Anda di halaman 1dari 8

Infeksi Paru, Pneumonia, Abses Paru, Tuberkulosis

Infeksi paru itu adalah infeksi yang paling sering terjadi dibanding organ lain, karena paru adalah organ yang berkontak langsung dengan dunia luar. Infeksi yang paling umum terjadi di saluran napas atas, seperti common cold dan faringitis. Biasanya disebabkan oleh virus. Tapi, tidak semudah itu paru bisa terkena infeksi, karena ada mekanisme pertahanan saluran napas. Kalau ada partikel asing berukuran >5um yang masuk ke saluran napas, partikel itu akan didorong ke faring (baik dari saluran napas atas maupun bawah) supaya bisa ditelan dan dicerna oleh asam dan enzim lambung. Kalau partikelnya <5 um, dia akan dimakan oleh makrofag alveolar. Nah, yang bahaya itu kalau terjadi: - kerusakan sistem transport mukosiliari akibat merokok, COPD (penyakit yang faktor resikonya adalah merokok. Pada penyakit ini terjadi penurunan jumlah epitel bersilia), dan pathogen. Merokok dapat melemahkan kemampuan mukosilia melakukan pembersihan dan mengurangi aktivitas makrofag paru. Selain itu, ternyata alcohol juga dapat menghambat batuk dan refleks epiglottis sehingga resiko aspirasi meningkat. Alcohol juga mengganggu mobilisasi dan kemotaksis neutrofil. - Ikatan antara organisme tertentu dengan epitel respirasi - Immunocompromised pada pasien Yang akan dibahas di sini adalah: - Pneumonia - Abses - Penyakit paru akibat jamur - Tuberkulosis PNEUMONIA Pneumonia adalah proses inflamasi pada jaringan alveolar paru. Berdasarkan etiologinya, pneumonia tdd: 1. Community-acquired acute pneumonia. Ini yang penyebabnya bakteri2 spt Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dll. 2. Community-acquired atypical pneumonia. Atipikal di sini artinya bukan selnya yang atipik, tapi gejala penyakitnya yang tidak jelas. Penyebabnya Mycoplasma pneumoniae, virus spt respiratory syncytial virus, virus parainfluenza, dll. 3. Nasocomial pneumonia, yaitu penyakit yang didapat saat pasien dirawat di RS. Penyebabnya yaitu bakteri gram negatif spt Enterobacteriaceae, dll. 4. Aspiration pneumoniae, disebabkan oleh flora oral anaerob spt Bacteroides, dan bisa juga yang aerob spt Streptococcus pneumoniae. 5. Chronic pneumonia 6. Necrotizing pneumonia dan abses paru 7. Pneumonia pada pasien yang immunocompromised Pneumonia berawal dari inhalasi mikroorganisme yang berupa bakteri piogenik atau virus. Kalau yang masuk bakteri, akan terjadi reaksi radang akut terhadap bakteri, tapi tidak terjadi jejas pada alveolus, sehingga akan terjadi pneumonitis intraalveolar. Kalau yang masuk virus, pneumosit I (komponen utama alveolus) akan terinfeksi, sehingga akan terjadi jejas pada alveolus dan terjadilah pneumonitis interstisialis.

1. Community-acquired acute pneumonia (Pneumonia akut didapat di masyarakat) - merupakan pneumonia yang disebabkan oleh bakteri - etiologi : a. Streptococcus pneumoniae, merupakan bakteri gram positif. Penyebab tersering pneumonia akut didapat di masyarakat. b. Haemophilus influenzae (gram negatif). Menyebabkan infeksi saluran nafas bawah dan meningitis pada anak-anak. Merupakan penyebab bakteri tersering eksaserbasi akut PPOK. c. Moraxella catarrhalis, terutama pada usia lanjut. d. Staphylococcus Aureus, penyebab pneumonia bakteri sekunder pada anak dan dewasa sehat setelah penyakit virus pada saluran napas. e. Klebsiella Pneumoniae (gram negatif) f. Pseudomonas Aeruginosa (infeksi nosokomial) - Seringkali infeksi bakteri timbul setelah adanya infeksi virus traktus respiratorius atas - Infeksi bakteri pada parenkim paru menyebabkan alveolus terisi eksudat radang dan menyebabkan konsolidasi pada jaringan paru - Secara morfologi pneumonia bakterial menyebabkan 2 bentuk perubahan anatomik yaitu : bronkopneumonia lobular/bronkopneumonia dan pneumonia lobaris a. Pneumonia lobaris Sesuai namanya, yang terinfeksi adalah seluruh bagian dari satu lobus atau bahkan dua lobus paru. Perubahan yang paling terlihat terjadi di alveoli. Banyak terjadi pada laki-laki berusia 20-50 tahun, disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae. Namun, pada orang tua, penderita diabetes, dan alkoholik, penyebab utamanya adalah Klebsiella pneumoniae. Patologi: terdiri dari 4 fase. Seluruh alveoli pada lobus terinfeksi. Fase 1: kongesti. Terjadi pada hari 1-2. Paru berwarna merah gelap dan basah. Terjadi kongesti pembuluh darah dan eksudat cairan. Fase 2: Hepatisasi merah. Terjadi pada hari 2-4. Paru padat, merah, dan kering. Mulai terbentuk anyaman fibrin dan terdapat banyak sel-sel darah merah. Fase 3: Hepatisasi abu. Hari 4-8. Paru padat dan berwarna abu karena banyaknya jumlah neutrofil. Anyaman fibrin semakin tebal. Terjadi lisis eritrosit. Fase 4: Resolusi. Hari 8-10. Eksudat fibrin mencair, diabsorpsi, atau dibatukkan keluar. Terjadi restorasi menjadi normal dalam waktu yang cepat. Klinik: demam, batuk, malaise (lesu), nyeri pleura, friction rub, sputum coklat purulen seperti karat Komplikasi: akibat kerusakan dan nekrosis jaringan Abses akibat tertimbunnya pus di rongga pleura Empiema organisasi eksudat sehingga paru menjadi jaringan padat, penyebaran bakteri ke katup jantung, otak, ginjal, limpa, atau sendi sehingga menyebabkan abses, endocarditis, meningitis dll b. Bronkopneumonia - Adalah peradangan mengenai bronkus dan alveolus di sekitarnya, menimbulkan lokasi berbercak pada paru. - Satu lobus atau multilobus (lebih sering), bilateral dan terletak basal (gravitasi) - Ukuran lesi (diameter) 3 4 cm

- Penderita : anak, orang tua, orang dengan fisik melemah, penderita penyakit jantung, paru, kanker (menahun) penyakit terminal - Patologi: Bronkiolus yang terinfeksi terisi pus. Epitel bersilia rusak. Terjadi kongesti pembuluh darah dan emigrasi neutrofil. Alveoli memadat karena terdapat sel-sel pus dan debris fibrin. - Bisa menjadi sembuh baik parsial maupun total, bisa menjadi bekas luka yang patchy, dan bisa juga menjadi sepsis dengan pembentukan abses paru. - Komplikasi: pneumonia lobaris, abses, pleuritis, empiema, abses metastatik fibrosis. Jika sinar matahari adalah kemudahan dan hujan adalah kesulitan, maka kita membutuhkan keduanya untuk melihat pelangi. 2. Community-acquired atypical pneumonia a. Etiologi : i. pada anak-anak , dewasa muda. Sporadik Mycoplasma pneumonia atau lokal epidemic (close communities): Sekolah, kamp militer dll. Inflamasinya menyebar dari bronkiolus ke parenkim paru dan dapat menjadi kronik dengan fibrosis. ii. Virus, meliputi virus influenza tipe A dan B, Respiratory synsitial virus, Adenovirus, Rhinovirus, Rubella, Varicella. iii. Chlamydia pneumonia iv. Coxiella burnetti b. Penyakit traktus respiratorius akut yang ditandai dengan bercak peradangan pada paru yang meliputi septa alveolar dan jaringan interstisium c. Atypical : sputum sedang, tidak ada konsolidasi, peningkatan relatif sel darah putih, tidak ada eksudat pada alveolus d. Patogenesis : Terjadi ikatan organisma dengan epitel traktus respiratorius atas diikuti nekrosis sel dan respon sel radang. Ketika proses meluas ke arah alveolus biasanya terjadi peradangan interstisium e. Kerusakan dari epitel traktus respiratorius menghambat sistem transport mucociliary dan merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya infeksi bakteri sekunder Cincin Kawin f. Morfologi : i. Bercak-bercak (patchy), seluruh lobus bilateral atau unilateral ii. Reaksi radang terbatas pada dinding alveoli iii. Septa alveoler melebar, edematous, sel radang mononuklear (limfosit, histiosit, sel plasma) iv. Rongga alveolus : bebas eksudat, tetapi dapat juga ditemukan material protein dan membran pink hyaline yang melapisi dinding alveolar Pada bronkiolus, terdapat sekresi kental, nekrosis epitel bronkiolar, dan infiltrasi mononuclear pada lumen dan dinding. Dinding alveolus menebal karena adanya infiltrasi mononuclear. Pneumonia viral Umumnya, infeksi influenza terjadi pada saluran napas atas. Tapi, pada orang yang lemah dan selama epidemik, seluruh saluran napas dapat terinfeksi.

Pada trakea dan bronki, terjadi inflamasi yang intens disertai perdarahan. Karena nekrosis, terjadi kehilangan epitel. Kemudian terjadi proliferasi epitel disertai infiltrasi mononuclear, kongesti pembuluh darah, dan perdarahan. Pada paru terbentuk membrane hialin. Virus influenza terdiri dari tiga tipe, yaitu tipe A, B, dan C. Tipe A adalah virus yang paling virulen, termasuk mutan-mutannya. Bisa juga terjadi infeksi sekunder yang terutama disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Haemophilys influenzae, dan Streptococcus pneumoniae. SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) - Pertama kali ditemukan tahun 2002 di China - 2002- 2003 : > 8000 kasus, 747 meninggal - Periode inkubasi : 2 10 hari - Gejala : batuk kering, malaise, myalgia, demam - Penyebab : 1/ 3 kasus disebabkan oleh Coronovirus - Patofisiologi belum diketahui - Paru paru : kerusakan alveolar difus dan sel datia multinukleasi - EM : ditemukan coronavirus didalam pneumonocyte 3. Pneumonia Nosokomial - Pneumonia yang didapatkan ketika pasien dirawat di RS - Didapatkan pada pasien : a. Immunosupression b. Pemakaian antibiotik jangka panjang c. Pemakaian alat invasif misal : kateter intravaskuler d. Pasien dengan dengan ventilasi mekanik - Penyebab utama: batang gram negative (Enterobacteriaceae dan Pseudomonas aeruginosa) dan S. aureus. Abses Paru - Abses : proses supuratif lokal dan terbatas didalam paru yang ditandai oleh nekrosis jaringan paru - Gangren : abses dengan infeksi saprofitik - Abses paru bisa disebabkan oleh: I. Infeksi/kelainan saluran nafas 1) Bronkiektasis (dilatasi permanen pada satu atau lebih bronki) 2) Pneumonia. Abses cenderung terjadi pada penderita bronchopneumonia yang dalam keadaan lemah. Biasanya terjadi di lobus bawah, bersifat bilateral dan multipel. 3) Aspirasi bahan terinfeksi, baik dari laring maupun faring. Biasanya terjadi di bagian bawah lobus atas atau bagian atas lobus bawah. Lebih benda asing lebih mudah banyak terjadi pada paru kanan (lebih curam masuk) 4) Tumor bronkus. Jika tumornya besar, abses terletak di dekat hilus. Jika kecil, abses di perifer.

II. Infeksi di tempat lain 1) Emboli septik 2) Infeksi esofagus / vertebra / pleura 3) Trauma tembus toraks 4) Abses sub diafragma 5) Penyebaran hematogen, sering menyebabkan terbentuknya abses paru multipel. III. Tidak diketahui (abses kriptogenik) - Komplikasi : o Dapat sembuh / menutup jika absesnya kecil o Empiema (adanya pus pada rongga pleura), dapat terjadi pada abses subpleural. Dapat berlanjut menjadi fistula bronkopleural, kemudian menjadi pyopneumothorax. o Perdarahan, jika terjadi erosi pembuluh darah besar. o Abses otak/ meningitis melalui aliran darah. Tapi jarang terjadi. o Kista paru o Amiloidosis sekunder 4. Pneumonia Aspirasi - Pada pasien yang sangat lemah (debilitas) atau mereka yang menghirup isi lambung selagi tidak sadar - Bersifat kimiawi karena efek asam lambung yang sangat iritatif. - Inhalasi benda asing dapat menyebabkan infeksi sekunder dan berujung pada abses paru bronchopneumonia. 5. Pneumonia Kronik - Lesi terlokalisir paru pada pasien imunokompeten dengan atau tanpa keterlibatan nodus limfatikus regional (kelenjar getah bening) - Radang granulomatosa : o Disebabkan oleh bakteri yaitu M.Tuberculosa o Disebabkan oleh fungi/jamur yaitu : Histoplasma capsulatum, Coccidioides immitis, Blastomyces dermatidis Penyakit Paru akibat Jamur - Infeksi primer : Histoplasma capsulatum, Coccidioides immitis, Blastomyces dermatidis - Infeksi oportunistik : Aspergillus, Candida, Cryptococcus neoformans, mucorales. Merupakan organisme dengan virulensi rendah, tetapi dapat menyebabkan infeksi pada pasien dengan gangguan kekebalan, lemah, dan dipasangi alat akses intravena jangka panjang. - Penyakit jamur termasuk radang granulomatosa yang dapat mirip dengan infeksi tuberkulosis - Disebabkan oleh jamur yang mempunyai sifat thermally dimorphic, yaitu pada suhu lingkungan berbentuk hyphae yang dapat memproduksi spora, tetapi tumbuh sebagai sebagai yeast (spherules/ellips) pada suhu tubuh didalam paru - Tumbuh secara geografik o Histoplasmosis : Carribean,Ohio,Mississippi o Blastomyces : Central dan Southeast United State o Coccidioides : Southwest dan far west United State and Mexico - Klinik : menyeluruh menyerupai tuberkulosis - fungus ball intra bronkial

- Pada orang yang sebelumnya sehat, jarang yang bersifat sebagai penyakit berat. Sedangkan pada orang yang immunocompromised, dapat fatal. 6. Pneumonia pada immunocompromised host Daya tahan sistem imun tertekan pada penyakit tertentu seperti AIDS, terapi kemoterapi (transplantasi organ), terapi tumor, dan radioterapi. Etiologi : 1. Bakteri (Pseudomonas aeruginosa, Mycobacterium spp,Legionella pneumophilia,Listeria monocytogenes) 2. Virus (CMV, herpesvirus) 3. Fungi ( Pneumocystis carinii, Candida spp, Aspergillus spp, Phycomycetes, Cryptococcus neoformans ) Penyakit dengan Pneumocyctis carinii Terjadi pada anak yang malnutrisi, pada pasien imunosupresi (misalnya pada transplantasi organ kemoterapi terapi steroid), dan pada penderita AIDS (merupakan penyebab kematian yang penting). Intinya terjadi pada orang yang imunosupresi, karena infeksinya sebenarnya merupakan infeksi laten yang kemudian teraktivasi. Infeksi Pneumocystis umumnya terbatas di paru, di mana organisme ini menyebabkan pneumonia interstisial (infiltrat difus). Terdapat sebukan sel plasma, limfosit, kerusakan alveolus tipe II, dan foamy exudate yang merupakan mikroorganisme. Pada pewarnaan pulasan perak, tampak bulat dan berlekuk (new moon). Dinding kistanya berbentuk cangkir di eksudat alveolus. Success consists of going from failure to failure without loss of enthusiasm. ~Winston Churchill TUBERKULOSIS Epidemiologi - 1,7 milyar penduduk dunia menderita TB - 8-10 juta kasus baru per tahun - 3 juta kematian per tahun - WHO (2008): prevalensi 253/200.000 penduduk/tahun - Menurut WHO, TB menyebabkan 6% kematian dari seluruh kematian di dunia - Pasien HIV yang terinfeksi TB akan mengalami TB progressif - Banyak terjadi di negara berkembang Etiologi 1. Mycobacterium tuberculosa. Berbentuk batang, slender, mempunyai kompleks lipid pada dinding sel. Transmisinya secara langsung melalui inhalasi udara. 2. M. bovis : jarang, pada orofaring dan intestinal akibat minum susu yang terkontaminasi (dari sapi perah yang mengalami TB dan susunya tidak dipasteurisasi) 3. M. avium : kurang virulen, lebih sering ditemukan pada pasien dengan AIDS Infeksi TB berbeda dengan penyakit TB. Pada infeksi TB, ditemukan adanya organisme, dapat menyebabkan atau tidak menyebabkan penyakit yang secara klinik signifikan. Pada umumnya

penyebaran melalui person- to person. Pada umumnya, infeksi tuberkulosis primer bersifat asimptomatik. Bila penderita TB batuk, bakteri yang keluar akan bertahan selama satu atau dua jam. Setelah itu bakteri bisa mati karena sinar matahari, tapi bisa juga tertiup angin. Jika bakterinya ada di tempat gelap dan lembab, bakteri bisa bertahan dalam hitungan jam sampai bulan. Orang lain bisa terinfeksi melalui inhalasi, minum susu yang terkontaminasi, atau kecelakaan lab. Lalu akan terjadi implantasi di paru, tonsil, nodus limfa, usus, atau jari tangan. Kemudian dapat terjadi infeksi sekunder ke organ-organ lain. Tuberkulosis Primer Adalah penyakit tuberkulosa yang berkembang pada seseorang yang sebelumnya belum pernah terpapar/terekspos. Tuberkulosis primer hampir selalu bermula dari paru. 5% di antaranya berkembang dengan gejala klinis bermakna. Tuberkulosis primer merupakan penyakit laten. Infeksinya bersifat progresif. Diagnosis progresif pada dewasa sulit ditegakkan. Tuberkulosis primer progresif menyerupai pneumonia bakterial akut, dengan konsolidasi di lobus bawah dan tengah, adenopati hilus, dan efusi pleura. Pembesaran KGB hilus, kavitas dan efusi pleura jarang ditemukan kecuali pada penderita imunosupresan. Penyebaran melalui limfohematogen sangat berbahaya karena dapat menyebabkan meningitis tuberkulosis atau tuberkulosis miliaris. Basil yang terhirup dapat tersangkut di rongga udara distal di bagian bawah lobus atas atau bagian atas lobus bawah, umumnya dekat ke pleura, dan kemudian akan membentuk fokus Ghon, yaitu area paru-paru warna abu-abu keputihan , mengalami konsolidasi (pemadatan), ukuran 1- 1,5 cm, bagian tengah mengalami nekrosis perkijuan. Basil tuberkel, baik bebas atau di dalam fagosit, mengalir ke kelenjar regional. Kombinasi lesi parenkim dan keterlibatan kelenjar getah bening (lymph node) ini disebut kompleks Ghon. Beberapa minggu pertama terjadi penyebaran melalui limfohematogen ke berbagai organ. Jika infeksi sudah terkendali, kompleks Gohn akan mengalami fibrosis yang sering diikuti dengan kalsifikasi , secara radiologik dikenal sebagai Komplek Ranke. Morfologi : Reaksi radang kronik granulomatosa yang membentuk tuberkel, baik dengan nekrosis perkijuan atau tidak. Terdapat sel epithelioid, sel datia langhans, dan limfosit. Tuberkulosis Sekunder Merupakan penyakit tuberkulosa yang berkembang pada seseorang yang sebelumnya pernah terpapar/terekspos. Tuberkulosis sekunder umumnya muncul karena reaktivasi dari lesi primer dorman beberapa decade setelah infeksi awal, terutama jika resistensi pejamu melemah. Bisa juga terjadi karena reinfeksi dari eksogen karena berkurangnya proteksi yang dihasilkan oleh penyakit primer. Lokasinya di apeks lobus atas, satu atau kedua lobus, diduga karena tingginya tegangan oksigen di apeks. Fokusnya cenderung terbatasi sehingga keterlibatan KGB lebih jarang dibandingkan tuberkulosis primer. Akan tetapi, mudah terbentuk kavitas, yang menyebabkan penyebaran di sepanjang saluran napas. Batuk penderita mengandung basilus, karena terjadi erosi jalan nafas. Gejala klinik : malaise, anoreksia, BB menurun, demam (ringan dan hilang timbul), keringat malam Progresif : sputum meningkat (mukoid kemudian purulen), hemoptysis (batuk berdarah), nyeri pleuritik (karena perluasan infeksi ke permukaan pleura). Lesi awal berupa fokus konsolidasi kecil ukuran diameter kurang 2 cm di apical pleura. Fokus berbatas tegas, berwarna abu-abu putih hingga kuning. Terdapat nekrosis perkijuan bervariasi dan

fibrosis perifer. Pada kasus yang ringan, fokus awal di parenkim mengalami fibrosis progresif yang membungkus fokus sehingga hanya tertinggal jaringan parut fibrokalsifik. Pada lesi aktif, terdapat tuberkel-tuberkel menyatu dengan nekrosis perkijuan di tengah. Tuberkulosis paru dapat sembuh dengan fibrosis, tapi bisa juga berkembang dan meluas melalui beberapa jalur: 1. Progressive pulmonary tuberculosis Terjadi pada orang tua dan immunosupresi. Lesi apikal melebar dengan nekrosis perkijuan luas. Erosi pada pembuluh darah dapat menyebabkan hemoptysis. Setelah terapi, akan terjadi fibrosis sehingga terjadi perubahan arsitektur paru. Jika terapi inadekuat dan daya tahan tubuh menurun, basilus dapat meluas lewat jalan nafas, pembuluh darah dan pembuluh limfe. 2. Efusi pleura, tuberculous empiema atau obliterative fibrous pleuritis terjadi jika tuberculosis paru progresif terus berkembang dan rongga pleura terkena. 3. Tuberkulosis miliaris sistemik, terjadi jika fokus infeksi di paru mencemari vena pulmonalis yang organisme menyebar akhirnya ke jantung melalui sistem arteri sistemik. 4. Lymphadenitis, merupakan bentuk paling sering pada tuberkulosis extrapulmoner, di daerah cervical (scrofula)