Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH FISIKA LINGKUNGAN II ENERGI BIOMASSA

Oleh: Risalatul Latifah Efi Narulita KP Kuni Nadliroh Sukri Arjuna (0710930001) (0710930016) (0710930043) (0810930058)

Ika Ayu Ardhani(0710930029)

JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menipisnya cadangan bahan bakar fosil dan meningkatnya populasi manusia sangat kontradiktif dengan kebutuhan energi bagi kelangsungan hidup manusia beserta aktivitas ekonomi dan sosialnya.. Sebagaimana kita ketahui, bahan bakar fosil merupakan sumber daya alam yang tidak terbarukan yang cepat atau lambat akan habis. Dan jika hal ini terus dibiarkan dan tidak ada pemikiran tentang energi alternatif lain, maka dunia akan mengalami krisis energi. Untuk itu, diperlukan suatu pemikiran tentang energi alternatif yang teorientasi pada energi terbarukan, salah satu diantaranya yaitu biomassa. Dalam tempo 15 tahun mendatang persediaan minyak mentah Indonesia akan habis bila tidak ada penemuan ladang minyak baru. Selain minyak mentah, persediaan Gas Alam Indonesia juga akan habis dalam waktu 60 tahun ke depan sementara sumber daya batu bara masih mencukupi untuk kurun waktu 150 tahun mendatang. Untuk mengurangi kemungkinan terburuk dampak pemakaian bahan bakar fosil, maka pengembangan sumber energi terbarukan menjadi salah satu alternatif pengganti bahan bakar fosil. Salah satu energi terbarukan adalah biomassa. Dalam industri produksi energi, biomassa merujuk pada bahan biologis yang hidup atau baru mati yang dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar atau untuk produksi industri. Biomassa memberikan kontribusi sebesar 15% dari sumber energi dunia. Mengingat Indonesia berada dalam daerah tropis yang kaya akan sumber energi ini, harusnya menjadi sebuah jalan yang tepat dalam penanganan alternatif energi tak terbarukan . 1.2 Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk memaparkan informasi tentang biomassa, potensi biomassa yang dimiliki Indonesia, proses pengolahan biomassa, produk dan dampak dari penggunaan biomassa.

BAB II BAHASAN MATERI 2.1 Biomassa dan Potensinya di Indonesia Biomassa adalah segala bahan biotik yang dapat digunakan menjadi sumber energi. Dikatakan merupakan bahan biotik disini karena sebagian besar komposisinya mengandung atom karbon, hidrogen, oksigen maupun nitrogen dan dihasilkan oleh proses biologis, misalnya hasil pertanian, perkebunan, sampah organik, limbah cair pembuatan tahu, limbah padat dan cair penggilingan tebu, feses hewan ternak dan sebagainya. Energi yang terdapat dalam biomassa berasal dari sinar matahari selama proses fotosintesis Energi yang tersimpan dalam biomassa dapat digunakan secara langsung dan dapat juga diubah menjadi bentuk cair atau gas. Tetapi, terkadang definisi biomassa di beberapa referensi ilmiah lainnya menyebutkan bahwa biomassa merupakan
energi terbarukan dalam bentuk energi padat yang berasal dari bagian tumbuhan berlignoselulosa baik yang langsung digunakan atau diproses terlebih dahulu.

Sebenarnya, biomassa tidak selalu digunakan sebagai material penghasil energi, namun biomassa juga dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan baku antara (intermediate) yang nantinya diubah menjadi material industri. Kita mengenal plastik merupakan hasil proses polimerisasi senyawa hidrokarbon dari minyak dan gas bumi. Gas methan, methanol dan ethanol yang dihasilkan dari biomassa juga dapat diubah menjadi plastik melalui berbagai macam proses kimiawi (polimerisasi). Surfaktan untuk deterjen atau pelumas bisa dihasilkan dari minyak kelapa. Chitosan yang diekstrak dari limbah perikanan bisa diubah menjadi polimer yang dapat dimakan (edible polymer) atau bahkan sebagai polimer untuk memisahkan berbagai macam gas. Biomassa yang juga merupakan sumber bahan pangan pokok (feedstock), misalnya tepung jagung, bisa diubah menjadi material bernilai tambah (added value material) menjadi senyawa aditif dalam teknologi pangan, misalnya sorbitol (salah satu jenis gula diet). Lebih jauh lagi, limbah padat misalnya tandan kelapa sawit, ampas penggilingan tebu, atau serat enceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai bahan

baku pembuatan bahan bangunan (multipleks, panel, atau komposit seratplastik). Sampah pangan dan produk pertanian bisa langsung dimanfaatkan sebagai material pembuatan kompos untuk pertanian organik, sebuah cara bercocok tani yang tidak menggunakan zat penyubur dan pembasmi hama sintetis. Dari segala macam contoh sederhana di atas dengan sudut pandang pengembangan teknologi berwawasan ramah lingkungan, yang paling menarik dan menggugah minat industri besar adalah mengubah biomassa menjadi material sumber energi dan senyawa kimia antara. Sedangkan mengubah biomassa menjadi aditif bahan pangan, material pendukung pertanian atau material rumah tangga tampaknya lebih sesuai.bagi kalangan industri kecil dan menengah. Potensi Biomassa di Indonesia Indonesia yang merupakan negara agraris dan beriklim tropis tentunya mempunyai potensi energi biomassa yang besar. Pemanfaatan energi biomassa sudah sejak lama dilakukan dan termasuk energi tertua yang peranannya sangat besar khususnya di pedesaan. Diperkirakan kira-kira 35% dari total konsumsi energi nasional berasal dari biomassa. Energi yang dihasilkan telah digunakan untuk berbagai tujuan antara lain untuk kebutuhan rumah tangga (memasak dan industri rumah tangga), pengering hasil pertanian dan industri kayu, pembangkit listrik pada industri kayu dan gula. Berdasarkan Statistik Energi Indonesia, disebutkan bahwa potensi energi biomassa di Indonesia cukup besar mencapai 434.008 GWh. Beberapa jenis limbah biomassa memiliki potensi yang cukup besar seperti limbah kayu, sekam padi, jerami, ampas tebu, cangkang sawit, dan sampah kota. Menurut hasil riset Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Indonesia memiliki banyak jenis tanaman yang berpotensi menjadi produksi energi bahan bakar alternatif ini, antara lain :

Jenis Tumbuhan

Produksi Minyak (Liter per Ha)

Ekivalen Energi (kWh per Ha) 33.900-37.700 19.800-26.400 17.000-25.500 16.000 11.300-18.900 6.600

Elaeis guineensis (kelapa sawit) Jatropha curcas (jarak pagar) Aleurites fordii (biji kemiri) Saccharum officinarum (tebu) Ricinus communis (jarak kepyar) Manihot esculenta (ubi kayu)

3.600-4.000 2.100-2.800 1.800-2.700 2.450 1.200-2.000 1.020

Gambar sebaran potensi biomassa di Indonesia 2.2 Teknologi Konversi Biomassa

Ide dasar yang dapat dipahami dengan mudah kenapa suatu materi biotik bisa mengandung suatu energi yaitu makanan yang kita makan merupakan sumber energi untuk aktivitas yang kita lakukan. Sebenarnya, penggunaan biomassa untuk menghasilkan panas secara sederhana telah dilakukan oleh nenek moyang kita beberapa abad yang lalu. Penerapannya masih sangat sederhana, biomassa langsung dibakar dan menghasilkan panas. Membakar biomassa secara langsung bukan salah satu cara terbaik menghasilkan energi panas karena dampak langsung yang dihasilkan dari pembakaran biomassa tidak baik untuk lingkungan dan efisiensi energi yang dihasilkan tidaklah demikian besar. Di zaman modern sekarang ini panas hasil pembakaran akan dikonversi menjadi energi listrik melali turbin dan generator. Panas hasil pembakaran biomassa akan menghasilkan uap dalam boiler. Uap akan ditransfer kedalam turbin sehingga akan menghasilkan putaran dan menggerakan generator. Putaran dari turbin dikonversi menjadi energi listrik melalui magnet magnet dalam generator. Pembakaran langsung terhadap biomassa memiliki kelemahan, sehingga pada penerapan saat ini mulai menerapkan beberapa teknologi untuk meningkatkan manfaat biomassa sebagai bahan bakar. Beberapa penerapan teknologi konversi yaitu :

Densifikasi Densifikasi merupakan proses peningkatan densitas dari biomassa. Praktek yang mudah untuk meningkatkan manfaat biomassa adalah membentuk menjadi briket atau pellet. Briket atau pellet akan memudahkan dalam penanganan biomassa. Secara umum densifikasi (pembentukan briket atau pellet) mempunyai beberapa keuntungan yaitu : menaikan nilai kalor per unit volume, mudah disimpan dan diangkut, mempunyai ukuran dan kualitas yang seragam. Jika dilakukan komparasi antara energi yang dihasilkan oleh biomassa dan batubara, Biomassa mempunyai energi kira-kira 1/3 energi batubara per unit massa dan 1/4 energi batubara per unit volume. Densifikasi dapat mengubahnya

menjadi masing-masing 2/3 dan . . Secara umum teknologi pembriketan dapat dibagi menjadi tiga : - Pembriketan tekanan tinggi. - Pembriketan tekanan medium dengan pemanas. - Pembriketan tekanan rendah dengan bahan pengikat (binder). Beberapa jenis bahan dapat digunakan sebagai pengikat diantaranya amilum/tepung kanji, tetes, dan aspal. Karakteristik pembriketan dievaluasi diantaranya dengan melihat durabilitas, kekuatan mekanis, dan perilaku relaksasi.

Karbonisasi Karbonisasi merupakan suatu proses untuk mengkonversi bahan orgranik menjadi arang . Pada proses karbonisasi akan melepaskan zat yang mudah terbakar seperti CO, CH4, H2, formaldehid, methana, formik dan acetil acid serta zat yang tidak terbakar seperti seperti CO2, H2O dan tar cair. Gas-gas yang dilepaskan pada proses ini mempunyai nilai kalor yang tinggi dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan kalor pada proses karbonisasi.

Pirolisis Pirolisis atau bisa di sebut thermolisis adalah proses dekomposisi kimia

dengan menggunakan pemanasan tanpa kehadiran oksigen. Proses ini sebenarnya bagian dari proses karbonisasi yaitu roses untuk memperoleh karbon atau arang, tetapi sebagian menyebut pada proses pirolisis merupakan high temperature carbonization (HTC), lebih dari 500 oC. Proses pirolisis menghasilkan produk berupa bahan bakar padat yaitu karbon, cairan berupa campuran tar dan beberapa zat lainnya. Produk lain adalah gas berupa karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan beberapa gas yang memiliki kandungan kecil.

Gambar skema proses pirolisis Gambar diatas menelaskan tentag skema proses pengolahan biomassa dengan pirolisis. Bahan baku yang digunakan merupakan limbah kota. Limbah kota ini dimasukkan di tempat A dan dipotong hingga mencapai ukuran kecil. Kemudian bahan baku dibawa ke tempat B untuk dikeringkan. Di tempat C dilakukan pemisahan, semua bahan organik seperti potongan-potongan logam disisihkan, sedangkan material lainnya merupakan bahan organik dibawa ke tempat D untuk digiling halus. Bejana E merupakan reaktor pirolisa, jika suhu reaktor dinaikkan, komponen gas menjadi lebih besar. Di tempat F hasil-hasil pirolisa berupa gas, minyak dan arang dipisahkan.

Anaerobic digestion Proses anaerobic digestion yaitu proses dengan melibatkan

mikroorganisme tanpa kehadiran oksigen dalam suatu digester. Proses ini menghasilkan gas produk berupa metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) serta beberapa gas yang jumlahnya kecil, seperti H2, N2, dan H2S. Alur proses anaerobic digestion adalah berikut : material yang terkumpul dalam digester

(reactor) akan diuraikan menjadi dua tahap dengan bantuan dua jenis bakteri. Tahap pertama material organik akan didegradasi menjadi asam-asam lemah dengan bantuan bakteri pembentuk asam. Bakteri ini kan menguraikan sampah pada tingkat hidrolisis dan asidifikasi. Hidrolisis adalah proses penguraian senyawa kompleks atau senyawa rantai panjang seperti lemak, protein, karbohidrat manjadi senyawa yang sederhana. Sedangkan asidifikasi yaitu pembentukan asam dari senyawa seederhana. Setelah material organik berubah menjadi asam, maka tahap kedua dari proses anaerobic digestion adalah pembentukan gas metana dengan bantuan bakteri pembentuk metana, seperti methanococus, methanosarcina, Methano bacterium. Gas metana inilah yang dapat dikonversi menjadi energi listrik melalui turbin gas. Perkembangan proses anaerobic digestion telah berhasil pada banyak aplikasi. Proses ini memiliki kemampuan untuk mengolah sampah/limbah yang keberadaanya melimpah dan tidak bermanfaat menjadi produk yang lebih bernikai. Aplikasi proses ini telah berhasil pada pengolahan limbah industry, limbah pertanian, limbah peternakan dan Municipal Solid Waste (MSW). Proses ini bisa diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu anaerobic digestion kering dan basah. Perbedaan dari kedua proses anaerobik ini adalah kandungan biomassa dalam campuran air. pada anaerobik kering memiliki kandungan biomassa 25 30 % sedangkan untuk jenis basah memiliki kandungan biomassa kurang dari 15 % .

Gasifikasi Gasifikasi adalah suatu proses konversi untuk merubah material baik

cair maupun pada menjadi bahan bakar cair dengan menggunakan temperatur tinggi. Proses gasifikasi menghasilkan produk bahan bakar cair yang bersih dan efisien daripada pembakaran secara langsung, yaitu hidrogen dan karbon monoksida. Gas hasil dapat di bakar secara langsung pada internal combustion engine atau eaktor pembakaran. Melalui proses Fische-Tropsch gas hasil gasifikasi dapat di ekstak menjadi metanol.

Gambar Skema instalasi gas biomassa Gambar di atas menunjukkan alur proses dari gasifikasi. Di tempat A bahan organik yang dipotong-potong kecil dicampur dengan air dan dipompa ke tempat tangki pencernaan B. tingkat kecepatan Di tangki ini terjadi proses pencernaan. Tingkat kecepatan pencernaan akan tergantung dari suhu. Gas yang dihasilkan akan dikeluarkan dari kran. Endapan yang terjadi dalam tangki pencernaan yang mempunyai bentuk yang sangat padat dikeluarkan melalui kran D untuk dikeluarkan dan dimanfaatkan untuk keperluan lain. Dari kola mini cairan kental dialirkan kembali ke tangki pencernaan, sedang cairan yang encer dimanfaatkan kembali untuk dicampur dengan masukan bahan organik baru. Co-firing Co-firing merupakan proses pembakaran langsung dengan

mengkombinasikan bahan bakar antara batubara dengan biomassa untuk menghasilkan energi. Cara ini dilakukan untuk menurunkan emisi yang dikeluarkan oleh batubara. Selain menurunkan emisi, kombinasi antara batubara dan biomassa seperti penelitian yang dilakukan oleh National Energy Laboratory (NREL) menunjukkan bahwa kombinasi ini dapat meningkatkan efisiensi turbin hingga 33% - 37%. Beberapa keuntungan yang dihasilkan dari

kombinasi batubara dan biomassa yaitu : menurunkan sulfur dioksida yang dapat menyebabkan hujan asam, kabut dan polusi ozon. Di samping itu karbon dioksida yang dilepaaskan dari hasil pembakaran akan menurun. 2.3 Pemanfaatan Biomassa Dari beberapa proses konversi biomassa, didapatkan beberapa produk hasil yang diantaranya : 2.3.1 Bricket Bricket merupakan produk yang dihasilkan dari proses densifikasi.

Gambar bricket 2.3.2 Biodiesel Biodiesel merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak diesel atau solar. Keuanggulan biodiesel diantaranya : 1. Angka Cetane tinggi (>50), yakni angka yang menunjukan ukuran baik tidaknya kualitas Solar berdasarkan sifaf kecepatan bakar dalm ruang bakar mesin. Semakin tinggi bilangan Cetane, semakin cepat pembakaran semakin baik efisiensi termodinamisnya. 2. Titik kilat (flash point) tinggi, yakni temperatur terendah yang dapat menyebabkan uap Biodiesel menyala, sehingga Biodiesel lebih aman dari bahaya kebakaran pada saat disimpan maupun pada saat didistribusikan dari pada solar. 3. Tidak mengandung sulfur dan benzene yang mempunyai sifat karsinogen, serta dapat diuraikan secara alami 4. Menambah pelumasan mesin yang lebih baik daripada solar sehingga akan memperpanjang umur pemakaian mesin 5. Dapat dengan mudah dicampur dengan biasa dalam berbagai komposisi dan tidak memerlukan modifikasi mesin apapun

6. Mengurangi asap hitam dari gas asap buang solar 7. Mesin diesel secara signifikan walaupun penambahan hanya 5% - 10% volume biodiesel kedalam solar Biodiesel membutuhkan bahan baku minyak nabati yang dapat dihasilkan dari tanaman yang mengandung asam lemak seperti kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), jarak pagar (Crude Jatropha Oil/CJO), kelapa (Crude Coconut Oil/CCO), sirsak, srikaya, kapuk, dll. Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel. Kelapa sawit merupakan salah satu sumber bahan baku minyak nabati yang prospektif dikembangkan sebagai bahan baku biodiesel di Indonesia, mengingat produksi CPO Indonesia cukup besar dan meningkat tiap tahunnya. Tanaman jarak pagar juga prospektif sebagai bahan baku biodiesel mengingat tanaman ini dapat tumbuh di lahan kritis dan karakteristik minyaknya yang sesuai untuk biodiesel. Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian, total kebutuhan biodiesel saat ini mencapai 4,12 juta kiloliter per tahun. Sementara kemampuan produksi biodiesel pada tahun 2006 baru 110 ribu kiloliter per tahun. Pada tahun 2007 kemampuan produksi diperkirakan mencapai 200 ribu kiloliter per tahun. Produsen-produsen lain merencanakan juga akan beroperasi pada 2008 sehingga kapasitas produksi akan mencapai sekitar 400 ribu kiloliter per tahun. Cetak biru (blueprint) Pengelolaan Energi Nasional mentargetkan produksi biodiesel sebesar 0,72 juta kiloliter pada tahun 2010 untuk menggantikan 2% konsumsi solar yang membutuhkan 200 ribu hektar kebun sawit dan 25 unit pengolahan berkapasitas 30 ribu ton per tahun dengan nilai investasi sebesar Rp. 1,32 triliun; hingga menjadi sebesar 4,7 juta kiloliter pada tahun 2025 untuk mengganti 5% konsumsi solar yang membutuhkan 1,34 juta hektar kebun sawit dan 45 unit pengolahan berkapasitas 100 ribu ton per tahun dengan investasi mencapai Rp. 9 triliun. 2.3.3 Biogas Potensi kotoran sapi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan biogas sebenarnya cukup besar, namun belum banyak dimanfaatkan. Bahkan selama ini telah menimbulkan masalah pencemaran dan kesehatan lingkungan. Umumnya

para peternak membuang kotoran sapi tersebut ke sungai atau langsung menjualnya ke pengepul dengan harga sangat murah. Padahal dari kotoran sapi saja dapat diperoleh produk-produk sampingan (by-product) yang cukup banyak. Sebagai contoh pupuk organik cair yang diperoleh dari urine mengandung auksin cukup tinggi sehingga baik untuk pupuk sumber zat tumbuh. Serum darah sapi dari tempat-tempat pemotongan hewan dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman, selain itu dari limbah jeroan sapi dapat juga dihasilkan aktivator sebagai alternatif sumber dekomposer. Biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik dengan bantuan bakteri anaerob pada lingkungan tanpa oksigen bebas. Energi gas bio didominasi gas metan (60% - 70%), karbondioksida (40% - 30%) dan beberapa gas lain dalam jumlah lebih kecil. Gas metan termasuk gas rumah kaca (greenhouse gas), bersama dengan gas karbon dioksida (CO2) memberikan efek rumah kaca yang menyebabkan terjadinya fenomena pemanasan global. Pengurangan gas metan secara lokal ini dapat berperan positif dalam upaya penyelesaian permasalahan global. Pada prinsipnya, pembuatan gas bio sangat sederhana, hanya dengan memasukkan substrat (kotoran ternak) ke dalam digester yang anaerob. Dalam waktu tertentu gas bio akan terbentuk yang selanjutnya dapat digunakan sebagai sumber energi, misalnya untuk kompor gas atau listrik. Penggunaan biodigester dapat membantu pengembangan sistem pertanian dengan mendaur ulang kotoran ternak untuk memproduksi gas bio dan diperoleh hasil samping (by-product) berupa pupuk organik. Selain itu, dengan pemanfaatan biodigester dapat mengurangi emisi gas metan (CH4) yang dihasilkan pada dekomposisi bahan organik yang diproduksi dari sektor pertanian dan peternakan, karena kotoran sapi tidak dibiarkan terdekomposisi secara terbuka melainkan difermentasi menjadi energi gas bio. 2.3.4 Bioetanol Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioetanol merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak premium. Untuk pengganti premium, terdapat alternatif gasohol yang

merupakan campuran antara bensin dan bioetanol. Adapun manfaat pemakaian gasohol di Indonesia yaitu : memperbesar basis sumber daya bahan bakar cair, mengurangi impor BBM, menguatkan security of supply bahan bakar, meningkatkan kesempatan kerja, berpotensi mengurangi ketimpangan pendapatan antar individu dan antar daerah, meningkatkan kemampuan nasional dalam teknologi pertanian dan industri, mengurangi kecenderungan pemanasan global dan pencemaran udara (bahan bakar ramah lingkungan) dan berpotensi mendorong ekspor komoditi baru. Untuk pengembangan bioetanol diperlukan bahan baku diantaranya :

Nira bergula (sukrosa): nira tebu, nira nipah, nira sorgum manis, nira Bahan berpati : tepung-tepung sorgum biji, jagung, cantel, sagu, singkong/ Bahan berselulosa (lignoselulosa):kayu, jerami, batang pisang, bagas, dll. Adapun konversi biomasa sebagian tanaman tersebut menjadi bioethanol

kelapa, nira aren, nira siwalan, sari-buah mete

gaplek, ubi jalar, ganyong, garut, suweg, umbi dahlia.

seperti pada tabel dibawah ini. Tabel Konversi biomasa menjadi bioethanol

Biomasa (kg)

Kandungan gula (Kg)

Jumlah hasil bioethanol (Liter) 166,6 125 400 90 250

Biomasa : Bioethanol 6,5 : 1 8:1 2,5 : 1 12 : 1 4:1

Ubi kayu 1.000 Ubi jalar 1.000 Jagung 1.000 Sagu 1.000 Tetes 1.000

250-300 150-200 600-700 120-160 500

2.4 Dampak Biomassa Penggunaan biomassa akan menimbulkan dampak-dampak berikut : 2.4.1 Dampak Positif

Keuntungan dari energi biomassa bila dibandingkan dengan energi terbaharukan sangat besar karena proses konversi menjadi energi listrik memiliki investasi yang lebih murah bila di bandingkan dengan jenis sumber energi terbaharukan lainnya. Hal inilah yang menjadi kelebihan biomassa dibandingkan dengan energi lainnya. Proses energi biomassa sendiri memanfaatkan energi matahari untuk merubah energi panas menjadi karbohidrat melalui proses fotosintesis yang selanjutnya diubah kembali menjadi energi panas. Selain itu biomassa juga mampu menekan efek pencemaran seperti: Mengurangi gas rumah kaca Salah satu gas rumah kaca adalah CO2, bertambahnya konsentrasi CO2 akan mengakibatkan peningktan pemanasan global. Pengolahan biomassa akan menghasilkan sutu siklus CO2 tertutup.

Tanaman atau biomassa akan mengurangi konsentrasi karbondioksida dari atmosfer melalui proses fotositesis. Karbon dioksida (CO2) yang diserap untuk tumbuh dan berkembang. Ketika biomassa dibakar, karbon (C) akan diubah kedalam bentuk karbon dioksida dan kembali ke atmosfer. Proses ini berlansung secara terus menerus sehingga jumlah konsentrasi karbon dioksida di atmosfer akan selalu seimbang bila sejumlah biomassa menyerap sejumlah karbon dioksida yang seimbang.

Selain gas CO2, gas Metana (CH4) merupakan salah satu gas rumah kaca, gas ini bias berasal dari sampah dan limbah biotic dan abiotik. Dengan pengolahan biomassa, gas metana akan dimanfaatkan menjadi energi alternatif, sehingga tidak terbuang langsung ke lingkungan dan mencemari. Mengurangi limbah organik Sampah organik seperti sampah pertanian, limbah pengolahan biodiesel (cangkang biji jarak pagar, cangkang sawit), sampah kota ataupun limbah kayu, ranting dan pengolahan kayu (sawdust) merupakan limbah yang keberadaanya kurang bermanfaat. Tetapi, samaph-sampah tersebut dapat diolah menjadi briket yang bias digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang lebih efisien. Melindungi kebersihan air dan tanah Penggunaan pupuk ternak dapat menimbulkan dampak buruk terhadap kebersihan air dan tanah. Mikroorgranisme seperti salmonella, brucella dan coli didalam pupuk menyebabkan penularan kepada manusia dan binatang. Salah satu proses pengolahan sampah ini adalah proses anaerobic digestion, yaitu dengan penimbunan pupuk kandang ataupun biomassa lainnya dalam suatu digester. Anaerobic digestion akan menghasilkan metana (CH4) yang telah terbebas oleh mikroorgranisme. Mengurangi polusi udara Limbah pertanian biasanya langsung dibakar setelah masa panen. Hal ini akan menyebabkan partikel-partikel atau jelaga dan polusi udara. Limbah ini dapat di konversikan menjadi bahan bakar yang lebih bermanfaat sehingga mengurangi jelaga dan polusi udara. Pembakaran biomass di dalam ruang bakar menggunakan boiler mengurangi efek polusi asap karena pembakaran dalam industri menggunakan peralatan kendali polusi untuk mengendalikan asap, sehingga lebih efisien dan bersih daripada pembakaran langsung.

Mengurangi hujan asam dan kabut asap Melalui pembakaran biomassa efek hujan asam ini akan direduksi, dikarenakan pembakaran biomassa akan menghasilkan partikel emisi SO2 dan NOx yang lebih sedikit dibandingkan dengan pembakaran bahan baker fosil. Pebakaran biomasa lebih efisien dan sempurna bila diproses melalui karbonisasi karena akan menghasilkan bahan bakar yang terbebas dari volatile matter atau gas mudah terbakar. 2.4.2 Dampak Negatif Jika dilakukan produksi biomassa secara besar-besaran dan tidak dilandaskan pada suatu perhitungan, maka hal yang kontradiktif akan terjadi. Biomassa yang semula ingin dijadikan sebagai solusi alternatif untuk menyelamatkan bumi, justru akan menjadi salah satu faktor pemicu kerusakan bumi. Produksi secara besar-besaran biomassa yang berasal dari tumbuhan akan mengakibatkan penebangan merajalela, dan jika hal ini terjadi, maka tidak akan adanya lagi siklus CO2 tertutup, ini akan terkait dengan produksi tanaman standar biomassa. Dampak lainnya yaitu, pemakaian biomassa di bidang industtri akan bisa mengakibatkan polusi udara, yang terkait dengan batu muta kualitas udara. 2.4.3 Kajian Dampak Dari dampak positif dan dampak negatif pengadaan biomassa di atas, akan dikaji menurut suatu sistem yang dikenal dengan AMDAL. Kajian andal akan dipengaruhi oleh dokumen AMDAL yang dibuat oleh pemrakarsa, dalam hal ini badan atau pihak yang melakukan pengadaaan biomassa. Dokumen-dokumen yang diajukan antara lain : KA-ANDAL : berisi tentang batasan tentang kajian ANDAL.

ANDAL : berisi kajian tentang dampak yang mungkin terjadi jika

kegiatan itu dilaksanakan. Dokumen ini bisa berisi tentang dampak positif dan negatif yang sudah dibahas di bahasan sebelumnya. terjadi : RKL ini bisa berisi sebagi berikut : Baku mutu udara sebagai penanganan masalah lingkungan akan mengacu pada kaidah yang tertuang daam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup NOMOR 07 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI KETEL UAP. Untuk mencegah siklus terbuka CO2 yang mana terjadi akibat kurangnya tumbuhan yang menyerap CO2, maka sesuai kebijakan peraturan Menteri Lingkunagn hidup, bahan biomassa untuk jenis pohon, dan harus menebang maka jenis pohon itu memiliki kriteria tertentu, misalnya tumbuhan yang pertumbannya tinggi. RKL : berisi tentang solusi untuk menanggulangi dampak yang

BAB III SIMPULAN

Biomassa adalah segala bahan biotik yang dapat digunakan menjadi sumber energi seperti kelapa sawit, jarak pagar, biji kemiri, tebu, ubi kayu dan sebagainya. Biomassa dapat dihasilkan melalui proses densifikasi (pembuatan briket atau pellet), karbonisasi (pembuatan arang), pirolisis (untuk pembuatan bahan bakar padat), anaerobic digestion, gasifikasi dan Co-firing. Biomassa dapat dimanfaatkan sebagai bricket, biodiesel, biogas dan bioetanol. Keuntungan dari energi biomassa yaitu mampu menekan efek pencemaran seperti: .Mengurangi gas rumah kaca: Karbondioksida (CO2), Metana (CH4) , mengurangi limbah organik, melindungi kebersihan air dan tanah, mengurangi polusi udara, mengurangi hujan asam dan kabut asap. Jika tidak Selain dampak positif, pemanfaatan energi biomassa juga mempunyai dampak negatif yaitu dapat menimbulkan kerusakan pada alam akibat penebangan hutan dan juga pemakaiannya yang dapat menimbulkan pencemaran udara. Dampak-dampak diatas dikaji sehingga ditemukan suatu solusi mengenai dampak yang ditimbulkan.

DAFTAR PUSTAKA http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/dasar_fisika_energi/bab8_energi_bioma ssa.pdf http://www.dw-world.de/dw/article/0,,3057079,00.html http://www.ipard.com/art_perkebun/apr11-05_isr+edw.asp http://netsains.com/2008/03/energi-alternatif-itu-bernama-biomassa/ http://ulasingkat.blogspot.com/2009/03/ulas-energi-biomassa-sebagai-sumber.html http://mendem.dagdigdug.com/2008/11/23/pemanfaatan-energi-biomassa-sebagaibiofuel-konsep-sinergi-dengan-ketahanan-pangan/ http://alkarami.wordpress.com/2007/05/16/biomassa-energi-masa-depan/ http://p3m.amikom.ac.id/p3m/74%20-%20PEMBAKARAN%20BRIKET %20BIOMASSA%20CANGKANG%20KAKAO%20-%20PENGARUH %20TEMPERATUR%20UDARA%20PREHEAT.pdf http://soil.faperta.ugm.ac.id/jitl/6.1%2047-51%20siradz.pdf