Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH ELEKTRONIKA ANALOG PENGUAT KELAS A, KELAS B, DAN KELAS AB

Disusun Oleh :

Mohammad Ali Machrus Achmad Azhar Hilmi Prakoso

H1C009056 H1C009055 H1C009046

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK TEKNIK ELEKTRO PURBALINGGA 2011/2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah dengan judul PENGUAT KELAS A, KELAS B, DAN KELAS AB. Tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai tugas kelompok mata kuliah Elektronika Analog dengan tema PENGUAT KELAS A, KELAS B, DAN KELAS AB. Berdasarkan tema tersebut, maka penyusun mengambil judul sesuai dengan tema karena judul tersebut mencakup keseluruhan isi dari makalah, mulai dari definisi oscillator hingga kegunaan-kegunaan yang dimilikinya. Dalam penyusunan makalah ini, tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak dan pada kesempatan ini penyusun ingin mengucapkan pada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Akhirnya, penyusun berharap semoga keberadaan makalah ini dapat bermanfaat, khususnya sebagai sumber materi mengenai PENGUAT KELAS A, KELAS B, DAN KELAS AB. Namun demikian, penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, demi memperoleh hasil yang sempurna.

Purwokerto,21 Meil 2012

Penyusun

PENGUAT DAYA KELAS A Nama : Hilmi Prakoso NIM : H1C009046

A DEFINISI PENGUAT DAYA KELAS A Penguat kelas A didefinisikan sebagai suatu penguat yang mempunyai kemampuan terbesar dalam mereproduksi masukan dengan distorsi yang terkecil, dengan atau tanpa rangkaian umpan balik negatif. Namun demikian, efisiensi penguat kelas A adalah paling kecil dibandingkan dengan penguat daya kelas lainnya. Rangkaian penguat kelas A dengan umpan balik emitor ditunjukan dengan gambar berikut:

Gambar Penguat Kelas A Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut : o ICsat=VCC/RC+RE o IB=VB/RB o VCEcutoff=VCC o VB=VCC.R2/R1+R2 o RB=R1.R2/R1+R2 Dan rangkaian dasar penguat daya kelas A :

A. KLASIFIKASI PENGUAT DAYA KELAS A Berdasarkan titik kerjanya penguat daya kelas A diklasifikasikan sebagai berikut : 1) Penguat dengan letak titik Q di tengah-tengah garis beban 2) Mempunyai sinyal keluaran yang paling bagus diantara penguat jenis yang lain. 3) Efisiensinya paling rendah, karena banyaknya daya yang terbuang di transistor. Berdasarkan tipe pembiasannya yang dilakukan oleh penguat, penguat daya kelas A diklasifikasikan sebagai berikut: Penguat Daya kelas A : Titik kerja diatur agar seluruh fasa sinyal input diatursedemikian rupa sehingga seluruh fasa arus output selalu mengalir. Penguat ini beroperasi pada daerah linear.

B. SIFAT SIFAT PENGUAT DAYA KELAS A 1.Dirangkai Secara common emiter. Contoh dari penguat kelas A adalah adalah rangkaian dasar common emiter (CE) transistor. Penguat tipe kelas A dibuat dengan mengatur arus bias yang sesuai di titik tertentu yang ada pada garis bebannya. Sedemikian rupa sehingga titik Q ini berada tepat di tengah garis beban kurva VCEIC dari rangkaian penguat tersebut dan sebut saja titik ini titik A. Apabila sebuah transistor mempunyai titik kerja Q di dekat tengah-tengah garis beban DC, suatu sinyal AC yang kecil mengakibatkan transistor bekerja didaerah yang aktif dalam seluruh siklusnya. Apabila sinyal membesar, transistor terus bekerja didaerah aktif selama waktu mencapai puncak-puncaknya sepanjang garis beban titik jenuh dan titik pancung (cut off) tidak terpotong. Untuk membedakan cara operasi ini dari jenis-jenis lainnya, operasi tersebut disebut dari kelas A. Pada gambar 1, titik Q diambil ditengah atau dipusat garis beban AC, dari sini kita mendapatkan sinus output yang tak tergunting dengan kemungkinan yang terbesar. Garis beban pada penguat ini ditentukan oleh resistor Rc dan Re dari rumus VCC = VCE + IcRc+ IeRe. Jika Ie = Ic maka dapat disederhanakan menjadi VCC = VCE + Ic (Rc+Re). Selanjutnya dapat menggambar garis beban rangkaian ini dari rumus

tersebut. Sedangkan resistor Ra dan Rb dipasang untuk menentukan arus bias. Pembaca dapat menentukan sendiri besar resistor-resistor pada rangkaian tersebut dengan pertama menetapkan berapa besar arus Ib yang memotong titik Q.

Gambar 1. Garis beban CE kelas A Vcc RC

Icsatt=

VCE cutt off =Vcc


VBVBE

Icq=

VCEQ=Vcc Ic RC Untuk menggambar garis beban AC dapat dilakukan dengan cara berikut:

Dengan: RL=RE//RL VCE= Ic (RC+RE) Icc(cut off) = VCEQ + Icq. RL Besar arus Ib pada penguat daya kelas A biasanya tercantum pada data sheet transistor yang digunakan. Besar penguatan sinyal AC dapat dihitung dengan teori analisa rangkaian sinyal AC. Analisa rangkaian AC adalah dengan menghubung singkat setiap komponen kapasitor C dan secara imajiner menyambungkan VCC ke ground. Dengan cara ini rangkaian gambar-1dapat dirangkai menjadi seperti gambar dibawah ini. Saat Resistor Ra dan Rc dihubungkan ke ground dan semua kapasitor dihubung singkat

Rangkaian imajimer analisa ac kelas A Pada penguat kelas A dikenal adanya PP atau Kepatuhan AC. Kepatuhan AC (PP) adalah tegangan keluaran maksimum penguat dari puncak ke puncak (tanpa pemotongan). Kepatuhan AC (PP) dapat dirumuskan sebagai berikut : PP= 2Icq. rL Secara toeri kita dapat merancang suatu penguat CE kelas A dengan cara menentukan bias DC-nya terlebih dahulu, setelah selesai maka akan diperoleh nilai-nilai untuk resistor yang digunakan. Sebelum menentukan bias DC tersebut terlebih dahulu dipilih jenis resistor yang digunakan,

kemudian baru menentukan bisa DC-nya. Penguat daya yang dibahas pada percobaan ini sama seperti common emitter pada penguat satu tingkat, hanya saja sinyal input yang diberikan jauh lebih besar amplitudonya. Penganalisaan impedansi input dan impedansi output serta penguatan sama seperti penguat satu tingkat. Ciri khas dari penguat kelas A, seluruh sinyal keluarannya bekerja pada daerah aktif. Penguat tipe class A disebut sebagai penguat yang memiliki tingkat fidelitas yang tinggi. Asalkan sinyal masih bekerja di daerah aktif, bentuk sinyal keluarannya akan sama persis dengan sinyal input. Namun penguat kelas A ini memiliki efisiensi yang rendah kira-kira hanya 25% - 50%. Ini tidak lain karena titik Q yang ada pada titik A, sehingga walaupun tidak ada sinyal input (atau ketika sinyal input = 0 Vac) transistor tetap bekerja pada daerah aktif dengan arus bias konstan. Transistor selalu aktif (ON) sehingga sebagian besar dari sumber catu daya terbuang menjadi panas. Karena ini juga transistor penguat kelas A perlu ditambah dengan pendingin ekstra seperti heatsink yang lebih besar. 1. Digunakan Untuk Daya Yang Sedang < 10 Watt. 2. Input dan output berbeda 180 Selain ketiga sifat penguat pada kelas A tersebut, ada beberapa sifat-sifat penguat kelas A yang dijelas oleh Albert Paul Malvino, Ph. D. dalam bukunya yang berjudul Prinsip-Prinsip Elektronika Jilid I antara lain sebagai berikut : 1 Bati Tegangan dengan Beban Di dalam penguat CE pada gambar 2, tegangan ac Vin menggerakkan basis, menghasilkan tegangan keluar ac Vout. Bati tegangan tanpa beban adalah A= Rc r 'e

Gambar 2. Penguat CE Karena resistansi yag dilihat oleh kolektor adalah

r C =RC R L

Sehingga dapat dihitung bati tegangan terhadap beban dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

AV =
Dimana :

rc r 'c

rc = Resistansi emiter ac rc = Resistansi kolektor ac RC = Resistansi kolektor dc A = Bati Tegangan tanpa beban RL = Resistansi beban AV = Bati tegangan dengan beban

2) Bati Arus Pada gambar 2, bati arus sebuah transistor adalah perbandingan arus kolektor ac terhadap arus basis ac. Persamaannya adalah sebagai berikut: Ai= Dimana : Ai = Bati arus ic = Arus kolektor ac ib = Arus basis ac 3) Bati Daya ic ib

Pada gambar 2, daya masuk ac pada basis adalah


P input=V input x i b

Daya keluaran ac dari kolektor adalah

P out =V out x i c

Tanda minus (-) diperlukan karena adanya pembalikan fasa. Perbandingan Pout/Pin disebut sebagai bati daya dan ditulis dengan Ap. dengan mengambil perbandingan tersebut, didapatkan:
A p= P out V out i c = Pinput V input i b

Karena

Av =V out /V input dan

Ai=i c /i b , maka: A p=Av Ai

Dimana : P in = Daya input ac v in = Tegangan melintas pada resistansi emiter ib = Arus basis ac ic = Arus kolektor ac vout = Tegangan keluar Pout = Daya output ac Ap = Bati daya Av = Bati tegangan Ai = Bati arus

4) Daya Beban Pada gambar 2, daya ac ke dalam tahanan beban RL adalah

V P L= L RL

Dimana : PL = Daya beban ac VL = Tegangan beban rms RL = Resistansi beban

5) Efisiensi Tahapan

Efisiensi tahapan kelas A diberikan oleh = Dimana : PL(maks) =Daya beban maksimum PS = daya dc dari catu = Efisiensi tahapan P L(maks) x 100 Ps

D. CARA MENGENALI PENGUAT DAYA KELAS A

Dapat dilihat pada letak inductor dan kapasitornya. Cara yang paling mudah untuk mengenali jenis penguat kelas adalah dengan memperhatikan tegangan pada basis, pada gambar diatas tegangan Vcc yang masuk ke basis mengalami pembagian tegangan oleh adanya resistor yang dipasang secara parelel yaitu R1 dan R3, jadi langkah awal untuk menentukan jenis dari suatu penguat adalah dengan melihat tegangan yang masuk ke basis, bandingkan dengan penguat yang lain, penguat kelas B memiliki tegangan 0.7 V karena tegangan pada kaki basis sama dengan tegangan pada diode, sedangkan untuk kelas C tegangan pada basis sebesar 0 V karena di hubungkan ke ground melalui sebuah inductor. Perhatikan pada bagian input dan output, sebelum dan sesudah output terdapat sebuah kapasitor (C2 dan C4) yang dipasang secara seri, fungsi dari capacitor ini disebut sebagai kopling karena berfungsi untuk menyalurkan transmisi, atau sebagai sambungan, sifat dasar dari kapasitor

adalah menahan arus dc dan meloloskan arus AC, dengan adanya capasitor pada input dan outpun rangkaian maka dapat memfilter arus dc sehingga benar benar arus AC yang masuk. Pada kaki basis dialiri arus yang cukup untuk mengaktifkan kerja dari transistor, arus IB yang cukup besar juga akan mengakibatkan arus yang melalui IC juga cukup sangat besar, karena sesuai persamaan IE = IC + IB sedangkan IE IC , akibat arus yang besar tersebut transistor akan cepat panas dan jika hal ini tetap dibiarkan maka transistor dapat rusak, untuk menanggulangi hal ini maka pada kaki emitor diberi resistor (R2), resistor ini mengakibatkan Vcesemakin turun sehingga suhu di transistor dapat ditahan untuk tidak naik, dengan cara ini suhu di transistor masih diambang toleransi yang tidak merusak transistor, R2 juga sering disebut sebagai pengendali suhu pada rangkaian penguat kelas A. Sekarang perhatikan kapasitor yang dirangkai secara parallel dengan R2 (C1) kapasitor ini disebut sebagai kapasitor by a pass karena memiliki XC yang kecil, fungsi dari capasitor bypass juga untuk memudahkan analisa AC pada rangkaian, hal yang perlu diperhatikan adalah nilai dari XC harus 20x dibawah nilai R2, sehingga nilai dari capasitor itu sendiri dapat ditentukan dengan persamaan: X C =12 fC Jika diperhatikan pada bagian yang paling dekat dengan Vcc terdapat kapasitor juga yang dipasang secara parallel terhadap Vcc, kapasitor ini sering disebut juga sebagai kapasitor decoupling (C3), karena kapasitor ini menjaga agar sinyal distorsi yang dihasilkan dari rangkaian tidak mempengaruhi input. Pada bagian output dipasang sebuah inductor (L1), inductor ini disebut juga sebagai RFC (Radio Frequency Cook) yang kerjanya hampir mirip dengan LPF, fungsinya adalah meloloskan dc dan menahan arus AC agar AC tidak naik ke Vcc kembali, pada Radio Frequency RFC berfungsi untuk menahan arus AC. Penguat kelas A cocok untuk menguatkan frekuensi kecil, karena tidak membutuhkan daya yang besar, karena itu penguat kelas A sering dipasang pada bagian awal untuk menguatkan frekuensi kecil yang kemudian dikuatkan lagi oleh penguat yang lain baik kelas B maupun kelas C. Simulasi :

Dengan : VCC = 15V R1 = 33k R2 = 33k RC = 1k RE = 100

Maka : ICsat = 15V/1k+100 =0.013A = 13mA VB = 15V.33k / 33k+33k = 7.5V

RB = R1.R2 / R1+R2 = 33k.33k / 33k+33k = 16500 ohm = 16k5 IB = VB / RB = 7.5V / 16500 = 0.00045A =0.45mA 2. Garis bebannya diperoleh sebagai berikut :

Daftar Pustaka : http://digilib.petra.ac.id/viewer.php? page=4&submit.x=24&submit.y=5&qual=high&submitval=next&fname=%2Fjiunkpe %2Fs1%2Felkt%2F2008%2Fjiunkpe-ns-s1-2008-23402033-10813-amplifier-chapter3.pdf http://www.google.co.id/url? sa=t&rct=j&q=penguat+tipe+a+scrib&source=web&cd=1&ved=0CFcQFjAA&url=http%3A%2F %2Fwww.scribd.com%2Fdoc%2F86427438%2FDefinisi-Penguat-Daya-Kelas-aResmi&ei=jmqyT8q_FIvirAeK-cXyAw&usg=AFQjCNGHTtRZxqbZOVe9Ea5wSEkcalAQQ&cad=rja

OPERASI KELAS B Nama : Mohammad Ali Machrus NIM : H1C009056

Kelas A adalah cara umum untuk menjalankan transistor pada rangkaian-rangkaian linear karena menyajikan rangkaian pemberi prategangan yang paling sederhana dan paling mantap . tetapi kelas Abukanlah cara yang paling efisien untuk mengoperasikan transistor. Pada beberapa pemakaian,seperti system yang dicatu baterai, penguras arus dan efisiensi tahapan menjadi pertimbangan yang paling penting dalam perancangan. Itulah disebabkan , lalu dikembangkan operasi lainnya. Operasi kelas B sebuah transistor berarti bahwa arus kolektor yang hanya mengalir 180 derajat dari siklus ac. Ini bahwa titik Q ditempatkan didekat titik putus dari kedua garis beban dc dan ac.

Gambar 1 rangkaian pengikut emitter dorong tarik kelas B Gambar diatas adalah gambar rangkaian pengikut emitter dorong tarik(push-pull) kelas B. yang dilakukan pada rangkaian diatas ialah, pada saat setengah siklus tegangan masuk yang positif, transistor yang diatas menghantar dan yang dibawah putus. Transistor yang diatas berlaku seperti pengikut emitter yang biasa . sehingga tegangan keluarannya hamper sama dengan tegangan masuknya. Biasanya, impedansi keluar amat rendah karena sifat pengikut emitter .

Gambar 2 bentuk gelombang penguat arus pada penguat push-pull

Sedangkan pada setengah siklus tegangan masuk yang negative, transistor yang diatas putus dan transistor yang dibawah menghantar. Transistor yang dibawah berlaku seperti pengikut emitter yang biasa yang menghasilkan tegangan beban hamper sama dengan tegangan masuk. Perilaku keseluruhannya sekarang jelas. Transistor yang diatas menangani setengah siklus masuk tegangan yang positif,dan transistor yang dibawah menangani setengah siklus yang negative. Pada kedua setengah siklus itu, sember melihat impedansi masuk yang tinggi kedalam basis, dan beban melihat impedansi keluar yang rendah.

Gambar 3 blok dasar penguat push-pull

Gambar 4 garis beban dc dan ac penguat kelas B

Pada gambar 1 anggap bahwa tak ada prategangan sama sekali yang diterapkan pada diode emitter. Maka tegangan yang datang harus naik sampai sekitar 0.7V unuk mengatasi potensial barier itu. Oleh karena itu, bila sinyal lebih kecil daripada 0.7 V,tak ada arus yang mengalir melalui transistor 1 . perilaku yang sama terjadi juaga pada setengah siklus yang lain,tak ada arus yang mengalir pada transistor 2 sampai tegangan masuk ac lebih negative daripada -0.7V . Perhitungan daya pada penguat push-pull kelas B adalah sebagai berikut. Daya rata-rata pada beban RL yang disebabkan oleh adanya sinyal ac adalah:

dimana Icm adalah harga puncak atau harga maksimum dari sinyal output ic. Daya pada beban akan maksimum apabila:

Dengan memasukkan harga Icm ini pada persamaan di atas, diperoleh:

Daya rata-rata yang diberikan oleh catu daya PCC adalah:

Oleh karena pada saat tidak ada sinyal output, arus dari catu daya tidak mengalir, maka bentuk gelombang arus dari catu daya adalah sama seperti bentuk gelombang sinyal output.

Gambar 5 bentuk gelombang arus dari catu daya Dengan demikian besarnya arus rata-rata dari catu daya adalah:

Dengan memasukkan harga Idc ini dalam persamaan PCC, maka diperoleh:

PCC akan maksimum apabila Icm = VCC /RL, yaitu:

Setelah diketahui harga PL dan PCC, maka dapat ditentukan efesiensi penguat, yaitu:

Efesiensi penguat akan maksimum apabila Icm = VCC/RL, yaitu:

Selanjutnya menentukan daya pada transistor (kolektor) adalah:

Disipasi daya pada transistor akan maksimum apabila:

Dengan memasukkan harga Icm ini pada persamaan PC, maka diperoleh:

Disipasi daya maksimum untuk setiap transistor adalah:

Pada sinyal output yang diperoleh dari penguat daya push-pull kelas B terdapat cacat silang atau crossover distortion. Cacat ini terjadi karena ketidak linieran karakteristik transistor pada awal kerjanya, yaitu antara titik mati hingga cut-in. Bentuk gelombang output dengan cacat silang ditunjukkan pada gambar dibawah :

Gambar 6 Cacat silang pada sinyal output penguat push-pull kelas B Untuk mengatasi adanya cacat silang tersebut, penguat push-pull perlu diberi bias pada daerah cut-in. Dengan adanya tegangan bias yang kecil ini, maka penguat beroperasi pada kelas AB. Keuntungan operasi kelas B adalah sebagai berikut : 1. Rendahnya disipasi daya transistor 2. Berkurangnya penguras arus 3. Praktis membuat kedua transistor dalam keadaan OFF 4. Efisiensinya lebih besar dari operasi kelas A yaitu sebesar sekitar 75% Sedangkan kekurangan dari operasi kelas B ialah : 1. 2. Transistor memiliki ketidak idealan Saat bekerja di frekuensi yang rendah terdapat distorsi yang cukup besar

Hasil simulasi menggunakan MULTISIM :

Spesifikasi :

Vs=15Vpp dengan VCC=15V


R1=R2=R4 1Kohm

f =60 Hz

R3=100 ohm
C1=C2=C3=1mF Cariah efisiensinya..? ayunan tegangan maksimum selama setengah siklus adalah 15 V,dengan demikian kepatuhan keluaran ac : PP=2 15V=30V Harga ini adalah tegangan puncak-ke-puncak tak terpotong maksimum yang dapat dierian penguat itu. Dengan demikian daya beban maksimum adalah : PL maks= PL maks= PP2 8 RL 30 =1.13V 8x100
2

Penguras arus tanpa sinyal ; Is= I1 I2 Dimana : Is = penguras arus dc I1= arus dc melalui tahanan-tahanan pemberi prategangan I2 = arus dc melalui kolektor yang diatas

Is=1mA1mA=2mA
pada keadaan sinyal penuh, seluruh garis beban ac terpakai dan arus kolektor rata-rata pada transistornya yang diatas naik menjadi : I2=0,318150mA =47,78 mA dengan demikian penguras arus s=inyal penuh :

Is=1mA47,7 mA=48,7 mA
Daya dc maksimum yang diberikan ke tahapan adalah : Ps=VCC x Is

Ps=30V x 48,7 mA=1,46 W


maka efisiensi tahapan adalah :
= PL Ps

1,13 W x 100 % 1,46 W

= 77,4%

http://elektronika-dasar.com/teori-elektronika/amplifier-push-pull-kelas-b/ http://id.wikipedia.org/wiki/Distorsi_seberangan

Penguat Kelas AB Nama : Achmad Azhar NIM : H1C009055

Power Amplifier kelas AB ini dibuat bertujuan untuk membentuk penguat sinyal yang tidak cacat (distorsi) dari penguat kelas A dan untuk mendapatkan efisiensi daya yang lebih baik seperti pada amplifier kelas B. Karena amplifier kelas A memiliki efisiensi daya yang rendah (25%) yang disebaban titik kerja berada di 1/2 VCC tetapi memiliki kualitas sinyal yang terbaik. Sedangkan amplifier kelas B memiliki efisiensi daya yang baik (85%) karena titik kerja mendekati VCC tetapi kualitas suara yang kurang baik. Sehingga dibuat amplifier kelas AB yang memiliki efisiensi daya penguatan sinyal (60%) dengan kualitas sinyal audio yang baik. Titik kerja amplifier kelas AB dapat dilihat pada grafik garis beban berikut.

Grafik Titik Kerja Amplifier Kelas AB Dengan menempatkan titik kerja rangkaian power amplifier kelas AB berada diantara titik kerja kelas A dan kelas B seperti terlihat pada grafik titik kerja rangkaian diatas, penguat kelas AB dimaksudkan mendapatkan karakteristik dasar gabungan dari amplifier kelas A dan amplifier kelas B.

Cara lain untuk mengatasi cross-over adalah dengan menggeser sedikit titik Q pada garis beban dari titik B ke titik AB (gambar-5). Ini tujuannya tidak lain adalah agar pada saat transisi sinyal dari phase positif ke phase negatif dan sebaliknya, terjadi overlap diantara transistor Q1 dan Q2. Pada saat itu, transistor Q1 masih aktif sementara transistor Q2 mulai aktif dan demikian juga pada phase sebaliknya. Penguat kelas AB merupakan kompromi antara efesiensi (sekitar 50% - 75%) dengan mempertahankan fidelitas sinyal keluaran.

rangkaian penguat AB :

keluaran :

analisis DC VR2 = (2VCC) R2/(R1+R2+R3)


=

( 2 x 12)20 (20+ 20+ 20)

= 8v RB = R1//R3//R2 = 5 ohm

= 10
IC = IB. IB = VCC/RB = 12/5 = 2,4 A IC = 10 X 2.4 = 24 A

VCE= X VCC = 1/2 X 12 = 6 VOLT

RESPON FREKUENSI

F(hz) 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 2000 3000 4000

vi 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

vo(mv) 0 94.83 175.7 239.08 335.67 414.23 524.3 569.63 638.14 725.67

Av

0.4610849888 4.8954352299 7.5708649432 10.518250571 12.344830977 14.391597154 15.111857074 16.09831936 17.214783385

120 100 80 60 40 20 0 F(hz)

Column B Column E