Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Sistem pembelajaran pendidikan pada umumnya sampai saat ini masih didominasi oleh metode ceramah. Dimana metode ini tidak begitu

banyakmengembangkan kemampuan berfikir siswa terutama dalam memecahkan suatu permasalahan. Sering dijumpai dalam pembelajaran guru hanya menggunakan metode yang monoton, dimana dalam metode tersebut guru hanya memberikan materi melalui ceramah, pemberian tugas dan diskusi bebas. Sehingga guru tidak bisa mengembangkan pembelajaran yang menarik. Ada kesan guru takut untuk merancang pembelajaran sendiri, sehingga dari bahan belajar sampai metode evaluasi nyaris tidak ada perbedaan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dalam pembelajaran bergaya ceramah, siswa kurang menaruh perhatian selama 40% dari seluruh waktu pembelajaran. Siswa dapat mengingat 70% dalam sepuluh menit pertama pembelajaran, sedangkan dalam sepuluh menit terakhir, mereka hanya dapat mengingat 20% materi pembelajaran1. Guru dalam melaksanakan metode ceramah atau ekspositorinya masih sering terjebak ke dalam pemberian hafalan untuk dilatihkan kepada siswanya. Mereka hanya diminta untuk menghafal, bukan tidak penting bagi siswa mengetahui hal ini, akan tetapi jika hal ini saja yang diberikan pada siswanya maka akan ada kecenderungan siswa merasa bosan dan jenuh pada mata pelajaran yang diajarkan.
1

Melvin L. Silberman, Active Learning (Bandung: Nusamedia, 2006), hlm. 24

Kekhawatiran lain yang mungkin timbul akibat adanya rasa bosan dan jenuh ini adalah siswa menjadi malas bahkan tidak mau lagi mengikuti pelajaran. Akibatnya ialah tidak ada minat dan motivasi siswa untuk belajar. Guru memiliki peranan penting dalam menentukan proses pembelajaran di sekolah. Siswa-siswa yang berprestasi pada umumnya memiliki akses untuk berkembang dengan baik dibawah bimbingan guru yang professional. E. Mulyasa memberikan pendapat bahwa mengingat peranan guru yang penting terhadap keberhasilan implementasi KBK bahkan sangat menentukan berhasil-tidaknya peserta didik dalam belajar, maka guru perlu memperhatikan hal-hal berikut: (1) Mengurangi ceramah, (2) memberikan tugas yang berbeda bagi setiap peserta didik, (3) Mengelompokkan peserta didik berdasarkan kemampuannya, serta disesuaikan dengan mata pelajaran, (4) Bahan harus dimodifikasi dan diperkaya, (5) Jangan ragu untuk berhubungan dengan spesialist, bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan, (6) Gunakan prosedur yang bervariasi dalam membuat penilaian dan membuat laporan, (7) Ingat bahwa peserta didik tidak berkembang dalam kecepatan yang sama, (8) Usahakan mengembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap anak bekerja dengan kemampuannya masing-masing pada tiap pelajaran, dan (9) Usahakan untuk melibatkan peserta didik dalam berbagai kegiatan.2

E Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 186

Guru adalah praktisi dalam dunia pendidikan. Guru menjadi ujung tombak dalam upaya menyukseskan program pembelajaran dan pendidikan pada umumnya. Oleh karena itu, guru diharapkan secara terus menerus berupaya meningkatkan mutu proses dan hasil belajar. Upaya itu tentu tidak dapat dilaksanakan manakala guru kurang memahami realitas yang ada serta permasalahan pembelajaran yang dihadapi atau dilaksanakannya. Untuk itu penting yang harus dimiliki guru adalah kemampuan untuk mengenali permasalahan, baik yang berkenaan dengan materi pembelajaran, pengelolaan kelas, metode pembelajaran, media pembelajaran, minat dan motivasi belajar siswa, kemampuan siswa, dan yang terlebih kemampuan guru itu sendiri. Pada dasarnya setiap guru menginginkan agar proses belajar mengajar yang dilakukan dapat berjalan dengan efektif. Dengan demikian pembelajaran tersebut mampu menghasilkan prestasi belajar yang optimal dan menciptakan suasana belajar yang menarik, terkontrol, dan sistematis. Menurut Sanusi kriteria pembelajaran efektif antara lain: Pembelajaran siswa secara klasikal tuntas, (2) Tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan telah tercapai, (3) Respon siswa terhadap pembelajaran positif, (4) Aktivitas siswa dan guru adalah efektif dan, (5) kemampuan guru mengolah pembelajaran sudah baik dengan syarat nomor 1 dan 2 terpenuhi 3. Pendidikan merupakan upaya manusia untuk memperluas cakrawala pengetahuannya dalam rangka membentuk nilai, sikap, dan perilaku. Sebagai upaya

Sanusi, Pembelajaran Pencapaian Konsep dalam Mengajarkan Persamaan Kuadart Di Kelas 1

MA/SMA (Madiun: IKIP PGRI Madiun), hlm. 68-92

yang bukan saja membuahkan manfaat yang besar, pendidikan juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang sering dirasakan belum memenuhi harapan. Hal itu disebabkan banyak lulusan pendidikan formal yang belum dapat memenuhi kriteria tuntutan lapangan kerja yang tersedia, apalagi menciptakan lapangan kerja baru sebagai presentase penguasaan ilmu yang diperolehnya dari lembaga pendidikan. Kondisi seperti ini merupakan gambaran rendahnya kualitas pendidikan kita. Banyak faktor yang turut mempengaruhi rendahnya kualitas pendidikan. Apabila pendidikan dilihat sebagai suatu sistem maka faktor yang turut memengaruhi kualitas pendidikan tersebut, menurut Deming meliputi: (1) input mentah atau siswa, (2) lingkungan instruksional, (3) proses pendidikan, dan (4) keluaran pendidikan. Dalam proses pendidikan, sebenarnya di dalamnya terdapat motivasi belajar, akan tetapi bila hal ini tidak diperankan dengan baik oleh guru seorang siswa tidak akan mempunyai semangat untuk melakukan aktifitas belajar. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar . Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya. Segala sesuatu yang menarik minat orang lain belum tentu menarik minat orang tertentu selama sesuatu itu tidak bersentuhan dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, apa yang seseorang lihat sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang ia lihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingannya sendiri. Banyak anak dengan inteligensi yang

rendah disebabkan tidak ada motivasi dalam belajar. Fungsi motivasi yang seharusnya sebagai pendorong, penggerak, dan pengarah perbuatan belajar tidak dijalankan dengan baik. Dalam kegiatan belajar-mengajar, apabila ada seseorang siswa, misalnya tidak berbuat sesuatu yang seharusnya dikerjakan, maka perlu diselidiki sebab-sebabnya. Sebab sebab itu biasanya bermacam-macam, mungkin ia tidak senang, mungkin sakit, lapar, ada problem pribadi dan lainlain. Hal ini berarti pada diri anak tidak terjadi perubahan energi, tidak terangsang afeksinya untuk melakukan sesuatu, karena tidak memiliki tujuan atau kebutuhan belajar. Keadaan semacam inilah perlu dilakukan daya upaya yang dapat menemukan sebab-musababnya dan kemudian mendorong seseorang siswa itu mau melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan, yakni belajar. Dengan kata lain siswa itu perlu diberikan rangsangan agar tumbuh motivasi pada dirinya. Atau singkatnya perlu diberikan motivasi.4 Peranan motivasi yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Seorang siswa yang memiliki intelegensia cukup tinggi bisa jadi gagal karena kekurangan motivasi. Hasil belajar itu akan optimal kalau ada motivasi yang tepat. Bergayut dengan hal ini maka kegagalan belajar siswa jangan begitu saja mempersalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberikan motivasi yang mampu

Sardiman A. M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: CV Rajawali, 1986), hlm. 74

membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk berbuat/belajar. Jadi tugas guru bagaimana mendorong para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi. Dalam hal ini sudah barang tentu peran guru sangat penting. Bagaimana guru melakukan usahausaha untuk dapat menumbuhkan dan memberikan motivasi agar anak didiknya melakukan aktivitas belajar dengan baik. Untuk dapat belajar dengan baik diperlukan proses dan motivasi yang baik pula. Hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Mengingat hal tersebut diatas, penulis mencoba meneliti tentang pengaruh penerapan metode active learning sebagai salah satu cara untuk memotivasi siswa dalam belajar. Serta untuk mengasah pola fikir siswa agar ia terbiasa dalam berfikir kritis analistis argumentatif punya kepekaan social yang tinggi serta dapat memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya, baik dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka ada beberapa rumusan masalah yang perlu dikaji antara lain: 1. Bagaimana penerapan metode active learning pada kelas XI IPS MAN 3 Malang?

2. Bagaimana motivasi belajar siswa dalam menggunakan pembelajaran active learning di kelas XI IPS MAN 3 Malang? 3. Apakah ada pengaruh yang signifikan antara metode pembelajaran active learning terhadap motivasi belajar siswa?

C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini antara lain: 1. Untuk mengetahui metode active learning yang diterapkan di kelas XI IPS MAN 3 Malang. 2. Untuk mengukur seberapa besar motivasi siswa dalam menggunakan metode active learning di kelas XI IPS MAN 3 Malang. 3. Untuk mengetahui pengaruh antara metode active learning dengan motivasi belajar siswa.

D. Manfaat Penelitian Jika dalam penelitian ini ada kebenaran bahwa ada pengaruh antar metode pembelajaran dengan motivasi belajar siswa, secara praktis hasil dari penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi dan manfaat. Adapun secara detail manfaat yang diharapkan dari penelitian ini diantaranya: 1. Bagi guru

Sebagai masukan dalam merancang metode active learning sehingga siswa menjadi termotivasi dalam belajar. 2. Bagi siswa a. Siswa mengenal metode-metode pembelajaran yang bervariatif sehingga mampu memotivasi belajar siswa. b. Siswa termotivasi untuk lebih giat belajar supaya mendapatkan hasil belajar yang optimal. 3. Bagi peneliti a. Sebagai calon guru penelitian ini menambah pengalaman karya ilmiah sebagai bekal kelak terjun ke dunia pendidikan. b. Menambah pengetahuan untuk melakukan metode pembelajaran secara tepat, inovatif dan efisien. c. Sebagai pengalaman yang akhirnya dapat dipergunakan untuk memperbaiki dirinya dalam proses belajar mengajar ekonomi pada masa sekarang dan mendatang.

E. Keterbatasan penelitian Keterbatasan penelitian ini meliputi : 1. Penelitian ini digunakan untuk mengukur penerapan metode active learning dan motivasi belajar siswa. 2. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI IPS Semester Ganjil MAN 3 Malang.

E. Hipotesis Penelitian Hipotesis secara etimologis, hipotesis dibentuk dari dua kata, yaitu kata hypo dan kata thesis. Hypo berarti kurang dan thesis adalah pendapat. Kedua kata itu kemudian digunakan secara bersama menjadi hypothesis dan penyebutan dalam dialek Indonesia menjadi hipotesa kemudian berubah menjadi hipotesis yang maksudnya adalah suatu kesimpulan yang masih kurang atau kesimpulan yang masih belum sempurna5. Dan terdapat hipotesis, yaitu : a. Hipotesis alternatif (Ha), adanya pengaruh yang signifikan antara penerapan metode active learning terhadap motivasi belajar siswa. b. Hipotesis nihil (Ho), Tidak ada pengaruh yang signifikan antara penerapan metode active learning terhadap motivasi belajar siswa.

G. Definisi Operasional Variabel Untuk menghindari terjadinya penafsiran yang berbeda-beda di antara pembaca, maka perlu diberikan batasan-batasan pengertian pada beberapa istilah yang digunakan dalam judul penelitian ini. Beberapa istilah yang perlu dijelaskan pengertiannya antara lain: (1) Metode Active Learning (2) Motivasi Belajar.

Bungin, M. Burhan, Metodologi Penelitian Kuantitatif Edisi Pertama (Jakarta: Kencana, 2006), hlm.

75

1. Metode Active Learning Metode active learning merupakan suatu proses kegiatan belajar mengajar yang subjek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional, sehingga siswa betulbetul berperan dan berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai lebih baik. 2. Motivasi Belajar Motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Metode Active Learning 1. Pengertian Active Learning Metode active learning merupakan suatu proses kegiatan belajar mengajar yang subjek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional, sehingga siswa betul-betul berperan dan berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai lebih baik 6. Dari pengertian tersebut menunjukkan bahwa metode active learning menempatkan siswa sebagai inti dalam kegiatan belajar mengajar. Siswa di pandang sebagai objek dan sebagai subjek. Active learning merupakan suatu proses belajar mengajar yang aktif dan dinamis. Dalam proses ini siswa mengalami keterlibatan intelektual-emosional disamping keterlibatan fisiknya.7 Pembelajaran aktif (active learning) adalah suatu proses pembelajaran dengan maksud untuk memberdayakan peserta didik agar belajar dengan menggunakan berbagai cara/strategi secara aktif. Dalam hal ini proses aktivitas pembelajaran didominasi oleh peserta didik dengan menggunakan otak untuk menemukan konsep dan memecahkan masalah yang sedang dipelajari,

Nana Sudjana dan Arifin Daeng, Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar

Mengajar (Bandung: CV Sinar Baru, 1988), hlm. 32 Syafrudin Nurdin dan Basyiruddin Usman, Guru Professional dan Implementasi Kurikulum (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 117
7

disamping itu juga untuk menyiapkan mental dan melatih ketrampilan fisiknya.8 Cara memberdayakan peserta didik tidak hanya dengan menggunakan strategi atau metode ceramah saja, sebagaimana yang selama ini digunakan oleh para pendidik (guru) dalam proses pembelajaran. Mendidik dengan ceramah berarti memberikan suatu informasi melalui pendengaran, yamg hanya bisa dicerna otak siswa 20%. Padahal informasi yang dipelajari siswa bisa saja dari membaca (10%), melihat (30%), melihat dan dengar (50%), mengatakan (70%), mengatakan dan melakukan (90%). Hal ini sesuai dengan pendapat seorang filosof cina Konfusius bahwa Apa yang saya dengar, saya lupa Apa yang saya lihat, saya ingat Apa yang saya lakukan, saya paham.9 Ketika ada informasi yang baru, otak manusia tidak hanya sekedar menerima dan menyimpan. Akan tetapi otak manusia akan memproses informasi tersebut samapai dapat dicerna dan baru kemudian disimpannya. Karena itu jika ada sesuatu yang baru, otak akan bertanya pernahkah aku mendengar, melihat, mengalami sebelumnya, kapan dan dimanakah kira-kira hal itu aku dengar, lihat dan kualami lalu dimanakah hal itu aku simpan?. Manusia dengan potensi dasar yang ia miliki termasuk otak tersebut perlu diaktifkan, sehingga berfungsi semaksimal mungkin melalui proses belajar yang ia lakukan. Agar proses pembelajaran aktif bisa berjalan dengan baik, maka pendidik sebagai penggerak belajar peserta didik dituntut untuk
8

A. Fatah Yasin, Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam (Yogyakarta: Sukses Offset, 2008), hlm.180
9

Ibid., hlm. 181

menggunakan dan menguasai strategi pembelajaran aktif. Strategi pembelajaran aktif sangat diperlukan karena peserta didik mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Ada yang senang belajar dengan membaca. Berdiskusi dan ada juga yang senang dengan cara langsung praktik. Inilah yang sering disebut dengan gaya belajar atau learning style. Disamping itu penggunaan strategi pembelajaran aktif bagi pendidik adalah sangat membantu atau memudahkan dalam mengajar. Bagi pendidik yang memiliki banyak jam mengajar, dan apabila dalam mengajar hanya berorientasi pada ceramah saja, maka jelas pendidik yang bersangkutan akan kehabisan energi karena mengekspose suara lisan melalui ceramah secara terus-menerus. Dilihat dari subjek didik maka metode active learning merupakan proses kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka belajar. Dilihat dari segi guru/pengajar maka metode active learning merupakan bagian strategi mengajar yang menuntut keaktifan optimal subjek didik. Bertitik tolak dari uraian diatas maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan metode active learning adalah salah satu cara strategi belajar mengajar yang menuntut keaktifan dan partisipasi siswa seoptimal mungkin sehingga siswa mampu mengubah tingkah lakunya secara lebih efektif dan efisien.

2. Prinsip-prinsip Metode Active Learning Proses belajar-mengajar yang dapat memungkinkan metode active learning harus dilaksanakan dan dilaksanakan secara sistematik. Dalam pelaksanaan mengajar hendaknya diperhatikan beberapa prinsip belajar sehingga pada waktu proses belajar-mengajar siswa melakukan kegiatan belajar secara optimal. Ada beberapa prinsip belajar yang dapat menunjang tumbuhnya cara belajar siswa aktif diantaranya adalah sebagai berikut:10 a. Perhatian dan motivasi Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Sedangkan motivasi mempunyai peranan memberi tenaga yang mengerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. b. Keterlibatan Langsung/Berpengalaman Dalam belajar siswa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. c. Pengulangan Belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir, dan

10

Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), hlm. 42

sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya daya-daya tersebut akan berkembang dan menjadi sempurna. d. Balikan dan Penguatan Sumber penguatan belajar untuk pemuasan kebutuhan berasal dari luar dan dari dalam dirinya. Penguat belajar yang berasal dari luar seperti nilai, pengakuan prestasi siswa, persetujuan pendapat siswa, ganjaran, hadiah, dan lain-lain. Merupakan cara untuk memperkuat respon siswa. Sedangkan penguat dari dalam dirinya bisa terjadi apabila respon yang dilakukan siswa betul-betul memuaskan dirinya dan sesuai dengan

kebutuhannya. Prinsip-prinsip diatas penting dilaksanakan pada waktu mengajar sehingga mendorong kegiatan belajar siswa seoptimal mungkin.

3. Ciri-ciri Metode Active Learning Pada waktu mengajar harus ada interaksi antara guru dengan siswa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran, oleh karena itu guru harus menciptakan lingkungan belajar yang mendorong semua siswa aktif melakukan kegiatan belajar secara nyata. Ada beberapa ciri yang harus nampak dalam proses belajar active learning, diantaranya adalah:11 a. Situasi kelas menantang siswa melakukan kegiatan belajar secara bebas tapi terkendali.
11

Sriyono dkk, Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA (Jakarta: PT Rineka Cipta,), hlm. 14-15

b. Guru tidak mendominasi pembicaraan tetapi lebih banyak memberikan rangsangan berpikir kepada siswa untuk memecahkan masalah. c. Guru menyediakan dan mengusahakan sumber belajar bagi siswa, bisa sumber tertulis, sumber manusia, misalnya murid itu sendiri menjelaskan

permasalahan kepada murid lainnya, berbagai media yang diperlukan, alat bantu pengajaran, termasuk guru sendiri sebagai sumber belajar. d. Kegiatan belajar siswa bervariasi, ada kegiatan yang sifatnya bersamasama dilakukan oleh semua siswa, ada kegiatan belajar yang dilakukan secara kelompok dalam bentuk diskusi dan ada pula kegiatan belajar yang harus dilakukan oleh masing-masing siwa secara mandiri. Penetapan kegiatan belajar tersebut diatur oleh guru secara sistematik dan terencana. e. Hubungan guru dengan siswa sifatnya harus mencerminkan hubungan manusiawi bagaikan hubungan bapak anak, bukannya hubungan pimpinan dengan bawahan. Guru menempatkan diri sebagai pembimbing semua siswa yang memerlukan bantuan manakala mereka menghadapi persoalan belajar. f. Situasi dan kondisi kelas tidak kaku terikat dengan susunan yang mati, tapi sewaktu-waktu diubah sesuai dengan kebutuhan siswa. g. Belajar tidak hanya dilihat dan diukur dari segi hasil yang dicapai siswa tapi juga dilihat dan diukur dari segi proses belajar yang dilakukan siswa. h. Adanya keberanian siswa mengajukan pendapatnya melalui pertanyaan atau pernyataan gagasannya, baik yang diajukan kepada guru maupun kepada siswa lainnya dalam pemecahan masalah belajar.

i. Guru senantiasa menghargai pendapat siswa terlepas dari benar atau salah, dan tidak diperkenankan membunuh atau mengurangi/menekan pendapat siswa di depan siswa lainnya. Guru bahkan harus mendorong siswa agar selalu mengajukan pendapatnya secara bebas.

Ciri-ciri diatas merupakan sebagian kecil dari hakikat belajar active learning dalam praktek pengajaran. Untuk dapat mewujudkan ciri-ciri diatas bukanlah hal yang mudah tapi perlu pengenalan teori strategi dan teori penyusunan satuan pelajaran.

4. Teknik-teknik Pembelajaran Active Learning Agar proses pembelajaran active learning bisa berjalan dengan baik, maka pendidik sebagai penggerak belajar peserta didik dituntut untuk menggunakan dan menguasai strategi pembelajaran active learning.13 Strategi pembelajaran active learning sangat diperlukan karena peserta didik mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Ada yang senang belajar dengan membaca, berdiskusi dan ada juga yang senang dengan cara langsung praktik. Disamping itu penggunaan strategi pembelajaran active learning bagi pendidik adalah sangat membantu atau memudahkan dalam mengajar.12 Bagi pendidik yang memiliki banyak jam mengajar, dan apabila dalam mengajar hanya

12

A. Fatah. Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam (Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm.. 181

berorientasi pada ceramah saja, maka jelas pendidik yang bersangkutan akan kehabisan energi karena mengekspose suara lisan melalui ceramah secara terusmenerus. Untuk itu sangat diperlukan penggunaan berbagai jenis strategi pembelajaran active learning. Beberapa strategi dalam pembelajaran aktif tersebut, antara lain adalah sebagai berikut: a. Poster comment (mengomentari gambar) Yaitu suatu strategi yang digunakan pendidik dengan maksud mengajak peserta didik untuk memunculkan ide apa yang terkandung dalam suatu gambar. Gambar tersebut tentu saja berkaitan dengan pencapaian suatu kompetensi dalam pembelajaran. Langkah-langkah penerapannya: 1) Pendidik menyediakan potongan gambar yang dihubungkan dengan materi bahasan. 2) Jangan ada tulisan apapun dalam gambar tersebut. 3) Peserta didik disuruh berkomentar dengan bebas secara bergiliran, kira-kira ide apa yang akan dimunculkan setelah melihat gambar tersebut. 4) Peserta didik boleh mengeluarkan pendapat yang berbeda, karena pikiran manusia juga berbeda-beda. 5) Pendidik sudah mempersiapkan rumusan jawaban yang tepat mengenai gambar tersebut, sehingga peserta didik merasa dapat penjelasan sekaligus dapat pula menyaksikan gambarnya.

Dengan strategi ini peserta didik diharapkan dapat member masukan berupa pendapat/ide yang bervariasi karena setiap pikiran manusia itu berbeda-beda, dengan berbagai macam pendapat dari peserta didik tersebut akan dapat ditarik benang merahnya tentang inti pokok dari materi yang diajarkan. b. Index Card Matc (Mencari Pasangan Jawaban) Yaitu suatu startegi yang digunakan pendidik dengan maksud mengajak peserta didik untuk menemukan jawaban yang cocok dengan pertanyaan yang sudah disiapkan. Langkah-langkah penerapannya: 1) Siapkan materi yang sudah dipelajari di rumah, dan atau yang sudah pernah dialami sebagai pengalaman. 2) Buatlah potongan kertas sejumlah peserta didik di kelas, yang berisi tentang pertanyaan dan jawaban. 3) Potongan kertas berisi pertanyaan dibagikan kepada separuh jumlah peserta didik, dan yang berisi jawaban juga sejumlah separuh peserta didik yang hadir. 4) Peserta didik disuruh mencari pasangan soal dan jawabannya, setelah ketemu suruh mereka duduk berdekatan. Dan mulailah satu persatu membacakan atau mencocokkan soal dan jawabannya, yang lain mendengarkan barangkali ada kekeliruan pasangan. 5) Pendidik mengoreksi dengan cara mendengarkan dan sekaligus menjelaskan bahwa strategi ini sebagai latihan persiapan ujian akhir atau ulangan.

c. Active debate (debat aktif) Strategi ini mendorong pemikiran dan perenungan terutama kalau peserta didik diharapkan memertahankan pendapat yang bertentangan dengan keyakinannya sendiri. Langkah-langkah:13 1) Siapkan sebuah pertanyaan yang kontroversial. 2) Bagi kelas dalam 2 tim (pro dan kontra) dapat dikembangkan menjadi lebih dari 2 buah sub kelompok. 3) Minta setiap juru bicara masing-masing kelompok untuk memaparkan argumentasinya (argumentasi pembuka). 4) Setelah argumentasi pembuka, hentikan debat dan kembali ke sub kelompok. Setiap sub kelompok memilih jubirnya dan usahakan bergantian (baru). 5) Lanjutkan kembali debat. Yang lain dapat memberikan catatan untuk mendukung argumentasi kelompoknya (tepuk tangan juga

diperkenankan). 6) Pada saat yang tepat, akhiri debat. Tidak perlu menentukan kelompok mana yang menang. 7) Minta kepada peserta didik untuk mengidentifikasi argumen yang paling baik menurut mereka. Debat bisa menjadi satu metode berharga yang dapat mendorong pemikiran dan perenungan terutama kalau peserta didik diharapkan dapat mempertahankan
13

Ibid., hlm. 189

pendapat yang bertentangan dengan keyakinan mereka sendiri.16 Strategi ini dapat diterapkan kalau guru hendak menyajikan topic yang menimbulkan pro kontra dalam mengungkapkan argumentasinya. Banyak kecakapan hidup yang dapat dilatih dengan strategi ini antara lain kemampuan berkomunikasi dan mengkomunikasikan gagasannya kepada orang lain.14 d . Everyone is teacher Here (semua adalah pendidik/guru) Yaitu strategi yang digunakan oleh pendidik dengan maksud meminta peserta didik untuk semuanya berperan menjadi narasumber terhadap sesama temannya di kelas belajar. Langkah-langkah penerapannya: 1) Berikan bahan bacaan dan minta peserta didik untuk membaca bahan tersebut. 2) Mintalah setiap peserta didik untuk membuat pertanyaan dari bahan terlalu bagikan kembali kepada semua peserta. 3) Kocoklah kertas pertannyaan tersebut, lalu bagikan kembali kepada semua peserta. 4) Mintalah peserta membaca dalam hati sambil memikirkan jawabannya dari pertanyaan tersebut. 5) Panggil secara bergantian setiap peserta untuk membaca pertanyaan dan jawabannya masing-masing.

14

Melvin L. Silberman, Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif (Bandung: Nusamedia dan

Nuansa, 2006), hlm. 9

6) Minta peserta lain untuk memberi tanggapan. Strategi ini bertujuan untuk memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta didik untuk berperan sebagai guru bagi kawannya. Dengan ini diharapkan agar peserta didik yang pasif dapat ikut terlibat dalam pembelajaran aktif.15 e. Team Quiz Langkah-langkah metode kuis berkelompok adalah:16 1) Pilihlah topik yang dapat disampaikan dalam tiga bagian. 2) Bagilah siswa menjadi tiga kelompok yaitu A, B dan C. 3) Sampaikan kepada siswa format penyampaian pelajaran kemudian mulai penyampaian materi. Batasi penyampaian materi maksimal 10 menit. 4) Setelah penyampaian, minta kelompok A menyiapkan

pertanyaanpertanyaan berkaitan dengan materi yang baru saja disampaikan. Kelompok B dan C menggunakan waktu ini untuk melihat lagi catatan mereka. 5) Mintalah kepada kelompok A untuk memberi pertanyaan kepada kelompom B. jika kelompok B tidak dapat menjawab pertanyaan, lempar pertanyaan tersebut kepada kelompok C.
15

Hisyam Zaini dkk, Strategi Pembelajaran Aktif (Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga, 2004),

hlm. XVii
16

Agus Suprijono, Cooperative Learning (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009, hlm. 114

6) Kelompok A memberi pertanyaan kepada kelompok C, jika kelompok C tidak bisa menjawab, lemparkan kepada kelompok B. 7) Jika tanya jawab selesai, lanjutkan pelajaran kedua dan tunjuk kelompok B untuk menjadi kelompok penanya. Lakukan seperti proses untuk kelompok A. 8) Setelah kelompok B selesai dengan pertanyaannya, lanjtkan

penyampaian materi pelajaran ketiga dan tunjuk kelompok C sebagai kelompok penanya. 9) Akhiri pelajaran dengan menyimpulkan Tanya jawab dan jelaskan sekiranya ada pemahaman siswa yang keliru. f. Jigsaw Yaitu strategi kerja kelompok yang terstruktur didasarkan pada kerjasama dan tanggung jawab. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh siswa dan setiap peserta didik memikul suatu tanggung jawab yang signifikan dalam kelompok.17 Langkah-langkah penerapannya: 1) Kelas diatur ke dalam sejumlah kelompok pangkalan kira-kira enam anggota masing-masing. 2) Tugas dibagi ke dalam jumlah bagian yang sama dengan topic yang berbedabeda.

17

A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam (Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm. 44-45

3) Di dalam kelompok pangkalan, setiap siswa meneliti satu dari isu atau pertanyaan yang berbeda-beda itu. 4) Kelompok menugaskan tugas khusus untuk angota-anggota kelompok pangkalan atau membiarkan kelompok berunding diantara mereka mengenai siapa yang melakukan apa. 5) Apa hasil kesimpulan dari masing-masing topik bacaan tersebut, setelah selesai meneliti dan membacanya. Kemudian siswa disuruh menguraikan atau membacakan.

Pada dasarnya model jigsaw merupakan salah satu model dari cooperative learning yakni dengan membentuk diskusi atau learning community. Rasa dalam satu kelompok ini memungkinkan peserta didik menghadapi perubahan-perubahan dihadapannya. Ketika belajar lebih senang dengan yang lain daripada sendirian, mereka memiliki dorongan emosional dan intelektual, yang memungkinkan mereka melampaui tingkat pengetahuan dan ketrampilan mereka sekarang. Jerome Bruner dalam Mel Silberman18 mengenalkan sisi sosial dari belajar dalam buku klasiknya yang berjudul Toward a Theory of Instruction. Ia mendeskripsikan suatu kebutuhan yang dalam untuk merespon yang lain dan

18

Mel Silberman, Active Learning 101 Strategis to Teach Any Subject, terj., (Jakarta:, YAPPENDES,

1996), hlm. 1

secara bersama-sama dengan mereka terlibat dalam mencapai tujuan, yang ia sebut reciprocity. 5. Kebaikan dan Kelemahan Metode Active Learning a. Kebaikan Metode Active Learning Proses belajar mengajar baru berhasil apabila guru memiliki kewibawaan di depan kelas. Secara lahir kewibawaan guru banyak ditentukan oleh penampilannya, posisinya di depan kelas, perkataan dan tulisannya. Secara batin kewibawaan ditumpang oleh penguasaan bahan yang diajarkan, penguasaan metode dan media pendidikan yang dipilih dan digunakan, dan penguasaan alat penelitian yang diterapkan.19 Disamping itu guru juga memperhatikan keikutsertaan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, diusahakan siswa aktif dan berpartisipasi secara penuh dalam belajar, kewibawaan juga timbul karena kemahiran guru dalam pengorganisasi waktu, bahan, dan siswa. Kebaikan-kebaikan metode active learning adalah sebagai berikut:20 a. Prakarsa siswa dalam kegiatan belajar, yang ditujukan melalui keberanian memberikan urung pendapat tanpa secara eksklusif diminta misalnya di dalam diskusi-diskusi, mengemukakan usul dan saran di dalam pendekatan tujuan atau cara kerja kegiatan belajar, kesediaan mencari alat atau sumber dan lain sebagainya.

19 20

Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007), hlm. 142 Ibid., hlm. 142-143

b. Keterlibatan mental siswa di dalam kegiatan-kegiatan belajar yang telah berlangsung yang ditujukan dengan peningkatan diri kepada tugas kegiatan. Baik secara intelektual maupun secara emosional yang dapat diamati dalam bentuk perhatian serta pikiran siswa dengan tugas yang telah dihadapi serta komitmennya untuk menyelesaikan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya. c. Peranan guru yang lebih banyak sebagai fasilitator merupakan sisi lain daripada kadar tinggi prakarsa serta tanggung jawab siswa di dalam kegiatan belajar. d. Belajar dengan pengalaman langsung, kekayaan variasi bentuk dan alat kegiatan belajar mengajar merupakan indikator yang dominan dalam metode active learning. e. Indikator terakhir yang dikemukakan dalam masalah ini adalah kualitas interaksi antar siswa, baik intelektual maupun sosial, emosional sehingga meningkatkan peluang. Pembentukan kepribadian seutuhnya, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan kemampuan bekerjasama didalam memecahkan masalah, baik yang berkenaan dengan kegiatan Intra maupun Ekstra Kurikuler.

Jadi kebaikan metode active learning adalah kadar kegiatannya lebih diperbanyak. Untuk mendorong siswa belajar mempraktikkan prosesproses intelektual seperti dikemukakan oleh Oemar Hamalik mengorganisasi data,

mempertanyakan persoalan dan memikirkan secara kritis hubungan di dalam antara gagasan perorangan dengan gagasan orang lain dengan kenyataan situasi.21 b. Kelemahan Metode Active Learning. Hakikat pendidikan adalah proses kemanusiaan yang hanya dilakukan oleh manusia. Ini berarti bahwa prakarsa dan tanggung jawab belajar ada pada subjek didik. Oleh karena itu untuk mendidik sendiri harus secara eksklusif. Belajar tidak berarti hanya menerima pengetahuan saja, tetapi belajar dapat terjadi dari hasil interaksi antara sesama siswa atau prakarsa dirinya di dalam mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya.25 Terjadinya kadar metode active learning yang menurun ini terjadi akibat tidak keterlibatannya mental secara optimal di dalam kelas maupun di luar kelas. Beberapa kelemahan dari metode active learning adalah sebagai berikut: a. Tidak menjamin dalam melaksanakan keputusan. Kendatipun telah tercapai persetujuan, namun keputusan-keputusan itu belum tentu dapat

dilaksanakannya. b. Diskusi tidak dapat diramalkan, pada mulanya diskusi diorganisasisecara baik tetapi selanjutnya mungkin saja mengarah ke tujuan lain, sehingga terjadi (Free Foryall) terutama jika kepemimpinan diskusi tidak produktif. c. Memasyarakatkan agar semua siswa memiliki ketrampilan berdiskusi yang diperlukan untuk berpartisipasi secara aktif.

21

Ibid., hlm. 143

d. Membentuk pengaturan fisik (seperti kursi dan meja) dan jadwal kegiatan secara luwes. e. Dapat menjadi palsu (tidak murni lagi) jika pemimpin mengalami kesulitan mempertemukan berbagai pendapat padahal dia telah mengetahui jawaban yang diinginkan, sehingga ia menolak pendapat peserta lain. f. Dapat didominasi oleh seseorang atau sejumlah siswa sehingga dia menolak pendapat peserta lain. g. Jadi kelemahan metode active learning siswa yang pandai akan bertambah pandai, siswa yang bodoh akan tertinggal Disamping ketrampilan kegiatan siswa, guru juga harus terampil memilih dan menggunakan metode yang tepat pada waktu proses belajar mengajar, karena tidak semua guru didukung oleh literature yang cukup kuat dan tidak semua guru mampu menafsirkan dan mengolah informasi metode active learning dan tepat sesusai dengan misi hakikat metode active learning yang dimaksud.