Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI II KOMBINASI ANTIBIOTIKA Nama kelompok Ogy Goesgyantoro Nurazaniah Rakhmadewi Nina Nurwila Siska Hotimah

Eldi Ali Rakhman (10060309086) (10060309087) (10060309088) (10060309089) (10060309090)

Kelompok: 2C Asisten Tanggal Praktikum Tanggal Laporan : : Kamis, 24 April 2012 : Kamis, 10 Mei 2012

LABORATORIUM TERPADU FARMASI UNIT D PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2012

KOMBINASI ANTIBIOTIKA

I.

Tujuan Percobaan

Setelah melakukakan percobaan ini diharapkan mahasiswa dapat : - Mendapatkan gambaran tentang efek yang terjadi bila 2 antibiotika dikombinasi secara in vitro. - Menentukan efek kombinasi yang terjadi dengan menggunakan metode pita. II. Teori Dasar Kombinasi obat dapat berupa satu sediaan obat yang mengandung sekurang-kurangnya dua senyawa aktif dalam perbandingan yang tetap dan masing-masing senyawa aktif mempunyai peranan pada keseluruhan efektivitas terapi. Penggunaan sekurang-kurangnya dua sediaan obat dengan senyawa aktif yang berbeda untuk digunakan bersama-sama dan masingmasing sediaan diharapkan memberikan efektivitas terapi tertentu menuju perbaikan status klinis, tidak dikategorikan sebagai kombinasi obat dalam arti sesungguhnya. (Joke, 1991) Pemilihan penggunaan kombinasi obat untuk terapi dan bukan obat tunggal sering merupakan sesuatu yang kontroversial. Kelebihan kombinasi obat dibandingkan dengan sediaan obat yang mengandung hanya satu senyawa aktif diharapkan berupa peningkatan efek terapi, berkurangnya kemungkinan muncul reaksi yang merugikan atau mengganggu pemakaian dan harga obat yang lebih murah. Efek merugikan atau menggangu pemakai obat dapat dikurangi dengan sesuatu senyawa aktif dalam kombinasi obat yang berperan sebagai antagonis terhadap efek yang tidak dikehendaki dari senyawa aktif utama. Kelemahan dari penggunaan kombinasi obat dibandingkan dengan sediaan yang mengandung hanya satu senyawa aktif ilaha rasio dosis yang tidak dapat dikendalikan; dalam kombinasi terdapat senyawa aktif dengan potensi yang rendah hanya sedikit atau tidak ada kf ontribusinya kepada efek terapi.; atau dalam kombinasi terdapat senyawa aktif yang sebenarnya menghambat efektivitas senyawa aktif utama.

2.1

Kombinasi Antibiotika Antibiotika ataupun antimikroba sering diberikan kepada pasien sebagai

kombinasi untuk mengatasi infeksi. Untuk suatu mikroba penginfeksi, kombinasi antibiotika dapat bersifat sinergis, antagonis atau tanpa perubahan antibiotika. Pada umumnya dua antibiotika yang bersifat bakterisid bila dikombinasi akan bekerja sinergik misalnya Ampisilin dan Sefalosporin, sedangkan kombinasi dua antibiotik bakteriostatik menimbulkan efek aditif misalnya Tetrasiklin dan Kloramfenikol tetapi kombinasi antibiotik bakterisid dengan bakteriostatik adalah antagonis bila kuman peka terhadap bakteri bakterisid misalnya Ampisilin dan Tetrasiklin . Pada penggunaan kombinasi antibiotik harus diingat bahwa pengurangan dosis masing-masing kompnen harus mempunyai sifat farmakokinetik yang sama atau mirip dan tidak ada resistensi silang. Resistensi silang mungkin terjadi karena struktur kimia yang sama atau mekanisme kerja sama. Namun bukan hanya efek kombinasi mikoba perlu diperhatikan, tetapi juga efek kombinasi terhadap pasien.

Gambar 1. Kombinasi Antibiotik Efek Sinergis

Gambar 2. Kombinasi Antibiotik Efek Aditif

Gambar 3. Kombinasi Antibiotik Efek Antagonis Penggunaan kombinasi antibiotika yang tepat harus dapat mencapai sasaran sebagai berikut . a. Kombinasi bekerja sinergik terhadap mikroba penyebab infeksi Efek sinergis dari kombinasi antibiotik dapa muncul, bila antibiotik yang terdapat di dalam kombinsi bekerja pada dua lokasi yang berbeda dalam organism yang mencakup rute metabolic yang sama ataupun berlainan. Beberapa contoh dari kombinasi penisilin atau sefalosporin, vankomsin, yang aktif bekerja menghambat sintesis dinding sel bakteri, mempermudah

antibiotik aminoglikosida memasuki sel mikroorganisme, berinteraksi dengan ribosom dan menghambat sintesis protein mikroorganisme tersebut. b. Kombinasi mencegah terjadi resistensi mikroba Penggunaan kombinasi antibiotika untuk mencegah terjadinya resistensi pada mikroorganisme yang digarap, didasarkan pertimbangan bahwa kemungkinan resistensi mikroba pada pemakaian simultan dari dua antibiotika yang masing-masing memperlihatkan resistensi mikroba dengan frekuensi tersendiri, maka kemungkinan resistensi pada pemakaian simultan , berbanding terbalik dengan hasil kali frekuensi tersebut. Pencegahan resistensi dengan kombinasi antimikroba, terutama dapat diharapkan pada infeksi oleh hanya satu mikroba dengan kemampuan pengembangan resistensi lebuh cepat trhadap obat tunggal. c. Kombinasi sebagai tindak awal pengangan infeksi, bertujuan mencapai sasaran spectrum kerja luas pada infeksi yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme. Penggunaan kombinasi untuk spectrum kerjanya dan menangani kasus seperti septisemia bakteri, sering disalahgunaka. Kombinasi antibiotik tetap digunakan, meskipun telah diketahui bahwa mikroorganisme yang dihadapi, peka hanya satu antibiotik. Seharusnya mikroorganismr penyebab infeksi dipastikan secara cermat identitasnya dan dipilih antibiotik yang tepat untuk menanganinya, karena pada dasarnya satu antibiotik yang digunakan berdasarkan spectrum aktivitas yang cocok terhadap mikroba penginfeksi, dapat memadai untuk mengatasi infeksi tersebut. Dengan demikian diperkecil pula toksisitas untuk pasien karena penggunaan kombinasi berbagai obat dan ditekan pula kemungkinan seleksi muatan mikroorganisme yang resisten untuk berbagai obat. d. Kombinasi antibiotik digunakan untuk menangani beberapa infesi sekaligus. Pada penanganan beberapa infeksi dengan kombinasi antibiotik ada kemungkinan bahwa kombinasi tidak sinergik terhadap sesuatu

mikroorganisme ataupun justru bersifat antagonis terhadapnya.

Penggunaan kombinasi antibiotika untuk menanggulangi infeksi campuran oleh berbagai mikroorganisme., perlu memperhitungkan kemungkinan bahwa kombinasi bersifat antagonis terhadap mikroorganisme tersebut. Obat yang paling lemah aktivitasnya dalam kombinasi harus secara mandiri aktif terhadap sesuatu mikroorganisme pathogen bila ada kepekaan mikroorganise yang tumpang tindih 2.2 Antibiotik yang digunakan 2.2.1 Tetrasiklin a. Struktur Kimia

Gambar .Struktur Tetrasiklin

b.

Spektrum Kerja dan Cara Kerja Tetrasiklin mempunyai spectrum kerja yang luas yaitu terhadap

sejumlah bakteri gram positif dan negative. Juga efektif terhadap beberapa mikroorganise yang resisten terhadap obat-obat yang bekerja pada dinding sel bakteri, seperti riketsia, mikoplasma, klamidia, mikobakteri yang atipikal, leptospira, spirokhet, dan dalam dosis tinggi aktif juga terhadap amuba. Sedangkan aktivitas terhadap fungi kecil. Ini tidak berarti bahwa golongan tetrasiklin selalu merupakan obat pilihan untuk penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme diatas. Pada beberapa mikroorganisme kelompok ini bekerja sedang atau bahkan lemah sehingga pilihan antibiotik atau khemoterapetika lain.

Secara in vitro senyawa ini bekerja secara bakteriostatika di mana hanya berkembang biak yang dipengaruhi. Baik sensitivitas maupun

resistensi suatu mikroorganisme terhadap salah satu turunnannya yang sama. c. Resistensi Resistensi terhadap kelompok-kelompok tetrasiklin berlangsung lambat dan bertahap seperti yang diamati pada penisilin. Mikroorganisme yang menjadi tidak peka lagi terhadap suatu tetrasiklin biasanya juga akan resisten terhadap tetrasiklin lainnya. Resistensi yang tinggi terutama diamati pada Staphylococcus, Enterococcus dan bakteri enteral. Resistensi yang terjadi pada E.coli dan mungkin juga pada bakteri lainnya

disebabkan oleh suatu plasmid dan hanya terjadi jika ada kontak sebelumnya dengan obat bersangkutan , sedangkan obatnya sendiri tidak berubah. Plasmid yang menyebabkan resistensi ini mempunyai informasi genetik untuk sejumlah protein hingga dapat mempengaruhi transport obat masuk ke dalam sel. Pada E.coli sekurang-kurangnya satu protein ini terdapat pada membrane sitoplasma bagian dalam dan akan mengganggu akumulasi tetrasiklin yang membutuhkan energy. d. Efek samping dan Toksisitas Pada dosis terapi, kelompok tetrasiklin mempunyai tokisitas yang relatif kecil dan tergolong pada antibiotik yang dapayt diterima dengan baik oleh tubuh. Pada saluran cerna dalam batas-batas tertentu dapat menyebabkan iritasi saluran cerna pada individu tertentu terutama setelah pemberian obat oral. Makin besar dosis, efek iritasi akan makin besar. Ini dapat dicegah dengan pemberian tetrasiklin bersama makanan (kecuali produk yang terbuat dari susu) atau dengan antasida yang tak mengandung alumunium, magnesium, kalsium. Toksisitas pada ginjal. pada pasien penderita penyakit ginjal,

tetrasiklin menyebabkan uremia dengan menghambat sintesis protein

sehingga terjadi efek katabolik. Ini menyebabkan meningkatnya azotemia akibat metabolism asam amino. Pengaruh pada jarngan berkapur. Anak anak yang mendapat

pengobatan dengan tetrasiklin baik jangka panjang maupun jangka pendek akan menderita kerusakan pda gigi yang menjadi warna coklat kehitaman. Makin besar dosis relatif terhadap bobot badan anak yang bersangkutan, makin hebat kerusakan pada email. Resiko ini akan paling tinggi jika tetrasiklin diberikan pada bayi sebelum pertumbuhan giginya. e. Indikasi Tetrasiklin digunakan cukup luas baik untuk penanganan penyakit infeksi maupun sebagai aditif pada makanan hewan untuk menstimulasi pertumbuhan. Kedua pemakaian ini menambah resistensi bakteri terhadap tetrasiklin. Tetrasiklin digunakan untuk penyakit riketsia dan penyakit bakteri, beberap Mycoplasma dan Chlamydia. Selain itu untuk psitakosis, konjungtivis, trachoma, kolera dan masih banyak lagi. f. Kontraindikasi Tetrasiklin tidak digunakan pada penderita yang alergi terhadap tetrasiklin. Preparat yang mengandung Mg tidak digunakan pada miastenia gravis. Tidak digunakan pada triwulan ke 2 dan 3 kehamilan, pada anak-anak sampai usia delapan tahun, pada gangguan fungsi hati dan ginjal. 2.2.2 Ampisilin

2.2.3 Kloramfenikol

2.3 Bakteri yang digunakan 2.3.1 Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus tampak hidup bergerombol seperti seikat anggur berwarna kuning. Warna tersebut dihasilkan oleh pigmen yang melapisi dinding sel. Memiliki sifat aerob fakultatif, artinya membutuhkan oksigen pada saat tertentu, namun dalam kondisi lain mampu bertahan hidup tanpa oksigen sama sekali. (Anneahira, tanpa tahun).

Gambar II.4 Staphylococcus aureus Staphylococcus aureus tidak menghasilkan spora dan tidak motil, tidak bergerak tetapi mampu membentuk kapsul untuk melindungi diri. Ukuran selnya berkisar 0,8-1,0 m, dan tumbuh optimal pada suhu normal tubuh manusia, kisaran 36-37C. Bakteri ini mampu berkembang dalam lingkungan dengan konsentrasi NaCl sekitar 3 Molar. (Anneahira, tanpa tahun). Staphylococcus aureus memiliki kemampuan mendeteksi jumlah sel menggunakan sinyal oligopeptida, dan memastikan jumlah tersebut cukup untuk memproduksi toksin dan enzim koagulase. Enzim inilah yang berfungsi menggumpalkan firinogen di dalam plasma darah sehingga Staphylococcus aureus selamat dari fagositosis dan respon sistem antibodi pada tubuh kita. (Anneahira, Tanpa tahun). Staphylococcus aureus dapat mengganggu sistem imun pada tubuh manusia karena mengikat antibodi, menyerang membran sel dan menyebabkan hemolisis, serta leukolisis yang mematikan sel tubuh manusia. (Anneahira, Tanpa tahun).

Staphylococcus aureus termasuk bakteri gram positif. Bakteri ini berbentuk coccus (bulat), hidup berkoloni (seperti buah anggur) dan memiliki karakteristik hemolytic pada darah agar, catalase-oxidase-positif dan negatif, dapat tumbuh pada suhu berkisar 15 sampai 45 derajat dan lingkungan NaCl pada konsentrasi tinggi hingga 15% dan menghasilkan enzim koagulase. Selain itu biasanya, S.aureus merupakan patogen seperti bisul, styes dan furunculosis beberapa infeksi (radang paru-paru, radang urat darah, saluran kencing, osteomyelitis serta menyebabkan keracunanan makanan yaitu dengan melepaskan enterotoxins menjadi makanan sehingga menjadi toksik dengan melepaskan superantigens ke dalam aliran darah (Kenneath, 2008).

2.7 Escherichia coli Escherichia coli (E. coli) adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif, ditemukan oleh Theodor Escherich (tahun 1885). Hidup pada tinja dan menyebabkan masalah kesehatan pada manusia, seperti diare, muntaber serta masalah pencernaan lainnya. Bakteri Escherichia coli merupakan kuman dari kelompok gram negatif, berbentuk batang dari pendek sampai kokus, saling terlepas antara satu dengan yang lainnya tetapi ada juga yang bergandeng dua-dua (diplobasil) dan ada juga yang bergandeng seperti rantai pendek, tidak membentuk spora maupun kapsula, berdiameter 1,1 1,5 x 2,0 6,0 m, dapat bertahan hidup di medium sederhana dan memfermentasikan laktosa menghasilkan asam dan gas, kandungan G+C DNA ialah 50 sampai 51 mol % (Pelczar dan Chan, 1986:949). Bergerak aktif dan tidak berspora. Suhu yang baik untuk pertumbuhan bakteri ini adalah antara 8C-46C, tetapi suhu optimumnya adalah 37C. Morfologi dan ciri-ciri pembeda Escherichia coli yaitu: (1) merupakan batang gram negatif, (2) terdapat tunggal, berpasangan, dan dalam rantai pendek, (3) biasanya tidak berkapsul, (4) tidak berspora, (5) motil atau tidak motil,

peritrikus, (6) aerobik, anaerobik fakultatif, (7) penghuni normal usus, seringkali menyebabkan infeksi (Pelczar dan Chan,1986:809-810).

Gambar II.5 Escherichia coli Escherichia coli dapat tumbuh di medium nutrien sederhana, dan dapat memfermentasikan laktosa dengan menghasilkan asam dan gas. Kecepatan berkembangbiak bakteri ini adalah pada interval 20 menit jika faktor media, derajat keasaman dan suhu tetap sesuai. Selain tersebar di banyak tempat dan kondisi, bakteri ini tahan terhadap suhu, bahkan pada suhu ekstrim sekalipun. Oleh karena itu, bakteri tersebut dapat hidup pada tubuh manusia dan vertebrata lainnya. (Anonim II, 2010).

III. Alat dan Bahan Bakteri Uji : Staphylococcus aureus dan E.coli Antibiotik : Tetrasiklin HCL, kloramfenikol, Ampisilin Na Medium : air kaldu , agar kaldu Bahan lain : pita kertas, kertas berlemak, alumunium foil. Alat : cawan petri, tabung reaksi , batang pengaduk, jarum se, pipet Eppendrorf, Vortex, Spektrofotometer, pinset