dada yang putih mulus tanpa berkedi p.!" jerit Intan Kemuning. Keempat orang yang sebelumnya .. Mereka kini tidak peduli dengan mayat gurunya.! Lepaskan!" jerit Intan Kemuning putus asa.6 Intan Kemuning makin kaget ketika orang itu telah menubruk dan memeluknya. Hanya bagian bawah saja yang masih tertutup. Intan Kemuning cepat menutupi bagian dadanya yang terbuka. Rasa panik dan ketakutan yang amat sangat membuat dia lupa segalanya. Segera mereka berlarian ke pondok. Tangannya memukuli tubuh lelaki kasar yang telah menindihnya.!" Intan Kemuning memekik ketika tangan lakilaki yang menindihnya.. Bret! "Auuuh.. Di dalam pondok..

. Dengan terpaksa mereka mel ayani hanya dengan tangan kosong karena tidak memiliki senjata lagi.. tidak bisa menahan diri lagi. Intan Kemuning berlari lalu menubruk . "Ayah. kabur. ambruk dengan dada tergores panjang dan dalam.hanya berdiri saja. segera dua orang anggota Bayangan Hitam itu mendobrak dinding pondok. jangan. Intan Kemuning benar-benar putus asa. Tepat ketika seorang laki-laki akan membuka bagian bawah pakaiannya. Tangan-tangan mereka makin liar menjelajah ke seluruh tubuh gadis cantik itu. Air matanya makin deras mengalir. Namun kelima orang sudah tidak peduli lagi.. Dari mulutnya keluar rintihan memohon belas kasihan. 'Tidak. "Binatang! Mampus. tiba-tiba. kalian semua!" teriak Patih Giling Wesi kalap.. hancur berantakan. Pedangnya kian cepat berputar menyerang tiga orang laiki-laki itu. Darah segera membasahi lantai. "Binatang!" Patih Giling Wesi segera menerjang marah. Melihat tiga orang temannya telah tewas. Intan Kemuning cepat-cepat mengenakan pakaiannya kembali yang sudah tercabik-cabik itu.. Salah seorang dari tiga orang yang tersisa." rintih Intan Kemuning memelas. Tiga orang lainnya segera melompat menyebar. Mereka mendekat dan meraba-raba tubuh yang putih mulus itu. Brak! Pintu poridok yang tertutup. "Aaaakh!" kematian kembali terdengar.. berbalik ketika putrinya memanggil.. Pedang Patih Giling Wesi berkelebat cepat Seketika saja dua kepala telah terpisah dari tubuh. Air bening mulai menitik dari sudut matanya. Lima orang yang tengah dirasuki iblis itu terperangah..!" Patih Giling Wesi yang hendak mengejar. Mereka hanya bisa berkelit saja. Dia bersyukur karena kelima laki-laki itu belum sempat merenggut kehormatannya.

Biar bagaimana pun juga. Nduk?" tanya Patih Giling Wesi dengan suara tersendat. hatinya masih khawatir terhadap putrinya yang baru saja terbebas dari tawanan perompak itu." "Pemuda siapa?" "Oh!" Intan seperti tersadar. "Oh. 'Pemimpin perampok itu sangat baik. "Kau tidak apa-apa. Ayah." desah Patih Giling Wesi. orang-orang itu?" "Mereka bukan orang-orang Bidadari Sungai Ular." jawab Intan Kemuning tanpa melepaskan pelukannya. Jari-jari tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi Intan Kemuning. "Tidak. Sejenak ditatap putrinya. Ayah. Malu. "Pemuda itu. Kakak Lintang selalu melindungiku. Nak?" tanya patih itu masih diliputi perasaan cemas.." "Maksudmu." Seketika Intan Kemuning tersentak. Dia ingat kalau pemuda tampan yang telah menggetarkan hatinya tengah bertempur di luar. syukurlah." "Lalu. "Mereka tidak mengganggumu. Bidadari Sungai Ular itu?" "Betul. Pemuda itu kini menghadapi dua tokoh sakti. Intan?" tanya Patih Giling Wesi. Dia mengangkatku sebagai adiknya. Ayah. . "Mereka tidak ada yang menggangguku. Mereka orang-orang Bayangan Hitam.. Ditumpahkan segala kerinduan dan kegembiraan karena dapat berkumpul lagi." sahut Intan Kemuning. Mereka saling berpelukan menumpahkan seluruh air mata dan rindu. Pelan-pelan Patih Giling Wesi melepaskan pelukannya. "Ada apa..ayahnya. Kembali mereka terdiam sambil berpelukan. Dia baik sekali padaku.

" Patih Giling Wesi menggandeng anaknya ke luar pondok itu. dan baru berhenti setelah berada dua tombak dari pondok. Rasa haru dan gembira telah membutakan mata dan menulikan telinganya. Dalam hati dia merasa kagum juga terhadap pemuda tampan itu. sehingga tidak tahu ada pertempuran di luar. Kepalanya tertunduk.. Mereka berhenti melangkah di depan pintu yang sudah hancur. "Ayo. "Intan.. apakah Intan Kemuning jatuh cinta? Apakah dengan pemuda tampan yang kini sedang bertarung melawan dua tokoh sakti itu? Kalau benar. Mereka menyaksikan pertempuran antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah.. Namun Intan Kemuning melangkah terus. Patih Giling Wesi seolah baru sadar kalau putrinya telah menjadi seorang gadis remaja. Pelan-pelan Intan Kemuning mengangkat kepalanya. Patih Giling Wesi tersenyum melihat Intan Kemuning tidak berkedip m enatap setiap gerakan Rangga. Patih Giling Wesi mengikutinya. Dan ketika Intan Kemuning menyebut pemuda itu. Sekelebat memang dia melihat pertempuran itu.. Patih Giling Wesi terdongak begitu mendengar suara pertempuran di luar..Seketika kedua pipinya merah merona.. Pendekar itu telah merebut sekeping hatinya." lembut suara Patih Giling Wesi. *** Pertempuran masih terus berlangsung di sungai Ular. namun Patih Giling Wesi lebih terpusat pada suara rintihan wanita di dalam pondok itu. Ah.. siapakah pemuda itu? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak patih itu. Patih Giling Wesi tersadar.. Kini . Tanpa disadari di a telah mencemaskan pendekar muda yang sejak tadi menarik perhatiannya..

!" Pengemis Sakti Tongkat Merah terkekeh. Darah segar menyembur disertai jeritan kesakitan saling susul. kini jadi mengerikan." terdengar suara mengejek. Layaknya kapas yang dihembus angin. Kakek Pengemis Sakti kembali terkekeh. Aki Lungkur menghentikan langkahnya. Keempat orang itu kini ambruk kehilangan nyawa.." gumam Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah. Ujung tongkat Pengemis Sakti itu merobek-robek dada mereka. Pelan-pelan kakinya meninggalkan tempat pembantaian itu. Bau anyir darah menyebar terbawa angin. aku malas main petak umpet. Suara itu jelas menggunakan tenaga dalam yang luar biasa. tapi kenyataannya. "Mudah-mudahan Pendekar Rajawali Sakti bisa mengatasi keadaan. Tempat yang indah dan menyejukkan itu. Mayat menyebar di mana-mana. dibuat tidak berkutik. Bau anyir darah telah mengundang anjing-anjing hutan untuk menyantap mayat-mayat yang bergelimpangan.yang dihadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah hanya empat orang saja. "Ah. Langkah yang kelihatan pelan.!" Tiba-tiba terdengar suara terkekeh. "He he he. Kakinya seperti tidak menapak tanah." keluh Aki Lungkur . Orang yang menguasai ilmu ini dapat meminjam hembusan angin untuk mendorong tubuhnya. burung bangkai pun telah berkeliling di angkasa minta bagian. "Kasihan.. Tak luput. 'Tidak disangka. kalian hanya membuang nyawa sia-sia. sebentar saja kakek tua itu telah jauh melangkah. Ironis sekali. "He he he. keempat orang yang memang tidak punya nyali lagi. Itulah ilmu 'Sayiti Angin' yang dikeluarkannya.." gumam Aki Lungkur pelan.. Aki Lungkur mengayunkan langkah menuju bukit Guntur. Pengemis Sakti Tongkat Merah mau mengotori tangannya hanya untuk membantai cacing-cacing tanah. Cukup sekali gebrak saja.

mengapa kau lari dari Lembah Tengkorak waktu itu? Kenapa tidak kau bantu keponakanmu? Itukah paman yang baik?" Merah padam wajah Pradya Dagma. Minggir." kata Aki Lungkur berusaha mengalah. Dengan cepat dia kembali menghadang.! Apa aku tidak salah dengar? Kapan kau punya keponakan!" "O. sudahlah! Aku tidak ada urusan denganmu.. Pradya Dagma makin merasa terhina. Melihat hal ini." "Dengan menghadang jalanku." tenang sekali Aki Lungkur menyahut. Aki Lungkur!" .. "Aku rasa tanganmu tidak lebih bersih dari-pada tanganku. "Kalau kau mencampuri urusan Saka Lintang. Langkahnya baru tiga tindak. "Sudah kukatakan. Kau akan menambah kotor tanganmu saja." kata Pendeta Murtad yang nama aslinya Pradya Dagma. "Ah." dengus Aki Lungkur.terus melanjutkan langkahnya. "Aku rasa kau tidak perlu ke bukit Guntur. Untaian tasbih tergenggam di tangan kanannya. aku tidak ada urusan denganmu. tiba-tiba di depan Aki Lungkur muncul seorang laki-laki gendut berkepala botak mengenakan jubah kuning. Kata-kata Aki Lungkur tenang diucapkannya. kau sudah mencampuri urusan orang lain. maka kau juga berurusan denganku!'' sahut Pradya Dagma. "Rupanya kau. Kata-kata itu baginya adalah penghinaan yang luar biasa. Pendeta Murtad. 'Tapi aku tidak pernah usil dengan urusan orang lain. Aki Lungkur melangkah melanjutkan perjalanan tanpa peduli. "Heh! Rupanya kau cari penyakit?" "Kau yang cari kematian. Aki Lungkur. aku mau pergi!" dengus Aki Lungkur sedikit jengkel." 'Phih! Aku sengaja menghadangmu untuk mencegah agar kau tidak ikut campur urusan keponakanku!" "Keponakan? Ha ha ha. tetapi sakit didengamya.

Aki Lungkur mendelik. dua tokoh sakti berlainan aliran itu bertempur dengan sengit Diantara mereka berdua. Padahal. Aki Lungkur sendiri sebenarnya tidak melayani meski pun Pendeta Murtad itu selalu cari perkara dengannya. "Jangan katakan aku kejam kalau kau kukirim ke neraka. Mereka sama-sama murid Resi Brahespati. Antara Aki Lungkur dengan Pradya Dagma. hentikan semua ketololanmu!" bentak Aki Lungkur gusar. terutama tasbihnya yang menjadi andalan.hati. mengapa Aki Lungkur selalu menolak setiap tantangan Pradya Dagma. Kelihatannya dia ingin membunuh Pengemis Sakti ini. Pendeta Murtad itu telah melancarkan serangan-serangan berbahaya. Aki Lungkur selalu bersikap mengalah. "Aku tidak peduli kau melawan atau tidak!" Gigi Aki Lungkur beradu menahan geram. Dia pun tak ingin mencampuri urusan Pradya Dagma meskipun tindakan dan perbuatan Pradya Dagma selalu merugikan orang lain. sebenarnya masih saudara seperguruan. Tanpa dapat dicegah lagi. Sebab Pradya Dagma anak tunggal dari gurunya itu. Dia masih mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Pengemis Tongkat Merah melayaninya dengan setengahsetengah. Lungkur!" sahut Pradya Dagma keras. . Akibat suatu perselisihan. "Pradya Dagma. Itulah sebabnya. rupanya Pradya Dagma masih menyimpan api dendam. Dia masih memandang hormat pada Resi Brahespati. Dia tahu kalau Pradya Dagma sangat berbahaya. Padahal setiap kali mereka bentrok. Terpaksa Aki Lungkur harus menghadapinya dengan hati. Dia tidak mau mengakui keunggulan Aki Lungkur. Dia bersiap-siap ketika melihat Pendeta Murtad itu telah membuka jurus-jurus ampuhnya. sebenarnya tidak ada urusan apa-apa. Pendeta Murtad ini rupanya benar-benar ingin membunuhnya.

maka menyusullah suara teriakan keras. Setelah mereka saling pandang. "Kelakuanmu sudah melampaui batas. aku masih ada urusan yang lebih penting.” "Kau pun akan. senang tinggal di neraka bersama iblis. Aki Lungkur terkejut. jangan hanya bisa menghindar!" ejek Pradya Dagma. dia melenting dan berdiri di tanah dengan kokoh. Dua tokoh sakti itu pun saling menyerang. aku tidak menurunkan tangan kejam padamu!" Rupanya Aki Lungkur sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi. tunggu!" Pradya Dagma segera mengejar." ujar Aki Lungkur masih berusaha mengalah. *** . Aki Lungkur belum bersiap-siap. Kedua tokoh itu mempergunakan jurus yang didapat dari sumber yang sama. Segera dia melenting cepat. Pradya Dagma!" geram Aki Lungkur. dia telah berhasil mengejar disertai satu pukulan dengan tenaga dalam yang penuh. Seluruh pikiran dan hatimu sudah tertutup iblis. "Kalau kau laki-laki. Dia pun segera mengerahkan jurus 'Tasbih Sakti'. Pradya Dagma terkekeh melihat Aki Lungkur mulai terpancing kemarahannya. Dia segera membuang diri ke tanah. Seketika pohon itu tumbang disertai suara gemuruh."Maaf. "Kau memang sudah tidak bisa di beri hati. Aki Lungkur kembali bergulingan di tanah. Mereka sama-sama telah mengenal jurus masing-masing. Secepat itu pula. Hanya beberapa kali lompatan saja. tiba-tiba datang serangan berikut. Pukulan Pradya Dagma menghantam sebatang pohon besar. Dibukanya jurus 'Tongkat Sakti'. "Hey." "Demi Resi Brahespati.

maka Aki Lungkur mempergunakannya untuk membela yang lemah dan menumpas kejahatan. Aki Lungkur yang selalu memperdalam dan menyempumakan ilmunya. Matanya berkunang-kunang. Dia malah mempergunakan kesempatan itu untuk mendesak.Kali ini Aki Lungkur tidak main-main lagi. Hingga pada suatu saat. Tapi Pradya Dagma sudah tidak peduli. Kemauan saudara seperguruannya dilayani dengan sungguh-sungguh. Jurusjurus yang mereka pergunakan juga beraliran sama.. . Bahkan dia kelihatan tidak ada semangat lagi untuk melanjutkan pertarungan. Masing-masing belum ada yang terdesak. hanya penerapannya yang lain. Dibiarkan dirinya terdesak.. Hatinya tetap tidak mengijinkan untuk melukai saudara seperguruannya ini. Tendangan Pradya Dagma telak. Jika Pradya Dagma mempergunakannya untuk maksud-maksud kejahatan. Lungkur! Kau sengaja mengalah!" desis Pradya Dagma. Kaki Pradya Dagma berhasil menghantam dadanya. Jurus demi jurus berlalu dengan cepat. Mereka paham betul dengan kelemahan dan kelebihan jurus-jurus masing-masing. Sedikit demi sedikit Pradya Dagma mulai kewalahan dan terdesak. Dadanya terasa sesak. disertai tenaga dalam yang hebat Kalau bukan Aki Lungkur. Tubuh pengemis tua itu terdorong dua tombak. Lima jurus kini telah mereka lewati. Bahkan serangan-serangan balasannya tidak tanggungtanggung mengarah ke bagian-bagian tubuh lawan yang mematikan. kelihatan lebih unggul ketika memasuki jurus yang keseratus. Beberapa kali ujung tongkat itu hampir menyentuh tubuh Pradya D agma. "Akhl" Aki Lungkur memekik tertahan. "Kau menghinaku. mungkin dada itu telah jebol. Aki Lungkur selalu membelokkannya. Timbul sifat mengalah dalam hati Aki Lungkur.

" "Resi. Kini yang berdiri di depannya hanyalah Pradya Dagma. Dia tidak mengerti. Ketika posisinya menguntungkan. tibatiba Resi Brahespati telah lenyap dari pandangan... Rasanya memang masih terasa berat untuk menjatukan tangan kepada Pradya Dagma. Terpaksa Aki Lungkur harus jatuh bangun menghindari serangan beruntun itu. Resi. Pradya Dagma yang melihat sikap Aki Lungkur. dan berlutut saat dia tahu yang berdiri di depannya adalah Resi Brahespati.. Bahkan dia tadi menyebut-nyebut resi. ayahnya itu yang padahal tengah berdiri di depannya." lembut berwibawa suara Resi Brahespati. "Dia benar-benar sudah murtad! Aku mengijinkan kalau kau menjatuhkan tangan padanya. Masih terngiang-ngiang kata-kata gurunya tadi." Aki Lungkur tidak melanjutkan kata-katanya. "Aku berusaha mengalah. Pradya Dagma kembali menyerang dengan jurus-jurusnya. Segera Aki Lungkur memantapkan hati untuk memberi pelajaran kepada saudara seperguruannya yang murtad ini." ucap Aki Lungkur dengan kepala tertunduk. Tiba-tiba di depan Aki Lungkur seperti berdiri seorang resi." kata Aki Lungkur ter-sendat "Sudah aku katakan.!" Aki Lungkur terkejut menerima petuah itu. Belum juga Aki Lungkur bersiap-siap. mengapa tiba-tiba Aki Lungkur seperti ketakutan."Aku mengaku kalah.. "Bangunlah. Ketika Aki Lungkur ingin melanjutkan kata-katanya. Beri dia pelajaran agar matanya terbuka. tapi Pradya Dagma. terheranheran. aku tidak peduli dengan sikapmu! Ayo lawan aku!" bentak Pradya D agma. Seketika pengemis tua itu menjatuhkan diri. Aki Lungkur . Pradya Dagma memang tidak melihat kedatangan Resi Brahespati. tidak layak kau berbuat begitu. "Ampunkan muridmu yang hina ini.

Pradya Dagma yang setingkat di bawah Aki Lungkur..!" suara Aki Lungkur bergetar.. minta ampunlah kau pada ayahmu!" kata Aki Lungkur lantang." Aki Lungkur tidak mengerti." hibur Aki Lungkur. "Dagma. Dari sudut bibirnya keluar darah segar.. Sementara kata-kata Resi Brahespati terus terngiang. . Pendeta Murtad itu terdorong sejauh tiga tombak. dan. Lungkur." lemah dan tersendat suara Pradya Dagma. 'Tidak. "Aaaakh. Aki Lungkur tidak segan-segan lagi melayaninya. Hal inilah yang membuat pengemis tua itu tidak memberi kesempatan kepada Pradya Dagma untuk membalas. Tongkatnya kini berkelebat cepat.ngiang di telinga Aki Lungkur. Aki Lungkur cepat-cepat menghampiri dan merangkul tubuh gemuk itu. Napasnya tersendat-sendat. "Demi Resi Brahespati. "Aku senang bisa mati di tangan tokoh sakti sepertimu. kau harus hidup. "Jangan sebut-sebut ayahku!" Setelah berkata demikian.!" Jeritan melengking terdengar. Darah makin banyak keluar.. Kini keinginanku tercapai sudah.. Aki Lungkur mencabut tongkatnya yang menembus dada pendeta murtad itu. dengan cepat pukulan Aki Lungkur bersarang di dada Pradya Dagma. Pradya Dagma kembali menyerang membabi buta. Terima kasih.. "Setan!" dengus Pradya Dagma sambil menyeka darah yang terus mengalir. kau mau memenuhi keinginanku.. Pradya Dagma tersenyum.. Tubuh Pradya Dagma pun ambruk dengan darah muncrat dari dadanya yang bolong.. mengapa Pradya Dagma menginginkan mati di tangannya. Kemudian disusul dengan tendangan keras. kembali terdesak.. "Dagma.segera membalas tanpa memberi am pun lagi. Pada suatu kesempatan yang baik. Kita akan bersama-sama lagi. Aku puas.

Sejak itu. peristiwa itu sepertinya baru saja terjadi. Peristiwa itu sudah lama terjadi. hanya kau yang boleh membunuhku. Aku telah memperkosa dan membunuhnya. Ingatannya seketika mundur puluhan tahun yang lalu. Dia tak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak sengaja membunuhnya. Tetapi sebelum hari bahagia itu dilangsungkan. kau bicara apa?" Aki Lungkur makin tidak mengerti. Waktu itu mereka masih sama-sama muda dan tinggal di padepokan Resi Brahespati." Aki Lungkur hanya tertunduk saja. Mereka telah merencanakan untuk memasuki jenjang perkawinan. "Aku merasa iri karena Komala menjatuhkan pilihan kepadamu." Pradya Dagma meneruskan ceritanya. Bahkan sudah ham pir dilupakannya. aku menyelinap ke kamarnya. . Kini keinginanku menebus dosa pada Komala terlaksana sudah. Dia cantik dan menjadi kembang desa itu. Hubungan mereka telah direstui oleh Resi Brahespati. Dia mengambil pisau. dan aku berusaha mencegahnya. hanya tanganmu lah yang bisa membunuhku. Lungkur tidak ada niat lagi mendekati wanita."Aku sudah berjanji pada Komala. Lungkur. Tapi perbuatanku malah menghilangkan nyawanya. Hingga tua dia tidak pernah menikah. seluruh desa dan padepokan geger. Setitik air bening mulai menggulir di pipi Aki Lungkur." "Dagma. Ternyata Komala membuka hatinya pada seorang pemuda bernama Lungkur. "Semula aku hanya ingin memperkosa saja. Komala kedapatan mati dengan leher tertembus pisau. Aku ingin membuatmu kecewa dan sakit hati. Tapi kini. Seharusnya malam itu kubiarkan saja dia membunuhku. Lungkur! Di depan mayatnya aku berjanji. Malam itu. Lungkur. Di desa dekat padepokan itu tinggallah seorang gadis bernama Komala. sehari sebelum pernikahanmu dengan Komala.

Teguh pada janji dan pendinannya Hanya sayangnya. Kalau saja hal itu diketahuinya sejak dulu. Dia baru sadar kalau perbuatan Pradya Dagma hanyalah untuk memancing kemarahan agar dapat membunuhnya."Maafkan aku. Hatiku akan tenang jika kau mau memaafkan aku. Bi birnya menyungging senyum. Menerima kenyataan itu. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Aki Lungkur benar-benar sedih. "Sejak lama aku selalu memaafkanmu. Lungkur. 'Terima kasih. Ternyata di balik hatinya yang keji. *** . Keinginannya telah terkabul." Pradya Dagma menutup mata dengan tenang setelah mengucapkan kata maaf dan terima kasih. mungkin Aki Lungkur akan segera membunuhnya agar kesengsaraan hidup Pradya D agma tidak berl arut-larut." kata Pradya Dagma lagi." sahut Aki Lungkur. Tidak ada yang tahu kalau seluruh perbuatan Pradya Dagma hanyalah pancingan agar Aki Lungkur dapat membunuhnya. masih tersimpan sedikit jiwa ksatria. sikap Pradya Dagma berada di jalan yang salah.

7 Pertarungan antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah ki an berlangsung sengit di bukit Guntur. Seketika itu pula. Bagian dada yang membukit terbungkus kulit putih mulus itu tidak lepas dari tatapan mata Patih Giling Wesi. "Yeaaah.. Baju di bagian dada yang memang sudah sobek. Seketika darahnya seperti berhenti mengalir. Kedua tangannya bergerak-gerak cepat mengibas mencari sasaran. "Awas. Saka Lintang sedapat mungkin menutupi bagian tubuhnya yang terbuka itu. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah bagai kepiting rebus. Rangga selalu mengganti-ganti jurus. Kibasan Rangga berhasil dielakkan. tangannya mengembang dengan cepat Tubuhnya kini melayang. Tetapi dengan cepat dipusatkan kembali perhatiannya pada Setan Jubah Merah. kian lebar saja terbuka.!" Tiba-tiba Rangga berteriak nyaring. Rangga masih tetap menggunakan empat jurus gabungan dari jurus 'Rajawali Sakti'. Dalam gerakan-gerakan membingungkan itu. Bahkan kalau mungkin menggabungkan keempatnya sekaligus. Lintang!" teriak Setan Jubah Merah tiba-tiba.. "Kurang ajar" geram Saka Lintang. Kadang dia menggabungkan dua atau tiga jurus. namun bajunya harus direlakan terjambret. Lalu dengan cepat dia . Mereka bingung menghadapi gerakan-gerakan yang sulit diduga arah dan tujuannya. Mukanya merah menahan malu. "Hait!" Saka Lintang melentingkan tubuhnya ke belakang sejauh dua tombak. Mata Rangga pun sempat menatap ke bagian indah itu. Dengan demikian lawannya benar-benar kerepotan.

.!" pekik Saka Lintang tertahan.. tiba-tiba tangan Rangga bergerak menyambar gagang pedang dalam genggaman Saka Lintang.. Ditebaskan pedang yang ada di tangan kanannya ke leher Rangga. Tetapi Rangga malah kelihatan tenang-tenang saja. Trak! Rangga hanya menyentil pedang itu dengan jurus 'Cakar Rajawali'. Menyadari Saka Lintang telah menebar racun. Wajah Saka Lintang seketika berubah setelah menyadari tangannya tidak dapat ditarik lagi dari tubuh Rangga. Bahkan bibimya menyungging senyum.. Pukulan tangan kiri Saka Lintang tepat menghantam dada Rangga. "Ah. Dia tahu kalau hawa racun telah menyebar di sekelilingnya. Tetapi racun jenis apa pun tak ada pengaruhnya bagi Rangga. Saka Lintang jadi geram. Saka Lintang semakin panik. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedangnya.. gadis itu menggedor dada Rangga sekali lagi dengan tangan kanannya. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedang dengan jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Sekuat tenaga gadis itu menarik tangannya..kembali menerjang sambil menghunus pedangnya. semakin kuat telapak tangannya menempel. Gadis itu tidak tahu kalau sebenamya Rangga sengaja membiarkan tangan beracun itu masuk ke dalam bagian dada yang lowong. kedua telapak tangan Saka Lintang kini menempel erat di dada Rangga. "Kena!" teriak Saka Lintang keras. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam dan penyaluran racun ke telapak tangannya. Belum sempat gadis itu menyadari apa yang terjadi. Setan Jubah Merah menahan napas. Namun semakin ditarik. Seketika dari ujung pedang sampai pangkal lengan Saka Lintang bergetar. namun. Di luar dugaan.

"Setan!" dengus Saka Lintang geram. tentu! Ini. Cepat-cepat dihilangkan hawa racun dari tubuhnya." ujar Saka Lintang." kata Setan Jubah Merah sambil meringis. Saka Lintang pun tak urung kaget pula. Keringat membasahi . Dia kaget setengah mati karena tubuh Saka Lintang masih menyebarkan hawa racun. "Uh! Racunmu. dan mengeluarkan sebuah pil berwarna merah darah. Dia tidak bisa leluasa melancarkan pukulan mautnya. tubuh Saka Lintang dipastikan hancur menubruk batu besar. Kalau Rangga mau. "Paman. Dihampirinya Setan Jubah Merah yang tengah meringis memegangi tangannya sendiri. "Pengecut! Lepaskan gadis itu!" bentak Setan Jubah Merah. kau tidak apa-apa?" tanya Saka Lintang cemas. "Akh!" tiba-tiba Setan Jubah Merah memekik keras. sebenamya dia bisa saja menebaskan pedang yang terebut tadi. Seketika tubuhnya seperti terbakar. Dia malah membuang pedang itu jauh-jauh. Saka Lintang merogoh saku jubahnya. "Semadilah. Kedua matanya dipejamkan. lakilaki tua itu menelan pil yang diberikan Saka Lintang. terimalah!" Tiba-tiba saja tubuh Saka Lintang terpental keras. Jika saja gerakan Setan Jubah Merah tidak cepat... Diberikannya pil itu kepada Setan Jubah Merah. Perlahanlahan dari ujung kepalanya mengepul asap tipis. Dengan cepat dia melompat dan menangkap tubuh gadis itu yang melayang deras.. Seluruh tubuh Setan Jubah Merah bergetar. Setan Jubah Merah terkejut. Tetapi hal itu tidak dilakukannya. Cepat-cepat dilepaskan tangannya. Setan Jubah Merah pun bersila. sehingga Setan Jubah Merah tidak tahu harus berbuat apa. Paman. "Oh. Rangga menggunakan gadis itu menjadi tameng. Tanpa banyak tanya lagi. Matanya menatap Setan Jubah Merah yang kebingungan.

Kalau saja saat ini tidak ada ayahnya. Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak tahu sama sekali kalau dua tokoh itu meluruk ke arahnya. "Hoek!" Cairan kental berwarna kehitaman dimuntahkan oleh Setan Jubah Merah. Tanpa sadar Intan Kemuning melontarkan senyuman manis pada pendekar muda itu. Sesekali matanya melirik Intan Kemuning yang berdiri di samping ayahnya. Dia memperhatikan saja kedua lawannya yang tengah sibuk itu.seluruh tubuhnya. Setiap kali Rangga melirik ke arahnya. Intan Kemuning merasakan jantungnya berdetak keras. Saka Lintang dan Setan Jubah Merah. Sikap Rangga yang masa bodoh itu membuat Intan Kemuning cemas. kemudian disambung dengan melentingnya dua tubuh ke arah Rangga. Rangga seperti tidak peduli dengan lawan yang sudah bersiap-siap menyerang kembali. ingin sekali Intan Kemuning menghambur dan memeluk pemuda itu. "Hiya!" "Yeah!" Dua teriakan keras saling susul. Mulutnya malah bersiul-siul dengan irama tak menentu. Dia gelisah karena dua tokoh sakti begitu . dibarengi oleh hilangnya asap tipis yang mengepul di kepala laki-laki tua itu. Tapi semua perasaan dan keinginan itu ditekan dalam-dalam sam pai ke dasar hatinya. Sementara. Rangga membalasnya dengan senyum manis pula. Kini Pendekar Rajawali Sakti tengah duduk tenang di atas batu besar. dua tokoh tingkat tinggi. tel ah kembali bersiap-siap menghadapi lawannya yang tengah duduk tenang itu. Setan Jubah Merah membuka matanya ketika getaran pada tubuhnya berhenti sama sekali. Tak diduga. Rangga masih tenang. Sedikit demi sedikit. seluruh tubuh lakilaki tua itu mulai tenang.

. Jelas kalau Rangga tadi tidak sedikit pun menghindar. Dia tidak melihat pendekar itu. Patih Giling Wesi kembali perhatiannya tercurah pada ketiga tokoh yang kini telah bertarung kembali. Sikap gadis itu tidak lepas dari pengamatan Patih Giling Wesi. tampak Rangga masih duduk di atas tumpukan batu-batu yang hancur. "Pendekar Raj awali Sakti. jadi berkeping keping disertai ledakan keras terkena pukulan itu. Apakah dia hancur bersama batu itu? Batin Intan Kemuning bertanyatanya penuh kecemasan. Kedua tokoh sakti Itu terperanjat melihat hasil gempurannya tidak berpengaruh apa-apa terhadap lawannya. "Akh!" Intan Kemuning memekik tertahan. sepasang mata tengah mengawasi pertarungan itu dari balik pohon.. Rupanya dia mengerti apa yang telah melanda putrinya ini. Ketika debu itu hilang sama sekali. Batu yang sebesar kerbau itu saja hancur. Sikap duduknya tidak berubah sedikit pun. *** Berangsur-angsur asap tebal yang mengepul sirna disapu angin.. Dia hanya tersenyum-senyum saja.cepat menyerang. Batu tempat Rangga duduk. Serangan yang dibarengi pengerahan tenaga dalam. Dia seperti membiarkan saja pukulan itu menghantam tubuhnya." Intan Kemuning mendesah lega melihat pendekar tampan itu masih hidup. awas!" Intan Kemuning tidak dapat lagi mengendalikan diri. bagaimana dengan Rangga? Debu masih mengepal tebal. begitu cepat datangnya. Akibatnya memang dahsyat. Intan Kemuning benar-benar tidak dapat menyembunyikan kecemasannya. "Oh. Tanpa disadari.. Peringatan gadis itu tepat bersamaan dengan dua tubuh yang meluruk menerjang Rangga.

Dia harus mempertimbangkan kehadiran Setan Jubah Merah. Kini Saka Lintang hanya sesekali saja melontarkan pukulan beracunnya. "Maaf. dirubahnya jurus itu menjadi 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Kali ini digunakannya jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Setan Jubah Merah meregang nyawa sebentar. Jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun' yang dipadu dengan jurus 'Tarian Bidadari'. lalu diam tak bergerak sama sekali. Kehadirannya saja tidak diketahui sama sekali. Sementara itu Rangga sudah kembali melayani dua lawannya yang kian bernafsu untuk mengakhiri pertarungan alot dan panjang ini.Jelas pemilik sepasang mata itu bukan orang sembarangan.. . Tubuhnya terlontar ke belakang sejauh tiga tombak. Seketika Rangga merubah jurusnya.. Gadis itu segera menyerang Rangga dengan mengeluarkan jurus andalan terakhirnya. "Aaaa.. Secepat kilat. Seluruh dadanya seperti hangus terbakar. Dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tangan Rangga berhasil menghantam telak dada Setan Jubah Merah. Rangga kembali merubah jurusnya. Begitu cepatnya jurus itu sehingga Saka Lintang tidak punya kesempatan lagi untuk mengelak.!" pekik Saka Lintang. Sekejap saja tubuhnya telah melambung di udara. Kakinya bergerak mengarah kepala lawan. Kakek!" seru Rangga tiba-tiba. "Paman. Dia terkena 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang tak terduga dilepaskan Rangga.. Dia tidak ingin lagi berbuat konyol yang hampir merenggut nyawa paman angkatnya.!" Setan Jubah Merah meraung keras. Kedua tangannya merentang mengepak bagai sayap rajawali. Dalam sekejap sekitar tempat pertarungan telah terselimuti oleh hawa racun yang mematikan. "Kejam! Setan! Kubunuh kau!" pekik Saka Lintang marah. Tubuhnya meluruk turun deras.

.. kalau tidak salah... anak muda. Siapa lagi kalau bukan Pengemis Sakti Tongkat Merah." kata Aki Lungkur. tawaran yang menggairahkan. Gadis itu selalu menundukkan kepala terus.!" Saka Lintang memekik keras.." Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah menggeleng-gelengkan kepalanya. "Menakjubkan. Kalau sudah . benci dan dendam. Dia mati di tangan laki-laki yang dicintainya. "Uts! Hampir lupa kalau di sini masih ada orang lain. hebat. Rangga mendekat Aki Lungkur terkekeh." tiba-tiba terdengar suara terkekeh." kata Rangga teringat ketika dia memberikan sebungkus bekal makanan. Patih Giling Wesi mendekat diikuti Intan Kemuning. lalu mereka makan bersama di pinggir tegalan. Dari balik pohon muncul seorang kakek tua berpakaian compang-camping. "Ah. Mari!!" Ketika mereka akan melangkah.. Mati bersama rasa cinta. tetapi matanya melirik pada Rangga. Rangga kembali mendarat Matanya memperhatikan tubuh Saka Lintang yang meregang nyawa. "He he he….. "Tunggu!" Mereka menoleh dan berbalik bersamaan. "Bagaimana kalau kita makan bersama lagi di bawah pohon sambil menikmati udara segar." sahut Aki Lungkur. Sungguh tragis kematian gadis ini."Aaaa.. Di tangannya tergenggam tongkat berwarna merah.. hebat. "Penglihatanmu tajam.. Gadis itu ambruk dengan kepala hancur berantakan. lalu diam tak bergerak l agi. tiba-tiba terdengar suara Patih Giling Wesi mencegah. kakek yang berada di kedai minum tempo hari. Hatinya makin berdebar-debar kalau kebetulan matanya beradu pandang." kat a Rangga dengan tutur kata yang halus. "Ah. Rangga menoleh ke arah suara itu. Aku pengemis tua yang hina. Darah seketika membasahi tanah..

.. Episode: Iblis Lembah Tengkorak). anak laki-laki Adipati hilang tanpa bekas. Tetapi Patih Giling Wesi sedikit ragu-ragu juga. Sedangkan kejadiannya tidak jauh dari jurang Lembah ." Patih Giling Wesi setengah bergumam..demikian. Gusti Patih. Biarlah kenangan pahit itu dia sendiri yang tahu. Masalahnya. cepat-cepat matanya dialihkan mencari pandangan lain.. Dua puluh tahun yang lalu terjadi musibah pada rom bongan Sang Adipati yang hendak menuju ke kota Kerajaan Ayahandanya. Wajahnya sangat mirip dengan Adipati Karang Setra. "Namamu mirip dengan seorang putra Adipati yang hilang dua puluh tahun lalu. Memang benar gumaman patih ini.. "Rangga." Patih Giling Wesi mengamati wajah Rangga dengan teliti sekali. Tapi di mana? Kapan pernah bertemu? Ingatannya terus berputar. Cepat-cepat diturupi rasa kaget itu dengan senyum." jawab Rangga merendah. Nama hamba Rangga. Rangga terkejut juga mendengarnya. siapa namamu dan dari mana kau berasal?" tanya Patih Giling Wesi. apakah Patih Giling Wesi kenal dengan ayahnya? "Nama bisa saja sama. Tapi. Rangga memperhatikan dengan pandangan bertanyatanya. "Kisanak. (Baca serial: Pendekar Rajawali Sakti. Dia tidak ingin masa lalunya terungkap lagi. Tibatiba dia tersentak Benar! Tidak salah lagi." kata Rangga buruburu. kalau boleh tahu." Patih Giling Wesi menggumamkan nama itu beberapa kali. Patih Giling Wesi tengah berusaha mengingat-ingat. Rangga jadi bertanya-tanya.. "Nama memang bisa saja sama. "Hamba hanya seorang pengembara hina Gusti Patih. Sepertinya dia pernah mengenal wajah itu.

Dia berusaha memecahkan teka-teki ini. Antara mengakui dan membantah.Bangkai. Patih Giling Wesi seperti berperang dengan batinnya sendiri. Semua orang menduga kalau anak itu pasti masuk ke jurang Lembah Bangkai. siapa saja yang masuk ke dalam jurang itu tak akan pernah selamat. Siapakan anak muda perkasa yang ada di depannya ini? *** . Antara percaya dan tidak. Karena sudah pasti.

Semua seperti menunggu pembicaraan Patih Giling Wesi.8 Beberapa saat suasana di bukit Guntur hening. mari kita berangkat sekarang!" ajak Patih Giling Wesi. Seketika dua pasang mata saling berpandangan. "Baiklah. Dia belum dapat memastikan perihal anak muda ini. Jika tidak mengganggu perjalananmu . Tidak ada yang mengeluarkan suara. Pengemis tua itu mengangguk-angguk kepalanya. Tentu dia setuju karena antara dia dan patih itu telah terjalin suatu persahabatan. telah menunggu delapan orang prajurit Kepatihan. Di kaki bukit. Rangga menoleh pada Aki Lungkur yang berdiri di sampingnya. Patih itu sendiri sampai saat ini masih berusaha memecahkan teka-teki itu. Rangga belum menjawab. Matanya beralih memandang Intan Kemuning. "Kalau begitu. diikuti oleh tujuh orang prajurit-prajurit lain. Tapi bibirnya sempat memberikan senyum manis. Batin Patih Giling Wesi bicara sendiri. Mereka segera menghampiri patih itu. Rapaksa segera melom pat dari kudanya. Kalau tidak ada pendekar muda ini." sahut Rangga mendesah. Patih Giling Wesi . Masingmasing menunggang kuda dan menuntun seekor kuda pula." Patih Giling Wesi mengundang. Keempat orang itu segera meninggalkan tempat itu. Ah! Siapa pun dia. Cepat dialihkan pandangannya ke tempat lain. yang jelas jasanya sangat besar. Kisanak. meninggalkan mayat-mayat yang bergelimpangan dan siap jadi santapan anjing-anjing hutan. entah bagaimana nasib putrinya. sudi kau mampir sebentar di Kepatihan. "Aku sangat berhutang budi padamu. Intan Kemuning jadi gelagapan. Mereka menuruni bukit Guntur.

Patih Giling Wesi membantu Intan Kemuning yang sedikit kesulitan turun dari . Akhirnya pikiran patih itu tenang setelah melihat putrinya sangat lihai menunggang kuda. Hutan dirambah. Mereka melewati jalur pintas. Hamba datang terlambat Hamba mencari kuda-kuda dulu." kata Rapaksa melapor. Setelah melompat turun dari kudanya. Nyawa mereka korbankan hanya untuk menyelamatkan seorang putri patih. Patih itu tidak tahu kalau selama jadi tawanan perampok. Gusti Patih. Rombongan itu terus melewati desa itu. Setahunya Intan Kemuning tidah pernah belajar naik kuda. Patih Giling Wesi selalu berada di samping Intan Kemuning. Semula Patih Giling Wesi khawatir juga terhadap Intan Kemuning. Perjalanan kini dilanjutkan dengan menunggang kuda. Hatinya masih bertanya-tanya tentang kelihaian putrinya menunggang kuda. Mari kita kembali ke Kepatihan. dan kini mereka telah dekat dengan sebuah desa yang dekat dengan bukit Guntur. tidak menyusuri tepian sungai Ular. padang diarungi. sudahlah.mengamati sisa prajurit-prajuritnya. "Ampun. Dan kini hamba hanya dapat lima belas ekor. Sungguh besar jasa mereka." sahut Patih Giling Wesi mendesah berat. Intan Kemuning telah diajari naik kuda oleh Saka Lintang. "Hh. Mereka pun segera masuk ke dalam benteng Kepatihan. Rombongan kecU berkuda itu terus meninggalkan bukit Guntur yang terlihat hijau. dan berhenti tepat di depan pendopo. Penjaga pintu segera membuka pintu ketika melihat Patih Giling Wesi yang datang bersama putrinya. *** Matahari telah condong ke Barat ketika rombongan itu sampai di pintu Gerbang Kepatihan.

Beberapa orang pelayan datang menyediakan suguhan. Sebenarnya Rangga ingin menolak. "Aku senang sekali jika kalian sudi menginap di sini barang satu atau dua malam. membuat dia lupa sejenak terhadap Rangga. Beda dengan Aki Lungkur. Memang tidak ada salahnya menginap barang sehari setelah sepanjang hari menguras tenaga menyabung . tentu." Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya untuk minum. Di mana lagi dia dapat minum arak selezat ini kalau tidak mendapat undangan dari Patih Giling Wesi? Patih Giling Wesi selalu memperhatikan sikap dan tutur kata Rangga. Patih Giling Wesi membawa dua tamunya masuk ke bangsal utama Pendopo itu." ucap Rangga sambil mengangkat gelas yang sudah terisi arak manis." kata Patih Giling Wesi lagi. Kediamannya juga tak kalah indahnya dengan bangunan itu. "Silahkan. Rangga memandangi bangunan indah dan megah di depannya. Rangga minum sedikit dengan sikap Sopan. Sementara Intan Kemuning telah berlari masuk ke dalam keputrenan. dia hanya bisa angkat bahu saja. Tetapi karena Aki Lungkur sudah menerima. Dari situ dia merasa sedang berhadapan dengan seorang pemuda bangsawan.kudanya. "Oh. Rasa rindu yang menggebu ingin segera bertemu ibundanya. Dia menenggak habis arak wangi mahal itu. Sikap Rangga memang tidak seperti pendekar-pendekar lainnya. 'Terima kasih. Biasanya tokoh-tokoh rimba persilatan selalu tidak peduli dengan tata krama." kata Patih Giling Wesi. Mereka kemudian duduk melingkar menghadapi meja. "Mari silahkan masuk. Tentu saja aku tidak keberatan!" Aki Lungkur cepat menerima sebelum Rangga membuka suara. Seketika dia teringat sewaktu masih tinggal di Kadipaten. Anda berdua adalah tamu kehormatanku.

Diamatinya sebentar. Aki Lungkur segera menerobos masuk dan menutup kembali. "Apanya yang gawat?" tanya Rangga tidak mengerti. Rangga menoleh ketika pintu kamarnya diketuk dari luar." Rangga masih belum mengerti." Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya mengikuti para punggawa yang mengantarkan ke peristirahatan. Dia menyilahkan Rangga masuk. Rangga memandangi setiap ruangan yang dilewatinya. Bergegas dia membukanya. Rangga masih duduk di kursinya. Rangga mengernyitkan keningnya melihat pengemis tua itu seperti terburu-buru. "Gawat!" sahut Aki Lungkur. Di sebuah kamar yang indah dan luas.nyawa. dan segera pergi setelah tugasnya selesai. Rangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. dia pun bangkit melangkah mengikuti punggawa. yang jelas pandangan itu tertuju pada Rangga. Patih Giling Wesi menepuk tangannya dua kali. Dia hanya menatap laki- . Dua orang punggawa dat ang mendekat. Kedua punggawa itu kembali memberi hormat. Setelah mendapat anggukan dari Patih Giling Wesi. Mereka memberi hormat. Ki?" tanya Rangga. Indah sekali ruangan ini. dan memang kelihatannya Intan Kemuning juga tengah memandang ke arahnya. "Silahkan. Saat matanya menatap ke arah taman." perintah Patih Giling Wesi. punggawa itu berhenti. "Ada apa. "Antarkan tamu-tamuku ke tempat istirahatnya. dilihatnya Intan Kemuning tengah duduk di bangku taman sendirian. Aku Lungkur bangkit dan melangkah pergi ke tempat istirahatnya. Entah melihat atau tidak. "Patih Giling Wesi curiga padamu.

Aku membaca gelagat lain di balik niat luhur Patih Giling Wesi. Aki. Tak ada orang di seluruh Kepatihan yang tidak tertarik pada gadis ini." "Dia menduga begitu?" Rangga terkejut. "Hati-hatilah. Dia menduga kau anak Adipati yang hilang dua puluh tahun yang lalu." "Jangan berprasangka buruk. . "Patih Giling Wesi memerintahkan beberapa punggawa untuk menyelidiki asal-usulmu. Rangga kembali memandang ke arah taman." Rangga berusaha bersikap tenang. Niatnya yang tersembunyi memang baik. Yang penting aku sudah menganggapmu sahabat. Tapi aku yakin kau tidak akan menerimanya. Dia meminta Aki Lungkur untuk pergi beristirahat. Laki-laki pengemis tua itu kembali ke luar setelah berpesan macam-macam. hal apa yang akan dikatakan Aki Lungkur tadi. Bukankah kalian bersahabat?" "Aku tidak berprasangka buruk. Masa lalu yang tidak perlu diketahui orang lain. Dia tidak mau berteletele melayani segala macam prasangka. Aku tidak peduli siapa dirimu.laki tua itu tak berkedip. meskipun dadanya bergemuruh. 'Terima kasih. Rangga hanya mengangguk dan mengiyakan saja. Makanya aku segera ke sini menemuimu. Rangga tidak ingin menjadi seorang pendekar tanpa masa lalu. Gadis itu memang cantik. Kau seorang pendekar yang banyak dibutuhkan oleh kaum lemah. "Benar! Aku mendengar sendiri. Memang hatinya telah menduga." ucap Rangga. Sepeninggal Aku Lungkur." "Mengapa Aki memberitahuku?" "Karena kau baik." Rangga hanya tersenyum saja. Intan Kemuning masih duduk di sana memandang ke arahnya.

dua orang prajurit pasti ada di situ. "Satu saat nanti. Rasa-nya dia ingin seribu kali mendengamya. 'Tapi ada yang lebih indah lagi untuk dipandang. "Oh! Boleh. "Sepantasnya kau mendapatkan seorang pangeran yang gagah dan tampan. Rangga melangkahkan kakinya ke luar kamar. Matanya tajam mengawasi setiap tempat yang dilalui." Seketika wajah Intan Kemuning menyemburat merah dadu." "Siapa pangeran itu?" Rangga tidak menjawab." kata Rangga. Jiwa kebangsawanannya tetap tidak luntur. pasti ada seorang pangeran tampan dan gagah menghampirimu. Jantungnya jadi berdetak tidak beraturan." "Kapan?" "Satu saat nanti. . Dia tersenyum saja. Setiap sudut. Pujian Rangga mengena di hatinya." "Apa?" "Wajahmu. "Boleh aku duduk di sini?" tanya Rangga.Rangga sendiri sebenamya juga tertarik. "Indah sekali taman ini. Sikapnya tetap anggun meskipun selama beberapa hari ditempa dengan latihan-latihan keras oleh Saka Lintang." desah Rangga setelah duduk di samping gadis itu." sahut Intan Kemuning tergagap. boleh. "Adakah pangeran yang cocok untukku?" tanya Intan Kemuning ingin menegaskan." sahut Intan Kemuning. Dia tidak beranjak dari duduknya. "Ya. Ketat sekali penjagaan di Kepatihan ini. *** Intan Kemuning memandang Rangga yang melangkah menghampirinya.

. Hatinya berbunga-bunga.Beberapa saat mereka terdi am saling tatap.„.info/ http://cerita_silat. "Semoga aku yang menjadi pangeran itu. Intan.cc/ .com/ http://dewi-kz.. Kedua lengannya berkembang masuk ke dalam pelukan Rangga. "Oh. SELESAI Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel Convert : Abu Keisel Editor : Deeemart86 Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi.info/ http://kangzusi." bisik Rangga dekat sekali dengan wajah Intan Kemuning. Pelan-pelan Intan Kemuning menundukkan kepalanya.. Dan mereka memperketat rangkulan-nya." Intan Kemuning tidak mampu berkata-kata lagi.