PRS_002_-_Bidadari_Sungai_Ular

BIDADARI SUNGAI ULAR oleh Teguh S. Cetakan pertama, 1990 Penerbit Cintamedia, Jakarta Gambar sampul oleh Tony G.

Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa Izin tertulis dari penerblt Teguh S. Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Bidadari Sungai Ular 128 hal ; 12 x 18 cm
Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel Convert : Abu Keisel Editor : Deeemart86 Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/

1
Seekor kuda putih tinggi kekar berlari bagai kilat menyusuri tepian sungai. Bentuk sungai yang berliku-liku, seakan-akan bergerak bagai seekor ular naga yang menyusuri lereng dan bukit-bukit di sekitarnya. Oleh karena bentuknya yang mirip dengan ular naga, maka sungai itu dinamakan sungai ular. Kuda itu ditunggangi seorang wanita cantik dengan pakaian serba biru. Wajahnya basah oleh keringat. Sebilah pedang bertengger di pung-gungnya. Dia adalah Saka Lintang, anak angkat Geti Ireng, ketua gerombolan Panjl Tengkorak. Ditinggalkannya Lembah Tengkorak, setelah seorang pendekar muda yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti mengobrak-abrik partainya, Panji Tengkorak. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti. Episode: Iblis Lembah Tengkorak). "Hooop...!" Saka Lintang menarik tali kekang kudanya kuat-kuat. Kuda putih meringkik kencang lalu berhenti. Dengan gerakan ringan dan tangkas, Saka Lintang melompat dari kudanya. Ketika kakinya sampai di tanah, segera dijejakkan kakinya hingga tubuhnya melenting ke udara dan hinggap di pohon yang cukup tinggi. Saka Lintang bertengger pada sebuah cabang pohon, seraya matanya mengawasi bagian hulu sungai. Bibirnya tersenyum kctika sebuah perahu besar dengan layar lebar mulai terlihat. Di ujung tiang layar, berkibar selembar bendera bergamhar bunga melati yang dilingkari rantai. Dari lambang gambar bendera, dapat dipastikan kalau kapal layar itu milik seorang saudagar kaya dari Kadipaten Balungan. Sebuah Kadipaten kecil di wilayah Timur kerajaan Singasari yang berpenduduk cukup makmur. "Suiiit...!" Saka Lintang bersiul nyaring yang disertai tenaga dalam.

Mendengar siul yang bergema itu, serentak dari rimbunan semak-semak tepi sungai bermunculan empat buah perahu berukuran sedang, dikayuh oleh beberapa orang. Saka Lintang segera terjun diiringi gerakan salto beberapa kali, dan hinggap tepat di punggung kudanya. Gadis itu lantas menghentak tali kekang kudanya, lalu memacu ke arah perahu gerombalannya yang makin dekat. Ketika perahunya yang berwarna biru pekat itu telah menepi, Saka Lintang menarik tali kekang kuda, dan tanpa berpikir banyak dia segera melompat ke udara. Perahu yang telah siap menunggunya itu menerima tubuh Saka Lintang yang hinggap di tengah-tengahnya "Ayo, cepat! Kepung kapal layar itu!" teriak Saka Lintang. Enam orang laki-laki bertubuh kekar segera mengayuh dayung. Perahu itu pun meluncur deras mendekati kapal layar besar. Tiga perahu lain yang berwarna biru pekat pula, bergerak menyerang. Sedangkan di kapal layar besar itu tengah terjadi kesibukan. Beberapa orang telah siap dengan panah yang mengarah pada gerom bolan Saka Lintang. "Awas, panah!" teriak Saka Lintang ketika melihat anak panah meluncur deras. Saka Lintang pun mencabut pedangnya. Dengan cepat pedang itu telah berputar-putar bagai baling-baling. Anakanak panah yang meluncur cepat itu rontok seketika tersapu oleh pedang. Layaknya sebuah payung yang melindungi dari serangan hujan. Empat perahu Saka Lintang makin dekat ke arah kapal layar. Sementara anak-anak panah terus meluncur mencari mangsa. Namun anak buah Saka Lintang mudah saja merontokkannya. Saka Lintang tersenyum melihat keberhasilan anak buahnya itu. "Serang...!" teriak Saka Lintang nyaring. Mendengar abaaba itu serentak anak buah Saka Lintang yang berseragam biru pekat berlompatan ke atas kapal layar. Gerakan

Jelas mereka bukan orang-orang sembarangan. "Hamba menemukan satu peti berisi perhiasan emas dan perak. Dibungkukkan badannya sedikit di de-pan Saka Lintang yang berdiri angkuh. Anak buah Saka Lintang yang berjumlah kira-kira dua puluh orang itu segera mengerjakan perintahnya. Saka Lintang dan pasukannya berhasil menguasai kapal layar. Tuan Putri. Memang orang-orang di atas kapal bukan tandingan Saka Lintang dan anak buahnya. Kesibukan kembali terjadi." sahut laki-laki yang dipanggil Codet Memang di pipi kanannya terdapat guratan panjang sehingga menambah seram wajahnya. Sementara pertarungan kini bergejolak di atas kapal layar. Codet?" tanya Saka Lintang datar. "Buang semua mayat ke sungai!" perintah Saka Lintang. Diseret dan dilemparkan seluruh mayat ke sungai.mereka sangat ringan dan cepat. Saka Lintang mengamuk bagai banteng terluka. Dimasukkan pedangnya ke dalam sarung di punggung. pindahkan semua barang berharga ke perahu kita!" perintah Saka Lintang. Dan memang. 'Tuan Putri ingin melihat- . "Ada apa. "Bagus. Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan wajah ditumbuhi cambang mendekati Saka Lin¬tang. Matanya tajam mengawasi sekitar geladak kapal yang penuh oleh darah. Sekejap saja permukaan sungai telah berubah warnanya menjadi merah oleh darah. Kedua tangannya berada di atas pinggang. Beberapa lawan malah menyelamatkan diri dengan terjun ke sungai. Banyak sudah lawan yang telah berjatuhan. Tubuh-tubuh mulai ambruk bergelimang darah menyusul suara jeritan hasil kelebatan pedang Saka Lintang. Rata-rata mereka memiliki ilmu silat cukup tinggi. Sebilah golok besar tergantung di ping gangnya. "Hoi! Angkat semua yang berharga!" teriak Codet keras.

Saka Lintang tersenyum-senyum sendiri. Rasanya tidak mungkin Kadipaten memiliki kapal seindah ini. Hanya sebentar saja Saka Lintang telah menelusuri bagianbagian kapal. Kenapa harus dipiklrkan? Yang penting aku suka kapal ini!" dengus Saka Lintang dalam hati. Tapi kenapa bendera kapal menunjukkan milik saudagar Gantar dari Kadipaten Balungan? Atau mungkin kapal ini telah dijual oleh saudagar itu kepada bangsawan kerajaan? "Ah! Masa bodoh. Mulutnya tak henti-hentinya berdecak kagum. Atau paling tidak putri bangsawan. Codet mengikuti dari belakang." jawab Codet sambil membungkukkan badan. Kapal layar ini tidak terlalu besar. Di dalam bilik ini. Saka Lintang merasa bagai putri raja. bawa pulang!" Codet berlalu setelah sebelumnya memberi hormat Saka Lintang melangkah memasuki bilik kapal kembali. "Turunkan bendera kapal. Bilik itu memang cukup indah. "Hamba siap menjalankan perintah. Saka Lintang tidak menyahut. bagaikan peraduan seorang bangsawan. Rasanya sayang kalau kapal ini mesti dibakar seperti yang sudah-sudah. ganti dengan bendera kita!" perintah Saka Lintang. Dia sangat terkesan ketika masuk ke sebuah bilik dalam kapal.lihat?" ujar Codet sambil membungkuk lagi. Dijatuhkan tubuhnya ke atas pembaringan yang berlapiskan kain sutra lembut. Dia ingin memiliki kapal . Dilangkahkan kakinya dengan angkuh melewati laki-laki tegap dan kasar itu. "Hamba. "Codet!" panggil Saka Lintang. Saka Lintang menduga. baru sekarang dia mendapat sebuah kapal layar yang mengagumkan. kapal layar ini pasti milik seorang bangsawan kaya. Sungguh nyaman berada di pembaringan ini. Selama malang melintang menguasai sungai ular ini. Tuan Putri." "Kemudian kapal ini.

Dia membungkuk sedikit memberi hormat... arak buatan desa Cacah. Codet muncul setelah pintu terbuka.. Perhiasannya semua dari emas. "Hm.!" Saka Lintang tertawa sambil berteriakteriak bagai orang glla. "Masuk!" bentak Saka Lintang karena merasa terganggu kenikmatannya. siapa dia?" tanya Saka Lintang mengerutkan kening. Kepalanya terangguk-angguk beberapa kali.Ha ha ha. Kemudian muncul dua orang laki-laki mengapit seorang wanita muda berusia sekitar tujuh belas tahun. Cantik dan berkulit kuning langsat. Tanpa terasa. "Ada apa lagi?" tanya Saka Lintang kembali memasang sikap angkuh. Pakaiannya dari sutra halus." gumam Saka Lintang sambil menuang arak ke dalam gelas perak. gelas peraknya telah kosong. Basah sudah tenggorokannya oleh arak. Arak ini memang pilihan kaum bangsawan. Dia duduk di kursi berukir di samping meja pualam itu. "Hamba menemukan seorang wanita bersembunyi di balik tumpukan peti. Wajahnya menyimpan rasa takut yang dalam.. Dia telah menenggak habis arak itu. akulah ratu sungai Ular ini! Bidadari sungai Ular. . Tawanya belum berhenti. Harganya hanya terjangkau oleh orangorang kaya.. Arak desa Cacah memang telah terkenal kenikmatannya. "Hm. Codet menjentikkan jarinya.. Dengan kapal ini dia bisa lebi h leluasa menjadi penguasa sungai Ular. Dihampirinya sebuah meja terbuat dari batu pualam.. Matanya memperhatikan guci arak." sahut Codet. Saka Lintang menoleh ke pintu ketika diketuk dari luar.ini. Saka Lintang menari-nari berputar mengelilingi bilik kapal. "Ha ha ha. Sungguh tinggi seleranya..

. Tapi Intan Kemuning ingin menikmati perjalanan melalui sungai Ular bersama kapal yang baru di beli ayahnya untuk pesiar. gerombolan perom-pak membegal kapal itu. Pengawalnya yang berjumlah tidak kurang dari tiga puluh orang tewas semuanya.. tidak dapat berbuat apa-apa. Wanita muda itu tidak menjawab. *** Kapal mewah terus melaju menyusuri alur sungai Ular .. Tidak diduga sama sekali. Tapi berusaha mengangkat kepalanya pelan-pelan." jawab wanita muda itu tergagap. Ketika matanya tertumbuk pada Saka Lintang.. Intan Kemuning mulai terisak. Mukanya pucat dan tubuhnya gemetar.." "O. Ketakutannya kian sangat. tubuhnya seketika mengejang. Padahal orang tuanya sudah melarang. Jadi wajar saja kalau di a begitu ketakutan melihat para perompak mengganas di kapalnya. "Aku. rupanya kau putri seorang patih? Tidak seharusnya putri seorang patih kerajaan seperti tikus kena gebuk begitu!" 'Tolong bebaskan aku. aku berjanji tidak akan mengatakan apa-apa pada ayahanda. Dia sungguh sangat menyesal ikut dengan kapal ini. aku Intan Kemuning. kan? Siapa kau?" dengus Saka Lintang mulai kesal karena wanita itu diam saja.!" Saka Lintang tertawa gelak. Saka Lintang kembali mengamati wanita muda itu. Intan Kemuning yang sehari-harinya tinggal di tembok kebangsawanan. Intan Kemuning telah dibujuk agar pulang bersama-sama saja tewat jalan darat. "Kau dengar pertanyaanku. Dia tidak pernah belajar ilmu silat." rengek Intan Kemuning. Sedangkan awak kapalnya mencari selamat dengan terjun sungai. "Ha ha ha. "Siapa kau?" tanya Saka Lintang. "Aku putri patih kerajaan Galung. Codet menutup pintunya lagi.Saka Lintang memberi isyarat agar anak buahnya keluar.

Matanya tajam menatap wajah Intan Kemuning yang tertunduk. "Apa enaknya? Kau akan dijajah laki-laki. Intan Kemuning hanya tertunduk saja." sahut Intan Kemuning pelan. Intan Kemuning hanya bisa menerima nasib saja menjadi budak kepala perompak itu." "Bodoh! Itu artinya kau sudah dijajah laki-laki. Sementara di dalam bilik kapal mewah. Punggung yang terbuka itu terasa nikmat setelah Intan Kemuning memijitinya. Saka Lintang tengah berbaring tengkurap dengan punggung terbuka. Beliau menginginkan aku menjadi seorang wanita bangsawan sejati. Dia dengan terpaksa harus mengikuti perintah Saka Lintang yang menjadi pemimpin perompak sungai Ular. tahu!" Saka Lintang jadi terhenyak hatinya. "Pijatanmu enak juga.diiringi empat perahu gerombolannya.barang berharga dan djkawal oleh empat orang. Saka Lintang yang hidup dari dibesarkan di lingkungan keras. Dalam kamus hidupnya. "Kau bilang tadi bahwa kau anak patih. Perhiasan yang melekat di tubuhnya juga sudah ditanggalkan. istri harus pintar memijat. Dia tidak terima kaumnya jadi bulan-bulanan kaum lelaki. sangat terkejut mendengar kata-kata Intan Kemuning. Katanya." polos sekali jawaban Intan Kemuning. 'Tidak. Masing-masing perahu berisi barang. Siapa yang mengajari?" tanya Saka Lintang. tidak ada istilah perem puan harus tunduk pada kaum laki-laki. "Bibi Emban. Saka Lintang membalikkan badan dan merapikan pakaiannya kembali. "Kalau kau tidak berbuat macam-macam dan menuruti ." dengus Saka Lintang gemas. Apa kau tidak pernah belajar ilmu kanuragan?" tanya Saka Lintang. biar suami betah di rumah. Ayahanda tidak mengijinkan aku belajar ilmu-ilmu keprajuritan. "Aku tidak bisa menentang keinginan Ayahanda.

aku akan mengajarimu ilmu olah kanuragan dan ilmu-ilmu kesaktian lainnya. Nasibnya sekarang berada di tangan pemimpin perompak ini. "Kau seorang pemimpin perompak. Nyawa taruhannya!" jelas Saka Lintang. Hidupnya penuh kekerasan. Tangannya selalu dilumuri darah. Supaya kau tidak jadi wanita yang lemah. Saka Lintang bangkit dari pembaringannya. . Saka Lintang merasa seolah-olah dialah yang diinjakinjak kaum lelaki setelah mendengar per-jalanan hidup Intan Kemuning. kau sudah ketakutan setengah mati.. kau harus turuti kata-kataku!" kata Saka Lintang. Coba kau pikirkan! Baru lihat anak buahku yang hanya bisa main gertak saja. "Aku hidup di lingkungan laki-laki kasar dan brutal. dirinya dianggap "baik".tiba jadi iba melihat Intan Kemuning.? Intan Kemuning tidak sanggup membayangkannya. Tidak ada pilihan lain bagi Intan Kemuning kecuali menyanggupi kemauan Saka Lintang. Telinganya terasa dikilik. Tapi mereka semua tunduk pada perintahku! Berani menentang dan kurang ajar..kata-kataku. tapi mengapa kau baik padaku?" tanya Intan Kemuning tidak mengerti dengan sikap Saka Lintang. Untung kau tidak digagahi!" Intan Kemuning terlonjak kaget. Lebih-lebih setelah mendengar penuturannya yang polos itu. "Mereka tidak akan mengganggumu! Dengan syarat. Tubuhnya menggigll ketakutan. Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. Pikirnya. Hatinya berontak dan dengan seketika dia ingin segera nienjadikan Intan Kemuning seorang wanita yang kuat seperti dirinya. Kenapa m asih ada juga orang yang mengatakan dirinya baik? Apa tidak salah pendengarannya? Masih adakah kebaikan di hatinya? Dia sendiri tidak tahu mengapa tiba. membangkang sedikit saja bisa-bisa mati konyol! Atau malah dijadikan pemuas nafsu anak buah Saka Lintang.

Sebab selama hidupnya. 'Tapi. Codet muncul. apalagi memasak. segelas lagi buat dirinya. . "Aku tidak biasa minum arak. Ragu-ragu Intan Kemuning menerima segelas arak yang disodorkan buatnya. Tiba-tiba Intan Kemuning terbatuk-batuk dan berdahak beberapa kali. kecuali sanggup memasaknya sendiri!" potong Saka Lintang." sahut Saka Lintang kalem. "Maaf. Saka Lintang makin tertawa keras. semua minum arak! Tidak ada air minum. harus bisa minum arak!" paksa Saka Lintang. Sambil menahan napas. Intan Kemuning juga memandang ke arah pintu.Dilangkahkan kakinya mendekati meja. Saka Lintang tersenyum melihat cara Intan Kemuning minum arak. diminumnya arak itu sedikit. Saka Lintang menoleh ke pintu setelah diketuk dari luar. kepalanya terasa pening.. Menginjakkan kakinya ke dapur saja tidak pernah." ucap Intan Kemuning setelah reda batuknya. Hatinya hanya bisa mengeluh dan menyesali diri. lalu dituangkan ke dalam dua gel as pe-rak Satu gelas disodorkan pada Intan Kemuning. "Untuk jadi pengikutku. minum!" paksa Saka Lintang lagi." tolak Intan Kemuning. Wajahnya memerah dan matanya berair. Kenapa harus hidup dengan orang dan lingkungan yang sama sekali asing? Intan Kemuning tidak dapat mem bayangkan apakah dia bisa hidup dengan cara seperti ini. belum pernah dia minum arak! Mencium baunya saja... "Masuk!" teriak Saka Lintang. "Ayo. Intan Kemuning terdiam. Diraihnya guci arak. Intan Kemuning memejamkan matanya. "Lama-lama kau akan terbiasa." "Di istanaku. Tangannya gemetar memegang gelas itu. aku tidak bisa.

Dari sini Intan Kemuning mulai bersimpati pada wanita yang usianya tidak terpaut jauh dari dirinya itu. "Sebentar lagi kapal sandar. "Kau lihat. Tuan Putri. Intan Kemuning hanya menelan ludah saja. Saka Lintang. Nyalinya kecil. kemudian berbalik Pintu kamar kembali tertutup rapat. masih muda. mudah sekali jatuh simpati pada sikap Saka Lintang. Tuan Putri." "Tunggu!" cegah Saka Lintang melihat Codet akan berbalik." iapor Codet. Hatinya sedikit diliputi keraguan. Intan Kemuning yang polos. Dia hanya melihat suatu kelembutan dan kebaikan hati dalam diri Saka Lintang sebagai wanita yang tegar. Aku dan Intan tetap di sini Kalian bereskan semua barang-barang. Saka Lintang memandang Intan Kemuning yang masih duduk di tepi pembaringan." Codet membungkuk hormat." Saka Lintang menjentikkan jarinya. "Hamba. "Hm. akan berurusan denganku! Dia kini jadi adik angkatku!" ujar Saka Lintang keras. kalau ada yang berani mengganggu Intan Kemuning. laki-laki tadi hanya bentuknya saja yang kasar. *** . biar saja. Dia tidak yakin apakah mampu seperti Saka Lintang. Namun bayangan kekejaman di wajah Saka Lintang makin sirna dalam pandangan Intan Kemuning. cantik. Meski dia tadi sempat melihat bagaimana Saka Lintang membantai para pengawal Kadipaten dengan kejam. Codet membungkukkan badannya lagi. Tuan Putri. Dia selalu ngeri jika lihat tampang laki-laki yang kasar dan kejam."Ada apa?" tanya Saka Lintang. tapi mampu menguasai dan memerintah lakilaki bertampang kasar dan bengis." "Hamba laksanakan. "Pergilah! Laksanakan tugasmu!" Codet membungkuk lagi. "Beritahu pada semua anggota.

. Mereka takut terhadap Bi dadari Sungai Ular!" sahut Codet. apa akibatnya menentang kehendakku?" "Hamba... Dan selama seminggu itu Saka Lintang telah memberi dasar-dasar ilmu olah kanuragan." sahut Codet. "Kau tidak berolok-olok padaku. "Kau tahu. Intan?" jawab Saka Lintang. Saka Lintang tidak pernah lagi ikut merompak kapal yang lewat di sungai Ular." "Cukup!" sentak Saka Lintang memotong. Sejak itu pula. Codet?" tanya Saka Lintang melihat Codet tengah berm alas-malasan. . Apa Tuan Putri tidak salah mengangkat dia jadi adik?" takut-takut Codet bicara sambil ibu jari tangannya diarahkan pada Intan Kemuning.. "Maksudmu. "Benar. "Kau kupercaya untuk jadi wakilku.. Tuan Putri. Bukan untuk mengaturku! Paham?!" "Hamba mengerti. Berbahaya sekali buat kita kalau. Cukup keras latihan yang diberikan. Di sekelilingnya kecuali Saka Lintang.. Hampir-hampir Intan Kemuning tidak sanggup menjalaninya. Pemimpin perompak dipercayakan pada Codet. "Hari ini tidak ada kapal yang lewat. "Kau tidak keluar. Tuan Putri." Codet cepat-cepat menghormat. Tuan Putri. Codet selalu pulang membawa hasil. Hasilnya memang tidak mengecewakan. hanya laki-laki berwajah kasar dan sc-ram." "Bagus kalau kau tahu!" Codet melirik Intan Kemuning yang duduk di bangku bawah pohon. Sebuah buku bersampul hitam lusuh berada di tangannya. "Maaf. Dia itu seorang putri patih.Seminggu rasanya belum cukup bagi Intan Kemuning untuk menyesuaikan diri di lingkungan para perompak. Codet?" "Mana berani hamba mengolok-olok Tuan Putri? Bisabisa kepala hamba pisah dari badan. Agak jauh memang.

" jawab Codet. Dan sekarang jumlah gerombolan ini tidak kurang dari tiga puluh orang. Tapi hanya sekedar berkhayal. Semua lakilaki di tempat itu pasti berkhayal dapat menikmati kemulusan tubuhnya. Kemudian dia berjanji untuk selalu setia dan mengabdi pada gadis itu."Sekarang pergilah! Dan jangan coba-coba mengusik Intan Kemuning!" Codet membungkuk lalu pergi." kata Codet sambil mencomot sepotong daging rusa. Codet hanya menggerutu saja sambil membayangkan wajah Intan Kemuning. Dikhawatirkan Intan Kemuning akan jadi duri dalam daging! Codet sendiri dulu adalah seorang begal sebelum dikalah kan Saka Lintang. Tidak . Tapi justru baru kali ini mereka tunduk oleh seorang wanita! Codet menghampiri tiga orang temannya yang duduk melingkar menghadapi rusa panggang. Ketiga temannya mengikuti sambil tertawa-tawa. Tak ada orang yang tak tertarik dengan Intan Kemuning. "Cari hiburan!" Ketiga orang Itu tertawa seketika. Mereka tahu kalau Codet mengincar Intan Kemuning. Sebagai pelampiasan nafsunya. "Cari apa ke desa?" tanya yang lain. Sepuluh anak buahnya pun ikut dalam gerombolan ini. Mereka semua bekas begal yang biasa berkeliaran mencari mangsa di hutan-hutan atau merambah desa-desa. "Kalian ikut aku. Det?" tanya salah seorang. tapi takut kepada Saka Lintang. "Ke mana. "Ke desa. Matanya masih sempat melirik Intan Kemuning. dia sering pergi ke desa terdekat. Kehidupan seperti itu memang bukan hal yang asing bagi mereka. Codet melangkah pergi. Codet yakin kalau buku itu berisi dasar-dasar ilmu pukulan tangan kosong dan latihan pengerahan tenaga dalam. Bau harum menusuk hidung dan membangkitkan selera.

Mereka takut oleh aturan yang diberikan Saka Lintang.lebih. Ini jelas menyulitkan mereka. Hal inilah yang selalu mengganggu pikiran Codet. Apalagi jika nanti Intan Kemuning berkhianat. Intan Kemuning memang selalu di bawah lindungan Saka Lintang. oleh karena Intan Kemuning putri seorang patih. sudah tentu pihak Kadipaten tidak akan ringgal diam. Pikirnya. Codet menyayangkan pemimpinnya yang tidak menyadari kemungkinan yang akan berakibat fatal! *** .

Di Pendopo Kepatihan.2 Suasana di Kadipaten kerajaan Galung tengah dirundung duka. Sampai saat ini mereka belum memperoleh kabar berita sama sekali. "Hamba menerima Iaporan dari beberapa telik sandi. Dan betapa terkejutnya istri Patih Giling Wesi ketika . "Sendika. "Tamtama. Tiba-tiba langkahnya terhenti. kita berangkat sekarang juga ke sungai Ular!" perintah Patih Giling Wesi. "Cepat laporkan!" "Beberapa telik sandi yang hamba kirim untuk mencari keterangan tentang Putri Intan Kemuning. Gerahamnya sampai bergemerutuk dengan wajah merah padam. Sudah seminggu ini Patih Giling Wesi memerintahkan prajurit-prajurit pilihan untuk mencari kapal layar yang membawa putrinya. Istrinya terheran-heran melihat wajah suaminya yang merah padam. Patih Giling Wesi seperti orang kebingungan. Seorang tamtama berjalan tergopoh-gopoh menuju Pendopo. Gusti Patih." tamtama itu menuturkan dengan sikap hormat. Melangkah hilir mudik dengan hati diselimuti kegelisahan." jawab tamtama itu." tamtama itu memberi hormat. telah kembali pagi tadi. Gusti Patih. Gusti Patih. "Bedebah!" geram Patih Giling Wesi murka. "Kumpulkan prajurit pilihan. "Gerombolan Bidadari Sungai Ular sangat ganas. lalu melangkah mundur. ada apa?" tanya Patih Giling Wesi setelah tamtama itu mendekat memberi hormat. Patih Giling Wesi bergegas masuk ke kamar pribadinya. Dilaporkan bahwa kapal yang membawa Putri Intan Kemuning dirampok gerombolan Bidadari Sungai Ular. Matanya memandang ke depan Pendopo." lanjut tamtama itu lagi. Tidak peduli kapal siapa yang akan jadi sasaran.

.!" Rara Angken menekap mulutnya. "Kang Mas. Aku berjanji akan membawa kembali anak kita...." pamit Patih Giling Wesi setelah menarik napas panjang." "Oh. . Tenangkan hatimu. Rara Anken masih terisak. Telah lam a patih itu tidak menyentuhnya lagi. Perompak itu memang ganas. Berdoal ah agar anak kita selamat." lirih suara Rara Angken. "Intan. berada di kamar ini.. Pedih hati Patih Giling Wesi melihat istrinya menangis." Rara Angken tak kuasa lagi menahan air matanya.. Dia baru sadar kalau istrinya. Air matanya menganak sungai di pipi." Patih Giling Wesi menoleh.. tidak ada gunanya kau menangis. "Kang Mas. tapi firasatku mengatakan bahwa Intan Kemuning masih hidup. "Berdoalah pada Hyang Widi untuk keselamatan anak kita. Pikirannya terpusat penuh pada keselamatan putri mereka." lembut suara Patih Giling Wesi. anakku. "Aku akan mencari Intan Kemuning.. Rara Angken.suaminya mengambil pedang pusaka. "Untuk apa pedang itu?" tanya Rara Angken. 'Tapi mengapa harus membawa pedang pusaka?" "Beberapa telik sandi melaporkan kalau kapal yang membawa Intan Kemuning dirampok oleh Gerombolan Bidadari Sungai Ular... Dinda. "Dinda Rara Angken." sahut Patih Giling Wesi. terayun ke luar kamar.. sehingga tak sadar kalau istrinya sejak tadi memperhatikan tingkah lakunya. Nada suaranya bergetar penuh kecemasan. Namun kakinya melangkah tegap. "Aku pergi." ujar Patih Giling Wesi sambil mengelus-elus kepala dan bahu istrinya. Sementara sekitar lima puluh prajurit bersenjata lengkap sudah berbaris menunggunya di depan Pendopo.

Kepatihan kembali sepi setelah mereka ke luar dari benteng diiringi oleh mata beberapa penjaga yang terkesima.! Hiya. Pemuda itu mengenakan baju rompi putih yang lusuh. Kuda hitam mengkilat itu mendengus-dengus berlari bagai anak panah melesat cepat Kuda Patih Giling Wesi memang kuda pilihan. Di antara pengunjung kedai. Padahal mereka telah memacu kudanya secepat mungkin. duduk tenang seorang pemuda tampan yang tengah menghadapi guci arak. Sebuah jalan desa yang kanari kirinya berdiri rumah penduduk. Dia adalah Rangga. Derap langkah kuda terdengar bergemuruh meninggalkan kepulan debu bergulung-gulung. . Mereka terheran-heran melihat banyak prajurit yang sudah terkenal kedigjayaannya seperti akan perang. Di punggungnya bertengger sebilah pedang dengan gagang berbentuk kepala burung rajawali. "Hiya.!" Patih Giling Wesi meng-geprak kudanya agar lebih kencang lagi. Para prajurit bergegas menaiki kudanya masing-masing. mereka lewati.. Tetapi yang terlihat hanya kepulan debu saja. patih yang terkena! pemberang itu segera melompat ke punggung kuda dengan gerakan yang lincah. Pemuda itu tidak merasa terganggu oleh ulah prajurit kepatihan yang memacu kuda dengan cepat itu.. Tiba kini sebuah kedai mereka lewati. Semua orang dalam kedai menoleh. Padahal banyak orang dalam kedai bertanya-tanya dan mendugaduga. Tidak heran kalau para prajuritnya tertinggal di bela-kang.Seorang prajurit menuntun seekor kuda hitam tinggi kekar ketika Patih Giling Wesi tiba di depan Pendopo.. Patih Giling Wesi segera memacu kudanya dengan cepat diikuti oleh pasukannya.. Tanpa banyak basa-basi lagi. Semua orang yang berada di jalan segera menepi.

"Mereka mencari putri Intan Kemuning!" Semua orang di kedai terdongak dan menatap arah suara yang datang tiba-tiba itu. Kakek tua itu bersandar pada tiang kedai. Memang. "He he he. Bunga Kepatihan yang menjadi incaran dan impian putra-putra bangsawan dan punggawa kerajaan. Mereka hanya pemuda-pemuda yang besar mulut tanpa nyali sedikit pun." terdengar suara dari meja tidak jauh dari tempat duduk Rangga." sahut temannya.. Tapi jarang yang tahu kalau nama sebenamya adal ah Aki Lungkur. Yang memakai baju berwarna merah. Jelas ucapan . Dua anak muda duduk menghadapi empat guci arak. Patih Giling Wesi ikut serta... Atau paling tidak anak saudagar.Pendekar Rajawali Sakti." Aki Lungkur atau si Pengemis Sakti Tongkat Merah itu hanya terkekeh saja. Dari tongkat dan pakaiannya semua orang tahu dia adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah. Merah padam wajah kedua pemuda itu. "Seperti akan perang saja prajurit-prajurit itu. bernama Hanggara. 'Tidak biasanya. "Kecongkakanmu melebihi tingginya gunung. Mereka putra-putra para punggawa kerajaan. Dan semua orang tahu siapa Intan Kemuning. "Kakek gembel! Kau jangan bicara sembarangan!" bentak salah seorang dari dua pemuda tadi. Pasti ada sesuatu yang gawat. Ternyata seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah menyangga tubuhnya. Sedangkan yang berpakaian warna hijau bernama Rangkasa. tapi matamu buta! Kau tidak bisa melihat kejadian di sekelilingmu!" Aki Lungkur bergumam. Rangga melirik ke arah suara itu. hilangnya Intan Kemuning belum tersebar luas kecuali para prajurit pilihan. Dari pakaiannya dapat ditebak kalau mereka anak seorang bangsawan kaya. Dia tahu siapa dua pemuda congkak itu. Hanya tokoh-tokoh tertentu saja yang tahu nama aslinya.

Maka kalau berita itu sampai tersebar luas. Adi Gering!" Mereka pun memacu kudanya dengan cepat." sahut temannya. Kakang Badil. Tanpa diketahui orang-orang di kedai. "Kita harus laporkan segera pada Tuan Putri. Kalau kata-kataku salah. Mereka mendengar pembicaraan Aki Lungkur dan segera angkat kaki ketika kakek tua itu menghilang. Suara menggumam terdengar bagai lebah ditepuk sarangnya. Satu persatu pengunjung kedai berlalu pergi dari tempat itu. rupanya dua orang gerombolan Bidadari Sungai Ular ada pula di kedai itu. Patih Giling Wesi mempunyai banyak sahabat dari tokoh-tokoh rimba persilatan. Semua orang tahu kalau hal itu benar-benar terjadi. bukan tidak mungkin mereka akan membantu Patih Giling Wesi. Tapi. Rasanya sulit dipercaya bila putri seorang patih yang terkenal dengan julukan Singa Medan Laga bisa ditawan oleh gerombolan Bidadari Sungai Ular. Dan kini keadaan kedai menjadi sunyi. "Benar. Seorang pelayan tua sekaligus pemilik kedai menghampiri.Pengemis Sakti Tongkat Merah tertuju pada mereka. Kata-kata kakek tua tadi bisa jadi ada benamya tetapi patut dipertanyakan pula. maka gerombolan perompak itu bukan saja berhadapan dengan para prajurit tetapi juga dengan tokoh-tokoh sakti dunia persilatan. Hanggara dan Rangkasa saling berpandangan. Bahkan dua pemuda congkak sudah sejak tadi meninggalkan kedai. 'Pacu kudamu dan kita ambil jalan pintas. kalian boleh memancung leherku. Aki Lungkur dengan cepat melompat dan hilang dari pandangan mata." bisik salah seorang. Tinggal Rangga sendirian masih duduk menghadapi mejanya. kalau aku benar maka aku minta kalian membebaskan putri Intan Kemuning dari sarang Bidadari Sungai Ular!" Setelah selesai kata-katanya. . 'Tanyakan pada Gusti Rara Angken.

dua orang dari gerombolan Bidadari Sungai Ular. Pak Tua itu duduk di depan Rangga." lanjut Badil. Tuan?" Pak Tua menawarkan. kedua tangan Saka Lintang telah berada di pinggang. "Ada apa?" tanya Saka Lintang angkuh. Saka Lintang mengerutkan keningnya. Penuh dengan kesigapan. Dia melangkah dua tindak'Tadi hamba berdua minum-minum di kedai Pak Tua.. "Lalu?" desak Saka Lintang sudah bisa menebak "Di situ juga ada Pengemis Sakti Tongkat Merah.. Aku perlu teman ngobrol" sahut Rangga. Sambut ." jelas Badil ketika Saka Lintang telah berada di luar rumah.. Dua ekor kuda berpacu memasuki hutan di kaki lereng bukit Guntur. siapkan semua yang ada. mereka melompat turun setelah kuda yang mereka tunggangi berhenti di depan rumah terbuat dari kayu. Ketika pintu terbuka. "Kami punya berita penting. duduklah di sini. Penunggang kuda itu adalah Badil dan Gering.. "Tidak!" sahut Badil dan Gering bersamaan.. Dia yang menyebar kabar itu. "Kalau begitu." kata Badil segera membungkukkan badannya. Tuan Putri. "Tidak." Badil setengah berbisik Matanya menerobos ke dalam.'Tambah lagi araknya. Inilah markas gerombolan Bidadari Sungai Ular. Intan. Di situ hamba melihat serombongan prajurit berkuda dipimpin langsung oleh Patih Giling Wesi. Dengan tergesa-gesa Badil menghampiri pintu dan mengetuknya dengan keras. Tuan Putri.. "Kau takut?" cibir Saka Lintang. *** Matahari hampir condong ke Barat. "Katakan cepat!" "Menyangkut. Si gembel Itu tahu kalau Intan Kemuning ada di sini.

?" Intan Kemuning belum mengerti. aku heran saja. "Kakak Lintang. Dia takut Saka Lintang tersinggung. Dia mendengar nada cemas pada suara Gering. "Tidak.... Kadang-kadang dia harus berpikir lebih dulu untuk dapat mengerti. Sikapnya pun demikian. Tapi setiap kali akan bertanya. "Jumlah mereka banyak. Tapi di balik kekasaran-nya.. "Aku. Dia menghampiri Intan Kemuning yang menunggu di balai tengah-tengah ruangan. Tuan Putri. Dia tahu gelagat kalau Saka Lintang sudah membentak keras. "Ada tikus yang mencoba masuk.. Tuan Putri.. "Mereka hanya tikus!" bentak Saka Lintang. kadang-kadang lembut. "Hamba laksanakan. Kadang-kadang kasar. Intan Kemuning harus bisa menjaga diri dan berbuat apa saja yang dikehendaki Saka Lintang. di saat itu pula niatnya diurungkan." sahut Intan Kemuning tergagap. Intan Kemuning dapat melihat suatu pelampiasan kekesalan pada Saka Lintang. 'Tikus. Saka Lintang bergegas masuk ke kamar kembali.? Ha ha ha." jawab Saka Lintang lalu duduk di balai berhadapan dengan Intan Kemuning. "Aku." pelan suara Intan Kemuning.kedatangan mereka!" perintah Saka Lintang tegas... Yang dimaksud tikus tentulah orang.!" Saka Lintang tertawa gelak .. Bukan hanya kata-katanya saja yang sulit dimengerti.. "Mengapa kau memandangiku begitu?" tanya Saka Lintang risih dipandangi terus. "Yah. tidak apa-apa.." kata Gering.. Sebenarnya ingin sekali Intan bertanya. Bukan tikus sebenarnya.. Ketika kedua orang itu telah pergi. "Ada apa Kakak Lintang?' tanya Intan." cepat-cepat Gering membungkuk." "Apa yang kau herankan?" tanya Saka Lin¬tang. tikus bodoh yang cari mampus!" Intan Kemuning mulai mengerti.. Itulah Saka Lintang..

Bibirnya tersungging melihat Intan Kemuning mulai berlatih. . Saka Lintang melompat turun. Bibirnya tersenyum melihat anak buahnya telah siap menanti datangnya para prajurit kepatihan." sahut Saka Lintang. Dengan gerakan indah. Saka Lintang sedikit kagum pada Codet yang pandai mengatur anak buahnya. "Sudahlah. berjalan sepuluh orang dipimpin oleh Badil dan sepuluh orang lagi dipimpin oleh Gering. setelah kau selesai latihan tenaga dalam." ujar Saka Lintang setelah reda tawanya. Tampak sekitar sepuluh orang berjalan menuju sungai Ular dipirhpin oleh Codet. "Kakak Lintang mau ke mana?" tanya Intan Kemuning ketika Saka Lintang turun dari balai. Saka Lintang melangkah dan menoleh sebentar pada Intan Kemuning. "Ke luar! Aku akan kembali lagi jika kau sudah selesai berlatih. Di belakang mereka. Perdalamlah lagi agar lebih sempurna. Kenapa dia sampai tertawa gelak seperti itu? Namun dalam tawa itu. Aku lihat jurus-jurus pukulan tangan kosongmu sudah mantap. lalu keluar. Padahal kata-katanya tidak ada yang lucu. "Nah. berlatihlah sekarang!" perintah Saka Lintang. Lima belas orang berjaga-jaga di markas mereka.Intan Kemuning makin bingung melihat Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. tidak usah memikirkan aku! Yang penting. Saka Lintang melenting tinggi lalu membuat gerakan berputar beberapa kali di udara dan hinggap dengan manis di atap rumah. Intan Kemuning hanya mengangguk. Sebentar matanya mengawasi keadaan sebelum menutup pintu. bersemadilah!" Intan Kemuning mengangguk kembali. Intan Kemuning menangkap semacam kegetiran yang ditutup-tutupi di wajah Saka Lintang. sekarang giatlah berlatih. Mata Saka Lintang menatap lurus ke depan. "Ingat. Pandangannya berkeliling.

Saat kakinya mendarat di tanah, kem bali dilentingkan tubuhnya dan hinggap di atas punggung kudanya. Segera dia menggebrak kudanya lalu melesat cepat menuju ke sungai Ular yang tidak jauh dari lereng bukit Guntur markas Saka Lintang sekarang ini. Sungai Ular memang indah dipandang, namun menyimpan keganasan yang luar biasa. Sebentar saja Saka Lintang telah sampai di sungai Ular mendahului anak buahnya. Matanya yang bulat bening memandang sekitar sungai yang tenang. Setenang sikapnya saat ini. Codet menggerak-gerakkan tangannya ke atas ketika mereka telah sampai di sungai itu. Dengan seketika anak buahnya berpencar masuk ke dalam semak-semak dan ke balik bongkahan-bongkahan batu. Kini di tepi sungai tersisa empat orang. Mereka semua memang terlatih baik dalam menguasai daerah sekitar sungai Ular. Maka dal am sekejap saja tidak ada orang yang terlihat. Mereka bagaikan lenyap ditelan bumi. Pandai menyamarkan diri dengan alam! "Dengar...!" seru Saka Lintang tiba-tiba. "Suara kuda," gumam Codet. "Hm, siapa dia," gumam Saka Lintang. *** Suara kaki kuda kuda makin jelas terdengar. Saka Lintang mengerutkan keningnya. Dia hanya mendengar langkah dari satu ekor kuda saja. Matanya langsung melirik Badil. "Hamba akan menyongsong, Tuan Putri!" ujar Badil mengerti maksud lirikan Saka Lintang. Badil dengan cepat melompat ke kudanya. Segera digebahnya kuda itu. Dengan cepat kuda yang ditunggangi Badil sudah tidak terlihat lagi. Lenyap di balik rimbunan pepohonan. Badil memacu kudanya menuju arah datangnya suara kaki kuda.

Tiba-tiba ditarik tali kekang kudanya dan seketika tubuhnya melontar tinggi. Kakinya dengan sigap hinggap di sebuah batang pohon yang tinggi. Matanya dengan seksama berkeliling. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada seekor kuda yang ditunggangi seorang pemuda. Tampak dua bilah pedang bertengger di punggungnya. "Kala Srenggi," desis Badil mengenali penunggang kuda itu. Badil menunggu beberapa saat sampai Kala Srenggi mendekat. Kemudian dia meloncat turun ketika Kala Srenggi tepat di bawah pohon yang dinaiki Badil. Kala Srenggi dengan tangkas melompat dari kudanya ketika merasakan ada penyerang gelap dari atas. Pedang Badil segera membabat namun luput Dia kecewa. Padahal dia yakin penunggang kuda itu akan pecah kepalanya tersambar pedang. Yang didapati hanya tempat kosong saja, "Licik!" dengus Kala Srenggi ketika kakinya menjejak di tanah. "Kau juga lebih licik dariku, Kala Srenggi," balas Badil. "Siapa kau?' tanya Kala Srenggi yang heran melihat penyerang gelapnya tahu tentang dirinya. "Aku Badil. Macan Gunung Sinai!" sahut Badil angkuh. "Hm..., Macan Gunung Sinai sampai nyasar ke bukit Guntur," gumam Kala Srenggi mencibir. "Ada urusan apa kau datang ke sini?" tanya Badil. "Aku hanya lewat," jawab Kala Srenggi acuh. "Tidak seorang pun diijinkan masuk ke bukit Guntur!" "He! Sejak kapan aku...." Kala Srenggi belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Badil telah menyerang dengan cepat. Kala Srenggi agak kewalahan menghindari serangan-serangan pedang Badil yang cepat dan berbahaya. Macan Gunung Sinai memang bukan nama kosong, dan Kala Srenggi tahu itu. Dengan cepat dia bersalto di udara. Tangannya segera menarik pedang

kembarnya. Sret! Traaang! Dua pedang berbenturan di udara. Pijaran api akibat benturan pedang berlompatan bersamaan dengan terpentalnya dua orang itu. Mereka memang bukan orang sembarangan. Tanpa kesulitan apa-apa, kaki mereka telah menjejak di tanah dengan lincah. Dua orang itu sama-sama kaget dan sama-sama merasakan kesemutan setelah pedang mereka beradu. Kini mereka sama-sama menyiapkan jurus-jurus selanjutnya. Sambil berteriak nyaring, mereka kem bali terlibat dalam pertarungan sengit. Masing-masing ingin segera menjatuhkan. Namun sampai lima jurus berlalu, belum ada yang terdesak. Memasuki jurus selanjutnya masih tetap seimbang. Beberapa kali ujung pedang mereka hampir menemui sa-saran satu sama lain. Namun semuanya masih dapat dihindari. Hingga pada suatu ketika, Kala Srenggi melompat mundur sejauh dua tombak sambil memasukkan pedang kembar ke sarung di punggungnya. Kini dikeluarkannya 'Aji Racun Merah". Melihat lawan tengah mengerahkan ilmu andalan, Badil pun tak ketinggalan dengan ilmu andalannya pula. Mereka sudah saling berhadapan siap menyerang dengan kesaktian masing-masing. "Hiya...!" "Hiya...!" Kedua orang itu melompat berbarengan. Kini kedua telapak tangan mereka bertemu di udara. Ledakan keras terjadi, disusul dengan terpentalnya dua tubuh. Kala Srenggi jatuh bergulingan di tanah beberapa depa. Sedangkan Badil tidak kalah parah. D ari hidung dan mulutnya ke luar darah. "Uhk!" Badil memuntahkan darah merah kehitaman. Sambil menahan rasa sakit di dadanya, Badil berusaha bangkit. Tubuhnya sempoyongan. Sementara Kala Srenggi juga berusaha berdiri. D ari sudut bibimya mengalir darah

segar. Tangan kirinya menghitam terkena ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil. "Setan! Salah satu di antara kita harus mampus!" geram Kala Srenggi. "Huh!" Badil hanya mendengus. Badil sadar kalau tubuhnya telah dialiri 'Racun Merah' dan hidupnya tak akan bertahan lebih lam a lagi. Kala Srenggi pun demikian. Dia terluka parah. Mereka samasama kepalang basah. Kembali ajian masing-masing mulai mengarah satu sama lain. "Berhenti!" tiba-tiba suara bentakan melengking nyaring. Namun terlambat! Kedua orang itu sudah kembali melompat dan beradu di udara. Kala Srenggi lagi-lagi bergulingan di tanah. Dari mulutnya menyembur darah kental kehitaman. Dia berusaha bangun, tetapi malah jatuh dan tak bergerak sama sekali. Mati. Kedua tangannya seperti hangus terbakar. Di pihak Badil, lebih mengerikan. Dia tergeletak dengan dada pecah. Darah bersimbah membasahi tubuhnya. Badil tewas seketika setelah tubuhnya tenanting di tanah. Sebuah bayangan biru berkelebat dan mendarat di tengah-tengah arena pertarungan tadi. Dia adalah Saka Lintang, kemudian disusul oleh Codet dan Gering. Kedua orang itu terkejut melihat Badil tewas dengan dada pecah. Saka Lintang malah tenang-tenang saja. "Hm, Kala Srenggi," gumam Saka Lintang. Gadis itu mengayunkan langkahnya mendekati mayat Kala Srenggi. Sebentar diamati dan dengan ujung kakinya dibalikkan tubuh Kala Srenggi. Tampak di bagian dadanya hangus terbakar. Tidak ada luka di tubuhnya. Juga tidak ada tanda-tanda Kala Srenggi masih hidup. Saka Lintang mengambil ranting, lalu menekan dada Kala Srenggi dengan ranting. Terkejut juga Saka Lintang ketika melihat dada Kala Srenggi yang mendadak ambrol setelah tersentuh ranting. Bagai ditiup angin saja! Dada Itu

Gering yang setiap hari selalu bersama-sama dengan Badil merasa tidak tega juga terhadap mayat temannya itu. Sebentar lagi gelap. Gering menatap Saka Lintang yang hanya terlihat bayangan bajunya saja di antara pepohonan." ucap Gering. "Tidakkah." sahut Codet. Tetapi untungnya. "Bagaimana?" tanya Saka Lintang menoleh pada dua anak buahnya. tinggalkan saja di sini!" Tanpa banyak bicara. Saka Lintang membalikkan tubuhnya.. Sungguh dahsyat ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil." sahut Codet. Tak ada seorang pun yang sedia menguburkannya. Dia kembali lagi lantas menggali tanah. Tanpa menghiraukan Codet lagi. kemudian melanjutkan langkahnya. Dia hanya berdiri dengan pandangan berganti-ganti dari Saka Lintang ke arah Gering yang tengah menggali dengan pedangnya. "Kalau begitu. Saka Lintang hanya melirik. mereka meninggalkan dua sosok mayat yang tergeletak di tanah. Sungguh tragis nasib mayatmayat itu. Codet bergegas mengham-\piri Gering dan membantu menguburkan mayat Badil." perintah Saka Lintang.. Gering .. Sampai selesai menguburkan Badil. Toh tadi dia juga sudah memerintahkan untuk mengubur mayat itu. 'Terima kasih. Saka Lintang melangkah cepat. 'Tidak ada waktu." sahut Codet." agak bergetar suara Codet. "Mati. 'Tuan Putri. mereka belum bicara. "Kuburkan kedua mayat ini... 'Tuan Putri yang memerintahku. Tuan Putri.kini berlubang besar tembus sampai ke punggung.. Kini malah Codet yang bimbang." "Bantu dia!" potong Saka Lintang cepat sambil menunjuk pada Gering.

Mereka memang tidak pernah mengurus mayat musuh. mereka tinggalkan tempat itu.menatap mayat Kala Srenggi. "Biarkan saja dia jadi santapan anjing hutan!" kata Codet Gering mengangkat bahunya. Meninggalkan salah seorang teman yang kini terbaring di dalam tanah. *** . Kini dengan hati lega.

"Siapkan prajurit!" perintah Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi pun telah turun dari kudanya lalu menghampiri sebuah batu besar yang menjorok ke sungai. Dan yang jelas kejadiannya di sungai Ular ini! "Rapaksa!" teriak Path Giling Wesi. Ada noda darah melekat di kalung itu.3 Matahari baru saja menampakkan diri. Didekatinya Patih Giling Wesi. Dia segera memberi hormat setelah tiba di depan Path Giling Wesi. Dia duduk di atas batu menatap ke arah sungai yang berliku. Patih Giling Wesi lantas menyambar kalung itu." kata Patih Giling Wesi. kita istirahat sebentar di sini." salah seorang tamtama segera mendekat. "Adya Bala. "Beritahu prajurit. Matanya mengamati sebentar." kata prajurit itu sambil menyerahkan sebuah kalung tanda keprajuritan. tiba-tiba terdengar . "Ampun. Hamba menemukan tanda keprajuritan di pinggir sungai. istirahat!" teriak tamtama Rapaksa keras. Patih Giling Wesi duduk di atas punggung kudanya dengan lesu. tapi tidak sedikit pun jejak kapal layar yang membawa putrinya ditemukan. Gusti Patih. Berarti telah terjadi sesuatu pada kapal itu. Sinarnya membias menerangi mayapada. Semalaman dia mencari di sekitar sungai Ular. "Rapaksa!" "Hamba. Mereka mencari tempat beristirahat dan membuka perbekalan. Rapaksa belum sempat menjawab. tibatiba datang seorang prajurit berlari-lari menghampirinya. Para prajurit serentak turun dari kuda masing-masing. Rapaksa berlari menghampiri. Belum sempat Patih Giling Wesi beristirahat banyak. Gusti Patih.

Dua kelompok itu hampir seimbang jumlah-nya.. Dia tidak lain adalah Saka Lintang. Patih Giling Wesi makin geram menyadari keadaannya telah terkepung.." "Adya Bala!" teriak Patih Giling Wesi memberi aba-aba." desis Patih Giling Wesi "Rupanya ada tamu agung berkenan mengunjungi wilayahku!" Patih Giling Wesi dan para prajuritnya terkejut mendengar suara yang tinggi menggema dibarengi pengerahan tenaga dalam yang sempurna. "Setan! Kembalikan putriku!" geram Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi cepat melompat ke arah lima prajuritnya yang tewas. Dada mereka tertancap tombak. Begitu prajurit bersiap. Mereka semua telah siap dengan senjata di tangan. "Intan Kemuning akan kukembalikan pada saatnya nanti. tidak semudah itu patih yang gagah.teriakan dan disusul dengan rubuhnya lima orang prajurit. Kelihatannya prajurit Kepatihan lebih banyak. Mereka semua memiliki tingkat kepandaian rata-rata di atas para prajurit pilihan sekali pun. bermunculan orangorang yang semuanya ber-seragam biru. "Bidadari Sungai Ular!" jawab Saka Lintang mantap. Rasa terkejut mereka belum juga hilang ketika tiba-tiba muncul seorang wanita cantik mengenakan pakaian serba biru. seketika itu pula dari rimbunan semak dan dari balik bongkahan batu. Dengan angkuh dia berdiri di atas batu tempat Patih Giling Wesi tadi beristirahat. Tapi bukan berarti mereka bisa dengan mudah mengalahkan gerombolan ini.. Sebuah tombak berwarna biru dengan tangkai berukir huruf yang rapi dan indah. "Ha ha ha. Dia mencabut sebatang tombak dari salah seorang prajuritnya yang sudah tidak bergerak itu. Serentak para prajurit yang lain bersiaga. "Bidadari Sungai Ular. "Siapa kau?!" bentak Patih Giling Wesi. Percuma saja kau kerahkan seluruh prajurit! Mereka hanya .

Maka pertempuran pun berlangsung sengit. Bahkan beberapa kali dia dapat membalas serangan itu. Kalau saja bukan Patih Giling Wesi." kata Saka Lintang meremehkan. Patih Giling Wesi berteriak melengking dan merubah permainan pedangnya. Bunyi senjata beradu dan teriakan-teriakan pertempuran terdengar membahana. sebuah bayangan berkelebat menghadang. Patih Giling Wesi tidak membuang-buang waktu lagi. Sedang dari pihak Bi dadari Sungai Ular. Beberapa prajurit telah banyak yang roboh. Patih gagah.mengantar nyawa ke tempat ini!" ujar Saka Lintang pongah. Sementara itu pertarungan semakin sengit. Gering berdiri dengan pedang terhunus. "Kalian perompak liar. Tidak heran kalau Gering dapat mengimbangi permainan pedang Patih Giling Wesi. "Huh! Sontoloyo!" dengus Patih Giling Wesi. Yang terlihat kini hanya bayangbayang pedang yang bergulung-gulung menyelimuti tubuh Gering. Tetapi belum sampai dekat Saka Lintang. Pertarungan makin seru dan tak terlihat lagi oleh mata biasa. Menyadari lawan telah menggunakan jurus yang ampuh. Segera diperintahkan prajuritnya untuk menyerang. Pikirannya hanya terpusat pada keselamatan putrinya. Jerit-jerit kematian makin sering terdengar menyayat dari pihak prajurit. dan harus dimusnahkan!" geram Patih Giling Wesi. Gering pun segera merubah jurusnya pula. Sudah tak tertahankan lagi amarah Patih Giling Wesi. "Tidak semudah itu. Tubuh mereka seperti lenyap ditelan gulungan sinar . Namun yang dihadapinya adalah Gering yang cukup tinggi ilmunya. belum ada satu pun yang tewas. Patih Giling Wesi tak ketinggalan dengan cepat melompat menerjang Saka Lintang. Dia menerjang dengan jurus-jurus mautnya. mungkin kepalanya sudah terpisah dari badan tersambar pedang Gering yang berkelebat cepat.

.. "Aaaakh. golok itu berat sekali. Hanya Gering yang kelihatan terluka parah dan kini dirawat oleh anak buah Saka Lintang. Gadis ini cukup memaklumi keadaan Gering karena lawannya memang tangguh. Tepat seperti dugaan Saka Lintang. Kelihatannya. Kedudukan Codet pun kelihatan makin kewalahan. tiba-tiba Codet menerjang masuk. Hingga pada suatu kesempatan.!" tiba-tiba Gering berteriak memekik.. "Sebaliknya kau akan kukirim ke neraka!" sembur Codet. Benda tajam itu berkelebat cepat dan mengarah ke bagian-bagian tubuh Patih Giling Wesi. Namun ketika berada di tangan Codet seperti ringan saja. Sementara Patih Giling Wesi terus mendesak dengan penuh nafsu. Di saat yang genting itu... Gering segera mundur sambil menekap dadanya yang robek. Patih Giling Wesi harus lebih hati-hati lagi. Tampaknya prajurit-prajurit Kepatihan makin kewalahan dan terdesak.!" Codet menjerit keras. Codet mencabut golok besarnya.. Rupanya ujung pedang Patih Giling Wesi telah mengenai sasarannya. "Aaaakh. Saka Lintang hanya mengamati saja sambil bibimya menyungging senyum. Serangan-serangan yang dibangun Codet memang lebih dahsyat dan berbahaya di bandirig Gering. "Majulah. "Kau akan bernasib lebih buruk dari temanmu!" dengus Patih Giling Wesi. hanya dua yang tewas. dada telah basah oleh darah. Saka Lintang sudah bisa menduga kalau sebentar lagi Codet akan jatuh. . Ketika tubuhnya keluar dari gulungan sinar pedang.pedang yang menimbulkan suara bersiutan. Jumlah mereka makin berkurang.. setan!" geram Patih Giling Wesi. Gerakan-gerakan Codet makin ngawur. Sedang dari pihaknya. Di luar arena pertarungan. Dia merasakan angin sambaran golok lawannya menimbulkan hawa panas.

bahkan dengan cepat mendahuluinya. Gerakannya cepat. tubuhnya mencelat ke udara dan menghadang serangan Patih yang mengamuk. Setiap pedangnya berkelebat. Sebentar saja. Dia pun dapat mematahkan serangan lawan sebelum sampai. Sepuluh orang sudah roboh di ujung pedang Patih Giling Wesi dalam tempo yang singkat. Codet limbung sebentar. Memang tidak sia-sia dia dijuluki Singa Medan Laga. Patih Giling Wesi dengan cepat melompat ke tengah-tengah prajurit-prajuritnya yang sedang kewalahan menerima gempuran yang datang bagai air bah. akulah lawanmu!" teriak Saka Lintang. Prajuritprajurit yang semula kendor semangatnya. Mereka seperti memberi peluang bagi masing-masing pemimpin untuk berlaga. lalu ambruk tak berkutik. "Huh!" Patih Giling Wesi mendengus sambil menyemburkan ludahnya.Pedang Patih Giling Wesi berhasil menembus dada Codet. Masing-masing kelompok melompat mundur. sukar diduga. Darah segar segera muncrat ketika pedang itu ditarik ke luar. Patih Giling Wesi menatap tajam pada Saka Lintang yang sudah menghunus pedangnya. . 'Patih Giling Wesi. namun kelihatan sekali kalau Patih Giling Wesi bertarung menggunakan otak yang dingin. dua puluh mayat sudah menggeletak. Apalagi orangorangnya makin banyak yang tumbang. Seketika pertempuran terhenti. pasti ada seorang lawan yang ambruk mandi darah. seketika bangkit kembali melihat pemimpinnya mengamuk bagai banteng terluka. Melihat orang-orangnya kewalahan menghadapi amukan Singa Medan Laga. Prajurit Kepatihan tinggal lima belas orang jumlahnya. Patih Giling Wesi mengamuk membabi buta. Meskipun hatinya terbakar am arah. Dia cepat membaca gerakan lawan. Saka Lintang jadi geram. Seperti orang kesetanan layaknya. Bersamaan dengan itu.

Tapi tak disangka-sangka. "Bocah setan!" geram Patih Giling Wesi merasa terhina. "Awas kepala!" teriak Saka Lintang tiba-tiba. putrimu yang cantik akan jadi ratu setan!" dia langsung menyerang dengan jurus-jurus berbahaya. Patih Giling Wesi terkejut Cepat-cepat dia menggerakkan pedangnya melindungi kepala. gerakan yang menyambar kepala hanya tipuan belaka. Sejak tadi sudah diperhatikannya jurus-jurus Patih Giling Wesi. mentah dan rontok di tengah jalan oleh gadis ini. dia harus mengerahkan tenaga dan kepandaiannya.. Saka Lintang melayaninya sambil tertawa -tawa. Dan memang. Dirubahnya serangan dengan menggunakan jurus-jurus andalan. Tetapi dalam menghadapi tokoh rimba persilatan seperti Saka Lintang ini. atau kau harus mati di ujung pedangku!" dengus Patih Giling Wesi. "Ha ha ha. Trang! . Sedangkan sasaran sesungguhnya adalah perut. kali ini Saka Lintang tidak mainmain lagi. Jurus yang digunakan patih ini memang dahsyat. Dia hanya menghindar dan menangkis dengan gerakangerakan indah memukau. Patih Giling Wesi tidak mau menyerah begitu saja.. "Aku tidak akan membunuhmu. Semua serangan-serangannya. Sedikit saja lemah.. Dengan cepat pedang Saka Lintang berputar mengarah ke perut yang lowong. Patih Giling Wesi memang tangguh dalam olah keprajuritan."Serahkan anakku. Patih Giling Wesi mulai merasa sulit menghadapi. Untung Patih Giling Wesi cepat menarik pedangnya. Dia telah tahu kelebihan dan kelemahannya. penuh gerak tipu yang berbahaya. Patih Giling Wesi. Mengingat dirinya adalah seorang patih yang disegani. Saka Lintang sengaja tidak membalas serangan lawan. akibatnya sangat fatal. Aku hanya ingin memberirnu sedikit pelajaran agar kau tidak lagi pongah!" kalem dan tenang sekali suara Saka Lintang.

Daun-daun segera berguguran terkena sambaran angin kelebatan pedang yang menimbulkan suara gemuruh bagai angin puting beliung. Batu-batuan dan pohon-pohon yang terkena pukulannya. Kombinasi antara ilmu pedang dengan jurus 'Pukulan Geledek' yang dikeluarkannya kini. perut itu pasti sobek. Semula Saka Lintang menduga kalau kepandaian Patih Giling Wed berada jauh di bawahnya. Dalam hati. Patih Giling Wesi belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Saka Lintang mengakui kehebatan patih ini.Dua pedang berbenturan tepat di depan perut Patih Giling Wesi. Mereka m asih seimbang meskipun telah mengeluarkan jurus-jurus pedang tingkat tinggi. pukulan tangan kiri Saka Lintang juga mencari sasaran. Batang-batang pohon segera tumbang terkena tebasan pedang Patih Giling Wesi. Selain pedang yang menyambar-nyambar. sangat dahsyat. Tebasan dan tusukan pedangnya makin berbahaya dan menimbulkan tenaga dorongan yang dahsyat. Semua sama-sama dahsyat. Patih Giling Wesi dapat bergerak melebi hi kecepatan angin topan. Dengan 'Ajian Sayuti Angin'. Masing-masing belum ada yang terdesak. tapi kelihatannya belum ada seorang pun yang terdesak. Terlambat sedikit saja. Tiga puluh jurus telah berlalu. *** Pertarungan antara Patih Giling Wesi dengan Saka Lintang telah meningkat pada taraf yang genting. . Sedangkan Patih Giling Wesi juga sudah mengeluarkan kesaktiannya. Seratus jurus telah berlalu dengan cepat. Saka Lintang kini meningkatkan permainan jurusjurusnya. "Setan! Ilmu apa yang dia pakai?" dengus Saka Lintang dalam hati. Kenyataannya sangat tak disangka sama sekali. langsung hancur berkeping-keping.

Dan kini dia telah siap dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Sulit dipercaya! Pedang yang sudah sedernikian dekat tangan Saka Lintang yang bergerak lemah. tangan kanan Saka Lintang melayang mengarah dadanya. Buru-buru gadis itu memasukkan pedang ke dalam sarungnya. Matanya mengerling genit disertai gerak-gerak bibir yang mengundang birahi. Tangannya yang sudah terulur cepat. Tidak sebanding dengan gerakan tangan yang lemah itu! Patih Giling Wesi segera menyadari kalau gerakan lemah gemulai yang mengundang birahi itu sangat berbahaya dan dapat mematikan lawan. dengan lembut ditarik. tidak bisa membabat-nya putus. Patih itu berusaha untuk tidak terpengaruh pada setiap gerakan tubuh yang indah itu. Tapi. "Setan!" dengus Patih Giling Wesi dengan cepat melompat sambil membabatkan pedangnya. Dia seperti menari. "Mampus kau!" bentak Patih Giling Wesi kembali melancarkan serangan mautnya... Hatinya mendadak bergetar melihat tubuh indah meliuk-liuk dan sikap yang mengundang birahi.. Dan. Perih dan bergetar ke seluruh persendian tangannya. Patih itu terkejut bukan kepa-lang. Tangannya seperti dijalari jutaan semut yang menggigit. tangan Saka Lintang selalu bergetar bagai tersengat ribuan kala berbisa.. Padahal tebasan pedang patih itu sangat cepat.. "Ah!" Saka Lintang memekik manja. . dengan cepat dan tak terduga sama sekali. Namun tiba-tiba. Sedapat mungkin dihindarinya benturan senjata. Sesaat Patih Giling Wesi terpana.Setiap kali pedangnya membentur pedang Patih Giling Wesi.. Trang! Trak! Saka Lintang melompat mundur dengan wajah terkejut. Meliuk-liuk dengan indahnya dengan tangan bergerak-gerak lemah gemulai. Bagian ujung pedangnya sempal. Gerakan-gerakan tubuh Saka Lintang jadi berubah. Bahkan lewat begitu saja.

Itulah kelebihan dari jurus Tarian Bidadari yang membuat lawan jadi frustasi karena mengira serangannya berhasil. Setiap kali pedangnya berkelebat dan dipastikan akan menebas lawan. Seketika dia tersentak kaget. Tetapi serangan dahsyat itu tidak pernah dapat menyentuh tubuh Saka Lintang."Ouw!" Saka Lintang hanya mendesah manja sambil menggerakkan tubuh dengan indah. Di samping harus menghadapi jurus aneh itu. Mendadak kepala Patih Giling Wesi terasa pening..!" desisnya. Patih Giling Wesi memutar otak. namun dengan manis Saka Lintang berhasil mengelak. Ujung pedang patih itu hanya menyerempet beberapa ram but saja. Patih Giling Wesi makin kewalahan. mencari kelemahan jurus aneh yang dimainkan lawannya itu. tepukan lembut itu menyerempet bahunya. . Tangan halus gemulai itu mendadak hampir menepuk pundaknya. Patih Giling Wesi merasakan suatu hawa panas menyebar. Namun dari anginnya sudah dapat dirasa. Untung saja patih itu masih memiliki sedikit kewaspadaan sehingga tepukan tangan Saka Lintang berhasil dihindari. "hey! Uts!" Tiba-tiba Patih Giling Wesi tersentak. "Huh! Ilmu setan mana yang dipakainya?" dengus Patih Giling Wesi. Segera Patih Giling Wesi mengerahkan hawa mumi ke seluruh tubuhnya. Daya pikat yang di pancarkan Saka Lintang begitu kuat Gerakan-gerakan patih itu jadi tidak teratur karena terpecah konsentrasinya. Sekuat daya Patih Giling Wesi menekan nafsu birahinya yang semakin berkobar-kobar. dia juga harus berperang dengan batinnya sendiri. "Racun. Tetapi tak urung.. Serangan Patih Giling Wesi yang bertubi-tubi mengarah pada bagian-bagian yang mematikan. Belum dapat dipastikan racun itu berbahaya atau tidak.

. Tubuhnya jadi terasa hangat. Patih Giling Wesi tidak dapat berpikir lebih banyak lagi. Yang jelas bisikan itu mengatakan tentang kelemahan jurus 'Tarian Bidadari'. Dalam hati Patih Giling Wesi mengatakan bahwa tidak mungkin bertarung sambil menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni. menahan napas!" bisik hati Patih Giling Wesi. Di saat Patih Giling Wesi dalam kebingungan. Bisikan yang entah datang dari mana. Tapi apakah mampu menahan napas sambil bertarung? Kalau hanya sepuluh jurus saja dia masih mampu. Patih Giling Wesi membuka lagi jalan darahnya setelah terasa racun yang terhisap tadi telah keluar dari tubuhnya. dia telah menghirup hawa racun yang disebar oleh telapak tangan Saka Lintang. Patih Giling Wesi seperti kehilangan akal dalam menghadapi lawannya kali ini. Sepertinya suara itu begitu dekat dan jelas. mendadak sebuah blsikan lembut terdengar di telinganya. racun bakal terhisap lagi! Untuk menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni juga terlalu besar resikonya. rasanya tidak mungkin. *** "Jangan hiraukan tangannya.Secara tidak l angsung.lahan rasa pening di kepala berkurang. Perlahan. Hawa murni itu telah menutup seluruh aliran darahnya. Tetapi lewat dari sepuluh. Tetapi kalau tidak begitu. Sementara Saka Lintang telah mulai lagi dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Bisa-bisa malah mati karena di dalam tubuh terjadi pertentangan dua hawa yang ber-lainan. Ya. "Jalan satu-satunya harus menahan panas. Patih Giling Wesi menatap Saka Lintang yang berdiri tenang dengan bibir menyungging senyum memikat. tetapi pandanglah matanya.

Tanpa ragu-ragu lagi. . Namun semuanya tertutupi oleh gerakan-gerakan lemah gemulainya. Bahkan beberapa kali ujung pedang Patih Giling Wesi hampir menembus perutnya. Hembuskan melalui mulut. Untuk bisa melakukannya. Dan benar saja. baru dua petunjuk saja. "Ikuti setiap gerak kakinya. Kian lama gerakannya menjadi kacau. tidak beraturan. Pedangnya terhunus ke arah pusar. Semangat timbul lagi. Merah pada wajah gadis itu menahan malu. "Ih!" Saka Lintang terkejut ketika ujung pedang patih itu berhasil merobek baju bagian perutnya. digunakan pernapasan perut di samping memandang mata lawan." bisikan itu terdengar lagi. Mungkin karena lawan telah terpengaruh oleh gerakan-gerakan yang mengundang syahwat itu. Mudah dan sederhana sekali petunjuk yang diberikan sehingga Patih Giling Wesi dengan cepat memahaminya. Cukup besar sayatan menggores bajunya. kelihatan Saka Lintang mulai kebingungan. Hatinya gembira. Setiap gerakan Saka Lintang selalu dapat dibaca olehnya.Arahkan pedang pada pusarnya. Dia sudah mulai merasakan kalau Saka Lintang menemui kesulitan. Saka Lintang mulai sulit menebarkan racun lewat pukulannya. Cepat-cepat ditutupinya bagian yang terbuka itu. Rupanya gerakan-gerakan lemah lembut Saka Lintang harus dihadapi pula dengan gerakan yang lemah sedikit kaku." terdengar lagi bisikan itu. sering luput dari perhatian. Saka Lintang segera melompat mundur. "Pusatkan napas pada perut. Patih Giling Wesi makin gembira karena merasa di atas angin. patih itu segera menatap mata Saka Lintang. Dia jadi geram karena kelemahan jurus andalannya terbaca lawan." jelas bisikan itu. Patih Giling Wesi segera bergerak mengikuti setiap gerakan kaki Saka Lintang. Sedangkan pada bagian perut yang terbuka.

"Aki Lungkur. biar lebih cepat kau kukirim ke neraka!" dengus Patih Giling Wesi.. Saka Lintang hanya mendengus saja. Kadang lambat. "Keluarkan seluruh kesaktianmu. "He he he. Jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Tingkat kepandaiannya memang sulit diukur. "Adi Patih Giling Wesi.hingga jadi lupa terhadap daerah lowong itu. Sebentar dia melompat.. Kemudian muncul seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah di tangannya.!" Suara terkekeh tiba-tiba terdengar menggema dari segala penjuru. Dalam menghadapi Patih Giling Wesi. "Ular harus dilawan dengan tongkat!" kata kakek tua yang tidak lain adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah atau Aki Lungkur.. kemudian merayap cepat menyusur tanah. "Bedebah! Kakek busuk. Dia sama sekali tidak tahu kalau patih itu mendapat petunjuk dari bisikan misterius yang hanya dapat didengar oleh patih itu sendiri. Patih Giling Wesi sangat menghormatinya meski dia hanya seorang yang lebih mirip pengemis. Patih Giling Wesi pun mundur dua tindak. tetapi segera berubah cepat. Kini disiapkannya jurus andalannya yang terakhir. Mulutnya mendesis bagai ular. jangan campuri urusanku!" ." desis Patih Giling Wesi. Dia sudah tahu siapa kakek tua itu. mundurlah. Saka Lintang kali ini memang menelan pil pahit. "Huh! Ilmu setan mana lagi yang digunakannya?!" dengus Patih Giling Wesi." kata Aki Lungkur tanpa mengecilkan kepandaian patih itu. Seketika dia menduga kalau kakek tua inilah yang membisikkannya tadi. "Selamatkan putrimu di bukit Guntur.. Dia bukan lawanmu.." kata Aki Lungkur lagi. Gerakan-gerakan yang diperlihatkan memang aneh.

"Hm.. Rangga masih melenggang tenang... Patih Giling Wesi segera berangkat. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu.. hanya 15.." sahut Patih Giling Wesi. mereka langsung menyerang para prajurit yang belum pergi jauh itu. Tanpa dikomando lagi. Tanpa mendapat peringatan pun." kata Aki Lungkur tanpa mempedulikan bentakan Saka Lintang. Suara siulannya berhenti. Dia tahu kalau dirinya telah memasuki daerah markas Bidadari Sungai Ular." gumam Rangga menghitung.. "He he he. Sambil bersiul-siul dengan irama yang tak jelas. Bersama prajuritprajuritnya dia menuju bukit Guntur..... "Cepatlah berangkat! Jangan buang-buang waktu lagi. Aki. 2. Seorang gadis. Telinganya yang tajam menangkap suara gerak langkah kaki tersembunyi. Bibirnya menyungging senyum. Dari gagang pedang yang menempel di punggungnya dapat diketahui kalau pemuda itu adalah Rangga.. Rangga terus melenggang. si Pendekar Rajawali Sakti. "Baik." kembali Rangga . Tentulah kepandaiannya tidak bisa dianggap enteng. Terbukti Patih Giling Wesi tidak mampu menandinginya. *** Pada waktu yang bersamaan." Aki Lungkur terkekeh lagi.. Dan kini telah mengepung dirinya. mungkin rumah itu sarangnya. Saka Lintang segera memerintahkan anak buahnya menghalangi para prajurit Kepatihan itu. seorang pemuda berbaju rompi putih berjalan menelusuri kaki bukit Guntur sambil bersiul-siul. Hati-hatilah. anak angkat Geti Ireng.. "1. 3.. Aki Lungkur tahu siapa lawan yang dihadapinya kini. Kepalanya tergeleng-geleng begitu mendengar suara berkeresek.bentak Saka Lintang geram. Ah..

Dia salah seorang kepercayaan si Bidadari Sungai Ular. "Waduh. Kelima belas orang itu hanya melongo. "Siapa kau? Apa maksudmu datang ke sini?" tanya orang yang membentak tadi. Namanya Jambak. Diayunkan langkahnya. Tanpa peduli Rangga meneruskan perjalanannya. 'Tidak ada seorang pun yang boleh memasuki kawasan ini!" kata Jambak galak." Rangga berlagak kaget. "Teman-teman. Rangga melayang menuju rumah kayu di tebing bukit. Dan. kembali! Atau tubuhmu kujadikan dendeng!" ancam Jambak. Rangga hanya tersenyun. Seketika empat belas orang temannya dengan cepat mengurung Rangga sambil berteriak-teriak mengacungkan senjata. Tidak terlalu sulit untuk mencapai sana. "Wuih! Sadis sekali. "Aku hanya pengembara dan kebetulan lewat sini. kenapa?" Rangga berlagak dungu. "Lho. galak sekali. "Berhenti!" bentak salah seorang dengan keras.bergumam ketika melihat sebuah rumah kayu di depannya. Rangga hanya tersenyum saja. Jambak jadi gusar karena kata-katanya tidak digubris sama sekali. Pedangnya terayun cepat mengarah kepala Rangga. Bagaikan terbang saja. Digenjot kakinya. mendadak dari rimbunan semak-semak bermunculan orang-orang berpakai an serba biru dengan senjata terhunus. "Jangan banyak tanya. Ayo." jawab Rangga kalem. dan dengan cepat tubuhnya melenting di udara." "Pergi!" bentak Jambak keras. segera memerintahkan . Namun tebasan pedang itu hanya mengenai angin. Dia segera melompat dengan ilmu peringan tubuhnya. Rumah beratap rurnbia itu bertengger di kaki lereng yang cukup terjal. Jambak yang memiliki kepandaian cukup tinggi. serang keparat ini!" perintah Jambak.

"Maaf. "Hm.. kalian hanya kronco!" dengus Rangga begitu kakinya menjejak tanah di depan rumah kayu itu. Sangat keras totokannya. semua serangan Jambak hanya dianggap main-main saja. dan menggiurkan. Jambak yang datang lebih dulu dari teman-temannya dengan cepat menyerang ganas. Macam-macam bentuk senjata bertebaran mengepung tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Rangga sedikit terpana melihat kecantikan wanita yang tidak lain adalah Intan . Selesai ucapannya. sehingga kening orang itu bolong! Kini dengan tombak di tangan. mengenakan pakaian merah muda dari bahan sutra halus di depan pintu. Licin dan berkelit ke sana kemari menghindari segala bentuk serangan yang datang bertubi-tubi.teman-temannya mengejar. Rangga bagai seekor belut. Dalam keadaan dikeroyok seperti itu. Rangga hanya berkelit menghindari tebasan pedang yang datang bagai air bah itu. Namun sampai sejauh ini. cantik. Rangga tidak lagi kewalahan. Dia sendiri berlompatan dengan bantuan ilmu peringan tubuhnya. Kaki Rangga baru bergerak jika datang serangan lain secara keroyokan. tangan Rangga bergerak cepat. pinjam tombakmu!" kata Rangga kalem.macam senjata beradu dengan tombak di tangan Rangga.. Rupanya Rangga menggunakan satu jarinya untuk menotok kening orang itu.. Rangga masih sempat melirik ke arah pintu rumah yang terbuka. Dia hanya meliuk-liukkan tubuhnya tanpa menggeser kaki sedikit pun. Darah menguncur deras dari keningnya yang bolong. Dan kini orang itu telah ambruk tak berkutik. Denting macam. Sekejap saja seorang dari pengeroyoknya yang menggenggam tombak terhuyung ke belakang. belum ada satu pun senjata yang berhasil menyentuh tubuhnya. Namun bagi Rang-ga. Tombak itu telah berpindah tangan. Dan tibatiba muncul seorang wanita muda.

Tubuh-tubuh bermandikan darah mulai bergelim-pangan. Hatinya bergetar juga. dapat ditebak kalau orang itu wanita. Rangga kini sibuk menghadapi para pengeroyoknya yang semakin ganas. Siulan itu menggema dipantulkan oleh bukit-bukit batu dan lembah.!" seru Jambak gembira melihat berkelebatnya sebuah bayangan. Dari raut wajah yang panjang kurus. Dua orang kini terhuyung sambil menekap dada. "Dia coba-coba menggerogoti lumbung. Belum lagi kering darah itu. "Bayangan hitam. Sebentar saja sesosok tubuh kurus tinggi berbalut baju hitam ketat telah berdiri di tengah-tengah lapangan depan rumah kayu itu. Mereka semua menyandang pedang di punggung." Si Bayangan Hitam mendongak seraya memonyongkan bibir. "Cukup!" Tiba-tiba terdengar bentakan keras melengking. Pekik kematian kini terdengar saling susul. Namun dia tidak dapat memperhatikan lebih lama lagi.Kemuning. Sebentar saja sudah delapan orang yang telah mengantar nyawa. . menyusul dua orang terhuyung-huyung lalu ambruk. lalu ambruk tidak berkutik lagi. Jambak merasakan lawannya bukan tandingan mereka semua. disusul am-bruknya dua orang lagi. Lebih-lebih setelah mendengar l agi suara jeritan panjang melengking. siapa tikus itu?" tanya Bayangan Hitam. Serentak dari balik-balik pepohonan muncul sekitar dua puluh orang berpakaian serba hitam. Rangga menggerakkan tombaknya semakin cepat.. "Jambak." "Huh! Lalu di mana Gusti Putrimu?' "Menghadang perusuh di sungai Ular. "Bagi dua!" teriak Bayangan Hitam. Terdengarlah siulan yang panjang dan melengking tinggi. Darah segar segera mengucur dari dada yang robek itu..

Lagi pula. "Sombong!" dengus Bayangan Hitam sedikit gusar. Semangat mereka timbul kembali setelah hampir diporak-porandakan. "Sebutkan namamu sebelum kau kukirim ke neraka!" . Dia adik kandung Geti Ireng. "Namaku tak ada artinya buatmu. Bayangan Hitam tidak pernah ingin ikut campur dalam urusan Geti Ireng. orang-orang yang baru bermunculan itu segera membentuk dua kelompok. Rangga sudah dapat mengukur tingkat kepandaian perempuan kurus ini. Secercah harapan muncul dan terbias di wajah mereka melihat kehadiran Bayangan Hitam. ayah angkat Saka Lintang. Dari sekilas pandang saja. Wanita kurus ini sangat baik terhadap Saka Lintang. Jadi Bayangan Hitam adalah bibi angkatnya.Tanpa banyak omong. anak muda?!" tanya Bayangan Hitam. Meski Saka Lintang telah mengetahui asal-usulnya. terima kasih" Jambak membungkukkan tubuhnya. Dari julukannya. Benar-benar suatu kebetulan. "Oh. Dia adalah seorang tokoh sakti yang tangguh dan sukar dicari tandingannya. bawa satu kelompok orangku. Episode: Iblis Lembah Tengkorak) "Siapa kau. Sisa empat orang teman-teman Jambak masih terdiam di tempatnya. *** Bayangan Hitam bukan orang lain bagi Saka Lintang." jawab Rangga. Bantu Gusti Putrimu!" perintah Bayangan Hitam. dapat dipastikan kalau tokoh ini dari aliran hitam. Mereka semua tahu siapa Bayangan Hitam. Jambak cepat memberi isyarat pada salah satu kelompok Bayangan Hitam. namun dia sama sekali tidak membenci Bayangan Hitam. Bayangan Hitam datang membawa anak buahnya. "Jambak. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti. Segera mereka berlari menuruni lereng bukit menuju sungai Ular.

"Aku membunuh saudaramu. Kelihatannya dia telah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. karena dia membantai keluargaku!" lantang dan mantap suara Rangga. Kalau anak muda ini dapat membunuh Iblis Lembah Tengkorak. Bukan hanya Intan Kemuning yang terkejut Ternyata Bayangan Hitam pun kaget setengah mati. "Aku tidak peduli! Yang jelas kau harus bayar nyawa saudaraku!" Rangga yang sudah mengukur kepandaian Bayangan Hitam tidak sungkan-sungkan lagi. bagaimana mungkin aku berhutang nyawa padamu?" "Kau membunuh saudara laki-lakiku! Kau harus bayar dengan nyawamu!" "Siapa saudaramu?' "Geti Ireng atau Iblis Lembah Tengkorak!" Rangga mengerutkan keningnya."Aku Pendekar Rajawali Sakti. Mendengar namanya saja. Tak disangkasangka dia bertemu dengan pembunuh kakak laki-lakinya. Apalagi si pem bunuh itu masih muda dan tampan. pasti tingkat kepandaiannya tinggi sekali. Kini dia mengerti sudah." lantang suara Rangga. Wajahnya tampak berubah merah. Dia tidak kenal dengan pemuda tampan itu. Dia segera mencabut pedangnya ketika Bayangan Hitam telah siap dengan . Tapi diam-diam Intan Kemuning tertarik juga melihat ketampanannya. terkejut. untuk apa perempuan kurus atau Bayangan Hitam itu muncul. baru kali ini. "Kebetulan kau muncul. "Bertemu saja baru kali ini. Lebih-lebi h setelah menyaksikan sepak terjangnya yang dengan mudah merobohkan sepuluh orang dalam satu jurus yang diulangulang terus. "Aku datang untuk mengambil Putri Intan Kemuning!" Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu rumah kayu. bocah setan! Kau berhutang nyawa padaku!" ujar Bayangan Hitam.

pedangnya. Dirasakan tangannya kesemutan ketika pedangnya beradu. Dua sinar berbeda saling sambar dengan hebat-nya. Pedang Rangga berputar-putar berkelebat memancarkan sinar biru yang menyilaukan. Rangga tidak merasakan apa-apa waktu pedangnya berbenturan tadi. Jari-jari tangannya seperti kaku. Yang kelihatan hanya bayangan hitam. Bibirnya mengulum senyum. . Sedangkan pedang Bayangan Hitam menderu-deru menimbulkan hawa panas. Kalau saja Bayangan Hitam tadi tidak melompat. Sret! 'Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam. Rangga segera memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. dan biru saling berkelebat Semua yang ada di situ melongo. putih. Sinar hitam menggulung-gulung bagai asap tebal. Kini tubuh mereka tidak terlihat jelas. Bayangan Hitam pun tak kalah siapnya. Pedangnya melintang di depan dada. Trang! Dua pedang beradu menimbulkan pijaran bunga api. Sebentar saja sepuluh jurus telah berlalu. Kini dia mengeluarkan jurus andalannya juga. Bayangan Hitam segera menyerang Rangga dengan jurus-jurus pedang yang dahsyat Sekejap saja mereka telah bertarung dengan jurus-jurus pedang tingkat tinggi. "Edan!" dengus Bayangan Hitam melihat ujung pedangnya buntung. satu jurus andalan tingkat pertama. Bayangan Hitam segera melompat mundur satu tombak. tapi sinar matanya tajam menatap lurus Bayangan Hitam. Sementara Rangga tidak bergeming sedikit pun. Mereka telah saling berhadapan. "Keluarkan ilmu kesaktianmu. Dia pun bersiap-siap mengerahkan jurus 'Cakar Rajawali'. takjub. bisa jadi tangan kanannya pisah dari badan terbabat pedang Rangga. Kian lama pertarungan kian seru. anak setan!" geram Bayangan Hitam sambil membuang pedangnya begitu saja.

Rangga mengerutkan keningnya ketika merasakan angin sambaran pukulan yang sangat dahsyat. Tubuhnya .. Kini hanya dua bayangan hitam dan putih berkelebat. "Glaaar. kadang menukik "Akh!" Tiba-tiba Bayangan Hitam memekik kesakitan."Bersiaplah!" Bayangan Hitam segera menggebrak setelah selesai memberi peringatan. Kedua tangan yang selalu mengembang bagai sepasang sayap itu menyambarnyambar mengikuti gerakan tubuh Rangga yang kadang melayang... Pertarungan dua tokoh sakti itu kembali berlangsung. Kedua tangainya menyambar-nyambar menimbulkan deru angin kencang. Bayangan Hitam sampai terperanjat. tubuhnya berar-benar seperti bayangan saja. Kin dengan jurus 'Bayangan Maut'.!" desis Rangga memuji dengan tulus "Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam. Kakinya bergerakgerak lincah mengimbangi gerakan Bayangan Hitam yang sangat cepat. Seketika batu itu hancur berkeping-keping menyebar ke segala penjuru. Kedua kaki Rangga kini tidak lagi menjejak tanah.. Rangga berdecak kagum melihat kedahsyatan pukulan Bayangan Hitam. Rangga pun segera merubah jurusnya menjadi 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Sulit diiihat denjan mata biasa. Seketika Bayangan Hitam merubah jurusnya.!" Suara ledakan keras terdengar ketika tangan Bayangan Hitam menghantam batu. Kedua tangan Rangga mengembang. "Hebat. Debu mengepul di udara disertai angin yang menderu-deru bagai terjadi topan. karena kaki-kaki Rengga saling susul mengarah kepala. Beberapa pohon tumbang terkena sambaran angin pukulan Rangga. Kedua kaki Rangga makin bergerak cepat.

"Serang. Mereka penasaran karena belum bisa menggoreskan pedang ke tubuh Rangga. Yang tersisa hanya delapan orang saja. kaki Rangga berhasil mengenai pundaknya. Bibi Bayangan Hitam datang!" teriak Jambak.!" teriak Bayangan Hitam keras melengking. Denting senjata bercampur dengan jerit kematian. Makin lama orang-orang berpakaian serba biru semakin berkurang jumlahnya. Setiap pedangnya berkelebat selalu menimbulkan korban. pertempuran masih berlangsung sengit. tapi tidak bisa lagi menarik pundaknya. Tanpa dapat dihindari lagi. Saka Lintang bertarung dengan Pengemis Sakti Tongkat Merah.terhuyung dua tombak. Prajurit Kepatihan yang dipimpin Patih Giling Wesi itu kini berada di atas angin.. Bayangan Hitam mengeram menahan sekit yang luar biasa karena menyadari tangan kirinya tidak bisa digerakkan lagi. Semangatnya segera . Empat orang anak buah Bidadari Sungai Ular yang tersisa membantu mengeroyok Rangga. Saka Lintang berseri-seri wajah nya. Patih itu mengamuk terus. Dia sendiri kewalahan menghadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah. Tulang pundaknya patah sehingga sulit digerakkan lagi. tibatiba muncul sepuluh orang berpakaian serba hitam dipimpin oleh Jambak. Sedangkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya menghadapi anak buah Bidadari Sungai Ular. Serentak sepuluh orang berpakaian serba hitam bergerak menyerang Rangga. "Kurang ajar!" geram Rangga sengit. Saat gerom bolan perom pak itu makin terdesak.. 'Tuan Putri. *** Sementara di sungai Ular. Dia berusaha menghindari kepala. Saka Lintang tidak mungkin membantu orang-orangnya.

?" Saka Lintang terkejut. Bagaikan kilat tubuh patih itu dan kini sudah jauh meninggalkan pertempuran. Saka Lintang segera melompat keluar dari pertarungan ketika ada kesempatan. "Lalu. lalu berteriak nyaring. Satu persatu orang-orang berpakaian serba hitam tersungkur berlumuran darah disertai jerit kesakitan. Dengan cepat dia berlari menggunakan ilmu peringan tubuh.bangkit mendengar Bayangan Hitam ikut membantu. Lima orang membantu anak buah Saka Lintang. Begitu kakinya menginjak tanah. Pengemis Sakti Tongkat Merah yang sejak tadi mendengar. bagaimana Intan?" tanya Saka Lintang dengan cemas. "Apa. Orang-orang dari Bayangan Hitam lebih tinggi tingkat kepandaiannya dan lebih ganas dalam bertarung. "Di mana Bibi Bayangan Hitam sekarang?" tanya Saka Lintang di sela-sela pertarungan. Kini keadaannya jadi berbalik. "Biar orang-orang ini aku yang hadapi!" Patih Giling Wesi segera melompat tinggi dan bersalto di udara. Pengemis Sakti Tongkat Merah mendengar hal itu merasa bersyukur karena Pendekar Rajawali Sakti telah sampai di sarang gerombolan Bidadari Sungai Ular. Pengemis Sakti Tongkat Merah mengamuk memutar-mutar tongkat saktinya. Tubuhnya mencelat tinggi di udara dan jatuh tepat di samping Patih Giling Wesi. "Berada di markas!" sahut Jambak.. . Apalagi melihat anak buah Bayangan Hitam ikut bertempur. lima orang lagi membantu mengeroyok Pengemis Sakti Tongkat Merah.. Saka Lintang mendekati Jam bak yang tengah mengeroyok Kakek Sakti Tongkat Merah. "Cepat ke bukit Guntur! Selamatkan putrimu!" perintah Kakek Pengemis itu." jawab Jambak. langsung dikeluarkannya ilmu lari cepat. 'Tengah menghadapi Pendekar Rajawali Sakti.

. Mata Rangga tajam mengamati gerakan sepuluh orang yang berputar mengelilinginya sambil pedangnya tersilang . Ki.. "Cepat susul Gustimu!" teriak Aki Lungkur kepada para prajurit. pertarungan masih berlangsung sengit. Jambak memutar otaknya mencari jalan agar sebagian temannya bisa keluar dari pertarungan. Perintah Jambak seperti tertelan angin. Tongkatnya seperti hidup menyambar. Kini jumlah mereka makin berkurang saja. "Jangan membantah!" dengus Aki Lungkur.!" seorang prajurit tidak tega meninggalkan orang tua itu sendirian. Jurus ke-tiga dari rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'.nyambar mencari mangsa. Delapan prajurit Kepatihan itu langsung beriari menyusul pemimpinnya.Mereka bukanlah lawan Pengemis Sakti Tongkat Merah. 'Tapi. Sementara Kakek Pengemis kian waspada. Di markas gerombolan Bidadari Sungai Ular. Seketika sepuluh orang mengambil posisi melingkar mengepung Rangga. selalu menghalangi setiap orang yang akan mengejar para prajurit. Empat orang ber-pakaian biru keluar dari arena. "Cari kesempatan! Kejar mereka!" teriak Jam bak gusar. sedangkan pedangnya berkelebat ke arah tubuh lawan yang kosong. "Rantai Bayangan!" teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. Aki Lungkur bergerak cepat menyambar setiap orang yang berusaha keluar dari medan pertarungan. Mereka seperti menghadapi seribu pengemis. Rangga mengamuk menghadapi Bayangan Hitam yang dibantu oleh kaki tangannya. Kakek sakti menebas tongkatnya sehingga satu persatu bergelimpangan. Gerakan kakinya lincah menghindari setiap serangan lawan. Rangga mencabut pedangnya dan mengerahkan ilmu pedangnya yang dipadu dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.

Seperti mata rantai.. Dengan serentak sisa anak buahnya mengeluarkan sebuah bola besi berwarna hitam yang bergigi runcing di sekelilingnya dan dihubungkan dengan rantai halus . Tetapi dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti dapat menguasai diri. Trang! Trang! Trang! Kepingan-kepingan logam pedang yang patah meluncur deras ke arah orang-orang berpakaian serba hitam yang kebingungan. Tiba-tiba dia menjerit kuat sekali. Pedangnya dimasukkan ke dalam sarungnya di punggung.. datang dari segala penjuru secara berganrJan. Rangga mendarat di tanah.!" Rangga kebingungan juga menghadapi pola serangan yang ganjil ini. "Aaaakh. Rangga tidak akan menggunakan senjata jika lawan tidak pula menggunakannya. Serangan-serangan itu sulit ditebak.di depan dada. Mata Rangga tidak lepas mengamati setiap serangan yang datang.!" Beberapa tubuh yang tidak sempat mengelak langsung bergelimpangan dengan dada teriembus patahan pedang mereka sendiri menyusul jeritan kematian. Makin lama makin cepat Yang terlihat kini hanya bayangan hitam yang bergerak melingkar. Gencar sekali. "Hiya! Yeah. Ternyata teriakan-teriakan itu hanya untuk memecah konsentrasinya. Pedang mereka terkena sambaran pedang biru menyilaukan. Tubuhnya berputar cepat bagai baling-baling.. Sedangkan yang selamat hanya memegang pedang yang tinggal setengah saja.. mereka bekerja sama dengan gerakan-gerakan yang teratur dan menunjang. "Bedebah! Kurang ajar!" Bayangan Hitam menggeram melihat empat anak buahnya roboh hanya sekali gebrakan saja. “Bola Rantai Hitam!” teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. Dengan gerakan manis.

Apa-lagi sebelah tangannya tidak bisa digerakkan. dia melesat ke udara bagai seekor rajawali.. "Lepaskan!" teriak Bayangan Hitam. Tentu Bayangan Hitam jadi kelabakan. Rantai-rantai hanya terlihat beberapa jengkal saja. Rangga membiarkan tubuhnya terbelit rantai-rantai dengan bola bergigi itu. dilontarkan oleh keenam orang itu. Tiba-tiba tubuh mereka terangkat ikut meluncur bersama Rangga yang semakin tinggi. Seketika bola-bola itu menderu-deru silih berganti.. dengan gerakan cepat mengumpulkan dan melemparkan rantai-rantai itu kepada pemiliknya. Kali ini dia tidak ingin lagi membiarkan lawan mengatur siasat. Rangga pun mengerahkan gabungan dari tiga rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Dia segera menyerang Bayangan Hitam dengan gabungan tiga rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Sebelum menjejakkan kakinya di tanah. Rangga turun dengan manis. "Bedebah!" geram Bayangan Hitam. Bolabola besi lainnya menghantam tanah lalu melesak ke dalam. Dengan satu teriakan melengking.. Sungguh hebat tenaga dalam Rangga.!" seorang dari mereka menjerit keras. Suaranya menderu-deru bagai angin topan. Dia masih menganggap belum perlu merubah jurus. dan hanya menggabung-gabungkan saja dengan berbagai kombinasi. Keenam orang itu serentak melepaskan rantai. Keenam orang itu segera membentuk lingkaran.!" teriak Bayangan Hitam memberi komando. Kepalanya hancur terhantam bola hitam miliknya sendiri. "Aaaakh. Rangga yang masih berada di atas..berwarna hitam pula. mereka bersalto di udara. Tangan mereka memutar-mutar rantai panjang dengan bola-bola bergigi di ujungnya. Kelima anak buahnya . "Serang. Lima orang lainnya masih bisa menyelamatkan diri.

"Bibi. Dia menggeram dengan gigi gemerutuk melihat semua anak buahnya tewas. Tapi hanya empat orang saja yang menggunakan senjata. Apalagi kini mereka tanpa senjata.r!" Gerakan Rangga dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' begitu cepat sehingga keempat orang itu tidak bisa melindungi kepalanya. "Lepas!" sentak Rangga. "Mundur. Rangga kini dikeroyok sepuluh orang. Siapakah yang membentak itu? *** . Dilihatnya Saka Lintang berlari cepat dan segera melompat sambil menghunus pedang. kaki Rangga melayang ke arah kepala. Tiba-tiba saja empat pedang terlempar ke udara. Bahkan lima orang anggota Bayangan Hitam telah jadi mayat.ditambah empat anak buah kelompok Bidadari Sungai Ular.. langsung membantunya.. Dari mulutnya terus keluar umpatan dan cacian yang tidak berhenti..!" Bayangan Hitam menoleh. Begitu hebatnya suara bentakan tadi. sehingga pertempuran sekejap saja berhenti. Dengan cepat Rangga segera mengganti ketiga jurusnya sehingga lawan kebingungan. Bayangan Hitam pun kini hanya bisa bertahan tanpa mampu memberikan serangan balasan.. Seketika Saka Lintang terlibat dalam pertempuran pula. Mereka segera menggelepar dengan kepala pecah. Dan tanpa terduga sama sekali.. Kraaak! "Aaaa.!" tiba-tiba terdengar suara bentakan keras menggelegar.

Rangga cepat mengibaskan tangannya. "Hm.!" seru Saka Lintang. Lintang?" tanya Nambi sambil mengamati mayat-mayat yang bergelimpangan. Rangga telah disibukkan dengan sinar merah yang datang lagi. Rangga kembali memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya.. Mereka sibuk mendirikan partai sendiri-sendiri. Kini pedang itu terarah pada sebuah pohon besar." Saka Lintang gembira. dengan seketika dia telah menggenggam pedangnya.. .. Dengan sigap Pendekar Rajawali Sakti itu melompat menghindari sinar merah yang datang tiba-tiba itu. muncul seorang kakek tua berjubah merah.! Pohon besar itu hancur berkeping-keping tersambar sinar biru. Sampai sekarang pun mereka masih suami istri.. Banyak tokoh menduga kal au mereka tengah bentrok. Blar. Kakek itu mencelat bersamaan dengan hancurnya pohon itu. Hanya kemunculan mereka saja yang tidak selalu bersamaan. Tepat saat kakinya menginjak tanah. Belum sempat menjejakkan kakinya ke tanah. Mata Rangga yang tajam cepat mengetahui dari mana datangnya sinar merah itu. Hanya saja watak mereka yang terbiasa malang melintang di rimba persilatan. sehingga mereka tidak hiraukan status suami istri.Seberkas sinar merah meluncur deras menyambar Rangga. Terpaksa dia kini mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Tokoh ini beraliran hitam dan dulunya merupakan suami Bayangan Hitam. apa yang terjadi.. "Paman Nambi. Dari pedang pun meluncur sinar biru bergulunggulung. Dia dikenal dalam rimba persilatan dengan nama Setan Jubah Merah. untung paman cepat datang. "Paman. Seorang tokoh tua sakti bernama Nambi muncul di tengah-tengah arena pertarungan...

Benih-benih cinta kembali muncul. Saka Lintang pasti mampu mengalahkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya. Maksud Saka Lintang hanya ingin merubah Intan Kemuning menjadi seorang pendekar wanita. "Sudah kuperingatkan. Pundak itu melesak ke dalam. Saka Lintang memandang Rangga. Patah! Mendadak hatinya panas. "Anak muda. "Pendekar Rajawali Sakti. "Hati-hati. Tapi sekarang? Apal agi Pendekar Rajawali Sakti ikut membantu. Matanya agak menyipit melihat ke arah pundak perempuan tua itu. Untuk kedua kalinya dia harus berhadapan dengan pemuda yang telah merobek-robek hatinya ini. silahkan baca Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Iblis Lembah Tengkorakl "Siapa dia?" tanya Nambi atau Setan Jubah Merah. Dia sadar." jawab Saka Lintang." jawab Saka Lintang. ini adal ah kesalahannya. Nambi memandang pada istrinya. (Untuk lebih jelas. jangan cari perkara dengan pihak kerajaan. Setan Jubah Merah segera mengerahkan ."Perkumpulanku dihancurkan. Saka Lintang melirik Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu. Seluruh anak buahnya mati. Mungkin kalau Pengemis Sakti Tongkat Merah tidak ikut campur. Tetapi tak diduga sama sekali akibatnya jadi demikian. Ada nada kesedihan daiam suaranya. Namun bibit dendam dan kebencian juga bertumbuhan. "Dan kau tidak mampu mengatasinya?" Saka Lintang hanya tertunduk saja. paman. Pertempuran sengit tidak dapat dihindari lagi. Seketika hatinya bergetar. Bayangan Hitam. hadapi aku!" bentak Setan Jubah Merah. Setan Jubah Merah melom pat cepat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Masih saja membandel!" tegur paman angkat Saka Lintang. Kakang!" Bayangan Hitam memperingatkan.

Dia sempat mendengar permintaan maaf Rangga sebelum melancarkan serangan. Dengan cepat dia mengimbanginya. Seketika jari-jari tangannya meregang kaku. Nambi mengemerutukkan gerahamnya. "Akh!" Setan Jubah Merah memekik tertahan. Hasilnya sungguh tak terduga . Kini Rangga menghadapi lawan dengan jurus 'Cakar Rajawali'. Rangga kebal terhadap segal a je-nis racun. "Serang aku!" teriak Nambi. Sudah menjadi sifatnya untuk tidak mengeluarkan jurus-jurus berbahaya sebelum dia mengetahui tingkat kepandaian lawan. Jari-jari tangan Rangga berhasil menusuk pangkal lengan kiri Nambi. Bahkan selalu merendah. Darah mengucur deras dari pangkal lengan yang bolong dua jari itu. "Bersiaplah. Lalu digerakkan tangannya yang makin lama makin cepat. Tapi semua itu tidak berpengaruh terhadap Rangga. Rangga tidak bermaksud memandang enteng lawan. Pemuda itu tidak congkak. Baru kali ini didapatkan lawan yang mau menghormat pada dirinya. Setiap pukulannya mengandung hawa racun yang mematikan. Nambi sedikit terperangah. Dia terhuyung satu tombak ke belakang. "Bocah setan! Jangan salahkan aku jika sampai menurunkan tangan kejam!" geram Nambi sengit melihat Rangga hanya berkelit tanpa mem-balas serangan. baiklah! Maafkan. Kek!" Rangga menyalurkan seluruh tenaga ke kedua telapak tangannya. Jurus tangan kosongnya sangat dahsyat.jurus-jurus andalannya. Dia hanya mengukur tingkat kepandaian lawan. Hati kecilnya berkata kal au dia merasa salut terhadap anak muda itu. Kakek!" sahut Rangga dengan hormat Nambi terdongak mendengar kata-kata Rangga. Dengan jurus ini. "Maaf!" seru Rangga. "Kalau itu keinginanmu. pertarungan pun menjadi sengit.

Setan Jubah Merah menggeram menahan marah. "Aaaakh. kemudian diam tak bergerak l agi. "Bibi. Kini Rangga berhadapan langsung dengan tiga orang tokoh yang memiliki kepandaian yang luar biasa. Begitu cepat perubahan jurus yang dilakukan Rangga... Secepat kilat Setan Jubah Merah menyerang dengan jurus-jurus mautnya. Sasarannya kini ke arah Bayangan Hitam. Lengan Nambi bolong oleh tusukan jari-jari Rangga.. lima orang .. Rangga mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' lalu disusul dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.!" jerit Bayangan Hitam cemas melihat darah mengucur dari lengan suaminya. Saka Lintang pun tidak ingin ketinggalan. Bayangan Hitam langsung melompat menyerang Rangga.!" Saka Lintang memekik kaget. Sementara pertarungan sengit berlangsung. Dia tidak lagi memandang perasaan cintanya pada Rangga. "Kubunuh kau. segera ikut mengeroyok Rangga.sekali. Pendekar Rajawali Sakti segera menggabungkan jurus 'Cakar Rajawali' dengan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Sedangkan Saka Lintang mengerahkan jurus 'Pukulan Geledek'nya. "Kakang. Dia menggelepar-gelepar dengan kepala hancur. Posisi Rangga kian terdesak oleh serangan yang beruntun. sehingga Bayangan Hitam tidak dapat menguasai diri lagi. Sementara Saka Lintang kembali menyerang dengan jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Setan Jubah Merah yang telah berhasil menghentikan darah dengan totokannya. Kaki Rangga telak bersarang di kepala Bayangan Hitam... Kemarahan dan dendamnya sudah sampai ubun-ubun. Mereka segera mengeroyok Rangga. Kembali Pendekar Rajawali Sakti harus melayani serangan beruntun Bayangan Hitam.!" Bayangan Hitam menjerit kesakitan. bocah setan!" teriak Nambi.

sekarang aku minta bayaran darimu." gertak laki-laki itu.. Melihat kecantikan Intan Kemuning. "Ah!" Intan Kemuning kaget ketika tiba-tiba seseorang telah ada di depannya. seketika nafsu birahinya bangkit.. "Ah. ternyata kau punya isi juga." orang itu menyeringai. Liumya tertahan.anggota Bayangan Hitam yang tersisa menyeret gurunya ke tempat yang lebih baik Tetapi salah seorang dari mereka. kebetulan melihat Intan Kemuning yang belum beranjak dari pintu pondok. "He he he. Jakunnya turun naik menahan gejolak birahi yang bergelora dalam dada. jangan!" *** .. "Mau apa kau?" Intan Kemuning bergidik. "Ih!" Intan Kemuning menepis tangan laki-laki yang terulur hendak menjamah. "Kau yang menjadi gara-gara. Mata orang itu liar merayapi wajah gadis cantik di depannya.

! Lepaskan!" jerit Intan Kemuning putus asa. Laki-laki itu makin liar merejam tubuh Intan Kemuning. Mereka kini tidak peduli dengan mayat gurunya. Di dalam pondok. Rasa panik dan ketakutan yang amat sangat membuat dia lupa segalanya. Intan Kemuning terus meronta-ronta sambil menjerit-jerit. Tubuh Intan Kemuning seketika jadi polos..!" Intan Kemuning memekik ketika tangan lakilaki yang menindihnya.!" jerit Intan Kemuning. Intan Kemuning jadi lupa kalau dia telah belajar dasar-dasar ilmu olah kanuragan. laki-laki itu menyeretnya masuk ke pondok Rupanya perbuatan salah seorang anggota Bayangan Hitam menarik perhatian empat orang lainnya. Bret! "Auuuh... namun seorang laki-laki lainnya maju dan menarik tangan Intan Kemuning. 'Tidak. Lima pasang mata menatap ke a rah dada yang putih mulus tanpa berkedi p.6 Intan Kemuning makin kaget ketika orang itu telah menubruk dan memeluknya. Intan Kemuning cepat menutupi bagian dadanya yang terbuka.. Dia meronta-ronta mencoba melepaskan diri. Segera mereka berlarian ke pondok. "Auh! Lepaskan. Keempat orang yang sebelumnya . Bahkan empat laki-laki anggota Bayangan Hitam lainnya telah mengelilingi serta menatap wajah dan tubuh yang indah itu. merobek bajunya. Bret! Lagi-lagi baju Intan Kemuning dirobek paksa. Tangannya memukuli tubuh lelaki kasar yang telah menindihnya.. Tanpa menghiraukan jeritan. Kini bagian dada yang membukit indah terbuka.. Tangan-tangan kasar kini menelusuri bukit yang indah itu. Hanya bagian bawah saja yang masih tertutup.

Melihat tiga orang temannya telah tewas. "Ayah... tiba-tiba. Lima orang yang tengah dirasuki iblis itu terperangah. Dia bersyukur karena kelima laki-laki itu belum sempat merenggut kehormatannya.. Intan Kemuning cepat-cepat mengenakan pakaiannya kembali yang sudah tercabik-cabik itu. "Binatang!" Patih Giling Wesi segera menerjang marah. Darah segera membasahi lantai. Namun kelima orang sudah tidak peduli lagi. Salah seorang dari tiga orang yang tersisa. Tepat ketika seorang laki-laki akan membuka bagian bawah pakaiannya. tidak bisa menahan diri lagi.. ambruk dengan dada tergores panjang dan dalam. Air bening mulai menitik dari sudut matanya.. Mereka mendekat dan meraba-raba tubuh yang putih mulus itu. "Aaaakh!" kematian kembali terdengar. segera dua orang anggota Bayangan Hitam itu mendobrak dinding pondok. "Binatang! Mampus.!" Patih Giling Wesi yang hendak mengejar. Pedangnya kian cepat berputar menyerang tiga orang laiki-laki itu. jangan. Brak! Pintu poridok yang tertutup.hanya berdiri saja. Air matanya makin deras mengalir. Pedang Patih Giling Wesi berkelebat cepat Seketika saja dua kepala telah terpisah dari tubuh. Mereka hanya bisa berkelit saja. Tangan-tangan mereka makin liar menjelajah ke seluruh tubuh gadis cantik itu.. kalian semua!" teriak Patih Giling Wesi kalap. Dari mulutnya keluar rintihan memohon belas kasihan." rintih Intan Kemuning memelas. hancur berantakan.. 'Tidak.. Tiga orang lainnya segera melompat menyebar. berbalik ketika putrinya memanggil. Intan Kemuning benar-benar putus asa. Dengan terpaksa mereka mel ayani hanya dengan tangan kosong karena tidak memiliki senjata lagi. Intan Kemuning berlari lalu menubruk . kabur.

" "Maksudmu.." "Pemuda siapa?" "Oh!" Intan seperti tersadar. 'Pemimpin perampok itu sangat baik. Kembali mereka terdiam sambil berpelukan. "Oh. . Dia baik sekali padaku. Mereka orang-orang Bayangan Hitam." jawab Intan Kemuning tanpa melepaskan pelukannya. hatinya masih khawatir terhadap putrinya yang baru saja terbebas dari tawanan perompak itu. Nak?" tanya patih itu masih diliputi perasaan cemas. Pemuda itu kini menghadapi dua tokoh sakti.ayahnya. orang-orang itu?" "Mereka bukan orang-orang Bidadari Sungai Ular. Ayah.. Ditumpahkan segala kerinduan dan kegembiraan karena dapat berkumpul lagi. Malu. "Pemuda itu. Dia ingat kalau pemuda tampan yang telah menggetarkan hatinya tengah bertempur di luar. Dia mengangkatku sebagai adiknya. "Kau tidak apa-apa. Bidadari Sungai Ular itu?" "Betul. Ayah." desah Patih Giling Wesi. "Ada apa.." "Lalu." sahut Intan Kemuning. Mereka saling berpelukan menumpahkan seluruh air mata dan rindu. Ayah." Seketika Intan Kemuning tersentak. Biar bagaimana pun juga. "Tidak. "Mereka tidak mengganggumu. Sejenak ditatap putrinya. Nduk?" tanya Patih Giling Wesi dengan suara tersendat. "Mereka tidak ada yang menggangguku. Pelan-pelan Patih Giling Wesi melepaskan pelukannya. syukurlah. Kakak Lintang selalu melindungiku. Jari-jari tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi Intan Kemuning. Intan?" tanya Patih Giling Wesi.

Patih Giling Wesi tersenyum melihat Intan Kemuning tidak berkedip m enatap setiap gerakan Rangga. Sekelebat memang dia melihat pertempuran itu. Dalam hati dia merasa kagum juga terhadap pemuda tampan itu. *** Pertempuran masih terus berlangsung di sungai Ular.. Dan ketika Intan Kemuning menyebut pemuda itu. Pelan-pelan Intan Kemuning mengangkat kepalanya. sehingga tidak tahu ada pertempuran di luar." lembut suara Patih Giling Wesi. Kini . "Intan. Patih Giling Wesi seolah baru sadar kalau putrinya telah menjadi seorang gadis remaja... apakah Intan Kemuning jatuh cinta? Apakah dengan pemuda tampan yang kini sedang bertarung melawan dua tokoh sakti itu? Kalau benar. dan baru berhenti setelah berada dua tombak dari pondok. siapakah pemuda itu? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak patih itu. Patih Giling Wesi terdongak begitu mendengar suara pertempuran di luar.. Patih Giling Wesi tersadar. Ah.. Mereka menyaksikan pertempuran antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah. Pendekar itu telah merebut sekeping hatinya. "Ayo." Patih Giling Wesi menggandeng anaknya ke luar pondok itu. namun Patih Giling Wesi lebih terpusat pada suara rintihan wanita di dalam pondok itu. Mereka berhenti melangkah di depan pintu yang sudah hancur. Patih Giling Wesi mengikutinya.. Namun Intan Kemuning melangkah terus.. Kepalanya tertunduk. Tanpa disadari di a telah mencemaskan pendekar muda yang sejak tadi menarik perhatiannya.Seketika kedua pipinya merah merona. Rasa haru dan gembira telah membutakan mata dan menulikan telinganya...

Itulah ilmu 'Sayiti Angin' yang dikeluarkannya. 'Tidak disangka. aku malas main petak umpet." gumam Aki Lungkur pelan. Aki Lungkur mengayunkan langkah menuju bukit Guntur.!" Pengemis Sakti Tongkat Merah terkekeh. Orang yang menguasai ilmu ini dapat meminjam hembusan angin untuk mendorong tubuhnya. Langkah yang kelihatan pelan. "Mudah-mudahan Pendekar Rajawali Sakti bisa mengatasi keadaan.yang dihadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah hanya empat orang saja. Pelan-pelan kakinya meninggalkan tempat pembantaian itu. Keempat orang itu kini ambruk kehilangan nyawa. Ujung tongkat Pengemis Sakti itu merobek-robek dada mereka.. Kakinya seperti tidak menapak tanah.. Aki Lungkur menghentikan langkahnya.. "Ah. tapi kenyataannya." terdengar suara mengejek. Darah segar menyembur disertai jeritan kesakitan saling susul. sebentar saja kakek tua itu telah jauh melangkah. dibuat tidak berkutik. Cukup sekali gebrak saja. Tempat yang indah dan menyejukkan itu.." gumam Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah. Tak luput. Kakek Pengemis Sakti kembali terkekeh." keluh Aki Lungkur . kalian hanya membuang nyawa sia-sia. Bau anyir darah telah mengundang anjing-anjing hutan untuk menyantap mayat-mayat yang bergelimpangan. Suara itu jelas menggunakan tenaga dalam yang luar biasa. kini jadi mengerikan.!" Tiba-tiba terdengar suara terkekeh. Mayat menyebar di mana-mana. burung bangkai pun telah berkeliling di angkasa minta bagian. "Kasihan. "He he he. keempat orang yang memang tidak punya nyali lagi. Bau anyir darah menyebar terbawa angin. Ironis sekali. Layaknya kapas yang dihembus angin. "He he he. Pengemis Sakti Tongkat Merah mau mengotori tangannya hanya untuk membantai cacing-cacing tanah.

"Ah.! Apa aku tidak salah dengar? Kapan kau punya keponakan!" "O. Dengan cepat dia kembali menghadang. mengapa kau lari dari Lembah Tengkorak waktu itu? Kenapa tidak kau bantu keponakanmu? Itukah paman yang baik?" Merah padam wajah Pradya Dagma. Langkahnya baru tiga tindak. Melihat hal ini. tiba-tiba di depan Aki Lungkur muncul seorang laki-laki gendut berkepala botak mengenakan jubah kuning. Aki Lungkur melangkah melanjutkan perjalanan tanpa peduli. Kata-kata itu baginya adalah penghinaan yang luar biasa. Pendeta Murtad.. "Sudah kukatakan.. Kata-kata Aki Lungkur tenang diucapkannya." tenang sekali Aki Lungkur menyahut. tetapi sakit didengamya.terus melanjutkan langkahnya." 'Phih! Aku sengaja menghadangmu untuk mencegah agar kau tidak ikut campur urusan keponakanku!" "Keponakan? Ha ha ha." "Dengan menghadang jalanku. aku tidak ada urusan denganmu. 'Tapi aku tidak pernah usil dengan urusan orang lain. "Aku rasa tanganmu tidak lebih bersih dari-pada tanganku. sudahlah! Aku tidak ada urusan denganmu. maka kau juga berurusan denganku!'' sahut Pradya Dagma. "Rupanya kau. "Heh! Rupanya kau cari penyakit?" "Kau yang cari kematian. Minggir." kata Pendeta Murtad yang nama aslinya Pradya Dagma. aku mau pergi!" dengus Aki Lungkur sedikit jengkel." kata Aki Lungkur berusaha mengalah. "Aku rasa kau tidak perlu ke bukit Guntur." dengus Aki Lungkur. kau sudah mencampuri urusan orang lain. Aki Lungkur. "Kalau kau mencampuri urusan Saka Lintang. Kau akan menambah kotor tanganmu saja. Aki Lungkur!" . Untaian tasbih tergenggam di tangan kanannya. Pradya Dagma makin merasa terhina.

hati. Dia masih mengeluarkan jurus-jurus andalannya. sebenarnya masih saudara seperguruan. hentikan semua ketololanmu!" bentak Aki Lungkur gusar. Lungkur!" sahut Pradya Dagma keras. Padahal setiap kali mereka bentrok. Mereka sama-sama murid Resi Brahespati. rupanya Pradya Dagma masih menyimpan api dendam. Dia bersiap-siap ketika melihat Pendeta Murtad itu telah membuka jurus-jurus ampuhnya. Tanpa dapat dicegah lagi. Dia tahu kalau Pradya Dagma sangat berbahaya. Antara Aki Lungkur dengan Pradya Dagma.Aki Lungkur mendelik. sebenarnya tidak ada urusan apa-apa. Pengemis Tongkat Merah melayaninya dengan setengahsetengah. Terpaksa Aki Lungkur harus menghadapinya dengan hati. Aki Lungkur selalu bersikap mengalah. Padahal. Sebab Pradya Dagma anak tunggal dari gurunya itu. Kelihatannya dia ingin membunuh Pengemis Sakti ini. Dia masih memandang hormat pada Resi Brahespati. Pendeta Murtad ini rupanya benar-benar ingin membunuhnya. . dua tokoh sakti berlainan aliran itu bertempur dengan sengit Diantara mereka berdua. Itulah sebabnya. "Pradya Dagma. "Jangan katakan aku kejam kalau kau kukirim ke neraka. Dia pun tak ingin mencampuri urusan Pradya Dagma meskipun tindakan dan perbuatan Pradya Dagma selalu merugikan orang lain. terutama tasbihnya yang menjadi andalan. Akibat suatu perselisihan. Aki Lungkur sendiri sebenarnya tidak melayani meski pun Pendeta Murtad itu selalu cari perkara dengannya. Pendeta Murtad itu telah melancarkan serangan-serangan berbahaya. mengapa Aki Lungkur selalu menolak setiap tantangan Pradya Dagma. Dia tidak mau mengakui keunggulan Aki Lungkur. "Aku tidak peduli kau melawan atau tidak!" Gigi Aki Lungkur beradu menahan geram.

Seketika pohon itu tumbang disertai suara gemuruh. Kedua tokoh itu mempergunakan jurus yang didapat dari sumber yang sama. "Kelakuanmu sudah melampaui batas." ujar Aki Lungkur masih berusaha mengalah. Pradya Dagma terkekeh melihat Aki Lungkur mulai terpancing kemarahannya. Pradya Dagma!" geram Aki Lungkur."Maaf. Mereka sama-sama telah mengenal jurus masing-masing. tunggu!" Pradya Dagma segera mengejar. Aki Lungkur belum bersiap-siap. "Hey. maka menyusullah suara teriakan keras. senang tinggal di neraka bersama iblis. dia telah berhasil mengejar disertai satu pukulan dengan tenaga dalam yang penuh. Hanya beberapa kali lompatan saja. aku masih ada urusan yang lebih penting. *** . Dua tokoh sakti itu pun saling menyerang. Setelah mereka saling pandang. tiba-tiba datang serangan berikut. "Kalau kau laki-laki." "Demi Resi Brahespati. Aki Lungkur kembali bergulingan di tanah. aku tidak menurunkan tangan kejam padamu!" Rupanya Aki Lungkur sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Pukulan Pradya Dagma menghantam sebatang pohon besar. Seluruh pikiran dan hatimu sudah tertutup iblis. Aki Lungkur terkejut. jangan hanya bisa menghindar!" ejek Pradya Dagma.” "Kau pun akan. "Kau memang sudah tidak bisa di beri hati. Dibukanya jurus 'Tongkat Sakti'. Secepat itu pula. Dia segera membuang diri ke tanah. Segera dia melenting cepat. Dia pun segera mengerahkan jurus 'Tasbih Sakti'. dia melenting dan berdiri di tanah dengan kokoh.

Timbul sifat mengalah dalam hati Aki Lungkur. hanya penerapannya yang lain.. Bahkan serangan-serangan balasannya tidak tanggungtanggung mengarah ke bagian-bagian tubuh lawan yang mematikan. kelihatan lebih unggul ketika memasuki jurus yang keseratus. Tendangan Pradya Dagma telak. Kaki Pradya Dagma berhasil menghantam dadanya. Jika Pradya Dagma mempergunakannya untuk maksud-maksud kejahatan. Jurus demi jurus berlalu dengan cepat. "Akhl" Aki Lungkur memekik tertahan. Sedikit demi sedikit Pradya Dagma mulai kewalahan dan terdesak. Bahkan dia kelihatan tidak ada semangat lagi untuk melanjutkan pertarungan. Jurusjurus yang mereka pergunakan juga beraliran sama. Aki Lungkur selalu membelokkannya. disertai tenaga dalam yang hebat Kalau bukan Aki Lungkur. Dibiarkan dirinya terdesak. "Kau menghinaku. Matanya berkunang-kunang. Masing-masing belum ada yang terdesak. Tapi Pradya Dagma sudah tidak peduli. maka Aki Lungkur mempergunakannya untuk membela yang lemah dan menumpas kejahatan. Dia malah mempergunakan kesempatan itu untuk mendesak. Dadanya terasa sesak. Aki Lungkur yang selalu memperdalam dan menyempumakan ilmunya. Hingga pada suatu saat. Beberapa kali ujung tongkat itu hampir menyentuh tubuh Pradya D agma..Kali ini Aki Lungkur tidak main-main lagi. Lungkur! Kau sengaja mengalah!" desis Pradya Dagma. Tubuh pengemis tua itu terdorong dua tombak. Mereka paham betul dengan kelemahan dan kelebihan jurus-jurus masing-masing. Lima jurus kini telah mereka lewati. Hatinya tetap tidak mengijinkan untuk melukai saudara seperguruannya ini. Kemauan saudara seperguruannya dilayani dengan sungguh-sungguh. mungkin dada itu telah jebol. .

Belum juga Aki Lungkur bersiap-siap. Dia tidak mengerti. tapi Pradya Dagma. ayahnya itu yang padahal tengah berdiri di depannya.." kata Aki Lungkur ter-sendat "Sudah aku katakan. "Aku berusaha mengalah.. Pradya Dagma kembali menyerang dengan jurus-jurusnya." "Resi." Aki Lungkur tidak melanjutkan kata-katanya. Ketika Aki Lungkur ingin melanjutkan kata-katanya. Pradya Dagma memang tidak melihat kedatangan Resi Brahespati. aku tidak peduli dengan sikapmu! Ayo lawan aku!" bentak Pradya D agma. "Ampunkan muridmu yang hina ini. Kini yang berdiri di depannya hanyalah Pradya Dagma. mengapa tiba-tiba Aki Lungkur seperti ketakutan. dan berlutut saat dia tahu yang berdiri di depannya adalah Resi Brahespati. Segera Aki Lungkur memantapkan hati untuk memberi pelajaran kepada saudara seperguruannya yang murtad ini. Ketika posisinya menguntungkan." lembut berwibawa suara Resi Brahespati.. "Bangunlah. Terpaksa Aki Lungkur harus jatuh bangun menghindari serangan beruntun itu. Bahkan dia tadi menyebut-nyebut resi.!" Aki Lungkur terkejut menerima petuah itu. Seketika pengemis tua itu menjatuhkan diri. "Dia benar-benar sudah murtad! Aku mengijinkan kalau kau menjatuhkan tangan padanya." ucap Aki Lungkur dengan kepala tertunduk. Tiba-tiba di depan Aki Lungkur seperti berdiri seorang resi. tidak layak kau berbuat begitu. Pradya Dagma yang melihat sikap Aki Lungkur. terheranheran. Rasanya memang masih terasa berat untuk menjatukan tangan kepada Pradya Dagma. Aki Lungkur . Resi."Aku mengaku kalah. tibatiba Resi Brahespati telah lenyap dari pandangan. Masih terngiang-ngiang kata-kata gurunya tadi. Beri dia pelajaran agar matanya terbuka..

"Jangan sebut-sebut ayahku!" Setelah berkata demikian.ngiang di telinga Aki Lungkur." hibur Aki Lungkur.. 'Tidak. "Aku senang bisa mati di tangan tokoh sakti sepertimu. Darah makin banyak keluar. Pradya Dagma yang setingkat di bawah Aki Lungkur. Kini keinginanku tercapai sudah. Pada suatu kesempatan yang baik. Terima kasih. Aki Lungkur mencabut tongkatnya yang menembus dada pendeta murtad itu.!" Jeritan melengking terdengar. Dari sudut bibirnya keluar darah segar.. Kita akan bersama-sama lagi. dan. Aki Lungkur tidak segan-segan lagi melayaninya. Aku puas. "Demi Resi Brahespati. "Setan!" dengus Pradya Dagma sambil menyeka darah yang terus mengalir. dengan cepat pukulan Aki Lungkur bersarang di dada Pradya Dagma. Lungkur. Pradya Dagma kembali menyerang membabi buta. kembali terdesak. Hal inilah yang membuat pengemis tua itu tidak memberi kesempatan kepada Pradya Dagma untuk membalas. Kemudian disusul dengan tendangan keras. minta ampunlah kau pada ayahmu!" kata Aki Lungkur lantang. mengapa Pradya Dagma menginginkan mati di tangannya.. "Dagma. kau harus hidup. kau mau memenuhi keinginanku. "Aaaakh. . Napasnya tersendat-sendat.!" suara Aki Lungkur bergetar. Aki Lungkur cepat-cepat menghampiri dan merangkul tubuh gemuk itu... Sementara kata-kata Resi Brahespati terus terngiang... Tubuh Pradya Dagma pun ambruk dengan darah muncrat dari dadanya yang bolong.. "Dagma.segera membalas tanpa memberi am pun lagi. Pendeta Murtad itu terdorong sejauh tiga tombak. Pradya Dagma tersenyum. Tongkatnya kini berkelebat cepat.." lemah dan tersendat suara Pradya Dagma.." Aki Lungkur tidak mengerti.

aku menyelinap ke kamarnya. Peristiwa itu sudah lama terjadi. Tetapi sebelum hari bahagia itu dilangsungkan. Hingga tua dia tidak pernah menikah. Dia tak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak sengaja membunuhnya. Dia cantik dan menjadi kembang desa itu. sehari sebelum pernikahanmu dengan Komala. Dia mengambil pisau. Waktu itu mereka masih sama-sama muda dan tinggal di padepokan Resi Brahespati. "Aku merasa iri karena Komala menjatuhkan pilihan kepadamu. . Malam itu. Ingatannya seketika mundur puluhan tahun yang lalu. Ternyata Komala membuka hatinya pada seorang pemuda bernama Lungkur. kau bicara apa?" Aki Lungkur makin tidak mengerti. "Semula aku hanya ingin memperkosa saja. Lungkur. Lungkur. Aku telah memperkosa dan membunuhnya. Mereka telah merencanakan untuk memasuki jenjang perkawinan. Aku ingin membuatmu kecewa dan sakit hati. Tapi kini. peristiwa itu sepertinya baru saja terjadi. seluruh desa dan padepokan geger." Aki Lungkur hanya tertunduk saja. Kini keinginanku menebus dosa pada Komala terlaksana sudah. dan aku berusaha mencegahnya. Lungkur tidak ada niat lagi mendekati wanita. Sejak itu. Seharusnya malam itu kubiarkan saja dia membunuhku. hanya tanganmu lah yang bisa membunuhku. Lungkur! Di depan mayatnya aku berjanji. Komala kedapatan mati dengan leher tertembus pisau. Tapi perbuatanku malah menghilangkan nyawanya." Pradya Dagma meneruskan ceritanya. Bahkan sudah ham pir dilupakannya. Setitik air bening mulai menggulir di pipi Aki Lungkur." "Dagma. Di desa dekat padepokan itu tinggallah seorang gadis bernama Komala. Hubungan mereka telah direstui oleh Resi Brahespati. hanya kau yang boleh membunuhku."Aku sudah berjanji pada Komala.

'Terima kasih. Aki Lungkur benar-benar sedih. Hatiku akan tenang jika kau mau memaafkan aku. "Sejak lama aku selalu memaafkanmu. *** . Kalau saja hal itu diketahuinya sejak dulu. Keinginannya telah terkabul." sahut Aki Lungkur. mungkin Aki Lungkur akan segera membunuhnya agar kesengsaraan hidup Pradya D agma tidak berl arut-larut." Pradya Dagma menutup mata dengan tenang setelah mengucapkan kata maaf dan terima kasih. masih tersimpan sedikit jiwa ksatria. Dia baru sadar kalau perbuatan Pradya Dagma hanyalah untuk memancing kemarahan agar dapat membunuhnya. Bi birnya menyungging senyum. sikap Pradya Dagma berada di jalan yang salah."Maafkan aku. Teguh pada janji dan pendinannya Hanya sayangnya. Ternyata di balik hatinya yang keji. Tidak ada yang tahu kalau seluruh perbuatan Pradya Dagma hanyalah pancingan agar Aki Lungkur dapat membunuhnya." kata Pradya Dagma lagi. Lungkur. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Menerima kenyataan itu.

kian lebar saja terbuka. Kedua tangannya bergerak-gerak cepat mengibas mencari sasaran. Baju di bagian dada yang memang sudah sobek. Seketika itu pula. Bagian dada yang membukit terbungkus kulit putih mulus itu tidak lepas dari tatapan mata Patih Giling Wesi. Tetapi dengan cepat dipusatkan kembali perhatiannya pada Setan Jubah Merah. "Kurang ajar" geram Saka Lintang. Dengan demikian lawannya benar-benar kerepotan. Kadang dia menggabungkan dua atau tiga jurus. "Hait!" Saka Lintang melentingkan tubuhnya ke belakang sejauh dua tombak. Mukanya merah menahan malu. Lintang!" teriak Setan Jubah Merah tiba-tiba. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah bagai kepiting rebus. "Yeaaah. Lalu dengan cepat dia . Seketika darahnya seperti berhenti mengalir.7 Pertarungan antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah ki an berlangsung sengit di bukit Guntur.!" Tiba-tiba Rangga berteriak nyaring. Rangga masih tetap menggunakan empat jurus gabungan dari jurus 'Rajawali Sakti'. Dalam gerakan-gerakan membingungkan itu.. Bahkan kalau mungkin menggabungkan keempatnya sekaligus. Saka Lintang sedapat mungkin menutupi bagian tubuhnya yang terbuka itu. namun bajunya harus direlakan terjambret. tangannya mengembang dengan cepat Tubuhnya kini melayang. Kibasan Rangga berhasil dielakkan. Mereka bingung menghadapi gerakan-gerakan yang sulit diduga arah dan tujuannya. "Awas.. Rangga selalu mengganti-ganti jurus. Mata Rangga pun sempat menatap ke bagian indah itu.

Wajah Saka Lintang seketika berubah setelah menyadari tangannya tidak dapat ditarik lagi dari tubuh Rangga. Tetapi racun jenis apa pun tak ada pengaruhnya bagi Rangga.. Belum sempat gadis itu menyadari apa yang terjadi.. Di luar dugaan. Namun semakin ditarik. namun.. Seketika dari ujung pedang sampai pangkal lengan Saka Lintang bergetar. semakin kuat telapak tangannya menempel.kembali menerjang sambil menghunus pedangnya. Tetapi Rangga malah kelihatan tenang-tenang saja. Sekuat tenaga gadis itu menarik tangannya. kedua telapak tangan Saka Lintang kini menempel erat di dada Rangga.. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedang dengan jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Menyadari Saka Lintang telah menebar racun. Gadis itu tidak tahu kalau sebenamya Rangga sengaja membiarkan tangan beracun itu masuk ke dalam bagian dada yang lowong. Saka Lintang jadi geram. gadis itu menggedor dada Rangga sekali lagi dengan tangan kanannya. "Kena!" teriak Saka Lintang keras. Setan Jubah Merah menahan napas. "Ah. Bahkan bibimya menyungging senyum. . Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam dan penyaluran racun ke telapak tangannya. Saka Lintang semakin panik. Pukulan tangan kiri Saka Lintang tepat menghantam dada Rangga. Trak! Rangga hanya menyentil pedang itu dengan jurus 'Cakar Rajawali'.. tiba-tiba tangan Rangga bergerak menyambar gagang pedang dalam genggaman Saka Lintang.!" pekik Saka Lintang tertahan. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedangnya. Dia tahu kalau hawa racun telah menyebar di sekelilingnya. Ditebaskan pedang yang ada di tangan kanannya ke leher Rangga.

. Saka Lintang pun tak urung kaget pula."Setan!" dengus Saka Lintang geram.. tubuh Saka Lintang dipastikan hancur menubruk batu besar. Tanpa banyak tanya lagi. "Semadilah. "Akh!" tiba-tiba Setan Jubah Merah memekik keras. tentu! Ini. Jika saja gerakan Setan Jubah Merah tidak cepat. Tetapi hal itu tidak dilakukannya. sehingga Setan Jubah Merah tidak tahu harus berbuat apa. Dia malah membuang pedang itu jauh-jauh. Seketika tubuhnya seperti terbakar. "Paman. Dihampirinya Setan Jubah Merah yang tengah meringis memegangi tangannya sendiri.. Kalau Rangga mau. sebenamya dia bisa saja menebaskan pedang yang terebut tadi. Setan Jubah Merah terkejut. Dia kaget setengah mati karena tubuh Saka Lintang masih menyebarkan hawa racun. Perlahanlahan dari ujung kepalanya mengepul asap tipis. "Uh! Racunmu. Paman." kata Setan Jubah Merah sambil meringis. Rangga menggunakan gadis itu menjadi tameng. Cepat-cepat dihilangkan hawa racun dari tubuhnya. "Pengecut! Lepaskan gadis itu!" bentak Setan Jubah Merah. Dengan cepat dia melompat dan menangkap tubuh gadis itu yang melayang deras. Keringat membasahi . Dia tidak bisa leluasa melancarkan pukulan mautnya. Kedua matanya dipejamkan. Saka Lintang merogoh saku jubahnya. Seluruh tubuh Setan Jubah Merah bergetar." ujar Saka Lintang. Matanya menatap Setan Jubah Merah yang kebingungan. terimalah!" Tiba-tiba saja tubuh Saka Lintang terpental keras. kau tidak apa-apa?" tanya Saka Lintang cemas. Setan Jubah Merah pun bersila. Cepat-cepat dilepaskan tangannya. lakilaki tua itu menelan pil yang diberikan Saka Lintang. Diberikannya pil itu kepada Setan Jubah Merah. dan mengeluarkan sebuah pil berwarna merah darah. "Oh.

Kalau saja saat ini tidak ada ayahnya. Mulutnya malah bersiul-siul dengan irama tak menentu. Setan Jubah Merah membuka matanya ketika getaran pada tubuhnya berhenti sama sekali. Sesekali matanya melirik Intan Kemuning yang berdiri di samping ayahnya. Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak tahu sama sekali kalau dua tokoh itu meluruk ke arahnya. tel ah kembali bersiap-siap menghadapi lawannya yang tengah duduk tenang itu. Intan Kemuning merasakan jantungnya berdetak keras. Dia gelisah karena dua tokoh sakti begitu . Rangga seperti tidak peduli dengan lawan yang sudah bersiap-siap menyerang kembali. "Hoek!" Cairan kental berwarna kehitaman dimuntahkan oleh Setan Jubah Merah. Sedikit demi sedikit. seluruh tubuh lakilaki tua itu mulai tenang. dibarengi oleh hilangnya asap tipis yang mengepul di kepala laki-laki tua itu. Rangga masih tenang. Sementara.seluruh tubuhnya. Setiap kali Rangga melirik ke arahnya. Dia memperhatikan saja kedua lawannya yang tengah sibuk itu. Rangga membalasnya dengan senyum manis pula. kemudian disambung dengan melentingnya dua tubuh ke arah Rangga. Tak diduga. ingin sekali Intan Kemuning menghambur dan memeluk pemuda itu. "Hiya!" "Yeah!" Dua teriakan keras saling susul. Tapi semua perasaan dan keinginan itu ditekan dalam-dalam sam pai ke dasar hatinya. Sikap Rangga yang masa bodoh itu membuat Intan Kemuning cemas. Tanpa sadar Intan Kemuning melontarkan senyuman manis pada pendekar muda itu. dua tokoh tingkat tinggi. Saka Lintang dan Setan Jubah Merah. Kini Pendekar Rajawali Sakti tengah duduk tenang di atas batu besar.

Intan Kemuning benar-benar tidak dapat menyembunyikan kecemasannya. bagaimana dengan Rangga? Debu masih mengepal tebal. "Akh!" Intan Kemuning memekik tertahan. Dia tidak melihat pendekar itu. Akibatnya memang dahsyat. Peringatan gadis itu tepat bersamaan dengan dua tubuh yang meluruk menerjang Rangga. jadi berkeping keping disertai ledakan keras terkena pukulan itu. Dia hanya tersenyum-senyum saja. Sikap duduknya tidak berubah sedikit pun. Rupanya dia mengerti apa yang telah melanda putrinya ini. Dia seperti membiarkan saja pukulan itu menghantam tubuhnya. Kedua tokoh sakti Itu terperanjat melihat hasil gempurannya tidak berpengaruh apa-apa terhadap lawannya.. sepasang mata tengah mengawasi pertarungan itu dari balik pohon. Batu tempat Rangga duduk. Serangan yang dibarengi pengerahan tenaga dalam." Intan Kemuning mendesah lega melihat pendekar tampan itu masih hidup. tampak Rangga masih duduk di atas tumpukan batu-batu yang hancur. Batu yang sebesar kerbau itu saja hancur. *** Berangsur-angsur asap tebal yang mengepul sirna disapu angin. begitu cepat datangnya. Sikap gadis itu tidak lepas dari pengamatan Patih Giling Wesi. . "Oh. awas!" Intan Kemuning tidak dapat lagi mengendalikan diri. Jelas kalau Rangga tadi tidak sedikit pun menghindar. Apakah dia hancur bersama batu itu? Batin Intan Kemuning bertanyatanya penuh kecemasan. Patih Giling Wesi kembali perhatiannya tercurah pada ketiga tokoh yang kini telah bertarung kembali. Tanpa disadari.cepat menyerang. Ketika debu itu hilang sama sekali... "Pendekar Raj awali Sakti.

Tubuhnya terlontar ke belakang sejauh tiga tombak. "Kejam! Setan! Kubunuh kau!" pekik Saka Lintang marah. Kehadirannya saja tidak diketahui sama sekali. Kini Saka Lintang hanya sesekali saja melontarkan pukulan beracunnya. Setan Jubah Merah meregang nyawa sebentar. Jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun' yang dipadu dengan jurus 'Tarian Bidadari'. dirubahnya jurus itu menjadi 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. "Maaf. Dia terkena 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang tak terduga dilepaskan Rangga.!" pekik Saka Lintang. Kedua tangannya merentang mengepak bagai sayap rajawali. "Paman. Rangga kembali merubah jurusnya. Begitu cepatnya jurus itu sehingga Saka Lintang tidak punya kesempatan lagi untuk mengelak. Dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tangan Rangga berhasil menghantam telak dada Setan Jubah Merah. "Aaaa. Tubuhnya meluruk turun deras. lalu diam tak bergerak sama sekali. Dia tidak ingin lagi berbuat konyol yang hampir merenggut nyawa paman angkatnya. Seluruh dadanya seperti hangus terbakar. Sementara itu Rangga sudah kembali melayani dua lawannya yang kian bernafsu untuk mengakhiri pertarungan alot dan panjang ini.. Sekejap saja tubuhnya telah melambung di udara. Dia harus mempertimbangkan kehadiran Setan Jubah Merah. . Seketika Rangga merubah jurusnya.Jelas pemilik sepasang mata itu bukan orang sembarangan. Kali ini digunakannya jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Kakinya bergerak mengarah kepala lawan... Kakek!" seru Rangga tiba-tiba. Secepat kilat. Gadis itu segera menyerang Rangga dengan mengeluarkan jurus andalan terakhirnya. Dalam sekejap sekitar tempat pertarungan telah terselimuti oleh hawa racun yang mematikan..!" Setan Jubah Merah meraung keras.

lalu diam tak bergerak l agi.. hebat. Patih Giling Wesi mendekat diikuti Intan Kemuning. Dari balik pohon muncul seorang kakek tua berpakaian compang-camping.!" Saka Lintang memekik keras. "Bagaimana kalau kita makan bersama lagi di bawah pohon sambil menikmati udara segar. "He he he…. Rangga menoleh ke arah suara itu. "Tunggu!" Mereka menoleh dan berbalik bersamaan. "Penglihatanmu tajam."Aaaa. tawaran yang menggairahkan.... "Ah. Rangga mendekat Aki Lungkur terkekeh. Sungguh tragis kematian gadis ini. kalau tidak salah." kat a Rangga dengan tutur kata yang halus. Mari!!" Ketika mereka akan melangkah. Aku pengemis tua yang hina. Siapa lagi kalau bukan Pengemis Sakti Tongkat Merah. Gadis itu ambruk dengan kepala hancur berantakan. "Uts! Hampir lupa kalau di sini masih ada orang lain." tiba-tiba terdengar suara terkekeh. Mati bersama rasa cinta. Dia mati di tangan laki-laki yang dicintainya. lalu mereka makan bersama di pinggir tegalan. kakek yang berada di kedai minum tempo hari. Rangga kembali mendarat Matanya memperhatikan tubuh Saka Lintang yang meregang nyawa." kata Rangga teringat ketika dia memberikan sebungkus bekal makanan. Gadis itu selalu menundukkan kepala terus. Hatinya makin berdebar-debar kalau kebetulan matanya beradu pandang." kata Aki Lungkur.. tetapi matanya melirik pada Rangga. tiba-tiba terdengar suara Patih Giling Wesi mencegah.." sahut Aki Lungkur. Di tangannya tergenggam tongkat berwarna merah... benci dan dendam.. Darah seketika membasahi tanah. "Menakjubkan.." Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah menggeleng-gelengkan kepalanya. Kalau sudah . "Ah. anak muda. hebat..

" Patih Giling Wesi mengamati wajah Rangga dengan teliti sekali. Wajahnya sangat mirip dengan Adipati Karang Setra. Cepat-cepat diturupi rasa kaget itu dengan senyum. (Baca serial: Pendekar Rajawali Sakti. Patih Giling Wesi tengah berusaha mengingat-ingat. Episode: Iblis Lembah Tengkorak). anak laki-laki Adipati hilang tanpa bekas. "Rangga. "Namamu mirip dengan seorang putra Adipati yang hilang dua puluh tahun lalu. Tapi di mana? Kapan pernah bertemu? Ingatannya terus berputar. Sepertinya dia pernah mengenal wajah itu. Memang benar gumaman patih ini. "Hamba hanya seorang pengembara hina Gusti Patih. Masalahnya. Rangga terkejut juga mendengarnya. "Nama memang bisa saja sama." Patih Giling Wesi menggumamkan nama itu beberapa kali.. kalau boleh tahu.. cepat-cepat matanya dialihkan mencari pandangan lain. Biarlah kenangan pahit itu dia sendiri yang tahu. Dua puluh tahun yang lalu terjadi musibah pada rom bongan Sang Adipati yang hendak menuju ke kota Kerajaan Ayahandanya.. Rangga jadi bertanya-tanya. Nama hamba Rangga. "Kisanak. Gusti Patih. Rangga memperhatikan dengan pandangan bertanyatanya. Tibatiba dia tersentak Benar! Tidak salah lagi." kata Rangga buruburu. Tapi. Dia tidak ingin masa lalunya terungkap lagi." jawab Rangga merendah. siapa namamu dan dari mana kau berasal?" tanya Patih Giling Wesi. Tetapi Patih Giling Wesi sedikit ragu-ragu juga. Sedangkan kejadiannya tidak jauh dari jurang Lembah .." Patih Giling Wesi setengah bergumam. apakah Patih Giling Wesi kenal dengan ayahnya? "Nama bisa saja sama..demikian..

Bangkai. siapa saja yang masuk ke dalam jurang itu tak akan pernah selamat. Antara mengakui dan membantah. Antara percaya dan tidak. Karena sudah pasti. Siapakan anak muda perkasa yang ada di depannya ini? *** . Dia berusaha memecahkan teka-teki ini. Semua orang menduga kalau anak itu pasti masuk ke jurang Lembah Bangkai. Patih Giling Wesi seperti berperang dengan batinnya sendiri.

Dia belum dapat memastikan perihal anak muda ini. mari kita berangkat sekarang!" ajak Patih Giling Wesi. Masingmasing menunggang kuda dan menuntun seekor kuda pula." sahut Rangga mendesah. Kisanak. sudi kau mampir sebentar di Kepatihan. Cepat dialihkan pandangannya ke tempat lain. Jika tidak mengganggu perjalananmu . Tentu dia setuju karena antara dia dan patih itu telah terjalin suatu persahabatan. telah menunggu delapan orang prajurit Kepatihan. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Tapi bibirnya sempat memberikan senyum manis. Batin Patih Giling Wesi bicara sendiri. Seketika dua pasang mata saling berpandangan.8 Beberapa saat suasana di bukit Guntur hening. diikuti oleh tujuh orang prajurit-prajurit lain. Patih itu sendiri sampai saat ini masih berusaha memecahkan teka-teki itu. "Baiklah. Ah! Siapa pun dia. Intan Kemuning jadi gelagapan. Keempat orang itu segera meninggalkan tempat itu. Di kaki bukit. yang jelas jasanya sangat besar. Kalau tidak ada pendekar muda ini. Rapaksa segera melom pat dari kudanya. meninggalkan mayat-mayat yang bergelimpangan dan siap jadi santapan anjing-anjing hutan. "Aku sangat berhutang budi padamu. Matanya beralih memandang Intan Kemuning. "Kalau begitu. entah bagaimana nasib putrinya." Patih Giling Wesi mengundang. Rangga belum menjawab. Pengemis tua itu mengangguk-angguk kepalanya. Mereka segera menghampiri patih itu. Rangga menoleh pada Aki Lungkur yang berdiri di sampingnya. Mereka menuruni bukit Guntur. Patih Giling Wesi . Semua seperti menunggu pembicaraan Patih Giling Wesi.

*** Matahari telah condong ke Barat ketika rombongan itu sampai di pintu Gerbang Kepatihan. Sungguh besar jasa mereka. Dan kini hamba hanya dapat lima belas ekor. sudahlah. padang diarungi. Mereka pun segera masuk ke dalam benteng Kepatihan. dan berhenti tepat di depan pendopo." sahut Patih Giling Wesi mendesah berat." kata Rapaksa melapor. Hatinya masih bertanya-tanya tentang kelihaian putrinya menunggang kuda. Mereka melewati jalur pintas. Semula Patih Giling Wesi khawatir juga terhadap Intan Kemuning. Patih Giling Wesi selalu berada di samping Intan Kemuning. Penjaga pintu segera membuka pintu ketika melihat Patih Giling Wesi yang datang bersama putrinya. Perjalanan kini dilanjutkan dengan menunggang kuda. Hamba datang terlambat Hamba mencari kuda-kuda dulu. "Hh. Hutan dirambah. Intan Kemuning telah diajari naik kuda oleh Saka Lintang. dan kini mereka telah dekat dengan sebuah desa yang dekat dengan bukit Guntur. Gusti Patih. Akhirnya pikiran patih itu tenang setelah melihat putrinya sangat lihai menunggang kuda. Nyawa mereka korbankan hanya untuk menyelamatkan seorang putri patih. Rombongan kecU berkuda itu terus meninggalkan bukit Guntur yang terlihat hijau.mengamati sisa prajurit-prajuritnya. Patih itu tidak tahu kalau selama jadi tawanan perampok. Setelah melompat turun dari kudanya. tidak menyusuri tepian sungai Ular. Rombongan itu terus melewati desa itu. Setahunya Intan Kemuning tidah pernah belajar naik kuda. "Ampun. Patih Giling Wesi membantu Intan Kemuning yang sedikit kesulitan turun dari . Mari kita kembali ke Kepatihan.

Rasa rindu yang menggebu ingin segera bertemu ibundanya. Beberapa orang pelayan datang menyediakan suguhan. "Aku senang sekali jika kalian sudi menginap di sini barang satu atau dua malam." kata Patih Giling Wesi. Rangga memandangi bangunan indah dan megah di depannya. Sebenarnya Rangga ingin menolak. membuat dia lupa sejenak terhadap Rangga. Beda dengan Aki Lungkur. "Oh.kudanya. Anda berdua adalah tamu kehormatanku." ucap Rangga sambil mengangkat gelas yang sudah terisi arak manis. Seketika dia teringat sewaktu masih tinggal di Kadipaten. Rangga minum sedikit dengan sikap Sopan. Kediamannya juga tak kalah indahnya dengan bangunan itu. Di mana lagi dia dapat minum arak selezat ini kalau tidak mendapat undangan dari Patih Giling Wesi? Patih Giling Wesi selalu memperhatikan sikap dan tutur kata Rangga. Sikap Rangga memang tidak seperti pendekar-pendekar lainnya. tentu. 'Terima kasih. "Silahkan. Tetapi karena Aki Lungkur sudah menerima. Dia menenggak habis arak wangi mahal itu. Patih Giling Wesi membawa dua tamunya masuk ke bangsal utama Pendopo itu. dia hanya bisa angkat bahu saja. Sementara Intan Kemuning telah berlari masuk ke dalam keputrenan." Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya untuk minum. "Mari silahkan masuk. Biasanya tokoh-tokoh rimba persilatan selalu tidak peduli dengan tata krama. Tentu saja aku tidak keberatan!" Aki Lungkur cepat menerima sebelum Rangga membuka suara. Mereka kemudian duduk melingkar menghadapi meja. Dari situ dia merasa sedang berhadapan dengan seorang pemuda bangsawan." kata Patih Giling Wesi lagi. Memang tidak ada salahnya menginap barang sehari setelah sepanjang hari menguras tenaga menyabung .

Rangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dua orang punggawa dat ang mendekat. Setelah mendapat anggukan dari Patih Giling Wesi. Ki?" tanya Rangga. punggawa itu berhenti. Rangga mengernyitkan keningnya melihat pengemis tua itu seperti terburu-buru. "Ada apa. yang jelas pandangan itu tertuju pada Rangga. Rangga masih duduk di kursinya. "Silahkan. Di sebuah kamar yang indah dan luas. Rangga memandangi setiap ruangan yang dilewatinya. "Apanya yang gawat?" tanya Rangga tidak mengerti. "Antarkan tamu-tamuku ke tempat istirahatnya. Aku Lungkur bangkit dan melangkah pergi ke tempat istirahatnya." Rangga masih belum mengerti. Entah melihat atau tidak. dia pun bangkit melangkah mengikuti punggawa. Aki Lungkur segera menerobos masuk dan menutup kembali. Saat matanya menatap ke arah taman. Patih Giling Wesi menepuk tangannya dua kali. dan segera pergi setelah tugasnya selesai. dan memang kelihatannya Intan Kemuning juga tengah memandang ke arahnya. "Gawat!" sahut Aki Lungkur. "Patih Giling Wesi curiga padamu. Diamatinya sebentar. Rangga menoleh ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Dia menyilahkan Rangga masuk.nyawa." Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya mengikuti para punggawa yang mengantarkan ke peristirahatan. dilihatnya Intan Kemuning tengah duduk di bangku taman sendirian. Dia hanya menatap laki- . Indah sekali ruangan ini. Bergegas dia membukanya. Mereka memberi hormat." perintah Patih Giling Wesi. Kedua punggawa itu kembali memberi hormat.

Sepeninggal Aku Lungkur. Bukankah kalian bersahabat?" "Aku tidak berprasangka buruk." Rangga berusaha bersikap tenang. hal apa yang akan dikatakan Aki Lungkur tadi. Intan Kemuning masih duduk di sana memandang ke arahnya. "Hati-hatilah. Memang hatinya telah menduga." Rangga hanya tersenyum saja.laki tua itu tak berkedip. 'Terima kasih. Rangga tidak ingin menjadi seorang pendekar tanpa masa lalu. Aku tidak peduli siapa dirimu." "Dia menduga begitu?" Rangga terkejut. Tapi aku yakin kau tidak akan menerimanya. "Benar! Aku mendengar sendiri. . Aku membaca gelagat lain di balik niat luhur Patih Giling Wesi." "Jangan berprasangka buruk. Niatnya yang tersembunyi memang baik. Dia menduga kau anak Adipati yang hilang dua puluh tahun yang lalu." ucap Rangga. Rangga hanya mengangguk dan mengiyakan saja. Dia tidak mau berteletele melayani segala macam prasangka. Makanya aku segera ke sini menemuimu. meskipun dadanya bergemuruh. Kau seorang pendekar yang banyak dibutuhkan oleh kaum lemah. Rangga kembali memandang ke arah taman. "Patih Giling Wesi memerintahkan beberapa punggawa untuk menyelidiki asal-usulmu. Masa lalu yang tidak perlu diketahui orang lain. Yang penting aku sudah menganggapmu sahabat. Tak ada orang di seluruh Kepatihan yang tidak tertarik pada gadis ini. Dia meminta Aki Lungkur untuk pergi beristirahat. Aki. Laki-laki pengemis tua itu kembali ke luar setelah berpesan macam-macam." "Mengapa Aki memberitahuku?" "Karena kau baik. Gadis itu memang cantik.

Rasa-nya dia ingin seribu kali mendengamya. Dia tersenyum saja. *** Intan Kemuning memandang Rangga yang melangkah menghampirinya. boleh." desah Rangga setelah duduk di samping gadis itu. "Sepantasnya kau mendapatkan seorang pangeran yang gagah dan tampan." "Apa?" "Wajahmu. Jiwa kebangsawanannya tetap tidak luntur. .Rangga sendiri sebenamya juga tertarik. Jantungnya jadi berdetak tidak beraturan. Matanya tajam mengawasi setiap tempat yang dilalui. Rangga melangkahkan kakinya ke luar kamar. "Adakah pangeran yang cocok untukku?" tanya Intan Kemuning ingin menegaskan. Ketat sekali penjagaan di Kepatihan ini." sahut Intan Kemuning. Setiap sudut. "Indah sekali taman ini. pasti ada seorang pangeran tampan dan gagah menghampirimu. "Ya. Pujian Rangga mengena di hatinya. "Boleh aku duduk di sini?" tanya Rangga." "Kapan?" "Satu saat nanti." kata Rangga. Sikapnya tetap anggun meskipun selama beberapa hari ditempa dengan latihan-latihan keras oleh Saka Lintang." "Siapa pangeran itu?" Rangga tidak menjawab. 'Tapi ada yang lebih indah lagi untuk dipandang. dua orang prajurit pasti ada di situ." sahut Intan Kemuning tergagap. "Oh! Boleh. Dia tidak beranjak dari duduknya." Seketika wajah Intan Kemuning menyemburat merah dadu. "Satu saat nanti.

Intan. "Oh. Kedua lengannya berkembang masuk ke dalam pelukan Rangga.„.info/ http://kangzusi. Pelan-pelan Intan Kemuning menundukkan kepalanya...info/ http://cerita_silat.. Hatinya berbunga-bunga." bisik Rangga dekat sekali dengan wajah Intan Kemuning. "Semoga aku yang menjadi pangeran itu.Beberapa saat mereka terdi am saling tatap.cc/ . Dan mereka memperketat rangkulan-nya." Intan Kemuning tidak mampu berkata-kata lagi.com/ http://dewi-kz. SELESAI Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel Convert : Abu Keisel Editor : Deeemart86 Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful