Anda di halaman 1dari 9

DOKTRIN HUKUM PERIKATAN ( PERJANJIAN ) By; andhie ramone 1. MENURUT R. SETIAWAN S.

H Sebelum membahas tentang istilah perikatan, sebaiknya kita mengetahui dulu asal bahasa atau istilah tersebut. Sebagaimana bahwa buku ke III BW (KUHPerdata) mengatur mengenai Verbintenissenrecht, dimana tercakup pula Ovreenkomst. Dalam bahasa Indonesia dikenal tiga istilah terjemahan bagi Verbintenis yaitu : I. II. III. Perikatan Perutangan Perjanjian

Dan untuk ovreenkomst dikenal dua istilah terjemahan, yaitu : I. II. Perjanjian Persetujuan

Dan menurut R Setiawan istilah yang lebih tepat digunakan untuk Perikatan adalah verbintenis mengingat bahwa dalam verbintenis terdapat suatu hubungan hukum, yaitu suatu ikatan, antara pihak yang satu dengan pihak yang lain; masing-masing terikat pada hak dan kewajiban. 1 Sedangkan untuk overeenkomst lebih jika dipergunakan untuk istilah persetujuan, mengingat bahwa BW menganut azaz consensualisme atau dengan kata lain overeenkomst pada azasnya terjadi dengan adanya kata sepakat dan kata sepakat ini terjadi karena adanya persesuaian kehendak antara pihak. 2 PENGERTIAN PERIKATAN Perikatan adalah suatu Hubungan Hukum yang bersifat harta kekayaan antara dua orang atau lebih, atas dasar mana pihak yang satu berhak (kreditur) dan pihak lain berkewajiban (debitur) atas suatu prestasi.3 Perikatan adalah suatu hubungan hukum, yang artinya hubungan yaang diatur dan diakui oleh hukum. Hubungan yang berada diluar lingkungan hukum bukan meupakan perikatan.4

1 2

R Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Putra A Bardin, Bandung 1977. Hal 1 R Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Putra A Bardin, Bandung 1977. Hal 1 3 R Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Putra A Bardin, Bandung 1977. Hal 2

Obyek Perikatan obyek perikatan atau prestasi berupa memberikan sesuatu berbuat, dan tidak berbuat sesuatu. Obyek perikatan harus memenuhi beberapa syarat tertentu yaitu : I. II. III. Harus tertentu atau dapat ditentukan. Obyeknya diperkenankan Prestasinya dimungkinkan5 Subyek Perikatan Subyek Perikatan Yaitu kreditur yang berhak dan debitur yang berkewaiban atas prestasi. 6 Sumber-sumber Perikatan

2. Menurut Abdulkadir Muhammad, SH Perikatan adalah terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda verbintensis. Istilah perikatan lebih banyak dipakai dalam literatur hukum di Indonesia. Perikatan artinya hal yang mengikat orang yang satu terhadap orang yang lain.7 Hal yang mengikat itu menurut kenyataanya dapat berupa perbuatan atau dapat pula karena suatu keadaan. Dengan demikian oerikatan yang terjadi antara orang yang satu dengan dengan orang yang lain itu disebut hubungan hukum (legal relation). Menurut Abdulkadir pengertian perikatan dibedakan menjadi dua yaitu, perikatan dalam arti luas dan perikatan dalam arti sempit. Perikatan dalam arti luas adalah hubungan hukum yang terjadi antara orang yang satu dengan orang yang lain karena perbuatan, peristiwa, atau keadaan. Dan dari rumasan ini dapat diketahui bahwa perikatan itu terdapat dalam bidang hukum harta kekayaan (law of property); dalam bidang hukum keluarga (family law); dalam bidang hukum waris (law of

4 5

R Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Putra A Bardin, Bandung 1977. Hal 3 R Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Putra A Bardin, Bandung 1977. Hal 4 6 R Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Putra A Bardin, Bandung 1977. Hal 5 7 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung 1990, Hal 5.

succession); dan dalam bidang hukum pribadi (personal law).8 Dan perikatan dalam arti sempit adalah perikatan dalam bidang harta kekayaan.9

8 9

Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung 1990, Hal 6. Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung 1990, Hal 7.

PERJANJIAN KELEMAHAN-KELEMAHAN PASAL 1313 KUHPerdata MENURUT : 1. ABDULKADIR MUHAMMAD S.H Menurut beliau terdapat beberapa kelemahan dalam pasal 1313 KUHPer : a. Hanya menyangkut sepihak saja. Hal ini diketahui dari perumusan satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih lainnya. kata kerja mengikatkan sifatnya hanya datang dari satu orang saja tidak dari kedua belah pihak. Seharusnya perumusan itu saling mengikatkan diri , jadi ada konsesus antara pihak-pihak.10 b. Kata perbuatan mencakup juga tanpa konsensus. Dalam pengertian perbuatan termasuk juga tindakan melaksanakan tugas tanpa kuasa (zaakwaarneming ), tindakan melawan hukum ( onrechtmatige daad ) yang tidak mengandung suatu konsensus seharusnya dipakai kata persetujuan .11 c. Pengertian perjanjian terlalu luas. Pengertian perjanjian yang dimaksud dalam pasal tersebut diatas terlalu luas, karena mencakup juga perlangsungan perkawinan, janji kawin, yang diatur dalam lapangan hukum keluarga. Padahal yang dimaksud adalah hubungan antara hubungan kreditur dengan debitur dalam lapangan harta kekayaan saja. Perjanjian yang dikehendaki buku ketiga KUHPerdata adalah perjanjian yang bersifat kebendaan, bukan yang bersifat personal.12 d. Tanpa menyebut tujuan. Dalam perumusan pasal itu tidak disebutkan tujuan mengadakan perjanjian, sehingga pihak-pihak mengikatkan diri itu tidak jelas untuk apa.13 Pengertian perjanjian Perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal dalam lapangan harta kekayaan.14

10 11

Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung 1990, Hal 78 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung 1990, Hal 78 12 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung 1990, Hal 78 13 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung 1990, Hal 78 14 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung 1990, Hal 78

Unsur-Unsur Perjanjian; a. b. c. d. e. f. Ada pihak-pihak, sedikitnya dua orang Ada persetujuan antara pihak-pihak itu Ada tujuan yang akan dicapai Ada prestasi yang akan dilaksanakan. Ada bentuk tertentu, lisan atau tulisan Ada syarat-syarat tertentu sebagai isi perjanjian

2. Menurut R. Setiawan S.H Berbeda dengan Abdulkadir yang menggunakan istilah perjanjian, R setiwan lebih memilih untuk menggunakan istilah persetujuan. Dalam pasal 1313 dijelaskan pengertian persetujuan, namun menurut R Setiawan pengertian tersebut terlalu luas dan tidak tepat sasaran. Kelemahan pasal 1313 menurutnya yaitu; a. Kata Perbuatan harus diartikan sebagai perbuatan hukum, yaitu perbuatan yang bertujuan untuk menimbulkan akibat hukum. b. Menambahkan perkataan atau saling mengikatkan dirinya dalam pasal tersebut. Dari alasan diatas R Setiawan mengartikan, Persetujuan adalah suatu perbuatan hukum, dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.15 Selain menurutnya pasal 1313 BW hanya mengenai persetujuan- persetujuan yang menimbulkan perikatan, yaitu persetujuan obligator. UNSUR-UNSUR PERSETUJUAN16 a. Essentialia Bagian daripada persetujuan yang tanpa itu persetujuan tidak mungki n ada. Harga adalah essentalia bagi persetujuan jual beli. b. Naturalia Bagian yang oleh undang-undang ditentukan sebagai peraturan-peraturan yang bersifat mengatur. Misalnya penanggungan (vrijaring). c. Accidentalia Bagian-bagian yang oleh para pihak ditambahkan dalam persetujuan, dimana undang-undang tidak mengaturnya. Misalnya jual beli rumah beserta alat-alat rumah tangga.

15 16

R Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Putra A Bardin, Bandung 1977. Hal 49 R Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Putra A Bardin, Bandung 1977. Hal 50

MACAM-MACAM PERSETUJUAN OBLIGATOIR17 1. PERSETUJUAN SEPIHAK DAN TIMBAL BALIK Persetujuan timbal balik adalah persetujuan yang menimbulkan kewajiban pokok kepada kedua belah pihak. Contohnya jual-beli, sewa-menyewa. Persetujuan sepihak adalah persetujuan dimana hanya terdapat kewajiban pada salah satu pihak saja,contohnya hibah. 2. PERSETUJUAN DENGAN CUMA-CUMA ATAU ATAS BEBAN persetujuan atas beban adalah persetujuan dimana prestasi pihak yang satu terdapat prestasi pihak yang lain. Antara kedua prestasi tersebut terdapat hubungan hukum satu dengan yang lainnya, contohnya jual-beli. Sedangkan persetujuan Cuma-Cuma adalah persetujuan dimana satu pihak mendapatkan keuntungan dari pihak yang lain secara Cuma-Cuma. 3. PERSETUJUAN KONSENSUIL,RIIL DAN FORMIL Persetujua konsensuil adalah persetujuan yang terjadi dengan kata sepakat. Persetujuan riil adalah persetujuan, dimana selain diperlukan kata sepakat juga diperlukan penyerahan barang , dan ada kalanya kata sepakat dituangkan kedalam bentuk tertentu atau formil. 4. PERSETUJUAN BERNAMA, TIDAK BERNAMA DAN CAMPURAN Persetujuan bernama adalah persetujuan dimana oleh undang-undang telah diatur secara khusus diatur dalam BW bab V s/d XVIII ditambah titel VII A dalam KUHD persetujuan-persetujuan asuransi dan pengangkutan. Baik untuk persetujuan bernama ataupun tidak bernama pada azasnya berlaku ketentuan-ketentuan daripada bab I,II dan IV buku ke III BW sedangkan persetujuan tidak bernama adalah persetujua yang tidak diatur secara khusus. Tidak selau dengan pasti kita dapat mengklasifikasikan apakah persetujuan tersebut suatu persetujuan bernama atau tidak bernama, untuk itu ada tiga teori untuk memecahkan masalah tersebut. i. Teori Absorptie

Menurut teori ini diterapkan ketentuan-ketentuan perundang-undangan daripada persetujuan yang dalam persetujuan campuran tersebut paling menonjol. ii. Teori Combinatie

Menurut teori ini persetujuan dibagi-bagi dan kemudian atas masing masing bagian tersebut diterapkan ketentuan perundangan-undangan yang berlaku untuk bagian-bagian tersebut. iii. Sui Generis

Menurut teori ini, ketentuan-ketentuan dari pada persetujuan-persetujuan yang terdapat dalam persetujuan yang terdapat dalam persetujuan campuran diterapkansecara analogis.18

17 18

R Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Putra A Bardin, Bandung 1977. Hal 50 R Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Putra A Bardin, Bandung 1977. Hal 51

MACAM MACAM PERSETUJUAN LAINNYA: 1. 2. 3. 4. Persetujuan Liberatoire (pasal 1440 dan pasal 1442 BW) Persetujuan dalam hukum keluarga Persetujuan kebendaan Persetujuan mengenai pembuktian

PERJANJIAN Menurut Prof. Dr. R. Wirjono Prodjodikoro S.H

Menurut beliau 19Perjanjian adalah suatu perhubungan hukum menurut harta benda antara dua pihak, dalam mana suatu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan sesuatu hal atau untuk tidak melakukan sesuatu hal, sedang pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu. Hukum perjanjian20 harus terlepas atau tidak boleh ada unsur yang menurut burgerlijk wetboek masuk pengertian verbintenissen uit de wet alleen (perjanjian yang bersumber pada undang undang saja) dan verbintenissen uit onrechtmatige daad (perjanjian yang bersumber pada perbuatan melanggar hukum). Dua macam verbintenissen ini tidak mengandung unsur janji. Menurut R Subekti

Menurut beliau Suatu perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada orang lain atau di mana dua orang saling berjanji untuk melakukan sesuatu hal21 Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia

Perjanjian adalah persetujuan (tertulis atau dengan lisan) yang dibuat oleh dua pihak atau lebih yang masing-masing berjanji akan mentaati apa yang tersebut di persetujuan itu.22

Menurut Hoffman

19 20

Wirjono Prodjodikoro, Azas-azas Hukum Perjanjian, PT Bale Bandung, Bandung 1989, hal.9. Wirjono Prodjodikoro, Azas-azas Hukum Perjanjian, PT Bale Bandung, Bandung 1989, hal.8. 21 Subekti R, Hukum Perjanjian, PT.Intermasa, Jakarta, 2002, hal 1. 22 W.J.S Poerdwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia ,Balai Pustaka, Jakarta, 1991, hal 402.

Perikatan adalah suatu hubungan hukum antara sejumlah terbatas subjek-subek hukum sehubungan dengan itu seorang atau beberapa orang dari padanya mengikatkan dirinya untuk bersikap menurut cara-cara tertentu terhadap pihak yang lain, yang berhak atas sikap yang demikian itu.23

Menurut saya perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang mengikatkan diri dengan orang lain dengan maksud atau itikat baik yang melahirkan hubungan hubungan hukum. Pasal 1313 KUHPer

Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Setiawan24 menilai bahwa rumusan Pasal 1313 BW tersebut selain tidak lengkap juga terlalu luas. Dinilai tidak lengkap karena hanya menyebutkan persetujuan sepihak saja. Disebut sangat luas karena kata perbuatan mencakup juga perwakilan sukarela dan perbuatan melawan hukum. Karenanya, Setiawan mengusulkan perumusannya menjadi perjanjian adalah perbuatan hukum, dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Polak menganggap bahwa suatu persetujuan tidak lain adalah suatu perjanjian (afspraak) yang mengakibatkan hak dan kewajiban.25 Sedangkan Niewenhuis berpendapat bahwa perjanjian obligatoir (yang menciptakan periktan) merupakan sarana utama bagi para pihak untuk secara mandiri mengatur hubungan-hubungan hukum di antara mereka.26 Buku III BW tentang Perikatan (van verbintenis) tidak mendefenisikan tentang apa perikatan itu sendiri. Namun diawali dengan pasal 1233 BW mengenai sumber-sumber perikatan, yaitu kontrak atau perjanjian dan undang-undang. Dengan demikian kontrak atau perjanjian merupakan salah satu dari dua dasar hukum yang ada selain dari undang-undang yang dapat menimbulkan perikatan. Menurut C. Asser, ciri utama perikatan adalah hubungan hukum antara para pihak, yang menimbulkan hak (prestasi) dan kewajiban (kontra prestasi) yang saling dipertukarkan oleh
23 24

R. Syahrani, Op.Cit., hal. 203. Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Bina Cipta, Jakarta 1987, hal.49. 25 Mashudi & Mohammad Chidir Ali, Bab-bab Hukum Perikatan: Mandar Maju, Bandung 1995, hal.56. 26 J.H. Niewenhuis, Pokok-pokok Hukum Perikatan, (Terjemahan Djasadin Saragih), Surabaya: t.p., 1985, hlm. 1

para pihak27. H.F.A. Vollmar, berpendapat bahwa perikatan itu ada selama seseorang itu (debitor) harus melakukan sesuatu prestasi yang mungkin dapat dipaksakan terhadap kreditor, kalau perlu dengan bantuan hakim.28

27 28

C. Asser, Pengkajian Hukum Perdata Belanda, Jakarta: Dian Rakyat, 1991, hlm.5 Mariam Darus Badrulzaman, Op.cit., hlm.1.