Anda di halaman 1dari 7

CONTOH KHASUS PERMASALAHAN MAHKAMAH INTERNASIONAL Pengertian kasus sengketa internasional adalah kasus yang melibatkan dua Negara

atau lebih yang tentu saja penyelesaian kasus sengketa internasional ini juga harus dilakukan atas dasar keputusan internasional. Contoh kasus sengketa internasional diantaranya adalah kasus pulau Ambalad antara Indonesia dengan Malaysia, sengketa Simpadan dan Ligitan, dan kasus lain yang biasnya berkaitan dengan perbatasan wilayah suatu Negara. Contoh Kasus Sengketa Internasional (referensi dari Wikipedia) Sengketa Sipadan dan Ligitan adalah persengketaan Indonesia dan Malaysia atas pemilikan terhadap kedua pulau yang berada di Selat Makassar yaitu pulau Sipadan (luas: 50.000 meter) dengan koordinat: 4652.86N 1183743.52E dan pulau Ligitan (luas: 18.000 meter) dengan koordinat: 49N 11853E. Sikap Indonesia semula ingin membawa masalah ini melalui Dewan Tinggi ASEAN namun akhirnya sepakat untuk menyelesaikan sengketa ini melalui jalur hukum Mahkamah Internasional. Persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia, mencuat pada tahun 1967 ketika dalam pertemuan teknis hukum laut antara kedua negara, masing-masing negara ternyata memasukkan pulau Sipadan dan pulau Ligitan ke dalam batas-batas wilayahnya. Kedua negara lalu sepakat agar Sipadan dan Ligitan dinyatakan dalam keadaan status status quo akan tetapi ternyata pengertian ini berbeda. Pihak Malaysia membangun resor parawisata baru yang dikelola pihak swasta Malaysia karena Malaysia memahami status quo sebagai tetap berada di bawah Malaysia sampai persengketaan selesai, sedangkan pihak Indonesia mengartikan bahwa dalam status ini berarti status kedua pulau tadi tidak boleh ditempati/diduduki sampai persoalan atas kepemilikan dua pulau ini selesai. Pada tahun 1969 pihak Malaysia secara sepihak memasukkan kedua pulau tersebut ke dalam peta nasionalnya. Pada tahun 1976, Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara atau TAC (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia) dalam KTT pertama ASEAN di pulau Bali ini antara lain menyebutkan bahwa akan membentuk Dewan Tinggi ASEAN untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara sesama anggota ASEAN akan tetapi pihak Malaysia menolak beralasan karena terlibat pula sengketa dengan Singapura untuk klaim pulau Batu Puteh, sengketa kepemilikan Sabah dengan Filipina serta sengketa kepulauan Spratley di Laut Cina Selatan dengan Brunei Darussalam, Filipina, Vietnam, Cina, dan Taiwan. Pihak Malaysia pada tahun 1991 lalu menempatkan sepasukan polisi hutan (setara Brimob) melakukan pengusiran semua warga negara Indonesia serta meminta pihak Indonesia untuk mencabut klaim atas kedua pulau. Sikap pihak Indonesia yang ingin membawa masalah ini melalui Dewan Tinggi ASEAN dan selalu menolak membawa masalah ini ke ICJ kemudian melunak. Dalam kunjungannya ke Kuala Lumpurpada tanggal 7 Oktober 1996, Presiden Soeharto akhirnya menyetujui usulan PM Mahathir tersebut yang pernah diusulkan pula oleh Mensesneg Moerdiono dan Wakil PM Anwar Ibrahim, dibuatkan kesepakatan "Final and Binding," pada tanggal 31 Mei 1997, kedua negara menandatangani persetujuan tersebut. Indonesia meratifikasi pada tanggal 29 Desember 1997 dengan Keppres Nomor 49 Tahun 1997 demikian pula Malaysia meratifikasi pada 19 November 1997, sementara pihak mengkaitkan dengan kesehatan Presiden Soeharto dengan akan

dipergunakan fasilitas kesehatan di Malaysia. Keputusan Mahkamah Internasional Pada tahun 1998 masalah sengketa Sipadan dan Ligitan dibawa ke ICJ, kemudian pada hari Selasa 17 Desember 2002 ICJ mengeluarkan keputusan tentang kasus sengketa kedaulatan Pulau Sipadan-Ligatan antara Indonesia dengan Malaysia. Hasilnya, dalam voting di lembaga itu, Malaysia dimenangkan oleh 16 hakim, sementara hanya 1 orang yang berpihak kepada Indonesia. Dari 17 hakim itu, 15 merupakan hakim tetap dari MI, sementara satu hakim merupakan pilihan Malaysia dan satu lagi dipilih oleh Indonesia. Kemenangan Malaysia, oleh karena berdasarkan pertimbanganeffectivity (tanpa memutuskan pada pertanyaan dari perairan teritorial dan batas-batas maritim), yaitu pemerintah Inggris (penjajah Malaysia) telah melakukan tindakan administratif secara nyata berupa penerbitan ordonansi perlindungan satwa burung, pungutan pajak terhadap pengumpulan telur penyu sejak tahun 1930, dan operasi mercu suar sejak 1960-an. Sementara itu, kegiatan pariwisata yang dilakukan Malaysia tidak menjadi pertimbangan, serta penolakan berdasarkan chain of title (rangkaian kepemilikan dari Sultan Sulu) akan tetapi gagal dalam menentukan batas di perbatasan laut antara Malaysia dan Indonesia di selat Makassar.

CONTOH KHASUS PERMASALAHAN INTERNATIONAL Kegagalan international crime court dalam penyelesaian konflik sudan Republik Sudan adalah sebuah negara yang terletak di sebelah timur benua Afrika dan merupakan negara dengan luas wilayah terbesar di benua Afrika. Sudan terdiri dari 26 propinsi, dengan jumlah penduduk 39.154.440 jiwa, berdasarkan sensus tahun 2008. Sejarah Sudan mencatat, kemerdekaan Sudan diberikan oleh Inggris pada 1956. Sebelumnya, yang menguasai sudan adalah Mesir pada 1899. Saat itu Mesir sendiri berada di bawah imperium Inggris. Inggris secara langsung menduduki Darfur pada 1916. Ketidakadilan pemberian bantuan terhadap daerah pedalaman telah membuat munculnya kesenjangan kesejahteraan rakyat Sudan secara keseluruhan. Penjajah Inggris lalu membuat sejumlah kebijakan dengan membagi Sudan menjadi dua, utara dan selatan. Sudan Utara dikembangkan dan diisolasi dari Sudan wilayah Selatan. Mereka melarang penduduk wilayah utara untuk masuk ke selatan. Di Selatan mereka mencegah penyebaran Islam dan tradisi Islam dan memperkenalkan misionaris Kristen. Inggris pun membangun kesadaran identitas penduduk Sudan wilayah selatan, bahwa mereka adalah penduduk asli Afrika (yang berbeda dengan Utara). Tidak hanya itu, Inggris pun membangun pola pemerintahan tradisional dibawah pimpinan para syaikh di Utara dan pemimpin suku di Selatan yang memberikan andil terhadap lemahnya sistem pemerintahan Sudan dikemudian hari. Mirip dengan konflik yang lain, masalah kemiskinan, perebutan bahan ekonomi menjadi faktor yang menonjol dalam konflik sekarang ini. Hal ini memang jika dilihat sudah sejak awal, Inggris telah mengkotak-kotakan Sudan kedalam dua bagian yang memiliki perbedaan mendasar. Jadi pemecah belah antara kedua bagian yakni antara Sudan Utara dan Sudan

Selatan telah ada sejak awal kemardekaan Sudan. Hal inilah yang memicu konflik kedua daerah resebut terbukti Setelah kemerdekaan, Sudan harus menghadapi perang sipil yang pertama tahun 1970, namun bisa diatasi oleh pemerintah. Tahun 1983 perang kembali pecah yang berakhir tahun 2003. Selain koflik antara Sudan Utara dengan Sudan Selatan, terdapat satu konflik lagi yang terjadi di Sudan yaitu konflik Darfur. Konflik Darfur terjadi sejak Pebruari 2003 oleh 2 kelompok bersenjata yang disebut Sudan Liberation Army (SLA) dan Justice and Equality Movement (JEM). Pada Januari 2004 sumber PBB melaporkan bahwa sekitar 85 persen dari 900 ribu orang yang terkena dampak konflik darfur tidak dapat mengakses bantuan kemanusiaan, karena ketidakamanan. Pada bulan April 2008 PBB melaporkan sekitar 300 ribu orang tewas dalam konflik tersebut. Dalam konflik Sudan terdapat beberapa jenis tindakan pembantaian yang dapat dijelaskan sebagai tindakan kriminal di Sudan yang meliputi : Ethnic Cleansing, pergerakan kekuatan militer, pemindahan penduduk, serta penyerangan. Kejahatan lainya seperti perampokan, pemerkosaan wanita dan anak-anak dibawah umur, pembakaran rumah dan kampung. Karena konflik yang terus berlangsung dan korban semakin banyak berjatuhan, usaha-usaha untuk menciptakan perdamaian juga diupayakan oleh pihak-pihak penegak hukum serta keadilan internasional. Hal ini karena Konflik Sudan telah masuk dalam ranah internasional karena menyangkut isu HAM serta stabilitas internasional. Berbagai kejahatan seperti genosida, kejahatan lain terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang memang merupakan jenis kejahatan yang berskala Internasional. Selain itu juga masalah Hak Asasi Manusia (HAM) serta genosida merupakan jenis masalah yang dapat dikategorikan dalam masalah Transnasional artinya pengadilan serta upaya penyelesaian masalah tersebut dapat disoroti oleh masyarakat internasional tanpa melihat teritori wilayah serta tidak dibatasi oleh hukum suatu negara. ICC (International Criminal Court) atau Mahkamah Pidana Internasional merupakan sebuah lembaga yudisial independen yang permanen, yang diciptakan oleh komunitas negara-negara internasional, untuk mengusut kejahatan yang mungkin dianggap sebagai yang terbesar menurut hukum internasional seperti: genosida, kejahatan lain terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang. ICC adalah lembaga independen yang dibentuk berdasarkan Rome Statute pada tanggal 17 Juli 1998 di Roma, Italia dan mulai melaksanakan tugasnya tanggal 1 Juli 2002. ICC berkedudukan di Den Haag, Belanda tetapi proses peradilannya dapat dilangsungkan di mana saja. Sampai saat ini ICC mempunyai 108 anggota dan masih ada 40 anggota lagi yang ikut menandatangani Rome Statute tetapi belum meratifikasinya. Tugas ICC adalah untuk mengadili orang-orang yang melakukan kejahatan berupa genocide, crimes against humanity, war crimes, dan crime of aggression. Pada dasarnya ICC menjalankan kewenangannya pada negara-negara yang menandatangani Rome Statute. Tetapi ICC juga dapat melakukan proses peradilan terhadap seseorang yang negaranya tidak menandatangani Rome Statute apabila direferensi oleh Dewan Keamanan PBB (United Nations Security Council). Sejauh tindakan yang diambil ICC dalam penyelesaian konflik Sudan terhitung sejak dikeluarkan surat penangkapan terhadap Presiden Sudan, Omar Hassan Ahmad Al Bashir,

masalah Sudan belum terselesaikan. Hal ini diukur dari belum ditangkapnya pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam masalah Sudan. Pihak-pihak tersebut adalah Presiden Sudan serta kroninya, sehingga proses peradilan belum dilakukan. Konflik Sudan pada prinsipnya adalah konflik intern dalam negeri sudan, namun kemudian menjadi suatu yang sangat rumit serta kompleks dalam penyelesaiannya oleh karena rumitnya persoalan di Sudan, yakni konflik yang berkepanjangan serta kompleksitas pihak yang berkepentingan dalam konflik sudan ini. ICC sebagai organisasi internasional yang berperan dalam menegakan supremasi hukum internasional, seringkali menemukan jalan buntu dalam penyelesaian konflik tersebut. Hal ini berkaitan dengan upaya menjamin stabilitas domestik Sudan. Dalam arti bahwa penangkapan presiden Omar Al Bashir akan berdampak pada situasi Sudan serta jaminan stabilitas domestiknya. Kegagalan proses penyelesaian konflik Sudan yang dimediasi oleh ICC dinilai gagal, karena diakibatkan oleh Kompleksitas konflik serta keterlibatan aktor-aktor yang mempunyai kepentingan di Sudan. Kompleksitas konflik ini ditandai dengan konflik yang berkepanjangan serta keterlibatan pihak-pihak asing yang mempunyai kepentingan di Sudan. Konflik Sudan tersebut saat ini sudah berubah arah dari dasar latar belakang munculnya konfik tersebut. Itu dikarenakan adanya intervensi asing yang ikut berkecimpung di dalam konflik tersebut. Seperti yang diketahui di wilayah Sudan Selatan terdapat sumber daya alam berupa minyak, gas, dan uranium. Inilah yang membuat pihak asing, khususnya Negara-negara Barat (AS dan Inggris) dan Cina ikut campur tangan dalam konflik Sudan tersebut. Pihak asing tersebutlah yang membuat konflik etnis tersebut tak kunjung usai. Di sini, terjadi keadaan di mana etnis dijadikan sebuah instrument untuk mencapai kepentingan asing. Boleh dikatakan konflik Sudan adalah konflik etnis yang dipolitisi atau konflik etnis yang diboncengi kepentingan asing. Selain itu kegagalan disebabkan oleh rendahnya motivasi para aktor untuk menyelesaikan konflik. Kesulitan dalam penyelesaian konflik yang disebabkan oleh rendahnya motivasi pihak-pihak yang bertikai atau berkonflik. Keterlibatan mediasi oleh pihak luar tidak lain hanya dianggap sebagai sebuah bentuk intervensi dan dominasi pihak asing yang mempunyai kepentingan di Sudan. Sebagai contoh, PBB sebagai badan untuk berupaya menciptakan perdamaian dunia dengan instrument-instrumennya seperti DK PBB atau ICC kemudian dilihat sebagai alat negara-negara besar untuk melanggengkan kepentingan serta hegemoninya di Sudan. Dampaknya adalah upaya mediasi dan penyelesaian konflik oleh pihak luar selalu mendapatkan penolakan oleh Sudan. Bagi mereka upaya yang disponsori oleh PBB melalui instrumen-instrumennya adalah suatu bentuk neokolonialisme untuk kepentingan serta hegemoninya di Sudan. Tuduhan ICC atas pelanggaran yang terjadi di Sudan dengan tegas ditolak oleh Pemerintah Sudan dan menuduh negara-negara Barat menggunakan ICC untuk mendestabilisasi Sudan dan menguasai kekayaan Sudan terutama minyak. Penetapan tersangka Presiden Sudan oleh ICC ini direspon oleh pemerintah Sudan, dengan mengusir 13 International Non Governmental Organization (INGO) dan 3 National Non Governmental Organization (NNGO) nasional, beberapa jam setelah pengumuman oleh ICC. Mereka dituduh telah

melanggar hukum Sudan dan memberi informasi yang tidak benar kepada ICC dan diperintahkan untuk meninggalkan Sudan dalam waktu 24 jam. ICC sebagai sebuah instrument internasional yang bertujuan untuk menciptakan keadilan global secara khusus dalam menyelesaikan konflik yang disinyalir terdapat tindakan gonosida serta ethnic cleansing. Dalam menjalankam tugasnya, ICC dihadapkan pada masalah yang cukup serius dan mengancam ekistensi serta visi kerja ICC. Kehadiran ICC kemudian mendapatkan pro-kontra oleh negaranegara yang pada dasarnya mempunyai kepentingan pribadi namun menggunakan isu atau alasan tertentu. Satu hal yang ironis adalah di satu sisi pemerintah Sudan tidak menerima upaya luar dalam memediasi konflik yang terjadi di Sudan, di sisi lain konflik Sudan terus berjalan serta tidak ada upaya untuk menyelesaikan konflik itu. Konflik terus terjadi, serta pelaku-pelaku atau aktor-aktor yang terlibat dalam konflik tersebut tidak pernah diproses atau ditindaklanjuti. Secara singkat dapat dijelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan dalam proses penyelesaian konflik di Sudan yang dimediasi oleh ICC: 1) Kegagalan disebabkan oleh kerumitan yang diciptakan oleh aktor-aktor yang mempunyai kepentingan di Sudan. aktor-aktor tersebut antaralain, Amerika Serikat, Cina, Kanada yang mempunyai kepentingan ekonomi dan politik di Sudan. 2) Kegagalan penyelesaian konflik juga disebabkan oleh lemahnya motivasi pihak-pihak yang berseteru seperti pemerintah Sudan, pemberontak, militer Sudan, serta milisi Janjaweed. Dunia internasional senantiasa selalu berusaha menyelesaikan konflik dan ketegangan yang terjadi di Sudan. Hal ini adalah agar terciptanya perdamian di Sudan yang juga ikut serta menciptakan perdamaian dunia. Kegagalan penyelesaian konflik ini bukan menjadikan alasan untuk membiarkan Sudan terus dalam situasi seperti ini, sehingga selain aktor internasional dan pihak-pihak berwewenang untuk menyelesaikan konflik di Sudan, diharapkan partisipasi semua pihak untuk dapat mendukung parsitifasi di sudan BABAK BARU SENGKETA BATAS DI TELUK BENGAL CONTIH PERMASALAHAN INTERNATIONAL TRIBUNALIS Pada tanggal 16 Desember 2009, the International Tribunal for the Law of the Sea-ITLOS (selanjutnya disebut Tribunal) mengumumkan bahwa baru saja menerima berkas sengketa batas maritim antar negara untuk diselesaikan. Sengketa tersebut melibatkan dua negara bertetangga di perairan Teluk Bengal, yaitu Banglades dan Myanmar. Di luar itu, perlu dicatat bahwa Banglades juga sedang mempersiapkan pengajuan sengketa batas maritimnya dengan India ke Mahkamah Internasional. Ada beberapa hal menarik yang bisa dicermati dari sengketa-sengketa ini. Pertama, kasus antara Banglades dan Myanmar menjadi kasus delimitasi batas maritim pertama yang ditangani oleh Tribunal. Sebelumnya Tribunal telah menerima dan menyelesaikan 15 kasus di bidang hukum laut internasional. Sebagai latar belakang, Tribunal dibentuk sebagai bagian dari tindak lanjut lahirnya Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS 1982) yang mana

Tribunal memiliki kompetensi untuk menyelesaikan berbagai sengketa terkait hukum laut internasional. Kedua, Myanmar menjadi negara anggota ASEAN pertama yang sepakat dan memilih untuk menyelesaikan sengketa batas maritimnya melalui jalur mahkamah internasional. Sebagai catatan, beberapa negara ASEAN pernah bersengketa di mahkamah Internasional terkait masalah kelautan dan kedaulatan, namun tidak pernah terkait batas maritim. Sebagai contoh adalah Malaysia dan Singapura yang pernah bersengketa di Tribunal tentang reklamasi pantai Singapura dan di Mahkamah terkait kedaulatan beberapa karang dan elevasi surut di Selat Singapura. Ketiga, sengketa antara Banglades, India dan Myanmar pada dasarnya bermula dari usaha kedua negara untuk menguasai sebagian perairan di Teluk Bengal yang sangat kaya dengan cadangan minyak dan gas. Kedua negara telah menetapkan beberapa zona blok konsesi migas di perairan yang mereka klaim, yang tentunya tidak diakui oleh pihak lainnya. Lebih jauh lagi, juga dalam rangka mengamankan cadangan gas dan minyak di perairan tersebut, para pihak juga melakukannya melalui forum internasional. Sebagai contoh adalah India telah menyampaikan hak berdaulatnya terhadap wilayah dasar laut (landas kontinen) di luar 200 mil laut dari garis pangkal kepada PBB. Hal ini tentunya menuai keberatan dari Banglades yang langsung menyampaikan keberatannya kepada PBB. Myanmar juga telah menyampaikan hal yang sama atas landas kontinen ke PBB yang juga telah menuai keberatan dari Banglades. Banglades sendiri pada saat ini sedang mempersiapkan pengajuannya kepada PBB dengan melakukan survey dasar laut di Teluk Bengal dengan dana sampai dengan 11,77 juta dollar Amerika. Banglades berencana menyampaikan pengajuannya ke PBB pada tahun 2011 yang kemungkinan juga akan diprotes oleh India dan Myanmar bila sengketa belum terselesaikan. Keempat, dari sisi konfigurasi geografis Teluk Bengal, hal ini mengingatkan para praktisi dan pengamat masalah batas maritim terhadap sengketa batas yang terjadi pada 1969 antara Jerman, Belanda dan Denmark. Kasus ini lebih terkenal disebut sebagai North Sea Case. Dalam kasus tersebut, para pihak meminta mahkamah untuk memutuskan apakah prinsip penarikan garis batas melalui metode sama jarak mutlak harus dilakukan. Jerman yang posisi geografisnya terjepit di antara Belanda dan Denmark melihat bahwa prinsip tersebut sangat tidak menguntungkan baginya. Hal ini karena apabila prinsip tersebut diberlakukan, maka wilayah perairan Jerman akan sangat sempit dan tertutup tanpa akses ke laut bebas oleh perairan Belanda dan Denmark. Pada keputusannya, mahkamah merestui pendapat Jerman dan menyatakan bahwa metode sama jarak tidak mutlak dilakukan. Keputusan ini menjadi tonggak lahirnya prinsip solusi yang adil atau equitable solution di dalam hukum delimitasi batas laut internasional. Terlepas bahwa setiap wilayah maritim memiliki karakteristik yang berbeda, posisi geografis Banglades yang terjepit diantara India dan Myanmar tentunya hampir sama dengan apa yang dihadapi Jerman pada 1969. Hal ini pula yang memberi gambaran secara teknis rumitnya perundingan antara Banglades dengan India dan Myanmar. Mencari solusi yang adil tentunya jauh lebih sulit daripada menentukan garis tengah sebagai batas karena definisi dan standar adil tentunya berbeda bagi para pihak yang terlibat. Hal ini yang menjadi tantangan berat bagi Tribunal. Akan sangat menarik melihat bagaimana Tribunal mengaplikasikan equitable solution pada kasus ini.

Kelima, Myanmar dan Banglades telah melakukan perundingan bilateral untuk menetapkan batas diantara mereka selama lebih kurang 35 tahun. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa perundingan batas maritim antar negara adakalanya dapat memakan waktu yang cukup lama dan belum tentu menghasilkan garis batas yang diterima para pihak. Sangat mungkin satu-satunya kesepakatan yang dicapai adalah kesepakatan untuk mencari penyelesaian melalui pihak ketiga, termasuk melalui Tribunal atau mahkamah internasional lainnya. Yang perlu digaris bawahi adalah keputusan untuk menyelesaikan sengketa batas maritim melalui jalur pihak ketiga, seperti apa yang dilakukan Banglades dan Myanmar, seyogyanya tidak dilihat sebagai rusaknya hubungan persahabatan antara para pihak yang bersengketa. Hal ini haruslah dilihat sebagai salah satu cara penyelesaian sengketa dengan cara-cara damai sebagaimana yang diamanatkan oleh Piagam PBB demi menjaga perdamaian antara para pihak secara khusus dan dunia secara umum.