Anda di halaman 1dari 4

Passive Continental Margin Passive Continental Margin ditandai dengan Passive Margin I.

DEFINISI - Passive Margin adalah batas lempeng yang hanya menumpang pada satu lempeng. Yang biasa disebut dengan daerah transisi. Daerah yang hanya mengalami transisi kimia, tidak terdapat aktifitas tektonika sehingga bisa disebut pasif. - Yang utama tampak pada daerah Passive Continental Margin adalah Passive Margin, dimana tepi kerak benua yang berubah secara gradual menjadi kerak samudera. Terlihat dari batuannya juga yang berubah secara gradual dari sifatnya yang granitic (khas benua) ke arah basaltic (khas samudera). Passive Continental Margin digambarkan dengan keberadaan dipping atau kemiringan dengan arah menghadap ke samudera. Karena kemiringan ini membuat supply sedimen yang melimpah pada daerah Coastal Plain.

II. TANDA TANDA DISEBUT PASSIVE MARGIN a. Terdapat Dipping b. Tidak Tampak Batas Lempeng, Terdapat pada daerah transisi. c. Tidak Diketemukan Aktivitas Vulkanik, karena sifatnya transisi kimia. d. Tidak diketemukan aktivitas tektonik. e. Banyak terlihat Dyke, disebabkan karena patahan akibat Rift. f. Karena terdapat dyke, magmatisme juga masih terjadi. g. Diketemukan banyak patahan atau sesar turun intensif, akibat ekstensi. h. Tanda Seismic : Merupakan Zona seismic lemah. (Seismic ally inactive) III. DAERAH TERJADINYA - Passive Continental Margin terjadi di daerah transisi, yakni dari continental menuju oceanic plate. Seperti yang dijelaskan pada definisi di atas, zona transisi ini berada pada lempeng yang sama, karena rift bersistem intraplate. - Tidak terlihat batas lempeng karena pada daerah ini memang bukan daerah batas. Seperti yang terjadi pada samudera Atlantik. Terlihat batasnya pada tengah laut antara amerika selatan dan afrika. - Pada daerah tersebut terlihat Proses Pemekaran Benua (MOR) Terlihat pada gambar di bawah ini

IV. SISTEMATIKA TERJADI PASSIVE CONTINENTAL MARGIN Terlihat pada plate tersebut di atas, bahwa pada daerah Rifting, yakni pada daerah Mid Oceanic Ridge. Pada Oceanic Ridge, material terbentuk karena proses magmatisme baik akibat dari batas lempeng dari mantle plume. Material baru yang masih bersifat panas, dengan viskositas yang sedang sampai ke rendah ini bergerak ke samping (lateral) dan mendingin serta memadat.

Pelebaran ini mengakibatkan sesar-sesar intensif akibat proses ekstensi. Hal ini terjadi karena passive margin sebenarnya adalah proses lanjut dari pemekaran benua. Karena proses pemanjangan ruang ini lah, ruang akomodasi sedimen yang tersedia pun semakin banyak, keadaan tersebut menunjang suatu rejim regangan masuk dan menghasilkan sesar-sesar turun.

V.

SISTEM DEPOSISI Pada setting Passive Continental Margin, karakter sistem sedimentasinya adalah pada lingkungan transisi dan laut (marine). Pada lingkungan transisional : Daerah pelamparan dari batas pembentukan gelombang sampai dengan batas daratan alluvial Dipengaruhi oleh proses/lingkungan terestrial dan marin. Faktor energy utama yang mempengaruhi proses sedimentasinya adalah tidal proses. Pada lingkungan marin: Dipengaruhi oleh Tidal (rising relative sealevel, relative sealevel fall, dan Slope Instability) Ditemui Continental Shelf Continental Slope Continental Rise Continental Margin Coastal Plain MOR

Dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Bentuk coastal seperti gambar di atas, dimana juga banyak terlihat sesar turun intensif, menyebabkan berbagai karakteristik dari pola sedimentasi material klastik nya. Berbagai system trap yang terjadi terlihat pada gambar di bawah ini :

Pada setting tersebut kita dapat menghasilkan beberapa pola deposisi, Coarser grain dapat diketemukan pada zona Continental shelf sampai pada continental slope Finer grain dapat diketemukan pada coastal plain sampai kepada basin center. Karena pada zona ini ada penurunan energy sedimentasi karena current terjebak pada daerah basin ini. (air ndak bisa kemana-mana). SO . Mereka mengendap dengan proses suspense, (pengaruh gravitasi). Nah, kenapa pada zona ini Cuma yang halus-halus yang ngendap. Deposisi berikutnya disebabkan oleh Tidal System atau Rising and falling relative sealevel. Terlihat pada gambar di bawah ini :

Pada Rising Relative Sealevel Dominasi system suspense semakin tinggi pada seting deposisi basin. Fine grain diketemukan pada daerah basin. Terjadi Mass-flow karena debris flow deposit. Density Flow yang berbeda pada daerah shelf, slope dan sepanjang basin. Terjadi proses Transgresi Pada Relative sealevel Fall Terjadi pola non-depositional dan erosi pada basinnya Zona akomodasi yang semakin mengecil. Sedimentasi hanya terjadi pada daerah shelf , dimana energy dari arus alluvial masih tersedia. Terjadi regresi Karena arus dari darat semakin besar, dengan proses eustasi air lautnya, energi regresi juga besar, maka akan diketemukan coarser-grain pada daerah basin. Ketidakstabilan slope Slumping (longsoran) dari sedimen yang terdeposisi namun belum terlitifikasi sempurna, bercampur (mixing) dengan formasi olistostrome biasa disebut dengan chaotic Material tersebut jatuh dan bercampur dengan batuan in situ. Sedimen yang telah tercampur (amalgamated) terperangkap pada kaki kaki slope membentuk slope apron. Sedimen yang terakumulasi di dasar slope membentuk slope front fills. Pada keadaan lowstand , submarine fan system sangat mendominasi proses deposisi. Menghasilkan pola progradding pada basinfloor biasanya ditandai dengan adanya lobe switching.