Anda di halaman 1dari 11

TINEA PEDIS

A. Pendahuluan
Tinea pedis atau sering disebut athelete foot adalah dermatofitosis pada kaki, terutama pada sela-sela jari dan telapak kaki. Tinea pedis adalah dermatofitosis yang biasa terjadi. Penggunaan istilah athlete foot digunakan untuk menunjukan bentuk jari kaki yang seperti terbelah. Prevalensi dari tinea pedis sekitar 10%, terutama disebabkan oleh penggunaan alas kaki modern, meskipun perjalanan keliling dunia juga merupakan faktor. Kejadiaan tinea pedis lebih tinggi diantara komuniti yang menggunakan tempat-tempat umum seperti kamar mandi, shower atau kolam renang. . Kejadian infeksi ini sering terjadi pada iklim hangat lembab dimana dapat meningkatkan pertumbuhan jamur, tetapi jarang ditemukan di daerah yang tidak menggunakan alas kaki.[1,2,3,4]

B.

Etiologi dan pathogenesis


Tinea pedis disebabkan oleh Trichophyton rubrum(umumnya), Trichophyton mentagrophytes, Epidermophyton floccosum. Namun, penyebab utama dari setiap pasien rumit dengan adanya jamur saprofit, ragi dan /bakteri. Telah di observasi bahwa 9% dari kasus tinea pedis diakibatkan oleh agen infeksi selain dermatofit. karakteristik dari T.rubrum menghasilkan jenis yang relatif tidak ada peradangan dari dermatofitosis dengan eritema kusam dan sisik keperakan yang melibatkan seluruh telapak kaki dan sisi kaki menampilkan moccasin. Erosi juga terbatas pada infeksi jamur pada jari kaki atau bawah jari kaki, kadang-kadang bersisik dan meluas sampai pada badan, gluteus, dan extremiti. Individu dengan imun yang rendah mudah terkena infeksi, HIV/AIDS, transplantasi organ, kemoterapi, steroid dan nutrisi parenteral diakui dapat

menurunkan resistansi pasien terhadap infeksi dermatofitosis. Kondisi seperti umur, obesitas, diabetes melitus juga mempunyai dampak negatife terhadap kesehatan pasien secara keseluruhan dan dapat menurunkan imunitas dan meningkatkan terjadinya tinea pedis. Diabetes melitus itu sendiri dikategorikan sebagai penyebab infeksi, pasien dengan penyakit ini 50% akan terkena infeksi jamur. Secara histologi, hiperkeratotis tinea pedis memiliki karakteristi berupa akantosis, hiperkeratosis, dan infiltrasi perivaskular yag dangkal, kronik dan dapat menyebar pada dermis. Bentuk vesicle-bula menampilkan spongiosis, parakeratosis, dan subkornea atau spongiosis intraepitel vesiculasi dengan kedua tipe, foci dari neutrofil biasanya dapat dilihat pada daerah stratum kornea. PAS atau pewarnaan silver methenamine menampilkan organisme jamur[2,3,5]

Gambar 1. Tipe kering dari infeksi T. Rubrum

C. Gejala klinis
Ada 4 jenis tinea pedis interdigitalis, moccasin, tipe akut ulserasi dan tipe vesiculbulosa semua dengan karakteristik kulit masing-masing.
1. Interdigitalis[1,6] -

Diantara jari 4 dan 5 terlihat fisura yang dilingkari sisik halus dan tipis. Dapat meluas ke bawah jari(subdigital) dan ke sela jari yang lain. Sering terlihat maserasi. Aspek klinis berupa kulit putih dan rapuh. Dapat disertai infeksi sekunder oleh bakteri sehingga terjadi selulitis, limfangitis, limfadenitis, dan dapat pula terjadi erisipelas.

Gambar 2. Tinea pedis interdigitalis. Maserasi dan terdapat opaque putih dan beberapa erosi

Gambar 3. Tinea pedis pada bagian bawah jari kaki.


2. Moccasin foot[1, 6] -

Pada seluruh kaki, dari telapak kaki, tepi sampai punggung kaki, terlihat kulit menebal dan bersisik halus dan seperti bedak

Eritema biasanya ringan dan terlihat pada bagian tepi lesi Tepi lesi dapat dilihat papul dan kadang-kadang vesikel

Gambar 4. Tinea pedis. Terdapat distribusi tipe moccasin. Bentuk arciform dari sisik yang merupakan karakteristik

3. Vesiculo bulosa[2,5] -

Diakibatkan karena T.mentagrophytes Diameter vesikel lebih besar dari 3mm Jarang pada anak-anak, tapi etiology yang sering terjadi pada anak-anak adalah T.rubrum

Vesikel pustul atau bula pada kulit tipis ditelapak kaki dan area periplantar

Gambar 5. Tinea pedis tipe bulosa. Vesicle pecah, bula, eritema, dan erosi pada bagian belakang dari ibu jari kaki.

4. Tipe akut ulserasi[2,5] -

Mempengaruhi telapak kaki dan terkait dengan maserasi, penggundulan kulit

Ko infeksi bakterial ganas biasanya dari garam negative kombinasi dengan T.mentagrophytes menghasilkan vesikel pustule dan ulcer bernanah yang besar pada permukaan plantar

D. Diagnosis
Diagnosis dari tinea pedis biasanya dilakukan secara klinikal dan berdasarkan examinasi dari daerah yang terinfeksi. Diagnosis yang digunakan biasanya dengan cara kulit dikerok untuk preparat KOH, biopsi skin, atau kulture dari daerah yang terinfeksi. [6]

1. KOH Hasil preparat KOH biasanya positive di beberapa kasus dengan maserasi pada kulit. Pada pemeriksaan mikroskop KOH dapat ditemukan hifa septate atau bercabang, arthrospore, atau dalam beberapa kasus, sel budding menyediakan bukti infeksi jamur. [5]
2. Kultur

kultur dari tinea pedis yang dicurigai dilakukan SDA(sabourauds dextrose agar), pH asam dari 5,6 untuk media ini menghambat banyak spesies bakteri dan dapat dibuat lebih selektif dengan penambahan suplemen kloramfenikol. Ini dapat selesai 2-4 minggu. Dermatophyte test

medium(DTM) digunakan untuk isolasi selektif dan mengenali jamur dermatofitosis adalah pilihan lain diagnostik, yang bergantung pada indikasi perubahan warna dari oranye ke merah untuk menandakan kehadiran dermatofit. [5] 3. Tes PAS PAS menunjukkan dinding polisakarida-sarat dari organisme jamur yang terkait dengan kondisi ini dan merupakan salah satu teknik yang paling banyak digunakan untuk mendeteksi karbohidrat protein terikat (glikoprotein). Tes ini dilakukan dengan mengekspos jaringan dari berbagai substrat untuk serangkaian reaksi oksidasi-reduksi, sebagai hasil akhir, elemen positif seperti karbohidrat, bahan membran basement menjadi permen apel merah(candy apple red). PAS kontras positif komponen ini tajam terhadap latar belakang biru merah muda. Tidak seperti kulture pada SDA atau DTM, hasil PAS dapat selesai sekitar 15 menit. PAS juga telah menjadi tes diagnostik yang paling dapat diandalkan untuk tinea pedis, dengan keberhasilan 98,8% dengan biaya paling efektif.[5]

E.

Diagnosis banding
Diagnosis banding klinis dari erupsi cutaneus kaki seperti kontak dermatitis, psoriasis, dihydrosis, eczema, dermatitis atopic, keratoderma, liken planus dan beberapa infeki bacterial seperti C.minutissimum, streptococcal cellulitis dan lain-lain yang umumnya susah dibedakan dengan tinea pedis.[3, 5] Diagnosis banding dari tinea pedis dapat di bedakan menjadi 1. Interdigitalis

Diagnosis banding berupa psoriasis, soft corns, koinfeksi bakteri, kandidiasis, erythrasma[2]
2. Tipe Moccasin

Diagnosis banding berupa psoriasis, keturunan atau yang diperoleh keratoderma pada telapak tangan dan kaki, dyshidrosis[2]
3. Vesicul-bulosa

Diagnosis banding berupa Pustular psoriasis, palmoplantar pustolosis, pyoderma bakteri[2]

F. Penatalaksanaan
1. Topikal Menggunakan topikal agen seperti bedak, krim atau spray. Krim dan spray lebih berguna daripada bedak. Topikal antifungal seperti Clotrinazole, miconazole, sulconazole, oxiconazole, ciclopirox, econazole, ketoconazole, naftifine, terbinafine, flutnmazol, bifonazole, dan butenafine tetapi clotrhnazole, miconazole membutuhkan waktu 4 minggu dibandingkan jika menggunakan terbinafine yang membutuhkan waktu 1-2 minggu. Kalau terjadi maserasi diantara jari, pisahkan jari dengan busa atau gunakan kapas pada malam hari. Aluminium kloride10% atau aluminium acetat juga dapat berguna. Topikal yang berguna untuk organisme gram-negatif adalah salep antibiotik seperti gentamicin untuk lesi interdigitalis. Keratolitik agen mengandung salisil acid, resorcinol, lactic acid dan urea berguna di beberapa kasus walaupun dapat mengakibatkan maserasi.[4,6]
2. Sistemik [4] -

Griseofulvin 500-1000 mglhari. Buat anak-anak 10- 20 mglkglhari. Terbinafine 250 mglhari untuk 1-2 minggu Itraconazole 200 mg/2 kali sehari ringandi berikan 100mg 2 kali sehari untuk 1 minggu. Untuk kasus

Fluconazole 150 mg/minggu untuk 4 minggu

G.

Pencegahan
Memberikan penjelasan kepada pasien mengenai pentingnya kebersihan pada kaki, menjaga kaki tetap kering , membersikan kuku kaki, menggunakan sepatu yang pas dan kaos kaki kering dan bersih, serta menggunakan sandal atau flip-flop pada tempat mandi umum atau kolam

renang dapat mencegah terjadinya tinea pedis. Diagnosis yang tepat serta pengobatan terhadap pasien yang menderita diabetes mellitus, HIV, trasplantasi organ penting untuk pencegahan infeksi tinea pedis .[5,6]

Daftar pustaka
1. Budimulja U. Mikosis. Dalam: Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin.

5thedition. Jakarta; Fk-UI,2007;p 93


2. Chamlin L Sarah, Lawley P Leslie. Fitzpatricks Dermatology in General

Medicine. Tinea Pedis. 7th edition.2. New York; McGraw-Hill Medicine 2008; 709-712
3. Berth-jones J. Rooks Textbook of Dermatology. Mycology. 8th edition.1.

Cambridge; Wiley-Balckwell, 2010;p 36.30-36.32

10

4. James D William, Berger G Timothy, Elston M Dirk. Andrews disease of

the skin; Diseases resulting from fungi and yeast . 10 th edition. Canada; Saunders Elsevier, 2008;p 303-305
5. Kumar V, Tilak R, Prakash P, Nigam C, Gupta R. Asian journal of medical

science. Tinea Pedis, 2011; p134- 135


6. Claire J. Carlo, MD, Patricia MacWilliams Bowe, RN, MS. Tinea

Pedis(athelete

foot)

available

at

http://www.bhchp.org/BHCHP

%20Manual/pdf_files/Part1_PDF/TineaPedis.pdf

11