Anda di halaman 1dari 6

Pentingnya Menuntut Ilmu BY MASJIDALAMANAH KAMIS, 7 APRIL 2011POSTED IN: NASIHAT

Ilmu merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan ini, setiap waktu manusia membutuhkan ilmu untuk menjalani hidupnya, sebagaimana perkataan Imam Ahmad Bin Hambal Manusia sangat berhajat pada ilmu lebih daripada hajat mereka pada makanan dan minuman, karena manusia berhajat pada makanan dan minuman sehari sekali atau dua kali akan tetapi manusia berhajat pada ilmu sebanyak bilangan nafasnya. Keutamaan ilmu sangatlah banyak, bahkan Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Buah Ilmu menguraikan sampai 129 sisi keutamaan ilmu, diantara keutamaan ilmu yaitu : 1. Setiap Muslim Wajib Menuntut Ilmu Telah bersabda Rasulullah SAW Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim (HR. Ibnu Majah, Baihaqi, dll) Hadits Shahih ini menjelaskan dengan tegas kewajiban menuntut ilmu bagi setiap muslim yang telah baligh. Ilmu yang dimaksud disini ialah ilmu din (ilmu agama), ilmu-ilmu agama yang wajib dituntut oleh setiap muslim yaitu ilmu aqidah, ibadah, pengetahuan tentang halal dan haram, akhlak dan hal-hal yang berkaitan dengan apa saja yang dia kerjakan di dunia ini. Ilmu inilah yang diminta oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam doanya.: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat. (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah No. 3843).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: Risalah Nabi meliputi dua hal yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, sebagaimana terdapat dalam firman Allah: Dialah Allah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) al Huda (petunjuk) dan dienul haq (agama yang benar) untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya (at Taubah:33). Al Hudapada ayat di atas ialah ilmu yang bermanfaat sedangkan Dienul Haq ialah amal shalih yang terdiri dari ikhlas karena Allah dan ittiba kepada Rasulullah. Dengan ilmu inilah bakal tegak dienullah baik secara keyakinan, perkataan maupun perbuatan. 2. Menuntut Ilmu Merupakan Ibadah Menuntut ilmu adalah ibadah, bahkan merupakan Ibadah yang paling agung dan paling utama, sehingga Allah menjadikannya sebagai bagian dari jihad fisabilillah, sebagaimana firmanNya dalam surat At Taubah 122. Rosulullah bersabda Barang siapa keluar dalam rangka thalabul ilmu (mencari ilmu), maka dia berada dalam sabilillah hingga kembali. (HR. Tirmizi). Imam Ahmad berkata : Ilmu itu sesuatu yang tiada bandingnya bagi orang yang niatnya benar. Bagaimanakah benarnya niat itu wahai Abu Abdillah? tanya orang-orang kepada beliau. Maka beliau menjawab yaitu berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain. 3. Ilmu Merupakan Syarat Sahnya Amal Allah memerintahkan manusia agar mencari ilmu atau berilmu sebelum berkata dan beramal. Firman Allah: Maka ketahuilah bahwa sesung-guhnya tidak ada Illah selain Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu serta bagi (dosa) orang-orang mukmin, lakilaki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu (QS.Muhammad:19). Sehubungan dengan ini Allah memerintahkan Nabi-Nya dengan dua hal yaitu berilmu lalu beramal, atau berilmu sebelum beramal. Hal ini dapat kita lihat dari

susunan ayat diatas, yaitu : Maka ketahuilah bahwa sesung-guhnya tidak ada ilah melainkan Allah Ayat ini menunjukkan perintah untuk berilmu. Selanjutnya perintah ini diikuti perintah beramal, yaitu : Dan mohonlah ampunan bagi dosamu . Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa urutan ilmu mendahului urutan amal. Ilmu merupakan syarat keabsahan perkataan dan perbuatan. Dalam ayat yang lain Allah berfirman : Dan janganlah engkau mengucapkan sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya. (Karena) sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan hati (akal pikiran) semuanya itu akan ditanya (Al Israa : 36). Dalam tafsirnya Imam Syaukani mengatakan Sesungguhnya ayat-ayat ini menunjukkan atas tidak bolehnya beramal dengan tanpa ilmu. Dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa Islam mewajibkan ilmu terlebih dahulu sebelum berkata dan berbuat. Inilah pendidikan yang sangat tinggi dalam Islam yang mendasari segala sesuatunya dengan ilmu. Allah Subhanahu Wataala juga memerintahkan agar kita bertanya kepada ahli ilmu jika kita tidak mengetahui, sebaimana firmanNya Tanyalah ahli ilmu jika memang kamu tidak tahu (An Nahl 43 dan Al Anbiyaa 7). Al Imam Ibnul Qoyyim di kitabnya miftahu daaris saaadah menafsirkan ahludz dzikri dengan ahli ilmu. Dan dari ayat yang mulia ini Allah SWT mewajibkan dua golongan manusia yaitu Ahli ilmu yang wajib bagi mereka menyebarkan ilmu dan tidak menyembunyikannya serta orang-orang jahil (bodoh) yang wajib bagi mereka bertanya kepada ahli ilmu bukan kepada orang-orang yang jahil (bodoh) juga. Sebagaimana sabda Rasulullah Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta dari hamba-Nya, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan dicabutnya nyawa para ulama, hingga manakala Dia tidak menyisakan satu orang alimpun (dalam riwayat lain: Hingga

manakala tidak tertinggal satu orang alim pun), manusia akan menjadikan pemimpin-pemimpin dari orang-orang yang bodoh, maka tatkala mereka akan ditanya (tentang masalah agama), lalu mereka akan ber-fatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. (HR Bukhari dalam al Ilmu 1/234 dan Muslim dalam al-Ilmu 16/223). 4. Ilmu merupakan ciri kebaikan seseorang Dalam sebuah hadits dari Muawiyah Radhiyallahu anhu, Rosulullah bersabda : Barang siapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Allah akan pahamkan dia adalam (masalah) din (agama).(Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari no.71 dan Muslim no. 1037). Hadits ini menunjukkan tentang tanda-tanda Allah hendak memberikan kebaikan pada seorang hamba yaitu dengan memberikan pemahaman dalam masalah agama. Hal itu karena dengan paham tentang masalah agama, maka dirinya akan menyembah Allah dengan ilmu dan juga akan menyeru orang lain dengan ilmu juga. Dalam hadits lain Rasulullah bersabda : Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya (HR. Al-Bukhari no. 5027). Imam Ali berkata nilai seseorang sesuai dengan apa yang dikuasainya. Imam Syafii mengatakan Apabila engkau menghendaki dunia hendaklah dengan ilmu, apabila engkau menghendaki akhirat hendaklah dengan ilmu dan apabila engkau menghendaki keduanya hendaklah dengan ilmu 5. Ilmu yang bermanfaat memiliki pahala yang sangat besar Rasulullah bersabda : Apabila seorang manusia meninggal maka terputuslah pahala segala amalannya kecuali dari tiga perkara ; yaitu sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya [HR. Muslim no. 1631]. Dalam hadits lain Rasulullah

bersabda : Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala sebanyak pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa sebanyak dosa orang yang mengikutinya itu tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa mereka (HR. Muslim no. 2674) 6. Ilmu akan mengangkat derajat manusia Allah Subhanahu Wataala berfirman : Allah mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu, sedangkan orang-orang yang diberi ilmu (Allah angkat) beberepa derajat (Al Mujaadilah 11). Dalam ayat lain Allah berfirman : Katakanlah!apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui (Az Zumar: 9). 7. Ilmu akan memudahkan seseorang masuk surga Rosulullah bersabda :Barang siap menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga. (HR Muslim). Imam Al Bukhari dalam Kitab Shahihnya no. 6412 meriwayatkan bahwa Rosulallah bersabda : Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memasukkan orang tersebut pada salah satu jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat mengatupkan sayapanya karena ridha kepada seluruh penuntut ilmu. Penghuni langit dan bumi, sampai ikan sekalipun yang ada di dalam air memohonkan ampun untuk seorang alim. Keutamaan seorang alim dibandingkan seorang ahli ibadah seperti keutamaan cahaya bulan purnama dibandingkan cahaya bintang-bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, namun mereka tidak mewariskan dinar maupun dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut sungguh ia telah mendapatkan bagian yang banyak dari warisan tersebut

8. Ilmu akan menghidupkan hati Ibnu Qoyim mengatakan bahwa sesungguhnya hati itu terancam mendapatkan dua penyakit yaitu syubhat dan syahwat, jika hati itu menjangkitinya maka hati mati karenanya. Semua penyakit ini penyebabnya adalah kebodohan dan obatnya adalah ilmu. Di dalam Al Muwaththo karya Imam Malik disebutkan bahwa Lukman berkata kepada anaknya:Wahai anakku duduklah kamu bersama para ulama dan dekatilah mereka dengan kedua lututmu (bergaul dengan mereka). Maka sesungguhnya AllahSubhanahu wa Ta ala menghidupkan hati-hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana menghidupkan (menyuburkan) bumi dengan hujan yang deras (Kitab Al llmu Fadluhu wa Syarfuhu hal 228) Oleh karena itu kebutuhan hati manusia terhadap cahaya ilmu merupakan kebutuhan yang mendesak. Sebagaimana kebutuhan bumi terhadap turunnya hujan tatkala terjadi kekeringan dan paceklik. Maka ilmu merupakan mutiara yang sangat berharga bagi setiap muslim. Karena dengan ilmu jiwa jiwa manusia akan hidup dan sebaliknya jiwa-jiwa mereka akan mati apabila tidak dibekali dengan ilmu. Sebagian orang-orang yang arif berkata Bukankah orang yang sakit akan mati tatkala tercegah dari makanan , minuman dan obatobatan? maka dijawab Tentu saja, Mereka mengatakan Demikian pula halnya dengan hati jika terhalang dari ilmu dan hikmah maka akan mati. Maka tepat jika dikatakan bahwa ilmu merupakan makanan dan minuman hati, serta penyembuh jiwa. karena kehidupan hati bersandar kepada ilmu. Maka apabila ilmu telah sirna dari hati seseorang berarti hakekatnya dia telah mati. Akan tetapi dia tidak merasakan kematian tersebut. Orang yang hatinya telah mati ibarat

seorang pemabuk yang hilang akalnya (disebabkan maksiat yang dia lakukan ) (Kitab Al Ilmu Fadluhu wa Syarfuhu hal 144-145). Sumber : 1. Menanti Buah Hati dan Hadiah Buat Yang Dinanti, Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat 2. Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-Abbad Al Badr 3. Syarah Adab dan Manfaat menuntut Ilmu, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

dunia.Sehingga pada saat itu dunia islam dijadikan acuan bagi bangsalain daam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. BELAJAR DAN ETIKANYA I.Motivasi belajar Dalam QS.An-Nahl : 78 Alloh berfirman,Dan Alloh mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur. Alloh menciptakan manusia lengkap dengan panca indera yang sempurna dengan tujuan agar manusia itu bersyukur.Tujuan tersebut bisa tercapai dengan car menggunakan panca indera dengan sebaikbaiknya untuk belajar.Karena dari proses belajar manusia dapat mengenal penciptanya, merenungi kebesaran-Nya sehingga akhirnya dia bisa menjadi makhluk yang tunduk (islam). Begitu pentingnya ilmu sampai rasuluoh SAW pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Abu bakar RA; aku pernah mendengar nabi SAW bersabda: Jadilah kamu orang yang berilmu atau penuntut ilmu, atau mustaminya atau menjadi orang yang mencintainya.Dan janganlah menjadi orang yang kelima sebab kamu akan binasa: Atha berkata ; Masar berkata kepadaku; kau tambahkan golongan kelima kepada kami yang tidak pernah ada diantara kami, yaitu membenci ilmu dan para ahinya.(HR. Ath Thabrani dan Al-Bazar). II.Ilmu yang harus dipelajari oeh Setiap muslim Yusuf Qordhowi berpendapat bahwa ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim adalah ilmu yang dibutuhkan dalam masalah agama dan akherat.Adapun dalam masalah agama dia harus mempelajari ilmu-ilmu syariat, yaitu :

URGENSI ILMU DALAM ISlAM Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat(QS.Mujadalah : 19) Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu, mendorong pemeluknya untuk menuntut ilmu, mengamalkan ilmu, dan sangat menghormati para guru.Dalam ayat diatas Alloh mengisyaratkan bahwa sebagi muslim hendaknya kita harus giat dalam mencari ilmu apabila kita ingin mendapatkan posisi yang lebih tinggi dihadapan Alloh. Daam sejarah Islam , kedudukan yang tinggi karena ilmu sudah terbukti, dahulu pada saat kaum muslimin mempunyai komitmen yang sangat tinggi terhadap ilmu(ilmu agama), maka ilmu pengetahuan juga maju dengan pesat.Nama-nama seperti Al Jabbar, Ibnu Sina, Al Razi dan lain-lain tidak asing lagi dimata para ilmuwan

1. Ilmu yang menghantarkan dirinya untuk mengetahui aqidah dengan pengetahuan yang benar dan penuh keyakinan. 2. Ilmu yang membimbingnya untuk melaksanakan ibadah kepad Tuhan-Nya sesuai dengan syariat dan batinnya dipenuhi dengan niat yang ikhlas. 3. Ilmu yang memberitahukan fadhlah-fadhlah (keutamaan) agar selalu dilaksanakan, dan juga memberitahukan radhilah-radhilah (kenistaan) agar selalu dihindari dan dijauhi. 4. Ilmu yang meluruskan akhlaknya terhadap diri sendiri dan masyarakat sehingga dia bisa membedakanhalal dan haram, yang wajib dan yang tidak.Setidanya yang harus dipeajari oleh seorang muslim ialah mengetahui dasardasar agamanya dalam setiap situasi dan keadaan, emudian memperluas pengetahuannya sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan baik.Seorang muslim diwajibkan untuk mempelajari ilmu syariat, tidak hnay yang berkaitan dengan ilmu dunia yang dikuasainya ataupun profesnya.Sebagai contoh seorang dokter harus mengetahui tentang obat-obatan yang haram, ataupun hokum abortus, Atau seorang ahli ekonomi, harus bisa mengetahui mana saja system perdagangan yang termasuk riba yang mungkin tidak dikenal oleh masyarakat awam. III. Membetulkan niat Sudah benarkah niat kita dalam menuntut ilmu ? Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa rasulullah Saw. Bersabda :Barangsiapa mempelajari ilmu yang akan mendatangkan keridhoan Alloh, tapi ia tidak mempelajarinya melainkan hanya untuk mencapai tujuan duniawi, maka ia tidak ada baginya

sedikitpun dari bau surga di hari kiamat kelak(HR.Abu Daud ibnu Majah, Ibnu Hibban dan al Hakim). Iv.Faktor-faktor yang penting diperhatikan daam proses mencari ilmu. a.Kesinambungan belajar Tidak ada kepuasan dalam belajar dicontohkan pada kisah Musa dan Khidir.Seandainya orang boleh mencukupkan dirinya untuk belajar hanya dengan satu pengetahuan, mak tentu musa AS, tidak akan mengikuti Khidir AS.Oleh Karena itulah kita tetap diwajibkan untuk menuntut ilmu dan memperluas wawasan hingga akhir hayat kita. b. Sabar menghadapi rintangan dalam menuntut ilmu Dalam usaha mencari ilmu, para pengembara muslimin menghabiskan waktu berhari-hari berjalan hanya untuk mempelajari sebuah hadits seperti Jabir bin Abdillah.Untuk masa sekarang hal ini bisa diambil pelajaran, yaitu agar kita selalu bersabar dan gigih dalam mencari ilmu.Selain itu sabar merupakan kunci untuk tidak membuat diri menjadi terlalu stress. C.Profesional dalam bidangnya Setiap muslim yang belajar suatu ilmu tertentu, dituntut untuk menguasai ilmu yang dipelajarinya, terutama ilmu-ilmu yang sangat penting bagi kepentingan umat, dan baru sedikit ahlinya. d.Menghormati dan menghargai Guru Begitu tingginya kedudukan guru dalm sam, sehingga dikatakan oleh Imam Al Ghazali, Lebih besar dari hak kedua orang tuaSebab kedua

orang tua penyebab keberadaan dan kehidupan dunia yang fana, sedangkan guru adalahpenyebab kehidupan yang kekal. Demikian secara ringkas mengenai ilmu, etika menuntut ilmu serta factor-faktor lain yang wajib diketahui bagi para penuntut ilmu. Sumber : Buku Etika Dalam mencari ilmu karya DR.Yusuf Qordowi.