Anda di halaman 1dari 8

Pengolahan Limbah Cair secara Kimia Prinsip yang digunakan untuk mengolah limbah cair secara kimia adalah

menambahkan bahan kimia (koagulan) yang dapat mengikat bahan pencemar yang dikandung air limbah, kemudian memisahkannya (mengendapkan atau mengapungkan). Kekeruhan dalam air limbah dapat dihilangkan melalui penambahan atau pembubuhan sejenis bahan kimia yang disebut flokulan. Pada umumnya bahan seperti aluminium sulfat (tawas), fero sulfat, poli amonium khlorida atau poli elektrolit organik dapat digunakan sebagai flokulan. Untuk menentukan dosis yang optimal, flokulan yang sesuai dan pH yang akan digunakan dalam proses pengolahan air limbah, secara sederhana dapat dilakukan dalam laboratorium dengan menggunakan test yang merupakan model sederhana dari proses koagulasi. Dalam pengolahan limbah cara ini, hal yang penting harus diketahui adalah jenis dan jumlah polutan yang dihasilkan dari proses produksi. Umumnya zat pencemar industri kain terdiri dari tiga jenis yaitu padatan terlarut, padatan koloidal, dan padatan tersuspensi. Terdapat 3 (tiga) tahapan penting yang diperlukan dalam proses koagulasi yaitu : tahap pembentukan inti endapan, tahap flokulasi, dan tahap pemisahan flok dengan cairan. a. Tahap Pembentukan Inti Endapan Pada tahap ini diperlukan zat koagulan yang berfungsi untuk penggabungan antara koagulan dengan polutan yang ada dalam air limbah. Agar penggabungan dapat berlangsung diperlukan pengadukan dan pengaturan pH limbah. Pengadukan dilakukan pada kecepatan 60-100 rpm selama 1-3 menit; pengaturan pH tergantug dari jenis koagunlan yang digunakan, misalnya untuk : Alum pH 6- 8, Fero Sulfat pH 8-11, Feri Sulfat pH 5-9, dan PAC pH 6-9,3. b. Tahap Flokulasi Pada tahap ini terjadi penggabungan inti inti endapan sehingga menjadi molekul yang lebih besar, pada tahap ini dilakukan pengadukan lambat dengan kecepatan 40-50 rpm selama 15-30 menit. Untuk mempercepat terbentuknya flok dapat ditambahkan flokulan misalnya polielektrolit. Polielektrolit digunakan secara luas, baik untuk pengolahan air proses maupun untuk pengolahan air limbah industri. Polielektrolit dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu nonionik, kationik dan anionik; biasanya bersifat larut air. Sifat yang menguntungkan dari penggunaan polielektrolit adalah : volume lumpur yang terbentuk relatif lebih kecil, mempunyai kemampuan untuk menghilangkan warna, dan efisien untuk proses pemisahan air dari lumpur( d ewatering). c. Tahap Pemisahan Flok dengan Cairan Flok Tahap Pemisahan Flok dengan Cairan Flok yang terbentuk selanjutnya harus dipisahkan dengan cairannya, yaitu dengan cara pengendapan atau pengapungan. Bila flok yang terbentuk dipisahkan dengan cara pengendapan, maka dapat digunakan alat klarifier, sedangkan bila flok yang terjadi diapungkan dengan menggunakan gelembung udara, maka flok dapat diambil dengan menggunakan skimmer. Image Klarifier berfungsi sebagai tempat pemisahan flok dari cairannya. Dalam klarifier diharapkan lumpur benar-benar dapat diendapkan sehingga tidak

terbawa oleh aliran air limbah yang keluar dari klarifier, untuk itu diperlukan perencanaan pembuatan klarifier yang akurat. Kedalaman klarifier dipengaruhi oleh diameter klarifier yang bersangkutan. Misalkan dibuat klarifier dengan diameter lebih kecil dari 12m, diperlukan kedalaman air dalam klarifirer minimal sebesar 3,0 m.

PROSES PENGOLAHAN LIMBAH SECARA KIMIA

Proses pengolahan kimia digunakan dalam instalasi air bersih dan IPAL. Pengolahan secara kimia pada IPAL biasanya digunakan untuk netralisasi limbah asam maupun basa, memperbaiki proses pemisahan lumpur, memisahkan padatan yang tak terlarut, mengurangi konsentrasi minyak dan lemak, meningkatkan efisiensi instalasi flotasi dan filtrasi, serta mengoksidasi warna dan racun. Beberapa kelebihan proses pengolahan kimia antara lain dapat menangani hampir seluruh polutan anorganik, tidak terpengaruh oleh polutan yang beracun atau toksik, dan tidak tergantung pada perubahan konsentrasi. Namun, pengolahan kimia dapat meningkatkan jumlah garam pada effluent dan meningkatkan jumlah lumpur. 1. Netralisasi Netralisasi adalah reaksi antara asam dan basa menghasilkan air dan garam. Dalam pengolahan air limbah, pH diatur antara 6,0 9,5. Di luar kisaran pH tersebut, air limbah akan bersifat racun bagi kehidupan air, termasuk bakteri. Jenis bahan kimia yang ditambahkan tergantung pada jenis dan jumlah air limbah serta kondisi lingkungan setempat. Netralisasi air limbah yang bersifat asam dapat menambahkan Ca(OH)2 atau NaOH, sedangkan bersifat basa dapat menambahkan H2SO4, HCl, HNO3, H3PO4, atau CO2 yang bersumber dari flue gas. Netralisasi dapat dilakukan dengan dua system, yaitu: batch atau continue, tergantung pada aliran air limbah. Netralsasi system batch biasanya digunakan jika aliran sedikit dan kualitas air

buangan cukup tinggi. Netralisasi system continue digunakan jika laju aliran besar sehingga perlu dilengkapi dengan alat kontrol otomatis. 2. Presipitasi Presipitasi adalah pengurangan bahan-bahan terlarut dengan cara penambahan bahan bahan kimia terlarut yang menyebabkan terbentuknya padatan padatan. Dalam pengolahan air limbah, presipitasi digunakan untuk menghilangkan logam berat, sufat, fluoride, dan fosfat. Senyawa kimia yang biasa digunakan adalah lime, dikombinasikan dengan kalsium klorida, magnesium klorida, alumunium klorida, dan garam - garam besi. Adanya complexing agent, misalnya NTA (Nitrilo Triacetic Acid) atau EDTA (Ethylene Diamine Tetraacetic Acid), menyebabkan presipitasi tidak dapat terjadi. Oleh karena itu, kedua senyawa tersebut harus dihancurkan sebelum proses presipitasi akhir dari seluruh aliran, dengan penambahan garam besi dan polimer khusus atau gugus sulfida yang memiliki karakteristik pengendapan yang baik Pengendapan fosfat, terutama pada limbah domestik, dilakukan untuk mencegah eutrophication dari permukaan. Presipitasi fosfat dari sewage dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu penambahan slaked lime, garam besi, atau garam alumunium. 3. Koagulasi dan Flokulasi Proses koagulasi dan flokulasi adalah konversi dari polutan-polutan yang tersuspensi koloid yang sangat halus didalam air limbah, menjadi gumpalan-gumpalan yang dapat diendapkan, disaring, atau diapungkan. Partikel koloid sangat sulit diendapkan dan merupakan bagian yang besar dalam polutan serta menyebabkan kekeruhan. Untuk memisahkannya, koloid harus diubah menjadi partikel yang berukuran lebih besar melalui proses koagulasi dan flokulasi. Koagulasi dann flokulasi dapat dilakukan melalui beberapa tahapan proses, yaitu: a) Penambahan koagulan/flokulan disertai pengdukan dengan kecepatan tinggi dalam waktu singkat. b) Destabilsasi dari system koloid c) Penggumpalan partikel yang telah mengalami destabilsasi sehingga terbentuk microfloc. d) Penggumpalan lanjutan untuk menghasilkan macrofloc yang dapat diendapkan, disaring, dan diapungkan.

Destabilisasi biasanya dilakukan dengan penambahan bahan-bahan kimia yang dapat mengurangi daya penolakan karena mekanisme pengikatan dan absobsi. Berkurangnya daya penolakan biasanya akan diikuti dengan penggumpalan koloid yang telah netral secara elektrostatik, yang akan menghasilkan berbagai gaya yang bekerja di antara partikel hingga terjadi kontak satu sama lain. Koagulasi Secara garis besar, hal-hal penting mengenai proses koagulasi dapat diringkaskan sebagai berikut: i. Koagulasi bertujuan untuk membuat gumpalan-gumpalan yang lebih besar dengan

penambahan bahan-bahan kimia, misalnya Al2SO4, Fe2Cl3, Fe2SO4, PAC, dan sebagainya. ii. Dasar-dasar perencanaan koagulasi adalah sebagai berikut. Untuk kemudahan operasi dan perawatan, di gunakan inline mixer Waktu tinggal untuk reaksi adalah 30 detik 2 menit Flash mixer digunakan dengan kecepatan 250 rpm atau lebih Mixer yang digunakan dapat berupa mixer jenis turbine a propeller Bahan shaft adalah baja tahan karat Penggunaan bahan kimia bervariasidari 50 ppm 300 ppm Sangat disarankan untuk melakukan percobaan laboratory terlebih dahulu Jenis dosing pump yang digunakan adalah positive displacem (screw, membrane, peristaltic). Flokulasi Secara garis besar, hal-hal penting mengenai proses flokulasi dapat diringkaskan sebagai berikut: i. Flokulasi bertujuan untuk membuat gumpalan yang lebih besardan pada gumpalan

terbentuk selama koagulasi dengan penambahan polimer, misalnya polimer kationik dan anionic yang beredar dipasar dengan nama nama alliwd koloid, praestol, kurifloc, dan diafloc. ii. Dasar dasar perencanaan untuk flokulasi adalah sebagai berikut. Untuk kemudahan pengoperasian dan perawatan, digunakan sta mixer Waktu tinggal untuk reaksi biasanya antara 20 30 menit Slow mixer digunakan dengankecepatan antara 20 -60 rpm Jenis impeller dapat berupa paddle atau turbine Materi shaft sebaiknya baja tahan karat Penggunaan bahan kimia antara 2 mg -5 mg / liter

Sangat disarankan untuk melakukan percobaan laboratorium terlebih dahulu Jenis dosing pump yang digunakan adalah positive displaceme (screw, membrane, peristaltic).

Pengolahan Secara Kimia Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi.

Gambar 2. Skema Diagram pengolahan Kimiawi

Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat diendapkan. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga terbentuk endapan hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit. Endapan logam tersebut akan lebih stabil jika pH air > 10,5 dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9,5. Khusus untuk krom heksavalen, sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH)3], terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan reduktor (FeSO4, SO2, atau Na2S2O5). Koagulasi&Flokulasi

Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan klor (Cl2), kalsium permanganat, aerasi, ozon hidrogen peroksida. Pada dasarnya kita dapat memperoleh efisiensi tinggi dengan pengolahan secara kimia, akan tetapi biaya pengolahan menjadi mahal karena memerlukan bahan kimia.

Permasalahan Pengolahan Limbah Munculnya permasalahan limbah mendorong pemerintah untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 [2] yang berkaitan dengan pengelolaan limbah-limbah cair industri yang secara signifikan berdampak buruk terhadap lingkungan. Sampai saat ini ada beberapa limbah yang muncul di tengah masyarakat, seperti kasus Buyat [3] dan masih banyak yang tidak diberitakan di media massa. Proses pengolahan limbah secara konvensional dapat dibagi menjadi tiga yaitu, proses pengolahan secara kimia, fisika, dan biologi. Pengolahan limbah secara fisika (contohnya adsorpsi, absorbsi, stripping udara, flokulasi, dan pengendapan) merupakan cara yang paling aman dan tidak merusak lingkungan. Namun, proses ini hanya mengubah fase/bentuk limbah. Oleh karena itu, pengolahan dengan cara ini menyebabkan munculnya masalah baru (secondary pollution/waste). Sehingga, dibutuhkan pengolahan limbah lain untuk menghindari penumpukan secondary pollution/waste tersebut. [4-5] Pengolahan limbah secara kimia antara lain adalah kimia adsorpsi, penambahan klorin, dan pengoksidasian dengan ozon. Pengolahan dengan cara ini memang efektif karena bisa mengolah limbah dengan cukup effisien, memiliki kemampuan mengolah limbah skala besar dengan menggunakan zat pengolah sesedikit mungkin. Namun beberapa efek samping muncul sebagai akibat penggunaan zat kimia, yaitu kerusakan lingkungan dan penggunaan dalam kapasitas besar (scale-up) untuk mengolah limbah dalam jumlah besar yang menyebabkan harga pengolahan limbah menjadi tidak ekonomis. [4] Pengolahan limbah secara biologi adalah pengolahan limbah menggunakan katalis mikroba, sebagai contoh activated sludge, kolam aerasi, biological fluidized bed reactor, biological filter bed, dan rotating biological contactor. Kemampuan pengolahan limbah dengan metode ini cukup menjanjikan karena kita bisa menumbuhkan dan memperbanyak mikroba pengolah limbah (sebagai katalis) itu sendiri. Terlepas dari keuntungan metode ini, beberapa kekurangan seperti zat kimia hasil pengolahan limbah yang memiliki sifat resisten untuk dihancurkan/di-degradasi menyebabkan masalah baru bagi lingkungan. Hal

itu disebabkan beberapa produk hasil pengolahan limbah tidak bisa diurai menjadi molekul sederhana. Walaupun bisa, dibutuhkan sistem pengolahan limbah dalam beberapa langkah. Terlebih lagi, hasil produk pengolahan limbah merupakan zat yang karsinogenik, sebagai contoh zat kimia yang mengandung gugus aromatic-amin. Dan untuk pengolahan limbah yang sangat beracun, limbah tersebut tidak bisa diolah dan terkadang limbah tersebut malah membunuh mikroba aktif pengolah limbah. [5] 3. New Problem Solving Sebagaimana diuraikan di atas, pengolahan limbah dengan cara konvensional memiliki beberapa kekurangan, sehingga diperlukan sistem atau metode pengolahan limbah yang lebih efektif, baik dengan model pengolahan limbah gabungan maupun menggunakan future technology. Salah satu penggunaan future technology dalam pengolahan limbah adalah metode photo oxidation yang memanfaatkan sentuhan nano teknologi. Metode ini adalah metode pengolahan limbah organik dengan menggunakan sinar matahari. Keuntungan teknologi ini adalah (i) menggunakan energi matahari (gratis dan terus menerus ada), (ii) hampir tidak ada secondary pollution/waste karena zat organik akan terdekomposisi menjadi karbondioksida dan air, (iii) produk sampingannya adalah zat kimia yang aman (karbon dioksida, nitrogen gas, air), (iv) dapat mengolah zat kimia organik yang sangat beracun sekalipun, (v) bahkan dapat mengolah zat kimia yang hampir tidak dapat diolah dengan menggunakan cara konvensional karena mengandung gugus ikatan siklik dan aromatik yang kuat Prinsip yang digunakan pada pengolahan limbah dengan metode photo oksidasi adalah dengan cara memasukkan material katalis (sebagai contoh titania(TiO2)) ke dalam limbah dan menyinarinya dengan sinar matahari. Katalis ini menangkap sinar UV dari matahari dan mereaksikan air dan oksigen menjadi hidroksil radikal (OH*) dan super oksida radikal (O2-). Semakin kecil ukuran katalis akan menyebabkan semakin luas permukaan katalis aktifnya untuk mengubah komposisi air dan oksigen menjadi radikalnya. Dengan kehadiran radikal-radikal inilah organik dapat dihancurkan menjadi senyawa yang stabil sederhana. Secara sederhana, reaksi dapat ditulis

4. Kemampuan Photo Oksidasi Dengan adanya peningkatan harga minyak dunia [6] metode pengolahan limbah dengan menggunakan sinar matahari menjadi alternatif yang ekonomis, efektif dan efisien Banyak penelitian yang sudah dilakukan untuk mengolah limbah dengan photo oksidasi, misalnya telah diketahui bahwa limbah dengan konsentrasi 134 ppm dapat diolah hampir sempurna (menjadi kurang dari 40ppm, daya konversi mencapai 70%) dalam waktu hanya 1.5 jam [7].

Hal yang pertama harus diperhitungkan dalam metode ini adalah karakteristik katalis dan jumlah limbah yang harus diolah. Sebagai contoh, dalam hal karakteristik katalis, morfologi katalis memegang peranan penting [7]. Morfologi katalis yang berupa partikel dapat diubah dengan tujuan untuk memperluas permukaannya, dengan cara (i) membuat katalis tersebut berpori dan (ii) mengubah ukuran katalis menjadi lebih kecil. Semakin tinggi konsentrasi limbah maka akan semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk mengolahnya. Sebagai contoh, apabila limbah tersebut ditingkatkan 10 kali lipat (konsentrasi 1340 ppm), waktu yang dibutuhkan untuk mengubah limbah tersebut agar memiliki konsentrasi kurang dari 30 ppm

adalah 24 jam (Gambar 1). Walaupun proses yang dibutuhkan cukup lama (24 jam), namun seperti dijelaskan sebelumnya, tidak ada secondary pollution/waste yang muncul, dan penggunaan energi matahari yang bersifat free and inexhaustible adalah sisi positif metode ini. Penelitian lebih lanjut mengenai pengolahan limbah dengan metode ini perlu dilakukan. Selain itu kegiatan pengolahan limbah tidak terlepas dari kegiatan penanganan yang melibatkan peran serta masyarakat dan industri. Prinsip 3R (Reduce = mengurangi limbah), Reuse = menggunakan kembali sesuatu yang dibuang, dan Recycle = mengolah sampah untuk digunakan kembali) harus diwujudkan pada level penerapan dan bukan hanya konsep saja. 5. Kesimpulan Potensi sinar matahari yang melimpah merupakan salah satu faktor yang bisa menunjang keberhasilan pengolahan limbah yang ekonomis dan mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Pengolahan dengan sinar matahari selain merupakan langkah penghematan sumber energi pengolahan, juga mampu mengolah limbah menjadi komponen zat kimia kecil dan tidak berbahaya, serta mengolah limbah resisten dan berbahaya. Metode pengolahan ini sangat tergantung kepada kondisi katalis yang dipergunakan, oleh karena itu penelitian lanjut dapat dikembangkan untuk menghasilkan katalis yang lebih efektif.