Anda di halaman 1dari 15

PENDIDIKAN JASMANI UNTUK MENINGKATKAN DAYA TAHAN TUNA NETRA Oleh Rivo Hari Nurdiansyah Abstrak Pendidikan jasmani

adaptif bagi tunanetra sangat penting. Dengan mengikuti pendidikan jasmani adaptif, dapat membantu tunanetra meningkatkan kemampuan motoriknya. Dalam melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif harus dimodifikasi sedemikian rupa, disesuaikan dengan kondisi tunanetra. Untuk meningkatkan daya tahan tunanetra, dapat diberikan olahraga berupa lari yang telah dimodifikasi. Kata kunci: tunanetra, penjas adaptif, daya tahan 1. Pengertian Tunanetra Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda. Tunanetra adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya. Berdasarkan tingkat gangguannya Tunanetra dibagi dua yaitu buta total (total blind) dan yang masih mempunyai sisa penglihatan (Low Visioan). Alat bantu untuk mobilitasnya

bagi tuna netra dengan menggunakan tongkat khusus, yaitu berwarna putih dengan ada garis merah horizontal. Akibat hilang/berkurangnya fungsi indra penglihatannya maka tunanetra berusaha memaksimalkan fungsi indra-indra yang lainnya seperti, perabaan, penciuman, pendengaran, dan lain sebagainya sehingga tidak sedikit tunanetra yang memiliki kemampuan luar biasa misalnya di bidang musik atau ilmu pengetahuan. Pada umumnya yang digunakan sebagai patokan apakah seseorang termasuk tuna netra atau tidak ialah berdasarkan pada tingkat ketajaman penlihatannya. Untuk mengetahuai ketunanetraan dapat digunakan suatu tes yang dikenal sebagai tes snellen card. Perlu ditegaskan bahwa dikatakan tuna netra bila ketajaman penglihatannya (visusnya) kurang dari 6/21. artinya, berdasarkan tes orang hanya mampu membaca huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang awas dapat membaca padak jarak 21 meter (Somantri, 2006) Berdasarkan acuan tersebut, anak tuna netra dapat di kelompokan 2 macam, yaitu : a) Buta Dikatakan buta jika sama sekali tidak mampu menerima rangsang cahaya dari luar. Tuna netra memiliki keterbatasan dalam penglihatan antara lain : 1. Tidak dapat melihat gerakan tangan pada jarak kurang dari 1 meter 2. Ketajaman penglihatan 20/200 kaki yaitu ketajaman yang mampu melihat suatu benda pada jarak 20 kaki. b) Low Vision Bila masih mampu menerima rangsang cagaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21, atau jika hanya mampu membaca headline pada surat kabar. Berdasarkan definisi Word Health Organition (WHO), seseorang dikatakan low vision apabila : 1. memiliki kelainan fungsi penglihatan meskipun telah dilakukan pengobatan, misalnya operasi atau koreksi refraksi standart (kaca mata atau lensa). 2. mempunyai ketajaman penglihatan kurang dari 6/18 sampai dapat menerima refsefsi cahaya. 3. luas penglihatan kurang dari 10 drajad dari titik fiksasi.

Untuk mengatasi kehilangan atau keterbatasan penglihatan guna melakukan kegiatan sehari-harinya, orang tunanetra sering harus melakukan kegiatan itu dengan cara alternatif. Teknik alternatif adalah cara khusus (baik dengan ataupun tanpa alat bantu khusus) yang memanfaatkan indera-indera nonvisual atau sisa indera penglihatan untuk melakukan suatu kegiatan yang normalnya dilakukan dengan indera penglihatan. Karena begitu banyak teknik alternatif yang harus digunakannya, maka pola kehidupannya pun menjadi berubah, berbeda dari orang pada umumnya. Faktor yang menyebabkan terjadinya ketunanetraan antara lain: 1. Pre-natal Faktor penyebab ketunanetraan pada masa pre-natal sangat erat hubungannya dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang anak dalam kandungan, antara lain: a. Keturunan Ketunanetraan yang disebabkanoleh faktor keturunan terjadi dari hasil perkawinan bersaudara, sesama tunanetra atau mempunyai orang tua yang tunanetra. Ketunanetraan akibat faktor keturunan antara lain Retinitis Pigmentosa, penyakit pada retina yang umumnya merupakan keturunan. Penyakit ini sedikit demi sedikit menyebabkan mundur atau memburuknya retina. Gejala pertama biasanyasukar melihat di malam hari, diikuti dengan hilangnya penglihatan periferal, dan sedikit saja penglihatan pusat yang tertinggal. b. Pertumbuhan seorang anak dalam kandungan Ketunanetraan yang disebabkan karena proses pertumbuhan dalam kandungan dapat disebabkan oleh: Gangguan waktu ibu hamil. Penyakit menahun seperti TBC, sehingga merusak sel-sel darah tertentu selama pertumbuhan janin dalam kandungan. Infeksi atau luka yang dialami oleh ibu hamil akibat terkena rubella atau cacar air, dapat menyebabkan kerusakan pada mata, telinga, jantung dan sistem susunan saraf pusat pada janin yang sedang berkembang.

Infeksi karena penyakit kotor, toxoplasmosis, trachoma dan tumor. Tumor dapat terjadi pada otak yang berhubungan dengan indera penglihatan atau pada bola mata itu sendiri.

Kurangnya vitamin tertentu, dapat menyebabkan gangguan pada mata sehingga hilangnya fungsi penglihatan.

2. Post-natal Penyebab ketunanetraan yang terjadi pada masa post-natal dapat terjadi sejak atau setelah bayi lahir antara lain: a. Kerusakan pada mata atau saraf mata padawaktu persalinan, akibat benturan alat-alat atau benda keras. b. Pada waktu persalinan, ibu mengalami penyakit gonorrhoe, sehingga baksil gonorrhoe menular pada bayi, yang pada akhirnya setelah bayi lahir mengalami sakit dan berakibat hilangnya daya penglihatan. c. Mengalami penyakit mata yang menyebabkan ketunanetraan, misalnya: Xeropthalmia; yakni penyakit mata karena kekurangan vitamin A. Trachoma; yaitu penyakit mata karena virus chilimidezoon trachomanis. Catarac; yaitu penyakit mata yang menyerang bola mata sehingga lensa mata menjadi keruh, akibatnya terlihat dari luar mata menjadi putih. Glaucoma; yaitu penyakit mata karena bertambahnya cairan dalam bola mata, sehingga tekanan pada bola mata meningkat. Diabetik Retinopathy; adalah gangguan pada retina yang disebabkan karena diabetis. Retina penuh dengan pembuluh-pembuluhdarah dan dapat dipengaruhi oleh kerusakan sistem sirkulasi hingga merusak penglihatan. Macular Degeneration; adalah kondisi umum yang agak baik, dimana daerah tengah dari retina secara berangsur memburuk.Anak dengan retina degenerasi masih memiliki penglihatan perifer akan tetapi kehilangan kemampuan untuk melihat secara jelas objek-objek di bagian tengah bidang penglihatan. Retinopathy of prematurity; biasanya anak yang mengalami ini karena lahirnya terlalu prematur. Pada saat lahir masih memiliki potensi penglihatan yang normal. Bayi yang dilahirkan prematur biasanya ditempatkan pada inkubator yang berisi oksigen dengan kadar tinggi,

sehingga pada saat bayi dikeluarkan dariinkubator terjadi perubahan kadar oksigen yang dapat menyebabkan pertumbuhan pembuluh darah menjadi tidak normal dan meninggalkan semacam bekas luka pada jaringan mata. Peristiwa ini sering menimbulkan kerusakan pada selaput jala (retina) dan tunanetra total.
d. Kerusakan mata yang disebabkan terjadinya kecelakaan, seperti masuknya

benda keras atau tajam, cairan kimia yang berbahaya, kecelakaan dari kendaraan, dll. Ciri-ciri fisik anak tunanetra antara lain:
o o o o o o o o

Tidak mampu melihat Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter Kerusakan nyata pada kedua bola mata Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan Mengalami kesulitan saat mengambil benda kecil disekitarnya Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/bersisik/kering Peradangan hebat pada kedua bola mata Mata bergoyang terus Mata juling Sering berkedip Menyipitkan mata (kelopak) mata merah Mata infeksi Gerakan mata tak beraturan dan cepat Mata selalu berair (mengeluarkan air mata) Pembengkakan pada kulit tempat tumbuh bulu mata.

Gejala-gejala yang dapat diamati dari segi fisik, antara lain:


2. MENTAL PARA TUNANETRA Secara psikis anak tunanetra dapat dijelaskan sebagai berikut : Intelektual atau kecerdasan anak tunanetra umumnya tidak berbeda jauh dengan anak normal/awas. Kecenderungan IQ anak tunanetra ada pada batas atas sampai batas bawah, jadi ada anak yang sangat pintar, cukup pintar dan ada yang kurang

pintar. Intelegensi mereka lengkap yakni memiliki kemampuan dedikasi, analogi, asosiasi dan sebagainya. Mereka juga punya emosi negatif dan positif, seperti sedih, gembira, punya rasa benci, kecewa, gelisah, bahagia dan sebagainya. 3. HUBUNGAN SOSIAL PARA TUNANETRA secara umum hubungan sosial tunanetra adalah sebagai berikut: 1. Hubungan sosial yang pertama terjadi dengan anak adalah hubungan dengan ibu, ayah, dan anggota keluarga lain yang ada di lingkungan keluarga. Kadang kala ada orang tua dan anggota keluarga yang tidak siap menerima kehadiran anak tunanetra, sehingga muncul ketegangan, gelisah di antara keluarga. Akibat dari keterbatasan rangsangan visual untuk menerima perlakuan orang lain terhadap dirinya.
2.

Tunanetra mengalami hambatan dalam perkembangan kepribadian dengan timbulnya beberapa masalah, antara lain: Curiga terhadap orang lain. Akibat dari keterbatasan rangsangan visual, anak tunanetra kurang mampu berorientasi dengan lingkungan, sehingga kemampuan mobilitaspun akan terganggu. Sikap berhati-hati yang berlebihan dapat berkembang menjadi sifat curiga terhadap orang lain. Untuk mengurangi rasa kecewa akibat keterbatasan kemampuan bergerak dan berbuat, maka latihan-latihan orientasi dan mobilitas, upaya mempertajam fungsi indera lainnya akan membantu anak tunanetra dalam menumbuhkan sikap disiplin dan rasa percaya diri. Perasaan mudah tersinggung. Perasaan mudah tersinggung dapat disebabkan oleh terbatasnya rangsangan visual yang diterima. Pengalaman sehari-hari yang selalu menumbuhkan kecewa menjadikan seorang tunanetra yang emosional. Ketergantungan yang berlebihan. Ketergantungan ialah suatu sikap tidak mau mengatasi kesulitan diri sendiri, cenderung mengharapkan pertolongan orang lain. Anak tunanetra harus diberi kesempatan untuk menolong diri sendiri, berbuat dan bertanggung jawab. Kegiatan sederhana seperti makan, minum, mandi, berpakaian, dibiasakan dilakukan sendiri sejak kecil.

4. Pembelajaran Adaptif dalam Pendidikan Jasmani bagi Tunanetra

A. Pengertian Pendidikan Jasmani Adaptif

Secara mendasar pendidikan jasmani adaptif adalah sama dengan pendidikan jasmani biasa. Pendidikan jasmani merupakan salah satu aspek dari seluruh proses pendidikan secara keseluruhan. Pendidikan jasmani adaptif merupakan suatu sistem penyampaian layanan yang bersifat menyeluruh (comprehensif) dan dirancang untuk mengetahui, menemukan dan memecahkan masalah dalam ranah psikomotor. Hampir semua jenis ketunaan tunanetra memiliki problem dalam ranah psikomotor. Masalah psikomotor sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan sensomotorik, keterbatasan dalam kemampuan belajar. Sebagian tunanetra bermasalah dalam interaksi sosial dan tingkah laku. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa peranan pendidikan jasmani bagi tunanetra sangat besar dan akan mampu mengembangkan dan mengkoreksi kelainan dan keterbatasan tersebut.
B. Ciri Dari Program Pendidikan Jasmani Adaptif

Sifat program pendidikan jasmani adaptif memiliki ciri khusus yang menyebabkan nama pendidikan jasmani ditambah dengan kata adaptif. Adapun ciri tersebut adalah: 1) Program Penjas adaptif disesuiakan dengan jenis dan karakteristik kelainan tunanetra. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada tunanetra yang berkelainan berpartisipasi dengan aman, sukses, dan memperoleh kepuasan. Misalnya bagi tunanetra yang memakai kursi roda satu tim dengan yang normal dalam bermain basket, ia akan dapat berpartisipasi dengan sukses dalam kegiatan tersebut bila aturan yang dikenakan kepada tunanetra yang berkursi roda dimodifikasi. Demikian juga dengan kegiatan yang lainnya. Oleh karena itu pendidikan Jasmani adaptif akan dapat membantu dan menolong tunanetra memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
2) Program Pendidikan Penjas adaptif harus dapat membantu dan mengkoreksi

kelainan yang disandang oleh tunanetra. Kelainan pada tunanetra bisa terjadi pada kelainan fungsi postur, sikap tubuh dan pada mekanika tubuh. Untuk itu, program pendidikan pendidikan

Jasmani adaptif harus dapat membantu tunanetra melindungi diri sendiri dari kondisi yang memperburuk keadaanya.
3) Program Pendidikan Penjas adaptif harus dapat mengembangkan dan

meningkatkan kemampuan jasmani individu tunanetra. Untuk itu pendidikan Jasmani adaptif mengacu pada suatu program kesegaran jasmani yang progressif, selalu berkembang dan atau latihan otot-otot besar. Dengan demikian tingkat perkembangan tunanetraakan dapat mendekati tingkat kemampuan teman sebayanya. Apabila program pendidikan jasmani adaptif dapat mewujudkan hal tersebut di atas. maka pendidikan jasmani adaptif dapat membantu tunanetra melakukan penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan tunanetra memiliki harga diri. Perasaan ini akan dapat membawa tunanetra berprilaku dan bersikap sebagai subjek bukan sebagai objek di lingkungannya.
C. Tujuan pendidikan jasmani adaptif.

Sebagaimana dijelaskan di atas betapa besar dan strategisnya peran pendidikan jasmani adaptif dalam mewujudkan tujuan pendidikan bagi tunanetra, maka Prof. Arma Abdoellah, M.Sc. dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Jasmani Adaptif memerinci tujuan pendidikan Jasmani adaptif bagi tunanetra sebagai berikut: 1. Untuk menolong tunanetra mengkoreksi kondisi yang dapat diperbaiki. 2. Untuk membantu tunanetra melindungi diri sendiri dari kondisi apapun yang memperburuk keadaannya melalui Penjas tertentu. 3. Untuk memberikan kesempatan pada tunanetra mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olah raga dan aktivitas jasmani, waktu luang yang bersifat rekreasi. 4. Untuk menolong tunanetra memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya. 5. Untuk membantu tunanetra melakukan penyesuaian social dan mengembangkan perasaan memiliki harga diri. 6. Untuk membantu tunanetra dalam

7. mengembangkan pengetahuan dan appresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik. 8. Untuk menolong tunanetra memahami dan menghargai macam olah raga yang dapat diminatinya sebagai penonton.
D. Modifikasi dalam Pendidikan Jasmani Adaptif

Dari masalah yang disandang dan karakteristik setiap jenis tunanetramaka menuntut adanya penyesuaian dan modifikasi dalam pendidikan Pendidikan Jasmani bagi tunanetra. Penyesuaian dan modifikasi dari pendidikan penjas bagi tunanetradapat terjadi pada :
1. Modifikasi aturan dari aktifitas pendidikan jasmani.

2. Modifikasi tehnik keterampiilannya. 3. Modifikasi tehnik mengajarnya. 4. Modifikasi lingkungannya termasuk ruang, fasilitas dan peralatannya Seorang tunanetra yang satu dengan yang lain, kebutuhan aspek yang dimodifikasi bias tidak tidak sama. tunanetrayang satu mungkin membutuhkan modifikasi tempat dan arena bermainnya. tunanetrayang lain mungkin membutuhkan modifikasi alat yang dipakai dalam kegiatan tersebut. Tetapi mungkin yang lain lagi disamping membutuhkan modifikasi area bermainnya juga butuh modifikasi alat dan aturan mainnya. Demikian pula seterusnya, tergatung dari jenis masalah, tingkat kemampuan dan karakteristik dan kebutuhan pendidikan dari setiap jenis tunanetra. E. Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani Tunanetra Pendidikan jasmani merupakan salah satu mata pelajaran yang sama pentingnya dengan mata pelajaran lain di sekolah dasar dan sekolah luar biasa. Adapun ruang lingkup dan tujuan pembelajaran pendidikan jasmani tersebut di samping meningkatkan keterampilan gerak dasar juga meningkatkan kesegaran jasmani dan kesehatan serta terapi/rehabilitasi terhadap siswa cacat/berkelainan. Pendidikan jasmani merupakan pendidikan secara keseluruhan /komprehensif artinya pendidikan untuk jasmani dan pendidikan melalui jasmani. Hal ini dimaksudkan bahwa pendidikan Jasmani itu untuk meningkatkan kesehatan tubuh

dan juga merupakan pendidikan yang merangsang perkembangan personalia/kepribadian siswa meliputi: pengembangan kognitif, afektif, psikomotor, dan sosial-emosional. Ruang lingkup pendidikan jasmani adalah gagasan pemikiran sebagai hasil kegiatan fisik, mental, emosional, dan yang terjadi dari pengorganisasian program yang difokuskan pada kegiatan fisik untuk mencapai tujuan. Tujuan ini akan dapat dicapai bila pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah luar biasa dilaksanakan dengan efektif. Ini dimaksudkan bahwa semua anak dalam pembelajaran merasa tertarik, senang dan gembira untuk mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani adaptif harus dapat merubah dan meningkatkan kognitif tunanetra, sikap (afektif) tunanetra dan keterampilan (psikomotor) tunanetra. Untuk mencapai tersebut maka ruang lingkup pendidikan jasmani adaptif harus mencakup: a) Aspek kognitif dalam aktifitas yang meliputi: 1. Dapat menjelaskan tentang apa, bagaimana dan mengapa setiap aktivitas jasmani dan olah raga diberikan. 2. Mengapa aktivitas jasmani dan olah raga tersebut perlu dimodifikasi.
3. Tunanetra harus tahu, mengerti dan berfikir bagaimana bias mencapai hasil

belajar yang optimal yang dilihat dari penampilan dalam aktifitasnya.


b) Aspek afektif dalam aktifitas meliputi: 1. Penyesuaian yang meliputi materi konsep diri (self concept), Citra tubuh

(body image), aktifitas jasmani bersama orang lain. 2. Temperamen yang dapat dibina dari semangat kompetitif dalam atletik dan kegiatan lain, menerima kekalahan dan menghargai kemenangan. 3. Minat dapat dibina dengan menyediakan berbagai pilihan aktivitas jasmani dan olah raga.
4. Sikap dapat dibina melalui pembinaan pendidikan jasmani menuju

sportivitas, kompetitif .
5. Karakter yang dapat dibina melalui sportivitas disetiap kegiatan. c) Aspek psikomotor dapat dibina melalui kegiatan

1) Kesegaran Jasmani (Physical fitness) 2) Kesegaran Motorik (Motor fitness)

3) Kemampuan Motorik (motor ability) 4) Keterampilan Motorik (motor skills) 5) Keterampilan Olah Raga (sports skills) Secara umum jenis-jenis kegiatan yang diajarkan siswa cacat/tunanetra meliputi: 1. Kegiatan pokok, terdiri atas:
a. Pengembangan kemampuan jasmani

b. Atletik c. Senam d. Permainan 2. Kegiatan pilihan, terdiri atas a. Pencak silat b. Renang; c. Bulu tangkis: d. Tenis meja e. Sepak takraw f. Permainan tradisional
F. Implikasi dari Ketunanetraan dan Karakteristiknya terhadap Aktivitas Pendidikan Jasmani yang Dibutuhkan adalah:

1. Keterampilan gerak mororik dasar seperti jalan, lari, lompat, melempar, menendang, jongkok dan sebagainya. 2. Ajarkan keterampilan mortorik yang termasuk kegiatan melintasi ruang untuk meningkatkan mobilitas tunanetra. 3. Berikan aktifitaskesegaran jasmani yang kemungkinan tunanetra tunanetra dapat secara penuh melakukannya, seperti berenang, melompat dan sebagainya. 4. Berikan kesempatan untuk memperaktekkan bermacam gerakan yang dapat mengembangkan indera kinestetiknya. 5. Ajarkan olah raga rekreasi yang dapat mengisi waktu luangnya seperti main boling, dansa atau menari, berenang dan sebagainya baik sendiri, bersama orang awasdan keluarganya.

6. Ajarkan secara khusus melalui kegiatan praktek tentang body image, kesadaran ruang, arah tubuh, sisi tubuh, dan konsep-konsep semacam tersebut 7. Masukkan didalamnya latihan untuk memperbaiki dan membetulkan kelainan sikap tubuh (posture) sehingga seperti orang awas yang normal. 8. Siapkan dan berikan aktivitas yang menggunakan kelompok otot besar hal ini akan menguarangi minirisme atau blindnisem. 9. Tunanetra membutuhkan tindak lanjut dan kontrol terhadap keterampilan motorik yang telah diberikan. Sebagai akibat dari ketunanetraannya ia tidak mendapatkan umpan balik dari penglihatannya. Hal ini dapat membuat hilangnya keterampilan dan kemampuan motorik yang dipelajarinya hilang. 10.Berikan aktivitas yang dapat mengembangkan keseimbangan tunanetra tunanetra, baik berupa keterampilan lokomotor maupun keterampilan non lokomotor.
G. Pelaksanaan Pendidikan Jasmani bagi Tunanetra Harus Meperhatikan dan Memodifikasi:

1. Modifikasi jarak sehingga anak dapat mengenali objek dan kalau perlu sedekat mungkin.agar dapat melihat lebih baik. 2. Ijinkan tunanetra mendatangi dan menyentuh sesuatu yang pembimbing tunjukan. Tanyakan pada tunanetra apa yang ia ketahui dan lihat. 3. Jangan percaya dengan jawaban simple seperti ya, tahu dan sebagainya sebelum pembimbing mengecek terlebih dahulu kebenarannya. 4. Gunakan warna yang menyala dan kontras. Letakkan warna yang menyala dan kontras pada target dan sasaran yang akan dituju tunanetra. Hal ini akan memepermudah tunanetra untuk mengenali target. 5. Bila menggunakan warna dalam suatu aktvitas biarkan tunanetra tunanetra yang memilih warna mana yang dapat kelihatan lebih jelas. 6. Gunakan kekontrasan yang baik bila melakukan aktivitas visul pada tunanetra tunanetra. 7. Besarkan daerah target. 8. Kombinasikan stimulus visual dengan stimulus pendengaran.

9. Gunakan pencahayaan yang optimal, tidak silau, dan rata. Bila tidak akan menyulitkan tunanetra tunanetra dalam bergerak dan beraktvitas jasmani. 10.Yakin bahwa tunanetra sudah mengerti tentang body plans seperti depan, belakang, sisi tubuh. Bila tidak ia tidak akan mengerti perintah perintah yang menggunakan arah, jarak, dan posisi. 11. Gunakan perintah lisan. 12.Disamping menunjuk, gunakan kata arah yang spesifik dan kongkret seperti kiri, kanan, depan belakang dan sebagainya. 13. Gunakan instruksi dan petunjuk yang bisa diraba. Kadang kadang tunanetra mengalami kesulitan dalam meniru, siapkan orang lain yang dapat diraba. 14.Dalam kegiatan tertentu pasangkan yang tunanetra berat dengan yang low vision. 15. Catatan bahwa kecepatan tunanetra dalam beraktivitas mungkin sedikit lambat 16. Gunakan peralatan yang adaptif seberti bunyi bunyian, bola yang berbunyi, lokasi tujuan yang bersuara. 17. Perhatikan situasi yang berpotensi akan menimbulkan bahaya bagi tunanetra dalam beraktivitas. H. Kesegaran Jasmani dan Gerak Peserta didik berpenglihatan terbatas seharusnya membutuhkan kesegaran yang lebih baik daripada yang berpenglihatan normal, karena bagi yang berpenglihatan terbatas melakukan satu gerak memerlukan usaha yang lebih banyak daripada diperlukan. Gerak tanpa melihat kurang efisien dalam penggunaan energi dari pada gerak dengan melihat. Aktivitas yang tidak sukar yang menekankan pada pengembangan kekuatan dan daya tahan kardiovaskuler bagi berpenglihatan terbatas merupakan sesuatu yang perlu ditekankan. Kekuatan dapat dikembangkan dengan aman bagi peserta didik melalui aktivitas mendorong, menarik, dan mengangkat seperti: 1. 2. angkat beban menggunakan alat universal (mulai dengan tanpa beban terlebih dahulu, kemudian diberi beban) latihan isometrik

3.

memanjat tali jala yang digantungkan ( perlu diingat bagi penderita glaucoma, karena aktivitas itu dapat meingkatkan tekanan pada bola mata).

Aktivitas kunci dari kardiovaskuler yang dapat dilakukan secara aman dan berhasil bagi peserta didik berpenglihatan terbatas dapat berupa : 1.
2.

Lari ditempat Gunakan sepeda latihan (sepeda yang berada di tempat) Gunakan mesin mendayung Lari menempuh jarak tertentu (ada pelari marathon yang buta)

3. 4.

Cukup banyak cara yang berguna untuk membantu peserta didik berpenglihatan terbatas dalam lari jarak jauh. Pelari berpenglihatan terbatas dapat mendengar suara dari pelari berpenglihatan normal (usahakan agar suara-suara yang lain tidak mengganggu suara atau tanda dari yang melihat normal): Memegang siku pembatu yang berpenglihatan normal (pelari yang berkelainaan langkah kesamping dan langkah di belakang pelari yang normal matanya): memegang tali atau kabel yang di pegang oleh pelari yang normal matanya: ikuti garis kuning atau orange (bagi berpenglihatan residual) . Namun, alat apapun yang harus dipegang oleh pelari yang berenglihatan terbatas akan menghalangi lengan yang normal berayun dalam lari yang efisien. Satu alternatif lain adalah menyuruh teman yang dapat melihat bersepeda disamping pelari yang berpenglihatan terbatas. Teman yang bersepeda itu dapat berbicara, satu alat yang dapat berbunyi dipasang disepeda untuk memberi arah. Akhirnya, semakin hilang penglihatan semakin terlihat penyimpangan mekanika tubuh. Satu teknik untuk melatih mekanika tubuh adalah menyuruh yang berkelainan memeriksa dengan cara meraba boneka atau menekuni bagianbagiannya dapat bergerak. Satu teknik lain adalah menggunakan kipas angin. Udara yang dihembuskan oleh kipas angin yang besar ke bagian depan dari tubuh dapat merangsang kesadaran tentang bagian- bagian tubuh: umpamanya yang bersangkutan dapat diminta untuk mengangkat atau menundukkan kepalanya untuk mendapat terpaan angin.

Daftar Pustaka Andrie. 2010. Pendidikan Jasmani Tunanetra. (Online), (http://andriededi.blogspot.com/2010/05/pendidikan-jasmani-tunanetra-definisi.html, diakses 4 Desember 2011) Ephie2,S. 2009. Tunanetra. (Online), (http://ephie2.wordpress.com/tag/rpp, diakses 4 Desember 2011) Fnpinky. 2010. Tunaneetra. (Online), (http://fnpinky.wordpress.com/2010/01/08/tuna-netra/, diakses 3Desember 2011) Hosni Irham. 2010. Konsep Dasar Bimbingan Jasmani Adaptif bagi Tunanetra. Jakarta: PLB FIP UPI Insan23,s. 2010. Teknik Lari. (Online), (http://insan23.wordpress.com/, diakses 4 Desember 2011) Ulya07. 2009. Penjas Adaptif. (Online), (http://ulya07.wordpress.com/2009/11/03/pendidikan-jasmani-adaptif/, diakses 4 Desember 2011) Wikipedia. 2011. Wikipedia. 2011. Tunanetra, (Online), (http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tunanetra&oldid=4582599, diakses 4 Desember 2011)