Anda di halaman 1dari 14

ACARA I KARBOHIDRAT

Tujuan Praktikum Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui daya reduksi pengaruh asam, hasil hidrolisis amilum, pengaruh alkali, pembentukan osazon pada karbohidrat, membuktikan adanya pereduksi dalam glukosa, mengetahui proses hidrolisis, mengetahui adanya gugus keton dan perbedaan glukosa dan fruktosa.

Tinjauan Pustaka Karbohidrat adalah komponen dalam makanan yang merupakan sumber energi utama bagi organisme. Dalam makanan, karbohidrat terdapat sebagai polisakarida yang dibuat dalam tumbuhan dengan cara fotosintesis. Tumbuhan adalah gudang yang menyimpan karbohidrat dalam bentuk amilum dan selulosa. Amilum dipakai hewan dan manusia untuk memproduksi energi. Dalam tubuh hewan dan manusia juga terdapat karbohidrat yang merupakan sumber energi, yaitu glikogen. Pada proses pencernaan makanan, karbohidrat mengalami proses hidrolisis ( di mulut, lambung, usus ) yang hasilnya dari proses pencernaan adalah glukosa, fruktosa, galaktosa, monosa serta sakarida lainnya. Senyawa itu diabsorbsi dinding usus dan dibawa ke hati oleh darah (Poedjiadi , 1994). Karbohidrat makanan bisa dalam bentuk sederhana (monosakarida dan dimerik) atau kompleks (polimerik). Juga bisa bersifat dapat dicerna dan tidak dapat tercerna. Yang tidak dapat tercerna adalah serat bahan makanan. Gula-gula yang bersifat prinsip dari semua karbohidrat tersebut adalah glukosa, fruktosa, dan galaktosa atau derivatderivatnya, dapat atau tidak dapat diserap oleh manusia. Ikatan karbohidrat yang dapat tercerna hampir semua dalam bentuk -1,4 atau -1,6. Ikatan dalam serat, cenderung dalam bentuk -1,4 (selulosa, pektin) karena manusia tidak mempunyai enzim untuk mencernanya (Soendoro, 1995). Berbagai senyawa yang termasuk kelompok karbohidrat mempunyai molekul yang berbeda-beda ukurannya, yaitu dari senyawa yang sederhana yang mempunyai berat molekul 90 hingga senyawa yang mempunyai berat molekul 500.000 bahkan lebih. Berbagai senyawa itu dibagi dalam tiga golongan yaitu monosakarida, oligosakarida dan polisakarida (Poedjiadi, 1994).Salah satu contoh dari monosakarida adalah glukosa. Glukosa adalah bahan bakar utama jaringan yang berasal dari bahan makanan karbohidrat. Sebagian besar

glukosa berasal dari pati. Pati merupakan lebih dari separo bahan bakar yang ada dalam makanan hampir semua makhluk hidup. Glukosa dapat dibentuk di hati dan dalam jumlah yang sedikit di ginjal. Pada pembentukan triofosfat, perubahan glukosa 6-fosfat menjadi fruktosa 6-fosfat, reaksi ini pada hakikatnya berupa pengalihan gugus karbonil glukosa dari atom C1 ke atom C2, ini merupakan reaksi isomerisasi dari aldoheksosa menjadi ketoheksosa dalam bentuk ester fosfatnya (Soendoro, 1995). Oligosakarida memiliki molekul yang terdiri dari beberapa molekul monosakarida. Oligosakarida yang paling banyak terdapat di alam adalah disakarida. Beberapa oligosakarida yang penting adalah sukrosa, laktosa, maltosa, rafinosa dan stakiosa (Rifai, 2004). Sukrosa larut dalam air jika ada di dalam lingkugan air karena dibantu oleh enzim sukrase maka satu molekul sukrosa akan mengalami hidrolisis menjadi 1 molekul glukosa dan 1 molekul fruktosa. Dengan pertolongan enzim maltase maka 1 molekul maltosa dapat mengalami hidrolisis dan pecah menjadi 2 molekul -D-glukose (Soendoro, 1995). Polisakarida pada umumnya memiliki molekul besar dan lebih kompleks daripada monosakarida dan oligosakarida. Umumnya berupa senyawa putih dan tidak berbentuk kristal, tidak mempunyai rasa manis dan mempunyai sifat mereduksi. Beberapa polisakarida yang penting adalah amilum, glikogen, dekstrin dan selulosa (Poedjiadi, 1994). Berbagai senyawa yang termasuk kelompok karbohidrat mempunyai molekul yang berbeda-beda ukurannya, yaitu dari senyawa yang sederhana yang mempunyai berat molekul 90 hingga senyawa yang mempunyai berat molekul 500.000 bahkan lebih. Berbagai senyawa itu dibagi dalam tiga golongan yaitu monosakarida, oligosakarida dan polisakarida (Poedjiadi, 1994). Adapun beberapa fungsi karbohidrat antara lain : Sebagai pusat energi, melindungi protein agar tidak terbakar sebagai penghasil energi, membantu metabolisme lemak dan protein yang berlebihan dan memperlancar pencernaan (Forgus. 1995).

MATERI DAN METODE

Materi Alat. Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah pembakar spiritus, tabung reaksi, penangas air, gelas ukur, stopwatch, spatula pengaduk, pipet tetes, druplet, penyaring, mikroskop, object glass, corong, dan dek glass. Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah larutan benedict, glukosa (0,01 M, 0,02 M, dan 0,04 M) fruktosa 0,02 M, sakarosa 0,02 M, larutan pati 0,7%, larutan luff, larutan fruktosa 0,01 M, laktosa 0,03 M, sakarosa 0,01 M dan 0,3 M, selulosa 0,01 M, furfural 0,01M, naftol 5%, asam sulfat pekat, HCl 5 M, resorsinol 0,5%, sakarida 0,01M, Na2CO3, arabinosa 0,1M, asam asetat glasial, fenilhidrazina padat, timol blue, HCl encer, HCl pekat, larutan amilum, larutan yod, dan larutan Na2CO3 2%.

Metode Daya Mereduksi Uji Benedict. Pada tabung 1 diisi dengan 3 ml larutan benedict kemudian ditambahkan 1 ml larutan glukosa 0,01 M dan dididihkan 10 menit. Tabung 2 diisi dengan 3ml larutan benedict, ditambah 1 ml glukosa 0,02 M kemudian dididihkan selama 10 menit. Pada tabung 3 diisi larutan benedict 3 ml kemudian ditambah 1 ml glukosa 0,04 M dan dididihkan selama 10 menit. Diamati perubahan dan dibandingkan kecepatan perubahannya Uji Luff. Tabung 1 diisi 2ml fruktosa 0,02 M, ditambahkan 1 ml larutan luff dan dididihkan selama 15 menit. Tabung 2 diisi 2 ml glukosa 0,02 M dan ditambahkan 1 ml larutan luff dan dididihkan selama 15 menit. Tabung 3 diisi 2 ml laktosa 0,02 M, ditambah 1 ml larutan luff dan dididihkan selama 15 menit. Tabung 4 diisi 2 ml sakarosa 0,02 M, ditambahkan 1 ml luff dan didihkan selama 15 menit. Tabung 5 diisi 2 ml larutan pati 0,7 %, ditambahkan 1 ml luff dan dididihkan selama 15 menit. Diamati perubahan dan kecepatan perubahannya. Pengaruh asam Uji molish. Pada tabung 1 diisi dengan 1 ml glukosa 0,02 M, ditambahkan 2tetes molish 5% lalu ditambah 3 ml larutan H2SO4 pekat lewat dinding tabung. Tabung 2 diisi 1 ml

selulose 0,02 M ditambahkan 2 tetes molish 5% dan 3 ml H 2SO4 pekat. Tabung 3 diisi 1 ml larutan pati 0,3% ditambah 2 tetes molish 5% dan 3 ml H2SO4 pekat. Tabung 4 diisi 1 ml furfural 0,01 M ditambah 2 tetes molish 5% dan 3 ml H2SO4 pekat. Amati timbulnya cincin ungu. Uji Seliwanoff. Tabung 1 diisi 2ml glukosa 0,01M ditambah 2ml HCl pekat kemudian dididihkan selama 30 menit dan ditambah 0,5ml larutan resorsinol 0,5%. Tabung 2 diisi 2ml fruktosa 0,01M ditambah 2ml HCl pekat kemudian dididihkan selama 30 menit dan ditambah 0,5ml larutan resorsinol 0,5%. Diamati perubahan warnanya Pembentukan Osazon Uji Fenilhidrazina.Tabung 1 diisi 5 ml glukosa 0,01 M ditambah 10 tetes asam asetat glasial, ditambah fenilhidrazina padat dan ditambahkan Na Asetat padat sebanyak 2x fenilhidrazina, lalu dipanaskan selama 5 menit dan semua padatan larut. Pada tabung 2 diisi 5ml fruktosa 0,01 M ditambah 10 tetes asam asetat glasial, ditambah fenilhidrazina padat dan ditambahkan Na Asetat padat sebanyak 2x fenilhidrazina, lalu dipanaskan selama 5 menit dan semua padatan larut. Pada tabung 3 diisi 5 ml arabinosa 0,01 M ditambah 10 tetes asam asetat glasial, ditambah fenilhidrazina padat dan ditambahkan Na Asetat padat sebanyak 2x fenilhidrazina, lalu dipanaskan selama 5 menit dan semua padatan larut. Kemudian ke-3 tabung disaring pada tabung kosong dan dipanaskan selama 30 menit. Didinginkan dan diamati di bawah mikroskop. Hasil Hidrolisis Uji benedict. Disediakan 3 tabung. Pada tabung 1 diisi 5 ml maltosa ditambah 1 tetes timol blue dan 1-2 tetes HCl encer sampai campuran tersebut menjadi merah muda kemudian campuran tersebut dibagi 2 dan dimasukkan dalam 2 tabung berbeda. Pada tabung 2 campuran didihkan selama 30 menit dan ditambah Na2CO3 dan 2 ml benedict. Tabung 3 tidak dipanaskan. Amati perubahan. Langkah berikutnya kembali disediakan 3 tabung. Pada tabung 1 diisi 5ml laktosa ditambah 1 tetes ttimol blue dan 1-2 tetes HCl encer sampai campuran tersebut menjadi merah muda kemudian campuran tersebut dibagi 2 dan dimasukkan dalam 2 tabung berbeda. Pada tabung 2 campuran didihkan selama 30 menit dan ditambah Na2CO3 dan 2 ml benedict. Tabung 3 tidak dipanaskan. Amati perubahan. Uji Seliwanoff. Diambil 3 tabung reaksi. Tabung 1 diisi 2ml sukrosa dan 2ml HCl pekat. Apabila sudah tercampur dididihkan dalam penangas air selama 30 menit dan ditambahkan 0,5ml seliwanoff 0,5%. Tabung 2 diisi 2ml maltosa dan 2ml HCl pekat. Apabila sudah tercampur dididihkan dalam penangas air selama 30 menit dan ditambahkan 0,5ml seliwanoff 0,5%. Tabung 3 diisi 2ml laktosa dan 2ml HCl pekat. Apabila sudah tercampur

dididihkan dalam penangas air selama 30 menit dan ditambahkan 0,5ml seliwanoff 0,5%.

Polisakarida Uji hasil hidrolisis amilum. Tabung reaksi diisi 10 ml amilum 1% kemudian ditambahkan 3 ml HCl 3 M. Campuran dididihkan dalam penangas air dan diuji dengan yod setiap 3 menit dengan perbandingan 1:1. Pengujian dihentikan apabila campuran tersebut ketika ditambah yod berwarna sama dengan yod. Larutan diamati warna yang muncul. Setelah pengujian hasilnya negatif, maka larutan ditambah 5 tetes Na 2CO3 dan benedict dan diamati perubahan yang terjadi.

Hasil dan Pembahasan

Daya Mereduksi Uji Benedict. Tabung reaksi 1 diisi dengan 3 ml R Benedict dan 1 ml glukosa 0,01 M, kemudian didihkan selama 10 menit. Setelah diamati, warna larutan berubah menjadi biru dan ada endapan berwarna merah bata (+) sedangkan waktu yang dibutuhkan larutan untuk mengubah larutan menjadi endapan yaitu 10 menit.Tabung reaksi 2 diisi dengan 3 ml R Benedict dan 1 ml glukosa 0,02 M, kemudian didihkan selama 10 menit. Setelah diamati, warna larutan berubah menjadi biru dan ada endapan berwarna merah bata (+ +) sedangkan waktu yang dibutuhkan larutan untuk mengubah larutan menjadi endapan yaitu 9 menit.Tabung reaksi 3 diisi dengan 3 ml R Benedict dan 1 ml glukosa 0,04 M, kemudian didihkan selama 10 menit. Setelah diamati, warna larutan berubah menjadi biru dan ada endapan berwarna merah bata (+ + +) sedangkan waktu yang dibutuhkan larutan untuk mengubah larutan menjadi endapan yaitu 6 menit. Keterangan : Tanda + , merupakan indikator banyaknya endapan yang terbentuk. Prinsip percobaan ini gugus reduksi yang terdapat pada karbohidrat (aldehid dan keton) dalam keadaan bebas akan mereduksi Cu2 yang ada pada R Benedict menjadi Cu+, dimana Cu+ akan membentuk Cu2O yang berupa endapan merah bata. Percobaan ini, membuktikan bahwa glukosa adalah gula reduksi yang memiliki kemampuan mereduksi ion Cu yang mengendap menjadi CuO. Endapan yang diperoleh berupa endapan merah bata. Pereaksi benedict berupa larutan yang mengandung kuprisulfat, natrium karbonat dan natrium sitrat. Glukosa dapat mereduksi ion Cu2+ dari kuprisulfat menjadi ion Cu+ yang kemudian mengendap sebagai Cu2O. Adanya natrium karbonat dan natrium sitrat membuat peraksi benedict bersifat basa lemah. Endapat yang terbentuk dapat berwarna hijau, kuning atau merah bata. Warna endapan ini tergantung pada konsentrasi karbohidrat yang diperiksa (McGilvery et al, 1996). Prinsip kerja dari uji benedict adalah mereduksi Cu 2+ menjadi Cu+ oleh gugus reduksi bebas dan membentuk endapan berwarna merah bata (Cu2O) (Poedjadi, 1994). Kesimpulan dari percobaan: banyak sedikitnya endapan merah bata yang terbentuk dipengaruhi oleh konsentrasi glukosa, semakin besar konsentrasinya, maka endapan yang

terbentuk samakin benyak. Semakin besar konsentrasi glukosa yang digunakan semakin cepat perubahannya. Uji Luff. Tabung reaksi 1, diisi dengan 2 ml fruktosa 0,02 M dan 1 ml R Luff, kemudian didihkan selama 15 menit. Setelah diamati, larutan menjadi berwarna orange dan ada endapan merah bata (+++). Waktu yang dibutuhkan tabung 1 untuk berubah yaitu 6 menit. Tabung reaksi 2 diisi dengan 2 ml glukosa 0,02 M dan 1 ml R Luff, kemudian didihkan selama 15menit. Setelah diamati, larutan menjadi berwarna orange dan ada endapan merah bata (+++).Waktu yang dibutuhkan tabung 2 untuk berubah yaitu 6 menit Tabung reaksi 3 diisi dengan 2 ml laktosa 0,02 M dan 1 ml R Luff, kemudian didihkan selama15 menit. Setelah diamati, larutan menjadi berwarna orange dan ada endapan merah bata(+ +). Waktu yang dibutuhkan tabung 3 untuk berubah yaitu 7 menit Tabung reaksi 4 diisi dengan 2 ml sakarosa 0,02 M dan 1 ml R Luff, kemudian didihkan selama 15 menit. Waktu yang dibutuhkan tabung 4 untuk berubah yaitu 8 menit Setelah diamati, larutan menjadi berwarna orange dan ada endapan merah bata (+).Tabung reaksi 5 diisi dengan 2 ml 0,7 % larutan amilum 0,02 M dan 1 ml R Luff, kemudian didihkan selama 15 menit. Setelah diamati, larutan menjadi berwarna kuning dan tidak ada endapan merah bata. Waktu yang dibutuhkan tabung 5 untuk berubah yaitu 9 menit Keterangan: Tanda +, merupakan indikator banyaknya endapan yang terbentuk. Pada tabung 1 terbentuk endapan merah bata yang banyak sebab fruktosa mempunyai gugus reduksi (keton) yang dapat mereduksi Cu ++ menjadi Cu+ membentuk Cu2O yang berupa endapan merah bata. Pada tabung 2 terdapat endapan merah bata yang sama banyaknya dengan tabung 1 sebab glukosa mempunyai gugus reduksi bebas (aldehid) yang dapat mereduksi Cu++ menjadi Cu+ membentuk Cu2O yang berupa endapan merah bata. Tabung 3 yang berisi laktosa terbentuk endapan merah bata yang lebih sedikit dibandingkan glukosa dan fruktosa karena laktosa merupakan gabungan dari glukosa dan galaktosa yang memiliki ikatan 1-4- glikosidik sehingga laktosa masih memiliki gugus reduksi bebas yang dapat mereduksi Cu++ menjadi Cu+ membentuk Cu2O yang berupa endapan merah bata. Tabung 4 seharusnya tidak terbentuk endapan merah bata karena sakarosa berasal dari glukosa + fruktosa dengan ikatan 1-2- glikosidik sehingga sakarosa tidak memiliki gugus reduksi bebas, oleh karena itu dalam percobaan ini seharusnya hasilnya tidak terdapat endapan merah bata. Hal ini dapat terjadi karena sakarosa yang diambil mungkin terkontaminasi dengan glukosa atau fruktosa. Kemungkinan lain akibat pencucian alat yang tidak bersih. Pada tabung 5 sudah sesuai dengan teori karena tidak terbentuk endapan dan larutan yang dihasilkan tidak berwarna sebab pati merupakan polisakarida yang harus diubah menjadi disakarida atau monosakarida terlebih dahulu baru menjadi furfural. Hal ini membuktikan bahwa sifat monosakarida mudah mereduksi

dibandingkan

oligosakarida dan polisakarida. Monosakarida mempunyai kecepatan

mereduksi lebih cepat dibandingakn olisakarida dan polisakarida.

Pengaruh Asam Uji Molisch. Tabung reaksi 1 diisi dengan 1 ml glukosa 0,02 M, ditambah 2 tetes R. Molisch 5 % dan 3 ml H2SO4 pekat. Setelah diamati, terbentuk cincin berwarna ungu pada larutan (+++). Tabung reaksi 2 diisi dengan 1 selulosa 0,02 M, ditambah dengan 2 tts R. Molisch 5 % dan 3 ml H2SO4 pekat. Setelah diamati, terbentuk cincin berwarna ungu pada larutan (+ +). Tabung reaksi 3 diisi dengan 0,7 % larutan Pati, ditambah dengan 2 tetes R. Molisch 5 % dan 3 ml H2SO4 pekat. Setelah diamati, terbentuk cincin berwarna ungu (+ + +). Tabung reaksi 4 diisi dengan 1 ml furfural 0,02 M, ditambah dengan 2 tetes R. Molisch 5 % dan 3 ml H2SO4 pekat. Setelah diamati, terbentuk cincin berwarna ungu (+ + + +). Keterangan: Tanda +, merupakan indikator tebalnya cincin ungu yang terbentuk. Prinsip dari percobaan ini, dimana karena pengaruh asam kuat, glukosa akan mengalami dehidrasi menjadi furfural, kemudian furfural tersebut akan bereaksi/ berkondensasi dengan naftol yang ada pada reagen molisch membentuk cincin ungu. Menurut Poedjiadi (1994), bahwa pereaksi molisch terdiri atas larutan naftol dalam alkohol apabila direaksikan dengan protein maka akan terdapat lapisaan ungu karena terjadi reaksi kondensasi antara furfural hidrolisis glukosa yang ada dalam protein dengan naftol sehingga membuktikan dalam larutan terdapat karbohidrat. Hasil percobaan, yaitu furfural memiliki cincin ungu paling tebal karena furfural langsung berkondensasi dengan reagen molisch tanpa mengalami hidrolisis terlebih dahulu. Sementara untuk glukosa, selulosa dan laruta pati, harus mengalami tahap dehidrasi terlebih dahulu untuk membentuk furfural. Uji Selliwanof. Tabung reaksi 1 diisi dengan 2 ml glukosa 0.01 ml, ditambah dengan 2 ml HCl pekat, kemudian didihkan selama 30 menit, setelah itu tambahkan 0,5 ml larutan Selliwanof 0,5 %. Setelah diamati, larutan menjadi bening. Tabung reaksi 2 ditambah 2 ml fruktosa 0.01 ml dan 2 ml HCl pekat, kemudian didihkan selama 30 menit, setelah itu tembahkan 0,5 ml larutan Selliwanof 0,5 % > Setelah diamati larutan menjadi berwarna

kuning. Percobaan sakarida ini untuk membedakan yang mengandung gugus keton atau aldehid.

Uji ini positif untuk sakarida yang mengandung gugus keton, ditandai dengan warna kuning. Hasil percobaan yang diperoleh, yaitu pada tabung 1 (glukosa) warnanya bening. Hal ini disebabkan karena glukosa tidak mengandung gugus keton melainkan gugus aldehid. Sedangkan pada tabung 2 (fruktosa), warnanya kuning, karena fruktosa mengandung gugus keton.

Pembentukan Osazon Uji Fenilhidrazina. Prinsip dari percobaan ini, dimana monosakarida dapat bereaksi membentuk fenilhidrazin pada suasana asam dengan suhu 100o C membentuk Osazon. Tabung reaksi 1 diisi dengan 5 ml glukosa 0,01 M, ditambah dengan 2 sendok asam asetat glacial, fenilhidrazin padat, Na-asetat padat (2x fenilhidrazin), dan dipanaskan selama 5 menit shingga semua padatan larut. Setelah diamati larutan berwarna kuning pekat. Setelah diamati dengan mikroskop ternyata keruh, hal ini dikarenakan telah terbentuk kristal-kristal berwarna putih kekuning-kuningan.

Gambar: Tabung reaksi 2 diisi dengan 5 ml fruktosa 0,01 M, ditambah dengan 2 sendok asam asetat glacial, fenilhidrazin padat, Na-asetat padat (2x fenilhidrazin), dan dipanaskan selama 5 menit, maka larutan menjadi berwarna kuning pekat. Setelah diamati dengan mikroskop ternyata keruh, hal ini dikarenakan telah terbentuk kristal-kristal berwarna putih kekuning-kuningan. Gambar:

Tabung reaksi 3 diisi dengan 5 ml arabinosa 0,03 M, ditambah dengan 2 sendok asam asetat glacial, fenilhidrazin padat, Na-asetat padat (2x fenilhidrazin), dan dipanaskan selama panaskan 5 menit, maka larutan menjadi berwarna kuning pekat. Warnanya nampak kening pekat dan keruh (ada endapan putih yang melayanglayang).

Gambar:

Keterangan: @ setelah dipanaskan 5 saring dalam tabung kosong, panaskan dalam penangas 30. Setelah dingin amati dengan mikroskop.

Hidrolisis Uji Benedict. Tabung reaksi 1 diisi dengan 5 ml larutan maltosa, ditambah dengan 1 tetes timol blue, 1-2 tetes HCl sampai warna biru menjadi merah muda, kemudian dibagi menjadi 2 bagian: Tabung reaksi 1a, didihkan selama 30 menit. Setelah didinginkan ditambah dengan Na2CO3 2 %, kemudian diuji benedict, maka, terjadi endapan merah bata. Tabung reaksi 1b, ditambah dengan 5 tts Na 2CO3 2 %, kemudian diuji benedict, maka terdapat endapan merah bata pada larutan. Percobaan tersebut membuktikan hasil hidrolisis maltosa, dimana larutan maltosa + Na2CO3
,

berwarna biru dan setelah uji benedict akan menghasilkan

endapan merah bata. Hasil prcobaan, dimana endapan merah bata yang diperoleh dengan cara dipanaskan terlebih dahulu, lebih banyak daripada larutan maltosa yang tidak dipanaskan. Sehingga faktor pemanasan mempengaruhi banyaknya endapan merah bata yang terbentuk. Dimana dengan dipanaskan, maltosa akan

mengalami hidrolisis menjadi sakarida yang lebih sederhana sehingga lebih mudah direduksi dan membentuk endapan merah bata yang lebih banyak (Prinsip pada percobaan hasil hidrolisis dengan uji benedict). Tabung reaksi 2 diisi dengan 5 ml larutan laktosa, ditambah dengan 1 tetes timol blue, 1-2 tts HCl pekat sampai warna biru menjadi merah muda, kemudian dibagi menjadi 2 bagian: Tabung reaksi 2a didihkan selama 30menit, kemudian dinginkan, ditambah dengan Na2CO3 2 %, dan diuji benedict, maka terdapat

endapan merah bata. Tabung reaksi 2b diisi dengan 5 tts Na 2CO3 2 %, kemudian diuji benedict, maka terjadi endapan merah bata. Percobaan diatas membuktikan hasil hidrolisis laktosa, dimana larutan laktosa + Na2CO3
,

berwarna hijau dan setelah uji benedict akan menghasilkan endapan

merah bata. Pada tabung 2. b. warnanya berubah menjadi biru. Hasil prcobaan, dimana endapan merah bata yang diperoleh dengan cara dipanaskan terlebih dahulu, lebih banyak daripada larutan laktosa yang tidak dipanaskan. Sehingga faktor pemanasan mempengaruhi banyaknya endapan merah bata yang terbentuk. Dimana dengan dipanaskan, laktosa akan mengalami hidrolisis menjadi sakarida yang lebih sederhana sehingga lebih mudah direduksi dan membentuk endapan merah bata yang lebih banyak (Prinsip pada percobaan hasil hidrolisis dengan uji benedict). Tabung reaksi 3 diisi dengan 5 ml larutan sukrosa, ditambah dengan 1 tetes timol blue dan 1-2 tetes HCl sampai warna biru menjadi merah muda, kemudian dibagi menjadi 2 bagian: Tabung reaksi 3a didihkan selama 30 menit. Setelah dingan, ditambah dengan Na2CO3 2 %, dan diuji benedict, maka terjadi endapan merah bata. Tabung reaksi 3b ditambah dengan 5 tetes Na 2CO3 2 %, dan diuji benedict, maka terjadi endapan merah bata. Percobaan diatas membuktikan hasil hidrolisis sukrosa, dimana larutan sukrosa + Na2CO3
,

berwarna hijau dan setelah uji benedict akan menghasilkan

endapan merah bata. Pada tabung 2. b. warnanya berubah menjadi biru. Hasil prcobaan, dimana endapan merah bata yang diperoleh dengan cara dipanaskan terlebih dahulu, lebih banyak daripada larutan sukrosa yang tidak dipanaskan. Sehingga faktor pemanasan mempengaruhi banyaknya endapan merah bata yang terbentuk. Dimana dengan dipanaskan, sukrosa akan mengalami hidrolisis menjadi sakarida yang lebih sederhana sehingga lebih mudah direduksi dan membentuk

endapan merah bata yang lebih banyak (Prinsip pada percobaan hasil hidrolisis dengan uji benedict). Uji Selliwanof. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk membedakan gugus aldehid (glukosa dan galaktosa) dan gugus keton (fruktosa). Uji selliwanof dinyatakan poitif apabila adanya gugus keton dengan ditinjukkan adanya perubahan warna menjadi orange. Tabung reaksi 1diisi dengan 2 ml sukrosa, ditambah dengan 2 ml HCl pekat, kemudian didihkan selama30 menit. Setelah dingin, ditambah dengan 0,5 ml 5 % Selliwanof . setelah diamati,warna arutan menjadi orange. Sukrosa terhidrolisis terlebih dahulu menjadi glukosa dan fruktosa. Uji dengan sukrosa positif (warna orange) karena sukrosa mengandung gugus keton. Tabung reaksiu 2 diisi dengan 2 ml laktosa, ditambah dengan 2 ml HCl pekat, kemudian didihkan selama 30 menit. Setelah dingin, ditambah dengan 0,5 ml 5 % Selliwanof . Setelah diamati warna larytan menjadi menjadi orange. Laktosa akan terhidrolisis terlebih dahulu menjadi glukosa dan galaktosa. Uji dengan maltosa ini negative (bening), karena laktosa tidak mengandung gugus keton melainkan gugus aldehid. Tabung reaksi 3 diisi dengan 2 ml maltosa, ditamah dengna 2 ml HCl pekat, kemudian didihkan selam 30 menit. Setelah dingin, ditambah dengan 0,5 ml 5 % Selliwanof. Setelah diamati larutan menjadi bening. Maltosa akan terhidrolisis terlebih dahulu. Uji dengan maltosa ini negative (bening), karena maltosa tidak mengandung gugus keton melainkan gugus aldehid. Polisakarida Uji Hasil Hidrolisis Amilum. Tabung reaksi diisi dengan 10 ml amilum 1 % dan ditambah dengan 3 ml HCl 3 M, kemudian didihkan. Setiap 3 menit larutan diuji iod. Saat 10 menit pertama, larutan sudah tidak berwarna lagi, dimana warnanya sama dengan warna iod. Percobaan diatas membuktikan tentang hasil hidrolisis amilum. Hidrolisis amilum mengalami beberapa tahapan, yaitu : Amilum + Iod biru

Amilodextrin + Iod ungu

Eritrodextrin + Iod merah Akrodextrin + Iod tidak berwarna Maltosa Glukosa + Iod tidak berwarna + Iod tidak berwarna

Amilum terhidrolisis sampai tahap akrodextrin, dimana sudah menjadi glukosa/sakarida yang sederhana (tidak berwarna). Dan setelah ditambah Na2CO3 dan diuji benedict terbentuk endapan merah bata. Amilopektin dengan iodium akan memberikan senyawa warna ungu atau erah lembayung. Amilum akan terhidrolisis sempurna dengan menggunakan asam sehingga menghasilkan glukosa (Poedjiadi, 1994). KESIMPULAN Berdasarkan hasil praktikum dapat diambil kesimpulan bahwa karbohidrat merupakan polihidroksi aldehid dan keton yang memiliki 3 tipe yaitu monosakarida, oligosakarida dan polisakarida. Sifat dari karbohidrat adalah daya mereduksi, pengaruh asam, pengaruh basa dan pembentukan osazon.

DAFTAR PUSTAKA

. Forgus, M, Clydosdar. 1995. Food Nutrition and Food Publishing Company Inc. Gramedia Utama.Jakarta. Gilvery, R.W.Goldstein Mc. 1996. Biokimia Suatu Pedekatan Fungsional. Airlangga University Press. Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press. Jakarta Rifai, M.A. 2004. Kamus Biologi. Balai Pustaka. Jakarta Soendoro. 1995. Prinsip-prinsip Biokimia Edisi 2. Erlangga. Jakarta. .