Anda di halaman 1dari 7

Tulisan ini merupakan essai dari salah satu bab dalam buku Desain dan Kebudayaan karya Prof.

Widagdo, tepatnya dari bab tiga. Bab yang saya tulis ulang ini, ditambah dengan sedikit info dan penyusunan kalimat yang lebih sederhana, saya publish sebagai pengingat kembali bagi kita, khususnya insan desain, bahwa sikap/mental perancangan dalam desain merupakan metode berpikir yang holistic dan menuntut permainan kekuatan logika serta kreatifitas yang tinggi dalam memecahkan suatu masalah. Hal ini nampak relevan dengan kondisi perubahan sendi kehidupan yang serba cepat melebihi kapasitas adaptasi manusia seperti sekarang ini. Semoga kita insan desain dapat menghasilkan karya-karya pemecah masalah, bukan karya-karya yang ternyata tidak memberikan dampak yang luas dalam membantu kehidupan manusia ke arah yang lebih baik (desain yang tidak perlu) seperti yang dikhawatirkan oleh Donald Norman. (Wildan Aulia/Desember 2011)

FILSAFAT YUNANI DAN KAITANNYA DENGAN METODE PERANCANGAN DESAIN Berbicara tentang filsafat Yunani tentunya tidak akan terlepas dari tokoh-tokoh filsafat agung di dalamnya. Meskipun hasil pemikiran-pemikiran filosof agung masa Yunani ini ada yang sudah tidak relevan lagi, namun yang paling penting dan mendasar adalah mereka telah menanamkan sebuah sikap atau mental berpikir yang rasional, logis, objektif, sistematis dan berorientasi pada optimasi hasil akhir yang kemudian menjadi sebuah landasan berpikir ilmiah yang bertahan lebih dari 2000 tahun. Metode perancangan yang hadir dari sebuah cara berpikir rasional datang/muncul tidak begitu saja, tetapi ada awalnya dan melalui proses panjang yang diperankan oleh para filosof agung Yunani. Bahkan timbul anggapan bahwa falsafah barat yang melahirkan dasar pendekatan konseptual dalam desain modern tidak dapat dipisahkan dari falsafah Yunani (Widagdo: 2005). Terkait dengan kenyataan bahwa keilmuan desain modern bersumber/bermadzhab dari barat, dan berpikir

rasional barat berangkat dari falsafah Yunani, maka dasar berpikir desain akan selalu berkaitan dengan falsafah Yunani. Dan bila berbicara tentang falsafah Yunani, maka tidak akan lepas dari membicarakan para filosof agungnya yang telah membangun pondasi menjadi sebuah landasan mental berpikir rasional. Para filosof itu adalah: 1. Sokrates (470 SM 399 SM) Sokrates merupakan filosof yang mula-mula mengembangkan pencarian kebenaran umum secara objektif melalui metode dialog yang kemudian disebut dengan dialektika. Pada masanya, cara pencarian kebenaran seperti ini tidaklah lazim dan sekaligus menjadi semacam penentangan bagi cara pencarian kebenaran saat itu yang lebih bersifat subjektif karena dilandaskan pada kemahiran adu argumen dan bergantung pada kemampuan retorika seseorang. Cara seperti ini disebut sebagai falsafah sofisme. Inti terpenting dari karya-karya Sokrates adalah landasan mental berpikir bahwa posisi tidak tahu yang diikuti untuk mencari jawaban atas ketidaktahuannya itu melalui diskusi-diskusi logis lebih dapat

dipertanggungjawabkan daripada menyimpulkan suatu kebenaran melalui cara beradu argument yang sangat bergantung dari kemahiran retorika seseorang. Kebenaran yang dihasilkan melalui metode Sokrates ditujukan untuk mencari sebuah kebenaran abadi, umum dan absolute; bertolak belakang dengan kebenaran sofisme yang subyektif, relative dan tidak absolute. Metode yang dikembangkan Sokrates lebih mengarah kepada metode diskusi dan teknik mengajukan pertanyaan yang memancing teman diskusinya berpikir. Metode ini melahirkan sebuah prinsip bahwa untuk mendapatkan jawaban yang benar haruslah mengutarakan pertanyaan yang benar pula, karena dengan pertanyaan yang tepatlah sebuah pengertian dan pengidentifikasian sebuah masalah akan menjadi tepat. Teori metode berpikir yang dikembangkan dan diamalkan Sokrates telah sampai pada tingkat pencarian hakikat suatu permasalahan dan bagaimana caranya untuk sampai pada tingkat pengetahuan tersebut, tidak hanya

mengumpulkan dan mengelompokkan pengetahuan dalam sistem ilmu pengetahuan semata. Bagi Sokrates, filosofi adalah alat untuk mencari kebenaran, bukan sebuah ilmu pengetahuan. Di kemudian hari, metode menjadi sangat penting sebagai embrio model berpikir saintifik. Sokrates membangun dialektika dengan metode diskusi untuk menimbulkan pemikiran yang kritis yang kemudian diuji dengan teknik perbandingan yang kritis. Meskipun metode Sokrates disebut sebagai metode induksi, namun pengertiannya berbeda dengan metode induksi pada umumnya. Induksi cara Sokrates adalah membandingkan definisi yang telah ada dengan definisi lainnya secara kritis melalui uji ulang. Dengan cara ini, maka lahirnya definisi-definisi tersebut tentunya harus melalui sebuah pertanyaan kritis dengan cara diskusi kritis. Sokrates menamainya dengan maeutik, yang artinya membidani lahirnya pemikiran baru (Widagdo: 2005). Relevansi metode berpikir Sokrates dengan desain adalah

pengidentifikasian masalah dalam desain yang selalu dimulai dengan pertanyaan apa (what) dan mengapa/apa sebab (why). Metode perancangan desain modern digunakan untuk mencari hakikat benda/objek desain. Pendekatannya adalah analisis pengertian masalah, identifikasi masalah, dan pendefinisian masalah. Karenanya proses dalam desain lebih penting daripada hasil. Merencana perancangan sebuah desain lebih penting daripada hasil desain. Pendekatan ini secara historical lahir dari pemikiran Sokrates. 2. Plato (427 SM 347 SM) Plato mewakili titik awal filsafat politik Barat, serta sebagian besar pemikiran etika dan metafisika dewasa ini. Plato disebut juga sebagai moyangnya pemikiran Barat karena spekulasinya tentang persoalanpersoalan filsafat telah dipelajari lebih dari 2300 tahun. Plato menulis 36 buku, tidak hanya tentang politik dan etika, tetapi juga tentang metafisika dan teologi (Hart: 2009). Ide-ide Plato tentang politik memengaruhi struktur pemerintahan Amerika Serikat, terutama ide tentang pemilihan

orang terbaik dan terbijak untuk memimpin sebuah negeri. Plato adalah murid Sokrates sekaligus sahabatnya. Plato mengemukakan pandangan tentang idea. Idea adalah pengertian yang dicari lewat proses berpikir, tidak bergantung pada pandangan dan pendapat orang lain, dan tumbuh karena kecerdasan berpikir (Widagdo: 2005). Pengetahuan didapat dari berpikir juga pengalaman, dan pengetahuan yang diperoleh melalui berpikir lebih tinggi nilainya daripada pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman. Bagi Plato, dunia idea telah memiliki sistem teleology, logika yang tersusun dan menjurus pada satu tujuan yang telah ditentukan. Idea tertinggi adalah kebaikan karena kebaikan dianggap sebagai sumber penggerak dunia. Plato merumuskan tentang dialektika berupa ketajaman analisi dalam mencari hubungan antara berbagai pengertian, kemudian dikelompokkan pada jenisnya masing-masing sampai pada komponen terkecil yang tidak dapat diurai lagi (atom). Selanjutnya metode ini disebut sebagai metode mengurai ide (diairesis), yaitu metode yang menjadi dasar analisis membentuk definisi dan menyusun struktur masalah yang kompleks sehingga menjadi jelas dan mudah dipahami (Widagdo: 2005). Relevansi metode berpikir Plato dengan desain adalah dalam proses perancangan, di mana dalam proses perancangan yang menentukan kualitas desain adalah ketajaman dan kemampuan melihat masalah dan keterkaitannya dengan komponen lain serta mampu memerinci masalah sampai pada komponen terkecil yang tidak dapat dibagi lagi yang menentukan sistem. 3. Aristoteles (384 SM 322 SM) Aristoteles adalah seorang filsuf Yunani besar yang menjadi pelopor studi tentang logika formal. Yang terpenting dari Aristoteles adalah

sumbangannya berupa teorinya tentang pendekatan rasional. Setiap aspek kehidupan dapat dijadikan objek pemikiran dan analisis. Alam diatur oleh hukum-hukum rasional, dan bila manusia melakukan penyelidikan sistematik terhadapnya maka alam akan berguna bagi manusia dengan syarat bahwa kesimpulan kita tentang segala aspek kehidupan tersebut

harus berdasarkan pengamatan empiris dan pemikiran logis. Sikap berpikir seperti ini, yang bertentangan dengan mistisisme dan tahayul, sangat mempengaruhi peradaban Barat secara fundamental. Aristoteles adalah murid Plato dan bertemu Plato saat dia berumur 17 tahun sedangkan Plato telah menginjak usia 60 tahun. Aristoteles jugalah sebagai mentor/guru Alexander The Great saat Alexander berusia 13 tahun. Teori terpenting Aristoteles adalah soal logika dengan pendekatan metodis, bersistem dan ilmiah sebagai metode berpikir rasional yang masih bertahan lebih dari 2000 tahun. Salah satu projek besarnya adalah pengumpulan konstitusi sejumlah besar Negara, yang kemudian diujinya dengan studi

perbandingan (Hart: 2009). Menurut logika, proses berpikir untuk mencapai kesimpulan yang benar selalu disokong oleh tiga dasar yang tak terpisahkan, yaitu mengerti, menilai, dan mengambi keputusan. Prestasi Aristoteles dalam bidang logika (ilmu mantik) adalah soal pengembangan pemikiran deduksi dan induksi. Menurut Aristoteles, metode deduksi dianggap lebih sesuai untuk pembuktian ilmiah karena dari gejala keseluruhan dan gejala umum dapat ditarik gejala khusus. Logika semacam ini disebut sebagai silogisme. Aristoteles berpendapat bahwa logika adalah cara berpikir yang bersistem teratur dan bertahap, murni dan apriori. Hakikat logika sama dengan matematika, hasil kesimpulannya bersifat bebas nilai dan tak terbantahkan (Widagdo: 2005). Aristoteles menamakannya dengan analitika. Relevansi metode berpikir Aristoteles dengan desain adalah proses deduksi untuk mengambil kesimpulan sebagai penentu langkah

pengembangan desain selanjutnya. 4. Archimedes (285 SM 212 SM) Archimedes dikenal sebagai salah sati ahli matematika yang dianggap menemukan prinsip kerja pengungkit dan konsep gravitasi secara spesifik. Archiemedes adalah penggagas metode Heuristik, yaitu metode berpikir secara analogi dan menggunakan hipotesis, berlawanan dengan metode berpikir logis. Heuristic sendiri berasal dari kata heureka saat dia menemukan konsep kepadatan (berat per unit volume) dari suatu benda

bertolak belakang dengan total berat benda, yang sebetulnya juga telah dikenal sebelum Archimedes. Kemampuan mengaplikasikan konsep lama menjadi lebih spesifik secara cerdaslah yang menjadi sumbangan terbesar Archimedes dalam sebuah sikap/mental berpikir. Relevansi metode berpikir Archimedes dengan desain adalah metode berpikir heuristic yang bertolak dari kreativitas dan kemampuan menemukan ide, yang tentunya sangat penting dan sering digunakan dalam desain.cara ini dianggap sebagai pelengkap dari metode analisis dan logis, yang dalam desain digunakan dalam hal-hal yang bersifat kuantitatif. Kuantifikasi adalah prasyarat untuk melangkah ke tahap mendesain selanjutnya yang sarat dengan berbagai keputusan kualitatif (Widagdo: 2005). Desain pada hakikatnya adalah penciptaan sebuah wujud dan untuk mencapai itu dibutuhkan dukungan yang bersifat teoritis dan praktis meskipun dalam praktiknya sering bertimbal balik.

Kesimpulan: Proses desain dapat dibagi pada dua kelompok besar: 1. Proses studi, yang dibagi dalam beberapa tahap: a) Perumusan masalah. Aspek-aspek desain, baik ekonomi, sosial budaya, ergonomic, dan lain sebagainya yang menjadi determinasi dalam perancangan diolah untuk ditentukan hakikat masalah, lingkup masalah, tujuan masalah dan seterusnya. Informasi ini kemudian diolah dan dibuat sistemnya sehingga sehingga kadar dan relevansinya terpisah yang kemudian digunakan sebagai dasar perumusan masalah. Kualitas rumusan menentukan arah studi selanjutnya. Tahap ini adalah tahap meautik, melahirkan pemikiran untuk merumuskan masalah. b) Tahap eksplorasi dan analisis. Tahap ini adalah tahap

pengembangan masalah setelah melalui identifikasi masalah melalui berbagi metode hingga permasalahan terurai dan terususun secara jelas dan rinci sehingga dapat dianalisis. Tahap ini adalah

tahap diairesis

sesuai dengan konsep Plato untuk kemudian

disusun strategi proses desain selanjutnya. c) Tahap kesimpulan. Proses kreatif bermain di tahap ini, di mana praktis dan teoritis akan berinteraksi melalui pendekatan divergensi dengan analisis devergen dan pendekatan konvergensi dengan analisis konvergen. Melalui proses deduksi diambil kesimpulan yang akan menentukan pengembangan arah desain selanjutnya. 2. Pengambilan keputusan: yaitu sebagai tahap akhir proses perancangan. Tahap ini adalah tahap sintesis antara unsur-unsur objektif dengan unsurunsur subjektif. Artinya parameter objektif sudah tidak cukup lagi. Kepekaan estetis, kreatifitas desainer dan daya cipta desainer berperan besar di sini. Pengalaman empiris desainer pun ikut menentukan keputusan desain dan tingkat inovasi serta originalitas temuannya. Heuristik dalam tahap ini sangat menentukan proses perancangan. Berdasarkan hal tersebut, pondasi berpikir sistematis yang lekat digunakan oleh desain telah terumuskan oleh para pemikir agung selama 23 abad lamanya. Secara sederhana urutannya dapat dituliskan sebagai berikut: 1. Permusan masalah = meautik Sokrates 2. Eksplorasi = diairesis Plato 3. Analisis kesimpulan = deduksi/induksi Aristoteles 4. Pengambilan keputusan = heuristic Archimedes 5. Rancangan desain.

DAFTAR PUSTAKA Hart, Michael H. 2009. 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Masa. Jakarta: Hikmah Mizan Publika. Shadily, Hassan. 1980. Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve. Widagdo. 2005. Desain dan Kebudayaan. Bandung: Penerbit ITB.