BIDADARI SUNGAI ULAR oleh Teguh S. Cetakan pertama, 1990 Penerbit Cintamedia, Jakarta Gambar sampul oleh Tony G.

Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa Izin tertulis dari penerblt Teguh S. Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Bidadari Sungai Ular 128 hal ; 12 x 18 cm
Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel Convert : Abu Keisel Editor : Deeemart86 Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/

1
Seekor kuda putih tinggi kekar berlari bagai kilat menyusuri tepian sungai. Bentuk sungai yang berliku-liku, seakan-akan bergerak bagai seekor ular naga yang menyusuri lereng dan bukit-bukit di sekitarnya. Oleh karena bentuknya yang mirip dengan ular naga, maka sungai itu dinamakan sungai ular. Kuda itu ditunggangi seorang wanita cantik dengan pakaian serba biru. Wajahnya basah oleh keringat. Sebilah pedang bertengger di pung-gungnya. Dia adalah Saka Lintang, anak angkat Geti Ireng, ketua gerombolan Panjl Tengkorak. Ditinggalkannya Lembah Tengkorak, setelah seorang pendekar muda yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti mengobrak-abrik partainya, Panji Tengkorak. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti. Episode: Iblis Lembah Tengkorak). "Hooop...!" Saka Lintang menarik tali kekang kudanya kuat-kuat. Kuda putih meringkik kencang lalu berhenti. Dengan gerakan ringan dan tangkas, Saka Lintang melompat dari kudanya. Ketika kakinya sampai di tanah, segera dijejakkan kakinya hingga tubuhnya melenting ke udara dan hinggap di pohon yang cukup tinggi. Saka Lintang bertengger pada sebuah cabang pohon, seraya matanya mengawasi bagian hulu sungai. Bibirnya tersenyum kctika sebuah perahu besar dengan layar lebar mulai terlihat. Di ujung tiang layar, berkibar selembar bendera bergamhar bunga melati yang dilingkari rantai. Dari lambang gambar bendera, dapat dipastikan kalau kapal layar itu milik seorang saudagar kaya dari Kadipaten Balungan. Sebuah Kadipaten kecil di wilayah Timur kerajaan Singasari yang berpenduduk cukup makmur. "Suiiit...!" Saka Lintang bersiul nyaring yang disertai tenaga dalam.

Mendengar siul yang bergema itu, serentak dari rimbunan semak-semak tepi sungai bermunculan empat buah perahu berukuran sedang, dikayuh oleh beberapa orang. Saka Lintang segera terjun diiringi gerakan salto beberapa kali, dan hinggap tepat di punggung kudanya. Gadis itu lantas menghentak tali kekang kudanya, lalu memacu ke arah perahu gerombalannya yang makin dekat. Ketika perahunya yang berwarna biru pekat itu telah menepi, Saka Lintang menarik tali kekang kuda, dan tanpa berpikir banyak dia segera melompat ke udara. Perahu yang telah siap menunggunya itu menerima tubuh Saka Lintang yang hinggap di tengah-tengahnya "Ayo, cepat! Kepung kapal layar itu!" teriak Saka Lintang. Enam orang laki-laki bertubuh kekar segera mengayuh dayung. Perahu itu pun meluncur deras mendekati kapal layar besar. Tiga perahu lain yang berwarna biru pekat pula, bergerak menyerang. Sedangkan di kapal layar besar itu tengah terjadi kesibukan. Beberapa orang telah siap dengan panah yang mengarah pada gerom bolan Saka Lintang. "Awas, panah!" teriak Saka Lintang ketika melihat anak panah meluncur deras. Saka Lintang pun mencabut pedangnya. Dengan cepat pedang itu telah berputar-putar bagai baling-baling. Anakanak panah yang meluncur cepat itu rontok seketika tersapu oleh pedang. Layaknya sebuah payung yang melindungi dari serangan hujan. Empat perahu Saka Lintang makin dekat ke arah kapal layar. Sementara anak-anak panah terus meluncur mencari mangsa. Namun anak buah Saka Lintang mudah saja merontokkannya. Saka Lintang tersenyum melihat keberhasilan anak buahnya itu. "Serang...!" teriak Saka Lintang nyaring. Mendengar abaaba itu serentak anak buah Saka Lintang yang berseragam biru pekat berlompatan ke atas kapal layar. Gerakan

Matanya tajam mengawasi sekitar geladak kapal yang penuh oleh darah. Codet?" tanya Saka Lintang datar. Memang orang-orang di atas kapal bukan tandingan Saka Lintang dan anak buahnya. Kedua tangannya berada di atas pinggang. Anak buah Saka Lintang yang berjumlah kira-kira dua puluh orang itu segera mengerjakan perintahnya. Dan memang. Sekejap saja permukaan sungai telah berubah warnanya menjadi merah oleh darah. Tuan Putri. Kesibukan kembali terjadi. Tubuh-tubuh mulai ambruk bergelimang darah menyusul suara jeritan hasil kelebatan pedang Saka Lintang. Sebilah golok besar tergantung di ping gangnya. Saka Lintang dan pasukannya berhasil menguasai kapal layar. Saka Lintang mengamuk bagai banteng terluka. Banyak sudah lawan yang telah berjatuhan. Dimasukkan pedangnya ke dalam sarung di punggung. Jelas mereka bukan orang-orang sembarangan. pindahkan semua barang berharga ke perahu kita!" perintah Saka Lintang. 'Tuan Putri ingin melihat- . Rata-rata mereka memiliki ilmu silat cukup tinggi. Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan wajah ditumbuhi cambang mendekati Saka Lin¬tang. Diseret dan dilemparkan seluruh mayat ke sungai." sahut laki-laki yang dipanggil Codet Memang di pipi kanannya terdapat guratan panjang sehingga menambah seram wajahnya. "Hoi! Angkat semua yang berharga!" teriak Codet keras. Beberapa lawan malah menyelamatkan diri dengan terjun ke sungai. Sementara pertarungan kini bergejolak di atas kapal layar. Dibungkukkan badannya sedikit di de-pan Saka Lintang yang berdiri angkuh. "Ada apa. "Hamba menemukan satu peti berisi perhiasan emas dan perak. "Buang semua mayat ke sungai!" perintah Saka Lintang. "Bagus.mereka sangat ringan dan cepat.

Dia ingin memiliki kapal . baru sekarang dia mendapat sebuah kapal layar yang mengagumkan. Sungguh nyaman berada di pembaringan ini. "Codet!" panggil Saka Lintang. Hanya sebentar saja Saka Lintang telah menelusuri bagianbagian kapal. "Hamba siap menjalankan perintah. Saka Lintang tidak menyahut. ganti dengan bendera kita!" perintah Saka Lintang. Saka Lintang menduga. Tuan Putri." "Kemudian kapal ini. kapal layar ini pasti milik seorang bangsawan kaya." jawab Codet sambil membungkukkan badan. Saka Lintang tersenyum-senyum sendiri. Bilik itu memang cukup indah. Di dalam bilik ini. bawa pulang!" Codet berlalu setelah sebelumnya memberi hormat Saka Lintang melangkah memasuki bilik kapal kembali. Saka Lintang merasa bagai putri raja. Codet mengikuti dari belakang.lihat?" ujar Codet sambil membungkuk lagi. Selama malang melintang menguasai sungai ular ini. Dia sangat terkesan ketika masuk ke sebuah bilik dalam kapal. "Turunkan bendera kapal. Mulutnya tak henti-hentinya berdecak kagum. Dijatuhkan tubuhnya ke atas pembaringan yang berlapiskan kain sutra lembut. Kenapa harus dipiklrkan? Yang penting aku suka kapal ini!" dengus Saka Lintang dalam hati. bagaikan peraduan seorang bangsawan. Rasanya sayang kalau kapal ini mesti dibakar seperti yang sudah-sudah. Kapal layar ini tidak terlalu besar. Dilangkahkan kakinya dengan angkuh melewati laki-laki tegap dan kasar itu. Rasanya tidak mungkin Kadipaten memiliki kapal seindah ini. "Hamba. Tapi kenapa bendera kapal menunjukkan milik saudagar Gantar dari Kadipaten Balungan? Atau mungkin kapal ini telah dijual oleh saudagar itu kepada bangsawan kerajaan? "Ah! Masa bodoh. Atau paling tidak putri bangsawan.

ini. Dengan kapal ini dia bisa lebi h leluasa menjadi penguasa sungai Ular. akulah ratu sungai Ular ini! Bidadari sungai Ular. Saka Lintang menoleh ke pintu ketika diketuk dari luar. Harganya hanya terjangkau oleh orangorang kaya. Arak ini memang pilihan kaum bangsawan. Saka Lintang menari-nari berputar mengelilingi bilik kapal. Codet menjentikkan jarinya." gumam Saka Lintang sambil menuang arak ke dalam gelas perak. Dia membungkuk sedikit memberi hormat. siapa dia?" tanya Saka Lintang mengerutkan kening. Pakaiannya dari sutra halus. gelas peraknya telah kosong.. Codet muncul setelah pintu terbuka. Dia telah menenggak habis arak itu. Arak desa Cacah memang telah terkenal kenikmatannya. .Ha ha ha. Cantik dan berkulit kuning langsat. "Hm. Basah sudah tenggorokannya oleh arak. Sungguh tinggi seleranya. "Masuk!" bentak Saka Lintang karena merasa terganggu kenikmatannya. "Ha ha ha.. "Ada apa lagi?" tanya Saka Lintang kembali memasang sikap angkuh. Perhiasannya semua dari emas. Kemudian muncul dua orang laki-laki mengapit seorang wanita muda berusia sekitar tujuh belas tahun... Tanpa terasa. Wajahnya menyimpan rasa takut yang dalam. Tawanya belum berhenti.. Dia duduk di kursi berukir di samping meja pualam itu.. Matanya memperhatikan guci arak. "Hm. Dihampirinya sebuah meja terbuat dari batu pualam. "Hamba menemukan seorang wanita bersembunyi di balik tumpukan peti. arak buatan desa Cacah." sahut Codet. Kepalanya terangguk-angguk beberapa kali..!" Saka Lintang tertawa sambil berteriakteriak bagai orang glla..

Dia sungguh sangat menyesal ikut dengan kapal ini. Dia tidak pernah belajar ilmu silat." rengek Intan Kemuning. Padahal orang tuanya sudah melarang. Jadi wajar saja kalau di a begitu ketakutan melihat para perompak mengganas di kapalnya. Tapi Intan Kemuning ingin menikmati perjalanan melalui sungai Ular bersama kapal yang baru di beli ayahnya untuk pesiar. Tidak diduga sama sekali. Ketakutannya kian sangat.. aku berjanji tidak akan mengatakan apa-apa pada ayahanda. Intan Kemuning mulai terisak. Sedangkan awak kapalnya mencari selamat dengan terjun sungai. gerombolan perom-pak membegal kapal itu. Codet menutup pintunya lagi. tubuhnya seketika mengejang. *** Kapal mewah terus melaju menyusuri alur sungai Ular .." jawab wanita muda itu tergagap. Mukanya pucat dan tubuhnya gemetar. Wanita muda itu tidak menjawab. Intan Kemuning telah dibujuk agar pulang bersama-sama saja tewat jalan darat. aku Intan Kemuning. Pengawalnya yang berjumlah tidak kurang dari tiga puluh orang tewas semuanya. Tapi berusaha mengangkat kepalanya pelan-pelan.. kan? Siapa kau?" dengus Saka Lintang mulai kesal karena wanita itu diam saja. "Kau dengar pertanyaanku. Ketika matanya tertumbuk pada Saka Lintang. "Siapa kau?" tanya Saka Lintang.Saka Lintang memberi isyarat agar anak buahnya keluar.!" Saka Lintang tertawa gelak. "Aku putri patih kerajaan Galung. "Ha ha ha. "Aku. Intan Kemuning yang sehari-harinya tinggal di tembok kebangsawanan. rupanya kau putri seorang patih? Tidak seharusnya putri seorang patih kerajaan seperti tikus kena gebuk begitu!" 'Tolong bebaskan aku.." "O. Saka Lintang kembali mengamati wanita muda itu. tidak dapat berbuat apa-apa..

Ayahanda tidak mengijinkan aku belajar ilmu-ilmu keprajuritan. Katanya. Beliau menginginkan aku menjadi seorang wanita bangsawan sejati. istri harus pintar memijat. "Bibi Emban.barang berharga dan djkawal oleh empat orang. "Kalau kau tidak berbuat macam-macam dan menuruti . Saka Lintang yang hidup dari dibesarkan di lingkungan keras. "Apa enaknya? Kau akan dijajah laki-laki." "Bodoh! Itu artinya kau sudah dijajah laki-laki. biar suami betah di rumah. Matanya tajam menatap wajah Intan Kemuning yang tertunduk. Intan Kemuning hanya tertunduk saja. Dia tidak terima kaumnya jadi bulan-bulanan kaum lelaki.diiringi empat perahu gerombolannya. Perhiasan yang melekat di tubuhnya juga sudah ditanggalkan. Saka Lintang membalikkan badan dan merapikan pakaiannya kembali. Masing-masing perahu berisi barang. "Kau bilang tadi bahwa kau anak patih. sangat terkejut mendengar kata-kata Intan Kemuning. tahu!" Saka Lintang jadi terhenyak hatinya. Saka Lintang tengah berbaring tengkurap dengan punggung terbuka. Apa kau tidak pernah belajar ilmu kanuragan?" tanya Saka Lintang. tidak ada istilah perem puan harus tunduk pada kaum laki-laki." sahut Intan Kemuning pelan. Sementara di dalam bilik kapal mewah. Punggung yang terbuka itu terasa nikmat setelah Intan Kemuning memijitinya." polos sekali jawaban Intan Kemuning. 'Tidak. Intan Kemuning hanya bisa menerima nasib saja menjadi budak kepala perompak itu. Dalam kamus hidupnya." dengus Saka Lintang gemas. Dia dengan terpaksa harus mengikuti perintah Saka Lintang yang menjadi pemimpin perompak sungai Ular. "Aku tidak bisa menentang keinginan Ayahanda. Siapa yang mengajari?" tanya Saka Lintang. "Pijatanmu enak juga.

Hidupnya penuh kekerasan. dirinya dianggap "baik". Kenapa m asih ada juga orang yang mengatakan dirinya baik? Apa tidak salah pendengarannya? Masih adakah kebaikan di hatinya? Dia sendiri tidak tahu mengapa tiba.? Intan Kemuning tidak sanggup membayangkannya. Nyawa taruhannya!" jelas Saka Lintang.. membangkang sedikit saja bisa-bisa mati konyol! Atau malah dijadikan pemuas nafsu anak buah Saka Lintang. Pikirnya.kata-kataku. "Aku hidup di lingkungan laki-laki kasar dan brutal. Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. Tidak ada pilihan lain bagi Intan Kemuning kecuali menyanggupi kemauan Saka Lintang. Saka Lintang bangkit dari pembaringannya. Untung kau tidak digagahi!" Intan Kemuning terlonjak kaget. Tubuhnya menggigll ketakutan. .tiba jadi iba melihat Intan Kemuning. "Kau seorang pemimpin perompak. Telinganya terasa dikilik. Supaya kau tidak jadi wanita yang lemah. tapi mengapa kau baik padaku?" tanya Intan Kemuning tidak mengerti dengan sikap Saka Lintang. Tapi mereka semua tunduk pada perintahku! Berani menentang dan kurang ajar. Nasibnya sekarang berada di tangan pemimpin perompak ini. Coba kau pikirkan! Baru lihat anak buahku yang hanya bisa main gertak saja. Tangannya selalu dilumuri darah. "Mereka tidak akan mengganggumu! Dengan syarat. Hatinya berontak dan dengan seketika dia ingin segera nienjadikan Intan Kemuning seorang wanita yang kuat seperti dirinya. kau harus turuti kata-kataku!" kata Saka Lintang. aku akan mengajarimu ilmu olah kanuragan dan ilmu-ilmu kesaktian lainnya. Lebih-lebih setelah mendengar penuturannya yang polos itu.. Saka Lintang merasa seolah-olah dialah yang diinjakinjak kaum lelaki setelah mendengar per-jalanan hidup Intan Kemuning. kau sudah ketakutan setengah mati.

semua minum arak! Tidak ada air minum. "Masuk!" teriak Saka Lintang. kepalanya terasa pening. Intan Kemuning terdiam. 'Tapi. "Lama-lama kau akan terbiasa. Intan Kemuning juga memandang ke arah pintu. Diraihnya guci arak. "Untuk jadi pengikutku. Intan Kemuning memejamkan matanya. Tiba-tiba Intan Kemuning terbatuk-batuk dan berdahak beberapa kali." sahut Saka Lintang kalem. diminumnya arak itu sedikit.Dilangkahkan kakinya mendekati meja. Codet muncul. harus bisa minum arak!" paksa Saka Lintang. Wajahnya memerah dan matanya berair.. Sambil menahan napas. Ragu-ragu Intan Kemuning menerima segelas arak yang disodorkan buatnya. Menginjakkan kakinya ke dapur saja tidak pernah. Tangannya gemetar memegang gelas itu. ." ucap Intan Kemuning setelah reda batuknya. segelas lagi buat dirinya. "Ayo. belum pernah dia minum arak! Mencium baunya saja.. minum!" paksa Saka Lintang lagi. aku tidak bisa.. "Maaf." "Di istanaku. "Aku tidak biasa minum arak. lalu dituangkan ke dalam dua gel as pe-rak Satu gelas disodorkan pada Intan Kemuning. Saka Lintang makin tertawa keras. apalagi memasak. Kenapa harus hidup dengan orang dan lingkungan yang sama sekali asing? Intan Kemuning tidak dapat mem bayangkan apakah dia bisa hidup dengan cara seperti ini. Saka Lintang menoleh ke pintu setelah diketuk dari luar. Saka Lintang tersenyum melihat cara Intan Kemuning minum arak. kecuali sanggup memasaknya sendiri!" potong Saka Lintang." tolak Intan Kemuning. Sebab selama hidupnya. Hatinya hanya bisa mengeluh dan menyesali diri.

Tuan Putri. Saka Lintang memandang Intan Kemuning yang masih duduk di tepi pembaringan. laki-laki tadi hanya bentuknya saja yang kasar." "Hamba laksanakan. Dia selalu ngeri jika lihat tampang laki-laki yang kasar dan kejam. kalau ada yang berani mengganggu Intan Kemuning." iapor Codet. Nyalinya kecil. Dia hanya melihat suatu kelembutan dan kebaikan hati dalam diri Saka Lintang sebagai wanita yang tegar. Intan Kemuning hanya menelan ludah saja. mudah sekali jatuh simpati pada sikap Saka Lintang. kemudian berbalik Pintu kamar kembali tertutup rapat. Meski dia tadi sempat melihat bagaimana Saka Lintang membantai para pengawal Kadipaten dengan kejam. Intan Kemuning yang polos. cantik. Codet membungkukkan badannya lagi. tapi mampu menguasai dan memerintah lakilaki bertampang kasar dan bengis. "Hamba. Tuan Putri. biar saja. Saka Lintang."Ada apa?" tanya Saka Lintang. "Beritahu pada semua anggota. Aku dan Intan tetap di sini Kalian bereskan semua barang-barang. *** . "Kau lihat. akan berurusan denganku! Dia kini jadi adik angkatku!" ujar Saka Lintang keras." Saka Lintang menjentikkan jarinya. "Pergilah! Laksanakan tugasmu!" Codet membungkuk lagi. "Hm. Namun bayangan kekejaman di wajah Saka Lintang makin sirna dalam pandangan Intan Kemuning. Dari sini Intan Kemuning mulai bersimpati pada wanita yang usianya tidak terpaut jauh dari dirinya itu." "Tunggu!" cegah Saka Lintang melihat Codet akan berbalik. "Sebentar lagi kapal sandar. Tuan Putri. Dia tidak yakin apakah mampu seperti Saka Lintang. masih muda. Hatinya sedikit diliputi keraguan." Codet membungkuk hormat.

Saka Lintang tidak pernah lagi ikut merompak kapal yang lewat di sungai Ular.. Di sekelilingnya kecuali Saka Lintang.." sahut Codet. Agak jauh memang. Codet?" tanya Saka Lintang melihat Codet tengah berm alas-malasan." Codet cepat-cepat menghormat. Dia itu seorang putri patih. "Kau kupercaya untuk jadi wakilku. Mereka takut terhadap Bi dadari Sungai Ular!" sahut Codet. "Kau tahu." "Bagus kalau kau tahu!" Codet melirik Intan Kemuning yang duduk di bangku bawah pohon. hanya laki-laki berwajah kasar dan sc-ram. Apa Tuan Putri tidak salah mengangkat dia jadi adik?" takut-takut Codet bicara sambil ibu jari tangannya diarahkan pada Intan Kemuning.. Sejak itu pula. Codet?" "Mana berani hamba mengolok-olok Tuan Putri? Bisabisa kepala hamba pisah dari badan. Intan?" jawab Saka Lintang. Codet selalu pulang membawa hasil.. Hasilnya memang tidak mengecewakan.Seminggu rasanya belum cukup bagi Intan Kemuning untuk menyesuaikan diri di lingkungan para perompak. Tuan Putri." "Cukup!" sentak Saka Lintang memotong.. "Kau tidak keluar.. Pemimpin perompak dipercayakan pada Codet. Dan selama seminggu itu Saka Lintang telah memberi dasar-dasar ilmu olah kanuragan. Berbahaya sekali buat kita kalau. "Maaf. Bukan untuk mengaturku! Paham?!" "Hamba mengerti. Tuan Putri. "Benar. "Maksudmu. . Sebuah buku bersampul hitam lusuh berada di tangannya. "Hari ini tidak ada kapal yang lewat. Hampir-hampir Intan Kemuning tidak sanggup menjalaninya. Cukup keras latihan yang diberikan. "Kau tidak berolok-olok padaku. Tuan Putri. apa akibatnya menentang kehendakku?" "Hamba.

Sebagai pelampiasan nafsunya. tapi takut kepada Saka Lintang. "Cari apa ke desa?" tanya yang lain. Kehidupan seperti itu memang bukan hal yang asing bagi mereka. Codet melangkah pergi. "Ke mana. Ketiga temannya mengikuti sambil tertawa-tawa. dia sering pergi ke desa terdekat."Sekarang pergilah! Dan jangan coba-coba mengusik Intan Kemuning!" Codet membungkuk lalu pergi." jawab Codet. "Ke desa. Tapi justru baru kali ini mereka tunduk oleh seorang wanita! Codet menghampiri tiga orang temannya yang duduk melingkar menghadapi rusa panggang. "Cari hiburan!" Ketiga orang Itu tertawa seketika. Tidak ." kata Codet sambil mencomot sepotong daging rusa. Mereka tahu kalau Codet mengincar Intan Kemuning. Matanya masih sempat melirik Intan Kemuning. Tapi hanya sekedar berkhayal. Det?" tanya salah seorang. Bau harum menusuk hidung dan membangkitkan selera. Mereka semua bekas begal yang biasa berkeliaran mencari mangsa di hutan-hutan atau merambah desa-desa. Dan sekarang jumlah gerombolan ini tidak kurang dari tiga puluh orang. Kemudian dia berjanji untuk selalu setia dan mengabdi pada gadis itu. Codet yakin kalau buku itu berisi dasar-dasar ilmu pukulan tangan kosong dan latihan pengerahan tenaga dalam. "Kalian ikut aku. Semua lakilaki di tempat itu pasti berkhayal dapat menikmati kemulusan tubuhnya. Dikhawatirkan Intan Kemuning akan jadi duri dalam daging! Codet sendiri dulu adalah seorang begal sebelum dikalah kan Saka Lintang. Codet hanya menggerutu saja sambil membayangkan wajah Intan Kemuning. Sepuluh anak buahnya pun ikut dalam gerombolan ini. Tak ada orang yang tak tertarik dengan Intan Kemuning.

Codet menyayangkan pemimpinnya yang tidak menyadari kemungkinan yang akan berakibat fatal! *** . oleh karena Intan Kemuning putri seorang patih.lebih. Ini jelas menyulitkan mereka. sudah tentu pihak Kadipaten tidak akan ringgal diam. Apalagi jika nanti Intan Kemuning berkhianat. Hal inilah yang selalu mengganggu pikiran Codet. Intan Kemuning memang selalu di bawah lindungan Saka Lintang. Pikirnya. Mereka takut oleh aturan yang diberikan Saka Lintang.

Dan betapa terkejutnya istri Patih Giling Wesi ketika . "Bedebah!" geram Patih Giling Wesi murka. Tidak peduli kapal siapa yang akan jadi sasaran. Patih Giling Wesi bergegas masuk ke kamar pribadinya." lanjut tamtama itu lagi. Gerahamnya sampai bergemerutuk dengan wajah merah padam. Gusti Patih. Matanya memandang ke depan Pendopo. "Kumpulkan prajurit pilihan." tamtama itu menuturkan dengan sikap hormat. "Sendika. Tiba-tiba langkahnya terhenti. "Tamtama. Sudah seminggu ini Patih Giling Wesi memerintahkan prajurit-prajurit pilihan untuk mencari kapal layar yang membawa putrinya. telah kembali pagi tadi. Dilaporkan bahwa kapal yang membawa Putri Intan Kemuning dirampok gerombolan Bidadari Sungai Ular.2 Suasana di Kadipaten kerajaan Galung tengah dirundung duka. Gusti Patih. Sampai saat ini mereka belum memperoleh kabar berita sama sekali. Gusti Patih. kita berangkat sekarang juga ke sungai Ular!" perintah Patih Giling Wesi." tamtama itu memberi hormat. Seorang tamtama berjalan tergopoh-gopoh menuju Pendopo. Istrinya terheran-heran melihat wajah suaminya yang merah padam. "Gerombolan Bidadari Sungai Ular sangat ganas. "Cepat laporkan!" "Beberapa telik sandi yang hamba kirim untuk mencari keterangan tentang Putri Intan Kemuning. Melangkah hilir mudik dengan hati diselimuti kegelisahan. Di Pendopo Kepatihan. "Hamba menerima Iaporan dari beberapa telik sandi. ada apa?" tanya Patih Giling Wesi setelah tamtama itu mendekat memberi hormat." jawab tamtama itu. lalu melangkah mundur. Patih Giling Wesi seperti orang kebingungan.

" Rara Angken tak kuasa lagi menahan air matanya." lembut suara Patih Giling Wesi. 'Tapi mengapa harus membawa pedang pusaka?" "Beberapa telik sandi melaporkan kalau kapal yang membawa Intan Kemuning dirampok oleh Gerombolan Bidadari Sungai Ular. Tenangkan hatimu." sahut Patih Giling Wesi. Dia baru sadar kalau istrinya. Pikirannya terpusat penuh pada keselamatan putri mereka.." "Oh. Rara Anken masih terisak. sehingga tak sadar kalau istrinya sejak tadi memperhatikan tingkah lakunya... "Berdoalah pada Hyang Widi untuk keselamatan anak kita.. Telah lam a patih itu tidak menyentuhnya lagi. Nada suaranya bergetar penuh kecemasan.. "Aku pergi... Air matanya menganak sungai di pipi. "Intan. "Aku akan mencari Intan Kemuning. Perompak itu memang ganas. "Kang Mas. tidak ada gunanya kau menangis.. Namun kakinya melangkah tegap." pamit Patih Giling Wesi setelah menarik napas panjang." lirih suara Rara Angken. "Kang Mas. "Untuk apa pedang itu?" tanya Rara Angken..!" Rara Angken menekap mulutnya. "Dinda Rara Angken. berada di kamar ini. Rara Angken.. Dinda. Aku berjanji akan membawa kembali anak kita. Sementara sekitar lima puluh prajurit bersenjata lengkap sudah berbaris menunggunya di depan Pendopo.." ujar Patih Giling Wesi sambil mengelus-elus kepala dan bahu istrinya. Berdoal ah agar anak kita selamat. Pedih hati Patih Giling Wesi melihat istrinya menangis. tapi firasatku mengatakan bahwa Intan Kemuning masih hidup. . anakku.suaminya mengambil pedang pusaka." Patih Giling Wesi menoleh. terayun ke luar kamar.

!" Patih Giling Wesi meng-geprak kudanya agar lebih kencang lagi. Tetapi yang terlihat hanya kepulan debu saja. Sebuah jalan desa yang kanari kirinya berdiri rumah penduduk. Tanpa banyak basa-basi lagi. Di antara pengunjung kedai. Dia adalah Rangga.. Semua orang yang berada di jalan segera menepi. Derap langkah kuda terdengar bergemuruh meninggalkan kepulan debu bergulung-gulung.. Kuda hitam mengkilat itu mendengus-dengus berlari bagai anak panah melesat cepat Kuda Patih Giling Wesi memang kuda pilihan. Semua orang dalam kedai menoleh. Di punggungnya bertengger sebilah pedang dengan gagang berbentuk kepala burung rajawali. Patih Giling Wesi segera memacu kudanya dengan cepat diikuti oleh pasukannya.. Mereka terheran-heran melihat banyak prajurit yang sudah terkenal kedigjayaannya seperti akan perang. Padahal mereka telah memacu kudanya secepat mungkin. mereka lewati. .. duduk tenang seorang pemuda tampan yang tengah menghadapi guci arak. Padahal banyak orang dalam kedai bertanya-tanya dan mendugaduga. Para prajurit bergegas menaiki kudanya masing-masing. Pemuda itu tidak merasa terganggu oleh ulah prajurit kepatihan yang memacu kuda dengan cepat itu. Kepatihan kembali sepi setelah mereka ke luar dari benteng diiringi oleh mata beberapa penjaga yang terkesima. Pemuda itu mengenakan baju rompi putih yang lusuh.! Hiya. Tiba kini sebuah kedai mereka lewati. "Hiya.Seorang prajurit menuntun seekor kuda hitam tinggi kekar ketika Patih Giling Wesi tiba di depan Pendopo. patih yang terkena! pemberang itu segera melompat ke punggung kuda dengan gerakan yang lincah. Tidak heran kalau para prajuritnya tertinggal di bela-kang.

Patih Giling Wesi ikut serta. Ternyata seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah menyangga tubuhnya. Memang. bernama Hanggara. Mereka hanya pemuda-pemuda yang besar mulut tanpa nyali sedikit pun. Sedangkan yang berpakaian warna hijau bernama Rangkasa.. Mereka putra-putra para punggawa kerajaan. "He he he. "Seperti akan perang saja prajurit-prajurit itu. tapi matamu buta! Kau tidak bisa melihat kejadian di sekelilingmu!" Aki Lungkur bergumam. Dia tahu siapa dua pemuda congkak itu. Atau paling tidak anak saudagar. Pasti ada sesuatu yang gawat.. Rangga melirik ke arah suara itu. Jelas ucapan . Dari pakaiannya dapat ditebak kalau mereka anak seorang bangsawan kaya. Dari tongkat dan pakaiannya semua orang tahu dia adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah. Merah padam wajah kedua pemuda itu. Hanya tokoh-tokoh tertentu saja yang tahu nama aslinya. "Kecongkakanmu melebihi tingginya gunung." Aki Lungkur atau si Pengemis Sakti Tongkat Merah itu hanya terkekeh saja. Bunga Kepatihan yang menjadi incaran dan impian putra-putra bangsawan dan punggawa kerajaan. Dua anak muda duduk menghadapi empat guci arak.Pendekar Rajawali Sakti. 'Tidak biasanya. hilangnya Intan Kemuning belum tersebar luas kecuali para prajurit pilihan. Dan semua orang tahu siapa Intan Kemuning. Kakek tua itu bersandar pada tiang kedai. Tapi jarang yang tahu kalau nama sebenamya adal ah Aki Lungkur." sahut temannya." terdengar suara dari meja tidak jauh dari tempat duduk Rangga.. Yang memakai baju berwarna merah. "Mereka mencari putri Intan Kemuning!" Semua orang di kedai terdongak dan menatap arah suara yang datang tiba-tiba itu. "Kakek gembel! Kau jangan bicara sembarangan!" bentak salah seorang dari dua pemuda tadi.

bukan tidak mungkin mereka akan membantu Patih Giling Wesi. "Kita harus laporkan segera pada Tuan Putri. 'Pacu kudamu dan kita ambil jalan pintas. Seorang pelayan tua sekaligus pemilik kedai menghampiri. Patih Giling Wesi mempunyai banyak sahabat dari tokoh-tokoh rimba persilatan. rupanya dua orang gerombolan Bidadari Sungai Ular ada pula di kedai itu. 'Tanyakan pada Gusti Rara Angken. . Kata-kata kakek tua tadi bisa jadi ada benamya tetapi patut dipertanyakan pula. Rasanya sulit dipercaya bila putri seorang patih yang terkenal dengan julukan Singa Medan Laga bisa ditawan oleh gerombolan Bidadari Sungai Ular. Satu persatu pengunjung kedai berlalu pergi dari tempat itu.Pengemis Sakti Tongkat Merah tertuju pada mereka. Bahkan dua pemuda congkak sudah sejak tadi meninggalkan kedai." sahut temannya. Suara menggumam terdengar bagai lebah ditepuk sarangnya. Tinggal Rangga sendirian masih duduk menghadapi mejanya. kalau aku benar maka aku minta kalian membebaskan putri Intan Kemuning dari sarang Bidadari Sungai Ular!" Setelah selesai kata-katanya. Kakang Badil. maka gerombolan perompak itu bukan saja berhadapan dengan para prajurit tetapi juga dengan tokoh-tokoh sakti dunia persilatan. Hanggara dan Rangkasa saling berpandangan. Mereka mendengar pembicaraan Aki Lungkur dan segera angkat kaki ketika kakek tua itu menghilang. Kalau kata-kataku salah. "Benar. Adi Gering!" Mereka pun memacu kudanya dengan cepat. kalian boleh memancung leherku. Aki Lungkur dengan cepat melompat dan hilang dari pandangan mata. Maka kalau berita itu sampai tersebar luas." bisik salah seorang. Tapi. Semua orang tahu kalau hal itu benar-benar terjadi. Dan kini keadaan kedai menjadi sunyi. Tanpa diketahui orang-orang di kedai.

" lanjut Badil. Aku perlu teman ngobrol" sahut Rangga.. Sambut . Dengan tergesa-gesa Badil menghampiri pintu dan mengetuknya dengan keras. Si gembel Itu tahu kalau Intan Kemuning ada di sini. "Kau takut?" cibir Saka Lintang. Dua ekor kuda berpacu memasuki hutan di kaki lereng bukit Guntur. Penunggang kuda itu adalah Badil dan Gering.." jelas Badil ketika Saka Lintang telah berada di luar rumah. Di situ hamba melihat serombongan prajurit berkuda dipimpin langsung oleh Patih Giling Wesi. Intan. "Tidak. "Katakan cepat!" "Menyangkut. Ketika pintu terbuka.. "Ada apa?" tanya Saka Lintang angkuh. "Lalu?" desak Saka Lintang sudah bisa menebak "Di situ juga ada Pengemis Sakti Tongkat Merah." kata Badil segera membungkukkan badannya. Inilah markas gerombolan Bidadari Sungai Ular.. *** Matahari hampir condong ke Barat. Dia melangkah dua tindak'Tadi hamba berdua minum-minum di kedai Pak Tua. duduklah di sini.. "Kami punya berita penting. siapkan semua yang ada. kedua tangan Saka Lintang telah berada di pinggang. Dia yang menyebar kabar itu. "Kalau begitu. Pak Tua itu duduk di depan Rangga. Saka Lintang mengerutkan keningnya. Tuan?" Pak Tua menawarkan. Tuan Putri. mereka melompat turun setelah kuda yang mereka tunggangi berhenti di depan rumah terbuat dari kayu." Badil setengah berbisik Matanya menerobos ke dalam. dua orang dari gerombolan Bidadari Sungai Ular. "Tidak!" sahut Badil dan Gering bersamaan.. Penuh dengan kesigapan.'Tambah lagi araknya. Tuan Putri.

" sahut Intan Kemuning tergagap. "Aku.kedatangan mereka!" perintah Saka Lintang tegas." jawab Saka Lintang lalu duduk di balai berhadapan dengan Intan Kemuning." pelan suara Intan Kemuning. Dia takut Saka Lintang tersinggung. kadang-kadang lembut. tidak apa-apa. Kadang-kadang dia harus berpikir lebih dulu untuk dapat mengerti. "Yah. tikus bodoh yang cari mampus!" Intan Kemuning mulai mengerti.. aku heran saja. Itulah Saka Lintang. Kadang-kadang kasar. "Jumlah mereka banyak.. "Mengapa kau memandangiku begitu?" tanya Saka Lintang risih dipandangi terus. "Kakak Lintang. "Hamba laksanakan.. Dia mendengar nada cemas pada suara Gering.. Sebenarnya ingin sekali Intan bertanya. "Ada tikus yang mencoba masuk. "Ada apa Kakak Lintang?' tanya Intan. Dia tahu gelagat kalau Saka Lintang sudah membentak keras. Ketika kedua orang itu telah pergi..? Ha ha ha. Tuan Putri. Tapi di balik kekasaran-nya.?" Intan Kemuning belum mengerti... Bukan hanya kata-katanya saja yang sulit dimengerti. Tapi setiap kali akan bertanya. Intan Kemuning harus bisa menjaga diri dan berbuat apa saja yang dikehendaki Saka Lintang... Dia menghampiri Intan Kemuning yang menunggu di balai tengah-tengah ruangan.. 'Tikus.!" Saka Lintang tertawa gelak . Intan Kemuning dapat melihat suatu pelampiasan kekesalan pada Saka Lintang. Sikapnya pun demikian. "Tidak." kata Gering.. Bukan tikus sebenarnya.." "Apa yang kau herankan?" tanya Saka Lin¬tang.. Yang dimaksud tikus tentulah orang. "Mereka hanya tikus!" bentak Saka Lintang. Saka Lintang bergegas masuk ke kamar kembali." cepat-cepat Gering membungkuk. di saat itu pula niatnya diurungkan. Tuan Putri.. "Aku..

Intan Kemuning menangkap semacam kegetiran yang ditutup-tutupi di wajah Saka Lintang. Tampak sekitar sepuluh orang berjalan menuju sungai Ular dipirhpin oleh Codet. Bibirnya tersungging melihat Intan Kemuning mulai berlatih. Di belakang mereka. Lima belas orang berjaga-jaga di markas mereka. sekarang giatlah berlatih. lalu keluar. tidak usah memikirkan aku! Yang penting. Sebentar matanya mengawasi keadaan sebelum menutup pintu." sahut Saka Lintang. Mata Saka Lintang menatap lurus ke depan. Kenapa dia sampai tertawa gelak seperti itu? Namun dalam tawa itu. Aku lihat jurus-jurus pukulan tangan kosongmu sudah mantap. "Sudahlah. setelah kau selesai latihan tenaga dalam. Saka Lintang sedikit kagum pada Codet yang pandai mengatur anak buahnya. Perdalamlah lagi agar lebih sempurna. Padahal kata-katanya tidak ada yang lucu. Pandangannya berkeliling. Dengan gerakan indah. berjalan sepuluh orang dipimpin oleh Badil dan sepuluh orang lagi dipimpin oleh Gering.Intan Kemuning makin bingung melihat Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. Saka Lintang melenting tinggi lalu membuat gerakan berputar beberapa kali di udara dan hinggap dengan manis di atap rumah. "Ingat. Intan Kemuning hanya mengangguk. berlatihlah sekarang!" perintah Saka Lintang. bersemadilah!" Intan Kemuning mengangguk kembali. . "Kakak Lintang mau ke mana?" tanya Intan Kemuning ketika Saka Lintang turun dari balai. "Ke luar! Aku akan kembali lagi jika kau sudah selesai berlatih. Saka Lintang melompat turun. Bibirnya tersenyum melihat anak buahnya telah siap menanti datangnya para prajurit kepatihan. Saka Lintang melangkah dan menoleh sebentar pada Intan Kemuning." ujar Saka Lintang setelah reda tawanya. "Nah.

Saat kakinya mendarat di tanah, kem bali dilentingkan tubuhnya dan hinggap di atas punggung kudanya. Segera dia menggebrak kudanya lalu melesat cepat menuju ke sungai Ular yang tidak jauh dari lereng bukit Guntur markas Saka Lintang sekarang ini. Sungai Ular memang indah dipandang, namun menyimpan keganasan yang luar biasa. Sebentar saja Saka Lintang telah sampai di sungai Ular mendahului anak buahnya. Matanya yang bulat bening memandang sekitar sungai yang tenang. Setenang sikapnya saat ini. Codet menggerak-gerakkan tangannya ke atas ketika mereka telah sampai di sungai itu. Dengan seketika anak buahnya berpencar masuk ke dalam semak-semak dan ke balik bongkahan-bongkahan batu. Kini di tepi sungai tersisa empat orang. Mereka semua memang terlatih baik dalam menguasai daerah sekitar sungai Ular. Maka dal am sekejap saja tidak ada orang yang terlihat. Mereka bagaikan lenyap ditelan bumi. Pandai menyamarkan diri dengan alam! "Dengar...!" seru Saka Lintang tiba-tiba. "Suara kuda," gumam Codet. "Hm, siapa dia," gumam Saka Lintang. *** Suara kaki kuda kuda makin jelas terdengar. Saka Lintang mengerutkan keningnya. Dia hanya mendengar langkah dari satu ekor kuda saja. Matanya langsung melirik Badil. "Hamba akan menyongsong, Tuan Putri!" ujar Badil mengerti maksud lirikan Saka Lintang. Badil dengan cepat melompat ke kudanya. Segera digebahnya kuda itu. Dengan cepat kuda yang ditunggangi Badil sudah tidak terlihat lagi. Lenyap di balik rimbunan pepohonan. Badil memacu kudanya menuju arah datangnya suara kaki kuda.

Tiba-tiba ditarik tali kekang kudanya dan seketika tubuhnya melontar tinggi. Kakinya dengan sigap hinggap di sebuah batang pohon yang tinggi. Matanya dengan seksama berkeliling. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada seekor kuda yang ditunggangi seorang pemuda. Tampak dua bilah pedang bertengger di punggungnya. "Kala Srenggi," desis Badil mengenali penunggang kuda itu. Badil menunggu beberapa saat sampai Kala Srenggi mendekat. Kemudian dia meloncat turun ketika Kala Srenggi tepat di bawah pohon yang dinaiki Badil. Kala Srenggi dengan tangkas melompat dari kudanya ketika merasakan ada penyerang gelap dari atas. Pedang Badil segera membabat namun luput Dia kecewa. Padahal dia yakin penunggang kuda itu akan pecah kepalanya tersambar pedang. Yang didapati hanya tempat kosong saja, "Licik!" dengus Kala Srenggi ketika kakinya menjejak di tanah. "Kau juga lebih licik dariku, Kala Srenggi," balas Badil. "Siapa kau?' tanya Kala Srenggi yang heran melihat penyerang gelapnya tahu tentang dirinya. "Aku Badil. Macan Gunung Sinai!" sahut Badil angkuh. "Hm..., Macan Gunung Sinai sampai nyasar ke bukit Guntur," gumam Kala Srenggi mencibir. "Ada urusan apa kau datang ke sini?" tanya Badil. "Aku hanya lewat," jawab Kala Srenggi acuh. "Tidak seorang pun diijinkan masuk ke bukit Guntur!" "He! Sejak kapan aku...." Kala Srenggi belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Badil telah menyerang dengan cepat. Kala Srenggi agak kewalahan menghindari serangan-serangan pedang Badil yang cepat dan berbahaya. Macan Gunung Sinai memang bukan nama kosong, dan Kala Srenggi tahu itu. Dengan cepat dia bersalto di udara. Tangannya segera menarik pedang

kembarnya. Sret! Traaang! Dua pedang berbenturan di udara. Pijaran api akibat benturan pedang berlompatan bersamaan dengan terpentalnya dua orang itu. Mereka memang bukan orang sembarangan. Tanpa kesulitan apa-apa, kaki mereka telah menjejak di tanah dengan lincah. Dua orang itu sama-sama kaget dan sama-sama merasakan kesemutan setelah pedang mereka beradu. Kini mereka sama-sama menyiapkan jurus-jurus selanjutnya. Sambil berteriak nyaring, mereka kem bali terlibat dalam pertarungan sengit. Masing-masing ingin segera menjatuhkan. Namun sampai lima jurus berlalu, belum ada yang terdesak. Memasuki jurus selanjutnya masih tetap seimbang. Beberapa kali ujung pedang mereka hampir menemui sa-saran satu sama lain. Namun semuanya masih dapat dihindari. Hingga pada suatu ketika, Kala Srenggi melompat mundur sejauh dua tombak sambil memasukkan pedang kembar ke sarung di punggungnya. Kini dikeluarkannya 'Aji Racun Merah". Melihat lawan tengah mengerahkan ilmu andalan, Badil pun tak ketinggalan dengan ilmu andalannya pula. Mereka sudah saling berhadapan siap menyerang dengan kesaktian masing-masing. "Hiya...!" "Hiya...!" Kedua orang itu melompat berbarengan. Kini kedua telapak tangan mereka bertemu di udara. Ledakan keras terjadi, disusul dengan terpentalnya dua tubuh. Kala Srenggi jatuh bergulingan di tanah beberapa depa. Sedangkan Badil tidak kalah parah. D ari hidung dan mulutnya ke luar darah. "Uhk!" Badil memuntahkan darah merah kehitaman. Sambil menahan rasa sakit di dadanya, Badil berusaha bangkit. Tubuhnya sempoyongan. Sementara Kala Srenggi juga berusaha berdiri. D ari sudut bibimya mengalir darah

segar. Tangan kirinya menghitam terkena ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil. "Setan! Salah satu di antara kita harus mampus!" geram Kala Srenggi. "Huh!" Badil hanya mendengus. Badil sadar kalau tubuhnya telah dialiri 'Racun Merah' dan hidupnya tak akan bertahan lebih lam a lagi. Kala Srenggi pun demikian. Dia terluka parah. Mereka samasama kepalang basah. Kembali ajian masing-masing mulai mengarah satu sama lain. "Berhenti!" tiba-tiba suara bentakan melengking nyaring. Namun terlambat! Kedua orang itu sudah kembali melompat dan beradu di udara. Kala Srenggi lagi-lagi bergulingan di tanah. Dari mulutnya menyembur darah kental kehitaman. Dia berusaha bangun, tetapi malah jatuh dan tak bergerak sama sekali. Mati. Kedua tangannya seperti hangus terbakar. Di pihak Badil, lebih mengerikan. Dia tergeletak dengan dada pecah. Darah bersimbah membasahi tubuhnya. Badil tewas seketika setelah tubuhnya tenanting di tanah. Sebuah bayangan biru berkelebat dan mendarat di tengah-tengah arena pertarungan tadi. Dia adalah Saka Lintang, kemudian disusul oleh Codet dan Gering. Kedua orang itu terkejut melihat Badil tewas dengan dada pecah. Saka Lintang malah tenang-tenang saja. "Hm, Kala Srenggi," gumam Saka Lintang. Gadis itu mengayunkan langkahnya mendekati mayat Kala Srenggi. Sebentar diamati dan dengan ujung kakinya dibalikkan tubuh Kala Srenggi. Tampak di bagian dadanya hangus terbakar. Tidak ada luka di tubuhnya. Juga tidak ada tanda-tanda Kala Srenggi masih hidup. Saka Lintang mengambil ranting, lalu menekan dada Kala Srenggi dengan ranting. Terkejut juga Saka Lintang ketika melihat dada Kala Srenggi yang mendadak ambrol setelah tersentuh ranting. Bagai ditiup angin saja! Dada Itu

. "Mati. 'Tuan Putri. tinggalkan saja di sini!" Tanpa banyak bicara." "Bantu dia!" potong Saka Lintang cepat sambil menunjuk pada Gering." agak bergetar suara Codet. Tak ada seorang pun yang sedia menguburkannya. Dia kembali lagi lantas menggali tanah." sahut Codet. kemudian melanjutkan langkahnya. Toh tadi dia juga sudah memerintahkan untuk mengubur mayat itu." sahut Codet. Kini malah Codet yang bimbang. Saka Lintang membalikkan tubuhnya. Sungguh tragis nasib mayatmayat itu.. Dia hanya berdiri dengan pandangan berganti-ganti dari Saka Lintang ke arah Gering yang tengah menggali dengan pedangnya. "Kalau begitu. Sungguh dahsyat ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil.kini berlubang besar tembus sampai ke punggung. mereka belum bicara.. Sampai selesai menguburkan Badil. mereka meninggalkan dua sosok mayat yang tergeletak di tanah.. 'Terima kasih. Saka Lintang hanya melirik. "Kuburkan kedua mayat ini.. Sebentar lagi gelap. Gering yang setiap hari selalu bersama-sama dengan Badil merasa tidak tega juga terhadap mayat temannya itu. Tetapi untungnya. Tuan Putri. Gering menatap Saka Lintang yang hanya terlihat bayangan bajunya saja di antara pepohonan. "Tidakkah." perintah Saka Lintang. 'Tidak ada waktu. Gering ." ucap Gering. Codet bergegas mengham-\piri Gering dan membantu menguburkan mayat Badil. Tanpa menghiraukan Codet lagi. 'Tuan Putri yang memerintahku. "Bagaimana?" tanya Saka Lintang menoleh pada dua anak buahnya." sahut Codet.. Saka Lintang melangkah cepat.

"Biarkan saja dia jadi santapan anjing hutan!" kata Codet Gering mengangkat bahunya. Kini dengan hati lega. *** . Mereka memang tidak pernah mengurus mayat musuh.menatap mayat Kala Srenggi. Meninggalkan salah seorang teman yang kini terbaring di dalam tanah. mereka tinggalkan tempat itu.

Gusti Patih. Matanya mengamati sebentar. Semalaman dia mencari di sekitar sungai Ular. Para prajurit serentak turun dari kuda masing-masing. "Adya Bala. Hamba menemukan tanda keprajuritan di pinggir sungai." salah seorang tamtama segera mendekat. Patih Giling Wesi lantas menyambar kalung itu. Patih Giling Wesi duduk di atas punggung kudanya dengan lesu. Rapaksa belum sempat menjawab. Dia duduk di atas batu menatap ke arah sungai yang berliku. Rapaksa berlari menghampiri. istirahat!" teriak tamtama Rapaksa keras.3 Matahari baru saja menampakkan diri. tibatiba datang seorang prajurit berlari-lari menghampirinya. Patih Giling Wesi pun telah turun dari kudanya lalu menghampiri sebuah batu besar yang menjorok ke sungai." kata prajurit itu sambil menyerahkan sebuah kalung tanda keprajuritan. Ada noda darah melekat di kalung itu. "Siapkan prajurit!" perintah Patih Giling Wesi. "Ampun. Dia segera memberi hormat setelah tiba di depan Path Giling Wesi." kata Patih Giling Wesi. tapi tidak sedikit pun jejak kapal layar yang membawa putrinya ditemukan. Didekatinya Patih Giling Wesi. Belum sempat Patih Giling Wesi beristirahat banyak. tiba-tiba terdengar . Mereka mencari tempat beristirahat dan membuka perbekalan. Berarti telah terjadi sesuatu pada kapal itu. Sinarnya membias menerangi mayapada. "Beritahu prajurit. kita istirahat sebentar di sini. "Rapaksa!" "Hamba. Dan yang jelas kejadiannya di sungai Ular ini! "Rapaksa!" teriak Path Giling Wesi. Gusti Patih.

Patih Giling Wesi cepat melompat ke arah lima prajuritnya yang tewas. Rasa terkejut mereka belum juga hilang ketika tiba-tiba muncul seorang wanita cantik mengenakan pakaian serba biru. "Siapa kau?!" bentak Patih Giling Wesi. Percuma saja kau kerahkan seluruh prajurit! Mereka hanya .." "Adya Bala!" teriak Patih Giling Wesi memberi aba-aba. Dua kelompok itu hampir seimbang jumlah-nya. "Ha ha ha.." desis Patih Giling Wesi "Rupanya ada tamu agung berkenan mengunjungi wilayahku!" Patih Giling Wesi dan para prajuritnya terkejut mendengar suara yang tinggi menggema dibarengi pengerahan tenaga dalam yang sempurna. seketika itu pula dari rimbunan semak dan dari balik bongkahan batu. Mereka semua telah siap dengan senjata di tangan. Serentak para prajurit yang lain bersiaga. Dia mencabut sebatang tombak dari salah seorang prajuritnya yang sudah tidak bergerak itu.teriakan dan disusul dengan rubuhnya lima orang prajurit. Kelihatannya prajurit Kepatihan lebih banyak. Dengan angkuh dia berdiri di atas batu tempat Patih Giling Wesi tadi beristirahat. "Setan! Kembalikan putriku!" geram Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi makin geram menyadari keadaannya telah terkepung. Dada mereka tertancap tombak. "Intan Kemuning akan kukembalikan pada saatnya nanti. Begitu prajurit bersiap. Mereka semua memiliki tingkat kepandaian rata-rata di atas para prajurit pilihan sekali pun. Tapi bukan berarti mereka bisa dengan mudah mengalahkan gerombolan ini. Dia tidak lain adalah Saka Lintang. Sebuah tombak berwarna biru dengan tangkai berukir huruf yang rapi dan indah.. "Bidadari Sungai Ular. "Bidadari Sungai Ular!" jawab Saka Lintang mantap. tidak semudah itu patih yang gagah. bermunculan orangorang yang semuanya ber-seragam biru.

Pertarungan makin seru dan tak terlihat lagi oleh mata biasa. belum ada satu pun yang tewas. Sedang dari pihak Bi dadari Sungai Ular. Sudah tak tertahankan lagi amarah Patih Giling Wesi.mengantar nyawa ke tempat ini!" ujar Saka Lintang pongah." kata Saka Lintang meremehkan. Bunyi senjata beradu dan teriakan-teriakan pertempuran terdengar membahana. Tidak heran kalau Gering dapat mengimbangi permainan pedang Patih Giling Wesi. Namun yang dihadapinya adalah Gering yang cukup tinggi ilmunya. Maka pertempuran pun berlangsung sengit. Kalau saja bukan Patih Giling Wesi. Sementara itu pertarungan semakin sengit. Patih Giling Wesi berteriak melengking dan merubah permainan pedangnya. Patih gagah. Pikirannya hanya terpusat pada keselamatan putrinya. Dia menerjang dengan jurus-jurus mautnya. Gering pun segera merubah jurusnya pula. Segera diperintahkan prajuritnya untuk menyerang. "Kalian perompak liar. sebuah bayangan berkelebat menghadang. Patih Giling Wesi tidak membuang-buang waktu lagi. Jerit-jerit kematian makin sering terdengar menyayat dari pihak prajurit. Gering berdiri dengan pedang terhunus. dan harus dimusnahkan!" geram Patih Giling Wesi. Tetapi belum sampai dekat Saka Lintang. Yang terlihat kini hanya bayangbayang pedang yang bergulung-gulung menyelimuti tubuh Gering. Bahkan beberapa kali dia dapat membalas serangan itu. Menyadari lawan telah menggunakan jurus yang ampuh. mungkin kepalanya sudah terpisah dari badan tersambar pedang Gering yang berkelebat cepat. Tubuh mereka seperti lenyap ditelan gulungan sinar . "Tidak semudah itu. "Huh! Sontoloyo!" dengus Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi tak ketinggalan dengan cepat melompat menerjang Saka Lintang. Beberapa prajurit telah banyak yang roboh.

Saka Lintang hanya mengamati saja sambil bibimya menyungging senyum. . Patih Giling Wesi harus lebih hati-hati lagi.. Hanya Gering yang kelihatan terluka parah dan kini dirawat oleh anak buah Saka Lintang.. hanya dua yang tewas.. Di saat yang genting itu. Di luar arena pertarungan.!" tiba-tiba Gering berteriak memekik. Saka Lintang sudah bisa menduga kalau sebentar lagi Codet akan jatuh. Tampaknya prajurit-prajurit Kepatihan makin kewalahan dan terdesak.. golok itu berat sekali. Kelihatannya. Tepat seperti dugaan Saka Lintang. Sementara Patih Giling Wesi terus mendesak dengan penuh nafsu. "Sebaliknya kau akan kukirim ke neraka!" sembur Codet. "Majulah. dada telah basah oleh darah. "Aaaakh. "Kau akan bernasib lebih buruk dari temanmu!" dengus Patih Giling Wesi. tiba-tiba Codet menerjang masuk. Namun ketika berada di tangan Codet seperti ringan saja. Gadis ini cukup memaklumi keadaan Gering karena lawannya memang tangguh. "Aaaakh. Gerakan-gerakan Codet makin ngawur. Sedang dari pihaknya..pedang yang menimbulkan suara bersiutan. Serangan-serangan yang dibangun Codet memang lebih dahsyat dan berbahaya di bandirig Gering.. Hingga pada suatu kesempatan. Benda tajam itu berkelebat cepat dan mengarah ke bagian-bagian tubuh Patih Giling Wesi. setan!" geram Patih Giling Wesi. Codet mencabut golok besarnya.!" Codet menjerit keras. Ketika tubuhnya keluar dari gulungan sinar pedang.. Jumlah mereka makin berkurang. Dia merasakan angin sambaran golok lawannya menimbulkan hawa panas. Gering segera mundur sambil menekap dadanya yang robek. Rupanya ujung pedang Patih Giling Wesi telah mengenai sasarannya. Kedudukan Codet pun kelihatan makin kewalahan.

Meskipun hatinya terbakar am arah. Sebentar saja. lalu ambruk tak berkutik. tubuhnya mencelat ke udara dan menghadang serangan Patih yang mengamuk. Seperti orang kesetanan layaknya. "Huh!" Patih Giling Wesi mendengus sambil menyemburkan ludahnya. 'Patih Giling Wesi. Seketika pertempuran terhenti. Darah segar segera muncrat ketika pedang itu ditarik ke luar. Saka Lintang jadi geram. Prajuritprajurit yang semula kendor semangatnya. Melihat orang-orangnya kewalahan menghadapi amukan Singa Medan Laga. Masing-masing kelompok melompat mundur. Codet limbung sebentar. Bersamaan dengan itu. Dia cepat membaca gerakan lawan. Sepuluh orang sudah roboh di ujung pedang Patih Giling Wesi dalam tempo yang singkat. sukar diduga. Setiap pedangnya berkelebat. Patih Giling Wesi mengamuk membabi buta. . seketika bangkit kembali melihat pemimpinnya mengamuk bagai banteng terluka. Apalagi orangorangnya makin banyak yang tumbang. akulah lawanmu!" teriak Saka Lintang. pasti ada seorang lawan yang ambruk mandi darah. bahkan dengan cepat mendahuluinya. dua puluh mayat sudah menggeletak. Gerakannya cepat. Memang tidak sia-sia dia dijuluki Singa Medan Laga.Pedang Patih Giling Wesi berhasil menembus dada Codet. Prajurit Kepatihan tinggal lima belas orang jumlahnya. Mereka seperti memberi peluang bagi masing-masing pemimpin untuk berlaga. Patih Giling Wesi menatap tajam pada Saka Lintang yang sudah menghunus pedangnya. Dia pun dapat mematahkan serangan lawan sebelum sampai. namun kelihatan sekali kalau Patih Giling Wesi bertarung menggunakan otak yang dingin. Patih Giling Wesi dengan cepat melompat ke tengah-tengah prajurit-prajuritnya yang sedang kewalahan menerima gempuran yang datang bagai air bah.

Saka Lintang melayaninya sambil tertawa -tawa."Serahkan anakku. Patih Giling Wesi tidak mau menyerah begitu saja. Patih Giling Wesi memang tangguh dalam olah keprajuritan. Jurus yang digunakan patih ini memang dahsyat. putrimu yang cantik akan jadi ratu setan!" dia langsung menyerang dengan jurus-jurus berbahaya. Sejak tadi sudah diperhatikannya jurus-jurus Patih Giling Wesi. Dengan cepat pedang Saka Lintang berputar mengarah ke perut yang lowong. Sedikit saja lemah. Saka Lintang sengaja tidak membalas serangan lawan. Dia telah tahu kelebihan dan kelemahannya. Trang! . "Awas kepala!" teriak Saka Lintang tiba-tiba. Sedangkan sasaran sesungguhnya adalah perut. akibatnya sangat fatal.. Patih Giling Wesi. atau kau harus mati di ujung pedangku!" dengus Patih Giling Wesi. mentah dan rontok di tengah jalan oleh gadis ini.. "Aku tidak akan membunuhmu. Dia hanya menghindar dan menangkis dengan gerakangerakan indah memukau. Dirubahnya serangan dengan menggunakan jurus-jurus andalan. Patih Giling Wesi mulai merasa sulit menghadapi.. Tapi tak disangka-sangka. Mengingat dirinya adalah seorang patih yang disegani. "Bocah setan!" geram Patih Giling Wesi merasa terhina. kali ini Saka Lintang tidak mainmain lagi. gerakan yang menyambar kepala hanya tipuan belaka. Semua serangan-serangannya. penuh gerak tipu yang berbahaya. Aku hanya ingin memberirnu sedikit pelajaran agar kau tidak lagi pongah!" kalem dan tenang sekali suara Saka Lintang. Dan memang. Tetapi dalam menghadapi tokoh rimba persilatan seperti Saka Lintang ini. dia harus mengerahkan tenaga dan kepandaiannya. Patih Giling Wesi terkejut Cepat-cepat dia menggerakkan pedangnya melindungi kepala. Untung Patih Giling Wesi cepat menarik pedangnya. "Ha ha ha.

langsung hancur berkeping-keping. Batu-batuan dan pohon-pohon yang terkena pukulannya. Saka Lintang mengakui kehebatan patih ini. Mereka m asih seimbang meskipun telah mengeluarkan jurus-jurus pedang tingkat tinggi. Tebasan dan tusukan pedangnya makin berbahaya dan menimbulkan tenaga dorongan yang dahsyat. Patih Giling Wesi dapat bergerak melebi hi kecepatan angin topan. pukulan tangan kiri Saka Lintang juga mencari sasaran. Kenyataannya sangat tak disangka sama sekali. "Setan! Ilmu apa yang dia pakai?" dengus Saka Lintang dalam hati. Daun-daun segera berguguran terkena sambaran angin kelebatan pedang yang menimbulkan suara gemuruh bagai angin puting beliung. Semula Saka Lintang menduga kalau kepandaian Patih Giling Wed berada jauh di bawahnya. tapi kelihatannya belum ada seorang pun yang terdesak. Seratus jurus telah berlalu dengan cepat. Dalam hati. Sedangkan Patih Giling Wesi juga sudah mengeluarkan kesaktiannya. Semua sama-sama dahsyat. Terlambat sedikit saja. Masing-masing belum ada yang terdesak. Saka Lintang kini meningkatkan permainan jurusjurusnya. Kombinasi antara ilmu pedang dengan jurus 'Pukulan Geledek' yang dikeluarkannya kini. Tiga puluh jurus telah berlalu. Patih Giling Wesi belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya. *** Pertarungan antara Patih Giling Wesi dengan Saka Lintang telah meningkat pada taraf yang genting. Selain pedang yang menyambar-nyambar. . sangat dahsyat. Dengan 'Ajian Sayuti Angin'.Dua pedang berbenturan tepat di depan perut Patih Giling Wesi. Batang-batang pohon segera tumbang terkena tebasan pedang Patih Giling Wesi. perut itu pasti sobek.

Perih dan bergetar ke seluruh persendian tangannya. Tangannya yang sudah terulur cepat.... Padahal tebasan pedang patih itu sangat cepat. Bagian ujung pedangnya sempal. Patih itu terkejut bukan kepa-lang. Tangannya seperti dijalari jutaan semut yang menggigit. Tapi. "Mampus kau!" bentak Patih Giling Wesi kembali melancarkan serangan mautnya. Dan kini dia telah siap dengan jurus 'Tarian Bidadari'... dengan lembut ditarik. Gerakan-gerakan tubuh Saka Lintang jadi berubah. Hatinya mendadak bergetar melihat tubuh indah meliuk-liuk dan sikap yang mengundang birahi. Matanya mengerling genit disertai gerak-gerak bibir yang mengundang birahi. "Ah!" Saka Lintang memekik manja. Bahkan lewat begitu saja. Sedapat mungkin dihindarinya benturan senjata. Patih itu berusaha untuk tidak terpengaruh pada setiap gerakan tubuh yang indah itu. Buru-buru gadis itu memasukkan pedang ke dalam sarungnya. Tidak sebanding dengan gerakan tangan yang lemah itu! Patih Giling Wesi segera menyadari kalau gerakan lemah gemulai yang mengundang birahi itu sangat berbahaya dan dapat mematikan lawan. Dia seperti menari. Meliuk-liuk dengan indahnya dengan tangan bergerak-gerak lemah gemulai.Setiap kali pedangnya membentur pedang Patih Giling Wesi. tidak bisa membabat-nya putus. Sulit dipercaya! Pedang yang sudah sedernikian dekat tangan Saka Lintang yang bergerak lemah. tangan kanan Saka Lintang melayang mengarah dadanya. Dan. Trang! Trak! Saka Lintang melompat mundur dengan wajah terkejut. tangan Saka Lintang selalu bergetar bagai tersengat ribuan kala berbisa. . dengan cepat dan tak terduga sama sekali. "Setan!" dengus Patih Giling Wesi dengan cepat melompat sambil membabatkan pedangnya. Namun tiba-tiba.. Sesaat Patih Giling Wesi terpana.

dia juga harus berperang dengan batinnya sendiri. "Racun. Setiap kali pedangnya berkelebat dan dipastikan akan menebas lawan. "Huh! Ilmu setan mana yang dipakainya?" dengus Patih Giling Wesi. Serangan Patih Giling Wesi yang bertubi-tubi mengarah pada bagian-bagian yang mematikan. mencari kelemahan jurus aneh yang dimainkan lawannya itu. "hey! Uts!" Tiba-tiba Patih Giling Wesi tersentak. Patih Giling Wesi makin kewalahan. Tetapi tak urung."Ouw!" Saka Lintang hanya mendesah manja sambil menggerakkan tubuh dengan indah. Tangan halus gemulai itu mendadak hampir menepuk pundaknya. Patih Giling Wesi merasakan suatu hawa panas menyebar. Namun dari anginnya sudah dapat dirasa. Untung saja patih itu masih memiliki sedikit kewaspadaan sehingga tepukan tangan Saka Lintang berhasil dihindari. Di samping harus menghadapi jurus aneh itu. tepukan lembut itu menyerempet bahunya. Tetapi serangan dahsyat itu tidak pernah dapat menyentuh tubuh Saka Lintang. Ujung pedang patih itu hanya menyerempet beberapa ram but saja.. Patih Giling Wesi memutar otak. Segera Patih Giling Wesi mengerahkan hawa mumi ke seluruh tubuhnya. .. Itulah kelebihan dari jurus Tarian Bidadari yang membuat lawan jadi frustasi karena mengira serangannya berhasil. Daya pikat yang di pancarkan Saka Lintang begitu kuat Gerakan-gerakan patih itu jadi tidak teratur karena terpecah konsentrasinya. Sekuat daya Patih Giling Wesi menekan nafsu birahinya yang semakin berkobar-kobar.!" desisnya. namun dengan manis Saka Lintang berhasil mengelak. Seketika dia tersentak kaget. Belum dapat dipastikan racun itu berbahaya atau tidak. Mendadak kepala Patih Giling Wesi terasa pening.

Tetapi kalau tidak begitu. Tetapi lewat dari sepuluh.lahan rasa pening di kepala berkurang. Dalam hati Patih Giling Wesi mengatakan bahwa tidak mungkin bertarung sambil menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni. Tubuhnya jadi terasa hangat. *** "Jangan hiraukan tangannya. Patih Giling Wesi tidak dapat berpikir lebih banyak lagi. Di saat Patih Giling Wesi dalam kebingungan. tetapi pandanglah matanya. Sementara Saka Lintang telah mulai lagi dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Patih Giling Wesi membuka lagi jalan darahnya setelah terasa racun yang terhisap tadi telah keluar dari tubuhnya. . Perlahan. Sepertinya suara itu begitu dekat dan jelas. Ya. Hawa murni itu telah menutup seluruh aliran darahnya. mendadak sebuah blsikan lembut terdengar di telinganya. Yang jelas bisikan itu mengatakan tentang kelemahan jurus 'Tarian Bidadari'.Secara tidak l angsung. Patih Giling Wesi seperti kehilangan akal dalam menghadapi lawannya kali ini. Bisikan yang entah datang dari mana. Patih Giling Wesi menatap Saka Lintang yang berdiri tenang dengan bibir menyungging senyum memikat. Bisa-bisa malah mati karena di dalam tubuh terjadi pertentangan dua hawa yang ber-lainan. "Jalan satu-satunya harus menahan panas. racun bakal terhisap lagi! Untuk menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni juga terlalu besar resikonya. Tapi apakah mampu menahan napas sambil bertarung? Kalau hanya sepuluh jurus saja dia masih mampu. menahan napas!" bisik hati Patih Giling Wesi. dia telah menghirup hawa racun yang disebar oleh telapak tangan Saka Lintang. rasanya tidak mungkin.

Hatinya gembira. . Setiap gerakan Saka Lintang selalu dapat dibaca olehnya. "Ikuti setiap gerak kakinya. Bahkan beberapa kali ujung pedang Patih Giling Wesi hampir menembus perutnya. patih itu segera menatap mata Saka Lintang. Cepat-cepat ditutupinya bagian yang terbuka itu. "Pusatkan napas pada perut. Saka Lintang mulai sulit menebarkan racun lewat pukulannya. digunakan pernapasan perut di samping memandang mata lawan. Mudah dan sederhana sekali petunjuk yang diberikan sehingga Patih Giling Wesi dengan cepat memahaminya. sering luput dari perhatian. Tanpa ragu-ragu lagi. Sedangkan pada bagian perut yang terbuka. Kian lama gerakannya menjadi kacau. Patih Giling Wesi makin gembira karena merasa di atas angin. Pedangnya terhunus ke arah pusar. Namun semuanya tertutupi oleh gerakan-gerakan lemah gemulainya. Untuk bisa melakukannya. "Ih!" Saka Lintang terkejut ketika ujung pedang patih itu berhasil merobek baju bagian perutnya." terdengar lagi bisikan itu. Merah pada wajah gadis itu menahan malu. Patih Giling Wesi segera bergerak mengikuti setiap gerakan kaki Saka Lintang. Dan benar saja. tidak beraturan. Cukup besar sayatan menggores bajunya." jelas bisikan itu. kelihatan Saka Lintang mulai kebingungan. Rupanya gerakan-gerakan lemah lembut Saka Lintang harus dihadapi pula dengan gerakan yang lemah sedikit kaku. Mungkin karena lawan telah terpengaruh oleh gerakan-gerakan yang mengundang syahwat itu. Hembuskan melalui mulut. Dia sudah mulai merasakan kalau Saka Lintang menemui kesulitan." bisikan itu terdengar lagi. baru dua petunjuk saja.Arahkan pedang pada pusarnya. Saka Lintang segera melompat mundur. Semangat timbul lagi. Dia jadi geram karena kelemahan jurus andalannya terbaca lawan.

tetapi segera berubah cepat. Patih Giling Wesi sangat menghormatinya meski dia hanya seorang yang lebih mirip pengemis." desis Patih Giling Wesi. "Huh! Ilmu setan mana lagi yang digunakannya?!" dengus Patih Giling Wesi. Kini disiapkannya jurus andalannya yang terakhir. "Keluarkan seluruh kesaktianmu.. Sebentar dia melompat. "Adi Patih Giling Wesi. Mulutnya mendesis bagai ular.!" Suara terkekeh tiba-tiba terdengar menggema dari segala penjuru." kata Aki Lungkur lagi.hingga jadi lupa terhadap daerah lowong itu. "Selamatkan putrimu di bukit Guntur." kata Aki Lungkur tanpa mengecilkan kepandaian patih itu. Tingkat kepandaiannya memang sulit diukur. Dalam menghadapi Patih Giling Wesi. Saka Lintang kali ini memang menelan pil pahit. Saka Lintang hanya mendengus saja. Dia sudah tahu siapa kakek tua itu. Kadang lambat... "He he he. "Aki Lungkur.. Gerakan-gerakan yang diperlihatkan memang aneh. Patih Giling Wesi pun mundur dua tindak. jangan campuri urusanku!" . Kemudian muncul seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah di tangannya. Seketika dia menduga kalau kakek tua inilah yang membisikkannya tadi. Dia bukan lawanmu. kemudian merayap cepat menyusur tanah. biar lebih cepat kau kukirim ke neraka!" dengus Patih Giling Wesi.. "Bedebah! Kakek busuk. "Ular harus dilawan dengan tongkat!" kata kakek tua yang tidak lain adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah atau Aki Lungkur. mundurlah. Jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Dia sama sekali tidak tahu kalau patih itu mendapat petunjuk dari bisikan misterius yang hanya dapat didengar oleh patih itu sendiri.

si Pendekar Rajawali Sakti. Sambil bersiul-siul dengan irama yang tak jelas.. mungkin rumah itu sarangnya... *** Pada waktu yang bersamaan. Telinganya yang tajam menangkap suara gerak langkah kaki tersembunyi.. mereka langsung menyerang para prajurit yang belum pergi jauh itu. Patih Giling Wesi segera berangkat. 2." sahut Patih Giling Wesi.. Tentulah kepandaiannya tidak bisa dianggap enteng. "He he he. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu. "1.. seorang pemuda berbaju rompi putih berjalan menelusuri kaki bukit Guntur sambil bersiul-siul. Aki Lungkur tahu siapa lawan yang dihadapinya kini. anak angkat Geti Ireng.bentak Saka Lintang geram. Saka Lintang segera memerintahkan anak buahnya menghalangi para prajurit Kepatihan itu. Rangga terus melenggang. 3. "Hm." gumam Rangga menghitung." kembali Rangga . Rangga masih melenggang tenang." kata Aki Lungkur tanpa mempedulikan bentakan Saka Lintang... Dan kini telah mengepung dirinya. Dia tahu kalau dirinya telah memasuki daerah markas Bidadari Sungai Ular. "Cepatlah berangkat! Jangan buang-buang waktu lagi. Tanpa mendapat peringatan pun. Bersama prajuritprajuritnya dia menuju bukit Guntur.... Ah. "Baik. Tanpa dikomando lagi. Kepalanya tergeleng-geleng begitu mendengar suara berkeresek. Seorang gadis. Suara siulannya berhenti.. Aki.." Aki Lungkur terkekeh lagi... Terbukti Patih Giling Wesi tidak mampu menandinginya. Hati-hatilah. Bibirnya menyungging senyum. hanya 15. Dari gagang pedang yang menempel di punggungnya dapat diketahui kalau pemuda itu adalah Rangga.

dan dengan cepat tubuhnya melenting di udara. "Aku hanya pengembara dan kebetulan lewat sini. Jambak yang memiliki kepandaian cukup tinggi. Namanya Jambak. Namun tebasan pedang itu hanya mengenai angin. Diayunkan langkahnya." jawab Rangga kalem. Kelima belas orang itu hanya melongo. segera memerintahkan . "Wuih! Sadis sekali. 'Tidak ada seorang pun yang boleh memasuki kawasan ini!" kata Jambak galak. "Jangan banyak tanya. Rumah beratap rurnbia itu bertengger di kaki lereng yang cukup terjal. mendadak dari rimbunan semak-semak bermunculan orang-orang berpakai an serba biru dengan senjata terhunus. Tanpa peduli Rangga meneruskan perjalanannya. Dan. Jambak jadi gusar karena kata-katanya tidak digubris sama sekali. Digenjot kakinya. Rangga melayang menuju rumah kayu di tebing bukit. "Teman-teman. Pedangnya terayun cepat mengarah kepala Rangga. Tidak terlalu sulit untuk mencapai sana. Seketika empat belas orang temannya dengan cepat mengurung Rangga sambil berteriak-teriak mengacungkan senjata. serang keparat ini!" perintah Jambak." "Pergi!" bentak Jambak keras. "Waduh. "Berhenti!" bentak salah seorang dengan keras. Dia segera melompat dengan ilmu peringan tubuhnya. Dia salah seorang kepercayaan si Bidadari Sungai Ular. Rangga hanya tersenyum saja.bergumam ketika melihat sebuah rumah kayu di depannya. Rangga hanya tersenyun. galak sekali. kembali! Atau tubuhmu kujadikan dendeng!" ancam Jambak. Ayo. "Siapa kau? Apa maksudmu datang ke sini?" tanya orang yang membentak tadi. Bagaikan terbang saja. kenapa?" Rangga berlagak dungu." Rangga berlagak kaget. "Lho.

Dia hanya meliuk-liukkan tubuhnya tanpa menggeser kaki sedikit pun. Licin dan berkelit ke sana kemari menghindari segala bentuk serangan yang datang bertubi-tubi. tangan Rangga bergerak cepat.. Darah menguncur deras dari keningnya yang bolong. mengenakan pakaian merah muda dari bahan sutra halus di depan pintu. Namun sampai sejauh ini. Rangga tidak lagi kewalahan. Kaki Rangga baru bergerak jika datang serangan lain secara keroyokan. Rangga masih sempat melirik ke arah pintu rumah yang terbuka. Rangga bagai seekor belut. Sangat keras totokannya. Rangga hanya berkelit menghindari tebasan pedang yang datang bagai air bah itu. "Maaf. Tombak itu telah berpindah tangan. Namun bagi Rang-ga. Rupanya Rangga menggunakan satu jarinya untuk menotok kening orang itu. semua serangan Jambak hanya dianggap main-main saja. Jambak yang datang lebih dulu dari teman-temannya dengan cepat menyerang ganas. Dan tibatiba muncul seorang wanita muda. Rangga sedikit terpana melihat kecantikan wanita yang tidak lain adalah Intan . pinjam tombakmu!" kata Rangga kalem. Macam-macam bentuk senjata bertebaran mengepung tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Dan kini orang itu telah ambruk tak berkutik. Selesai ucapannya.macam senjata beradu dengan tombak di tangan Rangga. Dalam keadaan dikeroyok seperti itu. belum ada satu pun senjata yang berhasil menyentuh tubuhnya. cantik. kalian hanya kronco!" dengus Rangga begitu kakinya menjejak tanah di depan rumah kayu itu. "Hm. dan menggiurkan. Denting macam.teman-temannya mengejar. Sekejap saja seorang dari pengeroyoknya yang menggenggam tombak terhuyung ke belakang. sehingga kening orang itu bolong! Kini dengan tombak di tangan... Dia sendiri berlompatan dengan bantuan ilmu peringan tubuhnya.

Tubuh-tubuh bermandikan darah mulai bergelim-pangan. Dari raut wajah yang panjang kurus. lalu ambruk tidak berkutik lagi. Sebentar saja sesosok tubuh kurus tinggi berbalut baju hitam ketat telah berdiri di tengah-tengah lapangan depan rumah kayu itu. Terdengarlah siulan yang panjang dan melengking tinggi. disusul am-bruknya dua orang lagi. "Bagi dua!" teriak Bayangan Hitam.Kemuning. "Cukup!" Tiba-tiba terdengar bentakan keras melengking. "Jambak." Si Bayangan Hitam mendongak seraya memonyongkan bibir. Mereka semua menyandang pedang di punggung. Lebih-lebih setelah mendengar l agi suara jeritan panjang melengking. . Rangga menggerakkan tombaknya semakin cepat. "Bayangan hitam. "Dia coba-coba menggerogoti lumbung. siapa tikus itu?" tanya Bayangan Hitam. dapat ditebak kalau orang itu wanita. Hatinya bergetar juga.!" seru Jambak gembira melihat berkelebatnya sebuah bayangan.. Pekik kematian kini terdengar saling susul. Rangga kini sibuk menghadapi para pengeroyoknya yang semakin ganas." "Huh! Lalu di mana Gusti Putrimu?' "Menghadang perusuh di sungai Ular. menyusul dua orang terhuyung-huyung lalu ambruk. Siulan itu menggema dipantulkan oleh bukit-bukit batu dan lembah.. Namun dia tidak dapat memperhatikan lebih lama lagi. Belum lagi kering darah itu. Sebentar saja sudah delapan orang yang telah mengantar nyawa. Jambak merasakan lawannya bukan tandingan mereka semua. Dua orang kini terhuyung sambil menekap dada. Darah segar segera mengucur dari dada yang robek itu. Serentak dari balik-balik pepohonan muncul sekitar dua puluh orang berpakaian serba hitam.

Episode: Iblis Lembah Tengkorak) "Siapa kau. Bantu Gusti Putrimu!" perintah Bayangan Hitam. "Namaku tak ada artinya buatmu. "Sebutkan namamu sebelum kau kukirim ke neraka!" . Sisa empat orang teman-teman Jambak masih terdiam di tempatnya. Wanita kurus ini sangat baik terhadap Saka Lintang. Jambak cepat memberi isyarat pada salah satu kelompok Bayangan Hitam. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti. Dari julukannya. Segera mereka berlari menuruni lereng bukit menuju sungai Ular. "Jambak. Lagi pula. Bayangan Hitam tidak pernah ingin ikut campur dalam urusan Geti Ireng. Secercah harapan muncul dan terbias di wajah mereka melihat kehadiran Bayangan Hitam. ayah angkat Saka Lintang. Dari sekilas pandang saja. "Sombong!" dengus Bayangan Hitam sedikit gusar. Jadi Bayangan Hitam adalah bibi angkatnya. dapat dipastikan kalau tokoh ini dari aliran hitam." jawab Rangga. *** Bayangan Hitam bukan orang lain bagi Saka Lintang. "Oh. namun dia sama sekali tidak membenci Bayangan Hitam. terima kasih" Jambak membungkukkan tubuhnya. Dia adik kandung Geti Ireng. Mereka semua tahu siapa Bayangan Hitam. Bayangan Hitam datang membawa anak buahnya. bawa satu kelompok orangku. Rangga sudah dapat mengukur tingkat kepandaian perempuan kurus ini. anak muda?!" tanya Bayangan Hitam. Meski Saka Lintang telah mengetahui asal-usulnya. Dia adalah seorang tokoh sakti yang tangguh dan sukar dicari tandingannya.Tanpa banyak omong. Benar-benar suatu kebetulan. orang-orang yang baru bermunculan itu segera membentuk dua kelompok. Semangat mereka timbul kembali setelah hampir diporak-porandakan.

pasti tingkat kepandaiannya tinggi sekali." lantang suara Rangga. Lebih-lebi h setelah menyaksikan sepak terjangnya yang dengan mudah merobohkan sepuluh orang dalam satu jurus yang diulangulang terus. Mendengar namanya saja. Bukan hanya Intan Kemuning yang terkejut Ternyata Bayangan Hitam pun kaget setengah mati. terkejut. Tapi diam-diam Intan Kemuning tertarik juga melihat ketampanannya. Kini dia mengerti sudah. Wajahnya tampak berubah merah. Dia tidak kenal dengan pemuda tampan itu. Apalagi si pem bunuh itu masih muda dan tampan."Aku Pendekar Rajawali Sakti. untuk apa perempuan kurus atau Bayangan Hitam itu muncul. "Kebetulan kau muncul. baru kali ini. Tak disangkasangka dia bertemu dengan pembunuh kakak laki-lakinya. "Aku datang untuk mengambil Putri Intan Kemuning!" Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu rumah kayu. "Aku membunuh saudaramu. karena dia membantai keluargaku!" lantang dan mantap suara Rangga. "Aku tidak peduli! Yang jelas kau harus bayar nyawa saudaraku!" Rangga yang sudah mengukur kepandaian Bayangan Hitam tidak sungkan-sungkan lagi. bocah setan! Kau berhutang nyawa padaku!" ujar Bayangan Hitam. Dia segera mencabut pedangnya ketika Bayangan Hitam telah siap dengan . bagaimana mungkin aku berhutang nyawa padamu?" "Kau membunuh saudara laki-lakiku! Kau harus bayar dengan nyawamu!" "Siapa saudaramu?' "Geti Ireng atau Iblis Lembah Tengkorak!" Rangga mengerutkan keningnya. "Bertemu saja baru kali ini. Kalau anak muda ini dapat membunuh Iblis Lembah Tengkorak. Kelihatannya dia telah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

Yang kelihatan hanya bayangan hitam. Sebentar saja sepuluh jurus telah berlalu. putih. satu jurus andalan tingkat pertama. Dua sinar berbeda saling sambar dengan hebat-nya. Rangga tidak merasakan apa-apa waktu pedangnya berbenturan tadi. anak setan!" geram Bayangan Hitam sambil membuang pedangnya begitu saja. Bayangan Hitam pun tak kalah siapnya. Sinar hitam menggulung-gulung bagai asap tebal. Kian lama pertarungan kian seru. Pedang Rangga berputar-putar berkelebat memancarkan sinar biru yang menyilaukan. Sret! 'Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam. Bayangan Hitam segera menyerang Rangga dengan jurus-jurus pedang yang dahsyat Sekejap saja mereka telah bertarung dengan jurus-jurus pedang tingkat tinggi. Dia pun bersiap-siap mengerahkan jurus 'Cakar Rajawali'. "Keluarkan ilmu kesaktianmu. Bayangan Hitam segera melompat mundur satu tombak. Pedangnya melintang di depan dada. Dirasakan tangannya kesemutan ketika pedangnya beradu. Bibirnya mengulum senyum. Trang! Dua pedang beradu menimbulkan pijaran bunga api. tapi sinar matanya tajam menatap lurus Bayangan Hitam. bisa jadi tangan kanannya pisah dari badan terbabat pedang Rangga. dan biru saling berkelebat Semua yang ada di situ melongo. Kalau saja Bayangan Hitam tadi tidak melompat. Rangga segera memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Sedangkan pedang Bayangan Hitam menderu-deru menimbulkan hawa panas. Mereka telah saling berhadapan. Kini tubuh mereka tidak terlihat jelas.pedangnya. takjub. Kini dia mengeluarkan jurus andalannya juga. . Sementara Rangga tidak bergeming sedikit pun. "Edan!" dengus Bayangan Hitam melihat ujung pedangnya buntung. Jari-jari tangannya seperti kaku.

Seketika Bayangan Hitam merubah jurusnya. "Glaaar. Bayangan Hitam sampai terperanjat. Beberapa pohon tumbang terkena sambaran angin pukulan Rangga. Kedua kaki Rangga makin bergerak cepat. Kedua kaki Rangga kini tidak lagi menjejak tanah. Kakinya bergerakgerak lincah mengimbangi gerakan Bayangan Hitam yang sangat cepat. karena kaki-kaki Rengga saling susul mengarah kepala. kadang menukik "Akh!" Tiba-tiba Bayangan Hitam memekik kesakitan. Sulit diiihat denjan mata biasa. Rangga berdecak kagum melihat kedahsyatan pukulan Bayangan Hitam.."Bersiaplah!" Bayangan Hitam segera menggebrak setelah selesai memberi peringatan. Kedua tangan yang selalu mengembang bagai sepasang sayap itu menyambarnyambar mengikuti gerakan tubuh Rangga yang kadang melayang. Kini hanya dua bayangan hitam dan putih berkelebat.. Tubuhnya . Seketika batu itu hancur berkeping-keping menyebar ke segala penjuru.!" desis Rangga memuji dengan tulus "Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam. Kedua tangainya menyambar-nyambar menimbulkan deru angin kencang. tubuhnya berar-benar seperti bayangan saja. Rangga pun segera merubah jurusnya menjadi 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Kin dengan jurus 'Bayangan Maut'.!" Suara ledakan keras terdengar ketika tangan Bayangan Hitam menghantam batu.. Kedua tangan Rangga mengembang. Pertarungan dua tokoh sakti itu kembali berlangsung.. Debu mengepul di udara disertai angin yang menderu-deru bagai terjadi topan. Rangga mengerutkan keningnya ketika merasakan angin sambaran pukulan yang sangat dahsyat. "Hebat.

pertempuran masih berlangsung sengit. Patih itu mengamuk terus. Saka Lintang bertarung dengan Pengemis Sakti Tongkat Merah. Bibi Bayangan Hitam datang!" teriak Jambak. Yang tersisa hanya delapan orang saja. Sedangkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya menghadapi anak buah Bidadari Sungai Ular. Mereka penasaran karena belum bisa menggoreskan pedang ke tubuh Rangga. tibatiba muncul sepuluh orang berpakaian serba hitam dipimpin oleh Jambak. Empat orang anak buah Bidadari Sungai Ular yang tersisa membantu mengeroyok Rangga. "Serang..terhuyung dua tombak. Semangatnya segera . Serentak sepuluh orang berpakaian serba hitam bergerak menyerang Rangga. Dia berusaha menghindari kepala. Tanpa dapat dihindari lagi. 'Tuan Putri. Denting senjata bercampur dengan jerit kematian. Bayangan Hitam mengeram menahan sekit yang luar biasa karena menyadari tangan kirinya tidak bisa digerakkan lagi. *** Sementara di sungai Ular. tapi tidak bisa lagi menarik pundaknya. Tulang pundaknya patah sehingga sulit digerakkan lagi. "Kurang ajar!" geram Rangga sengit. kaki Rangga berhasil mengenai pundaknya.!" teriak Bayangan Hitam keras melengking. Dia sendiri kewalahan menghadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah. Setiap pedangnya berkelebat selalu menimbulkan korban. Saka Lintang tidak mungkin membantu orang-orangnya.. Prajurit Kepatihan yang dipimpin Patih Giling Wesi itu kini berada di atas angin. Saat gerom bolan perom pak itu makin terdesak. Makin lama orang-orang berpakaian serba biru semakin berkurang jumlahnya. Saka Lintang berseri-seri wajah nya.

"Cepat ke bukit Guntur! Selamatkan putrimu!" perintah Kakek Pengemis itu. Saka Lintang mendekati Jam bak yang tengah mengeroyok Kakek Sakti Tongkat Merah.. Orang-orang dari Bayangan Hitam lebih tinggi tingkat kepandaiannya dan lebih ganas dalam bertarung. Begitu kakinya menginjak tanah.. lima orang lagi membantu mengeroyok Pengemis Sakti Tongkat Merah. Saka Lintang segera melompat keluar dari pertarungan ketika ada kesempatan. Satu persatu orang-orang berpakaian serba hitam tersungkur berlumuran darah disertai jerit kesakitan. Bagaikan kilat tubuh patih itu dan kini sudah jauh meninggalkan pertempuran. Apalagi melihat anak buah Bayangan Hitam ikut bertempur. "Di mana Bibi Bayangan Hitam sekarang?" tanya Saka Lintang di sela-sela pertarungan. . 'Tengah menghadapi Pendekar Rajawali Sakti. Pengemis Sakti Tongkat Merah mendengar hal itu merasa bersyukur karena Pendekar Rajawali Sakti telah sampai di sarang gerombolan Bidadari Sungai Ular. Pengemis Sakti Tongkat Merah yang sejak tadi mendengar. bagaimana Intan?" tanya Saka Lintang dengan cemas.bangkit mendengar Bayangan Hitam ikut membantu. lalu berteriak nyaring. "Apa." jawab Jambak. langsung dikeluarkannya ilmu lari cepat. Lima orang membantu anak buah Saka Lintang. "Lalu. Dengan cepat dia berlari menggunakan ilmu peringan tubuh. Pengemis Sakti Tongkat Merah mengamuk memutar-mutar tongkat saktinya. "Berada di markas!" sahut Jambak.?" Saka Lintang terkejut. Kini keadaannya jadi berbalik. Tubuhnya mencelat tinggi di udara dan jatuh tepat di samping Patih Giling Wesi. "Biar orang-orang ini aku yang hadapi!" Patih Giling Wesi segera melompat tinggi dan bersalto di udara.

Perintah Jambak seperti tertelan angin. selalu menghalangi setiap orang yang akan mengejar para prajurit. Sementara Kakek Pengemis kian waspada. Seketika sepuluh orang mengambil posisi melingkar mengepung Rangga. Kakek sakti menebas tongkatnya sehingga satu persatu bergelimpangan. Rangga mencabut pedangnya dan mengerahkan ilmu pedangnya yang dipadu dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.. Empat orang ber-pakaian biru keluar dari arena. "Cepat susul Gustimu!" teriak Aki Lungkur kepada para prajurit.nyambar mencari mangsa. Gerakan kakinya lincah menghindari setiap serangan lawan. pertarungan masih berlangsung sengit. "Rantai Bayangan!" teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. Ki. Aki Lungkur bergerak cepat menyambar setiap orang yang berusaha keluar dari medan pertarungan. Rangga mengamuk menghadapi Bayangan Hitam yang dibantu oleh kaki tangannya. 'Tapi. "Cari kesempatan! Kejar mereka!" teriak Jam bak gusar.. sedangkan pedangnya berkelebat ke arah tubuh lawan yang kosong.!" seorang prajurit tidak tega meninggalkan orang tua itu sendirian. Kini jumlah mereka makin berkurang saja. Tongkatnya seperti hidup menyambar. Jambak memutar otaknya mencari jalan agar sebagian temannya bisa keluar dari pertarungan. Delapan prajurit Kepatihan itu langsung beriari menyusul pemimpinnya. "Jangan membantah!" dengus Aki Lungkur. Jurus ke-tiga dari rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Mereka seperti menghadapi seribu pengemis. Di markas gerombolan Bidadari Sungai Ular.Mereka bukanlah lawan Pengemis Sakti Tongkat Merah. Mata Rangga tajam mengamati gerakan sepuluh orang yang berputar mengelilinginya sambil pedangnya tersilang .

Dengan gerakan manis. Sedangkan yang selamat hanya memegang pedang yang tinggal setengah saja. Mata Rangga tidak lepas mengamati setiap serangan yang datang.di depan dada. Dengan serentak sisa anak buahnya mengeluarkan sebuah bola besi berwarna hitam yang bergigi runcing di sekelilingnya dan dihubungkan dengan rantai halus .. "Bedebah! Kurang ajar!" Bayangan Hitam menggeram melihat empat anak buahnya roboh hanya sekali gebrakan saja.!" Rangga kebingungan juga menghadapi pola serangan yang ganjil ini. "Hiya! Yeah. Trang! Trang! Trang! Kepingan-kepingan logam pedang yang patah meluncur deras ke arah orang-orang berpakaian serba hitam yang kebingungan. Serangan-serangan itu sulit ditebak. Seperti mata rantai. Tiba-tiba dia menjerit kuat sekali. Gencar sekali. Pedangnya dimasukkan ke dalam sarungnya di punggung. "Aaaakh. mereka bekerja sama dengan gerakan-gerakan yang teratur dan menunjang. Rangga mendarat di tanah. Ternyata teriakan-teriakan itu hanya untuk memecah konsentrasinya.. Pedang mereka terkena sambaran pedang biru menyilaukan.!" Beberapa tubuh yang tidak sempat mengelak langsung bergelimpangan dengan dada teriembus patahan pedang mereka sendiri menyusul jeritan kematian. Makin lama makin cepat Yang terlihat kini hanya bayangan hitam yang bergerak melingkar.. “Bola Rantai Hitam!” teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. Rangga tidak akan menggunakan senjata jika lawan tidak pula menggunakannya.. datang dari segala penjuru secara berganrJan. Tubuhnya berputar cepat bagai baling-baling. Tetapi dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti dapat menguasai diri.

Apa-lagi sebelah tangannya tidak bisa digerakkan.. Lima orang lainnya masih bisa menyelamatkan diri. Keenam orang itu serentak melepaskan rantai. "Lepaskan!" teriak Bayangan Hitam. mereka bersalto di udara. Tiba-tiba tubuh mereka terangkat ikut meluncur bersama Rangga yang semakin tinggi. "Aaaakh.. Seketika bola-bola itu menderu-deru silih berganti. Sungguh hebat tenaga dalam Rangga. dia melesat ke udara bagai seekor rajawali. Rangga membiarkan tubuhnya terbelit rantai-rantai dengan bola bergigi itu. Rantai-rantai hanya terlihat beberapa jengkal saja. Rangga pun mengerahkan gabungan dari tiga rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Rangga yang masih berada di atas.. Tangan mereka memutar-mutar rantai panjang dengan bola-bola bergigi di ujungnya. Keenam orang itu segera membentuk lingkaran. Dia masih menganggap belum perlu merubah jurus.berwarna hitam pula. Kelima anak buahnya . Kali ini dia tidak ingin lagi membiarkan lawan mengatur siasat. Kepalanya hancur terhantam bola hitam miliknya sendiri. dan hanya menggabung-gabungkan saja dengan berbagai kombinasi. Tentu Bayangan Hitam jadi kelabakan. Bolabola besi lainnya menghantam tanah lalu melesak ke dalam. "Serang. dengan gerakan cepat mengumpulkan dan melemparkan rantai-rantai itu kepada pemiliknya. "Bedebah!" geram Bayangan Hitam.!" seorang dari mereka menjerit keras. Dengan satu teriakan melengking..!" teriak Bayangan Hitam memberi komando. Rangga turun dengan manis. dilontarkan oleh keenam orang itu. Suaranya menderu-deru bagai angin topan. Dia segera menyerang Bayangan Hitam dengan gabungan tiga rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Sebelum menjejakkan kakinya di tanah.

Apalagi kini mereka tanpa senjata.r!" Gerakan Rangga dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' begitu cepat sehingga keempat orang itu tidak bisa melindungi kepalanya. "Mundur. kaki Rangga melayang ke arah kepala.. langsung membantunya. Siapakah yang membentak itu? *** . "Lepas!" sentak Rangga. Dengan cepat Rangga segera mengganti ketiga jurusnya sehingga lawan kebingungan.!" Bayangan Hitam menoleh. Kraaak! "Aaaa. "Bibi..ditambah empat anak buah kelompok Bidadari Sungai Ular. Dilihatnya Saka Lintang berlari cepat dan segera melompat sambil menghunus pedang. Rangga kini dikeroyok sepuluh orang. Begitu hebatnya suara bentakan tadi. Bayangan Hitam pun kini hanya bisa bertahan tanpa mampu memberikan serangan balasan. Tiba-tiba saja empat pedang terlempar ke udara. Tapi hanya empat orang saja yang menggunakan senjata... Dari mulutnya terus keluar umpatan dan cacian yang tidak berhenti.. sehingga pertempuran sekejap saja berhenti. Bahkan lima orang anggota Bayangan Hitam telah jadi mayat. Dan tanpa terduga sama sekali. Mereka segera menggelepar dengan kepala pecah.!" tiba-tiba terdengar suara bentakan keras menggelegar. Seketika Saka Lintang terlibat dalam pertempuran pula. Dia menggeram dengan gigi gemerutuk melihat semua anak buahnya tewas.

Rangga cepat mengibaskan tangannya.! Pohon besar itu hancur berkeping-keping tersambar sinar biru... "Hm. Hanya saja watak mereka yang terbiasa malang melintang di rimba persilatan. Belum sempat menjejakkan kakinya ke tanah. Tokoh ini beraliran hitam dan dulunya merupakan suami Bayangan Hitam. Dari pedang pun meluncur sinar biru bergulunggulung.. untung paman cepat datang. Lintang?" tanya Nambi sambil mengamati mayat-mayat yang bergelimpangan. muncul seorang kakek tua berjubah merah. "Paman Nambi. Tepat saat kakinya menginjak tanah. Sampai sekarang pun mereka masih suami istri. Terpaksa dia kini mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'..." Saka Lintang gembira.. Blar. Kakek itu mencelat bersamaan dengan hancurnya pohon itu. Seorang tokoh tua sakti bernama Nambi muncul di tengah-tengah arena pertarungan.. sehingga mereka tidak hiraukan status suami istri. . Hanya kemunculan mereka saja yang tidak selalu bersamaan. Kini pedang itu terarah pada sebuah pohon besar.!" seru Saka Lintang. Rangga telah disibukkan dengan sinar merah yang datang lagi. Mata Rangga yang tajam cepat mengetahui dari mana datangnya sinar merah itu.Seberkas sinar merah meluncur deras menyambar Rangga. Banyak tokoh menduga kal au mereka tengah bentrok. Dia dikenal dalam rimba persilatan dengan nama Setan Jubah Merah. Mereka sibuk mendirikan partai sendiri-sendiri. dengan seketika dia telah menggenggam pedangnya. "Paman. Rangga kembali memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Dengan sigap Pendekar Rajawali Sakti itu melompat menghindari sinar merah yang datang tiba-tiba itu. apa yang terjadi.

Pertempuran sengit tidak dapat dihindari lagi. Kakang!" Bayangan Hitam memperingatkan. silahkan baca Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Iblis Lembah Tengkorakl "Siapa dia?" tanya Nambi atau Setan Jubah Merah. Tapi sekarang? Apal agi Pendekar Rajawali Sakti ikut membantu. Saka Lintang melirik Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu. paman. Untuk kedua kalinya dia harus berhadapan dengan pemuda yang telah merobek-robek hatinya ini. hadapi aku!" bentak Setan Jubah Merah." jawab Saka Lintang. Setan Jubah Merah segera mengerahkan . Seluruh anak buahnya mati. Tetapi tak diduga sama sekali akibatnya jadi demikian. Nambi memandang pada istrinya. Patah! Mendadak hatinya panas. "Sudah kuperingatkan. Masih saja membandel!" tegur paman angkat Saka Lintang."Perkumpulanku dihancurkan. "Dan kau tidak mampu mengatasinya?" Saka Lintang hanya tertunduk saja. Maksud Saka Lintang hanya ingin merubah Intan Kemuning menjadi seorang pendekar wanita. Pundak itu melesak ke dalam. Benih-benih cinta kembali muncul. Setan Jubah Merah melom pat cepat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. "Anak muda. Dia sadar. Mungkin kalau Pengemis Sakti Tongkat Merah tidak ikut campur. jangan cari perkara dengan pihak kerajaan. Ada nada kesedihan daiam suaranya. "Pendekar Rajawali Sakti." jawab Saka Lintang. ini adal ah kesalahannya. Seketika hatinya bergetar. "Hati-hati. (Untuk lebih jelas. Saka Lintang memandang Rangga. Saka Lintang pasti mampu mengalahkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya. Bayangan Hitam. Matanya agak menyipit melihat ke arah pundak perempuan tua itu. Namun bibit dendam dan kebencian juga bertumbuhan.

Hasilnya sungguh tak terduga . Dia hanya mengukur tingkat kepandaian lawan.jurus-jurus andalannya. "Serang aku!" teriak Nambi. Dengan jurus ini. "Akh!" Setan Jubah Merah memekik tertahan. Kakek!" sahut Rangga dengan hormat Nambi terdongak mendengar kata-kata Rangga. Tapi semua itu tidak berpengaruh terhadap Rangga. Darah mengucur deras dari pangkal lengan yang bolong dua jari itu. Kini Rangga menghadapi lawan dengan jurus 'Cakar Rajawali'. Seketika jari-jari tangannya meregang kaku. baiklah! Maafkan. "Bersiaplah. Sudah menjadi sifatnya untuk tidak mengeluarkan jurus-jurus berbahaya sebelum dia mengetahui tingkat kepandaian lawan. "Bocah setan! Jangan salahkan aku jika sampai menurunkan tangan kejam!" geram Nambi sengit melihat Rangga hanya berkelit tanpa mem-balas serangan. Jurus tangan kosongnya sangat dahsyat. Pemuda itu tidak congkak. Dia sempat mendengar permintaan maaf Rangga sebelum melancarkan serangan. "Kalau itu keinginanmu. Setiap pukulannya mengandung hawa racun yang mematikan. Nambi sedikit terperangah. Jari-jari tangan Rangga berhasil menusuk pangkal lengan kiri Nambi. Rangga tidak bermaksud memandang enteng lawan. pertarungan pun menjadi sengit. Nambi mengemerutukkan gerahamnya. Bahkan selalu merendah. Hati kecilnya berkata kal au dia merasa salut terhadap anak muda itu. Kek!" Rangga menyalurkan seluruh tenaga ke kedua telapak tangannya. "Maaf!" seru Rangga. Lalu digerakkan tangannya yang makin lama makin cepat. Dengan cepat dia mengimbanginya. Dia terhuyung satu tombak ke belakang. Rangga kebal terhadap segal a je-nis racun. Baru kali ini didapatkan lawan yang mau menghormat pada dirinya.

!" jerit Bayangan Hitam cemas melihat darah mengucur dari lengan suaminya.. Sementara pertarungan sengit berlangsung. Kaki Rangga telak bersarang di kepala Bayangan Hitam. Sedangkan Saka Lintang mengerahkan jurus 'Pukulan Geledek'nya. Saka Lintang pun tidak ingin ketinggalan. Pendekar Rajawali Sakti segera menggabungkan jurus 'Cakar Rajawali' dengan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. "Kakang.. Kemarahan dan dendamnya sudah sampai ubun-ubun.. Bayangan Hitam langsung melompat menyerang Rangga. Kini Rangga berhadapan langsung dengan tiga orang tokoh yang memiliki kepandaian yang luar biasa. sehingga Bayangan Hitam tidak dapat menguasai diri lagi.. Mereka segera mengeroyok Rangga. Secepat kilat Setan Jubah Merah menyerang dengan jurus-jurus mautnya. Setan Jubah Merah yang telah berhasil menghentikan darah dengan totokannya. "Kubunuh kau. lima orang .. Setan Jubah Merah menggeram menahan marah. Kembali Pendekar Rajawali Sakti harus melayani serangan beruntun Bayangan Hitam. Sementara Saka Lintang kembali menyerang dengan jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Sasarannya kini ke arah Bayangan Hitam. Lengan Nambi bolong oleh tusukan jari-jari Rangga.. "Aaaakh. Begitu cepat perubahan jurus yang dilakukan Rangga. Dia tidak lagi memandang perasaan cintanya pada Rangga. kemudian diam tak bergerak l agi.!" Saka Lintang memekik kaget. Dia menggelepar-gelepar dengan kepala hancur.!" Bayangan Hitam menjerit kesakitan. "Bibi. segera ikut mengeroyok Rangga. bocah setan!" teriak Nambi.sekali. Posisi Rangga kian terdesak oleh serangan yang beruntun. Rangga mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' lalu disusul dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.

." gertak laki-laki itu. jangan!" *** . ternyata kau punya isi juga. "He he he.. sekarang aku minta bayaran darimu. "Mau apa kau?" Intan Kemuning bergidik.. Jakunnya turun naik menahan gejolak birahi yang bergelora dalam dada. Liumya tertahan." orang itu menyeringai. "Kau yang menjadi gara-gara. kebetulan melihat Intan Kemuning yang belum beranjak dari pintu pondok. Melihat kecantikan Intan Kemuning. Mata orang itu liar merayapi wajah gadis cantik di depannya. "Ah!" Intan Kemuning kaget ketika tiba-tiba seseorang telah ada di depannya. "Ah. "Ih!" Intan Kemuning menepis tangan laki-laki yang terulur hendak menjamah.anggota Bayangan Hitam yang tersisa menyeret gurunya ke tempat yang lebih baik Tetapi salah seorang dari mereka. seketika nafsu birahinya bangkit.

Tubuh Intan Kemuning seketika jadi polos. Kini bagian dada yang membukit indah terbuka. Di dalam pondok. Laki-laki itu makin liar merejam tubuh Intan Kemuning. merobek bajunya.. Segera mereka berlarian ke pondok. Bret! "Auuuh. Dia meronta-ronta mencoba melepaskan diri. Lima pasang mata menatap ke a rah dada yang putih mulus tanpa berkedi p. Rasa panik dan ketakutan yang amat sangat membuat dia lupa segalanya. Hanya bagian bawah saja yang masih tertutup. Intan Kemuning jadi lupa kalau dia telah belajar dasar-dasar ilmu olah kanuragan. Keempat orang yang sebelumnya . Intan Kemuning cepat menutupi bagian dadanya yang terbuka..6 Intan Kemuning makin kaget ketika orang itu telah menubruk dan memeluknya.. Tangannya memukuli tubuh lelaki kasar yang telah menindihnya. Tangan-tangan kasar kini menelusuri bukit yang indah itu..! Lepaskan!" jerit Intan Kemuning putus asa. Bahkan empat laki-laki anggota Bayangan Hitam lainnya telah mengelilingi serta menatap wajah dan tubuh yang indah itu. Bret! Lagi-lagi baju Intan Kemuning dirobek paksa. namun seorang laki-laki lainnya maju dan menarik tangan Intan Kemuning.!" Intan Kemuning memekik ketika tangan lakilaki yang menindihnya.. Tanpa menghiraukan jeritan.. "Auh! Lepaskan.!" jerit Intan Kemuning. Intan Kemuning terus meronta-ronta sambil menjerit-jerit. Mereka kini tidak peduli dengan mayat gurunya. laki-laki itu menyeretnya masuk ke pondok Rupanya perbuatan salah seorang anggota Bayangan Hitam menarik perhatian empat orang lainnya. 'Tidak.

Mereka hanya bisa berkelit saja. tidak bisa menahan diri lagi. "Binatang! Mampus. Mereka mendekat dan meraba-raba tubuh yang putih mulus itu.. segera dua orang anggota Bayangan Hitam itu mendobrak dinding pondok. 'Tidak. Intan Kemuning benar-benar putus asa.. kabur. Salah seorang dari tiga orang yang tersisa. Pedangnya kian cepat berputar menyerang tiga orang laiki-laki itu. Darah segera membasahi lantai. Dia bersyukur karena kelima laki-laki itu belum sempat merenggut kehormatannya. Brak! Pintu poridok yang tertutup. tiba-tiba. Dari mulutnya keluar rintihan memohon belas kasihan.hanya berdiri saja." rintih Intan Kemuning memelas. Pedang Patih Giling Wesi berkelebat cepat Seketika saja dua kepala telah terpisah dari tubuh.. ambruk dengan dada tergores panjang dan dalam. "Ayah... Melihat tiga orang temannya telah tewas. Namun kelima orang sudah tidak peduli lagi. "Aaaakh!" kematian kembali terdengar. Air matanya makin deras mengalir. Dengan terpaksa mereka mel ayani hanya dengan tangan kosong karena tidak memiliki senjata lagi. Tiga orang lainnya segera melompat menyebar. jangan. Intan Kemuning berlari lalu menubruk . Intan Kemuning cepat-cepat mengenakan pakaiannya kembali yang sudah tercabik-cabik itu. Lima orang yang tengah dirasuki iblis itu terperangah. kalian semua!" teriak Patih Giling Wesi kalap.. "Binatang!" Patih Giling Wesi segera menerjang marah. Tangan-tangan mereka makin liar menjelajah ke seluruh tubuh gadis cantik itu. berbalik ketika putrinya memanggil.!" Patih Giling Wesi yang hendak mengejar. Tepat ketika seorang laki-laki akan membuka bagian bawah pakaiannya.. hancur berantakan. Air bening mulai menitik dari sudut matanya..

syukurlah." Seketika Intan Kemuning tersentak. Ayah. Kakak Lintang selalu melindungiku. Pelan-pelan Patih Giling Wesi melepaskan pelukannya. Dia ingat kalau pemuda tampan yang telah menggetarkan hatinya tengah bertempur di luar. Dia mengangkatku sebagai adiknya. Biar bagaimana pun juga. "Ada apa." "Maksudmu. "Kau tidak apa-apa. Ditumpahkan segala kerinduan dan kegembiraan karena dapat berkumpul lagi. Ayah. Bidadari Sungai Ular itu?" "Betul." sahut Intan Kemuning. orang-orang itu?" "Mereka bukan orang-orang Bidadari Sungai Ular. Intan?" tanya Patih Giling Wesi. hatinya masih khawatir terhadap putrinya yang baru saja terbebas dari tawanan perompak itu." desah Patih Giling Wesi. Malu. Dia baik sekali padaku. Mereka saling berpelukan menumpahkan seluruh air mata dan rindu. Sejenak ditatap putrinya. "Oh.. Nak?" tanya patih itu masih diliputi perasaan cemas. Pemuda itu kini menghadapi dua tokoh sakti.. "Tidak." "Pemuda siapa?" "Oh!" Intan seperti tersadar. 'Pemimpin perampok itu sangat baik. Jari-jari tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi Intan Kemuning." jawab Intan Kemuning tanpa melepaskan pelukannya. Ayah. Mereka orang-orang Bayangan Hitam. Kembali mereka terdiam sambil berpelukan. "Pemuda itu. . Nduk?" tanya Patih Giling Wesi dengan suara tersendat.ayahnya. "Mereka tidak mengganggumu.." "Lalu. "Mereka tidak ada yang menggangguku.

Tanpa disadari di a telah mencemaskan pendekar muda yang sejak tadi menarik perhatiannya." Patih Giling Wesi menggandeng anaknya ke luar pondok itu." lembut suara Patih Giling Wesi. Pendekar itu telah merebut sekeping hatinya. "Ayo. siapakah pemuda itu? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak patih itu.Seketika kedua pipinya merah merona. Rasa haru dan gembira telah membutakan mata dan menulikan telinganya.. namun Patih Giling Wesi lebih terpusat pada suara rintihan wanita di dalam pondok itu.. Sekelebat memang dia melihat pertempuran itu. dan baru berhenti setelah berada dua tombak dari pondok. Patih Giling Wesi mengikutinya. Pelan-pelan Intan Kemuning mengangkat kepalanya. sehingga tidak tahu ada pertempuran di luar. Patih Giling Wesi terdongak begitu mendengar suara pertempuran di luar... Patih Giling Wesi tersenyum melihat Intan Kemuning tidak berkedip m enatap setiap gerakan Rangga. Mereka berhenti melangkah di depan pintu yang sudah hancur. apakah Intan Kemuning jatuh cinta? Apakah dengan pemuda tampan yang kini sedang bertarung melawan dua tokoh sakti itu? Kalau benar. Kini . Dan ketika Intan Kemuning menyebut pemuda itu. Namun Intan Kemuning melangkah terus. Dalam hati dia merasa kagum juga terhadap pemuda tampan itu. Patih Giling Wesi tersadar. Ah. Kepalanya tertunduk. *** Pertempuran masih terus berlangsung di sungai Ular. Patih Giling Wesi seolah baru sadar kalau putrinya telah menjadi seorang gadis remaja.. Mereka menyaksikan pertempuran antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah..... "Intan.

Kakek Pengemis Sakti kembali terkekeh. Ironis sekali." gumam Aki Lungkur pelan. Orang yang menguasai ilmu ini dapat meminjam hembusan angin untuk mendorong tubuhnya. sebentar saja kakek tua itu telah jauh melangkah. tapi kenyataannya.. "Kasihan." terdengar suara mengejek. aku malas main petak umpet." keluh Aki Lungkur .. dibuat tidak berkutik. burung bangkai pun telah berkeliling di angkasa minta bagian. Pengemis Sakti Tongkat Merah mau mengotori tangannya hanya untuk membantai cacing-cacing tanah. Itulah ilmu 'Sayiti Angin' yang dikeluarkannya. Darah segar menyembur disertai jeritan kesakitan saling susul. Tak luput." gumam Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah. "Ah. "He he he. "Mudah-mudahan Pendekar Rajawali Sakti bisa mengatasi keadaan. Mayat menyebar di mana-mana. Aki Lungkur mengayunkan langkah menuju bukit Guntur. Keempat orang itu kini ambruk kehilangan nyawa.!" Pengemis Sakti Tongkat Merah terkekeh. keempat orang yang memang tidak punya nyali lagi. Bau anyir darah telah mengundang anjing-anjing hutan untuk menyantap mayat-mayat yang bergelimpangan.. Tempat yang indah dan menyejukkan itu. 'Tidak disangka. Cukup sekali gebrak saja. kini jadi mengerikan. Layaknya kapas yang dihembus angin. Ujung tongkat Pengemis Sakti itu merobek-robek dada mereka. Kakinya seperti tidak menapak tanah. Bau anyir darah menyebar terbawa angin. Langkah yang kelihatan pelan.. Suara itu jelas menggunakan tenaga dalam yang luar biasa. kalian hanya membuang nyawa sia-sia. Pelan-pelan kakinya meninggalkan tempat pembantaian itu. "He he he.yang dihadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah hanya empat orang saja. Aki Lungkur menghentikan langkahnya.!" Tiba-tiba terdengar suara terkekeh.

" kata Pendeta Murtad yang nama aslinya Pradya Dagma. mengapa kau lari dari Lembah Tengkorak waktu itu? Kenapa tidak kau bantu keponakanmu? Itukah paman yang baik?" Merah padam wajah Pradya Dagma. "Ah. "Aku rasa kau tidak perlu ke bukit Guntur. Untaian tasbih tergenggam di tangan kanannya. sudahlah! Aku tidak ada urusan denganmu. maka kau juga berurusan denganku!'' sahut Pradya Dagma. aku tidak ada urusan denganmu." kata Aki Lungkur berusaha mengalah. "Sudah kukatakan.terus melanjutkan langkahnya." 'Phih! Aku sengaja menghadangmu untuk mencegah agar kau tidak ikut campur urusan keponakanku!" "Keponakan? Ha ha ha. Melihat hal ini. Dengan cepat dia kembali menghadang. "Heh! Rupanya kau cari penyakit?" "Kau yang cari kematian. Pradya Dagma makin merasa terhina. Kata-kata itu baginya adalah penghinaan yang luar biasa.! Apa aku tidak salah dengar? Kapan kau punya keponakan!" "O. "Kalau kau mencampuri urusan Saka Lintang. Kata-kata Aki Lungkur tenang diucapkannya." dengus Aki Lungkur. Minggir." "Dengan menghadang jalanku. "Aku rasa tanganmu tidak lebih bersih dari-pada tanganku.. "Rupanya kau. tetapi sakit didengamya. 'Tapi aku tidak pernah usil dengan urusan orang lain." tenang sekali Aki Lungkur menyahut. Kau akan menambah kotor tanganmu saja. Pendeta Murtad. Aki Lungkur. kau sudah mencampuri urusan orang lain. aku mau pergi!" dengus Aki Lungkur sedikit jengkel. Aki Lungkur melangkah melanjutkan perjalanan tanpa peduli.. tiba-tiba di depan Aki Lungkur muncul seorang laki-laki gendut berkepala botak mengenakan jubah kuning. Aki Lungkur!" . Langkahnya baru tiga tindak.

Kelihatannya dia ingin membunuh Pengemis Sakti ini. mengapa Aki Lungkur selalu menolak setiap tantangan Pradya Dagma. Aki Lungkur selalu bersikap mengalah. Pendeta Murtad ini rupanya benar-benar ingin membunuhnya. Lungkur!" sahut Pradya Dagma keras. Dia masih memandang hormat pada Resi Brahespati. Sebab Pradya Dagma anak tunggal dari gurunya itu. "Pradya Dagma. hentikan semua ketololanmu!" bentak Aki Lungkur gusar. Aki Lungkur sendiri sebenarnya tidak melayani meski pun Pendeta Murtad itu selalu cari perkara dengannya. Antara Aki Lungkur dengan Pradya Dagma. Dia pun tak ingin mencampuri urusan Pradya Dagma meskipun tindakan dan perbuatan Pradya Dagma selalu merugikan orang lain. "Aku tidak peduli kau melawan atau tidak!" Gigi Aki Lungkur beradu menahan geram.Aki Lungkur mendelik. Terpaksa Aki Lungkur harus menghadapinya dengan hati. Pendeta Murtad itu telah melancarkan serangan-serangan berbahaya. Pengemis Tongkat Merah melayaninya dengan setengahsetengah. . Padahal setiap kali mereka bentrok. Tanpa dapat dicegah lagi. "Jangan katakan aku kejam kalau kau kukirim ke neraka. terutama tasbihnya yang menjadi andalan. dua tokoh sakti berlainan aliran itu bertempur dengan sengit Diantara mereka berdua. Akibat suatu perselisihan. rupanya Pradya Dagma masih menyimpan api dendam. Dia masih mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Dia tahu kalau Pradya Dagma sangat berbahaya.hati. Padahal. sebenarnya tidak ada urusan apa-apa. Dia tidak mau mengakui keunggulan Aki Lungkur. Mereka sama-sama murid Resi Brahespati. sebenarnya masih saudara seperguruan. Itulah sebabnya. Dia bersiap-siap ketika melihat Pendeta Murtad itu telah membuka jurus-jurus ampuhnya.

Aki Lungkur belum bersiap-siap. Kedua tokoh itu mempergunakan jurus yang didapat dari sumber yang sama. tiba-tiba datang serangan berikut. maka menyusullah suara teriakan keras. Hanya beberapa kali lompatan saja.” "Kau pun akan. jangan hanya bisa menghindar!" ejek Pradya Dagma. "Kau memang sudah tidak bisa di beri hati. Pradya Dagma!" geram Aki Lungkur. Aki Lungkur kembali bergulingan di tanah."Maaf. Seketika pohon itu tumbang disertai suara gemuruh." ujar Aki Lungkur masih berusaha mengalah. Dibukanya jurus 'Tongkat Sakti'. Dia pun segera mengerahkan jurus 'Tasbih Sakti'. aku tidak menurunkan tangan kejam padamu!" Rupanya Aki Lungkur sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Segera dia melenting cepat. Mereka sama-sama telah mengenal jurus masing-masing. *** . Pradya Dagma terkekeh melihat Aki Lungkur mulai terpancing kemarahannya. "Kelakuanmu sudah melampaui batas. dia melenting dan berdiri di tanah dengan kokoh. Dia segera membuang diri ke tanah. senang tinggal di neraka bersama iblis. Seluruh pikiran dan hatimu sudah tertutup iblis. Pukulan Pradya Dagma menghantam sebatang pohon besar. "Hey. Secepat itu pula. dia telah berhasil mengejar disertai satu pukulan dengan tenaga dalam yang penuh." "Demi Resi Brahespati. "Kalau kau laki-laki. Dua tokoh sakti itu pun saling menyerang. Aki Lungkur terkejut. Setelah mereka saling pandang. tunggu!" Pradya Dagma segera mengejar. aku masih ada urusan yang lebih penting.

disertai tenaga dalam yang hebat Kalau bukan Aki Lungkur. Tendangan Pradya Dagma telak. Beberapa kali ujung tongkat itu hampir menyentuh tubuh Pradya D agma. Bahkan serangan-serangan balasannya tidak tanggungtanggung mengarah ke bagian-bagian tubuh lawan yang mematikan. Jurusjurus yang mereka pergunakan juga beraliran sama. Mereka paham betul dengan kelemahan dan kelebihan jurus-jurus masing-masing. "Kau menghinaku. Bahkan dia kelihatan tidak ada semangat lagi untuk melanjutkan pertarungan. Dadanya terasa sesak.Kali ini Aki Lungkur tidak main-main lagi.. Aki Lungkur yang selalu memperdalam dan menyempumakan ilmunya. maka Aki Lungkur mempergunakannya untuk membela yang lemah dan menumpas kejahatan.. Dibiarkan dirinya terdesak. Tapi Pradya Dagma sudah tidak peduli. Kemauan saudara seperguruannya dilayani dengan sungguh-sungguh. Matanya berkunang-kunang. . Sedikit demi sedikit Pradya Dagma mulai kewalahan dan terdesak. Tubuh pengemis tua itu terdorong dua tombak. kelihatan lebih unggul ketika memasuki jurus yang keseratus. mungkin dada itu telah jebol. Jurus demi jurus berlalu dengan cepat. Aki Lungkur selalu membelokkannya. Hatinya tetap tidak mengijinkan untuk melukai saudara seperguruannya ini. Kaki Pradya Dagma berhasil menghantam dadanya. Lima jurus kini telah mereka lewati. "Akhl" Aki Lungkur memekik tertahan. Masing-masing belum ada yang terdesak. hanya penerapannya yang lain. Timbul sifat mengalah dalam hati Aki Lungkur. Hingga pada suatu saat. Jika Pradya Dagma mempergunakannya untuk maksud-maksud kejahatan. Dia malah mempergunakan kesempatan itu untuk mendesak. Lungkur! Kau sengaja mengalah!" desis Pradya Dagma.

tapi Pradya Dagma. Resi. Seketika pengemis tua itu menjatuhkan diri. Pradya Dagma memang tidak melihat kedatangan Resi Brahespati. Ketika posisinya menguntungkan. Segera Aki Lungkur memantapkan hati untuk memberi pelajaran kepada saudara seperguruannya yang murtad ini. tibatiba Resi Brahespati telah lenyap dari pandangan. "Ampunkan muridmu yang hina ini.. mengapa tiba-tiba Aki Lungkur seperti ketakutan. Aki Lungkur . Kini yang berdiri di depannya hanyalah Pradya Dagma. dan berlutut saat dia tahu yang berdiri di depannya adalah Resi Brahespati. Tiba-tiba di depan Aki Lungkur seperti berdiri seorang resi."Aku mengaku kalah.. Pradya Dagma yang melihat sikap Aki Lungkur. Bahkan dia tadi menyebut-nyebut resi." "Resi.. Belum juga Aki Lungkur bersiap-siap." lembut berwibawa suara Resi Brahespati." ucap Aki Lungkur dengan kepala tertunduk. Dia tidak mengerti. ayahnya itu yang padahal tengah berdiri di depannya." Aki Lungkur tidak melanjutkan kata-katanya.. Ketika Aki Lungkur ingin melanjutkan kata-katanya. Beri dia pelajaran agar matanya terbuka. Masih terngiang-ngiang kata-kata gurunya tadi. Rasanya memang masih terasa berat untuk menjatukan tangan kepada Pradya Dagma. tidak layak kau berbuat begitu. "Aku berusaha mengalah. "Dia benar-benar sudah murtad! Aku mengijinkan kalau kau menjatuhkan tangan padanya.!" Aki Lungkur terkejut menerima petuah itu. aku tidak peduli dengan sikapmu! Ayo lawan aku!" bentak Pradya D agma. terheranheran. "Bangunlah. Terpaksa Aki Lungkur harus jatuh bangun menghindari serangan beruntun itu. Pradya Dagma kembali menyerang dengan jurus-jurusnya." kata Aki Lungkur ter-sendat "Sudah aku katakan.

ngiang di telinga Aki Lungkur. Pendeta Murtad itu terdorong sejauh tiga tombak. "Jangan sebut-sebut ayahku!" Setelah berkata demikian. Tubuh Pradya Dagma pun ambruk dengan darah muncrat dari dadanya yang bolong. 'Tidak. Tongkatnya kini berkelebat cepat... Napasnya tersendat-sendat. "Demi Resi Brahespati. Kita akan bersama-sama lagi. Kini keinginanku tercapai sudah. Aku puas. Lungkur. Pradya Dagma tersenyum. Aki Lungkur tidak segan-segan lagi melayaninya. Aki Lungkur mencabut tongkatnya yang menembus dada pendeta murtad itu. Hal inilah yang membuat pengemis tua itu tidak memberi kesempatan kepada Pradya Dagma untuk membalas.. mengapa Pradya Dagma menginginkan mati di tangannya. kau mau memenuhi keinginanku. Terima kasih.!" Jeritan melengking terdengar." Aki Lungkur tidak mengerti. dan. "Dagma. "Setan!" dengus Pradya Dagma sambil menyeka darah yang terus mengalir. Darah makin banyak keluar. "Aku senang bisa mati di tangan tokoh sakti sepertimu. dengan cepat pukulan Aki Lungkur bersarang di dada Pradya Dagma. Pradya Dagma kembali menyerang membabi buta.segera membalas tanpa memberi am pun lagi. Aki Lungkur cepat-cepat menghampiri dan merangkul tubuh gemuk itu.. Dari sudut bibirnya keluar darah segar. kau harus hidup. . Sementara kata-kata Resi Brahespati terus terngiang.. kembali terdesak.. minta ampunlah kau pada ayahmu!" kata Aki Lungkur lantang... "Dagma." hibur Aki Lungkur." lemah dan tersendat suara Pradya Dagma.. Pradya Dagma yang setingkat di bawah Aki Lungkur. Kemudian disusul dengan tendangan keras. Pada suatu kesempatan yang baik. "Aaaakh.!" suara Aki Lungkur bergetar..

Tapi perbuatanku malah menghilangkan nyawanya." Aki Lungkur hanya tertunduk saja. Aku telah memperkosa dan membunuhnya." Pradya Dagma meneruskan ceritanya. sehari sebelum pernikahanmu dengan Komala. Lungkur. Lungkur! Di depan mayatnya aku berjanji. Tetapi sebelum hari bahagia itu dilangsungkan. Aku ingin membuatmu kecewa dan sakit hati. Tapi kini. Setitik air bening mulai menggulir di pipi Aki Lungkur. Aku tidak sengaja membunuhnya. Dia tak tahu harus bagaimana lagi. Lungkur tidak ada niat lagi mendekati wanita. Bahkan sudah ham pir dilupakannya. Hingga tua dia tidak pernah menikah. Sejak itu."Aku sudah berjanji pada Komala. kau bicara apa?" Aki Lungkur makin tidak mengerti. Lungkur. hanya kau yang boleh membunuhku. Dia cantik dan menjadi kembang desa itu. peristiwa itu sepertinya baru saja terjadi. Di desa dekat padepokan itu tinggallah seorang gadis bernama Komala. Ternyata Komala membuka hatinya pada seorang pemuda bernama Lungkur. Seharusnya malam itu kubiarkan saja dia membunuhku. Waktu itu mereka masih sama-sama muda dan tinggal di padepokan Resi Brahespati. Komala kedapatan mati dengan leher tertembus pisau. "Semula aku hanya ingin memperkosa saja. "Aku merasa iri karena Komala menjatuhkan pilihan kepadamu. Ingatannya seketika mundur puluhan tahun yang lalu. . aku menyelinap ke kamarnya. hanya tanganmu lah yang bisa membunuhku. Malam itu. Hubungan mereka telah direstui oleh Resi Brahespati. Dia mengambil pisau. dan aku berusaha mencegahnya. Mereka telah merencanakan untuk memasuki jenjang perkawinan. seluruh desa dan padepokan geger." "Dagma. Kini keinginanku menebus dosa pada Komala terlaksana sudah. Peristiwa itu sudah lama terjadi.

Hatiku akan tenang jika kau mau memaafkan aku. Tidak ada yang tahu kalau seluruh perbuatan Pradya Dagma hanyalah pancingan agar Aki Lungkur dapat membunuhnya. sikap Pradya Dagma berada di jalan yang salah."Maafkan aku. Teguh pada janji dan pendinannya Hanya sayangnya. Aki Lungkur benar-benar sedih. Bi birnya menyungging senyum. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa." kata Pradya Dagma lagi. 'Terima kasih. *** . Dia baru sadar kalau perbuatan Pradya Dagma hanyalah untuk memancing kemarahan agar dapat membunuhnya. "Sejak lama aku selalu memaafkanmu. Lungkur." Pradya Dagma menutup mata dengan tenang setelah mengucapkan kata maaf dan terima kasih. mungkin Aki Lungkur akan segera membunuhnya agar kesengsaraan hidup Pradya D agma tidak berl arut-larut. masih tersimpan sedikit jiwa ksatria." sahut Aki Lungkur. Menerima kenyataan itu. Kalau saja hal itu diketahuinya sejak dulu. Keinginannya telah terkabul. Ternyata di balik hatinya yang keji.

tangannya mengembang dengan cepat Tubuhnya kini melayang. Mereka bingung menghadapi gerakan-gerakan yang sulit diduga arah dan tujuannya. "Kurang ajar" geram Saka Lintang.7 Pertarungan antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah ki an berlangsung sengit di bukit Guntur. Bagian dada yang membukit terbungkus kulit putih mulus itu tidak lepas dari tatapan mata Patih Giling Wesi. Dalam gerakan-gerakan membingungkan itu. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah bagai kepiting rebus. Saka Lintang sedapat mungkin menutupi bagian tubuhnya yang terbuka itu. Seketika itu pula. Baju di bagian dada yang memang sudah sobek.. "Yeaaah. kian lebar saja terbuka. Mata Rangga pun sempat menatap ke bagian indah itu. Kibasan Rangga berhasil dielakkan. namun bajunya harus direlakan terjambret. Seketika darahnya seperti berhenti mengalir. "Awas. "Hait!" Saka Lintang melentingkan tubuhnya ke belakang sejauh dua tombak. Dengan demikian lawannya benar-benar kerepotan. Kadang dia menggabungkan dua atau tiga jurus.. Bahkan kalau mungkin menggabungkan keempatnya sekaligus. Rangga selalu mengganti-ganti jurus. Kedua tangannya bergerak-gerak cepat mengibas mencari sasaran.!" Tiba-tiba Rangga berteriak nyaring. Rangga masih tetap menggunakan empat jurus gabungan dari jurus 'Rajawali Sakti'. Lintang!" teriak Setan Jubah Merah tiba-tiba. Lalu dengan cepat dia . Tetapi dengan cepat dipusatkan kembali perhatiannya pada Setan Jubah Merah. Mukanya merah menahan malu.

Namun semakin ditarik. semakin kuat telapak tangannya menempel. Saka Lintang jadi geram. Saka Lintang semakin panik.!" pekik Saka Lintang tertahan. Gadis itu tidak tahu kalau sebenamya Rangga sengaja membiarkan tangan beracun itu masuk ke dalam bagian dada yang lowong. Tetapi racun jenis apa pun tak ada pengaruhnya bagi Rangga. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam dan penyaluran racun ke telapak tangannya. Ditebaskan pedang yang ada di tangan kanannya ke leher Rangga. Setan Jubah Merah menahan napas. kedua telapak tangan Saka Lintang kini menempel erat di dada Rangga. Dia tahu kalau hawa racun telah menyebar di sekelilingnya. namun.. Sekuat tenaga gadis itu menarik tangannya. tiba-tiba tangan Rangga bergerak menyambar gagang pedang dalam genggaman Saka Lintang. Belum sempat gadis itu menyadari apa yang terjadi. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedangnya... "Kena!" teriak Saka Lintang keras.. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedang dengan jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Menyadari Saka Lintang telah menebar racun. . Pukulan tangan kiri Saka Lintang tepat menghantam dada Rangga.. Tetapi Rangga malah kelihatan tenang-tenang saja. Trak! Rangga hanya menyentil pedang itu dengan jurus 'Cakar Rajawali'. Di luar dugaan. Wajah Saka Lintang seketika berubah setelah menyadari tangannya tidak dapat ditarik lagi dari tubuh Rangga. "Ah. Seketika dari ujung pedang sampai pangkal lengan Saka Lintang bergetar. gadis itu menggedor dada Rangga sekali lagi dengan tangan kanannya.kembali menerjang sambil menghunus pedangnya. Bahkan bibimya menyungging senyum.

tubuh Saka Lintang dipastikan hancur menubruk batu besar. Dihampirinya Setan Jubah Merah yang tengah meringis memegangi tangannya sendiri." ujar Saka Lintang. Jika saja gerakan Setan Jubah Merah tidak cepat. Seketika tubuhnya seperti terbakar. Kalau Rangga mau. sebenamya dia bisa saja menebaskan pedang yang terebut tadi. sehingga Setan Jubah Merah tidak tahu harus berbuat apa. Rangga menggunakan gadis itu menjadi tameng. Matanya menatap Setan Jubah Merah yang kebingungan. Saka Lintang merogoh saku jubahnya. "Semadilah. lakilaki tua itu menelan pil yang diberikan Saka Lintang. Cepat-cepat dihilangkan hawa racun dari tubuhnya. Perlahanlahan dari ujung kepalanya mengepul asap tipis. Kedua matanya dipejamkan. Tetapi hal itu tidak dilakukannya. "Paman. Setan Jubah Merah pun bersila. Diberikannya pil itu kepada Setan Jubah Merah. Paman. Cepat-cepat dilepaskan tangannya."Setan!" dengus Saka Lintang geram.. dan mengeluarkan sebuah pil berwarna merah darah. "Akh!" tiba-tiba Setan Jubah Merah memekik keras. Dia malah membuang pedang itu jauh-jauh. Seluruh tubuh Setan Jubah Merah bergetar. Saka Lintang pun tak urung kaget pula. "Uh! Racunmu. terimalah!" Tiba-tiba saja tubuh Saka Lintang terpental keras. tentu! Ini. Setan Jubah Merah terkejut. Dia tidak bisa leluasa melancarkan pukulan mautnya. "Pengecut! Lepaskan gadis itu!" bentak Setan Jubah Merah. Dia kaget setengah mati karena tubuh Saka Lintang masih menyebarkan hawa racun. Tanpa banyak tanya lagi. Keringat membasahi .. kau tidak apa-apa?" tanya Saka Lintang cemas." kata Setan Jubah Merah sambil meringis.. Dengan cepat dia melompat dan menangkap tubuh gadis itu yang melayang deras. "Oh.

tel ah kembali bersiap-siap menghadapi lawannya yang tengah duduk tenang itu. Kini Pendekar Rajawali Sakti tengah duduk tenang di atas batu besar. kemudian disambung dengan melentingnya dua tubuh ke arah Rangga. Dia memperhatikan saja kedua lawannya yang tengah sibuk itu. Sesekali matanya melirik Intan Kemuning yang berdiri di samping ayahnya. Kalau saja saat ini tidak ada ayahnya. Setiap kali Rangga melirik ke arahnya. Saka Lintang dan Setan Jubah Merah. Rangga seperti tidak peduli dengan lawan yang sudah bersiap-siap menyerang kembali. seluruh tubuh lakilaki tua itu mulai tenang.seluruh tubuhnya. Rangga masih tenang. Sikap Rangga yang masa bodoh itu membuat Intan Kemuning cemas. Tak diduga. dibarengi oleh hilangnya asap tipis yang mengepul di kepala laki-laki tua itu. Tanpa sadar Intan Kemuning melontarkan senyuman manis pada pendekar muda itu. Tapi semua perasaan dan keinginan itu ditekan dalam-dalam sam pai ke dasar hatinya. "Hiya!" "Yeah!" Dua teriakan keras saling susul. Intan Kemuning merasakan jantungnya berdetak keras. Mulutnya malah bersiul-siul dengan irama tak menentu. Rangga membalasnya dengan senyum manis pula. "Hoek!" Cairan kental berwarna kehitaman dimuntahkan oleh Setan Jubah Merah. Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak tahu sama sekali kalau dua tokoh itu meluruk ke arahnya. dua tokoh tingkat tinggi. ingin sekali Intan Kemuning menghambur dan memeluk pemuda itu. Dia gelisah karena dua tokoh sakti begitu . Sementara. Sedikit demi sedikit. Setan Jubah Merah membuka matanya ketika getaran pada tubuhnya berhenti sama sekali.

Peringatan gadis itu tepat bersamaan dengan dua tubuh yang meluruk menerjang Rangga. Jelas kalau Rangga tadi tidak sedikit pun menghindar. . Akibatnya memang dahsyat. Rupanya dia mengerti apa yang telah melanda putrinya ini. Kedua tokoh sakti Itu terperanjat melihat hasil gempurannya tidak berpengaruh apa-apa terhadap lawannya. sepasang mata tengah mengawasi pertarungan itu dari balik pohon. Dia tidak melihat pendekar itu. Apakah dia hancur bersama batu itu? Batin Intan Kemuning bertanyatanya penuh kecemasan. "Pendekar Raj awali Sakti.cepat menyerang. Intan Kemuning benar-benar tidak dapat menyembunyikan kecemasannya. Ketika debu itu hilang sama sekali. "Akh!" Intan Kemuning memekik tertahan. Serangan yang dibarengi pengerahan tenaga dalam." Intan Kemuning mendesah lega melihat pendekar tampan itu masih hidup. Dia hanya tersenyum-senyum saja.. Tanpa disadari. awas!" Intan Kemuning tidak dapat lagi mengendalikan diri. bagaimana dengan Rangga? Debu masih mengepal tebal. *** Berangsur-angsur asap tebal yang mengepul sirna disapu angin. Dia seperti membiarkan saja pukulan itu menghantam tubuhnya. "Oh. Batu yang sebesar kerbau itu saja hancur. Sikap gadis itu tidak lepas dari pengamatan Patih Giling Wesi. Batu tempat Rangga duduk.. jadi berkeping keping disertai ledakan keras terkena pukulan itu. Patih Giling Wesi kembali perhatiannya tercurah pada ketiga tokoh yang kini telah bertarung kembali.. tampak Rangga masih duduk di atas tumpukan batu-batu yang hancur. Sikap duduknya tidak berubah sedikit pun. begitu cepat datangnya.

Dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tangan Rangga berhasil menghantam telak dada Setan Jubah Merah. "Aaaa.Jelas pemilik sepasang mata itu bukan orang sembarangan. Dia terkena 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang tak terduga dilepaskan Rangga.. Sementara itu Rangga sudah kembali melayani dua lawannya yang kian bernafsu untuk mengakhiri pertarungan alot dan panjang ini. Kakinya bergerak mengarah kepala lawan. Tubuhnya terlontar ke belakang sejauh tiga tombak. Seluruh dadanya seperti hangus terbakar. Begitu cepatnya jurus itu sehingga Saka Lintang tidak punya kesempatan lagi untuk mengelak.. Gadis itu segera menyerang Rangga dengan mengeluarkan jurus andalan terakhirnya. Seketika Rangga merubah jurusnya. dirubahnya jurus itu menjadi 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Kedua tangannya merentang mengepak bagai sayap rajawali.!" pekik Saka Lintang. "Paman. Rangga kembali merubah jurusnya. Dia tidak ingin lagi berbuat konyol yang hampir merenggut nyawa paman angkatnya. Kini Saka Lintang hanya sesekali saja melontarkan pukulan beracunnya. Jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun' yang dipadu dengan jurus 'Tarian Bidadari'. . Setan Jubah Merah meregang nyawa sebentar. Kali ini digunakannya jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. "Kejam! Setan! Kubunuh kau!" pekik Saka Lintang marah. Dia harus mempertimbangkan kehadiran Setan Jubah Merah. Tubuhnya meluruk turun deras. Kakek!" seru Rangga tiba-tiba. Dalam sekejap sekitar tempat pertarungan telah terselimuti oleh hawa racun yang mematikan.. lalu diam tak bergerak sama sekali.!" Setan Jubah Merah meraung keras.. "Maaf. Secepat kilat. Sekejap saja tubuhnya telah melambung di udara. Kehadirannya saja tidak diketahui sama sekali.

Siapa lagi kalau bukan Pengemis Sakti Tongkat Merah... "He he he….." tiba-tiba terdengar suara terkekeh. "Menakjubkan.. tawaran yang menggairahkan. benci dan dendam. Hatinya makin berdebar-debar kalau kebetulan matanya beradu pandang. Mari!!" Ketika mereka akan melangkah. Rangga mendekat Aki Lungkur terkekeh. Di tangannya tergenggam tongkat berwarna merah."Aaaa. "Penglihatanmu tajam. kakek yang berada di kedai minum tempo hari. Patih Giling Wesi mendekat diikuti Intan Kemuning. hebat. lalu diam tak bergerak l agi.. "Tunggu!" Mereka menoleh dan berbalik bersamaan. Rangga kembali mendarat Matanya memperhatikan tubuh Saka Lintang yang meregang nyawa." Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah menggeleng-gelengkan kepalanya." kat a Rangga dengan tutur kata yang halus." kata Aki Lungkur. "Ah. Dia mati di tangan laki-laki yang dicintainya.. Gadis itu selalu menundukkan kepala terus. kalau tidak salah.. Sungguh tragis kematian gadis ini. Aku pengemis tua yang hina. "Uts! Hampir lupa kalau di sini masih ada orang lain. Rangga menoleh ke arah suara itu. tiba-tiba terdengar suara Patih Giling Wesi mencegah.. "Ah. Kalau sudah . Gadis itu ambruk dengan kepala hancur berantakan. Dari balik pohon muncul seorang kakek tua berpakaian compang-camping." sahut Aki Lungkur.. hebat..!" Saka Lintang memekik keras. Darah seketika membasahi tanah.. anak muda. lalu mereka makan bersama di pinggir tegalan. Mati bersama rasa cinta. "Bagaimana kalau kita makan bersama lagi di bawah pohon sambil menikmati udara segar." kata Rangga teringat ketika dia memberikan sebungkus bekal makanan. tetapi matanya melirik pada Rangga.

siapa namamu dan dari mana kau berasal?" tanya Patih Giling Wesi. "Kisanak. Tapi. Cepat-cepat diturupi rasa kaget itu dengan senyum. Tetapi Patih Giling Wesi sedikit ragu-ragu juga. Rangga jadi bertanya-tanya. apakah Patih Giling Wesi kenal dengan ayahnya? "Nama bisa saja sama... Patih Giling Wesi tengah berusaha mengingat-ingat." Patih Giling Wesi mengamati wajah Rangga dengan teliti sekali. Sedangkan kejadiannya tidak jauh dari jurang Lembah ." Patih Giling Wesi setengah bergumam." Patih Giling Wesi menggumamkan nama itu beberapa kali. Rangga terkejut juga mendengarnya. Dia tidak ingin masa lalunya terungkap lagi.. Masalahnya. Tibatiba dia tersentak Benar! Tidak salah lagi. Dua puluh tahun yang lalu terjadi musibah pada rom bongan Sang Adipati yang hendak menuju ke kota Kerajaan Ayahandanya.demikian." jawab Rangga merendah. cepat-cepat matanya dialihkan mencari pandangan lain. anak laki-laki Adipati hilang tanpa bekas. Gusti Patih. Nama hamba Rangga. "Nama memang bisa saja sama. (Baca serial: Pendekar Rajawali Sakti. Episode: Iblis Lembah Tengkorak). Sepertinya dia pernah mengenal wajah itu. "Hamba hanya seorang pengembara hina Gusti Patih.. "Namamu mirip dengan seorang putra Adipati yang hilang dua puluh tahun lalu. Memang benar gumaman patih ini." kata Rangga buruburu. Wajahnya sangat mirip dengan Adipati Karang Setra. Rangga memperhatikan dengan pandangan bertanyatanya.. Biarlah kenangan pahit itu dia sendiri yang tahu. "Rangga. kalau boleh tahu. Tapi di mana? Kapan pernah bertemu? Ingatannya terus berputar..

Antara mengakui dan membantah. Dia berusaha memecahkan teka-teki ini. Siapakan anak muda perkasa yang ada di depannya ini? *** . Patih Giling Wesi seperti berperang dengan batinnya sendiri. Karena sudah pasti. Antara percaya dan tidak. Semua orang menduga kalau anak itu pasti masuk ke jurang Lembah Bangkai.Bangkai. siapa saja yang masuk ke dalam jurang itu tak akan pernah selamat.

Semua seperti menunggu pembicaraan Patih Giling Wesi. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Pengemis tua itu mengangguk-angguk kepalanya. Mereka segera menghampiri patih itu. yang jelas jasanya sangat besar. Rangga belum menjawab. Masingmasing menunggang kuda dan menuntun seekor kuda pula. "Kalau begitu. Rapaksa segera melom pat dari kudanya. mari kita berangkat sekarang!" ajak Patih Giling Wesi. Kalau tidak ada pendekar muda ini. Mereka menuruni bukit Guntur. sudi kau mampir sebentar di Kepatihan." sahut Rangga mendesah. Patih Giling Wesi . Kisanak. Seketika dua pasang mata saling berpandangan. "Baiklah. Batin Patih Giling Wesi bicara sendiri. entah bagaimana nasib putrinya. Di kaki bukit." Patih Giling Wesi mengundang. Jika tidak mengganggu perjalananmu . telah menunggu delapan orang prajurit Kepatihan. Keempat orang itu segera meninggalkan tempat itu. Ah! Siapa pun dia. diikuti oleh tujuh orang prajurit-prajurit lain. Intan Kemuning jadi gelagapan. "Aku sangat berhutang budi padamu. Tentu dia setuju karena antara dia dan patih itu telah terjalin suatu persahabatan. Rangga menoleh pada Aki Lungkur yang berdiri di sampingnya. Dia belum dapat memastikan perihal anak muda ini. Matanya beralih memandang Intan Kemuning. Tapi bibirnya sempat memberikan senyum manis. Patih itu sendiri sampai saat ini masih berusaha memecahkan teka-teki itu. Cepat dialihkan pandangannya ke tempat lain.8 Beberapa saat suasana di bukit Guntur hening. meninggalkan mayat-mayat yang bergelimpangan dan siap jadi santapan anjing-anjing hutan.

dan kini mereka telah dekat dengan sebuah desa yang dekat dengan bukit Guntur. Patih itu tidak tahu kalau selama jadi tawanan perampok. Mereka melewati jalur pintas. Mari kita kembali ke Kepatihan." kata Rapaksa melapor. Hatinya masih bertanya-tanya tentang kelihaian putrinya menunggang kuda. "Hh. Akhirnya pikiran patih itu tenang setelah melihat putrinya sangat lihai menunggang kuda. Dan kini hamba hanya dapat lima belas ekor. Sungguh besar jasa mereka. Patih Giling Wesi selalu berada di samping Intan Kemuning. "Ampun. Nyawa mereka korbankan hanya untuk menyelamatkan seorang putri patih. padang diarungi. Semula Patih Giling Wesi khawatir juga terhadap Intan Kemuning. Penjaga pintu segera membuka pintu ketika melihat Patih Giling Wesi yang datang bersama putrinya. Rombongan itu terus melewati desa itu. sudahlah. Rombongan kecU berkuda itu terus meninggalkan bukit Guntur yang terlihat hijau. Intan Kemuning telah diajari naik kuda oleh Saka Lintang." sahut Patih Giling Wesi mendesah berat. Hutan dirambah. Perjalanan kini dilanjutkan dengan menunggang kuda. Setahunya Intan Kemuning tidah pernah belajar naik kuda.mengamati sisa prajurit-prajuritnya. tidak menyusuri tepian sungai Ular. Gusti Patih. dan berhenti tepat di depan pendopo. Patih Giling Wesi membantu Intan Kemuning yang sedikit kesulitan turun dari . *** Matahari telah condong ke Barat ketika rombongan itu sampai di pintu Gerbang Kepatihan. Setelah melompat turun dari kudanya. Hamba datang terlambat Hamba mencari kuda-kuda dulu. Mereka pun segera masuk ke dalam benteng Kepatihan.

Sebenarnya Rangga ingin menolak. membuat dia lupa sejenak terhadap Rangga. 'Terima kasih. "Silahkan. "Aku senang sekali jika kalian sudi menginap di sini barang satu atau dua malam. Tetapi karena Aki Lungkur sudah menerima. Patih Giling Wesi membawa dua tamunya masuk ke bangsal utama Pendopo itu. Seketika dia teringat sewaktu masih tinggal di Kadipaten. Beda dengan Aki Lungkur. dia hanya bisa angkat bahu saja. Anda berdua adalah tamu kehormatanku. Biasanya tokoh-tokoh rimba persilatan selalu tidak peduli dengan tata krama. Di mana lagi dia dapat minum arak selezat ini kalau tidak mendapat undangan dari Patih Giling Wesi? Patih Giling Wesi selalu memperhatikan sikap dan tutur kata Rangga. Tentu saja aku tidak keberatan!" Aki Lungkur cepat menerima sebelum Rangga membuka suara. Sementara Intan Kemuning telah berlari masuk ke dalam keputrenan.kudanya. Kediamannya juga tak kalah indahnya dengan bangunan itu. Dari situ dia merasa sedang berhadapan dengan seorang pemuda bangsawan. Rasa rindu yang menggebu ingin segera bertemu ibundanya. tentu. Mereka kemudian duduk melingkar menghadapi meja. "Oh." ucap Rangga sambil mengangkat gelas yang sudah terisi arak manis." kata Patih Giling Wesi. Beberapa orang pelayan datang menyediakan suguhan. Rangga memandangi bangunan indah dan megah di depannya. Memang tidak ada salahnya menginap barang sehari setelah sepanjang hari menguras tenaga menyabung . Sikap Rangga memang tidak seperti pendekar-pendekar lainnya. "Mari silahkan masuk." kata Patih Giling Wesi lagi. Dia menenggak habis arak wangi mahal itu." Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya untuk minum. Rangga minum sedikit dengan sikap Sopan.

" Rangga masih belum mengerti. Indah sekali ruangan ini. "Antarkan tamu-tamuku ke tempat istirahatnya." perintah Patih Giling Wesi. Dia hanya menatap laki- . punggawa itu berhenti. dilihatnya Intan Kemuning tengah duduk di bangku taman sendirian. Rangga menoleh ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. yang jelas pandangan itu tertuju pada Rangga. "Gawat!" sahut Aki Lungkur. Mereka memberi hormat. Diamatinya sebentar. dan segera pergi setelah tugasnya selesai. Rangga mengernyitkan keningnya melihat pengemis tua itu seperti terburu-buru. Bergegas dia membukanya. Aku Lungkur bangkit dan melangkah pergi ke tempat istirahatnya. Ki?" tanya Rangga. Rangga masih duduk di kursinya. Dia menyilahkan Rangga masuk. Kedua punggawa itu kembali memberi hormat. "Silahkan. Entah melihat atau tidak. Saat matanya menatap ke arah taman. "Apanya yang gawat?" tanya Rangga tidak mengerti. Dua orang punggawa dat ang mendekat. dan memang kelihatannya Intan Kemuning juga tengah memandang ke arahnya. Di sebuah kamar yang indah dan luas. dia pun bangkit melangkah mengikuti punggawa. Aki Lungkur segera menerobos masuk dan menutup kembali. "Ada apa. Patih Giling Wesi menepuk tangannya dua kali. Rangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Setelah mendapat anggukan dari Patih Giling Wesi. Rangga memandangi setiap ruangan yang dilewatinya.nyawa." Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya mengikuti para punggawa yang mengantarkan ke peristirahatan. "Patih Giling Wesi curiga padamu.

"Benar! Aku mendengar sendiri." ucap Rangga. Dia meminta Aki Lungkur untuk pergi beristirahat. "Patih Giling Wesi memerintahkan beberapa punggawa untuk menyelidiki asal-usulmu. Tak ada orang di seluruh Kepatihan yang tidak tertarik pada gadis ini. Tapi aku yakin kau tidak akan menerimanya. Bukankah kalian bersahabat?" "Aku tidak berprasangka buruk. Intan Kemuning masih duduk di sana memandang ke arahnya. Laki-laki pengemis tua itu kembali ke luar setelah berpesan macam-macam. Aku membaca gelagat lain di balik niat luhur Patih Giling Wesi. Dia tidak mau berteletele melayani segala macam prasangka. meskipun dadanya bergemuruh. Memang hatinya telah menduga. Rangga tidak ingin menjadi seorang pendekar tanpa masa lalu." "Dia menduga begitu?" Rangga terkejut." Rangga berusaha bersikap tenang." "Mengapa Aki memberitahuku?" "Karena kau baik. . Dia menduga kau anak Adipati yang hilang dua puluh tahun yang lalu. Rangga hanya mengangguk dan mengiyakan saja.laki tua itu tak berkedip. Yang penting aku sudah menganggapmu sahabat. Niatnya yang tersembunyi memang baik. Gadis itu memang cantik. Makanya aku segera ke sini menemuimu." "Jangan berprasangka buruk. Aki. "Hati-hatilah. Sepeninggal Aku Lungkur. Rangga kembali memandang ke arah taman. Masa lalu yang tidak perlu diketahui orang lain. Kau seorang pendekar yang banyak dibutuhkan oleh kaum lemah." Rangga hanya tersenyum saja. hal apa yang akan dikatakan Aki Lungkur tadi. 'Terima kasih. Aku tidak peduli siapa dirimu.

'Tapi ada yang lebih indah lagi untuk dipandang. Setiap sudut. Jantungnya jadi berdetak tidak beraturan." sahut Intan Kemuning tergagap. Pujian Rangga mengena di hatinya. Rangga melangkahkan kakinya ke luar kamar." Seketika wajah Intan Kemuning menyemburat merah dadu. Jiwa kebangsawanannya tetap tidak luntur. "Indah sekali taman ini. boleh. "Ya. dua orang prajurit pasti ada di situ." desah Rangga setelah duduk di samping gadis itu. "Satu saat nanti. ." "Kapan?" "Satu saat nanti. "Oh! Boleh. Matanya tajam mengawasi setiap tempat yang dilalui. Dia tidak beranjak dari duduknya." "Apa?" "Wajahmu. "Adakah pangeran yang cocok untukku?" tanya Intan Kemuning ingin menegaskan." kata Rangga. Rasa-nya dia ingin seribu kali mendengamya." "Siapa pangeran itu?" Rangga tidak menjawab.Rangga sendiri sebenamya juga tertarik. "Boleh aku duduk di sini?" tanya Rangga. Ketat sekali penjagaan di Kepatihan ini. pasti ada seorang pangeran tampan dan gagah menghampirimu." sahut Intan Kemuning. *** Intan Kemuning memandang Rangga yang melangkah menghampirinya. Dia tersenyum saja. Sikapnya tetap anggun meskipun selama beberapa hari ditempa dengan latihan-latihan keras oleh Saka Lintang. "Sepantasnya kau mendapatkan seorang pangeran yang gagah dan tampan.

com/ http://dewi-kz." Intan Kemuning tidak mampu berkata-kata lagi. SELESAI Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel Convert : Abu Keisel Editor : Deeemart86 Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat. Intan. "Oh..info/ http://kangzusi. Dan mereka memperketat rangkulan-nya. Pelan-pelan Intan Kemuning menundukkan kepalanya. Kedua lengannya berkembang masuk ke dalam pelukan Rangga.„. Hatinya berbunga-bunga.cc/ ." bisik Rangga dekat sekali dengan wajah Intan Kemuning. "Semoga aku yang menjadi pangeran itu.Beberapa saat mereka terdi am saling tatap...

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful