Anda di halaman 1dari 14

HEMOSTASIS DAN MANAJEMEN PERDARAHAN

Oleh: Kelompok 1 Angkatan 93 Haris-Fahmi-Zhedit-Dina

DARAH

cairan merah kental yang mengalir sepanjang jantung dan pembuluh darah, membawa bahan makanan dan oksigen ke semua jaringan tubuh dan produk buangan serta karbondioksida keluar dari jaringan

PERDARAHAN

keluarnya darah dari saluran yang normal (arteri, vena, kapiler) ke dalam ruang ekstra vaskuler oleh karena hilangnya kontinuitas pembuluh darah

Menurut pembuluh darah yang terluka Menurut waktu terjadinya pendarahan Menurut lokasinya Menurut sebabsebab terjadinya pendarahan

Pendarahan arterial Pendarahan vena Pendarahan kapiler Pendarahan primer Pendarahan intermediet Pendarahan sekunder Pendarahan eksternal Pendarahan internal Pendarahan mekanik Pendarah spontan atau pendarahan biokemis

HEMOSTASIS
suatu mekanisme pertahanan tubuh dalam menghentikan perdarahan pada pembuluh darah yang luka.

3 jalur pembekuan darah yaitu : a) Jalur intrinsik b) Jalur ekstrinsik c) Jalur bersama

Kelainan hemostasis biasanya digolongkan sesuai patogenesis, yaitu: 1. kelainan vaskuler 2. kelainan trombosit 3. kelainan sistem pembekuan darah

Penatalaksanaan Perdarahan selama Operasi,

Perencanaan insisi Identifikasi asal perdarahan Tentukan jenis pembuluh darah mana yang terkena kemudian amankan pembuluh darah dengan hemostat Menghentikan perdarahan dengan penekanan kasa/kapas Penggunaan obat-obat hemostatik lokal Pemakaian anestesi

Sumber Perdarahan

Perdarahan pasca bedah


dapat terjadi dari:
1. Kegagalan kontrol perdarahan 2. Faktor penyebab perdarahan sesaat setelah pembedahan 3. Infeksi
Penatalaksaanannya dapat dilakukan sebagai berikut: 1. Tentukan sumber bleeding. 2. Dapat diberikan obat sedative dan larutan infuse bila diperlukan.

1. benda asing atau patahan tulang, maka harus segera dibersihkan 2. jaringan lunak, dapat diberikan anestesi dengan vasokontriktor, kemudian pembuluh darah diclamp, dicauter atau dengan cryotherapy, selanjutnya dilakukan penjahitan pada jaringan lunaknya.

3. dalam tulang, maka digunakan bone wax dan ditekankan pada bleeding point setipis mungkin.
4. alveoulus, maka dapat menggunakan spongostan.

Perawatan Gangguan Perdarahan

Beberapa obat hemostatik sistemik yang sering digunakan


Asam Traneksamat Indikasi: fibrinolisis lokal, Edema Angiogenik herediter Perdarahan abnormal sesudah operasi, Perdarahan sesudah operasi gigi pada penderita hemophilia

Dycinone Indikasi: perdarahan pada operasi umum, epistaksis,

Vitamin K Indikasi: mencegah atau mengatasi perdarahan akibat defisiensi vitamin K

SKENARIO KASUS 1 Pasien laki-laki usia 65tahun, datang ke drg untuk mencabutkan beberapa akar giginya yang tersisa karena ingin dibuatkan gigi palsu. Pasien menceritakan ia menderita penyakit jantung sejak 5 tahun lalu, pernah rawat inap 2 tahun lalu karena penyakit tersebut. Pasien mengkonsumsi obat warfarin secara teratur. Pasien sewaktu muda pernah dicabut giginya dan tidak ada masalah saat itu. Keadaan umum pasien baik, CM dan vital signs dalam batas normal. Pemeriksaan ekstraoral terlihat tidak ada kelainan. Pemeriksaan intraoral terdapat radix gigi PI P2 MI M2 kiri RB, edentulous pada region gigi MI M2 kanan RB, gigi-gigi yang lainnya dalam keadaan baik. Apa yang harus dilakukan seorang dokter gigi untuk menangani pasien diatas?

Analisis Penatalaksanaan Medik Dental: 1. Pasien diketahui menderita penyakit jantung. 2. Pasien mengkonsumsi warfarin secara teratur. -syarat -konsul 3. Tindakan pencabutan 4. Pasca pencabutan

SKENARIO KASUS 2
Pasien wanita usia 23 tahun datang ke drg dengan keluhan masih terjadi perdarahan setelah 2 hari lalu dilakukan operasi gigi paling belakang terpendam sebelah kiri bawah. Pasien bercerita perdarahan dimulai sejak 2 jam setelah operasi. Pasien merasa terganggu dengan keadaan tersebut. Pasien mentaati instruksi dokter gigi pasca pencabutan dan masih mengkonsumsi semua obat-obatan yang diresepkan oleh dokter gigi sesuai aturan pakai.Keadaan umum pasien baik, dengan TD 110/70 mmHg, nadi 64/menit, dan respirasi 17/menit. Tindakan apa yang harus dilakukan sebagai dokter gigi bila ditemui pasien seperti ini?

Analisis Penatalaksanaan Medik Dental


VS: TD 110/70 mmHg, N 64/menit, dan Res 17/menit IO: Mukosa oral t.a.k, tulang soket menonjol kasar regio 38 Pemeriksaan Penunjang Ro: terdapat serpihan radix gigi 38, penojolan soket tulang regio gigi 38 Diagnosa: sisa Radix 38 dengan penonjolan kasar di soket regio gigi 38 Tindakan: Lakukan anestesi blok Lakukan pengambilan sisa radix tertinggal, dan haluskan tulang kasar sekitar soket, irigasi dengan larutan iodine. Suturing. Instruksi pasca perawatan Pasien diminta kontrol seminggu kemudian untuk melihat mengevaluasi dari perawatan sebelumnya.