BIDADARI SUNGAI ULAR oleh Teguh S. Cetakan pertama, 1990 Penerbit Cintamedia, Jakarta Gambar sampul oleh Tony G.

Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa Izin tertulis dari penerblt Teguh S. Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Bidadari Sungai Ular 128 hal ; 12 x 18 cm
Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel Convert : Abu Keisel Editor : Deeemart86 Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/

1
Seekor kuda putih tinggi kekar berlari bagai kilat menyusuri tepian sungai. Bentuk sungai yang berliku-liku, seakan-akan bergerak bagai seekor ular naga yang menyusuri lereng dan bukit-bukit di sekitarnya. Oleh karena bentuknya yang mirip dengan ular naga, maka sungai itu dinamakan sungai ular. Kuda itu ditunggangi seorang wanita cantik dengan pakaian serba biru. Wajahnya basah oleh keringat. Sebilah pedang bertengger di pung-gungnya. Dia adalah Saka Lintang, anak angkat Geti Ireng, ketua gerombolan Panjl Tengkorak. Ditinggalkannya Lembah Tengkorak, setelah seorang pendekar muda yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti mengobrak-abrik partainya, Panji Tengkorak. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti. Episode: Iblis Lembah Tengkorak). "Hooop...!" Saka Lintang menarik tali kekang kudanya kuat-kuat. Kuda putih meringkik kencang lalu berhenti. Dengan gerakan ringan dan tangkas, Saka Lintang melompat dari kudanya. Ketika kakinya sampai di tanah, segera dijejakkan kakinya hingga tubuhnya melenting ke udara dan hinggap di pohon yang cukup tinggi. Saka Lintang bertengger pada sebuah cabang pohon, seraya matanya mengawasi bagian hulu sungai. Bibirnya tersenyum kctika sebuah perahu besar dengan layar lebar mulai terlihat. Di ujung tiang layar, berkibar selembar bendera bergamhar bunga melati yang dilingkari rantai. Dari lambang gambar bendera, dapat dipastikan kalau kapal layar itu milik seorang saudagar kaya dari Kadipaten Balungan. Sebuah Kadipaten kecil di wilayah Timur kerajaan Singasari yang berpenduduk cukup makmur. "Suiiit...!" Saka Lintang bersiul nyaring yang disertai tenaga dalam.

Mendengar siul yang bergema itu, serentak dari rimbunan semak-semak tepi sungai bermunculan empat buah perahu berukuran sedang, dikayuh oleh beberapa orang. Saka Lintang segera terjun diiringi gerakan salto beberapa kali, dan hinggap tepat di punggung kudanya. Gadis itu lantas menghentak tali kekang kudanya, lalu memacu ke arah perahu gerombalannya yang makin dekat. Ketika perahunya yang berwarna biru pekat itu telah menepi, Saka Lintang menarik tali kekang kuda, dan tanpa berpikir banyak dia segera melompat ke udara. Perahu yang telah siap menunggunya itu menerima tubuh Saka Lintang yang hinggap di tengah-tengahnya "Ayo, cepat! Kepung kapal layar itu!" teriak Saka Lintang. Enam orang laki-laki bertubuh kekar segera mengayuh dayung. Perahu itu pun meluncur deras mendekati kapal layar besar. Tiga perahu lain yang berwarna biru pekat pula, bergerak menyerang. Sedangkan di kapal layar besar itu tengah terjadi kesibukan. Beberapa orang telah siap dengan panah yang mengarah pada gerom bolan Saka Lintang. "Awas, panah!" teriak Saka Lintang ketika melihat anak panah meluncur deras. Saka Lintang pun mencabut pedangnya. Dengan cepat pedang itu telah berputar-putar bagai baling-baling. Anakanak panah yang meluncur cepat itu rontok seketika tersapu oleh pedang. Layaknya sebuah payung yang melindungi dari serangan hujan. Empat perahu Saka Lintang makin dekat ke arah kapal layar. Sementara anak-anak panah terus meluncur mencari mangsa. Namun anak buah Saka Lintang mudah saja merontokkannya. Saka Lintang tersenyum melihat keberhasilan anak buahnya itu. "Serang...!" teriak Saka Lintang nyaring. Mendengar abaaba itu serentak anak buah Saka Lintang yang berseragam biru pekat berlompatan ke atas kapal layar. Gerakan

Kedua tangannya berada di atas pinggang. Kesibukan kembali terjadi. Sementara pertarungan kini bergejolak di atas kapal layar. Banyak sudah lawan yang telah berjatuhan. "Hamba menemukan satu peti berisi perhiasan emas dan perak. "Ada apa. Saka Lintang mengamuk bagai banteng terluka. "Bagus. Anak buah Saka Lintang yang berjumlah kira-kira dua puluh orang itu segera mengerjakan perintahnya. Dan memang. 'Tuan Putri ingin melihat- . Dibungkukkan badannya sedikit di de-pan Saka Lintang yang berdiri angkuh. Matanya tajam mengawasi sekitar geladak kapal yang penuh oleh darah. Dimasukkan pedangnya ke dalam sarung di punggung. Sebilah golok besar tergantung di ping gangnya. Rata-rata mereka memiliki ilmu silat cukup tinggi. Tubuh-tubuh mulai ambruk bergelimang darah menyusul suara jeritan hasil kelebatan pedang Saka Lintang." sahut laki-laki yang dipanggil Codet Memang di pipi kanannya terdapat guratan panjang sehingga menambah seram wajahnya. Codet?" tanya Saka Lintang datar. Saka Lintang dan pasukannya berhasil menguasai kapal layar. "Buang semua mayat ke sungai!" perintah Saka Lintang. Jelas mereka bukan orang-orang sembarangan. Sekejap saja permukaan sungai telah berubah warnanya menjadi merah oleh darah. Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan wajah ditumbuhi cambang mendekati Saka Lin¬tang.mereka sangat ringan dan cepat. "Hoi! Angkat semua yang berharga!" teriak Codet keras. Tuan Putri. Beberapa lawan malah menyelamatkan diri dengan terjun ke sungai. Diseret dan dilemparkan seluruh mayat ke sungai. Memang orang-orang di atas kapal bukan tandingan Saka Lintang dan anak buahnya. pindahkan semua barang berharga ke perahu kita!" perintah Saka Lintang.

Sungguh nyaman berada di pembaringan ini. bawa pulang!" Codet berlalu setelah sebelumnya memberi hormat Saka Lintang melangkah memasuki bilik kapal kembali. Kenapa harus dipiklrkan? Yang penting aku suka kapal ini!" dengus Saka Lintang dalam hati. Hanya sebentar saja Saka Lintang telah menelusuri bagianbagian kapal." "Kemudian kapal ini. Tuan Putri. Selama malang melintang menguasai sungai ular ini.lihat?" ujar Codet sambil membungkuk lagi. Atau paling tidak putri bangsawan. Saka Lintang merasa bagai putri raja. baru sekarang dia mendapat sebuah kapal layar yang mengagumkan. Dilangkahkan kakinya dengan angkuh melewati laki-laki tegap dan kasar itu. Rasanya tidak mungkin Kadipaten memiliki kapal seindah ini. "Turunkan bendera kapal. ganti dengan bendera kita!" perintah Saka Lintang. "Hamba siap menjalankan perintah. Dijatuhkan tubuhnya ke atas pembaringan yang berlapiskan kain sutra lembut. Kapal layar ini tidak terlalu besar. bagaikan peraduan seorang bangsawan. kapal layar ini pasti milik seorang bangsawan kaya. Dia ingin memiliki kapal . Saka Lintang tersenyum-senyum sendiri. Dia sangat terkesan ketika masuk ke sebuah bilik dalam kapal. Saka Lintang tidak menyahut. Rasanya sayang kalau kapal ini mesti dibakar seperti yang sudah-sudah. Mulutnya tak henti-hentinya berdecak kagum. Bilik itu memang cukup indah. Saka Lintang menduga. Di dalam bilik ini. Tapi kenapa bendera kapal menunjukkan milik saudagar Gantar dari Kadipaten Balungan? Atau mungkin kapal ini telah dijual oleh saudagar itu kepada bangsawan kerajaan? "Ah! Masa bodoh. Codet mengikuti dari belakang. "Codet!" panggil Saka Lintang." jawab Codet sambil membungkukkan badan. "Hamba.

. Wajahnya menyimpan rasa takut yang dalam. Kepalanya terangguk-angguk beberapa kali. Arak desa Cacah memang telah terkenal kenikmatannya. Tawanya belum berhenti. Perhiasannya semua dari emas. Dia membungkuk sedikit memberi hormat.Ha ha ha. "Ha ha ha. Tanpa terasa." sahut Codet. Kemudian muncul dua orang laki-laki mengapit seorang wanita muda berusia sekitar tujuh belas tahun. Dia telah menenggak habis arak itu. Codet menjentikkan jarinya.. Codet muncul setelah pintu terbuka." gumam Saka Lintang sambil menuang arak ke dalam gelas perak. Cantik dan berkulit kuning langsat.ini. "Hamba menemukan seorang wanita bersembunyi di balik tumpukan peti. siapa dia?" tanya Saka Lintang mengerutkan kening.. Basah sudah tenggorokannya oleh arak. Arak ini memang pilihan kaum bangsawan. Pakaiannya dari sutra halus. Dengan kapal ini dia bisa lebi h leluasa menjadi penguasa sungai Ular.!" Saka Lintang tertawa sambil berteriakteriak bagai orang glla. Saka Lintang menoleh ke pintu ketika diketuk dari luar. akulah ratu sungai Ular ini! Bidadari sungai Ular. Saka Lintang menari-nari berputar mengelilingi bilik kapal. . Dia duduk di kursi berukir di samping meja pualam itu.... "Ada apa lagi?" tanya Saka Lintang kembali memasang sikap angkuh. "Hm. Matanya memperhatikan guci arak. Harganya hanya terjangkau oleh orangorang kaya. arak buatan desa Cacah. gelas peraknya telah kosong.. Sungguh tinggi seleranya. Dihampirinya sebuah meja terbuat dari batu pualam.. "Masuk!" bentak Saka Lintang karena merasa terganggu kenikmatannya. "Hm.

aku berjanji tidak akan mengatakan apa-apa pada ayahanda.!" Saka Lintang tertawa gelak... tidak dapat berbuat apa-apa. "Aku. Dia sungguh sangat menyesal ikut dengan kapal ini. Mukanya pucat dan tubuhnya gemetar. Ketika matanya tertumbuk pada Saka Lintang." rengek Intan Kemuning. aku Intan Kemuning.. Wanita muda itu tidak menjawab. "Aku putri patih kerajaan Galung. Saka Lintang kembali mengamati wanita muda itu.." "O. Dia tidak pernah belajar ilmu silat. Intan Kemuning telah dibujuk agar pulang bersama-sama saja tewat jalan darat. Tapi berusaha mengangkat kepalanya pelan-pelan. Intan Kemuning yang sehari-harinya tinggal di tembok kebangsawanan. tubuhnya seketika mengejang." jawab wanita muda itu tergagap. Jadi wajar saja kalau di a begitu ketakutan melihat para perompak mengganas di kapalnya. Pengawalnya yang berjumlah tidak kurang dari tiga puluh orang tewas semuanya. "Ha ha ha. rupanya kau putri seorang patih? Tidak seharusnya putri seorang patih kerajaan seperti tikus kena gebuk begitu!" 'Tolong bebaskan aku. Sedangkan awak kapalnya mencari selamat dengan terjun sungai. Tapi Intan Kemuning ingin menikmati perjalanan melalui sungai Ular bersama kapal yang baru di beli ayahnya untuk pesiar.. kan? Siapa kau?" dengus Saka Lintang mulai kesal karena wanita itu diam saja. Codet menutup pintunya lagi. *** Kapal mewah terus melaju menyusuri alur sungai Ular . Intan Kemuning mulai terisak. Padahal orang tuanya sudah melarang.Saka Lintang memberi isyarat agar anak buahnya keluar. Ketakutannya kian sangat. gerombolan perom-pak membegal kapal itu. "Siapa kau?" tanya Saka Lintang. "Kau dengar pertanyaanku. Tidak diduga sama sekali.

Apa kau tidak pernah belajar ilmu kanuragan?" tanya Saka Lintang. Beliau menginginkan aku menjadi seorang wanita bangsawan sejati. Katanya. Siapa yang mengajari?" tanya Saka Lintang. Saka Lintang tengah berbaring tengkurap dengan punggung terbuka." polos sekali jawaban Intan Kemuning. Masing-masing perahu berisi barang." dengus Saka Lintang gemas.diiringi empat perahu gerombolannya. Saka Lintang yang hidup dari dibesarkan di lingkungan keras. "Kau bilang tadi bahwa kau anak patih. Punggung yang terbuka itu terasa nikmat setelah Intan Kemuning memijitinya." sahut Intan Kemuning pelan. biar suami betah di rumah. tidak ada istilah perem puan harus tunduk pada kaum laki-laki. "Pijatanmu enak juga. Dia dengan terpaksa harus mengikuti perintah Saka Lintang yang menjadi pemimpin perompak sungai Ular. Dalam kamus hidupnya. Perhiasan yang melekat di tubuhnya juga sudah ditanggalkan. Saka Lintang membalikkan badan dan merapikan pakaiannya kembali." "Bodoh! Itu artinya kau sudah dijajah laki-laki. Intan Kemuning hanya tertunduk saja. Dia tidak terima kaumnya jadi bulan-bulanan kaum lelaki. Intan Kemuning hanya bisa menerima nasib saja menjadi budak kepala perompak itu. "Kalau kau tidak berbuat macam-macam dan menuruti . sangat terkejut mendengar kata-kata Intan Kemuning. istri harus pintar memijat. "Bibi Emban. Sementara di dalam bilik kapal mewah. "Apa enaknya? Kau akan dijajah laki-laki. Ayahanda tidak mengijinkan aku belajar ilmu-ilmu keprajuritan. tahu!" Saka Lintang jadi terhenyak hatinya. 'Tidak.barang berharga dan djkawal oleh empat orang. Matanya tajam menatap wajah Intan Kemuning yang tertunduk. "Aku tidak bisa menentang keinginan Ayahanda.

Hatinya berontak dan dengan seketika dia ingin segera nienjadikan Intan Kemuning seorang wanita yang kuat seperti dirinya..kata-kataku. Coba kau pikirkan! Baru lihat anak buahku yang hanya bisa main gertak saja. membangkang sedikit saja bisa-bisa mati konyol! Atau malah dijadikan pemuas nafsu anak buah Saka Lintang. Tapi mereka semua tunduk pada perintahku! Berani menentang dan kurang ajar. Tidak ada pilihan lain bagi Intan Kemuning kecuali menyanggupi kemauan Saka Lintang. Untung kau tidak digagahi!" Intan Kemuning terlonjak kaget. Supaya kau tidak jadi wanita yang lemah.? Intan Kemuning tidak sanggup membayangkannya. Tangannya selalu dilumuri darah.tiba jadi iba melihat Intan Kemuning. Nasibnya sekarang berada di tangan pemimpin perompak ini. kau sudah ketakutan setengah mati. aku akan mengajarimu ilmu olah kanuragan dan ilmu-ilmu kesaktian lainnya. . Saka Lintang bangkit dari pembaringannya. "Mereka tidak akan mengganggumu! Dengan syarat. Hidupnya penuh kekerasan. "Kau seorang pemimpin perompak.. Saka Lintang merasa seolah-olah dialah yang diinjakinjak kaum lelaki setelah mendengar per-jalanan hidup Intan Kemuning. Pikirnya. dirinya dianggap "baik". Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. Kenapa m asih ada juga orang yang mengatakan dirinya baik? Apa tidak salah pendengarannya? Masih adakah kebaikan di hatinya? Dia sendiri tidak tahu mengapa tiba. Tubuhnya menggigll ketakutan. Nyawa taruhannya!" jelas Saka Lintang. Lebih-lebih setelah mendengar penuturannya yang polos itu. tapi mengapa kau baik padaku?" tanya Intan Kemuning tidak mengerti dengan sikap Saka Lintang. kau harus turuti kata-kataku!" kata Saka Lintang. Telinganya terasa dikilik. "Aku hidup di lingkungan laki-laki kasar dan brutal.

kecuali sanggup memasaknya sendiri!" potong Saka Lintang. "Aku tidak biasa minum arak. aku tidak bisa. Intan Kemuning memejamkan matanya.. Tangannya gemetar memegang gelas itu. "Maaf. "Untuk jadi pengikutku. Menginjakkan kakinya ke dapur saja tidak pernah. Diraihnya guci arak. Sebab selama hidupnya. apalagi memasak. segelas lagi buat dirinya. Kenapa harus hidup dengan orang dan lingkungan yang sama sekali asing? Intan Kemuning tidak dapat mem bayangkan apakah dia bisa hidup dengan cara seperti ini. lalu dituangkan ke dalam dua gel as pe-rak Satu gelas disodorkan pada Intan Kemuning.. "Masuk!" teriak Saka Lintang." "Di istanaku. 'Tapi. "Lama-lama kau akan terbiasa. semua minum arak! Tidak ada air minum. Intan Kemuning juga memandang ke arah pintu. belum pernah dia minum arak! Mencium baunya saja." ucap Intan Kemuning setelah reda batuknya." sahut Saka Lintang kalem.Dilangkahkan kakinya mendekati meja.." tolak Intan Kemuning. Intan Kemuning terdiam. "Ayo. Ragu-ragu Intan Kemuning menerima segelas arak yang disodorkan buatnya. diminumnya arak itu sedikit. Saka Lintang tersenyum melihat cara Intan Kemuning minum arak. Saka Lintang makin tertawa keras. Tiba-tiba Intan Kemuning terbatuk-batuk dan berdahak beberapa kali. Codet muncul. harus bisa minum arak!" paksa Saka Lintang. Saka Lintang menoleh ke pintu setelah diketuk dari luar. minum!" paksa Saka Lintang lagi. . Hatinya hanya bisa mengeluh dan menyesali diri. kepalanya terasa pening. Sambil menahan napas. Wajahnya memerah dan matanya berair.

cantik. *** . masih muda. "Kau lihat. "Pergilah! Laksanakan tugasmu!" Codet membungkuk lagi. laki-laki tadi hanya bentuknya saja yang kasar. biar saja. Codet membungkukkan badannya lagi." "Hamba laksanakan."Ada apa?" tanya Saka Lintang." Codet membungkuk hormat. Dia tidak yakin apakah mampu seperti Saka Lintang. Hatinya sedikit diliputi keraguan. kalau ada yang berani mengganggu Intan Kemuning. "Hm. Dia selalu ngeri jika lihat tampang laki-laki yang kasar dan kejam. Intan Kemuning hanya menelan ludah saja. Namun bayangan kekejaman di wajah Saka Lintang makin sirna dalam pandangan Intan Kemuning. Meski dia tadi sempat melihat bagaimana Saka Lintang membantai para pengawal Kadipaten dengan kejam. "Beritahu pada semua anggota. "Sebentar lagi kapal sandar. Tuan Putri. tapi mampu menguasai dan memerintah lakilaki bertampang kasar dan bengis. Intan Kemuning yang polos. mudah sekali jatuh simpati pada sikap Saka Lintang." "Tunggu!" cegah Saka Lintang melihat Codet akan berbalik. Dia hanya melihat suatu kelembutan dan kebaikan hati dalam diri Saka Lintang sebagai wanita yang tegar. "Hamba. Tuan Putri. Saka Lintang. kemudian berbalik Pintu kamar kembali tertutup rapat. Nyalinya kecil. Dari sini Intan Kemuning mulai bersimpati pada wanita yang usianya tidak terpaut jauh dari dirinya itu." iapor Codet. Tuan Putri. Saka Lintang memandang Intan Kemuning yang masih duduk di tepi pembaringan. Aku dan Intan tetap di sini Kalian bereskan semua barang-barang. akan berurusan denganku! Dia kini jadi adik angkatku!" ujar Saka Lintang keras." Saka Lintang menjentikkan jarinya.

Tuan Putri. Hasilnya memang tidak mengecewakan." "Cukup!" sentak Saka Lintang memotong." "Bagus kalau kau tahu!" Codet melirik Intan Kemuning yang duduk di bangku bawah pohon... . Pemimpin perompak dipercayakan pada Codet." sahut Codet. "Maaf. Sejak itu pula. "Benar. Mereka takut terhadap Bi dadari Sungai Ular!" sahut Codet.Seminggu rasanya belum cukup bagi Intan Kemuning untuk menyesuaikan diri di lingkungan para perompak.. Tuan Putri.. Dan selama seminggu itu Saka Lintang telah memberi dasar-dasar ilmu olah kanuragan. Berbahaya sekali buat kita kalau. Intan?" jawab Saka Lintang. "Maksudmu. "Kau tidak berolok-olok padaku. "Hari ini tidak ada kapal yang lewat. Bukan untuk mengaturku! Paham?!" "Hamba mengerti. Codet selalu pulang membawa hasil. hanya laki-laki berwajah kasar dan sc-ram. Tuan Putri. "Kau tahu." Codet cepat-cepat menghormat. apa akibatnya menentang kehendakku?" "Hamba. Dia itu seorang putri patih. "Kau tidak keluar.. "Kau kupercaya untuk jadi wakilku. Hampir-hampir Intan Kemuning tidak sanggup menjalaninya. Codet?" tanya Saka Lintang melihat Codet tengah berm alas-malasan.. Di sekelilingnya kecuali Saka Lintang. Agak jauh memang. Codet?" "Mana berani hamba mengolok-olok Tuan Putri? Bisabisa kepala hamba pisah dari badan. Sebuah buku bersampul hitam lusuh berada di tangannya. Apa Tuan Putri tidak salah mengangkat dia jadi adik?" takut-takut Codet bicara sambil ibu jari tangannya diarahkan pada Intan Kemuning. Saka Lintang tidak pernah lagi ikut merompak kapal yang lewat di sungai Ular. Cukup keras latihan yang diberikan.

Kemudian dia berjanji untuk selalu setia dan mengabdi pada gadis itu. Tapi hanya sekedar berkhayal. dia sering pergi ke desa terdekat. Sepuluh anak buahnya pun ikut dalam gerombolan ini. "Kalian ikut aku."Sekarang pergilah! Dan jangan coba-coba mengusik Intan Kemuning!" Codet membungkuk lalu pergi. Tapi justru baru kali ini mereka tunduk oleh seorang wanita! Codet menghampiri tiga orang temannya yang duduk melingkar menghadapi rusa panggang. Ketiga temannya mengikuti sambil tertawa-tawa. Sebagai pelampiasan nafsunya. Mereka semua bekas begal yang biasa berkeliaran mencari mangsa di hutan-hutan atau merambah desa-desa. Det?" tanya salah seorang." kata Codet sambil mencomot sepotong daging rusa. Dikhawatirkan Intan Kemuning akan jadi duri dalam daging! Codet sendiri dulu adalah seorang begal sebelum dikalah kan Saka Lintang. Codet yakin kalau buku itu berisi dasar-dasar ilmu pukulan tangan kosong dan latihan pengerahan tenaga dalam. "Cari hiburan!" Ketiga orang Itu tertawa seketika. Bau harum menusuk hidung dan membangkitkan selera. "Ke mana." jawab Codet. Semua lakilaki di tempat itu pasti berkhayal dapat menikmati kemulusan tubuhnya. "Ke desa. Tak ada orang yang tak tertarik dengan Intan Kemuning. Dan sekarang jumlah gerombolan ini tidak kurang dari tiga puluh orang. Mereka tahu kalau Codet mengincar Intan Kemuning. "Cari apa ke desa?" tanya yang lain. tapi takut kepada Saka Lintang. Kehidupan seperti itu memang bukan hal yang asing bagi mereka. Matanya masih sempat melirik Intan Kemuning. Tidak . Codet hanya menggerutu saja sambil membayangkan wajah Intan Kemuning. Codet melangkah pergi.

oleh karena Intan Kemuning putri seorang patih.lebih. Pikirnya. Apalagi jika nanti Intan Kemuning berkhianat. Hal inilah yang selalu mengganggu pikiran Codet. sudah tentu pihak Kadipaten tidak akan ringgal diam. Codet menyayangkan pemimpinnya yang tidak menyadari kemungkinan yang akan berakibat fatal! *** . Intan Kemuning memang selalu di bawah lindungan Saka Lintang. Ini jelas menyulitkan mereka. Mereka takut oleh aturan yang diberikan Saka Lintang.

"Sendika. Tiba-tiba langkahnya terhenti. "Kumpulkan prajurit pilihan. Dilaporkan bahwa kapal yang membawa Putri Intan Kemuning dirampok gerombolan Bidadari Sungai Ular.2 Suasana di Kadipaten kerajaan Galung tengah dirundung duka. Seorang tamtama berjalan tergopoh-gopoh menuju Pendopo. Gusti Patih. Patih Giling Wesi bergegas masuk ke kamar pribadinya. Istrinya terheran-heran melihat wajah suaminya yang merah padam. Melangkah hilir mudik dengan hati diselimuti kegelisahan." lanjut tamtama itu lagi. Patih Giling Wesi seperti orang kebingungan. "Gerombolan Bidadari Sungai Ular sangat ganas. "Bedebah!" geram Patih Giling Wesi murka. Sudah seminggu ini Patih Giling Wesi memerintahkan prajurit-prajurit pilihan untuk mencari kapal layar yang membawa putrinya. Gusti Patih. "Hamba menerima Iaporan dari beberapa telik sandi." jawab tamtama itu. Gerahamnya sampai bergemerutuk dengan wajah merah padam. kita berangkat sekarang juga ke sungai Ular!" perintah Patih Giling Wesi. lalu melangkah mundur. "Tamtama. Di Pendopo Kepatihan." tamtama itu memberi hormat. Dan betapa terkejutnya istri Patih Giling Wesi ketika . Sampai saat ini mereka belum memperoleh kabar berita sama sekali. "Cepat laporkan!" "Beberapa telik sandi yang hamba kirim untuk mencari keterangan tentang Putri Intan Kemuning. Matanya memandang ke depan Pendopo. ada apa?" tanya Patih Giling Wesi setelah tamtama itu mendekat memberi hormat. telah kembali pagi tadi. Gusti Patih." tamtama itu menuturkan dengan sikap hormat. Tidak peduli kapal siapa yang akan jadi sasaran.

" "Oh. terayun ke luar kamar.... "Kang Mas. Nada suaranya bergetar penuh kecemasan. "Dinda Rara Angken." pamit Patih Giling Wesi setelah menarik napas panjang. tidak ada gunanya kau menangis. Pikirannya terpusat penuh pada keselamatan putri mereka. Berdoal ah agar anak kita selamat.. Namun kakinya melangkah tegap. Tenangkan hatimu. Pedih hati Patih Giling Wesi melihat istrinya menangis. Rara Angken..suaminya mengambil pedang pusaka. "Kang Mas. Telah lam a patih itu tidak menyentuhnya lagi." sahut Patih Giling Wesi. "Aku pergi.!" Rara Angken menekap mulutnya." lembut suara Patih Giling Wesi. . "Intan. berada di kamar ini. Rara Anken masih terisak." Rara Angken tak kuasa lagi menahan air matanya. Aku berjanji akan membawa kembali anak kita. tapi firasatku mengatakan bahwa Intan Kemuning masih hidup.. 'Tapi mengapa harus membawa pedang pusaka?" "Beberapa telik sandi melaporkan kalau kapal yang membawa Intan Kemuning dirampok oleh Gerombolan Bidadari Sungai Ular. sehingga tak sadar kalau istrinya sejak tadi memperhatikan tingkah lakunya. Dia baru sadar kalau istrinya. Dinda.. Sementara sekitar lima puluh prajurit bersenjata lengkap sudah berbaris menunggunya di depan Pendopo. Air matanya menganak sungai di pipi.. anakku. Perompak itu memang ganas. "Untuk apa pedang itu?" tanya Rara Angken.. "Berdoalah pada Hyang Widi untuk keselamatan anak kita." ujar Patih Giling Wesi sambil mengelus-elus kepala dan bahu istrinya..." Patih Giling Wesi menoleh. "Aku akan mencari Intan Kemuning." lirih suara Rara Angken.

Kepatihan kembali sepi setelah mereka ke luar dari benteng diiringi oleh mata beberapa penjaga yang terkesima.. Semua orang yang berada di jalan segera menepi. Tanpa banyak basa-basi lagi. mereka lewati. Semua orang dalam kedai menoleh. Tetapi yang terlihat hanya kepulan debu saja. Pemuda itu mengenakan baju rompi putih yang lusuh. Mereka terheran-heran melihat banyak prajurit yang sudah terkenal kedigjayaannya seperti akan perang. Para prajurit bergegas menaiki kudanya masing-masing. duduk tenang seorang pemuda tampan yang tengah menghadapi guci arak. Derap langkah kuda terdengar bergemuruh meninggalkan kepulan debu bergulung-gulung. Tidak heran kalau para prajuritnya tertinggal di bela-kang. Padahal banyak orang dalam kedai bertanya-tanya dan mendugaduga. Di antara pengunjung kedai. patih yang terkena! pemberang itu segera melompat ke punggung kuda dengan gerakan yang lincah. Kuda hitam mengkilat itu mendengus-dengus berlari bagai anak panah melesat cepat Kuda Patih Giling Wesi memang kuda pilihan.. Patih Giling Wesi segera memacu kudanya dengan cepat diikuti oleh pasukannya. Sebuah jalan desa yang kanari kirinya berdiri rumah penduduk..!" Patih Giling Wesi meng-geprak kudanya agar lebih kencang lagi. Padahal mereka telah memacu kudanya secepat mungkin.. . Tiba kini sebuah kedai mereka lewati. Di punggungnya bertengger sebilah pedang dengan gagang berbentuk kepala burung rajawali. "Hiya.! Hiya. Pemuda itu tidak merasa terganggu oleh ulah prajurit kepatihan yang memacu kuda dengan cepat itu. Dia adalah Rangga.Seorang prajurit menuntun seekor kuda hitam tinggi kekar ketika Patih Giling Wesi tiba di depan Pendopo.

Mereka hanya pemuda-pemuda yang besar mulut tanpa nyali sedikit pun. Ternyata seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah menyangga tubuhnya. "Mereka mencari putri Intan Kemuning!" Semua orang di kedai terdongak dan menatap arah suara yang datang tiba-tiba itu. Memang. Merah padam wajah kedua pemuda itu. Dari tongkat dan pakaiannya semua orang tahu dia adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah. Dia tahu siapa dua pemuda congkak itu. "He he he. "Kecongkakanmu melebihi tingginya gunung. Tapi jarang yang tahu kalau nama sebenamya adal ah Aki Lungkur. bernama Hanggara.. Mereka putra-putra para punggawa kerajaan. 'Tidak biasanya. "Kakek gembel! Kau jangan bicara sembarangan!" bentak salah seorang dari dua pemuda tadi. Yang memakai baju berwarna merah.." sahut temannya. Dua anak muda duduk menghadapi empat guci arak. Bunga Kepatihan yang menjadi incaran dan impian putra-putra bangsawan dan punggawa kerajaan. "Seperti akan perang saja prajurit-prajurit itu. hilangnya Intan Kemuning belum tersebar luas kecuali para prajurit pilihan. Dari pakaiannya dapat ditebak kalau mereka anak seorang bangsawan kaya. Sedangkan yang berpakaian warna hijau bernama Rangkasa. Dan semua orang tahu siapa Intan Kemuning. Rangga melirik ke arah suara itu. tapi matamu buta! Kau tidak bisa melihat kejadian di sekelilingmu!" Aki Lungkur bergumam. Patih Giling Wesi ikut serta. Atau paling tidak anak saudagar." Aki Lungkur atau si Pengemis Sakti Tongkat Merah itu hanya terkekeh saja. Jelas ucapan .Pendekar Rajawali Sakti." terdengar suara dari meja tidak jauh dari tempat duduk Rangga.. Kakek tua itu bersandar pada tiang kedai. Pasti ada sesuatu yang gawat. Hanya tokoh-tokoh tertentu saja yang tahu nama aslinya.

maka gerombolan perompak itu bukan saja berhadapan dengan para prajurit tetapi juga dengan tokoh-tokoh sakti dunia persilatan. kalau aku benar maka aku minta kalian membebaskan putri Intan Kemuning dari sarang Bidadari Sungai Ular!" Setelah selesai kata-katanya. Adi Gering!" Mereka pun memacu kudanya dengan cepat. Maka kalau berita itu sampai tersebar luas. Kakang Badil. Bahkan dua pemuda congkak sudah sejak tadi meninggalkan kedai. "Benar. Tapi. Mereka mendengar pembicaraan Aki Lungkur dan segera angkat kaki ketika kakek tua itu menghilang. 'Tanyakan pada Gusti Rara Angken.Pengemis Sakti Tongkat Merah tertuju pada mereka. 'Pacu kudamu dan kita ambil jalan pintas. Kalau kata-kataku salah. Tinggal Rangga sendirian masih duduk menghadapi mejanya. "Kita harus laporkan segera pada Tuan Putri." bisik salah seorang. Aki Lungkur dengan cepat melompat dan hilang dari pandangan mata. Kata-kata kakek tua tadi bisa jadi ada benamya tetapi patut dipertanyakan pula. ." sahut temannya. Rasanya sulit dipercaya bila putri seorang patih yang terkenal dengan julukan Singa Medan Laga bisa ditawan oleh gerombolan Bidadari Sungai Ular. Semua orang tahu kalau hal itu benar-benar terjadi. Dan kini keadaan kedai menjadi sunyi. Hanggara dan Rangkasa saling berpandangan. rupanya dua orang gerombolan Bidadari Sungai Ular ada pula di kedai itu. Suara menggumam terdengar bagai lebah ditepuk sarangnya. Satu persatu pengunjung kedai berlalu pergi dari tempat itu. Tanpa diketahui orang-orang di kedai. bukan tidak mungkin mereka akan membantu Patih Giling Wesi. kalian boleh memancung leherku. Patih Giling Wesi mempunyai banyak sahabat dari tokoh-tokoh rimba persilatan. Seorang pelayan tua sekaligus pemilik kedai menghampiri.

"Kami punya berita penting. siapkan semua yang ada. Aku perlu teman ngobrol" sahut Rangga.." lanjut Badil. Dia melangkah dua tindak'Tadi hamba berdua minum-minum di kedai Pak Tua. *** Matahari hampir condong ke Barat. Dia yang menyebar kabar itu.. duduklah di sini. "Tidak!" sahut Badil dan Gering bersamaan. kedua tangan Saka Lintang telah berada di pinggang." kata Badil segera membungkukkan badannya. Di situ hamba melihat serombongan prajurit berkuda dipimpin langsung oleh Patih Giling Wesi. "Lalu?" desak Saka Lintang sudah bisa menebak "Di situ juga ada Pengemis Sakti Tongkat Merah. mereka melompat turun setelah kuda yang mereka tunggangi berhenti di depan rumah terbuat dari kayu. Intan. dua orang dari gerombolan Bidadari Sungai Ular. "Tidak. "Kalau begitu.. Penuh dengan kesigapan.." Badil setengah berbisik Matanya menerobos ke dalam. Penunggang kuda itu adalah Badil dan Gering. Tuan Putri. Tuan Putri." jelas Badil ketika Saka Lintang telah berada di luar rumah.'Tambah lagi araknya. Si gembel Itu tahu kalau Intan Kemuning ada di sini.. "Ada apa?" tanya Saka Lintang angkuh. Saka Lintang mengerutkan keningnya. "Katakan cepat!" "Menyangkut. Dua ekor kuda berpacu memasuki hutan di kaki lereng bukit Guntur. Inilah markas gerombolan Bidadari Sungai Ular. Pak Tua itu duduk di depan Rangga.. Ketika pintu terbuka. Dengan tergesa-gesa Badil menghampiri pintu dan mengetuknya dengan keras. Tuan?" Pak Tua menawarkan. "Kau takut?" cibir Saka Lintang. Sambut .

"Hamba laksanakan. "Aku. Yang dimaksud tikus tentulah orang. "Mereka hanya tikus!" bentak Saka Lintang. Sikapnya pun demikian. Intan Kemuning harus bisa menjaga diri dan berbuat apa saja yang dikehendaki Saka Lintang. Dia takut Saka Lintang tersinggung." pelan suara Intan Kemuning. Bukan hanya kata-katanya saja yang sulit dimengerti. tikus bodoh yang cari mampus!" Intan Kemuning mulai mengerti. Itulah Saka Lintang.kedatangan mereka!" perintah Saka Lintang tegas. Kadang-kadang kasar. aku heran saja. Kadang-kadang dia harus berpikir lebih dulu untuk dapat mengerti.. "Tidak. Sebenarnya ingin sekali Intan bertanya.. Bukan tikus sebenarnya. Ketika kedua orang itu telah pergi. "Ada tikus yang mencoba masuk... Tuan Putri. Tuan Putri. 'Tikus. Tapi setiap kali akan bertanya...... "Jumlah mereka banyak.?" Intan Kemuning belum mengerti. "Yah. Dia mendengar nada cemas pada suara Gering. di saat itu pula niatnya diurungkan. Tapi di balik kekasaran-nya." sahut Intan Kemuning tergagap." jawab Saka Lintang lalu duduk di balai berhadapan dengan Intan Kemuning. Saka Lintang bergegas masuk ke kamar kembali.. Dia tahu gelagat kalau Saka Lintang sudah membentak keras.!" Saka Lintang tertawa gelak .. "Ada apa Kakak Lintang?' tanya Intan. Dia menghampiri Intan Kemuning yang menunggu di balai tengah-tengah ruangan. "Kakak Lintang. tidak apa-apa." cepat-cepat Gering membungkuk.." "Apa yang kau herankan?" tanya Saka Lin¬tang. Intan Kemuning dapat melihat suatu pelampiasan kekesalan pada Saka Lintang. "Mengapa kau memandangiku begitu?" tanya Saka Lintang risih dipandangi terus.? Ha ha ha. "Aku. kadang-kadang lembut..." kata Gering..

Saka Lintang melompat turun. Sebentar matanya mengawasi keadaan sebelum menutup pintu. Saka Lintang sedikit kagum pada Codet yang pandai mengatur anak buahnya. lalu keluar. setelah kau selesai latihan tenaga dalam. Lima belas orang berjaga-jaga di markas mereka. Bibirnya tersenyum melihat anak buahnya telah siap menanti datangnya para prajurit kepatihan. Kenapa dia sampai tertawa gelak seperti itu? Namun dalam tawa itu. Tampak sekitar sepuluh orang berjalan menuju sungai Ular dipirhpin oleh Codet. Aku lihat jurus-jurus pukulan tangan kosongmu sudah mantap. tidak usah memikirkan aku! Yang penting. berlatihlah sekarang!" perintah Saka Lintang. Di belakang mereka. Intan Kemuning menangkap semacam kegetiran yang ditutup-tutupi di wajah Saka Lintang. Saka Lintang melenting tinggi lalu membuat gerakan berputar beberapa kali di udara dan hinggap dengan manis di atap rumah. Mata Saka Lintang menatap lurus ke depan. Pandangannya berkeliling. berjalan sepuluh orang dipimpin oleh Badil dan sepuluh orang lagi dipimpin oleh Gering. "Ingat.Intan Kemuning makin bingung melihat Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. . Bibirnya tersungging melihat Intan Kemuning mulai berlatih. sekarang giatlah berlatih. bersemadilah!" Intan Kemuning mengangguk kembali. "Ke luar! Aku akan kembali lagi jika kau sudah selesai berlatih." sahut Saka Lintang. "Kakak Lintang mau ke mana?" tanya Intan Kemuning ketika Saka Lintang turun dari balai. Saka Lintang melangkah dan menoleh sebentar pada Intan Kemuning. Dengan gerakan indah. Intan Kemuning hanya mengangguk." ujar Saka Lintang setelah reda tawanya. "Nah. "Sudahlah. Padahal kata-katanya tidak ada yang lucu. Perdalamlah lagi agar lebih sempurna.

Saat kakinya mendarat di tanah, kem bali dilentingkan tubuhnya dan hinggap di atas punggung kudanya. Segera dia menggebrak kudanya lalu melesat cepat menuju ke sungai Ular yang tidak jauh dari lereng bukit Guntur markas Saka Lintang sekarang ini. Sungai Ular memang indah dipandang, namun menyimpan keganasan yang luar biasa. Sebentar saja Saka Lintang telah sampai di sungai Ular mendahului anak buahnya. Matanya yang bulat bening memandang sekitar sungai yang tenang. Setenang sikapnya saat ini. Codet menggerak-gerakkan tangannya ke atas ketika mereka telah sampai di sungai itu. Dengan seketika anak buahnya berpencar masuk ke dalam semak-semak dan ke balik bongkahan-bongkahan batu. Kini di tepi sungai tersisa empat orang. Mereka semua memang terlatih baik dalam menguasai daerah sekitar sungai Ular. Maka dal am sekejap saja tidak ada orang yang terlihat. Mereka bagaikan lenyap ditelan bumi. Pandai menyamarkan diri dengan alam! "Dengar...!" seru Saka Lintang tiba-tiba. "Suara kuda," gumam Codet. "Hm, siapa dia," gumam Saka Lintang. *** Suara kaki kuda kuda makin jelas terdengar. Saka Lintang mengerutkan keningnya. Dia hanya mendengar langkah dari satu ekor kuda saja. Matanya langsung melirik Badil. "Hamba akan menyongsong, Tuan Putri!" ujar Badil mengerti maksud lirikan Saka Lintang. Badil dengan cepat melompat ke kudanya. Segera digebahnya kuda itu. Dengan cepat kuda yang ditunggangi Badil sudah tidak terlihat lagi. Lenyap di balik rimbunan pepohonan. Badil memacu kudanya menuju arah datangnya suara kaki kuda.

Tiba-tiba ditarik tali kekang kudanya dan seketika tubuhnya melontar tinggi. Kakinya dengan sigap hinggap di sebuah batang pohon yang tinggi. Matanya dengan seksama berkeliling. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada seekor kuda yang ditunggangi seorang pemuda. Tampak dua bilah pedang bertengger di punggungnya. "Kala Srenggi," desis Badil mengenali penunggang kuda itu. Badil menunggu beberapa saat sampai Kala Srenggi mendekat. Kemudian dia meloncat turun ketika Kala Srenggi tepat di bawah pohon yang dinaiki Badil. Kala Srenggi dengan tangkas melompat dari kudanya ketika merasakan ada penyerang gelap dari atas. Pedang Badil segera membabat namun luput Dia kecewa. Padahal dia yakin penunggang kuda itu akan pecah kepalanya tersambar pedang. Yang didapati hanya tempat kosong saja, "Licik!" dengus Kala Srenggi ketika kakinya menjejak di tanah. "Kau juga lebih licik dariku, Kala Srenggi," balas Badil. "Siapa kau?' tanya Kala Srenggi yang heran melihat penyerang gelapnya tahu tentang dirinya. "Aku Badil. Macan Gunung Sinai!" sahut Badil angkuh. "Hm..., Macan Gunung Sinai sampai nyasar ke bukit Guntur," gumam Kala Srenggi mencibir. "Ada urusan apa kau datang ke sini?" tanya Badil. "Aku hanya lewat," jawab Kala Srenggi acuh. "Tidak seorang pun diijinkan masuk ke bukit Guntur!" "He! Sejak kapan aku...." Kala Srenggi belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Badil telah menyerang dengan cepat. Kala Srenggi agak kewalahan menghindari serangan-serangan pedang Badil yang cepat dan berbahaya. Macan Gunung Sinai memang bukan nama kosong, dan Kala Srenggi tahu itu. Dengan cepat dia bersalto di udara. Tangannya segera menarik pedang

kembarnya. Sret! Traaang! Dua pedang berbenturan di udara. Pijaran api akibat benturan pedang berlompatan bersamaan dengan terpentalnya dua orang itu. Mereka memang bukan orang sembarangan. Tanpa kesulitan apa-apa, kaki mereka telah menjejak di tanah dengan lincah. Dua orang itu sama-sama kaget dan sama-sama merasakan kesemutan setelah pedang mereka beradu. Kini mereka sama-sama menyiapkan jurus-jurus selanjutnya. Sambil berteriak nyaring, mereka kem bali terlibat dalam pertarungan sengit. Masing-masing ingin segera menjatuhkan. Namun sampai lima jurus berlalu, belum ada yang terdesak. Memasuki jurus selanjutnya masih tetap seimbang. Beberapa kali ujung pedang mereka hampir menemui sa-saran satu sama lain. Namun semuanya masih dapat dihindari. Hingga pada suatu ketika, Kala Srenggi melompat mundur sejauh dua tombak sambil memasukkan pedang kembar ke sarung di punggungnya. Kini dikeluarkannya 'Aji Racun Merah". Melihat lawan tengah mengerahkan ilmu andalan, Badil pun tak ketinggalan dengan ilmu andalannya pula. Mereka sudah saling berhadapan siap menyerang dengan kesaktian masing-masing. "Hiya...!" "Hiya...!" Kedua orang itu melompat berbarengan. Kini kedua telapak tangan mereka bertemu di udara. Ledakan keras terjadi, disusul dengan terpentalnya dua tubuh. Kala Srenggi jatuh bergulingan di tanah beberapa depa. Sedangkan Badil tidak kalah parah. D ari hidung dan mulutnya ke luar darah. "Uhk!" Badil memuntahkan darah merah kehitaman. Sambil menahan rasa sakit di dadanya, Badil berusaha bangkit. Tubuhnya sempoyongan. Sementara Kala Srenggi juga berusaha berdiri. D ari sudut bibimya mengalir darah

segar. Tangan kirinya menghitam terkena ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil. "Setan! Salah satu di antara kita harus mampus!" geram Kala Srenggi. "Huh!" Badil hanya mendengus. Badil sadar kalau tubuhnya telah dialiri 'Racun Merah' dan hidupnya tak akan bertahan lebih lam a lagi. Kala Srenggi pun demikian. Dia terluka parah. Mereka samasama kepalang basah. Kembali ajian masing-masing mulai mengarah satu sama lain. "Berhenti!" tiba-tiba suara bentakan melengking nyaring. Namun terlambat! Kedua orang itu sudah kembali melompat dan beradu di udara. Kala Srenggi lagi-lagi bergulingan di tanah. Dari mulutnya menyembur darah kental kehitaman. Dia berusaha bangun, tetapi malah jatuh dan tak bergerak sama sekali. Mati. Kedua tangannya seperti hangus terbakar. Di pihak Badil, lebih mengerikan. Dia tergeletak dengan dada pecah. Darah bersimbah membasahi tubuhnya. Badil tewas seketika setelah tubuhnya tenanting di tanah. Sebuah bayangan biru berkelebat dan mendarat di tengah-tengah arena pertarungan tadi. Dia adalah Saka Lintang, kemudian disusul oleh Codet dan Gering. Kedua orang itu terkejut melihat Badil tewas dengan dada pecah. Saka Lintang malah tenang-tenang saja. "Hm, Kala Srenggi," gumam Saka Lintang. Gadis itu mengayunkan langkahnya mendekati mayat Kala Srenggi. Sebentar diamati dan dengan ujung kakinya dibalikkan tubuh Kala Srenggi. Tampak di bagian dadanya hangus terbakar. Tidak ada luka di tubuhnya. Juga tidak ada tanda-tanda Kala Srenggi masih hidup. Saka Lintang mengambil ranting, lalu menekan dada Kala Srenggi dengan ranting. Terkejut juga Saka Lintang ketika melihat dada Kala Srenggi yang mendadak ambrol setelah tersentuh ranting. Bagai ditiup angin saja! Dada Itu

Saka Lintang membalikkan tubuhnya. 'Tuan Putri. Kini malah Codet yang bimbang. Sungguh tragis nasib mayatmayat itu... Toh tadi dia juga sudah memerintahkan untuk mengubur mayat itu. tinggalkan saja di sini!" Tanpa banyak bicara. "Bagaimana?" tanya Saka Lintang menoleh pada dua anak buahnya. 'Terima kasih.kini berlubang besar tembus sampai ke punggung. Dia hanya berdiri dengan pandangan berganti-ganti dari Saka Lintang ke arah Gering yang tengah menggali dengan pedangnya... Dia kembali lagi lantas menggali tanah. kemudian melanjutkan langkahnya. mereka meninggalkan dua sosok mayat yang tergeletak di tanah. Sebentar lagi gelap. Gering menatap Saka Lintang yang hanya terlihat bayangan bajunya saja di antara pepohonan. Saka Lintang melangkah cepat. Tuan Putri. Tetapi untungnya. 'Tidak ada waktu." sahut Codet. "Tidakkah." agak bergetar suara Codet. Tanpa menghiraukan Codet lagi. Gering yang setiap hari selalu bersama-sama dengan Badil merasa tidak tega juga terhadap mayat temannya itu. Tak ada seorang pun yang sedia menguburkannya." "Bantu dia!" potong Saka Lintang cepat sambil menunjuk pada Gering." sahut Codet. mereka belum bicara. Codet bergegas mengham-\piri Gering dan membantu menguburkan mayat Badil. 'Tuan Putri yang memerintahku. Gering . "Kuburkan kedua mayat ini." sahut Codet. Saka Lintang hanya melirik.. "Mati." perintah Saka Lintang. Sungguh dahsyat ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil. Sampai selesai menguburkan Badil." ucap Gering.. "Kalau begitu.

Mereka memang tidak pernah mengurus mayat musuh.menatap mayat Kala Srenggi. Meninggalkan salah seorang teman yang kini terbaring di dalam tanah. mereka tinggalkan tempat itu. *** . Kini dengan hati lega. "Biarkan saja dia jadi santapan anjing hutan!" kata Codet Gering mengangkat bahunya.

Semalaman dia mencari di sekitar sungai Ular. Belum sempat Patih Giling Wesi beristirahat banyak. Para prajurit serentak turun dari kuda masing-masing. Dia segera memberi hormat setelah tiba di depan Path Giling Wesi. Berarti telah terjadi sesuatu pada kapal itu. Gusti Patih. Mereka mencari tempat beristirahat dan membuka perbekalan. Patih Giling Wesi duduk di atas punggung kudanya dengan lesu. Dan yang jelas kejadiannya di sungai Ular ini! "Rapaksa!" teriak Path Giling Wesi." salah seorang tamtama segera mendekat." kata prajurit itu sambil menyerahkan sebuah kalung tanda keprajuritan. istirahat!" teriak tamtama Rapaksa keras." kata Patih Giling Wesi. "Rapaksa!" "Hamba. Sinarnya membias menerangi mayapada. tibatiba datang seorang prajurit berlari-lari menghampirinya. Matanya mengamati sebentar. tapi tidak sedikit pun jejak kapal layar yang membawa putrinya ditemukan. Ada noda darah melekat di kalung itu. "Siapkan prajurit!" perintah Patih Giling Wesi. kita istirahat sebentar di sini. Rapaksa berlari menghampiri.3 Matahari baru saja menampakkan diri. "Ampun. Patih Giling Wesi lantas menyambar kalung itu. Rapaksa belum sempat menjawab. Hamba menemukan tanda keprajuritan di pinggir sungai. tiba-tiba terdengar . "Adya Bala. Didekatinya Patih Giling Wesi. Gusti Patih. "Beritahu prajurit. Patih Giling Wesi pun telah turun dari kudanya lalu menghampiri sebuah batu besar yang menjorok ke sungai. Dia duduk di atas batu menatap ke arah sungai yang berliku.

Tapi bukan berarti mereka bisa dengan mudah mengalahkan gerombolan ini." "Adya Bala!" teriak Patih Giling Wesi memberi aba-aba. Begitu prajurit bersiap.. Dia tidak lain adalah Saka Lintang. tidak semudah itu patih yang gagah.. Mereka semua memiliki tingkat kepandaian rata-rata di atas para prajurit pilihan sekali pun. "Ha ha ha.. Dua kelompok itu hampir seimbang jumlah-nya. bermunculan orangorang yang semuanya ber-seragam biru. "Intan Kemuning akan kukembalikan pada saatnya nanti. Serentak para prajurit yang lain bersiaga. Dada mereka tertancap tombak. Rasa terkejut mereka belum juga hilang ketika tiba-tiba muncul seorang wanita cantik mengenakan pakaian serba biru. Patih Giling Wesi makin geram menyadari keadaannya telah terkepung. "Siapa kau?!" bentak Patih Giling Wesi. Sebuah tombak berwarna biru dengan tangkai berukir huruf yang rapi dan indah. Patih Giling Wesi cepat melompat ke arah lima prajuritnya yang tewas. Dengan angkuh dia berdiri di atas batu tempat Patih Giling Wesi tadi beristirahat.teriakan dan disusul dengan rubuhnya lima orang prajurit." desis Patih Giling Wesi "Rupanya ada tamu agung berkenan mengunjungi wilayahku!" Patih Giling Wesi dan para prajuritnya terkejut mendengar suara yang tinggi menggema dibarengi pengerahan tenaga dalam yang sempurna. "Bidadari Sungai Ular!" jawab Saka Lintang mantap. "Bidadari Sungai Ular. Mereka semua telah siap dengan senjata di tangan. "Setan! Kembalikan putriku!" geram Patih Giling Wesi. seketika itu pula dari rimbunan semak dan dari balik bongkahan batu. Kelihatannya prajurit Kepatihan lebih banyak. Dia mencabut sebatang tombak dari salah seorang prajuritnya yang sudah tidak bergerak itu. Percuma saja kau kerahkan seluruh prajurit! Mereka hanya .

Menyadari lawan telah menggunakan jurus yang ampuh. Segera diperintahkan prajuritnya untuk menyerang. Pikirannya hanya terpusat pada keselamatan putrinya." kata Saka Lintang meremehkan. Patih gagah. Patih Giling Wesi tak ketinggalan dengan cepat melompat menerjang Saka Lintang. Beberapa prajurit telah banyak yang roboh. Pertarungan makin seru dan tak terlihat lagi oleh mata biasa.mengantar nyawa ke tempat ini!" ujar Saka Lintang pongah. Tubuh mereka seperti lenyap ditelan gulungan sinar . Yang terlihat kini hanya bayangbayang pedang yang bergulung-gulung menyelimuti tubuh Gering. sebuah bayangan berkelebat menghadang. Patih Giling Wesi tidak membuang-buang waktu lagi. Gering berdiri dengan pedang terhunus. Kalau saja bukan Patih Giling Wesi. Sudah tak tertahankan lagi amarah Patih Giling Wesi. Bunyi senjata beradu dan teriakan-teriakan pertempuran terdengar membahana. dan harus dimusnahkan!" geram Patih Giling Wesi. Bahkan beberapa kali dia dapat membalas serangan itu. Maka pertempuran pun berlangsung sengit. Patih Giling Wesi berteriak melengking dan merubah permainan pedangnya. "Kalian perompak liar. Sementara itu pertarungan semakin sengit. Jerit-jerit kematian makin sering terdengar menyayat dari pihak prajurit. Tetapi belum sampai dekat Saka Lintang. Gering pun segera merubah jurusnya pula. "Huh! Sontoloyo!" dengus Patih Giling Wesi. belum ada satu pun yang tewas. "Tidak semudah itu. Sedang dari pihak Bi dadari Sungai Ular. Tidak heran kalau Gering dapat mengimbangi permainan pedang Patih Giling Wesi. mungkin kepalanya sudah terpisah dari badan tersambar pedang Gering yang berkelebat cepat. Namun yang dihadapinya adalah Gering yang cukup tinggi ilmunya. Dia menerjang dengan jurus-jurus mautnya.

.. Kelihatannya. . Di luar arena pertarungan. Hingga pada suatu kesempatan. Patih Giling Wesi harus lebih hati-hati lagi. Codet mencabut golok besarnya. "Aaaakh. hanya dua yang tewas. Benda tajam itu berkelebat cepat dan mengarah ke bagian-bagian tubuh Patih Giling Wesi. Sementara Patih Giling Wesi terus mendesak dengan penuh nafsu. Tampaknya prajurit-prajurit Kepatihan makin kewalahan dan terdesak. golok itu berat sekali..!" Codet menjerit keras. Namun ketika berada di tangan Codet seperti ringan saja. Rupanya ujung pedang Patih Giling Wesi telah mengenai sasarannya. Saka Lintang sudah bisa menduga kalau sebentar lagi Codet akan jatuh. Saka Lintang hanya mengamati saja sambil bibimya menyungging senyum. setan!" geram Patih Giling Wesi. "Aaaakh. Jumlah mereka makin berkurang. Tepat seperti dugaan Saka Lintang.. Serangan-serangan yang dibangun Codet memang lebih dahsyat dan berbahaya di bandirig Gering. Gering segera mundur sambil menekap dadanya yang robek..pedang yang menimbulkan suara bersiutan. Kedudukan Codet pun kelihatan makin kewalahan. Ketika tubuhnya keluar dari gulungan sinar pedang. "Majulah. "Sebaliknya kau akan kukirim ke neraka!" sembur Codet. dada telah basah oleh darah.. Dia merasakan angin sambaran golok lawannya menimbulkan hawa panas. "Kau akan bernasib lebih buruk dari temanmu!" dengus Patih Giling Wesi.. Sedang dari pihaknya. tiba-tiba Codet menerjang masuk. Di saat yang genting itu. Gerakan-gerakan Codet makin ngawur. Gadis ini cukup memaklumi keadaan Gering karena lawannya memang tangguh.!" tiba-tiba Gering berteriak memekik. Hanya Gering yang kelihatan terluka parah dan kini dirawat oleh anak buah Saka Lintang.

akulah lawanmu!" teriak Saka Lintang. Patih Giling Wesi dengan cepat melompat ke tengah-tengah prajurit-prajuritnya yang sedang kewalahan menerima gempuran yang datang bagai air bah. Saka Lintang jadi geram. Prajuritprajurit yang semula kendor semangatnya. 'Patih Giling Wesi. sukar diduga. Gerakannya cepat. Masing-masing kelompok melompat mundur. Sebentar saja. Seperti orang kesetanan layaknya. Melihat orang-orangnya kewalahan menghadapi amukan Singa Medan Laga. tubuhnya mencelat ke udara dan menghadang serangan Patih yang mengamuk. Dia pun dapat mematahkan serangan lawan sebelum sampai. Meskipun hatinya terbakar am arah. Setiap pedangnya berkelebat. Patih Giling Wesi menatap tajam pada Saka Lintang yang sudah menghunus pedangnya. Seketika pertempuran terhenti. Dia cepat membaca gerakan lawan. "Huh!" Patih Giling Wesi mendengus sambil menyemburkan ludahnya. Bersamaan dengan itu.Pedang Patih Giling Wesi berhasil menembus dada Codet. Memang tidak sia-sia dia dijuluki Singa Medan Laga. Prajurit Kepatihan tinggal lima belas orang jumlahnya. seketika bangkit kembali melihat pemimpinnya mengamuk bagai banteng terluka. pasti ada seorang lawan yang ambruk mandi darah. Patih Giling Wesi mengamuk membabi buta. dua puluh mayat sudah menggeletak. Apalagi orangorangnya makin banyak yang tumbang. namun kelihatan sekali kalau Patih Giling Wesi bertarung menggunakan otak yang dingin. Darah segar segera muncrat ketika pedang itu ditarik ke luar. Codet limbung sebentar. lalu ambruk tak berkutik. Mereka seperti memberi peluang bagi masing-masing pemimpin untuk berlaga. Sepuluh orang sudah roboh di ujung pedang Patih Giling Wesi dalam tempo yang singkat. bahkan dengan cepat mendahuluinya. .

"Aku tidak akan membunuhmu. Sedangkan sasaran sesungguhnya adalah perut. Mengingat dirinya adalah seorang patih yang disegani. kali ini Saka Lintang tidak mainmain lagi. penuh gerak tipu yang berbahaya. Dan memang."Serahkan anakku. dia harus mengerahkan tenaga dan kepandaiannya. Patih Giling Wesi.. Semua serangan-serangannya. "Awas kepala!" teriak Saka Lintang tiba-tiba. Sejak tadi sudah diperhatikannya jurus-jurus Patih Giling Wesi. gerakan yang menyambar kepala hanya tipuan belaka. Aku hanya ingin memberirnu sedikit pelajaran agar kau tidak lagi pongah!" kalem dan tenang sekali suara Saka Lintang. "Ha ha ha. Jurus yang digunakan patih ini memang dahsyat.. Patih Giling Wesi mulai merasa sulit menghadapi. "Bocah setan!" geram Patih Giling Wesi merasa terhina. Dia telah tahu kelebihan dan kelemahannya. Tapi tak disangka-sangka. Dengan cepat pedang Saka Lintang berputar mengarah ke perut yang lowong. Dia hanya menghindar dan menangkis dengan gerakangerakan indah memukau. Saka Lintang melayaninya sambil tertawa -tawa. putrimu yang cantik akan jadi ratu setan!" dia langsung menyerang dengan jurus-jurus berbahaya. Trang! . Patih Giling Wesi tidak mau menyerah begitu saja. atau kau harus mati di ujung pedangku!" dengus Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi terkejut Cepat-cepat dia menggerakkan pedangnya melindungi kepala. Patih Giling Wesi memang tangguh dalam olah keprajuritan. Tetapi dalam menghadapi tokoh rimba persilatan seperti Saka Lintang ini. Dirubahnya serangan dengan menggunakan jurus-jurus andalan. akibatnya sangat fatal.. mentah dan rontok di tengah jalan oleh gadis ini. Untung Patih Giling Wesi cepat menarik pedangnya. Saka Lintang sengaja tidak membalas serangan lawan. Sedikit saja lemah.

Kombinasi antara ilmu pedang dengan jurus 'Pukulan Geledek' yang dikeluarkannya kini. pukulan tangan kiri Saka Lintang juga mencari sasaran. Saka Lintang mengakui kehebatan patih ini.Dua pedang berbenturan tepat di depan perut Patih Giling Wesi. Dalam hati. Daun-daun segera berguguran terkena sambaran angin kelebatan pedang yang menimbulkan suara gemuruh bagai angin puting beliung. langsung hancur berkeping-keping. Selain pedang yang menyambar-nyambar. Patih Giling Wesi belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Dengan 'Ajian Sayuti Angin'. Terlambat sedikit saja. Patih Giling Wesi dapat bergerak melebi hi kecepatan angin topan. Saka Lintang kini meningkatkan permainan jurusjurusnya. sangat dahsyat. Semua sama-sama dahsyat. Kenyataannya sangat tak disangka sama sekali. perut itu pasti sobek. Sedangkan Patih Giling Wesi juga sudah mengeluarkan kesaktiannya. Seratus jurus telah berlalu dengan cepat. Mereka m asih seimbang meskipun telah mengeluarkan jurus-jurus pedang tingkat tinggi. tapi kelihatannya belum ada seorang pun yang terdesak. Batang-batang pohon segera tumbang terkena tebasan pedang Patih Giling Wesi. Batu-batuan dan pohon-pohon yang terkena pukulannya. Masing-masing belum ada yang terdesak. . Tebasan dan tusukan pedangnya makin berbahaya dan menimbulkan tenaga dorongan yang dahsyat. Semula Saka Lintang menduga kalau kepandaian Patih Giling Wed berada jauh di bawahnya. "Setan! Ilmu apa yang dia pakai?" dengus Saka Lintang dalam hati. *** Pertarungan antara Patih Giling Wesi dengan Saka Lintang telah meningkat pada taraf yang genting. Tiga puluh jurus telah berlalu.

. . Trang! Trak! Saka Lintang melompat mundur dengan wajah terkejut. Namun tiba-tiba. Dia seperti menari. tangan Saka Lintang selalu bergetar bagai tersengat ribuan kala berbisa. Matanya mengerling genit disertai gerak-gerak bibir yang mengundang birahi. Dan. dengan cepat dan tak terduga sama sekali.. tangan kanan Saka Lintang melayang mengarah dadanya. Bahkan lewat begitu saja. Perih dan bergetar ke seluruh persendian tangannya. dengan lembut ditarik. Patih itu berusaha untuk tidak terpengaruh pada setiap gerakan tubuh yang indah itu. Gerakan-gerakan tubuh Saka Lintang jadi berubah. "Ah!" Saka Lintang memekik manja.. Bagian ujung pedangnya sempal.. Buru-buru gadis itu memasukkan pedang ke dalam sarungnya. Meliuk-liuk dengan indahnya dengan tangan bergerak-gerak lemah gemulai.. Sulit dipercaya! Pedang yang sudah sedernikian dekat tangan Saka Lintang yang bergerak lemah. Padahal tebasan pedang patih itu sangat cepat. Tidak sebanding dengan gerakan tangan yang lemah itu! Patih Giling Wesi segera menyadari kalau gerakan lemah gemulai yang mengundang birahi itu sangat berbahaya dan dapat mematikan lawan.Setiap kali pedangnya membentur pedang Patih Giling Wesi. Patih itu terkejut bukan kepa-lang. Tapi. Tangannya yang sudah terulur cepat.. tidak bisa membabat-nya putus. Sedapat mungkin dihindarinya benturan senjata. Hatinya mendadak bergetar melihat tubuh indah meliuk-liuk dan sikap yang mengundang birahi. Sesaat Patih Giling Wesi terpana. "Setan!" dengus Patih Giling Wesi dengan cepat melompat sambil membabatkan pedangnya. Dan kini dia telah siap dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Tangannya seperti dijalari jutaan semut yang menggigit. "Mampus kau!" bentak Patih Giling Wesi kembali melancarkan serangan mautnya.

Patih Giling Wesi merasakan suatu hawa panas menyebar. "Racun. Mendadak kepala Patih Giling Wesi terasa pening.!" desisnya. Patih Giling Wesi makin kewalahan. "hey! Uts!" Tiba-tiba Patih Giling Wesi tersentak. Seketika dia tersentak kaget. Sekuat daya Patih Giling Wesi menekan nafsu birahinya yang semakin berkobar-kobar. Patih Giling Wesi memutar otak. Daya pikat yang di pancarkan Saka Lintang begitu kuat Gerakan-gerakan patih itu jadi tidak teratur karena terpecah konsentrasinya. tepukan lembut itu menyerempet bahunya. Di samping harus menghadapi jurus aneh itu. . Tangan halus gemulai itu mendadak hampir menepuk pundaknya. Segera Patih Giling Wesi mengerahkan hawa mumi ke seluruh tubuhnya. mencari kelemahan jurus aneh yang dimainkan lawannya itu. Ujung pedang patih itu hanya menyerempet beberapa ram but saja. Setiap kali pedangnya berkelebat dan dipastikan akan menebas lawan. namun dengan manis Saka Lintang berhasil mengelak. Belum dapat dipastikan racun itu berbahaya atau tidak. Itulah kelebihan dari jurus Tarian Bidadari yang membuat lawan jadi frustasi karena mengira serangannya berhasil. dia juga harus berperang dengan batinnya sendiri.."Ouw!" Saka Lintang hanya mendesah manja sambil menggerakkan tubuh dengan indah. Serangan Patih Giling Wesi yang bertubi-tubi mengarah pada bagian-bagian yang mematikan.. Tetapi serangan dahsyat itu tidak pernah dapat menyentuh tubuh Saka Lintang. "Huh! Ilmu setan mana yang dipakainya?" dengus Patih Giling Wesi. Tetapi tak urung. Untung saja patih itu masih memiliki sedikit kewaspadaan sehingga tepukan tangan Saka Lintang berhasil dihindari. Namun dari anginnya sudah dapat dirasa.

Perlahan. mendadak sebuah blsikan lembut terdengar di telinganya. Patih Giling Wesi membuka lagi jalan darahnya setelah terasa racun yang terhisap tadi telah keluar dari tubuhnya. Ya. racun bakal terhisap lagi! Untuk menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni juga terlalu besar resikonya. "Jalan satu-satunya harus menahan panas. dia telah menghirup hawa racun yang disebar oleh telapak tangan Saka Lintang.lahan rasa pening di kepala berkurang. Patih Giling Wesi tidak dapat berpikir lebih banyak lagi. Bisa-bisa malah mati karena di dalam tubuh terjadi pertentangan dua hawa yang ber-lainan. Hawa murni itu telah menutup seluruh aliran darahnya. Bisikan yang entah datang dari mana. Dalam hati Patih Giling Wesi mengatakan bahwa tidak mungkin bertarung sambil menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni. Sementara Saka Lintang telah mulai lagi dengan jurus 'Tarian Bidadari'. tetapi pandanglah matanya. Patih Giling Wesi seperti kehilangan akal dalam menghadapi lawannya kali ini. rasanya tidak mungkin. Tapi apakah mampu menahan napas sambil bertarung? Kalau hanya sepuluh jurus saja dia masih mampu. *** "Jangan hiraukan tangannya.Secara tidak l angsung. Yang jelas bisikan itu mengatakan tentang kelemahan jurus 'Tarian Bidadari'. Tubuhnya jadi terasa hangat. . menahan napas!" bisik hati Patih Giling Wesi. Sepertinya suara itu begitu dekat dan jelas. Patih Giling Wesi menatap Saka Lintang yang berdiri tenang dengan bibir menyungging senyum memikat. Tetapi kalau tidak begitu. Tetapi lewat dari sepuluh. Di saat Patih Giling Wesi dalam kebingungan.

digunakan pernapasan perut di samping memandang mata lawan. Cukup besar sayatan menggores bajunya." jelas bisikan itu. sering luput dari perhatian. Semangat timbul lagi. Bahkan beberapa kali ujung pedang Patih Giling Wesi hampir menembus perutnya. Rupanya gerakan-gerakan lemah lembut Saka Lintang harus dihadapi pula dengan gerakan yang lemah sedikit kaku. Namun semuanya tertutupi oleh gerakan-gerakan lemah gemulainya.Arahkan pedang pada pusarnya." terdengar lagi bisikan itu. kelihatan Saka Lintang mulai kebingungan. "Ikuti setiap gerak kakinya. Setiap gerakan Saka Lintang selalu dapat dibaca olehnya. Patih Giling Wesi makin gembira karena merasa di atas angin. Saka Lintang segera melompat mundur. Dan benar saja. "Ih!" Saka Lintang terkejut ketika ujung pedang patih itu berhasil merobek baju bagian perutnya. Cepat-cepat ditutupinya bagian yang terbuka itu. Kian lama gerakannya menjadi kacau. Hatinya gembira. . Dia sudah mulai merasakan kalau Saka Lintang menemui kesulitan. Merah pada wajah gadis itu menahan malu. Hembuskan melalui mulut. Untuk bisa melakukannya. tidak beraturan. Sedangkan pada bagian perut yang terbuka. Tanpa ragu-ragu lagi. Mungkin karena lawan telah terpengaruh oleh gerakan-gerakan yang mengundang syahwat itu. Patih Giling Wesi segera bergerak mengikuti setiap gerakan kaki Saka Lintang. Dia jadi geram karena kelemahan jurus andalannya terbaca lawan. Pedangnya terhunus ke arah pusar." bisikan itu terdengar lagi. patih itu segera menatap mata Saka Lintang. "Pusatkan napas pada perut. Mudah dan sederhana sekali petunjuk yang diberikan sehingga Patih Giling Wesi dengan cepat memahaminya. Saka Lintang mulai sulit menebarkan racun lewat pukulannya. baru dua petunjuk saja.

Kadang lambat.!" Suara terkekeh tiba-tiba terdengar menggema dari segala penjuru." desis Patih Giling Wesi. "Selamatkan putrimu di bukit Guntur. Kini disiapkannya jurus andalannya yang terakhir. jangan campuri urusanku!" . kemudian merayap cepat menyusur tanah.hingga jadi lupa terhadap daerah lowong itu. Patih Giling Wesi sangat menghormatinya meski dia hanya seorang yang lebih mirip pengemis. biar lebih cepat kau kukirim ke neraka!" dengus Patih Giling Wesi.. Seketika dia menduga kalau kakek tua inilah yang membisikkannya tadi. tetapi segera berubah cepat. Tingkat kepandaiannya memang sulit diukur.. Mulutnya mendesis bagai ular.. "Adi Patih Giling Wesi. Jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Dia sudah tahu siapa kakek tua itu. mundurlah. "Bedebah! Kakek busuk. "Huh! Ilmu setan mana lagi yang digunakannya?!" dengus Patih Giling Wesi.. Dalam menghadapi Patih Giling Wesi. Saka Lintang hanya mendengus saja.. Kemudian muncul seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah di tangannya. "Ular harus dilawan dengan tongkat!" kata kakek tua yang tidak lain adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah atau Aki Lungkur." kata Aki Lungkur tanpa mengecilkan kepandaian patih itu. "Keluarkan seluruh kesaktianmu. Dia sama sekali tidak tahu kalau patih itu mendapat petunjuk dari bisikan misterius yang hanya dapat didengar oleh patih itu sendiri." kata Aki Lungkur lagi. Dia bukan lawanmu. Saka Lintang kali ini memang menelan pil pahit. Sebentar dia melompat. "He he he. Gerakan-gerakan yang diperlihatkan memang aneh. Patih Giling Wesi pun mundur dua tindak. "Aki Lungkur.

mereka langsung menyerang para prajurit yang belum pergi jauh itu. Tanpa dikomando lagi. *** Pada waktu yang bersamaan. mungkin rumah itu sarangnya.. hanya 15.. Bersama prajuritprajuritnya dia menuju bukit Guntur." kata Aki Lungkur tanpa mempedulikan bentakan Saka Lintang. Telinganya yang tajam menangkap suara gerak langkah kaki tersembunyi. si Pendekar Rajawali Sakti. Rangga terus melenggang. Bibirnya menyungging senyum... seorang pemuda berbaju rompi putih berjalan menelusuri kaki bukit Guntur sambil bersiul-siul... Patih Giling Wesi segera berangkat. Kepalanya tergeleng-geleng begitu mendengar suara berkeresek. "1. Rangga masih melenggang tenang. Dan kini telah mengepung dirinya. Tentulah kepandaiannya tidak bisa dianggap enteng. Dia tahu kalau dirinya telah memasuki daerah markas Bidadari Sungai Ular.. Aki...bentak Saka Lintang geram." Aki Lungkur terkekeh lagi." kembali Rangga . Suara siulannya berhenti. Ah... 2. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu. "Baik. Dari gagang pedang yang menempel di punggungnya dapat diketahui kalau pemuda itu adalah Rangga. Tanpa mendapat peringatan pun. anak angkat Geti Ireng. "Hm. Hati-hatilah. Sambil bersiul-siul dengan irama yang tak jelas." sahut Patih Giling Wesi. Terbukti Patih Giling Wesi tidak mampu menandinginya. 3.. "He he he. Aki Lungkur tahu siapa lawan yang dihadapinya kini..." gumam Rangga menghitung. Saka Lintang segera memerintahkan anak buahnya menghalangi para prajurit Kepatihan itu. "Cepatlah berangkat! Jangan buang-buang waktu lagi. Seorang gadis..

Digenjot kakinya. Namun tebasan pedang itu hanya mengenai angin. kembali! Atau tubuhmu kujadikan dendeng!" ancam Jambak. "Aku hanya pengembara dan kebetulan lewat sini. Dan. Namanya Jambak. kenapa?" Rangga berlagak dungu. Rangga hanya tersenyun.bergumam ketika melihat sebuah rumah kayu di depannya. "Jangan banyak tanya. Tidak terlalu sulit untuk mencapai sana. "Berhenti!" bentak salah seorang dengan keras. "Lho. Kelima belas orang itu hanya melongo. "Waduh. Ayo. galak sekali. Pedangnya terayun cepat mengarah kepala Rangga. dan dengan cepat tubuhnya melenting di udara. "Siapa kau? Apa maksudmu datang ke sini?" tanya orang yang membentak tadi. Jambak yang memiliki kepandaian cukup tinggi. Dia segera melompat dengan ilmu peringan tubuhnya. Bagaikan terbang saja. "Teman-teman. Diayunkan langkahnya. serang keparat ini!" perintah Jambak. 'Tidak ada seorang pun yang boleh memasuki kawasan ini!" kata Jambak galak. Tanpa peduli Rangga meneruskan perjalanannya. mendadak dari rimbunan semak-semak bermunculan orang-orang berpakai an serba biru dengan senjata terhunus." Rangga berlagak kaget. "Wuih! Sadis sekali. Rangga hanya tersenyum saja." jawab Rangga kalem. Dia salah seorang kepercayaan si Bidadari Sungai Ular." "Pergi!" bentak Jambak keras. Seketika empat belas orang temannya dengan cepat mengurung Rangga sambil berteriak-teriak mengacungkan senjata. segera memerintahkan . Jambak jadi gusar karena kata-katanya tidak digubris sama sekali. Rangga melayang menuju rumah kayu di tebing bukit. Rumah beratap rurnbia itu bertengger di kaki lereng yang cukup terjal.

. tangan Rangga bergerak cepat. Dan kini orang itu telah ambruk tak berkutik.macam senjata beradu dengan tombak di tangan Rangga. Macam-macam bentuk senjata bertebaran mengepung tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Licin dan berkelit ke sana kemari menghindari segala bentuk serangan yang datang bertubi-tubi. belum ada satu pun senjata yang berhasil menyentuh tubuhnya. Dia hanya meliuk-liukkan tubuhnya tanpa menggeser kaki sedikit pun. semua serangan Jambak hanya dianggap main-main saja. Denting macam. kalian hanya kronco!" dengus Rangga begitu kakinya menjejak tanah di depan rumah kayu itu. cantik. Dalam keadaan dikeroyok seperti itu. Selesai ucapannya. Rupanya Rangga menggunakan satu jarinya untuk menotok kening orang itu. Namun sampai sejauh ini. Kaki Rangga baru bergerak jika datang serangan lain secara keroyokan. Jambak yang datang lebih dulu dari teman-temannya dengan cepat menyerang ganas. Sekejap saja seorang dari pengeroyoknya yang menggenggam tombak terhuyung ke belakang. Dan tibatiba muncul seorang wanita muda. Darah menguncur deras dari keningnya yang bolong.. Rangga masih sempat melirik ke arah pintu rumah yang terbuka. Tombak itu telah berpindah tangan. "Hm. Namun bagi Rang-ga. dan menggiurkan. Rangga bagai seekor belut.. "Maaf. Rangga tidak lagi kewalahan. sehingga kening orang itu bolong! Kini dengan tombak di tangan. Rangga sedikit terpana melihat kecantikan wanita yang tidak lain adalah Intan . Sangat keras totokannya.teman-temannya mengejar. Dia sendiri berlompatan dengan bantuan ilmu peringan tubuhnya. Rangga hanya berkelit menghindari tebasan pedang yang datang bagai air bah itu. pinjam tombakmu!" kata Rangga kalem. mengenakan pakaian merah muda dari bahan sutra halus di depan pintu.

. "Bagi dua!" teriak Bayangan Hitam. Belum lagi kering darah itu. Terdengarlah siulan yang panjang dan melengking tinggi. "Jambak. Rangga kini sibuk menghadapi para pengeroyoknya yang semakin ganas. Dari raut wajah yang panjang kurus." "Huh! Lalu di mana Gusti Putrimu?' "Menghadang perusuh di sungai Ular. Serentak dari balik-balik pepohonan muncul sekitar dua puluh orang berpakaian serba hitam. Jambak merasakan lawannya bukan tandingan mereka semua. Lebih-lebih setelah mendengar l agi suara jeritan panjang melengking. Sebentar saja sesosok tubuh kurus tinggi berbalut baju hitam ketat telah berdiri di tengah-tengah lapangan depan rumah kayu itu.. Mereka semua menyandang pedang di punggung. Dua orang kini terhuyung sambil menekap dada." Si Bayangan Hitam mendongak seraya memonyongkan bibir. Rangga menggerakkan tombaknya semakin cepat. .!" seru Jambak gembira melihat berkelebatnya sebuah bayangan.Kemuning. Darah segar segera mengucur dari dada yang robek itu. siapa tikus itu?" tanya Bayangan Hitam. Sebentar saja sudah delapan orang yang telah mengantar nyawa. "Bayangan hitam. Namun dia tidak dapat memperhatikan lebih lama lagi. Tubuh-tubuh bermandikan darah mulai bergelim-pangan. Hatinya bergetar juga. Siulan itu menggema dipantulkan oleh bukit-bukit batu dan lembah. "Cukup!" Tiba-tiba terdengar bentakan keras melengking. "Dia coba-coba menggerogoti lumbung. dapat ditebak kalau orang itu wanita. lalu ambruk tidak berkutik lagi. Pekik kematian kini terdengar saling susul. disusul am-bruknya dua orang lagi. menyusul dua orang terhuyung-huyung lalu ambruk.

namun dia sama sekali tidak membenci Bayangan Hitam. anak muda?!" tanya Bayangan Hitam.Tanpa banyak omong. Segera mereka berlari menuruni lereng bukit menuju sungai Ular." jawab Rangga. orang-orang yang baru bermunculan itu segera membentuk dua kelompok. "Oh. "Jambak. Bayangan Hitam tidak pernah ingin ikut campur dalam urusan Geti Ireng. Episode: Iblis Lembah Tengkorak) "Siapa kau. *** Bayangan Hitam bukan orang lain bagi Saka Lintang. Dia adalah seorang tokoh sakti yang tangguh dan sukar dicari tandingannya. terima kasih" Jambak membungkukkan tubuhnya. Semangat mereka timbul kembali setelah hampir diporak-porandakan. Sisa empat orang teman-teman Jambak masih terdiam di tempatnya. Bantu Gusti Putrimu!" perintah Bayangan Hitam. Secercah harapan muncul dan terbias di wajah mereka melihat kehadiran Bayangan Hitam. Dari julukannya. Mereka semua tahu siapa Bayangan Hitam. "Sombong!" dengus Bayangan Hitam sedikit gusar. Lagi pula. Dari sekilas pandang saja. Meski Saka Lintang telah mengetahui asal-usulnya. ayah angkat Saka Lintang. Dia adik kandung Geti Ireng. Wanita kurus ini sangat baik terhadap Saka Lintang. Bayangan Hitam datang membawa anak buahnya. "Sebutkan namamu sebelum kau kukirim ke neraka!" . bawa satu kelompok orangku. Benar-benar suatu kebetulan. Jambak cepat memberi isyarat pada salah satu kelompok Bayangan Hitam. Jadi Bayangan Hitam adalah bibi angkatnya. Rangga sudah dapat mengukur tingkat kepandaian perempuan kurus ini. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti. "Namaku tak ada artinya buatmu. dapat dipastikan kalau tokoh ini dari aliran hitam.

baru kali ini. Lebih-lebi h setelah menyaksikan sepak terjangnya yang dengan mudah merobohkan sepuluh orang dalam satu jurus yang diulangulang terus. Dia tidak kenal dengan pemuda tampan itu. Wajahnya tampak berubah merah. terkejut. Tapi diam-diam Intan Kemuning tertarik juga melihat ketampanannya. bocah setan! Kau berhutang nyawa padaku!" ujar Bayangan Hitam. "Aku membunuh saudaramu. Tak disangkasangka dia bertemu dengan pembunuh kakak laki-lakinya. pasti tingkat kepandaiannya tinggi sekali. Dia segera mencabut pedangnya ketika Bayangan Hitam telah siap dengan ."Aku Pendekar Rajawali Sakti. "Kebetulan kau muncul. untuk apa perempuan kurus atau Bayangan Hitam itu muncul. bagaimana mungkin aku berhutang nyawa padamu?" "Kau membunuh saudara laki-lakiku! Kau harus bayar dengan nyawamu!" "Siapa saudaramu?' "Geti Ireng atau Iblis Lembah Tengkorak!" Rangga mengerutkan keningnya." lantang suara Rangga. Bukan hanya Intan Kemuning yang terkejut Ternyata Bayangan Hitam pun kaget setengah mati. Apalagi si pem bunuh itu masih muda dan tampan. "Aku datang untuk mengambil Putri Intan Kemuning!" Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu rumah kayu. Kalau anak muda ini dapat membunuh Iblis Lembah Tengkorak. "Aku tidak peduli! Yang jelas kau harus bayar nyawa saudaraku!" Rangga yang sudah mengukur kepandaian Bayangan Hitam tidak sungkan-sungkan lagi. Kelihatannya dia telah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Mendengar namanya saja. Kini dia mengerti sudah. karena dia membantai keluargaku!" lantang dan mantap suara Rangga. "Bertemu saja baru kali ini.

pedangnya. Kini dia mengeluarkan jurus andalannya juga. Bayangan Hitam segera menyerang Rangga dengan jurus-jurus pedang yang dahsyat Sekejap saja mereka telah bertarung dengan jurus-jurus pedang tingkat tinggi. Sementara Rangga tidak bergeming sedikit pun. putih. Pedang Rangga berputar-putar berkelebat memancarkan sinar biru yang menyilaukan. Kini tubuh mereka tidak terlihat jelas. dan biru saling berkelebat Semua yang ada di situ melongo. bisa jadi tangan kanannya pisah dari badan terbabat pedang Rangga. takjub. Bayangan Hitam segera melompat mundur satu tombak. Sinar hitam menggulung-gulung bagai asap tebal. Rangga segera memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Dua sinar berbeda saling sambar dengan hebat-nya. Dirasakan tangannya kesemutan ketika pedangnya beradu. satu jurus andalan tingkat pertama. Pedangnya melintang di depan dada. Sret! 'Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam. anak setan!" geram Bayangan Hitam sambil membuang pedangnya begitu saja. Yang kelihatan hanya bayangan hitam. tapi sinar matanya tajam menatap lurus Bayangan Hitam. Kian lama pertarungan kian seru. "Edan!" dengus Bayangan Hitam melihat ujung pedangnya buntung. Trang! Dua pedang beradu menimbulkan pijaran bunga api. Sedangkan pedang Bayangan Hitam menderu-deru menimbulkan hawa panas. Sebentar saja sepuluh jurus telah berlalu. Bibirnya mengulum senyum. Rangga tidak merasakan apa-apa waktu pedangnya berbenturan tadi. Kalau saja Bayangan Hitam tadi tidak melompat. Mereka telah saling berhadapan. Dia pun bersiap-siap mengerahkan jurus 'Cakar Rajawali'. "Keluarkan ilmu kesaktianmu. . Jari-jari tangannya seperti kaku. Bayangan Hitam pun tak kalah siapnya.

"Glaaar. Rangga mengerutkan keningnya ketika merasakan angin sambaran pukulan yang sangat dahsyat. Beberapa pohon tumbang terkena sambaran angin pukulan Rangga.!" desis Rangga memuji dengan tulus "Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam. Pertarungan dua tokoh sakti itu kembali berlangsung. Rangga berdecak kagum melihat kedahsyatan pukulan Bayangan Hitam. Kedua kaki Rangga kini tidak lagi menjejak tanah. Kini hanya dua bayangan hitam dan putih berkelebat. Kedua tangan yang selalu mengembang bagai sepasang sayap itu menyambarnyambar mengikuti gerakan tubuh Rangga yang kadang melayang.. Kedua tangainya menyambar-nyambar menimbulkan deru angin kencang. Tubuhnya . Rangga pun segera merubah jurusnya menjadi 'Sayap Rajawali Membelah Mega'.. Debu mengepul di udara disertai angin yang menderu-deru bagai terjadi topan. Bayangan Hitam sampai terperanjat. karena kaki-kaki Rengga saling susul mengarah kepala. tubuhnya berar-benar seperti bayangan saja.!" Suara ledakan keras terdengar ketika tangan Bayangan Hitam menghantam batu. "Hebat. Kedua kaki Rangga makin bergerak cepat. Seketika Bayangan Hitam merubah jurusnya."Bersiaplah!" Bayangan Hitam segera menggebrak setelah selesai memberi peringatan. kadang menukik "Akh!" Tiba-tiba Bayangan Hitam memekik kesakitan. Kakinya bergerakgerak lincah mengimbangi gerakan Bayangan Hitam yang sangat cepat.. Sulit diiihat denjan mata biasa. Seketika batu itu hancur berkeping-keping menyebar ke segala penjuru.. Kedua tangan Rangga mengembang. Kin dengan jurus 'Bayangan Maut'.

tibatiba muncul sepuluh orang berpakaian serba hitam dipimpin oleh Jambak. Semangatnya segera .terhuyung dua tombak. Makin lama orang-orang berpakaian serba biru semakin berkurang jumlahnya. Saka Lintang tidak mungkin membantu orang-orangnya. Bibi Bayangan Hitam datang!" teriak Jambak. kaki Rangga berhasil mengenai pundaknya. Serentak sepuluh orang berpakaian serba hitam bergerak menyerang Rangga. Tanpa dapat dihindari lagi. Saka Lintang bertarung dengan Pengemis Sakti Tongkat Merah. 'Tuan Putri. Tulang pundaknya patah sehingga sulit digerakkan lagi. Empat orang anak buah Bidadari Sungai Ular yang tersisa membantu mengeroyok Rangga. Bayangan Hitam mengeram menahan sekit yang luar biasa karena menyadari tangan kirinya tidak bisa digerakkan lagi. Dia sendiri kewalahan menghadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah. Yang tersisa hanya delapan orang saja. pertempuran masih berlangsung sengit. Denting senjata bercampur dengan jerit kematian. Patih itu mengamuk terus. Sedangkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya menghadapi anak buah Bidadari Sungai Ular. Mereka penasaran karena belum bisa menggoreskan pedang ke tubuh Rangga. Saka Lintang berseri-seri wajah nya. Dia berusaha menghindari kepala. Saat gerom bolan perom pak itu makin terdesak. tapi tidak bisa lagi menarik pundaknya. "Serang. Prajurit Kepatihan yang dipimpin Patih Giling Wesi itu kini berada di atas angin. *** Sementara di sungai Ular... "Kurang ajar!" geram Rangga sengit.!" teriak Bayangan Hitam keras melengking. Setiap pedangnya berkelebat selalu menimbulkan korban.

. Kini keadaannya jadi berbalik. "Biar orang-orang ini aku yang hadapi!" Patih Giling Wesi segera melompat tinggi dan bersalto di udara. Lima orang membantu anak buah Saka Lintang. Dengan cepat dia berlari menggunakan ilmu peringan tubuh. Pengemis Sakti Tongkat Merah mendengar hal itu merasa bersyukur karena Pendekar Rajawali Sakti telah sampai di sarang gerombolan Bidadari Sungai Ular. Saka Lintang segera melompat keluar dari pertarungan ketika ada kesempatan. "Lalu. Pengemis Sakti Tongkat Merah mengamuk memutar-mutar tongkat saktinya. .?" Saka Lintang terkejut." jawab Jambak. Saka Lintang mendekati Jam bak yang tengah mengeroyok Kakek Sakti Tongkat Merah. 'Tengah menghadapi Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya mencelat tinggi di udara dan jatuh tepat di samping Patih Giling Wesi. "Apa. Pengemis Sakti Tongkat Merah yang sejak tadi mendengar.bangkit mendengar Bayangan Hitam ikut membantu. Bagaikan kilat tubuh patih itu dan kini sudah jauh meninggalkan pertempuran. "Cepat ke bukit Guntur! Selamatkan putrimu!" perintah Kakek Pengemis itu. bagaimana Intan?" tanya Saka Lintang dengan cemas.. Satu persatu orang-orang berpakaian serba hitam tersungkur berlumuran darah disertai jerit kesakitan. lalu berteriak nyaring. "Di mana Bibi Bayangan Hitam sekarang?" tanya Saka Lintang di sela-sela pertarungan. lima orang lagi membantu mengeroyok Pengemis Sakti Tongkat Merah. "Berada di markas!" sahut Jambak. Orang-orang dari Bayangan Hitam lebih tinggi tingkat kepandaiannya dan lebih ganas dalam bertarung. Apalagi melihat anak buah Bayangan Hitam ikut bertempur. langsung dikeluarkannya ilmu lari cepat. Begitu kakinya menginjak tanah.

"Rantai Bayangan!" teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. Empat orang ber-pakaian biru keluar dari arena. Gerakan kakinya lincah menghindari setiap serangan lawan. Di markas gerombolan Bidadari Sungai Ular. Tongkatnya seperti hidup menyambar. Mereka seperti menghadapi seribu pengemis. "Cari kesempatan! Kejar mereka!" teriak Jam bak gusar. Mata Rangga tajam mengamati gerakan sepuluh orang yang berputar mengelilinginya sambil pedangnya tersilang . Kini jumlah mereka makin berkurang saja. Jurus ke-tiga dari rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Perintah Jambak seperti tertelan angin. selalu menghalangi setiap orang yang akan mengejar para prajurit.. Rangga mengamuk menghadapi Bayangan Hitam yang dibantu oleh kaki tangannya. "Jangan membantah!" dengus Aki Lungkur. pertarungan masih berlangsung sengit. sedangkan pedangnya berkelebat ke arah tubuh lawan yang kosong. Aki Lungkur bergerak cepat menyambar setiap orang yang berusaha keluar dari medan pertarungan. Rangga mencabut pedangnya dan mengerahkan ilmu pedangnya yang dipadu dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. "Cepat susul Gustimu!" teriak Aki Lungkur kepada para prajurit. Seketika sepuluh orang mengambil posisi melingkar mengepung Rangga. Jambak memutar otaknya mencari jalan agar sebagian temannya bisa keluar dari pertarungan.. Kakek sakti menebas tongkatnya sehingga satu persatu bergelimpangan. Sementara Kakek Pengemis kian waspada.nyambar mencari mangsa. Ki. Delapan prajurit Kepatihan itu langsung beriari menyusul pemimpinnya. 'Tapi.Mereka bukanlah lawan Pengemis Sakti Tongkat Merah.!" seorang prajurit tidak tega meninggalkan orang tua itu sendirian.

Makin lama makin cepat Yang terlihat kini hanya bayangan hitam yang bergerak melingkar. Gencar sekali. Rangga mendarat di tanah. Mata Rangga tidak lepas mengamati setiap serangan yang datang. datang dari segala penjuru secara berganrJan. "Aaaakh. Rangga tidak akan menggunakan senjata jika lawan tidak pula menggunakannya. Tetapi dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti dapat menguasai diri... mereka bekerja sama dengan gerakan-gerakan yang teratur dan menunjang.!" Beberapa tubuh yang tidak sempat mengelak langsung bergelimpangan dengan dada teriembus patahan pedang mereka sendiri menyusul jeritan kematian.. Seperti mata rantai. Pedang mereka terkena sambaran pedang biru menyilaukan. Trang! Trang! Trang! Kepingan-kepingan logam pedang yang patah meluncur deras ke arah orang-orang berpakaian serba hitam yang kebingungan.!" Rangga kebingungan juga menghadapi pola serangan yang ganjil ini. Ternyata teriakan-teriakan itu hanya untuk memecah konsentrasinya. Tubuhnya berputar cepat bagai baling-baling. Dengan serentak sisa anak buahnya mengeluarkan sebuah bola besi berwarna hitam yang bergigi runcing di sekelilingnya dan dihubungkan dengan rantai halus . "Hiya! Yeah.di depan dada. Sedangkan yang selamat hanya memegang pedang yang tinggal setengah saja. Dengan gerakan manis. “Bola Rantai Hitam!” teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. Tiba-tiba dia menjerit kuat sekali. "Bedebah! Kurang ajar!" Bayangan Hitam menggeram melihat empat anak buahnya roboh hanya sekali gebrakan saja. Serangan-serangan itu sulit ditebak.. Pedangnya dimasukkan ke dalam sarungnya di punggung.

Kali ini dia tidak ingin lagi membiarkan lawan mengatur siasat. Kelima anak buahnya . Rangga pun mengerahkan gabungan dari tiga rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'.berwarna hitam pula..!" teriak Bayangan Hitam memberi komando. Dengan satu teriakan melengking. Tentu Bayangan Hitam jadi kelabakan. "Bedebah!" geram Bayangan Hitam. "Lepaskan!" teriak Bayangan Hitam. Sungguh hebat tenaga dalam Rangga. Tiba-tiba tubuh mereka terangkat ikut meluncur bersama Rangga yang semakin tinggi.. Seketika bola-bola itu menderu-deru silih berganti. dengan gerakan cepat mengumpulkan dan melemparkan rantai-rantai itu kepada pemiliknya. "Aaaakh.. dia melesat ke udara bagai seekor rajawali. Sebelum menjejakkan kakinya di tanah. Rangga membiarkan tubuhnya terbelit rantai-rantai dengan bola bergigi itu. Dia segera menyerang Bayangan Hitam dengan gabungan tiga rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Dia masih menganggap belum perlu merubah jurus. Rangga yang masih berada di atas. Kepalanya hancur terhantam bola hitam miliknya sendiri. Bolabola besi lainnya menghantam tanah lalu melesak ke dalam. Suaranya menderu-deru bagai angin topan. dan hanya menggabung-gabungkan saja dengan berbagai kombinasi. mereka bersalto di udara. "Serang. dilontarkan oleh keenam orang itu. Rangga turun dengan manis. Keenam orang itu segera membentuk lingkaran. Keenam orang itu serentak melepaskan rantai. Lima orang lainnya masih bisa menyelamatkan diri.!" seorang dari mereka menjerit keras. Apa-lagi sebelah tangannya tidak bisa digerakkan.. Tangan mereka memutar-mutar rantai panjang dengan bola-bola bergigi di ujungnya. Rantai-rantai hanya terlihat beberapa jengkal saja.

Tapi hanya empat orang saja yang menggunakan senjata. Dengan cepat Rangga segera mengganti ketiga jurusnya sehingga lawan kebingungan... Bayangan Hitam pun kini hanya bisa bertahan tanpa mampu memberikan serangan balasan. Apalagi kini mereka tanpa senjata. Rangga kini dikeroyok sepuluh orang. "Lepas!" sentak Rangga. kaki Rangga melayang ke arah kepala. Dari mulutnya terus keluar umpatan dan cacian yang tidak berhenti.. Kraaak! "Aaaa. Siapakah yang membentak itu? *** . Dia menggeram dengan gigi gemerutuk melihat semua anak buahnya tewas. sehingga pertempuran sekejap saja berhenti.ditambah empat anak buah kelompok Bidadari Sungai Ular. Dan tanpa terduga sama sekali.. langsung membantunya. "Bibi.!" tiba-tiba terdengar suara bentakan keras menggelegar. Dilihatnya Saka Lintang berlari cepat dan segera melompat sambil menghunus pedang. Bahkan lima orang anggota Bayangan Hitam telah jadi mayat.r!" Gerakan Rangga dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' begitu cepat sehingga keempat orang itu tidak bisa melindungi kepalanya.. Seketika Saka Lintang terlibat dalam pertempuran pula. "Mundur. Begitu hebatnya suara bentakan tadi. Mereka segera menggelepar dengan kepala pecah. Tiba-tiba saja empat pedang terlempar ke udara.!" Bayangan Hitam menoleh.

Kini pedang itu terarah pada sebuah pohon besar.. sehingga mereka tidak hiraukan status suami istri. "Paman Nambi.. apa yang terjadi. Seorang tokoh tua sakti bernama Nambi muncul di tengah-tengah arena pertarungan. Mata Rangga yang tajam cepat mengetahui dari mana datangnya sinar merah itu. Hanya kemunculan mereka saja yang tidak selalu bersamaan. Terpaksa dia kini mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Banyak tokoh menduga kal au mereka tengah bentrok. Hanya saja watak mereka yang terbiasa malang melintang di rimba persilatan.. . Belum sempat menjejakkan kakinya ke tanah. dengan seketika dia telah menggenggam pedangnya. Rangga cepat mengibaskan tangannya.... Blar. "Hm.Seberkas sinar merah meluncur deras menyambar Rangga. Dengan sigap Pendekar Rajawali Sakti itu melompat menghindari sinar merah yang datang tiba-tiba itu. "Paman. Mereka sibuk mendirikan partai sendiri-sendiri.! Pohon besar itu hancur berkeping-keping tersambar sinar biru.!" seru Saka Lintang. Rangga kembali memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Tokoh ini beraliran hitam dan dulunya merupakan suami Bayangan Hitam." Saka Lintang gembira. Lintang?" tanya Nambi sambil mengamati mayat-mayat yang bergelimpangan. Sampai sekarang pun mereka masih suami istri.. untung paman cepat datang. Dia dikenal dalam rimba persilatan dengan nama Setan Jubah Merah. Dari pedang pun meluncur sinar biru bergulunggulung. Kakek itu mencelat bersamaan dengan hancurnya pohon itu. Rangga telah disibukkan dengan sinar merah yang datang lagi. Tepat saat kakinya menginjak tanah. muncul seorang kakek tua berjubah merah.

Namun bibit dendam dan kebencian juga bertumbuhan. Saka Lintang pasti mampu mengalahkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya. Kakang!" Bayangan Hitam memperingatkan. Saka Lintang melirik Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu. Masih saja membandel!" tegur paman angkat Saka Lintang. Pundak itu melesak ke dalam. Seketika hatinya bergetar. (Untuk lebih jelas. Saka Lintang memandang Rangga. Tapi sekarang? Apal agi Pendekar Rajawali Sakti ikut membantu. "Dan kau tidak mampu mengatasinya?" Saka Lintang hanya tertunduk saja. hadapi aku!" bentak Setan Jubah Merah. "Pendekar Rajawali Sakti. Patah! Mendadak hatinya panas. paman. Matanya agak menyipit melihat ke arah pundak perempuan tua itu. Ada nada kesedihan daiam suaranya. jangan cari perkara dengan pihak kerajaan." jawab Saka Lintang. Pertempuran sengit tidak dapat dihindari lagi. Seluruh anak buahnya mati."Perkumpulanku dihancurkan. Tetapi tak diduga sama sekali akibatnya jadi demikian." jawab Saka Lintang. Maksud Saka Lintang hanya ingin merubah Intan Kemuning menjadi seorang pendekar wanita. "Anak muda. Nambi memandang pada istrinya. Untuk kedua kalinya dia harus berhadapan dengan pemuda yang telah merobek-robek hatinya ini. Setan Jubah Merah melom pat cepat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Benih-benih cinta kembali muncul. Dia sadar. Mungkin kalau Pengemis Sakti Tongkat Merah tidak ikut campur. Setan Jubah Merah segera mengerahkan . "Sudah kuperingatkan. silahkan baca Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Iblis Lembah Tengkorakl "Siapa dia?" tanya Nambi atau Setan Jubah Merah. "Hati-hati. Bayangan Hitam. ini adal ah kesalahannya.

"Akh!" Setan Jubah Merah memekik tertahan. Dia sempat mendengar permintaan maaf Rangga sebelum melancarkan serangan. Dia terhuyung satu tombak ke belakang. Hati kecilnya berkata kal au dia merasa salut terhadap anak muda itu. Hasilnya sungguh tak terduga . "Serang aku!" teriak Nambi. Baru kali ini didapatkan lawan yang mau menghormat pada dirinya. Tapi semua itu tidak berpengaruh terhadap Rangga. pertarungan pun menjadi sengit. Lalu digerakkan tangannya yang makin lama makin cepat. Jurus tangan kosongnya sangat dahsyat. Setiap pukulannya mengandung hawa racun yang mematikan. Sudah menjadi sifatnya untuk tidak mengeluarkan jurus-jurus berbahaya sebelum dia mengetahui tingkat kepandaian lawan. Pemuda itu tidak congkak. "Bersiaplah. Dia hanya mengukur tingkat kepandaian lawan. "Kalau itu keinginanmu. Dengan cepat dia mengimbanginya. Jari-jari tangan Rangga berhasil menusuk pangkal lengan kiri Nambi. Nambi sedikit terperangah. "Maaf!" seru Rangga. Kini Rangga menghadapi lawan dengan jurus 'Cakar Rajawali'. "Bocah setan! Jangan salahkan aku jika sampai menurunkan tangan kejam!" geram Nambi sengit melihat Rangga hanya berkelit tanpa mem-balas serangan. Seketika jari-jari tangannya meregang kaku. Dengan jurus ini. Kek!" Rangga menyalurkan seluruh tenaga ke kedua telapak tangannya. Nambi mengemerutukkan gerahamnya. baiklah! Maafkan. Rangga kebal terhadap segal a je-nis racun. Bahkan selalu merendah. Darah mengucur deras dari pangkal lengan yang bolong dua jari itu.jurus-jurus andalannya. Kakek!" sahut Rangga dengan hormat Nambi terdongak mendengar kata-kata Rangga. Rangga tidak bermaksud memandang enteng lawan.

Begitu cepat perubahan jurus yang dilakukan Rangga.. Sedangkan Saka Lintang mengerahkan jurus 'Pukulan Geledek'nya.... Sementara pertarungan sengit berlangsung. "Aaaakh. Dia menggelepar-gelepar dengan kepala hancur. Pendekar Rajawali Sakti segera menggabungkan jurus 'Cakar Rajawali' dengan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'.sekali. Rangga mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' lalu disusul dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Posisi Rangga kian terdesak oleh serangan yang beruntun.!" Bayangan Hitam menjerit kesakitan. segera ikut mengeroyok Rangga. Mereka segera mengeroyok Rangga. "Kubunuh kau. Kembali Pendekar Rajawali Sakti harus melayani serangan beruntun Bayangan Hitam. Kaki Rangga telak bersarang di kepala Bayangan Hitam. sehingga Bayangan Hitam tidak dapat menguasai diri lagi. Setan Jubah Merah yang telah berhasil menghentikan darah dengan totokannya. Bayangan Hitam langsung melompat menyerang Rangga.!" Saka Lintang memekik kaget.. kemudian diam tak bergerak l agi. Saka Lintang pun tidak ingin ketinggalan.!" jerit Bayangan Hitam cemas melihat darah mengucur dari lengan suaminya.. bocah setan!" teriak Nambi. Secepat kilat Setan Jubah Merah menyerang dengan jurus-jurus mautnya. Sementara Saka Lintang kembali menyerang dengan jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. Sasarannya kini ke arah Bayangan Hitam. Lengan Nambi bolong oleh tusukan jari-jari Rangga. lima orang . Setan Jubah Merah menggeram menahan marah. Kini Rangga berhadapan langsung dengan tiga orang tokoh yang memiliki kepandaian yang luar biasa. "Kakang. "Bibi. Kemarahan dan dendamnya sudah sampai ubun-ubun. Dia tidak lagi memandang perasaan cintanya pada Rangga.

Jakunnya turun naik menahan gejolak birahi yang bergelora dalam dada.. "Ah." orang itu menyeringai. Liumya tertahan. sekarang aku minta bayaran darimu.anggota Bayangan Hitam yang tersisa menyeret gurunya ke tempat yang lebih baik Tetapi salah seorang dari mereka. kebetulan melihat Intan Kemuning yang belum beranjak dari pintu pondok. "Ih!" Intan Kemuning menepis tangan laki-laki yang terulur hendak menjamah. jangan!" *** . Melihat kecantikan Intan Kemuning. ternyata kau punya isi juga.. "Kau yang menjadi gara-gara. "Mau apa kau?" Intan Kemuning bergidik. Mata orang itu liar merayapi wajah gadis cantik di depannya. seketika nafsu birahinya bangkit. "Ah!" Intan Kemuning kaget ketika tiba-tiba seseorang telah ada di depannya. "He he he.." gertak laki-laki itu.

Hanya bagian bawah saja yang masih tertutup. Keempat orang yang sebelumnya . Lima pasang mata menatap ke a rah dada yang putih mulus tanpa berkedi p. Intan Kemuning terus meronta-ronta sambil menjerit-jerit. merobek bajunya.. Mereka kini tidak peduli dengan mayat gurunya. Bahkan empat laki-laki anggota Bayangan Hitam lainnya telah mengelilingi serta menatap wajah dan tubuh yang indah itu. Kini bagian dada yang membukit indah terbuka. Di dalam pondok. Tanpa menghiraukan jeritan. namun seorang laki-laki lainnya maju dan menarik tangan Intan Kemuning.!" jerit Intan Kemuning. Bret! Lagi-lagi baju Intan Kemuning dirobek paksa.! Lepaskan!" jerit Intan Kemuning putus asa. Bret! "Auuuh. Rasa panik dan ketakutan yang amat sangat membuat dia lupa segalanya. Intan Kemuning cepat menutupi bagian dadanya yang terbuka. "Auh! Lepaskan. Tubuh Intan Kemuning seketika jadi polos.6 Intan Kemuning makin kaget ketika orang itu telah menubruk dan memeluknya. Tangan-tangan kasar kini menelusuri bukit yang indah itu. laki-laki itu menyeretnya masuk ke pondok Rupanya perbuatan salah seorang anggota Bayangan Hitam menarik perhatian empat orang lainnya. 'Tidak. Segera mereka berlarian ke pondok.... Dia meronta-ronta mencoba melepaskan diri.!" Intan Kemuning memekik ketika tangan lakilaki yang menindihnya.. Intan Kemuning jadi lupa kalau dia telah belajar dasar-dasar ilmu olah kanuragan. Laki-laki itu makin liar merejam tubuh Intan Kemuning. Tangannya memukuli tubuh lelaki kasar yang telah menindihnya..

Brak! Pintu poridok yang tertutup. tidak bisa menahan diri lagi. Salah seorang dari tiga orang yang tersisa. Darah segera membasahi lantai. Pedang Patih Giling Wesi berkelebat cepat Seketika saja dua kepala telah terpisah dari tubuh.. 'Tidak.hanya berdiri saja. segera dua orang anggota Bayangan Hitam itu mendobrak dinding pondok. Air bening mulai menitik dari sudut matanya... Pedangnya kian cepat berputar menyerang tiga orang laiki-laki itu. Intan Kemuning berlari lalu menubruk . "Ayah. kabur. tiba-tiba. hancur berantakan.. Mereka hanya bisa berkelit saja. kalian semua!" teriak Patih Giling Wesi kalap. Dari mulutnya keluar rintihan memohon belas kasihan. Tiga orang lainnya segera melompat menyebar. Tangan-tangan mereka makin liar menjelajah ke seluruh tubuh gadis cantik itu." rintih Intan Kemuning memelas. Mereka mendekat dan meraba-raba tubuh yang putih mulus itu. Air matanya makin deras mengalir. Dia bersyukur karena kelima laki-laki itu belum sempat merenggut kehormatannya... Lima orang yang tengah dirasuki iblis itu terperangah. "Binatang!" Patih Giling Wesi segera menerjang marah. jangan. "Binatang! Mampus.. Dengan terpaksa mereka mel ayani hanya dengan tangan kosong karena tidak memiliki senjata lagi. ambruk dengan dada tergores panjang dan dalam. Intan Kemuning benar-benar putus asa.!" Patih Giling Wesi yang hendak mengejar. Tepat ketika seorang laki-laki akan membuka bagian bawah pakaiannya. berbalik ketika putrinya memanggil. "Aaaakh!" kematian kembali terdengar. Melihat tiga orang temannya telah tewas. Namun kelima orang sudah tidak peduli lagi. Intan Kemuning cepat-cepat mengenakan pakaiannya kembali yang sudah tercabik-cabik itu..

Mereka orang-orang Bayangan Hitam. Ayah. .. Nak?" tanya patih itu masih diliputi perasaan cemas. Dia mengangkatku sebagai adiknya. Pemuda itu kini menghadapi dua tokoh sakti. Intan?" tanya Patih Giling Wesi. "Kau tidak apa-apa. syukurlah." "Lalu. "Oh. "Ada apa." "Maksudmu.. Ayah. Kakak Lintang selalu melindungiku.. hatinya masih khawatir terhadap putrinya yang baru saja terbebas dari tawanan perompak itu. orang-orang itu?" "Mereka bukan orang-orang Bidadari Sungai Ular. Mereka saling berpelukan menumpahkan seluruh air mata dan rindu. Malu. Ditumpahkan segala kerinduan dan kegembiraan karena dapat berkumpul lagi." desah Patih Giling Wesi. "Tidak. Sejenak ditatap putrinya." Seketika Intan Kemuning tersentak. Dia ingat kalau pemuda tampan yang telah menggetarkan hatinya tengah bertempur di luar.ayahnya. Dia baik sekali padaku. "Mereka tidak mengganggumu. Pelan-pelan Patih Giling Wesi melepaskan pelukannya. Jari-jari tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi Intan Kemuning." jawab Intan Kemuning tanpa melepaskan pelukannya. Bidadari Sungai Ular itu?" "Betul. 'Pemimpin perampok itu sangat baik. Biar bagaimana pun juga. "Pemuda itu. Nduk?" tanya Patih Giling Wesi dengan suara tersendat." sahut Intan Kemuning. "Mereka tidak ada yang menggangguku. Kembali mereka terdiam sambil berpelukan. Ayah." "Pemuda siapa?" "Oh!" Intan seperti tersadar.

Dan ketika Intan Kemuning menyebut pemuda itu. siapakah pemuda itu? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak patih itu.. Rasa haru dan gembira telah membutakan mata dan menulikan telinganya. Patih Giling Wesi mengikutinya. Namun Intan Kemuning melangkah terus... Mereka berhenti melangkah di depan pintu yang sudah hancur.." lembut suara Patih Giling Wesi." Patih Giling Wesi menggandeng anaknya ke luar pondok itu. Tanpa disadari di a telah mencemaskan pendekar muda yang sejak tadi menarik perhatiannya. Sekelebat memang dia melihat pertempuran itu. Dalam hati dia merasa kagum juga terhadap pemuda tampan itu.. Pelan-pelan Intan Kemuning mengangkat kepalanya. Mereka menyaksikan pertempuran antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah. "Intan. Kini ... *** Pertempuran masih terus berlangsung di sungai Ular. Kepalanya tertunduk.. Patih Giling Wesi tersenyum melihat Intan Kemuning tidak berkedip m enatap setiap gerakan Rangga. "Ayo. Patih Giling Wesi seolah baru sadar kalau putrinya telah menjadi seorang gadis remaja. dan baru berhenti setelah berada dua tombak dari pondok.. Pendekar itu telah merebut sekeping hatinya. namun Patih Giling Wesi lebih terpusat pada suara rintihan wanita di dalam pondok itu. Patih Giling Wesi tersadar. Ah. apakah Intan Kemuning jatuh cinta? Apakah dengan pemuda tampan yang kini sedang bertarung melawan dua tokoh sakti itu? Kalau benar. Patih Giling Wesi terdongak begitu mendengar suara pertempuran di luar.Seketika kedua pipinya merah merona. sehingga tidak tahu ada pertempuran di luar.

keempat orang yang memang tidak punya nyali lagi. Ironis sekali. "He he he. "He he he. Cukup sekali gebrak saja. Darah segar menyembur disertai jeritan kesakitan saling susul. kini jadi mengerikan. Keempat orang itu kini ambruk kehilangan nyawa. "Mudah-mudahan Pendekar Rajawali Sakti bisa mengatasi keadaan. "Kasihan. Suara itu jelas menggunakan tenaga dalam yang luar biasa. Tempat yang indah dan menyejukkan itu.. "Ah. 'Tidak disangka. aku malas main petak umpet. Aki Lungkur mengayunkan langkah menuju bukit Guntur. Pelan-pelan kakinya meninggalkan tempat pembantaian itu. Orang yang menguasai ilmu ini dapat meminjam hembusan angin untuk mendorong tubuhnya." gumam Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah. kalian hanya membuang nyawa sia-sia. Tak luput.!" Pengemis Sakti Tongkat Merah terkekeh.yang dihadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah hanya empat orang saja. Layaknya kapas yang dihembus angin." keluh Aki Lungkur . sebentar saja kakek tua itu telah jauh melangkah. Pengemis Sakti Tongkat Merah mau mengotori tangannya hanya untuk membantai cacing-cacing tanah. Bau anyir darah telah mengundang anjing-anjing hutan untuk menyantap mayat-mayat yang bergelimpangan. Kakinya seperti tidak menapak tanah. burung bangkai pun telah berkeliling di angkasa minta bagian. Bau anyir darah menyebar terbawa angin. Itulah ilmu 'Sayiti Angin' yang dikeluarkannya.. Langkah yang kelihatan pelan." terdengar suara mengejek. Mayat menyebar di mana-mana.." gumam Aki Lungkur pelan.!" Tiba-tiba terdengar suara terkekeh. dibuat tidak berkutik.. Aki Lungkur menghentikan langkahnya. tapi kenyataannya. Ujung tongkat Pengemis Sakti itu merobek-robek dada mereka. Kakek Pengemis Sakti kembali terkekeh.

"Sudah kukatakan." "Dengan menghadang jalanku. aku tidak ada urusan denganmu. maka kau juga berurusan denganku!'' sahut Pradya Dagma. "Aku rasa kau tidak perlu ke bukit Guntur. Aki Lungkur melangkah melanjutkan perjalanan tanpa peduli. "Aku rasa tanganmu tidak lebih bersih dari-pada tanganku. Dengan cepat dia kembali menghadang. aku mau pergi!" dengus Aki Lungkur sedikit jengkel. Aki Lungkur. Melihat hal ini." kata Pendeta Murtad yang nama aslinya Pradya Dagma. tiba-tiba di depan Aki Lungkur muncul seorang laki-laki gendut berkepala botak mengenakan jubah kuning. mengapa kau lari dari Lembah Tengkorak waktu itu? Kenapa tidak kau bantu keponakanmu? Itukah paman yang baik?" Merah padam wajah Pradya Dagma. Minggir. Kata-kata itu baginya adalah penghinaan yang luar biasa. Aki Lungkur!" .. Untaian tasbih tergenggam di tangan kanannya. "Kalau kau mencampuri urusan Saka Lintang." dengus Aki Lungkur.terus melanjutkan langkahnya. 'Tapi aku tidak pernah usil dengan urusan orang lain. Langkahnya baru tiga tindak.! Apa aku tidak salah dengar? Kapan kau punya keponakan!" "O. Kau akan menambah kotor tanganmu saja. Pradya Dagma makin merasa terhina. tetapi sakit didengamya." 'Phih! Aku sengaja menghadangmu untuk mencegah agar kau tidak ikut campur urusan keponakanku!" "Keponakan? Ha ha ha. Pendeta Murtad. sudahlah! Aku tidak ada urusan denganmu. "Heh! Rupanya kau cari penyakit?" "Kau yang cari kematian. "Ah.. "Rupanya kau." kata Aki Lungkur berusaha mengalah." tenang sekali Aki Lungkur menyahut. kau sudah mencampuri urusan orang lain. Kata-kata Aki Lungkur tenang diucapkannya.

Aki Lungkur selalu bersikap mengalah. hentikan semua ketololanmu!" bentak Aki Lungkur gusar. Padahal. Pendeta Murtad ini rupanya benar-benar ingin membunuhnya. dua tokoh sakti berlainan aliran itu bertempur dengan sengit Diantara mereka berdua. mengapa Aki Lungkur selalu menolak setiap tantangan Pradya Dagma. Sebab Pradya Dagma anak tunggal dari gurunya itu. Pendeta Murtad itu telah melancarkan serangan-serangan berbahaya. "Jangan katakan aku kejam kalau kau kukirim ke neraka. Aki Lungkur sendiri sebenarnya tidak melayani meski pun Pendeta Murtad itu selalu cari perkara dengannya.hati. Tanpa dapat dicegah lagi. Terpaksa Aki Lungkur harus menghadapinya dengan hati. Dia tahu kalau Pradya Dagma sangat berbahaya. Itulah sebabnya. terutama tasbihnya yang menjadi andalan. sebenarnya tidak ada urusan apa-apa. Padahal setiap kali mereka bentrok. . "Aku tidak peduli kau melawan atau tidak!" Gigi Aki Lungkur beradu menahan geram. Kelihatannya dia ingin membunuh Pengemis Sakti ini. Dia masih memandang hormat pada Resi Brahespati. Dia pun tak ingin mencampuri urusan Pradya Dagma meskipun tindakan dan perbuatan Pradya Dagma selalu merugikan orang lain. "Pradya Dagma. Pengemis Tongkat Merah melayaninya dengan setengahsetengah.Aki Lungkur mendelik. Antara Aki Lungkur dengan Pradya Dagma. rupanya Pradya Dagma masih menyimpan api dendam. sebenarnya masih saudara seperguruan. Mereka sama-sama murid Resi Brahespati. Lungkur!" sahut Pradya Dagma keras. Dia tidak mau mengakui keunggulan Aki Lungkur. Dia bersiap-siap ketika melihat Pendeta Murtad itu telah membuka jurus-jurus ampuhnya. Dia masih mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Akibat suatu perselisihan.

Dia pun segera mengerahkan jurus 'Tasbih Sakti'. *** . Pradya Dagma!" geram Aki Lungkur. Dibukanya jurus 'Tongkat Sakti'. Hanya beberapa kali lompatan saja. Aki Lungkur kembali bergulingan di tanah. Seluruh pikiran dan hatimu sudah tertutup iblis. Dua tokoh sakti itu pun saling menyerang. aku tidak menurunkan tangan kejam padamu!" Rupanya Aki Lungkur sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi. "Kau memang sudah tidak bisa di beri hati. jangan hanya bisa menghindar!" ejek Pradya Dagma. Aki Lungkur belum bersiap-siap. Seketika pohon itu tumbang disertai suara gemuruh. tiba-tiba datang serangan berikut. aku masih ada urusan yang lebih penting.” "Kau pun akan. Mereka sama-sama telah mengenal jurus masing-masing."Maaf." ujar Aki Lungkur masih berusaha mengalah." "Demi Resi Brahespati. Segera dia melenting cepat. senang tinggal di neraka bersama iblis. dia telah berhasil mengejar disertai satu pukulan dengan tenaga dalam yang penuh. Dia segera membuang diri ke tanah. Setelah mereka saling pandang. maka menyusullah suara teriakan keras. Aki Lungkur terkejut. "Kelakuanmu sudah melampaui batas. Kedua tokoh itu mempergunakan jurus yang didapat dari sumber yang sama. "Kalau kau laki-laki. Secepat itu pula. tunggu!" Pradya Dagma segera mengejar. "Hey. Pukulan Pradya Dagma menghantam sebatang pohon besar. Pradya Dagma terkekeh melihat Aki Lungkur mulai terpancing kemarahannya. dia melenting dan berdiri di tanah dengan kokoh.

Timbul sifat mengalah dalam hati Aki Lungkur. Matanya berkunang-kunang. Kaki Pradya Dagma berhasil menghantam dadanya. Bahkan serangan-serangan balasannya tidak tanggungtanggung mengarah ke bagian-bagian tubuh lawan yang mematikan. Dadanya terasa sesak. Jurus demi jurus berlalu dengan cepat. Hatinya tetap tidak mengijinkan untuk melukai saudara seperguruannya ini. "Akhl" Aki Lungkur memekik tertahan. Bahkan dia kelihatan tidak ada semangat lagi untuk melanjutkan pertarungan. Masing-masing belum ada yang terdesak. Mereka paham betul dengan kelemahan dan kelebihan jurus-jurus masing-masing.. disertai tenaga dalam yang hebat Kalau bukan Aki Lungkur. Kemauan saudara seperguruannya dilayani dengan sungguh-sungguh. kelihatan lebih unggul ketika memasuki jurus yang keseratus. Jika Pradya Dagma mempergunakannya untuk maksud-maksud kejahatan. .. Tendangan Pradya Dagma telak. Tubuh pengemis tua itu terdorong dua tombak. Sedikit demi sedikit Pradya Dagma mulai kewalahan dan terdesak. Aki Lungkur yang selalu memperdalam dan menyempumakan ilmunya. hanya penerapannya yang lain. Dia malah mempergunakan kesempatan itu untuk mendesak.Kali ini Aki Lungkur tidak main-main lagi. Hingga pada suatu saat. Tapi Pradya Dagma sudah tidak peduli. Lungkur! Kau sengaja mengalah!" desis Pradya Dagma. Jurusjurus yang mereka pergunakan juga beraliran sama. maka Aki Lungkur mempergunakannya untuk membela yang lemah dan menumpas kejahatan. "Kau menghinaku. Beberapa kali ujung tongkat itu hampir menyentuh tubuh Pradya D agma. Lima jurus kini telah mereka lewati. mungkin dada itu telah jebol. Aki Lungkur selalu membelokkannya. Dibiarkan dirinya terdesak.

Pradya Dagma memang tidak melihat kedatangan Resi Brahespati. mengapa tiba-tiba Aki Lungkur seperti ketakutan.. Ketika Aki Lungkur ingin melanjutkan kata-katanya. Pradya Dagma yang melihat sikap Aki Lungkur. Terpaksa Aki Lungkur harus jatuh bangun menghindari serangan beruntun itu." lembut berwibawa suara Resi Brahespati. tidak layak kau berbuat begitu. Rasanya memang masih terasa berat untuk menjatukan tangan kepada Pradya Dagma.. Tiba-tiba di depan Aki Lungkur seperti berdiri seorang resi. Belum juga Aki Lungkur bersiap-siap. Kini yang berdiri di depannya hanyalah Pradya Dagma.. Resi. tapi Pradya Dagma. Segera Aki Lungkur memantapkan hati untuk memberi pelajaran kepada saudara seperguruannya yang murtad ini. Dia tidak mengerti.!" Aki Lungkur terkejut menerima petuah itu. terheranheran." ucap Aki Lungkur dengan kepala tertunduk. Aki Lungkur . Masih terngiang-ngiang kata-kata gurunya tadi. "Bangunlah. "Dia benar-benar sudah murtad! Aku mengijinkan kalau kau menjatuhkan tangan padanya."Aku mengaku kalah. ayahnya itu yang padahal tengah berdiri di depannya. Bahkan dia tadi menyebut-nyebut resi. Beri dia pelajaran agar matanya terbuka. "Aku berusaha mengalah." kata Aki Lungkur ter-sendat "Sudah aku katakan. Ketika posisinya menguntungkan. Pradya Dagma kembali menyerang dengan jurus-jurusnya." Aki Lungkur tidak melanjutkan kata-katanya. Seketika pengemis tua itu menjatuhkan diri." "Resi. aku tidak peduli dengan sikapmu! Ayo lawan aku!" bentak Pradya D agma. tibatiba Resi Brahespati telah lenyap dari pandangan. dan berlutut saat dia tahu yang berdiri di depannya adalah Resi Brahespati. "Ampunkan muridmu yang hina ini..

"Jangan sebut-sebut ayahku!" Setelah berkata demikian. Kemudian disusul dengan tendangan keras. "Dagma. "Aaaakh. kembali terdesak. Pradya Dagma kembali menyerang membabi buta.!" Jeritan melengking terdengar...segera membalas tanpa memberi am pun lagi." Aki Lungkur tidak mengerti. Aku puas... Pada suatu kesempatan yang baik..!" suara Aki Lungkur bergetar.. Pradya Dagma yang setingkat di bawah Aki Lungkur. Pendeta Murtad itu terdorong sejauh tiga tombak. 'Tidak. Kini keinginanku tercapai sudah. dengan cepat pukulan Aki Lungkur bersarang di dada Pradya Dagma. Sementara kata-kata Resi Brahespati terus terngiang. "Dagma. "Aku senang bisa mati di tangan tokoh sakti sepertimu. Terima kasih. "Setan!" dengus Pradya Dagma sambil menyeka darah yang terus mengalir." hibur Aki Lungkur. kau harus hidup. Dari sudut bibirnya keluar darah segar.. Tongkatnya kini berkelebat cepat." lemah dan tersendat suara Pradya Dagma.. Pradya Dagma tersenyum. Lungkur. Hal inilah yang membuat pengemis tua itu tidak memberi kesempatan kepada Pradya Dagma untuk membalas.. Aki Lungkur cepat-cepat menghampiri dan merangkul tubuh gemuk itu. Tubuh Pradya Dagma pun ambruk dengan darah muncrat dari dadanya yang bolong. mengapa Pradya Dagma menginginkan mati di tangannya. dan..ngiang di telinga Aki Lungkur. Napasnya tersendat-sendat. Aki Lungkur tidak segan-segan lagi melayaninya. minta ampunlah kau pada ayahmu!" kata Aki Lungkur lantang. "Demi Resi Brahespati. kau mau memenuhi keinginanku. . Darah makin banyak keluar. Kita akan bersama-sama lagi. Aki Lungkur mencabut tongkatnya yang menembus dada pendeta murtad itu.

"Semula aku hanya ingin memperkosa saja. dan aku berusaha mencegahnya. hanya kau yang boleh membunuhku. aku menyelinap ke kamarnya. Ingatannya seketika mundur puluhan tahun yang lalu. Kini keinginanku menebus dosa pada Komala terlaksana sudah. kau bicara apa?" Aki Lungkur makin tidak mengerti. Tapi kini. Lungkur. "Aku merasa iri karena Komala menjatuhkan pilihan kepadamu. seluruh desa dan padepokan geger. Dia cantik dan menjadi kembang desa itu." Aki Lungkur hanya tertunduk saja. Sejak itu. Lungkur. Mereka telah merencanakan untuk memasuki jenjang perkawinan. sehari sebelum pernikahanmu dengan Komala. Waktu itu mereka masih sama-sama muda dan tinggal di padepokan Resi Brahespati. Di desa dekat padepokan itu tinggallah seorang gadis bernama Komala. Bahkan sudah ham pir dilupakannya. Malam itu. Seharusnya malam itu kubiarkan saja dia membunuhku." Pradya Dagma meneruskan ceritanya. . Setitik air bening mulai menggulir di pipi Aki Lungkur. Hubungan mereka telah direstui oleh Resi Brahespati. Dia tak tahu harus bagaimana lagi."Aku sudah berjanji pada Komala. Peristiwa itu sudah lama terjadi. Ternyata Komala membuka hatinya pada seorang pemuda bernama Lungkur. Komala kedapatan mati dengan leher tertembus pisau. Hingga tua dia tidak pernah menikah. hanya tanganmu lah yang bisa membunuhku. peristiwa itu sepertinya baru saja terjadi. Tapi perbuatanku malah menghilangkan nyawanya. Lungkur! Di depan mayatnya aku berjanji. Aku tidak sengaja membunuhnya." "Dagma. Tetapi sebelum hari bahagia itu dilangsungkan. Lungkur tidak ada niat lagi mendekati wanita. Aku telah memperkosa dan membunuhnya. Aku ingin membuatmu kecewa dan sakit hati. Dia mengambil pisau.

" kata Pradya Dagma lagi. Hatiku akan tenang jika kau mau memaafkan aku." sahut Aki Lungkur. Kalau saja hal itu diketahuinya sejak dulu."Maafkan aku. *** . Ternyata di balik hatinya yang keji. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Menerima kenyataan itu. masih tersimpan sedikit jiwa ksatria. "Sejak lama aku selalu memaafkanmu. Tidak ada yang tahu kalau seluruh perbuatan Pradya Dagma hanyalah pancingan agar Aki Lungkur dapat membunuhnya. Teguh pada janji dan pendinannya Hanya sayangnya. Aki Lungkur benar-benar sedih. Dia baru sadar kalau perbuatan Pradya Dagma hanyalah untuk memancing kemarahan agar dapat membunuhnya. mungkin Aki Lungkur akan segera membunuhnya agar kesengsaraan hidup Pradya D agma tidak berl arut-larut. Keinginannya telah terkabul. Bi birnya menyungging senyum." Pradya Dagma menutup mata dengan tenang setelah mengucapkan kata maaf dan terima kasih. 'Terima kasih. sikap Pradya Dagma berada di jalan yang salah. Lungkur.

kian lebar saja terbuka. Dengan demikian lawannya benar-benar kerepotan.. Rangga selalu mengganti-ganti jurus. Mukanya merah menahan malu. "Kurang ajar" geram Saka Lintang. "Hait!" Saka Lintang melentingkan tubuhnya ke belakang sejauh dua tombak. "Yeaaah. Bahkan kalau mungkin menggabungkan keempatnya sekaligus. Saka Lintang sedapat mungkin menutupi bagian tubuhnya yang terbuka itu. Tetapi dengan cepat dipusatkan kembali perhatiannya pada Setan Jubah Merah.. Bagian dada yang membukit terbungkus kulit putih mulus itu tidak lepas dari tatapan mata Patih Giling Wesi. Mereka bingung menghadapi gerakan-gerakan yang sulit diduga arah dan tujuannya. "Awas. Kadang dia menggabungkan dua atau tiga jurus. Lintang!" teriak Setan Jubah Merah tiba-tiba. Lalu dengan cepat dia . Kedua tangannya bergerak-gerak cepat mengibas mencari sasaran. Mata Rangga pun sempat menatap ke bagian indah itu. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah bagai kepiting rebus. Baju di bagian dada yang memang sudah sobek. tangannya mengembang dengan cepat Tubuhnya kini melayang. Kibasan Rangga berhasil dielakkan. Seketika itu pula.7 Pertarungan antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah ki an berlangsung sengit di bukit Guntur. Seketika darahnya seperti berhenti mengalir. Rangga masih tetap menggunakan empat jurus gabungan dari jurus 'Rajawali Sakti'. namun bajunya harus direlakan terjambret. Dalam gerakan-gerakan membingungkan itu.!" Tiba-tiba Rangga berteriak nyaring.

Gadis itu tidak tahu kalau sebenamya Rangga sengaja membiarkan tangan beracun itu masuk ke dalam bagian dada yang lowong. Di luar dugaan.. Saka Lintang jadi geram. Seketika dari ujung pedang sampai pangkal lengan Saka Lintang bergetar. Trak! Rangga hanya menyentil pedang itu dengan jurus 'Cakar Rajawali'. Setan Jubah Merah menahan napas. Pukulan tangan kiri Saka Lintang tepat menghantam dada Rangga. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedang dengan jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun'. "Kena!" teriak Saka Lintang keras. Menyadari Saka Lintang telah menebar racun. semakin kuat telapak tangannya menempel. Tetapi Rangga malah kelihatan tenang-tenang saja.. namun.kembali menerjang sambil menghunus pedangnya. tiba-tiba tangan Rangga bergerak menyambar gagang pedang dalam genggaman Saka Lintang.. Bahkan bibimya menyungging senyum. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedangnya. Namun semakin ditarik. "Ah. Sekuat tenaga gadis itu menarik tangannya. Saka Lintang semakin panik. kedua telapak tangan Saka Lintang kini menempel erat di dada Rangga. Belum sempat gadis itu menyadari apa yang terjadi. gadis itu menggedor dada Rangga sekali lagi dengan tangan kanannya. .!" pekik Saka Lintang tertahan. Tetapi racun jenis apa pun tak ada pengaruhnya bagi Rangga. Dia tahu kalau hawa racun telah menyebar di sekelilingnya.. Ditebaskan pedang yang ada di tangan kanannya ke leher Rangga.. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam dan penyaluran racun ke telapak tangannya. Wajah Saka Lintang seketika berubah setelah menyadari tangannya tidak dapat ditarik lagi dari tubuh Rangga.

Kalau Rangga mau. Paman. tentu! Ini. Dengan cepat dia melompat dan menangkap tubuh gadis itu yang melayang deras." ujar Saka Lintang. terimalah!" Tiba-tiba saja tubuh Saka Lintang terpental keras. Setan Jubah Merah terkejut.. Dia kaget setengah mati karena tubuh Saka Lintang masih menyebarkan hawa racun. "Akh!" tiba-tiba Setan Jubah Merah memekik keras. Saka Lintang pun tak urung kaget pula. Perlahanlahan dari ujung kepalanya mengepul asap tipis. Kedua matanya dipejamkan. Dihampirinya Setan Jubah Merah yang tengah meringis memegangi tangannya sendiri. Rangga menggunakan gadis itu menjadi tameng. sehingga Setan Jubah Merah tidak tahu harus berbuat apa. Keringat membasahi ." kata Setan Jubah Merah sambil meringis.. kau tidak apa-apa?" tanya Saka Lintang cemas. dan mengeluarkan sebuah pil berwarna merah darah. sebenamya dia bisa saja menebaskan pedang yang terebut tadi. Tanpa banyak tanya lagi. "Oh. "Semadilah. Cepat-cepat dihilangkan hawa racun dari tubuhnya. Saka Lintang merogoh saku jubahnya. Setan Jubah Merah pun bersila. "Paman. Seluruh tubuh Setan Jubah Merah bergetar. Tetapi hal itu tidak dilakukannya.. Dia malah membuang pedang itu jauh-jauh. Diberikannya pil itu kepada Setan Jubah Merah. Cepat-cepat dilepaskan tangannya. Dia tidak bisa leluasa melancarkan pukulan mautnya. Jika saja gerakan Setan Jubah Merah tidak cepat. "Uh! Racunmu. lakilaki tua itu menelan pil yang diberikan Saka Lintang. Matanya menatap Setan Jubah Merah yang kebingungan. "Pengecut! Lepaskan gadis itu!" bentak Setan Jubah Merah."Setan!" dengus Saka Lintang geram. Seketika tubuhnya seperti terbakar. tubuh Saka Lintang dipastikan hancur menubruk batu besar.

Saka Lintang dan Setan Jubah Merah. Tapi semua perasaan dan keinginan itu ditekan dalam-dalam sam pai ke dasar hatinya. Sikap Rangga yang masa bodoh itu membuat Intan Kemuning cemas. Tak diduga. Rangga membalasnya dengan senyum manis pula. Sesekali matanya melirik Intan Kemuning yang berdiri di samping ayahnya. Dia gelisah karena dua tokoh sakti begitu . Setiap kali Rangga melirik ke arahnya. dibarengi oleh hilangnya asap tipis yang mengepul di kepala laki-laki tua itu. Tanpa sadar Intan Kemuning melontarkan senyuman manis pada pendekar muda itu. Kalau saja saat ini tidak ada ayahnya. "Hoek!" Cairan kental berwarna kehitaman dimuntahkan oleh Setan Jubah Merah. "Hiya!" "Yeah!" Dua teriakan keras saling susul. Dia memperhatikan saja kedua lawannya yang tengah sibuk itu. Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak tahu sama sekali kalau dua tokoh itu meluruk ke arahnya. Sedikit demi sedikit. Mulutnya malah bersiul-siul dengan irama tak menentu. Rangga masih tenang.seluruh tubuhnya. seluruh tubuh lakilaki tua itu mulai tenang. Kini Pendekar Rajawali Sakti tengah duduk tenang di atas batu besar. ingin sekali Intan Kemuning menghambur dan memeluk pemuda itu. kemudian disambung dengan melentingnya dua tubuh ke arah Rangga. Sementara. dua tokoh tingkat tinggi. Intan Kemuning merasakan jantungnya berdetak keras. Setan Jubah Merah membuka matanya ketika getaran pada tubuhnya berhenti sama sekali. tel ah kembali bersiap-siap menghadapi lawannya yang tengah duduk tenang itu. Rangga seperti tidak peduli dengan lawan yang sudah bersiap-siap menyerang kembali.

tampak Rangga masih duduk di atas tumpukan batu-batu yang hancur. . Patih Giling Wesi kembali perhatiannya tercurah pada ketiga tokoh yang kini telah bertarung kembali. sepasang mata tengah mengawasi pertarungan itu dari balik pohon.. Peringatan gadis itu tepat bersamaan dengan dua tubuh yang meluruk menerjang Rangga. *** Berangsur-angsur asap tebal yang mengepul sirna disapu angin. "Oh. Ketika debu itu hilang sama sekali.. Rupanya dia mengerti apa yang telah melanda putrinya ini. "Akh!" Intan Kemuning memekik tertahan. Batu yang sebesar kerbau itu saja hancur. Jelas kalau Rangga tadi tidak sedikit pun menghindar.cepat menyerang. Dia seperti membiarkan saja pukulan itu menghantam tubuhnya." Intan Kemuning mendesah lega melihat pendekar tampan itu masih hidup. jadi berkeping keping disertai ledakan keras terkena pukulan itu.. bagaimana dengan Rangga? Debu masih mengepal tebal. Serangan yang dibarengi pengerahan tenaga dalam. "Pendekar Raj awali Sakti. Tanpa disadari. begitu cepat datangnya. Batu tempat Rangga duduk. Kedua tokoh sakti Itu terperanjat melihat hasil gempurannya tidak berpengaruh apa-apa terhadap lawannya. Apakah dia hancur bersama batu itu? Batin Intan Kemuning bertanyatanya penuh kecemasan. Sikap gadis itu tidak lepas dari pengamatan Patih Giling Wesi. awas!" Intan Kemuning tidak dapat lagi mengendalikan diri. Akibatnya memang dahsyat. Sikap duduknya tidak berubah sedikit pun. Dia hanya tersenyum-senyum saja. Dia tidak melihat pendekar itu. Intan Kemuning benar-benar tidak dapat menyembunyikan kecemasannya.

Jurus 'Ular Berbisa Menyebar Racun' yang dipadu dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Tubuhnya meluruk turun deras. Kehadirannya saja tidak diketahui sama sekali.Jelas pemilik sepasang mata itu bukan orang sembarangan. Gadis itu segera menyerang Rangga dengan mengeluarkan jurus andalan terakhirnya. "Aaaa. Rangga kembali merubah jurusnya.. Kakinya bergerak mengarah kepala lawan. dirubahnya jurus itu menjadi 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Kini Saka Lintang hanya sesekali saja melontarkan pukulan beracunnya. Sekejap saja tubuhnya telah melambung di udara. . Dia terkena 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang tak terduga dilepaskan Rangga.!" Setan Jubah Merah meraung keras. Dia harus mempertimbangkan kehadiran Setan Jubah Merah. Begitu cepatnya jurus itu sehingga Saka Lintang tidak punya kesempatan lagi untuk mengelak. Seketika Rangga merubah jurusnya. Dia tidak ingin lagi berbuat konyol yang hampir merenggut nyawa paman angkatnya. "Kejam! Setan! Kubunuh kau!" pekik Saka Lintang marah. "Maaf. lalu diam tak bergerak sama sekali. Setan Jubah Merah meregang nyawa sebentar. Seluruh dadanya seperti hangus terbakar.. Secepat kilat.. Dalam sekejap sekitar tempat pertarungan telah terselimuti oleh hawa racun yang mematikan. "Paman. Tubuhnya terlontar ke belakang sejauh tiga tombak.!" pekik Saka Lintang. Kakek!" seru Rangga tiba-tiba. Dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tangan Rangga berhasil menghantam telak dada Setan Jubah Merah. Kali ini digunakannya jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Sementara itu Rangga sudah kembali melayani dua lawannya yang kian bernafsu untuk mengakhiri pertarungan alot dan panjang ini.. Kedua tangannya merentang mengepak bagai sayap rajawali.

" kata Rangga teringat ketika dia memberikan sebungkus bekal makanan. hebat." kat a Rangga dengan tutur kata yang halus. Dari balik pohon muncul seorang kakek tua berpakaian compang-camping. Kalau sudah . kakek yang berada di kedai minum tempo hari. Di tangannya tergenggam tongkat berwarna merah. anak muda. Rangga kembali mendarat Matanya memperhatikan tubuh Saka Lintang yang meregang nyawa. Rangga menoleh ke arah suara itu. "Bagaimana kalau kita makan bersama lagi di bawah pohon sambil menikmati udara segar... lalu mereka makan bersama di pinggir tegalan.." sahut Aki Lungkur. "Uts! Hampir lupa kalau di sini masih ada orang lain.!" Saka Lintang memekik keras.. "Menakjubkan. "Ah. "Penglihatanmu tajam. Dia mati di tangan laki-laki yang dicintainya. Gadis itu selalu menundukkan kepala terus.. "Ah.. Gadis itu ambruk dengan kepala hancur berantakan. Patih Giling Wesi mendekat diikuti Intan Kemuning. tiba-tiba terdengar suara Patih Giling Wesi mencegah. "Tunggu!" Mereka menoleh dan berbalik bersamaan.." Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah menggeleng-gelengkan kepalanya. lalu diam tak bergerak l agi. Hatinya makin berdebar-debar kalau kebetulan matanya beradu pandang. Sungguh tragis kematian gadis ini. tawaran yang menggairahkan. hebat. Mati bersama rasa cinta. Rangga mendekat Aki Lungkur terkekeh. tetapi matanya melirik pada Rangga.." tiba-tiba terdengar suara terkekeh. Mari!!" Ketika mereka akan melangkah.. Siapa lagi kalau bukan Pengemis Sakti Tongkat Merah. "He he he…." kata Aki Lungkur.. Darah seketika membasahi tanah. Aku pengemis tua yang hina. kalau tidak salah."Aaaa. benci dan dendam..

Tetapi Patih Giling Wesi sedikit ragu-ragu juga. Dia tidak ingin masa lalunya terungkap lagi. "Namamu mirip dengan seorang putra Adipati yang hilang dua puluh tahun lalu. anak laki-laki Adipati hilang tanpa bekas. Cepat-cepat diturupi rasa kaget itu dengan senyum. "Nama memang bisa saja sama. Rangga jadi bertanya-tanya. kalau boleh tahu. Masalahnya. cepat-cepat matanya dialihkan mencari pandangan lain.demikian. Dua puluh tahun yang lalu terjadi musibah pada rom bongan Sang Adipati yang hendak menuju ke kota Kerajaan Ayahandanya. Episode: Iblis Lembah Tengkorak). "Hamba hanya seorang pengembara hina Gusti Patih. Memang benar gumaman patih ini. (Baca serial: Pendekar Rajawali Sakti. Wajahnya sangat mirip dengan Adipati Karang Setra. Nama hamba Rangga. Tapi. "Rangga." jawab Rangga merendah. Tibatiba dia tersentak Benar! Tidak salah lagi. apakah Patih Giling Wesi kenal dengan ayahnya? "Nama bisa saja sama." Patih Giling Wesi menggumamkan nama itu beberapa kali.. Biarlah kenangan pahit itu dia sendiri yang tahu." Patih Giling Wesi setengah bergumam. Gusti Patih. Rangga terkejut juga mendengarnya." kata Rangga buruburu.. Tapi di mana? Kapan pernah bertemu? Ingatannya terus berputar.. Sepertinya dia pernah mengenal wajah itu... "Kisanak. Rangga memperhatikan dengan pandangan bertanyatanya.. Sedangkan kejadiannya tidak jauh dari jurang Lembah . siapa namamu dan dari mana kau berasal?" tanya Patih Giling Wesi. Patih Giling Wesi tengah berusaha mengingat-ingat." Patih Giling Wesi mengamati wajah Rangga dengan teliti sekali.

Patih Giling Wesi seperti berperang dengan batinnya sendiri. Siapakan anak muda perkasa yang ada di depannya ini? *** . siapa saja yang masuk ke dalam jurang itu tak akan pernah selamat.Bangkai. Antara percaya dan tidak. Karena sudah pasti. Semua orang menduga kalau anak itu pasti masuk ke jurang Lembah Bangkai. Dia berusaha memecahkan teka-teki ini. Antara mengakui dan membantah.

meninggalkan mayat-mayat yang bergelimpangan dan siap jadi santapan anjing-anjing hutan. Patih itu sendiri sampai saat ini masih berusaha memecahkan teka-teki itu." Patih Giling Wesi mengundang. Patih Giling Wesi .8 Beberapa saat suasana di bukit Guntur hening. Masingmasing menunggang kuda dan menuntun seekor kuda pula. Rangga menoleh pada Aki Lungkur yang berdiri di sampingnya. Mereka segera menghampiri patih itu. "Kalau begitu. Matanya beralih memandang Intan Kemuning. Mereka menuruni bukit Guntur. Tapi bibirnya sempat memberikan senyum manis. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Seketika dua pasang mata saling berpandangan. sudi kau mampir sebentar di Kepatihan. Rangga belum menjawab. Tentu dia setuju karena antara dia dan patih itu telah terjalin suatu persahabatan. "Baiklah. "Aku sangat berhutang budi padamu. Di kaki bukit. Dia belum dapat memastikan perihal anak muda ini. entah bagaimana nasib putrinya. Jika tidak mengganggu perjalananmu . Intan Kemuning jadi gelagapan." sahut Rangga mendesah. Kalau tidak ada pendekar muda ini. Ah! Siapa pun dia. Keempat orang itu segera meninggalkan tempat itu. yang jelas jasanya sangat besar. diikuti oleh tujuh orang prajurit-prajurit lain. mari kita berangkat sekarang!" ajak Patih Giling Wesi. telah menunggu delapan orang prajurit Kepatihan. Cepat dialihkan pandangannya ke tempat lain. Pengemis tua itu mengangguk-angguk kepalanya. Batin Patih Giling Wesi bicara sendiri. Rapaksa segera melom pat dari kudanya. Semua seperti menunggu pembicaraan Patih Giling Wesi. Kisanak.

Patih itu tidak tahu kalau selama jadi tawanan perampok." kata Rapaksa melapor. Mereka melewati jalur pintas. Hatinya masih bertanya-tanya tentang kelihaian putrinya menunggang kuda. Patih Giling Wesi selalu berada di samping Intan Kemuning. Gusti Patih. Setahunya Intan Kemuning tidah pernah belajar naik kuda. Hutan dirambah." sahut Patih Giling Wesi mendesah berat. Mereka pun segera masuk ke dalam benteng Kepatihan. tidak menyusuri tepian sungai Ular. Mari kita kembali ke Kepatihan. Dan kini hamba hanya dapat lima belas ekor. sudahlah. Akhirnya pikiran patih itu tenang setelah melihat putrinya sangat lihai menunggang kuda. dan berhenti tepat di depan pendopo. Semula Patih Giling Wesi khawatir juga terhadap Intan Kemuning. Nyawa mereka korbankan hanya untuk menyelamatkan seorang putri patih. "Hh. padang diarungi.mengamati sisa prajurit-prajuritnya. Penjaga pintu segera membuka pintu ketika melihat Patih Giling Wesi yang datang bersama putrinya. Hamba datang terlambat Hamba mencari kuda-kuda dulu. Rombongan kecU berkuda itu terus meninggalkan bukit Guntur yang terlihat hijau. Rombongan itu terus melewati desa itu. Sungguh besar jasa mereka. Patih Giling Wesi membantu Intan Kemuning yang sedikit kesulitan turun dari . Intan Kemuning telah diajari naik kuda oleh Saka Lintang. *** Matahari telah condong ke Barat ketika rombongan itu sampai di pintu Gerbang Kepatihan. "Ampun. Setelah melompat turun dari kudanya. dan kini mereka telah dekat dengan sebuah desa yang dekat dengan bukit Guntur. Perjalanan kini dilanjutkan dengan menunggang kuda.

"Mari silahkan masuk." kata Patih Giling Wesi lagi. Anda berdua adalah tamu kehormatanku. dia hanya bisa angkat bahu saja. 'Terima kasih. Biasanya tokoh-tokoh rimba persilatan selalu tidak peduli dengan tata krama. tentu. Sikap Rangga memang tidak seperti pendekar-pendekar lainnya. Rangga minum sedikit dengan sikap Sopan. Dia menenggak habis arak wangi mahal itu. Sebenarnya Rangga ingin menolak. Dari situ dia merasa sedang berhadapan dengan seorang pemuda bangsawan." ucap Rangga sambil mengangkat gelas yang sudah terisi arak manis." kata Patih Giling Wesi. Mereka kemudian duduk melingkar menghadapi meja. Kediamannya juga tak kalah indahnya dengan bangunan itu. Seketika dia teringat sewaktu masih tinggal di Kadipaten. "Aku senang sekali jika kalian sudi menginap di sini barang satu atau dua malam.kudanya. Tetapi karena Aki Lungkur sudah menerima. Rasa rindu yang menggebu ingin segera bertemu ibundanya. Rangga memandangi bangunan indah dan megah di depannya. Sementara Intan Kemuning telah berlari masuk ke dalam keputrenan. "Oh. "Silahkan. Memang tidak ada salahnya menginap barang sehari setelah sepanjang hari menguras tenaga menyabung . membuat dia lupa sejenak terhadap Rangga. Beberapa orang pelayan datang menyediakan suguhan. Beda dengan Aki Lungkur." Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya untuk minum. Tentu saja aku tidak keberatan!" Aki Lungkur cepat menerima sebelum Rangga membuka suara. Di mana lagi dia dapat minum arak selezat ini kalau tidak mendapat undangan dari Patih Giling Wesi? Patih Giling Wesi selalu memperhatikan sikap dan tutur kata Rangga. Patih Giling Wesi membawa dua tamunya masuk ke bangsal utama Pendopo itu.

"Antarkan tamu-tamuku ke tempat istirahatnya. "Ada apa. punggawa itu berhenti. "Silahkan. Aku Lungkur bangkit dan melangkah pergi ke tempat istirahatnya. dan memang kelihatannya Intan Kemuning juga tengah memandang ke arahnya. Kedua punggawa itu kembali memberi hormat. Dua orang punggawa dat ang mendekat. Rangga masih duduk di kursinya. Dia hanya menatap laki- . Rangga mengernyitkan keningnya melihat pengemis tua itu seperti terburu-buru." Rangga masih belum mengerti." Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya mengikuti para punggawa yang mengantarkan ke peristirahatan. dia pun bangkit melangkah mengikuti punggawa. Setelah mendapat anggukan dari Patih Giling Wesi. Rangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Gawat!" sahut Aki Lungkur. Aki Lungkur segera menerobos masuk dan menutup kembali. Bergegas dia membukanya. Ki?" tanya Rangga. Entah melihat atau tidak.nyawa. yang jelas pandangan itu tertuju pada Rangga. Saat matanya menatap ke arah taman. Mereka memberi hormat. Indah sekali ruangan ini." perintah Patih Giling Wesi. Dia menyilahkan Rangga masuk. Rangga menoleh ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Di sebuah kamar yang indah dan luas. "Patih Giling Wesi curiga padamu. dilihatnya Intan Kemuning tengah duduk di bangku taman sendirian. "Apanya yang gawat?" tanya Rangga tidak mengerti. Patih Giling Wesi menepuk tangannya dua kali. Rangga memandangi setiap ruangan yang dilewatinya. Diamatinya sebentar. dan segera pergi setelah tugasnya selesai.

Rangga tidak ingin menjadi seorang pendekar tanpa masa lalu. hal apa yang akan dikatakan Aki Lungkur tadi. Dia tidak mau berteletele melayani segala macam prasangka. Yang penting aku sudah menganggapmu sahabat. Gadis itu memang cantik. Laki-laki pengemis tua itu kembali ke luar setelah berpesan macam-macam." "Jangan berprasangka buruk. Rangga kembali memandang ke arah taman.laki tua itu tak berkedip. Tak ada orang di seluruh Kepatihan yang tidak tertarik pada gadis ini. meskipun dadanya bergemuruh. Niatnya yang tersembunyi memang baik. Bukankah kalian bersahabat?" "Aku tidak berprasangka buruk." "Dia menduga begitu?" Rangga terkejut." "Mengapa Aki memberitahuku?" "Karena kau baik. Aku membaca gelagat lain di balik niat luhur Patih Giling Wesi. "Benar! Aku mendengar sendiri. Intan Kemuning masih duduk di sana memandang ke arahnya. Masa lalu yang tidak perlu diketahui orang lain." Rangga berusaha bersikap tenang. Sepeninggal Aku Lungkur. Aki. ." Rangga hanya tersenyum saja. 'Terima kasih. Memang hatinya telah menduga. Tapi aku yakin kau tidak akan menerimanya. Kau seorang pendekar yang banyak dibutuhkan oleh kaum lemah. Rangga hanya mengangguk dan mengiyakan saja. Aku tidak peduli siapa dirimu. Dia menduga kau anak Adipati yang hilang dua puluh tahun yang lalu. Dia meminta Aki Lungkur untuk pergi beristirahat. "Hati-hatilah. Makanya aku segera ke sini menemuimu. "Patih Giling Wesi memerintahkan beberapa punggawa untuk menyelidiki asal-usulmu." ucap Rangga.

'Tapi ada yang lebih indah lagi untuk dipandang." Seketika wajah Intan Kemuning menyemburat merah dadu. Sikapnya tetap anggun meskipun selama beberapa hari ditempa dengan latihan-latihan keras oleh Saka Lintang. "Sepantasnya kau mendapatkan seorang pangeran yang gagah dan tampan. "Indah sekali taman ini. "Oh! Boleh. Setiap sudut. Rasa-nya dia ingin seribu kali mendengamya. "Satu saat nanti. pasti ada seorang pangeran tampan dan gagah menghampirimu." sahut Intan Kemuning." "Siapa pangeran itu?" Rangga tidak menjawab. "Ya. Matanya tajam mengawasi setiap tempat yang dilalui." kata Rangga. Dia tersenyum saja. "Boleh aku duduk di sini?" tanya Rangga." "Kapan?" "Satu saat nanti. dua orang prajurit pasti ada di situ. boleh. Jantungnya jadi berdetak tidak beraturan. Rangga melangkahkan kakinya ke luar kamar." sahut Intan Kemuning tergagap. Dia tidak beranjak dari duduknya. Pujian Rangga mengena di hatinya. "Adakah pangeran yang cocok untukku?" tanya Intan Kemuning ingin menegaskan." desah Rangga setelah duduk di samping gadis itu. . Ketat sekali penjagaan di Kepatihan ini. Jiwa kebangsawanannya tetap tidak luntur." "Apa?" "Wajahmu. *** Intan Kemuning memandang Rangga yang melangkah menghampirinya.Rangga sendiri sebenamya juga tertarik.

cc/ . Kedua lengannya berkembang masuk ke dalam pelukan Rangga. "Semoga aku yang menjadi pangeran itu. Intan.com/ http://dewi-kz. Hatinya berbunga-bunga.info/ http://cerita_silat." Intan Kemuning tidak mampu berkata-kata lagi. Dan mereka memperketat rangkulan-nya..Beberapa saat mereka terdi am saling tatap. SELESAI Pembuat Ebook : Scan buku ke djvu : Abu Keisel Convert : Abu Keisel Editor : Deeemart86 Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi." bisik Rangga dekat sekali dengan wajah Intan Kemuning. "Oh.info/ http://kangzusi...„. Pelan-pelan Intan Kemuning menundukkan kepalanya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful