Anda di halaman 1dari 7

Apoptosis Pengertian apoptosis Apoptosis (dari bahasa Yunani apo = "dari" dan ptosis = "jatuh") adalah mekanisme biologi

yang merupakan salah satu jenis kematian sel terprogram . Apoptosis digunakan oleh organisme multisel untuk membuang sel yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh. Apoptosis berbeda dengan nekrosis. Apoptosis pada umumnya berlangsung seumur hidup dan bersifat menguntungkan bagi tubuh, sedangkan nekrosis adalah kematian sel yang disebabkan oleh kerusakan sel secara akut. Contoh nyata dari keuntungan apoptosis adalah pemisahan jari pada embrio. Apoptosis yang dialami oleh sel-sel yang terletak di antara jari menyebabkan masing-masing jari menjadi terpisah satu sama lain. Bila sel kehilangan kemampuan melakukan apoptosis maka sel tersebut dapat membelah secara tak terbatas dan akhirnya menjadi kanker. Apoptosis sebenarnya adalah suatu bentuk kematian sel yang didesain untuk menghilangkan selsel host yang tidak diinginkan melalui aktivasi serangkaian proses yang terprogam secara internal melalui serangkaian prosuk gen. Sel mengaktifkan program apoptosis disebabkan oleh 1) sebagai respon stress terhadap kerusakan DNA, 2) Upaya menjaga kestabilan jumlah sel, 3) Sebagai bagian dari pertumbuhan, 4) Regulasi sistem imun, 5) Penuaan. Fungsi apoptosis Hubungan dengan kerusakan sel atau infeksi Apoptosis dapat terjadi misalnya ketika sel mengalami kerusakan yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi.[rujukan?] Keputusan untuk melakukan apoptosis berasal dari sel itu sendiri, dari jaringan yang mengelilinginya, atau dari sel yang berasal dari sistem imun.[rujukan?] Bila sel kehilangan kemampuan untuk melakukan apoptosis (misalnya karena mutasi), atau bila inisiatif untuk melakukan apoptosis dihambat (oleh virus), sel yang rusak dapat terus membelah tanpa terbatas, yang akhirnya menjadi kanker.[rujukan?] Sebagai contoh, salah satu hal yang dilakukan oleh virus papilloma manusia (HPV) saat melakukan pembajakan sistem genetik sel adalah menggunakan gen E6 yang mendegradasi protein p53.[rujukan?] Padahal protein p53 berperan sangat penting pada mekanisme apoptosis.[rujukan?] Oleh karena itu, infeksi HPV dapat berakibat pada tumbuhnya kanker serviks.[rujukan?] Sebagai respon stress atau kerusakan DNA Kondisi yang mengakibatkan sel mengalami stress, misalnya kelaparan, atau kerusakan DNA akibat racun atau paparan terhadap ultraviolet atau radiasi (misalnya radiasi gamma atau sinar X), dapat menyebabkan sel memulai proses apoptosis.[rujukan?] Sebagai upaya menjaga kestabilan jumlah sel

Pada organisme dewasa, jumlah sel dalam suatu organ atau jaringan harus bersifat konstan pada range tertentu.[rujukan?] Sel darah dan kulit, misalnya, selalu diperbarui dengan pembelahan diri sel-sel progenitornya, tetapi pembelahan diri tersebut harus dikompensasikan dengan kematian sel yang tua.[rujukan?] Diperkirakan 50-70 milyar sel mati setiap harinya karena apoptosis pada manusia dewasa.[rujukan?] Dalam satu tahun, jumlah pembelahan sel dan kematian yang terjadi pada tubuh seseorang mencapai kurang lebih sama dengan berat badan orang tersebut.[rujukan?] Keseimbangan (homeostasis) tercapai ketika kecepatan mitosis (pembelahan sel) pada jaringan disamai oleh kematian sel.[rujukan?] Bila keseimbangan ini terganggu, salah satu dari hal berikut ini akan terjadi[rujukan?]:

Bila kecepatan pembelahan sel lebih tinggi daripada kecepatan kematian sel, akan terbentuk tumor Bila kecepatan pembelahan sel lebih rendah daripada kecepatan kematian sel, akan terjadi penyakit karena kekurangan sel.

Kedua keadaan tersebut dapat bersifat fatal atau sangat merusak. Sebagai bagian dari pertumbuhan Kematian sel terprogram merupakan bagian penting pada perkembangan jaringan tumbuhan dan metazoa (organisme multisel).[rujukan?] Sel yang mengalami apoptosis mengkerut dan inti selnya mengecil, sehingga sel tersebut dapat dengan mudah difagositosis.[rujukan?] Proses fagositosis memungkinkan komponen-komponen sel yang tersisa digunakan kembali oleh makrofaga atau sel-sel yang berada di sekitarnya.[rujukan?] Regulasi sistem imun Sel B dan sel T adalah pelaku utama pertahanan tubuh terhadap zat asing yang dapat menginfeksi tubuh, maupun terhadap sel-sel dari tubuh sendiri yang mengalami perubahan menjadi ganas.[rujukan?] Dalam melakukan tugasnya, sel B dan T harus memiliki kemampuan untuk membedakan antara "milik sendiri" (self) dari "milik asing" (non-self), dan antara antigen "sehat" dan "tidak sehat".[rujukan?] (Antigen adalah bagian protein yang dapat berkomplemen secara tepat dengan reseptor unik yang dimiliki sel B dan T pada membran selnya).[rujukan?] "Sel T pembunuh" (killer T cells) menjadi aktif saat terpapar potongan-potongan protein yang tidak sempurna (misalnya karena mutasi), atau terpapar antigen asing karena adanya infeksi virus.[rujukan?] Setelah sel T menjadi aktif, sel-sel tersebut bermigrasi keluar dari lymph node, menemukan dan mengenali sel-sel yang tidak sempurna atau terinfeksi, dan membuat sel-sel tersebut melakukan kematian sel terprogram.[rujukan?]

1. Fase initiator 2. Fase Efektor 3. Fase EksekusiMasing-masing fase merupakan rangkaian proses reaksibiokimiawi yang diperankan sejumlah protein. Fase inisiator terjadi perikatan sinyal kematian dari luar sel oleh reseptornyayang berada pada membrane sel (Ikatan antara ligan danreseptor seperti halnya ikatan yang terjadi antara FasL dan Fas,Ikatan ini diikuti dengan terbentuknya komplek protein deathdomain, recruitment protein adaptor seperti FADD (FasAssociated Death Domain) dan procaspase-8 (inactive).Komplek protein ini merupakan cell death signals. Pada faseefektor procaspase-8 akan aktif setelah mengalami digest.Caspase-8 (aktif) akan mengaktifkan protein Bid (Deathpromoting protein). Protein Bid ini akan memacu pelepasansitokrom-c dari mitokondria. Jalur intrinsic diperankanmitokondria yang akan melepaskan sitokrom-c, setelah menerima sinyal dari luar sel (sinyal bisaberupa stress, kerusakan DNA, kemoterapi atau sinar ultra violet). Lepasnya sitokrom-c akanditangkap oleh procaspase-9 (inactive) dan membentuk protein komplek bersama dengan proteinApaf-1. Ikatan protein ini akan mengaktifkan caspase-9. Aktifnya caspase-9 akan mengaktifkanprocaspase-3 menjadi caspase-3 (active). Eksekusi sel dilaksanakan oleh caspase-3 denganditandai adanya cleavage atau pemotongan PARP (polyADP Ribosa Polimerase) yangmerupakan substrat spesifik caspase-3, atau secara mikroskopis tampak terbentuknya apoptoticbodies, yaitu fragmen-fragmen DNA (inti sel) dan komponen sitosol yang terbentuk denganselubung membrane sel dengan ukuran lebih kecil dari sel atau inti sel.Sel yang mengalami apoptosis menunjukkan ciri morfologi yang unik bila dilihatmenggunakan mikroskop :1. Sel terlihat membulat. Hal itu terjadi karena struktur protein yang menyusun cytoskeleton mengalami pemotongan oleh peptidase yang dikenal sebagai caspase. Caspase diaktivasioleh mekanisme sel itu sendiri.2. Kromatin mengalami degradasi awal dan kondensasi.

3. Kromatin mengalami kondensasi lebih lanjut dan membentuk potongan-potongan padatpada membran inti.4. Membran inti terbelah-belah dan DNA yang berada didalamnya terpotong-potong.5.

Lapisan dalam dari membran sel, yaitu lapisan lipid fosfatidilserina akan mencuat keluar dan dikenali oleh fagosit, dan kemudian sel mengalami fagositosis6. Sel pecah menjadi beberapa bagian yang disebut badan apoptosis, yang kemudiandifagositosis.Terdapat 2 mekanisme berbeda untuk sel yang memusnahkan dirinya melalui apoptosis, yaitu : y isyarat-isyarat yang diperoleh dari dalam sel y isyarat yang diperoleh dari luar sel, dikirimkan oleh "isyarat pemusnahan" yangbergabung dalam reseptor di permukaan sel seperti: TNF, limfotoksin, FasL1. Apoptosis berdasarkan isyarat dari dalam sel:Di dalam sel yang normal, membran luar mitokondrianya mensekresikan protein Bcl-2.Bcl-2 bergabung dengan protein Apaf-1. Bila terjadi kerusakan di dalam sel, Bcl-2 akanmembebaskan Apaf-1 dan sitokrom c akan keluar dari mitokondria. Apaf-1 dan sitokrom c akanbergabung dengan caspase 9 dan membentuk kompleks apoptosom yang akan terkumpul dalamsitosol. Caspase 9 yang merupakan protease akan mengaktifkan caspase lain. Pengaktifan iniakan meningkatkan aktiviti proteolisis dan akan mencerna protein struktur dalam sitoplasmaserta mengurai DNA kromosom. Yang akan berakhir dengan kematian sel.

2. Apoptosis berasal dari isyarat luar selFas dan reseptor TNF merupakan protein membran pada reseptor permukaan sel.Pergabungan FasL dan TNF masing-masing dengan reseptor permukaan sel, kemudianmemindahkan sinyal tersebut ke sitoplasma yang akan mengaktifkan caspase 8. Caspase 8,seperti caspase 9, juga akan mengaktifkan secara bersekuen caspase lain yang akanmenyebabkan kematian sel.

Definisi Nekrosis Nekrosis merupakan kematian sel sebagai akibat dari adanya kerusakan sel akut atau trauma (misalnya: kekurangan oksigen, perubahan suhu yang ekstrem, dan cedera mekanis), di mana kematian sel tersebut terjadi secara tidak terkontrol yang dapat menyebabkan rusaknya sel, adanya respon peradangan dan sangat berpotensi menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Stimulus yang terlalu berat dan berlangsung lama serta melebihi kapasitas adaptif sel akan menyebabkan kematian sel di mana sel tidak mampu lagi mengompensasi tuntutan perubahan. Sekelompok sel yang mengalami kematian dapat dikenali dengan adanya enzim-enzim lisis yang melarutkan berbagai unsur sel serta timbulnya peradangan. Leukosit akan membantu mencerna sel-sel yang mati dan selanjutnya mulai terjadi perubahan-perubahan secara morfologis.

Nekrosis biasanya disebabkan karena stimulus yang bersifat patologis. Selain karena stimulus patologis, kematian sel juga dapat terjadi melalui mekanisme kematian sel yang sudah terprogram di mana setelah mencapai masa hidup tertentu maka sel akan mati. Mekanisme ini disebut apoptosis, sel akan menghancurkan dirinya sendiri (bunuh diri/suicide), tetapi apoptosis dapat juga dipicu oleh keadaan iskemia. Macam Macam Nekrosis 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nekrosis koagulatif Nekrosis likuefaktif Nekrosis kaseosa Nekrosis lemak Nekrosis fibrinoid Nekrosis gangrenosa

Penyebab Nekrosis 1. Iskhemi dapat terjadi karena perbekalan (supply) oksigen dan makanan untuk suatu alattubuh terputus. Iskhemi terjadi pada infak, yaitu kematian jaringan akibat penyumbatanpembuluh darah. Penyumbatan dapat terjadi akibat pembentukan trombus. Penyumbatanmengakibatkan anoxia. Nekrosis terutama terjadi apabila daerah yang terkena tidak mendapat pertolongan sirkulasi kolateral. Nekrosis lebih mudah terjadi pada jaringan-jaringan yang bersifat rentan terhadap anoxia. Jaringan yang sangat rentan terhadapanoxia ialah otak. 2. Agens biologik Toksin bakteri dapat mengakibatkan kerusakan dinding pembuluh darah dan trombosis.Toksin ini biasanya berasal dari bakteri-bakteri yang virulen, baik endo maupuneksotoksin. Bila toksin kurang keras, biasanya hanya mengakibatkan radang. Virus danparasit dapat mengeluarkan berbagai enzim dan toksin, yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi jaringan, sehingga timbul nekrosis. 3. Agens kimia Dapat eksogen maupun endogen. Meskipun zat kimia merupakan juga merupakan jugazat yang biasa terdapat pada tubuh, seperti natrium dan glukose, tapi kalaukonsentrasinya tinggi dapat menimbulkan nekrosis akibat gangguan keseimbangankosmotik sel. Beberapa zat tertentu dalam konsentrasi yang rendah sudah dapatmerupakan racun dan mematikan sel, sedang yang lain baru menimbulkan kerusakanjaringan bila konsentrasinya tinggi .4. Agens fisik Trauma, suhu yang sangat ekstrem, baik panas maupun dingin, tenaga listrik, cahayamatahari, tenaga radiasi. Kerusakan sel dapat terjadi karena timbul kerusakan potoplasmaakibat ionisasi atau tenaga fisik, sehingga timbul kekacauan tata kimia potoplasma daninti. 5. Kerentanan (hypersensitivity)

Kerentanan jaringan dapat timbul spontan atau secara didapat (acquired) danmenimbulkan reaksi imunologik. Pada seseorang bersensitif terhadap obat-obatan sulfadapat timbul nekrosis pada epitel tubulus ginjal apabila ia makan obat-obatan sulfa. Jugadapat timbul nekrosis pada pembuluh-pembuluh darah. Dalam imunologi dikenal reaksiSchwartzman dan reaksi Arthus.

Tahapan dari kronologis nekrosis adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. pembengkakan sel digesti kromatin rusaknya membran (plasma dan organel) hidrolisis DNA vakuolasi oleh Retikulum Endoplasma penghancuran organel lisis sel (Anonim, 2009 (b)).
Dampak Nekrosis Jaringan nekrotik akan menyebabkan peradangan sehingga jaringan nekrotik tersebut dihancurkan dan dihilangkan dengan tujuan membuka jalan bagi proses perbaikan untuk mengganti jaringan nekrotik. Jaringan nekrotik dapat digantikan oleh sel-sel regenerasi (terjadi resolusi) atau malah digantikan jaringan parut. Jika daerah nekrotik tidak dihancurkan atau dibuang maka akan ditutup oleh jaringan fibrosa dan akhirnya diisi garam-garam kalsium yang diendapkan dari darah di sekitar sirkulasi jaringan nekrotik . Proses pengendapan ini disebut kalsifikasi dan menyebabkan daerah nekrotik mengeras seperti batu dan tetap berada selama hidup.

Perubahan-perubahan pada jaringan nekrotik akan menyebabkan : 1. Hilangnya fungsi daerah yang mati. 2. Dapat menjadi fokus infeksi dan merupakan media pertumbuhan yang baik untuk bakteri tertentu, misalnya bakteri saprofit pada gangren. 3. Menimbulkan perubahan sistemik seperti demam dan peningkatan leukosit. 4. Peningkatan kadar enzim-enzim tertentu dalam darah akibat kebocoran sel-sel yang mati. 1. Perubahan Mikroskopis Perubahan pada sel yang nekrotik terjadi pada sitoplasma dan organel-organel sel lainnya. Inti sel yang mati akan menyusut (piknotik), menjadi padat, batasnya tidak teratur dan berwarna gelap. Selanjutnya inti sel hancur dan meninggalkan pecahanpecahan zat kromatin yang tersebar di dalam sel. Proses ini disebut karioreksis. Kemudian inti sel yang mati akan menghilang (kariolisis).

2. Perubahan Makroskopis

Perubahan morfologis sel yang mati tergantung dari aktivitas enzim lisis pada jaringan yang nekrotik. Jika aktivitas enzim lisis terhambat maka jaringan nekrotik akan mempertahankan bentuknya dan jaringannya akan mempertahankan ciri arsitekturnya selama beberapa waktu. Nekrosis ini disebut nekrosis koagulatif, seringkali berhubungan dengan gangguan suplai darah. Contohnya gangren.

Jaringan nekrotik juga dapat mencair sedikit demi sedikit akibat kerja enzim dan proses ini disebut nekrosis liquefaktif. Nekrosis liquefaktif khususnya terjadi pada jaringan otak, jaringan otak yang nekrotik mencair meninggalkan rongga yang berisi cairan. Pada keadaan lain sel-sel nekrotik hancur tetapi pecahannya tetap berada pada tempatnya selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun dan tidak bisa dicerna. Jaringan nekrotik ini tampak seperti keju yang hancur. Jenis nekrosis ini disebut nekrosis kaseosa, contohnya pada tuberkulosis paru. Jaringan adiposa yang mengalami nekrosis berbeda bentuknya dengan jenis nekrosis lain. Misalnya jika saluran pankreas mengalami nekrosis akibat penyakit atau trauma maka getah pankreas akan keluar menyebabkan hidrolisis jaringan adiposa (oleh lipase) menghasilkan asam berlemak yang bergabung dengan ion-ion logam seperti kalsium membentuk endapan seperti sabun. Nekrosis ini disebut nekrosis lemak enzimatik. 3. Perubahan Kimia Klinik Kematian sel ditandai dengan menghilangnya nukleus yang berfungsi mengatur berbagai aktivitas biokimiawi sel dan aktivasi enzim autolisis sehingga membran sel lisis. Lisisnya membran sel menyebabkan berbagai zat kimia yang terdapat pada intrasel termasuk enzim spesifik pada sel organ tubuh tertentu masuk ke dalam sirkulasi dan meningkat kadarnya di dalam darah. Misalnya seseorang yang mengalami infark miokardium akan mengalami peningkatan kadar LDH, CK dan CK-MB yang merupakan enzim spesifik jantung. Seseorang yang mengalami kerusakan hepar dapat mengalami peningkatan kadar SGOT dan SGPT. Namun peningkatan enzim tersebut akan kembali diikuti dengan penurunan apabila terjadi perbaikan.