Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH TUGAS AKHIR PS 1380 MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR PADA GEDUNG PERUSAHAAN GAS NEGARA SURABAYA MENGGUNAKAN BAJA

A KOMPOSIT

VITALOKA ROMA YUANINGSIH NRP 3109 106 016 Dosen Pembimbing Ir. ISDARMANU, M.Sc. Ir. R.SOEWARDOJO, M.Sc.

PROGRAM SARJANA LINTAS JALUR TEKNIK SIPIL Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2012

MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR PADA GEDUNG PERUSAHAAN GAS NEGARA SURABAYA MENGGUNAKAN BAJA KOMPOSIT VITALOKA ROMA YUANINGSIH NRP. 3109 106 016 Abstrak Keterbatasan lahan dan kegiatan pembangunan yang semakin intensif akhir-akhir ini menyebabkan gedung-gedung bertingkat yang dibangun. Perkembangan teknologi yang semakin meningkat memungkinkan manusia untuk membangun gedung gedung tinggi. Seperti yang telah diketahui bersama bahwa semakin tinggi suatu gedung maka semakin besar juga kekuatan dan beban yang dipikulnya. Hal ini menyebabkan waktu pengerjaan yang diperlukan juga akan semakin lama. Struktur gedung dalam tugas akhir ini akan dimodifikasi dan direncanakan ulang dengan menggunakan struktur baja komposit. Struktur komposit antara beton dan balok baja merupakan struktur yang memanfaatkan kelebihan dari beton dan baja yang bekerja bersama-sama sebagai satu kesatuan. Kelebihan tersebut antara lain adalah beton kuat terhadap tekan dan baja kuat terhadap tarik. ( Salmon dan Johnson, 1995 ). Gedung ini dimodifikasi dari beton konvensional menjadi baja komposit. Perancangan gedung ini berdasarkan Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1729-2002), Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 031726-2002) dan Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983. Analisa beban gempa pada struktur gedung akan ditinjau terhadap pengaruh beban gempa dinamik. Hasil perencanaan struktur gedung ini terdiri dari Struktur portal yang menggunakan baja komposit dengan kolom lantai 1 sampai 5 menggunakan profil Kingcross XH 450.200.9.14 berselubung beton 650 cm x 650 cm, lantai 6 sampai 10 menggunakan profil XH 400.200.8.13 dengan selubung beton 600 cm x 600 cm, balok komposit menggunakan profil WF.500.200.10.16. Sambungan direncanakan sebagai sambungan kaku dengan memakai baut A-325 mutu 90 ksi. Perencanaan pondasi menggunakan tiang pancang beton pracetak diameter 50 cm panjang 13,5 m. Sloof ukuran 400 cm x 600 cm dengan tulangan utama 5D25 dan tulangan geser 10-150. Kata kunci : Struktur, Baja Komposit, Modifikasi,

I.

PENDAHULUAN

Gedung PT. Perusahaan Gas Negara Surabaya merupakan gedung perkantoran yang terdiri dari 10 lantai yang dibangun dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan pelayanan masyarakat yang semakin meningkat, khususnya di wilayah Surabaya. Secara fisik bangunan gedung PT. Perusahaan Gas Negara Surabaya akan dimanfaatkan sebagai fasilitas perkantoran. Sebagai bahan studi perancangan akan dilakukan modifikasi pada struktur 10 lantai pada Gedung PT. Perusahaan Gas Negara Surabaya dan juga diperhitungkan beban akibat gempa yang terletak pada wilayah zone gempa Tiga. Gedung ini pada awalnya didesain dengan menggunakan struktur beton bertulang konvensional yang akan dimodifikasi menjadi baja-beton komposit, sedangkan pada atap direncanakan menggunakan pelat beton. Selain itu juga akan direncanakan penggunaan pondasi yang sesuai dengan besarnya beban yang akan dipikul dan kondisi tanah di lapangan. Dipilih Struktur komposit Karena Struktur komposit semakin banyak dipakai dalam rekayasa struktur. Dari beberapa penelitian, struktur komposit mampu memberikan kinerja struktur yang baik dan lebih efektif dalam meningkatkan kapasitas pembebanan, kekakuan dan keunggulan ekonomis . Semakin berkembangnya teknologi material, maka semakin mudah pula untuk menemukan bahan-bahan konstruksi dengan kualitas yang baik. Tentu saja hal ini selanjutnya menimbulkan minat untuk mengkombinasikan bahan-bahan tersebut secara struktural, sedemikian sehingga memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan. Sebenanya, material beton dan baja yang dikomposisikan secara struktural sudah dikembangkan sejak lama (contohnya di Amerika). komposit terdiri dari dua tipe yaitu balok komposit dengan penghubung geser dan balok komposit yang diselubungi beton. Kolom komposit dapat merupakan tabung atau pipa baja yang dicor beton atau baja profil yang diselimuti beton dengan tulangan longitudinal dan diikat dengan tulangan lateral. Pada struktur pelat komposit

digunakan pelat beton yang bagian bawahnya diperkuat dengan dek baja bergelombang. (Ida Bagus Rai Widiarsa & Putu Deskarta). Balok komposit merupakan campuran beton dengan baja profil, dimana pada beton bertulang gaya-gaya tarik yang dialami suatu elemen struktur dipikul oleh besi tulangan tetapi pada struktur komposit ini gaya-gaya tarik yang terjadi pada suatu elemen struktur dipikul oleh profil baja. Komposit balok baja dan pelat beton adalah satu usaha dalam mendapatkan suatu konstruksi yang baik dan efisien. Keistimewaan yang nyata dalam sistem komposit adalah (1)Penghematan berat baja, (2) Penampang balok baja yang digunakan lebih kecil, (3) Kekakuan lantai meningkat, (4) Kapasitas menahan beban lebih besar, (5) Panjang bentang untuk batang tertentu dapat lebih besar( Salmon dan Johnson ,1995 ). Sistem struktur yang digunakan pada modifikasi perencanaan gedung ini adalah SRPMT (Struktur Rangka Pemikul Momen Terbatas). Perencanaan bangunan gedung ini berdasarkan peraturan SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Baja, SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung dan PPIUG 1983 tentang Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung.
II. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah yang ada dalam modifikasi perencanaan Gedung PT. Perusahaan Gas Negara Surabaya dengan menggunakan struktur komposit baja beton adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana Preliminary design penampang struktur. 2. Bagaimana merencanakan struktur sekunder yang meliputi pelat lantai, balok anak dan tangga. 3. Bagaimana asumsi pembebanan setelah adanya modifikasi. 4. Bagaimana pemodelan dan menganalisa struktur dengan

menggunakan program bantu ETABS v 9.6. 5. Bagaimana merencanakan struktur utama yang meliputi balok dan kolom. 6. Bagaimana merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur, yaitu kekuatan (strength), kekakuan dan stabilitas (stability). 7. Bagaimana menuangkan hasil perencanaan dan perhitungan ke dalam bentuk gambar teknik. III. TUJUAN Adapun tujuan dari modifikasi perencanaan Gedung PT. Perusahaan Gas Negara Surabaya dengan struktur komposit baja beton, yaitu : 1. Dapat menentukan Preliminary design penampang struktur. 2. Dapat merencanakan struktur sekunder yang meliputi pelat,balok anak dan tangga. 3. Dapat merencanakan struktur utama yang meliputi balok dankolom. 4. Bagaimana asumsi pembebanan setelah adanya modifikasi. 5. Dapat memodelkan dan menganalisa struktur dengan menggunakan program bantu ETABS v 9.6.
IV. BATASAN MASALAH

3. 4.

5.

6.

beton dan menggunakan profil king cross. Perencanaan pelat lantai menggunakan bondek. Tidak meninjau dari segi metode pelaksanaan, analisa biaya, arsitektural, dan manajemen konstruksi. Perencanaan tidak meliputi instalasi mechanical, electrical, plumbing dan saluran air. Permodelan dan analisa struktur dilakukan dengan program bantu ETABS v 9.6.Penggambaran dilakukan dengan program bantu AutoCAD 2008.

V. KONSEP DESAIN Prosedur dan ketentuan umum perencanaan mengacu pada SNI 03-17262002, SNI 03-1729-2002 dan PPIUG 1983 dengan memperhitungkan beberapa ketentuan umum antara lain 1. Gempa rencana dan kategori gedung Pengaruh gempa rencana itu harus dikalikan oleh suatu faktor keutamaan gedung. Faktor keutamaan ini untuk menyesuaikan periode ulang. Gempa berkaitan dengan penyesuaian umur gedung. Faktor keutamaan ini bergantung pada berbagai kategori gedung dan bangunan yang telah diatur pada SNI 03-1726-2002 pasal 4.1.2. 2. Konfigurasi struktur Langkah awal dari perencanaan struktur gedung adalah menentukan apakah gedung yang akan dirancang termasuk gedung yang beraturan atau tidak beraturan. Struktur gedung beraturan harus memenuhi ketentuan SNI 03-17262002 pasal 4.2.1. Pengaruh gempa rencana struktur gedung ini dapat 3

Batasan masalah yang ada dalam modifikasi perencanaan Gedung PT. Perusahaan Gas Negara Surabaya dengan struktur komposit baja beton, yaitu : 1. Perencanaan struktur utama, meliputi balok induk, kolom dan struktur sekunder, meliputi balok anak, tangga dan pelat lantai. 2. Perencanaan kolom komposit menggunakan tipe Concreteencased column atau kolom baja berselubung

ditinjau sebagai pengaruh beban gempa statik ekivalen. Sehingga dapat menggunakan analisa statik ekivalen. Struktur gedung tidak beraturan adalah struktur gedung yang tidak memenuhi syarat konfigurasi struktur gedung beraturan (atau tidak sesuai SNI 031726-2002 pasal 4.2.1). Pengaruh gempa struktur ini harus diatur dengan menggunakan pembebanan gempa dinamik. Dengan menggunakan pembebanan gempa dinamik sehingga menggunakan analisa respon dinamik. Perencanaan gedung dalam Tugas Akhir ini adalah merupakan struktur gedung tidak beraturan, sehingga perlu dianalisa dinamis dengan menggunakan program bantu ETABS. 3. Daktilitas struktur bangunan pembebanan nominal dan

struktur tahan gempa untuk mampu berdeformasi secara daktail dengan cara memencarkan energi (mendisipasikan energi). Dalam Tugas akhir ini akan direncanakan struktur gedung menggunakan SRPMT baja. Penjelasan daktilitas berada di SNI 031726-2002 pasal 4.3 4. Jenis tanah gelombang dan perambatan

Jenis atau tipe profil tanah berpengaruh pada kecepatan gelombang. Dalam SNI 03-1726-2002 jenis tanah dibedakan menjadi 3, yaitu : tanah keras, tanah sedang, tanah khusus. Pengaruhnya ditabelkan pada tabel SNI 03-1726-2002. 5. Karakteristik resiko gempa wilayah Sesuai SNI 03-1726-2002 wilayah gempa di Indonesia dikategorikan dalam 6 wilayah gempa, dimana Wilayah gempa 1 dan 2 adalah wilayah dengan resiko kegempaan rendah, Wilayah gempa 3 dan 4 adalah wilayah dengan resiko kegempaan sedang dan Wilayah gempa 5 dan 6 adalah wilayah dengan resiko kegempaan tinggi.

Daktilitas adalah kemampuan deformasi inelastis tanpa kehilangan kekuatan yang berarti. Sedangkan struktur daktail adalah kemampuan struktur mengalami simpangan pasca elastik yang besar secara berulang kali dan bolak-balik akibat gempa yang menyebabkan terjadinya pelelehan pertama, sambil mempertahankan kekuatan dan kekakuan yang cukup, sehingga struktur tersebut tetap berdiri, walaupun sudah berada dalam kondisi di ambang keruntuhan.
Faktor daktilitas gedung adalah rasio

antara persimpangan maximum pada ambang keruntuhan dengan simpangan pertama yang terjadi pada pelelehan pertama. Daktilitas pada elemen struktur
dapat dicapai hanya jika unsur pokok dari materialnya sendiri daktail.

Konsep daktilitas struktur adalah mempertimbangkan perencanaan 4

VI. METODOLOGI
MULAI PENGUMPULAN DATA STUDI LITERATUR PRELIMINARY DESIGN PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER PERENCANAAN PEMBEBANAN NO ANALISA STRUKTUR DAN PERENCANAAN STRUKTUR PRIMER

Data Tanah Data tanah digunakan untuk merencanakan pondasi gedung tersebut. VII.HASIL PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER 1. Pelat lantai : Tebal : 10 cm Bondex PT. BRC Lysaght Beton menggunakan mutu K-225 Bondex Menggunakan Tebal 0,75 mm Tulangan susut Wiremesh M5
KERAMIK SPESI LANTAI TULANGAN SUSUT WIREMESH M5 TULANGAN UTAMA WIREMESH D8-125

KONTROL DESAIN YES PERENCANAAN PONDASI

10
TULANGAN UTAMA WIREMESH D8-200

BETON K-225

PENYUSUNAN LAPORAN TUGAS AKHIR PENGGAMBARAN HASIL PERENCANAAN

200

BONDEX LYSAGHT T=0,75 mm

Gambar Penulangan Pelat Lantai

2. Pelat atap :
SELESAI

Data Umum Bangunan Nama Gedung : PT Perusahaan Gas Negara Surabaya Lokasi : Surabaya Jawa Timur Fungsi : Perkantoran Zone Gempa : 3 (menengah) Tinggi Bangunan : 39,5 m Jumlah Lantai : 10 lantai Ketinggian per lantai : 4 m Pondasi : Tiang Pancang Data Bahan Kolom : Baja profil kingcross berselubung beton Balok : Wide Flens Mutu Baja : BJ-41 Mutu Beton : fc 25 Mpa

Tebal : 10 cm Bondex PT. BRC Lysaght Beton menggunakan mutu K-225 kg/cm2 Bondex Menggunakan Tebal 0,75 mm Tulangan susut Wiremesh M5
WATER PROOFING TULANGAN SUSUT WIREMESH M5

80
BETON K-225

200

BONDEX LYSAGHT T=0,75 mm

Gambar Penulangan Pelat Atap

3. Tangga : Spesifikasi tangga type : Tinggi antar lantai Tinggi bordes Lebar Injakan (i) Lebar Injakan Tebal plat bordes Tebal plat tangga : 400 cm : 200 cm : 17,5 cm : 28 cm : 9 cm : 9 cm

80

100

10

100

20

Beton menggunakan mutu kg/cm2 Bondex PT. BRC Lysagth menggunakan Tebal 0,75 mm Tulangan susut menggunakan Wiremesh M5 4. Balok lift

K-225

1. Kontrol Kinerja Struktur Gedung Kontrol terhadap simpangan arah sumbu x dan sumbu y memenuhi syarat dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel Kontrol simpangan antar tingkat arah sumbu x
Ouput ETABS Tingkat Bangunan atap Lt.9 Lt.8 Lt.7 Lt.6 Lt.5 Lt.4 Lt.3 Lt.2 Lt.1 Tinggi Zi mm 39.5 35 31 27 23 19 15 11 7 3.5 di ( mm ) 53.55 50.96 47.57 43.02 37.37 30.71 23.39 15.57 7.87 2.56 Drift S antar tingkat 2.59 3.39 4.55 5.65 6.66 7.32 7.82 7.70 5.31 2.56 Syarat Drift S antar tingkat
0, 03 h, R atau 30 mm s

Keterangan

22.50 20.00 20.00 20.00 20.00 20.00 20.00 20.00 17.50 17.50

OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

Ouput ETABS Tingkat Bangunan atap Lt.9 Lt.8 Lt.7 Lt.6 Lt.5 Lt.4 Lt.3 Lt.2 Lt.1 Drift M antar tingkat 10.88 14.24 19.11 23.73 27.97 30.74 32.84 32.34 22.30 10.75

Syarat Drift M antar tingkat

0 ,7 R s Keterangan faktorskal a
90.00 80.00 80.00 80.00 80.00 80.00 80.00 80.00 70.00 70.00 OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

Gambar : Denah Balok Penggantung Lift

Balok penggantung lift :WF 300.150.6,5.9 5. Balok anak Lantai atap : WF. 500.200.10.16 Lantai ruangan : WF.500.200.10.16 VIII. KONTROL HASIL ANALSIS STRUKTUR

Tabel Kontrol simpangan antar tingkat arah sumbu y


Ouput ETABS Tingkat Bangunan atap Lt.9 Lt.8 Lt.7 Lt.6 Lt.5 Lt.4 Lt.3 Lt.2 Lt.1 Tinggi Zi mm 39.5 35 31 27 23 19 15 11 7 3.5 di ( mm ) 87.49 81.97 75.54 67.55 58.15 47.53 36.22 24.34 12.63 4.11 Drift S antar tingkat 5.52 6.43 7.99 9.40 10.62 11.31 11.88 11.71 8.52 4.11 Syarat Drift S antar tingkat
0, 03 h, R atau 30 mm s

Keterangan

22.50 20.00 20.00 20.00 20.00 20.00 20.00 20.00 17.50 17.50

OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

Gambar : Pemodelan struktur

Ouput ETABS Tingkat Bangunan atap Lt.9 Lt.8 Lt.7 Lt.6 Lt.5 Lt.4 Lt.3 Lt.2 Lt.1 Drift M antar tingkat 23.18 27.01 33.56 39.48 44.60 47.50 49.90 49.18 35.78 17.26

Syarat Drift M antar tingkat 0 ,7 R faktorskal a 90.00 80.00 80.00 80.00 80.00 80.00 80.00 80.00 70.00 70.00 s Keterangan

OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

3. Sambungan Balok-kolom : baut A325 mutu 90 ksi 24 mm pada profil T.400.200.9.14, 24 mm pada profil 70.70.7. Kolom-kolom : baut A325 mutu 90 ksi 24 mm dengan tebal plat 16 mm.
C L

450 200 40 120 40 40 120 40 225 90 90 45

3.Kontrol Waktu Getar Alami Fundamental (T) Menurut Tabel 8 SNI-1726-2002 , untuk wilayah 3, maka nilai = 0,18. Jadi nilai T1 maksimum untuk bangunan bertingkat 10 adalah = 0,18 * 10 = 1,8 detik. Nilai dari Tabel 8 SNI 03-1726-2002 dan n adalah jumlah lantai dari gedung yang akan ditinjau, maka kontrol waktu getar alami fundamental (T) menjadi, T<.n Dimana =0,18 (Tabel 8 SNI 03-1726-2002 untuk zona gempa 3) n=jumlah tingkat 10 Kontrol T arah x, Tx = 1,67 detik < 0,18 . 10 = 1,8 detik (OK) Kontrol T arah y, Ty= 1,48 detik < 0,18 . 10 = 1,8 detik (OK) Sehingga, berdasarkan waktu getar alami fundamental struktur gedung masih memenuhi batas kontrol waktu getar alami. IX. HASIL PERENCANAAN STRUKTUR PRIMER

50 60 60 60 50

200 40 120 40 200 40 120 40 300 90 90 45 225


40 120 40 40 120 40

Gambar Sambungan Balok Kolom

40 120 40

80 60 60 80 280

C L
100 100

50 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 50

W atap

Berdasarkan hasil perencanaan, didapatkan dimensi-dimensi balok, kolom,dan sambungan untuk struktur gedung ini adalah : 1. Balok Atap : WF. 500.200.10.16 Lantai : WF.500.200.10.16
W8 W7 W6 W5

W9

2. Kolom Profil Beton

: Kingcross 450.200.9.14 : 650 cm x 650 cm


W4 W3

Gambar Sambungan Kolom Kolom

50 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 50

40 120 40

W2

W1

X.

HASIL PERENCANAAN PONDASI Data tanah Tiang pancang Kedalaman TP Pijin 1 TP : Sondir : 50 cm : 13,5 m : 83,893 Ton 3. 2.

Dimensi Pile Cap : 4 x 4 x 1 m3

4.

5.
Gambar Pile Cap kolom

Perencanaan Sloof Dimensi : 30/50 cm 6.

7.
Gambar Penulangan Sloof

8. 9.

XI. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan antara lain : 1. Dilakukan perhitungan struktur sekunder terlebih dahulu seperti perhitungan tangga, pelat lantai, dan

balok anak terhadap beban-beban yang bekerja baik beban mati, beban hidup maupun beban terpusat. Analisa balok dihitung terhadap kontrol lendutan, kontrol penampang (local buckling), kontrol lateral buckling dan kontrol geser. Prinsip dasar bahwa struktur sekunder menjadi beban pada struktur utama, dan setelah itu dilakukan analisa struktur utama dengan bantuan program yaitu ETABS. Dilakukan kontrol terhadap balok utama dengan anggapan balok adalah balok baja dianggap sebagai struktur komposit dengan pelat pada saat komposit. Dimana balok menerima beban dari struktur sekunder yang harus dilakukan kontrol meliputi : kontrol lendutan, kontrol penampang (local buckling), kontrol lateral buckling dan kontrol geser. Dilakukan kontrol kekuatan struktur kolom komposit yang meliputi kontrol luas minimum beton pada kolom komposit, perhitungan kuat tekan aksial kolom, perhitungan kuat lentur kolom, dan kontrol kombinasi aksial dan lentur. Rigid connection adalah tipe sambungan yang cocok untuk jenis bangunan baja seperti ini. Selain memiliki kekakuan yang lebih stabil juga lebih mudah dalam pelaksanaan di lapangan. Balok induk melintang dan memanjang menggunakan WF 500.200.10.16 Balok anak menggunakan WF 450.200.9.14. Kolom lantai 1-5 menggunakan kolom Kingcross 450.200.9.14 dengan selubung beton 650 cm x 650 cm. Kolom lantai 6-9 menggunakan kolom Kingcross 400.200.8.13 dengan selubung beton 600 cm x 600 cm.

10. Pondasi yang digunakan memakai tiang pancang diameter 50 cm dengan kedalaman 13,5 m. XII.Saran Perlu dilakukan studi yang lebih mendalam untuk menghasilkan perancangan struktur dengan mempertimbangkan aspek teknis, ekonomi, dan estetika, sehingga diharapkan perancangan dapat dilaksanakan mendekati kondisi sesungguhnya di lapangan dan hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan perancangan yaitu kuat, ekonomis dan tepat waktu dalam pelaksanaannya. XIII. DAFTAR PUSTAKA
Amon, Rene ; Knobloch, Bruce & Mazumder, Atanu.1999. Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitek 2. Bandung : PT. Pradinya Paramita. Badan Standardisasi Nasional. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002). Badan Standardisasi Nasional. Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-17292002). Departemen Pekerjaan Umum. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983. G. Salmon, Charles & E.Johnson, John.1991. Struktur Baja Desain Dan Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua. Diterjemahkan oleh : Ir. Wira M.S.CE. Jakarta : Erlangga. G. Salmon, Charles & E.Johnson, John.1996. Struktur Baja Desain Dan Perilaku Edisi Ketiga. Diterjemahkan oleh Ir.Mc.Prihminto Widodo. Jakarta : PT.Gramedia. Setiyawan, A. 2008. Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD. Bandung : PT. Pradnya Paramita. Smith, J,C,1996. Structural Steel Desain LRFD Approach Second Edition. John Wiley & Sons, Inc : United States of Amerika. Suprobo,Priyo.2000.Desain Balok Komposit BajaBeton. Surabaya : ITS Press. Wahyudi, Herman. 1999. Daya Dukung Pondasi Dalam. Surabaya : ITS.