Anda di halaman 1dari 9

JURNAL KIMIA ANALISIS FARMASI LANJUTAN

METODE ANALISIS HORMON UNTUK ANTIKANKER

OLEH:

KELOMPOK V
SANTY LA ANANILA SRI HARYANI BAHAR M. SUBHAN A. SIBADU ASRIANI EKA PUTRI MITRA PRAMINI RACHMI YANZI RAICHAR

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR 2012

PENDAHULUAN
Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan pergeseran mekanisme control yang mengatur kelangsungan hidup sel, prliferasi dan diferensiasi. Sel yang telah mengalami transformasi neoplastik biasanya melapaskan antigen di permukaan sel yang normal, memunculkan tanda tanda ketidakdewasaan jelas dan menunjukkan kelainan kromosom kualitatif dan kuantitatif, termasuk berbagai translokasi dan munculnya urutan gen yang kuat. Sel sel tersebut berkembang biak secara berlebihan dan membentuk tumor local yang menekan atau menyerang struktur normal yang berdekatan. Populasi kecil sel dalam tumor digambarkan sebagai sel induk tumor. Sel tersebut mempertahankan kemampuan untuk menjalani siklus poliferasi serta bermigrasi ke berbagai organ yang disebut metasis. Sel induk tumor dapat menimbulkan clonogenic atau kemampuan membentuk koloni. Sel induk tumor ditandai dengan kelainan kromosom yang mencerminkan ketidakstabilan genetic, yang mengarah pada pemilihan subclones yang mampu bertahan hidup dalam lingkungan multiseluler dari sel inang. Kelainan kuantitatif dalam jalur metabolisme dan berbagai komponen selular mengembangkan neoplastik sehingga terjadi kelainan metabolic yang mengakibatkan kematian pasien. (katzung HTML) Antikanker diharapkan memiliki toksisitas selektif artinya menghancurkan sel kanker tanpa merusak sel jaringan normal. Pada umumnya antineoplastik menekan pertumbuhan atau proliferasi sel dan menimbulkan toksisitas, karena menghambat

pembelahan sel normal dan proliferasinya cepat misalnya sumsum tulang, epitel germinativum, mukosa saluran cerna, folikel rambut dan jaringan limfosit. Obat antikanker merupakan obat spesialistik. Batas keamanannya begitu sempit sehingga hanya dibenarkan penggunaannya oleh dokter yang berpengalaman di bidang pengobatan ini. Penggunaan ynag kurang cermat hanya akan menambah penderitaan, bersifat fatal dan pemborosan biaya. Tergantung dari keadaan pasien dan jenis kanker, pengobatan bervariasi dari yang sangat intensif sampai tanpa pengobatan khusus sama sekali.

PEMBAHASAN
Pada umunya kerja antikanker berdasarkan atas gangguan pada salah satu proses sel yang essensial. Karena tidak ada perbedaan kualitatif antara sel kanker dengan sel normal maka semua antikanker bersifat mengganggu sel normal, bersifat sitotoksik dan bukan kankerosid atau kankerotoksik yang selektif. Salah satu jenis antikanker yang dikenal adalah dari golongan hormone dan antagonis. Berbagai hormone steroid digunakan pada pengobatan kanker antaralain kortikosteroid (prednisone, deksametason), hormone progestin (hidroksi progesterone kapronat, madroksiprogesteron asetat), estrogen (megesterol asetat, dietilstilibestrol, etinil estradiol), dan androgen (testosterone propionate, fluoksimetason). Hormone ini umumnya digunakan untuk tumor endometrium, payudara, prostat, dan limfoma. Antiestrogen tamoxifen telah terbukti sangat berguna untuk pengobatan kanker payudara baik stadium awal dan mestasis. Hal ini juga disetujui sebagai agen kemopreventif pada wanita dengan resiko kangker payudara. Selain itu agen hormonal memiliki aktivitas pada kanker endometrium. Tamoxifen berfungsisebagai agonis parsial kompetitif-inhibitor estrogen dan berikatan dengan reseptor estrogen yang sensitive dengan tumor. Namun tamoxifen memiliki afinitas sepuluh kali lipat lebih rendah untuk reseptor estrogen (ER) daripada ekstradiol, menunjukkan pentingnya ablasi estrogen endogen untuk efek antiestrogen yang optimal. Selain efek lagsung antiestrogen pada sel tumor, tamoxifen juga menekan tingkat serum insulin.

Tamoksifen diberikan secara oral dan dengan cepat diabsorbsi. Kadar dalam plasma tinggi dalam waktu 4-6 jam setelah pemberian oral, dimetabolisme oleh enzim hati P450, dan metabolit utama memiliki afinitas antitumor yang sama dengan obat aslinya. Tamokxifen ditoleransi dengna baik dan efek sampingnya cukup ringan. Identifikasi Tamoxifen Citrat

a. Metode serapan sperktrofeotometer UV dan visible Larutkan 20 mg zat dalam 50 ml methanol R Ambil 5 ml larutan stok, encerkan hingga 100 ml dengan methanol R Ukur pada spectra range 220-235 nm Penyerapan maksimal pada 237 nm dan 275 nm Rasio penyerapanya A237/A275= 1,45-1,65

b. Metode spektofotometer IR Penyiapan sampel Jika sampel padat maka larutkan zat yang akan diperiksa dengan aseton, kemudian uapkan sampai kering dan catat spectrum baru menggunakan residu. c. Metode kromatografi lapis tipis

Larutkan 10 mg zat dalam 10 ml methanol (larutan A) Larutkan 10 mg tamoxifen citrate dalam 10 ml methanol (larutan B) Siapkan plat KLT silica gel F 254 R dan fase gerak trietilamina dan toluene (10;90 V/V),

Terapkan 5 l, Dikembangkan dalam KLT, kemudian dikeringkan Hasilnya diperiksa dalam UV 254, hasil kromatogram menunjukkan titik yang jelas terpisah

Hasil titik utama larutan A dalam kromatogram memiliki posisi dan ukuran yang sama dengan larutan B.

d. Penetapan kadar Larutkan 0,4 gram sampel dalam 75 ml asam asetat anhidrat Titrasi dengan asam perklorat dengan penambahan 0,1 ml naphtolbenzen sebagai indicator. 1 ml asam perklorat 0,1 M equivalent dengan 56,36 mg C32H37NO8.

e. Analisis tamoxifen dan metabolitnya dalam plasma manusia dengan kromatografi gas-spektrometri massa (GC-MS) menggunakan pemantauan ion terpilih (SIM) Sebuah metode untuk menganalisis tamoxifen pada plasma dan urin pasien kanker payudara, oleh GC/MS menggunakan ion yang telah terpilih dan dikembangkan. Ekstraksi metabolit dilakukan pada catrige sep-pak C18 dan pemurnian metabolit dilakukan dengan kromatografi pertukaran ion selektif. Metode ini terbukti akurat dan tepat dengan koefisien presisi nilai variasi yang berkisar 4,3-11% untuk tamoxifen dan metabolitnya. Tamoxifen, 4-

hydroxytamoxifen, Y metabolit dan N-desmethyltamoxifen diidentifikasi dengan pasti dalam plasma pasien berdasarkan GC. waktu retensi relatif

dan perbandingan spektral massa dengan standar otentik; karena kelimpahan yang rendah dalam plasma cis-metabolit E dan 3,4 -dihydroxytamoxifen hanya dan perbandingan yang Tamoxifen dan pasien yang

bisa sementara diidentifikasi tetapi memuaskan

perilaku GC identik

dari banyaknya ion fragmen

kunci dicapai. kelompok

rentang konsentrasi metabolit (ng ml-1) pada

menerima 40 atau 80 ng tamoxifen selama 14 hari adalah tamoxifen, 307-745; Ndesmethyltamoxifen, 185-491; 4-hydroxytamoxifen, 1,4-2,5 ;3,4dihydroxytamoxifen, 0,7-2,0; Y metabolit, 19,0-112; dan E1 metabolit, 0,9-2,0. f. Elektroforesis kapiler tanpa air dari tamoxifen dan hasil hidrolisis asamnya. Pengujian pendiaman asam untuk pendegradasian tamoxifen dilakukan dengan inkubasi dalam 0,1 M HCl. Larutan tamoxifen pada 0,1, 5,10, dan

12,5/ml dibuat dengan menambahkan sejumlah tepat 500 g/ml larutan methanol ke dalam 2 ml 0,1 M HCl. Dibuat larutan lain tamoxifen dalam air sebagai control. Semua larutan itu dimasukkan ke dalam incubator pada suhu 37C. Diambil aliquot 50l secara berkala dari setiap larutan dan langsung dikeringkan dengan menggunakan centrifuge vacuum. Residu yang kering disimpan pada suhu 4C sampai dianalisis. Untuk non-aquos CE,ESI/MS, dan CEESI-MS analisis residu kering dilarutkan kembali dalam 50 l methanol. g. Ekstraksi tamoxifen dan metabolit dari urin dan plasma yang digunakan untuk mendukung ekstraksi cair sebelum analisis LC-MS.

Penyiapan sampel Prosedur pendukung ekstraksi cair Wadah : ISOLUTE SLE+ 200 wadah pendukung ekstraksi cair,

Sampel sebelum terapi : plasma/ urin (100l dilarutkan (1:1(v/v)) baik dengan larutan asam formit 1%, asam formit 0,1 %, H2O atau 0,5 M NH4OH. Dihentikan ketika konsentrasi plasma 200 ng/ml. Aplikasi sampel : plasma atau urin sebelum terapi (200 g/ml) diambil dimasukkan ke dalam wadah, digunakan vakum untuk mengalirkan dan sampel diabsorbsi selama 5 menit. Elusi analit : penambahan 1 ml pelarut air tidak dapat bercampur dengan pelarut ekstraksi. Pelarut ekstraksi yang digunakan adalah heksan, MTBE, EtOAc, DCM. Elute diuapkan sampai kering dan dilarutkan kembali dalam 500 l asam formit 0,1 % 50:50 (v/v) H2O/MeOH sebelum analisis. Kondisi HPLC Instrument : waters ACQUITY UPLC Kolom : ACQUITY UPLC BEH kolom C18 (1,7, 100 x 2,1 mm id) Fase gerak : larutan asam formit 0,1% dan 0,1% asam formit/MeOH dengan kecepatan alir 0,5 ml/menit.

Gradient : Isocratic 10%, 0,1% (v/v) larutan asam formit dan 90 %0,1% asam formit/MeOH. Volume injeksi : 5 l. Suhu kolom 35C