Anda di halaman 1dari 42

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat tuhan yang maha kuasa karena tuntunan dan kuasanya kami memperoleh kekuatan dan kemampuan untuk menyusun penuntun praktikum ini. penuntun praktikun ini kami susun sebagai acuan bagi mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ilmu kimia makanan agar mereka dapat melaksanakan praktikum secara langsung dan mandiri sehingga kompetensi mereka meningkat. materi dan metode dalam penuntun praktikum ini kami kutip dari beberapa buku dan disesuaikan dari peralatan serta babhan kimia yang ada dilaboratorium. mengingat ilmu dan teknologi yang terus berkembang dan baru pertama kali menyusun penuntun praktikum ini, tentu terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, oleh karena itu kami bersedia menerina saran perbaikan dari pembaca dan pengguna penuntun praktikum ini agar kami memperbaikinya dikemudian hari.

Ambon, April 2012 Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR LAMPIRAN TATA TERTIB PRAKTIKUM KESELAMATAN KERJA PERATURAN ADMINISTRASI LABORATORIUM A. KARBOHIDRAT A. Tes Kualitatif B. Tes Kuantitatif I. PROTEIN A. Tes Kualitatif B. Tes Kuantitatif

II.

LEMAK A. Tes Kualitatif B. Tes Kuantitatif

III. IV. V.

VITAMIN MINERAL PENENTUAN KADAR AIR DAN ABU A. Penetuan Kadar Air B. Penentuan Kadar Abu

VI.

IODAT DAN ZAT WARNA A. Analisis Iodat B. Analisis Zat Warna

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. lampiran 1. sistematika cara penulisan 2. lampiran 2. lembaran pekerjaan karbohidrat 3. lampiran 3. lembaran pekerjaan protein 4. lampiran 4. lembaran pekerjaan vitamin 5. lampiran 5. lembaran pekerjaan mineral 6. lampiran 6. lembaran pekerjaan penentuan kadar air dan abu 7. lampiran 7. lembaran pekerjaan iodat dan zat warna

TATA TERTIB PRAKTIKKUM


1. Praktikkum harus datang 15 menit sebelum praktek dimulai. 2. Praktikkan harus siap dengan materi y6ang akan dipraktikkum. 3. Sebelum praktikkum dimulai selalu diadakan pretest, laporan praktek dan percobaan dikumpulkan maksimal 1 minggu setelah hari praktek, bagi kelompok yang tidak mengumpulkan tepat pada waktunya, kelompok tersebut tidak diperkenankan mengikuti praktikkum. 4. Selama waktu praktikkum, praktikkan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Memakai jas praktikkum dengan benar 2. Tidak bersena gurau 3. Tidak makan atau minum dan merokok diruangan praktikkum 4. Melaporkan kepada instruktur apabila terjadi kerusakan pada alat yang digunakan. 5. Setelah praktikkum, praktikkan diwajibkan : 1. Membuat laporan sementara yang diserahkan kepada pembimbing yang sudah disetujui 2. Mencuci alat-alat yang digunakan dalam praktikkum dalam keadaan bersih 3. melakukan evaluasi praktikkum yang dilakukan bersama instruktur bersamaan dengan waktu menyerahkan laporan sementara. 6. Praktikkum yang tidak dapat mengikuti suatu acara praktikkum diwajibkan untuk melapor pada coordinator instruktur praktikkum. 7. Pelanggaran terhadap tata tertib. 8. Hal-hal yang belum tercantum dalam tertib ini, ditentukan kemudian.

KESELAMATAN KERJA
Laboratorium bukan tempat yang berbahaya sepanjang praktikkan bekerja dengan hati-hati mengikuti teknik yang benar , yaitu : 1. Kaca mata pelindung dipakai selama di laboratorium ( terutama bekerja dengan bahan eksplotif ) 2. Sepatu harus digunakan di laboratorium. 3. Rambut panjang harus diikat rapih kebelakang. 4. Memperhatikan petunjuk bahaya dan pertolongan pertama. 5. Semua kecelakaan harus dilaporkan. 6. Jangan berlari di dalam laboratorium. 7. Jangan menggosok-gosok mata atau anggota badan lain dengan tangan yang mungkin sudah berkontaminasi bahan kimia. A. Bahaya Api 1. Api harus dihindari semua senyawa organic misalnya (alcohol, eter, etanol) menguap adalah mudah terbakar oleh karena itu hindari pemakaian api terbuka. pakai waterbath atau heating mantels. 2. api seringkali dimatikan dengan lab basah, hati-hati jjika ingin memakai pemadam api, jangan mengenai orang. 3. pakaian terbakar : penting sekali untuk membaringkan atau menggulingkan penderita tetap berdiri akan membahayakan pernapasan dan mata penderita.

B. Bahaya Kimia

selain bahaya kebakaran oleh pelarut organik, semua bahan-bahan kimia dianggap berbahaya karena korosif dan beracun : 1. jika terkena bahan kimia korosif, baik pada kulit ataupun mata, hal pertama yang harus dilakukan ialah mencucinya dengan air sebanyak-banyaknya, kemudian mencari pertolongan secepetnya.

2.

jangan mencoba mencicipi apapun, ataupun mencium langsung asap/uap dari mulut tabung, tetapi kipaslah uap tersebut dengan tangan kemuka anda, kalau diperlukan.

3.

bahan kimia dengan uap beracun atau merangsang selain itu di tempatkan di almari asam. juga semua pekerjaan yang berkenang dengan penggunaan bahan tersebut harus dilakukan di almari asam.

4.

untuk mengencerkan asam, tuangkan asam pekat kedalam air tidak sebaliknya.

5.

beberapa bahan kimia memerlukan penanganan khusus seperti asam dan basa pekat, bromine, dimetil sulfat, fenol, senyawa sianida, H2S: pelarut beracun yang mudah terbakar.

6.

bahan kimia yang dipakai bersama disimpan dimeja kerja. ragen-ragen khusus yang di perlukan dan tidak tersedia akan dijelaskan oleh pembimbing.

7.

cairan dan larutan harus dibuang melalui bak pencuci dapat digelontor dengan air sebanyak-banyaknya.

8.

padatan harus dibuang pada wadah yang disediakan, jangan didalam bak pencuci.

9.

tutup botol jangan diletakkan di meja, tetapi tetap di pegang tangan, untuk kemudian ditutup kembali.

10.

reagen yang telah diambil dari tempatnya (diendok atau dihisap) tidak boleh dikembalikan ke tempat semula.

11.

botol bahan yang telah dipakai harus dikembalikan ke k. tidak boleh dibawa ke tempat sendiri, karena akan mengganggu pemakaian oleh kelompok lain.

12.

ambil secukupnya saja untuk percobaan.

C. Peralatan Gelas kecelakaan karena kurang hati-hati dalam penanganan bahan gelas harus dihindari dengan memperhatingkan hal-hal sebagai berikut :ngan memperhatingkan hal-hal sebagai berikut : sebelum memasang pipa gelas dengan pipa karet atau gabus, pastikan bahwa lubang cukup besar dan telah dibasahi dengan talapak tangan. pegang pipa gelas dekat ujung yang akan disambut dan didorong pipa dengan tekanan yang secukupnya. Vaseline lebih bagus sebagai pelumas dibandingkan dengan air. jangan lepas sumbat dengan kekerasan dari pipa gelas.

PERATURAN ADMINISTRASI LABORATORIUM

A. Penggunaan Alat Tiap kali kelompok mahasiswa dan mendapatkan satu st peralatan untuk setiap percobaan yang akan dipakai bergantian dengan kelompok lain pada praktikum berikutnya; setiap akan memulai praktikum, para pratikum harus mengecek apakah alat yang ada didalam almari sesuai dengan daftar alaat yang ditempel pada setiap almari. setiap kekurangan alat harap dilaporkan pada petugas meliputi : 1. nama kelompok 2. jenis alat yang kurang 3. tanda tangan pelopor dan laporan oleh karena itu setiap kelalaian pengembalikan alat ke almari bekas kerjanya akan mengakibatkan yang bersangkutan akan tercatat pada kelompok kerja berikutnya sebagai penanggung jawab kerusakan. tissue dan lap/sarbet 2 buah (lap gelas dan lap meja) tidak disediakan laboratorium. B. Tanggungan Alat bagi praktikum yang memecahkan/peralatan gelas dan lain-lain diwajibkan untuk mengganti kerusakan peralatan tersebut sesuai dengan aslinya. penggantian peralatan pecah harus diserahkan sendiri oleh yang bersangkutan ke laboran, paling lambat 1 minggu.

I. KARBOHIDRAT Karbohidrat dalam bahan pangan merupakan nutrient yang sangat penting. Untuk itu di perlukantes-tes yang mengetahui ada/tidaknya karbohidrat maupun jumlah karbohidrat

yang terkandung dalam satu bahan pangan. Keberadaan karbohidrat dalam bahan panggan

dapat di bedakan menurut ukuran molekulnya yaitu monosakarida karbohidrat maupun jumlah karbohidrat yang terkandung dalam suatu bahan pangan. Keberadaan karbohidrat dalam bahan pangan dapat di bedakan menurut ukuran molekulnya yaitu monosakarida, disakarida, dan polisakarida. Di antaradisakarida dan polisakarida kadangkala ada yang meletakansatu kelompok yaitu olisakarida, salah satu sifat karbohidrat yang penting hubunganya dengan tes labolaturim adalah kemampuan karbohidrat untuk mereduksi. Hamper semua monosakarida dan disakarida mempunyai kemampuaan mereduksi(kecuali sokrosa) Tes laboratorium karbohidrat dapat di lakukan secara kualitatifmaupun kuantitatif. Tes kualitatif karbohidrat pada prinsipnya di katagorikan pada tiga kelompok besar, yaitu berdasarkan: 1. Kemampuan meroduksi gugus aldehid 2. Kemampuan mengedrasi gugus hidroksil dan memberikan perlakuan pada senyawa furfular yang terbentuk sehinggadi dapatkan produk yang berwarna sepesifik. 3. Membuat komponen-komponen turunanya (untuk komponen murni).

A. Tes Kualitatif 1. Tes Molisch Tes ini memberikan reaksi positif terhadap semua karbohidrat baik yang bebas maupun yang terikat dalam senyawa,asalsenyawwa tersebut dapat membentuk furfural dengan adanya H2SO4 pekat Lingkaran lingkaran ungu yang terjadi di perkirakan merupakan hasil kondensasi dari furfural dengan a-naftol yaitu terbentuknya asam-asam keton alkedonat. Bila terjadi lingkaran hijau adalah akibat pengaruh H2SO4 terhaddap a-naftol yaitu terbentuknya 2keton aldonicac. Hal ini tidak berpengaruh dalam tes . Cara kerja a. Masukan 5 ml sampel kedalam tabung reaksi b. Tambahkan 2 tetes larutan molisch

c. Kemudian tambahkan 3 ml asam sulfat secara perlahan-lahan melalui dinding tabung d. Amati perubahan yang terjadi

2. Tes Benedicttes Tes ini digunakan untuk mengetahui adanya gugus pereduksi dalam karbohidrat. Apabila terdapat gugus pereduksi , ion Cu++ pereaksi akan tereduksi menjadi ion Cu+ atau Cu. Peristiwa ini di tandai dengan terbentuknya endapan merah atau warna larutan akan berubah menjadi warna karat. Tes lain yang mengunakan dasar serupa adalah tes fehling, hanya saja pereaksi pada tes ini kurang sensitife di bandingkan pereakdsi benedick.

Cara kerja a. Ambil 1 ml larutan kedalam tabung reaksi b. Tambahkan 5 ml reagen benedickt c. Kocok dalam penangas air selama 2 menit d. Catat perubahan yang terjadi

3. Tes Barfoed Uji ini agak berbeda dengan uji-ujinyang berdasarkan pada redusi Cu2++ sebelumnya,karena dilakukan dalam suasana asam. Pereaksi pada uji ini tidak tereduksi pada gula-gula disakarida(misalnya laktosa dan maltosa), tetapi pereduksi olah gula-gula monosakarida. Oleh karenanya uji ini berguna untuk polosakarida. Cara Kerja : a. Campurkan 5 ml pereaksi dengan 1 ml larutan sampel karbohidrat yang hendak di uji. b. Masukan kedalam penangas air yang mendidih selama 3-4 menit. Periksa atau terbentuknya endapan merah Cu-oksida membedakan monosakarida dari

4. Tes Bial

Tes bial ini digunakan untuk mengetahui adanya gugus pentose dalam karbohidrat. Hal yang positif ditentukan adanya warna hijau terang yang timbulnya mendadak. Cara Kerja a. Didihkan reagen orsinol,angkat dari nyala api b. Tambahkan beberapa tetes larutan sampel c. Catat perubahan yang terjadi

5. Tes Saliwanoff Tes ini mendeteksi suatu ketose,apabila suatu larutan ketose larutan HCL pekat, akan terbentuk senyawa levulinic asam dan kidroksimetil furfural. Senyawa ini akan bereaksi dengan resorsinol membentuk senyawa kompleks yang berwarna merah. Senyawa aldose memberikan warna merah lebih lambat. Cara Kerja a. Ambil reagen dalam tabung reaksi tambahkan kedalam tabung reaksi beberapa tetes larutan-larutan sampel. b. Panaskan larutan tersebut dalam penangas air. c. Amati perubahan yang terjadi,catat waktu yang diperlukan.

6. Tes Iodine Tes ini dimaksudkan untuk uji polisakarida. Uji ini didasarkan pada reaksi antara iodine dan polisakarida untuk menutup suatu kompleks pati-ion yang berwarna biru kehitaman. Pati serta hampir semua dekstrin,amilodekstrin dan glikogen menunjukan hasil yang positif. Perbedaan warna yang ditimbulkan dapat dibedakan antara amilosa dan ammilopektin.

Cara Kerja

a. Tempatkan dalam tiap tabung reaksi larutan sampel karbohidrat sebanyak 2 ml dengan 3 tetes larutan pereaksi b. Lihat perubahan warna pada molekul makro ynng tidak bercabang(amilosa), akan memberikan warna biru sedang molekul mikro yang

bercabang(amilopektin) akan memberikan warna hitam kemerahan.

7. Tes Kuantitatif Cara Kerja 1. 2. Timbang 10 mg gula standart,larutkan dalam aquades 100 ml Sediakan 2 buah labu ukur 100 ml,masukan kedalam tiap labu larutan(1) masing-masing 2,4,6,8,10 ml. Tambahkan aquades sampai 100 ml aquades dalam tiap labu. 3. Sediaakan 6 tabung reaksi,pipet 1 ml larutan dalam tiap labu dan masukan dalam tabung,diisi dengan 1 ml aquades sebagai blanko. 4. Tambahkan dalam tiap-tiap tabung 1 ml reagen nelson dibuat dengan

mencampur nelson A dan B dengan perbandingan A : B=25:1 5. Panaskan semua tabung dalam air mendidih selama 20 menit, kemudian didinginkan dalam gelas piala sehingga suhunya 25C 6. Tambahkan kedalam tiap-tiap tabung masing-masing 1 ml Arsenomolihdat. Kocok hingga endapan yang timbul larut. 7. Tambahkan kedalam semua tabungmasing-masing 7 ml aquades,kocok. Periksa adsorbanisnya pada panjang gelombang 540 nm. 8. Buat kufra standarnya.

Perhitungan gula reduksi sampel 1. Timbang 0,1 gr sampel larutkan dalam aquades sampai 100 ml 2. Pipet 1 ml dalam tabung reaksi dan tambahkan reagen Nelson. Perlakuan selanjutnya sama dengan pada pembuatan kurva standart. 3. Jumlah gula reduksi ditentukan berdasarkan adsorbs sampel dan kurva standar larutan glukosa standart dengan persamaan regresi sederhana

II.

PROTEIN

Asam amino adalah senyawa organic yang paling sedikit mengandung satu gugus amina (NH2) dan satu gugus karboksil (COOH) dimana gugus aminanya terikat pada atom karbon dari rantai asam karboksilat. Kedua gugus tersebut merupakan gugus fungsional dari asam amino. Adanya gugus fungsional tersebut menyebabkan asam amino memiliki sifat amfotir dan membentuk srtuksur ion polar dan zwiter ion. Keadaan ini menyebabkan asam amino memiliki titik lebur tinggi, tidak larut dalam pelarut non polar. Dari hasil hidrolisis protein secara sempurna dihasilkan 20 macam asam amino. Beberapa diantara ke-20 macam asam amino merupakan asam amino esensial. Selain asam amino, didapat pula asam amino yang memiliki berbagai fungsi antara lain: sebagai koenzi A, sebagai hormone,dll. Sifat-sifat asam amino ditentukan oleh gugus fungsional yang dimilikinya. Protein terdapat ditiap organism, baik mikro maupun makro oaganisme dan merpakan makro molukuler dengan BM yang besar (5000-25000). Protein merupakan bentuk polimer dari asam amino. Tiap asam amino bergandengan dengan peptide yang dibentuk antara gugus karboksil asam aminoyang satu dengan gugus asam amino yang berikutnya, membentuk rantai panjang yang disebut polipeptida. Komposisi sebagian besar protein terdiri dari unsur-unsur C (55-55%), H (6-7%), O ( 19 - 24%), N ( 13- 19%), dan sejumlah unsure-unsur lain ( S,P,Fe,Mn,I,Cu,Zn,Dll) protein digambarkan sebagai komponan yang paling reaktif diantara komponen-komponen bahan pangan. Senyawa ini dapat bereaksi dengan gula-gula pereduksi. Lemak, dan produk-produk oksidasi, polivenol, dan komponen bahan lain. Kemampuan protein untuk mengikan komponen-komeponen bahan pangan seperti air dan lemak sangat penting dalam formulasi makanan. Kapasitas pengikatan ini di pengaruhi oleh PH dn kekuatan ion yang keduanya akan mempengaruhi luas permukaan dan sifat-sifat protein, jumlah dan sifat-sifat fisik kebanyakan komponen makanan dan modifikasi baik mekanikal, termal,kimiawi dan ensimatik. Klasifikasi protein biasanya didasarkan atas daya larutannya dan komposisi kimianya, tertama bagian yang bukan asam amino. Kestabilan struktur protein dan sifat reksi kimianya sebagaimana dijumpai pada asam amino, ditentukan oleh gugus fungsional

yang dimilikinya ( baik gugus fungsional utama maupun gugus reaktif lain yang terdapat pada rantai samping ). A. Tes Kualitatif 1. Uji Xanthoprotein Uji ini digunakan untuk mendektesi asam amino / protein yang memiliki gugus indol dalam molekulnya, berdasarkan reaksi titrasi inti benzene yang terdapat didalam molekul asam amino / protein ( tirosin, fenilalanin, triptofan ) akibat penambahan HNO3 pekat. Senyawa nitro yang terbentuk berwarna kuning pada penambahan alkali warna tersebut akan berubah menjadi jingga. , Bunsen, penjepit tabung reaksi, tabung ukur 50 ml, erlemeyer, karet pengisap. Bahan : contoh bahan, aquades

2. Uji Biuret Dalam suasana basa,Cu2+ bereaksi

dengan protein membentuk senyawa kompleks (bberwarna vilet) yang terjadi dari Cu dan N dari molekul ikatan peptide dan O dari H2 O. reaksi ini dapat berlangsung baik pada senyawa senyawa CH2NH2, -C(NH)NH2 dan CONH2
.

yang ,mengandung 2 gugus

Asam-asm amino tidak menunjukan adanya reaksi dengan biuret,sehingga reaksi hidrolosis protein telah selesai. Reaksi ini sangat teranggu oleh adanya garam ammonium yang berlebihan,karena ammonium akan bereaksi dengan Cu (NH)42 akibat ammonium berlebih,membentuk warna biru tua.

Reagen: NaOH 10%,CuSO4 1% Alat: pipet ukur,tabung raeksi, pipet tetes Bahan: larutan contoh, aquades

Cara kerja :

Masukan 2 ml larutan contoh kedalam tabung reaksi, tambahkan 10% NaOH sebanyak 3 ml, kocok homogen dan tambahkan 2 tetes larutan CuSO4 1% sambil dikocok perlahan- lahan. Amati perubahan yang terrjadi.

3. Uji Ninhydrin Uji ini digunakan untuk mengetahui keberadaan asam amino secara umum. Penambahan larutan ninhydrin dalam suatu contoh yang mengandung asm amino akan menghasilkan perubahan warna bitu pada larutan, kecuali prolin dan OH-prolin menghasilkann larutan berwarna kuning.

Reagen

Larutan ninhyhidrin ( 1% triketohydrindehidrat ) NaOH 0,1 N,asam asetat 0,1 N.

Alat

pH meter, tabung reaksi, erlemeyer 100 ml,

pipet tetes, pipet ukur, Bunsen, gelas piala, labu ukur. Bahan : larutan contoh, aquadest

4. Pengaruh asam kuat dan alkali serta pengendapan protein. Reagen Alat : : HNO3 pekat, NH4OH pekat, HCL pekat pH- meter, tabung reaksi, erlemeyer 100 ml, pipet

tetes, pipet ukur, Bunsen, gelas piala, labu ukur. Bahan : larutan contoh, aquades.

Cara kerja :

Siapkan 7 tabung reaksi, masing-masing diisi dengan 2 ml reagen-reagen sperti tercantum diatas. Tambahakan secara berlahan-berlahan larutan contoh melalui pipet sampai terjadi perubahan (endapan) kocok tabung reaksi secara hatihati dan amati perubahan yang terjadi. 5. Pengendapan protein

Prinsip : protein akan mengalami pengendapan bilah ditambahkan dengan TCA ( Tri Chlor Acid ) dan asam pikrat. Cara kerja : Ambl 2 ml bahan masukan kedalam tabung reaksi. Masukan kedalam tabung asam pikrat jenuh, tetesi setetes demi setetes dengan menggunakan TCA 1% dan amati apa yang terjadi. 6. Reaksi warna a. Percobaan kadar N Kapur natron ( Campuran NaOH can Ca(OH)2 dalam tabungan reaksi ditambahkan larutan bahan. Dipanaskan akan keluar amoniok, lakmus merah yang dibasahi kan menjadi biru. b. Percobaan dengan Pb Asetat Cara kerja : 10 cc larutan bahan dan 3 cc NaOH tambahkan satu atau dua tetes Pb Asetat, dipanaskan diatas penanggas air. Hasil positif jika larutan itu mula-mula berwarna kuning kemudian coklat dan akhirnya hitam serta Pb mengendap sebagai koloid. 7. Kromotografi kertas untuk menentukan jenis Asam Amino Bahan : a. Bak silinder b. Cairan solvent yang terdiri atas (n butane) : asam asetat; H2O dengan perbandingan (4:1:5)k

c. Kertas saring watman 1 dengan ukuran setinggi bbak silinder dan lebar 4-5 cm d. Ninihidran 0,5 % dalam campuran (n butane; asam asetat;kalidin) (25:10:2) e. Macam-macam asam amino sebagai standart, misalnya : alanini, tirosin, lisin. f. Larutan sampel yang akan diperiksa. Cara kerja : B. Kertas saring ditandai dengan jarak 3 cm dari ujung bawah, kemudian diberi tanda dengan titik sebagai tanda zat yang akan diperiksa. Kemudian dari titik tersebut diukur 15 cm dan ditandai. C. Zat-zat dititalkan pada titik tanda. Ingat; jumlah zat sekecil mungkin kira-kira 10-50 ug D. Sewaktu menotolkan, titik tidak boleh berdiameter lebih nm agar hasil pemisahan menunjukan bercak-bercak yang cukup jelas. E. Larutan lama keringnya dapat dibantu dengan alatpengering (driyer). Supaya diameter titik penotolan yang tidak besar. F. Kertas ini kemudian dicelupkan kedalam cairan 1-cm dari ujung bawah, agar cairan itu (fase mobil) dapat diserap oleh serat-serat kertas sehingga setelah menyentuh totolan, zat tersebut dapat ikut terserap dan dibawah kertas sampai garis tertentu dalam waktu tertentu. G. Setelah sampai pada batasyang ditentukan kertas diangkat dan dikeringkan kemudian disemprot dengan larutan ninhydrin. H. Titik-titik yang mempunyai warna ungu dapat ditandai dengan lingkaran. I. Bahan yang dianalisa akan dikatakan positif jika sejajar dengan standart yang dipakai dan dapat ditentukan jenis asam aminonya.

B. Tes kuantitatif 2. Penentuan Total Nitrogen dengan Mikron Kjeldhal Prinsip

Bahan didesrtuksikan dengan H2SO4 pekat. Nitrogen yang terdapat dalam bahan kemudian berikatan dengan H2SO4 membentuk (NH4) 2SO4 membentuk ammonium klorida. Alat: Perangkat alat dekstruksi, alat destilasi, buret, erlemeyer, pipet tetes, puppet ukur, gelas ukur, timbang analitis. Bahan: H2SO4 pekat, NaOH-thio, tablet kjdahl, indikator pp, asam borat 4%, indikator MR-BCG, kertas lakmus, contoh bahan, aquadest HCL 0,02 N. Cara kerja: 1. Dekstruksi : timbangan 30-50 mg contoh bahan, masukan abletdalam

tabung kjdahl dan 50 ml, tambah dengan 0,5 gr tablet kjdahl dan 2ml H2SO4, paket. Panaskan selama 2-6 jam, sampai diperoleh larutan jernih dalam tabung, lalu, didinginkan. 2. Destilasi: tuang hasil dekstruksi kedalam tabung destrilisasi, tambahkan 5 ml aquadest kedalam tabung kjldahl untuk mencuci sisa larutan, blas kembali tabung kjldahl sebanyak 3 kali menggunakan 4 ml aquadest. Tambahkan 2 tetes indicator pp dengan reagen NaOH-thio samapai suasana menjadi basa (larutan) berwarna merah muda. Pasang tabung destrilisasi, mulut dari distiling tube harus direndam dan asam sorbat. Distilatsudah tidak bersifat basa lagi(netral), uji dengan kertas lakmus. 3. Titrasi : hasil distlat dititrasi dengan 0,02 NHCL sampai tercapai warna merah muda. (Blanko dibuat dengan mengganti dengan aquadest yang diperlukan sama sebagai mana prosedur di atas).

Perhitungan :

N % =(s-B) xN HCL x 14.008 x 100 % Mg contoh

Dimana : S : ML titrasi contoh B : ML titrasi blanko N : Normalitas HCL 14.008 : Berat atom nitrogen.

3. Penentuan kadar protein (spektrofotometri) b. Ambil 5 ml susu atau larutan protein dan encerkan samapai 100 ml dengan aquadest. c. Dari larutan diatas ambil 5 ml dan tambahkan 10 ml larutan amido black dalam tabung sentrifug 15 dan gosoklah. Diamkan selama 10 menit dan kemudian disentrifuge (250 rpm) selama 5 menit. d. Ambil 3 ml supernstsnt dan encerkan menjadi 200 ml dalam labu ukur dan bacalah Optikal Density (OD) dengan Spektropometer pada panjang gelombang 615 nm. e. Buatlah blanko dengan mengganti 5 ml larutan contoh dengan 5 ml aquades. f. Standarisasi spektropometer pada OD nol dengan aquades dan bacalah OD blanko (dengan kufet) harga OD terkoreksi (OD blanko) dipakai untuk menentukan kadar protein dengan ODnya. g. Untuk menghitung kadar protein, mula-mula jangan lupa masukkan factor pengenceran. 4. Penentuan Nitrogen Amino a. Timbang 1 gr bahan b. Mengencerkan bn dengan aquades samapi 50 ml. Menguapkan bahan setelah ditambah aquades dalam dandang samapai setengah bagian. c. Ditambah dengan aquades sampai 50 ml dan disaring. d. Filtrate ditambah formalin 2 ml dan indicator pp 2 tetes. e. Titrasi dengan 0,1 N NaOH sampai berwarna merah jambu.

Perhitungan : % N Amino =ML Na (S-B) xN HCL x 14.008 x 100 %

Gr S x 1000

III. LEMAK Secara kimiawi lemak di dalam kelompok senyawa organic ester yang terbentuk dari reaksi alkohol dengan asam organic. Komponen membentuk lemak pada umumnya terdiri dari molekul gliserol yang di berikan dengan 3 molekul asam lemak, dikenal sebagai trigliserida. Asam lemak terdiri dari 1 rantai hidrokarbon dengan terminal gugus karboksil. Apabila seluruh valensi karbon di penuhi, asam lemak tersebut di sebut asam lemak jenuh. Jika valensi karbon tidak di penuhi, ikatan rangkap ini menentukan bentuk asam lemak tidak jenuh, jumlah dalam letak ikatan rangkap ini menentukan bentuk asam lemak dan lebih jauh mempengaruhi pula sifat-sifat fisik dan kimianya. Minyak/lemak pada umumnya memiliki titik didih tiinggi, tidak terlarut dalam pelarut polar tetapi larut dalam pelarut organic ( eter,alcohol,kloroform,benzene,dll) Dengan pelarut lemak, maka lemak dapat di ekstraksi dari jaringan hewan dan tumbuhan. Hasil ekstrasi merupakan campuran yang kompleks. Dalam keadaan murni, pada umumnya lemak tidak berasal,berwarna dan berbau.warna lemak/minyak terdapat di dalam alam di sebabkan oleh macam-macam

pigmen. Asam-asam lemak tak jenuh yang terdapat di dalam minyak mudah mengalami kerusakan dan akan berpengaruh pada kualitas minyak secara keseluruhan. Oksidasi asam lemak tak jenuh, misalnya akan menghasilkan macam-macam zat yang menyebabkan ketengikan (racid). Zat tersebut tidak dapat di cerna oleh usas dan diantaranya bersifat racun. Penentuan/tes kimiawi terhadap lemak dapat di Lkukan secara kualitatif dan

kuantitatif. Tes kualitatif yang di pelajari meliputi :bilangam//angka penyambunan, iodium asam dan peroksida, sedangkan tes kuantitatif meliputi dua metode, yaitu : metode saxhlet (dengan modifikasi wibull) dan metodi manual.

A. Pengganti bilangan penyambunan

Pengertian bilangan penyambunan :

Angka penyambunan adalah banyaknya milligram KOH yang di butuhkan untuk penyambun 1 gram lemak/minyak

Prinsip : . penyambunanadalah sadalah hidrolisa suatu ester,penyambunan minyak dilakukan dngan menambahkan larutan KOH alcohol berlebihan. KOH dapat di lakukan melalui titrasi dengan standar asam (HCL} Reagent a. Timbang teliti 10 g minyak, masukan kedalam labu erlemeyer. b. HCL c. Indikator phenolphthalein (PP).

Cara Kerja

a. Timbang teliti 10 g minyak, masukan kedalam labu erlemeyer. b. Tambahkan 50 ml KOH alcohol (gunakan buret) kedalam erlemeyer bahan dan belangko.

c. Siapkan penangas air dan pendingin baik (condenser) d. Sambung erlemeyer dengan pendingin balik, panaskan dalam penangas air mendidih selama 30 menit. (selama penyambunan, air dalam pendingin balik harus tetap mengalir). Perhitungan : Angka penyabunan 100 %
( ) ( )

2. Penentuan Bilangan Iodium Pengertian bilangan iodium : Angka iodium adalah banyaknya milligram iodium yang diikat oleh 100 gr minyak/lemak

Prinsip : Adisi iodium kedalam ikatan rangkap minyak/lemak. Kelebihan iodium ditentukan secara iodometri.

Reagen : a. Larutkan Hanus b. Timbang 13,2 g iodium,larutkan dalam 1 glasial acetic acid panas.tambahkan dengan hati-hati 2 ml bromine. Aduk sampai homogeny. c. Larutkan Na2S2O3 0,1 N d. Larutan amilum 1% e. Chloroform

Cara kerja : a. Timbang teliti 0,5 g minyak, masukan ke dalam erlemeyer bertutup b. Tambahkan 10 ml choloform, kocok

c. Tambahkan 25 ml larutan hanus (gunakan buret) d. Tutup erlemeyer,biarkan 30 menit di tempat gelap sambil di kocok-kocok pelahan lahan. e. Tambahkan 10 ml larutan KI 15% f. Cuci tutup erlemeyer dan dinding dalam labu erlemeyer dengan 50 ml H2O bebas CO2 dingin. g. Titrasi di teruskan sampai warna biru gelap hilang (sebelum warna biru hilang,erlemeyer ditutup dan dikocok kuat-kuat), lanjutkan titrasi sampai warna biru hilang. h. Buat blangko dengan prosedur yang sama,bahan dig anti pelarut. i. Lakukan standarisasi Na2SO3 Perhitungan : Angka iodium ( ) ( )

3. Penentuan Bilangan Asam Pengertian Bilangan Asam Angka asam adalah banyaknya mg KOH yang di butuhkan untuk menetralkan bebas yang terdapat dalam 1 gr minya/lemak.

Prinsip asam lemak bebas yang terdapat dalam lemak/minyak di netralkan oleh KOH

Reagen : a. Alcohol 95% (netral) KOH 0,05 N b. KOH 0,05 N c. Indicator phenoptlien (pp)

Cara kerja : a. Timbang teliti 10 gram minyak, masukkan kedalam labu erlemeyer

b. Tambahkan 50 ml alcohol 95% (netral) c. Panaskan sampai mendidih dan biarkan mendidihsambil di kocok perlahan-lahan d. Dinginkan dan tambahkan dengan indicator pp 3-4 tetes. e. Titrasi dengan KOH 0,05 N sampai warna merah muda pucat yang tidak hilang selama 20-30 detik. f. Lakukan standarisasi KOH

Perhitungan : Angka asam


( ( )

4. Penentuan angka peroksida Prinsip : Peroksida pada minyak tengik akan memecah ikatan KI. I2 ditentukan secara iodometri. yang terbentuk

Reagen : a. Pelarut = 60% asam asetat + 40% cholorofom b. KI jenuh c. Larutan Na2S2O3 0,1 N d. Amilum 1%

Cara kerja : a. Larutkan 5 gr tepat minyak (jelantah) dalam 30 ml pelarut yang terdiri dari 60% asam asetat + 40% choloroform dalam erlemeyer tertutup, kocok hingga larut b. Tambahkan 0,5 ml larutan jenuh. c. Diamkan selama 1 menit sambil kadang-kadang di kocok. Tambahkan 30 ml H2O d. Titrasi dengan larutan Na2S2O3O, 0,1,sampai warna coklat muda, (kocok dengan kuat). Tambahkan 1 ml indikatorramilum 1%. Campurkan menjadi biru gelap e. Terus titrasi sampai twarna biru gelap f. Lakukan standarisasi Na2S2O3 0,1 N.

Catatan : Apabila titrasi kurang dari 0,5 ml, penentuan dengam menggunakan larutan Na2S2O3 0,1 N Perhitungan : Perhitungan
( ( ) )

B. Tes Kuantitatif 1. Penentuan kadar lemak kasar (crudi fat ) metode saxhlet ( dengan dengan modikasi weilbull)

Prinsip : Lemak di diekstrasi oleh eter atau choloroform,setelah eter di uapkan,lemak ditentukan secara gravimetric. Reagen : a. Diethyl eter anhydrous,atauklorofom b. Asam cholrida,(HCL) 8N (65%)

Cara Kerja a. Timbang dengan tempat labu minyak. b. Timbale 2-5 gr sample,(mengandung sekitar 200 mg lemak) ke dalam gelas.. c. Tambahkn 300 ml asam chorida 8 N dan 20 ml air suling. d. Didihkan selama 15 menit (hitung mulai saatmendidih) e. Saring dalam keadaan panas pada kertas saring basah. f. Cuci residu dengan air suling sampai dari asam (cuci dengan menggunakan ketas lakmus).

g. Keringkan kertas saring dengan residu dalam oven 100-150o celcius h. Masuk kan dalam timble (bahan sebelum di bungkus dengan kertas saring bebas lemak) i. Masukkan timble ke dalam apparatus

2. Penentuan kadar lemak (churude fat.) metode manual

Reagen. : a. Bahan contoh di hancurkan dengan campuran pelarut cholorofom- etanol 2:1 selama beberapa menit ,untuk 2 gram bahan digunakan 40 ml pelarut. b. Homogenate yang di peroleh didiamkan beberapa menit c. Kemudian di saring dalam erlemeyer bertutupp 50 ml lewat kertas, d. Fitrat di cuci dengan menambahkan aquades sebanyak 0,2 volume fitrat. Kocok dan diamkan sampai 2 bagian cairan terpisah.cairan (bagian) aquades di buang, penccucianya.. e. Untuk menjadikan larutan kembali,di lakukan penambahan sedikit

cholorofom-etanol dan methanol secukupnya. f. Larutan yang di peroleh dikeringkan dalam ovendam di timbang setelah mendapat berat yang konstan.

IV.

Vitamin

Vitamin merupakan suatu zat organic yang jumlahnya sedikit dalam makanan dan dibutuhkan sangat sedikit oleh tubuh, berfungsi sebagai pengatur metabolisme tubuh. Nama vitamin pertama kali diungkapkan oleh Clasmir Funk ( 1912 ). Kata vitamin di hilangkan huruf e-nya. Berdasrakan zat pelarutnya vitamin dapat di golongkan menjadi vitamin larut air dan vitamin larut lemak. Yang termasuk vitamin larut lemak adalah vitamin A, D, E, dan K, sedangkan vitamin B dan C merupakan vitamin yang larut air.

Adapun sifat-sifat vitamin larut lemak dan air dapat dilihat pada tabel berikut :

Larut Air a. Harus tersedia setiap hari dalam makanan b. Tidak dapat disimpan dalam tubuh c. Tidak dijumpai dalam bentuk precursor / provitamin d. Muncul gejala akibatb

Larut Lemak a. Tidak harus tersedia setiap hari dalam makanan b. Dapat disimpan dalam tubuh ( hati ) c. Umumnya dijumpai dalam bentuk precursor / provitamin d. Muncul gejala kekurangan relatif lama e. Stabil selama proses pemasakan / pemanasan f. Larut terhadap alkali g. Larut lemak

kekurangan cepat teramati e. Rusak dalam proses pemasakan / pemanasan f. Tidak tahan terhadap alkali g. Larut air

Vitamin mempunyai sifat fisik dan kimia yang spesifik, maka cara analisisnya juga spesifik. Ada 3 cara analisi vitamin yaitu : 1. Cara biologis, merupakan cara analisis yang mula-mula yang dilakukan sebelum diketahui sifat-sifat fisik dan kimia dari suatu bahan makanan. Cara ini dilakukan dengan menggunakan hewan percobaan untuk mengetahui peranan vitamin dalam zat hidup. 2. Cara mikrobiologis, dengan menggunakan bakteri / yeast / jamur. Untuk itu harus diketahui jenis mikrobia yang spesifik untuk pengujian satu jenis makanan tertentu. Bahan makanan yang dianalisa harus dimurnikan dahulu dari bahan lain yang besar kemungkinannya mempengaruhi aktivitas mikrobia tersebut. 3. Cara kimiawi, cara ini dilakukan berdasarkan sifat-sifat fisik dan kimia vitamin, lebih cepat dan murah dibandingkan dengan cara yang lain. Namun demikian dari cara ini hanya dapat diketahui vitamin secara kuantitatif. 4. Untuk mendapatkan data yang lengkap tentang kualitas dan kuantitas vitamin sering cara biologis dan kimiawi dilakukan secara bersama-sama. 5. Sedbagai contoh analisis kadar vitamin dalam praktikkum akan kita lakukan penentuan kadar karoten dengan metode spektrofotometri dan penentuan kadar vitamin C dengan titrasi iodium. Karena disamping murah, prosedurnya relative

mudah dilakukan dan dapat memberikan manfaat terutama untuk pengembangan teknologi pangan dalam membantu mengatasi permasalahan pangan dan gizi.

A. Penentuan Kadar Vitamin C Dengan Metode Titrasi Iodium.

Prinsip : Ekstraksi vitamin C dengan menggunakan aquadest, yang dilanjutkan titrasi-titrasi iodometri dengan menggunakan reagen iodium dan indicator amilum.

Reagen yang dibutuhkan : 1. Larutan iodium ( I2 ) 0,01 N 100 ml Timbang X garam I2 larutkan dalam larutan KI jenuh, kocok, masukan dalam labu ukur 100 ml, tepatkan sampai tanda batas. 2. Indicator Amilum 1% Prosedur : a. Hancurkan bahan yang ada dengan menggunakan mortar/waring blender ( jangan ditambah air ) b. Timbang 30 gr Slurry ( bahan yang sudah halus ) dan masukan kedalam labu ukur 100 ml. tambahkan aquadest sampai tanda batas. c. Saring dan ambil filtratnya. d. Pipet 20 ml filtrate dan masukan ke dalam Erlenmeyer, tambahkan H2SO4 0,1 N, 5 10 ml dan 2 ml Amilum 1% ( jika warna filtrate terlalu pekat, lakukan pengenceran dengan aquades ) e. Titrasi dengan larutan Iodium 0,01 N sampai titik akhir titrasi.

Perhitungan :

P : Pengenceran.

B. Penentuan Kadar Karoten Dengan Metode Spektrofotometri

Prinsip :

Ekstraksi karoten denagn menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 450 mm.

Reagen yang dibutuhkan : 1. Petroleum benzene 2. Aseton 3. Natrium Sulfat ( Na2SO4) Prosedur : 1. Timbang 0,5 gr contoh yang telah dianjurkan. Masukan kedalam tabung reaksi. 2. Tambahkan 5 ml petroleum benzene dan 5 ml aseton, lakukan ekstraksi dengan menggunakan vortex mixer. Tuangkan supernatan ( cairan bening dari sample ) kedalam tabung sentrifuge. 3. Lakukan ekstraksi ( seperti prosedur no. 2 ) pada filtrate yang masih tertinggal. ( ekstrasi dilakukan 3x sehingga diperoleh supernatant pada 3 tabung sentrifuge ). 4. Sentrifuge hasil ekstraksi yang ada pada tabung sentrifuge selama 2 menit pada 600 rpm. 5. Tuangkan hasil sentrifuge tersebut kedalam suatu corong pemisah. 6. Tambahkan 25 ml aquadest kedalam corong pemisah, kemudian kocok ( corong pemisah jangan ditutup ), keluarkan aquadest dari corong pemisah. Ulangi prosedur no. 6 sekali lagi. 7. Tampung hasilnya dalam tabung reaksi yang telah berisi 0,5 gr Na2SO4. Kemudian kocok. Ambil 1 ml larutan ini, masukkan kedalam kurva spektrofotometer dan tambahkan 9 ml petroleum benzene. ( gunakan petroleum benzene sebagai blanko tanpa perlakuan ). 8. Baca absorbasinya pada panjang gelombang 450 mm.

Perhitungan : ( )

A : Absorbansi

V : Volume larutan dalam kuvet (ml)

V.

Mineral Mineral merupakan salah satu dari zat gizimyang dibutuhkan oleh tubuh,meskipun

dalam jumlah sedikit namun sangat penting bagi tubuh .Sumber mineral bagi manusia didapat dari bahan makanan ,yang dalam analisa bahan makanan tertinggal sebagai

abu,yaitu sisa yang tertinggal bila suatu sampel bahan makanan dibakar sempurna di dalam al tungku. Mineral yang terdapat dalam suatu bahan makanan dapat merupakan 2 macam garam organic dan anorganik.Selain kedua garam tersebut,kadang terbentuk sebagai senyawa komplex yang bersifat organis.Penentuan mineral dalam bahan hasil pertanian dapat dibedakan menjadi 2 tahapan,yaitu : penentuan abu dan penentuan individu

komponen.Sebagai contoh penentua kadar mineral dalam percobaan akan kita lakukan penentuan kadar kalcium.

A. Penentuan kadar calcium dengan metode titrasi KMnO4

Prinsip :

Kalcium dapat dibedakan dengan cara titrasi oleh KMnO4 sebagai kalcium oksalat setelah dilarutkan oleh asam sulvat. Dengan mengetahui banyaknya KMnO4 yang dipakai,maka kadar Ca pada contoh dapat diketahui.

Reagen : 1.HCL pekat 2.Aquades 3.BCG 0,2% 4.Na asetat 20% 5.Amoniak 1:5 6.KMnO4 0,5 N 50 ml

Prosedur :

1.Timabang abu (hasil analisa kadar abu).Masukan kedalam beker glas 100 ml. 2.Tambahkan 5 ml HCL Pekat,dan uapkan pada watrbath sampai kering 3.Tambahkan 2 ml HCL Pekat,tutup dengan menggunakan aluminium

foil.Kemudian keringkan di atas api kecil (diatas Bunsen burner ).

4.Saring pada labu berukuran 100 ml,tepatkan sampai tanda garis dengan aquades (air suling ) 5.Pipet larutan tersebut dalam elemeyar dan tambahkan empat tetes BCG 0,2% (untuk Bkanko pipet 50 ml aquades ). 6.Tambahkan Na asetet 20% sampai tercapai PH 5-4,Kemudian tutup dengan aluminium foil,didihkan di atas api langsung.Tambahkan asam oksalat 3% sampai menghasilkan warna hijau,didihkan lagi 1-2 menit. 7.Tutup dengan aluminium foil,biarkan selama 24 jam.(untuk blanko langsung dikerjakan prosedur 10). 8.Saring sambil dicuci dengan amoniak 1:50 sebanyak 50ml 9.Endapan pada kertas saring,masukan kedalam elemeyer 250ml. 10.Tambahkan 150 ml air panas dan 5 ml H2SO4 (1:25),kemudian panaskan sampai tercapai suhu 80-90o C diatas api. 11.Titrasi dengan KMnO4 0,05 N ( diatas api)sampai terjadi perubahan warna (merah muda)

Perhitungan : %Ca= (Ml contoh mlblanko)xNKMnO4 xfp x 100% Mg bobot abu 0,05

B.Penentuan kadar besi

Prinsip : Penentuan senyawa berwarna merah antara 0-fenantrolin dengan ion besi (II)

Reagen : 1.Larutan baku (standart)besi 0,1 mg/dl 2.HCL 6 N 3.HCL 3 N 4.HCL 1 N% 5.Larutan hidrouinon 1% 6.Larutan O-Fenontrolin 0,25% 7.Indikator biru brom fenol 8.Larutan asam filtrate

Prosedur : 1.Timbang secara teliti sejumlah cuplikan yang mengandung lebih kurang 1 mg besi dengan teliti dalam kurs porselin. 2.Arangkan perlahan-lahan dengan api kecil 3.Abukan sampai bebas arang pada suhu kurang lebih 550o C 4.Tambahkan 5-10 HCL 6 N,dan kringkan diatas penangas air. 5.Tambahkan 5-10 ml HCL 3 N,panaskan di atas lempeng pemanas sampai mulai mendidih 6. dinginkan, setelah dingin, saling kedalam labu terukur 100 ml. 7. kedalam kurs tambahkan 10 ml HCl 3 N panaskan sampai mulai mendidih 8. dinginkan dan cairan ditambahkan kedalam labu terukur di atas 9. bilas kurs dengan air dan air bilasan di tambahkan kedalam labu terukur nsampai pada batas (A).

Pembuatan larutan standar : 1. Larutkan sebanyak 0,7021 gr ammonium besi (II) 2. Tambahkan dalam masing-masing piala berturut-turut 1 ml larutan hidrokuinon 1%,2 ml larutan 0-fenatrolin 0,25% dan 3 tetes indicator biru brom fenol. 3. Atur pH larutan menjadi 3,5 dengan menambahkan larutan asam sitrat 25% 4. Pindahkan larutan kedalam labu terukur 25 ml 5. Bilas gelas piala dengan air dan bilasan tambahkan kedalam labu terukur dan tambahkan air sampai tanda batas 6. Simpan pada suhu 20oC tidak lebih dari 2 jam. 7. Ukur masing-masing serapan pada panjang gelombang 510 nm 8. Sebagai blanko, digunakan larutan tanpa cuplikan yang diperlukan sama dengan larutan uji

Kadar besi dalam 100 gr cuplikan adalah : Kadar besi = B x100 x 100 V Bu

Keterangan :

B : Bobot besi dalam mg yang didapat V : Volume larutan uji yang di pipet Bu : Bobot cuplikan yang ditimbang

B. Penentuan kadar fosfor

Prinsip : Penentuan senyawa berwarna kuning jingga antara ortofosfat dengan campuran asam molibdt dalam asam vanadat.

Reagen : 1.HCL 6 N 2.HCL 3 N

Prosedur : Larutan Uji :

1. Timbang secara teliti sejumlah cuplikan setara lebih kurang 100 mg fosfor di dalam kur 2. Arangkan dengan api kecil 3. Abukan dengan muffle sampai batas arang pada suhu 550o C 4. Tambahkan 5-10 ml HCL 6 N dan keringkan didata penengas air. 5. Tambahkan 25 ml HCL 3 N dan panaskan di atas lempeng pemanas sampai mulai mendidih. 6. Dinginkan dan saring kedalam labu ukur 100 ml . 7. Kedalam kurs ditambah lagi 10 ml HCL 3N panaskan 8. Dinginkan dengan saring kedalam labu terukur 9. Bilas kurs dengan air,dan bilasan ditambahkan ke dalam labu terukur dan tambahkan air sampai pada tanda batas (A)

Larutan baku : 1.Timbang 0,286 gr kalium dihidrogen fosfat yang telah dikeringkan selama 2 jm pada suhu 105oC. 2.Larutkan dalam 10 ml air (B)

Cara penetapan : 1.Pipet larutan A sebanyak 2 ml : 1ml,2 ml,3 ml,4 ml, dan 5 ml,larutan,B Masukan kedalam labu tarukkur 100 ml yang berbeda 2.Tambahkan air 50-60 ml dan dibasahkan dengan beberapa tetes amonniak pekat yang diasamkan dengan nitrat (1:2) 3.Tambahkan 25 ml pereaksi vanadat-molibdat dan ecerkan sampai

tanda,dicampur dan didiamkan selama 10 mnt. 4.Ukur serapan masing-masing larutan pada panjang gelombang lebih kurang 420 nm. 5.Sebagai blanko digunakan larutan tampa cuplikan yang diperlukan sama seperti larutan uji.

Kadar besi dalam 100 gr cuplikan adalah :

Kadar Besi = Bx100 x 100 v Bu

Keterangan : B :Bobot besi dalam mg yang didapat. V: Volume larutan uji yang dipipet Bu:Bobot cuplikan yang ditimbang .

VI. PENENTUAN KADAR AIR DAN KADAR ABU A. Penentuan Kadar Air Cara kerja : 1. Panaskan oven pada suhu 95o c, masukkan botol timbang kosong kedalam oven dan keringkan selama 30 menit. 2. Keluarkan botol timbang dari oven, masukkan eksikator ndan tunggu sampai dingin kemudian timbang dan cacat beratnya (a). 3. Timbang 2 gr contoh dalam botol timbang cacat beratnya (b=a+2), kemudian keringkan botol + bahan dalam oven selama 2 jam. 4. Keluarkan bahan dari oven, masukkan eksikator dan tunggu sampai dingin kemudian ditimbang dan dicacat beratnya masukkan kembali bahan kedalam oven panaskan selama 30 menit. 5. Keluarkan kembali bahan dari oven, masukkan eksikator dan timbang kembali beratnya. Prosedur diatas 4-5 diulang sampai diperoleh berat yang konstan (selisih penimbangan berturut-turut tidak melebihi 0,02 mg). Catat beratnya (c). Perhitungan : % ka (berat basah) = % ka (berat kering) = Keterangan : A : Berat bobot timbang B : Berat bobot timbang + sample (bahan) awal C : Berat bobot timbang + sample (bahan) setelah dikeringkan x 100% x 100%

B. Penentuan Kadar Abu Cara kerja :

1. Panaskan oven pada suhu 95oc, masukkan kurs porselin kosong kedalam oven dan keringkan selama 30 menit. 2. Keluarkan kurs porselin dari oven, masukkan eksikator dan tunggu sampai dingin kemudian timbang dan caatat beratnya (a). 3. Timbang 10 gr sampel dan kuurs porselin, catat bersihnya (b). (b = a + 10), kemudian keringkan kurs porselin + sampel dalam oven selama 30 menit. 4. Keluarkan bahan dari oven, masukkan eksikator dan tunggu sampai dingin kemudian timbang dan cacat beratnya (c). 5. Panaskan muffle sampai suhu 300-400oc. Stabilkan suhu samp[ai waktu kurs porselin dipindahkan. 6. Masukkan kurs porselin dalam muffle, masukkan dalam eksikator, tunggu sam[pai dingin kemudian timbang beratnya. 7. Masukkan kembali kurs beserta isinya kedalam muffle dan pijarkan kembali. 8. Ulangi prosedur tersebut, sampai di peroleh berat konstan (d) Perhitungan :

% Abu =

X 100%

Keterangan : A : Berat kurs porselin B : Berat kurs porselin + sample (bahan) setelah dikeringkan C : Berat kurs porselin + abu

VII.

IODAT DAN ZAT WARNA

A. Analisis Iodat Penggunaan iodium sebagai pencegah penyakit gondok telah banyak dipraktekan oleh beberapa Negara,yaitu dengan garam beriodium.garam beriodium meruapakan garam dapur yang ditambah iodium didalamnya atau diiodisasi dengan senyawa iodium, KI dan KIO3. Pada umumnya senyawa yang

banyak digunakan sebagai bahan iodisasi adalah KIO3. Dalam percobaan ini akan dilakukan analisis secara kualitatif dan kuantitatif.Analisus kualitatif bertujuan untuk menentukan adanya ionIodat.sedangkan anaalisis kuantitatif bertujuan untuk menentukan kadar iodat yang terdapat dalam garam iodium. 1.Analisis kualitatif iodat Kalium iodat (KIO3) dalam suasana asam dapat membebaskan iodium dari senyawa iodide. iodium yang terbebas akan memberikan warna biru tua dengan larutan kanji. Bahan-bahan a. Garam beriodium b. HCL pekat c. Larutan kanji d. Larutan iodide (KI) Cara melakukan 1. Masukan kurang lebih 0,5 gr contoh ke dalam tabung reaksi pyrex Dan tambahkan 5 ml aquades, kocok-kocok dengan sedikit pemanasan. 2. Tambahkan 5 tetes HCL pekat dan 10 tetes larutan kanji 3. Tambahkan 1-2 butir Kristal kalium iodide (KI) sambil dikocok-kocok timbulnya warna Biru tua menunjukan adanya iodat. 2. Analisis Kuantitatif Iodat Kadar KIO3 dalam garam beryodium dapat ditentukan secara iodometri.KIO3 dalam Suasana asam akan mengoksidasi garam-garam iodide menjadi iodium.Iodium (12) Yang dibebaskan, dititrasi dengan larutan standart natriun (Na2S2O3) Reaksi : KIO3 + 5 KI + 6 HCN I2 + 2 Na2SO3 6 KCI + 3 I2 + 3 H2O 2 NaI + Na2S4O6

I2 + Larutan amilum

(kanji) menghasilkan warna biru.Warna biru akan hilang

jika larutan dititrasi dengan menggunakan larutan Na2S2O3 Bahan bahan : 1. Larutan KIO3 0,005 N 2. Larutan Na2S2O3 0,005 N 3. NaCI P.a 4. Larutan Na3PO4 85 % 5. Larutan kanji 6. Kalium iodide.

Cara Melakukan:

a. Pembuatan Larutan standart primer KIO3 Timbang dengan teliti 21,3 gram KIO3 p.a larutan sampai volume 1000 ml dalam labu takar.Larutan ini normalitasnya 0,1 N.untuk membuat larutan 0,0005 N, ambil 50 ml dengan pipet gondok masukan ke dalam labu takar 1000 ml.tambahkan aquades sampai tepat pasa garis batas.

b.

Pembuatan Larutan Na2S2O3

Timbang kira-kira 25 gr Na2S2O35H2O larutkan dalam labu takar 1000 ml sampai tepat pada batas.Gunnakan air yang telah didihkan dan dingikan.Tambahkan kira-kira 0,1 gram Natrium Klorida sebagai pengawet. Larutan ini normalitasnya 0,1 N untuk membuat larutan 0,0005 N, pipet sebanyak 50 ml dan encerkan dalam labu takar sampai 1000 ml c. Penentuan kadar iodat dalam contoh Standarisasi larutan thiosulfat 0,0005 N 1. Timbang 25 gr Naci p.a dan masukan kedalam erlemeyer 250 ml.tambahkan aguadest 125 ml, dan kocok sampai semua garam melarut.

2. Pipet sebanyak 5 ml larutan KIO30,005 N dan masukan kedalam larutan garam diatas. 3. Tambahkan 2 ml larutan H3PO485 % dan 2 ml larutan kanji 4. Tambahkan seujung sendok kecil kira-kira 0,1 gr Kristal KI, kocok sampai larut. 5. Segera titrasi dengan larutan Na2S2O3 0.005 N sampai warna biru tepat hilang (misalkan larutan thio sulfat yang diperlukan sebanyak A ml).

Titrasi contoh garam beryodium : 1. Timbang dengan teliti 25 gr contoh garam beryodium,masukan kedalam erlemeyer 250 ml. 2. Tambahkan 125 ml aquades dan kocok sampai semua garam melarut 3. Tambahkan 2 ml H3PO4 85 % dan 2 ml larutan kanji 4. Tambahkan seujung sendok kecil kira-kira 0,1 gr Kristal KI dan kocok sampai Melarut, 5. Segera titrasi dengan laruatan Na2S2O3 0.005 N sampai warna biru tepat hilang, Misalnya diperlukan B ml. d. Perhitungan Standarisasi larutan thiosulfat 0,005 N dimaksud untuk mencari equvalensi larutan

thiosulfat terhadap KIO3 Langkah 1 : Larutan 0,005 N KIO3 = 21,3 x 50/1000 gr KIO3/ ml =1,065 mg /ml Langkah 2 : 5 ml larutan 0.005 N KIO3 = 5 x 1,065 =5,325 mg KIO3= Langkah 3 : Larutan Na2S2O3 yang dipakai untuk titrasi = A Ml, equivalent thiosulfat = 5,325/ A mg KIO3 = 213 B/A ppm

B.Analisis Zat Warna

1.Pendahuluan Zat warna sintesis lebih banyak digunakan untuk mewarnai makanan dan atau akanan dan minuman dari pada zat warna alam.zat warn ini biasa bersifat asam atau basa yang termasuk golongan coal tar dyes. Serat wol dipergunakan untuk analisis zat warna baik yang asam maupun yang basa. Serat wol dan sutra mengandung protein amfotir yang mempunyai afinitas terhadap asam maupun Basa dengan bentuk garam.Dengan mengamati perubahan warna benang wool yang telah pereaksi dapat ditentukan jenis zat warna tadi. Perubahan ini bertujuan untuk mengidentifikasikan adanya zat warna merah, rodamin B, yang sebenarnya diproduksi untuk mewarnai kertas, tekstil,kayu dan barang industri non pangan tetapi banyak digunakan untuk memberi warna Makanan dan atau minuman.zat pewarna ini dinyatakan oleh pemerintah dinyatakan Sebagai zat warna yang dilarang digunakan untuk mewarnai makanan. 2. Bahan-bahan A. Saus tomat B. Benang wool C. HCL pekat D. NaOH 2% E. H2SO4 pekat F. HCL encer G. NaOH 10% H. NH4OH 12% I. Eter J. Asam asetat 0,5% K. NaOH 0,5% dicelup dalam zat warna dengan berbagai

3. Cara kerja a. Cara 1 1. Larutkan 1 sendok kecil saus tomat dalam air 30 ml,asamkan dengan HCL.jika

Perlu sareing dan tampung dalam gelas piala. 2. Masukan benang wool (kurang lebih 20 cm) didihkan selama 30 menit. 3.Angkat benang wool dan cuci dengan air dingin. 4.Keringkan dan potong menjadi 4 bagian 5.Uji masing-masing dengan HCL pekat , H2SO4 pekat, NaOH 10% dan NH4OH. b. Cara 2 1. Larutkan 1 sendok kecil saos tomat dalam 24 ml air. 2. Basakan dengan 6 ml NaOH 10%. Jika ada zat yang tidak larut. 3. Ambil contoh yang sama,didikan dengan NaOH 2% selama satu menit kemudian saring. 4. Ekstraksi larutan atau filtrate dengan 30 ml eter. Jika perlu cuci ekstrak dengan corong pemisah 5. Asamkan dengan 10 ml asam asetat. 6. Uji dengan HCL pekat, NaOH 10%, dan NH4OH 12%, amati perubahan warna yang terjadi. Penentuan Hidrosianoda ( HCN ) a. Secara kualitatif

Menserasikan 50 gr bahan yang telah ditumbuk dalam 50 ml air pada erlemeyer 250 ml dan tambahkan 10 ml larutan asam Kertas saring ukuran 1x7 cm dicelupkan dalam asam pikrat jenuh,kemudian dikeringkan diudara.setelah kering dibasahi dengan larutan Na2CO3 8% dan

digantungkan pada leher erlemeyer diatas,dan tutup sedemikian rupa sehingga Kertas tak kontak dengan cairan erlemeyer. Kemudian dipanaskan dalam penangsa air 50 C selama 15 menit. Apabila warna oranye darui kertas pikrat berubah menjadi warna merah berarti dalam Bahan gterdapaat HCN.

b. Secara kuantitatif

Timbang 10-20 gr sampel yang sudah ditumbuk halus ( 20 mesh ), tambahkan 100 ml aquades dalam labu kjehdal dan menserasikan selama 24 jam, Kemudian tambahkan lagi 100 mlo aquadest dan distilasi dengan uap(steam disrilation). Distilat ditampung dalam erlemeyer yang sudah diisi dengan 20 ml 0,02 N AgNO3 dan satu ml HNO3 setelah distilat mencapai 150 ml, distrilat Dihentikan .distilat kemudian disaring dengan krus gooch,endapan yang mungkin ada cuci dengan air kelebihan AgNO3 dalam distilat dititraso dengan K thiosianat 1 ml AgNO3 = 0,54 HCN Berat HCN = mititrasi (blanko contoh) x 20 x NAgNO3 x0,54mg mltitrasiblanko 0,02.