BIDADARI SUNGAI ULAR oleh Teguh S. Cetakan pertama, 1990 Penerbit Cintamedia, Jakarta Gambar sampul oleh Tony G.

Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa Izin tertulis dari penerblt Teguh S. Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Bidadari Sungai Ular 128 hal ; 12 x 18 cm
Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel Convert : Abu Keisel Editor : Deeemart86 Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/

1
Seekor kuda putih tinggi kekar berlari bagai kilat menyusuri tepian sungai. Bentuk sungai yang berliku-liku, seakan-akan bergerak bagai seekor ular naga yang menyusuri lereng dan bukit-bukit di sekitarnya. Oleh karena bentuknya yang mirip dengan ular naga, maka sungai itu dinamakan sungai ular. Kuda itu ditunggangi seorang wanita cantik dengan pakaian serba biru. Wajahnya basah oleh keringat. Sebilah pedang bertengger di pung-gungnya. Dia adalah Saka Lintang, anak angkat Geti Ireng, ketua gerombolan Panjl Tengkorak. Ditinggalkannya Lembah Tengkorak, setelah seorang pendekar muda yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti mengobrak-abrik partainya, Panji Tengkorak. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti. Episode: Iblis Lembah Tengkorak). "Hooop...!" Saka Lintang menarik tali kekang kudanya kuat-kuat. Kuda putih meringkik kencang lalu berhenti. Dengan gerakan ringan dan tangkas, Saka Lintang melompat dari kudanya. Ketika kakinya sampai di tanah, segera dijejakkan kakinya hingga tubuhnya melenting ke udara dan hinggap di pohon yang cukup tinggi. Saka Lintang bertengger pada sebuah cabang pohon, seraya matanya mengawasi bagian hulu sungai. Bibirnya tersenyum kctika sebuah perahu besar dengan layar lebar mulai terlihat. Di ujung tiang layar, berkibar selembar bendera bergamhar bunga melati yang dilingkari rantai. Dari lambang gambar bendera, dapat dipastikan kalau kapal layar itu milik seorang saudagar kaya dari Kadipaten Balungan. Sebuah Kadipaten kecil di wilayah Timur kerajaan Singasari yang berpenduduk cukup makmur. "Suiiit...!" Saka Lintang bersiul nyaring yang disertai tenaga dalam.

Mendengar siul yang bergema itu, serentak dari rimbunan semak-semak tepi sungai bermunculan empat buah perahu berukuran sedang, dikayuh oleh beberapa orang. Saka Lintang segera terjun diiringi gerakan salto beberapa kali, dan hinggap tepat di punggung kudanya. Gadis itu lantas menghentak tali kekang kudanya, lalu memacu ke arah perahu gerombalannya yang makin dekat. Ketika perahunya yang berwarna biru pekat itu telah menepi, Saka Lintang menarik tali kekang kuda, dan tanpa berpikir banyak dia segera melompat ke udara. Perahu yang telah siap menunggunya itu menerima tubuh Saka Lintang yang hinggap di tengah-tengahnya "Ayo, cepat! Kepung kapal layar itu!" teriak Saka Lintang. Enam orang laki-laki bertubuh kekar segera mengayuh dayung. Perahu itu pun meluncur deras mendekati kapal layar besar. Tiga perahu lain yang berwarna biru pekat pula, bergerak menyerang. Sedangkan di kapal layar besar itu tengah terjadi kesibukan. Beberapa orang telah siap dengan panah yang mengarah pada gerom bolan Saka Lintang. "Awas, panah!" teriak Saka Lintang ketika melihat anak panah meluncur deras. Saka Lintang pun mencabut pedangnya. Dengan cepat pedang itu telah berputar-putar bagai baling-baling. Anakanak panah yang meluncur cepat itu rontok seketika tersapu oleh pedang. Layaknya sebuah payung yang melindungi dari serangan hujan. Empat perahu Saka Lintang makin dekat ke arah kapal layar. Sementara anak-anak panah terus meluncur mencari mangsa. Namun anak buah Saka Lintang mudah saja merontokkannya. Saka Lintang tersenyum melihat keberhasilan anak buahnya itu. "Serang...!" teriak Saka Lintang nyaring. Mendengar abaaba itu serentak anak buah Saka Lintang yang berseragam biru pekat berlompatan ke atas kapal layar. Gerakan

Sekejap saja permukaan sungai telah berubah warnanya menjadi merah oleh darah. Saka Lintang mengamuk bagai banteng terluka. Dimasukkan pedangnya ke dalam sarung di punggung. Matanya tajam mengawasi sekitar geladak kapal yang penuh oleh darah. Kesibukan kembali terjadi. "Bagus. "Hamba menemukan satu peti berisi perhiasan emas dan perak. Sementara pertarungan kini bergejolak di atas kapal layar. "Hoi! Angkat semua yang berharga!" teriak Codet keras. pindahkan semua barang berharga ke perahu kita!" perintah Saka Lintang." sahut laki-laki yang dipanggil Codet Memang di pipi kanannya terdapat guratan panjang sehingga menambah seram wajahnya. "Ada apa. Sebilah golok besar tergantung di ping gangnya. "Buang semua mayat ke sungai!" perintah Saka Lintang. Jelas mereka bukan orang-orang sembarangan. Saka Lintang dan pasukannya berhasil menguasai kapal layar. Anak buah Saka Lintang yang berjumlah kira-kira dua puluh orang itu segera mengerjakan perintahnya. Dan memang. Kedua tangannya berada di atas pinggang. Rata-rata mereka memiliki ilmu silat cukup tinggi. Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan wajah ditumbuhi cambang mendekati Saka Lin¬tang. Memang orang-orang di atas kapal bukan tandingan Saka Lintang dan anak buahnya. Tuan Putri. Diseret dan dilemparkan seluruh mayat ke sungai. Codet?" tanya Saka Lintang datar. Dibungkukkan badannya sedikit di de-pan Saka Lintang yang berdiri angkuh. Banyak sudah lawan yang telah berjatuhan. Beberapa lawan malah menyelamatkan diri dengan terjun ke sungai. 'Tuan Putri ingin melihat- . Tubuh-tubuh mulai ambruk bergelimang darah menyusul suara jeritan hasil kelebatan pedang Saka Lintang.mereka sangat ringan dan cepat.

Dilangkahkan kakinya dengan angkuh melewati laki-laki tegap dan kasar itu. Tuan Putri. Kapal layar ini tidak terlalu besar. bawa pulang!" Codet berlalu setelah sebelumnya memberi hormat Saka Lintang melangkah memasuki bilik kapal kembali. Mulutnya tak henti-hentinya berdecak kagum. "Codet!" panggil Saka Lintang. Saka Lintang tidak menyahut. Tapi kenapa bendera kapal menunjukkan milik saudagar Gantar dari Kadipaten Balungan? Atau mungkin kapal ini telah dijual oleh saudagar itu kepada bangsawan kerajaan? "Ah! Masa bodoh.lihat?" ujar Codet sambil membungkuk lagi. Bilik itu memang cukup indah. Rasanya tidak mungkin Kadipaten memiliki kapal seindah ini. Sungguh nyaman berada di pembaringan ini. Dia sangat terkesan ketika masuk ke sebuah bilik dalam kapal. "Hamba. Rasanya sayang kalau kapal ini mesti dibakar seperti yang sudah-sudah." "Kemudian kapal ini. Kenapa harus dipiklrkan? Yang penting aku suka kapal ini!" dengus Saka Lintang dalam hati. "Hamba siap menjalankan perintah. Selama malang melintang menguasai sungai ular ini. kapal layar ini pasti milik seorang bangsawan kaya. Saka Lintang tersenyum-senyum sendiri. Di dalam bilik ini. Saka Lintang merasa bagai putri raja. baru sekarang dia mendapat sebuah kapal layar yang mengagumkan. Saka Lintang menduga. "Turunkan bendera kapal. Dia ingin memiliki kapal . ganti dengan bendera kita!" perintah Saka Lintang. Dijatuhkan tubuhnya ke atas pembaringan yang berlapiskan kain sutra lembut. bagaikan peraduan seorang bangsawan. Atau paling tidak putri bangsawan. Hanya sebentar saja Saka Lintang telah menelusuri bagianbagian kapal. Codet mengikuti dari belakang." jawab Codet sambil membungkukkan badan.

Codet muncul setelah pintu terbuka. siapa dia?" tanya Saka Lintang mengerutkan kening. . Dengan kapal ini dia bisa lebi h leluasa menjadi penguasa sungai Ular.. Cantik dan berkulit kuning langsat. Kemudian muncul dua orang laki-laki mengapit seorang wanita muda berusia sekitar tujuh belas tahun. gelas peraknya telah kosong.." sahut Codet. Dia telah menenggak habis arak itu. "Masuk!" bentak Saka Lintang karena merasa terganggu kenikmatannya.ini. Matanya memperhatikan guci arak.. Saka Lintang menoleh ke pintu ketika diketuk dari luar. Kepalanya terangguk-angguk beberapa kali. Sungguh tinggi seleranya. arak buatan desa Cacah. Arak desa Cacah memang telah terkenal kenikmatannya. Dia duduk di kursi berukir di samping meja pualam itu.. "Hamba menemukan seorang wanita bersembunyi di balik tumpukan peti.. Tawanya belum berhenti. Basah sudah tenggorokannya oleh arak. akulah ratu sungai Ular ini! Bidadari sungai Ular. Dia membungkuk sedikit memberi hormat. Arak ini memang pilihan kaum bangsawan. Saka Lintang menari-nari berputar mengelilingi bilik kapal.Ha ha ha." gumam Saka Lintang sambil menuang arak ke dalam gelas perak.!" Saka Lintang tertawa sambil berteriakteriak bagai orang glla. Harganya hanya terjangkau oleh orangorang kaya. "Hm. Wajahnya menyimpan rasa takut yang dalam. "Ada apa lagi?" tanya Saka Lintang kembali memasang sikap angkuh. "Ha ha ha. Perhiasannya semua dari emas. Tanpa terasa. "Hm. Pakaiannya dari sutra halus. Dihampirinya sebuah meja terbuat dari batu pualam.. Codet menjentikkan jarinya...

Intan Kemuning telah dibujuk agar pulang bersama-sama saja tewat jalan darat.. Intan Kemuning mulai terisak. Intan Kemuning yang sehari-harinya tinggal di tembok kebangsawanan. Sedangkan awak kapalnya mencari selamat dengan terjun sungai. Tapi Intan Kemuning ingin menikmati perjalanan melalui sungai Ular bersama kapal yang baru di beli ayahnya untuk pesiar. *** Kapal mewah terus melaju menyusuri alur sungai Ular ." rengek Intan Kemuning. Wanita muda itu tidak menjawab. tidak dapat berbuat apa-apa. aku berjanji tidak akan mengatakan apa-apa pada ayahanda. "Kau dengar pertanyaanku. tubuhnya seketika mengejang...Saka Lintang memberi isyarat agar anak buahnya keluar. Jadi wajar saja kalau di a begitu ketakutan melihat para perompak mengganas di kapalnya. "Aku putri patih kerajaan Galung. Dia tidak pernah belajar ilmu silat. Pengawalnya yang berjumlah tidak kurang dari tiga puluh orang tewas semuanya. gerombolan perom-pak membegal kapal itu. Mukanya pucat dan tubuhnya gemetar. aku Intan Kemuning.. Dia sungguh sangat menyesal ikut dengan kapal ini." jawab wanita muda itu tergagap. Codet menutup pintunya lagi. kan? Siapa kau?" dengus Saka Lintang mulai kesal karena wanita itu diam saja. Tapi berusaha mengangkat kepalanya pelan-pelan. Tidak diduga sama sekali. Saka Lintang kembali mengamati wanita muda itu. "Aku. Ketakutannya kian sangat. rupanya kau putri seorang patih? Tidak seharusnya putri seorang patih kerajaan seperti tikus kena gebuk begitu!" 'Tolong bebaskan aku. "Siapa kau?" tanya Saka Lintang." "O.. "Ha ha ha. Padahal orang tuanya sudah melarang.!" Saka Lintang tertawa gelak. Ketika matanya tertumbuk pada Saka Lintang.

Apa kau tidak pernah belajar ilmu kanuragan?" tanya Saka Lintang. Katanya. "Aku tidak bisa menentang keinginan Ayahanda. Sementara di dalam bilik kapal mewah. Punggung yang terbuka itu terasa nikmat setelah Intan Kemuning memijitinya. "Apa enaknya? Kau akan dijajah laki-laki. sangat terkejut mendengar kata-kata Intan Kemuning. 'Tidak. Intan Kemuning hanya bisa menerima nasib saja menjadi budak kepala perompak itu. Dalam kamus hidupnya. "Pijatanmu enak juga. Matanya tajam menatap wajah Intan Kemuning yang tertunduk." sahut Intan Kemuning pelan. Saka Lintang tengah berbaring tengkurap dengan punggung terbuka. "Kau bilang tadi bahwa kau anak patih. Masing-masing perahu berisi barang. istri harus pintar memijat. Saka Lintang yang hidup dari dibesarkan di lingkungan keras. Ayahanda tidak mengijinkan aku belajar ilmu-ilmu keprajuritan.diiringi empat perahu gerombolannya. Siapa yang mengajari?" tanya Saka Lintang. Intan Kemuning hanya tertunduk saja. Dia dengan terpaksa harus mengikuti perintah Saka Lintang yang menjadi pemimpin perompak sungai Ular. Perhiasan yang melekat di tubuhnya juga sudah ditanggalkan. tidak ada istilah perem puan harus tunduk pada kaum laki-laki." dengus Saka Lintang gemas. Saka Lintang membalikkan badan dan merapikan pakaiannya kembali. "Kalau kau tidak berbuat macam-macam dan menuruti . "Bibi Emban.barang berharga dan djkawal oleh empat orang. biar suami betah di rumah. Dia tidak terima kaumnya jadi bulan-bulanan kaum lelaki." "Bodoh! Itu artinya kau sudah dijajah laki-laki." polos sekali jawaban Intan Kemuning. Beliau menginginkan aku menjadi seorang wanita bangsawan sejati. tahu!" Saka Lintang jadi terhenyak hatinya.

Coba kau pikirkan! Baru lihat anak buahku yang hanya bisa main gertak saja. kau sudah ketakutan setengah mati. kau harus turuti kata-kataku!" kata Saka Lintang. Tubuhnya menggigll ketakutan.. Kenapa m asih ada juga orang yang mengatakan dirinya baik? Apa tidak salah pendengarannya? Masih adakah kebaikan di hatinya? Dia sendiri tidak tahu mengapa tiba.. Hidupnya penuh kekerasan. "Mereka tidak akan mengganggumu! Dengan syarat. Untung kau tidak digagahi!" Intan Kemuning terlonjak kaget. dirinya dianggap "baik". . Lebih-lebih setelah mendengar penuturannya yang polos itu. Telinganya terasa dikilik. "Kau seorang pemimpin perompak. Saka Lintang merasa seolah-olah dialah yang diinjakinjak kaum lelaki setelah mendengar per-jalanan hidup Intan Kemuning. Tangannya selalu dilumuri darah. Nasibnya sekarang berada di tangan pemimpin perompak ini. Hatinya berontak dan dengan seketika dia ingin segera nienjadikan Intan Kemuning seorang wanita yang kuat seperti dirinya. "Aku hidup di lingkungan laki-laki kasar dan brutal. Saka Lintang bangkit dari pembaringannya. membangkang sedikit saja bisa-bisa mati konyol! Atau malah dijadikan pemuas nafsu anak buah Saka Lintang. tapi mengapa kau baik padaku?" tanya Intan Kemuning tidak mengerti dengan sikap Saka Lintang.kata-kataku. Supaya kau tidak jadi wanita yang lemah. Tapi mereka semua tunduk pada perintahku! Berani menentang dan kurang ajar.tiba jadi iba melihat Intan Kemuning. Nyawa taruhannya!" jelas Saka Lintang.? Intan Kemuning tidak sanggup membayangkannya. Tidak ada pilihan lain bagi Intan Kemuning kecuali menyanggupi kemauan Saka Lintang. Pikirnya. aku akan mengajarimu ilmu olah kanuragan dan ilmu-ilmu kesaktian lainnya. Saka Lintang tertawa terbahak-bahak.

Sebab selama hidupnya. kecuali sanggup memasaknya sendiri!" potong Saka Lintang. "Untuk jadi pengikutku. belum pernah dia minum arak! Mencium baunya saja." tolak Intan Kemuning. Intan Kemuning memejamkan matanya. Diraihnya guci arak. . minum!" paksa Saka Lintang lagi. segelas lagi buat dirinya. Saka Lintang menoleh ke pintu setelah diketuk dari luar." "Di istanaku. "Masuk!" teriak Saka Lintang. "Aku tidak biasa minum arak. diminumnya arak itu sedikit. Wajahnya memerah dan matanya berair." ucap Intan Kemuning setelah reda batuknya. Ragu-ragu Intan Kemuning menerima segelas arak yang disodorkan buatnya. Intan Kemuning terdiam. aku tidak bisa. "Ayo.. lalu dituangkan ke dalam dua gel as pe-rak Satu gelas disodorkan pada Intan Kemuning. Kenapa harus hidup dengan orang dan lingkungan yang sama sekali asing? Intan Kemuning tidak dapat mem bayangkan apakah dia bisa hidup dengan cara seperti ini. Tangannya gemetar memegang gelas itu. Sambil menahan napas. 'Tapi. apalagi memasak. harus bisa minum arak!" paksa Saka Lintang. Saka Lintang tersenyum melihat cara Intan Kemuning minum arak. Codet muncul. Hatinya hanya bisa mengeluh dan menyesali diri.. "Lama-lama kau akan terbiasa. Menginjakkan kakinya ke dapur saja tidak pernah. Saka Lintang makin tertawa keras. Intan Kemuning juga memandang ke arah pintu." sahut Saka Lintang kalem. kepalanya terasa pening. "Maaf. Tiba-tiba Intan Kemuning terbatuk-batuk dan berdahak beberapa kali.Dilangkahkan kakinya mendekati meja. semua minum arak! Tidak ada air minum..

Intan Kemuning yang polos. kalau ada yang berani mengganggu Intan Kemuning. Codet membungkukkan badannya lagi. Dia tidak yakin apakah mampu seperti Saka Lintang." Codet membungkuk hormat. biar saja. mudah sekali jatuh simpati pada sikap Saka Lintang. masih muda. laki-laki tadi hanya bentuknya saja yang kasar. Tuan Putri. Tuan Putri. Hatinya sedikit diliputi keraguan." Saka Lintang menjentikkan jarinya." "Tunggu!" cegah Saka Lintang melihat Codet akan berbalik. Nyalinya kecil. "Kau lihat. "Hm. Aku dan Intan tetap di sini Kalian bereskan semua barang-barang. "Sebentar lagi kapal sandar." iapor Codet. "Pergilah! Laksanakan tugasmu!" Codet membungkuk lagi. Meski dia tadi sempat melihat bagaimana Saka Lintang membantai para pengawal Kadipaten dengan kejam."Ada apa?" tanya Saka Lintang. Dari sini Intan Kemuning mulai bersimpati pada wanita yang usianya tidak terpaut jauh dari dirinya itu. kemudian berbalik Pintu kamar kembali tertutup rapat. *** . Saka Lintang. "Beritahu pada semua anggota. Namun bayangan kekejaman di wajah Saka Lintang makin sirna dalam pandangan Intan Kemuning. tapi mampu menguasai dan memerintah lakilaki bertampang kasar dan bengis. Dia hanya melihat suatu kelembutan dan kebaikan hati dalam diri Saka Lintang sebagai wanita yang tegar. Intan Kemuning hanya menelan ludah saja. Dia selalu ngeri jika lihat tampang laki-laki yang kasar dan kejam. cantik. "Hamba. Tuan Putri. Saka Lintang memandang Intan Kemuning yang masih duduk di tepi pembaringan. akan berurusan denganku! Dia kini jadi adik angkatku!" ujar Saka Lintang keras." "Hamba laksanakan.

. Tuan Putri. Cukup keras latihan yang diberikan. Tuan Putri.. apa akibatnya menentang kehendakku?" "Hamba. Agak jauh memang. "Kau tidak berolok-olok padaku. Sejak itu pula. "Maaf. Dia itu seorang putri patih." "Bagus kalau kau tahu!" Codet melirik Intan Kemuning yang duduk di bangku bawah pohon. "Hari ini tidak ada kapal yang lewat. hanya laki-laki berwajah kasar dan sc-ram. "Kau kupercaya untuk jadi wakilku.. Berbahaya sekali buat kita kalau. Apa Tuan Putri tidak salah mengangkat dia jadi adik?" takut-takut Codet bicara sambil ibu jari tangannya diarahkan pada Intan Kemuning." Codet cepat-cepat menghormat. Hasilnya memang tidak mengecewakan. Codet?" "Mana berani hamba mengolok-olok Tuan Putri? Bisabisa kepala hamba pisah dari badan. Mereka takut terhadap Bi dadari Sungai Ular!" sahut Codet. Intan?" jawab Saka Lintang.. "Benar.. Saka Lintang tidak pernah lagi ikut merompak kapal yang lewat di sungai Ular. Bukan untuk mengaturku! Paham?!" "Hamba mengerti. Hampir-hampir Intan Kemuning tidak sanggup menjalaninya. "Maksudmu. Sebuah buku bersampul hitam lusuh berada di tangannya. Pemimpin perompak dipercayakan pada Codet. "Kau tahu.Seminggu rasanya belum cukup bagi Intan Kemuning untuk menyesuaikan diri di lingkungan para perompak.. Tuan Putri. "Kau tidak keluar. Codet selalu pulang membawa hasil. . Di sekelilingnya kecuali Saka Lintang. Codet?" tanya Saka Lintang melihat Codet tengah berm alas-malasan. Dan selama seminggu itu Saka Lintang telah memberi dasar-dasar ilmu olah kanuragan." sahut Codet." "Cukup!" sentak Saka Lintang memotong.

Tapi hanya sekedar berkhayal. "Ke mana."Sekarang pergilah! Dan jangan coba-coba mengusik Intan Kemuning!" Codet membungkuk lalu pergi." jawab Codet. tapi takut kepada Saka Lintang. Tak ada orang yang tak tertarik dengan Intan Kemuning. "Kalian ikut aku. dia sering pergi ke desa terdekat. Sebagai pelampiasan nafsunya. Dan sekarang jumlah gerombolan ini tidak kurang dari tiga puluh orang. Sepuluh anak buahnya pun ikut dalam gerombolan ini. Dikhawatirkan Intan Kemuning akan jadi duri dalam daging! Codet sendiri dulu adalah seorang begal sebelum dikalah kan Saka Lintang. "Cari hiburan!" Ketiga orang Itu tertawa seketika. Det?" tanya salah seorang." kata Codet sambil mencomot sepotong daging rusa. Codet melangkah pergi. Mereka semua bekas begal yang biasa berkeliaran mencari mangsa di hutan-hutan atau merambah desa-desa. Mereka tahu kalau Codet mengincar Intan Kemuning. Kehidupan seperti itu memang bukan hal yang asing bagi mereka. Matanya masih sempat melirik Intan Kemuning. Tidak . Kemudian dia berjanji untuk selalu setia dan mengabdi pada gadis itu. Tapi justru baru kali ini mereka tunduk oleh seorang wanita! Codet menghampiri tiga orang temannya yang duduk melingkar menghadapi rusa panggang. Semua lakilaki di tempat itu pasti berkhayal dapat menikmati kemulusan tubuhnya. Codet hanya menggerutu saja sambil membayangkan wajah Intan Kemuning. Bau harum menusuk hidung dan membangkitkan selera. "Ke desa. Ketiga temannya mengikuti sambil tertawa-tawa. "Cari apa ke desa?" tanya yang lain. Codet yakin kalau buku itu berisi dasar-dasar ilmu pukulan tangan kosong dan latihan pengerahan tenaga dalam.

Pikirnya. Apalagi jika nanti Intan Kemuning berkhianat. Intan Kemuning memang selalu di bawah lindungan Saka Lintang. Mereka takut oleh aturan yang diberikan Saka Lintang.lebih. Codet menyayangkan pemimpinnya yang tidak menyadari kemungkinan yang akan berakibat fatal! *** . Hal inilah yang selalu mengganggu pikiran Codet. sudah tentu pihak Kadipaten tidak akan ringgal diam. Ini jelas menyulitkan mereka. oleh karena Intan Kemuning putri seorang patih.

Istrinya terheran-heran melihat wajah suaminya yang merah padam. telah kembali pagi tadi.2 Suasana di Kadipaten kerajaan Galung tengah dirundung duka. Sampai saat ini mereka belum memperoleh kabar berita sama sekali. Sudah seminggu ini Patih Giling Wesi memerintahkan prajurit-prajurit pilihan untuk mencari kapal layar yang membawa putrinya. Melangkah hilir mudik dengan hati diselimuti kegelisahan. Dilaporkan bahwa kapal yang membawa Putri Intan Kemuning dirampok gerombolan Bidadari Sungai Ular. Patih Giling Wesi seperti orang kebingungan." tamtama itu memberi hormat. lalu melangkah mundur. Gerahamnya sampai bergemerutuk dengan wajah merah padam. Gusti Patih. Patih Giling Wesi bergegas masuk ke kamar pribadinya." lanjut tamtama itu lagi. Gusti Patih. ada apa?" tanya Patih Giling Wesi setelah tamtama itu mendekat memberi hormat. "Gerombolan Bidadari Sungai Ular sangat ganas. Tidak peduli kapal siapa yang akan jadi sasaran. kita berangkat sekarang juga ke sungai Ular!" perintah Patih Giling Wesi. "Kumpulkan prajurit pilihan. "Bedebah!" geram Patih Giling Wesi murka. Di Pendopo Kepatihan. Dan betapa terkejutnya istri Patih Giling Wesi ketika . "Cepat laporkan!" "Beberapa telik sandi yang hamba kirim untuk mencari keterangan tentang Putri Intan Kemuning." tamtama itu menuturkan dengan sikap hormat. "Hamba menerima Iaporan dari beberapa telik sandi." jawab tamtama itu. Seorang tamtama berjalan tergopoh-gopoh menuju Pendopo. Matanya memandang ke depan Pendopo. "Tamtama. Gusti Patih. Tiba-tiba langkahnya terhenti. "Sendika.

"Intan." lembut suara Patih Giling Wesi.. Namun kakinya melangkah tegap. "Aku akan mencari Intan Kemuning. Nada suaranya bergetar penuh kecemasan. 'Tapi mengapa harus membawa pedang pusaka?" "Beberapa telik sandi melaporkan kalau kapal yang membawa Intan Kemuning dirampok oleh Gerombolan Bidadari Sungai Ular. tapi firasatku mengatakan bahwa Intan Kemuning masih hidup. Berdoal ah agar anak kita selamat. Air matanya menganak sungai di pipi. tidak ada gunanya kau menangis." pamit Patih Giling Wesi setelah menarik napas panjang. Rara Angken.. Dinda. anakku.. Perompak itu memang ganas. "Untuk apa pedang itu?" tanya Rara Angken. Dia baru sadar kalau istrinya. "Dinda Rara Angken. Pedih hati Patih Giling Wesi melihat istrinya menangis.. Telah lam a patih itu tidak menyentuhnya lagi. "Kang Mas.!" Rara Angken menekap mulutnya. berada di kamar ini. Rara Anken masih terisak... sehingga tak sadar kalau istrinya sejak tadi memperhatikan tingkah lakunya." "Oh.." sahut Patih Giling Wesi. "Kang Mas.. "Berdoalah pada Hyang Widi untuk keselamatan anak kita. Sementara sekitar lima puluh prajurit bersenjata lengkap sudah berbaris menunggunya di depan Pendopo. "Aku pergi. Aku berjanji akan membawa kembali anak kita." Rara Angken tak kuasa lagi menahan air matanya. Tenangkan hatimu." lirih suara Rara Angken." ujar Patih Giling Wesi sambil mengelus-elus kepala dan bahu istrinya.suaminya mengambil pedang pusaka." Patih Giling Wesi menoleh. Pikirannya terpusat penuh pada keselamatan putri mereka. .... terayun ke luar kamar.

duduk tenang seorang pemuda tampan yang tengah menghadapi guci arak. Kuda hitam mengkilat itu mendengus-dengus berlari bagai anak panah melesat cepat Kuda Patih Giling Wesi memang kuda pilihan. Tanpa banyak basa-basi lagi.. Semua orang dalam kedai menoleh. patih yang terkena! pemberang itu segera melompat ke punggung kuda dengan gerakan yang lincah.. Para prajurit bergegas menaiki kudanya masing-masing.!" Patih Giling Wesi meng-geprak kudanya agar lebih kencang lagi. Tidak heran kalau para prajuritnya tertinggal di bela-kang. Dia adalah Rangga. Di punggungnya bertengger sebilah pedang dengan gagang berbentuk kepala burung rajawali. "Hiya. Sebuah jalan desa yang kanari kirinya berdiri rumah penduduk.. Tetapi yang terlihat hanya kepulan debu saja.Seorang prajurit menuntun seekor kuda hitam tinggi kekar ketika Patih Giling Wesi tiba di depan Pendopo. Di antara pengunjung kedai. Semua orang yang berada di jalan segera menepi. Mereka terheran-heran melihat banyak prajurit yang sudah terkenal kedigjayaannya seperti akan perang. Tiba kini sebuah kedai mereka lewati. Pemuda itu tidak merasa terganggu oleh ulah prajurit kepatihan yang memacu kuda dengan cepat itu. mereka lewati.. Pemuda itu mengenakan baju rompi putih yang lusuh. Kepatihan kembali sepi setelah mereka ke luar dari benteng diiringi oleh mata beberapa penjaga yang terkesima. Padahal banyak orang dalam kedai bertanya-tanya dan mendugaduga. . Derap langkah kuda terdengar bergemuruh meninggalkan kepulan debu bergulung-gulung.! Hiya. Patih Giling Wesi segera memacu kudanya dengan cepat diikuti oleh pasukannya. Padahal mereka telah memacu kudanya secepat mungkin.

Patih Giling Wesi ikut serta. Tapi jarang yang tahu kalau nama sebenamya adal ah Aki Lungkur. "Seperti akan perang saja prajurit-prajurit itu. Yang memakai baju berwarna merah. Dari pakaiannya dapat ditebak kalau mereka anak seorang bangsawan kaya. "He he he.Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan yang berpakaian warna hijau bernama Rangkasa. Mereka putra-putra para punggawa kerajaan." Aki Lungkur atau si Pengemis Sakti Tongkat Merah itu hanya terkekeh saja. bernama Hanggara. Ternyata seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah menyangga tubuhnya. Mereka hanya pemuda-pemuda yang besar mulut tanpa nyali sedikit pun. Hanya tokoh-tokoh tertentu saja yang tahu nama aslinya. Dia tahu siapa dua pemuda congkak itu. Jelas ucapan . tapi matamu buta! Kau tidak bisa melihat kejadian di sekelilingmu!" Aki Lungkur bergumam. "Kecongkakanmu melebihi tingginya gunung. Dan semua orang tahu siapa Intan Kemuning. Bunga Kepatihan yang menjadi incaran dan impian putra-putra bangsawan dan punggawa kerajaan. hilangnya Intan Kemuning belum tersebar luas kecuali para prajurit pilihan. "Mereka mencari putri Intan Kemuning!" Semua orang di kedai terdongak dan menatap arah suara yang datang tiba-tiba itu. "Kakek gembel! Kau jangan bicara sembarangan!" bentak salah seorang dari dua pemuda tadi. Atau paling tidak anak saudagar.. Dua anak muda duduk menghadapi empat guci arak. Merah padam wajah kedua pemuda itu.. Pasti ada sesuatu yang gawat. 'Tidak biasanya. Kakek tua itu bersandar pada tiang kedai." terdengar suara dari meja tidak jauh dari tempat duduk Rangga. Dari tongkat dan pakaiannya semua orang tahu dia adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah.. Rangga melirik ke arah suara itu. Memang." sahut temannya.

bukan tidak mungkin mereka akan membantu Patih Giling Wesi. Bahkan dua pemuda congkak sudah sejak tadi meninggalkan kedai. Suara menggumam terdengar bagai lebah ditepuk sarangnya. "Kita harus laporkan segera pada Tuan Putri." sahut temannya. Hanggara dan Rangkasa saling berpandangan. Tanpa diketahui orang-orang di kedai. rupanya dua orang gerombolan Bidadari Sungai Ular ada pula di kedai itu. Semua orang tahu kalau hal itu benar-benar terjadi. 'Pacu kudamu dan kita ambil jalan pintas. Kakang Badil. Seorang pelayan tua sekaligus pemilik kedai menghampiri. Tinggal Rangga sendirian masih duduk menghadapi mejanya.Pengemis Sakti Tongkat Merah tertuju pada mereka. maka gerombolan perompak itu bukan saja berhadapan dengan para prajurit tetapi juga dengan tokoh-tokoh sakti dunia persilatan. Rasanya sulit dipercaya bila putri seorang patih yang terkenal dengan julukan Singa Medan Laga bisa ditawan oleh gerombolan Bidadari Sungai Ular. Kalau kata-kataku salah. Patih Giling Wesi mempunyai banyak sahabat dari tokoh-tokoh rimba persilatan. Adi Gering!" Mereka pun memacu kudanya dengan cepat. 'Tanyakan pada Gusti Rara Angken. Kata-kata kakek tua tadi bisa jadi ada benamya tetapi patut dipertanyakan pula. Aki Lungkur dengan cepat melompat dan hilang dari pandangan mata. kalian boleh memancung leherku. Dan kini keadaan kedai menjadi sunyi. "Benar. Maka kalau berita itu sampai tersebar luas." bisik salah seorang. Tapi. . Mereka mendengar pembicaraan Aki Lungkur dan segera angkat kaki ketika kakek tua itu menghilang. kalau aku benar maka aku minta kalian membebaskan putri Intan Kemuning dari sarang Bidadari Sungai Ular!" Setelah selesai kata-katanya. Satu persatu pengunjung kedai berlalu pergi dari tempat itu.

Tuan Putri.'Tambah lagi araknya.. "Kalau begitu.. Pak Tua itu duduk di depan Rangga. kedua tangan Saka Lintang telah berada di pinggang. Sambut . "Tidak!" sahut Badil dan Gering bersamaan. duduklah di sini. siapkan semua yang ada. "Lalu?" desak Saka Lintang sudah bisa menebak "Di situ juga ada Pengemis Sakti Tongkat Merah. "Ada apa?" tanya Saka Lintang angkuh.. "Kami punya berita penting. Saka Lintang mengerutkan keningnya. mereka melompat turun setelah kuda yang mereka tunggangi berhenti di depan rumah terbuat dari kayu. *** Matahari hampir condong ke Barat. "Katakan cepat!" "Menyangkut. Di situ hamba melihat serombongan prajurit berkuda dipimpin langsung oleh Patih Giling Wesi.. Si gembel Itu tahu kalau Intan Kemuning ada di sini. Ketika pintu terbuka. Dia yang menyebar kabar itu. Penunggang kuda itu adalah Badil dan Gering." jelas Badil ketika Saka Lintang telah berada di luar rumah. Dia melangkah dua tindak'Tadi hamba berdua minum-minum di kedai Pak Tua." kata Badil segera membungkukkan badannya. dua orang dari gerombolan Bidadari Sungai Ular.." Badil setengah berbisik Matanya menerobos ke dalam. Tuan?" Pak Tua menawarkan. Intan. Aku perlu teman ngobrol" sahut Rangga. "Kau takut?" cibir Saka Lintang. Penuh dengan kesigapan. Dengan tergesa-gesa Badil menghampiri pintu dan mengetuknya dengan keras. "Tidak. Tuan Putri.. Inilah markas gerombolan Bidadari Sungai Ular." lanjut Badil. Dua ekor kuda berpacu memasuki hutan di kaki lereng bukit Guntur.

"Hamba laksanakan.." cepat-cepat Gering membungkuk.. Bukan tikus sebenarnya.." kata Gering. Dia takut Saka Lintang tersinggung. di saat itu pula niatnya diurungkan. "Aku. Tapi di balik kekasaran-nya. kadang-kadang lembut. "Mereka hanya tikus!" bentak Saka Lintang. Kadang-kadang dia harus berpikir lebih dulu untuk dapat mengerti..." "Apa yang kau herankan?" tanya Saka Lin¬tang. Sebenarnya ingin sekali Intan bertanya. "Tidak. Bukan hanya kata-katanya saja yang sulit dimengerti." pelan suara Intan Kemuning. Itulah Saka Lintang.. aku heran saja... "Aku. 'Tikus. "Mengapa kau memandangiku begitu?" tanya Saka Lintang risih dipandangi terus.. Tapi setiap kali akan bertanya.. Intan Kemuning dapat melihat suatu pelampiasan kekesalan pada Saka Lintang. Dia menghampiri Intan Kemuning yang menunggu di balai tengah-tengah ruangan. Tuan Putri. tidak apa-apa." sahut Intan Kemuning tergagap. Kadang-kadang kasar.. Tuan Putri. Intan Kemuning harus bisa menjaga diri dan berbuat apa saja yang dikehendaki Saka Lintang. "Jumlah mereka banyak.? Ha ha ha.!" Saka Lintang tertawa gelak .kedatangan mereka!" perintah Saka Lintang tegas." jawab Saka Lintang lalu duduk di balai berhadapan dengan Intan Kemuning. Dia tahu gelagat kalau Saka Lintang sudah membentak keras. "Yah. Saka Lintang bergegas masuk ke kamar kembali. Dia mendengar nada cemas pada suara Gering.?" Intan Kemuning belum mengerti. Ketika kedua orang itu telah pergi... "Ada apa Kakak Lintang?' tanya Intan. "Kakak Lintang. "Ada tikus yang mencoba masuk.. Sikapnya pun demikian. tikus bodoh yang cari mampus!" Intan Kemuning mulai mengerti.. Yang dimaksud tikus tentulah orang.

setelah kau selesai latihan tenaga dalam. "Ke luar! Aku akan kembali lagi jika kau sudah selesai berlatih. sekarang giatlah berlatih.Intan Kemuning makin bingung melihat Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. Bibirnya tersungging melihat Intan Kemuning mulai berlatih. Saka Lintang sedikit kagum pada Codet yang pandai mengatur anak buahnya. Aku lihat jurus-jurus pukulan tangan kosongmu sudah mantap. lalu keluar. Intan Kemuning hanya mengangguk. Saka Lintang melenting tinggi lalu membuat gerakan berputar beberapa kali di udara dan hinggap dengan manis di atap rumah. Perdalamlah lagi agar lebih sempurna. Bibirnya tersenyum melihat anak buahnya telah siap menanti datangnya para prajurit kepatihan." ujar Saka Lintang setelah reda tawanya. Di belakang mereka. Kenapa dia sampai tertawa gelak seperti itu? Namun dalam tawa itu. berjalan sepuluh orang dipimpin oleh Badil dan sepuluh orang lagi dipimpin oleh Gering. "Sudahlah. bersemadilah!" Intan Kemuning mengangguk kembali. Dengan gerakan indah." sahut Saka Lintang. Pandangannya berkeliling. tidak usah memikirkan aku! Yang penting. Saka Lintang melangkah dan menoleh sebentar pada Intan Kemuning. "Ingat. Saka Lintang melompat turun. Intan Kemuning menangkap semacam kegetiran yang ditutup-tutupi di wajah Saka Lintang. Padahal kata-katanya tidak ada yang lucu. Lima belas orang berjaga-jaga di markas mereka. "Nah. "Kakak Lintang mau ke mana?" tanya Intan Kemuning ketika Saka Lintang turun dari balai. Tampak sekitar sepuluh orang berjalan menuju sungai Ular dipirhpin oleh Codet. Sebentar matanya mengawasi keadaan sebelum menutup pintu. Mata Saka Lintang menatap lurus ke depan. . berlatihlah sekarang!" perintah Saka Lintang.

Saat kakinya mendarat di tanah, kem bali dilentingkan tubuhnya dan hinggap di atas punggung kudanya. Segera dia menggebrak kudanya lalu melesat cepat menuju ke sungai Ular yang tidak jauh dari lereng bukit Guntur markas Saka Lintang sekarang ini. Sungai Ular memang indah dipandang, namun menyimpan keganasan yang luar biasa. Sebentar saja Saka Lintang telah sampai di sungai Ular mendahului anak buahnya. Matanya yang bulat bening memandang sekitar sungai yang tenang. Setenang sikapnya saat ini. Codet menggerak-gerakkan tangannya ke atas ketika mereka telah sampai di sungai itu. Dengan seketika anak buahnya berpencar masuk ke dalam semak-semak dan ke balik bongkahan-bongkahan batu. Kini di tepi sungai tersisa empat orang. Mereka semua memang terlatih baik dalam menguasai daerah sekitar sungai Ular. Maka dal am sekejap saja tidak ada orang yang terlihat. Mereka bagaikan lenyap ditelan bumi. Pandai menyamarkan diri dengan alam! "Dengar...!" seru Saka Lintang tiba-tiba. "Suara kuda," gumam Codet. "Hm, siapa dia," gumam Saka Lintang. *** Suara kaki kuda kuda makin jelas terdengar. Saka Lintang mengerutkan keningnya. Dia hanya mendengar langkah dari satu ekor kuda saja. Matanya langsung melirik Badil. "Hamba akan menyongsong, Tuan Putri!" ujar Badil mengerti maksud lirikan Saka Lintang. Badil dengan cepat melompat ke kudanya. Segera digebahnya kuda itu. Dengan cepat kuda yang ditunggangi Badil sudah tidak terlihat lagi. Lenyap di balik rimbunan pepohonan. Badil memacu kudanya menuju arah datangnya suara kaki kuda.

Tiba-tiba ditarik tali kekang kudanya dan seketika tubuhnya melontar tinggi. Kakinya dengan sigap hinggap di sebuah batang pohon yang tinggi. Matanya dengan seksama berkeliling. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada seekor kuda yang ditunggangi seorang pemuda. Tampak dua bilah pedang bertengger di punggungnya. "Kala Srenggi," desis Badil mengenali penunggang kuda itu. Badil menunggu beberapa saat sampai Kala Srenggi mendekat. Kemudian dia meloncat turun ketika Kala Srenggi tepat di bawah pohon yang dinaiki Badil. Kala Srenggi dengan tangkas melompat dari kudanya ketika merasakan ada penyerang gelap dari atas. Pedang Badil segera membabat namun luput Dia kecewa. Padahal dia yakin penunggang kuda itu akan pecah kepalanya tersambar pedang. Yang didapati hanya tempat kosong saja, "Licik!" dengus Kala Srenggi ketika kakinya menjejak di tanah. "Kau juga lebih licik dariku, Kala Srenggi," balas Badil. "Siapa kau?' tanya Kala Srenggi yang heran melihat penyerang gelapnya tahu tentang dirinya. "Aku Badil. Macan Gunung Sinai!" sahut Badil angkuh. "Hm..., Macan Gunung Sinai sampai nyasar ke bukit Guntur," gumam Kala Srenggi mencibir. "Ada urusan apa kau datang ke sini?" tanya Badil. "Aku hanya lewat," jawab Kala Srenggi acuh. "Tidak seorang pun diijinkan masuk ke bukit Guntur!" "He! Sejak kapan aku...." Kala Srenggi belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Badil telah menyerang dengan cepat. Kala Srenggi agak kewalahan menghindari serangan-serangan pedang Badil yang cepat dan berbahaya. Macan Gunung Sinai memang bukan nama kosong, dan Kala Srenggi tahu itu. Dengan cepat dia bersalto di udara. Tangannya segera menarik pedang

kembarnya. Sret! Traaang! Dua pedang berbenturan di udara. Pijaran api akibat benturan pedang berlompatan bersamaan dengan terpentalnya dua orang itu. Mereka memang bukan orang sembarangan. Tanpa kesulitan apa-apa, kaki mereka telah menjejak di tanah dengan lincah. Dua orang itu sama-sama kaget dan sama-sama merasakan kesemutan setelah pedang mereka beradu. Kini mereka sama-sama menyiapkan jurus-jurus selanjutnya. Sambil berteriak nyaring, mereka kem bali terlibat dalam pertarungan sengit. Masing-masing ingin segera menjatuhkan. Namun sampai lima jurus berlalu, belum ada yang terdesak. Memasuki jurus selanjutnya masih tetap seimbang. Beberapa kali ujung pedang mereka hampir menemui sa-saran satu sama lain. Namun semuanya masih dapat dihindari. Hingga pada suatu ketika, Kala Srenggi melompat mundur sejauh dua tombak sambil memasukkan pedang kembar ke sarung di punggungnya. Kini dikeluarkannya 'Aji Racun Merah". Melihat lawan tengah mengerahkan ilmu andalan, Badil pun tak ketinggalan dengan ilmu andalannya pula. Mereka sudah saling berhadapan siap menyerang dengan kesaktian masing-masing. "Hiya...!" "Hiya...!" Kedua orang itu melompat berbarengan. Kini kedua telapak tangan mereka bertemu di udara. Ledakan keras terjadi, disusul dengan terpentalnya dua tubuh. Kala Srenggi jatuh bergulingan di tanah beberapa depa. Sedangkan Badil tidak kalah parah. D ari hidung dan mulutnya ke luar darah. "Uhk!" Badil memuntahkan darah merah kehitaman. Sambil menahan rasa sakit di dadanya, Badil berusaha bangkit. Tubuhnya sempoyongan. Sementara Kala Srenggi juga berusaha berdiri. D ari sudut bibimya mengalir darah

segar. Tangan kirinya menghitam terkena ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil. "Setan! Salah satu di antara kita harus mampus!" geram Kala Srenggi. "Huh!" Badil hanya mendengus. Badil sadar kalau tubuhnya telah dialiri 'Racun Merah' dan hidupnya tak akan bertahan lebih lam a lagi. Kala Srenggi pun demikian. Dia terluka parah. Mereka samasama kepalang basah. Kembali ajian masing-masing mulai mengarah satu sama lain. "Berhenti!" tiba-tiba suara bentakan melengking nyaring. Namun terlambat! Kedua orang itu sudah kembali melompat dan beradu di udara. Kala Srenggi lagi-lagi bergulingan di tanah. Dari mulutnya menyembur darah kental kehitaman. Dia berusaha bangun, tetapi malah jatuh dan tak bergerak sama sekali. Mati. Kedua tangannya seperti hangus terbakar. Di pihak Badil, lebih mengerikan. Dia tergeletak dengan dada pecah. Darah bersimbah membasahi tubuhnya. Badil tewas seketika setelah tubuhnya tenanting di tanah. Sebuah bayangan biru berkelebat dan mendarat di tengah-tengah arena pertarungan tadi. Dia adalah Saka Lintang, kemudian disusul oleh Codet dan Gering. Kedua orang itu terkejut melihat Badil tewas dengan dada pecah. Saka Lintang malah tenang-tenang saja. "Hm, Kala Srenggi," gumam Saka Lintang. Gadis itu mengayunkan langkahnya mendekati mayat Kala Srenggi. Sebentar diamati dan dengan ujung kakinya dibalikkan tubuh Kala Srenggi. Tampak di bagian dadanya hangus terbakar. Tidak ada luka di tubuhnya. Juga tidak ada tanda-tanda Kala Srenggi masih hidup. Saka Lintang mengambil ranting, lalu menekan dada Kala Srenggi dengan ranting. Terkejut juga Saka Lintang ketika melihat dada Kala Srenggi yang mendadak ambrol setelah tersentuh ranting. Bagai ditiup angin saja! Dada Itu

Kini malah Codet yang bimbang. Gering yang setiap hari selalu bersama-sama dengan Badil merasa tidak tega juga terhadap mayat temannya itu." agak bergetar suara Codet." sahut Codet. Codet bergegas mengham-\piri Gering dan membantu menguburkan mayat Badil." "Bantu dia!" potong Saka Lintang cepat sambil menunjuk pada Gering.. Gering menatap Saka Lintang yang hanya terlihat bayangan bajunya saja di antara pepohonan. "Bagaimana?" tanya Saka Lintang menoleh pada dua anak buahnya." sahut Codet.. "Tidakkah." sahut Codet. Sungguh tragis nasib mayatmayat itu. Tuan Putri. 'Tidak ada waktu.. Saka Lintang membalikkan tubuhnya. "Kuburkan kedua mayat ini. Sebentar lagi gelap. kemudian melanjutkan langkahnya.kini berlubang besar tembus sampai ke punggung. Saka Lintang hanya melirik.. Tetapi untungnya. "Mati. Gering . mereka belum bicara. Tanpa menghiraukan Codet lagi. Tak ada seorang pun yang sedia menguburkannya. Dia kembali lagi lantas menggali tanah.. Sungguh dahsyat ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil. mereka meninggalkan dua sosok mayat yang tergeletak di tanah. 'Tuan Putri. Dia hanya berdiri dengan pandangan berganti-ganti dari Saka Lintang ke arah Gering yang tengah menggali dengan pedangnya. Sampai selesai menguburkan Badil. "Kalau begitu." ucap Gering. Toh tadi dia juga sudah memerintahkan untuk mengubur mayat itu. 'Tuan Putri yang memerintahku. Saka Lintang melangkah cepat. 'Terima kasih." perintah Saka Lintang.. tinggalkan saja di sini!" Tanpa banyak bicara.

Kini dengan hati lega. Meninggalkan salah seorang teman yang kini terbaring di dalam tanah. Mereka memang tidak pernah mengurus mayat musuh.menatap mayat Kala Srenggi. mereka tinggalkan tempat itu. *** . "Biarkan saja dia jadi santapan anjing hutan!" kata Codet Gering mengangkat bahunya.

Patih Giling Wesi duduk di atas punggung kudanya dengan lesu. Dia segera memberi hormat setelah tiba di depan Path Giling Wesi. Gusti Patih. Dan yang jelas kejadiannya di sungai Ular ini! "Rapaksa!" teriak Path Giling Wesi. Sinarnya membias menerangi mayapada. Belum sempat Patih Giling Wesi beristirahat banyak. "Siapkan prajurit!" perintah Patih Giling Wesi." salah seorang tamtama segera mendekat. Hamba menemukan tanda keprajuritan di pinggir sungai. Didekatinya Patih Giling Wesi. kita istirahat sebentar di sini. Para prajurit serentak turun dari kuda masing-masing. tiba-tiba terdengar . Patih Giling Wesi lantas menyambar kalung itu. Dia duduk di atas batu menatap ke arah sungai yang berliku. "Rapaksa!" "Hamba." kata prajurit itu sambil menyerahkan sebuah kalung tanda keprajuritan. istirahat!" teriak tamtama Rapaksa keras. Rapaksa belum sempat menjawab. Gusti Patih." kata Patih Giling Wesi. Berarti telah terjadi sesuatu pada kapal itu. Ada noda darah melekat di kalung itu. "Beritahu prajurit.3 Matahari baru saja menampakkan diri. tibatiba datang seorang prajurit berlari-lari menghampirinya. tapi tidak sedikit pun jejak kapal layar yang membawa putrinya ditemukan. Matanya mengamati sebentar. Patih Giling Wesi pun telah turun dari kudanya lalu menghampiri sebuah batu besar yang menjorok ke sungai. Semalaman dia mencari di sekitar sungai Ular. "Ampun. "Adya Bala. Rapaksa berlari menghampiri. Mereka mencari tempat beristirahat dan membuka perbekalan.

seketika itu pula dari rimbunan semak dan dari balik bongkahan batu. Patih Giling Wesi cepat melompat ke arah lima prajuritnya yang tewas. Sebuah tombak berwarna biru dengan tangkai berukir huruf yang rapi dan indah." desis Patih Giling Wesi "Rupanya ada tamu agung berkenan mengunjungi wilayahku!" Patih Giling Wesi dan para prajuritnya terkejut mendengar suara yang tinggi menggema dibarengi pengerahan tenaga dalam yang sempurna. Begitu prajurit bersiap. bermunculan orangorang yang semuanya ber-seragam biru. "Setan! Kembalikan putriku!" geram Patih Giling Wesi.. Dada mereka tertancap tombak. "Ha ha ha. "Intan Kemuning akan kukembalikan pada saatnya nanti. tidak semudah itu patih yang gagah. "Siapa kau?!" bentak Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi makin geram menyadari keadaannya telah terkepung. Rasa terkejut mereka belum juga hilang ketika tiba-tiba muncul seorang wanita cantik mengenakan pakaian serba biru. "Bidadari Sungai Ular.. Dia mencabut sebatang tombak dari salah seorang prajuritnya yang sudah tidak bergerak itu.." "Adya Bala!" teriak Patih Giling Wesi memberi aba-aba. Dua kelompok itu hampir seimbang jumlah-nya. Kelihatannya prajurit Kepatihan lebih banyak. Serentak para prajurit yang lain bersiaga. "Bidadari Sungai Ular!" jawab Saka Lintang mantap. Mereka semua telah siap dengan senjata di tangan. Percuma saja kau kerahkan seluruh prajurit! Mereka hanya . Mereka semua memiliki tingkat kepandaian rata-rata di atas para prajurit pilihan sekali pun.teriakan dan disusul dengan rubuhnya lima orang prajurit. Tapi bukan berarti mereka bisa dengan mudah mengalahkan gerombolan ini. Dengan angkuh dia berdiri di atas batu tempat Patih Giling Wesi tadi beristirahat. Dia tidak lain adalah Saka Lintang.

Patih Giling Wesi tak ketinggalan dengan cepat melompat menerjang Saka Lintang. Tetapi belum sampai dekat Saka Lintang. Gering pun segera merubah jurusnya pula. Patih Giling Wesi berteriak melengking dan merubah permainan pedangnya. Sedang dari pihak Bi dadari Sungai Ular." kata Saka Lintang meremehkan. Maka pertempuran pun berlangsung sengit. Kalau saja bukan Patih Giling Wesi. Bahkan beberapa kali dia dapat membalas serangan itu. Tubuh mereka seperti lenyap ditelan gulungan sinar . "Huh! Sontoloyo!" dengus Patih Giling Wesi. "Kalian perompak liar. Pikirannya hanya terpusat pada keselamatan putrinya. Bunyi senjata beradu dan teriakan-teriakan pertempuran terdengar membahana. Pertarungan makin seru dan tak terlihat lagi oleh mata biasa. Segera diperintahkan prajuritnya untuk menyerang. sebuah bayangan berkelebat menghadang. Sementara itu pertarungan semakin sengit. mungkin kepalanya sudah terpisah dari badan tersambar pedang Gering yang berkelebat cepat. Gering berdiri dengan pedang terhunus. Yang terlihat kini hanya bayangbayang pedang yang bergulung-gulung menyelimuti tubuh Gering. Sudah tak tertahankan lagi amarah Patih Giling Wesi. belum ada satu pun yang tewas. Menyadari lawan telah menggunakan jurus yang ampuh. Patih gagah. Namun yang dihadapinya adalah Gering yang cukup tinggi ilmunya. Patih Giling Wesi tidak membuang-buang waktu lagi. "Tidak semudah itu.mengantar nyawa ke tempat ini!" ujar Saka Lintang pongah. Dia menerjang dengan jurus-jurus mautnya. Tidak heran kalau Gering dapat mengimbangi permainan pedang Patih Giling Wesi. dan harus dimusnahkan!" geram Patih Giling Wesi. Beberapa prajurit telah banyak yang roboh. Jerit-jerit kematian makin sering terdengar menyayat dari pihak prajurit.

Rupanya ujung pedang Patih Giling Wesi telah mengenai sasarannya. Hingga pada suatu kesempatan.. Sedang dari pihaknya.. Kelihatannya. Kedudukan Codet pun kelihatan makin kewalahan. . Dia merasakan angin sambaran golok lawannya menimbulkan hawa panas. tiba-tiba Codet menerjang masuk. "Majulah.pedang yang menimbulkan suara bersiutan.. Gering segera mundur sambil menekap dadanya yang robek. Tampaknya prajurit-prajurit Kepatihan makin kewalahan dan terdesak.....!" tiba-tiba Gering berteriak memekik. Sementara Patih Giling Wesi terus mendesak dengan penuh nafsu. Patih Giling Wesi harus lebih hati-hati lagi. Namun ketika berada di tangan Codet seperti ringan saja.!" Codet menjerit keras. golok itu berat sekali. dada telah basah oleh darah. Di saat yang genting itu. Gerakan-gerakan Codet makin ngawur. Saka Lintang hanya mengamati saja sambil bibimya menyungging senyum. Benda tajam itu berkelebat cepat dan mengarah ke bagian-bagian tubuh Patih Giling Wesi. Gadis ini cukup memaklumi keadaan Gering karena lawannya memang tangguh. Tepat seperti dugaan Saka Lintang. Serangan-serangan yang dibangun Codet memang lebih dahsyat dan berbahaya di bandirig Gering. Jumlah mereka makin berkurang. Di luar arena pertarungan. "Aaaakh. Hanya Gering yang kelihatan terluka parah dan kini dirawat oleh anak buah Saka Lintang. Saka Lintang sudah bisa menduga kalau sebentar lagi Codet akan jatuh. "Kau akan bernasib lebih buruk dari temanmu!" dengus Patih Giling Wesi. "Aaaakh. setan!" geram Patih Giling Wesi. "Sebaliknya kau akan kukirim ke neraka!" sembur Codet. hanya dua yang tewas. Codet mencabut golok besarnya. Ketika tubuhnya keluar dari gulungan sinar pedang.

lalu ambruk tak berkutik. Meskipun hatinya terbakar am arah. . Seperti orang kesetanan layaknya. Dia cepat membaca gerakan lawan. Codet limbung sebentar. akulah lawanmu!" teriak Saka Lintang. Setiap pedangnya berkelebat. Sepuluh orang sudah roboh di ujung pedang Patih Giling Wesi dalam tempo yang singkat. Patih Giling Wesi mengamuk membabi buta. Patih Giling Wesi dengan cepat melompat ke tengah-tengah prajurit-prajuritnya yang sedang kewalahan menerima gempuran yang datang bagai air bah. Sebentar saja. Bersamaan dengan itu. "Huh!" Patih Giling Wesi mendengus sambil menyemburkan ludahnya. Dia pun dapat mematahkan serangan lawan sebelum sampai. dua puluh mayat sudah menggeletak. Mereka seperti memberi peluang bagi masing-masing pemimpin untuk berlaga. pasti ada seorang lawan yang ambruk mandi darah.Pedang Patih Giling Wesi berhasil menembus dada Codet. Masing-masing kelompok melompat mundur. Patih Giling Wesi menatap tajam pada Saka Lintang yang sudah menghunus pedangnya. sukar diduga. Prajurit Kepatihan tinggal lima belas orang jumlahnya. Seketika pertempuran terhenti. Memang tidak sia-sia dia dijuluki Singa Medan Laga. Apalagi orangorangnya makin banyak yang tumbang. namun kelihatan sekali kalau Patih Giling Wesi bertarung menggunakan otak yang dingin. Prajuritprajurit yang semula kendor semangatnya. tubuhnya mencelat ke udara dan menghadang serangan Patih yang mengamuk. Gerakannya cepat. Melihat orang-orangnya kewalahan menghadapi amukan Singa Medan Laga. seketika bangkit kembali melihat pemimpinnya mengamuk bagai banteng terluka. Saka Lintang jadi geram. Darah segar segera muncrat ketika pedang itu ditarik ke luar. bahkan dengan cepat mendahuluinya. 'Patih Giling Wesi.

Dia telah tahu kelebihan dan kelemahannya. penuh gerak tipu yang berbahaya. Patih Giling Wesi mulai merasa sulit menghadapi. putrimu yang cantik akan jadi ratu setan!" dia langsung menyerang dengan jurus-jurus berbahaya. kali ini Saka Lintang tidak mainmain lagi. Aku hanya ingin memberirnu sedikit pelajaran agar kau tidak lagi pongah!" kalem dan tenang sekali suara Saka Lintang. Patih Giling Wesi memang tangguh dalam olah keprajuritan. Semua serangan-serangannya. Saka Lintang sengaja tidak membalas serangan lawan. Trang! . Mengingat dirinya adalah seorang patih yang disegani. "Bocah setan!" geram Patih Giling Wesi merasa terhina. Patih Giling Wesi terkejut Cepat-cepat dia menggerakkan pedangnya melindungi kepala. Sejak tadi sudah diperhatikannya jurus-jurus Patih Giling Wesi. Dirubahnya serangan dengan menggunakan jurus-jurus andalan. Dan memang. atau kau harus mati di ujung pedangku!" dengus Patih Giling Wesi. Tapi tak disangka-sangka. Patih Giling Wesi tidak mau menyerah begitu saja. Dengan cepat pedang Saka Lintang berputar mengarah ke perut yang lowong.. Patih Giling Wesi. Untung Patih Giling Wesi cepat menarik pedangnya. Jurus yang digunakan patih ini memang dahsyat. Sedikit saja lemah. "Aku tidak akan membunuhmu. "Ha ha ha. gerakan yang menyambar kepala hanya tipuan belaka. Saka Lintang melayaninya sambil tertawa -tawa. Sedangkan sasaran sesungguhnya adalah perut.. Dia hanya menghindar dan menangkis dengan gerakangerakan indah memukau. "Awas kepala!" teriak Saka Lintang tiba-tiba.. dia harus mengerahkan tenaga dan kepandaiannya. mentah dan rontok di tengah jalan oleh gadis ini. Tetapi dalam menghadapi tokoh rimba persilatan seperti Saka Lintang ini. akibatnya sangat fatal."Serahkan anakku.

. perut itu pasti sobek. Saka Lintang mengakui kehebatan patih ini. Sedangkan Patih Giling Wesi juga sudah mengeluarkan kesaktiannya. Masing-masing belum ada yang terdesak. Dalam hati. Tebasan dan tusukan pedangnya makin berbahaya dan menimbulkan tenaga dorongan yang dahsyat. Kenyataannya sangat tak disangka sama sekali. Batang-batang pohon segera tumbang terkena tebasan pedang Patih Giling Wesi. Kombinasi antara ilmu pedang dengan jurus 'Pukulan Geledek' yang dikeluarkannya kini. Semula Saka Lintang menduga kalau kepandaian Patih Giling Wed berada jauh di bawahnya. pukulan tangan kiri Saka Lintang juga mencari sasaran. sangat dahsyat. Terlambat sedikit saja. Patih Giling Wesi belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya. "Setan! Ilmu apa yang dia pakai?" dengus Saka Lintang dalam hati. Daun-daun segera berguguran terkena sambaran angin kelebatan pedang yang menimbulkan suara gemuruh bagai angin puting beliung. Seratus jurus telah berlalu dengan cepat. tapi kelihatannya belum ada seorang pun yang terdesak. langsung hancur berkeping-keping. Batu-batuan dan pohon-pohon yang terkena pukulannya. Patih Giling Wesi dapat bergerak melebi hi kecepatan angin topan.Dua pedang berbenturan tepat di depan perut Patih Giling Wesi. Selain pedang yang menyambar-nyambar. Dengan 'Ajian Sayuti Angin'. Saka Lintang kini meningkatkan permainan jurusjurusnya. Semua sama-sama dahsyat. *** Pertarungan antara Patih Giling Wesi dengan Saka Lintang telah meningkat pada taraf yang genting. Tiga puluh jurus telah berlalu. Mereka m asih seimbang meskipun telah mengeluarkan jurus-jurus pedang tingkat tinggi.

. Patih itu berusaha untuk tidak terpengaruh pada setiap gerakan tubuh yang indah itu. "Ah!" Saka Lintang memekik manja. Tapi. Matanya mengerling genit disertai gerak-gerak bibir yang mengundang birahi. dengan cepat dan tak terduga sama sekali. Tidak sebanding dengan gerakan tangan yang lemah itu! Patih Giling Wesi segera menyadari kalau gerakan lemah gemulai yang mengundang birahi itu sangat berbahaya dan dapat mematikan lawan. tangan kanan Saka Lintang melayang mengarah dadanya. Bagian ujung pedangnya sempal.. Dan kini dia telah siap dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Tangannya seperti dijalari jutaan semut yang menggigit. Sulit dipercaya! Pedang yang sudah sedernikian dekat tangan Saka Lintang yang bergerak lemah. Tangannya yang sudah terulur cepat. dengan lembut ditarik. Dia seperti menari.. Patih itu terkejut bukan kepa-lang. tangan Saka Lintang selalu bergetar bagai tersengat ribuan kala berbisa... Namun tiba-tiba. "Mampus kau!" bentak Patih Giling Wesi kembali melancarkan serangan mautnya.Setiap kali pedangnya membentur pedang Patih Giling Wesi. tidak bisa membabat-nya putus. Padahal tebasan pedang patih itu sangat cepat. "Setan!" dengus Patih Giling Wesi dengan cepat melompat sambil membabatkan pedangnya. .. Gerakan-gerakan tubuh Saka Lintang jadi berubah. Sesaat Patih Giling Wesi terpana. Trang! Trak! Saka Lintang melompat mundur dengan wajah terkejut. Bahkan lewat begitu saja. Meliuk-liuk dengan indahnya dengan tangan bergerak-gerak lemah gemulai. Sedapat mungkin dihindarinya benturan senjata. Perih dan bergetar ke seluruh persendian tangannya. Hatinya mendadak bergetar melihat tubuh indah meliuk-liuk dan sikap yang mengundang birahi. Buru-buru gadis itu memasukkan pedang ke dalam sarungnya. Dan.

Belum dapat dipastikan racun itu berbahaya atau tidak. Itulah kelebihan dari jurus Tarian Bidadari yang membuat lawan jadi frustasi karena mengira serangannya berhasil. Mendadak kepala Patih Giling Wesi terasa pening."Ouw!" Saka Lintang hanya mendesah manja sambil menggerakkan tubuh dengan indah. Sekuat daya Patih Giling Wesi menekan nafsu birahinya yang semakin berkobar-kobar. Tangan halus gemulai itu mendadak hampir menepuk pundaknya. Segera Patih Giling Wesi mengerahkan hawa mumi ke seluruh tubuhnya. Patih Giling Wesi merasakan suatu hawa panas menyebar. Serangan Patih Giling Wesi yang bertubi-tubi mengarah pada bagian-bagian yang mematikan. Setiap kali pedangnya berkelebat dan dipastikan akan menebas lawan. tepukan lembut itu menyerempet bahunya. Patih Giling Wesi makin kewalahan. Daya pikat yang di pancarkan Saka Lintang begitu kuat Gerakan-gerakan patih itu jadi tidak teratur karena terpecah konsentrasinya.. "Racun. . "Huh! Ilmu setan mana yang dipakainya?" dengus Patih Giling Wesi. Di samping harus menghadapi jurus aneh itu. Seketika dia tersentak kaget. Patih Giling Wesi memutar otak. Tetapi serangan dahsyat itu tidak pernah dapat menyentuh tubuh Saka Lintang. Namun dari anginnya sudah dapat dirasa.. Ujung pedang patih itu hanya menyerempet beberapa ram but saja. namun dengan manis Saka Lintang berhasil mengelak. Untung saja patih itu masih memiliki sedikit kewaspadaan sehingga tepukan tangan Saka Lintang berhasil dihindari. mencari kelemahan jurus aneh yang dimainkan lawannya itu. Tetapi tak urung. dia juga harus berperang dengan batinnya sendiri.!" desisnya. "hey! Uts!" Tiba-tiba Patih Giling Wesi tersentak.

Tetapi kalau tidak begitu. Patih Giling Wesi seperti kehilangan akal dalam menghadapi lawannya kali ini. Hawa murni itu telah menutup seluruh aliran darahnya. dia telah menghirup hawa racun yang disebar oleh telapak tangan Saka Lintang. Sementara Saka Lintang telah mulai lagi dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Sepertinya suara itu begitu dekat dan jelas. Ya. .lahan rasa pening di kepala berkurang. Patih Giling Wesi menatap Saka Lintang yang berdiri tenang dengan bibir menyungging senyum memikat. Tubuhnya jadi terasa hangat. *** "Jangan hiraukan tangannya. Perlahan. Tetapi lewat dari sepuluh. Bisa-bisa malah mati karena di dalam tubuh terjadi pertentangan dua hawa yang ber-lainan. Bisikan yang entah datang dari mana. Yang jelas bisikan itu mengatakan tentang kelemahan jurus 'Tarian Bidadari'. tetapi pandanglah matanya. mendadak sebuah blsikan lembut terdengar di telinganya. Tapi apakah mampu menahan napas sambil bertarung? Kalau hanya sepuluh jurus saja dia masih mampu. racun bakal terhisap lagi! Untuk menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni juga terlalu besar resikonya. Di saat Patih Giling Wesi dalam kebingungan. menahan napas!" bisik hati Patih Giling Wesi. Dalam hati Patih Giling Wesi mengatakan bahwa tidak mungkin bertarung sambil menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni. rasanya tidak mungkin. Patih Giling Wesi membuka lagi jalan darahnya setelah terasa racun yang terhisap tadi telah keluar dari tubuhnya.Secara tidak l angsung. "Jalan satu-satunya harus menahan panas. Patih Giling Wesi tidak dapat berpikir lebih banyak lagi.

.Arahkan pedang pada pusarnya. sering luput dari perhatian. Sedangkan pada bagian perut yang terbuka. Cukup besar sayatan menggores bajunya. Hatinya gembira. Dia sudah mulai merasakan kalau Saka Lintang menemui kesulitan. Cepat-cepat ditutupinya bagian yang terbuka itu. patih itu segera menatap mata Saka Lintang. Rupanya gerakan-gerakan lemah lembut Saka Lintang harus dihadapi pula dengan gerakan yang lemah sedikit kaku. Kian lama gerakannya menjadi kacau. Hembuskan melalui mulut. Saka Lintang segera melompat mundur. Setiap gerakan Saka Lintang selalu dapat dibaca olehnya." bisikan itu terdengar lagi. Patih Giling Wesi makin gembira karena merasa di atas angin. Saka Lintang mulai sulit menebarkan racun lewat pukulannya. baru dua petunjuk saja. Dia jadi geram karena kelemahan jurus andalannya terbaca lawan. Mudah dan sederhana sekali petunjuk yang diberikan sehingga Patih Giling Wesi dengan cepat memahaminya. Tanpa ragu-ragu lagi. Pedangnya terhunus ke arah pusar. Bahkan beberapa kali ujung pedang Patih Giling Wesi hampir menembus perutnya. Merah pada wajah gadis itu menahan malu. Dan benar saja." terdengar lagi bisikan itu. Untuk bisa melakukannya. digunakan pernapasan perut di samping memandang mata lawan. tidak beraturan. kelihatan Saka Lintang mulai kebingungan. "Ikuti setiap gerak kakinya." jelas bisikan itu. "Ih!" Saka Lintang terkejut ketika ujung pedang patih itu berhasil merobek baju bagian perutnya. Semangat timbul lagi. Mungkin karena lawan telah terpengaruh oleh gerakan-gerakan yang mengundang syahwat itu. Namun semuanya tertutupi oleh gerakan-gerakan lemah gemulainya. Patih Giling Wesi segera bergerak mengikuti setiap gerakan kaki Saka Lintang. "Pusatkan napas pada perut.

Dia bukan lawanmu. "Huh! Ilmu setan mana lagi yang digunakannya?!" dengus Patih Giling Wesi. Gerakan-gerakan yang diperlihatkan memang aneh. Tingkat kepandaiannya memang sulit diukur... "Bedebah! Kakek busuk. Mulutnya mendesis bagai ular. Kemudian muncul seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah di tangannya. "Ular harus dilawan dengan tongkat!" kata kakek tua yang tidak lain adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah atau Aki Lungkur.!" Suara terkekeh tiba-tiba terdengar menggema dari segala penjuru. "Keluarkan seluruh kesaktianmu. tetapi segera berubah cepat. "He he he. "Selamatkan putrimu di bukit Guntur. biar lebih cepat kau kukirim ke neraka!" dengus Patih Giling Wesi. Kini disiapkannya jurus andalannya yang terakhir. "Adi Patih Giling Wesi. jangan campuri urusanku!" .. Saka Lintang kali ini memang menelan pil pahit. Seketika dia menduga kalau kakek tua inilah yang membisikkannya tadi." kata Aki Lungkur tanpa mengecilkan kepandaian patih itu. Patih Giling Wesi sangat menghormatinya meski dia hanya seorang yang lebih mirip pengemis. Dia sudah tahu siapa kakek tua itu. "Aki Lungkur. Jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Kadang lambat. kemudian merayap cepat menyusur tanah." kata Aki Lungkur lagi. Saka Lintang hanya mendengus saja." desis Patih Giling Wesi. Dalam menghadapi Patih Giling Wesi. Sebentar dia melompat.. Patih Giling Wesi pun mundur dua tindak. Dia sama sekali tidak tahu kalau patih itu mendapat petunjuk dari bisikan misterius yang hanya dapat didengar oleh patih itu sendiri..hingga jadi lupa terhadap daerah lowong itu. mundurlah.

"Hm. Ah... Patih Giling Wesi segera berangkat.. Bersama prajuritprajuritnya dia menuju bukit Guntur.. Saka Lintang segera memerintahkan anak buahnya menghalangi para prajurit Kepatihan itu. Telinganya yang tajam menangkap suara gerak langkah kaki tersembunyi. Dia tahu kalau dirinya telah memasuki daerah markas Bidadari Sungai Ular." kembali Rangga . Seorang gadis. Tentulah kepandaiannya tidak bisa dianggap enteng. mungkin rumah itu sarangnya.. Dan kini telah mengepung dirinya. Bibirnya menyungging senyum.. Aki Lungkur tahu siapa lawan yang dihadapinya kini.. "1.." Aki Lungkur terkekeh lagi.. Kepalanya tergeleng-geleng begitu mendengar suara berkeresek. "Cepatlah berangkat! Jangan buang-buang waktu lagi.. Aki. Terbukti Patih Giling Wesi tidak mampu menandinginya. si Pendekar Rajawali Sakti. Tanpa mendapat peringatan pun. Rangga terus melenggang.bentak Saka Lintang geram. seorang pemuda berbaju rompi putih berjalan menelusuri kaki bukit Guntur sambil bersiul-siul." gumam Rangga menghitung. Rangga masih melenggang tenang. "He he he.." kata Aki Lungkur tanpa mempedulikan bentakan Saka Lintang." sahut Patih Giling Wesi. hanya 15. Sambil bersiul-siul dengan irama yang tak jelas. Dari gagang pedang yang menempel di punggungnya dapat diketahui kalau pemuda itu adalah Rangga. anak angkat Geti Ireng. mereka langsung menyerang para prajurit yang belum pergi jauh itu. 2. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu. "Baik. Tanpa dikomando lagi.. Suara siulannya berhenti... Hati-hatilah. *** Pada waktu yang bersamaan. 3..

Rangga hanya tersenyum saja. Jambak jadi gusar karena kata-katanya tidak digubris sama sekali. Digenjot kakinya. kembali! Atau tubuhmu kujadikan dendeng!" ancam Jambak. segera memerintahkan . "Berhenti!" bentak salah seorang dengan keras. Seketika empat belas orang temannya dengan cepat mengurung Rangga sambil berteriak-teriak mengacungkan senjata. Namanya Jambak. Ayo. Kelima belas orang itu hanya melongo. Tidak terlalu sulit untuk mencapai sana. 'Tidak ada seorang pun yang boleh memasuki kawasan ini!" kata Jambak galak." jawab Rangga kalem. Rangga melayang menuju rumah kayu di tebing bukit. kenapa?" Rangga berlagak dungu. mendadak dari rimbunan semak-semak bermunculan orang-orang berpakai an serba biru dengan senjata terhunus. Diayunkan langkahnya. Tanpa peduli Rangga meneruskan perjalanannya. dan dengan cepat tubuhnya melenting di udara.bergumam ketika melihat sebuah rumah kayu di depannya. Bagaikan terbang saja. "Aku hanya pengembara dan kebetulan lewat sini. "Wuih! Sadis sekali." Rangga berlagak kaget. Rangga hanya tersenyun. Dia salah seorang kepercayaan si Bidadari Sungai Ular. Jambak yang memiliki kepandaian cukup tinggi. "Teman-teman. serang keparat ini!" perintah Jambak. Namun tebasan pedang itu hanya mengenai angin. "Waduh. "Siapa kau? Apa maksudmu datang ke sini?" tanya orang yang membentak tadi. Rumah beratap rurnbia itu bertengger di kaki lereng yang cukup terjal. Pedangnya terayun cepat mengarah kepala Rangga. galak sekali. Dan. "Jangan banyak tanya. "Lho." "Pergi!" bentak Jambak keras. Dia segera melompat dengan ilmu peringan tubuhnya.

Rangga masih sempat melirik ke arah pintu rumah yang terbuka. Rangga sedikit terpana melihat kecantikan wanita yang tidak lain adalah Intan . Dia sendiri berlompatan dengan bantuan ilmu peringan tubuhnya. Rangga bagai seekor belut. Tombak itu telah berpindah tangan. Selesai ucapannya. sehingga kening orang itu bolong! Kini dengan tombak di tangan.. "Hm. Dia hanya meliuk-liukkan tubuhnya tanpa menggeser kaki sedikit pun. Denting macam. Licin dan berkelit ke sana kemari menghindari segala bentuk serangan yang datang bertubi-tubi. semua serangan Jambak hanya dianggap main-main saja. Macam-macam bentuk senjata bertebaran mengepung tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Rangga hanya berkelit menghindari tebasan pedang yang datang bagai air bah itu. Rangga tidak lagi kewalahan. dan menggiurkan. tangan Rangga bergerak cepat. Dan tibatiba muncul seorang wanita muda. Kaki Rangga baru bergerak jika datang serangan lain secara keroyokan. Dan kini orang itu telah ambruk tak berkutik. "Maaf. Sangat keras totokannya. mengenakan pakaian merah muda dari bahan sutra halus di depan pintu.macam senjata beradu dengan tombak di tangan Rangga. Namun sampai sejauh ini. pinjam tombakmu!" kata Rangga kalem. Jambak yang datang lebih dulu dari teman-temannya dengan cepat menyerang ganas.teman-temannya mengejar. Namun bagi Rang-ga. Dalam keadaan dikeroyok seperti itu. Rupanya Rangga menggunakan satu jarinya untuk menotok kening orang itu. kalian hanya kronco!" dengus Rangga begitu kakinya menjejak tanah di depan rumah kayu itu. Darah menguncur deras dari keningnya yang bolong.. cantik. Sekejap saja seorang dari pengeroyoknya yang menggenggam tombak terhuyung ke belakang. belum ada satu pun senjata yang berhasil menyentuh tubuhnya..

Sebentar saja sudah delapan orang yang telah mengantar nyawa. dapat ditebak kalau orang itu wanita. Darah segar segera mengucur dari dada yang robek itu. Namun dia tidak dapat memperhatikan lebih lama lagi. "Bagi dua!" teriak Bayangan Hitam. Mereka semua menyandang pedang di punggung. Siulan itu menggema dipantulkan oleh bukit-bukit batu dan lembah. "Dia coba-coba menggerogoti lumbung. Hatinya bergetar juga. Dua orang kini terhuyung sambil menekap dada. Lebih-lebih setelah mendengar l agi suara jeritan panjang melengking. Terdengarlah siulan yang panjang dan melengking tinggi. disusul am-bruknya dua orang lagi.Kemuning. "Jambak.. Tubuh-tubuh bermandikan darah mulai bergelim-pangan. . "Cukup!" Tiba-tiba terdengar bentakan keras melengking." "Huh! Lalu di mana Gusti Putrimu?' "Menghadang perusuh di sungai Ular. Jambak merasakan lawannya bukan tandingan mereka semua. "Bayangan hitam. Sebentar saja sesosok tubuh kurus tinggi berbalut baju hitam ketat telah berdiri di tengah-tengah lapangan depan rumah kayu itu. Rangga kini sibuk menghadapi para pengeroyoknya yang semakin ganas." Si Bayangan Hitam mendongak seraya memonyongkan bibir. siapa tikus itu?" tanya Bayangan Hitam. Pekik kematian kini terdengar saling susul. lalu ambruk tidak berkutik lagi. Rangga menggerakkan tombaknya semakin cepat.!" seru Jambak gembira melihat berkelebatnya sebuah bayangan. Belum lagi kering darah itu. Dari raut wajah yang panjang kurus.. Serentak dari balik-balik pepohonan muncul sekitar dua puluh orang berpakaian serba hitam. menyusul dua orang terhuyung-huyung lalu ambruk.

*** Bayangan Hitam bukan orang lain bagi Saka Lintang. Rangga sudah dapat mengukur tingkat kepandaian perempuan kurus ini. Benar-benar suatu kebetulan. Dia adik kandung Geti Ireng. Secercah harapan muncul dan terbias di wajah mereka melihat kehadiran Bayangan Hitam. Lagi pula. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti. Dari sekilas pandang saja. "Namaku tak ada artinya buatmu. Semangat mereka timbul kembali setelah hampir diporak-porandakan. namun dia sama sekali tidak membenci Bayangan Hitam. Jadi Bayangan Hitam adalah bibi angkatnya. ayah angkat Saka Lintang. Jambak cepat memberi isyarat pada salah satu kelompok Bayangan Hitam. Bantu Gusti Putrimu!" perintah Bayangan Hitam." jawab Rangga. "Sebutkan namamu sebelum kau kukirim ke neraka!" . Mereka semua tahu siapa Bayangan Hitam. bawa satu kelompok orangku. Wanita kurus ini sangat baik terhadap Saka Lintang. "Sombong!" dengus Bayangan Hitam sedikit gusar. Sisa empat orang teman-teman Jambak masih terdiam di tempatnya. Bayangan Hitam tidak pernah ingin ikut campur dalam urusan Geti Ireng. anak muda?!" tanya Bayangan Hitam. "Oh. Dia adalah seorang tokoh sakti yang tangguh dan sukar dicari tandingannya. Bayangan Hitam datang membawa anak buahnya. Dari julukannya. Meski Saka Lintang telah mengetahui asal-usulnya. terima kasih" Jambak membungkukkan tubuhnya. "Jambak. Episode: Iblis Lembah Tengkorak) "Siapa kau. dapat dipastikan kalau tokoh ini dari aliran hitam.Tanpa banyak omong. orang-orang yang baru bermunculan itu segera membentuk dua kelompok. Segera mereka berlari menuruni lereng bukit menuju sungai Ular.

Wajahnya tampak berubah merah. "Aku tidak peduli! Yang jelas kau harus bayar nyawa saudaraku!" Rangga yang sudah mengukur kepandaian Bayangan Hitam tidak sungkan-sungkan lagi. Lebih-lebi h setelah menyaksikan sepak terjangnya yang dengan mudah merobohkan sepuluh orang dalam satu jurus yang diulangulang terus. karena dia membantai keluargaku!" lantang dan mantap suara Rangga. Kelihatannya dia telah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. untuk apa perempuan kurus atau Bayangan Hitam itu muncul. pasti tingkat kepandaiannya tinggi sekali. terkejut. Dia segera mencabut pedangnya ketika Bayangan Hitam telah siap dengan . Tak disangkasangka dia bertemu dengan pembunuh kakak laki-lakinya. Kini dia mengerti sudah. "Kebetulan kau muncul. Tapi diam-diam Intan Kemuning tertarik juga melihat ketampanannya. "Aku datang untuk mengambil Putri Intan Kemuning!" Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu rumah kayu. "Aku membunuh saudaramu. Apalagi si pem bunuh itu masih muda dan tampan. Kalau anak muda ini dapat membunuh Iblis Lembah Tengkorak."Aku Pendekar Rajawali Sakti. Mendengar namanya saja. bagaimana mungkin aku berhutang nyawa padamu?" "Kau membunuh saudara laki-lakiku! Kau harus bayar dengan nyawamu!" "Siapa saudaramu?' "Geti Ireng atau Iblis Lembah Tengkorak!" Rangga mengerutkan keningnya. baru kali ini. Bukan hanya Intan Kemuning yang terkejut Ternyata Bayangan Hitam pun kaget setengah mati. "Bertemu saja baru kali ini. bocah setan! Kau berhutang nyawa padaku!" ujar Bayangan Hitam." lantang suara Rangga. Dia tidak kenal dengan pemuda tampan itu.

Sedangkan pedang Bayangan Hitam menderu-deru menimbulkan hawa panas. Mereka telah saling berhadapan. Bibirnya mengulum senyum. Kini dia mengeluarkan jurus andalannya juga. Dirasakan tangannya kesemutan ketika pedangnya beradu. anak setan!" geram Bayangan Hitam sambil membuang pedangnya begitu saja. Sebentar saja sepuluh jurus telah berlalu. Jari-jari tangannya seperti kaku.pedangnya. Kian lama pertarungan kian seru. Yang kelihatan hanya bayangan hitam. Sementara Rangga tidak bergeming sedikit pun. "Keluarkan ilmu kesaktianmu. putih. Dia pun bersiap-siap mengerahkan jurus 'Cakar Rajawali'. bisa jadi tangan kanannya pisah dari badan terbabat pedang Rangga. Trang! Dua pedang beradu menimbulkan pijaran bunga api. Bayangan Hitam segera melompat mundur satu tombak. Bayangan Hitam pun tak kalah siapnya. Rangga tidak merasakan apa-apa waktu pedangnya berbenturan tadi. satu jurus andalan tingkat pertama. Sinar hitam menggulung-gulung bagai asap tebal. Pedangnya melintang di depan dada. Pedang Rangga berputar-putar berkelebat memancarkan sinar biru yang menyilaukan. Sret! 'Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam. Dua sinar berbeda saling sambar dengan hebat-nya. . tapi sinar matanya tajam menatap lurus Bayangan Hitam. Kalau saja Bayangan Hitam tadi tidak melompat. Bayangan Hitam segera menyerang Rangga dengan jurus-jurus pedang yang dahsyat Sekejap saja mereka telah bertarung dengan jurus-jurus pedang tingkat tinggi. Rangga segera memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. takjub. Kini tubuh mereka tidak terlihat jelas. "Edan!" dengus Bayangan Hitam melihat ujung pedangnya buntung. dan biru saling berkelebat Semua yang ada di situ melongo.

Debu mengepul di udara disertai angin yang menderu-deru bagai terjadi topan.!" desis Rangga memuji dengan tulus "Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam.. Tubuhnya . kadang menukik "Akh!" Tiba-tiba Bayangan Hitam memekik kesakitan. Seketika Bayangan Hitam merubah jurusnya. Kedua tangan yang selalu mengembang bagai sepasang sayap itu menyambarnyambar mengikuti gerakan tubuh Rangga yang kadang melayang. Kini hanya dua bayangan hitam dan putih berkelebat. "Hebat. Sulit diiihat denjan mata biasa. karena kaki-kaki Rengga saling susul mengarah kepala. Kakinya bergerakgerak lincah mengimbangi gerakan Bayangan Hitam yang sangat cepat. Bayangan Hitam sampai terperanjat. tubuhnya berar-benar seperti bayangan saja. Rangga mengerutkan keningnya ketika merasakan angin sambaran pukulan yang sangat dahsyat. Kedua tangainya menyambar-nyambar menimbulkan deru angin kencang. Rangga pun segera merubah jurusnya menjadi 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. "Glaaar. Kedua kaki Rangga kini tidak lagi menjejak tanah. Rangga berdecak kagum melihat kedahsyatan pukulan Bayangan Hitam."Bersiaplah!" Bayangan Hitam segera menggebrak setelah selesai memberi peringatan. Pertarungan dua tokoh sakti itu kembali berlangsung..!" Suara ledakan keras terdengar ketika tangan Bayangan Hitam menghantam batu. Kin dengan jurus 'Bayangan Maut'. Kedua tangan Rangga mengembang.. Beberapa pohon tumbang terkena sambaran angin pukulan Rangga.. Kedua kaki Rangga makin bergerak cepat. Seketika batu itu hancur berkeping-keping menyebar ke segala penjuru.

Yang tersisa hanya delapan orang saja. tapi tidak bisa lagi menarik pundaknya. Denting senjata bercampur dengan jerit kematian. Patih itu mengamuk terus. Bibi Bayangan Hitam datang!" teriak Jambak. Dia berusaha menghindari kepala. *** Sementara di sungai Ular.. Mereka penasaran karena belum bisa menggoreskan pedang ke tubuh Rangga. Sedangkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya menghadapi anak buah Bidadari Sungai Ular. Setiap pedangnya berkelebat selalu menimbulkan korban. Saka Lintang tidak mungkin membantu orang-orangnya. tibatiba muncul sepuluh orang berpakaian serba hitam dipimpin oleh Jambak. Prajurit Kepatihan yang dipimpin Patih Giling Wesi itu kini berada di atas angin. Serentak sepuluh orang berpakaian serba hitam bergerak menyerang Rangga. Bayangan Hitam mengeram menahan sekit yang luar biasa karena menyadari tangan kirinya tidak bisa digerakkan lagi. Saat gerom bolan perom pak itu makin terdesak. Dia sendiri kewalahan menghadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah. Saka Lintang bertarung dengan Pengemis Sakti Tongkat Merah.. Saka Lintang berseri-seri wajah nya.terhuyung dua tombak. 'Tuan Putri. Tanpa dapat dihindari lagi. Tulang pundaknya patah sehingga sulit digerakkan lagi. "Serang. Empat orang anak buah Bidadari Sungai Ular yang tersisa membantu mengeroyok Rangga. pertempuran masih berlangsung sengit. kaki Rangga berhasil mengenai pundaknya. Makin lama orang-orang berpakaian serba biru semakin berkurang jumlahnya. Semangatnya segera .!" teriak Bayangan Hitam keras melengking. "Kurang ajar!" geram Rangga sengit.

Kini keadaannya jadi berbalik. "Cepat ke bukit Guntur! Selamatkan putrimu!" perintah Kakek Pengemis itu.. Saka Lintang mendekati Jam bak yang tengah mengeroyok Kakek Sakti Tongkat Merah. Saka Lintang segera melompat keluar dari pertarungan ketika ada kesempatan. 'Tengah menghadapi Pendekar Rajawali Sakti.. Bagaikan kilat tubuh patih itu dan kini sudah jauh meninggalkan pertempuran. Lima orang membantu anak buah Saka Lintang. "Di mana Bibi Bayangan Hitam sekarang?" tanya Saka Lintang di sela-sela pertarungan. Begitu kakinya menginjak tanah. "Biar orang-orang ini aku yang hadapi!" Patih Giling Wesi segera melompat tinggi dan bersalto di udara. lalu berteriak nyaring. "Lalu. Satu persatu orang-orang berpakaian serba hitam tersungkur berlumuran darah disertai jerit kesakitan.?" Saka Lintang terkejut. Tubuhnya mencelat tinggi di udara dan jatuh tepat di samping Patih Giling Wesi. Apalagi melihat anak buah Bayangan Hitam ikut bertempur. Pengemis Sakti Tongkat Merah mengamuk memutar-mutar tongkat saktinya. Dengan cepat dia berlari menggunakan ilmu peringan tubuh. . "Apa. Pengemis Sakti Tongkat Merah mendengar hal itu merasa bersyukur karena Pendekar Rajawali Sakti telah sampai di sarang gerombolan Bidadari Sungai Ular. Orang-orang dari Bayangan Hitam lebih tinggi tingkat kepandaiannya dan lebih ganas dalam bertarung. langsung dikeluarkannya ilmu lari cepat. lima orang lagi membantu mengeroyok Pengemis Sakti Tongkat Merah. "Berada di markas!" sahut Jambak." jawab Jambak. bagaimana Intan?" tanya Saka Lintang dengan cemas.bangkit mendengar Bayangan Hitam ikut membantu. Pengemis Sakti Tongkat Merah yang sejak tadi mendengar.

. Mata Rangga tajam mengamati gerakan sepuluh orang yang berputar mengelilinginya sambil pedangnya tersilang . Perintah Jambak seperti tertelan angin. Aki Lungkur bergerak cepat menyambar setiap orang yang berusaha keluar dari medan pertarungan. "Jangan membantah!" dengus Aki Lungkur. Sementara Kakek Pengemis kian waspada. Rangga mencabut pedangnya dan mengerahkan ilmu pedangnya yang dipadu dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Empat orang ber-pakaian biru keluar dari arena. Kini jumlah mereka makin berkurang saja. Tongkatnya seperti hidup menyambar. Jambak memutar otaknya mencari jalan agar sebagian temannya bisa keluar dari pertarungan.Mereka bukanlah lawan Pengemis Sakti Tongkat Merah. "Rantai Bayangan!" teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. sedangkan pedangnya berkelebat ke arah tubuh lawan yang kosong. Jurus ke-tiga dari rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'.nyambar mencari mangsa. Seketika sepuluh orang mengambil posisi melingkar mengepung Rangga. Kakek sakti menebas tongkatnya sehingga satu persatu bergelimpangan. Di markas gerombolan Bidadari Sungai Ular. "Cari kesempatan! Kejar mereka!" teriak Jam bak gusar. 'Tapi. Rangga mengamuk menghadapi Bayangan Hitam yang dibantu oleh kaki tangannya. Ki.!" seorang prajurit tidak tega meninggalkan orang tua itu sendirian. Gerakan kakinya lincah menghindari setiap serangan lawan. Mereka seperti menghadapi seribu pengemis. Delapan prajurit Kepatihan itu langsung beriari menyusul pemimpinnya.. selalu menghalangi setiap orang yang akan mengejar para prajurit. pertarungan masih berlangsung sengit. "Cepat susul Gustimu!" teriak Aki Lungkur kepada para prajurit.

mereka bekerja sama dengan gerakan-gerakan yang teratur dan menunjang. Seperti mata rantai. Gencar sekali. Makin lama makin cepat Yang terlihat kini hanya bayangan hitam yang bergerak melingkar. Pedangnya dimasukkan ke dalam sarungnya di punggung. Ternyata teriakan-teriakan itu hanya untuk memecah konsentrasinya. Rangga tidak akan menggunakan senjata jika lawan tidak pula menggunakannya. Trang! Trang! Trang! Kepingan-kepingan logam pedang yang patah meluncur deras ke arah orang-orang berpakaian serba hitam yang kebingungan. Sedangkan yang selamat hanya memegang pedang yang tinggal setengah saja. Serangan-serangan itu sulit ditebak.. Dengan serentak sisa anak buahnya mengeluarkan sebuah bola besi berwarna hitam yang bergigi runcing di sekelilingnya dan dihubungkan dengan rantai halus . Pedang mereka terkena sambaran pedang biru menyilaukan.!" Rangga kebingungan juga menghadapi pola serangan yang ganjil ini. datang dari segala penjuru secara berganrJan. Tiba-tiba dia menjerit kuat sekali. “Bola Rantai Hitam!” teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. Mata Rangga tidak lepas mengamati setiap serangan yang datang. "Bedebah! Kurang ajar!" Bayangan Hitam menggeram melihat empat anak buahnya roboh hanya sekali gebrakan saja. Dengan gerakan manis.. Tetapi dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti dapat menguasai diri.. Rangga mendarat di tanah.. "Hiya! Yeah.di depan dada. "Aaaakh. Tubuhnya berputar cepat bagai baling-baling.!" Beberapa tubuh yang tidak sempat mengelak langsung bergelimpangan dengan dada teriembus patahan pedang mereka sendiri menyusul jeritan kematian.

Rangga turun dengan manis. "Lepaskan!" teriak Bayangan Hitam. Keenam orang itu serentak melepaskan rantai... Dia segera menyerang Bayangan Hitam dengan gabungan tiga rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Sungguh hebat tenaga dalam Rangga. Rantai-rantai hanya terlihat beberapa jengkal saja. Suaranya menderu-deru bagai angin topan. Sebelum menjejakkan kakinya di tanah. Rangga membiarkan tubuhnya terbelit rantai-rantai dengan bola bergigi itu. dilontarkan oleh keenam orang itu.!" teriak Bayangan Hitam memberi komando. dia melesat ke udara bagai seekor rajawali.. Lima orang lainnya masih bisa menyelamatkan diri. "Bedebah!" geram Bayangan Hitam. "Aaaakh.berwarna hitam pula. Keenam orang itu segera membentuk lingkaran. mereka bersalto di udara. Dengan satu teriakan melengking. "Serang.. Tangan mereka memutar-mutar rantai panjang dengan bola-bola bergigi di ujungnya.!" seorang dari mereka menjerit keras. Kali ini dia tidak ingin lagi membiarkan lawan mengatur siasat. Seketika bola-bola itu menderu-deru silih berganti. dan hanya menggabung-gabungkan saja dengan berbagai kombinasi. Rangga yang masih berada di atas. Kelima anak buahnya . Tiba-tiba tubuh mereka terangkat ikut meluncur bersama Rangga yang semakin tinggi. Kepalanya hancur terhantam bola hitam miliknya sendiri. Rangga pun mengerahkan gabungan dari tiga rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Tentu Bayangan Hitam jadi kelabakan. Apa-lagi sebelah tangannya tidak bisa digerakkan. Dia masih menganggap belum perlu merubah jurus. dengan gerakan cepat mengumpulkan dan melemparkan rantai-rantai itu kepada pemiliknya. Bolabola besi lainnya menghantam tanah lalu melesak ke dalam.

Siapakah yang membentak itu? *** . Rangga kini dikeroyok sepuluh orang. Dilihatnya Saka Lintang berlari cepat dan segera melompat sambil menghunus pedang. Mereka segera menggelepar dengan kepala pecah. Dan tanpa terduga sama sekali. "Bibi... Bahkan lima orang anggota Bayangan Hitam telah jadi mayat. Seketika Saka Lintang terlibat dalam pertempuran pula.ditambah empat anak buah kelompok Bidadari Sungai Ular. Tiba-tiba saja empat pedang terlempar ke udara. Dia menggeram dengan gigi gemerutuk melihat semua anak buahnya tewas.. kaki Rangga melayang ke arah kepala. Dari mulutnya terus keluar umpatan dan cacian yang tidak berhenti. Begitu hebatnya suara bentakan tadi. Tapi hanya empat orang saja yang menggunakan senjata. Apalagi kini mereka tanpa senjata. sehingga pertempuran sekejap saja berhenti.. Bayangan Hitam pun kini hanya bisa bertahan tanpa mampu memberikan serangan balasan. Dengan cepat Rangga segera mengganti ketiga jurusnya sehingga lawan kebingungan.!" Bayangan Hitam menoleh. "Lepas!" sentak Rangga. "Mundur. Kraaak! "Aaaa.. langsung membantunya.!" tiba-tiba terdengar suara bentakan keras menggelegar.r!" Gerakan Rangga dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' begitu cepat sehingga keempat orang itu tidak bisa melindungi kepalanya.

" Saka Lintang gembira. "Paman. apa yang terjadi.. muncul seorang kakek tua berjubah merah.. Tepat saat kakinya menginjak tanah. Lintang?" tanya Nambi sambil mengamati mayat-mayat yang bergelimpangan. Terpaksa dia kini mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. . Kakek itu mencelat bersamaan dengan hancurnya pohon itu. Mereka sibuk mendirikan partai sendiri-sendiri.!" seru Saka Lintang... Banyak tokoh menduga kal au mereka tengah bentrok. Rangga kembali memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Dari pedang pun meluncur sinar biru bergulunggulung.Seberkas sinar merah meluncur deras menyambar Rangga. Belum sempat menjejakkan kakinya ke tanah. Dia dikenal dalam rimba persilatan dengan nama Setan Jubah Merah. Kini pedang itu terarah pada sebuah pohon besar. Mata Rangga yang tajam cepat mengetahui dari mana datangnya sinar merah itu.. Dengan sigap Pendekar Rajawali Sakti itu melompat menghindari sinar merah yang datang tiba-tiba itu. Hanya kemunculan mereka saja yang tidak selalu bersamaan. Rangga telah disibukkan dengan sinar merah yang datang lagi.. "Hm. untung paman cepat datang. Rangga cepat mengibaskan tangannya. Blar.! Pohon besar itu hancur berkeping-keping tersambar sinar biru. sehingga mereka tidak hiraukan status suami istri. Sampai sekarang pun mereka masih suami istri. Tokoh ini beraliran hitam dan dulunya merupakan suami Bayangan Hitam. Seorang tokoh tua sakti bernama Nambi muncul di tengah-tengah arena pertarungan. dengan seketika dia telah menggenggam pedangnya. Hanya saja watak mereka yang terbiasa malang melintang di rimba persilatan.. "Paman Nambi.

"Hati-hati. Nambi memandang pada istrinya. Patah! Mendadak hatinya panas." jawab Saka Lintang. (Untuk lebih jelas. Tetapi tak diduga sama sekali akibatnya jadi demikian. Bayangan Hitam. Setan Jubah Merah melom pat cepat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Matanya agak menyipit melihat ke arah pundak perempuan tua itu. Seketika hatinya bergetar. Seluruh anak buahnya mati. Saka Lintang memandang Rangga. "Sudah kuperingatkan. Saka Lintang melirik Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu." jawab Saka Lintang. paman. "Anak muda. Saka Lintang pasti mampu mengalahkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya. Setan Jubah Merah segera mengerahkan . Untuk kedua kalinya dia harus berhadapan dengan pemuda yang telah merobek-robek hatinya ini. Pundak itu melesak ke dalam. ini adal ah kesalahannya. "Dan kau tidak mampu mengatasinya?" Saka Lintang hanya tertunduk saja. hadapi aku!" bentak Setan Jubah Merah. Mungkin kalau Pengemis Sakti Tongkat Merah tidak ikut campur. Namun bibit dendam dan kebencian juga bertumbuhan. Kakang!" Bayangan Hitam memperingatkan. Tapi sekarang? Apal agi Pendekar Rajawali Sakti ikut membantu. Pertempuran sengit tidak dapat dihindari lagi. Maksud Saka Lintang hanya ingin merubah Intan Kemuning menjadi seorang pendekar wanita."Perkumpulanku dihancurkan. Ada nada kesedihan daiam suaranya. Masih saja membandel!" tegur paman angkat Saka Lintang. silahkan baca Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Iblis Lembah Tengkorakl "Siapa dia?" tanya Nambi atau Setan Jubah Merah. Benih-benih cinta kembali muncul. "Pendekar Rajawali Sakti. jangan cari perkara dengan pihak kerajaan. Dia sadar.

"Bersiaplah. Jari-jari tangan Rangga berhasil menusuk pangkal lengan kiri Nambi. baiklah! Maafkan. Setiap pukulannya mengandung hawa racun yang mematikan. Jurus tangan kosongnya sangat dahsyat. Tapi semua itu tidak berpengaruh terhadap Rangga. Nambi mengemerutukkan gerahamnya. Dengan cepat dia mengimbanginya. Hati kecilnya berkata kal au dia merasa salut terhadap anak muda itu. Dia sempat mendengar permintaan maaf Rangga sebelum melancarkan serangan. Pemuda itu tidak congkak. Kakek!" sahut Rangga dengan hormat Nambi terdongak mendengar kata-kata Rangga. Kek!" Rangga menyalurkan seluruh tenaga ke kedua telapak tangannya.jurus-jurus andalannya. Nambi sedikit terperangah. pertarungan pun menjadi sengit. Dia hanya mengukur tingkat kepandaian lawan. Lalu digerakkan tangannya yang makin lama makin cepat. Kini Rangga menghadapi lawan dengan jurus 'Cakar Rajawali'. "Serang aku!" teriak Nambi. Dia terhuyung satu tombak ke belakang. "Kalau itu keinginanmu. Hasilnya sungguh tak terduga . "Maaf!" seru Rangga. Rangga kebal terhadap segal a je-nis racun. Bahkan selalu merendah. Baru kali ini didapatkan lawan yang mau menghormat pada dirinya. "Bocah setan! Jangan salahkan aku jika sampai menurunkan tangan kejam!" geram Nambi sengit melihat Rangga hanya berkelit tanpa mem-balas serangan. Sudah menjadi sifatnya untuk tidak mengeluarkan jurus-jurus berbahaya sebelum dia mengetahui tingkat kepandaian lawan. "Akh!" Setan Jubah Merah memekik tertahan. Rangga tidak bermaksud memandang enteng lawan. Dengan jurus ini. Seketika jari-jari tangannya meregang kaku. Darah mengucur deras dari pangkal lengan yang bolong dua jari itu.

Pendekar Rajawali Sakti segera menggabungkan jurus 'Cakar Rajawali' dengan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'.. Setan Jubah Merah menggeram menahan marah. Begitu cepat perubahan jurus yang dilakukan Rangga. bocah setan!" teriak Nambi. Saka Lintang pun tidak ingin ketinggalan. Rangga mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' lalu disusul dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. kemudian diam tak bergerak l agi.. Kini Rangga berhadapan langsung dengan tiga orang tokoh yang memiliki kepandaian yang luar biasa.!" jerit Bayangan Hitam cemas melihat darah mengucur dari lengan suaminya.. "Aaaakh. Dia tidak lagi memandang perasaan cintanya pada Rangga.. Sementara pertarungan sengit berlangsung. Dia menggelepar-gelepar dengan kepala hancur. "Bibi. Kaki Rangga telak bersarang di kepala Bayangan Hitam. Sedangkan Saka Lintang mengerahkan jurus 'Pukulan Geledek'nya. "Kubunuh kau. Kemarahan dan dendamnya sudah sampai ubun-ubun. segera ikut mengeroyok Rangga.!" Bayangan Hitam menjerit kesakitan. lima orang . Secepat kilat Setan Jubah Merah menyerang dengan jurus-jurus mautnya.!" Saka Lintang memekik kaget. sehingga Bayangan Hitam tidak dapat menguasai diri lagi.. Kembali Pendekar Rajawali Sakti harus melayani serangan beruntun Bayangan Hitam. Sasarannya kini ke arah Bayangan Hitam. Lengan Nambi bolong oleh tusukan jari-jari Rangga. Setan Jubah Merah yang telah berhasil menghentikan darah dengan totokannya.sekali.. Mereka segera mengeroyok Rangga. Posisi Rangga kian terdesak oleh serangan yang beruntun. Bayangan Hitam langsung melompat menyerang Rangga. "Kakang. Sementara Saka Lintang kembali menyerang dengan jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'.

Melihat kecantikan Intan Kemuning.." gertak laki-laki itu.. jangan!" *** . "He he he. Mata orang itu liar merayapi wajah gadis cantik di depannya.. "Ah. ternyata kau punya isi juga. "Ih!" Intan Kemuning menepis tangan laki-laki yang terulur hendak menjamah. "Ah!" Intan Kemuning kaget ketika tiba-tiba seseorang telah ada di depannya." orang itu menyeringai. seketika nafsu birahinya bangkit. "Kau yang menjadi gara-gara. Jakunnya turun naik menahan gejolak birahi yang bergelora dalam dada.anggota Bayangan Hitam yang tersisa menyeret gurunya ke tempat yang lebih baik Tetapi salah seorang dari mereka. Liumya tertahan. "Mau apa kau?" Intan Kemuning bergidik. kebetulan melihat Intan Kemuning yang belum beranjak dari pintu pondok. sekarang aku minta bayaran darimu.

Intan Kemuning terus meronta-ronta sambil menjerit-jerit. Kini bagian dada yang membukit indah terbuka.!" Intan Kemuning memekik ketika tangan lakilaki yang menindihnya.. merobek bajunya. Rasa panik dan ketakutan yang amat sangat membuat dia lupa segalanya. 'Tidak. Bahkan empat laki-laki anggota Bayangan Hitam lainnya telah mengelilingi serta menatap wajah dan tubuh yang indah itu... Di dalam pondok.! Lepaskan!" jerit Intan Kemuning putus asa. Dia meronta-ronta mencoba melepaskan diri. Mereka kini tidak peduli dengan mayat gurunya.. Segera mereka berlarian ke pondok. Laki-laki itu makin liar merejam tubuh Intan Kemuning. Keempat orang yang sebelumnya . Intan Kemuning jadi lupa kalau dia telah belajar dasar-dasar ilmu olah kanuragan. Bret! Lagi-lagi baju Intan Kemuning dirobek paksa. Tubuh Intan Kemuning seketika jadi polos. Intan Kemuning cepat menutupi bagian dadanya yang terbuka. "Auh! Lepaskan. Tangannya memukuli tubuh lelaki kasar yang telah menindihnya. Tangan-tangan kasar kini menelusuri bukit yang indah itu.6 Intan Kemuning makin kaget ketika orang itu telah menubruk dan memeluknya. Hanya bagian bawah saja yang masih tertutup.. namun seorang laki-laki lainnya maju dan menarik tangan Intan Kemuning.!" jerit Intan Kemuning. Tanpa menghiraukan jeritan. laki-laki itu menyeretnya masuk ke pondok Rupanya perbuatan salah seorang anggota Bayangan Hitam menarik perhatian empat orang lainnya. Lima pasang mata menatap ke a rah dada yang putih mulus tanpa berkedi p.. Bret! "Auuuh.

Pedang Patih Giling Wesi berkelebat cepat Seketika saja dua kepala telah terpisah dari tubuh. "Aaaakh!" kematian kembali terdengar. tidak bisa menahan diri lagi. Tepat ketika seorang laki-laki akan membuka bagian bawah pakaiannya. Intan Kemuning benar-benar putus asa. Mereka mendekat dan meraba-raba tubuh yang putih mulus itu. Brak! Pintu poridok yang tertutup. "Binatang!" Patih Giling Wesi segera menerjang marah. Melihat tiga orang temannya telah tewas. Pedangnya kian cepat berputar menyerang tiga orang laiki-laki itu.. Lima orang yang tengah dirasuki iblis itu terperangah. 'Tidak. Dia bersyukur karena kelima laki-laki itu belum sempat merenggut kehormatannya. Air matanya makin deras mengalir.. "Binatang! Mampus... jangan. hancur berantakan. Intan Kemuning cepat-cepat mengenakan pakaiannya kembali yang sudah tercabik-cabik itu. kabur... Dengan terpaksa mereka mel ayani hanya dengan tangan kosong karena tidak memiliki senjata lagi. tiba-tiba. Salah seorang dari tiga orang yang tersisa. Dari mulutnya keluar rintihan memohon belas kasihan. Tangan-tangan mereka makin liar menjelajah ke seluruh tubuh gadis cantik itu.. Darah segera membasahi lantai.hanya berdiri saja. Namun kelima orang sudah tidak peduli lagi. Air bening mulai menitik dari sudut matanya.!" Patih Giling Wesi yang hendak mengejar. Intan Kemuning berlari lalu menubruk . segera dua orang anggota Bayangan Hitam itu mendobrak dinding pondok. "Ayah. berbalik ketika putrinya memanggil. ambruk dengan dada tergores panjang dan dalam. Mereka hanya bisa berkelit saja. kalian semua!" teriak Patih Giling Wesi kalap.. Tiga orang lainnya segera melompat menyebar." rintih Intan Kemuning memelas.

Ayah." desah Patih Giling Wesi. "Ada apa." "Pemuda siapa?" "Oh!" Intan seperti tersadar. Bidadari Sungai Ular itu?" "Betul. 'Pemimpin perampok itu sangat baik.. Nduk?" tanya Patih Giling Wesi dengan suara tersendat. Mereka saling berpelukan menumpahkan seluruh air mata dan rindu. "Kau tidak apa-apa. Ditumpahkan segala kerinduan dan kegembiraan karena dapat berkumpul lagi. . "Tidak." "Lalu. orang-orang itu?" "Mereka bukan orang-orang Bidadari Sungai Ular. Pelan-pelan Patih Giling Wesi melepaskan pelukannya. Mereka orang-orang Bayangan Hitam. Dia baik sekali padaku.ayahnya." "Maksudmu." sahut Intan Kemuning. Malu. Intan?" tanya Patih Giling Wesi. Biar bagaimana pun juga. Pemuda itu kini menghadapi dua tokoh sakti. hatinya masih khawatir terhadap putrinya yang baru saja terbebas dari tawanan perompak itu. "Oh.." jawab Intan Kemuning tanpa melepaskan pelukannya. Ayah. "Pemuda itu. Jari-jari tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi Intan Kemuning. Kembali mereka terdiam sambil berpelukan." Seketika Intan Kemuning tersentak. "Mereka tidak ada yang menggangguku. syukurlah. Dia ingat kalau pemuda tampan yang telah menggetarkan hatinya tengah bertempur di luar. Sejenak ditatap putrinya. Ayah.. Dia mengangkatku sebagai adiknya. "Mereka tidak mengganggumu. Nak?" tanya patih itu masih diliputi perasaan cemas. Kakak Lintang selalu melindungiku.

Rasa haru dan gembira telah membutakan mata dan menulikan telinganya. namun Patih Giling Wesi lebih terpusat pada suara rintihan wanita di dalam pondok itu. Patih Giling Wesi seolah baru sadar kalau putrinya telah menjadi seorang gadis remaja. Tanpa disadari di a telah mencemaskan pendekar muda yang sejak tadi menarik perhatiannya." lembut suara Patih Giling Wesi.. Kini . apakah Intan Kemuning jatuh cinta? Apakah dengan pemuda tampan yang kini sedang bertarung melawan dua tokoh sakti itu? Kalau benar. Patih Giling Wesi mengikutinya. Sekelebat memang dia melihat pertempuran itu.Seketika kedua pipinya merah merona. sehingga tidak tahu ada pertempuran di luar. "Intan. Kepalanya tertunduk..... Dan ketika Intan Kemuning menyebut pemuda itu.. Mereka menyaksikan pertempuran antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah. Patih Giling Wesi tersenyum melihat Intan Kemuning tidak berkedip m enatap setiap gerakan Rangga. Pelan-pelan Intan Kemuning mengangkat kepalanya. Patih Giling Wesi terdongak begitu mendengar suara pertempuran di luar.. dan baru berhenti setelah berada dua tombak dari pondok. Patih Giling Wesi tersadar. siapakah pemuda itu? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak patih itu. Namun Intan Kemuning melangkah terus.. Dalam hati dia merasa kagum juga terhadap pemuda tampan itu. *** Pertempuran masih terus berlangsung di sungai Ular. Pendekar itu telah merebut sekeping hatinya.. Mereka berhenti melangkah di depan pintu yang sudah hancur." Patih Giling Wesi menggandeng anaknya ke luar pondok itu. Ah. "Ayo.

Layaknya kapas yang dihembus angin. Tak luput. Orang yang menguasai ilmu ini dapat meminjam hembusan angin untuk mendorong tubuhnya." gumam Aki Lungkur pelan.. Ironis sekali. Ujung tongkat Pengemis Sakti itu merobek-robek dada mereka.. Bau anyir darah telah mengundang anjing-anjing hutan untuk menyantap mayat-mayat yang bergelimpangan. 'Tidak disangka..!" Tiba-tiba terdengar suara terkekeh. Aki Lungkur menghentikan langkahnya. Aki Lungkur mengayunkan langkah menuju bukit Guntur.yang dihadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah hanya empat orang saja. Langkah yang kelihatan pelan. sebentar saja kakek tua itu telah jauh melangkah. Darah segar menyembur disertai jeritan kesakitan saling susul.. "Mudah-mudahan Pendekar Rajawali Sakti bisa mengatasi keadaan. Tempat yang indah dan menyejukkan itu." keluh Aki Lungkur . Suara itu jelas menggunakan tenaga dalam yang luar biasa. "Ah. tapi kenyataannya. Cukup sekali gebrak saja. kalian hanya membuang nyawa sia-sia. Keempat orang itu kini ambruk kehilangan nyawa. dibuat tidak berkutik. "He he he. burung bangkai pun telah berkeliling di angkasa minta bagian. Kakinya seperti tidak menapak tanah. Pengemis Sakti Tongkat Merah mau mengotori tangannya hanya untuk membantai cacing-cacing tanah. "Kasihan." terdengar suara mengejek. keempat orang yang memang tidak punya nyali lagi. Kakek Pengemis Sakti kembali terkekeh." gumam Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah. Bau anyir darah menyebar terbawa angin. "He he he. aku malas main petak umpet. kini jadi mengerikan. Mayat menyebar di mana-mana. Itulah ilmu 'Sayiti Angin' yang dikeluarkannya. Pelan-pelan kakinya meninggalkan tempat pembantaian itu.!" Pengemis Sakti Tongkat Merah terkekeh.

Minggir. tetapi sakit didengamya." dengus Aki Lungkur. "Ah." kata Pendeta Murtad yang nama aslinya Pradya Dagma... sudahlah! Aku tidak ada urusan denganmu.! Apa aku tidak salah dengar? Kapan kau punya keponakan!" "O. Pendeta Murtad." kata Aki Lungkur berusaha mengalah. Langkahnya baru tiga tindak. tiba-tiba di depan Aki Lungkur muncul seorang laki-laki gendut berkepala botak mengenakan jubah kuning. Kata-kata Aki Lungkur tenang diucapkannya. mengapa kau lari dari Lembah Tengkorak waktu itu? Kenapa tidak kau bantu keponakanmu? Itukah paman yang baik?" Merah padam wajah Pradya Dagma. "Aku rasa tanganmu tidak lebih bersih dari-pada tanganku. Pradya Dagma makin merasa terhina. Untaian tasbih tergenggam di tangan kanannya." "Dengan menghadang jalanku. Melihat hal ini. Aki Lungkur melangkah melanjutkan perjalanan tanpa peduli. aku tidak ada urusan denganmu.terus melanjutkan langkahnya. aku mau pergi!" dengus Aki Lungkur sedikit jengkel. "Heh! Rupanya kau cari penyakit?" "Kau yang cari kematian. Kau akan menambah kotor tanganmu saja. 'Tapi aku tidak pernah usil dengan urusan orang lain. Dengan cepat dia kembali menghadang." tenang sekali Aki Lungkur menyahut. kau sudah mencampuri urusan orang lain." 'Phih! Aku sengaja menghadangmu untuk mencegah agar kau tidak ikut campur urusan keponakanku!" "Keponakan? Ha ha ha. maka kau juga berurusan denganku!'' sahut Pradya Dagma. "Sudah kukatakan. "Aku rasa kau tidak perlu ke bukit Guntur. Aki Lungkur. "Rupanya kau. Kata-kata itu baginya adalah penghinaan yang luar biasa. Aki Lungkur!" . "Kalau kau mencampuri urusan Saka Lintang.

Terpaksa Aki Lungkur harus menghadapinya dengan hati. Lungkur!" sahut Pradya Dagma keras. Aki Lungkur sendiri sebenarnya tidak melayani meski pun Pendeta Murtad itu selalu cari perkara dengannya. Dia pun tak ingin mencampuri urusan Pradya Dagma meskipun tindakan dan perbuatan Pradya Dagma selalu merugikan orang lain. "Pradya Dagma. hentikan semua ketololanmu!" bentak Aki Lungkur gusar. Itulah sebabnya.Aki Lungkur mendelik. Tanpa dapat dicegah lagi. Antara Aki Lungkur dengan Pradya Dagma. Padahal setiap kali mereka bentrok. mengapa Aki Lungkur selalu menolak setiap tantangan Pradya Dagma. Pengemis Tongkat Merah melayaninya dengan setengahsetengah. Mereka sama-sama murid Resi Brahespati. "Jangan katakan aku kejam kalau kau kukirim ke neraka. Dia bersiap-siap ketika melihat Pendeta Murtad itu telah membuka jurus-jurus ampuhnya. rupanya Pradya Dagma masih menyimpan api dendam.hati. sebenarnya tidak ada urusan apa-apa. . Pendeta Murtad ini rupanya benar-benar ingin membunuhnya. Aki Lungkur selalu bersikap mengalah. terutama tasbihnya yang menjadi andalan. Sebab Pradya Dagma anak tunggal dari gurunya itu. "Aku tidak peduli kau melawan atau tidak!" Gigi Aki Lungkur beradu menahan geram. Dia masih memandang hormat pada Resi Brahespati. dua tokoh sakti berlainan aliran itu bertempur dengan sengit Diantara mereka berdua. Kelihatannya dia ingin membunuh Pengemis Sakti ini. Dia masih mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Pendeta Murtad itu telah melancarkan serangan-serangan berbahaya. Dia tidak mau mengakui keunggulan Aki Lungkur. Akibat suatu perselisihan. Padahal. sebenarnya masih saudara seperguruan. Dia tahu kalau Pradya Dagma sangat berbahaya.

" ujar Aki Lungkur masih berusaha mengalah. tiba-tiba datang serangan berikut. Setelah mereka saling pandang. "Kelakuanmu sudah melampaui batas. aku masih ada urusan yang lebih penting. Kedua tokoh itu mempergunakan jurus yang didapat dari sumber yang sama. Aki Lungkur terkejut. Dua tokoh sakti itu pun saling menyerang. dia telah berhasil mengejar disertai satu pukulan dengan tenaga dalam yang penuh. Pradya Dagma!" geram Aki Lungkur. jangan hanya bisa menghindar!" ejek Pradya Dagma. Mereka sama-sama telah mengenal jurus masing-masing. senang tinggal di neraka bersama iblis. Seketika pohon itu tumbang disertai suara gemuruh. Pukulan Pradya Dagma menghantam sebatang pohon besar. Dibukanya jurus 'Tongkat Sakti'. Dia pun segera mengerahkan jurus 'Tasbih Sakti'. "Kalau kau laki-laki. Dia segera membuang diri ke tanah. Aki Lungkur belum bersiap-siap. *** . maka menyusullah suara teriakan keras. Hanya beberapa kali lompatan saja."Maaf. Secepat itu pula. Segera dia melenting cepat. Aki Lungkur kembali bergulingan di tanah. dia melenting dan berdiri di tanah dengan kokoh. tunggu!" Pradya Dagma segera mengejar. Pradya Dagma terkekeh melihat Aki Lungkur mulai terpancing kemarahannya. "Hey." "Demi Resi Brahespati. Seluruh pikiran dan hatimu sudah tertutup iblis. "Kau memang sudah tidak bisa di beri hati.” "Kau pun akan. aku tidak menurunkan tangan kejam padamu!" Rupanya Aki Lungkur sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi.

kelihatan lebih unggul ketika memasuki jurus yang keseratus. Bahkan serangan-serangan balasannya tidak tanggungtanggung mengarah ke bagian-bagian tubuh lawan yang mematikan.Kali ini Aki Lungkur tidak main-main lagi. Dadanya terasa sesak. Jurus demi jurus berlalu dengan cepat. Tubuh pengemis tua itu terdorong dua tombak. Hatinya tetap tidak mengijinkan untuk melukai saudara seperguruannya ini. Jurusjurus yang mereka pergunakan juga beraliran sama. mungkin dada itu telah jebol. Mereka paham betul dengan kelemahan dan kelebihan jurus-jurus masing-masing. Timbul sifat mengalah dalam hati Aki Lungkur. Masing-masing belum ada yang terdesak. Hingga pada suatu saat.. Sedikit demi sedikit Pradya Dagma mulai kewalahan dan terdesak. Dibiarkan dirinya terdesak. maka Aki Lungkur mempergunakannya untuk membela yang lemah dan menumpas kejahatan. Kemauan saudara seperguruannya dilayani dengan sungguh-sungguh. Bahkan dia kelihatan tidak ada semangat lagi untuk melanjutkan pertarungan. Tapi Pradya Dagma sudah tidak peduli. Kaki Pradya Dagma berhasil menghantam dadanya. Jika Pradya Dagma mempergunakannya untuk maksud-maksud kejahatan. Lima jurus kini telah mereka lewati. Lungkur! Kau sengaja mengalah!" desis Pradya Dagma. hanya penerapannya yang lain. Aki Lungkur yang selalu memperdalam dan menyempumakan ilmunya. Aki Lungkur selalu membelokkannya. Tendangan Pradya Dagma telak. "Kau menghinaku. "Akhl" Aki Lungkur memekik tertahan.. Dia malah mempergunakan kesempatan itu untuk mendesak. disertai tenaga dalam yang hebat Kalau bukan Aki Lungkur. . Beberapa kali ujung tongkat itu hampir menyentuh tubuh Pradya D agma. Matanya berkunang-kunang.

Pradya Dagma memang tidak melihat kedatangan Resi Brahespati. tidak layak kau berbuat begitu. Dia tidak mengerti. Pradya Dagma kembali menyerang dengan jurus-jurusnya." "Resi. Masih terngiang-ngiang kata-kata gurunya tadi.. tapi Pradya Dagma. "Dia benar-benar sudah murtad! Aku mengijinkan kalau kau menjatuhkan tangan padanya." ucap Aki Lungkur dengan kepala tertunduk." lembut berwibawa suara Resi Brahespati. Aki Lungkur . Terpaksa Aki Lungkur harus jatuh bangun menghindari serangan beruntun itu. dan berlutut saat dia tahu yang berdiri di depannya adalah Resi Brahespati. Pradya Dagma yang melihat sikap Aki Lungkur. Ketika posisinya menguntungkan.!" Aki Lungkur terkejut menerima petuah itu. Belum juga Aki Lungkur bersiap-siap. Rasanya memang masih terasa berat untuk menjatukan tangan kepada Pradya Dagma.. Tiba-tiba di depan Aki Lungkur seperti berdiri seorang resi. "Bangunlah... "Aku berusaha mengalah. Segera Aki Lungkur memantapkan hati untuk memberi pelajaran kepada saudara seperguruannya yang murtad ini. mengapa tiba-tiba Aki Lungkur seperti ketakutan. "Ampunkan muridmu yang hina ini." Aki Lungkur tidak melanjutkan kata-katanya. Bahkan dia tadi menyebut-nyebut resi. terheranheran. tibatiba Resi Brahespati telah lenyap dari pandangan. Ketika Aki Lungkur ingin melanjutkan kata-katanya."Aku mengaku kalah. aku tidak peduli dengan sikapmu! Ayo lawan aku!" bentak Pradya D agma. Kini yang berdiri di depannya hanyalah Pradya Dagma." kata Aki Lungkur ter-sendat "Sudah aku katakan. Seketika pengemis tua itu menjatuhkan diri. Resi. ayahnya itu yang padahal tengah berdiri di depannya. Beri dia pelajaran agar matanya terbuka.

"Aaaakh.. .segera membalas tanpa memberi am pun lagi. Terima kasih. "Setan!" dengus Pradya Dagma sambil menyeka darah yang terus mengalir. "Jangan sebut-sebut ayahku!" Setelah berkata demikian. dengan cepat pukulan Aki Lungkur bersarang di dada Pradya Dagma. kau mau memenuhi keinginanku." Aki Lungkur tidak mengerti. Aku puas. minta ampunlah kau pada ayahmu!" kata Aki Lungkur lantang. Kemudian disusul dengan tendangan keras. Pada suatu kesempatan yang baik.. dan. Tubuh Pradya Dagma pun ambruk dengan darah muncrat dari dadanya yang bolong.. "Dagma. Pradya Dagma yang setingkat di bawah Aki Lungkur.. kau harus hidup. Lungkur. Aki Lungkur tidak segan-segan lagi melayaninya. Napasnya tersendat-sendat. "Dagma. "Aku senang bisa mati di tangan tokoh sakti sepertimu... Pradya Dagma tersenyum.. Kita akan bersama-sama lagi. Pradya Dagma kembali menyerang membabi buta. "Demi Resi Brahespati.." hibur Aki Lungkur. 'Tidak.ngiang di telinga Aki Lungkur.!" Jeritan melengking terdengar. Pendeta Murtad itu terdorong sejauh tiga tombak. Dari sudut bibirnya keluar darah segar. Tongkatnya kini berkelebat cepat.." lemah dan tersendat suara Pradya Dagma. Hal inilah yang membuat pengemis tua itu tidak memberi kesempatan kepada Pradya Dagma untuk membalas. Sementara kata-kata Resi Brahespati terus terngiang. kembali terdesak.!" suara Aki Lungkur bergetar. Aki Lungkur mencabut tongkatnya yang menembus dada pendeta murtad itu. Darah makin banyak keluar. Aki Lungkur cepat-cepat menghampiri dan merangkul tubuh gemuk itu. Kini keinginanku tercapai sudah.. mengapa Pradya Dagma menginginkan mati di tangannya.

Hingga tua dia tidak pernah menikah. Mereka telah merencanakan untuk memasuki jenjang perkawinan. Dia cantik dan menjadi kembang desa itu. Tetapi sebelum hari bahagia itu dilangsungkan. sehari sebelum pernikahanmu dengan Komala. Lungkur! Di depan mayatnya aku berjanji. Bahkan sudah ham pir dilupakannya. hanya tanganmu lah yang bisa membunuhku. Lungkur tidak ada niat lagi mendekati wanita. Tapi kini. Lungkur. hanya kau yang boleh membunuhku. Peristiwa itu sudah lama terjadi. Malam itu. Seharusnya malam itu kubiarkan saja dia membunuhku." "Dagma. Komala kedapatan mati dengan leher tertembus pisau. Setitik air bening mulai menggulir di pipi Aki Lungkur. "Semula aku hanya ingin memperkosa saja. . seluruh desa dan padepokan geger. Dia mengambil pisau. Hubungan mereka telah direstui oleh Resi Brahespati. kau bicara apa?" Aki Lungkur makin tidak mengerti. Aku ingin membuatmu kecewa dan sakit hati. Aku telah memperkosa dan membunuhnya."Aku sudah berjanji pada Komala. Ingatannya seketika mundur puluhan tahun yang lalu. Tapi perbuatanku malah menghilangkan nyawanya. Di desa dekat padepokan itu tinggallah seorang gadis bernama Komala. peristiwa itu sepertinya baru saja terjadi. dan aku berusaha mencegahnya. Kini keinginanku menebus dosa pada Komala terlaksana sudah. aku menyelinap ke kamarnya. Waktu itu mereka masih sama-sama muda dan tinggal di padepokan Resi Brahespati. Ternyata Komala membuka hatinya pada seorang pemuda bernama Lungkur. Dia tak tahu harus bagaimana lagi." Pradya Dagma meneruskan ceritanya. Lungkur." Aki Lungkur hanya tertunduk saja. Aku tidak sengaja membunuhnya. "Aku merasa iri karena Komala menjatuhkan pilihan kepadamu. Sejak itu.

" kata Pradya Dagma lagi. mungkin Aki Lungkur akan segera membunuhnya agar kesengsaraan hidup Pradya D agma tidak berl arut-larut. 'Terima kasih. sikap Pradya Dagma berada di jalan yang salah. Tidak ada yang tahu kalau seluruh perbuatan Pradya Dagma hanyalah pancingan agar Aki Lungkur dapat membunuhnya. Keinginannya telah terkabul. Aki Lungkur benar-benar sedih. Dia baru sadar kalau perbuatan Pradya Dagma hanyalah untuk memancing kemarahan agar dapat membunuhnya." Pradya Dagma menutup mata dengan tenang setelah mengucapkan kata maaf dan terima kasih. Hatiku akan tenang jika kau mau memaafkan aku."Maafkan aku. Bi birnya menyungging senyum. "Sejak lama aku selalu memaafkanmu. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Teguh pada janji dan pendinannya Hanya sayangnya. *** ." sahut Aki Lungkur. Lungkur. Menerima kenyataan itu. Kalau saja hal itu diketahuinya sejak dulu. Ternyata di balik hatinya yang keji. masih tersimpan sedikit jiwa ksatria.

Kedua tangannya bergerak-gerak cepat mengibas mencari sasaran. Bagian dada yang membukit terbungkus kulit putih mulus itu tidak lepas dari tatapan mata Patih Giling Wesi.. Dengan demikian lawannya benar-benar kerepotan. Seketika itu pula.. Lalu dengan cepat dia . Lintang!" teriak Setan Jubah Merah tiba-tiba. Kadang dia menggabungkan dua atau tiga jurus. Mereka bingung menghadapi gerakan-gerakan yang sulit diduga arah dan tujuannya. "Hait!" Saka Lintang melentingkan tubuhnya ke belakang sejauh dua tombak. tangannya mengembang dengan cepat Tubuhnya kini melayang. Tetapi dengan cepat dipusatkan kembali perhatiannya pada Setan Jubah Merah. "Awas. Mukanya merah menahan malu.7 Pertarungan antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah ki an berlangsung sengit di bukit Guntur. namun bajunya harus direlakan terjambret. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah bagai kepiting rebus. Saka Lintang sedapat mungkin menutupi bagian tubuhnya yang terbuka itu. Rangga masih tetap menggunakan empat jurus gabungan dari jurus 'Rajawali Sakti'. Rangga selalu mengganti-ganti jurus. Bahkan kalau mungkin menggabungkan keempatnya sekaligus. Dalam gerakan-gerakan membingungkan itu. Mata Rangga pun sempat menatap ke bagian indah itu.!" Tiba-tiba Rangga berteriak nyaring. "Kurang ajar" geram Saka Lintang. Seketika darahnya seperti berhenti mengalir. Baju di bagian dada yang memang sudah sobek. "Yeaaah. Kibasan Rangga berhasil dielakkan. kian lebar saja terbuka.

gadis itu menggedor dada Rangga sekali lagi dengan tangan kanannya. Wajah Saka Lintang seketika berubah setelah menyadari tangannya tidak dapat ditarik lagi dari tubuh Rangga. Gadis itu tidak tahu kalau sebenamya Rangga sengaja membiarkan tangan beracun itu masuk ke dalam bagian dada yang lowong. Ditebaskan pedang yang ada di tangan kanannya ke leher Rangga. semakin kuat telapak tangannya menempel. Tetapi Rangga malah kelihatan tenang-tenang saja. Saka Lintang jadi geram.. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedangnya. Namun semakin ditarik. Bahkan bibimya menyungging senyum. Sekuat tenaga gadis itu menarik tangannya. Belum sempat gadis itu menyadari apa yang terjadi. Pukulan tangan kiri Saka Lintang tepat menghantam dada Rangga. Tetapi racun jenis apa pun tak ada pengaruhnya bagi Rangga.. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedang dengan jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. . namun. kedua telapak tangan Saka Lintang kini menempel erat di dada Rangga.!" pekik Saka Lintang tertahan. "Ah.. Di luar dugaan. "Kena!" teriak Saka Lintang keras. Seketika dari ujung pedang sampai pangkal lengan Saka Lintang bergetar.. Dia tahu kalau hawa racun telah menyebar di sekelilingnya.kembali menerjang sambil menghunus pedangnya. tiba-tiba tangan Rangga bergerak menyambar gagang pedang dalam genggaman Saka Lintang. Setan Jubah Merah menahan napas. Saka Lintang semakin panik.. Menyadari Saka Lintang telah menebar racun. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam dan penyaluran racun ke telapak tangannya. Trak! Rangga hanya menyentil pedang itu dengan jurus 'Cakar Rajawali'.

" ujar Saka Lintang. lakilaki tua itu menelan pil yang diberikan Saka Lintang. Setan Jubah Merah terkejut. "Semadilah. Dia malah membuang pedang itu jauh-jauh. Dia kaget setengah mati karena tubuh Saka Lintang masih menyebarkan hawa racun. Dia tidak bisa leluasa melancarkan pukulan mautnya." kata Setan Jubah Merah sambil meringis. Saka Lintang pun tak urung kaget pula. "Akh!" tiba-tiba Setan Jubah Merah memekik keras. Setan Jubah Merah pun bersila. Cepat-cepat dihilangkan hawa racun dari tubuhnya. Cepat-cepat dilepaskan tangannya. "Uh! Racunmu. Paman.. sebenamya dia bisa saja menebaskan pedang yang terebut tadi. Jika saja gerakan Setan Jubah Merah tidak cepat. Dengan cepat dia melompat dan menangkap tubuh gadis itu yang melayang deras. Seluruh tubuh Setan Jubah Merah bergetar. "Pengecut! Lepaskan gadis itu!" bentak Setan Jubah Merah. Tanpa banyak tanya lagi. dan mengeluarkan sebuah pil berwarna merah darah. Keringat membasahi . Tetapi hal itu tidak dilakukannya.. tentu! Ini. "Oh. Matanya menatap Setan Jubah Merah yang kebingungan. Rangga menggunakan gadis itu menjadi tameng. terimalah!" Tiba-tiba saja tubuh Saka Lintang terpental keras. sehingga Setan Jubah Merah tidak tahu harus berbuat apa. Perlahanlahan dari ujung kepalanya mengepul asap tipis. tubuh Saka Lintang dipastikan hancur menubruk batu besar. Dihampirinya Setan Jubah Merah yang tengah meringis memegangi tangannya sendiri. Kedua matanya dipejamkan.."Setan!" dengus Saka Lintang geram. Diberikannya pil itu kepada Setan Jubah Merah. "Paman. Seketika tubuhnya seperti terbakar. kau tidak apa-apa?" tanya Saka Lintang cemas. Saka Lintang merogoh saku jubahnya. Kalau Rangga mau.

Tanpa sadar Intan Kemuning melontarkan senyuman manis pada pendekar muda itu. "Hoek!" Cairan kental berwarna kehitaman dimuntahkan oleh Setan Jubah Merah. Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak tahu sama sekali kalau dua tokoh itu meluruk ke arahnya. seluruh tubuh lakilaki tua itu mulai tenang. kemudian disambung dengan melentingnya dua tubuh ke arah Rangga. Sikap Rangga yang masa bodoh itu membuat Intan Kemuning cemas. Dia gelisah karena dua tokoh sakti begitu . dibarengi oleh hilangnya asap tipis yang mengepul di kepala laki-laki tua itu. Rangga membalasnya dengan senyum manis pula. Rangga seperti tidak peduli dengan lawan yang sudah bersiap-siap menyerang kembali. Dia memperhatikan saja kedua lawannya yang tengah sibuk itu. Setan Jubah Merah membuka matanya ketika getaran pada tubuhnya berhenti sama sekali. dua tokoh tingkat tinggi. Intan Kemuning merasakan jantungnya berdetak keras. Saka Lintang dan Setan Jubah Merah. Mulutnya malah bersiul-siul dengan irama tak menentu. Tapi semua perasaan dan keinginan itu ditekan dalam-dalam sam pai ke dasar hatinya. Kini Pendekar Rajawali Sakti tengah duduk tenang di atas batu besar. Sementara. Kalau saja saat ini tidak ada ayahnya. Sesekali matanya melirik Intan Kemuning yang berdiri di samping ayahnya. tel ah kembali bersiap-siap menghadapi lawannya yang tengah duduk tenang itu.seluruh tubuhnya. ingin sekali Intan Kemuning menghambur dan memeluk pemuda itu. Sedikit demi sedikit. Rangga masih tenang. Setiap kali Rangga melirik ke arahnya. "Hiya!" "Yeah!" Dua teriakan keras saling susul. Tak diduga.

bagaimana dengan Rangga? Debu masih mengepal tebal." Intan Kemuning mendesah lega melihat pendekar tampan itu masih hidup. Tanpa disadari. Batu tempat Rangga duduk. Ketika debu itu hilang sama sekali. Apakah dia hancur bersama batu itu? Batin Intan Kemuning bertanyatanya penuh kecemasan. Peringatan gadis itu tepat bersamaan dengan dua tubuh yang meluruk menerjang Rangga. "Oh. Dia hanya tersenyum-senyum saja. Kedua tokoh sakti Itu terperanjat melihat hasil gempurannya tidak berpengaruh apa-apa terhadap lawannya. sepasang mata tengah mengawasi pertarungan itu dari balik pohon. Sikap duduknya tidak berubah sedikit pun. Dia seperti membiarkan saja pukulan itu menghantam tubuhnya... awas!" Intan Kemuning tidak dapat lagi mengendalikan diri. Patih Giling Wesi kembali perhatiannya tercurah pada ketiga tokoh yang kini telah bertarung kembali. *** Berangsur-angsur asap tebal yang mengepul sirna disapu angin. Akibatnya memang dahsyat. Batu yang sebesar kerbau itu saja hancur. Rupanya dia mengerti apa yang telah melanda putrinya ini. . Jelas kalau Rangga tadi tidak sedikit pun menghindar. Sikap gadis itu tidak lepas dari pengamatan Patih Giling Wesi. Serangan yang dibarengi pengerahan tenaga dalam. begitu cepat datangnya.. Intan Kemuning benar-benar tidak dapat menyembunyikan kecemasannya. Dia tidak melihat pendekar itu. "Akh!" Intan Kemuning memekik tertahan.cepat menyerang. tampak Rangga masih duduk di atas tumpukan batu-batu yang hancur. jadi berkeping keping disertai ledakan keras terkena pukulan itu. "Pendekar Raj awali Sakti.

Dalam sekejap sekitar tempat pertarungan telah terselimuti oleh hawa racun yang mematikan.. Dia tidak ingin lagi berbuat konyol yang hampir merenggut nyawa paman angkatnya.!" pekik Saka Lintang.. Kakek!" seru Rangga tiba-tiba. . "Paman. Dia harus mempertimbangkan kehadiran Setan Jubah Merah. Tubuhnya meluruk turun deras. "Aaaa.!" Setan Jubah Merah meraung keras. lalu diam tak bergerak sama sekali.. "Maaf. Setan Jubah Merah meregang nyawa sebentar. Kakinya bergerak mengarah kepala lawan. Dia terkena 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang tak terduga dilepaskan Rangga. Seketika Rangga merubah jurusnya. Seluruh dadanya seperti hangus terbakar. Begitu cepatnya jurus itu sehingga Saka Lintang tidak punya kesempatan lagi untuk mengelak. Sementara itu Rangga sudah kembali melayani dua lawannya yang kian bernafsu untuk mengakhiri pertarungan alot dan panjang ini. "Kejam! Setan! Kubunuh kau!" pekik Saka Lintang marah.. Kali ini digunakannya jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Kedua tangannya merentang mengepak bagai sayap rajawali. Dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tangan Rangga berhasil menghantam telak dada Setan Jubah Merah. Secepat kilat. Gadis itu segera menyerang Rangga dengan mengeluarkan jurus andalan terakhirnya. Rangga kembali merubah jurusnya. Jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun' yang dipadu dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Kini Saka Lintang hanya sesekali saja melontarkan pukulan beracunnya. Kehadirannya saja tidak diketahui sama sekali. dirubahnya jurus itu menjadi 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.Jelas pemilik sepasang mata itu bukan orang sembarangan. Sekejap saja tubuhnya telah melambung di udara. Tubuhnya terlontar ke belakang sejauh tiga tombak.

. "Ah.!" Saka Lintang memekik keras. tiba-tiba terdengar suara Patih Giling Wesi mencegah.. Dia mati di tangan laki-laki yang dicintainya. Di tangannya tergenggam tongkat berwarna merah. Mati bersama rasa cinta. kakek yang berada di kedai minum tempo hari." Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah menggeleng-gelengkan kepalanya. Siapa lagi kalau bukan Pengemis Sakti Tongkat Merah. hebat. Rangga mendekat Aki Lungkur terkekeh. kalau tidak salah. anak muda. Patih Giling Wesi mendekat diikuti Intan Kemuning."Aaaa.. Aku pengemis tua yang hina. "He he he…." sahut Aki Lungkur. tetapi matanya melirik pada Rangga. Gadis itu ambruk dengan kepala hancur berantakan. "Bagaimana kalau kita makan bersama lagi di bawah pohon sambil menikmati udara segar." kata Rangga teringat ketika dia memberikan sebungkus bekal makanan. "Penglihatanmu tajam.. Dari balik pohon muncul seorang kakek tua berpakaian compang-camping. Darah seketika membasahi tanah." kat a Rangga dengan tutur kata yang halus. benci dan dendam. lalu mereka makan bersama di pinggir tegalan. Sungguh tragis kematian gadis ini.. Rangga menoleh ke arah suara itu. Kalau sudah . Mari!!" Ketika mereka akan melangkah.. "Tunggu!" Mereka menoleh dan berbalik bersamaan.... Gadis itu selalu menundukkan kepala terus. hebat. tawaran yang menggairahkan.." tiba-tiba terdengar suara terkekeh. Rangga kembali mendarat Matanya memperhatikan tubuh Saka Lintang yang meregang nyawa.. "Uts! Hampir lupa kalau di sini masih ada orang lain. "Menakjubkan. lalu diam tak bergerak l agi." kata Aki Lungkur. "Ah. Hatinya makin berdebar-debar kalau kebetulan matanya beradu pandang.

"Nama memang bisa saja sama. apakah Patih Giling Wesi kenal dengan ayahnya? "Nama bisa saja sama." kata Rangga buruburu. "Namamu mirip dengan seorang putra Adipati yang hilang dua puluh tahun lalu. Memang benar gumaman patih ini.. Cepat-cepat diturupi rasa kaget itu dengan senyum. Nama hamba Rangga. kalau boleh tahu. Rangga jadi bertanya-tanya. Tibatiba dia tersentak Benar! Tidak salah lagi. Dia tidak ingin masa lalunya terungkap lagi. Wajahnya sangat mirip dengan Adipati Karang Setra. Rangga terkejut juga mendengarnya. Rangga memperhatikan dengan pandangan bertanyatanya. siapa namamu dan dari mana kau berasal?" tanya Patih Giling Wesi. "Rangga. Tapi. Episode: Iblis Lembah Tengkorak). cepat-cepat matanya dialihkan mencari pandangan lain. Masalahnya. Dua puluh tahun yang lalu terjadi musibah pada rom bongan Sang Adipati yang hendak menuju ke kota Kerajaan Ayahandanya.. (Baca serial: Pendekar Rajawali Sakti." Patih Giling Wesi menggumamkan nama itu beberapa kali." Patih Giling Wesi mengamati wajah Rangga dengan teliti sekali.. Sedangkan kejadiannya tidak jauh dari jurang Lembah .demikian. Tetapi Patih Giling Wesi sedikit ragu-ragu juga." Patih Giling Wesi setengah bergumam. Patih Giling Wesi tengah berusaha mengingat-ingat. Biarlah kenangan pahit itu dia sendiri yang tahu. Gusti Patih.. anak laki-laki Adipati hilang tanpa bekas. "Kisanak. Sepertinya dia pernah mengenal wajah itu." jawab Rangga merendah.. Tapi di mana? Kapan pernah bertemu? Ingatannya terus berputar.. "Hamba hanya seorang pengembara hina Gusti Patih.

Antara percaya dan tidak. Patih Giling Wesi seperti berperang dengan batinnya sendiri. Dia berusaha memecahkan teka-teki ini. siapa saja yang masuk ke dalam jurang itu tak akan pernah selamat. Antara mengakui dan membantah. Semua orang menduga kalau anak itu pasti masuk ke jurang Lembah Bangkai. Karena sudah pasti. Siapakan anak muda perkasa yang ada di depannya ini? *** .Bangkai.

Batin Patih Giling Wesi bicara sendiri. Pengemis tua itu mengangguk-angguk kepalanya. Di kaki bukit. Mereka segera menghampiri patih itu. Rapaksa segera melom pat dari kudanya. Seketika dua pasang mata saling berpandangan." Patih Giling Wesi mengundang. Masingmasing menunggang kuda dan menuntun seekor kuda pula. Patih Giling Wesi . mari kita berangkat sekarang!" ajak Patih Giling Wesi. Keempat orang itu segera meninggalkan tempat itu. Cepat dialihkan pandangannya ke tempat lain. telah menunggu delapan orang prajurit Kepatihan. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Patih itu sendiri sampai saat ini masih berusaha memecahkan teka-teki itu. diikuti oleh tujuh orang prajurit-prajurit lain. Mereka menuruni bukit Guntur. meninggalkan mayat-mayat yang bergelimpangan dan siap jadi santapan anjing-anjing hutan. Matanya beralih memandang Intan Kemuning. Rangga menoleh pada Aki Lungkur yang berdiri di sampingnya. Tentu dia setuju karena antara dia dan patih itu telah terjalin suatu persahabatan. yang jelas jasanya sangat besar." sahut Rangga mendesah. Kisanak. sudi kau mampir sebentar di Kepatihan.8 Beberapa saat suasana di bukit Guntur hening. Ah! Siapa pun dia. "Kalau begitu. Rangga belum menjawab. entah bagaimana nasib putrinya. Jika tidak mengganggu perjalananmu . Tapi bibirnya sempat memberikan senyum manis. "Aku sangat berhutang budi padamu. Kalau tidak ada pendekar muda ini. Semua seperti menunggu pembicaraan Patih Giling Wesi. Intan Kemuning jadi gelagapan. Dia belum dapat memastikan perihal anak muda ini. "Baiklah.

Rombongan kecU berkuda itu terus meninggalkan bukit Guntur yang terlihat hijau. Penjaga pintu segera membuka pintu ketika melihat Patih Giling Wesi yang datang bersama putrinya. Setahunya Intan Kemuning tidah pernah belajar naik kuda. Perjalanan kini dilanjutkan dengan menunggang kuda.mengamati sisa prajurit-prajuritnya. Nyawa mereka korbankan hanya untuk menyelamatkan seorang putri patih. Patih Giling Wesi selalu berada di samping Intan Kemuning. Rombongan itu terus melewati desa itu. Akhirnya pikiran patih itu tenang setelah melihat putrinya sangat lihai menunggang kuda. "Hh. Semula Patih Giling Wesi khawatir juga terhadap Intan Kemuning. Gusti Patih. Dan kini hamba hanya dapat lima belas ekor. Patih itu tidak tahu kalau selama jadi tawanan perampok." sahut Patih Giling Wesi mendesah berat. tidak menyusuri tepian sungai Ular. Patih Giling Wesi membantu Intan Kemuning yang sedikit kesulitan turun dari . dan berhenti tepat di depan pendopo. Mereka pun segera masuk ke dalam benteng Kepatihan. sudahlah. Sungguh besar jasa mereka." kata Rapaksa melapor. Mari kita kembali ke Kepatihan. Setelah melompat turun dari kudanya. padang diarungi. Hatinya masih bertanya-tanya tentang kelihaian putrinya menunggang kuda. dan kini mereka telah dekat dengan sebuah desa yang dekat dengan bukit Guntur. Hutan dirambah. Hamba datang terlambat Hamba mencari kuda-kuda dulu. "Ampun. Mereka melewati jalur pintas. Intan Kemuning telah diajari naik kuda oleh Saka Lintang. *** Matahari telah condong ke Barat ketika rombongan itu sampai di pintu Gerbang Kepatihan.

Kediamannya juga tak kalah indahnya dengan bangunan itu. Memang tidak ada salahnya menginap barang sehari setelah sepanjang hari menguras tenaga menyabung . Rasa rindu yang menggebu ingin segera bertemu ibundanya." Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya untuk minum.kudanya. Sebenarnya Rangga ingin menolak. "Oh. Beda dengan Aki Lungkur. membuat dia lupa sejenak terhadap Rangga." ucap Rangga sambil mengangkat gelas yang sudah terisi arak manis. Dia menenggak habis arak wangi mahal itu. Di mana lagi dia dapat minum arak selezat ini kalau tidak mendapat undangan dari Patih Giling Wesi? Patih Giling Wesi selalu memperhatikan sikap dan tutur kata Rangga. Patih Giling Wesi membawa dua tamunya masuk ke bangsal utama Pendopo itu. Rangga minum sedikit dengan sikap Sopan. "Mari silahkan masuk." kata Patih Giling Wesi lagi. dia hanya bisa angkat bahu saja. Rangga memandangi bangunan indah dan megah di depannya. Sementara Intan Kemuning telah berlari masuk ke dalam keputrenan. Beberapa orang pelayan datang menyediakan suguhan. Mereka kemudian duduk melingkar menghadapi meja. Seketika dia teringat sewaktu masih tinggal di Kadipaten. Anda berdua adalah tamu kehormatanku." kata Patih Giling Wesi. Dari situ dia merasa sedang berhadapan dengan seorang pemuda bangsawan. Tentu saja aku tidak keberatan!" Aki Lungkur cepat menerima sebelum Rangga membuka suara. Tetapi karena Aki Lungkur sudah menerima. "Aku senang sekali jika kalian sudi menginap di sini barang satu atau dua malam. tentu. 'Terima kasih. "Silahkan. Biasanya tokoh-tokoh rimba persilatan selalu tidak peduli dengan tata krama. Sikap Rangga memang tidak seperti pendekar-pendekar lainnya.

Mereka memberi hormat. Ki?" tanya Rangga.nyawa. Rangga menoleh ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Dua orang punggawa dat ang mendekat. "Antarkan tamu-tamuku ke tempat istirahatnya. Diamatinya sebentar. "Apanya yang gawat?" tanya Rangga tidak mengerti." perintah Patih Giling Wesi. yang jelas pandangan itu tertuju pada Rangga. "Silahkan. Rangga masih duduk di kursinya. Di sebuah kamar yang indah dan luas. Patih Giling Wesi menepuk tangannya dua kali. Rangga mengernyitkan keningnya melihat pengemis tua itu seperti terburu-buru. "Gawat!" sahut Aki Lungkur. punggawa itu berhenti. Dia hanya menatap laki- . Indah sekali ruangan ini. Rangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. dan segera pergi setelah tugasnya selesai. dilihatnya Intan Kemuning tengah duduk di bangku taman sendirian. Setelah mendapat anggukan dari Patih Giling Wesi. Dia menyilahkan Rangga masuk." Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya mengikuti para punggawa yang mengantarkan ke peristirahatan. Kedua punggawa itu kembali memberi hormat. "Ada apa. Rangga memandangi setiap ruangan yang dilewatinya. Saat matanya menatap ke arah taman. Bergegas dia membukanya. Aki Lungkur segera menerobos masuk dan menutup kembali. dia pun bangkit melangkah mengikuti punggawa." Rangga masih belum mengerti. dan memang kelihatannya Intan Kemuning juga tengah memandang ke arahnya. Entah melihat atau tidak. "Patih Giling Wesi curiga padamu. Aku Lungkur bangkit dan melangkah pergi ke tempat istirahatnya.

Rangga kembali memandang ke arah taman. "Hati-hatilah.laki tua itu tak berkedip." "Mengapa Aki memberitahuku?" "Karena kau baik. Kau seorang pendekar yang banyak dibutuhkan oleh kaum lemah. Dia meminta Aki Lungkur untuk pergi beristirahat. meskipun dadanya bergemuruh. "Patih Giling Wesi memerintahkan beberapa punggawa untuk menyelidiki asal-usulmu. . 'Terima kasih. Tapi aku yakin kau tidak akan menerimanya. Rangga tidak ingin menjadi seorang pendekar tanpa masa lalu. Intan Kemuning masih duduk di sana memandang ke arahnya. Yang penting aku sudah menganggapmu sahabat." "Jangan berprasangka buruk." Rangga berusaha bersikap tenang." ucap Rangga. "Benar! Aku mendengar sendiri. Aku tidak peduli siapa dirimu. Rangga hanya mengangguk dan mengiyakan saja." "Dia menduga begitu?" Rangga terkejut. Dia tidak mau berteletele melayani segala macam prasangka. Bukankah kalian bersahabat?" "Aku tidak berprasangka buruk. Gadis itu memang cantik. Masa lalu yang tidak perlu diketahui orang lain. Niatnya yang tersembunyi memang baik. Makanya aku segera ke sini menemuimu. Tak ada orang di seluruh Kepatihan yang tidak tertarik pada gadis ini. Sepeninggal Aku Lungkur." Rangga hanya tersenyum saja. Aku membaca gelagat lain di balik niat luhur Patih Giling Wesi. hal apa yang akan dikatakan Aki Lungkur tadi. Aki. Laki-laki pengemis tua itu kembali ke luar setelah berpesan macam-macam. Memang hatinya telah menduga. Dia menduga kau anak Adipati yang hilang dua puluh tahun yang lalu.

Rangga sendiri sebenamya juga tertarik. Rasa-nya dia ingin seribu kali mendengamya. Sikapnya tetap anggun meskipun selama beberapa hari ditempa dengan latihan-latihan keras oleh Saka Lintang." "Apa?" "Wajahmu. dua orang prajurit pasti ada di situ. Matanya tajam mengawasi setiap tempat yang dilalui. boleh. Jiwa kebangsawanannya tetap tidak luntur. "Boleh aku duduk di sini?" tanya Rangga. Jantungnya jadi berdetak tidak beraturan. Dia tersenyum saja. "Adakah pangeran yang cocok untukku?" tanya Intan Kemuning ingin menegaskan." Seketika wajah Intan Kemuning menyemburat merah dadu. pasti ada seorang pangeran tampan dan gagah menghampirimu. "Ya." sahut Intan Kemuning." "Kapan?" "Satu saat nanti. "Oh! Boleh." desah Rangga setelah duduk di samping gadis itu. "Sepantasnya kau mendapatkan seorang pangeran yang gagah dan tampan. *** Intan Kemuning memandang Rangga yang melangkah menghampirinya." kata Rangga. . Dia tidak beranjak dari duduknya." sahut Intan Kemuning tergagap. Ketat sekali penjagaan di Kepatihan ini. 'Tapi ada yang lebih indah lagi untuk dipandang. Pujian Rangga mengena di hatinya. "Indah sekali taman ini. "Satu saat nanti." "Siapa pangeran itu?" Rangga tidak menjawab. Setiap sudut. Rangga melangkahkan kakinya ke luar kamar.

Beberapa saat mereka terdi am saling tatap." bisik Rangga dekat sekali dengan wajah Intan Kemuning." Intan Kemuning tidak mampu berkata-kata lagi.info/ http://cerita_silat. "Semoga aku yang menjadi pangeran itu... Dan mereka memperketat rangkulan-nya.com/ http://dewi-kz. Kedua lengannya berkembang masuk ke dalam pelukan Rangga..„. "Oh. SELESAI Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel Convert : Abu Keisel Editor : Deeemart86 Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi. Pelan-pelan Intan Kemuning menundukkan kepalanya. Hatinya berbunga-bunga. Intan.cc/ .info/ http://kangzusi.