Anda di halaman 1dari 16

B.

Arti Definisi / Pengertian Jual Beli : Jual beli adalah suatu kegiatan tukar menukar barang dengan barang lain dengan tata cara tertentu. Termasuk dalam hal ini adalah jasa dan juga penggunaan alat tukar seperti uang. C. Rukun Jual Beli 1. Ada penjual dan pembeli yang keduanya harus berakal sehat, atas kemauan sendiri, dewasa/baligh dan tidak mubadzir alias tidak sedang boros. 2. Ada barang atau jasa yang diperjualbelikan dan barang penukar seperti uang, dinar emas, dirham perak, barang atau jasa. Untuk barang yang tidak terlihat karena mungkin di tempat lain namanya salam. 3. Ada ijab qabul yaitu adalah ucapan transaksi antara yang menjual dan yang membeli (penjual dan pembeli). D. Hal-Hal Terlarang / Larangan Dalam Jual Beli 1. Membeli barang di atas harga pasaran 2. Membeli barang yang sudah dibeli atau dipesan orang lain. 3. Memjual atau membeli barang dengan cara mengecoh/menipu (bohong). 4. Menimbun barang yang dijual agar harga naik karena dibutuhkan masyarakat. 5. Menghambat orang lain mengetahui harga pasar agar membeli barangnya. 6. Menyakiti penjual atau pembeli untuk melakukan transaksi. 7. Menyembunyikan cacat barang kepada pembeli. 8. Menjual barang dengan cara kredit dengan imbalan bunga yang ditetapkan. 9. Menjual atau membeli barang haram. 10. Jual beli tujuan buruk seperti untuk merusak ketentraman umum, menyempitkan gerakan pasar, mencelakai para pesaing, dan lain-lain. E. Hukum-Hukum Jual Beli 1. Haram Jual beli haram hukumnya jika tidak memenuhi syarat/rukun jual beli atau melakukan larangan jual beli. 2. Mubah Jual beli secara umum hukumnya adalah mubah. 3. Wajib Jual beli menjadi wajib hukumnya tergantung situasi dan kondisi, yaitu seperti menjual harta anak yatim dalam keadaaan terpaksa. F. Kesempatan Meneruskan/Membatalkan Jual Beli (Khiyar) Arti definisi/pengertian Khiyar adalah kesempatan baik penjual maupun pembeli untuk memilih melanjutkan atau menghentikan jual beli. Jenis atau macam-macam khiyar yaitu : 1. Khiyar majlis adalah pilihan menghantikan atau melanjutkan jual beli ketika penjual maupun pembeli masih di tempat yang sama.

2. Khiyar syarat adalah syarat tertentu untuk melanjutkan jual beli seperti pembeli mensyaratkan garansi. 3. Khiyar aibi adalah pembeli boleh membatalkan transaksi yang telah disepakati jika terdapat cacat pada barang yang dibeli. G. Jual Beli Barang Tidak Terlihat (Salam) Arti definisi/pengertian Salam adalah penjual menjual sesuatu yang tidal terlihat / tidak di tempat, hanya ditentukan dengan sifat danbarang dalam tanggungan penjual. Rukun Salam sama seperti jual beli pada umumnya. Syarat Salam : 1. Pembayaran dilakukan di muka pada majelis akad. 2. Penjual hutang barang pada si pembeli sesuai dengan kesepakatan. 3. Brang yang disalam jelas spesifikasinya baik bentuk, takaran, jumlah, dan sebagainya. Keterangan : Untuk muamalat jenis lainnya akan dijelaskan pada artikel lain. Semoga berguna bagi kita semua amin.

Pada dasarnya hukum muamalah adalah mubah (diperbolehkan) sebagaimana yang telah disepakati oleh mayoritas ulama fiqih dalam kitab-kitab mereka dengan menetapkan sebuah kaidah fiqhiyah yang berbunyi Al-Ashlu Fil Asy-ya-i Wal Ayani Al-Ibahatu. Kaidah ini berlandaskan beberapa dalil syari, di antaranya adalah firman Allah: Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu. (QS. Al-Baqarah: 29) Dan jual beli (perdagangan) adalah termasuk dalam katagori muamalah yang dihalalkan oleh Allah, sebagaimana firman-Nya: Dan Allah telah menghalalkan jual beli. (Q.S. Al Baqarah: 275). Al-Hafizh Ibnu katsir dalam tafsir ayat diatas mengatakan: Apa-apa yang bermanfaat bagi hamba-Nya maka Allah memperbolehkannya dan apa-apa yang memadharatkannya maka Dia melarangnya bagi mereka. Dari ayat ini para ulama mengambil sebuah kaidah bahwa seluruh bentuk jual beli hukum asalnya boleh kecuali jual beli yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Yaitu setiap transaksi jual beli yang tidak memenuhi syarat sahnya atau terdapat larangan dalam unsur jual-beli tersebut. PENGERTIAN JUAL BELI Jual Beli bisa didefinisikan sebagai: Suatu transaksi pemindahan pemilikan suatu barang dari satu pihak (penjual) ke pihak lain (pembeli) dengan imbalan suatu barang lain atau uang. Atau dengan kata lain, jual beli itu adalah ijab dan qabul,yaitu suatu proses penyerahan dan penerimaan dalam transaksi barang atau jasa. Islam mensyaratkan adanya saling rela antara kedua belah pihak yang bertransaksi. Hadits riwayat Ibnu Hibban dan Ibnu Majah menjelaskan hal tersebut: Sesungguhnya Jual Beli itu haruslah dengan saling suka sama suka. Oleh karena kerelaan adalah perkara yang tersembunyi, maka ketergantungan hukum sah tidaknya jual beli itu dilihat dari cara-cara yang nampak (dhahir) yang menunjukkan suka sama suka, seperti adanya ucapan penyerahan dan penerimaan. MACAM-MACAM JUAL BELI

Beberapa macam jual beli yang diakui Islam antara lain adalah: 1. Jual beli barang dengan uang tunai 2. Jual Beli barang dengan barang (muqayadlah/barter) 3. Jual beli uang dengan uang (Sharf) 4. Jual Utang dengan barang, yaitu jual beli Salam (penjualan barang dengan hanya menyebutkan ciri-ciri dan sifatnya kepada pembeli dengan uang kontan dan barangnya diserahkan kemudian) 5. Jual beli Murabahah ( Suatu penjualan barang seharga barang tersebut ditambah keuntungan yang disepakati. Misalnya seseorang membeli barang kemudian menjualnya kembali dengan keuntungan tertentu. Karakteristik Murabahah adalah si penjual harus memberitahu pembeli tentang harga pembelian barang dan menyatakan jumlah keuntungan yang ditambahkan pada biaya tersebut. Untuk dapat mengetahui dan memahami bentuk-bentuk transaksi jual beli yang dilakukan oleh umumnya manusia, apakah hukumnya sah atau tidak, penghasilan yang diperolehnya halal atau tidak, maka berikut ini kami akan sebutkan rukun-rukun dan syarat-syarat sahnya jual beli. RUKUN JUAL BELI: Jual beli memiliki 3 (tiga) rukun: 1.Al- Aqid (orang yang melakukan transaksi/penjual dan pembeli), 2. Al-Aqd (transaksi), 3. Al-Maqud Alaihi ( objek transaksi mencakup barang dan uang). Masing-masing rukun memiliki syarat; 1. Al- Aqid (penjual dan pembeli) haruslah seorang yang merdeka, berakal (tidak gila), dan baligh atau mumayyiz (sudah dapat membedakan baik/buruk atau najis/suci, mengerti hitungan harga). Seorang budak apabila melakukan transaksi jual beli tidak sah kecuali atas izin dari tuannya, karena ia dan harta yang ada di tangannya adalah milik tuannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi: Barangsiapa menjual seorang budak yang memiliki harta, maka hartanya itu milik penjualnya, kecuali jika pembeli mensyaratkan juga membeli apa yang dimiliki oleh budak itu. (HR. Bukhari dan Muslim). Demikian pula orang gila dan anak kecil (belum baligh) tidak sah jual-belinya, berdasarkan firman Allah:

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (QS. An-Nisaa: 6). Para ulama ahli tafsir mengatakan:Ujilah mereka supaya kalian mengetahui kepintarannya, dengan demikian anak-anak yang belum memiliki kecakapan dalam melakukan transaksi tidak diperbolehkan melakukannya hingga ia baligh. Dan di dalam ayat ini juga Allah melarang menyerahkan harta kepada orang yang tidak bisa mengendalikan harta. 2. Penjual dan pembeli harus saling ridha dan tidak ada unsur keterpaksaan dari pihak manapun meskipun tidak diungkapkan. Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (Q.S. An-Nisaa: 29). Rasulullah bersabda: Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan dengan suka rela. (HR. Ibnu Majah II/737 no. 2185 dan Ibnu Hibban no. 4967) Maka tidak sah jual-beli orang yang dipaksa. Akan tetapi di sana ada kondisi tertentu yang mana boleh seseorang dipaksa menjual harta miliknya, seperti bila seseorang memiliki hutang kepada pihak lain dan sengaja tidak mau membayarnya, maka pihak yang berwenang boleh memaksa orang tersebut untuk menjual hartanya, lalu membayarkan hutangnya, bila dia tetap tidak mau menjualnya maka dia boleh melaporkan kepada pihak yang berwenang agar menyelesaikan kasusnya atau memberikan hukuman kepadanya (bisa dengan penjara atau selainnya). Nabi bersabda: Orang kaya yang sengaja menunda-nunda pembayaran hutangnya telah berbuat zhalim. Maka dia berhak diberikan sanksi. (HR. Abu Daud) Masalah: Hukum membeli barang dengan harga miring dari seseorang yang butuh uang tunai karena kepepet (terpaksa) Dalam masalah ini ada tiga pendapat para ulama fiqih, tetapi pendapat yang rojih (terkuat) ialah yang mengatakan dibolehkan dan bahkan dianjurkannya jual beli seperti ini dalam rangka membantu saudara seiman yang membutuhkan uang tunai secepatnya. Juga dikarenakan tidak terdapat unsur keterpaksaan, karena orang ini akan menjual barangnya kepada siapapun dengan

harga miring. Namun sebagian ulama dalam mazhab hanbali memakruhkan membeli barang tersebut meskipun transaksinya sah. Adapun hadits yang berbunyi: - - Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang membeli barang dari orang yang sedang kepepet, adalah hadits dhoif (lemah), diriwayatkan oleh Abu Daud no. 3384. (lihat Shohih Fiqhis Sunnah IV/271) 3. Al-Aqdu (transaksi/ijab-qabul) dari penjual dan pembeli. Ijab (penawaran) yaitu si penjual mengatakan, saya jual barang ini dengan harga sekian. Dan Qabul (penerimaan) yaitu si pembeli mengatakan, saya terima atau saya beli. Di dalam hal ini ada dua pendapat: Pendapat pertama: Mayoritas ulama dalam mazhab Syafii mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul dalam setiap bentuk jual-beli, maka tidak sah jual-beli yang dilakukan tanpa mengucapkan lafaz saya jual dan saya beli. Pendapat kedua: Tidak mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul dalam setiap bentuk jualbeli. Bahkan imam Nawawi -pemuka ulama dalam mazhab Syafii- melemahkan pendapat pertama dan memilih pendapat yang tidak mensyaratkan ijab-qabul dalam aqad jual beli yang merupakan mazhab maliki dan hanbali. (lihat. Raudhatuthalibin 3/5). Dalil pendapat kedua sangat kuat, karena Allah dalam surat An-Nisa hanya mensyaratkan saling ridha antara penjual dan pembeli dan tidak mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul. Dan saling ridha antara penjual dan pembeli sebagaimana diketahui dengan lafaz ijab-qabul juga dapat diketahui dengan adanya qarinah (perbuatan seseorang dengan mengambil barang lalu membayarnya tanpa ada ucapan apa-apa dari kedua belah pihak). Dan tidak ada riwayat dari nabi atau para sahabat yang menjelaskan lafaz ijab-qabul, andaikan lafaz tersebut merupakan syarat tentulah akan diriwayatkan. (lihat. Kifayatul akhyar hal.283, Al Mumti 8/106). Imam Baijuri seorang ulama dalam mazhab Syafii- berkata, mengikuti pendapat yang mengatakan lafaz ijab-qabul tidak wajib sangat baik, agar tidak berdosa orang yang tidak mengucapkannya malah orang yang mengucapkan lafaz ijab-qabul saat berjual beli akan ditertawakan (lihat. Hasyiyah Ibnu Qasim 1/507). Dengan demikian boleh membeli barang dengan meletakkan uang pada mesin lalu barangnya keluar dan diambil atau mengambil barang dari rak di super market dan membayar di kasir tanpa ada lafaz ijab-qabul. Wallahu alam. 3. Al-Maqud Alaihi ( objek transaksi mencakup barang dan uang ).

Al-Maqud Alaihi memiliki beberapa syarat: A.Barang yang diperjual-belikan memiliki manfaat yang dibenarkan syariat, bukan najis dan bukan benda yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia pasti mengharamkan harganya. (HR. Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad shahih) Oleh karena itu tidak halal uang hasil penjualan barang-barang haram sebagai berikut: Minuman keras dengan berbagai macam jenisnya, bangkai, babi, anjing dan patung. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamer, bangkai, babi dan patung. (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadist yang lain riwayat Ibnu Masud beliau berkata: Sesungguhnya Nabi Saw melarang (makan) harga anjing, bayaran pelacur dan hasil perdukunan. (HR. Bukhari dan Muslim) Termasuk dalam barang-barang yang haram diperjual-belikan ialah Kaset atau VCD musik dan porno. Maka uang hasil keuntungan menjual barang ini tidak halal dan tentunya tidak berkah, karena musik telah diharamkan Allah dan rasul-Nya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Akan ada diantara umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat musik. (HR. Bukhari no.5590) B. Barang yang dijual harus barang yang telah dimilikinya. Dan kepemilikan sebuah barang dari hasil pembelian sebuah barang menjadi sempurna dengan terjadinya transaksi dan serah-terima. Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam, dia bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang seseorang yang datang ke tokonya untuk membeli suatu barang, kebetulan barang tersebut sedang tidak ada di tokonya, kemudian dia mengambil uang orang tersebut dan membeli barang yang diinginkan dari toko lain, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab:

jangan engkau jual barang yang tidak engkau miliki! (HR. Abu Daud II/305 no.3503) Dan tidak boleh hukumnya menjual barang yang telah dibeli namun belum terjadi serah-terima barang. Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam, ia berkata, aku bertanya kepada rasulullah, jual-beli apakah yang diharamkan dan yang dihalalkan? Beliau bersabda, hai keponakanku! Bila engkau membeli barang jangan dijual sebelum terjadi serah terima. (HR. Ahmad) C. Barang yang dijual bisa diserahkan kepada sipembeli, maka tidak sah menjual mobil, motor atau handphone miliknya yang dicuri oleh orang lain dan belum kembali. Demikian tidak sah menjual burung di udara atau ikan di kolam yang belum di tangkap, hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan Abu Said, ia berkata: Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang membeli hamba sahaya yang kabur. (HR.Ahmad) D. Barang yang diperjual-belikan dan harganya harus diketahui oleh pembeli dan penjual. Barang bisa diketahui dengan cara melihat fisiknya, atau mendengar penjelasan dari si penjual, kecuali untuk barang yang bila dibuka bungkusnya akan menjadi rusak seperti; telur, kelapa, durian, semangka dan selainnya. Maka sah jual beli tanpa melihat isinya dan si pembeli tidak berhak mengembalikan barang yang dibelinya seandainya didapati isi rusak kecuali dia mensyaratkan di saat akad jual-beli akan mengembalikan barang tersebut bilamana isinya rusak atau si penjual bermaksud menipu si pembeli dengan cara membuka sebuah semangka yang bagus, atau jeruk yang manis rasanya dan memajangnya sebagai contoh padahal dia tahu bahwa sebagian besar semangka dan jeruk yang dimilikinya bukan dari jenis contoh yang dipajang. Maka ini termasuk jual-beli gharar (penipuan) yang diharamkan syariat. Karena nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang jual beli yang mengandung unsur gharar (ketidak jelasan/penipuan). (HR. Muslim) Adapun harga barang bisa diketahui dengan cara menanyakan langsung kepada si penjual atau dengan melihat harga yang tertera pada barang, kecuali bila harga yang ditulis pada barang tersebut direkayasa dan bukan harga sesungguhnya, ini juga termasuk jual-beli gharar (penipuan). wallahu alamu bish-showab. Demikianlah penjelasan singkat tentang rukun dan syarat sahnya jual beli. Semoga dapat difahami dan bermanfaat bagi kita semua. Amiin.

Muhammad ibn Jarir al-Tabari


From Wikipedia, the free encyclopedia Jump to: navigation, search

For other individuals bearing the same name, see Tabari (name).
Muhammad ibn Jarir al-Tabari

Born Died Era Region School

838 (224AH) Amol, Tapuria, Iran 923 (310AH) Medieval era Medieval Islamic civilization Jariri

Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir al-Tabari (Arabic: (224 ) 310 AH; 838923 CE) was a prominent and influential scholar, historian and exegete of the Qur'an from Tabaristan, modern Mazandaran in Persia/Iran. His most influential and best known works are his Qur'anic commentary known as Tafsir alTabari and his historical chronicle Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (History of the Prophets and Kings), often referred to Tarikh al-Tabari. Al-Tabari founded his own madhhab which is usually designated by the name Jariri.[citation needed]

Contents

1 Biography 2 Personal Characteristics 3 Works 4 Texts Relating To Al-Tabari 5 See also 6 References 7 Bibliography 8 External links

Biography
Tabari was born in Amol, Tabaristan (some twenty kilometres south of the Caspian Sea) in the winter of 8389.[1] He memorized the Qur'an at seven, was a qualified religious leader at eight and began to study the prophetic traditions at nine. He left home to study in A.H. 236[2] (8501) when he was twelve. He retained close ties to his home town. He returned at least twice, the last time in A.H. 290 (903) when his outspokenness caused some uneasiness and led to his quick departure.[3] He first went to Ray (Rhages), where he remained for some five years.[4] A major teacher in Rayy was Abu Abdillah Muhammad ibn Humayd al-Razi, who had earlier taught in Baghdad but was now in his seventies.[5] Among other material, ibn Humayd taught Jarir Tabari the historical works of ibn Ishaq, especially al-Sirah, his life of Muhammad.[6] Tabari was thus introduced in

youth to pre-Islamic and early Islamic history. Tabari quotes ibn Humayd frequently. We know little about Tabari's other teachers in Rayy.[7] Tabari then travelled to study in Baghdad under ibn Hanbal, who, however, had recently died (in late 855 or early 856).[8] Tabari possibly made a pilgrimage prior to his first arrival in Baghdad.[9] He left Baghdad probably in 242 A.H. (8567)[10] to travel through the southern cities of Basra, Kufah and Wasit.[11] There he met a number of eminent and venerable scholars.[12] On his return to Baghdad, he took a tutoring position from the vizier Ubaydallah b. Yahya b. Khaqan.[13] This would have been before A.H. 244 (858) since the vizier was out of office and in exile from 244 to 248 (858-9 to 862).[14] There is an anecdote told that Tabari had agreed to tutor for ten dinars a month, but his teaching was so effective and the boy's writing so impressive that the teacher was offered a tray of dinars and dirhams. The ever-ethical Tabari declined the offer saying he had undertaken to do his work at the specified amount and could not honourably take more.[15] This is one of a number of stories about him declining gifts or giving gifts of equal or greater amount in return.[16] In his late twenties he travelled to Syria, Palestine and Egypt.[17] In Beirut he made the highly significant connection of al-Abbas b. al-Walid b. Mazyad al-'Udhri al-Bayruti (c.169-270/785-6 to 8834). Al-Abbas instructed Tabari in the Syrian school's variant readings of the Qur'an and transmitted through his father al-Walid the legal views of al-Awza'i, Beirut's prominent jurist from a century earlier.[citation needed] Tabari arrived in Egypt in 253H (867),[18] and some time after 256/870 returned to Baghdad,[19] possibly making a pilgrimage on the way. If so, he did not stay long in the Hijaz. Tabari had a private income from his father while he was still living and then the inheritance.[20] He took money for teaching. He never took a government or a judicial position.[21]

Quran Tabari Tabari was some fift years old when al-Mu'tadid became caliph. He was well past seventy in the year his History, as we know it, was published. During the intervening years, he was famous, if somewhat contrversial, personality. Among the figures of his age, he had access to sources of information equal to anyone, except, perhaps, those who were directly connected with decision making within the government. Most, if not all, the materials for the histories of al-Mu'tadid, al-

Muktafi, and the early years of al-Muqtadir were collected by him about the time the reported events took place. His accounts are as authentic as one can except from any pre-modern age.[22]

Personal Characteristics
He is described as having a dark complexion, large eyes and a long beard. He was tall and slender[23] and his hair and beard remained black until he was very old. He was attentive to his health, avoiding red meat, fats and other unhealthy foods. He was seldom sick before his last decade when he suffered from bouts of pleurisy. When he was ill, he treated himself )to the approval of physicians).[citation needed] He had a sense of humour, though serious subjects he treated seriously. He had studied poetry when young and enjoyed writing, reciting and participating in poetic exchanges. It is said that he was asked in Egypt about al-Tirimmah and was able to recite this seventh century poet's work for Egyptians who had merely heard al-Tirimmah's name.[citation
needed]

He was witty and urbane, clean and well mannered.[24] He avoided coarse speech, instead displaying refined eloquence.[25] He had a good grounding in grammar, lexicography and philology. Such were considered essential for Qur'anic commentary. He knew Persian and was acquainted with the origins of various foreign loan words in Arabic from a number of other languages. Tabari never married.[26] There is a description of his normal day: rising early for prayer, studying till early afternoon, publicly praying the afternoon prayer, reciting Qur'an and teaching Qur'an, and then teaching law until late.[citation needed] He died in Baghdad on February 17, 923.[27]

Bal'ami's 14th century Persian version of Universal History by Tabari

Works
Al-Tabari wrote history, theology and Qur'anic commentary. His legal writings were published first and then continued to appear throughout his life. Next were his commentaries on the Qur'an. Lastly, his history was published. Despite a style that makes it seem he drew largely on oral sources, written material (both published and unpublished) provided him with the bulk of his information.[citation needed] His biographers stress his reverence for scholarship and his keen intent to offer his readers hard fact. He did not hesitate to express his independent judgement (ijtihad).[28] He stated his assessment as to which of the sources he cited was accurate. This was more understandably an aspect of his theology than of his history. This does not mean he saw himself as innovative. On the contrary, he was very much opposed to religious innovation. The story goes that when he was near death ibn Kamil suggested he forgive his enemies. He said he was willing to do so, except for the person who had described him as an innovator.[29] In general Tabari's approach was conciliatory and moderate, seeking harmonious agreement between conflicting opinions.[30] Initially he identified as a Shafi'ite in Fiqh law and Shafi'ites were happy to have him so considered. He was later seen[by whom?] as having established his own school. Although he had come to Baghdad in youth to study from Hanbal, he incurred the vehement wrath of the Hanbalites.[31] Tabari's madhhab is usually designated by the name Jariri after his patronymic.[32] However, in the keenly competitive atmosphere of the times, his school failed to endure.[33] While we still lack a satisfactory scholarly biography of this remarkable caliph, interested readers now have access to a meticulous and well-annotated translation of the sections from alTabari's chronicle, which constitute the most important primary source for the history of his reign. Anyone familiar with al-Tabari'sc hronicle knows what a formidable challenge it poses for a translator, especially for one attempting to make it accessible to an audience that includes nonspecialists. There is, first of all, the obstacle of al-Tabari's Arabic prose, which varies greatly in style and complexity according to the source he is using (and apparently quoting verbatim). The sections in the McAuliffe translation, drawn mostly from al-Mada'ini and 'Umar ibn Shabba, do not represent the most obscure passages to be found in al-Tabari, but they are nonetheless full of linguistic ambiguities and difficulties for the translator.[34] His wrote extensively; his voluminous corpus containing two main titles:

History of the Prophets and Kings (Arabic: or Tarikh al-Rusul wa al-Muluk or Tarikh al-Tabari)

The first of the two large works, generally known as the Annals (Arabic Tarikh al-Tabari). This is a universal history from the time of Qur'anic Creation to AD 915, and is renowned for its detail and accuracy concerning Muslim and Middle Eastern history. Tabari's work is one of the major primary source for historians.

The Commentary on the Qur'an (Arabic: al-musamma Jami al-bayan fi ta'wil alQur'an, commonly called Tafsir al-Tabari)

His second great work was the commentary on the Qur'an, (Arabic Tafsir al-Tabari), which was marked by the same fullness of detail as the Annals. Abul-Qaasim Ibn 'Aqil Al-Warraq () says: " Imm Ibn Jarir ( ) once said to his students: Are you'll ready to write down my lesson on the Tafsir (commentary) of the entire Holy Quran?" They enquired as to how lengthy it would be. "30 000 pages"! he replied. They said: "This would take a long time and cannot be completed in one lifetime. He therefore made it concise and kept it to 3000 pages (note, this was in reference to the old days when they used ink and hard-paper which was a bit long format today). It took him seven years to finish it from the year 283 till 290. It is said[by whom?] that it is the most voluminous Athari Tafsir (i.e., based on hadith not intellect) existent today so wellreceived by the Ummah that it survived to this day intact due to its popularity and widely printed copies available worldwide. Scholars such as Baghawi and Suyuti used it largely. It was used in compiling the Tafsir ibn Kathir which is often referred to as Mukhtasar Tafsir at-Tabari.

Tahdhb al-Athr ( ) was begun by Tabari. This was on the traditions transmitted from the Companions of Muhammad. It was not, however, completed.

A persual of Tabari shows that in fact he relied on a variety of historians and other authors such as Abu Mihnaf, Sayf b. 'Umar, Ibn al-Kalbi, 'Awana b. al-Hakam, Nasr b. Muzahim, al-Mada'ini, 'Urwa b. al-Zubayr, al-Zuhri, Ibn Ishaq, Waqidi, Wahb b. Munabbih, Ka'b al-Ahbar, Ibn alMatni, al Haggag b. al-Minhal, Hisham b. 'Urwa, al-Zubayr b. Bakkar and so forth, in addition to oral accounts that were circulating at the time. In recounting his history, Tabari used numerous channels to give accounts. These are both channels that are given by the same author in a work, such as for example three different accounts that start with the isnad al-Harita.[35]

Texts Relating To Al-Tabari


It is thus an extremely early witness to the recep tion of al-Tabarl's text-indeed much earlier than the sources that are customarily pressed into service to improve our understanding of the Ta'rikh al-rusul wa'l-muluik, e.g., Miskawayh, Ibn 'Asakir, Ibn al-Athir, and Ibn Khallikan.7 Second, since al-Azdi was writing in the de cades following al-Tabarl, his Ta'rikh can say something about the reception of al-Tabari's Ta'rikh among those who immediately followed the great master. That al-Tabari's history was immensely significant we can all agree; but as to precisely how he became so signifi cant there is no clear consensus.8 Third-and returning to Forand's insight-al-Azdi fre quently drew on the same authorities tapped by al-Tabari, but whose works are for the most part now lost, such as Abui Ma'shar (170/786), Abiu Mikhnaf (157/774), alHaytham ibn 'Adi (207/822), al-Madalini (around 228/843), and 'Umar ibn Shabba (262/878).[36] In 78.29 the Qur'an says "each thing we enumerate as [or in] a kitab, " and al-Tabari appends to the verse by way of elaboration "its number, its amount, and its extent-the knowledge of (any) thing does not escape us" (XXX: 10). This might suggest that al- Tabari considered kitab merely as a metaphor for Allah's knowledge. However, from al-Tabari's comments elsewhere on Allah's

knowledge it is quite evident that he is not speaking metaphorically. For example, in 35.11 where the Qur'an states that the length or shortness of a person's life is in a kitab is explained by alTabari as "it is in a kitab with Allah, written (maktab) which he computes and knows" (XXII: 712).8[37] Al-Tabari reports that al- Mahdi was just about to promote Harun as heir apparent ahead of Musa when he died, and adds by way of corroboration another report that al-Mahdi set off for Masabadhan in a great hurry.34 However, it may be doubted that al-Mahdi at the time shared the reporter's subsequent knowledge of his imminent demise there, and none of the other reported circumstances of his death suggest that he was in a hurry to go anywhere. On the contrary, the sources in general make it clear that he had gone to Masabadhan for recreation, and they occasionally say so explicitly. Al-Tabari does say explicitly that envoys were sent to the provinces, where they obtained the oath of allegiance not only to al-Hadi as caliph but also to Harun as heir apparent (wall al-'ahd).38 This was probably the first occasion on which Harfin was so acknowledged.39 Harin himself, with the advice of al-Rabic, sent out these envoys, and all of this must have been presented to his brother on his return as a fait accompli.[38] After so many exchanges of recrimination with his own men, and after various attempts to regroup what was becoming a progressively disorderly army, 'Ali is reported by Tabari in a most revealing passage to have explained his acceptance of the arbitration as such: "It is no sin but only a failure of judgment." Nothing sums up the moral and religious complexity of the situation better than this sentence. The group that made a big issue of 'Ali's dilemma were the Kharijites, who for reasons of their own could see clearly the religious and political issues involved, who agreed neither with 'Ali nor with his opponent but were in turn incapable of administering a polity of their own. Tabari's account also brings that out very clearly when he relates (p. 115) how the assembled Kharijites, who were quite willing to expound the reasons for their recession from 'Ali's forces, would one by one refuse to take the leadership of their own group, a situation quite characteristic of religious purists when confronted with "dirty" politics.[39]

Realistic depictions alternate with formalized and archetypal narrative. Tabari is careful to give his reports of these conquests a religious frame (expressions such as "Nu'aym wrote to 'Umar about the victory that God had given him" [pp. 25-26] abound), though it is worth noting that Tabari describes the initiation of the campaign in pragmatic rather than ideological terms. He states that cUmar's decision to invade came as a result of his realization "that Yazdajird was making war on him every year and when it was suggested to him that he would continue to do this until he was driven out of his kingdom" (p. 2). The religious frame in Tabari's account is therefore not inflexible or exclusive.[40]

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ahmad Hamdani)

Namanya menunjukkan kualitas kitabnya. Arti judul kitab ini adalah Keterangan Lengkap Tentang Tafsir Al Quran atau yang di kalangan ulama dan pencari ilmu, populer dengan sebutan Tafsir Ath-Thabari. Demikianlah kira-kira komentar yang nampaknya laik, yang tentunya komentar ulama lebih afdhal, diberikan kepada sebuah tafsir legendaris karya seorang bapak tafsir dan tarikh Islam, Al-Imam Abu Jafar Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib Ath-Thabari yang hidup pada tahun 224-310 H. Sebagaimana judulnya, tafsir ini dinilai sebagai sebuah tafsir yang paling lengkap dan populer di kalangan ulama dan pencari ilmu. Tak heran bila kitab ini dijadikan rujukan para ahli tafsir yang mengedepankan nash maupun ahli tafsir yang lebih mengedepankan logika dalam menafsirkan ayat-ayat Al Quran di jamannya. Tafsir Ath-Thabari memuat istinbath (pengambilan) hukum, menyampaikan perbedaan pendapat yang ada di kalangan ulama, dan memilih pendapat mana yang lebih kuat di antara pendapatpendapat itu dengan sisi pandang yang didasarkan kepada pandangan logika dan pembahasan nash ilmiah yang teliti. Tafsir yang pada awalnya hampir tak terdeteksi rimbanya ini terdiri dari 30 juz besar, yang secara keseluruhan setelah adanya peringkasan dari penulisnya membutuhkan 3.000 lembar kertas. Kemudian dengan takdir Allah, manuskrip dari tafsir ini ditemukan kembali dalam keadaan utuh di masa raja Hamud bin Al-Amir Abdur Rasyid, salah satu raja Najd, yang kemudian tersebar ke seluruh penjuru dunia barat dan timur hingga kini. Kalau melihat komentar dan pujian ulama terhadap tafsir ini, kita akan mendapatinya sebagai tafsir yang telah disepakati mereka sebagai tafsir yang sangat tinggi kualitasnya dan sebuah tafsir yang harus dijadikan rujukan bagi para pencari tafsir Al Quran. Misalnya Al-Imam As-Suyuthi t berkomentar, Ia adalah tafsir yang paling baik dan besar, memuat pendapat-pendapat ulama, dan sekaligus menguatkan dari pendapat-pendapat itu, dan (memuat red) uraian nahwu serta istinbath hukum. Maka dengan kelebihannya, ia menempati kualitas teratas dari kitab-kitab tafsir sebelumnya. (Al-Itqan, 2/190) Al-Imam An-Nawawi t berkata: Umat Islam sepakat bahwa tidak ada seorang pun yang menulis tafsir sekaliber Tafsir At-Thabari (Al-Itqan, 2/190). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata, Adapun tafsir-tafsir yang ada di tangan manusia, yang paling baik adalah tafsir Ibnu Jarir AthThabari. Hal ini karena ia menyebutkan ucapan-ucapan salaf dengan sanad-sanad yang kokoh, tidak mengandung kebidahan, dan tidak menukil dari orang-orang yang diragukan agamanya (Fatawa Ibnu Taimiyyah, 2/192) dan banyak pujian ulama lainnya. Jadi, Tafsir Ath-Thabari bisa dikatakan sebagai tafsir pertama dilihat dari waktu penulisan dan penyusunan keilmuannya. Karena kitab tersebut merupakan tafsir pertama yang sampai kepada kita di saat tafsir-tafsir yang mendahuluinya telah lenyap ditelan perputaran jaman sehingga tidak sampai ke tangan kita. Adapun dilihat dari sisi penyusunan keilmuannya, maka ia adalah tafsir yang memiliki ciri khas yang ditemukan oleh penulisnya yang kemudian ia tempuh sebagai metode tersendiri hingga ia persembahkan kepada umat manusia sebagai sebuah karya yang agung. Dalam menafsirkan ayat-ayat, Ibnu Jarir (kunyah Ath-Thabari) mengingkari tafsiran dengan logika semata. Pada umumnya, ia membawakan riwayat-riwayat dengan sanadnya sampai shahabat atau tabiin, memperhatikan ijma ulama, mengindahkan perbedaan pendapat bacaan ayat-ayat, kisah-kisah Israiliyyat (jika beliau kritik sanadnya maka perlu diteliti kisahnya), tidak membahas masalah yang tidak memberi faidah keilmuan, merujuk kepada bahasa Arab asli dalam menafsirkan kata dalam satu ayat yang kurang jelas, serta bersandar pada syair-syair

bahasa Arab untuk mendukung tafsirnya. Wallahu alam.