Anda di halaman 1dari 5

TUGAS MANAJEMEN MUTU

Nama : Wenthy Oktavin M. NRP : 1309030023

Prodi : D3 Statistika

1. The Juran Trilogy Konsep Trilogi Kualitas pertama kali dikembangkan oleh Dr. Joseph M. Juran seorang ilmuwan yang banyak mengabdikan dedikasinya pada bidang manajemen kualitas dan mempunyai kontribusi penting dalam perkembangan dan kemajuan quality managementkhususnya di bidang industri manufaktur. Pada tahun 1986, sarjana bidang electrical engineering yang mengawali karirnya di perusahaan Western Electric ini mempublikasikan Trilogi Kualitas (The Quality Trilogy), dengan mengidentifikasi aspek ketiga dalam manajemen kualitas yakni perencanaan kualitas (quality planning). Penerapan konsep Trilogi Kualitas menjadikan cakupan manajemen kualitas menjadi lebih luas dan kompleks. Membutuhkan keahlian dan dukungan sumber daya dalam pelaksanaannya. Adapun rincian trilogy itu sebagai berikut : a. Perencanaan Kualitas (quality planning) Quality planning, suatu proses yang mengidentifikasi pelanggan dan proses yang akan menyampaikan produk dan jasa dengan karakteristik yang tepat dan kemudian mentransfer pengetahuan ini ke seluruh kaki tangan perusahaan guna memuaskan pelanggan.

Memenuhi kebutuhan pelanggan/konsumen Tentukan market segment (segmen pasar) produk Mengembangkan karakteristik produk sesuai dengan permintaan konsumen

Mengembangkan proses yang mendukung tercapainya karakteristik produk

Identifikasi pelanggan internal maupun eksternal Menyusun sasaran kualitas yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dan pemasok sehingga dapat meminimalkan biaya

Memperbaiki atau meningkatkan kemampuan proses

b. Pengendalian Kualitas (quality control) Quality control, suatu proses dimana produk benar-benar diperiksa dan dievaluasi, dibandingkan dengan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan para pelanggan. Persoalan yang telah diketahui kemudian dipecahkan, misalnya mesin-mesin rusak segera diperbaiki.

Memilih subyek atau dasar pengendalian Memilih unit-unit pengukuran Menyusun pengukuran Menyusun standar performansi Mengukur performansi yang sesungguhnya Menginterpretasikan perbedaan antara standar dengan data nyata Mengambil tindakan atas perbedaan tersebut

c. Perbaikanan Kualitas (quality improvement) Quality improvement, suatu proses dimana mekanisme yang sudah mapan dipertahankan sehingga mutu dapat dicapai berkelanjutan. Hal ini meliputi alokasi sumber-sumber, menugaskan orang-orang untuk

menyelesaikan proyek mutu, melatih para karyawan yang terlibat dalam proyek mutu dan pada umumnya menetapkan suatu struktur permanen untuk mengejar mutu dan mempertahankan apa yang telah dicapai sebelumnya.

Mengidentifikasi proyek perbaikan (improvement) Membangun infrastruktur yang memadai Melakukan pelatihan-pelatihan yang relevan Diagnosa sebab-akibat (bisa memakai diagram Fishbone-Ishikawa) Peningkatan kebutuhan untuk mengadakan perbaikan. Menemukan penyebab kesalahan Mengadakan perbaikan-perbaikan Proses yang telah diperbaiki ada dalam kondisi opesional yang efektif. Menyediakan pengendalian untuk mempertahankan perbaikan atau peningkatan yang telah dicapai

2. Demings 14 points

W. Edwards Deming (Demings Fourteen Points) mendefinisikan kualitas adalah apapun yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen. Yang kemudian Deming mengemukakan 14 point yang dapat membantu dalam perbaikan dan peningkatan kualitas: 1. Tentukan tujuan perusahaan dengan menggunakan dasar : inovasi dan perbaikan yang berkesinambungan. 2. Gunakan filosofi baru, yang tidak dapat menerima terjadinya kekurangan dan kesalahan yang pernah dilakukan. 3. Hentikan ketergantungan pada mass inspection, gunakan bukti-bukti statistik yang didalamnya telah tercermin kualitas. 4. Akhiri praktek pemberian penghargaan kerja berdasarkan biaya. 5. Gunakan metode statistik untuk menemukan titik permasalahan. 6. Lembagakan penggunaan metode-metode modern dalam pelatihan kerja karyawan. 7. Perbaiki pengawasan sesuai prosedur dan jangan hanya mensyaratkan kuantitas sebagai pencapaian target. 8. Usahakan agar karyawan merasa aman untuk mengungkapkan pendapatnya dan meminta informasi. 9. Hilangkan penghalang (barrier) antar departemen, dengan supplier dan customer, sehingga terbuka komunikasi yang efektif. 10. Buang poster dan slogan, karena tidak membantu memecahkan masalah. Kerjakan dan tunjukan bagaimana kerja yang benar. 11. Hindarkan pembuatan standar kerja berdasarkan kuota jumlah, karena akan menurunkan kualitas, dan batasi jumlah produksi. 12. Hilangkan penghalang antara karyawan dengan hak mereka untuk bangga atas pekerjaan mereka. 13. Lembagakan pelatihan karyawan untuk mengejar perubahan dan

perkembangan baru. 14. Ciptakan stuktur manajemen puncak yang menekankan pokok-pokok tersebut, setiap hari

3. DMAIC six sigma :

Six Sigma adalah suatu alat manajemen baru yang digunakan untuk mengganti Total Quality Management (TQM), sangat terfokus terhadap pengendalian kualitas dengan mendalami sistem produksi perusahaan secara keseluruhan. Memiliki tujuan untuk, menghilangkan cacat produksi, memangkas waktu pembuatan produk, dan mehilangkan biaya. Six sigma juga disebut sistem komprehensive, maksudnya adalah strategi, disiplin ilmu, dan alat untuk mencapai dan mendukung kesuksesan bisnis. Six Sigma disebut strategi karena terfokus pada peningkatan kepuasan pelanggan, disebut disiplin ilmu karena mengikuti model formal, yaitu DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) dan alat karena digunakan bersamaan dengan yang lainnya, seperti Diagram Pareto (Pareto Chart) dan Histogram. Kesuksesan peningkatan kualitas dan kinerja bisnis, tergantung dari kemampuan untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah. Kemampuan ini adalah hal fundamental dalam filosofi six sigma. DMAIC terdiri atas lima tahap utama: 1. Define Define merupakan tahapan awal yang sangat penting untuk mendefinisikan masalah/target dari pengurangan defect (cacat) atau kondisi yang tidak sempurna. Satu hal penting yang perlu diperhatikan saat fase define adalah sinkronisasi antara keinginan customer dengan strategi bisnis yang kita miliki. 2. Measure Measure merupakan tindak lanjut dari langkah Define dan merupakan sebuah jembatan untuk langkah berikutnya yaitu Analyze. Langkah measure memiliki dua sasaran utama, yaitu : 1. Mendapatkan data untuk memvalidasi dan mengkuantifikasi masalah atau peluang. 2. Memulai menyentuh fakta dan angka-angka yang memberikan petunjuk tentang akar masalah. Milestone (batu loncatan) pada langkah measure adalah mengembangkan ukuran sigma awal untuk proses yang sedang diperbaiki. 3. Analyze Langkah ini mulai masuk kedalam hal-hal detail, meningkatkan pemahaman terhadap proses dan masalah, serta mengidentifikasi akar masalah.

Pada langkah ini, pendekatan Six Sigma menerapkan statistical tool untuk memvalidasi akar permasalahan. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengetahui seberapa baik proses yang berlangsung dan mengidentifikasi akar permasalahan yang mungkin menjadi penyebab timbulnya variasi dalam proses. Untuk mengetahui seberapa baik proses berlangsung, maka perlu adanya suatu nilai atau indeks yaitu Indeks Kemampuan Proses (Process Capability Index). 4. Improve Improve, yaitu membuat peningkatan, pengoptimalan proses dan pembenahan di dalam proses yang menjadi penyebab terjadinya defects, atau ketidakoptimalan selama ini. 5. Control Tahapan penutup adalah control, setelah peningkatan dilakukan, maka dibutuhkan suatu metode/alat untuk tetap menjaga perbaikan ini berjalan dimasa mendatang (Istilah yang sering digunakan adalahcontinuous

improvement), dengan metode yang dipilih (umumnya adalah dengan control chart) dapat diketahui dengan cepat ketika terjadi suatu produk yang melewati batas toleransi yang dimiliki, sehingga proses perbaikan akan dapat langsung dilakukan.