Anda di halaman 1dari 11

TERM OF REFERENCE FOCCUS GROUP DISCUSSION

Pendahuluan Menurut UU No.20 tahun 2003 menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional yakni, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Fungsi dan tujuan di atas menunjukkan bahwa pendidikan di setiap satuan pendidikan harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Sedangkan Plato mengatakan bahwa fungsi pendidikan adalah

membebaskan dan memperbaharui. Ada pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Pembebasan dan pembaharuan itu akan membentuk manusia yang utuh, yaitu manusia yang berhasil menggapai segala keutamaan dan moralitas jiwa, yang akan mengantarnya ke ide yang tertinggi yaitu kebajikan, kebaikan, dan keadilan. Dan Aristoteles mengatakan bahwa fungsi pendidikan haruslah sama dengan tujuan akhir dari pembentukan negara yang harus sama pula dengan sasaran utama pembuatan dan penyusunan hukum serta harus pula sama dengan tujuan utama konstitusi, yaitu kehidupan yang baik dan yang berbahagia (eudaimonia) Manusia diharapkan dapat menjadi pembelajar sepanjang hayat untuk mendukung tercapainya manusia seutuhnya. Maka dari itu perlu dilakukan suatu proses pendidikan, baik pendidikan formal, informal dan pendidikan nonformal.

Namun pendidikan yang lebih dikenal pertama kali sebelum adanya pendidikan sekolah dan dirasa lebih memasyarakat dari dahulu hingga sekarang ini yaitu pendidikan nonformal. Karena pendidikan nonformal ini berlangsung di rumah dan masyarakat, dan pendidikan nonformal ini merupakan pendidikan yang tertua dan yang pertama lahir. Spektrum pendidikan bagi masyarakat di luar sekolah (Pendidikan Nonformal) mencakup hampir seluruh segi pengembangan kapasitas seseorang dan

masyarakat secara massal. Kapasitas ini meliputi penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dibutuhkan sepanjang seseorang menjalani kehidupan serta berinteraksi di tengah masyarakat. Ternyata pula, spektrum pendidikan bagi masyarakat ini memiliki kemasan beragam mulai dari kegiatan sosialisasi, penyuluhan, bimbingan, hingga konseling dimana menyediakan ruang interaksi pembelajaran antara sumber belajar dan peserta belajar. Pelaksanaan kesepakatan Education For All (EFA) menjadikan kewajiban belajar sebagai salah satu dari ujud nyata dan bukan tujuan, sehingga tugas pemerintah belum selesai sekalipun telah menuntaskan kewajiban pendidikan dasar sembilan tahun bagi seluruh rakyatnya. Serupa dengan pencapaian derajat keaksaraan masyarakat, tugas pemerintah untuk membebaskan illiteracy belum berakhir sekalipun derajat melek huruf ini sudah tidak digunakan sebagai variabel dalam kalkulasi indeks pendidikan dalam laporan tahunan badan PBB untuk pembangunan atau UNDP. Laporan tahunan ini mengurutkan seluruh negara berdasarkan peringkat indeks pembangunan manusia, dan sejak tahun 2010 tidak lagi menghitung angka melek huruf suatu negara. Di awal era reformasi, pengelolaan PLS dipisahkan dari pemberdayaan pemuda dan pendidikan olah raga sejalan dengan penetapan Kementrian Negara

Pemuda dan Olahraga. Bahkan tidak cukup itu saja, sejalan dengan pemberlakukan UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) penggunaan nama PLS pun disesuaikan menjadi pendidikan nonformal (PNF) termasuk Informal, maka kemudian resmi ditetapkan Dirjen Pendidikan Nonformal dan informal (PNFI).Perkembangan berikutnya dalam satu tahun terakhir, masih didasari oleh UU Sisdiknas yang sama, Dirjen PNFI sebagai institusi pemerintah yang mengelola sumber daya, personil dan anggaran termasuk menyusun kebijakan PNF kembali disesuaikan menjadi Ditjen PAUDNI. Perubahan ini ditengarai sebagai perujudan prioritas dan keinginan pemerintah untuk urusan PNF agar lebih fokus pada pendidikan anak usia dini (PAUD). Kenyataan di masyarakat pada saat awal kelahiran Ditjen PAUDNI ini, hampir semua tenaga akademisi, praktisi dan personil PNF getol dengan penuh semangat mengusung dan menggerakkan beragam program PAUD, berbeda dengan urusan pendidikan nonformal dan informal. Padahal apabila melihat muatan UU Sisdiknas terutama kategori pendidikan nonformal secara khusus, terdapat jelas delapan kategori yaitu pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, serta pendidikan kesetaraan. Semua itu, tidak termasuk satu kategori pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Sehingga apabila sekarang ditetapkan PAUDNI, sebagian masyarakat menduga, siapa tahu kelak di kemudian hari akan dijumpai dirjen pendidikan kecakapan hidup nonformal dan informal (PKHNI), pendidikan kepemudaan nonformal dan informal (PKNI), pendidikan pemberdayaan perempuan nonformal dan informal (P3NI), pendidikan keaksaraan nonformal dan informal (PakNI),

pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja nonformal dan informal (PKPKNI), serta pendidikan kesetaraan nonformal dan informal (PSNI). Nampak bahwa pengelolaan pendidikan masyarakat di luar sekolah masih belum optimal setidaknya masih dirasakan ada kesan pertarungan politis yang melatarbelakangi kepentingan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dilihat dari dua paradigma pendidikan formal scholastic dengan paradigma hakekat pendidikan seumur hidup. Permasalahan lainnya adalah adanya salah konsep tentang

pendidikan, seperti berikut. Pertama kurang diakuinya ilmu pendidikan. Memang benar bahwa pekerjaan mendidik dilakukan oleh orang tua secara alamiah, seperti halnya dengan bertani, bertukang, dan berdagang. Ini berdampak pada kurangnya pengakuan terhadap ilmu pendidikan dan para ahli pendidikan dalam mengelola dan melaksanakan tugas pendidikan. Kedua, pendidikan disamakan dengan mengajar, sama dengan melatih. Sehingga orang yang pernah mengajar, meskipun mungkin tidak pernah belajar ilmu pendidikan, sudah diakui sebagai ahli pendidikan. Hal serupa tidak terjadi pada ahli tekhnik(insinyur). Meskipun seorang telah mengarsiteki rumahnya sendiri dan dibantu oleh beberapa tukang dan menghasilkan rumah yang tak kalah cantiknya dengann karya insinyur, tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa dia ahli tekhnik. Jadi, konsep ahli pendidikan yang menguasai ilmu pendidikan ternyata belum mendapat pengakuan dan bahkan terjadi miskonsepsi tentang hal tersebut. Ketiga, semua orang dianggap bisa mengajar asalkan menguasai materi yang akan diajarkan. Penguasaan teori belajar, teori mengajar, tekhnik pembelajaran, psikologi pendidikan, rancangan pembelajaran dan lain-lain tidak dianggap penting.

Dampak dari persepsi yang kurang tepat tentang penididikan, ilmu pendidikan, dan ahli pendidikan tersebut antara lain sebagai berikut. Pertama, jabatan penting di bidang pendidikan sampai ke daerah-daerah dipegang oleh orang yang kurang menguasai ilmu pendidikan. Kedua, pengelolaan pendidikan lebih kental dengan sifat birokratis dan terkadang bermuatan politik. Ketiga, adanya kebijakan pendidikan yang tidak sesuai dengan prinsip pendidikan dan prinsip manajemen pendidikan. Relasi pembelajaran yang dialami oleh masyarakat di luar sekolah mencakup proses yang direncanakan secara sengaja oleh nara sumber termasuk provider, sebagaimana kegiatan pendidikan pada umumnya yang juga didasari kesengajaan peserta untuk belajar. Akan tetapi, sering pula relasi pembelajaran ini menyediakan kesempatan yang tidak disengaja oleh peserta belajar, seperti dalam contoh:

kampanye tertib lalu lintas, promosi produk baru hingga sosialisasi kebijakan publik, dimana peserta tidak menyadari keterlibatan sejak awal, berbeda dengan dipilih. Spektrum yang ditawarkan oleh relasi pembelajaran serta urgensi kebutuhan muatan belajar masyarakat di luar sekolah telah menciptakan dukungan dimensi pelaku dan penyedia pendidikan untuk masyarakat. Oleh karena itu, tugas dan intervensi pemerintah dalam bentuk regulasi pendidikan untuk menyelenggarakan kegiatan pendidikan bagi masyarakat di luar sekolah perlu melibatkan pelaku sekaligus institusi penyelenggara baik itu lembaga masyarakat, lembaga pemerintah hingga lembaga swasta. Dalam menyikapi masalah pelaksanaan dan dukungan praktek pendidikan di masyarakat luar sekolah, sudah tepat jika dapat ditetapkan regulator, eksekutor dan provider dengan menyederhanakan dan merampingkan duplikasi peran institusi yang berkepentingan untuk meningkatkan pengetahuan, mengembangkan

kecakapan dan sikap baru. Dan jika benar, urgensi peningkatan kapasitas diri seseorang dan masyarakat secara komunal adalah tanggung jawab pemerintah di bidang pendidikan dan bukan hanya praktek formal di sekolah semata. Maka, penghargaan yang sangat tinggi diberikan jika kesadaran untuk mendidik

masyarakat di luar sekolah menjadi keprihatinan akademisi, dan praktisi yang menggeluti paradigma formal scholastic. Dikarenakan kesadaran yang tinggi akan pentingnya sebuah regulasi bagi pelaksanaan pendidikan oleh masyarakat (Pendidikan Luar Sekolah / Pendidikan Nonformal) Pada tahun 1949, undang-undang pendidikan social disusun sebagai bagian dari kerangka baru pendidikan pasca perang. Berdasarkan pada kesadaran terhadap fakta sejarah bahwa pendidikan social di jepang pernah dimanipulasi untuk tujuan perang oleh pemerintah kekaisaran, undang-undang pendidikan social bermaksud mendirikan system pendidikan yang komprehenship serta dapat menjamin kebebasan pendidikan bagi masyarakat serta mengakar di tengah-tengah masyarakat. Salah satu keistimewaan khusus undang-undang pendidikan social tahun 1949, dan alasan kenapa lebih dihargai oleh banyak pendidik masyarakat jepang, mereka berpendapat bahwa undang-undang tersebut dianggap sebagai symbol pendidikan demokrasi, (Aso & Hori, 1997, Ogawa, 1997) Dijelaskan bahwa Dewan Pendidikan Kota besar, Kota kecil, dan desa memiliki wewenang penuh untuk membuat keputusan mengenai pendirian dan pengembangan fasilitas pendidikan social melalui Kominkan. Di samping itu pula, setiap Kominkan diharuskan membuat Badan Operasional Kominkan yang terdiri atas berbagai kelompok dan perkumpulan masyarakat guna mendorong masyarakat berpartisipasi secara aktif dalam menjalankan Kominkannya sendiri.

Negara Jepang yang menggunakan sebuah pembelajaran dari kominkan. Perjalanan dan perkembangan kominkan yang begitu pesat di tengah-tengah masyarakat khususnya masyarakat pendidikan, merupakan sebuah gambaran positif tentang keberhasilan pendidikan nonformal. Apalagi setelah digulirkannya peraturan tentang belajar sepanjang hayat (lifelong learning), peran pendidikan nonformal di masyarakat semakin jelas dan memberikan arah serta nuansa baru bagi perjalanan pendidikan nonformal khususnya Kominkan di tengah-tengah masyarakat jepang. Dengan aturan tersebut kejelasan peran pemerintah khususnya pemerintah kota dan masyarakat terhadap keberadaan Kominkan memberikan semangat kepada masyarakat untuk terus meningkatkan pendidikan di luar pendidikan sekolah. Salah satu factor keberhasilan Kominkan yang perlu menjadi perhatian dan pembelajaran dalam pengembangan PKBM adalah dalam hal pengelolaan Kominkan. Kominkan dikelola secara professional meskipun staff dan officer disediakan atau difasilitasi pemerintah termasuk gaji dan upah. Peran sebuah lembaga pendidikan dalam membangun sebuah peradaban, seperti sebuah jantung yang selalu memompa darah agar selalu mengaliri ke seluruh tubuh, sehingga ia bisa bergerak dan hidup. Karena pendidikan merupakan aspek penting dalam membangun bangsa yang berperadaban. Rancangan Undang-Undang (RUU) Perguruan Tinggi pasal 1 menyatakan Program Studi adalah kesatuan kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang memiliki kurikulum dan metode pembelajaran tertentu dalam satu jenis pendidikan akademik, pendidikan profesi, dan pendidikan vokasi. Keberadaan prodi ini tidaklah cukup hanya berdasarkan alasan akademik sepihak oleh lembaga perguruan tinggi saja, melainkan harus diperjuangkan sekuat tenaga agar program itu benar-benar merupakan sesuatu yang sesuai dan sangat

dibutuhkan oleh masyarakatnya. Dikatakan sebagai suatu perjuangan karena pada awalnya tidak semua kebutuhan selalu dirasakan oleh masyarakat(felt need), meskipun secara objektif dan nyata(real need) merupakan kebutuhan mereka. Pada saat ini perlu Adanya Revitalisasi program studi pendidikan luar sekolah karena dialah lembaga pendidikan tinggi yang akan mencetak tenaga yang berkeahlian khusus dengan kompetennsi tinggi yang secara akademik dapat dipertanggungjawabkan. Alasan lain perlu adanya revitalisasi yakni karena prodi pendidikan luar sekolah ini pernah akan ditutup total di seluruh indo. Pada tahun 1995 keberadaan Program dan Jurusan Pendidikan Luar Sekolah di pertanyakan urgensinya dengan alasan pohon ilmunya tidak jelas. Tidak kurang dari tiga program studi yang berdekatan diminta untuk memperjelas diri, yaitu Sosioatri, Pekerjaan Sosial, dan Pendidikan Luar Sekolah. Dari ketiganya, yang paling santer serangannya untuk ditutup adalah Jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Mahasiswa jurusan PLS dari berbagai kampus yang memiliki program studi berunjuk rasa ke Jakarta, mengajukan protes ke Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, meminta

supaya tidak ditutup. Kala itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi memanggil beberapa tokoh dari Perguruan Tinggi yang memiliki Program Studi Sosiatri, Pekerjaan Sosial dan Pendidikan Luar Sekolah untuk mengklarifikasikan tentang pentingnya keberadaan prodi mereka. Prodi Pendidikan Luar Sekolah pada akhirnya dapat meyakinkan bahwa mereka memiliki output praktisi pendidikan nonformal. Saat ini terlihat bahwa dunia pendidikan kalah bersaing dengan dunia niaga. Karena media pendidikan, termasuk pendidikan tinggi sulit untuk beradaptasi dengan perubahan yang begitu cepat karena berbagai kendala yang bersumber pada birokrasi. perubahan kurikulum yang hampir sulit diadakan dengan cepat karena berbagai aturan yang menempel ketat pada lembaga pendidikan tinggi.

Dengan kondisi yang seperti ini reformasi tentu akan sulit diadakan dengan cepat waktu karena reformasi menghendaki syarat tertentu. persoalan jurusan PLS yang muncul pada masa kini sbagai tuntutan globalisasi dan reformasi antara lain adalah suasana belajar yang dikehendaki di masa datang, keterampilan yang diperlukan pada masa yang akan datang, kebutuhan belajar pada masa akan datang dan implikasi terhadap visi dan misi PLS baik sebagai lembaga, profesi, disiplin ilmu, maupun sebagai program pendidikan kepada masyarakat. Melihat dari latar belakang yang menjelaskan tentang pentingnya

profesionalisme pengelolaan pendidikan nonformal sebagai salah satu jalur pendidikan baik dalam hal SDM dan Peraturan pemerintah, maka kami dari Badan Pengurus Harian IMADIKLUS UNTIRTA bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Luar Sekolah dan Himpunan Alumni Pendidikan Luar Sekolah bermaksud untuk mengadakan Focus Group Discussion tentang permasalahan tersebut dengan tema Mengembangkan Profesionalisme Pengelolaan Pendidikan Nonformal di Banten

OUTPUT 1. Masukan untuk pembuatan kurikulum 2. Masukan untuk pembukaan jaringan kerjasama 3. Masukan untuk peraturan perundang-undangan

PESERTA DISKUSI 1. Rektor Untirta 2. Dekan FKIP Untirta

3. Ketua Program Studi Pendidikan Luar Sekolah 4. Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah 5. Alumni Pendidikan Luar Sekolah 6. Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Banten 7. Kabid Pendidikan Nonformal dan Informal Dinas Pendidikan Provinsi Banten 8. Kepala BPPNFI Provinsi Banten

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN Waktu Tempat : Senin, 11 Juni 2012 : Ruang Teleconference UNTIRTA

AGENDA ACARA Acara dilakukan dengan melakukan brainstorming melalui presentasi dari perwakilan tiap tiap lembaga yang diundang dan dipimpin oleh moderator diskusi. Setelah semua pihak memberikan presentasinya, maka acara dilanjutkan dengan berdiskusi terkait tema dan permasalahan yang diangkat.

SISTEMATIKA ACARA Senin 11 Juni 2012 07.30 07.45 07.45 08.45 Laporan Ketua Pelaksana Presentasi Peserta Diskusi : 1. Rektor Untirta 08.45 09.00 2. Dekan FKIP 3. Ketua Jurusan Registrasi Peserta Pembukaan

4. Kabid PNFI 5. Kepala BPPNFI 6. BKD Provinsi 7. Alumni 8. HIMA PLS 9. IMADIKLUS 09.00 10.45 Diskusi Rencana Tindak Lanjut 10.45 12.00 Penutupan

RENCANA TINDAK LANJUT Hal yang menjadi cita cita dalam kongres adalah pembentukan lembaga pendidikan nonformal yang tersedia di setiap universitas serta pembentukan gerakan gerakan pembaharuan dalam bidang pendidikan yang sesuai dengan tujuan dari Imadiklus. Dalam perumusan program kerja untuk Wilayah III Ikatan Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah, akan lebih di tekankan kepada pelatihan pelatihan kewirausahaan dan penerapannya dalam mahasiswa maupun masyarakat. Diharapkan juga akan ada sinergitas dari setiap Universitas yang tergabung dalam Wilayah III IMADIKLUS untuk berkomitmen dalam memajukan dunia pendidikan melalui jalur pendidikan nonformal maupun formal dengan melakukan tindakan langsung terjun ke masyarakat yang berkelanjutan serta dengan pemetaan permasalahan dan kebutuhan yang jelas.