Anda di halaman 1dari 39

Daftar Isi

2 Kendala Teknis dan Solusi Pelaporan Keuangan Online 9 Persediaan (Bagian 2) 13 Aset Finansial: Investasi pada Sekuritas Ekuitas 23 Sekilas Manipulasi Laba 37 Ejaan SWD

Penasihat Prof. Dr. Zaki Baridwan, MSc.; Prof. Dr. Suwardjono, MSc. Redaksi: Arie Rahayu, Arif Perdana, Hesty Wulandari, Yeni Januarsi Blog: E-mail: http://akuntanmuda.wordpress.com/ akuntanmuda@yahoo.com atau akuntan.muda@gmail.com

akuntan muda

Halaman1

Kendala Teknis dan Solusi Pelaporan Keuangan Online


Gambar yang diperlihatkan di bawah ini menunjukkan aktivitas pertukaran Kendala juga terjadi ketika dokumen yang disampaikan berbeda format dan aplikasi. Masing-masing entitas harus melakukan proses duplikasi ulang untuk kepentingan analisis. Perbedaan dalam format informasi keuangan antar entitas. Entitas yang dimaksud disini dapat saja terjadi secara internal perusahaan dan antar perusahaan. Pertukaran informasi tersebut juga melibatkan pengguna informasi

merupakan masalah serius, diperlukan keahlian untuk teknis seperti pemrograman setelah itu

keuangan yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan. Pertukaran

mengkonversinya,

diperlukan proses validasi atas format tersebut. Pekerjaan-pekerjaan seperti ini tentunya akan sangat menyita waktu dan memerlukan biaya yang besar dalam penyajian dan pendistribusian laporan keuangan.

informasi tersebut tidak semudah yang dibayangkan hanya dengan memberikan informasi, tetapi lebih dari itu melibatkan proses teknis, terutama ketika informasi yang disampaikan hanya dalam bentuk paper-based atau dokumen tercetak.

Gambar 1Pertukaran dan Distribusi Laporan Keuangan


Entitas/Sistem Entitas/Sistem Entitas/Sistem Entitas/Sistem Entitas/Sistem Entitas/Sistem Entitas/Sistem Entitas/Sistem

Pengguna

akuntan muda

Halaman2

Meskipun kemudahan

memberikan dan

kecepatan, dalam

hingga

media

input

dan yang

output serius,

ketepatan

memerlukan terutama

perhatian ketika suatu

penyajian data, penggunaan teknologi informasi dalam pelaporan keuangan juga dapat menemui beberapa kendala seperti perbedaan sistem operasi, perangkat

perusahaan lunak dari

menggunakan

perangkat

vendor yang berbeda. Masing-masing vendor memiliki karakteristik sendiri, mulai dari input, proses hingga output yang diberikannya.

lunak, skrip pemrograman, format data, dsb. Interoperabilitas antara setiap

perangkat lunak mulai dari database

Gambar 2Perbedaan dan Intermediasi dalam Teknologi Informasi

Sistem A Sumber: Bergeron (2003) dengan modifikasi

Sistem B

Interoperabilitas merupakan salah satu dampak dari ekonomi informasi. Masingmasing vendor yang berbeda bahkan melakukan perang standar untuk

bersaing untuk mencapai standar yang diakui 1. Standarisasi yang hanya dimiliki oleh satu vendor dan bersifat proprietary (memiliki lisensi dan berbayar) hanya akan memiliki dampak yang merugikan bagi perusahaan yang tidak menggunakan

memenangkan persaingan dalam merebut konsumen TI. Kompetisi dalam standar atau secara ekstrim dapat dikatakan

perangkat lunak yang dkembangkan oleh vendor tersebut.


1

sebagai perang standar terjadi ketika dua teknologi yang tidak kompatibel saling

Shapiro & Varian (1999)

akuntan muda

Halaman3

Gambar 3Peran XBRL dalam intermediasi penyajian dan pertukaran informasi


Entitas/Sistem A Entitas/Sistem B Entitas/Sistem E Entitas/Sistem F

XBRL
Entitas/Sistem C Entitas/Sistem D Entitas/Sistem G Entitas/Sistem H

Pengguna

Perbedaan

standar

memunculkan

interoperabilitas

dan

pertukaran

perbedaan dalam format data, aplikasi, dsb yang dapat terjadi secara internal perusahaan, antara perusahaan dan antara perusahaan dengan pengguna laporan keuangan. tersebut terbuka Untuk mengatasi adanya kendala standar

informasi2. Skema peran XBRL dalam mengatasi kendala interoperabilitas dalam penyajian dan pendistribusian laporan keuangan dapat dilihat pada gambar 2 dan 3 diatas.

diperlukan yang

dapat

menjembatani

Fase Pelaporan Keuangan Online Pelaporan keuangan secara online

perbedaan-perbedaan tersebut. Standar terbuka artinya standar yang berlisensi gratis dan dapat diterima oleh semua pengembang perangkat lunak. Standar terbuka merupakan solusi atas kendala interoperabilitas sehingga dapat menjadi intermediasi yang bersifat universal, dapat diterima dan dibaca oleh semua mesin komputer dan bahasa pemrograman.

memiliki keuntungan dari sisi biaya yang lebih efektif, menjangkau pengguna yang lebih luas, serta kecepatan dan ketepatan dalam penyajian. Ada beberapa fase

dalam penyajian laporan keuangan secara online berkaitan dengan penerapan XBRL yaitu fase sebelum XBRL (pre XBRL

adoption), fase transisi (transistion phase), dan fase adopsi XBRL (pervasive

Dalam konteks sistem informasi akuntansi, menurut penemu XBRL, bahasa ini

adoptionof XBRL) 3.

merupakan standar terbuka global yang mampu mengatasi berbagai kendala


2 3

Hoffman (2006) Boritz & No (2009)

akuntan muda

Halaman4

1) Pada fase sebelum XBRL pelaporan keuangan sebatas keuangan secara online hanya laporan dalam

informasi

dapat

memilah

dan

memilih sesuai dengan kebutuhan untuk pengambilan keputusan.

mengkonversi tercetak ke

format digital seperti dokumen spreadsheet, pengolah kata, pdf dan html. Tidak ada perbedaan antara laporan keuangan paperbased dengan apa yang disajikan secara online. 2) Pada fase kedua, perusahaan

Teknis Penyajian Informasi Online Secara teknis, penyajian laporan keuangan secara internet online akan dengan menggunakan bahasa Untuk

melibatkan web.

pemrograman

mempresentasikan data diperlukan bahasa markuphypertext (HTML). HTML markup digunakan language untuk

terlebih dahulu menyajikan laporan keuangan dalam bentuk paperbased. Laporan keuangan ini

melakukan kodifikasi atas data yang akan ditampilkan di halaman web. Fungsi HTML sebatas hanya pada penyajian informasi seperti tabulasi, fontasi, paragraf, format, layout, dsb. HTML tidak dapat membuat data yang ditampilkan menjadi interaktif. Selain itu, HTML juga tidak dapat

menjadi media intermediasi untuk kemudian ditranslasikan ke dalam format XBRL. Pada fase transisi ini, keuntungan yang diperoleh

sebenarnya tidak begitu besar. Kustomasi informasi (ekstraksi dan agregasi) hanya sebatas apa yang ada dan telah disajikan dalam laporan keuangan paper-based. 3) Pada fase ketiga, secara XBRL telah di

terhubung ke database. Dengan demikian sesungguhnya HTML tak lebih dari

sekedar penyajian data statis yang mirip dengan paper-based, hanya saja

ditampilkan di web. Untuk membuat data menjadi interaktif diperlukan bahasa

diintegrasikan

penuh

dalam sistem informasi akuntansi perusahaan. XBRL langsung dapat menarik Dengan data model dari database. ini,

pemrograman lainnya seperti PHP, ASP, JSP, CGI dsb yang dapat menghubungkan database dengan halaman web. Penggunaan HTML saja tidak dapat memberikan solusi yang cepat, praktis dan akurat dalam penyajian informasi

seperti

informasi keuangan tidak hanya terpaku pada output tertentu saja, tetapi perusahaan atau pengguna

keuangan di internet. Penggunaan bahasa akuntan muda Halaman5

pemrograman web seperti PHP, ASP, JSP, CGI dsb yang menjadi jembatan antara database dengan halaman web terkadang juga masih memiliki antar kendala dan

fleksibel 4. Bahasa XML dikembangkan oleh W3C pada tahun 1990an setelah dari

sebelumnya bahasa

mengalami Generalized

evolusi

Markup

interoperabilitas

database

Language(GML) dan StandardGeneralized Markup Language(SGML) 5. XML

bahasa pemrograman dan sistem operasi yang berbeda. Penyajian data dengan menggunakan HTML juga tidak dapat secara maksimal diindeks oleh mesin pencari. Berbagai permasalahan yang

dikembangkan untuk menangani berbagai kendala yang berkaitan database, dan sistem dengan bahasa operasi6.

interoperabilitas pemrograman

dihadapi ini merupakan tantangan teknis yang dihadapi oleh perusahaan-

Dengan menggunakan bahasa XML data terlebih bahasa dulu yang dideskripsikan universal yang dengan dapat

perusahaan yang akan menyajikan laporan keuangannya secara online. Dalam pembuatan web sebenarnya telah dikenal lama satu bahasa markup yang mirip dengan HTML yaitu Extensible Markup Language atau yang biasa ditulis juga dengan eXtensible Markup Language (XML). XML tidak seperti HTML, tujuan utamanya bukanlah untuk menampilkan data tetapi untuk membawa data dan mendeskripsikan data yang ada. HTML merupakan mengkodifikasi bahasa markup data yang dengan

dimengerti oleh mesin, untuk kemudian diolah lebih lanjut oleh bahasa

pemrograman lainnya dan ditampilkan atau dihasilkan dalam bentuk tercetak ataupun tampilan web atau layar monitor.

menggunakan label (tag), demikian pula XML. XML merupakan bahasa markup yang digunakan untuk membuat tag (label) yang diperlukan atas suatu data. Tag ini disusun dalam struktur dan prinsipprinsip tertentu, namun demikian masih dapat dikembangkan dan bersifat
4 5 6

Harold (2001) lihat Navarro et al. (1999); Anderson (2004) Navaro et al. (1999)

akuntan muda

Halaman6

Gambar 4Teknis Penyajian Data dan Informasi Online

Database

Bahasa Pemrograman Web (PHP, ASP, JSP, CGI, dll)

HTML

Penyajian Data

XML

Dari gambar 3 diatas, dapat dilihat bahwa XML sebenarnya menjadi jembatan antara database web dengan dan bahasa XML

ini bersifat universal dan dapat dibaca oleh mesin komputer. XML dapat diproses lebih lanjut untuk ditampilkan, dan atau

pemrograman

HTML.

dikembalikan ke database sesuai dengan keadaan perbedaan semula. Dengan demikian lunak

berisikan data-data yang ada di dalam database, namun XML bukanlah

database,

perangkat

merupakan suatu database. Data-data yang ada di dalam database diciptakan dalam bentuk XML dengan bantuan

yang menjadi media input ataupun output dapat ditanggulangi dengan

menggunakan XML.

bahasa program. Di dalam XML, data-data tersebut diberi label, sehingga masingmasing data memiliki deksripsi. Deskripsi (Arif Perdana)

akuntan muda

Halaman7

Referensi:

Bergeron, B. P. 2003. Essentials of XBRL : Financial Reporting in The 21st Century. Hoboken, New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

Boritz, E. J. & W.G. No. 2009. Assurance on XBRL-Related Documents: The Case of United Technologies Corporation. Journal of Information Systems, Vol. 23 No. 2, pp. 4978

Hoffman, C. 2006. Financial Reporting Using XBRL IFRS and US GAAP Edition. USA: UBMatrix. Inc. Tersedia di http://wikispace.flux.com diakses tanggal 1 Agustus 2010

Shapiro, C

& H.R. Varian. 1999. Information Rules : A Strategic Guide to The Network

Economy. USA: Harvard School Business Press.

Harold, E.R. 2001. XML Bible, Second Edition. New York: Hungry Minds, Inc.

Navarro, A., White, C.,& Birman, L. 1999. Mastering XML.USA: Sybex Publishing, Inc.

akuntan muda

Halaman8

Persediaan (Bagian 2)
Bagaimana Persediaan Dicatat?
Ada dua cara pencatatan yang bisa dipergunakan untuk mengetahui berapa banyak persediaan yang tersedia di gudang atau toko pada setiap akhir periode, yaitu metode perpetual dan metode periodikal. Pada metode perpetual, pencatatan atas persediaan dilakukan setiap kali persediaan terjual sehingga informasi persediaan selalu tersedia kapan saja ia dibutuhkan. Metode pencatatan ini biasanya digunakan pada perusahaan dagang dengan skala menengah ke atas dengan jumlah persediaan yang beragam. Sebagai contoh, jika kita ingin membeli buku ke toko buku gramedia, kita bisa melihat berapa banyak stok buku yang ingin kita beli di komputer informasi yang disediakan khusus bagi pengunjung. Setiap kali satu buku dibeli, maka secara otomatis jumlah persediaannya akan langsung diperbaharui oleh komputer. Sedangkan pada metode periodikal, pencatatan biasanya akan dilakukan secara berkala, dan dihitung langsung pada saat itu juga untuk mengetahui berapa jumlah persediaan yang tersisa. Metode ini biasanya digunakan oleh perusahaan dagang berskala kecil yang menjual barang-barang yang tidak terlalu banyak jenisnya sehingga jika menggunakan pencatatan otomatis akan menimbulkan ongkos yang besar. Kedua metode ini memiliki perbedaan dalam proses penjurnalan. Untuk lebih jelasnya kita lihat tabel di halaman berikut. Tabel 1. Perbedaan Penjurnalan Dengan Metode Perpetual dan Periodikal

No
1

Transaksi
Pembelian barang dagang

Perpetual
Pembelian xxx xxx Kas/Hutangdagang

Periodikal
Persediaan barang dagang xxx Kas/ hutang dagang xxx

Terjadi retur

Kas/hutang xxx Retur xxx

Kas/ hutang xxx Persediaan barang dagang xx

Terjadi penjualan

HPP

xxx

Kas/ piutang xxx Persediaan barang dagang xxx

Persediaan xxx

akuntan muda

Halaman9

Perbedaan antara metode perpetual dan metode periodikal ini juga akan terlihat pada akhir periode, dimana metode periodikal memerlukan perhitungan secara fisik untuk memastikan jumlah persediaan yang sebenarnya sedangkan untuk metode perpetual jumlah persediaan yang ada diakhir periode sebenarnya bisa diketahui tanpa melakukan perhitungan periodikal. Meskipun demikian, sebaiknya perhitungan fisik untuk metode perpetual tetap dilakukan.

Penilaian Persediaan
Jika tadi kita berbicara tentang bagaimana persediaan dicatat, berikut ini kita akan berbicara tentang bagaimana persediaan dinilai diakhir periode. Penilaian akhir persediaan akan mempengaruhi perhitungan harga pokok penjualan karena harga pokok persediaan terdiri dari komponen persediaan awal, pembelian serta persediaan akhir. Terdapat tiga metode yang umum digunakan, yaitu FIFO, LIFO dan average. Ketiga metode ini biasa digunakan untuk persediaan dengan harga pembelian yang naik turun. Kalkulasi biaya persediaan untuk periode berjalan biasanya akan menimbulkan perbedaan pada item persediaan akhir, harga pokok penjualan serta laba kotor dan tentu saja pada akhirnya akan mempengaruhi nilai akhir laba bersih. Penilaian persediaan dengan memakai metode first in first out (FIFO) dilakukan dengan asumsi harga barang yang pertama kali masuk merupakan harga barang yang pertama kali keluar ketika penjualan terjadi sehingga persediaan akhir akan berasal dari barang yang terakhir dibeli. Sedangkan untuk persediaan yang memakai metode last in first out (LIFO) dinilai dengan asumsi bahwa harga barang yang terakhir masuk merupakan harga barang yang pertama kali keluar sehingga persediaan akhir akan berasal dari barang yang pertama dibeli. Penilaian persediaan dengan menggunakan metode average melakukan penilaian persediaan dengan cara menjumlahkan harga seluruh persediaan dan membaginya dengan jumlah persediaan. Untuk mengetahui bagaimana masing-masing metode bekerja, kita bisa melihat pada ilustrasi berikut Bayangkan kalau kita memiliki satu unit toko. Untuk toko kita itu, kita membeli barang yang sama dengan jumlah yang sama tapi pada tiga waktu yang berbeda dengan harga yang berbeda pula tiap waktunya, Pada pembelian pertama kita membeli 10 unit barang dengan harga satuannya $50. Pada pembelian kedua kita membeli 10 unit barang dengan

akuntan muda

Halaman10

harga $55 dan pembelian ketiga, kita membeli 10 unit barang dengan harga masing-masing $60. Bapak A membeli 7 buah barang. Setelah itu, bapak B membeli 9 buah barang dan bapak C membeli 10 buah barang. Harga satu unit barang adalah $ 70. Pertanyaannya, berapa nilai persediaan akhir serta, HPP serta laba bersih yang akan didapatkan untuk masing-masing metode? Untuk mengetahui jawaban atas ilustrasi diatas, bisa dilihat pada tabel berikut

Tabel 2. Ilustrasi Perhitungan Persediaan Keterangan


Pembelian

FIFO
10 x $50 = $500 10 x $55 = $550 10 x $60 = $600 --------------------+ $1650 7 x $50 = 350

LIFO
10 x $50 = $500 10 x $55 = $550 10 x $60 = $600 --------------------+ $1650 7 x $60 = 420

Average
10 x $50 = $500 10 x $55 = $550 10 x $60 = $600 -------------------+ $1650 7 x $ 55 = 385

Penjualan1 7 unit : Penjualan 2 9 unit

3 x $50 = 150 6 x $55 = 330 -----------------+ 480 4 x $55 = 220 6 x $60 = 360 -------------------+ 580

3 x $60 = 180 6 x $55 = 330 ----------------+ 510 4 x $55 = 220 6 x $50 = 300 ------------------+ 530

9 x $ 55 = 495

Penjualan 3, 10 unit

10 x $55 = 550

Persediaan akhir

4 x $60 = 240

4 x $50 = 200

4 x $55 = 220

Untuk perhitungan laba rugi secara sederhana pada perusahaan dagang didapatkan dengan mengurangkan penjualan dengan harga pokok penjualan. Untuk harga pokok penjualan sendiri bisa dihitung dengan cara: (persediaan awal+pembelian) persediaan akhir. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada tabel berikut

akuntan muda

Halaman11

Tabel 3. Perhitungan Laba Rugi


Keterangan
Penjualan Bapak A Bapak B Bapak C 7 x $ 70 = $490 9 x $ 70 = $630 10 x $ 70 = $700 --------------------+ 1820 0 7 x $ 70 = 490 9 x $ 70 = 630 10 x $ 70 = 700 --------------------+ 1820 0 7 x $ 70 = 490 9 x $ 70 = 630 10 x $ 70 = 700 --------------------+ 1820 0

FIFO

LIFO

Average

Persediaan Awal Pembelian Pembelian 1 Pembelian 2 Pembelian 3

10 x $50 = $500 10 x $55 = $550 10 x $60 = $600 --------------------+ $1650

10 x $50 = $500 10 x $55 = $550 10 x $60 = $600 --------------------+ $1650

10 x $50 = $500 10 x $55 = $550 10 x $60 = $600 -------------------+ $1650

Persediaan akhir Laba

4 x $60 = $240 $410

4 x $50 = $200 $370

4 x $55 = $220 $390

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa metode FIFO akan menghasilkan nilai persediaan akhir paling tinggi dan nilai laba paling tinggi sedangkan metode LIFO akan menghasilkan nilai persediaan akhir paling rendah dan menghasilkan nilai laba paling rendahpula.

(Hesty Wulandari)

Referensi Kieso, Weygant, Warfield, 2002. Akuntansi Intermediate. Edisi 10. Jakarta: Erlangga.

http://dasar-akuntansi.blogspot.com/2009/09/akuntansi-persediaan.html
http://www2.jogjabelajar.org/web2008/_smk/akuntansi/Akuntansi_Persediaan/sistim_pencata tan.php http://zulidamel.wordpress.com/2009/02/20/penilaian-persediaan/

akuntan muda

Halaman12

BELAJAR IFRS

ASET FINANSIAL: INVESTASI PADA SEKURITAS EKUITAS (EQUITY SECURITIES)

Pendahuluan
Pada edisi bulan lalu, akuntan muda telah menyajikan investasi pada sekuritas hutang. Untuk mengingatkan kembali, Investasi pada sekuritas dibagai menjadi dua yaitu investasi pada sekuritas hutang dan pada sekuritas ekuitas. Pengelompokan investasi pada sekuritas ekuitas didasarkan pada besarnya tingkat kepemilikan (biasanya ditunjukkan dengan persentase tertentu atas jumlah saham). Secara garis besar, tulisan kali ini akan membahas bagaimana pengelompokkan investasi pada sekuritas ekuitas mempengaruhi catatan akuntansi untuk sekuritas ekuitas.

Pengelompokan Sekuritas Ekuitas


Sekuritas ekuitas merepresentasikan kepemilikan seorang investor terhadap sebuah perusahaan. Sekuritas ekuitas dapat berupa saham biasa, saham preferen, atau modal saham lainnya. Selain menunjukkan kepemilikan, ekuitas juga merepresentasikan hak untuk mendapatkan atau melepas kepemilikan pada harga yang telah disepakati atau pada harga yang telah ditentukan seperti dalam waran atau hak atas saham (Kieso et al, 2011). Kieso (2011, p.892) mengklasifikasimetode akuntansi untuk investasi sekuritas ekuitas berdasarkan pada persentase kepemilikan yang dimiliki oleh investor ke dalam klasifikasi di akuntan muda Halaman13

Gambar 1. Sementara itu investasi sekuritas ekuitas juga diklasifikasi berdasar persentase kepemilikan oleh PSAK 12, sebagaimana yangdapat dilihat di Gambar 2.

Gambar 1. Klasifikasi Metode Akuntansi untuk Investasi Sekuritas Ekuitas (Kieso 2011)

Persentase Kepemilikan

0 20%

20 50%

> 50%

Sedikit atau tidak memiliki pengaruh

Memiliki pengaruh signifikan

Memiliki kendali

Metode fair value

Metode ekuitas

Konsolidasi

Gambar 2. Klasifikasi Metode Akuntansi untuk Investasi Sekuritas Ekuitas berdasar PSAK 12 akuntan muda Halaman14

Persentase Kepemilikan

0 - 20%

20 - 50%

< 50%

50 -100%

Sedikit atau tidak memiliki pengaruh

Memiliki pengaruh signifikan

Joint venture

Subsidiary

Metode fair value

Metode ekuitas

Metode ekuitas atau konsolidasi

Metode ekuitas atau konsolidasi

Dalam kaitannya dengan katagori memiliki pengaruh signifikan, PSAK No.15 (revisi 2009) menjelaskan dua indikasi suatu kepemilikan dikatakan memiliki pengaruh signifikan yaitu indikasi kualitatif dan kuantitatif. Berdasar indikasi kualitatif, yang dimaksud dengan pengaruh signifikan yaitu jika memiliki kekuasaan untuk berpartisipasi dalam keputusan kebijakan keuangan dan operasional suatu aktivitas ekonomi, tetapi tidak mengendalikan atau mengendalikan bersama atas kebijakan tersebut.

Sementara itu, berdasar indikasi kuantitatif:

akuntan muda

Halaman15

Hak suara 20% dianggap memiliki pengaruh signifikan, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya

Hak suara <20% dianggap tidak memiliki pengaruh signifikan, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya. Lebih lanjut, dalam paragraf 4 PSAK 15 (revisi 2009) dinyatakan bahwa keberadaan

pengaruh signifikan oleh investor umumnya dapat dibuktikan dengan satu atau lebih cara sebagai berikut: Keterwakilan dalam dewan direksi dan komisaris atau organ setara Partisipasi dalam proses pembuatan kebijakan, termasuk partisipasi dalam pengambilan keputusan dividen dan distribusi lain Transaksi material investor dengan investee Pertukaran personel manajerial Penyediaan informasi teknis pokok Jadi, bila disimpulkan katagori memiliki pengaruh signifikan tidak hanya terbatas pada persentase kepemilkan saja.Namun juga harus memperhatikan indikasi kualitatif yang terdapat dalam paragraf 4 PSAK 15 (revisi 2009). Oleh karena itu, akuntansi dan pelaporan untuk investasi dalam sekuriats ekuitas akan tergantung dari level pengaruh dan tipe sekuritas yang terkait. Tabel 1 berikut merupakanilustrasi kategori akuntansi dan pelaporan untuk sekuritas ekuitas ( Kieso et al, 2011). Jika dilihat dari Tabel 1, kepemilikan kurang dari 20% diasumsikan perusahaan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perusahaan yang dibelinya. Kepemilikan kurang dari 20% ini terbagi menjadi dua yaitu diklasifikasikan sebagai trading investment dan nontrading investment.7 Berdasarkan IFRS, perusahaan yang memegang investasi dalam sekuritas ekuitas yang diklasifikasikan dalam trading bertujuan untuk mendapatkan profit dari perubahan harga. Akan tetapi tidak semua investasi dalam sekuritas ekuitas dengan kepemilikan kurang dari 20% dipegang untuk tujuan trading. Ada juga yang dipegang untuk tujuan selain trading. Dalam hal ini, maka perusahaan dapat mengklasifikasikan sekuritas yang dimilikinya dalam non-trading securities. Kedua investasi dalam sekuritas ekuitas dinilai dengan menggunakan fair value namun terdapat perbedaan perlakuan dalam hal
7

Jika merujuk pada PSAK 15 (revisi 2009) paragraf 3, hanya menyebutkan kepemilikan 20% atau lebih dan kepamilikan kurang dari 20%.

akuntan muda

Halaman16

pengakuan unrealized holding gain or loss dimana jika diklasifikasikan sebagai trading akan diakui dalam net Income dan jika diklasifikasikan sebagai non-trading akan diakui dalam OCI. Tabel 1Kategori Akuntansi dan Pelaporan untuk Ekuitas Sekuritas Kategori Kepemilikan kurang dari 20% 1. Trading 8 2. Non-trading Fair Value Fair Value Diakui dalam laba bersih Diakui dalam other comprehensive income (OCI) dan merupakan bagian yang terpisah dari komponen ekutas Kepemilikan 20 - 50% Kepemilikan lebih dari 50% Ekuitas Konsolidasi Tidak diakui Tidak diakui Penilaian Unrealized Holding Gain or Loss

Pembahasan akuntansi untuk investasi pada sekuritas ekuitas untuk edisi ini akan dibagi menjadi dua 9 yaitu: 1. Akuntansi untuk investasi ekuitas pada fair value-income 2. Akuntansi untuk investasi sekuritas ekuitas pada fair value-OCI

I. AKUNTANSI UNTUK INVESTASI EKUITAS PADA FAIR VALUE-INCOME Untuk mengilustrasikan akuntansi untuk investasi ekuitas pada fair value-income anggap saja pada tanggal 3 November 2011 Republic Corporation membeli saham biasa dari 3 perusahaan yaitu Burberry, Nestle, dan St. Regis dengan kos masing-masing sebesar $259.700, $317.500, dan $141.350 (total $718.550) dengan tingkat kepemilikan masingmasing kurang dari 20%. Kemudian pada tanggal 6 Desember, Republic menerima dividen kas sebesar $4.200 dari Nestle. Dari 2 transaksi ini maka Republik akan mencatat transaksi pembelian sebagai berikut:
8

Berdasarkan Kieso et al. (2011), terdapat persamaan tentang akuntansi untuk investasi sekuritas ekuitas yang dikatagorikan sebagai trading antara U.S. GAAP dengan IFRS. Non-trading investment jika berdasar pada US. GAAP mengacu pada katagori sekuritas ekuitas yang termasuk dalam available for sale securities. 9 Pembahasan pada edisi ini hanya dibatasi pada topik yang ada dalam mata kuliah intermediate accounting sedangkan dua pembahasan lainnya yaitu dengan menggunakan metode ekuitas dan konsolidasi merupakan pembahasan advance accounting yang tidak menjadi concern dalam topik edisi ini.

akuntan muda

Halaman17

3 Nov 2011

Equity Investment Cash

$718.550 $718.550

Dan akan mencatat transaksi penerimaan dividen sebagai berikut:

6 Desember 2011

Cash Dividend revenue

$4.200 $4.200

Pada tanggal 31 Desember 2011, posisi portofolio Republic adalah sebagai berikut: Investments Burberry Nestle St. Regis Total portofolio Saldo securities fair value adjustment periode sebelumnya Securities fair value adjustment-Cr $(35,550) 0 Carrying value $259.700 317.500 141.350 $718.550 Fair value $275.000 304.000 104.000 $683.000 Unrealized gain (loss) $15.300 (13.500) (37,550) (35,550)

Dari tabel perhitungan diatas, total unrealized gain adalah sebesar $15.300 sedangkan total unrealized loss adalah sebesar $50.850 sehingga akan menghasilkan unrealized loss sebesar $35.550 ($15.300 - $50.850) karena fair value dari investasi dalam portofolio ada dibawah kos-nya.
10

Akibatnya, republic akan mencatat akun unrealized holding gain and loss-Income

dan melaporkan jumlah akun ini pada other income and expense. Jurnal penyesuaian yang dibuat oleh Republik untuk menurunkan nilai portofolio dari kos ke nilai pasar dan untuk mengakui terjadinya loss adalah sebagai berikut pada tanggal 31 Desember 2011 adalah:
10

Logikanya adalah portofolia SEHARUSNYA dihargai sebesar $718.550 sedangkan pasar (fair value) hanya menghargai portofolio sebesar $682,000 sehingga terjadi unrealized loss

akuntan muda

Halaman18

31 Desember 2011Unrealized holding gain and loss-Income Securities fair value adjustment

$35.550 $35.550

Lalu pada tanggal 23 Januari 2012, Republic menjual seluruh saham Burberry dan menerima $287,220 dari hasil penjualannya. Pada tanggal ini Republic akan mengakui gain atau loss sebesar:

Penerimaan dari penjualan saham Kos saham Burberry Laba (gain) dari penjualan saham

$287,220 259,700 $ 27,520

Jurnal yang buat oleh Republik untuk mengakui laba yang diperoleh dan mencatat penjualan saham Burberry adalah: 23 Januari 2012

Cash Equity Investments

$28,220 $259.700 27.520

Gain on sale of Equity Investment

Lalu asumsikan pada bulan ferbruari tahun 2012, Republic membeli $255,000 saham biasa milik Trucking Continental sebanyak 20,000 lembar saham dengan harga per saham sebesar $12.75 ditambah komisi broker sebesar $1.850 sehingga pertofolio yang dimiliki Republic pada akhir bulan Februari akan tampak sebagai berikut:

Equity Investment Portofolio December 31, 2012 akuntan muda Halaman19

Investments Continental Trucking Nestle St. Regis Total portofolio Saldo securities fair value adjustment periode sebelumnya Securities fair value adjustment-Cr

Carrying value $255.000 317.500 141.350 $713,850

Fair value $278.350 304.000 104.000 $779.950

Unrealized gain (loss) $23.350 (13.500) (37,550) 66,100 (35,550)

$(101,650)

Pada tanggal 31 desember 2012, nilai fair value dari portofolio Republic lebih besar dari pada nilai carying value-nya sehingga menghasilkan unrealized gain sebesar $66,100 ($713,850 - $779,950). Pada periode sebelumnya,securities fair value adjustment memiliki saldo kredit sebesar $35,550. Untuk menyesuaikan ke fair value, Republic akan mendebit akun fair value adjustment sebesar $101,650 ($35,550 + $66,100) dan mencatat jurnal penyesuaian sebagai berikut: 31 Desember 2012Securities fair value adjustment

$101,650 $101,650

Unrealized holding gain and loss-Income

II. AKUNTANSI UNTUK INVESTASI EKUITAS PADA FAIR VALUE - OCI Satu hal yang perlu diperhatikan dalam akuntansi untuk investasi dalam sekuritas ekuitas jenis non-trading adalah secara umum akuntansinya sama, yang berbeda hanya pada perlakuan unrealized holding gain and loss yaitu dilaporkan sebagai bagian dari other comprehensive income (OCI). Oleh karena itu, akan digunakan akun unrealized holding gain and loss-equity.

akuntan muda

Halaman20

Untuk mengilustrasikannya, asumsikan pada tanggal 10 Desember 2011 Republic membeli 1,000 lembar saham milik Hawthorn Company dengan harga $20,750. Pada tanggal 27 Desember 2011 Republic menerima dividen kas sebesar $450. Kemudian pada tanggal 31 Desember 2011, informasi tentang carrying value dan fair value adalah sebagai berikut:

Non-Trading Equity Investments Continental Trucking Saldo securities fair value adjustment periode sebelumnya Securities fair value adjustment-Dr

Carrying value $20,750

Fair value $24,000

Unrealized gain (loss) $3,250

$3,250

Pada tahun 2011, jurnal yang dibuat oleh republic adalah sebagai berikut:

10 Desember 2011

Equity Investment Cash

$718.550 $718.550

(mencatat pembelian saham Continental Trucking) 27 Desember 2011

Cash

$4.200 Dividend revenue $4.200

(mencatat transaksi penerimaan dividen)

Unrealized gain pada investasi non-trading diakhir tahun 2011 adalah sebesar $3,250 karena fair value-nya melebihi carrrying cost-nya. Karena Repiblik diasumsikan

mengklasifikasikan investasinya dalam investasi non-trading, maka Republic mencatat akun Unrealized holding gain and loss-Equity. Republic mencatat akun ini sebagai bagian dari OCI dan sebagai komponen dari other accumulated comprehensive income (yang dilaporkan dalam ekuitas). Jurnal penyesuaian yang dibuat oleh Republic adalah sebagai berikut:

31 Desember 2011Securities fair value adjustment

$3,250 akuntan muda Halaman21

Unrealized holding gain and loss-Income

$3,250

Lalu pada tanggal 20 Desember 2012, Republic menjual seluruh saham Hawthorne Company dan menerima $22,500 dari hasil penjualannya. Pada tanggal ini Republic akan mengakui gain atau loss sebesar:

Penerimaan dari penjualan saham Kos saham Burberry Laba (gain) dari penjualan saham

$22,500 20,750 $ 1,750

Jurnal yang buat oleh Republik untuk mengakui laba yang diperoleh dan mencatat penjualan saham Hawthorne Company adalah: 23 Januari 2012

Cash Equity Investments

$22,500 $20,750 1,750

Gain on sale of Equity Investment

Karena Republic tidak memiliki investasi ekuitas lagi, maka republik akan membuat jurnal berikut untuk mengeliminasi akun securities fair value adjustment:

Unrealized holding gain and loss-income Securities fair value adjustment

$3,250 $3,250

(Yeni Januarsi)

akuntan muda

Halaman22

Sekilas Manipulasi Laba


Laba merupakan ukuran yang umum digunakan untuk menilai kinerja Manager yang kinerjanya dinilai berdasar laba tentu akan berusaha untuk mencapai laba yang ditargetkan. Namun ada kalanya (perkiraan) laba aktual lebih rendah daripada target laba. Bila hal ini terjadi manager terancam memperoleh penilaian buruk atas kinerjanya serta konsekuensi lain yang harus diterima. Alternatifnya, manager dapat memperoleh laba tersebut dari sumber-sumber lain. Sumber-sumber lain ini bisa diperoleh dengan mengubah catatan akuntansi,

perusahaan dan/atau managemen. Zitaner (1992 dalam Carnes dan Guffey 2000) menemukan bahwa 85% dari organisasi yang disurvei menggunakan insentif atau bonus yang didasarkan pada kinerja

keuangan keseluruhan dari perusahaan. Sementara Fox (1980 dalam Carnes dan Guffey 2000) melaporkan bahwa sekitar 90% dari seribu perusahaan manufaktur terbesar di Amerika menggunakan

kompensasi yang didasarkan, paling tidak sebagian, pada laba akuntansi.

mempercepat penjualan, meningkatkan sediaan akhir, atau menunda pengeluaran

Target laba

Penginflasian laba
contoh: backdating mengubah estimasi akrual memotong biaya diskresioner mempercepat penjualan meningkatkan sediaan akhir

Laba aktual

Periode X diskresioner.

akuntan muda

Halaman23

Sumber-sumber

lain

tersebut

tidak

dilakukan perusahaan (Graham et al. 2005). Mereka kemudian menginflasi laba dengan pertimbangan untuk mengirim sinyal positif bahwa perusahaan baik-baik saja dengan tercapainya target laba. Hal ini mebuat manager tetap dapat menjaga keberlangsungan(operasional) an dengan menjaga perusahabaik

meningkatkan namun hanya menginflasi laba. Menginflasi berarti meningkatkan laba terlapor namun tidak meningkatkan labaaktual. Misalnya dalam kasus

penundaan pengeluaran diskresioner, laba terlapor memang akan meningkat

sejumlah biaya yang tertunda. Namun apakah peningkatan laba terlapor tersebut berarti peningkatan kinerja perusahaan? Tentu saja tidak. Tidak ada perubahan kinerja yang terjadi di sini. Bila peningkatan laba semacam ini pada substansinya hanyalah merupakan penginflasian maka mengapa manager mau adalah dengan melakukannya. manager Alasan pertama

hubungan

perusahaan dengan pemasok, pelanggan, karyawan, dan stakeholders lainnya. Bila manager tidak melakukan penginflasian laba (melaporkan laba yang di bawah target), bereaksi stakeholders negatif cenderung justru akan akan

yang

memperburuk Motivasi

kondisi

perusahaan. 11 keberlangsungan

menjaga

bersikap

oportunistik pelaporan

perusahaan ditambah dengan kenyataan bahwa manager merupakan orang yang optimis (kalau tidak, tidak bisa jadi

memanfaatkan

keuangan untuk keuntungan pribadi. Hal ini tampak jelas dari kasus Enron ataupun CA Inc. yang di dalamnya manager mengambil keuntungan pribadi yang

manager) yang percaya bahwa mereka mampu melalui masalah yang terjadi (weather out the storm, Lev 2003),

sangat besar dari penjualan opsi saham dengan harga (saham) yang luar biasa akibat pelaporan keuangan yang
Misalnya pemasok mengetahui bahwa perusahaan sedang bermasalah maka mungkin saja dia akan mencari klien lain. Akibatnya perusahaan akan kesulitan mencari pemasok sementara pemasok-pemasok lain (yang tentunya juga mengetahui masalah ini) mungkin akan enggan ataupun bila bersedia akan mematok harga yang tinggi yang berarti kos yang lebih besar bagi perusahaan. Hal ini pada gilirannya akan semakin mengacaukan kondisi operasional dan keuangan perusahaan yang sebenarnya bisa dicegah bila perusahaan tidak memberi laporan keuangan (i.e. laba) yang sebenarnya.
11

dipercantik. Alasan kedua yang lebih umum adalah manager ingin menjaga keberlangsungan perusahaan. Manager berpandangan

bahwa sanksi yang diterimaakibat target laba tidak tercapai itu terlalu berat, tidak sebanding dengan kesalahan yang

akuntan muda

Halaman24

sehingga

tidak

ada

perlunya

Ada dua poin penting dalam definisi manipulasi laba. Pertama adalah faktor niat yaitu pengubahan hasil keuangan haruslah ditujukan untuk menyesatkan atau Faktor mengelirukan niat (mislead) penting investor. karena

memperingatkan stakeholders, menyebabkan penginflasian laba merupakan hal yang umum terjadi.

menjadi

A. Definisi Manipulasi Laba Healy dan Wahlen (1999) mendefinisi manipulasi laba sebagai hal yang occurs when managers use judgment in financial reporting and in structuring transactions to alter financial reports to either mislead some stakeholders about the underlying economic performance of the company or to influence contractual outcomes that depend on reported accounting numbers. Sementara itu Lev (2003) dalam papernya Corporate Earnings: Facts and Fiction menyebut bahwa [M]anipulated earnings can be defined as those that provide a poor or deceptive guide to future earnings and cash flows by due to intentional Secara

pengubahan hasil keuangan dapat juga ditujukan untuk memberi informasi yang lebih berguna bagi investor (Healy dan Wahlen 1999). Faktor niat ini juga menjadi penting terkait dengan desain penelitian yang digunakan untuk mendeteksi

manipulasi laba (Lo 2007). Hal yang menarik dari poin pertama ini adalah adanya niat untuk menyesatkan investor yang pada gilirannya diharapkan mengubah perilaku investor

(dibandingkan dengan bila ada informasi sebenarnya). Duska dan Duska (2003) menyebutkan bahwa tidak menyampaikan hal yang sebenarnya dengan tujuan

mengubah perilaku penerima informasi adalah suatu tindakan berbohong. 12 Bila tindakan berbohong adalah tidak benar maka seharusnya manipulasi laba pun dinyatakan sebagai tidak benar.

intervention

management.

umum, manipulasi laba dapat diartikan sebagai pengubahan angka laba

terlapor/reported earnings secara tidak baik (hanya mengutamakan angka


Duska dan Duska (2003) menyebut bahwa tidak ada apa yang disebut masyarakat sebagai white lie. Bilapun harus ada maka white lie hanya mencakupi satu tindakan yaitu tidak menyampaikan informasi secara jujur namun tanpa ada motivasi/insentif untuk mengubah perilaku orang lain.
12

terlapor tanpa memperhatikan kondisi aktualnya) yang dimaksudkan untuk

mengubah perilaku orang tertentu/pihak (dibandingkan bila tidak ada pengubahan).

akuntan muda

Halaman25

Ini

juga

sesuai

dengan

yang

earnings management yang merupakan eufimisma dan bahkan pembenaran atas manipulasi laba (Lo 2007). Poin penting kedua adalah adanya berbagai macam cara untuk memanipulasi laba (Figure 3). Manipulasi laba tidak hanya melalui pengubahan estimat dalam pengestimasian akrual namun juga bisa melalui cara-cara lain yang tidak terkait dengan pengubahan estimat namun tetap mempengaruhi akrual. Poin kedua ini penting karena

dikemukakan oleh para pengkritik paham relativisme etis 13 yang menyatakan bahwa paling tidak ada tiga hal yang harus dipenuhi bila masyarakat ingin tetap ada/bertahan secara efisien. dan dapat berinteraksi adalah

Salah

satunya

menggunakan bahasa secara jujur ketika berkomunikasi dengan anggota

masyarakat lainnya (Velasquez 2002). Hal ini menimbulkan laba, konsekuensi by bahwa

manipulasi

definition,

dikategorikan sebagai satu hal yang keliru dan seharusnya tidak boleh dilakukan. 14 Aspek pendefinisian ini penting karena beberapa akademiknya terhadap akademisi dan literatur sanguine laba

manipulasi laba sering dikaitkan dengan buruknya konsep akrual yang digunakan akuntansi (lihat Dechow dan Skinner 2000). Hal ini secara substansi tidaklah benar. Hal ini dapat dilihat bila kas digunakan sebagai ukuran kinerja alih-alih laba, ceteris paribus, maka manager pun akan memanipulasi kas ketika mereka memiliki insentif pada untuk aspek itu. Hal ini

cenderung

masalah

manipulasi

(Dechow dan Skinner 2000). Misalnya Scott (2006) yang membuat satu subbab khusus berjudul The Good Side of Earnings Management. Sikap ini juga ditunjukkan
13

berdampak

pembahasan

dengan

pemilihan

istilah

(dalam literatur) manipulasi laba yang kurang tepat bila memasukkan isu

Relativisme etis menyebutkan bahwa kebenaran (etis) terletak pada tangan mayoritas atau masyarakat itu sendiri. Paham ini membenarkan bahkan tindakan sangat keji sekalipun (genocide seperti kamp konsentrasi Hitler) asalkan masyarakatnya beranggapan bahwa itu baik. 14 Beberapa literatur mengambil posisi yang berbeda atas masalah ini. Scott (2007) misalnya mengelompokkan literatur manipulasi laba ke dalam dua bagian pembahasan, manipulasi laba yang baik dan yang buruk.

penggunaan konsep/basis akrual yang dipilih akuntansi (versus basis kas) ke dalam latar belakang manipulasi laba. 15

B. Insentif untuk Memanipulasi Laba

Poin ini penting terutama bagi penyusun standar (standar- setters) atau dalam bahasan terkait penyusunan standar.

15

akuntan muda

Halaman26

Healy dan Wahlen (1999), Dechow dan Skinner (2000), dan Lev (2003) merangkum hasil penelitian terdahulu dan menemukan bahwa manipulasi laba dilakukan antara lain karena: 1) Insentif pasar dana/modal modaluntuk yang lebih

membutuhkan keberlanjutan (continuance) dukungan dari investor, pelanggan, dan pemasok (supplier) mereka. Manager pun berkepentingan keberlanjutan untuk dukungan bahwa kondisi ini menjaga dengan

menggambarkan berada (normal). dalam

perusahaan saja

memperoleh

baik-baik

banyak seperti pada saat management buyout, seasoned equity offers (SEOs), initial public offers (IPOs), dan untuk memenuhi ekspektasi analis atau bahkan prediksi laba oleh managemen sendiri. 2) Contractinguntuk memenuhi

C. Perusahaan

yang

Diduga

Memanipulasi Laba (Suspect Firms) Burgstahler dan Dichev (1997) melakukan penelitian atas distribusi laba. Mereka berargumen bahwa bila tidak ada

lending contract dan untuk meningkatkan keuntungan managemen eksplisit saham kontrak baik kompensasi yang opsi

manipulasi maka seharusnya distribusi tersebut smooth (tanpa ada argumen mengenai bentuk dua yang tertentu). thresholds Mereka yaitu

keuntungan ataupun

seperti maupun

bonus

yang implisit

seperti

menggunakan perusahaan

incumbent managers dalam proxy contest ataupun CEO yang menjabat di tahun terakhir mereka. 3) Regulatoryuntuk memperoleh

menghindari

melaporkan rugi dan yang menghindari melaporkan penurunan laba. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa distribusi laba berbentuk seperti lonceng (bell shaped) namun dengan sedikit kejanggalan. Perusahaan yang

keuntungan atau mencegah kerugian dari peraturan terkait industri tertentu seperti bank, insuransi (insurance), industri yang menikmati hak istimewa (privilege) seperti pembatasan impor, ataupun

berada di sebelah kiri langsung thresholds berjumlah terlalu sedikit sementara

peraturan anti monopoli (anti trust). 4) Masa sulitmanipulasi laba juga

perusahaan yang berada di sebelah kanan langsung banyak. threshold Hal ini berjumlah mendorong bahwa terlalu mereka sebagian

dilakukan untuk melewati masa sulit. Pada masa sulit, seperti saat penjualan atau laba operasi menurun, perusahaan sangat

menyimpulkan

perusahaan yang berada di sebelah kiri akuntan muda Halaman27

langsung

thresholds

melakukan

ii.

Perusahaan

yang laba

diduga negatif

penginflasian laba agar dapat berada di sebelah kanan langsung thresholds. Dalam sisi koin yang sama, hasil penelitian tersebut berimplikasi bahwa sebagian perusahaan di sebelah kanan langsung thresholds melakukan

menghindari

perubahan

(target laba adalah laba tahun lalu) memilikirasio perubahan laba bersih/aset total-nyaberkisar 0.000-0.005 (Cohen et al. 2008).

penginflasian laba. Interval di sebelah kanan langsung thresholds tersebut

D. Ragam Manipulasi Laba D.1. Klasifikasi

Manipulasi Laba Akuntansi Within GAAP Methods selection


kemudian dijadikan perusahaan-perusahaan

Faktor Real

Violates GAAP Structuring transactions


untuk diduga

Nonmiopik

Miopik

Altering judment
proksi yang

Secara umum cara dan sumber daya tersebut dapat digambarkan seperti pada Figur 2. Figur 2 dapat dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut (dirangkum dari Dechow dan Skinner 2000,Healy dan Wahlen 1999,

menginflasi laba (Roychowdhury 2006, Cohen et al. 2008). Interval di sebelah kanan langsung thresholds tersebut

ditentukan sebagai berikut: i. Perusahaan yang diduga

Levitt 1998, dan Lev 2003): 1) Manipulasi Akuntansi Manipulasi akuntansi merujuk pada caracara yang tidak memiliki dampak pada aliran kas atau faktor real. Manipulasi ini dilakukan, meminjam istilah Lev (2003), only by the stroke of the pen. Satu contoh

menghindari melaporkan rugi (target laba minimal adalah0) memiliki rasio laba bersih/aset total-nya 16 berkisar 0.000-

0.005 (Roychowdhury 2006),

Laba bersih yang dimaksud adalah earnings after tax.

16

dunia nyata adalah pada kasus WorldCom akuntan muda Halaman28

Corp. yang pada periode 2000 dan 2001 mencatat (mengakui) biaya sebesar $7 miliar sebagai pengeluaran modal (aset). Kekeliruan pencatatan ini menginflasi laba WorldCom Corp. dalam jumlah yang sama selama dua periode tersebut tanpa sedikitpun dampak pada dimensi real perusahaan (seperti aktivitas investasi, manufaktur, pemasaran). a) Within GAAPcara ini memanipulasi laba dengan menggunakan fleksibilitas yang diperbolehkan oleh GAAP.

panjang,

perkiraan

piutang

tak

tertagih, asset impairments. Manipulasi laba semacam ini sangat sulit dideteksi oleh investor secara umum. iii) Structuring transactionsmenstruktur kontrak sewa guna usaha (capital atau operating saham/ekuitas lease), investasi atau

(dikonsolidasi

tidak dikonsolidasi). b) Violates GAAPmanipulasi laba

semacam ini mencakupi pelanggaran secara nyata pada aturan umum yang berlaku 17 seperti mengakui transaksi fiktif, mempercepat pengakuan

Manipulasi laba semacam ini dapat diklasifikasikan kelompok berikut: i) Methods selectionmemilih metoda alokasi depresiasi, aliran biaya pada sediaan. Cara ini tidak terlalu efektif untuk pertama dengan memanipulasi adalah pemilihan laba. Alasan laba dapat ke dalam tiga

pendapatan (backdating). 2) Manipulasi Faktor Real Manipulasi laba melalui aktivitas real dilakukan melalui perubahan tingkat

(level) atau juga timing atas aktivitas investasi atau operasi. Pada pertengahan tahun 2002, misalnya, Securities and

manipulasi metoda

dideteksi oleh stakeholders mengingat perubahan metoda akuntansi harus diungkap dalam catatan laporan

Exchange Commission (SEC) melakukan penyelidikan atas Bristol-Myers Squibb. Penyelidikan dilakukan untuk menentukan apakah penawaran diskon luar biasa besar yang diberikan Bristol-Myers Squibb

keuangan. Sementara alasan kedua adalah cara ini tidak dapat seringsering digunakan karena pengubahan metoda yang terlalu sering tentu akan menimbulkan kecurigaan. ii) Altering judgmentmengubah

kepada pedagang besarnya (wholesalers)

estimasi seperti pada umur ekonomis dan nilai sisa pada aset jangka

Makna aturan di sini bukan seperti makna aturan dalam konteks GAAP melainkan seperti makna aturan dalam konteks rules-based accounting. Aturan semacam ini berarti aturan yang secara tegas menyatakan mana yang benar dan yang salah.

17

akuntan muda

Halaman29

yang

mengakibatkan

tambahan

dipilih. 18Faktor

pertama

adalah

pendapatan $1 miliar di tahun 2001 merupakan manipulasi laba. a) Nonmiopikproduksi berlebih

pertimbangan biaya privat yaitu biaya bagi sang manager itu sendiri. bahwa Manager manipulasi

umumnya

percaya

(overproduction), menunda penjualan. b) Miopikmenunda biaya R&D,

akuntansi menimbulkan biaya privat yang besar berupa reputasi manager menjadi buruk, dipecat, sampai dengan hukuman penjara bila manipulasi tersebut

pengiklanan, mempercepat penjualan melalui potongan harga besar-besaran (merusak merek). D.2. Preferensi Manager Makalah ini mengasumsikan manager

terbongkar (misalnya pada kasus Enron, CA Inc.). Risiko ini tidak akan muncul bila manager memilih melakukan manipulasi aktivitas real maka manager yang

cenderung memiliki preferensi lebih atas bentuk penginflasian laba tertentu

mempertimbangkan hal ini tentu akan berperilaku oportunistik dengan memilih pilihan yang baik bagi dirinya sendiri dan dengan manipulasi demikian faktor lebih real memilih

meskipun dalam kenyataannya manager mungkin menggunakan berbagai bentuk penginflasian laba untuk menghindari

risiko tidak tercapainya target laba. Asumsi ini sekedar menunjukkan bahwa bentuk penginflasian laba tertentu lebih disukai dan oleh karenanya mendapatkan prioritas untuk didahulukan dan mendapat porsi yang cukup besar dalam bauran

dibandingkan

manipulasi akuntansi. Selain itu, pertimbangan etika juga dapat menjadi faktor penjelas mengapa manager lebih memilih memanipulasi

faktor real daripada akuntansi. Bruns dan Merchant (1990), dalam Tabel 1,

penginflasian laba. Asumsi ini penting untuk mendapatkan alur trade-off yang akan dibahas di bagian berikutnya dalam makalah ini. Ada beberapa faktor yang dapat

menemukan bahwa proporsi manager yang beranggapan bahwa manipulasi

faktor real merupakan tindakan yang


18

mempengaruhi preferensi manager atas bentuk penginflasian laba yang lebih

Pembahasan pengaruh faktor-faktor ini terhadap preferensi manager dilakukan secara terpisah (kaitan pengaruh antar faktor diabaikan). Hal ini dilakukan semata-mata untuk mempermudah pembahasan, pada kenyataannya faktor-faktor tersebut saling terkait dan pengaruh masing-masing faktor secara terpisah menjadi lebih sulit diidentifikasi.

akuntan muda

Halaman30

etis 19jauh lebih besar daripada proporsi manager yang beranggapan sama

pelaporan keuangan (fraudulent financial reporting) yang menyebabkan investor membeli saham pada harga yang terinflasi (inflated prices) yang kemudian mereka

terhadap manipulasi akuntansi.

E.Bukti Akuntansi

dan

Indikasi

Manipulasi

jual dengan rugi yang substansial setelah pengungkapan publik atas kecurangan tersebut. Laporan PricewaterhouseCoopers

Manipulasi akuntansi dapat dilihat (ex post) dengan beberapa cara antara lain dengan mempelajari Accounting and

(dalam Lev 2003) menunjukkan bahwa jumlah tuntutan class action untuk

Auditing Enforcement Releases (AAERs), menganalisis penyajian ulang laporan

sekuritas dengan tuduhan pelanggaran terkait akuntansi adalah sekitar 100 per tahun. Jumlah ada ini lebih tidaklah dari besar 15.000

keuangan (restatements), atau dengan menggunakan akrual diskresioner sebagai proksi. Tiap cara ini memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. E.1.Securities Fraud Litigation Lev (2003) mengatakan bahwa bukti dapat

mengingat

perusahaan yang terdaftar di bursa saham Amerika. Lev (2003) menyebut bahwa hal ini mendorong orang untuk

langsung diketahui

manipulasi dengan

akuntansi cara

berpikir/menduga bahwa ada sejumlah perusahaan yang melakukan manipulasi dalam jumlah kecil (atau mungkin yang cukup pintar dalam melakukan manipulasi) yang terhindar dari (tidak terdeteksi oleh) radar badan pengawasan. Jumlah tuntutan class action yang relatif kecil mungkin menyebabkan orang tidak terlalu memperhatikan hal ini. Namun demikian Lev (2003) menyebutkan adanya fenomena menarik dari tuntutan ini yaitu meningkatnya dampak ekonomik terkait. Pada tahun-tahun sebelumnya target

menelusuri

tuntutan class action yang dilakukan atas nama shareholders dan ditujukan pada eksekutif komisaris, umumnya
19

perusahaan, dan

anggota

dewan ini

auditor. dengan

Tuntutan

terkait

kecurangan

Bruns dan Merchant (1990) berpendapat bahwa persepsi manager mengenai etistidaknya manipulasi laba tidak sepenuhnya tepat karena hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap aturan, yaitu GAAP dan hukum. Namun benar-tidaknya dasar pertimbangan etis para manager tidak menjadi isu di sini karena justru persepsi manager lah (yang tergambar dalam hasil survei) yang memainkan peran dalam menentukan preferensi mereka pada bauran penginflasian laba yang ada.

tuntutan

merupakan

perusahaan-

perusahaan yang relatif kecil. Sekarang akuntan muda Halaman31

banyak dari perusahaan yang dituntut merupakan perusahan besar (leaders)

AAERs

yang

menjelaskan

investigasi

pelanggaran akuntansi dan pengungkapan dari hukum-hukum terkait sekuritas. Penelitian oleh Feroz et al. (1991 dalam Lev 2003) dan Dechow et al. (1996 dalam

dalam industri mereka masing-masing seperti Enron, WorldCom, Xerox, Tyco, dan Global Crossing. E.2.SECs Accounting and Auditing

Lev 2003) menunjukkan adanya reaksi negatif yang cukup tajam dari investor terhadap pengungkapan enforcement

Enforcement Releases (AAERs) Securities (SEC) and Exchange Commission actions dan

melakukan

enforcement

action dari SEC. Hal ini mengindikasi bahwa manipulasi akuntansi berhasil

terhadap auditor

perusahaan,

manager,

yang terkadang menghasilkan dan pencatatan tertentu.

menipu investor walau untuk sementara. Selain itu, penelitian mereka juga

keharusan

Subset tindakan yang terkait dengan pelanggaran akuntansi dan pelaporan keuangan kemudian diartikulasi dalam

mengindikasi bahwa manipulasi dilakukan ketika periode sulit (distress).

Tabel1 Manipulasi Laba Jangka Pendek Proporsi Manager yang Menilai bahwa Praktik: 1) Menginflasi laba dengan mengubah atau memanipulasi keputusan atau prosedur operasi 2) Memanipulasi laba dengan mengubah atau memanipulasi metoda akuntansi bila dampaknya terhadap laba: Kecil Besar 3) Memanipulasi laba jangka pendek dengan menunda pengeluaran diskresioner ke periode berikutnya untuk mencapai target anggaran: Kuartalan Tahunan Sumber: diadaptasi dari Bruns dan Merchant (1990) Etis 57% Tidak Etis 12%

5% 3%

50% 76%

47% 41%

12% 24%

E.3.Earnings Restatements

akuntan muda

Halaman32

Restatement informasi

harus

dilakukan

ketika

bahwa investor tidak menduga hal ini (came as a surprise) walaupun tidak sepenuhnya tidak menduga karena telah ada reaksi negatif dalam skala yang lebih kecil (-4 sampai -5 persen) selama sebulan sebelum pengumuman. Tren reaksi ini tetap berlanjut, meski perlahan, sesudah pengumuman dilakukan. Restatements

dalam

pelaporan

keuangan

mengandung [e]rrors [resulting] from mathematical mistakes, mistakes in

application of accounting principles, or oversight or misuse of facts that existed at the time the financial statements were prepared (Accounting Principles Board 1971 dalam Lev 2003). misuse of facts umumnya berarti manipulasi (Lev 2003). Hasil penelitian Wu (2002 dalam Lev 2003) menunjukkan bahwa restatements mendadak banyak terjadi pada tahun 1998 (96 restatements dari sekitar 50-an pada tahun-tahun sebelumnya) dan terus

juga memberi dampak lain, dari 1,068 perusahaan yang melakukan restatements, 232 perusahaan menerima konsekuensi berupa tuntutan hukum, 193 perusahaan harus mengganti managemennya, dan 108 perusahaan mengganti auditornya. Lev (2003) menyebut dampak ini sebagai indikasi bahwa banyak restatements

meningkat sesudahnya. Sekitar 40-50% restatements yang dibuat pada akhir 1990an dibuat oleh perusahaan high-tech (komputer, telekomunikasi) elektronika, dan 90 software, persen

melibatkan lebih dari sekedar isu teknis akuntansi. E.4.Discountinuities Distribution Satu bukti tidak laba dalam langsung adalah distribusi adanya adanya laba in Earnings

restatements merevisi laba menjadi lebih kecil. Fenomena ini kebetulan terjadi bersamaan dengan langkah signifikan

manipulasi diskontinuitas

(major move)

SEC untuk membatasi

(dengan reference point tertentu) yang seharusnya smooth. Ada beberapa

manipulasi laba dan high-tech bubble yang banyak menyebabkan kesalahan

reference point yang digunakan (dan berhasil menunjukkan adanya

pelaporan (reporting improprieties). Wu (2002 dalam dampak Lev 2003) juga

diskontinuitas) yaitu menghindari rugi, melaporkan laba yang stabil atau

menganalisis

pengumuman

restatements. Investor bereaksi negatif atas pengumuman return = ini (mean yang risk-adjusted mengindikasi

bertumbuh, dan memenuhi ekspektasi analis. Adanya thresholds (reference points) yang tampak jelas (termasuk bagi investor) akuntan muda Halaman33

-11,2%)

menimbulkan

pertanyaan

mengapa

beberapa waktu sebelum penjualan opsi saham oleh managemen, penawaran

manipulasi laba masih dilakukan (Lev 2003). Ada dua dugaan mengapa manipulasi laba masih menguntungkan managemen (dan oleh karenanya masih dilakukan). Dugaan investors pertama sadar adalah akan sophisticated kemungkinan

saham oleh perusahaan (baik IPO maupun SEO), atau ketika perusahaan memenuhi ekspektasi analis dengan hanya sedikit perbedaan (satu penny). E.6.Akrual Diskresioner Akuntansi menggunakan basis akrual

manipulasi laba namun karena adanya batasan-batasan tertentu (e.g. short sales) maka mereka tidak mampu mengatasi (offset) investors dampak reaksi the unsophisticated manipulated

untuk mengukur kinerja perusahaan (i.e. laba). Basis akrual yang digunakan ini menuntut akuntan untuk membuat

estimat tertentu ketika mengukur laba seperti tertagih, depresiasi, dll. biaya piutang estimat tak ini

terhadap

number sehingga manipulasi laba masih menguntungkan bagi managemen untuk dilakukan (Lev dan Nissim 2002 dalam Lev 2003). Dugaan kedua, yang agak pada (reward)

Pembuatan

memungkinkan managemen melakukan manipulasi manipulasi menyebabkan terhadap estimat. akrual laba Inilah melalui yang

spekulatif, kenyataannya

adalah

investor

menyimpang

menghargai

(deviates) dari kondisi normal (i.e. akrual ekspektasian/expected kondisi ketika accruals) yaitu tidak

manipulasi laba pada taraf tertentu karena investor justru menganggap manipulasi laba sebagai sinyal bahwa managemen kompeten (Bartov et al. 2002 dalam Lev 2003). E.5.Kondisi yang Mencurigakan

akrual/estimat

dimanipulasi. Penyimpangan akrual dari kondisi normalnya tersebut sering disebut sebagai akrual diskresioner atau akrual abnormal (Lev 2003). Kelebihan akrual diskresioner adalah ia mencakupi cara-cara yang melanggar

(Suspicious Circumstances) Manipulasi laba juga dapat dilihat/diteliti dari pola laba pada saat managemen memiliki insentif yang kuat atas suatu angka laba tertentu. Kondisi ini antara lain (dalam Lev 2003) proxy contest yang di dalamnya kinerja managemen dievaluasi,

GAAP sekaligus yang tidak melanggar sehingga lebih lengkap/komprehensif

sebagai proksi manipulasi laba. Namun demikian, akrual diskresioner memiliki kelemahan mendasar sebagai ukuran Halaman34

akuntan muda

manipulasi akuntansi yaitu ia juga dapat dipengaruhi oleh manipulasi faktor real seperti penumpukan pemotongan percepatan sediaan, anggaran penjualan, ataupun pengeluaran

Perilaku miopik yang diakibatkan oleh tekanan untuk menjaga agar laba tidak turun ditunjukkan oleh penelitian Bens et al. (2002). Mereka menemukan bahwa perusahaan yang membeli kembali

diskresioner. Oleh karena itu, penggunaan akrual diskresioner akuntansi sebagai perlu proksi dilakukan

sahamnya (repurchase) demi mencegah dampak dilutif exercise ESO (employee stock option) pada EPS. Penelitian ini menarik karena dilusi EPS terjadi semata-

manipulasi

dengan hati-hati. E.7.Pengeluaran Diskresioner dan

mata karena pembagi EPS (jumlah lembar saham) meningkat yang tidak memiliki arti

Miopia Managemen Miopia managemen perilaku jangka (short-termism) mengutamakan pendek dengan

ekonomik apapun (i.e. tidak berarti bahwa kinerja perusahaan turun). Namun ternyata manager bahkan bersedia mengorbankan kas real demi mencegah turunnya EPS. 20

merupakan kepentingan

mengorbankan nilai atau potensi nilai jangka panjang perusahaan. Miopia

managemen juga

berarti penempatan (Arie Rahayu)

prioritas yang keliru antara sasaran jangka panjang dan jangka pendek. Hal ini berarti managemen mengambil keputusan yang baik untuk jangka pendek namun

suboptimal dalam jangka panjang (Laverty 1996). Bentuk perilaku miopik yang umum adalah penetapan anggaran pengeluaran diskresioner terkait aset tak berwujd (e.g. R&D, pengiklanan, pelatihan) yang
Pengorbanan kas real terjadi karena perbedaan harga opsi (kas yang diterima perusahaan) dengan harga pasar (kas yang dikeluarkan perusahaan untuk repurchase). Perbedaan ini akan selalu merugikan perusahaan karena secara logis tidak mungkin seoran individu exercise opsinya kecuali ketika harga pasar lebih tinggi dibanding harga opsinya.
20

suboptimal. Dalam kasus ekstrim ketika manager benar-benar membutuhkan

tambahan dana untuk menginflasi laba maka yang dilakukan adalah memotong anggaran tersebut. pengeluaran diskresioner

akuntan muda

Halaman35

Referensi Bens, D. A., V. Nagar, dan M. H. F. Wong. Real investment implications of employee stock option exercises. Journal of Accounting Research 40 (2): 359-393. Bruns Jr., W. J., dan K. A. Merchant. 1990. The dangerous morality of managing earnings. Management Accounting (Agustus) 72 (2): 22-25. Burgstahler, D., dan I. Dichev. 1997. Earnings management to avoid earnings decreases and losses. Journal of Accounting and Economics 24: 99-126. Carnes, G. A., dan D. M. Guffey. The influence of international status and operating segments on firms choice of bonus plans. Journal of International Accounting, Auditing & Taxation 9 (1): 43-57. Cohen, D. A., A. Dey, dan T. Z. Lys. 2008. Real- and accrual-based earnings management in the Pre- and Post-Sarbanes-Oxley periods. The Accounting Review 83 (3): 757-787. Dechow, P. M. dan D. J. Skinner. 2000. Earnings management: Reconciling the views of accounting academics, practitioners, and regulators. Accounting Horizons 40 (2): 235-250. Duska, R. dan B. Duska. 2003. Accounting Ethics. Wiley-Blackwell. Graham, J. R., C. R. Harvey, dan S. Rajgopal. 2005. The economic implications of corporate financial reporting. Journal of Accounting and Economics 40: 3-73. Healy, P. M., dan J. M. Wahlen. 1999. A review of the earnings management literature and its implication for standard-setting. Accounting Horizons 13 (4): 365-383. Lev, B. 2003. Corporate earnings: Facts and fiction. Journal of Economic Perspectives 17 (2): 27-50. Lo, K. 2007. Earnings management and earnings quality. Journal of Accounting and Economics (article in press). Roychowdhury, S. 2006. Earnings management through real activities manipulation. Journal of Accounting and Economics 42: 335-370. Velasquez, M.G. 2006. Business Ethics: Concepts & Cases. Pearson Prentice Hall.

akuntan muda

Halaman36

Ejaan SWD
(Oleh Profesor Suwardjono)

Cost = biaya, beban, harga pokok, biaya perolehan, atau kos?

Kerancuan pemaknaan cost terjadi di bidang akuntansi. Buku-buku akuntansi bahkan standar akuntansi tidak konsisten dalam pemaknaan cost. Akademisi bergeming mengenai hal ini. Belum pernah terjadi diskusi ilmiah oleh para akademisi yang memabahas masalah ini selama sejarah profesi di Indonesia selama dua puluh tahun terakhir. Seandainya diskusi ilmiah perlu diadakan, wacana atau saran dari Pusat Bahasa berikut mungkin bernafaat untuk dipertimbangkan.

akuntan muda

Halaman37

Cost of goods sold = harga pokok penjualan, beban pokok penjualan, atau kos barang terjual?

Periksalah sendiri sumber tersebut, di laman (website) dengan alamat berikut:

www.pusatbahasa.diknas.go.id

Kemudian, klik Glosarium Pusat Bahasa yang ada di sebelah kanan laman tersebut. Isikan pada kotak Istilah Asing dengan kata cost. Klik pilihan pada butir Mulai dengan. Pilih Ekonomi pada Bidang, kemudian klik Cari.

akuntan muda

Halaman38