Anda di halaman 1dari 3

Nama NPM Mata Kuliah

: Indah Nurhamidah : 0906490185 : Filsafat Hukum

TUGAS RESUME Critical Legal Studies (CLS) Movement

Gerakan Studi Hukum Kritis (Critical Legal Studies Movement) meledak di Amerika Serikat pada akhir tahun 1970-an dengan serangkaian konferensi1 dan berkembang sejak saat itu di tempat lain.2 Ini tumbuh dari ketidakpuasan terhadap ilmu pengetahuan hukum pada saat itu. Seperti Realisme, Gerakan Studi Hukum Kritis juga bersifat ortodoks yang skeptis. Ini dibangun di atas ilmu pengetahuan dari sosial dan filosofi yang kritis, teori literatur dan lain-lain. Ini ditarik dari budaya politik yang radikal pada generasi tahun 1960-an. Gerakan ini menyatakan bahwa kita tidak dapat lagi menghindar dari komitmen dan penolakan aspirasi penyelidikan iklim intelektual terdahulu untuk nilai-nilai kenetralan.3 Dalam Gerakan Studi Hukum Kritis juga terdapat konsentrasi terhadap Politics of Law.4 Gerakan ini merupakan kelanjutan dari proyek Realisme5, tetapi sasarannya lebih luas. Realis sangat kuat berada di bawah liberalisme; Gerakan Studi Hukum Kritis (CLS) lebih radikal dalam usaha menghindari crippling choice (pilihan yang melemahkan) antara liberalisme dan marxisme. Seperti Realis, CLS menolak formalisme ( tetapi apakah semua pemikir hukum hari ini menerima gagasan bahwa perselisihan dapat diselesaikan dengan aplikasi hukum objektif netral?), tetapi Realis melihat alasan hukum sebagai otonomi atau perbedaan dan sarjana-sarjana CLS dengan yakin menolak usaha yang menunjukan sebuah model hukum yang bebas nilai. Perbedaan yang paling besar antara CLS dan pemikiran hukum ortodoks (termasuk Realis) adalah hal tersebut, walaupun yang terakhir menolak

Ini dimulai pada tahun 1977. Inisiatif datang dari sekelompok ahli hukum yang terdiri dari Abel, Horwitz, Kennedy, Trubek, Tushnet dan Unger yang tidak puas terhadap Asosiasi Hukum dan Masyarakat, dimana mereka merasa hal tersebut mengidentifikasi terlalu dekat dengan pendekatan empiris dan periaku. Lihat P. Fitzpatrick dan A Hunt, Critical Legal Studies, (Blackwell, 1987) dan I. Grigg-Spall dan P. Ireland, The Critical Lawyers Handbook (Pluto Press, 1992).
3 4 5 22

Lihat Per J. Boyle (1985) 133 Univ. Of Penn. Law Rev 685 Lihat D. Kairys (ed.), The Politics of Law (1982; 2nd ed.1990)

Hubungan antara Realisme dan CLS dapat dilihat di Note (1982) 95 Harv. L. Rev. 1669, 1670-1680. Dalam hal latar belakang sejarah lihat J. Schlegel (1984) 34 Stanford L. Rev.391.

formalisme, gerakan ini menegakkan eksistensi dari semangat perbedaan antara memberi alasan hukum dan debat politik. Pemikiran hukum kritis tidak menyetujui perbedaan tersebut. pemikir hukum kritis percaya bahwa tidak terdapat perbedaan cara memberi alasan hukum. Hukum adalah politik. Ini tidak memiliki eksistensi di luar peperangan ideologi dan masyarakat. 6 Menurut Mark Kelman, ada tiga kontradiksi utama dalam liberalisme, yaitu (1) kontradiksi antara komitmen terhadap aturan mekanis yang dapat diterapkan sebagai bentuk yang tepat penyelesaian perselisihan dan komitmen terhadap kepedulian situasional sebagai standar sementara; (2) kontradiksi antara komitmen terhadap nilai atau kemauan liberal tradisional yang arbitrer, subjektif, dan individual serta kenyataan yang obyektif dan universal berhadapan dengan komitmen terhadap cita-cita bahwa kita bisa mengetahui kebenaran etika sosial secara obyektif atau harapan bahwa seseorang bisa menyatukan pembedaan antara subjektif dan obyektif dalam mencari kebenaran moral; (3) kontradiksi antara komitmen terhadap diskursus kehendak, dimana semua tindakan manusia dilihat sebagai hasil penentuan keinginan individu sendiri, dan diskursus determinis, dimana aktivitas subyek tidak sesuai karena secara sederhana merupakan hasil dari struktur sosial yang ada.7 Unger mengkritik liberalisme yang menurutnya menghasilkan perubahan moral individu dan politik masyarakat modern yang berbahaya. Lisberalisme membengkokan moral, intelektual, dan sisi spiritual seseorang. Maka dia melontarkan suatu kritik yang menyeluruh. Dia menemukan "struktur mendalam" dari liberalisme yang terdiri dari enam prinsip; (1) rasionalitas dan hawa nafsu, (2) keinginan yang sewenang-wenang, (3) Analisis, (4) Aturanaturan dan nilai-nilai, (5) nilai subyektif, dan (6) individualisme.8 CLS teori percaya bahwa pelajaran mengenai critique dapat meradikalisasi praktek hukum. Demikian, Gabel dan Harris berpendapat bahwa Karakter paling publik dan politis dari arena hukum memberikan ahli hukum, beraksi bersama dengan klien dan anggota

Lihat R. Gordon (1081) 90 Yale L.J. 1017; D. Kennedy (1976) 89 Harvard L.R. 1685; R. Unger (1983) 96 Harvard L. R. 561
7 8

Ibid, Bab 3

Dalam masyarakat liberal, ternyata kesejahteraan yang menjadi tujuan utama doktrin laize faire tidak bisa terpenuhi karena adanya ketidaksamaan kekuatan dan nafsu keserakahan manusia sehingga menciptakan penderitaan pada sebagian besar anggota masyarakat. Kesejahteraan hanya dinikmati oleh sekelompok orang yang memiliki kekuatan lebih sehingga dapat bersaing. Lihat, James Boyle, The Politic of Reason: Critical Legal Theory And Local Social Thought, (University of Pennsylvania Law Review, 1985), hal. 4

pekerja hukum, sebuah kesempatan yang penting untuk membentuk kembali cara orangorang memahami tata tertib eksistensi sosial dan bidang yang termasuk ke dalamnya.9 CLS mempunyai pengaruh terhadap pendidikan hukum juga, sebagaimana dalam polemik Ducan Kennedy Legal Education as Training for Hierarchy. 10 Kennedy ingin memberitahu kita bahwa ia merasa ada yang salah dengan sistem, bagaimana sistem memisahkan subjek-subjek, merangking sekolah hukum yang berbeda-beda, menggolonggolongkan siswa. Salah satu prinsip kemajuan dalam CLS adalah untuk mendemostrasikan kebutuhan untuk mengintegrasikan teori hukum dengan teori sosial. Digambarkan oleh Habermas 11 , Marcuse12, Mannheim13, Gramsci14, teori hukum kritis berusaha untuk mengenalkan wacana ilmiah mengenai wawasan hukum dan model analisis teori sosial, dalam fakta-fakta relativitas dari kebenaran terhadap grup sosial atau sejarah. Dalam pandangan ini, kenyataan bukanlah sebuah produk alam, tetapi dibangun secara sosial. 15 Rencana sosial tidak menimbulkan problematika, tidak dapat ditawar-tawar : apa yang kita lihat sebagai tata tertib sosial adalah melulu dimana perjuangan antara individu-individu yang dihentikan dan garis gencatan senjata yang disusun.16

(1982-83) XI Review of Law and Social Change 369, 370 Lihat Post, 1019

10 11

Lihat Knowledge and Human Interest (1972); Legitimation Crisis (1975); The Philosophical Discourse of Modernity (1990). Lihat juga D. Held, Introduction To Critical Theory (1980) dan W.T. Murphy (1989) 42 C.L.P. 135
12 13 14 15 16

Lihat Reason and Revolution (1942); One-Dimensional Man (1964) Lihat Ideology and Utopia (1936); Essays on The Sociology of Knowledge (1952) Lihat Prison Notebooks (1971) dan Ante, 866 Lihat P. Berger dan T. Luckman, The Social Construction of Reality (1966). Lihat juga Ante, 6 Per. A. Hutchinson dan P. Monahan (1984) 36 Stanford L. Rev.199, 216