Anda di halaman 1dari 15

PEMERIKSAAN DAGING Daging adalah bagian hewan yang disembelih (sapi, kerbau, kambing, domba) yang dapat dimakan

dan berasal dari otot rangka atau yang terdapat di lidah, diafragma, jantung dan oesophagus dengan atau tidak mengandung lemak. Daging merupakan otot hewan yang tersusun dari serat-serat yang sangat kecil yang masing-masing serat berupa sel memanjang. Sel serat otot mengandung dua macam protein yang tidak larut, yaitu kolagen dan elastin yang terdapat pada jaringan ikat (Anonimus, 2001). Daging merupakan bahan pangan yang penting dalam memenuhi kebutuhan gizi. Menurut Soeparno (1992) daging didefenisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua hasil produk hasil pengolahan jaringan-jaringan tersebut yang sesuai untuk dimakan serta tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang memakannya. Djafar, dkk. (2006) menyatakan bahwa pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang selalu mendapat perhatian untuk kesejahteraan kehidupan manusia. Selain sebagai sumber gizi, juga perlu diperhatikan keamanan pangan serta aman, bermutu dan bergizi baik disamping itu produk pangan dapat berpengaruh kepada peningkatan derajat kesehatan. Komposisi kimia daging terdiri dari air 56%, protein 22%, lemak 24%, dan substansi bukan protein terlarut 3,5% yang meliputi karbohidrat, garam organic, subtansi nitrogen terlarut, mineral, dan vitamin. Daging merupakan bahan makanan yang penting dalam memenuhi kebutuhan gizi, selain mutu proteinnya yang tinggi, pada daging terdapat pula kandungan asam amino essensial yang lengkap dan seimbang (Lawrie, 1995). Protein merupakan komponen kimia terpenting yang ada didalam daging, yang sangat dibutuhkan untuk proses pertumbuhan, perkembangan, dan pemeliharaan kesehatan. Nilai protein yang tinggi didaging disebabkan oleh asam amino esensialnya yang lengkap. Selain kaya protein, daging juga mengandung energi, yang ditentukan oleh kandungan lemak di dalam intraselular di dalam serabut-serabut otot. Daging juga mengandung kolesterol, walaupun dalam jumlah yang relative lebih rendah dibandingkan dengan bagian jeroan maupun otak. Kolesterol memegang peranan penting dalam fungsi organ tubuh. Kolesterol juga berguna dalam menyusun jaringan otak, serat syaraf, hati, ginjal, dan kelenjar adrenalin. Daging juga merupakan sumber vitamin dan mineral yang sangat baik. Secara umum, daging merupkan sumber mineral seperti kalsium, fosfor, dan zat besi serta vitamin B kompleks tetapi rendah vitamin C (Anonimus, 2004). Kualitas daging dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik pada waktu hewan masih hidup maupun setelah dipotong. Pada waktu hewan hidup, faktor penentu kualitas dagingnya adalah cara pemeliharaan, meliputi pemberian pakan, tata laksana pemeliharaan, dan perawatan kesehatan. Kualitas daging juga dipengaruhi oleh perdarahan pada waktu hewan dipotong dan kontaminasi sesudah hewan dipotong. Daging merupakan salah satu sumber gizi bagi manusia, selain itu juga merupakan

sumber makanan bagi mikoorganisme. Pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan menyebabkan perubahan yang menguntungkan seperti perbaikan bahan pangan secara gizi, daya cerna ataupun daya simpannya. Selain itu pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan
Generated by Foxit PDF Creator Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

juga dapat mengakibatkan perubahan fisik atau kimia yang tidak diinginkan, sehingga bahan pangan tersebut tidak layak dikonsumsi (Siagian, 2002). Makanan yang dikonsumsi dapat menjadi sumber penularan penyakit apabila telah tercemar mikroba dan tidak dikelola secara higienes, makanan yang bepotensi tercemar adalah makanan mentah terutama (Syam, 2004). Daging yang tidak aman dapat membahayakan kesehatan konsumen. Beberapa kriteria daging yang tidak baik adalah sebagai berikut: 1. Bau dan rasa tidak normal; Bau yang tidak normal biasanya akan segera tercium sesudah hewan dipotong. Hal tersebut dapat disebabkan oleh adanya kelainan-kelaianan sebagai berikut: a. Hewan sakit, terutama yang menderita radang yang bersifat akut pada organ dalam, akan menghasilkan daging yang berbau seperti mentega tengik. b. Hewan dalam pengobatan, terutama dengan pemberian antibiotika, akan menghasilkan daging yang berbau obat-obatan. 2. Warna daging tidak normal; Warna daging yang tidak normal tidak selalu membahayakan kesehatan konsumen, namun akan mengurangi selera konsumen. 3. Konsistensi daging tidak normal; Daging yang tidak sehat mempunyai kekenyalan rendah (jika ditekan dengan jari akan terasa lunak), apalagi diikuti dengan perubahan warna yang tidak normal, maka daging tersebut tidak layak dikonsumsi. 4. Daging busuk; Daging yang busuk dapat mengganggu kesehatan konsumen, karena dapat menyebabkan gangguan saluran pencernaan. Pembusukan dapat terjadi karena penanganan yang kurang baik pada waktu pendinginan, sehingga aktivitas bakteri pembusuk meningkat, atau karena dibiarkan di tempat terbuka dalam waktu relatif lama pada temperatur kamar, sehingga terjadi proses fermentasi oleh enzim-enzim membentuk asam sulfida dan amonia. Bakteri pada Daging Pada umumnya, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme pada daging ada dua macam, yaitu (a). Faktor intrinsik termasuk nilai nutrisi daging, keadaan air, pH, potensi oksidasi-reduksi dan ada tidaknya substansi pengahalang atau penghambat; (b). Faktor ekstrinsik, misalnya temperatur, kelembaban relatif, ada tidaknya oksigen dan bentuk atau kondisi daging (Fardiaz, 1992). Temperatur merupakan faktor yang harus diperhatikan untuk mengatur pertumbuhan bakteri sebab semakin tinggi temperatur semakin besar pula tingkat pertumbuhannya. Demikian juga kadar pH ikut mempengaruhi pertumbuhan bakteri, hampir semua bakteri tumbuh secara optimal pada pH 7 dan tidak akan tumbuh pada pH 4 atau diatas pH 9. Setelah penyembelihan pH daging turun menjadi 5,6-5,8, pada kondisi ini bakteri asam laktat dapat tumbuh dengan baik dan cepat (Ramli, 2001). Untuk berkembang biak, bakteri membutuhkan air, jika terlalu kering bakteri tersebut akan mati. Zat-zat organik, Gas, CO2 penting aktivitas metaboliknya. pH, kebanyakan bakteri tumbuh dengan baik pada medium yang netral (pH 7,2-7,6). Temperatur, bakteri akan tumbuh optimal pada suhu tubuh 37 OC (Gibson, 1996). Adapun ciri-ciri daging yang busuk akibat aktivitas bakteri antara lain sebagai berikut: a. Daging kelihatan kusam dan berlendir. Pada umumnya disebabkan oleh bakteri dari genus Pseudomonas, Achromobacter, Streptococcus, Leuconostoc, Bacillus dan Micrococcus.

b. Daging berwarna kehijau-hijauan (seperti isi usus). Pada umumnya disebabkan oleh bakteri dari genus Lactobacillus dan Leuconostoc. c. Daging menjadi tengik akibat penguraian lemak. Pada umumnya disebabkan oleh bakteri dari genus Pseudomonas dan Achromobacter. d. Daging memberikan sinar kehijau-hijauan. Pada umumnya disebabkan oleh bakteri dari genus Photobacterium dan Pseudomonas.
Generated by Foxit PDF Creator Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

e. Daging berwarna kebiru-biruan. Pada umumnya disebabkan oleh bakteri Pseudomonas sincinea. HASIL PENGAMATAN A. Pemeriksaan pada daging sapi. Tabel 3. Hasil Pemeriksaan pada daging sapi segar, daging beku dan daging busuk. No Jenis Pemeriksaan Sampel Daging segar Daging Beku Daging busuk 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Warna Tekstur Konsistensi Penampilan Uji bau Uji Eber Uji Postma Uji H2S Pengukuran pH Melachit Green Test Mikrobiologi daging Merah Licin Kenyal Mengkilap Aromatis Negatif Negatif Negatif 6,20 Hijau kebiruan 1,6 x 103 Merah

keputihan Kasar Agak keras Agak pucat Aromatis Positif Positif Positif 6,26 Hijau pekat 1,0 x 105 Merah kehitaman Licin berlendir Lembek Tidak berkilap Amis Positif Positif Positif 6,30 Hijau kebiruan 1,0 x 103 PEMBAHASAN Pemeriksaan Organoleptik Daging Pada sampel daging segar yang diperiksa sangat jelas menunjukkan bahwa daging tersebut masih segar kalau dilihat dari pemeriksaan secara organoleptik. Dimana baik penampilan, warna, tekstur dan konsistensinya masih memenuhi kriteria daging yang masih segar. Pada sampel daging beku yang diperiksa menunjukkan bahwa daging tersebut sudah mulai terjadi pembusukan, hal ini pada pemeriksaan organoleptik sudah terjadi perubahan, yaitu perubahan warna menjadi merah kecoklatan, tekstur agak kasar, bau sedikit amis. Sedangkan sampel daging busuk menunjukkan perubahan yang sangat jelas, dimana bau sudah menjadi amis, warna merah kehitaman, berlendir dan tekstur licin akibat pengeluaran lendir. Warna daging pada daging segar disebabkan oleh adanya pigmen merah keunguan yang disebut myoglobin yang berikatan dengan oksigen yang struktur kimianya hampir sama dengan haemoglobin. Tekstur dan konsistensi dari daging sangat ditentukan oleh protein-protein penyusunnya. Warna daging yang baru diiris biasanya merah ungu gelap. Warna tersebut berubah menjadi terang (merah ceri) bila daging dibiarkan terkena oksigen, perubahan warna merah ungu menjadi terang tersebut bersifat reversible (dapat balik). Namun, jika daging tersebut terlalu lama terkena oksigen maka warna merah terang akan berubah menjadi cokelat. Mioglobin merupakan pigmen berwarna merah keunguan yang menentukan warna daging segar, mioglobin dapat mengalami perubahan bentuk akibat berbagai reaksi kimia. Bila terkena udara, pigmen mioglobin akan teroksidasi menjadi oksimioglobin yang menghasilkan warna merah terang. Oksidasi lebih lanjut dari oksimioglobin akan menghasilkan pigmen metmioglobin yang

berwarna cokelat. Timbulnya warna coklat menandakan bahwa daging telah terlalu lama terkena udara bebas, sehingga menjadi rusak. (Astawan, 2004). Pemeriksaan Permulaan Pembusukan Pada pemeriksaan yang dilakukan dengan uji Eber untuk melihat awal terjadinya pembusukan, jika terjadi pembusukan, maka pada uji ini ditandai dengan terjadi pengeluaran asap di dinding tabung, dimana rantai asam amino akan terputus oleh asam kuat (HCl) sehingga akan terbentuk NH4Cl (gas). Pada sampel daging segar hasil pemeriksaan negatif, sampel daging beku positif atau sudah mulai terjadi pembusukan, sampel daging busuk menunjukkan adanya pengeluaran asap dari daging yang terlihat pada dinding tabung, Selain uji Eber, bisa dilakukan uji Postma. Hasil pemeriksaan uji Postma menunjukkan bahwa sampel daging segar belum mulai terjadi pembusukan, sampel daging beku dan daging busuk sudah mulai terjadi pembusukan, hal ini dibuktikan dengan perubahan warna kertas lakmus dalam cawan petri. Pada prinsipnya, daging yang sudah mulai membusuk akan mengeluarkan gas NH3. NH3 bebas akan mengikat reagen MgO dan menghasilkan NH3OH. Pada daging yang segar tidak terbentuk hasil NH3OH karena belum adanya NH3 yang bebas. Jika tidak terjadinya perubahan warna kertas lakmus karena MgO merupakan ikatan kovalen rangkap yang sangat kuat sehingga walaupun terdapat unsur basa pada MgO tersebut, namun basa tersebut tidak lepas dari ikatan rangkapnya. Jika adanya NH3 maka ikatan tersebut akan terputus sehingga akan terbentuk basa lemah NH3OH yang akan merubah warna kertas lakmus dari merah menjadi biru. Pembusukan dapat terjadi karena dibiarkan ditempat terbuka dalam waktu relatif lama sehingga aktivitas bakteri pembusuk meningkat dan terjadi proses fermentasi oleh enzimenzim yang membentuk asam sulfida dan amonia (Anonimus, 2004). Dari hasil uji H2S pada sampel daging segar menunjukkan bahwa daging tersebut belum terjadi pembusukan, sedangkan sampel daging beku dan daging busuk sudah mulai terjadi pembusukan. Uji H2S pada dasarnya adalah uji untuk melihat H2S yang dibebaskan oleh bakteri yang menginvasi daging tersebut. H2S yang dilepaskan pada daging membusuk akan berikatan dengan Pb acetat menjadi Pb sulfit (PbSO3) dan menghasilkan bintik-bintik berwarna coklat pada kertas saring yang diteteskan Pb acetat tersebut. Hanya kelemahan uji ini, bila bakteri penghasil H2S tidak tumbuh maka uji ini tidak dapat dijadikan ukuran. Gejala yang nampak bila terjadi pembusukan daging oleh mikroba yaitu: a) Akibat Bakteri, adanya lendir di permukaan daging, kehilangan warna oleh rusaknya pigmen dalam daging atau tumbuh koloni organisme berwarna; ada produksi gas; bau kurang enak dan cacat; ada perusakan (dekomposisi) lemak. b) Akibat Ragi (yeast), Ada lendir ragi; kehilangan warna;bau dan rasa tidak enak; dekomposisi lemak. c) Akibat Fungi (mould), permukaan yang lengket dan berbulu, kehilangan warna, berbau dan tercemar, dekomposisi lemak. Pengukuran pH Ekstrak Daging Dari hasil pengamatan yang diukur, pH sampel daging segar adalah 6,20 dan pH sampel daging beku yaitu 6,26, sedangkan pH sample daging busuk 6,30. Perubahan pH ini dapat disebabkan oleh kondisi hewan sebelum disembelih yang kurang baik, sehingga asam laktat

yang terbentuk sedikit. pH juga merupakan faktor penentu dari pertumbuhan mikroba, maka pH akhir dari daging sangat penting untuk ketahanan penyimpanan daging. Hampir semua bakteri dapat tumbuh optimal pada pH 7 dan tidak akan tumbuh pada pH 4 atau pH di atas 9, tetapi pH untuk pertumbuhan optimal mikroba ditentukan oleh kerja simultan dari berbagai variabel lain di luar faktor keasaman itu sendiri. Standar pH daging hewan sehat dan cukup istirahat yang baru disembelih adalah 7-7,2 dan akan terus menurun selama 24 jam sampai beberapa hari. Jika terjadi pembusukan maka pH nya akan kembali ke 7. Jarak penurunan pH tersebut tidak sama untuk semua urat daging dari
Generated by Foxit PDF Creator Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

seekor hewan dan antara hewan juga berbeda. pH post mortem akan ditentukan oleh jumlah asam laktat yang dihasilkan dari glikogen selama proses glikolisis anaerob dan akan terbatas bila hewan terdepresi karena lelah. Penurunan pH otot dan pembentukan asam laktat merupakan salah satu hal yang nyata pada otot selama berlangsungnya konversi otot menjadi daging. Pada beberapa hewan penurunan pH terjadi pada jam-jam pertama setelah hewan dipotong, dan akan stabil pada pH sekitar 6,5 6,8. ada juga hewan dimana penurunan pHnya terjadi dengan cepat dan mencapai 5,4 5,5 dalam jam pertama setelah eksanguinasi. Terbentuknya asam laktat menyebabkan penurunan pH daging dan menyebabkan kerusakan struktur protein otot dan kerusakan tersebut tergantung pada temperatur dan rendahnya pH. Setelah hewan disembelih, penyedian oksigen otot terhenti. Dengan demikian persediaan oksigen tidak lagi di otot dan sisa metabolisme tidak dapat dikeluarkan lagi dari otot. Jadi daging hewan yang sudah disembelih akan mengalami penurunan pH (Purnomo dan Adiono, 1985). Uji Melachit Green Pada uji Melachit Green test ini untuk mengetahui hewan disembelih dengan sempurna atau tidak. Penyembelihan dan pengeluaran darah yang tidak sempurna akan diketahui, karena H2O2 3% yang mereduksi Melachit Green dengan pengeluaran darahnya akan dijumpai banyak Hb dalam daging. Dengan O2 dari H2O2 dalam reaksi, maka yang terjadi Hb tidak akan mengoksidasi warna larutan. Sebaliknya jika tidak ada Hb, maka O2 akan mengoksidasi Melachit Green menjadi warna biru. Pengeluaran darah yang tidak sempurna mengakibatkan daging cepat membusuk serta mempengaruhi proses selanjutnya. Pengeluaran darah yang efektif hanya dapat dikeluarkan 50% nya saja dari jumlah total darah (Lawrie, 1995). Pemeriksaan Mikrobiologi Dari hasil pemeriksaan kuman pada daging sapi segar didapat hasil 1,6 x 103 bakteri/ml ekstrak daging, pada daging sapi beku sebanyak 1,0 x 105 bakteri/ml ekstrak daging dan pada daging busuk sebanyak 1,0 x 103 bakteri/ml ekstrak daging. Hasil ini masih berada di angka standar yang diperbolehkan untuk dikonsumsi yaitu 1 x 106 koloni. Seperti bahan makanan lainnya daging sangat disenangi oleh kuman pembusuk. Apabila organisme tersebut telah

menginvasi dan berkembang biak di daging maka dapat menyebabkan pembusukan. Menurut Lawrie (1995) mengatakan bahwa kontaminasi mikroba pada daging dapat terjadi pada saat hewan tersebut masih hidup sampai sewaktu mau dikonsumsi. Sumber kontaminasi dapat berasal dari tanah, kulit hewan, alat jeroan, air pencelupan, alat yang dipakai selama proses persiapan karkas, kotoran hewan, udara dan dari pekerja. KESIMPULAN Dari hasil pemeriksaan daging sapi maupun ayam yang diuji maka dapat diambil kesimpulan bahwa masih layak untuk dikonsumsi karena pada pemeriksaan mikroba masih diambang batas yaitu 1 x 106 koloni. Daging yang diperiksa menunjukkan pengeluaran darahnya yang sempurna pada daging sapi segar (daging pagi) dan daging sore bahwa menunjukkan warna biru tua. Azizah. 1994. Pengetahuan Bahan Makanan. Buku 3. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh. Badan Standarisasi Nasional. 2000. SNI 01-6366-2000, Batas Maksimum CemaranMikroba dan Batas Maksimum Residu dalam Bahan Makanan Asal Hewan. Badan Standarisasi Nasional, Jakarta. Bastianelli, D. and C.L. Bas. 2002. Evaluating the role of animal feed in food safety: Perspectives for action. Proceeding of the International Workshop on Food Safety Management in Developing Countries. CIRAD-FAO, Montpellier, France. p. 11-13. PEMBAHASAN 1. Pemeriksaan Organoleptik Pada sampel daging segar yang diperiksa sangat jelas menunjukkan bahwa daging tersebut masih segar kalau dilihat dari pemeriksaan secara organoleptik. Dimana baik penampilan, warna, tekstur dan konsistensinya masih memenuhi kriteria daging yang masih segar. Pada sampel daging dingin yang diperiksa setelah 24 jam menunjukkan bahwa daging tersebut belum terjadi pembusukan, pada daging beku yang diperiksa setelah 7 hari juga menunjukkan belum terjadinya pembusukan. Sampel daging busuk menunjukkan perubahan yang sangat jelas, dimana bau sudah menjadi amis, warna merah kehitaman, berlendir dan tekstur licin akibat pengeluaran lendir. Warna daging pada daging segar disebabkan oleh adanya pigmen merah keunguan yang disebut myoglobin yang berikatan dengan oksigen yang struktur kimianya hampir sama dengan haemoglobin. Tekstur dan konsistensi dari daging sangat ditentukan oleh proteinprotein penyusunnya. Warna daging yang baru diiris biasanya merah ungu gelap. Warna tersebut berubah menjadi terang (merah ceri) bila daging dibiarkan terkena oksigen, perubahan warna merah ungu menjadi terang tersebut bersifat reversible (dapat balik). Namun, jika daging tersebut terlalu lama terkena oksigen maka warna merah terang akan berubah menjadi cokelat. Mioglobin merupakan pigmen berwarna merah keunguan yang menentukan warna daging segar, mioglobin dapat mengalami perubahan bentuk akibat berbagai reaksi kimia. Bila terkena udara, pigmen mioglobin akan teroksidasi menjadi oksimioglobin yang menghasilkan warna merah terang. Oksidasi lebih lanjut dari oksimioglobin akan menghasilkan pigmen metmioglobin yang berwarna cokelat. Timbulnya warna coklat menandakan bahwa daging telah terlalu lama terkena udara bebas, sehingga menjadi rusak. (Astawan, 2004).

2. Pemeriksaan Awal Pembusukan Pemeriksaan awal pembusukan yang dilakukan dengan uji Eber. Jika terjadi pembusukan, maka pada uji ini ditandai dengan terjadi pengeluaran asap di dinding tabung, dimana rantai asam amino akan terputus oleh asam kuat (HCl) sehingga akan terbentuk NH4Cl (gas). Pada daging sapi segar, dingin, dan beku yang diperiksa hasilnya negatif dimana tidak terdapat NH4Cl setelah diuji dengan mengunakan larutan Eber karena pada daging-daging tersebut belum terbentuk gas NH3 . Pada daging busuk jelas terlihat gas putih (NH4Cl) pada dinding tabung karena pada daging busuk gas NH3 sudah terbentuk. Selain uji Eber, bisa dilakukan uji Postma. Hasil pemeriksaan uji Postma menunjukkan bahwa sampel daging segar belum mulai terjadi pembusukan, sampel daging dingin dan daging beku juga menunjukkan hasil negatif. Hasil positif hanya ditunjukkan oleh sampel daging busuk, yaitu dengan adanya perubahan warna kertas lakmus pada cawan petri. Pada prinsipnya, daging yang sudah mulai membusuk akan mengeluarkan gas NH3. NH3 bebas akan mengikat reagen MgO dan menghasilkan NH3OH. Pada daging yang segar tidak terbentuk hasil NH3OH karena belum adanya NH3 yang bebas. Jika tidak terjadinya perubahan warna kertas lakmus karena MgO merupakan ikatan kovalen rangkap yang sangat kuat sehingga walaupun terdapat unsur basa pada MgO tersebut, namun basa tersebut tidak lepas dari ikatan rangkapnya. Jika adanya NH3 maka ikatan tersebut akan terputus sehingga akan terbentuk basa lemah NH3OH yang akan merubah warna kertas lakmus dari merah menjadi biru. Dari hasil uji H2S pada sampel daging segar menunjukkan bahwa daging tersebut belum terjadi pembusukan, sampel daging dingin dan daging beku juga menunjukkan hasil negatif. Uji H2S pada dasarnya adalah uji untuk melihat H2S yang dibebaskan oleh bakteri yang menginvasi daging tersebut. H2S yang dilepaskan pada daging membusuk akan berikatan dengan Pb acetat menjadi Pb sulfit (PbSO3) dan menghasilkan bintik-bintik berwarna coklat pada kertas saring yang diteteskan Pb acetat tersebut. Hanya kelemahan uji ini, bila bakteri penghasil H2S tidak tumbuh maka uji ini tidak dapat dijadikan ukuran. Pembusukan dapat terjadi karena dibiarkan di tempat terbuka dalam waktu relatif lama sehingga aktivitas bakteri pembusuk meningkat dan terjadi proses fermentasi oleh enzim-enzim yang membentuk asam sulfida dan amonia. 3. Pengukuran pH Ekstrak Daging Standar pH daging hewan sehat dan cukup istirahat yang baru disembelih adalah 7-7,2 dan akan terus menurun selama 24 jam sampai beberapa hari. Jika terjadi pembusukan maka pH nya akan kembali ke 7. Jarak penurunan pH tersebut tidak sama untuk semua urat daging dari seekor hewan dan antara hewan juga berbeda. Nilai pH daging post mortem akan ditentukan oleh jumlah asam laktat yang dihasilkan dari glikogen selama proses glikolisis anaerob dan akan terbatas bila hewan terdepresi karena lelah. Setelah hewan disembelih, penyedian oksigen otot terhenti. Dengan demikian persediaan oksigen tidak lagi di otot dan sisa metabolisme tidak dapat dikeluarkan lagi dari otot. Jadi daging hewan yang sudah disembelih akan mengalami penurunan pH (Purnomo dan Adiono, 1985). Hasil perhitungan pH daging segar adalah 7,2 yang berarti daging tersebut berasal dari hewan yang sehat. Setelah 24 jam di dalam refrigerator pH daging mengalami penurunan karena adanya aktivitas mikroba yang menyebabkan proses glikolisis menghasilkan asam laktat. Begitu pula yang terjadi pada daging beku. Namun, pada daging busuk pH meningkat karena penurunan aktivitas mikroba penghasil asam karena persediaan glikogen yang semakin terbatas dan diikuti aktivitas mikroba penghasil senyawa basa. 4. Malachit Green Test Pada uji Malachit Green test ini untuk mengetahui hewan disembelih dengan sempurna atau

tidak. Hasil uji yang dilakukan memberikan hasil negatif, yang berarti daging tersebut berasal dari hewan yang disembelih sempurna. Penyembelihan dan pengeluaran darah yang tidak sempurna akan diketahui, karena akan dijumpai banyak Hb dalam daging sehingga O2 dari H2O2 3% tidak mengoksidasi Malachit Green menyebabkan warna larutan hijau. Sebaliknya, jika tidak ada Hb, maka O2 akan mengoksidasi Malachit Green menjadi warna biru. Pengeluaran darah yang tidak sempurna mengakibatkan daging cepat membusuk serta mempengaruhi proses selanjutnya. Pengeluaran darah yang efektif hanya dapat dikeluarkan 50% nya saja dari jumlah total darah (Lawrie, 1995). Pengeluaran darah yang tidak sempurna mengakibatkan daging cepat membusuk serta mempengaruhi proses selanjutnya. Pengeluaran darah yang efektif hanya dapat dikeluarkan 50% nya saja dari jumlah total darah (Lawrie, 1995). 5. Pemeriksaan Mikrobiologi Dari hasil pemeriksaan mikroba pada daging sapi segar didapat hasil Total Plate Count (TPC) adalah 1,5 x 105 bakteri/ml, daging sapi yang telah di simpan di dalam refrigerator selama 24 jam diperoleh 9,6 x 105 bakteri/ml, daging yang dibekukan selama 7 hari 2,3 x 106 bakteri/ml, dan pada daging busuk 1,2 x 107 bakteri/ml. Hasil perhitungan TPC dari daging sapi segar dan daging sapi yang telah disimpan di dalam refrigerator selama 24 jam masih berada di bawah angka standar yang diperbolehkan untuk dikonsumsi, yaitu 1 x 106 bakteri/ml. Hasil perhitungan TPC pada daging yang disimpan di dalam freezer selama 7 hari dan daging busuk didapatkan hasil di atas angka standar yaitu 2,3 x 106 dan 1,2 x 107 bakteri/ml, berarti daging-daging tersebut sudah banyak mengandung bakteri sehinga tidak baik lagi untuk dikomsumsi. Hasil pemeriksaan mikroba yang dilakukan pada kulit ayam lebih tinggi dari angka maksimum yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Hasil perhitungan TPC kulit ayam adalah 8 x 107, padahal batas maksimum cemaran mikroba dalam karkas ayam mentah berdasarkan SK Dirjen POM No. 03726/8/SK/VII/85 adalah 106 bakteri/ml dan harus negatif dari Salmonella sp. Menurut Lawrie (1995) mengatakan bahwa kontaminasi mikroba pada daging dapat terjadi pada saat hewan tersebut masih hidup sampai sewaktu akan dikonsumsi. Sumber kontaminasi dapat berasal dari tanah, kulit hewan, alat jeroan, air pencelupan, alat yang dipakai selama proses persiapan karkas, kotoran hewan, udara dan dari pekerja. Pada umumnya, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme pada daging ada dua macam, yaitu (a). Faktor intrinsik termasuk nilai nutrisi daging, keadaan air, pH, potensi oksidasi-reduksi dan ada tidaknya substansi pengahalang atau penghambat; (b). Faktor ekstrinsik, misalnya temperatur, kelembaban relatif, ada tidaknya oksigen dan bentuk atau kondisi daging (Fardiaz.dkk, 1992). KESIMPULAN Dari hasil pemeriksaan, daging sapi segar dan daging yang disimpan di dalam refrigerator selama 24 jam yang diuji maka dapat diambil kesimpulan bahwa daging-daging itu masih layak untuk dikonsumsi karena uji organoleptik dan pemeriksaan mikrobiologi masih memenuhi persyaratan mutu SNI. Sedangkan daging yang disimpan di dalam freezer selama 7 hari dan karkas ayam yang diuji dapat diambil kesimpulan bahwa daging dan karkas ayam tersebut tidak layak untuk dikonsumsi karena walaupun uji organoleptik masih baik, jumlah mikroba yang terdapat di dalam daging dan ayam tersebut sudah melewati batas angka persyaratan mutu SNI

Rekayasa Genetika adalah teknik perubahan genetik, atau keturunan bahan organisme, untuk menghilangkan karakteristik yang tidak diinginkan atau untuk menghasilkan yang baru diinginkan Rekayasa genetika digunakan untuk meningkatkan tanaman dan produksi pangan hewani;. Untuk membantu membuang limbah industri, dan untuk mendiagnosa penyakit, meningkatkan kesehatan pengobatan, dan memproduksi vaksin dan obat-obatan lain yang bermanfaat. Termasuk dalam teknik rekayasa genetika adalah pembiakan selektif tanaman dan hewan, hibridisasi (reproduksi antara strain yang berbeda atau spesies), dan rekombinan asam deoksiribonukleat (DNA).

II. PEMBIAKAN SELEKTIF Teknik rekayasa genetik pertama terkenal, masih digunakan sampai sekarang, adalah pembiakan selektif tanaman dan hewan, biasanya untuk peningkatan produksi pangan Dalam pembiakan selektif, hanya tanaman atau hewan dengan karakteristik yang diinginkan dipilih untuk pembibitan lebih lanjut.. Jagung telah selektif dibiakkan untuk ukuran kernel meningkat dan jumlah dan untuk kandungan nutrisi selama sekitar 7.000 tahun. baru-baru ini, pembiakan selektif gandum dan beras untuk menghasilkan hasil yang lebih tinggi telah membantu pasokan yang terus meningkat kebutuhan dunia untuk makanan. Sapi dan babi peliharaan pertama kali sekitar 8.500 sampai 9.000 tahun yang lalu dan melalui pembiakan selektif telah menjadi sumber utama makanan hewan bagi manusia Anjing dan. Kuda telah selektif dibesarkan selama ribuan tahun untuk bekerja dan tujuan rekreasi, menghasilkan lebih dari 150 ras anjing dan 100 kuda keturunan. III. PERSILANGAN / HIBRIDASI Hibridisasi (persilangan) mungkin melibatkan menggabungkan strain berbeda dari spesies (yaitu, anggota dari spesies yang sama dengan karakteristik yang berbeda) atau anggota spesies yang berbeda dalam upaya untuk menggabungkan karakteristik yang paling diinginkan dari kedua Setidaknya 3.000 tahun,. Kuda betina telah dibesarkan dengan keledai jantan untuk menghasilkan bagal, dan kuda jantan telah dibesarkan dengan keledai betina memproduksi hinnie, untuk digunakan sebagai hewan pekerja. IV. REKOMBINASI DNA Dalam beberapa dekade terakhir, rekayasa genetika telah mengalami revolusi oleh teknik yang dikenal sebagai rekayasa gen yang ilmuwan gunakan untuk langsung mengubah bahan genetik untuk membentuk DNA rekombinan. Gen terdiri dari segmen DNA molekul. Dalam rekayasa gen, satu atau lebih gen dari suatu organisme diperkenalkan kepada organisme kedua. Jika organisme kedua menggabungkan DNA baru ke dalam bahan genetik sendiri, digabungkan hasil DNA. Gen spesifik mengarahkan karakteristik organisme melalui pembentukan protein seperti enzim dan hormon. Protein melakukan fungsi-untuk contoh penting, enzim memulai banyak reaksi kimia yang terjadi dalam organisme, dan hormon mengatur berbagai proses, seperti pertumbuhan, metabolisme, dan reproduksi. Pengenalan gen baru ke dalam suatu organisme dasarnya mengubah sifat organisme

dengan mengubah susunan proteinnya. Dalam rekayasa gen DNA tidak dapat ditransfer langsung dari organisme aslinya, yang dikenal sebagai donor, untuk organisme penerima, yang dikenal sebagai tuan rumah. Sebaliknya, DNA donor harus dipotong dan disisipkan, atau direkombinasi, ke dalam sebuah fragmen yang kompatibel DNA dari organisme vektor-an yang dapat membawa DNA donor ke dalam host. Organisme inang sering merupakan mikroorganisme cepat berkembang biak seperti bakteri tidak berbahaya, yang berfungsi sebagai pabrik dimana DNA rekombinasi dapat digandakan dalam jumlah besar. Protein yang dihasilkan kemudian kemudian dapat dihapus dari tuan rumah dan digunakan sebagai produk rekayasa genetika pada manusia, hewan lain, tumbuhan, bakteri, atau virus. DNA donor dapat diperkenalkan langsung ke organisme dengan teknik seperti injeksi melalui dinding sel tanaman atau ke dalam telur dibuahi dari seekor binatang. Tanaman dan hewan yang berkembang dari sebuah sel dimana DNA baru telah diperkenalkan disebut organisme transgenik. Teknik lain yang menghasilkan DNA rekombinan dikenal sebagai kloning. Dalam satu metode kloning, para ilmuwan menghapus inti DNA yang mengandung telur dari betina dan menggantinya dengan inti dari hewan dari spesies yang sama. Para ilmuwan kemudian menempatkan telur di dalam rahim hewan yang ketiga, yang dikenal sebagai ibu pengganti. Hasilnya, pertama kali ditunjukkan oleh kelahiran domba kloning bernama Dolly pada tahun 1996, adalah kelahiran hewan yang hampir secara genetik identik dengan hewan dari mana inti diperoleh. Seperti binatang secara genetik berhubungan dengan ibu pengganti. Kloning masih dalam masa pertumbuhan, tetapi dapat membuka jalan bagi hewan ternak baik dan produk medis IV.A APLIKASI REKOMBINASI DNA Penggunaan DNA rekombinan telah mengubah sejumlah industri, termasuk tanaman dan produksi pangan hewani, pengendalian pencemaran, dan kedokteran. 1. Produksi Pangan DNA rekombinan digunakan untuk memerangi salah satu masalah terbesar dalam produksi tanaman pangan: penghancuran tanaman oleh virus tanaman atau hama serangga. Misalnya, dengan mentransfer gen protein mantel virus mosaik kuning zucchini untuk tanaman labu yang sebelumnya mengalami kerusakan besar dari virus, para ilmuwan mampu menciptakan tanaman labu transgenik dengan kekebalan terhadap virus ini. Para ilmuwan juga telah mengembangkan kentang transgenik dan tanaman stroberi yang beku-tahan, kentang, jagung, tembakau, dan kapas yang tahan serangan hama serangga tertentu; dan kedelai, kapas, jagung, dan biji minyak perkosaan (sumber minyak canola) yang memiliki peningkatan resistensi terhadap gulma tertentu-membunuh zat kimia yang disebut herbisida. DNA rekombinan juga telah digunakan untuk meningkatkan hasil panen. Para ilmuwan telah memindahkan gen yang mengontrol tinggi tanaman, yang dikenal sebagai gen dwarfing, dari tanaman gandum untuk tanaman serealia lain, seperti barley, rye, dan oat. Gen ditransfer menyebabkan pabrik baru untuk memproduksi gabah lebih banyak dan tangkai yang lebih pendek dengan daun lebih sedikit. Pabrik pendek juga menolak kerusakan dari angin dan hujan lebih baik dari varietas lebih tinggi.

Para ilmuwan juga menerapkan penyambungan gen-teknik untuk produksi ternak makanan. Para ilmuwan telah memindahkan gen hormon pertumbuhan dari rainbow trout langsung ke telur ikan mas. Para transgenik yang dihasilkan ikan mas menghasilkan baik ikan mas dan ikan trout pelangi hormon pertumbuhan dan tumbuh menjadi sepertiga lebih besar dari ikan mas biasa. Ikan lainnya yang telah direkayasa secara genetis termasuk salmon, yang telah dimodifikasi untuk pertumbuhan lebih cepat, dan trout, yang telah diubah sehingga mereka lebih tahan terhadap infeksi oleh virus darah. DNA rekombinan juga telah digunakan untuk mengkloning sejumlah besar gen yang bertanggung jawab untuk pertumbuhan ternak hormon bovine somatotropin (BST) dalam bakteri Escherichia coli. Hormon ini kemudian diekstrak dari bakteri, dimurnikan, dan disuntikkan ke sapi perah, meningkatkan produksi susu mereka sebesar 10 sampai 15 persen. 2. Pengendalian Pencemaran Bakteri diubah secara genetik dapat digunakan untuk menguraikan berbagai bentuk sampah dan untuk memecah produk minyak bumi. DNA rekombinan juga dapat digunakan untuk memantau kerusakan polutan. Sebagai contoh, naftalena, didampingi pencemar lingkungan di tanah artifisial, bisa dipecah oleh bakteri Pseudomonas fluorescens. Untuk memantau proses ini, para ilmuwan ditransfer enzim penghasil cahaya yang disebut luciferase, yang ditemukan dalam bakteri Vibrio fischeri, dengan bakteri Pseudomonas fluorescens. Bakteri Pseudomonas fluorescens diubah secara genetik menghasilkan cahaya sebanding dengan jumlah aktivitas dalam mogok naftalena, sehingga memberikan cara untuk memantau efisiensi proses (lihat Bioremediasi). 3. Ilmu kedokteran Pada tahun 1982 Amerika Serikat Food and Drug Administration (FDA) menyetujui untuk pertama kalinya penggunaan medis protein rekombinan DNA, hormon insulin, yang telah diklon dalam jumlah besar dengan menyisipkan gen insulin manusia ke dalam susunan genetik Escherichia coli bakteri. Sebelumnya, hormon ini, yang digunakan oleh tergantung insulin penderita diabetes mellitus, telah tersedia hanya dalam jumlah terbatas dari babi. Sejak tahun 1982 FDA telah menyetujui protein rekayasa genetika lainnya untuk digunakan pada manusia, termasuk tiga kloning dalam kultur sel hamster: aktivator jaringan plasminogen (TPA), enzim digunakan untuk melarutkan bekuan darah pada orang yang menderita serangan jantung; erythropoetin, hormon digunakan untuk merangsang produksi sel darah merah pada penderita anemia berat, dan antihemophilic faktor VIII manusia, digunakan oleh penderita hemofilia untuk mencegah dan mengendalikan perdarahan atau untuk mempersiapkan mereka untuk operasi. Obat lain rekayasa genetika penting adalah interferon, zat kimia yang diproduksi oleh tubuh dalam jumlah kecil. Direkayasa interferon digunakan untuk melawan penyakit virus dan sebagai obat antikanker. Para ilmuwan juga telah mempekerjakan DNA rekombinan untuk memproduksi protein manusia secara medis berguna dalam susu hewan. Dalam prosedur ini, gen manusia yang bertanggung jawab untuk protein yang diinginkan pertama terkait dengan gen tertentu dari hewan yang aktif hanya di susu nya (yang memproduksi susu) kelenjar. Telur binatang ini kemudian disuntik dengan gen yang

terkait. Hewan-hewan transgenik yang dihasilkan akan memiliki gen terkait dalam setiap sel tubuh mereka, tetapi akan menghasilkan protein manusia hanya dalam susu mereka. Protein manusia akhirnya diekstrak dari susu hewan untuk digunakan sebagai obat. Dengan cara ini, susu domba digunakan untuk menghasilkan alpha-1-antitrypsin, enzim digunakan dalam pengobatan emfisema, susu sapi digunakan untuk menghasilkan laktoferin, protein yang memerangi infeksi bakteri, dan susu kambing digunakan sebagai cara lain untuk menghasilkan TPA, enzim darah gumpalanmelarutkan juga kloning dalam kultur sel hamster. DNA rekombinan juga digunakan dalam produksi vaksin terhadap penyakit. Vaksin berisi sebagian dari suatu organisme menular yang tidak menyebabkan penyakit berat tetapi menyebabkan sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi pelindung terhadap organisme. Ketika seseorang divaksinasi terhadap penyakit virus, produksi antibodi sebenarnya adalah reaksi terhadap protein permukaan dari mantel virus. Dengan teknologi DNA rekombinan, para ilmuwan telah mampu mentransfer gen untuk beberapa virus-coat protein untuk virus cacar sapi, yang digunakan terhadap cacar dalam upaya pertama di vaksinasi pada akhir abad 18. Vaksinasi dengan cacar sapi yang diubah secara genetik sekarang sedang digunakan terhadap hepatitis, influenza, dan herpes simplex virus. Cacar sapi rekayasa genetika dianggap lebih aman daripada menggunakan virus penyebab penyakit itu sendiri dan sama-sama efektif. Pada manusia, DNA rekombinan merupakan dasar dari terapi gen, dimana gen dalam sel dihapus, diganti, atau diubah untuk memproduksi protein baru yang mengubah fungsi sel. Penggunaan terapi gen telah disetujui di lebih dari 400 uji klinis untuk penyakit seperti cystic fibrosis, emfisema, distrofi otot, kekurangan deaminase adenosin, dan beberapa jenis kanker. Sementara terapi gen merupakan teknik yang menjanjikan, banyak masalah masih harus diselesaikan sebelum terapi gen dipercaya bisa menyembuhkan penyakit. IV.B. Mematenkan Produk Rekayasa Genetik Dibutuhkan rata-rata tujuh sampai sembilan tahun dan investasi sekitar $ 55 juta untuk mengembangkan, menguji, dan pasar produk rekayasa genetika baru. Karena itu biaya besar, perusahaan telah berusaha untuk mematenkan hasil penemuan mereka. Pada tahun 1980 Kantor Paten dan Merek Departemen Perdagangan AS mengeluarkan paten pertama pada organisme yang telah dihasilkan dengan DNA rekombinan. Paten itu untuk sebuah bakteri pemakan minyak yang dapat digunakan untuk membersihkan tumpahan minyak dari kapal dan tangki penyimpanan. Sejak itu, ratusan paten telah diberikan untuk bakteri diubah secara genetik, virus, dan tanaman. Pada tahun 1988 paten pertama dikeluarkan pada hewan transgenik, strain tikus laboratorium yang sel direkayasa untuk mengandung gen predisposisi kanker. Tikus yang digunakan untuk menguji dosis rendah zat karsinogen atau penyebab kanker yang dicurigai, dan untuk menguji efektivitas terapi antikanker. IV.C. Kontroversi Reaksi masyarakat terhadap penggunaan DNA rekombinan dalam rekayasa genetik telah dicampur. Produksi obat-obatan melalui penggunaan organisme yang diubah secara genetik secara umum telah menyambut. Namun, kritikus takut DNA rekombinan bahwa patogen, atau penyakit-

memproduksi, organisme yang digunakan dalam beberapa eksperimen DNA rekombinan mungkin mengembangkan bentuk-bentuk yang sangat menular yang dapat menyebabkan epidemi di seluruh dunia. Dalam upaya untuk mencegah kejadian seperti itu, National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat telah menetapkan peraturan yang membatasi jenis percobaan DNA rekombinan yang dapat dilakukan dengan menggunakan patogen tersebut. Di Kanada, produk DNA rekombinan diatur oleh berbagai departemen pemerintah, termasuk Pertanian dan Agri-Makanan Kanada, Kesehatan Kanada, Perikanan dan Laut Kanada, dan Lingkungan Kanada. Hewan kelompok hak berpendapat bahwa produksi hewan transgenik berbahaya bagi hewan lain. Rekayasa genetika ikan masalah kenaikan gaji jika mereka kawin silang dengan ikan lain yang belum diubah secara genetik. Beberapa ahli khawatir bahwa proses ini dapat mengubah karakteristik ikan liar dengan cara yang tak terduga dan mungkin tidak diinginkan. Kekhawatiran terkait adalah bahwa ikan direkayasa dapat bersaing dengan ikan liar untuk makanan dan menggantikan ikan liar di beberapa daerah. Penggunaan somatotropin sapi rekayasa genetika (BST) untuk meningkatkan produksi susu sapi perah sangat kontroversial. Beberapa kritikus mempertanyakan keselamatan BST untuk kedua sapisapi yang disuntikkan dengan itu dan manusia yang minum susu yang dihasilkan. Di Amerika Serikat, sebagian besar sapi perah diperlakukan dengan BST, tetapi di Kanada, BST tidak dapat secara legal dijual. Para ilmuwan di Kesehatan Kanada menolak legalisasi BST pada tahun 1999 berdasarkan bukti bahwa BST menyebabkan masalah kesehatan bagi sapi. Secara khusus, para ilmuwan Kanada menemukan bahwa BST meningkatkan kemungkinan sapi terkena mastitis, atau infeksi pada ambing, dan juga membuat sapi lebih rentan terhadap infertilitas dan ketimpangan. Namun demikian, para ilmuwan mempertimbangkan susu yang diperoleh dari sapi yang disuntik dengan BST aman untuk konsumsi manusia. Tanaman transgenik juga menyajikan isu-isu kontroversial. Alergen dapat ditransfer dari satu tanaman pangan yang lain melalui rekayasa genetika. Dalam upaya untuk meningkatkan nilai gizi dari kacang kedelai, sebuah perusahaan rekayasa genetik eksperimental ditransfer ke tanaman kedelai gen kacang Brasil-yang menghasilkan protein bergizi. Namun, ketika sebuah penelitian menemukan bahwa kedelai rekayasa genetik menyebabkan reaksi alergi pada orang sensitif terhadap kacang Brasil, proyek itu dibatalkan. Lingkungan mengkhawatirkan bahwa tanaman transgenik dapat kawin silang dengan gulma, menghasilkan gulma dengan karakteristik yang tidak diinginkan, seperti ketahanan terhadap herbisida. Contoh dari perkawinan tersebut telah dibuktikan dalam percobaan yang melibatkan minyak lobak transgenik. Pemerhati lingkungan juga berpendapat bahwa, karena seleksi alam, serangga cepat mengembangkan resistansi terhadap tanaman yang telah direkayasa untuk memasukkan pestisida biologis. Para penentang rekayasa genetika memperingatkan bahwa penggunaan tanaman pangan hasil rekayasa genetika dapat mengakibatkan masalah yang tak terduga. Mereka menunjuk pada sebuah studi tahun 1999 yang menemukan bahwa jagung rekayasa genetika dihasilkan serbuk sari yang menewaskan raja ulat kupu-kupu di laboratorium. Meskipun hasil penelitian adalah awal, sebagai tindakan pencegahan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) yang ditetapkan peraturan baru pada

bulan Januari 2000 untuk mengurangi potensi risiko yang ditimbulkan oleh tanaman jagung. Salah satu aturan baru, EPA telah meminta petani untuk menanam tanaman jagung tidak dimodifikasi di sekitar tepi ladang jagung rekayasa genetika untuk menciptakan penyangga yang dapat mencegah serbuk sari beracun dari bertiup ke habitat kupu-kupu. Negara-negara Eropa dan berkembang Banyak telah menyuarakan keprihatinan tentang risiko kesehatan dan lingkungan yang terkait dengan impor tanaman pangan hasil rekayasa genetika dari Amerika Serikat dan negara lainnya. Pada awal 2000, 130 negara merancang Protokol Keamanan Hayati. Resmi disetujui pada bulan Juni 2003, perjanjian tersebut mengharuskan negara-negara pengekspor untuk memberitahu importir ketika produk mengandung organisme rekayasa genetika, termasuk biji, tanaman pangan, ternak, dan pohon buah. Beberapa kritikus keberatan dengan paten organisme yang diubah secara genetik karena membuat organisme milik perusahaan tertentu. Misalnya, Kosta Rika telah membuat hukum untuk melarang hak paten gen spesies Kosta Rika asli oleh perusahaan obat di negara lain. Sampai saat ini, tidak ada hukum di tempat di Amerika Serikat dan Kanada yang mengatur penggunaan teknologi kloning, dan beberapa orang takut akan prospek kloning manusia. Jika teknologi ini tetap tidak diatur, para kritikus khawatir bahwa itu akan memberikan kemampuan untuk menciptakan sebuah "perbaikan" manusia dengan karakteristik yang telah ditentukan sesuai dengan bias tertentu seorang ilmuwan.