P. 1
Diabetes Ketoasidosis

Diabetes Ketoasidosis

|Views: 793|Likes:
Dipublikasikan oleh Deny Santoso

More info:

Published by: Deny Santoso on May 20, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/05/2013

pdf

text

original

DIABETES KETOASIDOSIS

A. Pengertian • Diabetik ketoasidosis adalah : masalah yang mengancam hidup (kasus darurat) yang disebabkan oleh defisiensi insulin relatif atau absolut. DKA terjadi pada pasien dengan IDDM (juga disebut DM tipe 1). • Diabetik ketoasidosis adalah : keadaan gawat darurat akibat hiperglikemia dimana banyak asam terbentuk dalam darah.

Ketoasidosis diabetik (KAD) adalah keadaan dekompensasi metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia, asidosis dan ketosis, terutama disebabkan oleh defisiensi insulin absolut atau relatif. KAD dan hipoglikemia merupakan komplikasi akut diabetes melitus yang serius.

B. Etiologi • Obesitas dan kurang aktivitas • Kehamilan • Genetik • Pankreatitis • Stress

C. Manifestasi Klinis

• Sesak • Penurunan kesadaran. • Dehidrasi

• Poliuria • Mual,muntah. • Kelemahan

D. WOC (Terlampir)

E. Penatalaksanaan Medis

1. Terapi Cairan Prioritas utama pada penatalaksanaan ketoasidosis metabolik adalah terapi cairan. Pasien penderita KAD biasanya mengalami depresi cairan yang hebat. NaCl 0,9 % diberikan 500-1000 ml/jam selama 2-3 jam. Pemberian cairan normal salin hipotonik (0,45 %) dapat digunakan pada pasien-pasien yang menderita hipertensi atau hipernatremia atau yang beresiko mengalami gagal jantung kongestif. Infus dengan kecepatan sedang hingga tinggi (200-500 ml/jam) dapat dilanjutkan untuk beberapa jam selanjutnya.

2. Insulin Insulin intravena paling umum dipergunakan. Insulin intramuskular adalah alterantif bila pompa infus tidak tersedia atau bila akses vena mengalami kesulitan, misalnya pada anak anak kecil. Asidosis yang terjadi dapat diatasi melalui pemberian insulin yang akan menghambat pemecahan lemak sehingga menghentikan pembentukan senyawa-senyawa yang bersifat asam. Insulin diberikan melalui infus dengan keceptan lambat tapi kontinu ( misal 5 unti /jam). Kadar glukosa harus diukur tiap jam. Dektrosa ditambahkan kedalam cairan infus

bila kadar glukosa darah mencpai 250 – 300 mg/dl untuk menghindari penurunan kadar glukosa darah yang terlalu cepat.

3.

Potassium. Meskipun ada kadar potassium serum normal, namun semua pasien penderita

KAD mengalami depresi kalium tubuh yang mungkin terjadi secara hebat. Input saline fisiologis awal yang tinggi yakni 0.9% akan pulih kembali selama defisit cairan dan elektrolite pasien semakin baik. Insulin intravena diberikan melalui infusi kontinu dengan menggunakan pompa otomatis, dan suplemen potasium ditambahkan kedalam regimen cairan. Bentuk penanganan yang baik atas seorang pasien penderita KAD (ketoasidosis diabetikum) adalah melalui monitoring klinis dan biokimia yang cermat.

F. Pemeriksaan Diagnostik

1. Tes toleransi Glukosa (TTG) memanjang (lebih besar dari 200mg/dl). Biasanya tes ini dianjurkan untuk pasien yang menunjukkan kadar glukosa meningkat dibawah kondisi stress. 2. Gula darah puasa normal atau diatas normal. 3. Essei hemoglobin glikolisat diatas rentang normal. 4. Urinalisis positif terhadap glukosa dan keton. G. Asuhan Keperawatan a. Pengkajian



Identifikasi klien.
Keluhan utama klien

Mual muntah

Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit dahulu Riwayat kesehatan keluarga Riwayat psikososial B1 (Breath)

Diabetes Ketoasidosis • • • • •

Menderita Diabetes Militus

b. Pemeriksaan fisik

RR: 28 x/mnt, sesak.
B2 (Blood) B3 (Brain) Nadi: 110x/mnt, TD: 130/90 mmHg, Dehidrasi. S: 37 °C.

B4 (Bladder)
B5 (Bowel) B6 (Bone)

Poliuri • • Mual, muntah Kelemahan
H. Diagnosa Keperawatan 1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kelemahan otot dan keletihan

sekunder akibat abnormalitas metabolik yang ditandai dengan klien sesak, RR: 28x/mnt, TD: 130/90 mmHg, Nadi: 110x/mnt, Suhu: 37 °C.
2. Defisit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan haluaran urin yang

berlebihan akibat diabetes tidak terkontrol yang ditandai dengan klien mengatakan sering BAK, klien tampak dehidrasi, turgor kulit klien meningkat, mata klien tampak cowong, RR: 28x/mnt, TD: 130/90 mmHg, Nadi: 110x/mnt, Suhu: 37 °C. 3. Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan yang ditandai dengan pasien tampak cemas, pasien mengatakan tidak

mengerti tentang penyakitnya, pasien sering bertanya kepada perawat tentang penyakitnya.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakedekuatan sumber energi sekunder

akibat obesitas yang ditandai dengan klien mengeluh lemah, RR: 28x/mnt, TD: 130/90 mmHg, Nadi: 110x/mnt, Suhu: 37 °C.
5. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, muntah

akibat pankreatitis. I. Rencana Keperawatan Dx.1: Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kelemahan otot dan keletihan sekunder akibat abnormalitas metabolik yang ditandai dengan klien sesak, RR: 28x/mnt, TD: 130/90 mmHg, Nadi: 110x/mnt, Suhu: 37 °C. Tujuan dan Kriteria Hasil: Ketidakefektifan pola nafas dapat teratasi setelah diberikan tindakan perawatan selama 1 x 24 jam dengan kriteria hasil: 1. Klien Kooperatif 2. Klien tidak mengeluh sesak 3. TTV dalam batas normal. Intervensi dan Rasional

Defisit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan haluaran urin yang berlebihan akibat diabetes tidak terkontrol yang ditandai dengan klien mengatakan sering BAK, klien tampak dehidrasi, turgor kulit klien meningkat, mata klien tampak cowong, RR: 28x/mnt, TD: 130/90 mmHg, Nadi: 110x/mnt, Suhu: 37 °C. Tujuan dan KH: Defisit vol cairan dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam dengan KH: a. Klien kooperatif b. Turgor kulit klien normal c. Mata klien tidak cowong d. TTV dalam batas normal Intervensi dan Rasional 1. Jelaskan pada klien tindakan yang dilakukan

2. Kolaborasi dengan dokter pemberian infus R: dapat mengganti cairan klien yang hilang 3. Anjurkan klien untuk banyak minum air R: dapat mengganti kehilangan cairan klien 4. Observasi turgor kulit klien R: turgor kulit >2dtk menandakan klien masih kekurangan cairan 5. Observasi kantung mata klien R: mata cowong menandakan klien masih kekurangan cairan 6. Observasi TTV klien R: untuk mengetahui hemodinamik klien Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan yang ditandai dengan pasien tampak cemas, pasien mengatakan tidak mengerti tentang penyakitnya, pasien sering bertanya kepada perawat tentang penyakitnya. Ketidakefektivan pemeliharaan kesehatan dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam dengan KH: a. Klien kooperatif b. Klien tidak tampak cemas Intervensi dan KH: 1. Jelaskan tindakan yang akan dilakukan 2. Berikan klien HE (penyebab, perjalanan, manifestasi klinis, dan penanganan penyakit) R: dapat meningkatkan pengetahuan dan membuat klien merasa tenang 3. Tanyakan kembali pada klien tentang kecemasannya R: klien masih cemas manandakan klien masih kurang mengerti tentang HE yang diberikan

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->