Anda di halaman 1dari 48

PERAN/PELIBATAN MASY.

DALAM PENATAAN RUANG PERKOTAAN

Kata kunci: 1. PERAN/PELIBATAN 2. MASYARAKAT 3. PENATAAN RUANG 4. PERKOTAAN

Ba gaimana KONSEP & Langkah Oper asional?


PERAN/PELIBATAN MASYARAKAT dalam PENATAAN RUANG PERKOTAAN

1. INTRO
PERSEPSI MEMPENGARUHI CARA KITA MEMANDANG Click to edit Master subtitle style CARA KITA MEMANDANG MEMPENGARUHI BAGAIMANA KITA BERPERILAKU

DUA ORANG DAPAT MELIHAT HAL YANG SAMA, TIDAK SALING SEPAKAT NAMUN SAMA-SAMA BENAR HAL INI BUKAN MASALAH LOGIS TAPI PSIKOLOGIS PARADIGMA MERUPAKAN SUMBER DARI SIKAP DAN PERILAKU KITA. PARADIGMA TAK BISA DIPISAHKAN DARI KARAKTER. KITA BENARBENAR TAK DAPAT MEMPERTAHANKAN KEUTUHAN JIKA KITA BERBICARA DAN BERJALAN SECARA BERBEDA DENGAN CARA KITA MELIHAT.

1. INTRO (1.2)

DIMANA KITA BERDIRI BERGANTUNG Click to edit Master subtitle style DARIMANA KITA DUDUK KITA MELIHAT DUNIA BUKAN SEBAGAIMANA DUNIA ADANYA, MELAINKAN SEBAGAIMANA KITA ADANYA ATAU SEBAGAIMANA KITA TERKONDISIKAN UNTUK MELIHATNYA JIKA KITA INGIN MEMBUAT PERUBAHAN KUANTUM (PERUBAHAN MENDADAK DAN JANGKA PANJANG) YG BERARTI, KITA PERLU MEMPERBAIKI PARADIGMA DASAR KITA

1. INTRO (1.3)

APA YANG KITA LIHAT SANGAT BERKAITAN edit Master subtitle styleKITA Click to DENGAN SIAPA KITA. TIDAK DAPAT MENGUBAH CARA PANDANG KITA TANPA SEKALIGUS MENGUBAH KEBERADAAN UNTUK BERHUBUNGAN SECARA KITA, EFEKTIF DAN SEBALIKNYA DENGAN SIAPAPUN KITA HARUS BELAJAR MENDENGARKAN, DAN INI MEMERLUKAN KEKUATAN EMOSIONAL. MENDENGARKAN

2. P E N G E R T I A N
Partisipasi Atau biasa dikenal juga dengan istilah peranserta, adalah berkenaan dengan keikutsertaan dalam satu atau beberapa bagian dari suatu siklus proses kegiatan/pembangunan.
Pemberdayaan

menguatkan dan memampukan

(involvment ada intervensi) Pihak yang satu (Pemerintah) lebih berperan dari Pihak yang lain (Masyarakat & Swasta) Pedoman Pelibatan => untuk Pemerintah (Pemda) Pedoman Peranserta => untuk semua pihak

PELIBATAN

PENGERTIAN (2.2)

Kelompok individu/masyarakat yang hidup dan saling berinteraksi dalam daerah atau satuan wilayah tertentu.
Forum

Komunitas

Warga mereka berserikat

Orang seorang, kelompok orang, termasuk masyarakat hukum adat, atau badan hukum termasuk swasta.

MASYARAKAT

3. L A T A R B E L A K A N G

Paradigma baru ranmasy UU No. 24/1992 PP No. 69/1996 TAP MPR IV/MPR/2000 UU No. 22/1999 Hasil Rakernas BKTRN Surabaya (Juli 2003)

LATAR BELAKANG (3.2)

PARADIGMA BARU RANMASY

Masyarakat sebagai raja penguasa berarti rakyat berdaulat Good Governance mengedepankan pengawasan/peran masy. Mendorong kemitraan ini berarti peran masyarakat Pemberdayaan Masyarakat berarti masy. perlu diperkuat

LATAR BELAKANG (3.3)

Pasal 12 UU No.24/1992 bahwa penataan ruang dilakukan oleh Pemerintah dan Masyarakat Hal tersebut berarti bahwa dari saat lahirnya UU 24/92 masyarakat sudah diperankan sebagai mitra (secara hitam diatas putih) tetapi dalam operasionalisasinya masih belum dilaksanakan. Hal tersebut terkait dengan perangkat dan kesiapan serta sikon (pendidikan masyarakat) Kini saatnya untuk memulai (momentumnya tepat)

LATAR BELAKANG (3.4)

PP 69/1996 tentang Pelaksanaan dan Hak dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tatacara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang Terdiri dari 6 Bab dan 31 Pasal Bab 1 Ketentuan Umum 1 pasal Bab 2 Pelaksanaan hak dan Kewajiban Masy. 6 pasal Bab 3 Bentuk Peran Serta Masyarakat 13 pasal Bab 4 Tatacara Peran Serta Masyarakat 9 pasal Bab 5 Pembinaan Peran Serta Masyarakat 1 pasal Bab 6 Ketentuan Penutup 1 pasal

LATAR BELAKANG (3.5)

Diatur secara jelas hak, kewajiban, bentuk dan tatacara peran serta dalam setiap tahapan penataan ruang. Masyarakat sebagai pelaku dan Pemerintah fasilitatornya. HAK ATAS RUANG (psl 2)

Berperanserta Mengetahui Menikmati manfaat Mendapat ganti

LATAR BELAKANG (3.7)

TAP MPR IV/MPR/2000 tentang rekomendasi kebijakan dalam penyelenggaraan otonomi daerah Bahwa salah satu kebijakan otonomi daerah diarahkan pada pencapaian peningkatan pelayanan publik dan pengembangan kreatifitas masyarakat serta aparatur pemerintah di daerah. Hal tersebut jelas menunjukkan pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk berperan aktif dalam berbagai proses penyelenggaraan pembangunan, termasuk penataan ruang

LATAR BELAKANG (3.8)

UUNo.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah memberi peluang bottom up mechanism sangat besar Memberi legitimasi kewenangan kepada Daerah Pasal (taru) menegaskan bahwa proses penyusunan rencana tata ruang mengacu aspirasi bawah Penataan ruang Propinsi mengacu penataan ruang Kab/Kota dan seterusnya. Hal tersebut berarti peran masyarakat sangat diperhatikan, karena unit paling kecilnya adalah masyarakat (termasuk individu) Artinya secara teoritis penataan ruang seharusnya

4. POTRET DAN UPAYA PELIBATAN MASYARAKAT


Pemerintah telah dan terus melakukan berbagai skeme mendorong ranmasy dalam berbagai bentuk -GG IPGI (Indonesian Partnership on Local Governance Initiative), mencoba melakukan proses riset aksi di tiga kota sebagai upaya membangun body of collective knowledge tentang partisipasi dan good governance. BUILD (Breakthrough Urban Initiatives for Local Development), mengembangkan inovasi manajemen perkotaan di 9 kota di Indomesia. URDI (Urban and Regional Development Institute), melalui program Local Government Best Practise mencoba mengidentifikasi berbagai inovasi yang telah dikembangkan dan diimplementasikan

POTRET DAN UPAYA

(4.2)

CSOs (Civil Society Organisation), mengakatalis proses kesadaran menuju good governance di Indonesia, dengan: - Awareness Raising - Policy Advocacy - Institution Building - Capacity Building PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa), melalui program hibah yang diberikan kepada Pemerintah, NGOs, CBOs dan Universitas. USAID (United States Agency for International Development), mendorong penyusunan Program

POTRET DAN UPAYA

(4.3)

Departement for International Development (DFID) melalui program hibah dan asistensi bagi pemerintah dan civil society dalam kerangka pengurangan kemiskinan. Gesellschaft fur Technische Zusammenarbiet (GTZ), concern dalam pemberdayaan masyarakat melalui antara lain program technical cooperation. Bank Dunia, melalui program pinjaman, hibah dan investasi yang diberikan kepada pemerintah maupun masyarakat sipil. ADB (Asian Development Bank) melalui program

5. ISU-ISU STRATEJIK
Kebijakan Pemerintah belum sepenuhnya
berorientasi (berpihak) kepada masyarakat. Pendidikan masyarakat sebagian besar masih relatif rendah Belum tertatanya kelembagaan peranserta masy. NSPM belum cukup dan kurang sosialisasi Belum optimalnya kemitraan Pemerintah dan Masyarakat (swasta dan pers)

6. KONSEP PERAN SERTA /PELIBATAN MASYARAKAT 6.1 KONSEP PERAN SERTA/PARTISIPASI keikutsertaan hanya merupakan cara/metode untuk mencapai tujuan.Yang penting adalah tujuannya sendiri (tujuan taru) Pemerintah (fasilitator) VS Masyarakat (dan swasta)
(Pelaku Utama)

Agar tujuan tercapai keputusan harus berada ditangan pelaku utama

KONSEP RAN/BATMASY

(6.2)

Peran serta sering disalahartikan (dipraktekkan) mobilisasi Ada pergeseran peran Pemerintah dari ROWING (mendayung) ke STEERING (mengarahkan/menfasilitasi) MEMFASILITASI menciptakan kondisi sehingga yang disepakati terwujud Bisa diartikan idealnya: Yang menentukan arah adalah KITA (dominasi Pemerintah -TOR) Yang bertanggungjawab sampai ke tujuan adalah TUKANG PERAHU (sekarang seharusnya Masyarakat -Pelaku)

KONSEP RAN/BATMASY

(6.3)

Jadi peran Pemerintah dalam pembangunan adalah menciptakan kondisi (infrastruktur, environment, perundangan, kelembagaan dsb) Lalu dimana posisi PENGENDALIAN-nya? -seperti wasit, misal keluarkan KARTU KUNING, MERAH dsb (ini tugas Pemerintah) Apakah masyarakat SIAP? Disinilah perlunya pemberdayaan pada sebagian besar masyarakat saat ini

KONSEP RAN/BATMASY

(6.4)

Pemberdayaan, bukan delegasi DELEGASI: define the task (arahkan cara terserah) PEMBERDAYAAN: define how to do it (sama-sama beri kemampuan) => perkuatan komunitas (masyarakat) => penciptaan kondisi yang kondusif Pengalaman menunjukkan bahwa selalu ada sekitar 2% dari setiap komunitas yang adil dan arif.

KONSEP RAN/BATMASY

(6.5)

JENJANG PERAN SERTA

Non-partisipatif Rekayasa sosial 8 Terapi 7 Bersifat simbolis 6 3. Informasi 5 4. Konsultasi 4 5. Penentraman 3 Pengendalian/keda 2 ulatan 1 6. Kerjasama/mitra 7. Pendelegasian 8. Kontrol sosial Perbedaannya terlihat pada arus informasinya Sejauh menguntungkan masyarakat maka akan berjalan cepat

KONSEP RAN/BATMASY

(6.6)

CIRI PARTISIPASI YANG TIDAK DIMANIPULASI : - Ada kesepakatan yang dilakukan oleh semua pihak yang terlibat. - Ada tindakan untuk mengisi kesepakatan tersebut. - Ada pembagian kewenangan dan tanggungjawab.

KONSEP RAN/BATMASY

(6.7)

6.2 KONSEP MASYARAKAT

Opposite (partnernya) Pemerintah, jadi termasuk Swasta dan Pers, bisa individu maupun kelompok

Pada TK Nas-Lembaga/Asosiasi Nas, TK PropLembaga/Asosiasi Prop, TK Kab/Kot/Rinci Lembaga/Asosiasi Kab/Kot, Pokmasy, Individu

Untuk lebih memahami keterhubungan antara Pemerintah (fasilitator) dan Masyarakat (termasuk swasta sebagai Pelaku Utama) dalam pembangunan perlu diperkenalkan konsep stakeholder (dalam penataan ruang)

Komponen stakeholder dalam taru adalah: q Pemerintah, PemProp, PemKab/PemKot q Masyarakat q Swasta (dan Pers bisa masuk kategori Masyarakat)

KONSEP RAN/BATMASY

(6.8)

KATEGORI STAKEHOLDER

Stakeholder yang berwenang mengambil/ membuat kebijakan : a. Eksekutif, seperti Bappenas, Depkimpraswil b. Legislatif, seperti DPR, DPRD I, DPRD II c. Yudikatif
Stakeholder

kebijakan : a. Orang per orang b. Kelompok warga setempat

yang terkena dampak dari

KONSEP RAN/BATMASY

(6.9)

Stakeholder yang mengawasi kebijakan : DPR, DPRD I dan DPRD II, LSM, Pers/Media massa, Forum Warga, Partai Politik, Asosiasi Profesi, Perguruan Tinggi. Stakeholder kelompok Interest dan Presure Group yang terkait kebijakan : Partai Politik, LSM, pengusaha, Forum Warga, Asosiasi Profesi, Perguruan Tinggi, Kelompok Mediasi. Stakeholder yang mempunyai kepentingan agar kegiatan atau kebijakannya berjalan : a. Presure Group

KONSEP RAN/BATMASY

(6.10)

6.3 KONSEP RAN/BAT MASY dalam TARU mendorong masyarakat untuk menuntut hak dan melakukan kewajibannya dengan cara menciptakan kondisi yang kondusif untuk mewujudkan yang telah disepakati oleh semua pihak (resources serta lingkungan yang sustain dan lestari). Basis utama pendekatan ini adalah community driven planning

Konsep tersebut bisa dijabarkan kedalam prinsipprinsip dan tujuan peran/pelibatan masyarakat yang harus dijadikan acuan dalam implementasinya.

KONSEP RAN/BATMASY

(6.11)

PRINSIP RAN/BAT MASY


Menempatkan masyarakat sebagai pelaku yang menentukan dalam proses penataan ruang. Memposisikan pemerintah sebagai fasilitator dalam proses penataan ruang. Menghormati hak yang dimiliki masyarakat serta menghargai kearifan lokal dan keberagaman sosial budayanya. Menjunjung tinggi keterbukaan dengan semangat tetap menegakkan etika (Good Governance). Memperhatikan perkembangan teknologi dan profesional.

KONSEP RAN/BATMASY

(6.12)

TUJUAN RAN/BAT MASY


F

Menumbuhkembangkan semangat akuntabilitas atau kesadaran atas hak dan kewajiban masyarakat dan stakeholder lainnya dalam memanfaatkan ruang sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Meningkatkan kesadaran kepada pelaku pembangunan bahwa masyarakat bukanlah obyek pemanfaatan ruang, tetapi justru merekalah pelaku dan pemanfaat utama yang seharusnya terlibat dari proses awal sampai akhir dalam memanfaatkan dan mengendalikan ruang. Mendorong masyarakat dan civil society

KONSEP RAN/BATMASY

(6.13)

F Penataan ruang yang ran/bat masy pun F Penataan

tak bisa diperankan stand alone tetapi harus diposisikan sebagai alat. Alat apa?

ruang merupakan alat keterpaduan pembangunan lintas sektor dan wilayah. penataan ruang diharapkan pengembangan wilayah dapat direkayasa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

F Dengan

KONSEP RAN/BATMASY

(6.14)

Taru dalam Bangwil

PERKEMBANGAN DENGAN INTERVENSI SEBESAR DELTA PERKEMBANGAN TANPA INTERVENSI


MASA YAD
0 T

PERKEMBANGAN YANG ADA


MASA LALU

SAAT INI

: Besaran interfensi

Interfensi/rekayasa dilakukan untuk: - mengarahkan bangwil sesuai/mendekati skenario - bisa memanfaatkan alat Penataan Ruang - Action Program yang jelas, terukur dan termonitor

KONSEP RAN/BATMASY

(6.15)

MASYARAKAT MADANI sbg tujuan??

Prof. Naquib Al Attas (Cendekiawan Malaysia) : madani turunan dari Bahasa Arab : 1) madani madinah, berarti kota Masyarakat Kota, 2) madani tamaddun atau madaniyyah, yang berarti peradaban (civility atau civilization) Masyarakat yang Berperadaban Masyarakat madani bisa berarti sama dengan civil society, yaitu masyarakat yg menjunjung tinggi nilai2 peradaban. Ini berarti suatu masyarakat yg warganya menjalankan fungsi masing2 scr profesional dgn menjunjung tinggi hak dan kewajiban.

7. KENDALA UTAMA RAN/BAT MASY


D

Rendahnya pendidikan, pemahaman, kesadaran implementatif, konsistensi, dan komitmen di kalangan masyarakat akan peran (hak dan kewajiban) yang seharusnya dapat dilakukan. Kebijakan Pemerintah yang belum sepenuhnya berorientasi kepada masyarakat dan belum tingginya kesungguhan Pemerintah dalam mendukung dan mengalokasikan resources dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sehingga masyarakat tidak terlibat langsung dalam pembangunan.

Kurang terbukanya para pelaku pembangunan (masih adanya gap feeling) dalam menyelenggarakan proses penataan ruang yang menganggap masyarakat sekedar obyek pembangunan.

KENDALA UTAMA

(7.2)

Masih rendahnya upaya-upaya pemerintah dalam memberikan informasi (sosialisasi dan kampanye publik) tentang akuntabilitas dari program penataan ruang yang diselenggarakan sehingga masyarakat merasa pembangunan yang dilaksanakan tidak memperhatikan aspirasinya. Walaupun pengertian partisipasi masyarakat sudah menjadi kepentingan bersama (common interest), akan tetapi dalam prakteknya masih terdapat pemahaman yang tidak sama. Masih sedikitnya produk pengaturan yang mengacu paradigma yang menempatkan

8. BENTUK DAN TATACARA RAN/BATMASY DALAM TARU


A. . . . . . .

Bentuk-bentuk ran/bat masyarakat dalam penyusunan RTRW Propinsi: Pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan; Pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah pembangunan; Pemberian masukan dalam perumusan RTRW Propinsi; Pemberian informasi atau pendapat dalam pernyusunan strategi penataan ruang; Pengajuan keberatan atau sanggahan terhadap rancangan RTRW Propinsi; Kerjasama dalam penelitian dan pengembangan;

BENTUK DAN TATACARA

(8.2)

B. Bentuk-bentuk ran/bat masyarakat dalam penyusunan RTRW Kabupaten/Kota dapat berupa: Pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan; Pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah pembangunan; Pemberian masukan dalam perumusan RTRW Kabupaten/Kota; Pemberian informasi atau pendapat dalam pernyusunan strategi penataan ruang; Pengajuan keberatan atau sanggahan terhadap rancangan RTRW Kabupaten/Kota; Kerjasama dalam penelitian dan pengembangan; Bantuan tenaga ahli.

BENTUK DAN TATACARA


C.

(8.3)

Tatacara ran/bat masyarakat dalam penyusunan RTRW Prop/Kabupaten/Kota dapat berupa: Lisan disampaikan kepada pejabat sesuai tingkatan rencana penataan ruangnya Tertulis disampaikan kepada pejabat sesuai tingkatan rencana penataan ruangnya

BENTUK DAN TATACARA D.

(8.4)

Tatacara ran/bat masyarakat dalam pemanfaatan ruang dapat berupa:

D.1. MEKANISME PEMANFAATAN 1. Adjustment/Penyesuai Pada proses Adjustment RTRWNas/Prop./Kab./Kota, an stakeholder yang membuat/ mengambil kebijakan
mensosialisasikan dan mengadaptasikan kepada stakeholder yang akan terkena dampak langsung pembangunan

2. Penyusunan Program Pemanfaatan Penentuan Program dan


-

Kegiatan
-

BENTUK DAN TATACARA

(8.5)

3. Penyusunan Pembiayaan Program Dilakukan oleh stakeholder yang akan 4. Pengurusan Proses Perijinan
Masyarakat perlu diberitahu seluruh proses perijinan yang dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan proses dan kewenangan yang ada

melaksanakannya

5. Pelaksanaan Pembangunan Survey

Investigasi Desain Konstruksi Operasional & Pemeliharaan

BENTUK DAN TATACARA

(8.6)

D.2. PROSEDUR PEMANFAATAN


1.

Tingkat Nasional Berupa pemberian data atau informasi dan disampaikan kepada Menteri terkait secara tertulis selambatnya 30 hari setelah disosialisasikan dan diadaptasikan. Tingkat Propinsi Berupa pemberian data atau informasi dan disampaikan kepada Gubernur secara tertulis selambatnya 30 hari setelah disosialisasikan dan diadaptasikan. Tingkat Kabupaten/Kota -/Rinci Berupa pemberian data atau informasi dan disampaikan kepada Bupati/Walikota secara

2.

3.

BENTUK DAN TATACARA

(8.7)

D.3. KELEMBAGAAN PEMANFAATAN

Tingkat Nasional BKTRN (Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional) Propinsi TKPRD Propinsi (Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah) Kabupaten/Kota TKPRD Kabupaten/Kota Warga Grass Root LSM atau Forum

Tingkat

Tingkat

Tingkat

BENTUK DAN TATACARA

(8.8)

D.4. KOMUNIKASI, SOSIALISASI, & BANTEK


Memberikan

dan menyelenggarakan penyuluhan, bimbingan, dorongan, pengayoman, pelayanan, bantek, bantuan hukum, diklat; Menyebarluaskan informasi mengenai penataan ruang melalui media massa maupun media elektronik kepada semua stakeholder; Pertemuan Forum Warga atau pertemuan antar stakeholder. Apabila masyarakat belum paham terhadap upaya sosialisasi/kampanye perlu Bantuan Teknik pendampingan

BENTUK DAN TATACARA E.

(8.9)

PENGENDALIAN PEMANFAATAN
Masyarakat

sebagai pengawas langsung

Menyampaikan

langsung kepada Pimpinan /penanggung jawab tersedia semua media yang

Menggunakan

Bisa

dilakukan setiap saat

9. AGENDA RAN/BAT MASY DALAM PENATAAN RUANG


& & & & & & & & &

Menyusun NSPM dalam berbagai aspek Ran/Bat Masy Public awareness Public services Public campaign Mengembangkan sistem informasi penataan ruang yang partisipatif Mengembangkan jejaring kemitraan dan mendorong perkuatan kelembagaan Mendorong perkuatan peran Lembaga Daerah (DPRD, Pokmasy, Pers dll) Meningkatkan sosialisasi dan Bantek taru kepada stakeholder Mengkaji dan mengevaluasi apa yang telah dan

10. P E N U T U P
I Penataan
Ruang yang meliputi perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian Pemanfaatan Ruang mutlak dibutuhkan dalam ranngka menjamin hak kepemilikan stiap orang, mewujudkan kesejahteraan sosial dan mengelola perkembangan pembangunan yang terjadi. rangka mewujudkan penyelenggaraan penataan ruang tersebut perlu terus didorong untuk memberi peran dan melibatkan masyarakat dengan pendekatan community driven planning.

I Dalam

Dengan meningkatnya peran serta / pelibatan masyarakat dalam penataan ruang maka masyarakat madani yang berbasis good governance dapat diwujudkan, yang pada akhirnya semakin meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembangunan di daerah. Dengan demikian pembangunan akan berjalan dengan basis transparansi, akuntabilitas, berorientasi proses (akhlak oriented), dan berorientasi/berpihak pada rakyat.