Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam era globalisasi saat ini, dunia terasa semakin sempit.

Jarak dan ruang yang membatasi antar Negara terasa hilang. Arus informasi mengalir cepat seolah tanpa hambatan. Suasana kehidupan semakin rumit, cepat

berubah, sulit diprediksi dan serba kompetitif. Kondisi ini berdampak pada persaingan yang sangat ketat pada semua aspek kehidupan. Sehingga untuk dapat bertahan pada persaingan yang dimaksud diperlukan sumber daya

manusia yang mempunyai kemampuan yang handal, misalnya kemampuan memperoleh, menganalisis, dan mengolah informasi dengan cermat serta

kemampuan pemecahan masalah yang kreatif. Dan juga dibutuhkan sumber daya manusia yang memiliki Adversity Quotient (AQ) tinggi yaitu mereka yang memiliki daya juang tinggi dan mampu mengatasi masalah bahkan dapat mengubah hambatan menjadi peluang. Untuk pemerintah tingkat mempersiapkan melalui departemen sumber daya manusia yang demikian kurikulum dengan

pendidikan (KTSP).

nasional

merancang

satuan

pendidikan

Mereka

mengaharapkan

kurikulum tersebut, pendidikan di negara ini mampu menghasilkan sumber daya manusia yang handal, terampil dan siap beradaptasi dengan

perkembangan yang ada. Matematika memberikan peningkatan sebagai salah positif manusia satu cabang ilmu yang ilmu Sehingga dinilai dapat

kontribusi sumber daya

dalam dan

memacu teknologi.

pengetahuan, matematika

menjadi sangat penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Menurut Soedjadi matematika sebagai salah satu ilmu dasar, baik aspek terapannya maupun aspek penalarannya mempunyai peranan yang penting dalam upaya penguasaan ilmu dan teknologi. Ini berarti bahwa sampai batas tertentu matematika perlu dikuasai oleh segenap bangsa Indonesia.1 Salah satu karakteristik matematika adalah objek kajiannya abstrak. Sehingga
1

belajar

matematika

merupakan

kegiatan

mental

yang

tinggi,

Soedjadi, Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia : Kontatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan, 2000, hal. 138

menurut Hermes semua konsep matematika memiliki sifat abstrak sebab hanya ada dalam pikiran manusia. Hanya pikiran yang dapat melihat objek matamatika. Hal ini yang merupakan salah satu penyebab sulitnya siswa mempelajarinya. menggunakan Seorang benda guru harus untuk berusaha mengurangi menjembatani sifat abstrak dengan objek konkret

matematika itu sehingga siswa dapat menangkap pelajaran matematika di sekolah. Namun pada kenyataannya ada guru matematika yang mengajar tanpa memperhatikan hal tersebut. Hal ini juga merupakan salah satu factor yang menyebebkan sebagian siswa mempunyai kesan negative terhadap matematika. Seperti ada yang bilang matematika itu bagaikan momok, matematika membosankan, dll. Setiap siswa dapat menghindar dari kesulitan dalam belajar matematika sekolah. Harus disadari bahwa pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika dengan tingkat yang berbeda-beda. Menghindar dari kesulitan belajar termasuk dalam belajar

matematika hanya untuk tujuan pragmatis, atau mencari mudahnya saja sama artinya dengan menjerumuskan diri dalam kebodohan, dan akan

memghasilkan kesulitan lain yang lebih besar. Ronnie M, mengatakan bahwa semua kesulitan sesungguhnya kesempatan bagi jiwa untuk tumbuh. Oleh karena itu siswa perlu berusaha memotivasi diri untuk lebih menyenangi belajar matematika. Siswa perlu menyadari bahwa matematika itu penting. Disinilah Adversity Quotient (AQ) sangat diperlukan dalam belajar

matematika. AQ adalah kecerdasan mengatasi kesulitan (daya juang). Stoltz mengelompokkan orang ke dalam 3 (tiga) kategori AQ, yaitu : quitter, (AQ rendah), camper (AQ sedang), dan climber (AQ tinggi). Siswa quitter berusaha menjauh dari permasalahan, begitu melihat kesulitan, ia akan memilih mundur, dan tidak berani menghadapi permasalahan. Siswa camper adalah anak yang tak mau mengambil resiko yang terlalu besar dan merasa puas dengan kondisi atau keadaan yang telah dicapainya. Sementara siswa climber menyambut baik tantangan, dapat memotivasi diri, memiliki semangat tinggi dan mereka cenderung membuat segalanya terwujud. 2

Paul Stoltz, Adversity Quotient : Turning Obstacles into Opportunities (mengubah hambatan menjadi peluang). 2000. Hal. 8

Menurut Stoltz, seseorang yang mempunyai Adversity Quotient (AQ) tinggi cenderung menganggap sendiri kesulitan pada berasal dari luar dirinya dan

menempatkan justru

perannya

tempat yang

yang

sewajarnya. menyerah.

Kesulitan Mereka

membuatnya

menjadi

seseorang

pantang

adalah orang optimis yang memandang kesulitan bersifat sementara dan dapat diatasi. Dalam belajar matematika dan menyelesaikan soal matematika, siswa melakukan proses berpikir. Sehingga siswa dapat sampai pada suatu jawaban. Dalam pembelajaran matematika proses berpikir ini kurang diperhatikan oleh guru. Terkadang guru hanya memperhatikan hasil akhir penyelesaian siswa tanpa memperhatikan bagaimana sebenarnya siswa itu dapat sampai pada jawaban itu. Proses berpikir terjadi dalam otak manusia. Informasi-informasi yang masuk diolah di dalamnya, sehingga apa yang sudah ada di dalam perlu penyesuaian bahkan perubahan sama sekali. Proses demikian itu dinamakan adaptasi. Masalah yang diberikan dalam penelitian ini berkaitan dengan aljabar. Pada sub materi pokok Persamaan Linear Satu Variabel. Materi aljabar memungkinkan siswa akan menemui banyak tantangan dalam memecahkan masalah, oleh karena itu siswa harus menggunakan langkah-langkah yang benar agar dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Untuk memecahkan masalah Polya menawarkan suatu strategi yang terdiri atas empat langkah, yakni : memahami masalah (understanding the problem), menyusun rencana penyelesaian masalah (devising a plan),

melaksanakan rencana penyelesaian masalah (carring out the plan), dan mengecek masalah (looking back). 3 Penelitian ini akan dilaksanakan pada siswa SMP, alasan mengapa memilih siswa SMP sebagai subjek penelitian adalah menurut Piaget secara umum siswa SMP memasuki usia 11 atau 12 tahun ke atas memasuki tahap operasi formal. Pada tahap ini seseorang sudah dapat berpikir logis, berpiikir teoritis formal dan logikanya berpikir mulai berkembang. AQ Dan mempermudah kemampuan-

mengungkap

proses

siswa

berdasar

diperlukan

kemampuan sebagaimana yang dimiliki anak pada tahap operasi formal.

Polya, How to Solve it, 1973, hal.

Dari

latar

belakang

di

atas,

peneliti

tertarik

untuk

melakukan

penelitian yang berjudul Identifikasi Proses Berpikir Siswa SMP dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Berdasarkan Adversity Quotient (AQ) .

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana proses berpikir siswa SMP kelas VII quitter dalam

menyelesaikan masalah matematika? 2. Bagaimana proses berpikir siswa SMP kelas VII camper dalam

menyelesaikan masalah matematika? 3. Bagaimana proses berpikir siswa SMP kelas VII climber dalam

menyelesaikan masalah matematika?

C. Tujuan penelitian

1. Untuk mengidentifikasi proses berpikir siswa kelas VII SMP dalam menyelesaikan masalah matematika.

quitter

2. Untuk mengidentifikasi proses berpikir siswa kelas VII SMP camper dalam menyelesaikan masalah matematika. 3. Untuk mengidentifikasi proses berpikir siswa kelas VII SMP climber dalam menyelesaikan masalah matematika.

D. Batasan Istilah 1. AQ adalah kecerdasan mengatasi kesulitan (daya juang). AQ terdiri dari empat komponen utama, yaitu C = control, O2 = origin (asal-usul) dan ownership (pengakuan), R = reach (jangkauan) dan E = endurance (daya tahan). Sering juga disebut CO2RE 2. Proses berpikir adalah suatu proses yang dimulai dengan menerima data, mengolah dan menyimpannya di dalam ingatan serta memanggil kembali dari ingatan pada saat dibutuhkan dalam memecahkan masalah. 3. Pemecahan masalah adalah suatu ranngkaian proses yang dimulai dari memahami masalah, merencanakan masalah, melaksanakan rencana, dan mengecek kembali hasil penyelesaian masalah.

4. Masalah matematika adalah soal matematika yang tidak rutin bagi siswa dan disajikan dalam bentuk soal cerita. 5. Siswa quitter adalah siswa yang memiliki AQ sebesar 59 ke bawah. 6. Siswa camper adalah siswa yang memiliki AQ sebesar 95-134. 7. Siswa climber adlah siswa yang memiliki AQ sebesar 166-200

E. Manfaat Penelitian 1. Sebagai sumbungan teori tentang proses berpikir berdasarkan AQ dalam menyelesaikan masalah matematika. 2. Sebagai berkaitan bahan dengan pertimbangan proses untuk pengembangan AQ, penelitian khususnya yang dalam

berpikir

berdasarkan

penyelesaian masalah matematika.

BAB II KAJIAN TEORI

A. Proses Berpikir 1. Pengertian Berpikir Sejak lahir manusia sudah mempunyai akal. Jika ia

menggunakan akalnya untuk melakukan sesuatu keperluan hidupnya, maka tindakan itu disebut berpikir. Inilah arti kata berpikir secara luas dan paling umum. Berpikir pada dasarnya merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. 4 Berpikir memerlukan dua komponen utama yaitu : informasi yang masuk dan skema yang telah terbentuk dan tersimpan dalam pikiran setiap individu. Informasi yang diperoleh dapat berasal dari kegiatan melihat, mendengar, meraba, merasakan atau mengecap.

Sebagai contoh bila informasi mengenai warna daun, maka seseorang harus seseorang harus melakukan kegiatan melihat. Seseorang yang ingin mendapatkan informasi suara burung maka seseorang tersebut harus melakukan kegiatan mendengar. Skema merupakan struktur

mental yang dengan struktur itu individu secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasikan dengan lingkungan sekitarnya. Skema

tersebut digunakan untuk memproses dan mengidentifikasi informasiinformasi yang masuk. 5 Berpikir individu. adalah adalah aktivitas proses mental yang dilakukan representasi setiap mental

Berpikir

menghasilkan

yang baru melalui transformasi informasi yang melibatkan interaksi secara kompleks antara atribut-atribut
6

mental

seperti

penilaian,

abstraksi dan pemecahan masalah.

Misalnya, pada saat membaca

buku, pasti akan ada informasi yang diterima. Informasi diterima melalui
4 5

berbagai

tahapan.

Informasi

ini

diproses

sehingga

Sudarman, Proses Berpikir Siswa Berdasarkan AQ dalam Menyelesaikan Masalah, 2010, hal.12 Suhartono, Proses Berpikir Kreatif Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Matematika Berdasarkan AQ, 2011, hal. 15 6 Sudarman, Proses Berpikir Siswa Berdasarkan AQ dalam Menyelesaikan Masalah, 2010, hal. 13

menghasilkan apa yang disebut intisari sebagai informasi baru, dan hal ini berarti pula sebagai pengetahuan baru bagi orang tersebut. Menurut Mayer ada tiga pengertian pokok proses berpikir,

yaitu : 1. Berpikir adalah aktifitas kognitif yang terjadi di dalam mental atau pikiran seseorang (tidak tampak), yang dapat disimpulkan berdasarkan perilaku yang tampak, 2. Berpikir merupakan suatu

proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan di dalam system kognitif. Pengetahuan yang tersimpan sekarang di dalam ingatan

digabungkan

dengan

informasi

sehingga

mengubah

pengetahuan seseorang mengenai situasi yang sedang dihadapi, dan 3. Aktivitas berpikir diarahkan untuk menghasilkan pemecahan masalah. B. Adversity Quotient (AQ) 1. Pengertian Adversity Quotient (AQ) Semua orang pasti ingin sukses dalam hidupnya. Akan tetapi banyak yang tidak menyadari bahwa kemampuan meraih kesuksesan atau keberhasilan sangat tergantung pada masing-masing individu. Hal ini terkait dengan kekuatan kepribadian dan kemampuan
7

masing-

masing dalam merespon dalam menghadapi hidup.

Menurut Stoltz

suksesnya pekerjaan dan hidup seseorang banyak ditentukan oleh AQ. Orang yang memiliki AQ lebih tinggi, tidak dengan mudah

menyalahkan pihak lain atas persoalan yang dihadapinya melainkan bertanggung rendahnya jawab AQ untuk menyelesaikan adalah tumpulnya masalah. daya Sebaliknya, tahan hidup,

seseorang

mengeluh sepanjang hari ketika menghadapi persoalan dan sulit untuk melihat hikmah dibalik semua permasalahan yang dihadapinya. Adversity Quotient (AQ) adalah kecerdasan mengatasi masalah (daya juang), yaitu kecerdasan seseorang dalam menghadapi kesulitan yang menghadangnya. Menurut Stoltz AQ mempunyai tiga bentuk , yaitu : 1. AQ adalah suatu kerangka konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua segi kesuksesan, 2. AQ adalah suatu ukuran untuk mengetahui respon seseorang untuk menghadapi
7

Suhartono, Proses Berpikir Kreatif Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Matematika Berdasarkan AQ, 2011, hal. 27

kesulitan, 3. AQ adalah serangkaian peralatan yang memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki respon seseorang terhadap kesulitan. 8 AQ dapat dipandang sebagai ilmu yang menganalisis

kegigihan manusia dalam menghadapi setiap tantangan sehari-harinya. Kebanyakan manusia tidak hanya belajar dari tantangan tetapi mereka bahkan meresponnya untuk memeroleh sesuatu yang lebih baik.

Dalam dunia kerja, karyawan yang ber-AQ semakin tinggi dicirikan oleh semakin meningkatnya kapasitas, produktivitas, dan inovasinya dengan moral yang lebih tinggi. Sebagai ilmu maka AQ dapat ditelaah dari tiga sisi yakni dari teori, keterukuran, dan metode. 9 Cerita berikut adalah untuk memudahkan memahami AQ. Ada dua orang siswa mendapat tugas dari guru. Kedua siswa memberikan respon yang berbeda terhadap tugas yang diberikan. Siswa pertama tidak sanggup mengerjakan tugas dengan baik dan akhirnya menyerah, dia menganggap tugas yang diberikan Sedangkan adalah siswa tugas kedua yang tidak

mungkin

dikerjakan

olehnya.

menyadari

kekurangannya, ia merasa kesulitan untuk menyelesaikannya, namun ia tetap berusaha untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dia mempunyai prinsip bahwa setelah ada kesulitan pasti akan ada kemudahan, dan setelah ada kegagalan pasti ada keberhasilan. Dengan demikian siswa kedua masih tetap berusaha untuk mengatasi tersebut muncul pertanyaan mengapa siswa kesulitan. Dari cerita pertama mengambil

keputusan berhenti menyelesaikan tugas, sementara siswa kedua mau berusaha mengerjakan tugas. Jawaban singkat yang dapat diberikan adalah karena siswa pertama mempunyai AQ lebih rendah dari pada siswa kedua.

2. Kategori AQ Stoltz mengelompokkan orang ke dalam tiga kategori, yaitu : quitter (AQ rendah) camper (AQ sedang), dan climber (AQ tinggi).

Stoltz, Adversity Quotient : Turning Obstacles into Opportunities (mengubah hambatan menjadi peluang). 2000, hal.9 9 http//indosdm.com/pengertian_adversity-quotiens dan manfaatnya-dalam-pemberdayaan-karyawan.html diakses pada tanggal 6 maret 2012

Orang yang termasuk kategori quitter memilki AQ sebesar bawah, camper sebesar 95-134, dan kategori climber sebesar 166-200.

59 ke

Seorang dengan kategori quitter cenderung menghindari tugas yang diberikan guru, semangat belajar rendah, menghindari tantangan dan tidak banyak memberikan sumbangan yang berarti dalam

kelompok belajar. Siswa quitter berusaha menjauh dari tantangan yang diberikan, memilih mundur jika diberikan tugas yang sulit oleh guru. Siswa camper memiliki sedikit inisiatif, sedikit semangat, dan

usahanya kurang maksimal. Siswa

camper adalah anak yang tidak

mau mengambil resiko yang terlalu besar dan merasa puas dengan kondisi atau keadaan yang telah dicapainya yang saat ini. Ia pun Anak

mengabaikan

kemungkinan-kemungkinan

bakal

didapat.

kategori ini cepat puas atau selalu merasa cukup berada di posisi tengah. Mereka tidak memaksimalkan usahanya walaupun peluang

dan kesempatannya ada. Tidak ada usaha untuk lebih giat belajar. Dalam belajar matematika siswa camper tidak berusaha semaksimal mungkin. Mereka berusaha sekedarnya saja. Siswa climber

menyambut baik tantangan, dapat memotivasi diri, memiliki semangat tinggi, mereka cenderung membuat segalanya terwujud, terus mencari cara baru untuk tumbuh dan berkonstribusi, bekerja dengan visi, penuh dengan inspirasi, selalu menemukan cara untuk membuat segala sesuatu terjadi.10

10

Suhartono, Proses Berpikir Kreatif Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Matematika Berdasarkan AQ, 2011, hal.31-32

Profil Quitter, Camper, dan Climber 11

Profil Quitter

Ciri, deskripsi dan Karakteristik Menolak tinggi lagi Gaya hidupnya atau datar tidak dan untuk mendaki lebih

menyenangkan tidak lengkap Bekerja hidup Cenderung

sekedar

cukup

untuk

menghindari

tantangan

berat yang muncul dari komitmen yang sesungguhnya Jarang sekali memiliki

persahabatan yang sejati

Camper

Mereka

mau

untuk

mendaki,

meskipun akan berhenti di pos tertentu, dan merasa cukup sampai disitu Mereka mencapai (satisficer) Masih memiliki sejumlah inisiatif, sedikit usaha. Mengorbankan individunya kepuasan, hubungan lainnya untuk dan kemampuan mendapatkan membina camper semangat, dan beberapa cukup suatu puas tahapan telah tertentu

mampu para

dengan

11

Aat Sriati, Adversity Quotien (AQ), 2008, hal. 6-8

10

Climber

Mereka untuk adalah

membaktikan terus mendaki, yang

dirinya mereka selalu

pemikir

memikirkan kemungkinan

kemungkinan-

Hidupnya lengkap karena telah melewati dan mengalami tahapan menyadari imbalan langkah dilewatinya sebelumnya. bahwa yang kecil akan semua Mereka banyak dalam sedang

diperoleh yang

jangka panjang melalui langkah-

Menyambut memotivasi semangat

baik diri, tinggi, dan

tantangan, memiliki berjuang

mendapatkan yang terbaik dalam hidup; mereka cenderung

membuat segala sesuatu terwujud Tidak takut menjelajahi potensi-

potensi tanpa batas yang ada di antara dan dua manusia; memahami risiko

menyambut yang

baik

menyakitkan

ditimbulkan

karena bersedia menerima kritik Menyambut perubahan, mendorong baik bahkan setiap setiap ikut perubahan

tersebut ke arah yang positif

3. Pentingnya AQ dalam Pembelajaran Matematika Semua konsep matematika memiliki sifat abstrak sebab hanya ada dalam pikiran manusia. Hanya pikiran yang dapat melihat objek
11

matematika. menyebabkan

Objek siswa

dalam kesulitan

matematika dalam belajar

yang

abstrak

dapat Disinilah

matematika.

potensi AQ sangat dibutuhkan dalam belajar matematika. Belajar pada dasarnya adalah mengatasi kesulitan. Dengan adanya kesulitan dapat menjadikan mereka yang dapat mengatasinya menjadi individu yang tangguh dan memberikan kepuasan saat mereka mampu mengatasinya dengan sebaik-baiknya. Kesulitan yang dialami mereka yang ber AQ tinggi dijadikan tantangan sehingga mereka menjadi siswa yang pantang menyerah. Sikap pantang menyerah merupakan factor pembentuk AQ siswa.

Sikap inilah yang perlu ditanamkan kepada setiap siswa dalam belajar matematika. Kecerdasan ini menyangkut kemampuan seseorang untuk dapat mengatasi kesulitan untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Keberanian perlu ditumbuhkan dalam diri siswa untuk menghadapi kesulitan dalam belajar di sekolah. 4. Angket Adversity Response Profile (ARP) Dalam mengelompokkan siswa menjadi tiga kategori, yaitu:

siswa quitter, camper dan climber menggunakan angket

Adversity

Response Profile (ARP.) menurut Stoltz ARP sudah digunakan oleh lebih dari 7.500 orang dari seluruh dunia dengan berbagai macam karier, usia, ras dan budaya. Hasilnya mengungkapkan bahwa ARP merupakan terhadap instrument kesulitan. yang valid juga untuk mengukur respon orang

ARP

telah

digunakan

pada

penelitian-

penelitian di berbagai perusahaan dan sekolah. ARP memuat 30 cerita peristiwa. Setiap peristiwa disertai dua pernyataan yang menggunakan skala bipolar lima poin. Pernyataanpernyataan tersebut ada yang bersifat negative dan ada juga yang bersifat positif. Menurut Stoltz pernyataan negative inilah yang

diperhatikan skornya, karena kita lebih memperhatikan respon-respon terhadap kesulitan. ARP mengukur seluruh komponen AQ, yaitu

Control (C), Original dan Ownership (O2), Reach (R), dan Endurance (E). Rentangan skor masing-masing komponen adalah 10 s.d. 50 sehingga rentangan skor AQ adalah 40 s.d. 200. Siswa yang

memperoleh skor 59 ke bawah termasuk kategori siswa quitter, siswa


12

yang memperoleh skor 60 s.d. 94 termasuk kategori siswa peralihan quitter ke camper, siswa yang memperoleh skor 95 s.d. 134 termasuk kategori siswa camper, siswa yang memperoleh skor 135 s.d. 165 termasuk kategori siswa peralihan camper ke climber, dan siswa yang memperoleh skor 166 s.d 200 termasuk kategori siswa climber.

C. Pemecahan Masalah Masalah namun tidak matematika semua pada umumnya berbentuk soal masalah. matematika, Jika kita

soal

matematika

merupakan

mnghadapi suatu soal

matematika

maka ada beberapa hal yang mungkin

terjadi. Seperti, (a) kita langsung mengetahui atau mempunyai gambaran tentang penyelesaiannya soal itu; (b) tetapi tidak berkeinginan tentang (c) tidak untuk menyelesaikan dan

mempunyai

gambaran

penyelesaiannya mempunyai untuk

berkeinginan tentang

untuk

menyelesaikannya; akan tetapi

gambaran

penyelesaiannya

berkeinginan

menyelesaikan

soal itu; dan (d) tidak mempunyai gambaran tentang penyelesaiannya dan tidak berkeinginan untuk menyelesaikan soal itu. 12 Apabila seorang siswa berada pada kemungkinan (c) maka dikatakan bahwa soal itu adalah masalah baginya. Jadi, agar suatu soal merupakan masalah bagi seorang siswa diperlukan dua syarat yaitu; (1) tidak

mengetahui gambaran tentang jawaban soal itu; (2) berkeinginan untuk menyelesaikan soal tersebut. Soal yang bukan masalah biasanya disebut

soal rutin atau latihan. Untuk memecahkan atau menyelesaikan suatu masalah diperlukan kegiatan mental yang lebih banyak dan kompleks dari pada kegiatan mental yang dilakukan pada waktu menyelesaikan soal rutin. Untuk menawarkan meningkatkan strategi baik kemampuan bagi guru pemecahan maupun masalah, siswa. Sutawijaya untuk

Strategi

eningkatkan kemampuan pemecahan maslah yang berakitan dengan : 1. Siswa harus diberanikan untuk mnerima ketidaktahuan dan mersa senang mencari tahu, 2. Setiap siswa dan kelompok siswa harus diberanikan untuk membuat soal atau pertnyaan, 3. Kadang-kadang siswa

12

Sudarman, Proses Berpikir Siswa Berdasarkan AQ dalam Menyelesaikan Masalah, 2010, hal.37

13

diperbolehkan memilih masalah dari sejumlah masalah yang diberikan, 4. Siswa harus diberanikan untuk mengambil resiko dan mencari alternative.

D. Sub Materi Pokok Sub materi pokok Persamaan Linear Satu Variable merupakan salah satu materi yang diajarkan di kelas VII. Materi yang digunakan dalam penelitian ini terbatas pada Persamaan Linear Satu Variable khususnya pada soal cerita, dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sebagai berikut :

Standar Kompetensi

: Memahami bentuk aljabar, persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel.

Kompetensi Dasar

: Menyelesaikan Persamaan Linear Satu Variabel.

Persamaan

Linear

Satu

Variable

adalah

kalimat

terbuka

yang

dihubungkan dengan tanda sama dengan (=) dan hanya mempunyai satu variable berpangkat satu. Bentuk umum Persamaan Linear Satu Variable adalah ax + b = 0, dengan a 0. 13

13

Dewi Nuharini, dkk., Matematika Konsep dan Aplikasinya 1, 2008, hal.106

14

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Pengungkapan proses berpikir tersebut dilakukan dengan

memberikan masalah kepada setiap subjek yang terpilih dari siswa climber, camper dan quitter. Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan kemampuannya dan menjawab apa adanya yang sedang dipikirkan ketika secara diwawancarai. alami yang Penelitian dilakukan ini siswa ingin mengungkap menjawab fenomena masalah

ketika

matematika, maka menurut Sugiyono jenis penelitian ini termasuk penelitian kualitatif yang bersifat eksploratif.14

B. Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di sekolah SMP Mojokerto, dengan subjek penelitian siswa kelas VII SMP Mojokerto.

C. Prosedur Penelitian Penelitian dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Tahap persiapan a. Menentukan materi yang digunakan. Dalam penelitian ini materi yang diguanakan adalah persamaan linear satu variable. b. Merancang instrument penelitian sebagai alat pengumpul data yang meliputi ARP, lembar tugas dan wawancara. c. Observasi ke sekolah (lokasi penelitian), hal ini dilakukan untuk memperoleh penelitian. d. Mengajukan kesepakatan dengan guru mata pelajaran matematika mengenai kelas dan waktu yang akan digunakan penelitian. informasi dari pihak sekolah mengenai perijinan

14

Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, 2005 hal 25

15

2. Tahap pelaksanaan a. Pemberian angket Adversity Response Profile (ARP) Pemberian ARP kepada semua kelas VII, kemudian hasilnya dianalisis guna mengambil subjek penelitian. Minimal satu dari kategori quitter, camper dan climber. b. Pemberian lembar tugas pada subjek penelitian Lembar tugas berupa tugas pemecahan masalah matematika

dalam bentuk soal cerita. Lembar tugas tersebut diberikan kepada subjek penelitian untuk dikerjakan, proses hal ini berfungsi siswa untuk dalam

mengumpulkan

data

tentang

berpikir

menyelesaikan masalah berdasarkan langkah-langkah Polya.

D. Instrument Penelitian 1. Angket Adversity Response Profile (ARP) Angket Adversity siswa Response dalam tiga Profile (ARP) digunakan siswa untuk quitter,

mengelompokkan

kategori,

yaitu

camper, dan climber. ARP ini diperoleh dari hasil modifikasi ARP Stoltz. Modifikasi ARP ini dilakukan agar peristiwa yang terjadi sesuai dengan keadaan siswa pada tingkat SMP. ARP sebelum

digunakan divalidasi terlebih dahulu.

16

Proses penyusunan angket ARP modifikasi sebagai berikut

Menyusun angket ARP

Draf angket ARP modifikasi

Validasi draf ARP modifikasi

tidak
Valid?

revisi

Ya ARP valid

Keterangan : : Urutan kegiatan : Kegiatan

:Hasil kegiatan

: Pilihan

17

2. Lembar Tugas Siswa Lembar tugas berupa tugas pemecahan masalah matematika

dalam bentuk soal cerita. Lembar tugas tersebut diberikan kepada subjek penelitian untuk dikerjakan, proses hal ini berpikir berfungsi siswa Polya. untuk dalam Lembar

mengumpulkan menyelesaikan

data masalah

tentang

berdasarkan

langkah-langkah

tugas sebelum digunakan divalidasi terlebih daulu oleh validator. 3. Pedoman Wawancara Pedoman berpikir yang Polya. siswa wawancara dalam digunakan untuk mengetahui proses

menyelesaikan

masalah.

Pertanyaan-pertanyaan ditawarkan melakukan oleh satu

disusun

berdasarkan

langkah-langkah setelah

yang subjek

Wawancara

dilaksanakan

langkah penyelesaian dalam menjawab soal secara tertulis pada lembar tugas. Wawancara segera dilakukan karena peneliti beranggapan

subjek masih segar ingatannya terhadap proses yang dialaminya. E. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dilaksanakan di sekolah dengan waktu diatur bersama dengan guru mata pelajaran matematika. Pada satu kali

kunjungan, setiap subjek hanya diminta menyelesaikan satu masalah. Hal ini dilakukan agar subjek tidak bosan dan kelelahan. Dan waktu belajar juga tidak tersita seluruhnya untuk kegiatan penelitian.

F. Metode Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penilitian ini adalah analisis data kualitatif. Dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif sampai tuntas datanya dan berlangsung terus menerus pada setiap tahap penelitian.

18

DAFTAR PUSTAKA

Gie, T. L. 2003. Teknik BerpikirKreatif : Petunjuk bagi Mahasiswa untuk Menjadi Sarjana Unggul. Yogyakarta: PUBIB dan Sabda Persada. http//indosdm.com/pengertian_adversity-quotiensdanmanfaatnya-dalampemberdayaan-karyawan.html diakses pada tanggal 06 Maret 2012. Nuharini, Dewi, dkk. 2008. Matematika Konsep dan Aplikasinya. Jakarta: CV. Usaha Makmur. Polya, G. 1973. How to Solve It. New York. Doubleday. Ronnie, M. D. The Power of Emotional dan Adversity Quotient for Teacher. Jakarta: Hikmah (PT. Mizan Publika). Sudarman. 2010. Proses Berpikir Siswa Tidak Berdasarkan AQ dalam Surabaya:

Menyelesaikan

Masalah.

Disertasi.

dipublikasikan.

Pasca Sarjana UNESA. Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Suhartono. 2011. Proses Berpikir Kreatif Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Matematika Berdasarkan AQ. Makalah Komprehensif.

Surabaya: Pasca Sarjana UNESA. Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia : Kontatasi Keadaan Direktorat Nasional. Sriati, Aat. 2008. Adversity Quotient (AQ). Jatinagor: Makalah. Stoltz, P.G. 2000. Adversity Quotient : Turning Obstacles into Opportunities (mengubah hambatan menjadi peluang). Terjemahan oleh: T. Masa Kini Menuju Harapan Tinggi, Masa Depan. Jakarta:

Jendral

Pendidikan

Departemen

Pendidikan

Hermaya. Jakarta: PT. gramedia Widiasarana Indonesia.

19