.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

peluang (opportunities) dan ancaman (threat) yang dapat terjadi dalam usaha peternakan ayam ras petelur tersebut. sebagai berikut. 1. Beberapa faktor yang menjadi kekuatan pengembangan usaha ternak ayam ras petelur. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengidentifikasi kekuatan (strength).Analisis Strategi (Analisis SWOT) Analisis strategis dilakukan untuk mengetahui strategi yang akan dipakai oleh praktisi usaha peternakan ayam ras petelur ini. Lingkungan internal terdiri atas faktor kekuatan dan kelemahan. Sistem agribisnis peternakan yang sudah mantap. tetapi juga adanya industri hulu sebagai penyedia sarana produksi. Dengan demikian . kelemahan (weakness). artinya usaha peternakan tidak hanya berada pada tingkat budidaya. Kekuatan (Strength) Dua lingkungan yang dihadapi oleh perusahaan mencakup lingkungan internal dan lingkungan eksternal.

5. karena dalam WTO diterapkan persyaratan yang ketat dalam hal kesehatan terhadap konsumen. Hal ini perlu . Ancaman (Threat) Beberapa faktor ancaman yang perlu diantisipasi dalam usahaternak ayam ras petelur adalah. misalnya untuk keperluan hajatan. 6. telah terdapat dukungan sarana produksi yang tersedia setiap saat. karena potensi pasar telur ayam ras cukup besar dalam peranannya sebagai bahan baku pembuatan makanan ringan (roti. Meskipun permintaan masyarakat terhadap telur ayam ras fluktuatif. Teknologi yang belum sepenuhnya dapat menciptakan produk bebas residu antibiotik dapat menghambat pemasaran di pasar global. sehingga harus dapat dijual atau dikonsumsi segera. Sistem pemasaran tidak menjadi permasalahan. 3. Pada umumnya kualitas produk belum mencapai standar internasional. Dengan adanya pergantian kabinet yang fokus pada perbaikan ekonomi memberikan harapan bagi kepastian usaha dan investasi di dalam negeri. 1. 2. 3. 1. Sifat telur yang merupakan produk yang sifatnya perishable (mudah rusak). sehingga tidak ada masalah mengenai penyediaan sarana produksi untuk usaha peternakan ayam ras. Kelemahan (Weakness) Beberapa faktor yang menjadi kelemahan dalam usahaternak ayam ras petelur adalah sebagai berikut. karena adanya dukungan pemerintah secara aktif. Ancaman perdagangan bebas yang tidak diberlakukannya lagi hambatan tarif untuk bea masuk produk luar negeri dan semakin berkurangnya peranan pemerintah dalam intervensi perdagangan. kue. 2. sehingga kemampuan untuk ekspor sangat lemah. Dukungan pemerintah terhadap usaha peternakan ayam ras yang mempunyai andil besar dalam pemenuhan protein hewani masyarakat dan usaha peternakan dipandang sebagai usaha potensial bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Faktor peluang ini meliputi sebagai berikut. 3. karena beberapa negara mengalami stagnasi khususnya Amerika Serikat yang sedang mengalami krisis intern. 4. karena sebagai bahan baku untuk industri makanan ringan. Kondisi keamaman dalam negeri yang masih rawan menyebabkan ancaman penjarahan dari kelompok masyarakat tertentu masih tinggi. Usaha peternakan ayam ras petelur seringkali dihadapkan pada harga input produksi tinggi. Peluang (Opportunities) Lingkungan eksternal yang dihadapi perusahaan berupa peluang dan ancaman. Dukungan pemerintah ini diwujudkan dalam bentuk deregulasi peternakan. 5. Terdapat kecenderungan selera masyarakat yang semakin menyukai telur ayam ras dari lapisan perkotaan hingga masyarakat pedesaan. 2. Peluang ekspor telur ayam ras kemungkinan akan dapat meningkat. 3. sebagai berikut. dan lain-lain). harihari besar dan sebagainya. sedangkan harga output produksi yang rendah. Teknologi budidaya ayam ras yang mudah dikuasai oleh masyarakat. Adanya dukungan sumberdaya lahan yang luas dan jumlah tenaga kerja tersedia merupakan kekuatan pegembangan ayam ras petelur secara nasional. dibandingkan dengan tahun 80-an dapat mencapai 4-5 : 1). Kondisi marjin yang semakin rendah (rasio harga 1 kg telur dengan 1 kg pakan sama dengan 2. 1. 4. karena telah terbentuk jalur-jalur distribusi sampai ke berbagai lapisan dan pelosok wilayah. Kondisi ekonomi makro Indonesia yang mulai membaik. tetapi pada saat-saat tertentu permintaan masyarakat terhadap telur ayam ras sangat tinggi. martabak. 4. 4. oleh karena rasio harga telur dengan harga pakan yang semakin tinggi. Adanya permintaan konsumen yang fluktuatif dari hari ke hari karena telur termasuk bahan makanan yang subtitutif. Persaingan negara tetangga khususnya Thailand atau Malaysia yang dapat berproduksi dengan biaya lebih murah dengan perkembangan teknologi yang lebih efisien.2. Terdapat kecenderungan permintaan telur ayam ras akan selalu ada setiap saat. Potensi pasar ayam ras semakin tinggi.5-3 : 1. Adanya risiko dan kondisi ketidakpastian yang relatif tinggi baik dari aspek teknis maupun finansial karena produksi sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan sementara keuntungan sangat sensitif terhadap perubahan harga.

3.1. bibit. obat-obatan dan peralatan) maupun hasil produksi. 2. misalnya dalam hal pembebasan PPN dan pajak baik dalam hal input produksi (pakan. Dukungan pemerintah diperlukan dalam membuat kebijakan yang memihak industri ayam khususnya yang ditangani masyarakat kecil. . Analisis SWOT merupakan kombinasi strategi yang dapat dipilih oleh perusahaan dalam menjalankan usahanya. 5. sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. 6. Usaha peternakan ayam ras petelur akan berhasil apabila dilakukan dengan strategi-strategi berikut ini. Membangun sistem agribisnis peternakan yang secara terintegrasi dari hulu sampai hilir dan membangun jaringan distribusi yang mantap serta meningkatkan kualitas produk untuk menghadapi ancaman perdagangan bebas. Pengembangan peternakan skala besar perlu dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat untuk menghindari masalah sosial yang mungkin terjadi di masyarakat. diwaspadai dengan membanjirnya produk-produk luar negeri yang cenderung over supply. Sifat permintaan ayam ras masih cenderung berfluktuasi sehingga perencanaan usaha dengan pertimbangan faktor waktu. 4. Strategi Bisnis Langkah selanjutnya untuk merumuskan strategi adalah mengkombinasikan analisis faktor internal dan eksternal dalam analisis SWOT. sehingga akan mengganggu kestabilan harga di dalam negeri. Bagi pengusaha mandiri harus dapat menjalin kerjasama dengan perusahaan besar yang biasanya menguasai sarana produksi yang berwawasan lingkungan. Marjin yang tipis dan sifatnya sangat sensitif terhadap perubahan harga harus diimbangi dengan sistem produksi yang sangat efisien. Karakteristik produk ayam ras petelur bersifat perishable (mudah rusak) sehingga diperlukan perencanaan usaha yang sangat cermat dan teliti dan dukungan teknologi penyimpanan.

23% pada periode tersebut (Dinas Peternakan.09% pertahun (Sensus Pertanian Non Tanaman Pangan. telah mempengaruhi nisbah pupuk dengan produk . Perkembangan populasi ayam buras di Sulawesi Selatan dari tahun 1995.2) oleh Pemerintah Daerah Propinsi Sulawesi Selatan.Publikasi >> Panduan Petunjuk Teknis Brosur Performans Ayam Kalosi di Sulawesi Selatan Pendahuluan Ayam buras merupakan salah satu komoditas andalan dari sub sektor peternakan yang diunggulkan dalam program peningkatan produksi dan ekspor dua kali lipat (Grateks.56%. walaupun harga pakan cenderung meningkat. Karena itu ayam buras menjadi bagian integral dalam system usaha tani karena produksinya dapat langsung dimanfaatkan petani baik sebagai bahan pangan maupun untuk di jual untuk menambah pendapatan keluarga. Selain itu populasi ayam ras mengalami peningkatan sebesar 11. dimana harga pupuk buatan meningkat terus dari tahun ketahun. 2000) Peternakan ayam buras. baik di Indonesia secara umum maupun di sulawesi selatan pada khususnya masih bertumpu pada peternakan rakyat skala kecil. namun data populasi ternak dari Dinas Peternakan menunjukkan bahwa pertumbuhan ayam buras dari tahun 1998 sampai 2000 mengalami kenaikan sebesar 3. sementara harga beberapa produk pertanian terutama komodotas pangan mengalami stagnasi. Dalam kondisi krisis ekonomi. pemeliharaan ayam buras skala kecil masih bisa bertahan walaupun harga pakan relatif mahal. antara lain dedak padi ataupun jagung serta beberapa jenis limbah rumah tangga. Dalam pasca krisis ekonomi.1997 hanya mengalami kenaikan rata. 1998). sehingga eksistensi ternak tersebut mempunyai arti yang cukup strategis bagi pertumbuhan perekonomian di pedesaan. karena para keluarga tani cenderung memanfaatkan bahan lokal yang murah.rata 0.

42 81.00 1999 5 29.00 4.43 48.00 5.Z.00 8.36 .50. Jumlah pasoka DOC ke Propinsi tetangga (Kolaka.Fauna Mulya Jayadari 1997 sampai juli 2001. 3.00 13.60 57. Fauna Mulya Jaya saat ini (mulai mei 2001) adalah Rp.54 21. ayam ras walaupun produksi telurnya tinggi.18 24. Pada umumnya produktivitas ayam buras lebih rendah dibandingkan dengan ayam ras karena faktor genetisnya. melaporkan bahwa keberadaan jenis ayam lokal mempunyai tampilan produktivitas yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. yang dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk buatan.00 4. Tabel 1. pada tahun 1999 telah mencapai 1.00 1. tetapi sebagian konsumen telur di Sul – Sel lebih memilih telur ayam kampung. Sultra) sebanyak 1. sehingga peternak dapat memperoleh DOC dengan harga yang terjangkau. Karena itu seleksi (Grading up) terhadap jenis ayam lokal dengan ayam introduksi diharapkan dapat meningkatkan produksi telur selain dapat memfasilitasi pasar dengan telur ayam buras sesuai preferensi petani. Kalosi Pute. sedangkan pada tahun 1999.pertanian tanaman pangan (gabah) yang nilainya kian membesar. petani harus menjual 1.00 5. Fauna Mulya Jaya sebagai penghasil DOC telah memasok bibit ayam (DOC) Jenis kalosi lotong.82 182.00 6.00 45. yang terkirim pada tahun 1999.48 10.00 9. Nisbah tersebut pada tahun 1985 nilainya hanya 0.2 dan 3. kalosi pute dan karame pute kepada para peternak sebanyak 158. telah memberi perhatian yang cukup besar terhadap perkembangan ayam buras dengan memperbaiki performans ayam buras yang ada dengan cara “Grading up” (Menyilangkan dengan ayam introduksi dan ayam buras unggul).26 7 93.43 8 183.65 61.22 7.00 12.10 65.00 14. kalosi pute dan karame pute.10 2000 2001*) Jumlah 6 51.5kg gabah untuk memperoleh 1kg urea.Proses “Grading up” dapat dilihat pada lampiran 1.500 per ekor.10 27.606 ekor.22 25.Harga DOC di CV. Kondosi tersebut yang memotivasi Pemda SulSel yang dimotori oleh gubernur Sulsel H.74 kg gabah untuk membeli 1kg urea.B Palaguna. bahkan keluar propinsi (Sultra).48 1.00 5. Suplai DOC ayam kalosi lotong.48 19.00 6.64 73.00 1998 4 6.500 per ekor. Data tersebut memberikan indikasi bahwa pada tahun 1985 petani hanya menjual 0.00 55. Dalam kondisi tersebut.00 8. Nataamijaya et al (1994).00 9.00 10.80 34.00 12.74.18 89.173 ekor ke seluruh kabupaten di Sul sel.65 5. Jumlah DOC (Box) Kabupaten/ No Kotamadya I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2 Makassar Maros Pangkep Barru Pare-Pare Sidrap Pinrang Soppeng Wajo Bone 1997 3 4.00 15. kalosi pute. CV.00 21. kotoran ayam (ayam buras maupun ayam ras) dapat memberikan sumbangan yang cukup berarti untuk digunakan sebagai pupuk organik.48 27.00 6. Pasokan Kalosi Lotong. sementara harga DOC ayam ras adalah Rp. 5.10 12. dan Karame Pute Dalam periode 5 tahun terakhir (tahun1997 sampai juli 2001). Di lain pihak.00 2. dan karame pute dari CV. Fauna Mulya Jaya dengan Dinas Peternakan Propinsi Sulawesi Selatan dalam suplay DOC ayam buras yang telah diperbaiki mutu genetiknya yang diberi nama kalosi lotong. Ide tersebut telah diaktualisasikan dalam wujud nyata dalam bentuk kemitraan antara CV.

Fauna Mulya Jaya Produksi Bulan DOC (ekor) Layer Glower Tahun 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Total Tahun 2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli 3.00 16.630 3.440 2.00 3.774 3.610 1.480 2.00 10.452 2.00 72.04 15.520 2.00 326.00 145.985 2.912 4.788 21.30 23.907 5.24 24.214 1.770 2.10 48.00 10.868 2.284 3.00 2.84 55.500.06 11.70 110.92 27.00 16.00 18.16 432.205 2.06 362.12 12.64 38.46 8.800 1.500 19.90 31.00 25.173 *) Sampai Juli 2001 Harga jual perekor DOC Rp.00 3.00 17.37 2.284 4.000 3.386 5.269 1.00 2.125 2.774 3.353 27.00 7.22 8. 3.720 1. ditempat penyalur/produsen Tabel 2.08 40.005 2.50 42.355 3.149 2.690 2.00 10.624 1.076 1.390 1.73 158.672 3.53 13.00 10.688 2.00 14.264 3.00 20.60 1.100 2.524 Populasi Ayam 47.50 2.570 3.204 5.02 70.80 277.00 14.876 5.00 35.02 3.00 1.366 3.300 2.500 2.46 6.001 1.549 2.165 2.00 315.342 5.00 10.02 5.285 2.06 2.14 43.02 15.00 66.500 32.00 10.46 24.950 1.11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Luwu Luwu Utara Polmas Majene Gowa Takalar Jeneponto Bantaeng Bulukumba Sinjai Selayar Enrekang Tana Toraja Mamuju Kolaka Jumlah Box Ekor 1.190 2.00 20.00 13.844 2.02 79.271 2.22 34.610 5.00 5.50 48. Data produksi DOC dan Populasi Ayam kalosi tahun 2000 dan 2001 di CV.16 3.00 38.00 8.894 1.69 36.02 3.78 74.500 - .227 1.275 2.978 3.48 11.20 3.06 1581.060 4.00 12.

17.000 per ekor.415 Performans Ayam Kalosi Bobot Badan Performans berbagai jenis ayam ditinjau dari segi bobot badan nampak bahwa ayam kampung (ayam sayur).909 13. Gambar berikut menunjukkan perbedaan performans ayam kampung umur 38 hari.040 per ekor. dan Rp. Bobot badan berbagai jenis ayam lokal dan “grading Up” ayam lokal serta ayam ras dan jenis ayam betina umur 4 -16 minggu Umur Ayam Bobot Badan (gram) Kalosi lotong1) Kalosi pute1) Karame pute1) Ayam sayur (kampung2) Kedu Hitam2) Ayam Ras2) 230 250 265 148 165 250 535 550 557 370 313 686 800 925 850 1100 900 1130 708 932 575 765 914 1200 4 minggu (1 bulan) 8 minggu (2 bulan) 12 minggu (3 bulan) 16 minggu (4 bulan) Sumber : . Pada umur tersebut ayam kalosi lotong. Informasi yang diperoleh dari Dinas Peternakan (Amir Hamid.500 sampai 15. harganya dapat mencapai Rp. Analisis usaha dalam unit usaha 100 ekor ayam potong dapat dilihat pada table 4. ayam goreng nusantara (200 ekor/hari).95 kg/ekor. 12. maupun karame pute telah mencapai bobot 800. Pada umur 3 bulan ayam kampung baru mencapai 708 g. 35. terutama jenis karame pute. dan ayam kedu hitam 595 g (keduanya belum memenuhi standar sebagai ayam potong).Total 34.350 ekor/hari yaitu : dirumah makan ayam goreng sulawesi sekitar 700 ekor/hari. dilain pihak ayam kalosi baik kalosi lotong. Alokasi tenaga kerja perhari dalam pemeliharaan seratus ekor ayam tersebut hanya sekitar 2 jam. 850 dan 900g berturut. usaha ayam potong jenis karame pute sangat prospektif untuk dikembangkan.675 12. belum termasuk beberapa rumah makan lainnya yang belum terdatakan. Variasi bobot badan dari berbagai jenis ayam dapat dilihat pada tabel 3. Keuntungan yang dicapai sebesar Rp. agar setiap bulan penjualan potong dapat dilakukan secara berkesinambungan. yang mana ayam karame pute(kanan) tampak lebih besar dibanding ayam kampung (gambar 1). dengan interval pemeliharaan setiap bulan. pertumbuhan yang diukur dari segi bobot badan lebih lambat dibandingpertumbuhan harian ayam kalosi.000 per ekor untuk ayam jantan (tergantung dari bobot badan.000 per ekor untuk ayam betina. ayam karame pute dapat mencapai bobot sekitar 0. disbanding ayam karame pute umur 33 hari.turut bahkan dengan komposisi pakan yang baik dan kondisi suhu agak dingin. 586. Dengan demikian untuk memenuhi permintaan pasar akan kebutuhan ayam potong jenis buras. dan ayam kedu hitam.500 sampai Rp. Tabel 3. jarak desa dari ibukota kabupaten dan musim penjualan). Menjelang hari raya harganya bahkan lebih tinggi dari hari-hari penjualan biasa. kalosi pute dan karame pute sudah dapat dijual dengan harga Rp. 20. Permintaan ayam potong dari jenis ayam buras di Makassar cukup tinggi (umur sekitar 3 bulan). 2001 . komunikasi pribadi) menunjukkan bahwa kebutuhan ayam potong (buras) di Makassar sekitar 1. Apabila yam jantan kalosi lotong dan pute serta karame pute tersebut dipelihara sampai 6-7 bulan. kalosi pute. Ratu muda (400 ekor/hari) dan Dewi shinta sekitar 50 ekor per hari.

rata per tahun sekitar 170 butir untuk kalosi lotong.900 • Biaya penyusutan kandang selama bulan @ Rp 33. Data dikutip dari CV. 180 butir untuk kalosi pute dan 160 butir untuk karame pute.5 kg/ekor (100 x 2.D Rp Produksi Telur Produksi telur rata.obatan/ vaksin dan Vitamin selama 3 bulan (94 x Rp 115) Rp 99.000/bulan Total B C Penerimaan Rp 756. Produksi telur tersebut masih lebih tinggi dibanding ayam kampung yang hanya mencapai 115 586.5kg x Rp 1.000 • Satu unit kandang untuk ayam sampai umur 3 bulan dengan daya tahan 5 tahun (6mx2mx1m) Total A Rp 2.000 D Pendapatan ( 3 bulan ) C .500 Rp 703.000 B Modal Kerja / Biaya Produksi • Harga 100 ekor DOC • Pakan pada umur 1 hari sampai 3 Bulan @ 2. Fauna Mulya Jaya (1996) 2).500 Total C Rp 1.459.960 Rp 350.040 Rp 150.000.300/ bulan • Biaya tenaga kerja @ Rp 50.1).000 Rp 872.000 • Penjualan 40 % ayam jantan (38 ekor) @ Rp 18.250 Biaya .000.810 • Biaya obat.049/kg) Rp 10.000 Rp 262.000 • Penjualan 60% ayam betina (56 ekor) @ Rp 13. Data dikutip dari Sujionohadi dan Setiawan (1997) Kegiatan A Biaya Investasi Rp 2.

7 Ayam Ras2) 150 174 87 159 62.49 Karame pute1) 135-150 180 60 160 15 . hari) Produksi 40%(…hari) Puncak produksi (%) Produksi telur rata. Performans ayam kampung (kiri) umur 38 hari dengan karame pute umur33 hari di Banyora. Analisa Usaha Ayam Petelur Kalosi Lotong.. Data dikutip dari Sujiono Hadi dan Setiawan Gambar 1.rata (butir/tahun) Jumlah telur/periode Berat telur (g) Kalosi lotong1) 135-150 190 60 170 15 .. Ayam ras. Fauna Mulya Jaya 2). 2001.6 Keterangan Umur pertama bertelur (.49 Kalosi pute1) 135-150 180 60 180 15-20 47 .49 Kedu Hitam2) 138 166 75 215 44. tetapi tidak digunakan sebagai pembanding (tabel 5). kedu hitam. Produksi telur ayam ras dapat mencapai 259 butir/tahun dan ayam kedu 215 butir/tahun.butir/tahun (yang digunakan sebagai pembanding). Kalosi Pute dan Karame Pute ( 100 ekor ) Kegiatan Tahap I A Biaya Investasi Rp 2. dan ayam bangkok antara lain telah digunakan sebagai donor untuk dapat meningkatkan produktivitas telurnya. Tabel 5.6 Sumber : 1).000. Ayam tersebut diperbaiki mutu genetiknya hanya untuk meningkatkan jumlah telur ayam kampung (lokal) tetapi performans telur tetap seperti telur ayam buras (ayam kampung).000 • Satu unit kandang untuk ayam sampai umur 3 bulan dengan daya tahan 5 tahun (6mx2mx1m) Biaya/Penerimaan . Perbandingan produksi telur berbagai jenis ayam (ras dan bukan ras) Jenis Ayam Ayam sayur (kampung2) 151 184 55 115 12-15 43. Kabupaten Bantaeng. Data dikutip dari CV.18 47 .18 47 .

085 kg/ekor (100 x 0.920 Rp 12.000 • Penjualantelur rata-rata 60% HD (100 x 0.000 Rp 350. dan produksi normal mulai diperhitungkan pada umur 6 bulan .960.000 Rp 900.000 Rp 10.994 ( 18 bln x Rp 33.6 bln @ 0.974 *) Rata-rata produksi 60% HD.000 dan vitamin ( 100 x Rp 100 x 18 ) Rp 10.085 kg x Rp 1.000 Rp 6.026 Rp 507.000 Rp 534.049/kg x 60 hari) Rp 3.085 kg x Rp 1.000.000 x 18 ) •Biaya Obat-obatan Rp 180.000 • Biaya penyusutan kandang Rp 599.864.333 ) Total B C Penerimaan *) Rp 12.000 Rp 568.000 Rp 30.Total A B Modal Kerja / Biaya Produksi • Harga 100 ekor DOC (sudah divaksin) • Pakan pada umur 1 hari sampai 2 Bulan @ 2 kg/ekor (100 x 2 kg x Rp 2.049 x 30 harix 12 bulan **) • Biaya vaksin II ( 1 x ) 100 ekor x Rp 100 • Biaya vaksin III ( 1 x ) 100 ekor x Rp 100 • Biaya vaksin IV ( 3 x/thn ) 100 ekor x Rp 100 x 3 •Biaya tenaga kerja ( 1 org x Rp 50.940 • Pakan layer ( 100 x 0.840/kg) Rp 2.990 • Pakan umur 2 bln .209.095.6 x Rp 600 x 30 hari x 12 bulan) Total C D Pendapatan Pada 1 thn Produksi C -B E Pendapatan/bulan pada periode satu tahun produksi Rp 6.960.

a. .**) umur 6 .18 bulan Gambar 2. Fauna Mulya Jaya Gambar 5.Cara pemeliharaan ayam karame pute Didesa Banyora Kab. Bantaeng Gambar 7. Performans ayam kalosi lotong serta bentuk dan warna telurnya. Performans ayam kalosi pute serta bentuk dan warna telurnya Gambar 3. Cara pemeliharaan ayam kalosi lotong di Desa Banyora Kab. Performans ayam karame pute serta bentuk dan warna telurnya Gambar 4. Bantaeng Gambar 6. Populasi ayam kalosi pute (jantan dan betina) sebagai penghasil telur bibit di peternakan CV.

085 kg x Rp 1.333) Rp 200.000 Rp 60.bagian a dan b.920/ bulan.500/bln Tahap III Rp 1. maupun karame pute dipengaruhi oleh berbagai faktor.030/6 bln Rp 502.049 x 30 hari x 6 bln ) • Biaya Vafsin 1 x (100 ekor x Rp 100) • Biaya tenaka kerja (Rp 50.015. 502.250.A Rp 3. Performans ayam kalosi. Cara pemeliharaan ayam kalosi sebagai ayam potong didesa Banyora Kab.000 Rp 4.500/ bulan tanpa ayam afkir.604.320. Bantaeng Kegiatan Tahap II A • Biaya produksi selama 6 bln dengan biaya pakan layer pada umur 18 sampai 24 bulan ( 100 ekor x 0. Dengan memperhitungkan ayam afkir pada tahap ketiga.000 C Pendapatan pada 6 bln (produksi tahap III (terakhir) B .A Rp 2.970 A • Biaya produksi selama 6 bln dengan biaya pakan layer pada umur 24 sampai 30 bln (100 ekor x 0.000 x 6 bln x 1 orang • Biaya obat-obatan dan vitamin (100 ekor x Rp 100 x 6 bln) • Biaya penyusutan kandang (6 bln x Rp 33.3 x Rp 600 x 30 hr x 6 bln) Rp 3.970/6 bln B Penerimaan • Penjualan telur dengan rata-rata produksi 30% HD (100 ekor x 0. antara lain : Rp 10.333) B Penerimaan • Penjualan telur dengan rata-rata produksi 40% HD (100 ekor x 0.240.000 • Biaya penyusutan kandang (6 bln x Rp 33. baik kalosi lotong. 507.030/6 bln Rp 357. pada 6 bulan berikutnya (tahap 2) yaitu umur 18 sampai 24 bulan Rp.000 • Biaya obat-obatan dan vitamin (100 ekor x Rp 100 x 6 bln) Rp 60.000 • Penjualan Ayam afkir (0.000 Total A Rp 2. 500/ bulan (tabel 6).000 Rp 1.500/ bulan. dan pada tahap ke tiga umur 24 sampai 30 bulan hanya Rp. pendapatan yang dicapai dapat mencapai Rp. kalosi pute. 307.970/6 bln Rp 4.604.000 Total A Rp 2.000 Rp 200.174.b Gambar 8.500/bln Analisis usaha ternak ayam petelur menunjukkan bahwa pendapatan bervariasi antar umur produksi.000) Rp 2.145.490. 127. Pada satu tahun produksi (umur 6-18 bulan)pendapatan yang diperoleh Rp.049 x 30 hr x 6 bln) • Biaya vaksin 1 x ( 100 ekor x Rp 100) Rp 10.4 x Rp 600 x 30 hr x 6 bln) Total B C • Pendapatan pada 6 bln produksi tahap II B .00 x 6 bln x 1org) Rp 300.174.9 x 100 x Rp 25.000 Rp 300.970 Biaya/Penerimaan .320.000 • Biaya Tenaga kerja (Rp 50.000 Total B Rp 5.085 kg x Rp 1.

karena itu produksi telur/ ekor/ tahun tidak sebanyak pada turunan F4. Variasi produktivitas telur akibat perbedaan umur ternak menyebabkan variasi dalam pendapatan peeternak (Rp. 2001) Keterangan : Produksi telur per ekor untuk kalosi lotong sebenarnya cukup baik.330 1. Performans kalosi lotong. dan karame pute pada kelompok inti Lappadata Bunga Mawar Desa Sama Enre Kabupaten Sinjai. dan ditingkat kabupaten perlu upaya pemurnian genetik (memisahkan jenis ayam yang tidak dikehendaki) agar tidak menurunkan mutu genetik ayam pada tahap generasi berikutnya (tabel 7). dan 59 % apabila dihitung dari total ayam jantan dan betina (Tabel 9). 196. 2001) Kegiatan A Biaya Produksi • Biaya pakan + Obat obatan Biaya/Penerimaan Rp 115.5 % HD(Tabel 8) dilain pihak pada umur ternak sekitar 9 bulan. Tabel 8. dipihak lain pemeliharaan ayam hanya 22 ekor dapat memberikan pendapatan sebesar Rp. Berdasarkan Pengalaman petani.800/ bln) dengan jumlah ternak 53 ekor umur lebih dari 2 tahun (Tabel 8). Analisa Usaha Ternak Ayam Buras Kalosi Pada Sistem Pemeliharaan Semi Intensif di Kab.000/bln . menyebabkan kontribusi gen ras yang mempengaruhi potensi telur kian berkurang. Fauna Mulya Jaya perlu terus dilakukan. Tabel 7. Walaupun pendapatan cenderung menurun.• Kemurnian Genetik Pada saat pertama ayam kalosi di luncurkan. artinya pengaruh gen dari ayam ras yang menentukan potensi telur masih tinggi kontribusinya. produktivitasnya dapat mencapai 63% kalau hanya dihitung dari ayam betina. Kab. • Umur Ternak Umur ternak cukup besar pengaruhnya terhadap produktivitas telur. Dengan persilangan yang dilakukan terus-menerus. tetapi penampilan telur baik ukuran ataupun warna lebih seragam dan mirip ayam kampung. 331. Pasokan DOC dari CV. maka produksi telur kurang dan kurang sesuai dalam kandang campuran.330 750 Produksi Telur/ ekor/tahun 166 171 161 110 Sifat Kanibal *** ** * Jenis Pengamatan Sumber : Data Primer (Dinas Peternakan. Bantaeng) hanya mencapai 26. kalosi pite. namun adanya sifat mengeram dan kanibal yang tinggi. Namun demikian ukuran dan bobot telur masih bervariasi. posisi persilanga berada pada F4. pemberian hijauan juga dapat menekan sifat kanibal. peternak masih tetap mempertahankan ternaknya karena merasa masih menguntungkan. Bantaeng (produksi telur bibit. Produktivitas telur.330 1. 2001. sebaiknya system battry atau paruhnya dipotong. sehingga persilangan masih dilanjutkan hingga mencapai F6. pada umur > 2 tahun (kasus di desa Banyora.812/ bln (Tabel 9). No 1 2 3 4 5 6 Jenis Ayam Kalosi Lotong Kalosi Pute Karame Pute Ayam Kampung Jumlah Telur/ 3mg 15 15 15 10 Sistem Pemeliharaan Kandang campur Kandang campur Kandang campur Dilepas Sifat Mengeram (%) 30 20 20 Biaya Pakan/ekor (Rp/Kg) 1.

Pada kadar protein yang sama. sedangkan ransum II (pengurangan konsentrat sampai 6. 2001 Kegiatan A Biaya Produksi • Biaya pakan + Obat obatan • Biaya penyusutan kandang Total B Penerimaan • Penjualan Telur Konsumsi • Penjualan Telur bibit Total Penerimaan C Pendapatan Bersih D Biaya per ekor per hari E Rata-rata produksi telur (% HD) Catatan : • Biaya Produksi dari total Ayam (17 + 5 ) • Umur ternak 9 bln • Ternak tidak pernah dilepas.000/bln Rp 196. tetapi diberi makan adlibitum Biaya/Penerimaan Rp 35.5% HD Tabel 9. produksi telur dapat mencapai 65.000/bln Rp 316.000/bln Rp 40.000/bln Rp 300.47 26.000/bln Rp 331.188/bln Rp 5.5%) dapat menurunkan produksi telur sampai 4. • Umur ternak > 2 thn • Nilai rata-rata per 53 ekor induk • Harga telur bibit Rp 1.188/bln Rp 72.3% dan penggunaan prebiotik starbio dapat meningkatkan produksi telur 3.000/bln Rp 120. Pengaruh pemberian Probiotik Starbio pada Ransum Layer (umur 1 thn) . tetapi dengan komposisi ransom yang berkualitas (ransum I ).4%.000/bln Rp 372.000/butir Rp 5. Analisa Usaha Ayam Kalosi Pada Sistem Pemeliharaan Semi Intensif di Banyora Bantaeng.812/bln Rp 78. Tabel 10. sehingga biaya pakan cukup efisien.000) C Pendapatan Bersih (B-A) D Biaya per ekor per hari E Rata-rata produksi per populasi Catatan : • Setiap sore sekitar 2-3 jam ayam tersebut dilepas makan rumput.8% (tabel 10).• Biaya penyusutan kandang Total B Penerimaan • Penjualan Telur bibit (316 x Rp 1.000/bln Rp 75.8 59-63 % • Kualitas Pakan Kualitas pakan juga sangat menentukan produksi telur.

6 % Kadar Protein Kasar (%) Ransum I (Introduksi ) (R1) • Probiotik Starbio = 0.5 Kadar Protein Kasar (%) • Feed Suplemen (4 hari) = 0.4 % = Rp 124.0 % = 16.6 % = 33.0 % 14 =0% = 57 .0 % 14 • Probiotik Starbio = 0.Formula Ransum Komposisi (%) • Konsentrat • Jagung Giling • Dedak halus = 22.2 % = 125.25 % • Produksi telur • Biaya pakan = 61.25 g/ltr % .2 hari 14 • Konsentrat • Jagung giling • Dedak halus Ransum II ( R2) = 16.25 % • Produksi Telur • Biaya Pakan = 65 .6 % = 33.1 % = 11.3 % = 50.6 % = 33.4 % = Rp 120. Pengaruh pemberian Probiotik Starbio pada Ransum Layer (umur ≥ 3 thn) Formula Ransum Komposisi (%) • Konsentrat • Jagung Giling Ransum I (Introduksi ) (R1) • Dedak halus = 50.6 % 14.8 hari • Konsentrat • Jagung Giling Ransum III (R3 • Dedak halus • Probiotik Starbio • Produksi Telur • Biaya Pakan = 16.3 % = 50.1 % = 66.2 hari Sumber : Umar Abduh et al (2001) Tabel 10.

serta melakukan bimbingan yang cukup intensif tentang cara budidaya yang optimal. Pihak RMMC kabupaten bantaeng juga membantu menyiapkan pakan berupa jagung giling selain konsentrat. Kesimpulan Ayam kalosi baik kalosi lotong.6 % = 50. Pemasaran produksi baik sebagai ayam potong ataupun telur juga tidak mengalami kesulitan karena para pedagang ayam potong ataupun telur telah menjalin kemitraan dengan para peternak skala kecil yang dibina oleh Dinas Peternakan setempat. obat.5 • Feed Suplemen (4 hari) = 0. Studi kasus yang diperoleh dari Kabupaten Bantaeng menunjukkan bahwa para peternak ayam telah menjalin kemitraan dengan RMMC Kabupaten Bantaeng dalam hal pasokan sarana yang diantar langsung kedesa. sehingga para peternak dapat menghasilkan telur dengan kualitas yang standar baik sebagai telur konsumsi maupun sebagai telur bibit (untuk ditetaskan di RMMC). terkonsentrasi dalam satu desa (misalnya di desa Banyora) sehingga lebih efisien. vaksin.6 % = 33.• Produksi Telur = 31 . sehingga resiko kegagalan pasar dapat teratasi.25 g/ltr % • Produksi Telur = 37. maupun karame pute produktivitasnya cukup tinggi dibanding ayam buras lokal baik dari segi produksi telur ataupun bobot badan sebagai ayam potong. namun ada variasi antara ketiga jenis ayam kalosi tersebut. Pemeliharaan ayam dengan skala kecil (yang ada hanya 30-50 ekor) tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh sarana karena setiap usaha dipedesaan.2 % • Konsentrat • Jagung Giling Ransum III (R3 • Dedak halus = 16.0 % 14.0 % 14.4 % • Konsentrat • Jagung Giling Ransum II ( R2) • Dedak halus = 16.6 % = 50. kalosi pute. . dan para peternak skala kecil memperoleh kemudahan dalam mengakses sarana yang diperlukan dalam memasarkan produksinya secara optimal. dan sarana yang diperlukan lainnya dengan harga yang terjangkau.obatan dan vitamin/feed supplement) dan pemasaran produksi.0 % Sumber : Umar Abduh et al (2001) Kemitraan Kesulitan utama dalam beternak ayam adalah jaminan pasokan sarana (pakan.6 % = 33.5 • Feed Suplemen (4 hari) = 0 g/ltr % • Produksi Telur = 30.

pendapatan dapat mencapai Rp. 586. Beternak ayam kalosi sebagai ayam potong dapat memberikan pendapatan bersih sebesar Rp. Sebagai ayam petelur. 850g untuk kalosi pute. dan 800g untuk kalosi lotong. menurun sesudah 2 tahun produksi menjadi Rp. karena setiap harinya hanya memakan waktu sekitar 2 jam/hari. pada umur 3 bulan bobot ayam kalosi telah mencapai 900g (karame pute). 507. Tetapi sebagai usaha pokok jumlah ternak unggas yang diperlukan minimal 300 ekor/KK. bentuk. Selain itu pendapatan bersih pemeliharaan ayam kalosi sebagai ayam petelur dapat bervariasi dari segi umur ayam (masa bertelur).920/ 100 ekor /bulan. dan periode pemeliharaan dapat diatur setiap bulan mulai periode starter agar penjualan ayam potong tersebut dapat dilakukan setiap bulan. 357.Ayam kalosi lebih cepat bertelur (135-150 hari) dibanding ayam kampung (paling cepat 150 hari) dan masa bertelur juga cukup panjang. Sebagai usaha sampingan pemeliharaan ayam kalosi 100 ekor /KK tidak terlalu mengganggu alokasi tenaga kerja keluarga. Pada umur 24-30 bulan ayam kalosi masih dapat menghasilkan telur sekitar 30%HD. . selain sebagai ayam petelur.040/ 100 ekor/3 bulan. ukuran telur. Pertumbuhan ayam kalosi lebih cepat dibandingkan ayam kampung. warna kulit telur.505/100 ekor/ bulan. Pada tahun pertama bertelur. ketiganya cukup prospektif dikembangkan sebagai ayam potong terutama karame pute. dan warna serta ukuran kuning telur ayam kalosi cukup memenuhi selera konsumen yang selama ini telah terbiasa sebagai konsumen telur ayam kampung.

.

. (2) lahan sawah tadah hujan dan (3) lahan sawah irigasi .000. Sedang untuk produksi benih jagung komposit mampu memberikan hasil 3-4 t/ha.-.. Komoditas jagung terbagi dua yaitu Jagung hibrida ( ditanam hanya F1) . Dengan demikian kalau harga jagung konsumsi dipasaran Rp 2000/kg.000.-/ha sedang jagung komposit memberikan hasil 11. MP Selasa.000. maka jagung komposit mampu memberikan pendapatan sebesar Rp 20.– 21.000.000. 06 Desember 2011 16:41 Komoditas Jagung Ditulis oleh Ir. 2. Komoditas jagung dapat dikembangkan pada agroekosistem (1) lahan kering. 4. 3. sedang jagung komposit kebutuhan pupuknya = 300-350 kg Urea+100 kg KCl+100 SP-36+50 kg ZA/ha. Jagung hibrida lebih rakus menggunakan hara pupuk dibanding jagung komposit .000..000. maka jagung hibrida mampu memberikan hasil Rp 19.Kebutuhan pupuk jagung hibrida 400-450 kg Urea+100-150 kg KCl+100-150 kg SP-36+50 kg ZA masing-masing per hektoare.-13.000. Jagung hibrida lebih tinggi potensi hasilnya (11-12t/ha)dibanding jagung bersari bebas (7-8 t/ha).-/ha.-/ha.000.000 – Rp 28. 03 November 2009 15:05 1.000.Tahun Terbit : 2001 BPTP SULAWESI SELATAN Terakhir Diperbaharui pada Selasa. Amir Syam.Jagung bersari bebas (dapat ditanam dari turunannya).000. dengan harga benih/kg ditingkat petani Rp 8000.

333 ekor sapi/1 kali panen/ha atau 5. 7.000 .667. Dengan demikan.500 – 3. kalau kebutuhan pakan kering/ekor sapi = 6 kg. Amir Syam. Baik jagung hibrida maupun jagung komposit dapat ditanam dua kali pada lahan sawah tadah hujan setelah padi rendengann asal air tersedia.13. Bahkan pada lahan kering yang tersedia sumber air jagung dapat ditanam empat sampai lima kali dengan cara tanam relai planting. MP) Terakhir Diperbaharui pada Selasa. 6. Jagung hibrida mempunyai umur sedikit lebih dalam (95-110 hari) dibanding jagung komposit (85-100 hari).5. 8. 06 Desember 2011 09:31 . Jagung hibirida mempunyai bobot biomas lebih tinggi (70-80 t/ha) dibanding jagung komposit (15-20 t/ha).334-26.666 ekor sapi/2 kali panen/ ha. Waktu tanam dimulai Nopember Pebruari Mei – – – Pebruari (II) (III) (I) → → panen musim hujan (untuk untuk (untuk jagung produksi produksi konsumsi) benih) benih) Mei Agustus panen musim kering ( → panen musim kering Agustus – Nopember (IV) → panen musim hujan (untuk jagung konsumsi) Jawab Komoditas Jagung Penanggung (Ir.333 ekor sapi/ 1 kali panen/ha atau 23. Kebutuhan benih jagung hibrida dan jagung komposit = 25 kg/ha.666 ekor/2 kali panen/ha atau 7. Sedang jerami jagung komposit dapat menghidupi 2.500-9.6. maka dari biomas jagung hibrida dapat menghidupi 11.999 ekor sapi/3 kali panen/ha.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful