Anda di halaman 1dari 18

SPIRITUAL ISLAM DALAM KEBATINAN MASYARAKAT JAWA

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Syarat Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Islam dan Budaya Lokal Dosen Pengampu : Dr. Aris Fauzan,.

Disusun Oleh : Adhimatul Ilmiyah Mabrur Roh Bintang Jaya Zaritza Muhammad Muhammad Alfiansyah Anugerah Chandra U. Naufal Muhammad Iqbal (10650007) (10650017) (10650021) (10650024 ) (11650025) (10650002)

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN
Pulau Jawa merupakan sebuah daerah dengan banyak keprecayaan. Hal ini di dorong dengan kondisi tanah yang subur dan jalur perdagangan dunia pada masanya. Berbagai agama dan kepercayaan masuk tanpa ada konflik dan penolakan oleh kalangan tertentu,antara lain : Hindu-Budha, Islam, dan Kristen. Dikalangan orang Jawa timbul anggapan bahwa semua agama itu sama baik, semua agama mengajarkan keluhuran budi dan kesucian. Sebagai dampak dari anggapan tersebut maka munculah sikap hormat antar umat beragama yang akhirnya secara tidak langsung membuat berbagai macam kepercayaan tersebut melebur dan bersinergi membentuk sebuah kepercayaan atau aliran baru. Munculnya aliran-aliran kepercayaan dan kebatinan dalam lingkungan agama di Indonesia terutama di Jawa, sebagai bentuk reaksi internal terhadap Formalisme, Dogmatisme atau kebekuan hirarkis yang terpolakan dalam agama-agama tersebut. Untuk menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan yang tidak dapat ditemukan dalam sistem keagamaan yang telah ada. Maka lahirlah berbagai aliran yang diantaranya Pangestu, Sumarah, Sapta Dharmo, Subud, dll. Dari aliaran-aliran tersebut munculah berbagagai ajaran antara lain : Manunggaling Kawula Gusti yang dicetuskan oleh Syech Siti Jenar, Manusia Utama (Manungsa Utomo), Makrokosmos dan Mikrokosmos ata juga sering disebut Jagad Gede dan Jagad Cilik.

BAB II PEMBAHASAN
Agama dan Aliran Kepercayaan di Jawa
1.

A.

Pangestu (Paguyuban Ngestu Tunggal)


a. Doktrin Pangestu Pangestu merupakan salah satu gerakan mistis yang memiliki sumber ajaran yang cukup lengkap, mencakup berbagai acuan sebagai penuntun para pengikutnya dalam menentukan sikap dalam berhubungan dengan sesama manusia, dengan alam sekitarnya serta dengan tuhannya, sebagaimana yang ada dalam berbagai agama, pangestu juga memiliki doktrin yang termuat dalam kitab suci, yang diyakini oleh pengikutnya merupakan kumpulan dari sabda sang guru sejati . pokok pokok ajaran pangestu tersebut secara garis besar terangkum dalam tiga kitab sebagai sumber ajaran pokoknya, yaitu Kitab Sabda Pratama, Kitab Sasangka Jati, dan Kitab Sabda Khusus. Ketiga kitab tersebut diyakini oleh para penganut pangestu disabdakan oleh sang guru sejati Mertowardojo. b. Pengertian ngelmu, siswa dan guru privat Berbagai aspek dari doktrin pangestu yang tercakup dalam kitab kitab yang menjadi sumber ajaran pangestu, memprlihatkan bahwa sifat dari ajaranajaran pangestu terkait erat dengan konteks kebudayaan masyarakat jawa sebagai tempat diturunkannya ajaran ajaran pangestu. Doktrin pangestu memiliki nuansa nilai nilai kejawen yang sangat kental sehingga ajaran pangestu bersifat khas jawa. Nuansa jawa dalam ajaran pangestu antara lain dapat dapat ditunjjukkan dari penyebutan istilah istilah dalam aspek pokok ajran pangestu, istilah untuk menyebut Tuhan dan istilah untuk menyebut pengikut gerakan pangestu. Para pengikut pangestu lazim menyebut hakikat ajaran ajaran pangestu sebagai sebagai sumber ajaran yang telah melaui penasihatnya, R.Soenarto

ngelmu sejati. Tuhan sebagai sumber atau pemberi ajaran itu disebut dengan sang guru sejati. c. Perintah Perintah dan larangan merupakan inti dari ajran hidup pangestu. Dengan memiliki pegangan tentang perintahdan larangan. Dengan memiliki pegangan tentang perintah dan larangan, diibaratkan orang pangestu telah memiliki kunci keyakinan hidup abadi. Begitu pentingnya ajaran tentang perintah dan larangan ini bagi pangestu. Ajaran tentang perintah dan larangan sebagaimanana termuat dalam kitab sasangka jati secara umum mempunyai corak yang berbeda jika dibandingkan dengan ajaran tentang perintah dan larangan sebagaimana diajarkan oleh agama agama umumnya, seperti dalam Kristen dan islam. Umumnya ajaran tentang hal hal yang haram dan halal tentu ditentukan objeknya, maka ajaran pangestu tidak secara langsung menentukan objek larangan(haram) dan objek yang diperbolehkan(halal). Dengan kata lain, ajaran pangestu tidak menentukan secara jelas mana yang haram dan mana yang halal, namun hanya memberikan suatu landasan penalaran tentang sesuatu yang harus dihindari atau dilaksanakan. Inti ajaran pengestu yang berupa perintah, termuat dalam paket ajaran hastasila, sebagaimana disebutkan dalam kitab sasangka jati pada bab I(kandhutan angka 1). Hasta berarti delapan, sila berarti asas. Dalam kitab sasangka jati ajaran Hastasila dibagi lagi menjadi dua bagian, yang disebut dengan ajran trisila (tiga asas) dan ajaran pancasila (lima asas). Ajaran trisila merupakan ajaran tentang hubungan antara manusia dengan tuhan yaitu kewajiban manusia terhadap tuhan. Ajaran trisila menjadi syahadat nya orang pangestu. Dalam kitab sasangka jati(1969:11) disebutkan bahwa ajaran trisila merupakan ajaran tentang penyembahan dari hati (ati, kalbu) dan pikiran (cipta) terhadap tripurusa. Is dari ajran trisila mengajarkan para pengikut pangestu untuk eling(sadar), percaya, dan mituhu(taat) kepada tripurusa.

Agar secar sempurna manusia dapat melaksanakan trisila, maka orang pangestu diwajibkan untuk memiliki lima watak utama. Lima watak utama itu

disebutdengan

pancasila,

yaitu

sikap

rila(rela),

narima(menerima),

temen(sungguh-sungguh), sabar dan budi luhur. d. Larangan Ajaran tentang larangan atau paliwara, termuat dalam bab II (kandhutan angka II) kitab sasangak jati. Jika ajaran perintah berupa hastasila merupakan panduan tentang kewajiban manusia untuk melakukan perbuatan baik, maka ajaran larangan atau paliwara merupakan peringtan bagi manusia tentang hala hala yanag wajib dihindari. Bab tentang larangan sebagaimana termuat dalam dalam kitab sasangka jati memuat lima hal yang harus dihindari oleh manusia karena dinggap dapat menjerumuskan kehidupannya. 1. Jangan menyembah selain Allah Pangestu mengjarkan kepada manusia untuk berbakti dan mengbdikan diri sepenuhnya kepada Allah taala. 2. Berhati-hati dalam hal syahwat Pangestu mengajarkan bahwa hubungan antara laki laki dan perempuan harus didasari kepada kasih sayang yang sejati. 3. Jangan mengkonsumsi makanan yang merusak badan Pangestu mengjarkan kepada manusia untuk berhati hati dalam mengkonsumsi makanan. Meski terdapat larangan tentang makanan, namun tidak secara tegas disebutkan bahwa makanan tertentu hukumnya haram atau halal. 4. Jangan melanggar hukum negara Pangestu mengjarkan kepada manusia bahwa para penguasa Negara adalah khalifaullah wakil tuhan didunia. 5. Jangan saling bertengkar Pangestu mengajarkan kepada manusia untuk tidak saling berselisih dan bertengkar sehingga dapat memecah belah, merusak kerukunan antar sesama.

e. Posisi ajaran pangestu terhadap agama-agama

Dalam kitab sasangka jati(1969:70-90) disebutkan tentang pandangan pangestu yang mengajarkan bahwa intisari ajaran agama islam, Kristen dan

pangestu adalah sama. Ketiga keyakinan itu mengajarkan tentang syahadat tauhid, bahwa segala ajaran yang disampaikan melalui rasul, sebagaimana yang ternuat dalam injil pada intinya adalah ajran tentang keimanan tentang keimanan kepada tuhan yang maha tunggal. Ciri utama yang menunjukkan kesamaan ajaran dari Kristen, Islam, dan pangestu serta kebenarannya sebagai petunjuk tuhan yang sejati, adalah pada pokok kepercayaan berupa syahadat bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali tuhan (suparto, 1969:35). f. Pandangan Pangestu Terhadap Agama Agama Meskipun Pngestu memiliki konsep ajaran yang luas yang mencakup tentang ketuhanan, kitab suci, rasul, dan ajaran ajaran tentang jalan hidup, namun pangestu menolak menyebut bahwa jaran pangestu adalah ajrn agama ata ajaran aliran kepercayaan. Walaupun kitab sasangka jati berisi perintah dan larangan, tetapi perinth dana larangan tersebut pelaksanaanya tidak mengandung hukum wajib bagi mereka yang percaya. Isi dari kitab sasangka jati diibaratkan sebagai obor yang memberi terang bagi siapa yang masih diliputi oleh kegelapan, dan hanya ditujukan kepada siapa yang membutuhkan. Posisi ajaran pangestu dan pandangannya terhadap agama agama dengan jelas dapat dilihat dalam kitab sasangka jati(1969:61-65). Disebutkan dalam kitab tersebut bahwa kedatangan sang guru sejati bukanklah hendak merusak atau mengganti peraturan tuhan atau agama yang telah ada. Pangestu juga tidak mendirikan agama baru. Turunya ajaran pangestu adalah untuk member ajaran terang bagi manusia dan memperbaiki kerusakan dunia. Ajaran pangestu hendak memperbaiki orang orang yang telah rusak imanya sehingga menjadi bingung dan berselisih. Pangestu mengakui bahwa ajaran Kristen dan islam adalah ajaran yang benar. Oleh karena itu bagi mereka yang telah memegang syahadat Kristen atau islam secara benar dan telah menjalankan syariatnya maka tidak ada kewajiaban lagi bagi merka untuk melaksanakan ajaran pangestu(1969:64).

2. Sumarah

a. Wahyu Sumarah Di saat bangsa Indonesia menuntut perbaikan nasib, menuntut dibentuknya sebuah parlemen yang sungguh-sungguh, R.Ng.Soekirnohartono1 sangat prihatin memikirkan nasib bangsa Indonesia. Beliau bertirakat memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bangsa Indonesia selekas mungkin memperoleh kemerdekaan. Pada suatu malam (tahun 1935) beliau menerima ilham agar menyebarkan ilmu Sumarah kepada manusia. Beliau menolak, akan tetapi setelah memperoleh penjelasan bahwa beliau hanya sebagai corong, maka diterimalah perintah ilham tersebut dengan syarat Kemerdekaan Indonesia sebagai balasannya. Syarat tersebut di sanggupi oleh Tuhan Yang Maha Esa, meskipun sepuluh kemerdekaannya. b. Asas dan Tujuan Menurut Dr. Soerono Poedjohoesodo2, ketua umum PB Paguyuban Sumarah, asas yang digunakan paguyuban ini dibagi menjadi 2 (dua) bagian3. 1. Tujuan Sosial: a. Mengisi atau mewujudkan sila ke-satu dari dasar Negara kita Pancasila.
b. Mamaju hayuning Indonesia khususnya, dunia pada umumnya.

tahun kemudian Indonesia baru bisa memperoleh

2. Tujuan Individu (Pribadi) a. Untuk mencapai ketentraman lahir dan batin. b. Untuk mencapai kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat. c. Untuk mencapai kemuliaan keturunannya. Untuk tiba pada kedua bentuk tujuan diatas, maka Paguyuban Sumarah mendidik para anggotanya menjadi Ksatria yang berpanca sifat, yaitu: 1. Berbakti kepada Nusa dan Bangsa kalau perlu jiwa dan raga dikorbankan. 2. Berwatak jujur. 3. Berwatak rela dan ikhlas.
1

Pada saat beliau menjabat sebagai pegawai kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pendiri paguyuban sumarah pada tahun 1950. Sejak itu menjabat ketua umum sampai 1972. Kemudian digantikan oleh Drs. Arimurti.
3

Anggaran Dasar Paguyuban Sumarah, artikel 2,3.

4. Bersemangat

gotong

royong,

disertai

dengan

kasih

saying

dan

menyampingkan kepentingan sendiri. 5. Menyerahkan jiwa dan raga atau Sumarah kepada Ilahi. c. Kehidupan di Dunia Dunia ini hanyalah sebagai ujian bagi orang Sumarah. Tuhan Yang Maha Penentu dari Lulus dan Tidak Lulusn-nya manusia di dunia ini, yang berhasil lulus berarti kembali ke asalnya yang Abadi, sedangkan yang tidak lulus harus mengulangi hidup ini sekali lagi (reinkarnasi). Orang Sumarah percaya kepada Hukum Karma. Dus, keluarga Sumarah harus senantiasa menyebar sebanyakbanyaknya biji kebaikan sewaktu masih hidup di dunia, agar keturunannya kelak dapat memetik buah kebajikan yang telah ditanamnya. Dalam pergaulannya orang Sumarah hendaknya menampakkan ramah tamah dan supel dalam segala tindak tanduknya. Orang Sumarah harus tunduk kepada semua peraturan pemerintah, sedapat mungkin berjuang demi kesejahteraan Nusa dan Bangsa. Dalam hal perkawinan, dianjurkan untuk tidak beristri lebih dari satu (tidak berpoligami), sumber ketidaktaatan dan ketentraman lahir batin seseorang adalah disebabkan oleh poligami, dengan demikian dianjurkan untuk tidak berpoligami. d. Tentang Tuhan Allah itu Ada, yang senantiasa memerintahkan dan menguasai, dalam kalimat lain Allah adalah dzat Yang Maha Esa yang tempatnya di dalam diri manusia diwakili oleh Urip (hidup)4 menurut Dr. Soerono jiwa manusia adalah pletikan dari Tuhan. e. Sujud Sumarah Hubungan kontak langsung antara Tuhan dengan manusia dilakukan dengan latihan Sujud Sumarah. Cara sujudnya menggunakan sistem Pamong; bukan sistem Kyai, Guru, atau Bhiku karena sistem tersebut mengandung unsurunsur egoisme (pamrih). Dalam sistem pamong ini tidak ada unsur pamrih, demikian menurut alas an mereka sujud dalam pengertian Sumarah adalah
4

Soerono Prodjohoesodo, Dr. Paguyuban Sumarah pada Pancawarsa III. Yogyakarta 1965. hal.

persekutuan dengan Tuhan. Orang harus berusaha sedapat-dapatnya untuk bersujud hingga mencapai martabat Sumarah atau persekutuan dengan Tuhan dengan pasrah dan menyerah. Martabat tersebut telah berhasil untuk mempersatukan angan-angan rasa dan budi. f. Sesanggeman (Pernyataan Sanggup) Untuk dapat diterima sebagai anggota Paguyuban terlebih dahulu harus menempuh semacam ujian. Setiap calon anggota diharuskan untuk menyatakan sesanggeman. Kepadanya dibacakan 9 pasal sesanggeman, sebagai berikut : 1. Kepercayaan kepada Allah dan Nabi-Nya serta Kitab-kitab-Nya. 2. Kesanggupan untuk senantiasa ingat kepada Allah, menjauhkan diri dari rasa mengaku (menyatakan berhak atas segala sesuatu), kumingsun (sombong), dan percaya kepada kesunyatan dan sujud Sumarah. 3. Berusaha menjaga kesehatan badan, ketentraman jasmani, dan kesucian ruh, pembangunan watak, percakapan, dan tindakan. 4. Mempererat persaudaraan yang berdasarkan kasih. 5. Sanggup berusaha untuk memperkembangkan kewajiban hidup dalam masyarakat dan Negara yang akan menghasilkan perdamaian dunia. 6. Sanggup untuk bertindak benar, menaati undang-undang Negara dan menghargai sesamanya. 7. Menjauhkan diri dari perbuatan jahat. 8. Rajin berusaha meluaskan pengetahuan lahir batin. 9. Tidak fanatik, hanya percaya kepada kesunyatan yang berfaedah bagi masyarakat. Apabila yang bersangkutan telah menyatakan sesanggeman tersebut, maka segera yang bersangkutan mulai mengadakan latihan bersujud yang dipimpin oleh seorang Pamong Pemegang.

g. Martabat Tingkatan

Adapun tingkatan-tingkatan yang telah kita sebut di atas, dapat juga di bagi lagi menjadi tiga martabat, yaitu:

1. Martabat Tekad, ialah tingkat pemegang, tingkat satu dan dua. 2. Martabat Imam, ialah terdiri dari tingkat tiga dan empat. 3. Martabat Sumarah, yaitu tingkat kelima atau sama dengan tingkat doctoral di

perguruan tinggi. Pada tingakatan Martabat Sumarah ini diberikan kuliah khusus oleh apa yang disebut warono, yakni pemimpin umum yang dianggap sebagai corong Tuhan Yang Maha Esa. Dus, yang memberikan kuliah adalah dzat Yang Maha Esa itu sendiri karena warono sendiri tidak tahu menahu terlebih dahulu tentang sesuatu yang akan dikuliahkan. Kuliah-kuliahnya biasanya terdiri atas wewarah sumarah.

3. Sapta Dharma
Diberi nama Sapta Dharma karena mengandung tujuh macam Wewarah Suci yang merupakan Kewajiban Suci. Jadi Sapta Dharma artinya Tujuh Kewajiban Suci 5 dengan demikian Wewarah ini merupakan kewajiban mutlak pemeluk Sapta Dharma. Terdiri dari : - Setia dan tawakal pada adanya Pancasila Allah. - Setia menjalankan undang undang negara dengan jujur dan suci hati. - Turut serta menyingsing lengan baju menegakkan berdirinya Nusa dan Bangsanya. - Menolong siapa saja bila perlu tanpa mengharapkan balasan, melainkan berdasarkan cinta kasih. - Berani hidup berdasarkan kepercayaan penuh atas kekuatan diri sendiri. - Sikapnya dalam hidup bermasyarakat, kekeluargaan, harus susila beserta haluannya budi pekerti, selalu merupakan petunjuk jalan yang mengandung jasa serta memuaskan.
- Yakin bahwa keadaan di dunia ini tiada abad, melainkan selalu berubah-ubah

(Anyokro Manggilingan).
5

Sri Pawenang, S.H. , Dari Gelap Menjadi Terang, Yogyakarta 1965 hal.6

Pemimpin agama Sapta Dharmo ini bernama Sri Pawenang, S.H. alias Rr. Soewartini yang bergelar Juru Bicara Tuntunsn Agung Agama Sapta Dharmo dan berpusat di Yogyakarta. Beliau adalah seorang sarjana hokum alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Menurut keterangan beliau agama ini telah memiliki syarat syarat yang diperlukan untuk disebutAgama yang sederajat dengan agama agama lain. a. Penyebaran Sapta Dharmo Aliran / agama Sapta Dharmo mempunyai semacam Corps Penyebar yang bertugas menyebarkan ajaran ajaran Sapta Dharmo. Corps ini melawat sampai ke daerah daerah pedalaman Sumatera Selatan. Dalam menunaikan tugas mereka selalu menyebarkan gambar gambar, buku-buku, siaran-siaran bergambar secara gratis.Dan salah seorang yang sering menyertai rombongan ini ialahjuru bicara Tuntunan Agung sendiri, Sri Pawenang. Dibandingkan dengan aliran aliran kepercayaan lain maka sapta Dharma inilah yang paling giat meresmikan cabang cabangnya di daerah-daerah. b. Sembayang Hyang Di dalam Buku Wewarah Sapta Dharmo Bab II tercantum perihal

kewajiban Sujud bagi warga Sapta Dharmo. Sujud ini dilakukan minimum 1 x dalam 24 jam. Dan sangat utama dikerjakan lebih dari sekali saja. Dalam agama ini istilah sujud tersebut searti dengan Sembah Hyang = Sembayang. Setiap warga Sapta Dharmo yang telah melaksanakan Sujud akan memperoleh Sabda Tuhan untuk menolong sesame makhluk tanpa mengharapkan upah, janji-janji berupa apapun juga. c. Hening dan Racut Hening ialah menenangkan badan seluruhnya dengan menghilangkan semua angan angan pikiran. Sedangkan racut adalah memisahkan rasa dengan pengrasa (angan-angan pikiran) dengan tujuan berlatih menghadapkan yang Maha Suci kepada yang maha Kuasa. d. Olah Rasa

Olah Rasa yaitu sebuah tindakan yang dimaksudkan untuk mencapai budi yang luhur yang harus dimiliki oleh setiap satria Utama. Yaitu mereka yang ingin senantiasa waspada penuh Waskita bijaksana dalam melihat, mendengar, dan berkata ataupun mencium suatu bau.

4.

Subud (Susila Budhi Darma)


Pendiri dari Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Subud ialah Bapak R.M. Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo yang pada tanggal 23 Juni 1987 telah wafat di Jakarta dalam usia 86 tahun. Latihan Kejiwaan Subud diterima oleh Bapak Muhammad Subuh dalam suatu pengalaman gaib pada suatu malam di tahun 1925, dan delapan tahun kemudian, pada tahun 1933 Bapak Muhammad Subuh menamakan apa yang diterimanya ini sebagai latihan kejiwaan. Subud sebagai organisasi dibentuk dan resmi berdiri tanggal 1 Pebruari tahun 1947 di Yogyakarta. Subud mulai menyebar ke luar negeri sejak tahun 1954, dibawa oleh seorang lnggris yang beragama Islam, Husein Rofe, Bapak Muhammad Subuh memulai lawatan ke luar negerinya di tahun 1957, dan semasa hidupnya beliau telah berpuluhpuluh kali berkunjung ke berbagai negara di dunia. Subud pada waktu ini telah tersebar ke lebih dari 70 negara di dunia. Aliran kebatinan ini terkenal dengan singkatan namanya di kalangan masyarakat dengan subud akronim dari Susila Budhi Darma. Dalam anggaran dasarnya dapat disimpulkan bahwa subud tidak lebih dari sebuah aliran kebatinan dan bukan agama ataupun aliran kepercayaan.
-

Susila :

Hati dan rasa perasaan yang bersosial dan yang bertindak tidak menyalahi garis Pri Kemanusiaan.
-

Budhi:

Kekuasaan daya hidup yang bersemayam terlapis dari pengaruh nafsu yang bersarang dalam hati.
-

Dharma:

Penyerahan, ketawakkalan dan keikhlasan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Ini menjadi lambang dari manusia yang memiliki rasa diri yang tenang dan jernih dan mampu menerima kontrak dari hidup yang Maha Besar dan Suci. a. Tujuan Subud bukan semacam agama tetapi bersifat latihan kejiwaan. Berusaha melepaskan diri dari segala pengaruh nafsu, kehendak, dan akal pikiran. Tujuannya ialah menuju ke arah yang Maha Esa, Tuhan yang telah membangkitkan dan menciptakan segalanya. Aliran kebatinan ini merupakan tempat melatih Susila, Budhi, Kehendak, Akal, dan Pikiran dan benar-benar dibangkitkan oleh kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam mukadimah AD ART subud terdapat pengertian seperti ternukil dibawah ini: Dengan segala apa yang ada pada kami, kami yakin bahwa berdasarkan kodrat Tuhan untuk dunia dan keduniaan, kita harus mengamalkan dan menggunakan alat keduniaan sepenuhnya, untuk menyempurnakan kesempurnaan hidup yang abadi dan untuk kemuliaan keturunan, kita telah memiliki jiwa dan jiwa minta kesempatan pula untuk selalu berkembang yang selanjutnya memberi arti dan arah bagi segala gerak dan perbuatan dalam amal kita kepada hidup, sesame hidup dan diri, dan jaln kita kepada jalan-Nya. Bahwasannya di dalam kami hendak memperkembangkan jiwa dan mengajak umat ke jalan yang sama timbul soal-soal dunia dan keduniaan, di dalam perjalanan ini timbullah pihak pembimbing dan yang dibimbing tua dan muda, namun semua seia sekata ingin berkumpul oleh kehendak mulia yang sama yaitu bersatu yang selanjutnya memberi pengertian bahwa itu akan menyempurnakan tugas dan maksud kami, demi itu untuk menyempurnakan alat persiapan dan suasana, dan dalam kami hendak mencapai tujuan memperkembangkan jiwa kami berhimpun atau satu dalam satu persaudaraan dengan asa kekeluargaan bebas dari perbedaan bangsa, agama, dan aliran. Pemimpin Kejiwaan Subud: ialah Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo. Beliau berkedudukan di Jakarta. Bahkan bantuan pengobatan kejiwaan Pak Subuh maka penganutnya sudah merambah internasional, bahkan seorang Eva Bartok artis Hollywood

terkenal adalah seorang yang telah menerima ketentraman jiwa melalui ajaran Subud. Peristiwa tersebut telah menggemparkan dunia pers karena pada tahun 1958 aktris yang mandul tanpa suami ini tiba-tiba melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Deanne. Eva Bartok bersama anaknya kemudian menetap di Cilandak, Jakarta di kompleks Subud tempat pak Subuh mengembangkan ajaran-ajarannya. Penganut Subud diluar negeri tersebar di seluruh dunia seperti di kotakota : Teheran, Baghdad, Dublin, Areo, Milan, Roma, Akita, Gifu, Kyusu, Sendal, Tokyo, Nairobi, Penang, Mexico city, Rabat, Amsterdam, Findhoven, Den Haag, Leiden, Rotterdam, Port Moresby, Auckland, North Island, Hyderabad, Lisbon, Bulaswyo, Singapura, Durban, Johannesburg, Stockholm, Malno, Geneva, Lausane, Zurich, Madrid, Port of Spain, Istanbul, Mbarara, Chicago, Los Angeles, New York, San Fransisco, Montevideo, Caracas, dll. Ajaran kejiwaan subud lebih terkenal di kota-kota diatas dibanding dengan di pelosok Indonesia. Penganutnya terdiri dari berbagai macam suku, bangsa, ras, agama, dan golongan, serta kehidupan social di seluruh dunia.

B.

Jagad Gede (macrocosm: alam semesta) Jagad Cilik (microcosm: manusia)


Sebelum kita membahas tentang Makrokosmos dan Mikrokosmos kita harus mengerti apa itu yang dimaksud dengan kosmos.Kosmos berasal dari bahasa Yunani yang berarti teratur atau berada dalam harmoni.Sedangkan kosmos secara istilah adalah dunia. Dunia secara keseluruhaan biasa disebut dengan Makrokosmos atau dalam istilah Jawa disebut Jagad Gede,Dalam Makrokosmos sendiri ada Mikrokosmos yang berarti setiap wujud yang ada di dunia,umumnya yang disebut Jagad Kecil atau Mikrokosmos adalah manusia.

Mikrokosmos dan Makrokosmos saling berhubungan sebagaimana dicontohkan oleh Muhammad Damami Makrokosmos harus senantiasa baik ,sebab dengan baiknya mikrokosmos maka keseimbangan Makrokosmos dengan Mikrokosmos menjadi terjamin6,seperti aliran kejawaan tentang Dewa Ruci atau Bhima Suci yang menganggap bahwa didalam diri manusia yang kecil,tetapi didalamnya memuat segala sesuatu yang ada di Alam Raya .Hal itu tidak berpengaruh sebaliknya karena segala sesuatu yang ada dalam diri manusia belum tentu ada pada sesuatu diluar dirinya.
C.

Manunggaling Kawula Gusti atau Wahdatul Wujud


Manunggaling kawulo gusti adalah konsep yang di pertama kali disebarkan oleh syekh siti jenar atau terkenal dengn sebutan syeh lemah abang di tanah jawa menurut beliau semua makhluk dan alam semesta ini tersusun dalam suatu susunan yang hirarkis atau bangunan yang bertingkat-tingkat sedangkan puncak dari bangunan itu Allah yang satu. Setiap tingkatan atau bangunan berasal dari taraf atau tingkatan yang lebih tinggi , demikian seterusnya bahwa pentarafan itu terjadi baik ke bawah maupun keatas melalui jalan emanasi7. Hanya manusia yang memiliki kemampuan melakukan kenaikan ke taraf di atasnya hingga taraf yang tertinggi, yaitu Allah .di sinilah di kenali ajaran Syeikh Siti Jenar, Khususnya tentang konsep Manunggaling Kawulo Gusti Menurut syekh siti jenar kewajiban syara dengan kewajiban melakukan berbagai amalan seperti rukun islam tidaklah perlu ketika puncak penyatuan Hambapencipta itu terjadi. Inti terdalam dari dari syara adalah membebaskan manusia dari segala beban hukum. Kesatuan dirinya dengan Dzat Tuhan atau sebaliknya Dengan jelas ia menyatakan dirinya bahwa (syeh siti jenar) adalah Tuhan dan Tuhan Adalah Dirinya dan ajaran ini mengantarkan pada kesimpulan bahwa manusia yang telah mencapai taraf penyatuan dengan Tuhan , tidak lagi terbebani hukum dan bebas dari hukum. Yang pada akhirnya konsep ini coba dilebur dan batasi perkembangannya oleh para walisanga karena dianggap merupakan ajaran yang menyesatkan. Dengan melakukan eksekusi terhadap Syeh Siti Jenar, namun ajarannya terlanjur tersebar luas dikalangan murid-muridnya. Dalam tasawuf Islam atau dikalangan orang sufi terdapat jenjang atau tataran dalam memahami sebuah perilaku spiritual yaitu;
6

Mohammad Damami, Makna Agama dalam Masyarakat Jawa hal. 39 mengalir

a. Syariat 8 b. Tarekat9 c. Hakikat10 d. Makrifat11 Sufi kata ini berasal dari kata shafa atau shafwun yang berarti bening, sufi yakni, manusia-manusia yang selalu menyucikan diri dengan latihan-latihan kejiwaan atau batin. Lih. Suwardi Endraswara (2003;68.). Namun dalam prakteknya konsep ini membutuhkan kesiapan mental sertaspiritual yang tinggi. Pada perkembangan selanjutnya dari konsep atau yangkemudian dalam tulisan ini akan disebut Manunggaling Kawula Gusti tidak hanya menuju pada arah bentuk penyembahan akan tetapi juga digunakan untuk memahami hakikat alam dan manusianya Penjabaran konsep Manunggaling Kawula Gusti dalam hubungannya dengan Dzat Illahiah adalah menuntut keselaran dalam mencapai sebuah kesatuan antara apa yang dilakukan dengan apa yang ada dalam hatinya bentuk manembahing rasa. Jadi bukanlah hanya mutlak penyatuan diri secara fisik dengan Dzat Illahiah. Tapi bagaimana manusia bisa berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Hal ini menuntut kepada manusia untuk lebih dalam menghayati denganseksama dan sungguh-sungguh tentang hal-hal praktek penyembahan atau ibadahterhadap Tuhan. Dia harus tahu betul makna dan tujuan dari penyembahannya hingga terjadi satunya rasa dan tahu ada apa dibalik semua rahasia alam semesta hingga kadunungan atau mendapat Dzat Illahiah. Dalam serat Sastra Gendhing karya Sultan Agung, pupuh pangkur dijelaskan tentang konsep bahwa Tuhan berada dalam tubuh manusia Dalam hubungan vertikal terjadi pergumulan yang sifatnya induvidu,dalam hubungan ini justru bisa kebalikannya atau malah keduanya. Manunggalingkawula lan
8

istilah Syariat oleh para ulama dipergunakan untuk pengertian segala aturan yang ditentukan A11ah untuk para hamba-Nya. baik yang berkenaan dengan soal-soal akidah maupun yang bertalian dengan masalah-masalah hukum. Aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah itu dinamai Syariat,
9

Tarekat (tariqat) secara harfiah berarti jalan, cara, atau metode dengan pengertian: jalan yang harus ditempuh oleh setiap calon sufi untuk mencapai tujuannya, yaitu berada sedekat mungkin dengan Allah
10

Hakikat : Mengetahui arti makna sesuatu pada kehidupan Mengetahui pengenalan dirinya kepada ALLAH SWT

11

Gusti disini cenderung pada tatanan hierarkis antara pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya. Terjadinya hubungan antara Gusti (Raja/pemimpin) dan Kawula (rakyat) yang harmonis, dimana Raja bisa mengoptimalkan fungsi dan kedudukannya dan rakyat bisa nyengkuyung (mendukung) serta berfungsi sesuai dengan fungsinya masing- masing. Apabila kita melihat serta mengamati, ternyata manunggaling kawula Gustimasih dipegang oleh sebagian masyarakat Jawa dalam mengaktualisasikan dirimereka dengan alam serta Dzat Illahiah. Dan hal ini merupakan sesuatu yang ideal.Bukan berarti manunggaling kawula Gusti bermakna kita menjadi Tuhan akan tetapi Gustidisini mempunyai beberapa arti Gusti bisa untuk Tuhan, Raja, atau sukma kita sendiri, tergantung konteks mana yang kita pakai. Dan dari sudut pandang mana kita melihatnya. Proses pencarian Gusti, atau dalam ungkapan Jawa menjadi kepanjangan bagusing ati (kesucian hati), harus melalui tingkatan serta latihan yaitu dengan mengenali watak atau sedulur papat kita, yaitu nafsu supiyah12, aluamah13, amarah14 dan mutmainah15, apabila kita bisa mengenali nafsu ini dan mengendalikannya maka kita sudah menginjak tataran awal manunggaling kawula Gusti, yaitu kesucian hati karena kita tahu siapa kita. Dan hal tersebut merupakan modal untuk lebih bisa dekat dengan Dzat Illahiah yang kita cari.

D.

Manungsa Utama dalam Pandangan Masyarakat Jawa


Orang jawa juga mengenal istilah manungsa utama yang dalam Islam disebut dengan insan kamil. Untuk mencapai taraf ini, orang Jawa mengenal proses ajur ajer yang dalam istilah tasawuf disebut fana, yaitu menganggap diri ini tidak ada, hanya Tuhanlah yang Maha Ada. Karena itu orang Jawa selalu menyikapi hidup dengan penuh keyakinan bahwa hanya Tuhanlah yang kekal dan abadi. Dunia bathin ini dimanifestasikan dalam istilah menyang donya mung mampir ngombe. Meskipun
12

keinginan untuk kesenangan duniawi/kaya sifat kejam/pembunuh dan ingin berontak

13

14

Sifat manusia kearah politik, kecerdasan yang cenderung sombong (pemarah, merasa pandai yang tidak mau dilampaui orang lain
15

mengutamakan nafsu ibadah kepada tuhan yang Maha Esa

demikian, hidup yang sementara ini tidak dijalani dengan hanya berpangku tangan, tapi dengan perjuangan dan proses. Mereka memahami bahwa hidup adalah perjalanan dari tiada, ada, ke tiada lagi. Kerena mereka memahami bahwa hidup sudah ditentukan, dan hidup hanya untuk sementara, maka orang Jawa tidak menjalani hidup ini dengan ngaya (ambisius). Hati mereka merasa tenang dan menyikapi hidup sebagai cakramanggilingan, yang artinya berputar dari waktu ke waktu, menuju kesempurnaan.