Anda di halaman 1dari 10

Hubungan Dukungan Sosial Terhadap Pengelolaan Faktor-Faktor Resiko Pada Pasien Stroke di Rumah Sakit Umum Daerah Bantul

Proposal Penelitian Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat Sarjana KeperawatanUniversitas Gadjah Mada

Disusun oleh : Annisa Rizkiyah 09/280164/KU/13001

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Stroke merupakan suatu penyakit yang paling banyak dan serius dijumpai dengan angka kematian yang tinggi dan kecacatan. Diperkirakan 50% dari penyakit neurologi adalah stroke. Stroke merupakan penyakit neurolgi terbanyak yang dirawat di rumah sakit bagian penyakit saraf (Adam et al., 2001). Stroke dapat mengenai segala usia termasuk usia muda. Namun sebagian besar kasus dijumpai pada orang-orang yang berusia di atas 40 tahun. Semakin tua umur, resiko untuk terjadinya stroke semakin besar (Sutrisno, 2007). Stroke adalah penyakit yang sangat penting karena memiliki potensi untuk menyebabkan cacat seumur hidup. Stroke sering berkembang dengan cepat, sehingga individu harus bersiap untuk tindakan yang cepat untuk mengatasi stroke (Louis, 2005). Stroke juga dapat menyebabkan cacat jasmani utama pada orang dewasa. Hampir 50% penderitanya akan menjadi cacat, mulai dari yang ringan sampai berat, 30% penderita stroke meninggal dan sisanya 20% dapat dikatakan sembuh. Yang dikatakan sembuh di sini artinya

cacat jasmani yang diderita tidak terlalu mengganggu kehidupan penderita sehari-hari (Makalah Seminar Stroke, 2003). Menurut laporan World Health Organization (WHO 2012), stroke adalah penyebab kematian kedua di dunia. WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2005, stroke menyumbang 5,7 juta kematian di dunia setara 9,9% dari jumlah kematian. Prevalensi di Amerika pada tahun 2005 adalah 2,6%. Prevalensi meningkat sesuai dengan kelompok usia yaitu 0,8% pada kelompok usia 18-44 tahun, 2,7% pada kelompok usia 45-64 tahun, dan 8,1% pada kelompok usia 65 tahun atau lebih tua. Pria dan wanita mempunyai prevalensi sama yaitu pria 2,7% dan wanita 2,5% (Satyanegara, 2010). Prevlensi stroke di Indonesia berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007 adalah delapan per seribu penduduk atau 0,8 persen. Sebagai perbandingan, prevalensi stroke di Amerika Serikat adalah 3,4 persen per 100 ribu penduduk, di Singapura 55 ribu per 100 ribu penduduk dan di Thailand 11 ribu per 100 ribu penduduk. Peningkatan angka stroke di Indonesia diperkirakan berkaitan dengan peningkatan angka kejadian faktor resiko stroke. Untuk individu yang sudah mengidap penyakit jantung, diabetes, hipertensi, merokok, dan menderita stress mempunyai resiko lebih besar terkena stroke daripada yang tidak. Individu yang mempunyai faktor resiko tunggal atau lebih tidak menjamin bahwa kelak di kemudian hari pasti akan timbul stroke; sebaliknya bagi individu yang tidak mempunyai faktor resiko

bukanlah suatu jaminan bahwa orang tersebut terbebas dari ancaman stroke. Beberapa faktor resiko stroke bersifat genetik dan sulit atau bahkan tidak mungkin untuk diubah atau dipengaruhi (seperti: umur, jenis kelamin). Faktor resiko lainnya dipengaruhi oleh lingkungan dan mudah dicegah (seperti: infeksi). Faktor resiko tertentu dipengaruhi oleh gaya hidup (seperti merokok), dan ada pula faktor resiko yang merupakan kombinasi antara lingkungan dan familial (seperti hipertensi) (Makalah Seminar Stroke, 2003). Pengelolaan faktor resiko merupakan langkah penting dalam hal pencegahan stroke. Jika pengelolaan faktor-faktor resiko tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan serangan storke ulang (Pinzon dan Asanti, 2010). Ada faktor resiko yang dapat dikelola dengan program tertentu seperti hipertensi, diabetes mellitus, merokok, dan obesitas. Sementara itu ada pula yang sulit atau tidak dapat dikendalikan seperti usia, kelainan bawaan, dan penyakit-penyakit genetik. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan pasien stroke dalam pengelolaan faktor-faktor resiko contohnya adalah dukungan sosial (Makalah Seminar Stroke, 2003). Menurut Health Promotion Model, pengaruh interpersonal adalah kesadaran mengenai perilaku, kepercayaan, atau pun sikap terhadap orang lain. Sumber utama pengaruh interpersonal pada perilaku promosi kesehatan adalah keluarga (orang tua dan saudara kandung), teman sebaya, dan petugas perawatan kesehatan. Pengaruh interpersonal meliputi norma, dukungan sosial dan modeling. Dukungan sosial adalah merupakan suatu perilaku

menyediakan umber-sumber dukungan yang diberikan oleh orang lain (Pender, 1987). Dukungan sosial merupakan dukungan emosional yang berasal dari teman, anggota keluarga, bahkan pemberi perawatan kesehatan yang membantu individu ketika suatu masalah muncul. Dalam kasus storke, dukungan sosial sangat penting karena bila sudah terdiagnosa stroke, membuat penderita sangat tergantung pada orang lain. Setiap pekerjaan, dari mulai makan, mandi, berpakaian dan aktivitas sehari-hari lainnya tidak dapat dikerjakan sendiri. Hampir sebagian besar memerlukan dukungan dari orang lain. Penerimaan sosial terhadap pasien stroke menjadi sangat penting untuk membantu menghindari faktor resiko terjadinya stroke maupun untuk pemulihan pasien stroke. Makin besar keterlibatan sosial terhadap pasien stroke, makin besar pula peluang pasien stroke untuk sembuh atau membaik (Sutrisno, 2007). Sesuai latar belakang diatas dan mengingat pentingnya dukungan sosial terhadap pengelolaan faktor-faktor resiko, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan variabel tersebut untuk mengetahui hubungan dukungan sosial terhadap pengelolaan faktor-faktor resiko stroke di RSUD Bantul Yogyakarta.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diangkat rumusan masalah sebagai berikut : Bagaimana pengaruh dukungan sosial terhadap kemampuan pengelolaan faktor-faktor resiko pada pasien stroke di RSUD Bantul Yogyakarta.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap pengelolaan faktor-faktor resiko pada pasien stroke di RSUD Bantul Yogyakarta.

2. Tujuan Khusus : Tujuan khusus dari penelitian ini :. a. Untuk mengetahui dukungan sosial pasien stroke terhadap faktor-faktor resiko stroke. b. Untuk mengetahui kemampuan pasien stroke dalam

pengelolaan faktor-faktor resiko stroke.

D. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan menambah kekayaan ilmu pengetahuan di bidang keperawatan klinik tentang pengelolaan faktor-faktor resiko pasien stroke.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Institusi Pendidikan Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pihak pendidikan sebagai tambahan referensi mengenai dukungan sosial pasien stroke terhadap pengelolaan faktor-faktor resiko. b. Bagi Profesi Keperawatan Penelitian ini diharapkan dapat sebagai bahan dalam memberikan edukasi pada keluarga agar dapat memberikan dukungan kepada pasien stroke dalam pengelolaan faktor-faktor resiko. c. Bagi Institusi Rumah Sakit Penelitian ini diharapkan dapat menjadi wacana bagi pihak rumah sakit agar meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pasien stroke khususnya mengenai dukungan sosial untuk pengelolaan faktorfaktor resiko.

d. Bagi peneliti selanjutnya Penelitian ini diharapkan sebagai acuan dalam melakukan penelitian selanjutnya mengenai dukungan sosial dalam

pengelolaan faktor-faktor resiko pada pasien stroke.

E. Keaslian Penelitian Beberapa penelitian yang telah dilakukan yang masih ada kaitannya dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti anatara lain : 1. Penelitian Hubungan antara dukungan sosial dengan kualitas hidup korban pasca gempa di Kabupaten Bantul Yogyakarta oleh Seviyana (2009). Penelitian tersebut merupakan penelitian non-eksperimental yang menggunakan rancangan cross-sectional dengan jenis analitik

korelasional, sampel diambil 89 orang. Hasil penelitiannya adalah terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan sosial dengan kualitas hidup korban pasca gempa di Kabupaten Bantul Yogyakarta. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti terletak pada subjek penelitian, dan pada variabel terikat. Pada penelitian Seviyana menggunakan subjek korban pasca gempa dan variabel terikatnya adalah kualitas hidup, sedangkan penelitian ini menggunakan subjek pasien stroke dan variabel terikatnya adalah pengelolaan faktor-faktor resiko. 2. Penelitian Hubungan antara dukungan sosial dengan tingkat depresi pasien yang menjalani terapi hemodialisi Di RS. Dr. Sardjito Yogyakarta

oleh Marthan (2006). Penelitian tersebut merupakan penelitian noneksperimental yang menggunakan rancangan cross-sectional, sampel diambil 26-32 orang. Hasil penelitiannya adalah terdapat hubungan negatif antara dukungan sosial dengan tingkat depresi pasien yang menjalani terapi hemodialisis. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti terletak pada subjek penelitian, dan pada variabel terikat. Pada penelitian Seviyana menggunakan subjek pasien yang menjalani terapi hemodialisis dan variabel terikatnya adalah tingkat depresi, sedangkan penelitian ini menggunakan subjek pasien stroke dan variabel terikatnya adalah pengelolaan faktor-faktor resiko. 3. Penelitian Hubungan antara dukungan sosial dengan strategi koping pada wanita yang pernah melakukan aborsi oleh Subekti (2010). Penelitian tersebut merupakan penelitian non-eksperimental yang menggunakan rancangan retrospektif, sampel diambil 30 orang. Hasil penelitiannya adalah tidak terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan strategi koping pada wanita yang pernah melakukan aborsi. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti terletak pada subjek penelitian, variabel terikat, dan rancangan penelitian. Pada penelitian Subketi menggunakan subjek wanita yang pernah melakukan aborsi, variabel terikatnya adalah strategi koping, dan rancangan yang digunakan adalah retrospektif, sedangkan penelitian ini menggunakan subjek pasien stroke, variabel

terikatnya adalah pengelolaan faktor-faktor resiko dan rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional.