Anda di halaman 1dari 6

PLTA

Rangkuman Diskusi Energi Alternatif Mailing List Migas Indonesia bulan Oktober 2006 membahas tentang pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Diskusi ini dipicu oleh cuplikan berita yang menyatakan bahwa Presiden SBY menegaskan, pemerintah dalam beberapa tahun ke depan akan terus membangun sejumlah pembangkit listrik tenaga air, kendati anggaran yang diperlukan untuk itu cukup mahal. Menanggapi berita ini muncullah sejumlah opini, baik yang menyangkut public unrest yang akan menentang pembangunan bendungan, maupun mengenai debit air yang kian lama kian berkurang. Bahkan ada yang menyebut, bukan lagi debit air, tapi tetes air. Selain itu ada juga yang berpendapat lain yang menyatakan bahwa PLTA merupakan energi alternative terbaik untuk Indonesia, mengingat banyaknya aliran sungai besar dan relatif masih bersih. Diskusi selengkapnya dapat disimak dalam file berikut.

Pernyataan : Editor Migas Indonesia Online


SEKILAS BERITA 20 /10 /06 08:55:24 Presiden SBY menegaskan, pemerintah dalam beberapa tahun ke depan akan terus membangun sejumlah pembangkit listrik tenaga air kendati anggaran yang diperlukan untuk itu cukup mahal.

Tanggapan 1 : roeddy setiawan


dear millist, membaca berita SBY mau membuat PLTA, wah siap siap saja dengan publik unrest, di jaman orba, publik unrest mudah ditekan seperti bendungan kedung ombo, saguling, cirata, ex galunggung. rakyat sekitar harus berkorban untuk orang kota & industri. diminta pindah. rela atau tidak. dengan dalih kepentingan umum. mudah mudahan sekedar berita saja ngak akan dilaksanakan di daerah yang sudah sangat padat ini

Tanggapan 2 : Alex Herianto


Bener banget Pak Roedy... belum lagi debita air yang akhir2 ini sudah bukan debit lagi namanya... tetes air... kering kerontang... karena pemerintah kurang serius membabat abis pembalak liar. pohon habis, penahan air tanah gak ada... adanya juga banjir... ya kalo musim hujan datang, kalau gak? wallahu'alam bhisawab

Tanggapan 3 : Ferdinal Rais


Menurut saya PLTA adalah salah satu alternatif energi yg terbaik untuk Indonesia krn banyak sungai besar dan relatif 'clean'. Meski CAPEXnya tinggi tapi OPEXnya sangat rendah. Apalagi starting time-nya tidak lama seperti PLTU/PLTGU. Waduknya seharusnya bisa dimanfaatkan oleh penduduk yg tergusur. Mudahan gak ada public unrest lagi deh ... cape tiap hari liat demo btw, pak Roeddy posisinya di mana sih? di negerinya Paman Sam?

Tanggapan 4 : soedardjo@batan.go.id
Kalau musim kemarau seperti sekarang yang sulit air bagaimana?. Bagaimana dengan pemeliharaan turbinnya?. Lalu apakah perlu membuat bendungan, bagaimana dengan ganti untung daerah yang dijadikan ebndungan yang relatif luas untuk menampung air? Terima kasih

Tanggapan 5 : moh. tasfin


(Pak Ferdinal), juga efisiensinya paling tinggi... cuma aspek "clean" masih perlu di perhatikan lagi.. struktur bendungan perlu ditelaah lagi agar tidak menahan sedimen di dasar sungai...karena saya pernah baca artikel di kompas kalo struktur bendungan bisa menghalangi.. aliran plankton ke sungai di sisi bawah bendungan.. dan akan menyebabkan siklus biologis di sungai tersebut terganggu.. (bagi hewan and tumbuhan air)..

Tanggapan 6 : Sadikin, Indera


pak roeddy, setahu saya masalah utama PLTA adalah kerusakan lingkungan akibat pendangkalan sungai dan terganggunya ekosistem air. jadi selain masalah pembebasan lahan, LSM lingkungan hidup juga suka protes. saat ini yang sudah akan dieksekusi adalah PLTA jatigede di sumedang, yang katanya akan jadi PLTA terbesar di indonesia (kalo ga salah). earthmoving-nya akan dimulai akhir tahun ini. dulu sempat ada isu masalah korupsi dalam pembebasan lahannya. lebih dari 30 desa akan ditenggelamkan. tapi sekarang udah mau start dan adem2 aja tuh ga masuk headline koran. denger2 plant PLTA-nya akandisupply dari china. lokal kebagian earthmoving dan konstruksi sipil dam.

Tanggapan 7 : roeddy setiawan


dear pak sadikin, memang betul apa yang diutarakan pak sadikin, sayang nya di kita kebanyakan kan amdal nya tergantung pemesan nya, pederitaan pemilik lama tidak masuk kedalam

pernah masuk study yang dilaksanakan, kalau dihitung semua, misal nya akang dudung jg mungkin jadi project mgr oil and gas yang hebat kalau tinggal di jatigede terus kan universitas dekat, sekarang di displace ke papua jadi cuman, tukang dongkel2 akar kayu saja untuk merawat ladang nya, hasil nya pun ngak bisa di jual karena ngak ada pasar dan seterusnya.kalau dihitung betul mungkin cost benefit rationya minim, Baiknya si orang terusir harus nya sebagai pemilik saham dari power plant yang dibangun, jadi menikmati hasil dari daerahnya bukan di pindah kan ketempat yang lebih buruk. hampir semua study dr reputable institution menunjukan bendungan besar dampaknya negative sekali, umur bendungan jauh lebih pendek dari rencana nya, tidak memberikan impact yang dijanjikan. Lihat saja Saguling dan teman3 nya selalu tidak berhasil memberikan KWH yang dahulu dijanjikan nya, entah masalah sedimentasi, entah karena alasan curah hujan (by the way ini sudah masuk engineering evaluation nya dulu) tapi disalahkan curah hujan he he soal nya ngak bisa mbales. Di negara2 maju tidak pernah lagi dibangun PLTA, kurang banyak gimana amrik, yang merupakan leader in science, engineering and brain of the world, sungai besar banyak, topograpi cocok buat bendungan, tapi mereka tidak membangun bendungan di colorado river di grand canyon . kurang gede gimana kalau grand canyon ditengelamkan, mungkin orde nya terrawatt bukan megawat lagi. he he he. ah sudah ah nanti disangka agen anti pembangunan.

Tanggapan 8 : wisnu
boleh saya dapat sharing, penjelasan mengenai capex dan opex dari PLTA? untung dan rugi dari PLTA dibanding pembangkit listrik jenis lain?

Tanggapan 9 : roeddy setiawan


dear pak wisnu, berikut fact dr capital cost typical plta. Hoover dam dibangun th 1930, listrik yang di generate 2800 MW untuk Dam Cap cost = $ 49 million other infrastructur = $ 165 million, 1930 money. bila interest rate 5 % ( amrik sekarang 5.23 %) total capital at 2006 dollars = 214 x (1.05)^76 = $ 8,725.7 million. capital cost per Kw = $ 3116. operating cost 5 cent dollar/kwh maint cost 12 cent dollar/kwh fact about PLTA saguling.

capital cost Unknown tanah yang ditenggelamkan 150 km persegi, 20 % milik perhutani, sisanya masarakat design 1400 MW, actual generation karena berbagai masalah 1030 MW Fact about saguling + cirata + jatiluhur (as 2001 laporan bank dunia) earning electricity generation =900 juta kwh /year = IDR 81 milyar jual air ke dki = IDR 28.2 milyar. jual air industri = IDR 6.9 milyar. other asset util = IDR 8.5 milyar total earning (2001) = IDR 124.6 milyar = US $ 13.7 million tapi as per 2001 report expenditure untuk infarstructure, management, maintenance totaling IDR 171 milyar jadi tekor IDR 46.4 milyar. kalau dihitung lagi kerugian untuk saguling saja tanah pertanian yang lenyap 150 km persegi atau 15000 hektare, kalau tiap hektar menghasilkan 7000 kg beras satu tahun panen 2 kali @ idr 4300/kg loses = 15000 x 7000 x 2 x 4300 = idr 903 milyar/tahun. other losses, tidak diketahui kemana keluarga yang di displace oleh project ini apakah lebih sejahtera atau bagaimana tidak pernah ada study nya. future problem untuk saguling, accumulasi logam berat, karena semua industri di bandung membuang limbah nya ke anak sungai citarum, beberapa puluh tahun kedepan mungkin ikan disaguling tidak boleh dimakan Others Fact. Tidak pernah ada perusahaan independent/swasta yang berani membiayai project PLTA, karena besarnya Initial expenditure.

Tanggapan 10 : BKC1037@cc.m-kagaku.co.jp
Dear Pak Roeddy Saya sedikit kurang mengerti, mengapa untuk memperkirakan capital cost di 2006 menggunakan eksponensial dari "interest rate" dari tahun 1930? Rumus tersebut biasanya dipakai untuk menghitung Future Value dari investasi yang dilakukan sekarang. (Si investor, pada tahun 1930 memperkirakan bahwa nilai assetnya pada tahun 2006 akan sebesar itu) Biasanya untuk membandingkan capital cost, digunakan perbandingan Performance Index (CPI) yang dikeluarkan oleh institusi tertentu ? Misalnya : Capital di 1930 = A , CPI di 1930 = B, dan CPI di 2006 = C. Maka Capital yang dibutuhkan kalau invest di 2006 = A*C/B. Cost

Atau, memang sekarang ini (tahun 2006) capital cost untuk PLTA ada di kisaran +/$3116/KW ? Thanks atas pencerahannya.

Tanggapan 11 : Sadikin, Indera


Pak Dadang, Asumsi Pak Roeddy umum dilakukan untuk mengestimasi nilai ekuivalen masa kini suatu capital dari tahun2 yang lalu. Pake interest rate karena interest rate adalah asumsi yang paling gampang untuk mengcover inflasi alias menurunnya nilai mata uang. Biasanya interest rate selalu lebih tinggi sedikit dari inflasi.

Tanggapan 12 : roeddy setiawan


Dear pak Dadang, Saya cuman menghitung nilai dollars 1930 vs dollars 2006. tidak membandingkan asset itu saja, menurut US DoE report, capital cost di US $ 1750 -2,400/kw. tidak termasuk land purchase (di US tanah luas dan kebanyakan masih state owned) berbeda dg yang peduduk nya padat seperti kita. menurut hydroelectric.org ?? capital cost $ 1700 - 3000/kw other fact dr DOE report Dam Utilization Irrigation 11% Recreation 36 % ini generate $36 billion dollar/year job public water supply 12 % flood control 15 % hydoelectricity 2 % Farm pond 18 % others 7%. jdari tabel diatas dam di sini memang untuk mensejahterakan masarakat fact yang lain Electric generation US coal 52% Nat Gas 16% Petroleoum 3% Nuclear 20 % Hydroelectric 7 % Others 2 % kalau menurut survey nya pak Rhama di posting nya dulu. PLTGU $1030/kw menurut pak sudarjo batan PLTN $ 1650/Kw info lain ini harga turbine genset, belum masuk MCC & transmisi GE LM2500, 22 mw cost $ 10 Million , atau $ 420/kw KWU V94.3 219 mw cost $ 60 million , atau $ 273/kw GE 9281F 218.7 mw cost $ 50 million, , atau $ 229/kw dan seterus nya.

dari fact diatas tidak heran tidak ada swasta murni mau bikin PLTA atas dana nya sendiri baik di Indonesia maupun di amrik, karena very high capital cost. . belum lagi concern dr problem2 environmental dimana penduduk di negara maju selalau didengar oleh pemerintahnya.