Anda di halaman 1dari 8

Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.39.

April 2011

PEMANFAATAN ABU AMPAS TEBU SEBAGAI BAHAN SUBSITUSI FILLER TERHADAP KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPAL BETON
H. Muchtar Syarkawi
Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UMI Jl. Urip Sumoharjo km 05 Makassar, telp (0411)443685

Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh pemanfaatan Abu Ampas tebu dari Pabrik Gula Takalar dengan variasi filler terhadap nilai karakteristik campuran aspal beton. Filler yang digunakan adalah Abu Ampas Tebu dan abu batu dari PT. Bumi Karsa Sulawesi Selatan. Karakteristik campuran meliputi nilai VIM, VMA, stabilitas, flow dan Marshall Quotien. Pengujian karakteristik agregat, filler dan aspal dilakukan sebelum membuat benda uji Marshall guna mengetahui apakah material tersebut telah memenuhi syarat atau tidak sebagai material campuran beraspal. Percobaan pertama dilakukan untuk menganalisis karakteristik campuran akibat pengaruh variasi filler dan kadar aspal, sekaligus penentuan kadar aspal optimum dengan variasi kadar aspal 4,5%, 5%, 5,5%, 6% dan 6,5%. Percobaan kedua dengan kadar aspal optimum untuk menganalisis nilai stabilitas sisa dari uji Marshall Immersion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai uji karakteristik Abu Ampas Tebu memenuhi syarat jika digunakan sebagai bahan campuran aspal beton. Secara umum nilai stabilitas tertinggi pada penambahan abu ampas tebu 9 % dengan nilai stabilitas (1640,72 kg). Pada campuran dengan Abu ampas tebu , diperoleh kadar aspal optimum (5,00%), nilai flow tertinggi 9 % (3,76 mm), VIM 18 % (4,07 %), VMA 18 % (9,71 %), dan uji Marshall Immersion (81,90 % ). Kata Kunci : Abu Ampas Tebu , Abu Batu, Marshall, karakteristik campuran. 1. PENDAHULUAN Pada penggunaan dan penerapan aspal beton untuk kondisi jalan dengan volume lalu lintas yang cukup tinggi seringkali ditemukan masalah terutama dalam hal teknis. Hal tersebut disebabkan kinerja dari lapisan permukaan tidak selalu memuaskan sehingga terjadi kerusakan secara dini. Disamping itu terjadi peningkatan volume lalu lintas yang cukup pesat dan ditambah lagi kondisi natural Indonesia yang beriklilm tropis yang mempunyai temperatur udara cukup tinggi, radiasi sinar matahari, curah hujan yang tinggi dan lain sebagainya sehingga mempengaruhi secara langsung kerusakan dini pada struktur jalan tersebut. Bertolak dari masalah tersebut diatas, sudah banyak yang memikirkan dan mencoba berbagai alternatif untuk peningkatan kualitas aspal beton pada perkerasan jalan raya supaya kerusakan secara dini bisa dicegah. Untuk peningkatan kualitas tersebut, tentu saja dibutuhkan material perkerasan yang memenuhi spesifikasi. Dalam hal penyediaan bahan material yang memenuhi persyaratan inilah yang sering timbul masalah dimana bahan tersebut semakin lama semakin berkurang jumlahnya dan semakin dibutuhkannya biaya yang cukup besar dalam pengadaan bahan material tersebut. Sehingga mulai muncul banyak pemikiran untuk pengadaan material alternatif sebagai pengganti dari material yang telah lazim digunakan.

Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.39. April 2011

Peningkatan kualitas dari perkerasan jalan raya dengan penggunaan berbagai jenis bahan alam sebagai bahan tambah maupun bahan pengganti yang mampu memberikan kontribusi kekuatan pada perkersan jalan. Sebagai contoh dalam penggunaan bahan pengisi (filler) dan bahan tambah. Filler dalam campuran diperlukan untuk mengisi rongga - rongga diantara partikel agregat sehingga dapat menigkatkan kerapatan campuran. Salah satu alternatif yaitu penggunaan limbah buangan dari limbah pabrik GULA TAKALAR yang berupa abu ampas tebu yang akan digunakan sebagai filler tambahan pada campuran aspal beton, dimana abu ampas tebu yang tersedia cukup banyak yaitu 20 ton tiap tahunnya, selain itu pengadaan abu ampas tebu cukup mudah dan harganya relatif murah sehingga apabila ditinjau dari segi ekonomis akan lebih menguntungkan serta abu ampas tebu memiliki kandungan silica yang cukup tinggi sehingga diharapkan mampu meningkatkan mutu campuran aspal beton. Jadi berdasarkan uraian di atas secara umum penelitian ini bertujuan untuk: 1. Menganalisis nilai karakteristik dari uji Marshall pada campuran aspal beton dan menganalisis nilai karakteristik Abu Ampas Tebu sebagai bahan campuran aspal beton. 2. Menganalisis penggunaan Abu Ampas Tebu dari beberapa variasi yang diteliti diantaranya 0 % 30 % filler abu ampas tebu yang memiliki kriteria paling optimal terhadap kinerja campuran aspal beton. 3. Menganalisis dan mengevaluasi penggunaan agregat batu pecah, abu batu dan variasi penambahan abu ampas tebu terhadap nilai karakteristik campuran beton aspal. 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Lab. Jalan Raya dan Transportasi Jurusan Teknik

Sipil Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia Makassar. Bahan material yang digunakan pada penelitian ini meliputi Agregat batu pecah, pasir, abu batu dan abu ampas tebu dari PT. Bumi Karsa Makassar, aspal pertamina penetrasi 60/70. Peralatan yang digunakan antara lain: seperangkat alat untuk pengujian aspal, pengujian agregat dan alat uji Marshall yang tersedia di Laboratorium Jalan Raya dan Transportasi Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia Makassar. Standar pengujian yang digunakan antara lain SNI, AASHTO/ASTM, dan beberapa pengujian dengan British Standard. Pengujian bahan material agregat antara lain adalah berat jenis dan penyerapan, abrasi Los Angeles, agregat Impact, indeks kepipihan, Soundness test, dan kelekatan terhadap aspal. Pengujian bahan aspal meliputi: uji penetrasi, uji titik lembek, uji titik nyala dan titik bakar, daktilitas, dan berat jenis aspal. Abu ampas tebu yang didapat dilapangan masih berupa serbuk, Setelah dilakukan pemeriksaan, hasil pemeriksaan menunjukkan hasil yang baik atau masuk dalam spesifikasi maka selanjutnya adalah merencanakan komposisi agregat kasar, agregat halus, aspal, abu batu. Dalam perencanaan komposisi campuran, Penentuan Gradasi didasarkan pada persen berat sedangkan Fraksi Campuran ditentukan dengan Variasi Kadar Aspal. Pembuatan Briket Dengan 5 (lima) Variasi setelah merencanakan komposisi, selanjutnya adalah membuat briket dengan (5) lima variasi kadar aspal. Setelah dicetak dan sebelum diuji dengan alat uji marshall, terlebih dahulu briket didiamkan selama 24 jam setelah itu ditimbang untuk mendapatkan berat keringnya . Kemudian direndam dalam air selama 24 jam. Kemudian diangkat dari dalam air lalu kita lap dengan kain setelah itu kita ditimbang untuk

Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.39. April 2011

mendapatkan berat jenuhnya. Kemudian air selama 24 jam. Kemudian diangkat kita timbang briket tersebut didalam air dari dalam air lalu kita lap dengan kain untuk mendapatkan berat dalam air. setelah itu kita ditimbang untuk Pengetesan dengan menggunakan alat uji mendapatkan berat jenuhnya. Kemudian marshall dilakukan untuk mendapatkan kita timbang briket tersebut didalam air data-data seperti : flow, stabilitas, untuk mendapatkan berat dalam air. rongga udara, rongga terisi aspal, hasil Pengetesan dengan menggunakan alat uji bagi marshall. Dari data-data ini akan marshall dilakukan untuk mendapatkan diperoleh nilai Kadar Aspal Optimum. data-data seperti : flow, stabilitas, Dari data kelima kadar aspal, kita rongga udara, rongga terisi aspal, hasil menentukan kadar aspal optimum bagi marshall. dengan melihat grafik hasil pemeriksaan marshall test. Setelah menentukan kadar 3. HASIL DAN PEMBAHASAN aspal optimum, selanjutnya adalah Hasil dari pengujian abu ampas tebu membuat briket dengan menggunakan menunjukkan bahwa masih memenuhi kadar aspal optimum jumlahnya dibuat syarat jika digunakan sebagai material sesuai dengan kebutuhan.dengan campuran aspal beton. Selanjutnya hasil persentase abu ampas tebu Setelah dari pengujian agregat baik agregat batu dicetak dan sebelum diuji dengan alat uji pecah dan abu batu dapat kita lihat pada marshall, terlebih dahulu briket table 1 dan untuk abu ampas tebu didiamkan selama 24 jam setelah itu pemeriksaan hanya dilakukan uji berat ditimbang untuk mendapatkan berat jenisnya saja dan hasil pengujian aspal keringnya . Kemudian direndam dalam penetrasi 60/70 pada tabel 2 berikut ini: Tabel 1. Hasil Pengujian Properti Agregat Batu Pecah

Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.39. April 2011

Tabel 2. Hasil Pengujian Aspal Pertamina Penetrasi 60/70

Selanjutnya hasi dari Penggabungan aggregat dapat kita lihat pada table 3. Tabel 3 Perhitungan Penggabungan Agregat

Grafik 1 Pengabungan Agregat Tabel 4 Hasil pengujian Metode Marshall Test

Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.39. April 2011

1.

Stabilitas. Stabilitas adalah kemampuan perkerasan jalan menerima beban lalulintas tanpa terjadi perubahan bentuk tetap seperti gelombang, alur dan bleeding. Pada penelitian mengenai abu ampas tebu dan pengaruhnya terhadap stabilitas dalam campuran aspal beton dapat dilihat pada grafik dibawah ini. Peningkatan nilai stabilitas ini disebabkan oleh pengaruh dari abu ampas tebu yang mempunyai kemampuan untuk mengambil air yang ada pada agregat sehingga akan meningkatkan adesi antara agregat dan aspal, hal ini mengakibatkan ikatan antara agregat lebih kuat yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai stabilitas, daya absorbsi filler abu ampas tebu hal ini akan menyebabkan kohesi campuran bertambah, kerapatan campuran meningkat sehingga akan meningkatkan bidang kontak antar agregat dan meningkatkan interlocking antar agregat yang pada akhirnya meningkatkan nilai stabilitas. Sedangkan penurunan nilai stabilitas lebih disebabkan oleh abu ampas tebu mempunyai butiran lebih halus yang mengakibatkan lebih mudah bercampur dengan aspal membentuk mastik yang memiliki viskositas lebih rendah. Dengan semakin bertambahnya jumlah mastik dan turunnya nilai viskositas akibat bertambahnya abu ampas tebu, yang pada awalnya turut membantu menaikkan stabilitas, tetapi karena mastiknya terus bertambah dan mulai berlebih, hal ini akan mengakibatkan ikatan antar butiran menjadi lemah, akhirnya menurunkan nilai stabilitas. 2. Kelelehan (flow). Flow (kelelahan) adalah deformasi vertikal yang terjadi mulai awal pembebanan sampai kondisi stabilitas menurun, yang menunjukkan besarnya deformasi yang terjadi pada lapis perkerasan akibat menahan beban yang diterimanya.

Nilai flow dipengaruhi oleh kadar aspal, viscositas aspal, gradasi agregat, jumlah dan temperatur pemadatan. Grafik diatas menunjukkan dengan bertambahnya prosentase abu ampas tebu, nilai flow menunjukkan kecendrungan membesar. Peningkatan nilai flow ini disebabkan abu ampas tebu lebih mudah bercampur dengan aspal membentuk mastik yang memiliki viscositas lebih rendah. Akibat bertambahnya jumlah filler abu ampas tebu dalam campuran, jumlah mastik semakin bertambah dengan viskositas semakin rendah. Bertambahnya mastik dalam campuran menyebabkan campuran menjadi lebih plastis dan jika menerima beban mengalami depormasi plastis yang lebih besar 3. Rongga dalam campuran (VIM) Rongga udara (VIM) menunjukkan prosentase rongga dalam campuran. Dengan kata lain VIM (Rongga di dalam Campuran) adalah parameter yang menunjukkan volume rongga yang berisi udara didalam campuran beraspal, dinyatakan dalam % volume. Nilai VIM berpengaruh terhadap keawetan dari campuran aspal agregat, semakin tinggi nilai VIM menunjukkan semakin besar rongga dalam campuran sehingga campuran bersifat porus, Porus yang dimaksudkan dimana campuran aspal beton memiliki banyak rongga udara sehingga secara visual campuran terlihat kasar dan berongga, hal ini sangat berpengaruh terhadap keawetan dari campuran aspal agregat, semakin tinggi nilai VIM kondisi campuran aspal semakin rapuh. Untuk campuran aspal beton nilai VIM dibatasi dalam spesifikasi 3 5 % Nilai VIM memberikan gambaran bahwa semakin besar prosentase filler abu ampas tebu, nilai VIM semakin besar. Pada awal sebelum penambahan persentase abu ampas tebu mampu menurunkan nilai VIM, ini terjadi pada persentase penambahan abu ampas tebu 3 %, 6 % dan 9 % Hal ini disebabkan

Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.39. April 2011

karena adanya kemampuan dari abu ampas tebu untuk mengambil air yang ada pada agregat, sehingga meningkatkan adesi antara agregat dengan aspal mengakibatkan ikatan antar agregat semakin kuat, dengan adanya energi pemadat campuran menjadi semakin rapat maka ruang yang tersisa semakin kecil. Nilai VIM naik pada persentase abu ampas tebu 12 %, 15%, 18 % dan nilai VIM turun kembali pada persentase penambahan abu ampas tebu 21 %, 24%, 27 % dan 30 % . 4. Rongga dalam mineral agregat (VMA). VMA adalah rongga antar butiran agregat yaitu rongga udara yang ada diantara partikel campuran agregat aspal yang sudah dipadatkan termasuk ruang yang terisi aspal yang dinyatakan dalam persen terhadap total volume campuran agregat aspal. Faktor yang mempengaruhi VMA antara lain adalah gradasi agregat (komposisi campuran agregat dan ukuran diameter butir terbesar), energi pemadat, kadar aspal dan bentuk butiran. Hasil Penelitian menunjukkan awal penambahan prosentase filler abu ampas tebu 3% dan 6%, nilai VMA semakin mengecil. Hal ini disebabkan karena abu ampas tebu yang bertindak sebagai anti-stripping dengan mengambil air yang masih tersisa pada agregat, dengan demikian akan meningkatkan adhesi antara agregat dengan aspal, ditambah dengan adanya energi pemadat maka campuran akan semakin padat, memperkecil ruang antar butiran agregat. Kemudian nilai VMA makin bertambah pada persentase filler 9 %, 12%, 15%, 18%. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya daya adhesi antara agregat dengan aspal dan nilai VMA kembali turun pada persentase abu ampas tebu 21%, 24%, 27% dan 30%. Untuk campuran aspal beton nilai VIM dibatasi dalam spesifikasi Min 13 % .

5.

Pengaruh Abu Ampas Tebu Terhadap Density Dalam Campuran Beton Aspal Nilai density adalah nilai berat volume untuk menunjukkan kepadatan dari campuran beton aspal. Faktor-faktor yang mempengaruhi density adalah temperatur pemadatan, komposisi bahan penyusun, kadar filler, energi pemadat dan kadar aspal. Semakin tinggi nilai stabilitasnya, maka nilai densitynya (kepadatannya) juga naik sampai dengan density maksimumnya, karena pada kondisi tersebut campuran sudah dalam keadaan padat. Pemadatan adalah suatu proses pekerjaan yang pada umumnya didapatkan dengan dengan alat-alat mekanis, untuk mengurangi ronggarongga campuran yang terlalu besar, sehingga butiran bahan tersebut tersusun rapat satu sama lain dan saling mengikat dengan aspal. Pemadatan bertujuan untuk memadatkan campuran sehingga terjadi pengucian antara partikel dan daya ikat yang baik, baik dari agregat maupun dari lapisan aspal itu sendiri. Hasil Penelitian ini menunjukkan semakin besar prosentase filler abu ampas tebu dapat menaikkan nilai density. Hal ini disebabkan karena bahan pengisi (filler) abu ampas tebu mempunyai butiran lebih halus yang mengakibatkan lebih mudah bercampur dengan aspal membentuk mastik yang memiliki viskositas lebih rendah. Akibat bertambahnya jumlah filler abu ampas tebu dalam campuran, jumlah mastik dalam campuran semakin bertambah dengan viskositas semakin rendah, sehingga mastik akan mudah masuk kedalam rongga antar butiran agregat yang mengakibatkan campuran semakin mudah dipadatkan dan nilai density naik. Nilai density turun pada persentase abu ampas tebu 12%, 15%, 18%, 21%. Hal ini disebabkan karena bahan pengisi (filler) abu ampas tebu telah melewati batas maksimum penambahan abu ampas tebu dan pada persentase abu ampas tebu 24%, 27%, 30% nilai density

Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.39. April 2011

naik ini disebabkan rongga dalam butir agregat disusupi oleh jumlah mastik yang serap oleh bahan pengisi (filler). Spesifikasi Density untuk aspal beton min 2.2 6. Marshall Quotien (MQ). Marshall Quotient adalah nilai pendekatan yang hampir menunjukkan nilai kekakuan suatu campuran beraspal dalam menerima beban. Nilai MQ diperoleh dari perbandingan antara nilai stabilitas yang telah dikoreksi terhadap nilai kelelehan (flow), dan dinyatakan dalam satuan kg/mm atau kN/mm. Nilai MQ memberikan gambaran bahwa nilai Marshall Quotient bertambah akibat adanya penambahan jumlah persen dari abu ampas tebu yaitu pada 3%, 6%, 9 % hal ini mengindikasikan aspal yang melekat dan terabsorsi kedalam agregat mampu memperkuat campuran sehingga tahan terhadap beban deformasi. Pada persentase abu ampas tebu 12%, 15%, 18%, 21%, 24%, 27%, nilai Marshall Quotient turun ini disebabkan oleh aspal tidak dapat lagi melekat dipermukaan agregat secara maksimal sehingga kemampuan untuk melawan beban deformasi semakin berkurang. Spesifikasi Density untuk aspal beton 1.8 5 Kg/mm KESIMPULAN 1. Stabilitas terhadap penambahan persentase abu ampas tebu Daya absorbsi akan menyebabkan kohesi campuran bertambah, kerapatan campuran meningkat sehingga akan meningkatkan bidang kontak antar agregat dan meningkatkan interlocking antar agregat lainnya yang pada akhirnya meningkatkan nilai stabilitas. Menurunnya nilai stabilitas, disebabkan Dengan semakin bertambahnya jumlah mastik dan turunnya nilai viskositas akibat bertambahnya persentase abu ampas tebu, yang pada awalnya turut membantu menaikkan stabilitas, tetapi karena mastiknya terus bertambah dan mulai berlebih, hal ini akan

mengakibatkan ikatan antar butiran menjadi lemah, akhirnya menurunkan nilai stabilitas. Sehingga kemampuan agregat untuk menahan beban deformasi yang diberikan berkurang Nilai stabilitas tertinggi pada penambahan abu ampas tebu sebanyak 9% dengan nilai 1640,720 Kg dan batas spesifikasi untuk beton aspal sebesar minimal 800 kg. Nilai stabilitas terhadap penambahan abu ampas tebu yang masuk batas spesifikasi min 800 Kg adalah pada penambahan abu ampas tebu mulai 3% sampai 30 %. Flow (laju kelelehan) terhadap penambahan abu ampas tebu yang masuk batas spesifikasi 2 4 mm adalah pada penambahan abu ampas tebu mulai 3% sampai 30%. Nilai Density terhadap penambahan abu ampas tebu yang masuk pada batas spesifikasi Min 2,2. adalah Pada penambahan abu ampas tebu 3%, 6 %, 9 % dan 12 % . Rongga Udara dalam campuran (VIM) terhadap penambahan abu ampas tebu yang masuk batas spesifikasi maks 5 % adalah pada penambahan abu ampas tebu 3 %, 6 % dan 9 %. Rongga udara antar agregat (VMA) terhadap penambahan abu ampas tebu yang masuk batas spesifikasi min 30 % adalah pada penambahan abu ampas tebu 9 %, 12 %, 15 %, 18 %, 21%, 24 %, 27 % dan 30 %. Rongga terisi aspal (VFA) terhadap penambahan abu ampas tebu yang masuk batas spesifikasi min 65 % adalah pada penambahan abu ampas 9 %. Nilai Marshall Quontient (MQ) terhadap penambahan abu ampas tebu yang masuk batas spesifikasi min 1.8 5Kg/mm adalah pada penambahan abu ampas tebu mulai 3% sampai 27%. 2. Dari parameter diatas, untuk menentukan campuran maksimum penambahan abu ampas tebu dalam campuran beton aspal dilihat dari persentase penambahan yang masuk kedalam batas spesifikasi Stabilitas, Flow, Density, VMA, VIM, VFA dan Marshall Quontient, adalah persentase

Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.39. April 2011

penambahan abu ampas tebu sebanyak 9 % dalam campuran aspal beton. Peningkatan kualitas dari perkerasan jalan raya dengan penggunaan berbagai jenis bahan alam sebagai bahan tambah maupun bahan pengganti yang mampu memberikan kontribusi kekuatan pada perkersan jalan. Sebagai contoh dalam penggunaan bahan pengisi (filler) dan bahan tambah. Filler dalam campuran diperlukan untuk mengisi rongga rongga diantara partikel agregat sehingga dapat menigkatkan kerapatan campuran. Salah satu alternatif yaitu penggunaan limbah buangan dari limbah pabrik Gula Takalar yang berupa abu ampas tebu yang akan digunakan sebagai filler pada aspal beton, dimana abu ampas tebu yang tersedia cukup banyak yaitu 20 ton tiap tahunnya, selain itu pengadaan abu ampas tebu cukup mudah dan harganya relatif murah sehingga apabila ditinjau dari segi ekonomis akan lebih menguntungkan serta abu ampas tebu memiliki kandungan silica yang cukup tinggi sehingga diharapkan mampu meningkatkan mutu campuran aspal beton. Sebagai bahan pertimbangan lain untuk penggunaan abu ampas tebu dari hasil penelitian, baik digunakan sebagai bahan perkerasan jalan beraspal hal ini disebabkan dapat menaikkan stabilitas dari campuran aspal beton sampai batas maksimum penambahan abu ampas tebu sebanyak 9 %. DAFTAR PUSTAKA Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Direktorat Jenderal Bina Marga, 1976 Manual Pemeriksaan Bahan Jalan No. 01/MN/BM/1976.

Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga, Manual Pekerjaan Campuran Beraspal Panas, Buku 1 Petunjuk Umum. Saodang, Hamirhan. 2004. Konstruksi Jalan Raya, jilid 2, nova, Bandung. Sukirman, Silvia 2003. Beton Aspal Campuran Panas, Granit, Jakarta. Sukirman, Silvia 1995, Pekerasan Lentur Jalan Raya, nova, Bandung. Sulaksono, Sony 2001 Rekayasa jalan SI 374, ITB, Bandung. Tm, Suprapto 2004, Bahan Struktur Jalan Raya, Jilid III, Biro Penerbit, Yogyakarta Anonim, 1987, Petunjuk Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (Laston) SKBI 2.4.26, Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Bina Marga, Jakarta. Anonim, 2005, Petunjuk Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (Laston), Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Bina Marga, Jakarta. Asphalt Institute, 1993, Mix Design Methods For Asphalt Concrete And Other Hot Mix Types, 6 edition, Manual Series No. 2 (MS2), Kentucky, USA. Dwi Agus Putri, Ni Made, 2006, Penggunaan Serbuk Batu Bentonit Sebagai Filler Untuk Campuran Beton Aspal Terhadap Karateristik Hot Rolled SheetBase (HRS-Base), Tugas Akhir S1, UAJY, Yogyakarta. Mere, S., 2004, Pengaruh Penggunaan Serat Serabut Kelapa Sebagai Bahan Tambah pada Campuran SMA (Split Mastic Asphalt) 0/11, Tugas Akhir S1, UAJY, Yogyakarta.