Anda di halaman 1dari 7

Rahmadsyah Yazid Putra

090404045

PASANG SURUT KAWASAN SUMATERA Dari data pasang surut dapat diketahui beda tinggi pasang surutnya (?h) dengan mencari data muka air tinggi tertinggi (highest high water level, HHWL) dalam kurun waktu setahun (tahun 2004) dikurangkan dengan data muka air rendah terendah (lowest low water level, LLWL) dalamkurun waktu yang sama. Semakin besar selisih pasang dan surut semakin besar potensi yang terkandung di kawasan tersebut, oleh karena itu kandungan potensi yang ada diperkirakan dari besanya selisih ini. Hasil beda tinggi pasang surut untuk kawasan Sumatra dapat dilihat dalam Tabel 2 di bawah. Untuk kawasan ini didapati beda tinggi pasang surut (?h) tertinggi berada di daerah Bagan SiapiApi (Propinsi Riau) sebesar 6,6 meter.

Penentuan potensi dan data masukan pembangkit tenaga listrik pasang surut diambil berdasarkan perbedaan tinggi antara muka air tinggi rerata (mean high water lewel, MHWL) dan muka air rendah rerata (mean low water level, MLWL). Mean high water level (MHWL) adalah rerata dari muka air tinggi selama periode 19 tahun, dan mean low water level (MLWL) adalah rerata dari muka air rendah selama periode.

TEKNIK PELABUHAN

Page 1

Rahmadsyah Yazid Putra

090404045

PASANG SURUT PADA KAWASAN PULAU SUMATERA Pelabuhan Belawan berada di dalam wilayah Kotamadya Medan yang terletak + 27 KM dari Pusat Kota, dimana juga terletak di Muara Sungai Belawan sepanjang pantainya labil dan berlumpur. Pengendapannya / sedimentasi rata-rata 3 Cm / hari dipengaruhi oleh Sungai Belawan dan Sungai Deli. Kecepatan arus juga dipengaruhi oleh kedua sungai tersebut ditambah dengan keberadaan Selat Malaka. Faktor musim juga mempengaruhi arah arus demikian juga kecepatannya. Dimana kecepatan arus pada saat tertinggi yaitu mencapai 3 Knot dan terendah 0.2 Knot. Untuk pasang Surut dengan air tertinggi : 3,30 MLWS, air tinggi: 2,40 MLWS, air terendah: 0,50 MLWS, waktu tolak GMT + 07 dan sifat pasut : Harian ganda beraturan. Pelabuhan Belawan yang merupakan Terminal Multy Purpose dalam upaya meningkatkan pelayanan bongkar muat break bulk yang dilakukan terus menerus disamping itu telah dilengkapi pula dengan fasilitas special handling seperti Sistem pemompaan CPO (Crude Palm Oil) melalui pipa terpadu yang berkapasitas 200 - 250 ton/jam/unit loading point dan Terminal curah kering dengan kapasitas 400 - 500 ton/jam/conveyor. Dan di pelabuhan ini tersedia fasilitas penumpukan seperti gudang dan tangki timbun yang cukup untuk menampung lalulintas barang hasil perkebunan dan pertanian yang dominan di pelabuhan ini.

Pasang Surut Air tinggi tertinggi (HHWS) 3.30 m LWS Air Tertinggi (MHWS) 2.40 m LWS Duduk Tengah (MWLS) 1.50 m LWS Air Terendah (MLWS) 0.50 m LWS Chart Datum (LIWS) 0.00 m LWS Air rendah terendah (LIWS) 1.80 m LWS Muka surutan (Zo) 1.50 m LWS Waktu Tolok GMT + 07.00 Sifat Pasut Harian ganda beraturan.Tunggang air rata rata pada pasang purnama adalah 195 cm dan saat pasang mati 56 cm. Besarnya perbedaan pasang surut bervariasi antara 1,1 - 2,7m. pada saat pasang mati kadang tidak berarus dan saat pasang berhenti kadang arus keluar masuk 2 mil/jam.

TEKNIK PELABUHAN

Page 2

Rahmadsyah Yazid Putra

090404045

Variasi muka laut di Sabang Variasi tinggi muka laut di stasiun Sabang periode Januari 2007 Desember 2007 disajikan pada gambar di bawah ini. Pada gambar ini dapat dilihat naik turun perubahan kedudukan muka laut yang terjadi di stasiun Sabang.

Waktu (Bulan) Gambar 1. Variasi muka laut di Stasiun Sabang dari bulan Januari 2007sampai dengan Desember 2007 dengan analisis wavelet 1-D Muka laut tertinggi (maksimum) di Sabang terjadi sekitar bulan April hingga Mei selanjutnya terjadi pada bulan Agustus dan terjadi lagi pada bulan November. Periode tengah tahunan di Sabang tidak begitu jelas jika dibandingkan dengan periode tengah tahunan yang terjadi di Sibolga dan Padang. Variasi muka laut maksimum yang terjadi pada bulan April hingga Mei dan bulan Agustus serta bulan November diduga berhubungan erat dengan perubahan muka laut yang terjadi di bagian selatan di daerah khatulistiwa. Perubahan muka laut di daerah khatulistiwa diwakili oleh stasiun Sibolga dan Padang.

Variasi muka laut di Sibolga Variasi muka laut di Sibolga ditampilkan pada gambar di bawah ini berdasarkan gambar tersebut dapat dilihat perubahan muka laut (variasi muka laut) yang terjadi sepanjang

TEKNIK PELABUHAN

Page 3

Rahmadsyah Yazid Putra

090404045

tahun 2007. Variasi muka laut di Sibolga menunjukkan adanya pola periode tengah tahunan (semi annual) dimana tinggi muka laut mencapai dua kali maksimum dan dua kali minimum. Tinggi muka laut di Sibolga mengalami tinggi maksimum pada periode bulan April hingga bulan Mei (musim peralihan 1) dan terjadi kembali tinggi maksimum pada bulan November (musim peralihan 2).

Waktu (Bulan) Gambar 2. Variasi muka laut di Stasiun Sibolga dari bulan Januari 2007 sampai dengan Desember 2007 dengan analisis wavelet 1-D

Variasi muka laut di Padang Pola variasi muka laut di Padang dapat diamati pada gambar , dari gambar ini dapat dilihat perubahan muka laut di Padang sepanjang tahun 2007. Pola variasi muka laut di Padang hampir sama dengan variasi muka laut yang terjadi di Sibolga yaitu menunjukkan adanya pola semi annual (periode tengah tahunan) dimana tinggi muka laut mengalami dua kali maksimum dan dua kali 34 minimum dalam periode satu tahun. Tinggi muka laut maksimum di Padang juga terjadi pada bulan April hingga Mei dan terjadi lagi pada bulan November. Hal ini terjadi diduga karena adanya pengaruh dari gelombang Kelvin

TEKNIK PELABUHAN

Page 4

Rahmadsyah Yazid Putra

090404045

Waktu (Bulan) Gambar 3. Variasi muka laut di Stasiun Padang dari bulan Januari 2007 sampai dengan Desember 2007 dengan analisis wavelet 1-D Adanya kesamaan pola variasi muka laut di Padang dan Sibolga atau dengan kata lain terjadinya perubahan muka laut di Padang juga akan ditemui di Sibolga, hal ini terjadi dikarenakan Stasiun Padang dan Sibolga berseberangan pada garis khatulistiwa. Pasang Surut Pada Pulau Jawa Pasang surut (pasut) merupakan gerakan permukaan air laut yang teratur secara periodik. Walaupun secara umum pergerakan pasang dan surut ini dapat dipengaruhi oleh posisi bulan dan matahari, namun karakter perairan pantai seperti wilayah kepulauan dan kedalaman juga memberikan sumbangan terhadap sifat pasut secara lokal. Kompleksitas faktor fisik ini menyebabkan perubahan sifat pasut yang bervariasi dari wilayah satu ke wilayah lainnya. Paling tidak pengaruh posisi bulan dapat dicirikan dengan adanya pasang purnama dan pasang perbani, sedangkan karakteristik pantai akan mempengaruhi tipe pasut seperti sifat diurnal, semidiurnal, dan campuran (baik yang mengarah ke diurnal atau ke diurnal atau ke bentuk semidiurnal).

TEKNIK PELABUHAN

Page 5

Rahmadsyah Yazid Putra

090404045

Sifat diurnal apabila wilayah pantai hanya mengalami satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari, semidiurnal terjadi jika pantai mengalami dua kali pasang dan dua kali surut dengan ketinggian yang sama. Sifat pasut campuran terjadi apablia pada wilayah pantai mengalami dua kali pasang dan dua kali surut dengan ketinggian yag berbeda. Berdasarkan data prakiraan dari dua stasiun (Tanjung Priok dan Cirebon), tipe pasut di wilayah pantai Jawa Barat bagian utara termasuk kategori campuran mengarah ke semidiurnal. Kisaran maksimum tinggi pasang dan surut terbesar adalah 1 meter dan kisaran tinggi pasang dan surut kedua adalah 0,5 - 0,7 meter (Dishidros-TNI AL, 2000).

Berdasarkan hasil pengamatan PPGL dan Bappeda Cirebon (2004), nilai formzal (F) di Pelabuhan Cirebon yang diamati selama 15 hari (30 Juni 14 Julu 2004) mendapatkan nilai sebesar 0.06006. Nilai berarti tipe pasang surut di perairan Cirebon adalah pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide prevailing semi diurnal) yang berarti dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut, tetapi tinggi dan periodenya berbeda.

Sedangkan di lokasi Mayangan Kabupaten Subang, menurut kajian Atmadipoera (2002) Jenis pasut di lokasi ini memiliki nilai formzal F = (19.3+11.4)/(10.5+7.7) = 1.69, berarti tipe pasut campuran yang condong ke harian tunggal dengan tunggang pasut adalah 61.4 cm. Hal ini berarti dalam satu hari kadang-kadang terdapat hanya satu kali pasang dan satu kali surut, tetapi juga kadang terdapat dua kali pasang dan dua kali surut. Dari konstanta pasut itu dapat diketahui :

Muka air pasang paling tinggi (MHHW): 207.9 cm Muka air pasang rata-rata (MHW): 153.2 cm Muka air rata-rata (MSL): 142.7 cm Muka air surut rata-rata (MLW): 132.2 cm Muka air surut paling rendah (MLLW): 77.5 cm

Jenis pasut di lokasi Ciasem yang terletak 4 km ke arah barat dari lokasi Mayangan, nilai F = (18.1+12.4)/(11.4+8) = 1.57 yang berarti tipe pasut campuran yang condong ke harian tunggal dengan tunggang pasut sekitar 61 cm. Untuk pasang surut untuk bulan September 2003 berdasarkan hasil perhitungan dari komponen pasut di atas ditampilkan pada gambar grafik ramalan pasang surut stasiun Mayangan dan Ciasem di bawah ini.

TEKNIK PELABUHAN

Page 6

Rahmadsyah Yazid Putra

090404045

TEKNIK PELABUHAN

Page 7