Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH GINEKOLOGI JENIS PENYAKIT KANDUNGAN/GINEKOLOGI RADANG PADA GENETALIA WANITA

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 2: 1. 2. 3. 4. 5. INDAH YUNITA PRATIWI JUMIYATI KARINA ATIKA LAELI NOPIYANTI MEDIYANI SUWARNO 712403S.10.026 712403S.10.031 712403S.10.033 712403S.10.034 712403S.10.037

TINGKAT IIA/SEMESTER III UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM DIPLOMA KESEHATAN PROGRAM STUDI KEBIDANAN 2011/2012

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, ucapan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME. Tuhan sarwa sekalian alam, pemilik segenap kekuatan. Dialah Maha Pengasih, Tuhan yang tak pilih kasih, Maha Penyayang yang tak pandang sayang. Dengan segenap kekuatan yang Dia limpahkan, penulis mampu menyelesaikan makalah yang berjudul JENIS PENYAKIT KANDUNGAN/GINEKOLOGI RADANG PADA GENETALIA WANITA dengan sebaik-baiknya. Dalam penyelesaian Makalah ini penulis mengalami banyak kesulitan, karena keterbatasan ilmu pengetahuan yang dimiliki penulis. Namun, berkat bantuan dari semua pihak, akhirnya karya tulis mahasiswa ini dapat terselesaikan walau masih banyak kekurangan. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. 2. 3. Orang tua yang selalu memberi dorongan, semangat, dan doa; Dosen pengajar mata kuliah Ginekologi, ibu Nyoman Sudarmi, S.ST Teman-teman di program studi kebidanan Universitas Muhammadiyah Mataram. Harapan penulis kedepan, semoga kritik dan saran dari pembaca tetap tersalurkan, dan semoga makalah ini dapat terkesan di hati semua orang sehingga dapat menjadi panutan ilmu pengetahuan.

Mataram, Desember 2011

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. A. Latar Belakang ................................................................... B. Tujuan ................................................................................ 1. Tujuan Umum .............................................................. 2. Tujuan Khusus ............................................................. C. Manfaat .............................................................................. 1. Bagi Tenaga Kesehatan ................................................ 2. Bagi pasien atau klien .................................................. 3. Bagi institusi pendidikan .............................................. 4. Bagi penulis .................................................................. BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................ A. Pandangan Umum Mengenai Definisi Proses Radang......... B. Infeksi Alat Kandungan ....................................................... C. Radang pada Genetalia Eksterna .......................................... 1. Bartolinitis ...................................................................... 2. Vaginitis dan Vulvitis .................................................... 3. Vulvovaginitis ................................................................ D. Radang pada Genetalia Interna ............................................ 1. Cervicitis ........................................................................ 2. Endometritis ................................................................... 3. Myometritis .................................................................... 4. Parametritis (Celulit Pelvica) ......................................... 5. Adnexitis/Salpingitis ...................................................... 6. Peritonitis Pelvika (pelvioperitonitis) ............................ E. Pemeriksaan dan Penanganan dari Penyakit Ginekologi ..... 1. Pemeriksaan Penyakit Ginekologik ............................... 2. Penaganan Penyakit Ginekologi ....................................

i ii 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 3 3 3 4 4 5 7 7 7 9 10 10 11 14 15 15 21

BAB III PENUTUP ....................................................................................... 24 A. Kesimpulan .......................................................................... 24 B. Saran .................................................................................... 24

ii

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 26

iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pada wanita terdapat hubungan dari dunia luar dengan rongga peritonium melalui vulva, vagina, uterus dan tuba fallopi. Untuk mencegah terjadinya infeksi dari luar dan untuk menjaga jangan sampai infeksi meluas, masing-masing alat traktus genetali memiliki mekanisme pertahanan. Vulva umumnya lebih resisten terhadap infeksi, sehingga luka-luka ringan lekas sembuh, kecuali kemasukan kuman-kuman yang benar-benar patogen. Penutupan vulva oleh labia mayora dan labio minora sedikit banyak memberi perlindungan terhadap infeksi. Infeksi rendah tidak seberapa mempengaruhi keadaan umum dan kurang berbahaya, sebaliknya infeksi tinggi sangat besar pengaruhnya pada kesehatan karena dapat menimbulkan infertilitas, perlekatan-perlekatan, malahan kematian dan sukar diobati.

B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui radang pada genitalia wanita, khususnya radang pada genitalia eksterna dan interna. 2. Tujuan Khusus a. Mampu menguraikan tentang radang pada genitalia wanita, khususnya radang pada genitalia eksterna dan interna. b. Mampu mengidentifikasi gejala dan penanganan dari radang genitalia.

C. Manfaat Penulisan 1. Bagi tenaga kesehatan Menambah pengetahuan tenaga kesehatan tentang radang pada genitalia wanita.

2. Bagi pasien atau klien Mampu memberikan penjelasan tentang radang pada genitalia wanita tepat pada pasien sesuai dengan kebutuhan pasien atau klien. 3. Bagi institusi pendidikan Sebagai dokumen dan bahan dalam penelitian selanjutnya. 4. Bagi penulis Menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas tentang radang pada genitalia wanita yang didapat selama perkuliahan.

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pandangan Umum Mengenai Definisi Proses Radang Pengalaman sejarah menunjukan bahwa di mana-mana pengetahuan tentang proses radang atau inflamasi dipretasikan secara berlebihan. Celcius, pertama kali mendefinisikan proses radang sebagai suatu kesatuan dari empat macam tanda kardinal dari radang, yaitu hiperemis/kemerahan (rubor), pertambahan panas (kalor), adanya benjolan (tumor) secara lokal, dan adanya rasa nyeri (dolor). Sesudah dua abad berikutnya, Galien menambahkan gangguan fungsionil sebagai tanda kelima dari proses radang. Analisa proses radang menjadi lebih tepat setelah penemuan Pasteur mengenai adanya agen patogen, yang mengubah konsep radang sebagai berikut: Radang adalah suatu reaksi pertahanan organisme terhadap serangan agen patogen, mengadakan perlawanan terhadap agen patogen dan memperbaiki kerusakan jaringan. Pada suatu penyakit, proses radang menjadi suatu reaksi yang menguntungkan dan bertujuan untuk menjaga

keseimbangan (homeiostasis) dari organisme tersebut.

B. Infeksi Alat Kandungan Pada wanita, rongga perut langsung berhubungan dengan dunia luar dengan perantara traktus genetalis. Bahwa jarang terjadi infeksi rongga perut disebabkan karena: a. Sifat bactericide dari vagina yang mempunyai pH rendah. b. Lendir yang kental dan liat pada canalis servicalis yang menghalangi naiknya kuman-kuman. Radang alat kandungan lebih sering terjadi di negara tropis, karena: a. Hygiene belum sempurna. b. Perawatan persalinan dan abortus belum memenuhi syarat-syarat. c. Infeksi veneris belum terkendali.

Tetapi dengan adanya antibiotika pada umumnya infeksi alat kandungan berkurang. Infeksi alat kandungan dapat menurunkan fertilitas,

mempengaruhi keadaan umum dan mengganggu kehidupan sex.

C. Radang pada Genetalia Eksterna 1. Bartolinitis Bartolinitis adalah Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar wanita. Bartolinitis disebabkan oleh infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang terletak di bagian dalam vagina agak keluar. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh : Virus Jamur Protozoa Bakteri : kondiloma akuminata dan herpes simpleks. : kandida albikan. : amobiasis dan trikomoniasis. : neiseria gonore.

Patofisiologi Pada vulva : perubahan warna kulit,membengkak, timbunan nanah dalam kelenjar, nyeri tekan. Kelenjar bartolin membengkak, terasa nyeri sekali bila penderia berjalan atau duduk,juga dapat disertai demam. Kebanyakkan wanita dengan penderita ini datang ke Puskesmas dengan keluhan keputihan dan gatal, rasa sakit saat berhubungan dengan suami, rasa sakit saat buang air kecil, atau ada benjolan di sekitar alat kelamin.. Terdapat abses pada daerah kelamin. Pada pemeriksaan fisik ditemukan cairan mukoid berbau dan bercampur dengan darah. Pengobatan Pengobatan yang cukup efektif saat ini adalah dengan: antibiotika golongan cefadroxyl 500 mg, diminum 31 sesudah makan, selama sedikitnya 5-7 hari, dan asam mefenamat 500 mg (misalnya: ponstelax, molasic, dll), diminum 31 untuk meredakan rasa nyeri dan

pembengkakan, hingga kelenjar tersebut mengempis.

2. Vaginitis dan Vulvitis Vaginitis adalah suatu peradangan pada lapisan vagina. Vulvitis adalah suatu peradangan pada vulva (organ kelamin luar wanita). Vulvovaginitis adalah peradangan pada vulva dan vagina. Penyebab : Infeksi : Bakteri (misalnya klamidia, gonokokus) amur (misalnya kandida), terutama pada penderita diabetes, wanita hamil dan pemakai antibiotic Protozoa (misalnya Trichomonas vaginalis) Virus (misalnya virus papiloma manusia dan virus herpes).

Zat atau benda yang bersifat iritatif Spermisida, pelumas, kondom, diafragma, penutup serviks dan spons Sabun cuci dan pelembut pakaian Deodoran Zat di dalam air mandi Pembilas vagina Pakaian dalam yang terlalu ketat, tidak berpori-pori dan tidak menyerap keringat Tinja Tumor ataupun jaringan abnormal lainnya

Terapi penyinaran Obat-obatan Perubahan hormonal Gejala : Gejala yang paling sering ditemukan adalah keluarnya cairan abnormal dari vagina. Dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak, baunya menyengat atau disertai gatal-gatal dan nyeri. Cairan yang abnormal sering tampak lebih kental dibandingkan cairan yang normal dan

warnanya bermacam-macam. Misalnya bisa seperti keju, atau kuning kehijauan atau kemerahan. Infeksi vagina karena bakteri cenderung mengeluarkan cairan berwarna putih, abu-abu atau keruh kekuningan dan berbau amis. Infeksi karena Trichomonas vaginalis menghasilkan cairan berbusa yang berwarna putih, hijau keabuan atau kekuningan dengan bau yang tidak sedap. Gatal-gatalnya sangat hebat. Luka terbuka yang menimbulkan nyeri di vulva bisa disebabkan oleh infeksi herpes atau abses. Luka terbuka tanpa rasa nyeri bisa disebabkan oleh kanker atau sifilis. Kutu kemaluan (pedikulosis pubis) bisa menyebabkan gatal-gatal di daerah vulva. Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan karakteristik cairan yang keluar dari vagina. Contoh cairan juga diperiksa dengan mikroskop Untuk dan dibiakkan untuk adanya mengetahui keganasan, organisme dilakukan

penyebabnya.

mengetahui

pemeriksaan Pap smear. Pada vulvitis menahun yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan biasanya dilakukan pemeriksaan biopsi jaringan. Pengobatan Umum Untuk Vaginitis & Vulvitis a. Jamur : Miconazole, clotrimazole, butoconazole atau terconazole (krim, tablet vagina atau supositoria) Fluconazole atau ketoconazole (tablet) b. Bakteri : Biasanya metronidazole atau clindamycin (tablet vagina) atau metronidazole (tablet). Jika penyebabnya gonokokus biasanya diberikan suntikan ceftriaxon & tablet doxicyclin c. Klamidia : Doxicyclin atau azithromycin (tablet) d. Trikomonas : Metronidazole (tablet)

e. Virus papiloma manusia (kutil genitalis) : Asam triklorasetat (dioleskan ke kutil), untuk infeksi yg berat digunakan larutan nitrogen atau fluorouracil (dioleskan ke kutil) f. Virus herpes : Acyclovir (tablet atau salep)

3. Vulvovaginitis Vulvovaginitis adalah iritasi/inflamasi pada kulit daerah vulva dan vagina. Iritasi ini dapat menyebabkan terjadinya: gatal-gatal (45-58%) di sekitar daerah labia mayora (bibir vagina besar), labia minor (bibir vagina kecil), dan daerah perineal (daerah perbatsan antara vagina dan anus) kemerahan dan rasa seperti terbakar pada kulit (82%) rasa tidak nyaman pada kulit terutama pada saat atau setelah buang air kecil banyaknya lendir yang keluar dari vagina (62-92%) pendarahan (5-10%) Penyebab Vulvovaginitis a. Infeksi oleh bakteria, jamur, virus, dan parasit lainnya baik karena kurangnya kepedulian menjaga kebersihan vulva dan vagina juga oleh penyakit menular lainnya. b. Penggunaan bahan-bahan kimia yang terdapat pada sabun mandi, parfum, dan lainnya yang digunakan pada vulva dan vagina. Hal ini dapat mengaibatkan iritasi jaringan sekitar dan dapat mempermudah terkena vulvovaginitis. c. Kebiasaan sehari-hari seperti pengunaan baju basah, pengunaan celana dalam terlalu ketat, celana dalam kurang bersih, dan kebiasaan membersihkan anus sehabis BAB yang tidak tepat.

D. Radang pada Genetalia Interna 1. Cervicitis Cervicitis (endocervicitis) ialah radang dari selaput lendir canalis cervicalis. Karena epitel selaput lendir canalis cervicalis hanya terdiri dari satu lapisan sel silindris maka lebih mudah terkena infeksi dibandingkan dengan selaput lendir vagina.

Walaupun begitu canalis cevicalis terlindung dari infeksi oleh adanya lendir yang kental yang merupakan barriere terhadap kumankuman yang ada dalam vagina. Terjadinya cervicitis dipermudah oleh adanya robekan cervix terutama yang menimbulkan ectropion. Gejala a. Flour hebat biasanya kental atau purulent dan kadang-kadang berbau. b. Sering menimbulkan erosio (erythoplaki) pada portio yang nampak sebagai daerah yang merah menyala. c. Pada pemeriksaan in speculo kadang-kadang dapat dilihat flour yang purulent keluar dari canalis cervicalis. Kalau portio normal, tidak ada ectropion, maka harus diingat kemungkinan gonorhoe. d. Sekunder dapat terjadi kolpilis dan vulvitis. e. Pada cervicitis yang kronis kadang-kadang dapat dilihat bintik putih dalam daerah selaput lendir yang merah, karena infeksi. Bintik-bintik ini disebut ovula Nabothii dan disebabkan oleh retensi kelenjarkelenjar cervix karena saluran keluarnya tertutup oleh pengisutan dari luka cervix atau karena radang. Sebab-sebab a. Gonorehoe : sedian hapus dari fluor cervix terutama yang purelent. b. Sekunder terhadap kolpitis. c. Tindakan intrauterin : dilatasi dll. d. Alat-alat atau alat kontrasepsi. e. Robekan cervix terutama yang menyebabkan ectropion. Ulcus pada portio: Ulcus carcinomatosum Ulcus leuticum Ulcus tuberculosum

DD: dengan eksisi percobaan Erosio Portionis: Pada cervicitis chronica sering terdapat erosio pada permukaan portio sekitar ostiom uteri externum. Oleh karena rangsangan luar maka epitel

gepeng berlapis banyak dari portio mati dan diganti dengan epitel silindris canalis cervicalis. Jadi sebetulnya tidak terjadi erosio dalam arti yang sebenarnya tapi pseudo-erosio walaupun lazim disebut erosio (Erosio Simplex). Erosio ini nampak sebagai tempat yang merah menyala dan agak mudah berdarah. Jarang terjadi erosio vena dimana tempat itu tidak mempunyai epitel lagi. Terapi: Antibiotika terutama kalau dapat ditemukan gonococcus dalam sekret. Kalau cervicitis tidak spesifik dapat diobati dengan rendaman dalam AgNO3 10% dan irigasi. Cervicitis yang tak mau sembuh ditolong operatif dengan melakukan konisasi. Kalau sebabnya ectropion dapat dilakukan plastik atau amputasi. Erosio dapat disembuhkan dengan obat keras seperti AgNO3 10% atau Albothyl yang menyebabkan nekrose epitel silindris dengan harapan bahwa kemudian diganti dengan epitel gepeng berlapis banyak.

2. Endometritis a. Endometritis Akut Terutama terjadi postpartum atau postabortum. Pada

endometritis postpartum regenerasi endometrium selesai pada hati ke9, sehingga endometritis postpartum pada umumnya terjadi sebelum hari ke-9. Endometritis postabortum terutama terjadi pada abortus provacatus. Endometritis juga dapat terjadi pada masa senil. Gejala Demam Lochia berbau : pada endometritis postabortum kadang-kadang keluar fluor yang purulent. Lochia lama berdarah malahan terjadi metrorhagi.

Kalau radang tidak menjalar ke parametrium atau perimetrium tidak ada nyeri.

Terapi Uterotonika Istrahat, letak Fowler Antibiotika Emdometritis senilis perlu dikuret untuk menyampingkan corpus carcinoma. b. Endometritis Kronisa Gejala: Fluor albus yang keluar Kelainan haid seperti metrorhagi dan menorrhargi

Terapi Perlu dilakukan kuretase untuk DD dengan carcinoma corpus uteri, polyp atau myoma submucosa. Kadang-kadang dengan kuret ditemukan endometritis tuberculosa. Kuretase juga bersifat therapeutis.

3. Myometritis Biasanya tidak berdiri sendiri tetapi lanjutan dari endometritis, maka gejala-gejala dan terapinya seperti endometritis. Diagnosa hanya dapat dibuat secara patalog-anatomis.

4. Parametritis (Celulit Pelvica) Parametritis adalah radang dari jaringan longgar di dalam liglatum. Radang ini biasanya unilateral. Etiologi: Parametritis dapat terjadi: a. Dari endometritis dengan 3 cara : Per continuitatum : endometritis metritis parametritis Lymphogen

10

Haematogen : phlebitis periphlebitis parametritis

b. Dari robekan cervix. c. Perforasi uterus oleh alat-alat (sonde, kuret, IUD). Gejala-gejala: Suhu tinggi dengan demam menggigil. Nyeri unilateral tanpa gejala rangsangan peritoneum, seperti muntah, defense dll. Diagnosa: Setelah beberapa lama dengan toucher dapat diraba infiltrat ini lebih jelas teraba dengan toucher rectal. Uterus terdesak ke pihak yang sehat.

Penyulit: Parametritis akut dapat menjadi kronis dengan eksaserbasi yang akut. Dapat terjadi thrombophlebitis. Thrombophlebitis pelvica ini dapat menimbulkan emboli. Dapat timbul abses dalam parametrium. Maka timbullah demam intermittens dan infiltrat menjadi lunak dan ada fluktuasi (pada toucher). Abses ini harus dipunksi melalui cavum Douglasi atau di atas lig inguinale. DD : Adnexitis : Infiltrat lebih tinggi dan tidak sampai ke dinding panggul : biasanya bilateral. Terapi : antibiotika resorptif.

5. Adnexitis/Salpingitis a. Adnexitis/Salpingitis Akut Salpingitis menjalar ke ovarium hingga juga terjadi oophoritis. Salpingitis dan Oophoritis diberi nama Adnexitis. Etiologi:

11

Paling sering disebabkan oleh gonococcus, disamping itu oleh staphylococ, streptococ dan bac tbc. Infeksi dapat terjadi sebagai berikut: Naik dari cavum uteri. Menjalar dari alat yang berdekatan seperti dari appendix yang meradang. Haematogen terutama salpingitis tuberculosa. Salpingitis biasanya bilateral. Gejala-gejala : Demam tinggi dengan menggigil, pasien sakit keras. Nyeri kiri dan kanan diperut bagian bawah terutama kalau ditekan. Defense kiri dan kanan di atas lig Poupart. Mual dan muntah : jadi ada gejala abdomen akut karena terjadi perangsangan peritoneum. Kadang-kadang ada tenesmi ad anum karena proses dekat pada rectum atau sigmoid. Loucher : nyeri kalau portio digoyangkan. Nyeri kiri dan kanan dari uterus. Kadang-kadang ada penebalan dari tuba. Tuba yang sehat tak dapat diraba. Harus diketahui bahwa tekanan pada ovarium selalu menimbulkan nyeri walaupun tidak meradang. Menorrhagi dan dysmenorrhoe. Sekunder biasanya terjadi oophoritis. Salpingoophoritis lebih sering disebut adnexitis. Karena adnexitis, terjadi perlekatan dengan usus yang dapat diraba sebagai tumor. Jadi tumor ini merupakan tumor radang dan disebut adnex tumor. Tumor dari ovarium sendiri disebut tumor ovarium. DD.: Kehamilan ektopik : biasanya tidak ada demam. LED tidak meninggi dan lekositose tidak seberapa.
12

Kalau tes kehamilan positif (Galli Marinini) maka adnexitis dapat dikesampingkan tapi kalau negatif keduanya mungkin. Appendicitis : tempat nyeri tekan lebih tinggi (Mc. Burney).

Terapi : Istirahat, broad spectrum antibiotica dan corticosteroid. Usus harus kosong.

b. Adnexitis Kronisa Adnexitis Kronisa terjadi : Sebagai lanjutan dari adnexitis akut. Dari permulaan sifatnya kronis seperti adnexitis tuberculosa.

Gejala-gejala : Anamnesis telah menderita adnexitis akut. Nyeri diperut bagian bawah ; nyeri ini bertambah sebelum dan sewaktu haid. Kadang-kadang nyeri dipinggang atau waktu buang air besar. Dysmenorrhoe. Menorrhagi. Infertilitas.

Diagnosa : Dengan toucher dapat teraba adnex tumor. Adnex tunor ini dapat berupa pyosalpinx atau hydrosalpinx. Karena perisalpingitis dapat terjadi perlekatan dengan alat-alat sekitarnya. LED meninggi dan biasanya ada leko dan lymphocytosis. Salah satu bentuk yang khas ialah yang disebut salpingitis isthmica berupa tonjolan kecil yang dapat menyerupai myoma. Adnexitis pada seorang virgo harus menimbulkan kecurigaan pada adnexitis tuberculosa.

13

DD : Kalau adnex tumor bilateral maka diagnosa boleh dikatakan pasti. Adnex tumor yang unilateral harus dibedakan dari : Appendicitis chronica Kehamilan ektopik yang terganggu (abortus tubair)

Terapi : Antibiotika dan istirahat. UKG. Kalau tidak ada perbaikan dipertimbangkan terapi operatif

6. Peritonitis Pelvika (pelvioperitonitis) Salpingo-ooforitis akuta sering bersamaan dengan radang peritoneum pelvik. Pada serosa tuba, ovariun dan alat-alat disekitarnya, seperti uterus, fleksura sigmoidea, dan usus halus dijumpai eksudat serous atau fibrinous, yang dengan meredanya proses radang, diikuti oleh perlekatan-perlekatan antara alat-alat tersebut. Akan tetapi, ada kemungkinan pula bahwa eksudat bernanah. Sedang pada infeksi puerperal dan postabortum ada kecendrungan, bahwa radang menjadi peritonitis umum, maka pada infeksi gonorea biasanya infeksi terbatas pada daerah pelvik. Jika eksudat bernanah, maka nanah berkumpul di cavum Douglasi. Gejala-gejala Peradangan lebih nyata jika pada salpingo-ooforitis peritoneum pelvik ikut serta. Selain demam dan leukositosis rasa nyeri biasanya lebih berat, penderita merasa mual, terdapat defense musculaire, gerakan uterus menimbulkan perasaan sangat nyeri. Jika ada abses di kavum Douglasi, teraba tumor diatas batas-batas yang tidak nyatadi belakang uterus, dan yang menonjol ke forniks vagina posterior. Terapi pada peritonitis pelvik yang akut tidak berbeda dari terapi pada Salpingo-ooforitis akuta. Jika terjadi abses di kavum Douglasi, maka terapi yang tepat ialah kolpotomia posterior dan drainase.

14

E. Pemeriksaan dan Penanganan dari Penyakit Ginekologi Seorang wanita yang datang untuk keluhan ginekologik dan mengajukan hal-hal yang berhubungan dengan alat kelaminnya cenderung menunjukkan gejela-gejala kecemasan, kegelisahan, rasa takut dan rasa malu. Dalam mengahadapi seorang penderita ginekologik terutama pada pemeriksaan pertama kali dari dokter sangat diperlukan pengertiaan, kesabaran dan sikap yang menimbulkan kepercayaan. Dalam anamnesis penderita perlu diberi kesempatan untuk

mengutarakan keluhan-keluhan secara spontan, kemudian ditanyakan gejalagejala tertentu yang menuju kearah kemungkinan diagnostic. 1. Pemeriksaan Penyakit Ginekologik a. Anamnesis Secara rutin ditanyakan umur penderita, sudah menikah atau belum, siklus haid, penyakit yang pernah di derita, dan operasi yang pernah dialami. 1) Riwayat penyakit umum Perlu ditanyakan apakah penderita pernh menderita penyakit berat, seperti TBC, jantung, ginjal, DM, dan jiwa. 2) Riwayat obstetric Perlu diketahui riwayat tiap-tiap kehamilan sebelumnya, apakah berakhir dengan keguguran atau dengan persalinan, apakah persalinan normal atau operasi. 3) Riwayat haid Haid merupakan peristiwa sangat penting dalam kehidupan wanita. Perlu diketahui menarche, siklus haid teratur atau tidak, banyaknya darah yang keluar waktu haid, lamanya haid, disertai rasa nyeri atau tidak. 4) Riwayat ginekologi Riwayat penyakit/kelainan ginekologi serta pengobatannya dapat memberi keterangan penting, terutama operasi yang pernah dialami.

15

5) Keluhan sekarang Mendengar keluhan penderita sangat penting untuk pemeriksaan pertanyaan yang sangat sederhana seperti untuk apa ibu datang kemari atau apa keluhan ibu dapat memberi keterangan banyak kearah diagnosis. 6) Perdarahan Perlu ditanyakan apakah perdarahan itu ada hubungannya dengan siklus haid atau tidk,banyaknya dan lamanya perdarahan.Jadi,perlu diketahui apakah yang sedang dihadapi itu menoragia,

hipermenorea, polimenorea, apakah hipomenorea, oligomenorea ataukah metroragia. 7) Fluor albus Fluor albus atau keputihan,walaupun tidak mengandung bahaya maut, cukup mengganggu penderita, baik fisik maupun mental. Sifat dan banyknya keputihan dapat memberi petunjuk kearah etiologinya. Perlu ditanyakan sudah berapa lama keluhan itu, terus menerus atau pada waktu-waktu tertentu saja, banyaknya, warnanya, baunya, disertai rasa gatal/nyeri atau tidak. 8) Rasa nyeri Rasa nyeri di perut,panggul,pinggang,atau alat kelamin luar dapat merupakan gejala dari beberapa kelainan ginekologik.Dalam menilai gejala ini dapat dialami kesulitan karena faktor subjektifitas memegang peranan penting. 9) Miksi Keluhan dari saluran kencing sering menyertai kelainan

ginekologik.karena itu perlu ditanyakan rasa nyeri waktu kencing,seringnya kencing,retensi urine,kencing tidak lancar atau tidak tertahan. 10) Defekasi Beberapa penyakit yang berasal dari rectum dan kolom sigmoid sering menimbulkan kesulitan dalam diagnosis penyakit

16

ginekologik.karena itu penderita harus selalu ditanya tentang BABnya apakah ada kesulitan defekasi,apakah defekasi disertai rasa nyeri,atau encer disertai lendir atau darah. Untuk pemeriksaan ginekologik dikenal 3 jenis letak : 1) Letak litotomi Letak ini yang paling popular, terutama di Indonesia. Untuk itu diperlukan meja ginekologik dengan penyangga bagi kedua tungkai. Penderita berbaring ditasnya sambil lipat lututnya diletakkan pada penyangga dan tungkainya dalam fleksi santai, sehingga penderita berbaring dalam posisi mengangkang. 2) Letak miring Penderita diletakkan di pinggir tempat tidur miring kesebelah kiri, sambil paha dan lututnya ditekuk dan kedua tungkai sejajar. 3) Letak sims Letak ini hampir sama dengan letak miring,hanya tungkai kiri harus lurus,tungki kanan ditekuk kearah perut, dan lututnya diletakkan pada alas (tempat tidur), sehingga panggul membuat sudut miring dengan alas, lengan kiri dibelakang badan dan bahu sejajar dengan alas. Dengan demikian, penderita berbaring setengah tengkurap.

b. Pemerisaan genetalia eksterna Dalam letak litotomi alat kelamin luar tampak jelas.Dengan inspeksi perlu diperhatikan bentuk, warna, pembengkakan, dsb dari genetalia eksterna, perineum, anus dan sekitarnya, dan apakah ada darah atau fluor albus.

c. Pemeriksaan dengan speculum Dengan menggunakan speculum diperiksa dinding vagina, dan portio vaginalis dan servisis uteri. Untuk pemeriksaan dengan speculum mutlak diperlukan lampu penerang yang cukup.

17

d. Pemeriksaan bimanual Pemeriksaan genetalia interna dilakukan dengan kedua tangan, dua jari, atau satu jari dimasukkan ke dalam vagina atau satu jari ke dalam rectum, sedangkan tangan lain diletakkan di dinding perut.

e. Pemeriksaan rectal Dengan sarung tangan dan bahan pelumas biasanya minyak, jari telunjuk dimasukkan ke dalam rectum.

f. Pemeriksaan dalam nikrosis Pemeriksaan ini sebaiknya baru dilakukan apabila memang benarbenar diperlukan. Karena perasaan nyeri tulang, maka dapat terjadi pecahnya kista, kehamilan ekstra uterin yang belum terganggu, hidro, hemato, dan piosalping atau terlepasnya pelekatan peritoneal sebagai perlindungan, tidak dirasa oleh penderita dan tidak segera dikethui oleh pemeriksa.

g. Pemeriksaan Khusus 1) Pemeriksaan laboraturium biasa Tidak selalu,akan tetapi apabila dianggap perlu, dilakukan pemeriksaan darah dan urine. Kadar hb diperiksa pada wanita yang tampak pucat mengalami perdarahan, pada wanita hamil, dan pada persangkaan kehamilan ekstra uterin terganggu. Urine dapat diperiksa pada setiap wanita hamil (proteinuria) dan pada persangka kelainan saluran kencing (sedimen). 2) Pemeriksaan getah vulva dan vagina Pemeriksaan yang sering diperlukan dipoliklinik ialah pemeriksaan getah uretra/serviks dan getah vagina ,terutama pada keluhan leukorea. Getah uretra diambil dari orifisium uretra eksternum dan getah serviks dari ostium uteri eksternum.

18

3) Pemeriksaan sitologi vagina Untuk pemeriksaan sitologik,bahan diambil dari dinding vagina atau dari serviks dengan spatel ayre (dari kayu atau plastic). Selain untuk diagnosis dini tumor ganas, pemeriksaan ini dapat dipaki juga untuk secara tidak langsung mengetahui fungsi hormonal Karena pengaruh esterogen dan progesteron yang menyebabkan perubahan-perubahan khas pada sel-sel selaput lendir vulva. a) Percobaan schiller Percobaan ini merupakan cara pemeriksaan yang sederhana berdasarkan kenyataan bahwa sel-sel epitel berlapis gepeng dari portio yang normal mengandung glikogen, sedang sel-sel abnormal tidak. b) Kolposkopi Penggunaan kolposkopi pertama kali diperkenalkan Hinselmann (1925) yang terdiri atas 2 alat pembesaran optik yang ditempatkan pada penyangga yang terbuat dari besi.

Penerangaan diperoleh dari lampu khusus diikutsertakan dengan kolposkop. Keuntungan alat ini ialah bahwa pemeriksa dapat melihat binocular lebih jelas,dapat mempelajari portio dn epitelnya lebih baik dan terperinci. c) Eksisi percobaan dan konisasi Eksisi percobaan (biopsi) merupakan cara pemeriksaan yang dilakukan pada setiap portio yang tidak utuh, didahului atu tidak oleh pemeriksaan sitologi vagina. Konisasi merupakan tindakan yang paling dapat dipercaya pada persangkaan karsinoma karena dapat dibuat banyak sediaan dari seluruh portio untuk pemeriksaan mikroskopik. d) Biopsi endometrium Biopsi endometrium dilakukan untuk menentukan ada atau tidaknya ovulasi. Endometrium dikuret di beberapa tempat lalu

19

dimasukkan ke dalam botol berisi larutan formalin dan dikirim ke laboratorium.

h. Pemeriksan khusus lain 1) Pemeriksaan endokrin: Dilakukan dalam laboratorium khusus,misalnya untuk penentuan fungsi hipofisis, kelenjar gondok atau kelenjar adrenal. 2) Pemeriksaan kromatin Yaitu untuk pemeriksaan seks kromatin dan perhitungan kromosom dalam mengahadapi interseksualitas. 3) Pemeriksaan dengan sinar roentgen Yaitu untuk keperluan diagnostik infertilitas,mencari kelainan bawaan pada ginetalia interna,untuk diagnosa masa tomor,untuk mencari kelainan pada alat saluran kencing. 4) Sistoskopi Yaitu untuk visualisasi batu ginjal dan polip di dalam kandung kencing dan untuk mencari metastasis karsinoma servisis uteri di kandung kencing. 5) Histeroskopi Yaitu untuk visualisasi keadaan dan kelainn di rongga uterus. 6) Rektoskopi Yaitu pemeriksaan pada wasir dan persangkaan karsinoma rectum. 7) Ultrasonografi Yaitu untuk diagnosis molahidatidasa,kematian hasil konsepsi dan gemeli,untuk mencari DJJ dan lokalisasi plasenta. 8) Kuldosintesis (pungsi Douglas) Yaitu untuk memastikan terkumpulnya darah dalam rongga peritoneum dan sekaligus untuk membedakannya dari abses douglas.

20

2. Penaganan Penyakit Ginekologi Penanganan penyakit ginekologik tergantung pada etiologinya. Penyakit ginekologik dapat terjadi pada anak-anak, pubertas, pada masa hamil, klimakterium ataupun senium. Dibawah ini akan dibahas beberapa penanganan dari penyakit ginekologik: a. Trikomoniasis Penyakit ini dapat ditemukan dalam jumlah kecil dalam vagin tanpa gejala apa pun, akan tetapi dalam beberapa hal yang ada hubungannya dengan perubahan kondisi lingkungan, jumlah dapat bertambah banyak dam menimbulkan radang. Penangananya : Metronidazol(1-(beta-hidroksil)-2-metil-s-nitroimidazol), dipasaran dikenal dangan flagyl. Diberikan per os dapat diserap dengan baik dan mempunyai toksisitas rendah. Maksudnya dalam dosis 500 mg setiap 12 jam selama 5 hari.jadi dosis total 5 gr. b. Kandidiasis Kandidiasis disebabkan oleh infeksi dengan kandida albicans,suatu jenis jamur gram positif yang mempunyai benang-benang

pseudomiselia yang terbagi-bagi dalam blastspores. Penanganannya: Pemberian nystatin,suatu antibiotik dihasilkan oleh steptomises noursei.yang banyak dipakai : tablet vaginal mycostatin dimasukkan dalam vagina 1-2 tablet sehari selama 14 hari. c. Hemofilus vaginalis vaginitis Penyebabnya : Hemofilus vaginalis, suatu basil kecil gram negative. Penanganannya : diberikan pada suami istri berupa ampisilin 2 gr sehari untuk 5 hari,jika peka terhadap penisilin dapat diberikan tetrasiklin.Disamping itu wanitanya diberi betadine vaginal douche. d. (Vulvo)-vaginitis-atrofikans Penanganannya : Pemberian esterogen per os (premarin 1,25 mg atau oestrofeminal 1,25 mg) tiap malam dan pemberiam dienestrol cream,premarin vaginal cream atau 0,1 mg suposutorium dietil

21

stilbestrol per vaginam untuk 30 malam.Diet dewasa ini dianjurkan pemakaian synapause tablet dan cream. e. Servisis uteri Penanganannya : Dengan jalan kauterisasi-radial dengan termokautel atau krioterapi. f. Endrometriosis Penangananya : terdiri dari pencegahan,pengawasan saja, tetari hormonal, pembedahan dan radiasi. g. Karsinoma vulva Penangananya : Pada tinggkat klinik 0 dikerjakan vulvektomi dengan mengangkat kedua labia mayor, labia minor, sebagian monsveneris dan hymen. Dilakukan pembedahan rekontruksi menggunakan skingraft. Pada tinggkat I dan II dilakukan vulvektomi radikal dengan limfadenektomi bilateral kelenjar inguinal luar dan dalam, dalam 1 tahap. Pada tinggkat III dan IV, diberikan sitostatika seperti MMC, SFU, Bleosin, Endokxan. Doxorubisin secara sistemik baik secara obat tunggal ataupunn dalam kombinasi h. Kondiloma akuminata akuminatum Berbentuk seperti kembang kubis dengan ditengahnya jaringan ikat dan ditutup tetrutama dibagian atas oleh epitel dengan hiperkeratosi. Penanganannya : Pada kondiloma akuminatum yang kecil dapat disembuhkan dengan larutan 10 % podoviin dlam gliserin atau dalam alkohol. Pada waktu pengobatan daerah sekitr harus dilindungi dengan vaselin dan etelah beberapa jam tempat pengobatan harus dicuci dangan air dan sabun. Pada kondiloma yang luas terapinya terdri atas pengangkatan dengan pembedahan atau kauterisasi. i. Herpes genitalis Penanganannya: diberantas dengan aplikasi lokal dari 1% larutan neutral-red atau 0,1% larutan proflavine,diikuti dengan penyinaran sinar fluoresensi 10-15 menit deangan jarak 15-20 cm.

22

j. Limfogranuloma Venereum Penyebabnya adalah clamidia trakumatis. Penanganannya : Pengobatan terdiri atas pemberian tetrasiklin setiap hari dengan dosis 2 gr oral selama 2-4 minggu.jika penyakit belum juga sembuh maka pengobatan diulangi lagi.Obat sulfunamit bersift sufpresif dan bukan kuratif.Obat ini diberikan dalm dosis 1 gr 4x sehari selama 2 minggu,kemudian setelh istirahat 1 minggu.Kemudian setslah itu pengobatan diulangi lagi. Selain yang diuraika diatas,masih banyak lagi penyakit-penyakit ginekilogi yang dapat mengganggu, mencelakakan bahkan memtikan seseorang. Untuk itu,sebelum terjadi telebih-lebih kita harus menjaga kebersihan diri serta berhati-hati dalam melakukan sesuatu yang berhubungan dengan alat-alat reproduksi.

23

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Radang adalah suatu reaksi pertahanan organisme terhadap serangan agen patogen, mengadakan perlawanan terhadap agen patogen dan memperbaiki kerusakan jaringan. Pada suatu penyakit, proses radang menjadi suatu reaksi yang menguntungkan dan bertujuan untuk menjaga

keseimbangan (homeiostasis) dari organisme tersebut. Pada wanita, rongga perut langsung berhubungan dengan dunia luar dengan perantara traktus genetalis. Infeksi alat kandungan mudah terjadi dan dapat menurunkan fertilitas, mempengaruhi keadaan umum dan mengganggu kehidupan sex. Adapun radang pada genetalia terbagi atas radang genetalia Eksterna dan Interna. Radang genetalia Eksterna terdiri atas Bartolinitis, Vaginitis dan Vulvitis, dan Vulvovaginitis. Sedangkan Radang pada Genetalia Interna terdiri dari Cervicitis, Endometritis, Myometritis, Parametritis (Celulit Pelvica), Adnexitis/Salpingitis, dan Peritonitis Pelvika (pelvioperitonitis). Pemeriksaan dan Penanganan dari Penyakit Ginekologi di lakukan mulai dari anamnesis, pemerisaan genetalia eksterna, pemeriksaan dengan speculum, pemeriksaan bimanual, pemeriksaan rectal, pemeriksaan dalam nikrosis, pemeriksaan khusus dan pemeriksan khusus lain. Penanganan penyakit ginekologik tergantung pada etiologinya. Penyakit ginekologik dapat terjadi pada anak-anak, pubertas, pada masa hamil, klimakterium ataupun senium.

B. Saran 1. Untuk petugas kesehatan : diharapkan mampu memberikan dan meningkatkan pelayanan pada pemeriksaan genetalia khususnya pada wanita dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi dengan tepat sehingga penanganan lebih baik.

24

2. Untuk mahasiswa : banyak belajar terutama praktek agar lebih mahir dalam melakukan identifikasi dalam penyakit-penyakit genetalia

khususnya pada wanita. 3. Untuk masyarakat : diaharapkan kepada masyarakat khususnya pada wanita untuk lebih mengenali gejala-gejala penyakit genetalia untuk mendeteksi dan dapat ditangani secara dini.

25

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kandungan edisi ke-4, PT. Bina Pustaka : Jakarta. Lestadi, Julisar. 1997. Penuntun Diagnostik Praktis SitologiGinekologik Apusan/PAP. Widya Medika : Jakarta. Duenhoelter, Johann H. 1988. Ginekologi Greenhill (Greenhills office) edisi ke10. EGC : Jakarta. Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung. Ginekologi. Elstar Offset : Bandung. http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/01/tugas-kuliah-tentang-ginekologi.html http://jusova.blogspot.com/

26