Anda di halaman 1dari 47

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Disadari atau tidak oleh kita bahwa mutu pendidikan kita saat ini banyak mendapat sorotan dari berbagai pihak. Hal ini terjadi karena nilai prestasi siswa belum memuaskan. Nilai yang didapat siswa belum menunjukkan peningkatan. Nilai siswa dikatakan meningkat manakala hasil evaluasi siswa meningkat. Berhasil tidaknya prestasi siswa ditentukan oleh berbagai faktor. Salah satu faktornya adalah guru, karena tugas utama guru adalah mendidik, mengajar dan melatih para siswa. Agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka guru harus mampu menguasai berbagai kemampuan, termasuk kemampuan dalam mengelola kelas ketika berlangsung proses belajar mengajar. Upaya guru untuk meningkatkan prestasi siswa dalam kegiatan pembelajaran harus ditempuh guru. Proses

pembelajaran yang dilakukan oleh guru mampu menarik perhatian para siswa. Sebab proses belajar mengajar yang tidak menarik dapat mengakibatkan kejenuhan pada diri siswa yang belajar. Bila ini terjadi sudah pasti prestasi siswa tidak dapat ditingkatkan. Untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, maka guru harus merubah proses belajar mengajarnya, dari proses yang menjenuhkan menjadi proses belajar mengajar yang menarik bagi siswanya. Upaya yang dapat dilakukan guru agar proses belajar mengajar yang menyenangkan adalah guru harus 1

menggunakan berbagai metode dan media yang menarik perhatian siswanya. Hal ini dikatakan oleh Miarso dalam Asep Heri Hermawan, dkk (2006) yang mengatakan bahwa Media pembelajaran adalah sejak sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan anak didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. Upaya untuk meningkatkan prestasi sudah banyak dilakukan oleh guru namun hasilnya belum menunjukkan peningkatan yang berarti, bahkan dapat dikatakan masih berjalan di tempat. Dari hasil penelitian penulis tentang masalah di atas ternyata yang menjadi kendala penggunaan metode dan media pembelajaran yang kurang tepat. Dari kondisi di atas, untuk dapat meningkatkan penguasaan terhadap materi pelajaran, maka penulis melakukan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran IPA di kelas I SD Negeri Kudaile 02. 1. Indetifikasi Masalah Dalam melaksanakan pembelajaran IPA di kelas I SD Negeri Kudaile 02 siswa masih mendapat nilai rendah, yaitu pencapaian ketuntasan hasil belajar siswa, baru mencapai 45% atau 10 siswa dari 22 siswa. Rata-rata hasil belajar pada materi pokok gerak benda sebagian besar siswa kurang memahami konsep yang diberikan guru. Berdasarkan kondisi di atas penulis manegadakan perenungan atau refleksi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan, selain itu penulis juga minta bantuan teman sejawat/supervisor untuk mengidentifikasi kekurangan dari pembelajaran yang penulis laksanakan.

Dari hasil refleksi dan diskusi dengan teman sejawat/supervisor serta konsultasi dengan tutor pembimbing terungkap beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran yang mengakibatkan tingkat penguasaan siswa terhadap

materi sangat rendah. Masalah tersebut diidentifikasi sebagai berikut : 1. Prestasi belajar siswa rendah rata-rata dibawah KKM : a. Siswa yang tuntas ada 10 siswa atau 45%. b. Siswa yang belum tuntas 12 siswa atau 55% 2. Perhatian siswa terhadap pembelajaran kurang. 3. Aktivitas belajar siswa rendah, siswa kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Dari jawaban-jawaban di atas dapat dikatakan bahwa siswa belum berhasil belajar secara efektif dengan indikator pokok nilai tes formatif rendah. Di samping itu, siswa kurang tertib mengikuti pelajaran dan karena perhatian terhadap pelajaran kurang. Siswa juga kurang aktif (kurang berani menjawab dan mengajukan pertanyaan) serta kemampuan berpikir kurang/salah dalam mengerjakan soal latihan belum lancar dan penyelesaian soal kurang memuaskan hasilnya. 2. Analisis Masalah Fokus yang menyebabkan rendahnya hasil belajar kelas I SDN Kudaile 02 dalam materi tersebut adalah : a. b. c. Penjelasan guru sulit dipahami siswa Alat bantu pembelajaran kurang tepat Guru kurang memberi kesempatan siswa untuk bertanya

d. e. f. 3.

Tugas kurang menantang dan membosankan Rendahnya frekuensi kehadiran siswa Rendahnya hasil belajar siswa

Alternatif dan prioritas pemecahan masalah Dengan melalui analisis permasalahan diatas, peneliti menganggap bahwa masalah yang dianggap penting harus segera dipecahkan dan merupakan metode pembelajaran yang dianggap relevan pada materi membedakan gerak benda adalah metode demonstrasi. Laporan ini disusun berdasarkan catatan selama pelaksanaan diskusi dan observasi. Pelaksanaan perbaikan dilakukan melalui dua siklus pembelajaran. Dari permasalahan tersebut diatas pembelajaran tentang laporan dengan judul Penerapan metode demostrasi pada mata pelajaran IPA untuk meningkatkan pemahaman siswa SDN Kudaile 02 kelas I semester 2 tahun 2012.

B. Rumusan Masalah Data yang telah diidentifikasi dan dianalisis selanjutnya dibuat rumusan masalah. Rumusan masalah tersebut sebagai berikut : Bagimanakah meningkatkan motivasi belajar siswa kelas I semester 2 pada mata pelajaran IPA tentang gerak benda dengan menggunakan metode demonstrasi dan eksperimen?

C. Tujuan Penelitian Perbaiakan Pembelajaran Adapun tujuan dari penelitian tindakan kelas ini meliputi : 1. Tujuan Umum

Tujuan umum Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) dan untuk meningkatkan kinerja guru dalam pelaksanaan serta peningkatan profesi seorang guru. 2. Tujuan Khusus a. Meningkatkan prestasi belajar siswa kelas I SD Negeri Kudaile 02 Kecamatan Slawi Kabupaten Tegal dalam mata pelajaran IPA tentang Mengelompokkan bentuk benda yang mudah dan yang sulit bergerak. b. Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. c. Meningkatkan daya ingat siswa terhadap materi pembelajaran. d. Meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. D. Manfaat Penelitian Perbaiakan Pembelajaran Dari penelitian tindakan kelas ini akan diperoleh manfaat sebagai berikut : 1. Bagi Guru/Peneliti a. b. Meningkatkan profesionalitas dalam pembelajaran. Memberi dorongan bagi guru untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) 2. Bagi Sekolah a. b. Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah tempat tugasnya. Memperoleh nilai positif dari masyarakat sehingga masyarakat percaya dan tidak ragu terhadap pendidikan anaknya. c. 3. Mempunyai nilai tambah bagi sekolah.

Untuk Pendidikan pada umumnya

Dengan keberhasilan dalam pencapaian tujuan pembelajaran dan profesionalitas guru, maka diharapkan tujuan pendidikan pada umumnya dapat tercapai.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Dalam menentukan arah dan gerak langkah perbaikan pembelajaran di Sekolah Dasar (SD), penulis mengacu pada pendapat para ahli/pakar dalam bidang ilmu. Hal tersebut bertujuan agar dalam membuat dan menyusun hasil penelitian mempunyai landasan. Pendapat atau teori yang menjadi landasan antara lain dikemukakan oleh para tokoh : 1. Jean Peaget dalam Suciati, 2007; 42 Pengertian belajar adalah hasil kesinambungan antara proses akomodasi dan asimilasi. 2. Bruner dalam Udin S. Winataputra, dkk, 2005;3-14, pada dasarnya belajar merupakan proses kognitif yang menjadi dalam diri seseorang. Ada tiga proses kognitif yang terjadi dalam belajar, yaitu : a. Proses perolehan informasi baru. Dapat terjadi melalui kegiatan membaca mendengarkan penjelasan guru pada materi pembelajaran, mendengarkan/melihat audio visual dan lain-lain. b. Proses mentransformasikan informasi yang diterima, berupa suatu proses bagaimana kita memperlakukan pengetahuan yang sudah diterima agar sesuai dengan kebutuhan. c. Menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Agar dapat bermanfaat untuk memecahkan masalah yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Bruner agar proses belajar dapat berhasil (Process of Education) ada tiga faktor : 1) Pentingnya memahami struktur mata pelajaran. 7

8 2) Pentingnya belajar aktif supaya seseorang dapat menemukan

sendiri konsep-konsep sebagai dasar untuk memahami dengan benar. 3) Pentingnya nilai dan berfikir induktif.

Ada 4 aspek yang harus diperhatikan dalam pembelajaran : 1. Struktur mata pelajaran 2. Kesiapan untuk belajar 3. Intuisi (teknik-teknik intelektualis) 4. motivasi 3. Menurut Burkhus Frederick Skinner dalam Hera Lestari Mikasa, 2007;6-4, belajar adalah perubahan perilaku pada seseorang belajar maka responnya lebih baik, dan apabila tidak belajar maka responnya cenderung menurun. 4. Menurut Gagne dalam Udin S Winataputra, 2005;3, belajar adalah suatu proses dimana suatu organisma berubah perilakunya. Dalam pengertian belajar tersebut terdapat 3 ciri utama belajar, yaitu : 1) Proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan.

Dikatakan belajar jika pikir dan perasaannya aktif. 2) Perubahan perilaku hasil belajar.

Perubahan perilaku hasil belajar ialah perubahan yang dihasilkan dari interaksi dan lingkungan, dimana proses mental dan emosional terjadi. 3) Belajar adalah mengalami, artinya belajar terjadi di dalam

interaksi antara individu dengan lingkungan, baik fisik maupun lingkungan sosial. 5. Oemar Hamalik Hera Lestari Mikarsa, 2007;7-3, sistem pembelajaran selalu mengalami dan mengikuti 3 tahapan yaitu :

9 1) 2) ditempuh. 3) kedua. Makna pembelajaran menurut Oemar Hamalik, merupakan suatu sistem yang tersusun dari unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi. 6. Sunarya Kardinata dalam Hera Lestari Mikarsa, 2007:1.27, mengemukakan prinsipprinsip perkembangan siswa SD dan kesepadaannya dengan prinsip-prinsip pendidikan SD. Prinsip-prinsip perkembangannya adalah sebagai berikut : 1. Perkembangan adalah proses yang tak pernah berakhir, oleh karena itu pendidikan atau belajar merupakan proses sepanjang hayat. 2. Setiap anak bersifat individual dan berkembang dalam percepatan individual. Pada prinsip ini guru harus menghasilkan keragaman siswa secara individual dalam fisik, psikis dan sosial. 3. Semua aspek perkembangan saling berkaitan. Pendidikan jasmani harus menjadi wahana bagi perkembangan aspek lainnya, begitu pula pembelajaran bidang studi lainnya harus selalu dikaitkan dengan berbagai aspek perkembangan anak. 4. Perkembangan itu terarah dan dapat diramalkan a. Bergerak dari kepala ke kaki atau dari pusat ke bagian b. Bergerak dari standber ke fungsi. Seorang anak tidak dapat diajari membaca sebelum kelenjar mata berfungsi untuk membaca Tahap evaluasi, yaitu tahap untuk menilai tahap pertama dan tahap Tahap analisis, untuk menentukan dan merumuskan tujuan. Tahap sintesis, yaitu tahap perencanaan proses yang akan

10 c. Bergerak dari kongkrit ke abstrak. Pelajaran rendahnya dimulai dari hal-hal yang kongkrit ke hal-hal yang abstrak. d. Bergerak dari agasentris ke perspektif menuju pemahaman. Dalam usia yang masih dini anak harus belajar bagaimana belajar memahami kondisi objektif orang lain. e. Bergerak dari heteronom ke otonomi. Pendidikan harus memungkinkan anak menjadi mandiri, dapat membuat pilihan dan keputusan sendiri serta mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya. f. Bergerak dari absoletisme ke rolativisme g. Bergerak dari spivol ke arah tujuan Dari definisi di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku seseorang yang merupakan hasil interaksi dengan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Adapun ciri-ciri perubahan dalam perbuatan belajar adalah sebagai berikut : 1. Perubahan yang terjadi sebagai akibat dari belajar . Perubahan tersebut dapat menghasilkan tingkah laku yang lebih baik atau lebih buruk. Perubahan hasil belajar itu secara disadari. 2. Perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman, artinya apabila situasi yang dihadapi hanya ditemui satu kali bukan merupakan perubahan hasil belajar. 3. Perubahan merupakan suatu proses artinya belajar merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan aktif. 4. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar, meliputi seluruh aspek kepribadian mencakup fisik dan psikis.

11

A.

Hasil Belajar Hasil belajar adalah informasi tentang pengetahuan, sikap dan perilaku serta

ketrampilan yang dicapai oleh siswa setelah berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar selama kurun waktu tertentu. Hasil belajar yang dicapai siswa merupakan tingkat kemampuan siswa dalam menerima dan memahami berbagai konsep yang telah dipelajari. Hasil belajar dalam penelitian ini adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran setelah diadakan penelitian. Hasil belajar meliputi kemampuan kognitif, efektif dan psikomotor. B. Strategi Pembelajaran Untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan digunakan berbagai strategi pembelajaran. Pembelajaran mempunyai dua sisi, dilihat dari segi guru disebut pengajaran, tetapi dilihat dari sisi siswa adalah belajar. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Ausubel dan Robinson (1968) membagi keseluruhan kegiatan belajar mengajar dalam empat kutub dari dua kontinum, yaitu kutub Reception Discovery Learning pada satu kontinum dan kutub Rote-Meaningful Learning pada kontinum yang lain, yang bersilangan. Dalam Reception Learning peran siswa relatif pasif, ia lebih banyak menerima bahan yang diberikan guru melalui ceramah dan demonstrasi yang mungkin dilengkapi dengan peragaan. Discovery Learning dari pihak guru disebut pengajaran discovery atau pengajaran inkuiri, merupakan strategi pengajaran yang banyak mengaktifkan siswa. Beberapa metode pembelajaran yang termasuk dalam strategi Discovery diantaranya : pembelajaran yang menggunakan lingkungan, pengamatan, percobaan tersebut

12 dan pemecahan masalah. Rote Learning merupakan kegiatan belajar yang bersifat menghafal atau menerima bahan tanpa disertai arti. Siswa dapat menguasai sejumlah informasi atau pengetahuan dengan menggunakan ingatannya. Dalam Meaningful Learning yang merupakan lawan dari Rote Learning, makna atau arti dari bahan ajar sangat dipentingkan. Suatu pengetahuan mempunyai makna karena ada hubungan dengan pengetahuan lain yang telah dikuasainya. Membuka Pelajaran atau Apersepsi (Set Induction) Membuka pelajaran atau set induction adalah usaha yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan pra kondisi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada pengalaman yang disajikan sehingga materi dan bahan pembelajaran mudah dikuasai. Dengan kata lain membuka pelajaran itu adalah mempersiapkan mental dan perhatian siswa agar siswa terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Tujuan dan teknik membuka pelajaran. Secara khusus tujuan membuka pelajaran adalah : 1. Menaruh perhatian siswa 2. Menumbuhkan motivasi belajar siswa 3. Memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan. C. Motivasi Motivasi adalah kondisi khusus yang dapat mempengaruhi individu untuk belajar. Motivasi merupakan variabel penting, khususnya selama proses pembelajaran yang dapat membantu mendorong kemajuan belajar siswa. Karenanya Bruner percaya bahwa hampir semua anak mempunyai masa-masa pertumbuhan akan keinginan untuk belajar. Reinforcement dan Reward dari dalam mungkin penting untuk meningkatkan

13 perbuatan tertentu atau untuk membuat mereka yakin hingga mau mengulangi apa yang sudah dipelajari. Motivasi prestasi seorang apakah di sekolah atau di tempat kerja atau di tempat manapun dapat dibagi menjadi dua, yaitu 1. Motivasi intrinsic, yang merupakan harapan dalam diri (internal) untuk berhasil dalam melakukan sesuatu untuk diri sendiri. 2. Motivasi Ekstrinsik adalah yang dipengaruhi oleh penghargaan atau hukuman dari luar diri (eksternal).

D.

Reinforcement Keterampilan dasar memberikan penguatan (reinforcement) dalam proses

pembelajaran adalah sejak bentuk respon yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi siswa atas perbuatan atau responnya yang diberikan sebagai suatu dorongan atau koreksi. Dengan penguatan dari guru maka siswa akan merasa terdorong selamanya untuk memberikan respon setiap kali muncul stimulasi dari guru.

Fungsi Reinforcement/ Penguatan Fungsi penguatan adalah untuk memberikan ganjaran kepada siswa, sehingga siswa akan berbesar hati dan meningkatkan partisipasinya dalam proses pembelajaran.

Jenis-jenis Penguatan/ Reinforcement Ada dua jenis penguatan yang bisa diberikan oleh guru, yaitu : a. Penguatan verbal

14 Penguatan verbal adalah penguatan yang dilengkapkan dengan kata-kata pujian atau penghargaan atau kata-kata koreksi. b. Penguatan non verbal Penguatan non verbal adalah penguatan yang dilengkapkan melalui bahasa isyarat.

E.

Metode dan Teknik Didalam melaksanakan pembelajaran seorang guru harus menggunakan metode

untuk mencapai tujuan. Metode yang digunakan bermacam-macam. Tidak semua metode dapat digunakan dengan tepat dalam pembelajaran. Prinsip dan fungsi metode dalam pembelajaran 1. Prinsip metode pembelajaran dalam penggunaan metode mengajar, yaitu : a. Metode mengajar harus memungkinkan membangkitkan rasa ingin tahu siswa lebih jauh terhadap materi pelajaran. b. Metode mengajar harus membangkitkan siswa belajar melalui pemecahan masalah. c. Metode mengajar harus memungkinkan untuk selalu ingin menguji kebenaran sesuatu. d. Metode mengajar harus memungkinkan untuk melakukan penemuan terhadap suatu topik permasalahan. e. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk menyimak. f. Metode mengajar harus memungkinkan siswa belajar secara mandiri. g. Metode mengajar harus memungkinkan siswa ingin belajar secara bekerja sama. h. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk lebih termotivasi.

2. Fungsi metode pembelajaran a. Sebagai alat/cara mencapai tujuan pembelajaran.

15 b. Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan alat penilaian. c. Sebagai gambaran aktifitas yang harus ditempuh siswa dna guru dalam pembelajaran. d. Sebagai penguat daya ingat siswa. 1. Konsep Metode Demonstrasi 1. Pengertian metode demonstrasi Pengertian metode demonstrasi menurut Moh. Uzer Usman (1993:129) adalah suatu cara penyajian pelajaran dengan penjelasan lisan disertai perbuatan atau memperlihatkan suatu proses tertentu yang kemudian diikuti atau dicoba oleh siswa untuk melakukannya. 2. Tujuan dan manfaat penerapan metode demonstrasi Menurut Moh. Uzer Usman (1993:130) tujuan dan manfaat metode demonstrasi : a. Membina rasa tanggung jawab yang dibebaskan kepadanya, karena pada akhirnya tugas tersebut harus dipertanggungjawabkan (direstasi) dengan cara : a) b) c) laporan tertulis atau lisan membuat ringkasan menyerahkan hasil kerja dan sebagainya

b. Menemukan sendiri informasi yang diperlukan atau memantapkan informasi yang telah diperolehnya. c. Menjalin kerja sama dan sikap menghargai hasil kerja orang lain. 3. Langkah-langkah pelaksanaan metode demonstrasi Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam memahami metode demonstrasi adalah sebagai berikut : Pertama mempersiapkan alat bantu yang akan digunakan dalam pembelajaran.

16 Kedua Ketiga memberikan penjelasan tentang topik yang akan didemonstrasikan. pelaksanaan demonstrasi bersamaan dengan perhatian dan peniruan dari siswa. Keempat penguatan (diskusi, tanya jawab dan atau latihan) terhadap hasil demonstrasi. Kelima kesimpulan.

4. Karakteristik, Pengalaman Belajar, keunggulan, kelemahan metode demonstrasi. a. Karakteristik Metode Demonstrasi 1) sebenarnya. 2) 3) 4) melakukannya. b. Pengalaman Belajar Metode Demonstrasi 1) Mengamati sesuatu pada objek sebenarnya 2) Berpikir sistematis 3) Pemahaman terhadap proses sesuatu 4) Menerapkan sesuatu cara secara proses 5) Menganalisis kegiatan secara proses c. Keunggulan Metode Demonstrasi Menurut Depdikbud Dikti : 1) Memperkecil kemungkinan salah bila dibandingkan kalau siswa hanya membaca atau mendengar penjelasan saja, karena Ada proses peniruan Ada alat bantu yang digunakan Dapat guru atau siswa yang Mempertunjukkan objek yang

17 demonstrasi memberikan gambaran konkret yang memperjelas perolehan belajar siswa dari hasil pengamatannya. 2) Memungkinkan para siswa terlibat secara langsung dalam kegiatan demonstrasi, sehingga memberikan kemungkinan yang besar bagi siswa memperoleh pengalaman-pengalaman langsung. peluang keterlibatan dan memperoleh pengakuan dan penghargaan dari teman-temannya. 3) Memudahkan pemusatan perhatian siswa kepada dianggap penting, sehingga para siswa akan hal-hal yang benar-benar

memberikan perhatian khusus kepada hal tersebut. Dengan kata lain, perhatian siswa lebih mudah dipusatkan kepada proses belajar dan tidak tertuju kepada orang lain. 4) Memugkinkan para siswa mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang belum mereka ketahui selama demonstrasi berjalan, jawaban dari pertanyaan dapat disampaikan ole h guru pada saat itu pula. Selain kelebihan atau keunggulan, metode demonstrasi memiliki kekurangan-kekurangan sebagai berikut : 1) Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang teliti dan penerapannya memerlukan waktu yang sama. 2) Demonstrasi menurut peralatan yang ukurannya memungkinkan pengamatan secara tepat oleh siswa pada saat digunakan. 3) Demonstrasi mempersyaratkan adanya kegiatan lanjutan berupa peniruan oleh para siswa terhadap hal-hal yang didemonstrasikan.

18 4) Persiapan yang kurang teliti akan menyebabkan siswa melihat suatu tindakan, proses atau prosedur yang didemonstrasikan tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

2. Teknik dan Latihan Teknik latihan digunakan agar siswa memiliki beberapa kemampuan/ kompetensi serta keterampilan. Beberapa hal yang perlu dipertahankan dalam penggunaan teknik latihan baik lagi guru maupun siswa adalah sebagai berikut : 1. 2. Sifat latihan berbeda dengan latihan sebelumnya. Karena pengaruh dari latihan yang berbeda dapat mendatangkan

kondisi, respon serta tantangan yang berbeda pula. Latihan adalah suatu teknik mengajar yang mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan latihan agar memiliki keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari. Dengan melaksanakan kegiatan latihan secara praktis dan teratur, siswa lebih terampil dengan berkompetensi. Agar siswa tidak merasa bosan dalam memberikan latihan diselingi dengan pujian atau bertepuk tangan untuk memberi motivasi. Dilihat dari sifatnya, ada dua keterampilan dalam diri manusia : Pertama : Keterampilan yang sederhana, yaitu keterampilan yang dapat dikuasai dalam waktu singkat Kedua : Keterampilan yang sukar, yaitu keterampilan yang memerlukan latihan lama serta maksimal. Agar dalam melakukan latihan dapat memperoleh hasil yang maksimal, perlu diperlukan hal-hal sebagai berikut :

19 1. Guru dalam pembelajaran harus meneliti kesukaran/ hambatan yang

dialami siswa kemudian membimbingnya. 2. Guru dalam pembelajarannya harus memikirkan dan mengutamakan

proses yang esensial, pokok atau inti. 3. Guru dalam pembelajaran harus memperhatikan perbedaan individu

masing-masing siswa serta mengawasi latihan secara tersembunyi sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

F.

Media /Alat Peraga Penggunaan suatu media dalam pelaksanaan pengajaran bagaimanapun akan

membantu kelancaran, efektifitas dan efisiensi pencapaian tujuan. Media merupakan salah satu komponen yang tidak bisa diabaikan dalam pengembangan sistem pengajaran yang sukses. Seorang guru harus dapat menetapkan media apa yang paling tepat dan sesuai tujuan tertentu, penyampaian bahan tertentu, suatu kondisi belajar peserta didik dan untuk suatu penggunaan strategi yang dipilih. Berbagai media pengajaran adalah penting dilakukan guru dan lebih penting lagi jika guru memiliki kemampuan untuk membuatnya, Menurut Higgins dan Suyden (1976) yang menyimpulkan bahwa pemakaian alat peraga itu berhasil efektif dan banyak keberhasilannya dalam pembelajaran yang menggunakan alat peraga daripada yang tidak menggunakan alat peraga. Menurut B. Suryo Subroto (1984) pengertian media pengajaran yaitu alat pengajaran, alat peraga dan media pengajaran. Menurut Bringgs (1970) media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta perangsang peserta didik untuk belajar.

20 Media pendidikan atau pengajaran didefinisikan Gagae dan Raisen (1983:3) sebagai alat-alat fisik dimana pesan-pesan intruksional dikomunikasikan. Tujuan penggunaan media pengajaran 1. Memberikan kemudahan peserta didik untuk lebih memahami konsep, prinsip, sikap dan ketrampilan tertentu menggunakan media yang paling tepat menurut karakteristik. 2. Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat peserta didik untuk belajar. 3. Menumbuhkan sikap dan ketrampilan tertentu dalam teknologi karena peserta didik tertarik untuk menggunakan atau mengoperasikan media tertentu. 4. Menciptakan situasi belajar yang tidak dapat dilepaskan peserta didik. Fungsi Media Pengajaran 1. Alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif. 2. Bagian integral dan keseluruhan situasi mengajar. 3. Meletakkan dasar-dasar yang kongkrit dan konsep yang abstrak sehingga dapat mengurangi pemahaman yang bersifat verbalisme. 4. Membangkitkan motivasi belajar peserta didik. 5. Mempertinggi mutu belajar mengajar. Media Sederhana Media pembelajaran sederhana dalam hal ini sebagai jenis media yang mudah dibuat, bahan-bahannya mudah diperoleh, mudah digunakan, serta harganya relatif tidak terlalu mahal. Jenis media yang termasuk media sederhana yaitu media visual. Media Visual

21 Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indera penglihatan. Media yang termasuk dalam media visual diantaranya adalah media gambar diam/mati dan media realia. 1. Media gambar diam/mati (still picture) Media gambar diam adalah gambar-gambar yang disajikan secara fotografic. Keunggulan Media Gambar : 1. 2. 3. 4. Menjelaskan suatu faktor yang berupa peristiwa kejadian, keadaan Menunjukkan peristiwa dan keadaan secara realistik dan kongkrit Dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu Murah dan gampang digunakan

Kelemahan Media Gambar : 1. 2. 3. Tidak dapat dirasakan secara nyata suasana sebenarnya Menekankan kemampuan indera penglihatan Untuk kelas yang jumlah peserta besar sangat sulit karena terbatas

ukurannya 4. Dapat hilang, mudah rusak, bila tidak dirawat dengan baik.

2. Media Realita Media realia merupakan alat bantu visual dalam pembelajaran yang berfungsi memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik. Hal-hal yang perlu diperhatikan penggunaan media realia dalam pembelajaran adalah : 1. Gunakan objek tersebut sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. 2. Gunakan hanya objek-objek yang tepat/cocok. 3. Apabila menggunakan banyak objek, hendaknya objek tersebut satu sama lain berhubungan.

22 4. Perhatikan bentuk dan ukuran objek yang digunakan agar bisa dilihat oleh kelas secara keseluruhan. 5. Jangan terlalu banyak penjelasan sebab biasanya perhatian siswa tertuju pada objek yang ada bukan pada penjelasan. 6. Doronglah para siswa tertuju untuk bertanya dan memberikan tanggapan.

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN A. Subjek Penelitian Tempat Penelitian Tempat penelitian yang digunakan peneliti adalah siswa kelas I SD Negeri Kudaile 02 Kecamatan Slawi Kabupaten Tegal, pembelajaran IPA, dengan jumlah siswa 22 siswa. Karakteristik Siswa SD Negeri Kudaile 02 terletak di Slawi Kecamatan Slawi Kabupaten Tegal. Kultur masyarakatnya sangat heterogen. Khusus orang tua siswa SD Negeri Kudaile 02 sebagian besar bekerja sebagai buruh. Dengan kondisi yang demikian maka mempengaruhi pola pikir siswa dalam Proses belajar mengajar. Penulis melakukan penelitian tindakan kelas di Kelas I dengan jumlah siswa 22 siswa terdiri 11 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Perilaku siswa jelas beragam ada yang menonjol juga ada yang terbelakang kesemuanya itu merupakan tantangan bagi penulis untuk memperbaiki proses pembelajaran. Keadaan ruang kelas cukup memadai dengan sarana dan prasarana yang cukup memenuhi standar kualitas pendidikan dasar. Jadwal Pelaksanaan Pelaksanaan penelitian dengan subyek penelitian tersebut di atas,

dilaksanakan dalam 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II. Pelaksanaan masingmasing siklus terdapat pada jadwal pelaksanaan perbaikan pembelajaran di bawah ini : Jadwal pelaksanaan perbaikan pembelajaran. 23

24 No. 1. 2. Hari/Tanggal Rabu, 07 Maret 2012 Rabu, 28 Maret 2012 Waktu 70 menit 70 menit Mata Pelajaran IPA IPA Siklus Pertama Kedua

B.

Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran Dengan memperhatikan hasil identifikasi masalah, analisis masalah dan rumusan

masalah dari kegiatan per siklus, peneliti membuat rencana perbaikan pembelajaran dalam dua siklus. Masing-masing siklus tersebut menempuh 4 tahap, yaitu : 1. 2. 3. 4. Siklus I 1. Tahap Perencanaan Pada tahap perencanaan ini, peneliti berupaya untuk memperbaiki hasil proses pembelajaran yang belum mencapai tujuan, seperti yang diharapkan. Untuk itu peneliti mengambil beberapa langkah-langkah sebagai berikut : a. Membuat rencana perbaikan pembelajaran siklus I. b. Mempersiapkan alat peraga/media pembelajaran. c. Mempersiapkan lembar observasi. d. Meminta bantuan teman sejawat untuk melakukan Tahap Perencanaan Tahap Pelaksanaan Tahap Observasi Tahap Refleksi

observasi/pengamatan. e. Merancang dan membuat soal tes formatif siklus I. 2. Tahap Pelaksanaan

25 Pelaksanaan perbaikan siklus I diamati oleh seorang pengamat/observer menggunakan lembar observasi. Sedangkan kegiatan pembelajarannya adalah sebagai berikut : 1. Pra Kegiatan Belajar Mengajar a. Menyiapkan media pembelajaran. b. Berdoa c. Mengabsen d. Mengkondisikan siswa agar siap mengikuti proses pembelajaran. 2. Kegiatan Awal a. Guru melakukan apersepsi tanya jawab tentang materi yang akan diajarkan. b. Memotivasi siswa agar ada kemauan dan merasa senang dalam pembelajaran. c. Menginformasikan tujuan pembelajaran. 3. Kegiatan Inti a. Siswa memperhatikan penjelasan guru mengenai materi yang akan di pelajari. b. Siswa di bagi menjadi 4 kelompok,masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa. c. Guru mendemonstrasikan di depan kelas tentang gerak benda yaitu benda yang mudah bergerak dan benda yang sulit bergerak serta cara gerak benda memutar dan lurus. d. e. Masing-masing kelompok menerima LKS (Lembar Kerja Siswa) Siswa di minta untuk mengerjakan petunjuk yang ada di LKS.

26 f. Salah satu perwakilan kelompok di minta ke depan untuk membacakan hasil kerja kelompok. g. Setelah semua perwakilan kelompok membacakan hasil kerja kelompoknya, siswa di minta untuk kembali ke kondisi semula. h. Siswa bersama dengan guru mencoba menyimpulkan hasil dari kegiatan tadi. i. Siswa di beri kesempatan untuk bertanya mengenai materi yang baru saja di pelajari. 3. Tahap Pengamatan Pada tahap ini peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa dan guru : a. Aktifitas Siswa 1) 2) Tingkat keaktifan siswa dalam pembelajaran masih kurang. Siswa belum termotivasi. b. Aktivitas Guru 1) Guru memeriksa kesiapan siswa dan melakukan kegiatan

pembelajaran. 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Guru memotivasi siswa. Membimbing siswa dalam demonstrasi. Memberi penguatan pada siswa. Menggunakan metode yang variatif. Menggunakan alat peraga. Memusatkan perhatian siswa. Menumbuhkan partisipasi siswa. Melaksanakan penilaian akhir dengan alat tes.

27 Dalam melakukan observasi, peneliti dibantu oleh supervisor 2 dan teman sejawat untuk menjadi observer. Dari hasil observasi diperoleh data kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang meliputi : a. Hasil observasi pelaksanaan pembelajaran. b. Hasil Tes formatif siklus I. Data yang digunakan dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah sebagai berikut : a. Hasil ulangan tes formatif siklus I. b. Hasil pengamatan dari teman sejawat yang membantu melaksanakan pengamatan kegiatan pembelajaran. c. Data tentang refleksi diri dan perubahan-perubahan yang terjadi di kelas dari pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dan pengamat. 4. Tahap Refleksi Data-data hasil pengamatan pada siklus I di atas dikumpulkan dan dianalisis oleh peneliti dalam 2 aspek : Aspek Guru : a. 1) 2) 3) b. Aspek yang sudah baik dipertahankan seperti : Menguasai materi pelajaran. Menjelaskan materi pelajaran yang sesuai. Menggunakan alat evaluasi. Aspek yang belum baik perlu ditingkatkan.

Aspek Siswa :

28 Hasil tes siswa pada siklus I, mengalami kemajuan dibanding hasil tes pra siklus. Pada pra siklus siswa yang tuntas hanya 10 siswa dari 22 siswa atau 45,45% sedangkan pada siklus I siswa yang tuntas 15 siswa dari 22 siswa atau 68,18%. Siklus II Untuk pelaksanaan perbaikan pada siklus II didasarkan pada siklus I. aspekaspek yang sudah baik pada siklus I dipertahankan, sedangkan aspek-aspek yang kurang baik ditingkatkan. Tahap-tahap penelitian yang dilakukan pada siklus II sebagai berikut : 1. Tahap Perencanaan Pada tahap perencanaan ini, penulis berupaya untuk lebih

mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam proses pelaksanaan perbaikan pembelajaran, yaitu : a. Membuat Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) siklus II dan mempersiapkannya. b. Mempersiapkan alat peraga/media pembelajaran yang tepat. c. Mempersiapkan penggunaan metode pembelajaran yang tepat dan menarik untuk memotivasi siswa dan memperkuat daya ingatan. d. Mempersiapkan penggunaan metode pembelajaran yang tepat dan menarik untuk memotivasi siswa dan memperkuat daya ingatan. e. Mempersiapkan lembar observasi/pengamatan. f. Meminta bantuan teman sejawat untuk menjadi observer. g. Merancangkan dan membuat soal tes formatif siklus II. 2. Tahap Pelaksanaan

29 Pada tahap pelaksanaan perbaikan siklus dua ini, diobsevasi oleh seorang pengamat dengan menggunakan lembar observasi. Sedangkan pelaksanaan kegiatan proses pembelajarannya tersebut di bawah ini : Pra Kegiatan Belajar Mengajar Yang dilakukan peneliti/guru adalah : a. Guru menyiapkan alat pembelajaran b. Berdoa c. Mengabsen d. Guru mengkondisikan siswa agar siap mengikuti proses pembelajaran. Kegiatan Awal a. Apersepsi Guru menanyakan kepada siswa yang ada hubungannya dengan materi yang akan diajarkan. b. Guru memotivasi siswa agar suka dan merasa senang dalam pembelajaran. c. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Kegiatan Inti a. Siswa memperhatikan penjelasan guru mengenai materi yang akan di pelajari. b. Siswa di bagi menjadi 4 kelompok,masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa. c. Guru mendemonstrasikan di depan kelas tentang gerak benda yaitu benda yang mudah bergerak dan benda yang sulit bergerak serta cara gerak benda memutar dan lurus.

30 d. e. f. Masing-masing kelompok menerima LKS (LembarKerjaSiswa) Siswa di minta untuk mengerjakan petunjuk yang ada di LKS. Salah satu perwakilan kelompok di minta kedepan untuk membacakan hasil kerja kelompok. g. Setelah semua perwakilan kelompok membacakan hasil kerja

kelompoknya, siswa di minta untuk kembali kekondisi semula. h. Siswa bersama dengan guru mencoba menyimpulkan hasil dari kegiatan tadi. i. Siswa di beri kesempatan untuk bertanya mengenai materi yang baru saja dipelajari. 3. Tahap Observasi Peneliti melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran terhadap : a. Keaktifan dan keseriusan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. b. Keberhasilan dan kegagalan pembelajaran siswa yang meliputi tingkat pemahaman dan penguasaan materi pembelajaran. c. Penggunaan media pembelajaran dan metode yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam melakukan penelitian diperoleh data hasil pengamatan. Data-data ini diperoleh dari : 1) Hasil observasi pelaksanaan pembelajaran. Guru dalam pembelajaran sudah mengalami kemajuan, ini terbukti dari hasil observasi yang terdapat pada lembar observasi. 2) Hasil tes formatif siswa siklus II

31 Hasil tes siklus II dengan rata-rata 88 dengan ketuntasan siswa 86%. Data-data yang digunakan dalam PTK ini sebagai berikut : 1. Data hasil pembelajaran yang berupa hasil tes

siswa setelah akhir pelaksanaan siklus. 2. Data peningkatan pemahaman siswa yang

diperoleh berdasarkan peningkatan aktifitas siswa selama proses pembelajaran siklus I ke siklus berikutnya. 3. Data tentang refleksi diri dan perubahan-

perubahan yang terjadi di kelas. 4. Tahap Refleksi Data-data dari hasil pengamatan siklus II di atas dikumpulkan dan dianalisis oleh peneliti. Data-data tersebut disampaikan bagaimana hasil pembelajaran guru, kemudian direfleksi sebagai berikut : 1. Apakah terjadi peningkatan hasil belajar siswa

setelah menerapkan metode demonstrasi dan latihan serta media visual gambar diam dan realia ? 2. nilai atas standar ketuntasan ? Hasil tes pada siklus II, terdapat 3 siswa yang mendapat nilai di bawah standar ketuntasan. Siswa yang memperoleh nilai di atas standar ketuntasan sebanyak 19 siswa atau 86 % dan nilai rata-rata 88. jadi perbaikan yang dilakukan oleh guru/peneliti sudah berhasil. Berapakah jumlah siswa yang memperoleh

BAB IV HASIL DAN PENGEMBANGAN

A.

Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran Dalam penelitian tindakan kelas ini, data-data yang diperoleh dari hasil

penelitian berupa hasil pengamatan tindakan setiap siklus dan hasil tes formatif. Data-data tersebut akan dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan dan sebagai pedoman bagi peneliti dalam melakukan penelitian tindakan kelas ini. Dengan demikian peneliti bisa melakukan penilaian yang sesuai dengan sikap, minat dan kemampuan siswa, sehingga penelitian bisa berjalan dengan baik, yang pada akhirnya akan diperoleh hasil penelitian yang baik. Untuk itu peneliti membuat diskripsi data tersebut persiklus. 1. Siklus I Kegiatan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan peneliti pada materi pokok gerak benda adalah penguasaan materi pembelajaran dan pemberian umpan balik serta ketuntasan hasil nilai akhir yang dilaksanakan oleh siswa. Dalam memberikan penjelasan materi pembelajaran peneliti

menggunakan metode demonstrasi dan eksperimen serta alat peraga atau media pembelajaran benda nyata untuk mempermudah pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran siswa seperti siswa memperhatikan penjelasan dari guru, menjawab pertanyaan dari guru dan melakukan tugas dari guru. Peneliti juga memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya hal-hal yang belum jelas. 32

33 Pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada tahap I, dibantu oleh seorang pengamat dari teman sejawat untuk melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran. Dari hasil pengamatan diperoleh hasil sebagai berikut : a. siswa mau bertanya b. siswa yang menjawab pertanyaan dari guru dengan benar 3 siswa dari semua siswa. c. Siswa yang melaksanakan tugas dari guru dengan benar ada 8. Pertemuan dari siklus diakhiri dengan pemberian soal evaluasi kepada siswa sesuai dengan materi yang telah disampaikan dalam pembelajaran. Tujuan pelaksanaan evaluasi adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan peneliti dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil tes evaluasi siklus I sebagai berikut : a. Siswa yang mendapat nilai kurang dari 66 adalah 7 dari 22 siswa atau 32%. b. Siswa yang mendapat nilai 66 atau lebih sebanyak 15 siswa dari 22 siswa atau 68%. Refleksi Data-data dari hasil pengamatan proses perbaikan pembelajaran siklus I di atas, dikumpulkan dan dianalisis oleh peneliti. Kemudian dari hasil belajar, guru melakukan refleksi , yaitu : Hasil tes pada evaluasi siklus I, siswa yang mendapat nilai di bawah 66 (KKM) ada 7 siswa dari 22 siswa kelas I SD Negeri Kudaile 02 atau 32%, yang mendapat nilai 66 (KKM) atau lebih adalah 15 siswa dari 22 siswa atau 68%.

34 a. Mengapa peningkatan belajar siswa tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan? b. Apakah penggunaan alat peraga dalam pembelajaran kurang maksimal? c. Apakah metode yang digunakan kurang memotivasi belajar siswa, sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil yang diperoleh tersebut ternyata hasil belajar siswa belum mencapai apa yang diharapkan oleh peneliti. Nilai hasil evaluasi siswa masih banyak yang dibawah standar ketuntasan yaitu 66. dengan demikian peneliti melakukan penelitian tindakan kelas untuk siklus II. 2. Siklus II Kegiatan perbaikan pembelajaran siklus ini, dilaksanakan membahas kembali materi pokok. Karena pada materi pokok ini banyak siswa yang belum memahami dan menguasai materi. Pada masalah pemahaman dan penguasaan materi siswa, peneliti menggunakan pembelajaran secara maksimal,

menggunakan metode demonstrasi dan eksperimen serta alat peraga atau media pembelajaran benda nyata untuk pemahaman dan peningkatan aktifitas siswa. peneliti juga memberikan latihan-latihan serta pujian pada siswa yang dapat menjawab dengan benar. Selanjutnya peneliti menggunakan media visual gambar diam dan realia untuk meningkatkan pemahaman siswa. Kegiatan penelitian tindakan kelas ini tetap meminta bantuan teman sejawat yaitu guru, untuk mengamati jalannya proses pembelajaran. Dari hasil pengamatan diperoleh data hasil pembelajaran siswa sebagai berikut : a. Dari 22 siswa hanya 10 siswa yang mengajukan pertanyaan.

35 b. Ada 12 siswa yang menjawab pertanyaan guru dengan benar dari 22 siswa. c. Siswa yang mengerjakan tugas dengan benar ada 12 siswa dari 22 siswa. Pertemuan siklus II diakhiri dengan pelaksanaan evaluasi. Siswa mengerjakan soal-soal tes formatif sesuai dengan materi pembelajaran yang diajarkan. Tujuan evaluasi ini untuk mengetahui keberhasilan peneliti dalam upaya meningkatkan hasil prestasi belajar siswa. Hasil evaluasi pada siklus II sebagai berikut : a. Siswa yang mendapat nilai 66 (KKM) atau lebih sebanyak 19 dari 22 siswa atau 86%. b. Siswa yang mendapat nilai kurang dari 66, tidak ada atau 14%. Berdasar hasil tes ternyata apa yang diharapkan peneliti sudah tercapai. Peneliti mempunyai target pencapaian nilai rata-rata kelas minimal 80 atau hasil ketuntasan siswa 85%. Peningkatan pencapaian target tujuan hasil tes pra siklus, siklus I dan siklus II dalam ketuntasan, yaitu : a. Pada pra siklus nilai 66 < ada 45 %. b. Pada siklus I nilai 66 < ada 68 %, naik 23 % c. Pada siklus II nilai 66 < ada 86 %, naik 86 % dari pra siklus. Oleh karena penelitian yang dilakukan sudah selesai, pada akhir siklus II. Untuk lebih rinci dalam pembuatan laporan hasil penelitian, penulis mencantumkan nama-nama siswa dan perolehan nilai tes pra siklus, siklus I dan siklus II, diagram batang, dan grafik prosentasi ketuntasan hasil belajar.

36 Tabel 1 Perolehan Nilai Tes Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II Mata Pelajaran IPA KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) : 66 Nama Siswa No. 1. Adi Setiawan 2. Aprilia Bunga L 3. Awaliyah Ely A 4. Avan Dwi P 5. David Prayoga 6. Diki Gistiawan H S 7. Dela Cahyati 8. Eti Apriliani 9. Fauzan Adimah 10. Kaisar Akbar Al J 11. Lusi Apriyani 12. M. Faiq Fadli 13. Muklis rizky A 14. Nafa Nur A 15. Rafli Julian N 16. Rizqi Sarah A 17. Saeful Hidayat 18. Sinta Riskiani 19. Stevi Yola F 20. Tomi 21. Vera Mely A 22. Vina Agustin Persentase / Rata-rata Keterangan : N T BT : Nilai : Tuntas : Belum Tuntas Nilai Hasil Tes Formatif Pra Siklus Siklus I Siklus II N T BT N T BT N T BT 60 80 80 65 100 60 80 90 40 70 80 60 20 100 40 90 60 80 90 100 50 65 70 80 100 100 80 90 100 90 100 50 90 60 60 90 90 60 95 100 50 30 60 100 90 100 50 75 70 80 85 100 90 95 100 50 20 70 80 100 100 90 85 100 67 45% 55% 69,31 68% 32% 87,72 86% 14%

37

38 Tabel 2 Perolehan Nilai Pra Siklus Mata Pelajaran IPA Banyaknya No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nilai 40 50 60 70 80 90 100 Jumlah Siswa 2 5 5 6 3 1 22 Jumlah 80 250 300 0 480 270 100 1480 Ket BT BT BT T T T T

Diagram 1 : Perolehan Nilai Pra Siklus Mata Pelajaran IPA

39

6 5 4 3 2 1 0 Nila 4 Nila 5 Nila 6 Nila 7 Nila 8 Nila 9 Nila 1 0 i 0 i 0 i 0 i 0 i 0 i 0 i 0 Pra siklus

Tabel 3 Perolehan Nilai Siklus I Mata Pelajaran IPA

Banyaknya No. 1. 3. 5. 7. 9. 10. 11. Nilai 40 50 60 70 80 90 100 Jumlah Siswa 1 6 0 4 5 3 3 22 Jumlah 40 300 0 280 400 270 300 1590 Ket BT BT BT T T T T

Diagram 2 : Perolehan Nilai Siklus I Mata Pelajaran IPA

40

6 5 4 3 2 1 0 Nila 2 Nila 5 Nila 6 Nila 7 Nila 8 Nila 9 Nila 1 0 i 0 i 0 i 0 i 0 i 0 i 0 i 0 S iklusI

Tabel 4 Perolehan Nilai Siklus II Mata Pelajaran IPA

Banyaknya No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nilai 50 60 70 80 90 100 Jumlah Siswa 0 3 3 2 2 12 22 Jumlah 0 180 210 160 180 1200 1930 Ket BT BT T T T T

Diagram 3 Perolehan Nilai Siklus II Mata Pelajaran IPA

41

1 2 1 0 8 6 4 2 0 Nilai 5 Nilai 6 Nila 7 Nilai 8 Nilai 9 Nila 1 0 0 0 i 0 0 0 i 0 S iklusII

B. 1.

Pembahasan Persiklus Pra Siklus Pelaksanaan pembelajaran pada pra siklus berjalan cukup baik dibandingkan sebelum diadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hal tersebut ditunjang dengan proses pembelajaran yang berbeda dengan sebelumnya, dimana guru/peneliti dalam menjelaskan materi pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi dan latihan yang menarik pelaksanaannya. Dalam pembelajaran perlu diberi motivasi kepada siswa yang pasif dan siswa yang aktif menjadi lebih aktif. Dari hasil pengamatan observasi, peneliti mendapat masukan tentang kelebihan dan kekurangan pada waktu proses pembelajaran. Kelebihan peneliti dalam melakukan proses pembelajaran ada pada aktifitas belajar siswa yang mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Sedangkan kelemahannya terletak pada perhatian siswa yang pasif supaya ditingkatkan menjadi lebih aktif. Pengamatan observer terhadap media pembelajaran sudah cukup baik tetapi belum maksimal dalam penggunaan media pembelajaran. Media pembelajaran tidak seluruhnya digunakan. Ada beberapa yang seharusnya

42 digunakan terlupakan. Padahal media itu juga bisa meningkatkan daya ingat anak dalam pembelajaran. Hal tersebut harus diperhatikan oleh peneliti, bahwa penggunaan media pembelajaran yang tepat akan membawa hasil yang lebih baik sehingga prestasi belajar siswa lebih meningkat. Penggunaan metode pemberian tugas dan latihan yang dilakukan sudah baik. Kekuranganya terletak pada siswa yang belum mengerjakan tugas dan latihan kurang mendapat kesempatan bimbingan. Hal ini harus menjadi perhatian peneliti, sebab tingkat kemampuan siswa tiap individual berbedabeda. Untuk itu guru/peneliti harus memberikan bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan. Hasil tes yang diperoleh sudah ada peningkatan. Ketuntasan hasil tes pada pra siklus hanya 45%, nilai rata-rata pra siklus 67. Peningkatan hasil prestasi belajar siswa belum sesuai dengan harapan peneliti/guru. Dengan perolehan nilai rata-rata yang masih dibawah standar ketuntasan dan prosentasi ketuntasan yang masih rendah peneliti perlu mengadakan perbaikan pembelajaran kembali atau melakukan penelitian tindakan kelas. 2. Siklus I Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I berjalan cukup baik dibandingkan sebelum diadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hal tersebut ditunjang dengan proses pembelajaran yang berbeda dengan sebelumnya, dimana guru/peneliti dalam menjelaskan materi pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi dan latihan yang menarik pelaksanaannya. Dalam pembelajaran perlu diberi motivasi kepada siswa yang pasif dan siswa yang aktif menjadi lebih aktif.

43 Dari hasil pengamatan observasi, peneliti mendapat masukan tentang kelebihan dan kekurangan pada waktu proses pembelajaran. Kelebihan peneliti dalam melakukan proses pembelajaran ada pada aktifitas belajar siswa yang mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Sedangkan kelemahannya terletak pada perhatian siswa yang pasif supaya ditingkatkan menjadi lebih aktif. Pengamatan observer terhadap media pembelajaran sudah cukup baik tetapi belum maksimal dalam penggunaan media pembelajaran. Media pembelajaran tidak seluruhnya digunakan. Ada beberapa yang seharusnya digunakan terlupakan. Padahal media itu juga bisa meningkatkan daya ingat anak dalam pembelajaran. Hal tersebut harus diperhatikan oleh peneliti, bahwa penggunaan media pembelajaran yang tepat akan membawa hasil yang lebih baik sehingga prestasi belajar siswa lebih meningkat. Penggunaan metode pemberian tugas dan latihan yang dilakukan sudah baik. Kekuranganya terletak pada siswa yang belum mengerjakan tugas dan latihan kurang mendapat kesempatan bimbingan. Hal ini harus menjadi perhatian peneliti, sebab tingkat kemampuan siswa tiap individual berbedabeda. Untuk itu guru/peneliti harus memberikan bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan. Hasil tes yang diperoleh sudah ada peningkatan. Ketuntasan hasil tes pada pra siklus hanya 45% sedangkan pada siklus I meningkat menjadi 68%. Nilai rata-rata juga mengalami peningkatan, nilai rata-rata pra siklus 67 sedangkan pada siklus I 72. Peningkatan hasil prestasi belajar siswa belum sesuai dengan harapan peneliti/guru. Dengan perolehan nilai rata-rata yang masih dibawah standar ketuntasan

44 dan prosentasi ketuntasan yang masih rendah peneliti perlu mengadakan perbaikan pembelajaran kembali atau melakukan penelitian tindakan kelas. 3. Siklus II Pada pelaksanaan siklus II ini, siswa yang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran lebih meningkat jika dibandingkan dengan siklus I. keadaan seperti ini sangat membanggakan dan menggembirakan peneliti, karena siswa yang sudah berhasil dalam pembelajaran sudah mencapai 86%. Hal itu juga berarti bahwa upaya penelitian yang dilakukan guru sudah berhasil. Adapun hasil observer terhadap pembelajaran guru sudah lebih. Hal itu dapat dilihat dari pencapaian nilai rata-rata siswa. nilai rata-rata siswa pada siklus II yaitu 88. ini berarti peningkatan yang diperoleh 21 dari pra siklus dan 16 dari siklus I. Hasil pengamatan terhadap penggunaan metode dan alat pembelajaran lebih meningkat. Dan juga pada pemberian tugas dan latihan, siswa yang mengalami kesulitan mendapat kesempatan dalam bimbingan. Keaktifan siswa pun sudah meningkat siswa dengan serius mengikuti pembelajaran dan berperan aktif dalam segala kegiatan pembelajaran. Siswa aktif dengan tanya jawab, aktif melakukan tugas dari guru, dan aktif dalam memanfaatkan penggunaan alat peraga. Dengan demikian langkah-langkah yang ditempuh peneliti dari siklus I dan II, telah berhasil, keberhasilan peneliti dalam pembelajaran hasil penelitian tindakan kelas akan dijadikan sebagai acuan untuk pembelajaran yang akan datang.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Dari hasil perbaikan pembelajaran siklus satu dan siklus dua yang telah dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan keberhasilan pembelajaran pokok bahasan membedakan gerak benda yang mudah bergerak dengan benda yang sulit bergerak bahwa : Metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman pada materi pokok membedakan gerak benda yang mudah bergerak dengan benda yang sulit bergerak. Dalam penerapan metode demonstrasi guru mengawali pembelajaran dengan contoh-contoh yang cukup, kemudian siswa melaksanakan demonstrasi. Pemberian latihan dilakukan berulang-ulang dengan bimbingan guru yang cukup sampai siswa dapat Memecahkan masalah. Hal ini dapat dibuktikan melalui perolehan nilai pada hasil evaluasi akhir pada pra siklus dengan rata-rata nilai 67 siklus I rata-rata nilai 72 dan rata-rata nilai pada siklus II mencapai 88. 2. Saran Agar siswa kelas I memiliki kemampuan dalam membedakan gerak benda yang mudah bergerak dengan benda yang sulit bergerak, selanjutnya akan dapat meningkatkan taraf serap siswa terhadap materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, maka penulis menyarankan : a. Guru sebaiknya setelah selesai melaksanakan pembelajaran selalu

melaksanakan refleksi guna menemukan pembelajaran, sehingga perbaikan pembelajaran dapat dilaksanakan dengan tepat dan efektif.

45

46 b. Tindakan pelaksanaan perbaikan pembelajaran sebaiknya dilaksanakan sesuai rencana. c. Guru sebaiknya memberikan penjelasan secara sistematis, memberikan latihan yang memadai, memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, memberikan penguatan kepada siswa pada waktu yang tepat. d. Guru sebaiknya menganalisis hasil tes, sehingga dapat menentukan siswa yang akan mengikuti pengerjaan dan siswa yang perlu melaksanakan program perbaikan. Bagi guru yang mempunyai masalah dengan materi membedakan gerak benda yang mudah bergerak dengan benda yang sulit bergerak sebaiknya guru mencoba menyelesaikan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Kemudian kepada sekolah senantiasa mendukung setiap penelitian yang dilaksanakan guru.

DAFTAR PUSTAKA

Hera Lestari Mikarsa, dkk. 2007. Terbuka.

Pendidikan Anak di SD,

Jakarta, Universitas

Prof. Dr. Mohammad Ali, M.Pd. MA, dkk.2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bandung, Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI. Moh. Uzer Usman, 1993. Strategi Belajar, Jakarta. Universitas Terbuka. Mulyani Sumantri, Johar Permana, 2001. Strategi Belajar, Jakarta. Universitas Terbuka. Suciati, dkk. 2007. Belajar dan Pembelajaran @, Jakarta, Universitas Terbuka Suprayekti, dkk, 2007, Belajar dan Pembelajaran 2, Jakarta. Universitas Terbuka. Udin S. Winataputra, 2005. Strategis Belajar Mengajar, Jakarta, Universitas Terbuka. Udin S. Winataputra, dkk. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, Universitas Terbuka. Winarno dan R. Eko Djuniarto, 2003, Perencanaan Pembelajaran, Jakarta. Direktorat Tenaga Kependidikan.

47