Anda di halaman 1dari 15

A.

Definisi Henshaw (2007) mendefinisikan setiap sindrom perimenstrual sebagai gejala psikologis dan fisik yang berulang secara teratur pada fase luteal dari siklus menstruasi, berkurang paling sedikit satu minggu pada fase folikular, dan menyebabkan distres disertai gangguan fungsional. Karakteristik gangguan fungsional telah dilaporkan dalam berbagai penelitian. Namun, hubungan yang tepat antara sindrom pramenstruasi / premenstrual dysphoric disorder dan gangguan suasana hati tetap tidak jelas. Meskipun sindrom pramenstruasi berespon baik dengan obat Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI), terjadinya depresi lebih cepat dibandingkan dengan depresi yang utama. Hubungan erat sementara antara gejala-gejala dari sindrom perimenstrual dan siklus menstruasi menunjukkan bahwa faktor biologis adalah etiologi yang kuat. Aksis Hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) , sistem GABA, sistem serotonergik, dan opioid endogen telah terlibat dalam etiologi sindrom perimenstrual. Craig dkk, telah menetapkan bahwa estrogen dapat mempengaruhi kolinergik serotonergik, dopaminergik, dan noradrenergik. Yang termasuk ke dalam bagian Sindroma Perimenstruasi (Gambar 1) adalah Sindroma premenstruasi/ Premenstrual Syndrome (PMS), Gangguan dysphoric premenstrual/ Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) , Nyeri dan ketidaknyamanan pada siklus perimenstruasi / Cyclic Perimenstrual Pain and Discomfort (CPPD), dan Magnifikasi premenstruasi (premenstrual magnification).

Gambar 1. Sindroma Perimenstruasi

B. Etiologi

Sindrom premenstruasi banyak mempengaruhi para remaja dan wanita wanita di dalam awal usia 2050 tahun yaitu dimulai pada tahap awal pubertas dan berakhir

pada tahap menopause.Sindroma premenstruasi mungkin berhubungan dengan naikturunnya kadar estrogen dan progesteron yang terjadi selama siklus menstruasi. estrogen menyebabkan penahanan cairan, yang kemungkinan menyebabkan bertambahnya berat badan, pembengkakan jaringan, nyeri payudara dan perut kembung. Penyebab yang pasti dari sindroma premenstruasi tidak diketahui tetapi mungkin berhubungan dengan faktor-faktor sosial, budaya, biologi, dan psikis.

C. Diagnosis 1. Sindrom Premenstruasi /Premenstrual syndrome (PMS)

Menstruasi adalah pelepasan dinding endometrium yang disertai dengan pendarahan yang terjadi secara berulang setiap bulannya kecuali pada saat kehamilan . Bagi sebagian wanita saat-saat menjelang menstuasi sering merasa tidak nyaman, bahkan sering sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti sakit perut hingga bagian pinggang, mual atau pusing keadaan ini disebut Sindrom Premenstruasi Menurut pengertian lain, salah satu kumpulan gejala gejala gangguan derajat kesehatan yang sulit diidentifikasi secara akurat pada wanita adalah yang dikenal sebagai Sindrom Premenstruasi. Sindrom premenstruasi merupakan suatu keadaan di mana sejumlah gejala terjadi secara rutin dan berhubungan dengan siklus menstruasi gejala biasanya timbul 7-10 hari sebelum menstruasi dan menghilang ketika menstruasi dimulai.

Gejala Jenis dan beratnya gejala bervariasi pada setiap wanita dan bervariasi pada setiap bulan Gejala-gejala yang mungkin ditemukan adalah: Perubahan fisik seperti sakit punggung, perut kembung, payudara terasa penuh dan nyeri, perubahan nafsu makan, sembelit, pusing, pingsan, sakit kepala, daerah panggul terasa berat atau tertekan, hot flashes (kulit wajah, leher, dada tampak merah dan teraba hangat), susah tidur, tidak bertenaga, mual dan muntah, kelelahan yang luar biasa, kelainan kulit (misalnya jerawat dan neurodermatitis), pembengkakan jaringan atau nyeri persendian, penambahan berat badan Perubahan suasana hati seperti cemas, depresi, mudah tersinggung, gelisah dan sebentar sedih sebentar gembira Perubahan mental seperti kalut, sulit berkonsentrasi, pelupa.

Tipe Tipe Sindrom Premenstruasi Terdapat beberapa macam tipe dan gejala sindrom premenstruasi, Dr. Guy E. Abraham, ahli kandungan dan kebidanan dari Fakultas Kedokteran UCLA, AS membagi sindrom premenstruasi menurut gejalanya yakni sindrom premenstruasi tipe A,H,C, dan D. 80% gangguan sindrom premenstruasi termasuk tipe A, penderita tipe H sekitar 60%, sindrom premenstruasi C 40%, dan sindrom premenstruasi D

20%. Kadang kadang seorang wanita mengalami kombinasi gejala, misalnya tipe A dan D secara bersamaan dan setiap tipe memiliki gejalanya sendiri sendiri. Tipe tipe sindrom premenstruasi antara lain : 1.) Tipe A Sindrom Premenstruasi tipe A (anxiety) ditandai dengan gejala seperti rasa cemas, sensitif, saraf tegang, perasaan labil. Bahkan beberapa wanita mengalami depresi ringan sampai sedang saat sebelum mendapat menstruasi. Gejala ini timbul akibat ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron. Hormon estrogen terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon progesteron. Pemberian hormon progesteron kadang dilakukan untuk mengurangi gejala, tetapi beberapa peneliti mengatakan, pada penderita sindrom premenstruasi bisa jadi kekurangan vitamin B6 (ayam, ikan, hati, telur) dan magnesium (berbagai jenis kacang polong, apel, alpukat, pisang) serta banyak mengkonsumsi makanan berserat dan sayuran berwarna hijau tua seperti brokoli dan mengurangi atau membatasi minum kopi. 2. ) Tipe H Sindrom premenstruasi tipe H (hyperhydration) memiliki gejala edema (pembengkakan), perut kembung, nyeri pada buah dada, pembengkakan tangan dan kaki, peningkatan berat badan sebelum menstruasi. Gejala tipe ini dapat juga dirasakan bersamaan dengan tipe sindrom premenstruasi lain. Pembengkakan itu terjadi akibat berkumpulnya air pada jaringan di luar sel (ekstrasel) karena tingginya asupan garam atau gula pada diet penderita.

Pemberian obat diuretika untuk mengurangi retensi (penimbunan) air dan natrium pada tubuh hanya mengurangi gejala yang ada. Untuk mencegah terjadinya gejala ini penderita dianjurkan mengurangi asupan garam dan gula pada diet makanan serta membatasi minum sehari hari. 3.) Tipe C Sindrom premenstruasi tipe C (craving) ditandai dengan rasa lapar ingin mengkonsumsi makanan yang manis manis (biasanya coklat) dan karbohidrat sederhana (biasanya gula). Pada umumnya sekitar 20 menit setelah menyantap gula dalam jumlah banyak, timbul gejala hipoglikemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing kepala yang terkadang sampai pingsan. Hipoglikemia timbul karena pengeluaran hormon insulin dalam tubuh meningkat. Rasa ingin menyantap makanan manis dapat disebabkan oleh stres, tinggi garam dalam diet makanan, tidak terpenuhinya asam lemak esensial (omega 6), atau kurangnya magnesium. 4.) Tipe D Sindrom premenstruasi tipe D (depression) ditandai dengan gejala rasa depresi, ingin menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit dalam mengucapkan kata kata (verbalisasi), bahkan kadang kadang muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri. Biasanya tipe D berlangsung bersamaan dengan tipe A, hanya sekitar 3% dari seluruh tipe benar benar murni tipe D. Sindrom premenstruasi tipe D murni disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogen, di mana hormon estrogen dalam siklus

menstruasi terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon progesteronnya. Kombinasi tipe D dan tipe A dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu stres, kekurangan asam amino tyrosine, penyerapan dan penyimpanan timbal di tubuh, atau kekurangan magnesium dan vitamin B (terutama B6). Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 dan magnesium dapat membantu mengatasi gangguan tipe D yang terjadi bersamaan dengan tipe A.

Faktor Faktor Resiko Sindrom Premenstruasi Yang beresiko mengalami sindrom premenstruasi : 1.) Kegiatan fisik Kurang berolahraga dan aktivitas fisik menyebabkan semakin beratnya sindrom premenstruasi 2.) Kebiasaan makan Faktor kebiasaan makan seperti tinggi gula, garam, kopi, teh, coklat, minuman bersoda, produk susu, makanan olahan, memperberat gejala PMS, kekurangan zat zat gizi seperti kurang vitamin B (terutama B6), vitamin E, vitamin C, magnesium, zat besi, seng, mangan, serta asam lemak linoleat. 3.) Faktor stres Faktor stres akan memperberat gangguan Sindrom premenstruasi.

Gambar 2. Klasifikasi diagnosis PEMS 2. Gangguan dysphoric premenstrual/ Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) adalah kondisi yang lebih parah dari PMS. Hal ini hanya didiagnosis ketika gejala sangat buruk sehingga mereka membuat sulit bagi seorang wanita untuk berfungsi secara normal. Sedangkan gejala mood mirip dengan gejala gejala PMS, namun mereka lebih buruk dan menyebabkan lebih banyak masalah. Gejala-gejala fisik PMS mungkin saja tidak ada. Seperti PMS, gejala PMDD dimulai 10-14 hari sebelum periode menstruasi wanita dan menghilang setelah periode menstruasi dimulai. Tidak seperti PMS, PMDD dapat secara serius mempengaruhi kegiatan sehari-hari seorang wanita. PMDD didiagnosis sebagai gangguan kesehatan mental. Seorang wanita mungkin memiliki PMDD jika ia memiliki 5 atau lebih gejala berikut ini selama minggu pramenstruasi dan padahampir semua siklus selama setahun: a. Depresi (merasa putus asa, bukan hanya kesedihan) b. Kegelisahan (tegang, cemas)

c. Perubahan suasana perasaan yang cepat (perasaan tiba-tiba sedih atau sangat sensitif terhadap penolakan) d. Lekas marah atau irritable e. Penurunan minat pada aktivitas biasa (kerja, sekolah, teman-teman, hobi) f. Kesulitan berkonsentrasi g. Berkurangnya tenaga (lemas) h. Perubahan nafsu makan (makan berlebihan atau keinginan untuk makanan tertentu) i. Gangguan tidur (tidak bisa tidur atau bangun pagi-pagi, atau tidur berlebihan) j. Merasa kewalahan atau di luar kendali k. Gejala fisik, seperti nyeri kembung, payudara atau sakit kepala Jika gejala ini tidak terjadi sinkron dengan siklus menstruasi, wanita tersebut mungkin memiliki beberapa kondisi kesehatan lainnya atau gangguan mental lain. Gejala-gejala PMDD berakhir sampai menopause, ketika menstruasi berhenti dan tingkat hormon yang mengatur meningkat sehingga tidak lagi menstruasi setiap bulan.

3. Nyeri dan ketidaknyamanan pada siklus perimenstruasi / Cyclic Perimenstrual Pain and Discomfort (CPPD) CPPD meliputi 3 diagnosa; diagnosis masing-masing mewakili sekelompok gejala yang didukung oleh penelitian empiris.CPPD terdiri atas nyeri pinggang siklik, gangguan fisik perimenstruasi, dan gangguan mood perimenstruasi,masing-masing gejala bisa diliat di gambar 3.

4. Magnifikasi Premenstruasi (PMM) didefinisikan sebagai eksaserbasi dari gejala somatis atau mood pada akhir dari fase luteal atau fase menstrual dari siklus menstruasi wanita, magnifikasi premenstruasi (PMM) ini dibedakan dari PMS. Yang termasuk kondisi dari subjek yang mengalami PMM adalah gangguan depresi, gangguan panik, gangguan cemas, migren,kejang, Irritable bowel syndrome, asma, sindrom fatig kronik, dan alergi.

Gambar 3. Diagnosis CPPD

D. Penatalaksanaan Cara mengatasi dan menanggulangi Sindroma perimenstruasi ini bisa secara medikamentosa maupun non-medikamentosa :

1. Medikamentosa Untuk pasien yang mengalami PMS berat dan tidak berespon terhadap terapi non-medikamentosa, menurut ACOG bisa dilakukan dengan pemberian obatobatan jenis SSRI yang sudah diakui oleh FDA yaitu fluoxetine dan sertralineuntuk mengatasi PMS atau PMDD berat. Salah satu obat lainnya adalah pharoxetine. Fluoxetine biasanya digunakan dalam dosis 20mg atau 60mg per hari. Dalam penelitian didapatkan bahwa fluoxetin dengan dosis 20mg per hari sedikit yang melaporkan adanya efek samping. masalah penurunan libido adlah problematika bagi beberapa orang yang mengkonsumsi SSRI dan tergantung dengan dosisnya.

Walaupun tidak disetujui oleh FDA, obat antidepresan lain telah digunakan untuk mengatasi PMDD, yaitu heterosiklik salah satunya clomipramine. Obat herbal antidepresant seperti hypericum atau St. Johns Wort, ditemukan efektif dalam mengatasi depresi ringan. Alprazolam atau anti ansietas lain bisa juga diindikasikan. Meskipun demikian karena berpotensi adiktif, alprazolam tidak direkomendasikan sebagai obat lini utama. Beberapa penelitian yang inkonsisten dan dengan sedikit evidence, mendukung supresi hormon ovulasi pada penderita PMS dengan menggunakan agonis GnRH atau terapi bedah ooporectomi.

FDA tidak menyetujui pemakaian terapi progesteron pada PMS. CPPD pada wanita yang berada dalam masa transisi menopaus serta menstruasi yang tidak teratur telah berhasil diobati dengan konsumsi obat sesuai siklus dengan menggunakan micronized progesteron pada waktu sebelum tidur atau medroxyprogeterone.

2. Non-medikamentosa Manajemen terapi (Gambar 4) menurut ACOG yang bisa diberikan secara multi program bisa dilakukan dengan 3 yaitu : 1.) Pengendalian diri 2.) Modifikasi diri

meningkatkan konsumsi karbohidrat kompleks, buah,dan sayuran mengurangi konsusmsi garam, gula,alkohol dan caffeine meningkatkan konsumsi air minum mengurangi jumlah makanan dan frekuensinya meningkatkan latihan aerobik ( 20 menit pada 3-5 kali/menit) melakukan yoga dan strecthing

3.) Pengaturan diri terapi behavioral seperti relaksasi otot dan latihan napas

strategi kognitif seperti merubah pola pikir negatif, visualisasi dan latihan pengembangan kepercayaan diri

4.) Modifikasi lingkungan

Latihan manajemen waktu, komunikasi, aturan dan penyelesaian masalah Tindakan untuk mengurangi resiko adalah olahraga dan hidup lebih rileks sehingga aliran darah tubuh lancar karena mempengaruhi aliran darah reproduksi

Gambar 4. Manajemen PMS menurut ACOG Terapi lainnya 1. Terapi lampu

Pada sebuah penelitian dilakukan perbandingan efek kilat lampu dengan efek lampu terang pada wanita dengan PMDD. Hasilnya menunjukkan bahwa lampu putih yang terang terbukti menurunkan depresi dan ketegangan premenstruasi dalam siklus menstruasi. pada lampu merah yang dikilatkan tidak memberikan efek apapun. 2. Chasteberry (Vitex agnus-castus) Pada 2 penelitian, ekstrak chaste berry terbukti memiliki efikasi yang berespons positif sebanyak 90% pada penderita PMDD dan PMS. Pada penelitin lain pun, Chastberry dalam kapsul pun terbukti berefek pada gejala PMS.

DAFTAR PUSTAKA Taylor,Diana. 2005. Perimenstrual Symptoms and Syndromes:Guideline for Symptom Management and Self Care.John Hopkins advanced in medicine,Obstetric and gynaecolog Journal, vol.5.No. 5 Dora, Kohen.2010. Oxford Textbook of Women and Mental health. Oxford university press