DEPARTEMEN REPRODUKSI VETERINER FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SLIDE 1

PENYAKIT-PENYAKIT PADA SAPI PERAH 1. STRESS PADA SAPI PERAH 2. PENYAKIT GANGGUAN METABOLISME /FAKTOR PAKAN 3. MASTITIS dan MASTITIS MIKOTIK 4. PENYAKIT KELAMIN 5. LEUKEMIA PADA SAPI PERAH 6. ABORTUS 7. ENDOMETRITIS DAN PIOMETRA 8. PROLAP UTERI 9. RETENSIO SEKUNDINARIUM 10.PARAPLEGIA 11.PARALISA 12.EKLAMSIA PUERPURALIS

SLIDE

2

PENGARUH STRESS PADA SAPI PERAH Untuk meningkatkan produksi susu : - pakan/ nutrisi - pemuliaan ternak - lingkungan Faktor lingkungan : iklim, suhu, sinar, angin, cahaya, hujan dan kelembaban udara Pengaruh iklim secara langsung : - Tingkat pertumbuhan - Produksi susu - Efisiensi penggunaan pakan - Reproduksi - Kesehatan ternak SLIDE

3

Pengaruh tidak langsung Tanaman tersedia sepanjang tahun  kualitas baik Tanaman terlihat cepat tua  - daya cerna rendah - protein rendah Cara mengatasi pengaruh stress - Seleksi - Memodifikasi lingkungan  perlindungan ternak contoh : efisiensi pakan ditingkatkan pemerahan me – permasalahan kesehatan dan hasil ternak Kondisi lingkungan  mengganggu proses reproduksi Suhu udara tinggi  stress panas

SLIDE

4

Terjadi birahi tenang / birahi pendek 5. Berat lahir pedet lebih rendah 7. menjadi lambat . Involusio uteri yaitu periode uterus dari keadaan bunting dan setelah SLIDE 5 melahirkan sampai menjadi normal kembali. Berat plasenta menjadi menurun 8.STRESS PANAS AKAN BERAKIBAT 1. Kegiatan indung telur menurun  proses reproduksi lambat 6. Kematian embrio dini dari fetus yang dikandung 4. Angka konsepsi atau kebuntingan yang rendah disebabkan karena proses pembuahan dari sel telur oleh sel mani menjadi terganggu 3. Produksi susu menurun 2.

CARA MENANGGULANGI STRESS PANAS • • • • • • Menanam pohon pelindung Kandang dari timur ke barat agar sinar matahari tidak langsung diterima oleh sapi Ventilasi kandang harus baik Atap kandang dari bahan penyerap Sapi sering disiram air dingin bila suhu udara panas Jumlah sapi jangan terlalu padat SLIDE 6 .

Milk Fever (Parturent Paresis Ca rendah 2.PENYAKIT GANGGUAN METABOLISME/ FAKTOR PAKAN 1. Laministis  indigesti akut SLIDE 7 . Timpani  fermentasi mikroba & penyumbatan 4. Keracunan nitrat 6. Grass Tetani  Mg rendah 3. Ketosis  gangguan metabolisme 5.

tidak mampu berdiri . setelah melahirkan  sekresi Ca utk.Sempoyongan. MILK FEVER (PARTURENT PARESIS)  Ca rendah Jarang pada sapi yang baru pertama melahirkan Sering pada sapi yang sering melahirkan & produk susu Sering melahirkan umur tua  Ca jaringan tulang berkurang Sapi perah produksi susu tinggi.Sapi mudah terkejut .Nafsu makan menurun .1.Spesifik berbaring diatas dada dengan kepala terkulai disisi badan  tidak sadar  terjadi kematian Pencegahan : Sebelum melahirkan : pemberian Ca rendah & P tinggi dalam pakan Setelah melahrkan : pemberian Ca tinggi SLIDE 8 . produksi susu  Ca darah & cairan antar sel rendah Gejala Klinik : .

Kejang.Gigi gemelutuk. GRASS TETANI  Mg rendah Sapi perah sedang laktasi. dedak gandum (kadar Mg tinggi) SLIDE 9 .Beri bekatul. kaki meregang Pencegahan . Mg utk produksi susu  Mg darah dan antar sel rendah Pada usia tua  Mg diambil dari tulang Terjadi pada sapi dengan pakan rumput muda dan air > Gejala Klinik .2. kepala terkulai kebelakang .Mati mendadak .Hindari pakan rumut muda .

Terlalu banyak makan daun lamtoro BLOAT Terjadi pembentukan gas berbusa secara berlebihan dalam rumen dan tidak dapat dikeluarkan Bloat ada 2 bentuk : 1.3. TIMPANI Terjadi adanya aktivitas fermentasi mikroba rumun membentuk gas CO2 & metan secara berlebihan dan ternak tidak mampu mengeluarkan . Konsentrat yang tinggi  keasaman rumen meningkat SLIDE 10 . Pakan leguminose yang dikonsumsi ternak 2.Sering pada sapi digembalakan pada rumut muda .

saponin.Tannin dan flavonoid tanaman SLIDE 11 . pektin .Genetik .Jumlah saliva (terutama mucin) . cenderung menghasilkan saliva lebih sedikit dari normal Saponin leguminose Faktor meningkatkan gas busa : .Mekanisme terbentuknya gas berbusa Meningkatnya lendir dari bakteri mucopolisacaride Meningkatnya RNA dalam rumen hasil destruksi sel rotozoa Genetik.Pakan : protein.Populasi mikroba rumen Faktor menurunkan gas busa .

Dicotyl sodium sulfo succinat (membunuh protozoa) Memecah gelembung busa : Poloxalene (meningkatkan tegangan permukaan) Mencegah terbentuknya busa baru Kejadian timpani karena pakan dapat ditanggulangi 3 cara Menaikkan ukuran partikel makanan : menambah 8% air beberapa jam sebelum makanan diaduk Mencegah keasaman lambung : mempertahankan rasio hijauan dan konsentrat  9:1 Mencegah konsumsi pakan berlebihan pada musim hujan SLIDE 12 .Pencegahan timpani Menurunkan protozoa rumen : Cu SO4/PO.

Stomath tube penyayatan rumen kiri (fosa lumbal) . mulut dibuka Minyak.Apabila belum parah  efektif: jalan-jalan.Sicaden (polimer organosilikon) antikembung kuat SLIDE 13 . lemak.Dimetyl polisiloxane 50 ml + 5 liter air .Pengobatan . detergen .

4. darah dan susu kadar keton meningkat .Pakan cukup energi setelah melahirkan.Nafsu makan menurun .Sering sembelit .Produksi susu menurun tetapi kadar lemak sangat tinggi  BB menurun Pencegahan : . Tejadi pada ternak puasa atau setelah melahirkan atau saat laktasi dan kekurangan energi dari pakannya.Nervus dan takut . saat laktasi  hijauan baik Terapi Glukosa /IV SLIDE 14 . KETOSIS yaitu gangguan metabolisme disebabkan meningkatnya badan keton (asam hidroksi butirat). sehingga memanfaatkan lemak tubuh untuk menghasilkan energi Gejala klinik .Urin.

gemetar . dalam jumlah besar  keracunan Tereduksi nitrat menjadi nitrit oleh enzim nitrat reduktase (dihasilkan mikrorganisme rumen).pernafasan cepat  ggg respirasi  mati SLIDE 15 Pencegahan : Pemberian pakan KH larut air : padi atau molases Suntikan metilen blue IV  dapat mengubah 5. KERACUNAN NITRIT . Bila hemoglobin yg diubah menjadi met-hemoglobin tinggi  jaringan tubuh tak mendapat oksigen cukup  keracunan nitrat dengan gejala : .jalan sempoyongan . Nitrit diserap tubuh  mengoksidasi ion ferro dalam hemoglobin menjadi ferri  terbentuk met-hemoglobin yg tak mampu mengikat dan mengangkut oksigen kejaringan tubuh.Nitrit banyak pada batang tanaman dan sedikit pada biji-bijian Kandungan nitrit berlebih pada tanaman akibat pupuk atau musim kering panjang Dalam jumlah sedikit nitrit sebagai bahan non protein nitrogen.

ggg spesifik kaki dikenal laminitis sindrom permanen.asidosis. . .6. LAMINITIS (Indigenti akut) Terjadi akibat pemberian pakan konsentrat jumlah banyak dan singkat tanpa adaptasi dulu  ggg pencernaan = indigesti akut = laminitis  terjadi perubahan mikroba rumen  banyak terbentuk mikroba penghasil asam laktat  pH rumen menjadi rendah & histamin tinggi  kerusakan pada lamina kaki  .epitel rumen mengeras karena keratinisasi berakibat kurang memanfaatkan efisiensi pakan  dehidrasi  diare berat  mati mendadak Pencegahan : SLIDE 16 .

Sanitasi jelek SLIDE . aspek kesehatan ternak 3.Luka/ lecet pada putting susu . aspek ekonomi 2.3) MASTITIS  sangat kompleks penyakit ini Kerugian : 1. aspek kesehatan manusia Penyebab : Stapilococcus Streptococcus Jamur & ragi Kasus mastitis karena faktor Manusia 70% Alat 25% Ternak 5 % Cara kuman menginfeksi ambing : .Gizi jelek 17 .

pemeriksaan air susu rutin .sapi masa kering obati antibiotik kedalam ambing 4.setelah memerah celup putting di lar. Mencegah infeksi baru pada ambing : alat. Mengurangi lama infeksi Periode kering beri doxacillin  Streptococcus 85% Stapilococcus 75% SLIDE 5.5 langkah pencegahan mastitis 1.sapi positif mastitis terus menerus  keluarkan . pemerah diperhatikan 3. Menjaga kesehatan . Pemeriksaan rutin air susu 2.pemerahan baik. desinfektan . teratur . Test dilapangan 18 .

gejala spt mastitis biasa tetapi tidak dapat disembuhkan oleh antibiotika Fungi/ Cendawan/ Jamur dibagi 1. Mushroom (Jamur)  tidak menyebabkan penyakit. Yeast (Khamir/ragi)  dapat menyebabkan penyakit Penyebab mastitis mikotik Kapang  aspergilosis dan alternaria Khamir  Cryptococcus. Candidia dan Tricosporon Aktinomises : Nocardia SLIDE Ganggang/ alga tak berwarna : Prototheca 19 .MASTITIS MIKOTIK yaitu radang kelenjar ambing yang disebabkan fungi/ cendawan/jamur. Mould (Kapang)  dapat menyebabkan penyakit 3. kecuali beracun 2.

Hindari pakan berjamur SLIDE 20 .Penyebab mastitis mikotik Pakan yag mengandung jamur Pengobatan antibiotika yang tidak terkontrol  mikroorganisme rumen mati sehingga organisme lain dirumen yg tahan antibiotika akan tumbuh dan terjadi mastitis mikotik Pencegahan .Pemakaian antibitika teratur dan tepat .

Lingkungan.Crowing disease Abortus  trimester pertama : Konjungtivitis & keratokonjungtivitis. stress BRD Complex = Bovine Respiratory Disease Complex mencakup : . Bakteri. Mikoplasma. transportasi.Infectious Pustular Vulvo vaginitis (radang alat pernafasan dan alat kelamin) Gejala ikutan akibat faktor penyebabnya : Virus.Shipping fever . Protozoa.Bronchopneumoni .PENYAKIT KELAMIN IBR/IPV – Infectious Bovine Rhinotracheitis Disease .: kesehatan. Meningoencephalitis SLIDE Kekebalan  Daya kebal lokal (IgA) SLIDE 21 .

kemudian mengecil menjadi korpus albikan karena proses lisis akibat pengaruh PGF 2 alfa yang membanjir pada akhir masa siklus birahi.KORPUS LUTEUM PERSISTEN Adalah korpus luteum yang menetap pada ovarium dalam waktu lama dan tetap ukurannya serta tetap berfungsi menghasilkan hormon progesteron dalam waktu lama. Korpus luteum graviditatum adalah korpus luteum ada selama bunting dan secara normal akan lisis 22 juga karena adanya kerja dari PGF2SLIDE alfa . Korpus luteum persisten dapat berasal dari korpus luteum yang normal seperti korpus luteum periodikum atau korpus luteum graviditatum Korpus luteum periodikum adalah korpus luteum yang secara periodik ada pada satu siklus birahi.

CLP normal sering pada sapi perah dengan produksi susu yang tinggi  disebabkan hormon LTH pasca melahirkan. CLP karena patologi uterus. karena adanya piometra. mumifikasi fetus dan empisema fetus  endometrium tidak mampu memproduksi PGF2 alfa  tidak mampu melisis korpus luteum  korpus luteum tetap berfungsi dan terjadilah CLP CLP karena kematian embrio dini sebenarnya bukan CLP murni tetapi korpus luteum graviditatum yang berakhir karena kematian embrio dini yang ditandai siklus birahinya diperpanjang sekitar 90 – 120 hari SLIDE 23 . macerasi fetus. menghambat proses lisis korpus luteum graviditatum yang seharusnya mengecil menjadi korpus luteum albikan  menghambat sekresi hormon FSH dan LH  tidak ada pertumbuhan dari folikel  induk keadaan anestrus.

Penaggulangan Korpus Luteum Persisten • CLP karena produksi susu tinggi atau karena kematian embrio dini  penyuntikan PGF2 alfa/20-25 mg/ IM atau 5-6 mg/IU • CLP karena patologi uterus  diberi antibiotika atau chemoterapeutika. SLIDE 24 . kemudian diberikan PFG2 alfa untuk mempercepat lisis CLP. Setelah exudat keluar diberi PGF2 alfa untuk mempercepat lisis CLP • CLP karena mumifikasi dan emhpisema  fetus mati dikeluarkan dengan penyuntikan hormon oksitosin atau estradiol benzoat.

ENDOMETRITIS  RADANG ENDOMETRIUM UTERUS Penyebabnya • Perkawinan dengan pejantan menderita penyakit menular kelamin seperti bruselosis. dan lain-lain • Radang sekunder dari bagian tubh lain BERAKIBAT Penurunan infertilitas  Kematian embrio Gangguan implantasi Abortus SLIDE 25 . trichomoniasis. vibriosis.

• Antibiotika penisilin.Gejala suhu yang meningkat disertai adanya demam • sering urinasi. dan selalu merejan • Ekp. lugol. napsu makan menurun • produksi susu juga menurun • denyut nadi lemah. ditandai sering menengok kebelakang.. yodium ringan. NaCl ph. streptomisin. terramisin. Rektal : uterus teraba agak membesar dan dindingnya menebal Pengobatan • Dicuci antiseptik kalium permanganat. vagina • Dijaga kebersihan alat saat pertolongan kelahiran. sanitasi kandang • Mengawinkan sapi betina dilakukan minimal 60 hari setelah melahirkan SLIDE 26 . aureomisin. pernapasan cepat • rasa sakit pada uterus. atau kloramfenikol Pencegahan • Mencegah masuknya mikroorganisme. saat melahirkan /exp. ekor sering diangkat.

PIOMETRA Peradangan yang kronis pada mukosa uterus (endometrium) disertai penimbunan nanah & dapat menyebabkan infertil/ majir Penyebabnya • Penyakit menular kelamin seperti bruselosis. dan piogenes • Pada induk penderita trichomoniasis. Masuknya mikroorganisme dari luar. seperti saat IB induk bunting  fetus tertular  kematian dan hancurnya fetus berbentuk nanah dan menimbun sebagai piometra SLIDE 27 • Luka karena tertusuk alat tidak steril saat distokia . tetapi dihancurkan  menyerupai bubur dan bersama nanah yang dihasilkan oleh endometritis menjadi piometra •. trichomoniasis dan vibriosis • Kuman nonspesifik seperti kokus. coli. fetus yang mati tidak diabortuskan.

dinding uterus akan menebal karena adanya jaringan parut tanpa adanya tonus. nanah bersifat kental. serviks tertutup menyebabkan tertimbunnya nanah sehingga memberi kesan seperti induk sedang bunting • karena kronis. Pengobatan • Pengobatan awal ditujukan membuka serviks dan kontraksi uterus sehingga nanah dipaksa keluar • Irigasi dengan antiseptik untuk membersihkan sisa.nanah uterus • Beri antibiotika untuk membunuh mikroorgasnisme • Pemberian estrogen atau sintetisnya untuk mendorong kontraksi uterus dan membuka serviks SLIDE 28 . berwarna kuning atau keabu-abuan .Gejala • tidak munculnya birahi dalam waktu yang lama atau anestrus • siklus birahi hilang karena adanya korpus luteum persisten • penimbunan nanah dalam rongga uterus dan hanya keluar pada waktu induk berbaring .

Rektal teraba utrus besar simetris.Beda piometra dan kebuntingan PIOMETRA Besar perut simetris Bulu suram. Rektal teraba utrus besar asimetris. uterina media. uterina media. badan kurus KEBUNTINGN Besar perut asimetris Bulu bagus. dinding uterus menebal. tidak teraba karunkula. badan terkesan gemuk Saat berbaring keluar kotoran Tidak mneheluarkan kotoran Ekp.teraba a. . uterus ditekan teraba fetus SLIDE 29 . dinding uterus menipis. teraba karunkula. uterus ditekan ada fluktuasi adanya nanah dan tidak teraba fetus Ekp. Tidak teraba a. .

sedangkan serosanya berada di dalam INVERSIO UTERI Adalah apabila dinding uterus yang terbalik. tidak sampai keluar dari alat kelamin.PROLAP UTERI Adalah suatu keadaan dimana dinding uterus membalik keluar dari vulva dengan bagian mukosa terbalik berada di bagian luar dari dinding uterus. bila hanya satu kornua uteri yang mengalami prolaps 2. prolapsus uteri tidak sempurna. SLIDE 30 . prolapsus uteri sempurna bila kedua kornua uteri mengalami prolaps. dan keluar dari tubuh. tetapi masih berada di dalam rongga vagina Menurut derajatnya prolap uteri dibagi menjadi dua tingkat 1.

kelemahan ligamentum lata.Penyebab • Atoni uteri pasca melahirkan disertai kontraksi dinding perut yang mendorong dinding uterus membalik ke luar. selalu di dalam kandang. sedang serviks masih dalam keadaan terbuka lebar atau ligamentum lata uteri kendor. terlalu sering melahirkan Prolapsus uteri yang berat  diikuti oleh keluarnya serviks dan vagina dari tubuh SLIDE 31 melalui vulva . • Bagian belakang tubuh lebih rendah dari bagian depan • Kontraksi uterus yang kuat disertai tekanan dinding perut berlebihan saat melahirkan  fetus keluar bersama selaput fetus dan dinding uterusnya • Retensio sekundinarum. • Kontraksi uterus untuk mengeluarkan fetus yang terlalu lama : fetus terlalu besar. karena berat sekundinae yang  dinding uterus tertarik ke luar dan membalik di luar tubuh • Induk hewan kurang bergerak.

Karunkula terdapat pada permukaan mukosa uteri  32 uterus yang prolapsus sepertiSLIDE buah murbei raksasa. suhu tubuh dan denyut nadi naik • Induk selalu merejam • Gejala menjadi berat bila disertai infeksi bakteri atau retensio • Rasa sakit. di bawah vulva. warna merah berubah menjadi gelap kemudian berubah menjadi cokelat Pada sapi perah uterus yang prolapsus biasanya adalah uterus yang berisi fetus.Gejala • Nafsu makan. induk selalu melihat kebelakang • Keadaan berbaring. Dinding . Dalam beberapa jam. mukosa uterus yang prolapsus dikotori oleh kotoran • Dari luar kelihatan ada semacam tumor berwarna merah dan mengkilat.

Ekp. teraba adanya penebalan menyerupai cincin yang kaku di dalam vagina. akan terasa adanya benda menyerupai tumor di dalam rongga vagina. vagina. rektal. Ekp.Diagnosa • Pada Prolapsus uteri : uterus menggantung di luar vulva dengan mukosanya yang berada di luar. disertai terlihatnya karunkula pada mukosa uterus. SLIDE 33 . • Pada inversio uteri.

diberi suntikan adrenalin 1%/ IV/ 5-10 cc SLIDE 34 .Pertolongan Bila cepat ditolong  kesembuhannya baik Pada inversio uteri • Secara manual.mereposisi kembali dinding uterus yang membalik. • Memasukkan cairan NaCl fisiologi ke dalam vagina  mendorong uterus yang prolapsus kembali pada tempat yang benar • Untuk mperbaiki tonus uterus. dengan mendorong memakai tangan yang sudah bersih.

dibersihkan dengan kain bersih bila induk berbaring. yang sebagian besar dinding uterus sudah membalik keluar dan mukosa beserta karunkulanya sudah terlihat menggantung di luar tubuh. bila kuat  pertolongan posisi sapi berdiri dengan bagian depan lebih tinggi SLIDE 35 .Prolapsus uteri. pertolongan dilakukan secara bertahap : • • • • Uterus prolapsus dibersihkan dengan air bersih terhadap kotoran Dibersihkan ulang memakai larutan antiseptis ringan. bila ada luka. Diperiksa permukaan mukosa uteri. diobati dulu luka tersebut Diperiksa keadaan umum sapi . Uterus sudah bersih.

o  dapat menyebabkan peritonitis  jahit lukanya Kontraksi uterus yang terus menerus  luka pada serviks atau vagina sebaiknya diberi anastesi epidural • • • Prolapsus kembali dalam waktu 24 jam setelah pertolongan bila tidak diadakan jahitan pada vulvanya • Kematian tiba-tiba  jarang terjadi  periksa keadaan umum sapi SLIDE 36 . diikuti oleh anemia  perlu pengamatan Luka pada dinding uterus.Komplikasi yang mungkin terjadi akibat dari pertolongan pada kasus prolapsus uteri adalah : • Perdarahan uterus. tempat masuknya m.

Keadaan ini disebut retensio sekundinarum. Sapi yang mengalami retensio bila tidak segera mendapat pertolongan  selaput fetus akan mengalami pembusukan dalam saluran alat kelamin induk dan bersifat racun  Kematian SLIDE 37 .12 jam setelah melahirkan anaknya. Pengeluaran selaput fetus lebih dari waktu di atas harus dipandang sebagai keadaan yang tidak normal atau patologi.RETENSIO SEKUNDINARIUM Pada keadaan kelahiran normal. selaput fetus akan keluar dari alat kelamin induknya dalam waktu 1.

Vibriosis ). SLIDE 38 . Induk kekurangan kekuatan untuk mengeluarkan selaput fetus setelah melahirkan yang disebabkan adanya atoni uteri pasca melahirkan. Penyakit kelamin menular (Brucellosis.PENYEBAB : • • • • • • • Gangguan mekanis yaitu selaput fetus terjepit kanalis servikalis karena terlalu cepat menutup. Trichomoniasis. Gangguan pelepasan sekundine dari korunkula induk (paling sering terjadi) Radang yang akut misal : plasentitis atau kotiledonitis. Terlalu cepat melahirkan karena plasenta pada waktu itu belum mengalami proses degenerasi. Kekurangan mineral dan vitamin selama bunting.

kontraksi uterus yang lemah.suhu tubuh meningkat Pertolongan • • • Pengeluaran plasenta dari alta kelamin secepatnya Suntikan oksitosin/IM/ dosis 100 IU atau dietilstilbesterol/ IM / 15-60 mgram diulang selam 4 hari Bila ada infeksi : dilakukan pencucian dengan antiseptik/IU dan diberikan penisilin 1.000.Gejala klinis • • Adanya selaput fetus menggantung di luar alat kelamin Vulva bengkak berwarna kemerahan. SLIDE 39 . ada bau yang khas karena ada pembusukan • Produksi susu menurun.000 IU.

sakrum atau lumbal Osteomalasia karena kekuranagn vitamin D Pengobatan • • Mencegah terjadinya komplikasi yaitu dengan memberikan jerami di atas lantai kandang di bawah tubuhnya untuk berbaring Berikan kamfer spiritus untuk digosokan pada kaki belakang. Kandang terlalu sempit sehingga hewan tidak dapat bergerak dan kecapaian. Fraktur tulang femur. dan juga SLIDE 40 diberikan vitamin B1 dan B6 untuk merangsang saraf di kaki belakang .PARAPLEGIA PASCA MELAHIRKAN adalah suatu keadaan induk hewan yang sedang bunting tua atau beberapa hari sesudah melahirkan tidak dapat berdiri tetapi selalu dalam keadaan berbaring karena kelemahan tubuh bagian belakang Penyebab • • • • Kelemahan badan akibat beban yang terlalu berat misalnya waktu bunting anaknya terlalu besar atau kembar.

PARALISA PASCA MELAHIRKAN Paralisa dapat terjadi pada salah satu atau kedua kaki belakang yang disebabkan oleh gangguan pada saraf obturatoria pada waktu bungting tua dan pada saat setelah melahirkan  mengakibatkan ketidak mampuan hewan betina untuk berdiri Penyebab luka saraf obturatoria • • • Fraktura tulang pelvis atau tumor pada pelvis Fetus terlalu lama di jalan kelahiran sehingga menekan saraf dan mengakibatkan paralisa Kejadian terlalu lama  atropi muskulus bagian paha  Induk tetap berbaring dan sensitivitas tubuh bagian belakang menjadi berkurang  ditandai dengan tidak memberikan respon bila ditusuk dengan benda yang tajam Ransum pakan yang berkualitas dan mudah dicernak dan banyak mengandung air dan bersifat laxan Pemijatan kaki belakang dan digosok obat yang merangsang aktifitas saraf SLIDE 41 Diberikan vitamin E.. Pengobatan • • • .

ABORTUS adalah kelahiran fetus dimana fetus dalam keadaan mati atau tidak mempunyai daya hidup diluar tubuh induknya  terjadi pada umur 40 hari hingga akhir kebuntingan PENYEBAB ABORTUS • • KARENA NON INFEKSIUS KARENA INFEKSIUS SLIDE 42 .

PENYEBAB ABORTUS NON INFEKSIUS • • • • • • • • Predisposis Gangguan organ kelamin Gangguan fisiologi fetus Gangguan dari luar Genetik Intoksikasi Gangguan hormonal Penyebab lain : pakan dan imunologi SLIDE 43 .

PREDISPOSISI Seleksi terlalu jauh  induk kelelahan  stess  abortus Produksi susu >>  fetus kekurangaan makan  abortus Umur induk terlalu muda  uterus belum siap  abortus 2. GANGGUAN ORGAN KELAMIN Radang uterus Jaringan ikat uterus banyak  fetus kurang makan Pembilasan uterus saat bunting dengan antiseptik Perobekan selaput feus Pemencetan korpus luteum IB keliru pada induk bunting SLIDE 44 .1.

vitamin. mineral Vit. A <  abortus umur tua.3. GANGGUAN DARI LUAR TUBUH INDUK Diperkejakan terlalu berat Perjalanan jauh Kandang sempit dan terlalu panas Kandang curam  terpeleset Eksplorasi rektal Ditendangan / ditanduk temannya SLIDE Terkejut 45 . GANGGUAN FISIOLOGIS FETUS Kekurangan pakan. anak lahir lemah Kelebihan pakan Gangguan sirkulasi darah 4.

5. INTOKSIKASI * Pakan : Hijaunan mengandung mimosin Rumput rawa-rawa mengandung nitrit Cemara  Taxol Semanggi  estrogenik * Hormon stimulan : Estradiol dosis tinggi Prostaglandin Hidrokortison * Obat –obatan : Obat cacing Phenotiasin  teratogenik Antibiotik  teratogenik SLIDE 46 . GENETIK Inbreeding Fetus kembar 6.

FAKTOR LAIN * Imunologi  divaksin * Torsio uteri SLIDE 47 .7. GANGGUAN HORMONAL Kekurangan hormon progesteron Hormon estrogen berlebihan 8.

Enterobacter) 2. Pasteurella.Proteus. Stapilococcus. Campilobacteriosis 2. Mucor + + + + + + - + + + + + + (4-6 bulan) + (> 5 bulan) + - + + + + + + + + + + + + (4 bulan) >>>> + + + + + - + + (160 hari) + (160 hari) + + + + + + + + + + SLIDE 48 . Epizootic Bovine Abortion (EBA) 5. Leptospira 4. Infectous Bovine Rhinotracheitis (IBR) 4. INsidental (Streptococcus. Toxoplasmosis VIRUS 1. Brucellosis 3. Coli (E. Bacillus dan dipteri) 3. Trichomoniasi 2. Corine bakterium pyogenes 4.: Bacteriosid. Absidia 3.PENYEBAB ABORTUS KARENA INFEKSIUS PENYEBAB AWAL KEBUNTINGAN PERTENGAHAN KEBUNTINGAN AKHIR KEBUNTINGAN BAKTERI NON SPESIFIK 1. Listeriosis PROTOZOA 1. Gram . Bovin Viral Diaerheal (BVD) 2. Infectious Postular Vulvovaginitis (IPV) 3. Epididimis vaginitis (EPIVAG) JAMUR 1.Veilonella 5. Gram + : Closteridium BAKTERI SPESIFIK 1.Coli. fuso bakterium.Aspergilus fumigatus 2.

SLIDE 49 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful