Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN I.

1 Latar Belakang Pembangunan perikanan yang telah dilaksanakan selama ini, telah menunjukkan hasil yang cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari semakin luas dan terarahnya usaha peningkatan produksi perikanan yang pada akhirnya dapat meningkatkan pula konsumsi ikan, eksport hasil perikanan, pendapatan petani ikan dan nelayan, memperluas lapangan kerja, memberikan dukungan terhadap pembangunan bidang industri dan menunjang pembangunan daerah.

Peningkatan produksi perikanan terutama didukung oleh meningkatnya produksi perikanan laut (fishing), yang sampai tahun 1997 kegiatan perikanan tangkap memberikan sumbangan terbesar yaitu sebesar 75 % dari total produksi perikanan, yang bersumber dari perikanan budidaya dan tangkap

(Nikijuluw, 2002). Salah satu kebutuhan yang mutlak diperlukan untuk memajukan kegiatan industri perikanan dan merealisasikan program peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir adalah menyediakan prasarana pelabuhan perikanan yang memadahi. Prasarana pelabuhan perikanan yang ada dan akan dibangun merupakan basis kegiatan pengadaan produksi perikanan pantai dan menjadi pusat komunikasi antara kegiatan di wilayah laut dan daratan (Murdiyanto, 2002). Pelabuhan perikanan merupakan jembatan bagi terlaksananya segala aktifitas pendaratan, perdagangan dan pendistribusian produksi ke daerah konsumen. Untuk itu diperlukan pengelolaan yang efektif dan efisien. Diktat pertama ini akan penulis fokuskan pada pelabuhan perikanan yang dalam klasifikasinya termasuk pelabuhan khusus (Lubis, 2000). Pembangunan pelabuhan perikanan sampai saat ini masih dirasa sebagai hal yang sangat sulit, karena dihadapkan pada permasalahan yang senantiasa memberikan dampak perkembangan baru serta terjadi perubahanperubahan mendasar yang kadang perkembangan dan perubahan itu menjadi tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Selain itu pelabuhan perikanan adalah perpaduan antara bangunan darat dan bangunan laut serta kondisi social ekonomi masyarakat nelayan, sehingga mulai dari perencanaan sampai pengendalian dan pengawasan pembangunan operasional serta pemeliharaan memerlukan perpaduan dari berbagai disiplin ilmu.

Untuk itu peranan pelabuhan perikanan sebagai infrastruktur yang dapat memfasilitasi kegiatan usaha penangkapan ikan yaitu sebagai pusat

pengembangan masyarakat nelayan, tempat berlabuh kapal perikanan, temapt pendaratan ikan, pusat pemasaran dan pembinaaan mutu hasil perikanan, pusat penyuluhan dan pengumpulan data, pusat pelaksanaan pengawasan

sumberdaya ikan serta pusat pelayanan informasi sepatutnya harus lebih di optimalkan. 1.2. Tujuan Tujuan dari praktikum pelabuhan perikanan adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui keadaan umum dan klasifikasi pelabuhan perikanan; 2. Mengetahui peran strategis pelabuhan perikanan; 3. Mengetahui fungsi pelabuhan perikanan; 4. Mengetahui peranan penting hasil tangkapan di pelabuhan perikanan; 5. Mengetahui fasilitas dan aktifitas pelabuhan perikanan;

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi dan Fungsi Pelabuhan Perikanan 2.1.1. Definisi pelabuhan perikanan Pelabuhan Perikanan adalah suatu wilayah perpaduan antara wilayah daratan dan lautan yang dipergunakan sebagai pangkalan kegiatan

penangkapan ikan dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas sejak ikan didaratkan sampai ikan didistribusikan. Pelabuhan perikanan adalah merupakan pusat pengembangan ekonomi perikanan ditinjau dari aspek produksi, pengolahan dan pemasaran, baik berskala lokal, nasional maupun internasional (Lubis, 2000). Menurut UU nomor 45 tahun 2009, Pelabuhan Perikanan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan perairan disekitarnya dengan batas- batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistim bisnis perikanan yang digunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, dan bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan. Menurut Ditjen Perikanan (1996), pelabuhan perikanan adalah suatu kawasan perairan yang dilengkapi oleh berbagai fasilitas dasar yng diperlukan untuk mengakomodasi operasi perahu atau kapal nelayan serta berbagai basis kegiatan produksi, pemasaran, pengolahan hasil laut, dan pengembangan masyarakat nelayan. Dengan fasllitas tersebut, pelabuhan perikanandapat berperan dalam meningkatkan perekonomian, mengembangkan usaha

perikanan, serta melakukan fungsi pembinaan dan pelayanan publik. Pelabuhan Perikanan adalah suatu komplek gabungan antara area perairan, area lahan dan berbagai sarana yang menjamin keselamatan tempat berlabuh bagi kapal penangkap ikan serta menyediakan pelayanan, terutama untuk keperluan laut dan bongkar (Bagakali, 2000). Menurut Ditjen Perikanan (2004), pelabuhan perikanan adalah suatu pangkalan atau tempat berlabuh dan atau bertambatnya kapal perikanan serta pendaratan hasil perikanan dan merupakan daerah lingkungan kerja kegiatan ekonomi perikanan yang terletak di luar daerah lingkungan kerja pelabuhan yang dibuka untuk umum.

2.1.2. Fungsi pelabuhan perikanan Menurut Tambunan (1994), menjelaskan bahwa fungsi pelabuhan perikanan adalah sebagai pusat pengembangan masyarakat nelayan serta agrobisnis perikanan, tempat berlabuhnya kapal perikanan, tempat pendaratan ikan hasil tangkapan, sebagai pusat untuk memperlancar kegiatan dan perbaikan kapal perikanan serta pemasaran dan distribusi ikan hasil tangkapan, pusat pengembangan industry dan pelayanan ekspor perikanan serta pusat

penyuluhan dan pengumpulan data. Menurut Bagakali (2000), fungsi umum pelabuhan perikanan meliputi penyediaan: 1) Pintu alur masuk yang baik dan aman dengan alur pelayaran menuju pelabuhan yang lebar serta cukup aman; 2) Kolam pelabuhan yang lebar, dalam dan terlindung untuk melayani kegiatan yangdiperlukan; 3) Semua alat bantu navigasi, visual dan elektrik untuk membantu kapal-kapal agar dapatmenggunakan pelabuhan secara aman; 4) Pemecah gelombang (break water) dengan desain struktur yang memadai serta tata letak yang cocok untuk mengurangi pengaruh gelombang dan badai dalam alur masuk dan kolam pelabuhan hingga batas tidak mengganggu; 5) Dermaga yang memadai untuk melayani berbagai tipe dan ukuran kapal yang akanmenggunakan pelabuhan; 6) Sarana pelayanan yang diperlukan untuk melayani penyediaan perbekalan; 7) Gedung-gedung beserta perlengkapan yang perlu untuk memudahkan pengoperasian di dalam komplek pelabuhan secara lancar dan effisien; 8) Areal yang cukup untuk perluasan kegiatan baik di darat maupun di laut; 9) Jalan penghubung utama yang cukup, baik menuju maupun dari arah areal pelabuhan dengan sistem jaringan yang dirancang secara baik untuk melayani semua aktifitas di pelabuhan; dan 10) Ruang parkir yang cukup luas untuk semua kendaraan industri atau pribadi, disamping ruang yang cukup di sekitar gedung-gedung dan pabrik untuk keperluan kendaraan muat dan bongkar tanpa mengganggu

kelancaran arus lalu lintas.

2.2. Klasifikasi Pelabuhan Perikanan Menurut Lubis (2000), Pelabuhan perikanan juga dapat diklasifikasikannya yaitu menurut letak dan jenis usaha perikanannya. Pelabuhan perikanan bisa dilihat dari banyaknya faktor yang ada, pengklasifikasian dapat dipengaruhi oleh berbagai parameter antara lain: 1. Luas lahan, letak dan jenis konstruksi bangunannya; 2. Tipe dan ukuran kapal-kapal yang masuk pelabuhan; 3. Jenis perikanan dan skala usahanya; dan 4. Distribusi dan tujuan ikan hasil tangkapan. Menurut Murdiyanto (2002), klasifikasi besar-kecil skala usahanya pelabuhan perikanan dibedakan menjadi tiga tipe pelabuhan : 1. Pelabuhan Perikanan tipe A (Pelabuhan Perikanan Samudra). Pelabuhan perikanan tipe ini adalah pelabuhan perikanan yang diperuntukkan terutama bagi kapal-kapal perikanan yang beroperasi di perairan Samudera yang lazim digolongkan ke dalam armada perikanan jarak jauh sampai ke perairan ZEEI (Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia) dan perairan internasional, mempunyai perlengkapan untuk menangani (handling) dan mengolah sumberdaya ikan sesuai dengan kapasitasnya yaitu jumlah hasil ikan yang didaratkan. Adapun jumlah ikan yang didaratkan minimum sebanyak 200 ton per hari atau 73.000 ton per tahun baik untuk pemasaran di dalam maupun di luar negeri (ekspor). Pelabuhan perikanan tipe A ini dirancang untuk bisa menampung

kapal berukuran lebih besar daripada 60 GT (gross tonage) sebanyak sampai dengan 100 unit kapal sekaligus. Mempunyai cadangan lahan untuk pengembangan seluas 30 Ha. Contoh Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta. 2. Pelabuhan Perikanan tipe B (Pelabuhan Perikanan Nusantara). Termasuk dalam klasifikasi ini adalah pelabuhan perikanan yang diperuntukkan terutama bagi kapal-kapal perikanan yang beroperasi di perairan Nusantara yang lazim digolongkan ke dalam armada perikanan jarak sedang sampai ke perairan ZEEI, mempunyai perlengkapan untuk menangani dan/atau mengolah ikan sesuai dengan kapasitasnya yaitu jumlah hasil ikan yang didaratkan. Adapun jumlah ikan yang didaratkan minimum sebanyak 50 ton per hari atau 18.250 ton per tahun untuk pemasaran di dalam negeri. Pelabuhan perikanan tipe B ini dirancang untuk bisa menampung kapal berukuran sampai dengan 60 GT (gross tonage) sebanyak sampai dengan 50 unit kapal sekaligus. Mempunyai

cadangan lahan darat untuk pengembangan seluas 10 Ha. Contoh Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan. 3. Pelabuhan Perikanan tipe C (Pelabuhan Perikanan Pantai). Termasuk dalam klasifikasi ini adalah pelabuhan perikanan yang diperuntukkan terutama bagi kapal-kapal perikanan yang beroperasi di perairan pantai, mempunyai perlengkapan untuk menangani dan/atau mengolah ikan sesuai dengan kapasitasnya yaitu yaitu minimum sebanyak 20 ton per hari atau 7.300 ton per tahun untuk pemasaran di daerah sekitarnya atau untuk dikumpulkan dan dikirimkan ke pelabuhan perikanan besar. Pelabuhan perikanan tipe C ini dirancang untuk bisa menampung kapal sampai berukuran 15 GT (gross tonage) sebanyak 25 unit kapal sekaligus. Mempunyai cadangan lahan darat untuk pengembangan seluas 5 Ha. Contoh Pelabuhan Perikanan Pantai Tarempa di Riau. 4. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Untuk melengkapi ke tiga pelabuhan perikanan tersebut di atas dapat pula dibangun suatu pangkalan untuk pendaratan ikan hasil tangkapan nelayan yang berskala lebih kecil dari pada pelabuhan perikanan pantai ditinjau dari kapasitas penanganan jumlah produksi ikan sampai 5 ton per hari, dapat menampung kapal perikanan dengan ukuran 5 GT sejumlah 15 unit kapal sekaligus. Untuk pembangunan PPI ini diberikan lahan darat untuk pengembangan seluas 1 Ha. Sebagai contoh adalah PPI Muara Angke di Jakarta. Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor:

PER.16/MEN/2006 tentang Pelabuhan Perikanan, Pelabuhan Perikanan dibagi menjadi 4 kategori utama yaitu: PPS (Pelabuhan Perikanan Samudera) PPN (Pelabuhan Perikanan Nusantara) PPP (Pelabuhan Perikanan Pantai) PPI (Pangkalan Pendaratan Ikan) Menurut Kramadibrata (1985), berdasarkan lokasinya pelabuhan perikanan dapat dibedakan atas: 1) Pelabuhan teluk, adalah tempat berlabuhnya kapal yang dilindungi oleh pulau agar dapat digunakan sebagai tempat untuk berlabuh, diperlukan dasar perairan yang dapat menahan jangkar kapal. Dasar perairan yang memenuhi syarat ini adalah lumpur padat, tanah liat dan pasir, sedangkan lumpur lembek dan batu masif yang licin tidak memenuhi syarat;

2) Pelabuhan muara, adalah pelabuhan yang letaknya di muara sungai yang merupakan gerbang keluar masuk kapal dan muara tersebut cukup besar sehingga kapal dapat bersilang dengan aman; 3) Pelabuhan luar, adalah jenis pelabuhan yang langsung berhadapan dengan perairan bebas. Pelabuhan tersebut akan mengalami hempasan gelombang secara langsung; 4) Pelabuhan dalam, adalah pelabuhan yang letaknya tidak berhadapan langsung denganperairan bebas; 5) Pelabuhan pantai pasir, adalah pelabuhan yang dasar perairannya terdiri dari pasir danpecahan batu karang. Bahan ini berasal dari erosi pantai atau dibawa arus pantai; 6) Pelabuhan pantai berlumpur, adalah pelabuhan yang dasar perairannya terdiri dari lumpur.Dasar periran landai, sehingga untuk mencapai kedalaman air yang diperlukan harus membuat kanal yang panjang; 7) Pelabuhan sungai, dibagi menjadi dua macam : a. Pelabuhan sungai (daerah hilir), adalah pelabuhan yang batasnya berada ditempatpengaruh gerakan pasang surut; b. Pelabuan sungai (daerah hulu), adalah pelabuhan yang letaknya di sungai yang dalam dan lebar sehingga kapal bisa masuk sampai ke hulu. 2.3. Fasilitas Pelabuhan Menurut Lubis (2000), Di dalam pelaksanaannya fungsi dan peranannya, pelabuhan perikanan dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Kapasitas dan jenis fasilitas-fasilitas atau saranasarana yang ada pada umumnya akan menentukan skala atau tipe dari suatu pelabuhan dan akan berkaitan pula dengan skala usaha perikanannya. Fasilitas-fasilitas yang terdapat di Pelabuhan Perikanan atau di Pangkalan Pendaratan ikan pada umumnya terdiri atas Fasilitas pokok, fasilitas fungsional, dan fasilitas tambahan/penunjang. Menurut Ditjen Perikanan (1994), menyebutkan bahwa agar dapat berfungsi sesuai dengan peranannya, pelabuhan perikanan dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Fasilitas-fasilitastersebut berupa fasilitas pokok, fasilitas fungsional dan fasilitas penunjang. Penyediaan fasilitas tersebut dengan tujuan agar dapat menampung kegiatan-kegiatan perikanan sebagai berikut: Arus kapal-kapal perikanan yang keluar masuk pelabuhan; Arus ikan yang didaratkan, diproses, disimpan dan dipasarkan domestik atau ekspor;

Arus manusia (nelayan, pedagang dan karyawan/pegawai); dan Arus alat tranportasi yang keluar masuk pelabuhan. 2.3.1. Fasilitas pokok Fasilitas pokok adalah fasilitas yang diperlukan untuk kepentingan aspek keselamatan pelayaran dan juga tempat berlabuh, bertambat serta bongkar muat. Fasilitas pokok yang harus dimiliki oleh pelabuhan antara lain terdiri dari: dermaga, kolam pelabuhan, jalan dikomplek pelabuhan, jaringan drainase dan areal pelabuhan perikanan (Ditjen Perikanan, 1996). 2.3.2. Fasilitas fungsional Menurut Lubis (2000), fasilitas fungsional dikatakan juga supra struktur adalah fasilitas yang berfungsi meninggikan nilai guna dari fasilitas pokok dengan cara memberikan pelayanan yang dapat menunjang aktifitas di pelabuhan. Fasilitas-fasilitas ini diantaranya tidak harus ada disuatu pelabuhan namun fasilitas ini disediakan sesuai dengan kebutuhan operasional pelabuhan perikanan tersebut. Fasilitas fungsional dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian berdasarkan fungsinya yaitu: a. Untuk penanganan hasil tangkapan dan pemasarannya, yang terdiri dari: Tempat Pelelangan Ikan (TPI), pemeliharaan dan pengolahan hasil tangkapan ikan, pabrik es, gudang es refrigasi/ fasilitas pendingin, dan gedung-gedung pemasaran; b. Untuk pemeliharaan dan perbaikan armada kapal dan alat penangkap ikan, ruang mesin, tempat penjemuran alat penangkap ikan, bengkel, slipways, dan gudang jaring; c. Untuk perbekalan yang teridiri dari: tangki, dan instalasi air minum serta BBM; dan d. Untuk komunikasi yang terdiri dari : stasiun jaringan telepon, radio SSB. Menurut Ditjen. Perikanan (1981), letak gedung pelelangan ikan

harus berdekatan dengan dermaga dan terminal parkir. Lebar pelataran lantai gedung antara 4 - 8 meter dan kendaraan pengangkut sedapat mungkin dapat menempel pada lantai pelelangan. Ruangan untuk aktifitas lelang yang ada maka gedung pelelangan ikan terbagi menjadi 3 zona yaitu untuk sortir atau persiapan lelang, pelelangan ikan, dan untuk pengepakan. Perbandingan luas antara bagian sortir, bagian pelelangan dan bagian pengepakan adalah antara 1 : 2 : 1 (Elfandi, 1994).

2.3.3. Fasilitas penunjang Menurut Lubis (2000), Fasilitas Penunjang adalah fasilitas yang secara tidak langsung meningkatkan peranbn pelabuhan perikanan atau para pelaku mendapatkan kenyamanan melakukan aktifitas di pelabuhan. Berikut ini adalah contoh dari fasilitas penunjang: a. Fasilitas Kesejahteraan: MCK, poliklinik, mess, kantin/warung, musholla b. Fasilitas administrasi: kantor pengelola pelabuhan, ruang operator, kantor syahbandar, kantor beacukai. 2.4. Pengelolaan Pelabuhan Menurut Permen No. 16 (2006), Pengelolaan pelabuhan perikanan yang dimiliki oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota dipimpin oleh seorang Kepala Pelabuhan. Sedangkan pengelolaan pelabuhan perikanan yang dimiliki oleh BUMN maupun perusahaan swasta dipimpin oleh seorang Kepala Pelabuhan yang mendapat penetapan dari Direktur Jenderal. Menurut Lubis (2000), terdapat tiga kelompok kegiatan utama yang berkaitan erat dengan pengelolaan pelabuhan. Kegiatan tersebut adalah kegiatan yang berhubungan dengan: 1. Pengelolaan infrastruktur, suprastruktur dengan semua aktifitas penunjang, antara lain: investasi pelabuhan, penyusunan anggaran, perencanaan pembangunan, pajak, perbaikan dan pemeliharaan fasilitasnya seperti alur pelayaran, mercusuar dan jalan-jalan menuju pelabuhan; 2. Pengelolaan suprastruktur yang diperlukan karena adanya kontak antara penjual dan pemakai jasa pelabuhan (klien),terhadap kapal dan barangbarang/komiditi perikanan serta pemeliharaannya. Kontak ini secara eksplisit dapat berupa keegiatan-kegiatan di pelabuhan; dan 3. Pengelolaan administrasi kepelabuhan yang berhubungan dengan

peraturan-peraturan lokal, nasional maupun internasional dalam menentukan sirkulasi marim peraturan dalam hal perhitungan statistik, pencatatan keluar masuknya kapal, pencatatan dan pemeliharaan awak kapal. 2.5. Pemasaran Penjualan ikan di pelelangan dipimpin oleh juru lelang yang ditunjuk oleh kepala TPI. System penawaran lelang dilakukan dengan cara meningkat dan penawar tertinggi akan memperoleh prioritas untuk membeli ikan yang ditawarkan oleh nelayan. Pembayaran dari bakul kepada nelayan dilakukan

secara tunai setelah dipotong biaya retribusi sebesar 3 % dari nilai jual ikan yang dipungut dari nelayan dan 5 % dari bakul (Oktavariza et.all, 1996) Menurut Oktavariza et.all (1996), Ikan-ikan yang dibeli oleh para bakul didistribusikan kepada konsumen yang berada di pelabuhan maupun yang berada diluar pelabuhan. Saluran pemasaran para bakul idak sama, bakul pengecer memiliki saluran pemasaran yang paling pendek dibandingkan dengan bakul pengolah dan bakul pengumpul. 2.6. Peranan Pelabuhan Perikanan Pada hakekatnya pelabuhan perikanan merupakan basis utama kegiatan industri perikanan tangkap yang yang harus dapat menjamin suksesnya aktivitas usaha perikanan tangkap di laut. Pelabuhan perikanan berperan sebagai terminal yang menghubungkan kegiatan usaha di laut dan di darat ke dalam suatu sistem usaha dan berdayaguna tinggi. Aktivitas unit penangkapan ikan di laut harus keberangkatannya dari pelabuhan dengan bahan bakar, makanan, es, dan lainlain secukupnya. Informasi tentang data harga dan kebutuhan ikan di pelabuhan perlu dikomunikasikan dengan cepat dari pelabuhan ke kapal di laut. Setelah selesai melakukan pekerjaan di laut kapal ikan kembali dan masuk ke pelabuhan untuk membongkar dan menjual hasil tangkapan (Murdiyanto, 2002). Selain memiliki fungsi Pelabuhan Perikanan juga memiliki Peranan penting yakni sebagai simpul dalam jaringan transportasi sesuai dengan hirarkinya, pintu gerbang kegiatan perekonomian daerah, nasional dan internasional tempat kegiatan alih moda transportasi penunjang kegiatan industri dan perdagangan tempat distribusi, konsolidasi dan produksi(Direktoran Jenderal Perikanan, 1996).

10

BAB III METODE PENGAMBILAN DATA III.1 Waktu dan Tempat Praktik lapang tentang Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cempae, dilaksanakan pada tanggal 27 sampai 28 April 2012di PPI Cempae Kecamatan Soreang Kota Pare-Pare Sulawesi Selatan. III.2 Metode Pelaksanaan Metode yang dilakukan dalam Praktik Lapang ini yaitu dengan mengumpulkan jenis data primer dan sekunder yaitu dengan wawancara langsung dengan nelayan dan pihak pengolah Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cempae. 1. Metode pengumpulan data primer Metode pengambilan data primer terdiri dari identifikasi responden dan pengumpulan data responden. Disamping data responden, data primer berupa data pengamatan tentang kondisi Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di lapangan. 2. Metode pengumpulan data sekunder Metode pengumpulan data sekunder terdiri dari literatur, pendapat para pakar, internet, dan kombinasi ketiganya.

11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Keadaan Umum Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cempae Letak geografis Secara geografi Kota Parepare terletak pada koordinat antara 03o 57 39 sampai 03o 57 39 Lintang Selatan dan 119o 36 24 sampai 119o 43 40 Bujur Timur. Kota Parepare merupakan kota kedua terbesar di Propinsi Sulawesi Selatan, dan dikategorikan sebagai Kota Sedang. Kota ini adalah pusat pengembangan KAPET (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu) Parepare yang meliputi Kota Parepare, Kabupaten Barru, Kabupaten Sidenreng Rappang, Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang sehingga potensial sebagai pusat perdagangan di kawasan ini.

Batas-batas Wilayah

Sebelah Utara : Kabupaten Pinrang Sebelah Selatan : Kabupaten Barru Sebelah Timur : Kabupaten Sidrap Sebelah Barat : Selat Makassar

Luas wilayah daratan Luas wilayah daratan Kabupaten Pare-Pare adalah 99.33 km2. Formasi geologi yang terdapat di Kota Parepare sebagai pembentuk struktur batuan di wilayah Kota Parepare antara lain: endapan alluvial dan pantai, kerikil, pasir, lempung dan batu gamping koral, selain itu terdapat juga batu gunung apai di Kota Parepare seperti tufu, breksi, konglomerat dan lava. Luas wilayah pesisir

Luas perairan teluk Parepare adalah 2.778 Ha dengan panjang pesisir teluk Parepare 34 km, dimulai dari wilayah pesisir Kota Parepare yang berbatasan dengan Kabupaten Barru sampai dengan wilayah pesisir Ujung Lero Kecamatan Suppa. Berdasarkan ketinggian dari permukaan laut, Kota Parepare dengan 12

wilayah yang bergelombang sampai bergunung, maka 87% dari luas wilayahnya terletak pada ketinggian diatas 25 meter dpl, bahkan sampai mencapai ketinggian 500 meter dpl. Daerah dengan ketinggian 0 25 meter dpl, berada dekat dengan pesisir pantai yang merupakan pusat kegiatan dan pemukiman penduduk. . IV.2 Keadaan Umum Pelabuhan Fasilitas sarana PPI Soreang yangdibangunsangat menunjang aktifitas sebuah pangkalanpendaratan ikan seperti pembongkaran hasil tangkapan dan juga pemanfaatan untuk kegiatan mengisi bahan perbekalan untuk keperluan operasi penangkapan ikan. 1) Kapal Perikanan Kapal-kapal yang mendaratkan hasil tangkapannya di PPI Cempae menunjukkan menunjukkan besarnya skala kegiatan melaut di daerah sekitar kota Parepare. Kapal-kapal perikanan yang mendaratkan hasil tangkapannya bersal dari beberapa daerah diantaranya

Majene,Mamuju, Barru, Tuban, Batu Licin, Balikpapan serta Samarinda. Jenis kapal yang biasa sandar di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cempae untuk membongkar hasil tangkapannya biasanya kapal-kapal bermotor seperti kapal bagan perahu, kapal pengangkut dan katinting.

13

Tabel. 1 Jumlah kapal yang mendarat di PPI Cempae Kota Parepare periode tahun 2011 KEBUTUHAN ES (Balok) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 BULAN Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember JUMLAH JUMLAH KAPAL 4 7 10 8 3 3 15 20 28 72 58 33 261 Untuk Kapal 630GT 2015 3560 5150 4210 1575 1560 8210 12100 14800 37600 31200 17800 139780 Mobil Antardaerah 1800 2400 3000 2600 1200 1200 5000 2000 10500 30400 18600 9000 87700 Nelayan Lokal 200 180 170 195 160 210 215 218 221 213 235 207 2424 Asal kapal Balikpapan, Samarinda, Kota Baru, Batu Licin, Tuban, Majene, Mamuju.

2) Produksi ikan PPI Cempae Produksi perikanan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cempae menunjukkan peningkatan dan penurunan pada satu tahun terakhir ini di tunjukkan pada tabel 1. Produksi tersebut dapat ditingkatkan apabila Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cempae dapat di fungsikan dengan baik dengan didukung berbagai fasilitas yang ada. Sehingga banyak kapal-kapal dan nelayan tertarik untuk mendaratkan hasil tangkapannya di PPI Cempae. 3) Jenis Hasil Tangkapan Jenis hasil tangkapan yang di daratkan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cempae diantaranya cakalang, layang, bandeng, teri, kembung, peperek, sunglir, terbang, campuran, udang, kwe, baronang, tembang, biji nangka, cumi-cumi, ikan merah, layaran, lemadang, belanak, tuna.

14

4) Pemasaran Hasil Tangkapan Kegiatan yang tidak kalah pentingnya dan merupakan salah satu fungsi pangkalan pendaratan ikan adalah pemasaran hasil produksi, pemasaran hasil produksi secara umum meliputi berhubungan dengan penjualan dan kegiatan yang Pangkalan

pendistribusian.

pendaratan ikan menjadi tempat awal suatu kegiatan mata rantai perdagangan produksi prikanan laut baik segar maupun olahan. Sistem pelelangan yang digunakan adalah sistim terbuka, dengan cara ikan yang didaratkan di PPI langsung di masukan ke tempat pelelangan kemudian di jual kepada pedagang dan sebagian di jual ke pasar atau konsumen. Gambar 2. Mekanisme Pemasaran Produksi Perikanan di PPI Soreang.

Pengumpul/pedagang

Pasar antar daerah

Nelayan

Konsumen n Pedangan Bakul

Pasar Lokal

IV.3 Keadaan Pangkalan Pendaratan Ikan Cempae Pangkalan pendaratan ikan untuk mendukung berbagai kegiatan yang ada didalamnya harus dilengkapi berbagai fasilitas yang tersedia, agar berbagai kegiatan yang ada di PPI tersebut dapat berjalan lancar. Keberadaan fasilitas diPPI Soreang perlu diperhatikan karena hal ini dapat mempengaruhi kegiatan perikanan yang terdapat didalamnya. Pangkalan pendaratan ikan (PPI) CEMPAE, Soreang, apabila dilihat dari produksi dan jumlah armada penangkapan yang mendarat, memiliki peluang untuk dapatdikembangkan lagi. Fasilitasnya yang ada hendaknya mampu mengimbangi peningkatan produksi dan pertambahan jumlah armada

15

penangkapan.Pengadaan sarana PPI atas program bersama Dinas Perikanan Kota Parepare melalui proyek pengembangan dan pembangunan

sarana/prasarana perikanan yang dananya dari APBD dan APBN. IV.5 Fasilitas Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cempae A. Fasilitas pokok Fasilitas pokok adalah fasilitas yang diperlukan untuk kepentingan aspek keselamatan pelayaran dan juga tempat berlabuh, bertambat serta bongkar muat. Fasilitas pokok yang harus dimiliki oleh Pangkalan Pendartan Ikan (PPI) Cempae antara lain terdiri dari : Dermaga

Gambar dermaga di PPI Cempae Dermaga adalah suatu bangunan kelautan yang berfungsi sebagai tempat labuh dan bertambatnya kapal, bongkar muat hasil tangkapan dan mengisi bahan perbekalan untuk keperluan menangkap ikan di laut. Dermaga PPI Soreang tipe dermaganya yaitu tipe Paralel yaitu tegak lurus dengan arah garis pantai. Pada dermaga pangkalan pendaratan ikan Cempae yang selama ini dimanfaatkan oleh nelayan untuk menyandarkan kapalnya adalah sepanjang 80 meter. Dan hasil dari pengukuran yang dilakukan didapat panjang 100,5 m dan lebar 5,3 m.

16

Kolam pelabuhan

GambarKolam pelabuahan pangkalan pendaratan ikan Cempae Kolam pelabuhan adalah daerah perairan pelabuhan untuk masuknya kapal yang akan bersandar di dermaga. Kolam pelabuhan menurut fungsinya terbagi dua yaitu berupa: Alur pelayaran yang merupakan pintu masuk kolam pelabuhan sampai ke dermaga (navigational channels) dan Kolam putar yaitu daerah perairan untuk berputarnya kapal (turning basin). Luas kolam pelabuhan pangkalan pendaratan ikan Cempae sebesar 10.000. m2, dengan kedalaman perairan untuk kolam pelabuhannya yaitu 2,75 m. Break water/ Pemecah Gelombang.

Gambar Break water di PPI Cempae Pemecah gelombang adalah suatu struktur bangunan kelautan yang berfungsi khusus untuk melindungi pantai atau daerah di sekitar pantai terhadap pengaruh gelombang laut. Di PPI Cempae terdapat break water dengan ukuran panjang 86,5 m dan lebar 24 m.

17

B. Fasilitas Fungsional Fasilitas fungsional adalah fasilitas yang diperlukan untuk mendaya gunakan pelayanan yang menambah nilai guna segala kegiatan kerja di areal pelabuhan yang optimal dapat dicapai. Fasilitas fungsional yang dimiliki oleh Pangkalan Pendartan Ikan (PPI) Cempae antara lain terdiri dari : Tempat Pelelangan Ikan (TPI)

Gambar TPI Pangkalan Pendaratan Ikan Cempae Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yaitu pasar yang biasanya terletak di dalam pelabuhan / pangkalan pendaratan ikan, dan di tempat tersebut terjadi transaksi penjualan ikan/hasil laut baik secara lelang maupun tidak (tidak termasuk TPI yang menjual/melelang ikan darat). Tempat pendaratan ikan (TPI) digunakan untuk pendaratan ikan Pangkalan pendaratan ikan Cempae memiliki tempat pelelangan ikan seluas 200 m2, dengan daya tampung 20 m2 / Ton. Gedung pelelengan Pangkalan Pendaratan Ikan Cempae (PPI) tidak difungsikan secara maksimal, begitu pula dengan TPI yang ada di PPI tersebut tidak difungsikan, hal ini karena kurangnya kesadaran dari pengelolah tempat tersebut baik nelayan maupun masyarakat setempat.

18

Pabrik Es

Gambar Pabrik Es di PPI Cempae Pabrik es di ppi cempae di operasikan menggunakan mesin bantu, sebagai berikut :

Pada pabrik es di PPI CEMPAE proses pembuatannya dengan cara mencetak air bersih dengan bentu cetakan persegi panjang, seperti gambar berikut :

19

SPBU

Gambar SPBU di PPI Cempae SPBU di PPI CEMPAE untuk sekarang ini tidak digunakan, hal ini disebabkan karena terjadinya keslah pahaman antara masyarakat dn pemilik SPBU. Bengkel Fasilitas bengkel yang diperuntukkan untuk para nelayan di PPI CEMPAE hingga saat ini belum di fungsikan, hal ini disebabkan karena kurangnya dana yang disediakan. C. FASILITAS PENUNJANG Fasilitas penunjang adalah fasilitas yang secara tidak langsung meningkatkan peranan pelabuhan perikanan atau para pelaku

mendapatkan kenyamanan melakukan aktifitas di pelabuhan.. Fasilitas penunjang yang dimiliki oleh Pangkalan Pendartan Ikan (PPI) Cempae antara lain terdiri dari : Toilet/MCK

20

Toilet yang ada di Pangkalan Pendaratan Ikan Cempae keadaannya baik dengan ukuran 2x3 m dengan jumlah 8 unit. Fasilatas WC yang ada di PPI CEMPAE tidak semua digunakan, hanya ada dua WC yang digunakan.Dengan adanya fasilitas ini sangat membantu para nelayan. Musollah

Musollah yang ada di Pangkalan Pendaratan Ikan Cempae keadaannya baik, walaupun tidak terlalu besar dengan ukuran, lebar 7,70 m dan

panjang 6,30 m. Dengan adanya fasilitas mushollah di PPI CEMPAE Sangat membantu para nelayan muslim yang akan menjalankan ibadah shalat. Kantin

Terdapat beberapa kantin di PPI Cempae yang berfungsi untuk membantu para nelayan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Selain itu dengan adanya kantin, membantu perekonomian masyarakat di sekitar PPi CEMPAE yang berprofesi sebagai penjual. 21

Fasilitas Non Fisik Fasilitas non fisik adalah segala sesuatu yang bersifat mempermudah dan memperlancar kegiatan sebagai akibat bekerjanya suatu tata nilai non fisik misalnya uang, waktu, kepercayaan dan sebagainya. Denah Lokasi Pangkalan Pendaratan Ikan Cempae Parepare

Keterangan gambar: 1. Pos jaga 2. Kios/toko 3. Aula/gedung pertemuan nelayan 4. Musholla 5. Parkiran 6. SPBU 7. Lose penjualan 8. TPI 9. MCK 10. Pasar/penjual bekal melaut nelayan 11. Gudang 12. Pabrik es 13. Rumah genset 14. Menara air 15. Ruang bengkel 16. Kantor Pengolah PPI 17. Parkiran kantor 18. Koperasi 19. Kantor TPI 20. Penjemuran ikan

22

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil pengamatan saya meneganai PPI CEMPAE dapat disimpulkan bahwa PPI CEMPAE sudah masuk dalam kategori baik, dimana mempunyai fasilitas fasilitas yang dapat menunjang kelncaran proses pendaratan ikan. Namun disini masih banyak fasilitas-fasiltas yang belum digunakan sebagaimana mestinya, seperti : fasilitas penangan dan pengolahan, bagkel nelayan, cold storage ( gudang penyimpanan ) dan juga SPBU. B. Saran 1. Untuk praktek Saran sya mengenai proses paraktek lapang, seharusnya mengikuti jadwal yang telah ditentukan sebelumnya, sehingga tidak terjadi kesimpang siura antra jadwal praktek yang lain, sehingga praktikan akan lebih terstruktur dalam mendata hasil penelitian. 2. Untuk PPI CEMPAE Saran saya untuk PPI CEMPAE adalah sebaiknya para nelayan menggunakan fasilitas yang telah di sediakan,sehingga proses pendaratan ikan akan berjalan lebih baik. 3. Untuk asisten Sebaiknya selama proses pendataan dilakukan asisten

mendmpingi dan memberikan arahan kepada praktikan,agar tida terjadi kesalahn yang tidak diinginkan.

23

DAFTAR PUSTAKA

http://www.kmb-sulsel.net/index.php?option=com_content&view=article&id=385 http://chulay.wordpress.com/2010/11/01/profil-pelabuhan-perikanan-indonesia/ http://andhikaprima.wordpress.com/2009/09/15/profil-pelabuhan-perikananindonesia/ http://www.google.co.id/#hl=id&sclient=psyab&q=ppi+cempae+pare+pare&oq=ppi+cempae+pare+pare&aq=f&aqi=&aql=1& gs_l=hp.3...125981.134704.8.135265.48.23.0.0.0. penelitian langsung di PPI CEMPAE.

24

LAPORAN

PANGKALAN PENDARATAN IKAN ( PPI ) CEMPAE KABUPATEN PARE PARE

NURUL AWALYAH RUSTAN L231 10 257 PSP

PEMANFAATAN SUMBERDYA PERIKANAN JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS ILMU KELUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

25

KATA PENGANTAR Pembuatan laporan ini merupakan pertanggung jawaban dari hasil paraktek lapang yang telah dilewati dengan mata kuliah hasil hasil perikanan. syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga sya dapat menyelesaikan laporan ini tetap waktu. Namun demikian, saya menyadari ada banyak kekuranagan didalam laporan ini. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati penulis memohon kritikan yang bersifat membangun untuk perbaikan dimsa yang akan datang. Atas perhatiannya penulis mengucapkan banyak terima kasih. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya bagi penulis.

Makassar ,

Mei 2012

Penulis

i 26

DAFTAR ISI

Hal KATA PENGANTAR................................................................................................i DAFTAR ISI............................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................1 I.1 Latar Belakang......................................................................................1 I.2 Tujuan dan Kegunaan...........................................................................2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................3 II.1. Definisi dan Fungsi Pelabuhan Perikanan ..3 II.2 Klasifikasi Pelabuhan Perikanan5 II.3 Fasilitas Pelabuhan..7 II.4 Pengelolaan Pelabuhan..9 II.5 Pemasaran ...9 II.6 Peranan Pelabuhan Perikanan10 BAB III METODE PENGAMBILAN DATA............................................................13 III.1 Waktu dan Tempat...........................................................................13 III.2 Metode Pelaksanaan .......................................................................13 BAB IV HASIL DAN PEMAHASAN .12 IV.1. Keadaan Umum Pengkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cempae12 VI.2. Keadaan Umum Pelabuhan.13

ii 27

VI.3. Keadaan Pangkalan Pendaratan Ikan Cempae...15 BAB V PENUTUP...23 A. Kesimpulan.23 B. Saran ..23 DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................24

iii 28