Anda di halaman 1dari 12

Naskah Monolog

MONOLOG PEPERANGAN Oleh : R Giryadi


SEBELUM DRAMA DIMULAI TERDENGAR DENTANG JAM BERKALI-KALI. PERLAHAN-LAHAN SUARA PEPERANGAN MENDERU-DERU. DUA SOSOK HATAM DAN PUTIH- DENGAN LANGKAH LAMBAN PENUH KETAKUTAN SEDANG MENGATUR KAMAR YANG TELIHAT TIDAK TERAWAT. DI LUAR, SUARA SIRINE MERAUNG-RAUNG, PESAWAT TEMPUR MENGHUJANI BOM. RENTETAN TEMBAKAN BERDESINGAN. SUARA JERIT TANGIS MENGGOROK TELINGA. DARAH MENDERAS DI MANA-MANA. SUARA KEMATIAN SEPERTI BADAI. PUSARA TUMBUH SEPERTI JAMUR MUSIM HUJAN. PENYESALAN TIADA ARTI. SOSOK HITAM DAN PUTIH MENGAKHIRI SUASANA MENAKUTKAN ITU DENGAN MENYALAKAN LAMU. CAHAYA ITU TELAH PURBA. TETAPI TIBA-TIBA SUASANA BERUBAH MENJADI CERIA. SEORANG LELAKI TUA BERMAIN PERANG-PERANGAN SEPERTI ANAK KECIL. IA MENEMBAKI KE SEGALA ARAH. IA MENEMBAKI MASA LALU DAN MASA DEPANNYA YANG HAMPA. IA MENGUSIR SOSOK HITAM DAN PUTIH. SEBELUM SEMUANYA HANCUR IA MENYAPA PENONTON. LELAKI TUA Selamat pagi, siang, dan malam penonton sekalian. Selamat apa saja. Selamat bertemu dalam sebuah ruang dan waktu yang berbeda. Sebuah pertemuan yang tidak kita sangka-sangka. Sebuah ketidak mengertian tiba-tiba kita berada di sini tanpa satu kesepakatan dan tujuan. Tetapi jangan bimbang penonton sekalian, karena hakekat pertemuan adalah salaing tegur sapa, kangenkangenan, bercanda, bercerita apa saja, dan sebagainya dan sebagainya, maka kita harus menghidupkan pertemuan kita pada pagi, siang, dan malam hari ini, agar tidak sia-sia. Ya, paling tidak setelah pertemuan ini, hati dan pikiran kita menjadi plong dari segala kotoran yang mampet, sehingga pertemuan kita ada tujuannya. Okey! Sekarang kita harus mengambil kesepakatan, siapa yang terlebih dahulu ingin bercerita, mengungkapkan pikiran, perasaan dan lain-lainya, silahkan. Mungkin Anda sekalian yangh lebih dahulu, atau saya. Oh ya. Anda yang di pojok sana mungkin? Silahkan saudara. Apa? Oh tidaktidak. Di sini forum bebas berbicara, bebas, sebebas-bebasnya. Tidak ada yang menekan, mengintimidasi, meneror, atau menculiknya. Tidak saudara. Jangan takut saudara. (Pause)(Kecewa) Ya, hendaknya kita tidak membuat sekat di antara kita walaupun saya tahu bahwa pengalaman hidup manusia itu berbeda-beda. Tetapi saya yakin bahwa pengalaman hidup manusia baik manis maupun pahit itu pasti membekas dalam diri kita sendiri-sendiri. Dan itu tidak boleh kita simpan lama-lama. Entar jadi udun. Lo lak tambah sakit to? Ayo, bagaimana saudara? Apa? Kagak berani. Ha..ha..ha ya, ya saya maklum. Mungkin saudara yang dipojok sana itu masih trauma dengan masa
1 | Monolog Peperangan karya R. Giryadi

lalunya. Baiklah, baiklah. Mungkin ada yang berani menerima tantangan (Pause). Kosong, kosong, kosong? Wah, ya sudah kalau tidak ada yang berani, ya silahkan saja duduk manis seperti anggota Kelompencapir, mendengarkan Eyang Kakung ngoceh. (Duduk) Ya, begitulah manusia. Kita tidak pernah bisa menghindar dari kenyataan sejarah masa lalu kita yang telah lewat. Kita terlalu kerdil untuk memnghindari kenyataan itu. Kita terus menerus diombang-ambingkan oleh diri kita sendiri sehingga kita tidak pernah bisa mengambil keputusan yang tepat. Kita hanya bagaikan fatamorgana di tengah gurun pasir yang maha luas. Kita ada, tetapi hakekatnya kita tidak ada. Oh, begitu semukah manusia. HITAM PUTIH MENGENDAP-ENDAP MEMBAWA HANDUK. TANGAN, TUBUH, DAN KEPALA LELAKI TUA KEMUDAIAN MEMBASUH KAKI,

LELAKI TUA Manusia telah menjadi abdinya yang paling abadi bagi dirinya sendiri. Dalam kesendriannya ia selalu di asuh oleh abdinya yang setia. Tetapi kita tidak pernah tahu, mereka selalu besembunyi dalam semak belukar tubuh kita sebagai ular kobra yang setiap saat akan mematuk kita. Kita tidak berdaya. Kita tidak pernah mengira kita akan lebih ganas darinya. Mengerikan. Kita tidak pernah bisa membenci dan mencintai diri kita sendiri. (Pause) HITAM PUTIH MEMBASUH KEPALA LELAKI TUA LELAKI TUA Sudahlah! Jangan kau pandangi teruys saya. Sudah bosan. Pergilah! Jangan ninabobokan saya dengan kemalsan. Kita harus berpikir. Tidak boleh lemah apalagi menangis. Pergilah. Menyelinaplah ke semak belukar tubuh saya. Maka di sana kau akan temukan bunga putri malu, atau taman-taman persingggahan lelah, bagi si tua renta seperti saya. E! (Kepada Hitam Putih) tetapi hati-hati ya, di sana banyak durinya. Entar tertusuk. Ah, pergilah kemana kamu suka! Comberan. Tempat sampah. Kolong jembatan. Rumah-rumah hantu. Tempat pelacuran. Atau panti werda. Habiskan masa tuamu dengan bermalas-malas. Ah, kamu tidak akan ke sana. Karena kamu hanya seekor kerbau dungu. Maka kembalilah ke kandang, kerbau! Dasar kerbau, tak punya inisiatif. Pikirannya tumpul, kakinya lumpuh, matanya buta. Bisanya hanya dikeluh. Hanya badannya saja yang digedein. Untung kalian bukan anjing majikan. Pemalas.

Apa? Saya yang anjing? Bernai betul kalian ngatain saya anjing? Berani betul bicara ngawur. Tak PHK kapok! Apa? Anjing gila? He! Berani benar kalian. Kalau saya anjing kamu apa? Ngatain orang anjing gila, tidak melihat muka sendiri. Dasar babu! Apa? Babu masih terhormat dari pada anjing. Katanya siapa? Ya, sama saja. (Pause. Berpikir) Lo? Kalau begitru saya babu betul. Tidak, tidak, saya ralat. Lebih terhormat anjing. Lo, kalau begitu saya benar-benar anjing? Wah, dasar anjing keparat. Eh, babu keparat! Saya bukan anjing, saya bukan kerbau, saya bukan babu, tetapi saya prajurit yang berdiri di garis depan. Memanggul senapan membela tanah air, berperang melawan penjajah. TERDENGAR SUARA PERANG. LELAKI TUA MEMERANKAN PRAJURIT YANG SEDANG BERPERANG. IA BERMAIN BEGITU GIRANG. HITAM DAN PUTIH MEMANDANGI DENGAN PERASAAN KAGUM DI SUDUT RUANG. LELAKI TUA Ya, ya, dar, der, dor. Dalam dar der dor itu saya melihat jutaan mayat tentara bergelimpangan dan bertumpuk-tumpuk semakin mempertinggi dataran pertempuran. Onggokan mesin-mesin perang menjadi gunung. Lembah dan danau dibentuk oleh ledakan-ledakan bom. Berbagai bentuk patung diciptakan oleh pesawat yang menghujam ke bumi, ratusan ribu jumlahnya. Dan mata ini tak pernah lelah-lelahnya menikmati dengan rasa kekudusan, melihat mereka di palagan seperti haus darah. Lewat mata, pikiran ini merekam tradisi perang yang sangat panjang, menjalar-jalar ke saraf-saraf jaman. Setiap bangsa memperpanjang waktu dan ruang demi perang. Demi nafsu. Sepanjang siang dan malam pertempuran terus berlangsung. Angkasa penuh peluru bersliweran membentuk bunga-bunga api raksasa, mengiangatkan pesta kembang api di akhir tahun. Oh, betapa eloknya kekejaman. Betapa indah keporak porandaan. Betapa segar darah manusia. Seperti bir penghabisan, dimalam minggu saat melepas lelah. (Pause) Betapa murah nyawa manusia. (Geleng-geleng) Sebuah permainan yang menajubkan. Kepala seperti batu-batu jalan. Berserakan penuh debu. Matanya menatap kosong tak berpengharapan. Anjing liar menjilati darah yang menetes, seperti anak-anak kecil menghabiskan sisa es krim. TERDENGAR TANGIS ANAK KECIL. LELAKI TUA MENGHENTIKAN PERMAINAN. EKSPRESINYA BERUBAH KETAKUTAN. IA BERLARI KESANA KEMARI MENCARI PERSEMBUNYIAN. TETAPI SUARA TANGIS ITU BERTAMBAH PILU.

3 | Monolog Peperangan karya R. Giryadi

LELAKI TUA (Berteriak) Hentikan! Hentikan suara tangis itu! Hentikan. Peperangan tak mengenal kata tangis. Kamu jangan meneror saya dengan kesedihan. Peperangan tidak mengenal sedih. Hentikan! Ini bukan salah saya. Peluru itu bukan saya yang menembakan. Ia melesat karena jaringan tubuh saya dan otak saya penuh dengan doktrin. Tak satupun yang bisa saya lawan. Hentikan! TANGIS BERHENTI. LELAKI TUA KELUAR DARI PERSEMBUNYIAN. LELAKI TUA Ya, begitu lebih baik. Tenanglah. Tenanglah disitu. Kita sedang mengobati luka-luka lama. Ya, begitulah akan lebih baik. (Kepada penonton) kalau Anda sekalian bertemu mereka yang menangis di piggir jalan karena masadepannya hilang, katakana pada mereka ya, bahwa masa depan mereka ada di surga, dan pasti disana kami akan bertemu. Ya, pasti itu. Karena kami sama-sama saling memperjuangkan, keadilan, kebenaran, kemerdekaan, dan hak asasi. Apa? Omong kosong? HITAM PUTIH MUNCUL DENGAN MEMBAWA SEEMBER AIR. IA BERGERAK SEPERTI AIR BAH. LELAKI TUA Sungguh! Saya berbicara apa adanya. Saya yang berdiri di garis depan. Saya tahu dengan mata kepala sendiri. Bukan hanya sekedar mendengar berita-berita, cerita-cerita, apalagi isu-isu yang menyesatkan itu. (Melihat wajah ke ember). LELAKI TUA Lihat saya. Bertahun-tahun saya menunggu kematian di antara semak belukar, hutan belantara, lembah, gunung-gunung, jerit tangis pengungsi, dan mayat-mayat berserakan, tetapi tak pernah ada keputusan. Lihatlah wajah ini menjadi beku. Mereka sudah terlalu letih bermain-main dengan maut. Sementara saya tidak pernah bisa berkata tidak. (Mencelupkan kepala ke ember) LELAKI TUA (membasuh tangan, badan, kaki, dan berkumur) Kotoran-kotoran yang berlumuran dalam tubuh hendaknya segera dibersihkan. Wajah yang coreng moreng, mulut yang bau bangkai, tangan sang pencabut nyawa, kaki yang penuh lumpur, onak, dan duri. Segeralah dibasuh dengan air suci. Air yang diambil dari derail tangis mereka yang terjajah. HITAM PUTIH MEMBASUH SELURUH TUBUH LELAKI TUA LELAKI TUA (Mencium tubunya) Bau apa ini? Ini bukan air suci. Ini darah dari selokan. Kenapa tubuhku berlumuran darah. Ini bukan wangi darah pahlawan. Ini anyir darah anjing. Ah, begitu hinakah

saya?. (Ia mencium tubuhnya) HITAM PUTIH BERSENANDUNG LELAKI TU (Tersadar) Suara apa itu? Mengapa kamu bresenandung begitu sedih. Bukankah hari ini hari kemerdekaan. Kalian sudah bebas. Kalian sudah bisa memilikinya semua sekarang. Apalagi yang kalian keluhkan. Ini sudah menjadi pilihan kalian. Bukankah kalian sudah merasa seperti di surga. Saya yakin itu. Tetapi kenapa kalian masih membuntuti saya. Saya sudah meletakan senjata. Semua sisa hidup saya tinggal menunggu kematian. Saya sudah pasrah. Ya, saya tahu, kesalahan masa lalu memang tidak bisa ditebus dengan kata maaf. Tetapi, kenapa kita terus balas dendam. Kini kita sama-sama tahu, sejarah masa lalu kita sebuah luka yang panjang dan dalam. Peperangan hanya memperpanjang kekuasaan dan keserakahan. Tak ada gunanya. Kita sama-sema menanggung beban penderitaan itu. Saya telah dikurung dalam kesendirian yang teramat menyedihkan. HITAM PUTIH HITAM PUTIH MERINGKUS LELAKI TUA. LELAKI TUA Ada apa? Kenapa? Apa? Saya kamu seret ke pengadilan? Pengadilan mana? Keadilan yang bagiamana? Pintu keadilan sudah ditutup! LELAKI TUA ITU DISERET. BUNYI LONCENG BERDENTANGAN. HITAM PUTIH TERTATIH-TATIH. LELAKI TUA Tak ada keadilan di sini! Sia-sia! Tak ada pengadilan di sini! Sia-sia. Kita sudah sama-sama menderita. Tanyakan saja pada yang di atas, yang bisanya cuma mengatur, menuntut dan tahu beres. Di sini keadilan sudah tidak berlaku. Tampaknya dunia tidak butuh keadilan. Kalau kalian masih menuntut keadilan, tuntutlah sana pada Tuhanmu, kalau kalian punya Tuhan. Dunia tidak butuh keadilan. Yang ada hanya keserakahan. Manusia diciptakan hanya untuk menghuni laboratorium gila. Kita hanya dijadikan kelinci percobaan bagi para penguasa. Tidak! Kalian salah alamat, hingga malam larut seperti ini datang pada saya merengek-rengek meminta keadilan. Saya hanya anjing berkepala kerbau. Saya bukan satu-satunya orang yang kamu tuntut. Pergilah! Jangan ganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaan kuno? Saya sudah muak. Pergilah! (Hitam dan Putih pergi dengan kecewa) LELAKI TUA (Duduk, minum, menghisap rokok, membaca koran) Tidak! Ini kesalahan menulis berita. Bukan saya yang melakukannya. Kenapa hanya diputuskan secara sepihak, sementara saya tidak pernah di datangkan ke pengadilan. Ini jelas pemberangusan yang tidak fair. Koran bau tengik! (Melempar koran)

5 | Monolog Peperangan karya R. Giryadi

Bisanya bikin sensasi. Bisanya hanya menjual kesalahan-kesalahan orang lain. Mengeksploitasi keburukan orang lain hanya demi oplah. Tidak pernah memberikan solusi. Koran apa ini? Diberi kebebasan malah tambah kebablasan. Kalau dibredel, katanya tidak menghormati kebebasan menyampaikan informasi. Tidak menghormati kebebasan pers. Tidak demokratis. La, apa memang demokrasi untuk mencari kesalahan-kesalahan orang lain. Repot. Ambilkan koran yang lain! HITAM PUTIH KORAN-KORAN BETERBANGAN. HITAM PUTIH SEPERTI BURUNG MERPATI. DISANA BERDERATAN KATA-KATA SEPERTI : ACEH, HAM, GAM, KORUPSI, SIDANG ISTIMEWA, DEKRIT PRESIDEN, TERORIS, REFERENDUM, AMBON, AHMADIYAH, PKI, KUDATULI, MARSINAH, SEMANGGI, TRISAKTI, TANJUNG PRIUK, BBM, MUNIR, BLBI, TIMOR-TIMUR, DAN BANYAK KALIMAT LAIN YANG TAK JELAS MAKSUDNYA. LELAKI TUA (Melafalkan deretan kata itu dengan fasih dan diulang-ulang) Koran apa ini? Semua berisi hajatan. Lalu siapa yang benar? Negeri apa ini? Adanya bertumpuktumpuk masalah. (Melafal lagi) Negeri apa ini? Adanya bertumpuk-tumpuk risalah yang ditata rapi di rak-rak perpustakaan, dan sebagian menjadi doktrin yang salah kaprah. (Melafal lagi) Negeri apa ini? Katanya negeri subur makmur, ternyata negeri sokor makmur. (Melafal lagi) Negeri apa ini? Katanya negeri cinta damai, ternyata negeri penuh tikam dan banti. (Pause) Saya tidak tahu harus mengadu kepada siapa? Semua pintu sudah tertutup. Semua orang telah membutakan mata. Mereka tidak pernah tahu dan peduli, ketika orang tua saya menjual kerbau dan sawah demi cita-cita anaknya yang nakal ini. Tetapi mereka tidak menyesali perbuatannya, walaupun akhirnya kami jatuh miskin. Mereka justru bangga ketika saya memakai seragam, mencangklong rangsel, dan memanggul senapan. Ah, betapa malunya saya. Kebanggan itu terkubur seketika, karena yang kusandang ternyata sebuah kenistaan yang tiada tara. Inikah yang ibu bangga-banggakan kepada semua tetangga, bahwa anaknya telah menjadi pahlawan bagi negerinya? Mereka semua tak pernah peduli. Dunia tak butuh kebenaran. Dunia tak mempedulikan orang-orang kalah. Mereka semua tak pernah mempedulikan. HITAM PUTIH BERGERAK MEMABA CERMIN BESAR. IA DUDUK TEPAT DI DEPAN LELAKI TUA. LELAKI TUA (Bercermin. Tiba-tiba dalam cermin muncul bayangan lain. Ia mencoba

menghapus bayangan itu, tetapi tidak berhasil) Siapa kamu? HITAM PUTIH TERSENYUM LELAKI TUA Lho, malah tersenyum. Siapa kamu? HITAM PUTIH TERTAWA LELAKI TUA Lho, malah tertawa. He! Siapa kamuuuu!!! HITAM PUTIH TERTAWA NGAKAK LELAKI TUA Bangsat! Kalian mengejekku! (Sekonyong-konyong menghantam cermin. Bayangan itu tiba-tiba hilang) Dasar gila! (Duduk) HITAM PUTIH MUNCUL KEMBALI LELAKI TUA Kalian lagi! Jangan menggangguku dengan lelucon murahan ini. Saya tahu maksudmu. Kamu mengejek saya bahwa saya adalah manusia yang gagal belajar pada diri sendiri. Kegagalan kan bukan berarti kekalahan. Kalau kamu mengejekku itu tidak ada artinya. Karena saya tidak pernah merasa kalah. Saya tetap bangga dengan yang saya lakukan karena memang itulah panggilan hidup saya. Jadi silahkan caci maki saya sepuasnya, toh saya tidak pernah merasa salah. Saya tidak pernah merasa kalah. Jadi silahkan ngomel apa saja. Ha..ha..ha..ha silahkan. Kalian tidak mengerti arti peperangan. Peperangan dan darah adalah parfum bagi kemerdekaan. Jadi jangan ngomong kemerdekaan bila bau mulutmu masih wangi. HITAM PUTIH MERINGKUS LELAKI TUA LELAKI TUA Ups! Wah, begitu saja marah. Saya kan Cuma guyon. Begitu saja dimasukin hati. Sumpah, saya
7 | Monolog Peperangan karya R. Giryadi

hanya bercanda. Wong, Cuma anjing saja masak bisa ngomong begitu. Saya hanya prajurit. Itu tadi kan hanya menirukan omongan para jenderal saya. Masak kerbau saja punya pikiran seperti itu. Tidak, kamu salah. Saya tidak pernah serius dalam hal ini. Saya juga manusia. Saya juga pasti mati. Perkara saya sekarang belum mati itu kan urusan Tuhan. Bukan karena saya membawa senjata. Tidak, saya tidak pernah merasa merdeka ketika membawa senjata. Saya justru merasakan, kematian semakin dekat. Dan saya merasakan sebagai penjahat paling licik di dunia. Ah, katanya siapa mereka tidak membawa senjata. Senjata mereka disimpan dalam otak dan hatinya. Ia mengkristal dalam darah dan akan menjadi bom waktu yang setiap saat meledak dan membunuh kita semua. Betapa mengerikan sejata mereka. (Terdengar suara menghentak-hentak seperti suara pukulan yang bertubi-tubi. Lelaki tua itu terjungkal-jungkal) LELAKI TUA Betul! Saya ngomong dari lubuk hati paling dalam. Tidak ada yang mengintimidasi. Saya ngomong atas petunjuk (Suara tonjokan) Ehsalah, salah..Tidak! Saya tahu sendiri. Saya mengalami sendiri, karena saya bagian dari senjata itu. Saya adalah darah yang mengkristal yang setiap saat meledak seperti bom waktu. Jadi jangan sekali-kali menyulut kemarahan saya. Bila terjadi itu artinya kamu menyulut sumbu peperangan dan kamu akan melihat jutaan mayat bergelempangan mati sia-sia. Ha..hakalian masih ingusan untuk menjadi bajingan. (Tertawa terus) LELAKI TUA (Membuang cermin) Ehha..haa..betapa bodohnya mereka. Dengan sangat gampang mereka pecaya dengan yang saya omongkan. Begitulah kebodohan telah menjadikan mereka seperti kerbau. Tak pernah bisa berpikir sendiri, sebelum ada perintah. Dasar otak kerbau. Dikiranya dengan menyiksa, mengintimidasi, meneror saya, mereka akan terbebas dari kebodohannya dan tidak menjadi budak lagi. Tidak! Kamu tetap akan menjadi budak-budak kekuasaan dan keserakahan. Ha..haa..haa manusia sinting. Mereka mengira hidup ini kebebasan. Hidup ini kemerdekaan. Kata siapa? (Out stage). LELAKI TUA (In stage, dengan tubuh terbelunggu dalam karung). Betulkan tidak ada kemerdekaan, tidak ada kebebasan. (Diulang-ulang) Kemerdekaan dan kebebasan hanya igauan orang terbelenggu, orang terjajah, orang lemah. Tidak ada kemerdekaan! Tidak ada kebebasan, kalau peperangan masih menjadi obsesi kekuasaan. Tidak ada kemerdekaan. Manusia terus terbelenggu oleh beban berat sejarah dan masa depannya.

Lihatlah saya. Saya harus menanggung beban berat itu sepanjang hidup. Saya kira itu siksaan yang paling mengerikan. Ini namanya air susu dibalas dengan air tuba. Hukumlah mereka yang mengambil keputusan. Mereka adalah para jenderal yang sekarang duduk bergelimang harta dan kekuasaan. Mereka adalah bola salju yang terus menggelinding. Hentikan! Hentikan! Lama-lama akan menjadi gunung es. Hentikan! (Meronta-ronta) Saya serius. Di dalam panas sekali. Tolong! Tolooooong! (Pause) Wah, ternyata tidak ada orang. Wah kalau begitu keluar sendiri saja. La di dalam panas betul. Dikiranya saya main-main. (Kepada penonton) Anda juga begitu, ada orang kalang kabut dibiarkan saja. Katanya bangsa suka saling tolong menolong? Ada orang menderita hanya dilihat saja. Sudah, saya tidak mau main-main lagi! LELAKI TUA (Duduk santai, menghisap rokok, minum, membaca koran, membunyikan radio mencari lagu-lagu kesukaannya. Ia menghibur diri sendiri, sampai bosan) Bosan! Tidak ada yang memuaskan. Hiburan hanya untuk orang-orang yang prihatin, orang yang menderita, orang yang menyendiri, biar tahu artinya kegembiraan dan senyuman. Kenapa? Apa saya tidak bisa tersenyum? Apa saya tidak mempunyai kegembiran? Dimana kegembiraan itu? Kegembiraan hanya ada pada batin. Kegembiraan kan tidak harus ditunjukan lewat senyum atau tertawa kan? Penghibur paling mulia adalah dirinya sendiri. (Mencoba menyanyi apa saja. Gagal) LELAKI TUA (Menangis) Ah, ternyata saya pun gagal menghibur diri sendiri. Apalagi yang harus saya perbuat kalau kegembiraan telah lenyap dalam diriku. Kesedihan telah mendarah daging. Saya benar-benar gagal menjadi diriku sendiri. Saya tetap anjing berkepala kerbau. Saya benar-benar gagal menjadi manusia. Saya tetap hewan yang bodoh dan dungu. (Ia terus menangis sambil menggerutu tidak karuan) SUARA PERANG KEMBALI TERDENGAR. LONCENG JAM BERDENTAM TIDAK KARUAN. HITAM DAN PUTIH DATANG DENGAN PUTUS ASA. TUBUHNYA TERBELENGGU. IA INGIN MENGAKHIRI HIDUPNYA DI DEPAN CERMIN BESAR DIRINYA SENDIRI. TETAPI TAK PERNAH ADA KEPUTUSAN. JAM GANDUL BERPUTAR SEPERTI TONG GILA, MERAJAM-RAJAM WAKTU MENJADI SEBUAH KEKEGALAN YANG TERAMAT SANGAT. DI TENGAH KEKEJAMAN DAN KEKERASAN TERUS BERLANGSUNG, PERTUNJUKAN INI SELESAI BEGITU SAJA.

9 | Monolog Peperangan karya R. Giryadi

Surabaya, 2000 Pertunjukan ini saya dedikasikan pada para pahlawan, dan mereka yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Biodata
Rakhmat Giryadi, lahir di Blitar, 10 April 1969. Lulusan Sarjana Pendidikan Seni Rupa IKIP Surabaya 1994 ini, selain bergiat di teater ia juga menulis cerpen, esai, dan puisi. Karyanya selain dibacakan diberbagai kesempatan, juga dipublikasikan di media massa seperti, Horison, Surabaya Post, Kompas (Jawa Timur), Jawa Pos, Surya, Radar Surabaya, Suara Merdeka, Suara Karya, Suara Indonesia, Sinar Harapan, Aksara, Majalah Budaya Gong, Panjebar Semangat. Sekarang bekerja sebagai wartawan Jatim Mandiri. Organesasi : 1. Persatuan Wartawan Indonesia-Jawa Timur 2. Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jawa Timur (2008-2013) Buku Kumpulan Cerpen: 1. Mimpi Jakarta (2006) Puisinya termuat dalam : 1. Luka Waktu (1998) 2. Duka Atjeh, Duka Kita Bersama (2004) 3. Malam Sastra Surabaya (Malsasa 2005) 4. Malam Sastra Surabaya (Malsasa 2007) Buku yang pernah dieditori: 1. Pelayaran Bunga (Antologi Sastra Festival Cak Durasim 2007) Scenario yang pernah ditulis : 1. Rumahku Rumahmu (2006) Nasakah drama yang pernah disutradarai bersama Teater Institut Unesa : 1. Orang-orang Bawah Tanah (R Giryadi 1994) 2. Monolog Provokator (R Giryadi 1996) 3. Monolog Aeng (Putu Wijaya 1996-2001) 4. Jalan Pencuri (Tengsoe Tjahjono 1997) 5. Pohon dalam Piring Tanah (Tengsoe Tjahjono 1999) 6. Orang Asing (Ruper Brooke 1994-1996) 7. Ode Buat Ibu (Urip Joko Lelono 2000) 8. Setan dalam Bahaya (El Hakim 1998-2003) 9. Rashomon (Rheunosuke Akutagawa 2000-2001) 10. Monolog Peperangan ( R Giryadi 2000) 11. Monolog Biografi Kursi Tua (R Giryadi 2001) 12. Monolog Teriakan-Teriakan Sunyi (R Giryadi 2004) 13. Monolog Retorika Lelaki Senja (R Giryadi 2005) 14. Larung Pawon (Kolaborasi 2007) 15. Nyai Ontosoroh (R Giryadi 2007) 16. Monumen-Monumen ( Jujuk Prabowo/R Giryadi 2007)

11 | Monolog Peperangan karya R. Giryadi

Naskah drama yang pernah ditulis : 1. Orang-orang Bawah Tanah (1994) 2. Orde Mimpi (1994) 3. Monumen (1997) 4. Serpihan Kaca Pecah (1997) 5. Istana Maya (1998) 6. Terompet Senjakala (2003) 7. Testimoni (2004) 8. Hikayat Perlawanan Sanikem : Nyai Ontosoroh (2006) 9. Sebelum Dewa Dewi Tidur (2008) Naskah monolog yang pernah ditulis : 1. Monolog Peperangan (2000) 2. Biografi Kursi Tua (2001) 3. Bingkai Kanvas Kosong (2003) 4. Monolog Teriakan-Teriakan Sunyi (2004) 5. Retorika Lelaki Senja (2005) Alamat : R Giryadi Jl. Merpati I/7 Wismasari, Juanda Sidoarjo e-mail : zahiria@yahoo.com tlp rumah : (031) 8667146 hp:081330657845