P. 1
PENGHAMPARAN

PENGHAMPARAN

|Views: 159|Likes:
Dipublikasikan oleh Linda Aisyah

More info:

Published by: Linda Aisyah on May 22, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2012

pdf

text

original

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL I

Instruksi Kerja
PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS

No. Dokumen No Copy Revisi Tanggal Berlaku

: BBPJN- I/IK/PL/01 : : 00 : 2 JANUARI 2008

Jabatan Disiapkan Oleh Diperiksa Oleh Disetujui Oleh KASIE BANG/HAR KABID PELAKSANAAN KA BALAI

Tanda Tangan

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL I PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS No. Dokumen : BBPJN-I/IK/PL/01 Tanggal : 2 JANUARI 2008 13 Revisi Halaman : 00 : 2 dari Daftar Isi • • • • • • • • • • • • • Halaman Persetujuan Daftar Isi Daftar Distribusi Dokumen Riwayat Perubahan Dokumen Tujuan Ruang Lingkup Referensi Defenisi PihakTerkait Kewenangan Ketentuan Umum Uraian Prosedur Lampiran Instruksi Kerja .

I SNVT/PPK PEMBANGUNAN PROVINSI NAD SNVT/PPK PEMELIHARAAN PROVINSI NAD SNVT P2JJ PROVINSI NAD SKPD NAD SNVT/PPK PEMBAGUNAN PROVINSI SUMUT SNVT/PPK PEMELIHARAAN PROVINSI SUMUT SNVT P2JJ PROVINSI SUMUT SKPD SUMUT SNVT/PPK PEMBANGUNAN PROVINSI RIAU SNVT/PPK PEMELIHARAAN PROVINSI RIAU SNVT P2JJ PROVINSI RIAU SKPD RIAU SNVT/PPK PEMBANGUNAN PROVINSI KEPRI SNVT P2JJ PROVINSI KEPRI SKPD KEPRI SNVT/PPK METRO 1 Master 2 Copy 1 3 Copy 2 4 Copy 3 5 Copy 4 6 Copy 5 7 Copy 6 8 Copy 7 9 Copy 8 10 Copy 9 11 Copy 10 12 Copy 11 13 Copy 12 14 Copy 13 15 Copy 14 16 Copy 15 17 Copy 16 18 Copy 17 19 Copy 18 No. Revisi 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 Instruksi Kerja . Dokumen : BBPJN-I/IK/PL/01 Tanggal : 2 JANUARI 2008 13 Revisi Halaman : 00 : 3 dari Daftar Distribusi Dokumen No Nomor Copy Pemegang PUSAT PENGENDALI DOKUMEN (PPD) SETDITJEN BINA MARGA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL .DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL I PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS No.

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL I PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS No. Revisi Uraian Instruksi Kerja . Dokumen : BBPJN-I/IK/PL/01 Tanggal : 2 JANUARI 2008 13 Revisi Halaman : 00 : 4 dari Riwayat Perubahan Dokumen Revisi Tgl.

KEWENANGAN - Instruksi Kerja . RUANG LINGKUP Instruksi kerja ini memuat tahapan pelaksanaan pengawasan pekerjaan penghamparan campuran aspal panas di lingkungan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional – I. PIHAK TERKAIT 5.DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL I PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS No. REFERENSI 2.3 DEFINISI 4.1 2. Dokumen : BBPJN-I/IK/PL/01 Tanggal : 2 JANUARI 2008 13 Revisi Halaman : 00 : 5 dari TUJUAN Sebagai pedoman dalam melaksanakan pengawasan pekerjaan penghamparan campuran aspal panas.2 Kepmen Kimpraswil 362/KPTS/M/2004 tentang Sistem Manajemen Mutu SNI-19-9001/2001 Manual Mutu Ditjen Bina Marga 2.

5) Penggilasan awal atau breakdown harus dilaksanakan baik dengan alat pemadat roda baja maupun dengan alat pemadat roda karet. 3) Campuran aspal tidak boleh dihampar di samping campuran aspal yang telah dipadatkan sebelumnya kecuali bila tepinya telah tegak lurus atau telah dipotong tegak lurus dan telah diberikan lapis perekat sesaat sebelum penghamparan. setiap titik perkerasan harus menerima minimum dua lintasan penggilasan awal. Instruksi Kerja . KETENTUAN UMUM 7. 7) Peralatan berat atau alat pemadat tidak diijinkan berada di atas permukaan yang baru selesai dikerjakan. Penggilasan akhir atau penyelesaian harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda baja tanpa penggetar(vibrasi).1 Umum 1) Campuran hanya bisa dihampar bila permukaan yang telah disiapkan dalam keadaan kering dan tidak turun hujan. roda karet boleh sedikit diminyaki. 2) Penghamparan dan pemadatan hanya dilaksanakan pada saat masih terang. Penggilasan kedua atau utama harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda karet sedekat mungkin di belakang penggilasan awal. sampai seluruh permukaan tersebut dingin. Dokumen : BBPJN-I/IK/PL/01 Tanggal : 2 JANUARI 2008 13 Revisi Halaman : 00 : 6 dari 6. 6) Roda alat pemadat harus dibasahi secara terus menerus untuk mencegah pelekatan campuran aspal pada roda alat pemadat.DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL I PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS No. 4) Semua jenis operasi penggilasan harus dilaksanakan secara menerus untuk memperoleh pemadatan yang merata saat campuran aspal masih dalam kondisi mudah dikerjakan.

Instruksi Kerja . 7.3 Penghamparan dan Pembentukan 1) Umum. oli.2 Campuran Aspal Yang Harus Ditolak 9) Berasap biru. Campuran tidak boleh terkumpul dan mendingin pada tepi-tepi penampung alat penghampar atau tempat lainnya. 7. Alat penghampar harus dioperasikan dengan kecepatan yang tidak menyebabkan retak permukaan.DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL I PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS No. Jika temperatur toleransi segera dilakukan penghamparan dan pemadatan. atau bentuk ketidak-rataan lainnya pada permukaan. Dokumen : BBPJN-I/IK/PL/01 Tanggal : 2 JANUARI 2008 13 Revisi Halaman : 00 : 7 dari 8) Frekwensi minimum pengukuran suhu campuran aspal di lokasi pekerjaan adalah satu kali per jam. dalam Tampak batas visual campuran maka harus aspal yang kaku mengindikasikan campuran tersebut telah dingin. kain atau lainnya. d) e) Butiran kasar tidak boleh ditaburkan di atas permukaan yang dihampar dengan rapi. koyakan. a) b) Penampung alat penghampar tidak boleh dikosongkan. Asap biru yang keluar dari campuran aspal di atas truk atau terlihat pada saat penurunan (dumping) ke alat penghampar mengindikasikan terjadinya pemanasan yang berlebih (overheating). 12) Terjadi pelelehan (bleeding). Perbaikan dengan menaburkan bahan halus dari campuran aspal harus dihindari. c) Tidak boleh terjadi segregasi. 11) Terkontaminasi bahan-bahan asing seperti minyak tanah. koyakan atau alur pada permukaan. 10) Tampak masih kaku. kertas. plastic.

S Penggilasan kedua(roda karet):2 PA. Garis. kecepatan dan arah penggilasan tidak boleh diubah secara tiba-tiba atau dengan cara yang menyebabkan terdorongnya campuran aspal.4) d) Kecepatan alat pemadat tidak boleh melebihi 4 km/jam untuk roda baja dan 10 km/jam untuk roda karet dan harus selalu dijaga rendah sehingga tidak mengakibatkan bergesernya campuran panas.4. Spesifikasi 6.5). Dokumen : BBPJN-I/IK/PL/01 Tanggal : 2 JANUARI 2008 13 Revisi Halaman : 00 : 8 dari 2) Temperatur campuran aspal panas yang diijinkan. urutan penghamparan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga perbedaan akhir antara panjang penghamparan lajur yang satu dengan yang bersebelahan pada setiap hari produksi dibuat seminimal mungkin.DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL I PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS No.S sampai dengan 20 PA.S sampai dengan 2 PA.4 Pemadatan 1) Umum. Spesifikasi 6.4.4. Penghamparan harus dimulai dari lajur yang 4) b) Arah penghamparan lebih rendah menuju lajur yang lebih tinggi bilamana pekerjaan yang dilaksanakan lebih dari satu lajur.6. 2) Temperatur campuran aspal panas yang diijinkan. c) 7.5.a) a) b) c) Penggilasan awal (roda baja) : 125oC sampai dengan 145oC Penggilasan kedua (roda karet) : 100oC sampai dengan 125oC Penggilasan akhir (roda baja) : > 95oC Penggilasan awal (roda baja) : 1 PA.a) a) Pemasokan ke alat penghampar 140oC sampai dengan 150oC.5). Bila jalan akan dihampar hanya setengah lebar jalan atau hanya satu lajur untuk setiap kali pengoperasian.S 3) Viskositas aspal yang diijinkan : a) b) Instruksi Kerja . Spesifikasi 6.5.

S Penggilasan awal atau breakdown penghamparan Penggilasan kedua atau utama penghamparan : 0 – 10 menit setelah 4) Waktu mulai penggilasan yang diijinkan : a) b) : 10 – 20 menit setelah < 45 menit setelah c) Penggilasan akhir atau penyelesaian : penghamparan 5) Urutan penggilasan : a) Pertama-tama penggilasan harus dilakukan pada sambungan melintang yang telah terpasang kasau. Penggilasan harus dimulai dari tempat sambungan memanjang dan kemudian dari tepi luar. Bila menggilas sambungan memanjang. b) c) 6) Hasil pemadatan : Instruksi Kerja . penggilasan dilakukan sejajar dengan sumbu jalan berurutan menuju ke arah sumbu jalan.DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL I PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS No. Selanjutnya. Bila sambungan melintang dibuat untuk menyambung lajur yang dikerjakan sebelumnya. penggilasan awal harus terlebih dahulu menggilas lajur yang telah dihampar sebelumnya sehingga tidak lebih dari 15 cm dari lebar roda penggilas yang menggilas tepi sambungan yang belum dipadatkan. Lintasan yang berurutan harus saling tumpang tindih minimum setengah lebar roda dan tidak boleh berakhir pada titik yang kurang dari satu meter dari lintasan sebelumnya. kecuali untuk superelevasi pada tikungan harus dimulai dari tempat yang terendah dan bergerak ke arah yang lebih tinggi. maka lintasan awal harus dilakukan sepanjang sambungan memanjang untuk suatu jarak yang pendek. Dokumen : BBPJN-I/IK/PL/01 Tanggal : 2 JANUARI 2008 13 Revisi Halaman : 00 : 9 dari c) Penggilasan akhir (roda baja): < 20 PA.

6 Pengujian 1) Permukaan perkerasan dan kelandaian harus diperiksa dengan mistar lurus atau mistar lurus beroda (Straight Edge) sepanjang 4 meter.5 Sambungan 1) Sambungan memanjang maupun melintang pada lapisan yang berurutan harus diatur agar sambungan pada lapis satu tidak terletak segaris yang lainnya. Tepi perkerasan harus dipangkas agar bergaris rapi. atau rusak dalam bentuk apapun. Sambungan melintang harus tegak lurus dan dihampar secara bertangga dengan pergeseran jarak minimum 25 cm. Setiap campuran aspal padat yang menjadi lepas atau rusak. penyimpangan atau yang terjadi bahan harus diperbaiki dengan membuang menambah sebagaimana diperlukan. b) 7. dilaksanakan tegak lurus dan sejajar dengan sumbu jalan. Selanjutnya pemadatan dilanjutkan seperti yang dibutuhkan. Dokumen : BBPJN-I/IK/PL/01 Tanggal : 2 JANUARI 2008 13 Revisi Halaman : 00 : 10 dari a) Permukaan yang telah dipadatkan harus halus dan sesuai dengan lereng melintang dan kelandaian yang disyaratkan.DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL I PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS No. Instruksi Kerja . Sambungan memanjang harus diatur agar sambungan pada lapisan teratas berada di pemisah jalur atau pemisah lajur lalu lintas. tercampur dengan kotoran. Setiap bahan yang berlebihan harus dipotong tegak lurus setelah penggilasan akhir. harus dibongkar dan diganti dengan campuran panas yang baru serta dipadatkan secepatnya agar sama dengan lokasi sekitarnya. dan dibuang di luar daerah milik jalan. 2) Pengujian kerataan harus dilaksanakan segera setelah pemadatan awal. 7.

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL I PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS No. b) 8. Awasi proses penghamparan dan pembentukan : a. Setiap ketidakrataan individu tidak boleh melampaui 5 mm. b. Pekerjaan berasal dari Instalasi Pencampur Campuran Aspal Aspal yang telah disetujui dan ditujukan untuk lokasi pekerjaan bersangkutan. Kondisi campuran berdasarkan Penerimaan Instruksi Kerja . pengamatan c. Periksa campuran aspal panas yang Daftar Simak datang ke lokasi pekerjaan : a.1 Inspector 1. Periksa campuran tiket aspal panas Pengawasan harus Penghamparan Panas Formulir Monitoring Campuran Aspal Panas Instruksi Lapangan (bila ada) 2. Temperatur bahan aspal saat pengiriman. URAIAN PROSEDUR Pelaku / Penanggungjawab No. Dokumen : BBPJN-I/IK/PL/01 Tanggal : 2 JANUARI 2008 13 Revisi Halaman : 00 : 11 dari 3) Perbedaan kerataan permukaan lapis aus yang dikerjakan harus memenuhi. Temperatur campuran. Jika tidak sesuai buat dan berikan instruksi penolakan. a) telah selesai Penampang melintang tidak boleh melampaui 5 mm untuk lapis aus atau 10 mm untuk lapis pondasi. Kegiatan Rekaman 8.

penghamparan persyaratan. Jika terjadi retak permukaan. Temperatur campuran aspal terhampar setiap akan memulai jenis penggilasan sesuai dengan temperatur yang didapat dalam percobaan pemadatan.DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL I PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS No. Awasi proses pemadatan : a. lainnya. penggilasan Instruksi Kerja . temperatur dalam penampung pada saat menunggu pasokan. Tebal gembur sesuai dengan tebal yang didapat dalam percobaan penghamparan. Waktu waktu c. Periksa koyakan. c. Dokumen : BBPJN-I/IK/PL/01 Tanggal : 2 JANUARI 2008 13 Revisi Halaman : 00 : 12 dari dituang didapat b. Arah ke alat penghampar percobaan sesuai sesuai dengan temperatur yang dalam penghamparan. permukaan e. alur berikan campuran permukaan atau ketidak-rataan instruksi penghentian pekerjaan. Urutan mulai yang setiap sesuai didapat jenis dengan dalam sesuai penggilasan percobaan pemadatan. d. 3. segregasi. b.

4. 9. Jumlah lintasan sesuai dengan jumlah lintasan yang didapat dalam percobaan pemadatan. d.1 Daftar Simak pengawasan pekerjaan penghamparan campuran aspal panas Instruksi Kerja . Periksa hasil akhir permukaan yang dipadatkan Kerja : terhadap Gambar a. Kecepatan alat pemadat sesuai dengan kecepatan yang didapat dalam percobaan pemadatan.DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL I PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS No. Periksa kerataan dan kelandaian permukaan yang dipadatkan dengan Straight Edge. LAMPIRAN 9. f. e. Dokumen : BBPJN-I/IK/PL/01 Tanggal : 2 JANUARI 2008 13 Revisi Halaman : 00 : 13 dari persyaratan. Periksa kerataan dan kelandaian permukaan setelah penggilasan awal.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->