Anda di halaman 1dari 14

Tugas

Kimia Alanitik II

Oleh: Charisma S.J. Hatane 2010-78-074

1. PENYULINGAN
Secara umum Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. Sedangkan secara khusus Distilasi (penyulingan) adalah proses pemisahan komponen dari suatu campuran yang berupa larutan cair-cair dimana karakteristik dari campuran tersebut adalah mampucampur dan mudah menguap, selain itu komponen-komponen tersebut mempunyai perbedaan tekanan uap dan hasil dari pemisahannya menjadi komponen-komponennya atau kelompokkelompok komponen. Karena adanya perbedaan tekanan uap, maka dapat dikatakan pula proses penyulingan merupakan proses pemisahan komponen-komponennya berdasarkan perbedaan titik didihnya. Distilasi pertama kali ditemukan oleh kimiawan Yunani sekitar abad pertama masehi yang akhirnya perkembangannya dipicu terutama oleh tingginya permintaan akan spritus. Bentuk modern distilasi pertama kali ditemukan oleh ahli-ahli kimia Islam pada masa kekhalifahan Abbasiah, terutama oleh Al-Razi pada pemisahan alkohol menjadi senyawa yang relatif murni melalui alat alembik, bahkan desain ini menjadi semacam inspirasi yang memungkinkan rancangan distilasi skala mikro, The Hickman Stillhead dapat terwujud. Pada umumnya ada 4 jenis distilasi yaitu distilasi sederhana, distilasi fraksionasi, distilasi uap, dan distilasi vakum. Selain itu ada pula distilasi ekstraktif dan distilasi azeotropic homogenous, distilasi dengan menggunakan garam berion, distilasi pressure-swing, serta distilasi reaktif. 1. Distilasi Sederhana Pada distilasi sederhana, dasar pemisahannya adalah perbedaan titik didih yang jauh atau dengan salah satu komponen bersifat volatil. Jika campuran dipanaskan maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu. Selain perbedaan titik didih, juga perbedaan kevolatilan, yaitu kecenderungan sebuah substansi untuk menjadi gas. Distilasi ini dilakukan pada tekanan atmosfer. Aplikasi distilasi sederhana digunakan untuk memisahkan campuran air dan alkohol. 2. Distilasi Fraksionisasi

Fungsi distilasi fraksionasi adalah memisahkan komponen-komponen cair, dua atau lebih, dari suatu larutan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Distilasi ini juga dapat digunakan untuk campuran dengan perbedaan titik didih kurang dari 20 C dan bekerja pada tekanan atmosfer atau dengan tekanan rendah. Aplikasi dari distilasi jenis ini digunakan pada industri minyak mentah, untuk memisahkan komponen-komponen dalam minyak mentah. Perbedaan distilasi fraksionasi dan distilasi sederhana adalah adanya kolom fraksionasi. Di kolom ini terjadi pemanasan secara bertahap dengan suhu yang berbeda-beda pada setiap platnya. Pemanasan yang berbeda-beda ini bertujuan untuk pemurnian distilat yang lebih dari plat-plat di bawahnya.Semakin ke atas, semakin tidak volatil cairannya. 3. Distilasi Uap Distilasi uap digunakan pada campuran senyawa-senyawa yang memiliki titik didih mencapai 200 C atau lebih. Distilasi uap dapat menguapkan senyawa-senyawa ini dengan suhu mendekati 100 C dalam tekanan atmosfer dengan menggunakan uap atau air mendidih. Sifat yang fundamental dari distilasi uap adalah dapat mendistilasi campuran senyawa di bawah titik didih dari masing-masing senyawa campurannya. Selain itu distilasi uap dapat digunakan untuk campuran yang tidak larut dalam air di semua temperatur, tapi dapat didistilasi dengan air. Aplikasi dari distilasi uap adalah untuk mengekstrak beberapa produk alam seperti minyak eucalyptus dari eucalyptus, minyak sitrus dari lemon atau jeruk, dan untuk ekstraksi minyak parfum dari tumbuhan. Campuran dipanaskan melalui uap air yang dialirkan ke dalam campuran dan mungkin ditambah juga dengan pemanasan.Uap dari campuran akan naik ke atas menuju ke kondensor dan akhirnya masuk ke labu distilat. 4. Distilasi Vakum Distilasi vakum biasanya digunakan jika senyawa yang ingin didistilasi tidak stabil, dengan pengertian dapat terdekomposisi sebelum atau mendekati titik didihnya atau campuran yang memiliki titik didih di atas 150 C. Metode distilasi ini tidak dapat digunakan pada pelarut dengan titik didih yang rendah jika kondensornya menggunakan air dingin, karena komponen yang menguap tidak dapat dikondensasi oleh air. Untuk mengurangi tekanan digunakan pompa vakum atau aspirator. Aspirator berfungsi sebagai penurun tekanan pada sistem distilasi ini.

5. Azeotrop Azeotrop adalah campuran dari dua atau lebih komponen yang memiliki titik didih yang konstan. Azeotrop dapat menjadi gangguan yang menyebabkan hasil distilasi menjadi tidak maksimal. Komposisi dari azeotrope tetap konstan dalam pemberian atau penambahan tekanan. Akan tetapi ketika tekanan total berubah, kedua titik didih dan komposisi dari azeotrop berubah. Sebagai akibatnya, azeotrop bukanlah komponen tetap, yang komposisinya harus selalu konstan dalam interval suhu dan tekanan, tetapi lebih ke campuran yang dihasilkan dari saling memengaruhi dalam kekuatan intramolekuler dalam larutan. Azeotrop dapat didistilasi dengan menggunakan tambahan pelarut tertentu, misalnya penambahan benzena atau toluena untuk memisahkan air. Air dan pelarut akan ditangkap oleh penangkap DeanStark. Air akan tetap tinggal di dasar penangkap dan pelarut akan kembali ke campuran dan memisahkan air lagi. Campuran azeotrop merupakan penyimpangan dari hukum Raoult.

2. Pressing
Pressing merupakan salah satu proses pemisahan dua atau lebih cairan dengan memberi tekanan terhadap bahan baku. Tekanan yang diberikan biasanya berasal dari alat pressing sendiri, contohnya Expeller Pressing. Ekstraksi minyak atsiri dengan cara pengepresan umumnya dilakukan terhadap bahan berupa biji-bijian, buah atau kulit luar (khusus famili citrus). Ekstraksi untuk bahan selain minyak atsiri juga dapat dilakukan dengan cara pressing pada tekanan tinggi. Proses kerjanya dapat dilihat sebagai berikut: - Bahan baku dibasahi dengan pelarut hingga bahan baku menjadi lembab. - Bahan baku yang telah lembab ditekan dengan menggunakan expeller pressing. - Dilakukan penyaringan dengan tujuan bahan tidak lagi mengandung senyawa yang tidak diinginkan. - Pemurnian bahan dengan satu pelarut (berjam-jam bahan semalaman) agar kontak solut pelarut maksimal. Pengepresan mekanis adalah suatu cara pengambilan minyak atau lemak dengan menggunakan tekanan atau dipress, terutamauntuk bahan-bahan yang berasal dari bijibijian, dengan kadar minyak tinggi (30%-70%). Penggolongaan pengepresan mekanis antara lain : a. Pengepresan Hidrolik Tekanan yang digunakan pada pengepresan hidrolik sampai dengan 2000 lb/in (136 atm). Hasil yang diperoleh tergantung dari waktu proses, tekanan, dan kadar minyak dalam biji. Kadar minyak sisa pada bungkil 4 6 %. b. Pengepresan Expeller

Pengepresan ini di dahului dengan proses pemasakan (cooing/ Tempering) yaitu proses pematangan biji dengan pemanasan untuk melunakkan dan menaikan viskositas minyak, sehingga memudahkan keluarnya minyak. Suhu pemanasan bervariasi antara 80-1150 C. kadar minyak dalam bungkil 4-6%. Proses pengepresan dengan expeller dilakukan dengan cara menghancurkan biji dengan melewatkan pada baja pisau berputar. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, crushing material dipanaskan hingga suhu 70-1000C. dengan sistem jacket

untuk memecahkan sel-sel minyak.setelah dipanaskan, kemudian bahan dipress dengan expeller bertekanan tinggi. Expeller terdiri dari silinder berlubang yang di dalamnya terdapat pisau berputar. Ketika biji masuk expeller, dibutukan penambah tekanan untuk memutar screw. Minyak keluar dari lubang expeller dan ampasnya keluar dari sisi expeller yang lain. Ampas yang masih mengandung minyak sebanyak 4% dengan expellr modern dapat di ambil minyaknya. Ampas dapat digunakan untuk makanan sapi, atau menggunakan disolvent extraction untuk mengambil minyak yang masih terkandung di dalamnya.

3. Ekstraksi dengan Pelarut Menguap (Solvent Extraction)


Ekstraksi dengan pelarut menguap dalam hal ini di ambil contoh dalam ekstraksi minyak Atsiri. Prinsip dari ekstraksi dg Pelarut Menguap (Solvent Extraction) adalah melarutkan minyak atsiri dlm bahan dgn pelarut organik yg mudah menguap. Proses ekstraksi biasanya dilakukan dlm suatu wadah (ketel) disebut extractor. Berbagai tipe extractor yang telah dikenal adalah bonotto extractor,Kennedy extractor,Bollmann extractor, De Smet extractor,Hilderbrandt extractor, & Carrousal exrtractor. Ekstraksi dg pelarut organik umumnya digunakan utk mengekstraksi minyak atsiri yg mudah rusak oleh pemanasan uap & air, seperti utk mengekstrak minyak dari bunga-bungaan misalnya bunga cempaka, melati, mawar, hyacinth, tuberose, narcissus, gardenis, lavender, lily, minose, kenanga, labdanum,violet flower, & geranium. Bunga-bungaan yg masih segar dimasukan ke dlm extractor & selanjutnya pelarut menguap yg murni dipompakan ke dlm extractor. Berbagai pelarut yg biasa digunakan adalah petroleum ether, carbon tetra chlorida, chloroform, & pelarut lainnya yang bertitik didih rendah. Pelarut organik akan berpenetrasi ke dalam jaringan bunga-bungaan dan akan melarutkan minyak serta bahan non volatile yang berupa resin,lilin dan beberapa macam zat warna. Komponen non volatile tersebut merupakan kotoran dlm minyak atsiri, & kotoran tersebut dpt dipisahkan dengan cara penyulingan pada suhu rendah & tekanan vakum. Dengan

cara penyulingan ini maka pelarut beserta minyak atsiri akan menguap dan selanjutnya uap tersebut dikondensasikan, sedangkan komponen non volatile tetap tertinggal dalam ketel penyuling. Hasil kondensasi yang merupakan campuran dari pelarut dan minyak atsiri, disebut concrete. Jika concrete tersebut dilarutkan dalam alkohol, maka minyak atsiri akan larut sempurna, sedangkan fraksi lilin tidak dapat larut dan akan membentuk endapan keruh. Teknik Ekstraksi Pelarut Menguap Teknik ini memanfaatkan pelarut menguap untuk memisahkan minyak dari jaringan tumbuhan. Digunakannya dikarenakan sifat dari pelarut menguap yang bertitik didih rendah sehingga mudah dipisahkan pada saat pemurnian. Pemilihan Pelarut Ada beberapa syarat ideal untuk menjadikan suatu pelarut organik menjadi pelarut pada pengambilan minyak atsiri dari bunga melati atau bunga apapun yang nantinya akan mempengaruhi kualitas minyak bunga yang di ekstrak, berikut syarat ideal dari suatu pelarut menurut versi Ernest Guenther : 1. Pelarut harus dapat melarutkan semua zat wangi bunga dengan cepat dan sempurna, dan sedikit mungkin melarutkan bahan seperti lilin, pigmen, senyawa albumin, dengan kata lain pelarut bersifat selektif. 2. Harus memiliki titik didih cukup rendah, agar dapat di uapkan pada saat suhu rendah, namun juga jangan terlalu rendah, karena ditakutkan pada suhu ruanganakan kehilangan sebagian besar pelarut. 3. Pelarut tidak boleh larut dalam air. 4. Pelarut harus bersifat inert, sehingga tidak bereaksi dengan komponen minyak bunga. 5. Harga serendah mungkin dan tidak mudah terbakar. Namun tidak ada pelarut mutlak yang sesuai dengan syarat diatas, sehingga kita dapat saja memilih pelarut yang lebih mendekati beberapa sifat diatas, selain untuk tujuan ekonomis kita juga harus memikirkan efisiensi pelarut. Beberapa pelarut yang sudah digunakan sebagai pelarut pada proses ekstraksi pelarut menguap antara lain Petroleum eter dengan nama dagang wash benzen, normal Hexan (nHexana), Benzena, alkohol dan masih banyak lagi pelarut organic yang dapat digunakan.

Beberapa alat yang digunakan pada proses ekstraksi pelarut menguap antara lain : 1. Ekstraktor. 2. Evaporator Concrete dan absolute. 3. Ice Box. 4. Separator Kaca. 5. Saringan. 6. Penampung. 7. Lemari Pendingin. Kegunaan ekstraktor adalah wadah untuk melarutkan minyak atsiri pada bunga melati dengan pelarut menguap. Biasanya terbuat dari stainless steel ataupun kaca. Ekstraktor memiliki dua tipe yakni tipe berdiri biasanya disebut dengan stationary extractor dan yang kedua adalah ekstraktor tipe tidur atau biasa disebut rotary extractor. Keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing masing. Keuntungan dari ekstraktor tipe berdiri adalah, lama proses penyulingan berlangsung lebih cepat, sekitar 4 5 jam saja. Selain itu biasanya ekstraktor berdiri terdiri dari beberapa ekstraktor yang berhubungan, karena pada prosesnya bersifat continous flow, dimana pelarut digunakan pada beberapa ekstraktor sekaligus sehingga rendemen yang dihasilkan lebih banyak. Evaporator digunakan dalam pemekatan minyak atsiri menjadi concrete dan absolutes. Sistemnya dengan memanfaatkan perbedaan titik didih antara pelarut dan minyak atsiri bunga melati. Untuk mendukung kinerja evaporator perlu disertakan pompa vakum agar tekanan dalam tabung evaporator dapat ditekan serendah mungkin yang nantinya akan berhubungan dengan suhu yang digunakan dapat lebih rendah. Suhu dan tekanan menjadi kunci dalam proses evaporasi, semakin rendah suhu maka semakin baik minyak yang didapatkan. Karena Minyak bunga alamiah mudah rusak terhadap suhu tinggi. Evaporator terdiri dari labu tempat hasil ekstraksi ataupun concrete, lalu penangas air, kondensor, penampung hasil dan pompa vakum. Semakin teliti evaporator (dalam segi suhu dan tekanan) maka semakin bagus kualitas minyak yang dihasilkan, namun tidak terlepas dari sumber daya manusia yang menanganinya.

4. Ekstraksi dengan Soxhlet


Ekstraksi dengan alat Soxhlet merupakan ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru, umumnya dilakukan menggunakan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi konstan dengan adanya pendingin balik (kondensor). Disini sampel disimpan dalam alat Soxhlet dan tidak dicampur langsung dengan pelarut dalam wadah yang di panaskan, yang dipanaskan hanyalah pelarutnya, pelarut terdinginkan dalam kondensor dan pelarut dingin inilah yang selanjutnya mengekstraksi sampel. Soxhlet digunakan untuk mengekstrak senyawa yang kelarutannya terbatas dalam suatupelarut dan pengotor-prngotornya tidak larut dalam pelarut tersebut. Sampel yang digunakan dan yangdipisahkan dengan metode ini berbentuk padatan. Dalam percobaan ini kami menggunakan sampelkemiri. Ekstraksi soxhlet ini juga dapat disebut dengan ekstraksi padat-cair.adatan yang diekstrak ditumbuk terlebih dahulu kemudian dibungkus dengan kertas saring dandimasukkan kedalam ekstraktor soxhlet, sedangkan pelarut organic dimasukkan kepadal labu alas bulatkemudian seperangkat ekstraktor soxhlet dirangkai dengan kondensor. Ekstraksi dilakukan denganmemanaskan pelarut sampai semua analit terekstrak (kira-kira 6 x siklus). Hasil ekstraksi dipindahkan kerotary evaporator vacuum untuk diekstrak kembali berdasarkan titik didihnya .

Prinsip Ekstraksi dengan Cara Soxletasi :

Bahan yang akan diekstraksi diletakkan dalam sebuah kantung ekstraksi (kertas, karton, dan sebagainya) dibagian dalam alat ekstraksi dari gelas yang bekerja kontinyu. Wadah gelas yang mengandung kantung diletakkan antara labu penyulingan dengan lagu pendingin aliran balik dan dihubungkan dengan labu melalui pipa. Labu tersebut berisi bahan pelarut, yang menguap dan mencapai ke dalam pendingin aliran balik melalui pipet, berkondensasi di dalamnya, menetes ke atas bahan yang diekstraksi dan menarik keluar bahan yang diekstraksi. Larutan berkumpul di dalam wadah gelas dan setelah mencapai tinggi maksimalnya, secara

otomatis dipindahkan ke dalam labu. Dengan demikian zat yang terekstraksi terakumulasi melalui penguapan bahan pelarut murni berikutnya. Pada cara ini diperlukan bahan pelarut dalam jumlah kecil, juga simplisia selalu baru artinya suplai bahan pelarut bebas bahan aktif berlangsung secara terus menerus (pembaharuan pendekatan konsentrasi secara kontinyu). Keburukannya adalah waktu yang dibutuhkan untuk ekstraksi cukup lama (sampai beberapa jam) sehingga kebutuhan energinya tinggi (listrik, gas). Selanjutnya simplisia di bagian tengah alat pemanas, langsung berhubungan dengan labu, dimana pelarut menguap. Pemanasan bergantung pada lama ekstraksi, khususnya titik didih bahan pelarut yang digunakan, dapat berpengaruh negatif terhadap bahan tumbuhan yang peka suhu (glikosida, alkaloida). Demikian pula bahan terekstraksi yang terakumulasi dalam labu mengalami beban panas dalam waktu lama. Meskipun cara soklest sering digunakan pada laboratorium penelitian untuk pengekstraksi tumbuhan, namun peranannya dalam pembuatan sediaan tumbuhan kecil artinya. Keuntungan metode ini adalah : Dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang lunak dan tidak tahan

terhadap pemanasan secara langsung. Digunakan pelarut yang lebih sedikit. Pemanasannya dapat diatur suhunya.

5. Absorbsi oleh Lemak Padat (Enfleurasi)


Proses ini merupakan penyulingan minyak bunga alamiah paling kuno, dimana digunakan lemak hewan sebagai penjerab minyak. Lemak memiliki daya absorpsi yang tinggi sehingga jika dicampur dengan bunga melati, lemak akan mengabsorpsi minyak yang dihasilkan oleh bunga

melati. Selain itu pemprosesan minyak atsiri dengan lemak akan menghasilkan rendemen yang lebih banyak daripada dengan proses ekstraksi menguap. Adsorpsi Lemak Padat dapat dilakukan secara: a. Enfleurasi merupakan metode ekstraksi minyak atsiri dengan bantuan lemak dingin sebagai adsorbennya. b. Maserasi merupakan metode ekstraksi dengan mengadsorpsi minyak oleh lemak hayati.

Alat Enfleurasi Peralatan yang digunakan adalah chasis yang terbuat dari kaca, chasis kaca disusun bertingkat. Diusahakan terbebas dari sinar matahari dan udara bebas. Karena jika terganggu dua hal diatas dapat menyebabkan kerusakan lemak dan terganggunya proses yang pada akhirnya gagal produksi.Selain chasis seperti yang digunakan penulis, umumnya didaerah Perancis menggunakan chasis dari kayu mirip seperti alat sablon namun kain screennya diganti dengan kaca. Prinsip Kerja
Pada enfleurasi, adsorpsi minyak atsiri oleh lemak dilakukan pada suhu rendah (keadaan dingin) sehingga minyak terhindar dari kerusakan yang disebabkan oleh panas. Pada teknik ektraksi ini, digunakan bunga-bungaan dengan tujuan mendapatkan mutu dan rendamen minyak yang tinggi. Pada umumnya bunga setelah dipetik akan tetap hidup secara fisiologi dan akan memproduksi minyak atsiri sehingga dalam waktu singkat akan menguap. Lemak mempunyai peran penting pada ekstrak ini karena mempunyai daya adsorp yang tinggi untuk mengadsorpsi minyak yang dikeluarkan oleh bunga tersebut.

Preparasi Lemak Keberhasilan dari proses enfleruasi terletak pada proses persiapan lemak sebagai alat absorpsi. Lemak yang digunakan untuk proses enfleurasi harus memenuhi syarat syarat berikut :
1. 2. 3. Lemak yang digunakan harus benar benar bersih dari kontaminan. Tidak berbau dan bebas air. Tidak terlalu lunak dan tidak terlalu keras.

Ada beberapa jenis lemak yang digunakan untuk proses enfleurasi ini, yakni, lemak sapi, lemak domba, lemak babi, dan lemak hewani lainnya. Selain menggunakan lemak, enfleurasi juga bisa dicampur dengan beberapa minyak nabati seperti minyak kedelai, minyak canola, dan minyak kacang kacangan. Bahkan penelitian terakhir dapat menggunakan mentega putih sebagai penjerap pengganti lemak hewan. Pada beberapa literatur ada yang menyebutkan campuran lemak sapi dan lemak babi dengan perbandingan 1 : 2 sangat baik untuk proses enfleurasi. Namun di Indonesia kita terkendala dengan status halal dan haram dimana sebagian besar warga negara Indonesia adalah muslim. Untuk itu perlu dikembangkan suatu campuran baru untuk menggantikan lemak babi dalam proses enfleurasi. Lemak yang diperoleh dari pasar kita bersihkan dari kotoran, seperti darah, kulit dan rambut yang masih tertinggal. Tangaskan diatas air yang dipanaskan sembari diberi air jeruk untuk mempertahankan kerapatan lemak, selain air jeruk, menurut literatur juga dapat menggunakan air mawar dan air kemenyan. Namun pemberian air jeruk akan berpengaruh terhadap bau produk akhir. Setelah dipisahkan dari kotoran dan ditangaskan maka lemak didinginkan dan siap untuk dipakai. Lemak yang siap dipakai tadi dibentuk seperti bubur, setelah itu kemudian ditaruh diatas plat kaca, dengan susunan dalam plat kaca tersebut dibuat bolak balik depan belakang. Susunan lemak pada plat kaca sengaja disusun demikian dengan fungsi saat disusun nantinya, lemak bagian atas kaca untuk menaruh bunga yang akan diserap minyaknya, bagian bawahnya berguna untuk menyerap minyak bunga yang menguap dari chasis dibawahnya. Setelah disusun seperti diatas, maka bunga siap ditaburkan. Keuntungan dari penggunaan metode ini yaitu rendamen minyak yang dihasilkan lebih tinggi, contohnya bunga melati memiliki rendamen 4x lebih besar dibandingkan dengan solvent extraction. Selain itu wangi-wangian dari minyak jauh lebih murni.

6. Ekstraksi dengan Teknik Emulsi Membran Cair


Membran cair emulsi (Emulsion Liquid Membrane, ELM) merupakan salah satu jenis membran cair yang sudah banyak digunakan untuk pemisahan di laboratorium maupun industri. ELM telah berhasil digunakan untuk memisahkan fenol dan senyawa turunannya, yaitu nitrofenol dengan efisiensi lebih dari 98 %. Senyawa lain turunan fenol adalah vanilin. Vanilin banyak digunakan dalam industri farmasi, makanan, dan minuman. Dengan teknik ELM, diharapkan vanilin dapat diambil dari larutannya dan dapat diperoleh kondisi optimum pengambilannya. Membran cair merupakan suatu fasa cair yang bersifat pemisah semi permeabel yang berada diantara dua fasa cair yang sejenis. Membran cair emulsi terdiri dari fasa eksternal (mengandung senyawa yang dipisahkan), fasa internal (fasa penerima species yang dipisahkan) dan membran, dimana membran itu sendiri mengandung surfaktan sebagai penstabil emulsi dan carrier sebagai zat pembawa. Membran cair emulsi dibuat dengan mendispersikan fase internal ke dalam fase membran. Proses pembentukan emulsi dapat terjadi dengan memberikan energi mekanik dengan bantuan zat pengemulsi. Emulsi yang terbentuk dapat berupa emulsi minyak dalam air atau emulsi air dalam minyak.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/teknologiproses/penyulingan-distillation/. Tanggal akses 10 April

http://id.wikipedia.org/wiki/Distilasi. Tanggal akses 10 April http://www.artikelkimia.info/ekstraksi-minyak-atsiri-dg-pelarut-menguap-solventextraction-24052112022012. Tanggal akses 11 April

http://www.artikelkimia.info/kimia/ekstraksi+dengan+menguap#1334317433. Tanggal akses 11 April http://catatankimia.com/catatan/metoda-ekstraksi.html. Tanggal akses 11 April http://chemistry-science29.blogspot.com/2012/02/artikel-kimia_12.html. Tanggal akses 12 April http://martsiano.wordpress.com/tag/ekstraksi-pelarut-menguap/. Tanggal akses 13 April

http://eprints.undip.ac.id/6774/. Tanggal akses 14 April

http://eskariachandra.wordpress.com/2010/03/04/soklet/. Tanggal akses 14 April.