Anda di halaman 1dari 4

Muslim, Intelektual, Profesional

(sebuah kado untuk milad HMI ke-61) oleh Rizky Wahyuni*) Himpunan Mahasiswa Islam disingkat HMI merupakan organisasi mahasiswa tertua yang didirikan di Indonesia. Selang dua tahun dari kemerdekaan Indonesia berdirilah HMI sebuah organisasi kader yang diprakarsai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa tingkat satu Sekolah Tinggi Islam (sekarang bernama UII) tepatnya pada 14 Rabiul Awal 1366 H atau 5 Februari 1947 M di Jogjakarta. Latar belakang historis dan tujuan berdirinya organisasi kader ini adalah memepertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia, meningkatkan derajat kehidupan bangsanya serta menegakkan ajaran islam dan memajukan ummatnya. Tepat pada 5 Februari 2008 ini HMI menginjak pada usia 61 tahun. Usia yang senja jika diibaratkan sebagai seorang manusia, namun bagi ukuran sebuah organisasi usia demikian merupakan usia yang matang dengan segala pengalaman merekaman sejarah yang pernah dilaluinya. Tentu saja dengan perjalanan sedemikian panjang HMI mengalami dinamika yang luar biasa. Mulai dari tantangan eksternal organisasi baik itu yang datang dari sistem pemerintahan, kehidupan bebangsa dan sekitarnya maupun tantangan internal dengan adanya perpecahan ditubuh HMI (DIPO dan MPO) dualisme kepemimpinan di pucuk pimpinan (PB-HMI) dan sebagainya. Dalam usia 61 tahun tersebut HMI telah melewati beberepa fase proses berbangsa dan bernegara di republik ini. Mulai dari orde lama (1945-1965), orde baru (1965-1998) dan orde reformasi (1998-sekarang). Dalam selang tersebut HMI telah banyak menghasilkan para cendekiawan Muslim yang memberikan sumbangsih pemikiran terhadap permasalahan keumatan dan kebangsaan sebut saja Deliar Noer, Nurcholish Madjid, Imaddudin Abdurrahim. Syafii Maarif, Azyumardi Azra dan Komarudin Hidayat. Atau tokoh-tokoh politik nasional seperti Akbar Tanjung, Amien Rais, A, Yusuf Kalla dsb. Diskursus tentang HMI dari awal berdirinya hingga kini tak pernah berhenti, ada yang menyanjungnya setingi langit hingga membenamkannya keperosok jurang yang paling dalam. Tak berlebihan kiranya mengingat kebesaran peran dan gerakannya yang membawa HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam yang diperhitungkan sekaligus menjadi sorotan publik. Apapun yang dilakukan oleh HMI baik itu secara organisasi maupun sebagai individu selalu menjadi perhatian masyarakat. Walau sampai kini HMI masih eksis sebagai sebuah organisasi berbasis ke-Islaman, keIndonesiaan dan kepemudaan, namun ternyata banyak sekali persoalan yang tengah dihadapi. Jika diibaratkan seorang anak manusia yang berusia 61 tahun tentunya adalah seorang kakek atau nenek yang didalam tubuhnya sedang bersarang berbagai penyakit. Tentu saja agar tidak segera ajal menjemputnya harus dilakukan diagnosa untuk melakukan pengobatan dan treatment terhadapnya.

Tidak tabu rasanya di hari yang bersejarah bagi awal perjuangan HMI ini seluruh kader-kader HMI mencoba untuk mendiagnosa melakukan refleksi dan evaluasi terhadap perjalanan HMI. Bahkan dirasakan kader-kader perlu melakukan otokritik terhadap dirinya (baca:HMI) agar HMI bisa terus survive dalam kondisi kontemporernya. Diagnosa Kondisi HMI hari ini Sebenarnya Prof. Agussalim Sitompul yang juga merupakan pakar sejarah HMI telah mendiagnosa kemunduran HMI secara komprehensif dalam bukunya 44 Indikator kemunduran HMI. Tulisan ini hanya ingin sedikit memepertegas bahawa sebenarnya sebagai organisasi HMI tidak nilai.Siapa saja boleh memberikan penilaian terhadap eksistensi organisais ini. Terlebih bagi mereka yang terjun langsung menggumilinya. Keberadaan HMI sebagai organisasi kemahasiswaan sebagai satu stuktur dalam kehidupan sosial sudah sejak lama disinyalir mengalami kelesuan bahkan kemunduran. Hal tersebut adalah suatu fenomena sosial yang tidak lepas dari pengaruh lingkungan global sebagai bentuk interaksi sosial. Kehidupan sosial masyarakat selalu mengalami progres yang begitu luar biasa. HMI sebagai bagian dari sistem pranata sosial tersebut sepertinya kurang dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang terjadi. Kader-kader HMI sepertinya gagap dengan kemajuan dan perkembangan zaman yang ada. Persoalan global, kemajuan teknologi informasi penguasaan bahasa asing kurang mendapat tempat dihati pegiat organisasi ini. Padahal hal tersebut yang menjadi perhatian dunia belakangan ini. Salah satu hal penting yang mulai memudar pada HMI hari ini juga adalah semakin berkurangnya komitmen keislaman dan keumatan kader-kader HMI. Terutama dalam merespon permasalahan keumatan. keberpihakan HMI pada persolana keumatan terutama umat Islam dirasa semakin tak nyata. HMI seperti kehilangan jatidiri keislamannya. tak jarang sebagian masyarakat Indonesia membaut definisi I dalam HMI dengan Indonesia. Suatu kenyataan yang tak dapat dipungkiri lagi saat ini adalah persoalan perkaderan. HMI tidak lagi dapat mengakar di kampus bahkan lebih ekstrim tidak diminati oleh sebagian mahasiswa. HMI dihadapkan pada kondisi serba ketidak jelasan terlebih bila berbicara persoalan kampus dimana seharusnya HMI berada. Kita (HMI) akan berhadapan dengan perubahan yang drastis dan radikal pada wajah kampus. Saat ini kampus dihiasi dengan wajah-wajah pragmatis dan hedonis. Dan sistem perkuliahanpun semakin tidak ramah dengan aktifitas yang dilakukan oleh HMI maupun organisasi kemahasiswaan lain. HMI belum punya treatment yang jelas untuk dapat merubah bahkan lebih sederhananya menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Kita (HMI) terkesan kebingungan menempatkan diri secara tepat dalam perkembangan realitas kehidupan yang semakin kompleks. Kita masih berkutat pada pola-pola lama dan kering inovasi. ada sebagian kader yang survive di kampus itu hanya suatu kebetulan belaka. Kondisi seperti ini memang tidak hanya dirasakan oleh HMI sebagai organisasi kemahasiswaan, tapi seluruh organisasi ekstra dan intra yang ada di lingkungan kampus. Namun kurangnya minat mahasiswa untuk beraktifitas organisasi bukan menjadi apology bagi HMI karena bagi HMI Kampus merupakan centra paling vital. Hal tersebut mengingat HMI merupakan organisasi kader

bagi mahasiswa-mahasiswa islam yang ada di universitas maupun perguruan tinggi yang ada. Kader bagi HMI baik secara kualitas dan kuantitas merupakan harga mati yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Belum lagi kita selesai membahas persoalan minimnya tingkat rekrutmen perkaderan di kampus kita dihadapkan kembali pada persoalan berkurangnya tadisi intelektual HMI. Ini merupakan suatu kenyataan yang sangat memperihatinkan. Padahal jika kita beromantisme sebentar dengan masa lalu, HMI pada dekade tahun 1970-an banyak melahirkan kader-kader yang sangat prestisius dalam bidang intelektual sebut saja Nurcholis Madjid, Ridwan Saidi, M. Dahlan Ranuwiharjo, Dawam Raharjo yang mampu melahirkan pemikirian-pemikiran mumpuni yang masih up to date hingga saat ini. Peningkatan kapasitas intelektual yang semestinya didukung oleh tradisi RWD (reading, writing and discusion) semakin jauh dari wajah HMI. Karena berkurangnya tradisi-tradisi tersebut mengakibatkan kebanyakan kader HMI kering wacana tidak leading dalam ide. Forum-forum diskusi / forum ilmiah jarang di hadiri oleh kader, tulisan-tulisan yang dimuat dimediapun sangat minim dari kader-kader HMI. kini wjah HMI berganti dengan wajah mereka yang senang dengan hura-hura dan kesenangan sesaat semata. Berkurangnya perhatian HMI pada peningkatan kapasitas intelektual disebabkan juga karena para praktisi HMI cenderung politic orientied. Kader-kader HMI lebih senang berbicara bagaimana menguasai struktur pemerintahan mahasiswa ketimbang berbicara bagaimana mendobrak kebekuan sistem perkuliahan di kampus. Para senior asyik mempresure juniornya untuk merebut kekeuasaan di berbagai lini bukan mendorong para juniornya untuk berkarya dan berprestasi. persolana tersebut diatas merupakan sebagian kecil dari persoalan yang selalu dihadapi oleh HMI. mengapa demikian, karena penulis menemukan bahwasanya persoalan yang terjadi dari masa-kemasa di HMI tak jauh dari persoalan diatas. Kembali Pada Muslim-Intelektual-Profesional Agar HMI tidak semakin tergerus dan terlindas oleh perkembangan zaman maka perlu ada trobosan baru yang dilakukan oleh HMI dlakukan secara simultan, berkesinambungan dan didukung oleh seluruh elemen yang ada di HMI baik itu tingkat PB, Badko, Cabang, Komisariat maupun lembaga pengembangan profesi yang ada di lingkungan HMI. Sebenarnya kalau kita (HMI) mau jujur, benar-benar mendalami dan berkomitemen melakukannya semua treatmen untuk memperbaiki HMI telah tergambar jelas di lima kualitas insan cita HMI. Kualitas insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yang terwujud oleh HMI di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Lebih ringkasnya termuat dalam slogan HMI, Muslim-Intelektual-Profesional. Selogan itu telah menjadi spirit of life nya kader-kader HMI. Namun selogan itu tentunya bukan hanya sebagai pembakar semangat bagi kader-kader HMI setelahnya tak berguna apa-apa. Kader HMI harus mampu meterjemahkan slogan tersebut dalam kehidupan nyatanya.

Muslim, sebagai organisasi mahasiswa yang bernafaskan islam seharusnya Islam menjadi jiwa dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya para kadernya. Sebagai seorang muslim sejati ajaran Islam harus membentuk unity personality dalam diri setiap kader. Kualitas ini harus terintegrasikan dengan baik untuk dapat menajawab masalah bangsa dan perjuangan umat islam Indonesia dewasa ini. Intelektual, Intelektual dicerminkan dari berpendidikan Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis. sejak puluhan tahun silam HMI terkenal dengan organisasi intelektual dimana kader-kader yang ada didalamnya mempunyai kapasitas intelektual yang sangat tinggi, kaya akan konsep, terdepan dalam ide dan gagasan Untuk itu kader-kader HMI sekarang harus tetap mempertahankannya. Penciptaan kondisi iklim intelektual dan akademis seperti menggiatkan kembali budaya diskusi, menulis dan membaca perlu dilakukan di lingkungan HMI. Profesional, dizaman yang semakin maju ini menuntut semua serba profesioanal. Keprofesionalan yang dimaksud adalah kader HMI sanggup berdiri diatas ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu pilihannya, baik secara teoritis maupun tekhnis dan sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan yang ada. Ditengah tuntutan dan tantangan yang dihadapi HMI, memang diharapkan dapat menempatkan diri secara tepat dan dapat berperan secara optimal sebagai organisasi kemahasiswaan, organisasi kader dan perjuangan. Ketiga konsep tersebut diatas hanya merupakan dasar atau landasan yang harus menjadi spirit of life HMI. Untuk metode aplikasi dan praktisnya tergantung dari tingkat kreatifitas para fungsionaris HMI baik tingkat PB, Badko, Cabang maupun Komisariat dan tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing daerah baik cabang ataupun komisariat. Ibarat barang dagangan HMI harus mampu merubah wajahnya agar menjadi marketable dengan sistem marketing yang baik dan visioner serta dengan marketer-marketer yang handal. Masih banyak yang perlu dilakukan oleh HMI terutama menyangkut persoalan eksistensinya. tulisan ini memang tak cukup banyak memberikan kontribusi bagi perbaikan HMI, tapi setidaknya mampu memberikan ruang bagi HMI terutama kader-kadernya untuk sejenak berfikir dan kemudian bertindak. Di hari jadi HMI ke-61 yang tepat jatuh pada 5 Februari 2008 ini harus jadi momentum untuk HMI agar tidak terlena dengan euforia kebesaran dan kesuksesan dimasa lalu. Harus ada langkah kongkrit merealisasikannya yang merupakan tanggung jawab segenap keluarga besar HMI. Selamat milad HMI ke-61, Go Ahead, Yakin Usaha Sampai! *) Direktur Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi-Hmi)Cabang Pontianak