Anda di halaman 1dari 32

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PENYAKIT HEPATITIS DI RUANG F RS BETHESDA YOGYAKARTA

Disusun oleh: JAROT INDRA GUNAWAN NIM : 06 - 1240

AKADEMI KEPERAWATAN BETHESDA YOGYAKARTA 2008

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PENYAKIT HEPATITIS DI RUANG F RS BETHESDA YOGYAKARTA

Nama NIM Tempat Praktek

: Jarot Indra Gunawan : 06 - 1240 : Ruang F RS Bethesda Yogyakarta

Pembimbing Klinik

Pembimbing Akademik

( Ibu Rita Puji, AMK. )

( Bp. Boedhiatmodjo, APP., S. pd. )

AKADEMI KEPERAWATAN BETHESDA YOGYAKARTA 20087

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya dalam penyusunan Laporan Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan jiwa. Dalam rangka memenuhi tugas ilmu keperawatan jiwa sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan dilaksanakan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. RM. Soedjarwadi Propinsi Jawa Tengah. Setelah pembuatan laporan ini penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ibu Niken WN Palupi, S.Kp, M.Kes, selaku Direktur Akademi Keperawatan Bethesda Yogyakarta. 2. Bpk Boediajmodjo, APP., S. Pd. selaku Dosen Pembimbing Akademi 3. Ibu Rita Puji, AMK selaku pembimbing klinik ruang F. 4. Seluruh staf dan karyawan ruang F RS Bethesda Yogyakarta yang telah banyak membantu dan telah memberikan informasi guna kesempurnaan penulisan laporan ini. 5. Semua pihak yang telah membantu terselesaikan laporan ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Dalam pembuatan laporan ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. Semoga laporan ini berguna bagi kita semua.

Penulis

TINJAUAN PUSTAKA HEPATITIS


I. Pengertian Hepatitis berarti radang atau pembengkakan hati. Hepatitis bisa disebabkan oleh virus, alkohol, narkoba, obat-obatan (termasuk obat yang diresepkan), atau racun. Penyebab lainnya adalah infeksi oportunistik seperti MAC atau CMV. Hepatitis merupakan penyakit yang sangat umum, yang dapat terjadi bahkan pada orang yang sistem kekebalannya baik. Hepatitis juga bisa mengakibatkan goresan hati (sirosis) dan gagalnya fungsi hati, yang bisa mematikan. Banyak kasus hepatitis tidak diobati karena dikira hanya serangan flu biasa. Gejala hepatitis yang paling umum adalah nafsu makan hilang, kelelahan, demam, pegal sekujur tubuh, mual dan muntah serta nyeri pada perut. Pada kasus yang parah dapat terjadi air seni yang berwarna gelap, buang air besar yang berwarna pucat, dan kulit serta mata yang menguning (disebut ikterus atau jaundice). Hepatitis adalah suatu sindrom klinis dan patologis yang disebabkan oleh bermacan-macam etiologi, yang ditandai oleh berbagai tingkat peradangan dan nekrosis pada hati yang berlangsung terus-menerus tanpa penyembuhan dalam waktu paling sedikit 6 bulan. (Prof. Dr. H. M . Sajaifoellah Noer, 1996) Hepatitis adalah suatu peradangan pada hati yang terjadi karena toksin seperti, kimia atau obat atau agen penyakit infeksi. (Asuhan Keperawatan Pada Anak, 2002; 131)

II. Jenis-jenis Hepatitis a. Virus hepatitis A Virus hepatitis A terutama menyebar melalui tinja. Penyebaran ini terjadi akibat buruknya tingkat kebersihan. Di negara-negara berkembang sering terjadi wabah yang penyebarannya terjadi melalui air dan makanan.

b. Virus hepatitis B Penularannya tidak semudah virus hepatitis A. Virus hepatitis B ditularkan melalui darah atau produk darah. Penularan biasanya terjadi diantara para pemakai obat yang menggunakan jarum suntik bersama-sama, atau diantara mitra seksual (baik heteroseksual maupun pria homoseksual). Ibu hamil yang terinfeksi oleh hepatitis B bisa menularkan virus kepada bayi selama proses persalinan. Hepatitis B bisa ditularkan oleh orang sehat yang membawa virus hepatitis B. Di daerah Timur Jauh dan Afrika, beberapa kasus hepatitis B berkembang menjadi hepatitis menahun, sirosis dan kanker hati.

c. Virus hepatitis C Menyebabkan minimal 80% kasus hepatitis akibat transfusi darah. Virus hepatitis C ini paling sering ditularkan melalui pemakai obat yang menggunakan jarum bersama-sama. Jarang terjadi penularan melalui hubungan seksual. Untuk alasan yang masih belum jelas, penderita "penyakit hati alkoholik" seringkali menderita hepatitis C. d. Virus hepatitis D Hanya terjadi sebagai rekan-infeksi dari virus hepatitis B dan virus hepatitis D ini menyebabkan infeksi hepatitis B menjadi lebih berat. Yang memiliki resiko tinggi terhadap virus ini adalah pecandu obat. e. Virus hepatitis E Virus hepatitis E kadang menyebabkan wabah yang menyerupai hepatitis A, yang hanya terjadi di negara-negara terbelakang. f. Virus hepatitis G Jenis baru dari virus hepatitis yang telah terdeteksi baru-baru ini. Virus-virus lain yang dapat menyebabkan hepatitis :

Virus Mumps Virus Rubella Virus Cytomegalovirus Virus Epstein-Barr Virus Herpes

III. Anatomi dan Fisiologi Hati merupakan sebuah organ yang besar dan memiliki berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan. Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler). Kapiler ini mengalirkan darah ke dalam vena yang bergabung dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya masuk ke dalam hati sebagai vena porta. Vena porta terbagi menjadi pembuluh-pembuluh kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk diolah. Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah diperkaya dengan zat-zat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum.

Gbr. Anatomi Hepar IV. Etiologi / Penyebab Hepatitis biasanya terjadi karena virus, terutama salah satu dari kelima virus hepatitis, yaitu A, B, C, D atau E. Hepatitis juga bisa terjadi karena infeksi virus lainnya, seperti mononukleosis infeksiosa, demam kuning dan infeksi sitomegalovirus. Penyebab hepatitis non-virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan. Penyebab hepatitis ternyata tak semata-mata virus. Keracunan obat, dan paparan berbagai macam zat kimia seperti karbon tetraklorida, chlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat lain yang digunakan sebagai obat dalam industri modern, bisa juga menyebabkan hepatitis.

Zat-zat kimia ini mungkin saja tertelan, terhirup atau diserap melalui kulit penderita. Menetralkan suatu racun yang beredar di dalam darah adalah pekerjaan hati. Jika banyak sekali zat kimia beracun yang masuk ke dalam tubuh, hati bisa saja rusak sehingga tidak dapat lagi menetralkan racun-racun lain. V. Patofisiologi Hepatitis akut dapat disebabkan oleh infeksi obat, toksin, autoimun, kelainan metabolik. Hepatitis infeksi merupakan penyebab terbanyak hepatitis akut. Hepatitis infeksi dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit. Virus hepatitis adalah penyebab terbanyak hepatitis infeksi. Kemajuan di bidang biologi molekuler telah membantu pengenalan dan pengertian patogenesa dari tujuh virus penyebab hepatitis sebagai manifestasi penyakit utama. Virus-virus tersebut dinamakan virus hepatotropik, yang ditandai denagn urutan abjad yaitu A, B, C, D, E, G, dan terakhir virus TT. Virus-virus lain yang juga memberi gejala hepatitis sebagai bagian dari gejala klinisnya, bukan disebut virus hepatotropik. Seperti virus herpes simplex (HSV), cytomegalo (CMV), epsteinbarr, varicella, rubella, adeno, entero, parvo B19, arbo dan HIV, gejala-gejala hepatologi pada infeksi virus-virus ini hanya merupakan bagian dari penyakit sistemik. Virus A dan E tidak menyebabkan penyakit kronis, virus B, C, D merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas karena penyakit kronis. Virus G dapat memberi infeksi kronis, tetapi tidak menimbulkan gejala klinis yang jelas, sedang virus TT walaupun prevalensinya tinggi, tidak memberi gejala baik akut maupun kronis. VI. Tanda dan Gejala Demam

Selesema Sakit-sakit badan terutamanya pada sendi dan otot Keletihan dan lemah Hilang selera makan dan penurunan berat badan Loya dan muntah Sakit kepala Jaundis (warna kulit dan mata kekuningan) Warna urin(air kencing) yang gelap(dark yellow urine) Najis berwarna pudar(pale coloured stool)

Bentuk akut:

dijangkiti dalam tempoh yang singkat kebanyakan pesakit tidak menunjukkan sebarang gejala kebanyakan pesakit juga kembali sembuh seperti sedia kala antara gejala yang berlaku adalah:

demam,sakit kepala,atau selesema

Bentuk kronik:

dijangkiti dalam tempoh lebih 6 bulan menunjukkan gejala yang lebih banyak dan serius berbanding bentuk akut ada di kalangan pesakit merupakan 'pembawa'

VII. KOMPLIKASI a. Oedema dan perdarahan b. Defesiensi Vitamin c. Abnormalitas metabolic d. Splenomegali e. Pruritus

VIII. Pengobatan

Terapi suportif : pembatasan aktivitas, pemberian makanan terutama harus cukup kalori. Hindari obat hepatotoksik seperti parasetamol, INH, Rifampisin. a. Medikamentosa :

Ursedeoksikolikasid (UDCA) Obat anti virus : interferon, lamivudin, ribavirin. Prednison khusus untuk VHA bentuk kolestatik. Kolestasis berkepanjangan diberi vitamin larut dalam lemak dan terapi simptomatis untuk menghilangkan rasa gatal yaitu kolestiramin.

Hepatitis fulminan dirawat intensif.

b. Konsultasi kepada ahli gastrohepatologi diperlukan bila :


Timbul gejala-gejala ke arah fulminan : Kesadaran menurun, terdapat gejala perdarahan, ALT dan AST lebih dari 1000 iu/l, serum bilirubin lebih dari 10 mg/dl, pemanjangan waktu protrombin lebih dari 3 detik dari nilai normal. Terjadi kolestasis yang memanjang (lebih dari 30 hari)

c. Pemantauan

Penilaian kesadaran, suhu badan, derajat ikterus, besar hati. Gejala perdarahan terutama dari saluran cerna. Laboratorium : Bilirubin direk, indirek, ALT dan AST, glukosa, albumin, PT diulang tiap 3-7 hari tergantung perkembangan penyakit.

IX. Pemeriksaan Diagnostik 1. Darah tepi : dapat ditemukan pansitopenia: infeksi virus, eosinofilia : infestasi cacing, leukositosis : infeksi bakteri. 2. 3. Urin : bilirubin urin Biokimia : a. Serum bilirubin direk dan indirek b. ALT (SGPT) dan AST (SGOT) c. Albumin, globulin d. Glukosa darah e. Koagulasi : faal hemostasis terutama waktu protrombin 4. Petanda serologis : IgM antiHAV, HbsAg, IgM anti HBc, Anti HDV, Anti HCV, IgM Leptospira, kultur urin untuk leptospira, kultur darah-empedu (Gal). 5. USG hati dan saluran empedu : Apakah terdapat kista duktus koledokus, batu saluran empedu, kolesistitis ; parenkim hati, besar limpa. X. PENATALAKSANAAN MEDIK a. Pemberian vitamin B complek, vitamin E, Vitamin B12, vitamin K b. Pemberian obat-obatan anti hepatotoksia dan kortikosteroid

c. Menghindari makanan dan obat-obatan yang merusak fungsi hepar, seperti : Anesthetic terhalogenasi Anti hipertensi Anti TBC Anti convulsion Anti terminoven Akohol yang berlebih

XI. PENGKAJIAN KEPERAWATAN 1. Aktivitas istirahat Gejala : Merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kelemahan, kehilangan Sensasi / paralisis ,mudah lelah, susah beristirahat. Tanda :gangguan tonus otot ,paralitik terjadi kelemahan umum , gangguan penglihatan Gangguan tingkat kesadaran 2. Sirkulasi Gejala : Adanya penyakit jantung polisitemia , riwayat hipotensi postural Tanda : Hipertensi posturial, sehubungan dengan adanya embolusi nadi frekuensi Bervariasi, Disretmia, perubahan EKG 3. Intergritas Ego Gejala : Perasaan tidak berdaya,perasaan putus asa. Tanda : Emosi yanfg labil dan ketidaksiapan untuk marah. Sedih dan gembira kesulitan Untuk mengespresikan diri. 4. Eliminasi Gejala : Perubahan pada berkemih, Distensi abdomen, Bising anus negatif. dapat

5. Makanan / cairan Gejala : Nafsu makan hilang, mual muntah selama fase akut. Kehilangan sensasi pada Lidah ,pipi atau tenggorokan .distasia adanya riwayat DM meningkatnya lemak, dalam darah . Tanda : Kesulitan menelan atau obesitas

6. Neurosensori Tanda : - Tingkat kesadaran menurun terjadi koma pada tahap awal terjadi hemoragik Pada wajah terjadi paralisis Afasia ,kehilangan kemampuan untuk mengenali masuknya rangsang visual pendenganran ,taktis. Afraksia reaksi pupil tak sama, kejang.

7. Nyeri/ kenyamanan Gejala : Sakit kepala dengan intensitas yang berbeda-beda. Tanda : Tingkah laku yang tidak stabil , gelisah ketegangan pada otot/fasia. 8. Pernafasan Gejala : merokok (faktor resiko) Tanda : Ketidak mampuan menelan / batuk/ hambatan jalan nafas. 9. Keamanan Tanda : motorik atau sensorik ,masalah dalam penglihatan perubahan persepsi terhadap orientasi tempat tubuh tidak mampu mngenali objek, warna ,kata dan wajah yang pernah dikenalnya dengan baik.. Gangguan berespon terhadap panas dan dingin , kesulitan dalam menelan, gangguan dalam memutuskan, perhatian Sedikit terhadap keamanan, tidak sabar.

10. Interaksi sosial Tanda : Masalah bicara ketidak mampuan untuk berkomunikasi.

11. Penyuluhan / pembelajaran Gejala : adanya riwayat hepatitis pada keluarga, Stroke, pemakaian kontrasepsi oral Kecanduan alkohol (Faktor Resiko).

XII. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan b/d mual dan muntah 2. Kurang mandiri dalam merawat diri b/d kelemahan fisik 3. Nyeri b/d kontraksi

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

No 1.

Diagnosa Keperawatan
Nyeri b/d inflamasi

Perencanaan Tujuan dan Kriteria hasil Setelah dilakukan tindakan Keperawatan diharapkan nyeri hilang dengan kriteria. - skala nyeri 0 - 1 - tidak ada pembesaran hati - nyeri tekan kuadran atas akan berkurang - ekspresi wajah tenang Intervensi 1. Observasi dan catat lokasi, eratnya dan kriteria nyeri.

Rasional 1.Memberikan informasi tentang kemajuan perbaikan terjadinya komplikasi dan keefektifan intervensi. 2.Teknik distraksi dapat menghilangkan perhatian pasien dari nyerinya. 3.Tirah baring pada posisi fowler rendah menurunkan keadaan intra abdomen. 4.Dingin pada sekitar ruangan membantu meminimalkan ketidak nyamanan. 5.Dengan lingkungan yang tenang pasien dapat beristirahat. 6.Analgetik dapat menghilangkan rasa nyeri. 1. Mengetahui berapa banyak jumlah kalori yang masuk.

2. Ajarkan teknik distraksi.

3. Tingkatkan tirah baring, biarkan pasien melakukan posisi yang nyaman. 4. Kontrol suhu ruangan.

5. Ciptakan lingkungan yang nyaman. 6. Kolaborasi pemberian analgeti 2. Perubahan nurtisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi pasien dapat terpenuhi dengan kriteria; - nafsu makan naik - nyeri abdomen kram berkurang 2. Berikan makanan sedikit dan tawarkan makanan pagi paling banyak 3. Berikan perawatan mulut 1. Observasi pemasukan diet

2. Makan banyak sulit untuk mengatur bila pasien anoreksia.

3. Meninggalakan rasa tak enak

- berat badan naik - tonus otot kuat

tiap hari. 4. Anjurkan makan dengan porsi yang tegak.

pada mulut. 4. Menurunkan rasa penuh pada abdomen sehingga dapat meningkatkan pemasukan.

5. Dorong masukan sari jeruk dan masukan karbohidrat. 6. Konsul dengan ahli gizi.

5. Merupakan bahan eksra kalori yang lebih dan mudah dicerna

6. Berguna dalam membuat program untuk memenuhi kebutuhan pasien.

3.

Kurang mandiri dalam merawat diri b/d kelemahan fisik

Setelah dilakukan tindakan keperawatan di harapkan cemas klien berkurang dengan kriteria : - Melakukan aktivitas sesuai kemampuan - ADL dilakukan tanpa bantuan

1. Kaji kemampuan dan derajat ketergantungan 2. Bantu ADL pasien 3. Libatkan keluarga dalam perawatan diri pasien perawatan dirinya 5. Kolaborasi dengan ahli Fisioterapi

1. Mengidentifikasi kemampuan/tingkat kemandirian pasien. 2. Memenuhu kebutuhan pasien 3. Keluarga merupakn suport terpenting 4. Mengidentifikasi/meningkatkan kemandirian pasien 5. Mengidentifikasi kemampuan pasien dan meningkatkan kemandirian pasien.

(makan,minum,mandi,BAB/BAK) 4. Libatkan pasien dalam

TINJAUAN KASUS

I. PENGKAJIAN KEPERAWATAN Tanggal Pengkaji Tempat / Ruang : 23 Juni 2008 : Jarot Indra Gunawan : Ruang F RS Bethesda Yogyakarta

A. IDENTITAS KLIEN Nama Umur Alamat Agama Kelamin Suku/bangsa Pendidikan Pekerjaan Tanggal Masuk Status Diagnosa Medis RM : Bp. A : 42 tahun : Tejokusuman. Yogyakarta : Jenis : Laki - laki : Jawa/Indonesia : : PNS : 22 Juni 2008 : Kawin : Ikterik dengan mual :

B. PENANGGUNG JAWAB Nama Alamat Hubungan : Ibu K. : Tejokusuman, Yogyakarta : Istri

II. RIWAYAT KESEHATAN a . Keluhan Utama Pasien mengatakan perut mual, muntah dan jika kencing seperti teh. b . Riwayat Penyakit Sekarang Kurang lebih satu minggu yang lalu klien pernah periksa di RS Mitra Sehat dengan keluhan yang sama, tetapi tidak kunjung baikan. Pada tanggal 22 Juni 2008, klien periksa di RS Bethesda Yogayakarta dan di sarankan untuk opname. Klien datang ke ruangan terpasang infuse asering di tangan kiri dan mendapat pengobatan inject Primperan 1 amp, Vometa 3x1, Sisterol 3x1, Corliv 3x1. c . Riwayat Penyakit yang Lalu Klien belum pernah opname. d. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada

III. POLA KEBIASAAN PASIEN Aspek Fisik, Biologis a. Pola Nutrisi : 1. Sebelum Sakit : Frekuensi Jenis Makanan : 3 x sehari : nasi biasa, lauk ( tahu, tempe, daging ), sayur, buah

Porsi yang dihabiskan : 1 porsi Makanan pantang Banyak minum Jenis Minum : tidak ada makanan pantang : 6 7 gelas ( 1000 1500 cc ) / hari : air putih, the

2. Selama Sakit Frekuensi Jenis makanan : 2 x sehari : nasi biasa, sayur, daging : 5 6 gelas( 800 1300 cc ) / hari

Porsi yang dihabiskan : 1 porsi Banyak minum

b. Pola Eliminasi 1. Sebelum Sakit BAK Frekuensi Jumlah Urine Warna Urine Bau BAB Frekuensi Konsistensi Warna Bau 2.Selama Sakit BAK Frekuensi Jumlah Urine Warna Urine Bau Keluhan BAB Frekuensi Konsistensi Warna Waktu Bau Keluhan : 1 x dalam 2 hari : lembek : kuning kecoklatan : tidak tertentu : khas feaces : tidak ada : 4 7 kali / hari : 800 1500 cc / hari : kuning keruh ( seperti the ) : khas Urine : Tidak ada : 1 x / hari : lembek : kuning kecoklatan : khas feaces : 4 5 kali / hari : : kuning : khas Urine

c. Pola Kebiasaan Istirahat Tidur, Aktivitas 1. Sebelum Sakit Aktivitas sehari hari seperti mandi, makan, BAB, BAK dilakukan sendiri. Lama Tidur Tidur Siang Tidur Malam Alat Untuk Tidur 2. Selama Sakit Aktivitas sehari hari seperti mandi, makan, BAB, BAK dibantu perawat dan keluarga. Lama Tidur Tidur Siang Tidur Malam Alat Untuk Tidur : 2 3 jam sehari : 5 6 jam sehari : Bantal, kasur, selimut. : 2 3 jam sehari : 7 8 jam sehari : Bantal, kasur, selimut, guling.

d. Pola Kebersihan Diri Kebersihan Rambut : Rambut pendek, hitam, tidak ada ketombe, klien keramas 3 x seminggu. Kebersihan kulit : kulit sawo matang, mandi 2 x sehari dengan menggunakan sabun. Kebersihan mata : bersih tidak ada kotoran, tidak keluar cairan, dibersihkan saat mandi. Kebersihan hidung Kebersihan mulut : hidung tidak keluar cairan, dibersihkan setiap mandi. : mulut sedikit bau, klien gosok gigi 1x sehari selama di RS. Kebersihan telinga : tidak keluar cairan, diberssihkan dengan cotton but jika kotor. Kebersihan kuku : kuku bersih, pendek,dipotong jika panjang.

e. Pola persepsi sensori Klien tidak menggunakan alat Bantu penglihatan dan pendengaran.

IV. ASPEK MENTAL, SOSIAL, SPIRITUAL, INTELEKTUAL a. Konsep diri Identitas diri Harga diri : Klien mengatakan Nama saya Bp. A : Klien mengatakan saya tidak merasa malu dengan penyakit sekarang. Ideal diri Peran diri : klien mengatakan saya ingin cepat sembuh dan pulang : Klien mengatakan saya tidak melakukan aktivitas seperti biasanya. c. emosaional d. komunikasi : klien tenang : komunikasi klien lancar, bicara jelas,menggunakan bahasa jawa.

e. pertahanan koping : pengambilan keputusan dibantu keluarga f. Sosial e. Spiritual g. Intelektual : Hubungan klien dengan perawat dan keluarga baik. : : Klien tidak mengetahui tentang perawatan penyakitnya.

V. PEMERIKSAAN FISIK

a. Keadaan Umum

: Klien sakit sedang, terpasang infuse asering 20 tetes per menit di tangan kiri.

b. Kesadaran Kuantitatif Kualitatif c. Tanda Vital TD Nadi Suhu Respirasi : 110 / 80 mmHg : 80 x / menit : 36,1 0 C : 20 x / menit : GCS : 15, E : 4, E : 5, M : 6 : compos mentis

Pemeriksaan Head to Toe 1. Kepala Rambut Mata : Rambut pendek, tidak ada ketombe. : Konjungtiva merah muda, pupil isokor, tidak ada kotoran, reflek cahaya berkedip saat dirangsang cahaya, tidak menggunakan alat Bantu ppenglihatan ( kacamata, kontak lens) Hidung Mulut Telinga : Septum ditengah, tidak keluar cairan, tidak ada kelainan bentuk. : mukosa bibir agak kering, mulut tidak berbau. : Tidak keluuar cairan, fungsi pendengaran baik, tidak menggunakan alat Bantu dengar Leher : Tidak ada pembesaran vena jugularis dan kelenjar tyroid

2. Dada Inspeksi : dada simetris antar kanan dan kiri, kulit sawo matang, jenis pernapasan dada, tidak ada kelainan dada (pigeon, funnel, barrel chest), tidak ada bekas luka Palpasi Perkusi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan : Batas atas jantung ICS 2 Mid clavicularis sinistra Batas bawah jantung ICS 5 mid clavicularis dextra Batas paru ICS 2-6 Auskultasi : bunyi nafas vesikulerdisemua lapang paru, tidak ada suara nafas tambahan 3. Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi : warna kulit sawo matang, tidak ada bekas luka, umbilicus bersih : bising usus 16 kali per menit : tidak ada nyeri tekan : suara tympani pada daerah lambung, dullness pekak pada daerah hati

4. Genetalia Anus

: bersih, tidak terpasang DC : tidak ada hemoroid

5. Ekstremitas Atas : Anggota gerak lengkap, terpasang asering 20 tetes per tangan Bawah kiri.. menit di

: anggota gerak lengkap

VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK TANGGAL 22 Juni 2008 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Jenis Pemeriksaan Hb AL Segmen Limfosit Total bilirubin Direk bilirubin SGOT SGPT Alkali Hasil 16.10 10.84 44 46 5.92 5.09 848 1982 179.000 Satuan ribu Harga Normal 13.50 17.50 4.10 10.90 47 80 13 - 40 0 1.1 0 - 1.3 17 59 21 72 38 126

HbSag : Negatif Program Pengobatan: 1. inject Primperan 1 amp 2. Vometa 3 x 1 3. Sisterol 3 x 1 4. Corliv 3 x 1

VII. ANALISA OBAT 1. Primperan Indikasi : mencegah mual muntah 2. Vometa Indikasi : mencegah mual muntah 3. Sistenol Indikasi : Antipiretik ( menurunkan panas ) 4. Curliv Indikasi : Multi vitamin

VIII. ANALISA DATA

No 1.

2.

Data DS : Klien mengatakan nyeri pada abdomen bagian kuadran atas. DO : - Nyeri tekan pada abdomen bagian kua ran atas. - Klien tampak gelisah - Ekspresi wajah menahan sakit - Skala nyeri : 4 DS : Klien mengatakan apabila makan merasakan mual dan muntah DO : - Klien kelihatan lemas, dan pucat. - Nafsu makan berkurang (hbs 1/2 porsi)

Masalah Nyeri

Penyebab Pembengkaan hepar

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Mual dan muntah

3.

DS : Klien mengatakan badan terasa berat untuk beraktifitas. DO : Klien kelihatan lemas, pucat, ADL dibantu sebagian oleh perawat dan keluarganya

Kurang mandiri dalam merawat diri

Kelemahan fisik

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Nyeri b/d pembengkaan hepar ditandai dengan : DS: Klien mengatakan nyeri pada abdomen bagian kanan atas. DO: - Nyeri tekan pada abdomen bagian kuadran atas. - Klien tampak gelisah - Ekspresi wajah menahan saki - Skala nyeri 4 2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual dan muntah ditandai dengan : DS : Klien mengatakan apabila makan merasakan mual dan muntah DO : - Klien kelihatan lemas, dan pucat. - Nafsu makan berkurang (hbs porsi ) 3) Kurang mandiri dalam merawat diri b/d kelemahan fisik ditandai dengan : DS : Klien mengatakan badan terasa berat untuk beraktifitas DO : Klien kelihatan lemas, pucat, ADL dibantu sebagian oleh perawat dan keluarganya

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


Nama : Tn. A Ruang : Ruang F No 1. Diagnosa Keperawatan
Tgl 23 Juni Jam 09.30

Perencanaan Tujuan dan Kriteria hasil


Tgl 23 Juni Jam 09. 30

Intervensi
Tgl 23 Juni Jam 09. 30

Rasional
Tgl 23 Juni Jam 09. 30

Nyeri b/d pembengkaan hepar ditandai dengan : DS: Klien mengatakan nyeri pada abdomen bagian kanan atas. DO: - Nyeri tekan pada abdomen bagian kuadran atas. - Klien tampak gelisah - Ekspresi wajah menahan saki - Skala nyeri 4

Setelah dilakukan tindakan Keperawatan selama 3x 24 jam diharapkan nyeri hilang dengan kriteria. - skala nyeri 0 - 1 - tidak ada pembesaran hati - nyeri tekan kuadran atas akan berkurang - ekspresi wajah tenang

1. Observasi dan catat lokasi, eratnya dan kriteria nyeri.

2. Ajarkan teknik distraksi.

3. Tingkatkan tirah baring, biarkan pasien melakukan posisi yang nyaman. 4. Kontrol suhu ruangan.

6. Ciptakan lingkungan yang nyaman. 7. Kolaborasi pemberian Analgeti Jarot Jarot Jarot

1. Memberikan informasi tentang kemajuan perbaikan terjadinya komplikasi dan keefektifan intervensi. 2. Teknik distraksi dapat menghilangkan perhatian pasien dari nyerinya. 3.Tirah baring pada posisi fowler rendah menurunkan keadaan intra abdomen. 4. Dingin pada sekitar ruangan membantu meminimalkan ketidak nyamanan. 5.Dengan lingkungan yang tenang pasien dapat beristirahat. 6.Analgetik dapat menghilangkan rasa nyeri. Jarot

2.

Tgl 23 juni Jam 09. 30

Tgl 23 juni Jam 09. 30

Tgl 23 juni Jam 09. 30

Tgl 23 juni Jam 09. 30

Perubahan nurtisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual ditandai dengan : DS : Klien mengatakan mual dan tak nafsu makan DO : pasien menghabiskan makanan 2-3 sendok.Klien tampak lemas

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi pasien dapat terpenuhi dengan kriteria; - nafsu makan naik - nyeri abdomen kram berkurang - berat badan naik - tonus otot kuat

1. Observasi pemasukan diet 2. Berikan makanan sedikit dan tawarkan makanan pagi paling banyak 3. Berikan perawatan mulut tiap hari. 4. Anjurkan makan dengan porsi yang tegak. 5. Dorong masukan sari jeruk dan masukan karbohidrat. 6. Konsul dengan ahli gizi.

1. Mengetahui berapa banyak jumlah kalori yang masuk. 2. Makan banyak sulit untuk mengatur bila pasien anoreksia. 3. Meninggalakan rasa tak enak pada mulut. 4. Menurunkan rasa penuh pada abdomen sehingga dapat meningkatkan pemasukan. 5. Merupakan bahan eksra kalori yang lebih dan mudah dicerna 6. Berguna dalam membuat program untuk memenuhi kebutuhan pasien. Jarot
Tgl 23 juni Jam 09. 30

Jarot 3.
Tgl 23 juni Jam 09. 30

Jarot
Tgl 23 juni Jam 09. 30

Jarot
Tgl 23 juni Jam 09. 30

Kurang mandiri dalam merawat diri b/d kelemahan fisik, ditandai dengan : DS : pasien mengatakan badannya lemah dan lemas DO : pasien tampak lemas dan ADL dibantu perawat dan keluarga

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam di harapkan cemas klien berkurang dengan kriteria : - Melakukan aktivitas sesuai kemampuan - ADL (makan,minum,mandi,BAB/BAK)

1. Kaji kemampuan dan derajat 1. Mengidentifikasi ketergantungan 2. Bantu ADL pasien 3. Libatkan keluarga dalam perawatan diri pasien 4 .Libatkan pasien dalam perawatan dirinya kemampuan/tingkat kemandirian pasien. 2. Memenuhu kebutuhan pasien 3. Keluarga merupakn suport terpenting 4.Mengidentifikasi/meningkatkan kemandirian pasien

dilakukan tanpa bantuan

5. Kolaborasi dengan ahli Fisioterapi

5. Mengidentifikasi kemampuan pasien dan meningkatkan kemandirian pasien.

Jarot

Jarot

Jarot

Jarot

Nama : Tn. A Ruang : Ruang F No. Diagnosa Keperawatan 1. I 24 Juni 08 08.00 I. 1. Pantau lokasi & intensitas nyeri. 2. Observasi tanda vital : 08.30 TD : 110/70 mmHg S : 380C N : 88 x/menit R : 22 x/menit 3. Berikan lingkungan yang tenang. 09.30 4. Berikan primperan rantin sesuai indikasi. 10.00 E : Klien mengatakan nyeri agak berkurang, skala 2 2. II 24 Juni 08 08.30 I. 1. Mengobserfasi nafsu makan klien (klien habis porsi) 2. Menanjurkan klien makan sedikit 10.00 demi sedikit. 3. Menyediakan diet diet BB, tersaji. 11.00 4. Memberikan obat siang ( Vometa ) Tgl./Jam Perkembangan Paraf

06. 30

E : Klien masih sedikit mual apabila makan

3.

III

24 Juni 2008 07.30

I : Mengobservasi tingkat kemandirian Klien : Klien belum bisa beraktivitas sendiri

1. 07.45

Menata tempat tidur klien :Menata tempat tidur klien menjadi lebih rapi. E. : Klien mengatakan masih perlu dibantu dalam mememnuhi kebutuhan sehari hari.

CATATAN PERKEMBANGAN
Hari Ke 2 25 Juni 2008 1. DX I 20 Juni 08 S O : Pasien mengatakan perut sedikit nyeri : Tanda vital : S : 36,70C N N : 86x/mnt R : 22x/mnt TD : 140/90 mmHg A P I 1. 14.00 15.30 2. : Masalah teratasi : Lanjutkan intervensi : Pantau lokasi & intensitas nyeri. Observasi tanda vital : TD : 120/90 mmHg S : 36,70C N : 88 x/menit R : 22 x/menit 3. Berikan lingkungan yang tenang. 19.00 20.00 DX II 20 juni 08 S O A P I : Klien tidak merasa lemas : Klien tampak segar : Masalah teratasi. : Lanjutkan intervensi : E : Klien sudah tidak merasakan nyeri

1. Mengobserfasi nafsu makan klien (klien 14.00 habis porsi) 2. Memberikan makanan tambahan(kue dan teh 15.45 Manis) 3. Menanjurkan klien makan sedikit demi sedikit. 15.50 18.30 20.00 4. Menyediakan diet diet BB, tersaji. 5. Memberikan obat vometa. E : Klien masih sedikit mual

DX III

20 juni 08

I : Mengobservasi tingkat kemandirian Klien : Klien belum bisa beraktivitas sendiri

14.00 14.30

1.

19.00

Mengobservasi tingkat kemandirian klien :klien sudah bisa ke kamar kecil sendiri 2. Menyuiapkan persiapan mandi klien : Klien masih dibantu dalam mandi E. : Klien dibantu sebagian dalam beraktivitas

CATATAN PERKEMBANGAN
Hari Ke 3 26 Juni 2008 1. DX I 26 Juni 08 S : Pasien mengatakan sudah tidak nyeri lagi Skala 0 15.30 O : Tanda vital : S : 370C N N : 88x/mnt R : 20x/mnt TD : 120/80 mmHg 18.00 A P I : Masalah teratasi : Stop : -

E : Klien sudah tidak nyeri lagi, ekspresi wajah tenang

DX II

26 Juni 08 S O 14. 45 A P I E

: Klien mengatakan nafsu makan baik : KU baik : Masalah teratasi : Stop : : Klien sudah tidak mual dan muntah apabila makan.

DX III

21 juni 08

S : O : Tempat tidur klien tampak sedikit Berantakan P : Lanjutkan intervensi I : Mengobservasi tingkat kemandirian Klien : Klien belum bisa beraktivitas sendiri 1. Mengobservasi tingkat kemandirian klien :klien sudah bisa ke kamar kecil sendiri

07.45

08.30

2. Menata tempat tidur klien :Menata tempat tidur klien menjadi lebih rapi.

E. : Klien dibantu sebagian dalam beraktivitas