Anda di halaman 1dari 25

PT HAUS INDONESIA

Jln. Goalpara Kel. Subangjaya, Kec. Cikole, kota Sukabumi Jawa Barat INDONESIA

Oleh : MUH. SAEFUL ROHMAN HASAN P2DA11019

EXECUTIVE SUMMARY Produksi susu dalam negeri baru bisa memasok tidak lebih dari 30% dari permintaan nasional, sisanya 70% berasal dari impor, padahal kondisi geografis, ekologi, dan kesuburan lahan dibeberapa wilayah Indonesia memiliki karakteristik yang cocok untuk pengembangan agribisnis persusuan. Mengingat potensi sumberdaya alam Indonesia, bagi

pengembangan agribisnis persusuan adalah ironis jika sebagian besar dari kebutuhan susu Indonesia masih harus diimpor. Susu merupakan salah satu pangan yang memiliki kandungan gizi yang tinggi dan lengkap, baik kandungan protein, lemak, mineral maupun vitamin. Oleh karenanya, susu saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok oleh sebagian besar masyarakat di dunia untuk menunjang kesehatan dan pemenuhan gizi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ketersediaan susu perlu diperhatikan. Konsumsi susu masyarakat dominan dalam bentuk susu hasil olahan industri besar karena kebiasaan masyarakat minum susu segar masih kurang serta belum optimalnya promosi dan sistem pemasaran susu segar. Kondisi ini menyebabkan produksi susu sebagian besar

mengandalkan serapan UPS/KUD/IPS dengan tingkat harga jual sual susu yang belum berpihak pada upaya akselerasi peningkatan pendapatan.

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam peta perdagangan internasional susu segar maupun produk susu, saat ini Indonesia berada pada posisi sebagai net-customer. Industri pengolahan susu nasional masih sangat bergantung pada impor bahan baku susu, produksi susu dalam negeri baru bisa memasok tidak lebih dari 30% dari permintaan nasional, sisanya 70% berasal dari impor, padahal kondisi geografis, ekologi, dan kesuburan lahan dibeberapa wilayah Indonesia memiliki karakteristik yang cocok untuk pengembangan agribisnis persusuan. Mengingat potensi sumberdaya alam Indonesia, bagi pengembangan agribisnis persusuan adalah ironis jika sebagian besar dari kebutuhan susu Indonesia masih harus diimpor. Hilangnya kesempatan terbaik (opportunity loss) yang berasal dari tidak

dimanfaatkannya potensi sumberdaya yang ada untuk pengembangan agribisnis persusuan dan hilangnya potensi revenue yang seharusnya diperoleh pemerintah dari pajak apabila agribisnis persusuan

dikembangkan secara baik. Dilihat dari sisi konsumsi, sampai saat ini konsumsi masyarakat Indonesia tergolong sangat rendah hanya 8 liter/kapita/tahun itu pun sudah termasuk produk olahan yang mengandung susu. Konsumsi Negara tetangga Thailand, Malaysia dan Singapura rata-rata mencapai 30 liter/kapita/tahun, sedangkan Negara-negara Eropa sudah mencapai 100 liter/kapita/tahun. Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah

penduduk di Indonesia, dapat dipastikan bahwa konsumsi susu oleh penduduk Indonesia meningkat. Perkiraan peningkatan konsumsi tersebut merupakan peluang yang harus dimanfaatkan dengan baik. Kondisi susu segar di Indonesia saat ini, sebagian besar (91%) dihasilkan oleh usaha rakyat dengan skala usaha 13 ekor sapi perah/ peternak. Skala usaha ternak sekecil ini jelas kurang ekonomis karena keuntungan yang didapatkan dari hasil penjualan susu

hanya dapat memenuhi sebagian kebutuhan hidup. Menurut manajemen modern sapi perah, skala ekonomis bisa dicapai dengan kepemilikan 1012 ekor sapi perah/ peternak.

B. Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan PT. HAUS INDONESIA diantaranya : Membuka lapangan kerja baru, Meningkatatkan skala usaha, Mengoptimalkan potensi dibidang peternakan, baik potensi alam, dan infrastuktur yang selama ini sudah berjalan, Meningkatkan produksi susu segar dalam rangka suplay kepada IPS sebagai bukti kejelasan jaminan pasar susu segar yang terus meningkat permintaanya, serta meningkatkan susu masyarakat. Menunjang Pemerintah Daerah dalam program Otonomi Daerah melalui kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). C. Gambaran Usaha Identitas Perusahaan a) Nama Perusahaan b) Lokasi Perusahaan Kota Sukabumi c) Pemilik Perusahaan : Muh. Saeful Rohman Hasan : PT HAUS INDONESIA : Kel. Subang Jaya Kec. Cikole

d) Telepon Perusahaan : 085647370887 Kegiatan Usaha a) Unit Sapi Perah b) Pengolahan Kompos

II.

ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

A. Pangsa Pasar Industri pengolahan susu PT. Indolakto di Ci Curug Kabupaten Sukabumi. Pengecer susu. Pemasaran langsung kepada Konsumen.

B. Target Pasar Untuk meningkatkan keuntungan yang lebih baik maka sasaran pemasaran akan lebih baik banyak diarahkan kepada pemasaran langsung ke konsumen. Penjualan susu langsung kepada konsumen dalam bentuk murni tanpa diolah maupun dalam bentuk susu olahan akan memberikan margin yang lebih besar karena nilai jual kepada konsumen langsung jauh lebih tinggi dibanding dengan penjualan ke IPS ( Industri Pengolahan Susu). C. Strategi Pemasaran Produk = Kriteria susu segar yang baik adalah yang Halal, Aman, Utuh dan Sehat (HAUS) Price = Dalam menentukan harga ada beberapa faktor yang berpengaruh, seperti, biaya variabel, biaya tetap, jumlah pesaing. Placement = Pemasaran Sukabumi Promotion = Pemasangan iklan baik melalui media elektronik maupun media cetak. langsung ke konsumen di kota

III.

ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGI

A. Lokasi dan Lahan PT HAUS INDONESIA direncanakan berlokasi di kaki Gunung Gede Kelurahan Subangjaya Kecamatan Cikole Kota Sukabumi, dengan suhu rata-rata 18-300C, curah hujan berkisar antara 2000-3500 mm/tahun, dan kelembapan relative (RH) 85% berada pada ketinggian 800 s/d 900 dari permukaan laut dengan batas wilayah: Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Timur Sebelah Barat : Desa Sudajaya : Kelurahan Ciberem : Desa Sukaraja : Kelurahan Cisarua

B. Denah dan Tata Letak Usaha

SUKABUMI KOTA

SUKABUMI KOTA

PABRIK PADI PABRIK PADI MATERIAL

Jl. Goalpara Jln. Goalpara

KANTOR DESA LOKASI USAHA MATERIAL

Gunung Gede

GUNUNG GEDE

Kantor

Loket susu

Gudang Konsentrat

1. Perkandangan Perkandangan terbagi menjadi beberapa bagian yang dibedakan berdasarkan periode pemeliharaan. a. Kandang Sapi Laktasi Kandang mengunakan sistem saling membelakangi tail to tail, dengan ukuran dirata-ratakan 1, 75 m X 1, 2 m/individu karena tidak ada skatan kandang per individu, ternak hanya diikat saja. Dilengkapi dengan tempat pakan dengan kedalaman 10 cm dan lebar 50 cm dan tempat minum 50 X 40 cm. b. Kandang Sapi Keringan Kandang mengunakan sistem tunggal, dengan ukuran ruangan 4 m X 4 m/individu dengan skatan kandang berbahan bambu dengn tinggi 1 m, ternak tidak di ikat. Dilengkapi dengan tempat pakan dengan kedalaman 10 cm dan lebar 50 cm dan tempat minum 50 X 40 cm. c. Kandang Sapi Dara Kandang sapi dara sama halnya dengan kandang sapi laktasi mengunakan sistem saling membelakangi tail to tail, dengan

Gudang Hijauan

Kandang Karantina

Kandang Kering

Kandang Laktasi

Kandang Pedet

Kandang Betina Bunting

Pengolahan Limbah/Feses

ukuran dirata-ratakan 1, 75 m X 1, 2 m/individu karena tidak ada skatan kandang per individu, ternak hanya diikat saja. Dilengkapi dengan tempat pakan dengan kedalaman 10 cm dan lebar 50 cm dan tempat minum 50 X 40 cm. d. Kandang Sapi Karantina Kandang mengunakan sistem monitoring tunggal, dengan ukuran lebih luas dari pada kandang sapi laktasi dirata-ratakan 2 m X 1, 5 m/individu karena tidak ada skatan kandang per individu, ternak hanya diikat saja. Dilengkapi dengan tempat pakan dengan kedalaman 10 cm dan lebar 50 cm dan tempat minum 50 X 40 cm. e. Kandang Pedet 1) Kandang Individual Kandang menggunakan model panggung dengan ruangan yang tersekat-sekat yang berbahan bambu dan kayu, dengan ukuran 1 X 2 m2/ruangan dan tinggi skatan 1 m. Pedet ditempatkan pada kandang ini umur 3-8 minggu. Kandang idividual ini dilengkapi dengan tempat pakan. 2) Kandang Koloni Pedet yang sudah berumur lebih dari 8 minngu

ditempatkan berkelompok pada kandang koloni, dengan ukuran kandang keseluruhan 6 X 8 m, dilengkapi dengan tempat pakan.

2. Pemeliharaan Ternak Upaya untuk mencapai maksud pemeliharaan sapi perah

dimaksudkan khususnya produksi susu optimal dan memiliki kualintas dan kuantitas yang baik, dengan cara memperhatikan 3 hal pokok, yaitu Perawatan Ternak, Pemberian Pakan Ternak dan Kesehatan.

Pemeliharaan sapi perah dilakukan dalam sebuah kandang dalam satu kawasan sehingga pembinaan, pengawasan dan pengendalian usaha lebih efektif. Kegiatan perawatan ternak yang lain, antara lain adalah

perawatan tubuh ternak, pembersihan dan sanitasi kandang termasuk didalamnya kegiatan membersihkan bak makanan dan minuman. Pemberian pakan ternak dilakukan menurut ketentuan agar bahan pakan yang diberikan dapat mencukupi jumlah dan nilai gizi yang dibutuhkan ternak untuk berproduksi. Jenis pakan ternak yang diberikan terdiri atas Hijauan dan Konsentrat. Ternak yang diusahakan adalah tipe ternak perah, dengan bangsa sapi Fries Holstain didatangkan dari berbagai daerah, yang tentunya dilakukan penyeleksian dari silsilah dan perpomen ternak itu sendiri, penyeleksian dilakukan oleh TIM. Pemeliharaan ternak dimaksudkan agar ternak perah tetap dalam kondisi baik dan dapat menghasilkan susu dengan kualitas dan kuantitas yang baik. Perawatan ternak ini meliputi beberapa periode sapi, antara lain a. Sapi Laktasi Melakukan pemeliharaan pada sapi laktasi dilakukan secara rutin antara lain pemberian pakan, pemerahan, memandikan dan lain-lain dilakukan secara teratur dan tidak berubah-ubah. Karena perubahan perlakuan dapat dapat mengakibatkan turunnya produksi susu. Melakukan pembersihan badan sapi tujuannya agar kesehatannya terjaga dan agar air susu pada saat pemerahan benar-benar bersih.Tujuan utama dari usaha peternakan sapi perah adalah produksi susu, jika kita berhasil memerah maka

usaha yang kita jalankan berhasil, oleh karena itu kita harus betul betul bekerja dengan tekun dan lebih giat agar usaha yang sedang kita jalankan dapat mencapai hasil yang memuaskan. Sebelum kita melaksanakan pemerahan, terlebih dahulu harus dilakukan pemeriksaan terhadap sapi yang akan diperah. Jika sapi tersebut dalam kondisi sehat maka dapat dilakukan pemerahan, apabila sapi itu dalam keadaan sakit maka tidak dapat dilakukan pemerahan dan kita harus memeriksa terlebih dahulu sapi tersebut apa yang menyebabkan sapi itu terserang penyskit. Langkah langkah pemerahan sapi perah adalah sebagai berikut :

Dialakukan sanitasi kandang dari kotoran seperti faeses, air seni dan sisa-sisa makanan yang berbau. Kotoran-kotoran tersebut selain dapat mencemari air susus, baunya dapat terserap kedalam air susu sebab air susu mempunyai sifat yang dapat menyerap bau. Memandikan dan membersihkan sapi yang hendak diperah terutama pada bagian ambing dan bagian belakang sapi. Ambing dan lipatan paha (paha bagian dalam) dibersihkan dengan sara disiram air dan dielus dengan menggunakan tangan. Posisi duduk si pemerah berada disebelah kanan, dan berada agak sebelah depan kaki belakang sapi. Tangan kiri sewaktuwaktu dapat siap menjaga dan menahan kaki sapi bila akan menendang atau menginjak ember. Tangan kanan siap untuk melindungi atau memindahkan ember penampung susu dari dari tendangan atau injalan sapi, yang sebelumnya

mengoleskan vasline pada puting sapi, agar puting susu tidak lecet akibat pemerahan. Pemerah melakukan pemerahan dengan cara melakuakn penekanan dari bagian atas ambing ke bawah secara berurutan. Pemerahan dilakukan hingga susu benar-benar kosong.

b.

Sapi Keringan Sekurang-kurangnya 2 bulan sebelum sapi melahirkan, dilakukan kering kandang atau tidak boleh di perah. Hal ini perlu dilaksanakan untuk memberikan kesempatan istirahat pada sel-sel ambing untuk mempersiapkan produksi susu yang akan datang. Adapun cara dalam melakukan kering kandang : Pemerahan berselang Sapi yang biasanya diperah 2 kali sehari dilakukan pemerahan sekali saja dalam sehari selama 2-3 hari yang kemudian

diperjarang lagi dengan pemerahan 2 hari sekali demikian seterusnya. Pemerahan tak lengkap Memerah hanya sebagian susunya atau tidak sampai susu itu kosong. Dengan variabel waktu berselang kembali. Menghentikan pemerahan Pemberian ransum dan hijaun dikurangi, dengan demikian produksi susu akan menurun dan air sus akan menumpuk dalam ambing sehingga menekan kelenjar susus dan terhentinya produksi susu. c. Pemeliharaan Dara Pemeliharaan sapi dara dilakukan secara rutin dari mulai sanitasi ternak maupun pemberian pakan karena kemampuan

sapi dara dalam melahirkan anak serta berproduksi sangat dipengaruhi oleh kedua hal tersebut. Sapi dara pertama kali dikawinkan setelah sapi berumur 1,5-2 tahun, dengan catatan sudah memenuhi syarat perkawinan dilihat dari fisik maupun fisikologinya. d. Pemeliharaan Pedet Pada anak sapi yang baru dilahirkan memisahkan anak sapi tersebut ke kandang khusus untuk dilakukan penanganan, antara lain : Menempatkan anak sapi pada kandang yang beralaskan jerami kering. Lendir yang terdapat dalam hidung dan mulutnya dibuang (dibersihkan). Membersihkan seluruh bagian badan anak sapi dari lendir dengan menggunakan lap kering. Mengankat kedua kaki belakang keatas dengan bagian kepala berada diposisi bawah, kemudian kedua kaki belakang dinaik turunkan secara berulang-ulang.

Setelah dididamkan 30 menit, induk sapi yang melahirkan diperah dan susu diberikan kepada anaknya dengan media ember, pemberiannya dibantu dengan mengunakan tangan peternak yang sudah dilimuri susu kedalam mulut anak sapi secara perlahan yang nantinya akan disap-isap anak sapi, lalu sedikit-sedikit mulut anak sapi dituntun kedalam ember yang sudah berisi susu. 3. Pemberian Pakan a. Sapi laktasi Dikarenkan sapi laktasi diharapkan menghasilkan susu yang optimal, hijauan diberikan sebanyak 35 kg/ekor/hari dan konsentrat 5,4 kg/ekor/hari, dengan 2 kali pemberian pagi dan sore hari. Pemberian konsentrat diberikam sesudah pemerahan pada waktu pagi, dan setelah dilakukan pemerahan diberikan konsentrat dengan tenggang waktu 45 menit dan pemberian konsentrat pada saat sore hari diberikan sebelum pemerahan dengan tenggang waktu 30 menit kemudian hijauan diberikan. Pemberian minum diberikan secara adlibitum. b. Sapi kering kandang Dikarenkan sapi kering kandang, hijauan diberikan sebanyak 35 kg/ekor/hari dan konsentrat 5,4 kg/ekor/hari, dengan dua kali pembeian pagi dan sore hari. Pemberian hijauan diberikan dalam dua kali pemberian pada saat pagi dan sore hari sesudah pemberian konsentat. Pemberian minum diberikan secara adlibitum. c. Sapi dara Pada sapi dara hijauan diberikan sebanyak 35 kg/ekor/hari dan konsentrat 1,4 kg/ekor/hari, dengan dua kali pembeian pagi dan sore hari. Pemberian hijauan diberikan dalam dua kali pemberian pada saat pagi dan sore hari sesudah pemberian konsentat. Pemberian minum diberikan secara adlibitum. d. Pedet

Pedet diberikan susu sebanyak 2,5 liter/ekor/hari selama 4 bulan untuk pedet betina dan untuk jantan 2,5 liter/hari/ekor/selama 2 bulan. Pemberian di berikan dalam dua kali pemberian pagi dan sore hari. 4. Pembibitan Melakukan pengaturan perkawinan dengan cara : a. b. Melihat keadaan ternak, dari umur dan tanda-tandanya. Catatan reproduksi seperti kapan dikawinkan, kapan beranak, keguguran dan bagaimana anaknya. c. Pejantan yang digunakan dalam IB. Periode birahi sapi diasumsikan rata-rata 20 hari sekali, dengan masa birahi berlangsung rata-rata 16 jam untuk sapi betina. Tandatandanya antara lain : a. b. Sapi gelisah dan selalu berteriak-teriak. Kemaluannya bengkak, merah dan mengeluarkan lendir yang bening dan menggantung. c. d. Melepaskan diri dari ikatan dan sapi bersifat lebih aktif. Nafsu makan berkurang.

Setelah melakukan pemeriksaan diatas dan sapi layak untuk dikawinkan, maka IB dapat dilakukan oleh petugas IB atau mantri. 5. Kesehatan Ternak a. Pencegahan Penyakit Pemberian Vitamin ADEK dan B Komplek dilakukan setiap satu bulan sekali agar kesehatan ternak terjaga, karena dengan terjaganya kesehatan ternak, dengan apa yang diharapkan. b. Tindakan Pengamanan Apabila terjadi segera dilakukan isolasi dengan menempatkan ternak penderita pada kandang karantina. c. Penyakit yang sering menyerang sapi perah yaitu Brucellosis, mastitis, bengkak pada kaki (laminitis). Abses (abscesess), kembung perut (bloat) dan traumatik (luka dan patah tulang). proses produksi berjalan sesuai

1) Brusellosis Brusellosis merupakan jenis penyakit menular, yang menyababkan terjadi keguguran. Pengobatan brusellosis injeksi biosan, vextory LA, penstep, dan contrimex. Dan mengeluarkan plasenta yang masih terdapat dalam rahim. 2) Mastitis Mastitis merupakan pembekuan susu akibat pemerahan yang kurang baik, pengobatan mastitis dengsn pemberisn mastilak dengan dosis 1 serynge/puting yang terjangkit mastitis, dengan cara menyuntikannya ke dalam puting susu. 3) Penyakit Laminitis Laminitis merupakan penyakit yang menyerang kuku, laminitis akan menyebabkan kuku menjadi bengkak.

Pengobatan laminitis dengan pemberian portisan, dengan dosis 15 ml, vit dengan dosis 10 ml dan antibiotik dengan dosis 10 ml. Pemberian obat dan vitamin di lakukan dengan menyuntikkan di bagian pinggul. 4) Abscesess Abses merupakan benjolan yang tumbuh pada kulit, bersifat lunak. Pengobatan abses di lakukan dengan mengeluarkan nanah/membedah bagian yang bengkak tersebut yang terkandung di dalamnya kemudian di

bersihkan agar tidak terjadi infeksi luka akibat pembedahan yang dapat di jangkiti oleh kuman fesess yang di hasilkan, biasanya abses ini sering terjadi pada bagian-bagian daging yang dekat dengan tulang pada bagian kaki, lutut, dan pinggul. Setelah dilakukan pembedahan pada bagian abses kemudian di berikan vitamin dan antibiotik dengan dosis 10 ml dan 20 ml.

IV.

MANAJEMEN

Sumber tenaga kerja akan diprioritaskan berasal dari wilayah Sukabumi. Kebutuhan tenaga kerja diupayakan diserap dari tenaga ahli atau lulusan fakultas peternakan dan pekerja yang pernah bergelut dibidang sapi perah, total pekerja berjumlah 37 orang yang dijelaskan di finansial.
Pimpinan utama
Wakil pimpinan

Manajer keuangan

Manajer produksi

Manajer pemasar an

Manajer distribusi

Manajer humas

barang staff staff staff staff staff

V.

ASPEK EKONOMI, SOSIAL DAN POLITIK

Bisnis plan ini sapi perah ini salah satunya diarahkan untuk memecahkan masalah-masalah sosial ekonomi yang mendasar

khususnya memperluas lapangan kerja, memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, pemerataan pendapatan dan pengetasan kemiskinan. Produk susu yang dihasilkan setidaknya dapat menekan ketergantungan terhadap impor susu sehingga ketahanan pangan dapat ditingkatkan, sesuai amanat undang-undang dasar No. 7 tahun 1996, yaitu bertujuan untuk mewujudkan ketersediaan pangan bagi seluruh rumah tangga, dalam jumlah yang cukup, mutu dan gizi yang layak, aman dikonsumsi merata serta terjangkau oleh setiap individu.

Bisnis plan ini juga diharapkan mampu menciptakan keeratan sosial. Hal ini disebabkan adanya keterkaitan perusahaan sapi perah ini dengan petani sebagai pemasok bahan pakan dan masyarakat sebagai konsumen sebagai produk yang dihasilkan sehingga mampu meningkatkan

pendapatan yang pada akhirnya dapat mensejahterakan petani. Sebagai Negara agraris dan dengan potensi sumberdaya alam yang dimiliki serta didukung oleh besarnya sumberdaya manusia, bangsa Indonesia sudah seharusnya mampu menjadi Negara produsen hasil pangan terdepan dan mampu menciptakan ketahanan pangan. VI. ASPEK REGULASI DAN LEGALITAS

Kriteria susu segar yang baik adalah yang Halal, Aman, Utuh dan Sehat (HAUS) yaitu : Halal yaitu tidak mengandung atau tidak bersentuhan dengan bahan atau zat yang diharamkan agama islam. Aman yaitu tidak mengandung agen penyebab penyakit hewan menular dan residu bahan berbahaya (antibiotika, logam berat, pestisida, hormon dan lain-lain) Utuh yaitu tidak dikurangi atau ditambah sesuatu apapun. Sehat yaitu tidak mengandung zat gizi dalam jumlah cukup dan seimbang/proporsonal. Berdasarkan SNI No. 01-3141-1998 syarat susu segar antara lain : Tanda-tanda organolektik tidak berubah atau menyingkir yaitu warna putih kekuningan, bau dan rasa khas serta konsistensi normal. Kandungan zat gizi : protein minimal 2,7% dan lemak 3,0% Cemaran microba di bawah 1 juta/ml.

VII.

ASPEK LINGKUNGAN

Strategi produksi bersih yang telah diterapkan di berbagai negara menunjukkan hasil yang lebih efektif dalam mengatasi dampak lingkungan dan juga memberikan beberapa keuntungan, antara lain a). Penggunaan sumberdaya alam menjadi lebih efektif dan efisien; b). Mengurangi atau mencegah terbentuknya bahan pencemar; c). Mencegah berpindahnya pencemaran dari satu media ke media yang lain; d). Mengurangi terjadinya risiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan; e). Mengurangi biaya penaatan hukum; f). Terhindar dari biaya pembersihan lingkungan (clean up); g). Produk yang dihasilkan dapat bersaing di pasar internasional; h). Pendekatan pengaturan yang bersifat fleksibel dan sukarela

VIII.

ANALISIS RESIKO

A. Manajemen Produksi a. Produksi diutamakan untuk memenuhi kebutuhan susu di Sukabumi 10.000 liter/minggu atau 1.429 liter/hari. b. Jika terjadi kelebihan produksi dimanfaatkan untuk dibuat tahu susu atau dodol susu. c. Produksi pedet jantan dijual pada umur 2 bulan. d. Ternak dara sisa replacement dijual umur 2 tahun. B. Strategi Pemeliharan a. Syarat Bibit 1) Umur 1,5 2 tahun 2) Tidak gemuk 3) Berbentuk baji 4) Sehat 5) FH murni atau PFH dan lain-lain. b. Perkembangbiakan sapi Perah 1) Siklus birahi 21 hari dengan lama birahi 2-3 hari 2) Masa bunting 9 bulan 3) Masa kering kandang 1-2 bulan 4) Pemberian susu untuk pedet betina 4 bulan 5) Pemberian susu untuk pedet jantan 2 bulan 6) Umur afkir induk 6-9 tahun 7) Umur jual pedet jantan 2 bulan 8) Bila dibesarkan 1,5-2 tahun 9) Sex ratio kelahiran jantan atau betina = 1:1 10) Masa produktif ( menghasilkan susu) induk = umur 3-9 tahun 11) Mortalitas atau angka kematian a) Ternak dewasa = > 2 tahun = 2 % b) Ternak muda c) Pedet = 1-2 tahun = 3 % = < 1 tahun = 5 %

12) Jumlah induk laktasi dibandingkan sapi kering = 80 % : 20 % 13) Masa laktasi 9 10 bulan / 300 hari / tahun 14) Jarak kelahiran atau calving interval = 12 bulan 15) Sapi yang disiapkan untuk berproduksi adalah sapi yang siap dikawinkan atau sudah dewasa tubuh (berumur 1,5 2 tahun) 16) Perkawinan dilakukan dengan inseminasi buatan dan dilakukan pengaturan agar tiap bulan ada rata-rata 13 ekor sapi yang mulai laktasi. 17) Induk disiapkan dari hasil pemeliharaan pedat secara bertahap. C. Perhitungan Jumlah Ternak Sapi Perah Berdasar Kebutuhan Susu e. Masa laktasi mulai tahun 2 : 300 hari / tahun

Rata-rata produksi susu induk: 10 liter / hari Susu untuk pedet betina Susu untuk pedet jantan Susu rusak Perhitungan satu ekor : Produksi susu = satu tahun = 300 x 10 liter Susu untuk pedet betina = 2,5 x 120 Susu untuk pedet jantan = 2,5 x 60 Susu rusak = 3.000 liter = = = 300 liter 150 liter 15 liter :2,5 liter/hari/ekor/selama 4 bulan : 2,5 liter/hari/ekor/selama 2 bulan : 0,5 %/tahun

Total susu bersih (bila pedet betina) = 3000 (300 = 15) = 2.685 lt/th. Total susu bersih (bila pedet jantan) = 3000 (150 = 15) = 2.835 lt/hr Produksi bersih satu ekor bila pedet betina / satu hari = 2.685 : 300 = 8,95 liter. Produkksi bersih satu ekor bila pedet jantan / satu hari = 2.835 : 300 = 9,45 liter. Produksi bersih satu ekor bila pedet betina / jantan / satu hari = (8,95 + 9,45) : 2 = 9,2 luter.

Bila butuh 10.000 liter susu per minggu atau 1.429 liter per hari maka harus memelihara sapi pereh lakrasi sejumlah = 1,429 : 9,2 = 155 ekor. D. Koefisiean Teknis Ternak 1) Umur induk awal = 1,5 2 tahun 2) Persentasi induk laktasi = 83 % 3) Umur jual pedet jantan = 2 bulan 4) Umur afkir induk = 6-9 tahun 5) Sex ratio anak = 50 :50 6) GCC (Gross Calf Crop) = 90 % 7) NCC (Net Caif Crop) = 80 % 8) Masa laktasi = 300 hari / tahun 9) Rata-rata produksi induk = 10 liter / hari 10) Susu untuk pedet betina = 2,5 liter/hari/ekor/selama 4 bulan 11) Susu untuk pedet jantan = 2,5 liter/hari/ekor/selama 2 bulan 12) Susu rusak = 0,5 %/tahun 13) Replacement = 25 % 14) Penambahan jumlah ternak induk pada tahun ke-5 sampai 7 sebanyak 25 % dari dara yang dipelihara berumur 1,5 2 tahun. E. Proyeksi Kebutuhan (komoditas ternak) 1. Pakan a. Hijauan 1 satuan Ternak (ST) = 35 kg rumput/hijauan segar/sehari. Kebutuhan hijauan untuk tiap tahunnya berbeda sesuai dengan jumlah ST. b. Konsentrat 1) Kebutuhan untuk sapi laktasi adalah 5,4 kg/hari 2) Kebutuhan untuk sapi non laktasi adalah 1,.4 kg/hari 2. Kandang = 3 m2 x 320 ST = 960 m2 3. Tenaga kerja = 15,9 HK/tahun

Tenaga kerja yang dibutuhkan pada periode (tahun) pertama sebanyak 10 orang. Selanjutnya, pada tahun berikutnya

tenaga kerja bertambah sehingga pada tahun ke- 10 jumlahnya menjadi 20 orang sesuai dengan pertambahan jumlah induk dan pedet yang dipelihara. 4. Pengobatan 1 ST = 1 unit / tahun yang terdiri dari obat cacing, mastitis dan obat diare. 60.000. 5. Breeding 1 ST (induk) = 2 unit/tahun, denga biaya per unitnya Rp. 25.000 sehingga setiap 1 ST membutuhkan biaya untuk breeding (IB) sebesar Rp. 50.000 6. Peralatan Susu 1 ST (induk) = 1/5 unit/ tahun (milk can volume 10 liter harganya Rp. 350.000). 7. Kebun Rumput Kebun rumput yang dimiliki seluas 9 hektar dengan status sewa. Luas 1.000 m2 disewa dengan harga 4 juta dalam Biaya yang dikeluarkan per unit adalah Rp.

jangka waktu 10 tahun sehingga sewa lahan 9 hektar selama 10 tahun sebesar Rp. 358.400.000. 8. Kantor = 96 m2 9. Ruang Susu = 200 m2 10. Gudang pakan = 35 m2 11. Tempat pengolahan limbah = 200 m2 12. Exercise = 600 m2 13. Tempat pembuangan limbah = 3 m2 14. lain-lain = 400 m2

Proyeksi sapi Perah (PFH) 155 induk + IB ( tanpa pre-proyek)


Tahun Induk Pedet betina Pedet jantan Dara Thn Dara Thn Ternak ST Penjual an Pedet jantan Dara Thn Susu (1000 Lt) Induk Afkir Sisa tnk 155 217 279 341 315 342 375 366 360 360 39 43 46 46 46 46 342.24 342.24 342. 24 375 .36 408.4 8 441. 6 441. 6 441. 6 441. 6 2 8 4 1 22 28 34 62 62 62 68 74 80 80 80 80 155 186 217 148 166 187 311 317 320 320 155 279 341 403 430 463 502 514 520 520 2 62 62 62 68 74 80 80 1 62 62 62 68 74 80 80 80 62 62 62 68 74 80 80 80 80 1 155 2 155 62 3 155 62 4 155 62 5 170 68 6 185 74 7 200 80 8 200 80 9 200 80 10 200 80

IX.

ASPEK FINANSIAL

X.

KESIMPULAN DAN REKOMONDASI

A. Kesimpulan 1. Untuk mendapatkan hasil produksi yang optimal usaha ini difokuskan dengan memperhatikan 3 hal pokok, yaitu

perawatan ternak, pemberian pakan ternak dan kesehatan. 2. Usaha sapi perah PT HAUS INDONESIA tidak layak untuk dijalankan berdasarkan perhitungan analisis ekonomi, karena setelah 10 tahun modal tidak kembali. B. Rekomondasi 1. Pemerintah perlu memberikan dukungan nyata untuk

meningkatakan produktivitas dan kualitas hasil ternak (susu) kepada pengusaha atau peternak. Untuk itu, penelitian dan pengembangan khususnya melalui teknis dan manajemen produksi perlu ditingkatkan. Gerakan nasional sebaiknya diikuti dengan aktivitas nyata berupa bantuan antara lain dalam bentuk pelatihan dan penyuluhan budidaya sapi perah yang baik, mendorong tersedianya bibit unggul, akses dan ketersediaan modal, serta beragam industry pengolahan susu sehingga harga menjadi relative lebih stabil. 2. Adanya fasilitas untuk dapat melakukan pengolahan lebih lanjut seperti keju, mentega, pasteurisasi, yogurt, dsb. Hal ini disertai dengan program promosi secara luas kepada masyarakat. 3. Pemerintah pusat maupun daerah sebaiknya mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mampu memperkuat posisi tawar pengusaha atau peternak sapi perah , sebagai contoh dengan menghapus retribusi yang menyebabkan ongkos retribusi lebih mahal serta pemberlakuan tarif bea masuk terhadap susu impor hanya 5 % sedangkan bahan baku lain seperti gula 35% tentu hal ini kurang harmonis perlu dikaji kembali.