ANALISIS TATANIAGA DAN PASAR KAYU SENGON DI KABUPATEN WONOSOBO DAN KABUPATEN TEMANGGUNG, JAWA TENGAH (Marketing Analysis

of Sengon Wood in Wonosobo and Temanggung Districts, Central Java)
Oleh/By : Ismatul Hakim, Indartik dan Elvida Y. Suryandari
Pusat Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan Jln.Gunung Batu No.5, Bogor, Jawa Barat Telp. 0251 88633944; Fax.0251 88634924 Email :

Naskah diterima : 1 Mei 2009 / Edit terakhir : 29 Mei 2009
ABSTRACTS The wood production of sengon in Wonosobo increased until 2007 which was followed by the price increse in several level of market chains as well. The increase demand of sengon wood is caused by the decrease of wood supply from the natural forest in outside of Java, the decrease of of woof production from Java state forest (Perum Perhutani) and also because of enhancement of the captive market industries use the raw material of wood for wood workings, moundings, laminated boards, bare core and plywood industries. There are 5 (five) channels of wood market chains either in Wonosobo or Temanggung Districts in which the actors like farmers, wood cutters (intermediary trader 1), depo (intermediary trader 2), supplier (intermediary trader 3) and industries. It is depicted that the profit margin for farmers tend to be the lowest one among the others. Therefore, it is recommended to strengthen the bussines coooperative institution based on a partnership principle between stakeholders like trader or industrial actors. The Ministrial decrees on people's wood products administration No P 51/2006, P.62/2006 and P.33/2007 should be followed up by The Ministry Of Forestry (The D of Forest Product), Provincial Forestry Office, Provincial Industrial and Trade Office, and The Forestry office and Industrial and Trade office of The District through a strong coordination which will improve on people's sengon wood bussiness. Key words : sengon, demand, supply, community forest, state forest, cooperative bussiness institution (partnerships)

ABSTRAK Produksi kayu sengon rakyat di Wonosobo mengalami peningkatan terutama hingga tahun 2007 diiringi dengan peningkatan harga pada berbagai tingkat pelaku usaha sengon. Peningkatan permintaan kayu sengon diduga disebabkan oleh semakin berkurangnya pasokan kayu dari luar jawa, menurunnya produksi kayu dari kawasan hutan negara (Perum Perhutani) dan semakin meningkatnya pangsa pasar dan jumlah unit industri yang membutuhkan bahan baku kayu sengon untuk berbagai jenis produk seperti kayu bangunan, moulding, papan lamina dan kayu lapis. Hal tersebut menyebabkan kenaikan harga kayu sengon di setiap titik daripada rantai tata niaga kayu semgon di Kabupaten Wonosobo dan Temanggung, dimana pelaku pemasaran kayu sengon terdiri atas petani, penebas, depo, supplier dan industri. Dari hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa share keuntungan paling rendah diterima oleh petani. Guna menjaga ksinambungan usaha hutan rakyat sengon, maka diperlukan upaya perlindungan kepada petani dari pihak pemerintah dan upaya penguatan kelembagaan petani misalnya dengan membentuk kelembagaan usaha bersama (mitra) antara petani dengan pihak pengusaha industri

99
Analisis Tataniaga dan Pasar Kayu Sengon di .......... (Ismatul Hakim, Indartik dan Elvida Y. Suryandari)

). Hal. 6 No.769.115 . pasokan. Selain itu juga guna mendapatkan produksi yang tinggi diperlukan pemangkasan atau prunning. Fluktuasi harga yang tinggi pada pasar kayu sengon merupakan suatu fenomena yang umum akibat ketidakstabilan (inherent instability) pada sisi penawaran. Hal ini disebabkan menanam sengon di Wonosobo cukup mudah karena sesuai dengan kondisi iklim dan tanah. permintaan. PENDAHULUAN A. Adapun beberapa tanaman berkayu yang dikembangkan di hutan rakyat adalah : Sengon (Paraserianthes falcataria). Akasia (Acacia sp. pada tahun 2006 bertambah menjadi 759. 62/2006 dan P 33/2007 disarankan agar dibangun koordinasi yang baik antara pemerintah pusat (Dephut) dan Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Tengah. hutan rakyat.8 tahun). Hal ini diduga berkaitan dengan rendahnya produktivitas dari kayu sengon. Namun demikian terdapat kendala teknis dalam usaha peningkatan mutu dan produksi sengon seperti serangan karat tumor pada batang kayu sengon. Latar Belakang Industri pengolahan kayu di Indonesia merupakan salah satu barometer peningkatan perekonomian nasional dan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan penerimaan Negara dari sektor kehutanan. kelembagaan usaha bersama. Produktivitas kayu sengon akhir-akhir ini mengalami fluktuasi. Selain itu pembangunan hutan rakyat juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan. Tanaman sengon adalah salah satu tanaman kehutanan yang cukup potensial dikembangkan di Wonosobo. kayu putih (Melaleuca leucadendron). Jika dilihat produksinya. Sungkai (Peronema canescens).653.70 m3 atau mengalami peningkatan sebanyak 747. Jati putih (Gmelina arborea) dan lain-lain. Hal ini berarti harga kayu sengon disebabkan oleh sifat alami dari produksi kehutanan. 100 JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. Pembangunan hutan rakyat dipandang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. sedangkan harga kayu sengon ditingkat produsen hingga konsumen (industri) cenderung mengalami peningkatan yang cukup berarti dari tahun ke tahun.34 m3. dapat ditanam secara tumpang sari dan sengon sudah memiliki pasar yang jelas. Kata kunci : sengon. 99 . pada tahun 2005 jumlah penebangan tegakan sengon menghasilkan kayu sebesar 11. hutan negara. 2006).884.36 m3 (BPS. Dinas Perindustrian dan Perdagangan melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) masing-masing dan Dinas Kehutanan Kabupaten dalam meningkatkan penataan dan pembinaan pengusahaan hutan rakyat sengon. Minat masyarakat untuk menanam kayu sengon cukup tinggi. yaitu dalam jangka pendek tidak dapat merespon tambahan permintaan atau tidak dapat mengurangi produksi pada saat harga yang rendah. Perkembangan industri perkayuan yang demikian pesat mendorong peningkatan permintaan bahan baku kayu oleh industri sehingga memerlukan pasokan tambahan bahan baku yang berasal dari luar kawasan hutan. kemitraan I. Dalam kaitannya dengan dengan Permenhut tentang tata usaha kayu rakyat No P. depo. Pada hutan rakyat ini dilakukan penanaman dengan mengkombinasikan tanaman perkayuan dengan tanaman pangan/palawija yang biasa dikenal dengan istilah agroforestry. baik pada musim kemarau maupun musim hujan secara rutin.51/2006.pengolahan kayu sengon. memiliki daur yang pendek (5 . 2 Juni 2009. P.

Data primer diperoleh langsung dari petani dan pelaku pemasaran kayu sengon. II. pemilik depo dan industri.. Besarnya biaya tataniaga akan mengarah pada semakin besarnya perbedaan harga antara petani sebagai produsen.. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini antara lain adalah : 1. METODOLOGI PENELITIAN A. tenaga kerja. Pemilihan lokasi berdasarkan sentra produksi kayu sengon. Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Kaliwiro dan kecamatan Kepil. 101 Analisis Tataniaga dan Pasar Kayu Sengon di . sortasi. supplier dan industri yaitu meliputi harga ditingkat petani. Indartik dan Elvida Y.. di Desa Mburat Kecamatan Kepil dan desa Kaliwiro kecamatan Kaliwiro. Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. biaya-biaya pemasaran (panen. pemasaran termasuk data mutasi kayu sengon. dengan menggunakan metode survei. yaitu melakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner yang terstruktur. seperti pedagang pengumpul 1 (penebas).. Persoalan harga sengon merupakan bagian dari masalah tataniaga kayu sengon yang tidak dapat dipisahkan karena mempunyai dampak langsung terhadap pelaku dalam pemasaran kayu sengon. luas hutan rakyat. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap harga sengon khususnya di kabupaten Wonosobo dan Temanggung.. Kabupaten Wonosobo dan kecamatan Kandangan di kabupaten Temanggung. Penentuan daerah penelitian ini dilakukan secara sengaja atau purposive. Pada sisi sistem pemasaran kayu sengon. Mengidentifikasi saluran pemasaran kayu sengon. 2. harga ditingkat pedagang. (Ismatul Hakim. pedagang pengepul. dan lain-lain) serta semua data input output usahatani. pendapatan petani akan meningkat dengan semakin efisiennya saluran pemasaran kayu tersebut seiring dengan peningkatan harga di tingkat industri. Sementara itu persoalan kelancaran pemasaran sangat tergantung pada kualitas produk yang dihasilkan oleh petani produsen dan juga upaya penyempurnaan kinerja lembaga-lembaga pemasaran dan sistem pemasarannya sendiri. Data sekunder yaitu data yang diambil dari instansi Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat yaitu data produksi. Hubungan antara harga yang diterima petani produsen dengan harga yang dibayar oleh konsumen pabrikan sangat bergantung pada struktur pasar yang menghubungkannya dan biaya transfer.. efisiensi pemasaran kayu sengon melalui analisis margin pemasaran. Suryandari) . Apabila semakin besar margin pemasaran ini akan menyebabkan harga yang diterima petani produsen menjadi semakin kecil dan semakin mengindikasikan sebagai sistem pemasaran yang tidak efisien (Tomek and Robinson.Selanjutnya banyaknya lembaga tataniaga yang terlibat dalam pemasaran sengon akan mempengaruhi panjang pendeknya rantai tataniaga dan besarnya biaya tataniaga. margin keuntungan dan share keuntungan. yang merupakan salah satu sentra produksi di Kabupaten Wonosobo. 1990).. depo. B. B. transportasi. bongkar muat...

2 Juni 2009. B2. 2001) : MP = Pr Pf atau MP = ? Bi + ? Ki Keterangan : MP Pr Pf ? Bi Margin pemasaran Harga tingkat konsumen (user) Harga tingkat produsen Jumlah biaya yang dikeluarkan lembaga lembaga pemasaran (B1. Secara matematis margin pemasaran dihitung dengan formulasi sebagai berikut (Tomeck and Robinson.C. 6 No. Analisis Data Analisis margin pemasaran digunakan untuk mengetahui distribusi biaya dari setiap aktivitas pemasaran dan keuntungan dari setiap lembaga perantara serta bagian harga yang diterima petani. Atau dengan kata lain analisis margin pemasaran dilakukan untuk mengetahui tingkat kompetensi dari para pelaku pemasaran yang terlibat dalam pemasaran/disribusi. K3…Kn) : : : : Keuntungan lembaga pemasaran : Ki = Hji – Hbi – Bpi ? s? 1 m? 1 Keterangan : Hji : Harga jual lembaga pemasaran ke -i Hbi : Harga beli lembaga pemasaran ke-i Bpi : Biaya pemasaran lembaga pemasaran ke-i m : Jumlah jenis biaya s : Jenis biaya pemasaran Bagian keuntungan dan biaya pemasaran masing-masing lembaga pemasaran : Ski = Sbi = ki Pr – Pf bi Pr – Pf x 100% x 100% Keterangan : SKi : Bagian keuntungan lembaga pemasaran i SBi : Bagian biaya fungsi pemasaran lembaga pemasaran i Sedangkan besarnya bagian atau share yang diterima petani (SP) dari harga eceran dapat dihitung dengan menggunakan: Sp = Pf x 100% Pr 102 JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol.Bn) ? Ki : Jumlah keuntungan yang diperoleh lembaga-lembaga pemasaran (K1. Sudiyono.. Hal.115 . 99 . K2. 1990. B3….

. Potensi hutan rakyat dan produksinya Luas hutan rakyat di kabupaten Wonosobo dan Temanggung tidak mengalami perubahan yang cukup berarti. Indartik dan Elvida Y.00 Luas Hutan Rakyat (area of community forest (Ha) ) 2006 2007 19. Data luas hutan rakyat di Kabupaten Temanggung pada tahun 2007 dan 2008 belum diperoleh (Tabel 1). Pringsurat.00 15.58 Potensi kayu dan industri kayu hutan rakyat dapat terus didorong mengingat semakin terbatasnya pasokan kayu dari hutan negara.619.981. kabupaten Wonosobo disebelah barat.. dan 109° 43' dan 110° 04' Bujur Timur.02 persen dari luas Jawa Tengah.468 hektar atau sekitar 3.468 hektar dengan tingkat kemiringan sebagian besar lebih dari 30%.969. Luas wilayah 98.46 15.. Tabel 1.III. B.969. Bejen. Kaloran. Suryandari) .84 ha. Area of community forest in district of Wonosobo and Temanggung Kabupaten (District) Wonosobo Temanggung 2005 18. Beberapa wilayah Kabupaten Wonosobo merupakan daerah yang labil sehingga rawan terjadi tanah longsor (BPS Wonosobo. Wilayah administrasi kabupaten temanggung berbatasan dengan kabupaten Kendal di sebelah utara.085. kabupaten Magelang sebelah selatan dan kabupaten Semarang di sebelah timur. Secara administratif luas kabupaten temanggung kurang lebih 87. Perkembangan produksi kayu sengon dari tahun 2005 2008 di kabupaten Wonosobo dan Temanggung mengalami fluktuasi (Tabel 2).. (Ismatul Hakim. Kabupaten Wonosobo Sejak tahun 2003 dibagi menjadi 15 kecamatan dengan tambahan 2 kecamatan. 2006).. sedangkan di Kabupaten Temanggung berkisar antara 15. Kabupaten Wonosobo terletak di antara 7° 11' dan 7° 36' Lintang Selatan. Gambaran Umum Lokasi Secara administratif Kabupaten Wonosobo terbagi menjadi 15 kecamatan..46 ha....485 ha sampai dengan 15.065 ha (Dinas Kehutanan dan Perkebunan Temanggung. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kedua kabupaten ini merupakan sentra penghasil kayu sengon rakyat di Propinsi Jawa Tengah.374 ha sampai dengan 19.84 2008 18. yaitu Kecamatan Kalibawang dan Sukoharjo.250 meter di atas permukaan laut. Di kabupaten Temanggung.374. Luas hutan rakyat di kabupaten Wonosobo dan Temanggung Table 1. kecamatan-kecamatan yang menjadi sentra atau produksi kayu sengon antara lain kecamatan Kandangan.00 19.619. Candiroto. 2005) yang terdiri dari 20 kecamatan dan 288 desa. 103 Analisis Tataniaga dan Pasar Kayu Sengon di . Sampai tahun 2003 kecamatan-kecamatan tersebut terdiri dari 236 desa dan 28 kelurahan Kabupaten Wonosobo merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian berkisar antara 270 meter sampai dengan 2.485. yaitu kecamatan yang memiliki potensi tegakan lebih dari 5000m3. Luas wilayah Wonosobo pada tahun 2006 tercatat sebesar 98. Gemawang dan Kranggan. Luas hutan rakyat di Kabupaten Wonosobo berkisar antara 18.

dengan rata-rata produksi pertahun sebesar 530.970 165. 99 . Temanggung sengon wood in Wonosobo and Temanggung District Kabupaten (District ) Wonosobo Temanggung Produksi kayu sengon (Production of sengon wood ) (m 3) 2005 2006 2007 2008 427. sementara di lain pihak sebagian besar petani lokal biasanya tidak melakukan pemeliharaan secara intensif baik penyiangan. Faktor lain yang diduga menyebabkan penurunan produksi yang cukup tajam adalah berubahnya sistem tata usaha kayu rakyat dengn sistem SKAU.575 39. Penurunan produksi diduga karena adanya serangan penyakit Karat Tumor.529 13. Sengon plantation in state forest (Perhutani-South Kedu) 104 JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. dapat dilihat bahwa produksi kayu sengon di wonosobo mengalami peningkatan dari tahun 2005 hingga tahun 2007. 6 No. sehingga Dinas Kehutanan tidak dapat memantau peredaran kayu rakyat. Produksi kayu sengon di Kabupaten Temanggung mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya industri kayu lapis di daerah Temanggung. Pengembangan kayu sengon telah dilakukan oleh pihak Perhutani KPH Kedu Selatan.115 . 2 Juni 2009.581 Produksi rata-rata/thn (mean production/ year) 530. Perhutani telah bekerjasama dengan petani setempat untuk mengembangakan sengon di lahan milik negara.403 43.943 50.570 51. prunning atau pemangkasan dan pemupukan secara teratur.575 m3.Tabel 2. Hal.875 m3.875 Dari Tabel 2.654 769.149 759. produksi menurun sampai 165. seperti gambar di bawah ini (Gambar 1). Pada tahun 2008. Gambar 1. Tegakan Sengon di Hutan Negara (Perhutani-Kedu Selatan) Figure 1. Sedangkan di kabupaten Temanggung rata-rata produksi pertahunnya hanya 39.529 m3. Produksi kayu sengon di kabupaten Wonosobo dan Table 2.

(Ismatul Hakim.200 1. Kalika Karisma CV. albasia Albasia Mahoni. C. Perkiraan Permintaan Kayu Bulat Sengon Ketersediaan bahan baku sengon hampir di seluruh wilayah Wonosobo dan Temanggung telah mendorong bermunculnya industri-industri pengolahan kayu.150 Nama Perusahaan CV.. Albasia dan Rimba Campur Mahoni. Arba'un Putra UD. Pinus dan Mahoni Mahoni. Andika UD.. Mudrik UD. baik skala kecil.Kerjasama ini diawali dengan perambahan hutan oleh masyarakat. total wilayah yang ditanamani sengon secara swadaya adalah 1813 ha. Albasia dan Rimba Campur Mahoni dan Surian Albasia Albasia dan Rimba Campur Albasia dan Rimba Campur Mahoni. Jaya UD. Surian. Untuk seluruh wilayah RPH Sapuran. 75% untuk perum perhutani. Mekar Abadi PT.200 2. Citra Nilam Raharja UD.200 450 480 900 musiman 560 900 880 2600 480 900 2000 800 1200 1200 Sumber : Dinas Kehutanan Wonosobo. Karya Cipta Mandiri UD. Albasia Sumber Jaya UD.4 Ha (umur sengon 1 tahun). Tirta Jaya UD.600 30. Karya Prima UD.. kemudian penanaman sengon tanpa persetujuan pihak perum perhutani. Albasia dan Rimba Campur Kapasitas Ijin (m3/tahun) 2000 . Putra Mekar Indah UD. Bangun Rimba Sejahtera UD. yaitu damar dan pinus. Kebutuhan bahan baku sengon industri di Kabupaten Wonosobo sebesar 66. Karya Mandiri CV.000 13. Candra Putih UD. Sampai akhirnya ditertibkan melalui PHBM. Sedangkan untuk tanaman pokok.000 1.6000 2000 . Surian dan Albasia Albasia dan Rimba Campur Albasia dan Rimba Campur Mahoni dan Surian Albasia dan Rimba Campur Mahoni. sedangkan penanaman sengon melalui kerjasama dengan swasta. yaitu dengan PT.. Surian..6000 > 6000 > 6000 2000 – 6000 < 2000 < 2000 < 2000 < 2000 < 2000 < 2000 < 2000 < 2000 < 2000 < 2000 2000 – 6000 < 2000 < 2000 < 2000 2000-6000 < 2000 < 2000 < 2000 Kebutuhan bahan baku sengon (m3) 3. menengah dan besar. bagi hasilnya 25 % untuk masyarakat. Bagi hasil untuk pohon sengon adalah 60% untuk masyarakat (selaku pemilik pohon) dan 40% untuk perum perhutani (selaku pemilik lahan hutan). Indartik dan Elvida Y. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Total 66.. Suryandari) . Tunas Madukoro Indah UD. Kapasitas ijin dan kebutuhan bahan baku sengon di Kabupaten Table 3. diolah 105 Analisis Tataniaga dan Pasar Kayu Sengon di .. Tabel 3.. Alam Raya UD.. Yudi Putra UD. Mitra Usaha Sejahtera UD. Wonosobo 2008 ( The license capacity and demand for sengon raw Material in Wonosobo districts) No. SSSWI PT. Alam Raya Jenis HH yang diproduksi Albasia dan Rimba Campur Albasia Albasia Albasia. kerjasama antara perum Perhutani dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).600 1. Kayu Luar Jawa & Kayu Import Pinus Albasia dan Rimba Campur Albasia. Surian. Rimba Kencana UD. Mitra Utama UD. Albasia dan Rimba Campur Mahoni. Albasia dan Rimba Campur Mahoni.150 m3/tahun pada tahun 2008 (Tabel 3). Badara Alam Lestari seluas 371 Ha (umur sengon 2 tahun) dan CV Mekar Abadi seluas 54.

6 No. Sehingga kebutuhan bahan baku sengon diperoleh dari daerah lain. termasuk Kabupaten Temanggung. 730. Hal.150 m3.000/m3 (Gambar 3).000 m3/tahun pada Oktober 2007 . Rp.581 m3/tahun. 1. PT Dharma Setya Nusantara (DSN) di Kabupaten Temanggung memiliki kebutuhan bahan baku ± 120. Produksi kayu sengon Kabupaten Wonosobo tidak hanya untuk mencukupi industri lokal. Boyolali. Karanganyar dan Pacitan.-/ m3 (Gambar 2). seperti : Wonosobo. Peningkatan permintaan kayu sengon ini menyebabkan kenaikan harga kayu sengon di setiap level pemasaran. Harga kayu sengon pada tingkat industri mencapai Rp. Purbalingga. sedangkan kebutuhan bahan baku industri hanya 66. Sebagai contoh.529 m3. seementara produksi kayu sengon di Temanggung hanya 50.115 . 2 Juni 2009. maka Kabupaten Wonosobo masih bisa mencukupi kebutuhan industrinya.000. Purworejo. tetapi juga industri di kabupaten sekitarnya.125.Apabila dilihat produksi kayu sengon di Kabupaten Wonosobo pada tahun 2008.Oktober 2008. sebesar 165. Banjarnegara. Kebumen. 106 JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. Gambar 2. 99 . Purwokerto. Kabupaten Wonosobo (Progress of sengon log price in the level Industry in Wonosobo district) Peningkatan harga kayu bulat sengon turut mendorong kenaikan harga papan kayu sengon. Perkembangan harga kayu bulat sengon di tingkat industri di Figure 2.

. Petani biasanya menjual sengon dalam bentuk tegakan (pohon sengon). informasinya didasarkan pada wawancara dan pengamatan di lapangan. Petani Sebagian besar petani adalah pemilik lahan tegalan yang ditanami oleh sengon.. Dengan adanya perbedaan saluran dan panjang pendeknya saluran pemasaran ini akan mempengaruhi tingkat harga. (Ismatul Hakim. Pihak-pihak yang terlibat dalam pemasaran kayu sengon meliputi : 1. Wonosobo (Progress of sengon timber price in the level of industry In Wonosobo district) C... Indartik dan Elvida Y. Distribusi sengon dari pusat produksi (petani) hingga ke konsumen akhir. memiliki daur relatif pendek (5-8 tahun) dan memiliki pasar yang jelas. Suryandari) . Sengon dipih petani karena budidayanya telah dikuasai.... Alasan petani menjual pohon sengon didasarkan pada kebutuhan petani seperti perlu biaya untuk hajatan.. bagian keuntungan dan biaya serta margin pemasaran yang diterima setiap pelaku pemasaran kayu sengon. Saluran Pemasaran Banyak jalur yang digunakan petani dan lembaga pemasaran dalam memasarkan kayu sengon. 107 Analisis Tataniaga dan Pasar Kayu Sengon di ..Gambar 3. sehingga seringkali disebut dengan perilaku “tebang butuh”. uang sekolah maupun keperluan yang lain. Perkembangan harga papan sengon di tingkat industri di Kabupaten Figure 3.

Community forest of sengon 2. sehingga mereka dapat langsung mendapatkan kayu sengon dalam jumlah besar untuk dikirimkan langsung ke industri pengolahan kayu.Gambar 4. Hal. Depo (tempat penimbunan kayu sengon) Figure 5. Pedagang Pengepul 2 (Depo) Pedagang pengepul ini memiliki modal relatif besar dan memiliki tempat semacam TPk. akan tetapi mereka juga memiliki sawmill kecil sehingga dapat langsung memenuhi permintaan industri dalam bentuk balken atau yang lain. bongkar muat dan transportasi ke Depo menjadi beban penebas. Penebas dapat membeli pohon sengon milik petani baik dalam jumlah banyak maupun 1 atau 2 pohon saja. (logging piled) 108 JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 3.115 . Pedagang Pengepul 1 (penebas) Penebas adalah pedagang yang langsung membeli sengon pada lahan petani berupa tegakan (pohon sengon). Gambar 5. Bahkan beberapa pedagang ini biasanya meminjamkan modal kepada penebas. 2 Juni 2009. 99 . 6 No. Pemilik Depo terkadang tidak hanya mempunyai tempat penimbunan kayu. Hutan rakyat sengon Figure 4. Sehingga upah menebang. karena petani biasanya menjual berdasarkan kebutuhan.

Wonosobo). 5.. Industri pengolahan kayu sengon Figure 6.. Timber industry for sengon wood Secara umum saluran distribusi kayu sengon di kabupaten Wonosobo dan kabupaten Temanggung adalah sebagai berikut : 5 3 Petani 1 Penebas 2 Depo Suplier 4 Gambar 7. Value chain channel of sengon wood Industri 109 Analisis Tataniaga dan Pasar Kayu Sengon di . sesuai permintaan industri berdasarkan kualitas (ukuran diameter dan mutu tertentu) dan kepastian jumlah kayu sengon yang akan dipasok ke industri. Gambar 6... bare core (lapis dalam kayu lapis). Biasanya supplier telah memiliki kontrak kerja dengan industri pengolahan kayu.. Produk yang biasanya dihasilkan antara lain adalah lembaran vinir (kayu lapis). Indartik dan Elvida Y. (Ismatul Hakim. block board (papan blok) hingga kayu lapis. laminating joint finger (kayu lamina). bahkan ada yang mendapatkan langsung dari petani (kasus PT Mekar Abadi.4.. Suryandari) .. Supplier Supplier adalah pedagang pemasok industri yang biasanya memperoleh bahan baku dari pemilik depo. Industri Pengolahan Kayu Industri pengolahan kayu yang terdapat di kabupaten Wonosobo dan temanggung biasanya memperoleh bahan baku dari depo atau supplier... Saluran tata niaga kayu sengon Figure 7.

(2) biaya bongkar muat. 110 JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. panjang saluran pemasaran yang dilalui. 2. 1. Komponen biaya (pemasaran) di tingkat penebas. Karena depo yang menjadi contoh sekaligus pemilik sawmill maka komponen biaya pemasarnnya adalah : (1) transport. Jenis biaya pemasaran yang harus dikeluarkan penebas antara lain : (1) biaya penebangan. Petani . Petani Penebas (pengepul 1)-Depo (pengepul 2)-Industri 5. 6 No.Untuk biaya administrasi SKAU kayu di Kabupaten Wonosobo sebesar Rp. Sedangkan di Kabupaten Temanggung sudah diatur melalui PERDA. jumlah lembaga pemasaran yang turut berperan aktif dalam pemasaran. Besarnya keuntungan yang diterima oleh masing-masing pelaku pemasaran relative terhadap harga yang dibayar konsumen dan atau relative terhadap biaya pemasaran terkait dengan peran yang diakukan oleh masing masing pelaku. (2) biaya bongkar muat. Biaya bongkar muat termasuk bonus buat sopir (Tabel 4).000 per dokumen. jumlah sengon yang dipasarkan. Identifikasi biaya di tingkat lembaga pemasaran secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut : 1.-. Semakin tinggi proporsi harga yang diterima produsen. Rata-rata kayu yang diangkut depo per truk yaitu 8 m3. jarak petani ke konsumen. terdapat 5 saluran tata niaga antara lain : 1. 99 . bagian keuntungan dan biaya dari tiap lembaga pemasaran serta bagian harga yang diperoleh petani. (4) biaya administrasi (Tabel 4).Dari Gambar 7. (3) biaya gergajian. Komponen biaya depo pada dasarnya sama dengan penebas. Komponen biaya pemasaran di tingkat pedagang pengumpul 2 (DEPO).Depo (pengepul 2)-Supplier(pengepul3)-Industri. tidak memperhatikan berapa kubik kayu yang diangkut.875. Petani industri C. (3) biaya transport.115 . 15. Petani Penebas (pengepul 1)-Supplier(pengepul3)-Industri 4. 2 Juni 2009. Berdasarkan pada saluran pemasaran yang dilalui. 3. sistem pembayaran dan daerah tujuan pemasaran akan membedakan besarnya biaya yang dikeluarkan dalam aktivitas pemasaran yang selanjutnya akan mempengaruhi besarnya margin pemasaran. dimana setiap pengangkutan 1 m3 kayu sengon dikenai biaya administrasi sebesar Rp 1000/m3. semakin efisien system pemasaran tersebut. Margin Pemasaran Analisa margin pemasaran dapat digunakan untuk mengetahui distribusi margin pemasaran yang terdiri dari biaya dan keuntungan dari setiap aktivitas lembaga pemasaran yang berperan aktif. serta untuk mengetahui bagian harga (farmer share) yang diterima petani. 2. Petani Penebas (pengepul 1)-Depo (pengepul 2)-Supplier(pengepul3)-Industri. sehingga per m3 biaya administrasinya sebesar Rp. Tujuan analisis margin pemasaran bertujuan untuk elihat efisiensi pemasaran yang diindikasikan oleh besarnya keuntungan yang diterima oleh masing-masing pelaku pemasaran. Hal. Kabupaten Wonosobo belum secara khusus mengatur tata niaga kayu di daerahnya. tetapi untuk depo biasanya dikenai komponen biaya administrasi berupa SKAU (Surat Keterangan Asal Usul) kayu.

.000 5.000 per m3. 2. Cost component of value chain actors Biaya di tingkat penebas (Cost in the level of harvesting ) (m3) Kaliwiro Kandangan (Wonosobo) (Temanggung) 65. Komponen biaya pemasaran di tingkat industri Industri pengolahan kayu merupakan konsumer akhir (end user) dari kayu bulat.000 25. membagi pemasok berdasarkan 3 daerah yaitu : (1) Wonosobo. Tetapi berdasarkan informasi responden depo. (2) Selomerto.. (3) administrasi. Karena keterbatasan waktu penelitian. Pedagang pemasok adalah kelompok pedagang yang akan memasok bahan baku ke industri pengolahan.188 Sumber (Source) : Analisis data primer (primary data analysed) 3. PT. Suryandari) . Karya Mandiri di Wonosobo dan (3). 4 5 110.000 0 0 50. Biaya pemasaran yang menjadi beban industri adalah biaya yang terkait dengan penjualan produk hilir bukan produk kayu bulat. (Ismatul Hakim.000 15. PT. Sebagai contoh untuk PT SSWI (Surya Sindoro Sumbing Wood Industry).000 0 0 Biaya di tingkat depo (Cost in the level of depo (m3) ) Kaliwiro (Wonosobo) 0 35..875 Kandangan (Temanggung) 0 20.Tabel 4. Responden industri dalam penelitian ini adalah (1). Pedagang pemasok untuk industri biasanya merupakan orang kepercayaan perusahaan.. Indartik dan Elvida Y. Secara umum harga kayu bulat di tingkat petani berdasarkan keliling pohon seperti dalam Tabel 5 dan Tabel 6.500 22.000 86.750 18.. (3) Sapuran. Komponen biaya pemasaran di tingkat pedagang pemasok (suplier). (2) CV.5000-10. SSWI di Wonosobo.875 54.750 56.. Darma Satya Nusantara (DSN) di Temanggung.. Komponen biaya pemasarn di tingkat pedagang pemasok meliputi : (1) biaya bongkar muat. 4. (2) transport. 3..000 20.688 1000 No Jenis Biaya (Cost type) Biaya tebang (cutting cost) Transport (transportation) Biaya bongkar muat (loading cost) Biaya gergajian (sawmill cost) Biaya administrasi (administration cost) Jumlah (total) 1. responden suplier tidak bisa ditemui di lapangan. rata-rata supplier mengambil untung per m3 antara Rp.000 1.000 18.. Komponen biaya pelaku tata niaga Table 4. 111 Analisis Tataniaga dan Pasar Kayu Sengon di .000 5. Pemasok ini bisa merangkap sebagai depo.

000. 6 No.000 belum termasuk biaya tetap (belum termasuk biaya tetap ) (not included fixed cost) (not included fixed cost ) Sumber (Source) : Analisis data primer (Primary data analyzed) 112 JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol.2 1 0.000 134.3-0.000 705.000 650.500 1.115 . Tabel 7.000 625.655. The price of sengon log in every level of marketing No.813 710.625 148.000 Wonosobo Depo (middle man) 420.000 680.713 122. 1 2 3 4 Pelaku Pasar (market actors) Petani (farmer) Penebas (harvester) Depo (middle man) Industri (industry) Margin keuntungan (revenue margin)(Rp/m3) Wonosobo Temanggung 328.000 680.000 305.000 250.000 625.000 Suplier 430.000 400.6 Sumber (Source) : Analisis data primer (primary data analysed) Tabel 6.000 930.000 830.000 550. Analisis Margin Keuntungan Kayu Sengon di Wonosobo dan Table 7.000 800. Hal ini diduga masa penen di Temanggung di tingkat petani berkisar antara 5 6 tahun.000 Sumber (Source) : Analisis data primer (Pimary data analysed) Dari Tabel 5 dan 6. Harga jual kayu bulat sengon untuk setiap tingkat pemasaran Table 6.000 920.000 580.000 820. 2 Juni 2009. 1 2 3 4 5 6 Diameter (diameter) (cm) 10 -14 15-19 20-24 25 .000 690.000 700.825 145.000 605.000 400. Hal.000 80.000-100.000 Temanggung Penebas Depo Suplier (harvester) (middle man) 280.29 30-39 40 up Penebas (harvester) 350.000 300.000 150.000 66.000 620.9 0. sedangkan di Wonosobo berkisar 8 tahunan.Tabel 5.000-70.000 425. Temanggung (Wonosobo (Revenue margin analyzed for sengon wood in Wonosobo and Temanggung) No. Harga jual kayu sengon di tingkat petani Table 5.000 60.000 1. terlihat harga di tingkat petani dan pedagang pengumpul di Kabupaten Temanggung lebih murah dibandingkan di Kabupaten Wonosobo. Analisis margin keuntungan kayu sengon di Kabupaten Wonosobo dapat dilihat pada Tabel 7.000 790.000 720.000 560.000 400.000 780.000 Perkiraan (approximate ) (m 3) 1.000 450. 99 . The price of sengon wood in the level of farmer No 1 2 3 4 Keliling (cm ) (circumtances ) Keliling 100 Keliling 90 Keliling 80 < 80 Harga (Rp/ pohon (tree)) (Price) Wonosobo Temanggung 500.

0 75...6 84.6 52. Bagian Keuntungan setiap Pelaku Pemasaran di Temanggung Table 9.9%) diperoleh petani.000 710. Demikian juga di Kabupaten temanggung.2 400000 600000 10..825 10. (Ismatul Hakim. dimana industri mendapat share keuntungan terbesar yaitu 75.655.000 Sumber (Source) : data primer diolah (Primary data analyzed) 113 Analisis Tataniaga dan Pasar Kayu Sengon di . Sedangkan share keuntungan terkecil baik di Kabupaten Wonosobo (5.625/m3 diperoleh petani dalam jangka waktu 8 tahun. 1 2 3 4 5 Pelaku (actors) Petani (farmer) Penebas (harvester) Depo (middle man) Suplier Industri (industry) Keuntungan (Benefit) Harga Jual (Sell Price) Harga Beli (Buy price) 122.9 10. Pembagian Keuntungan setiap Pelaku Pemasaran di Wonosobo Table 8.3 28. Suryandari) .6%) dan Temanggung (2. Margin keuntungan petani Wonosobo sebesar Rp 328.9 42.. Indartik dan Elvida Y. sedangkan margin keuntungan pelaku pemasaran yang lain diperoleh pada setiap transaksi perdagangan. Benefit shared for every market actors in Temanggung No.6 92.000 134..000 700000 1. dimana industri menerima share paling tinggi yaitu 92. Revenue shared for every market actors in Wonosobo No.6%.9 72. Tabel 8.900.000 2.. Share keuntungan masing-masing pelaku pemasaran di Wonosobo dapat dilihat pada Tabel 8..500 535000 695000 730000 1497500 303000 535000 695000 730000 Bagian Keuntungan (Shared benefit) (%) 5.Margin keuntungan yang diterima petani sebagai produsen kayu sengon relatif kecil dibandingkan pelaku tananiaga lainnya (Tabel 7) jika dilihat dari faktor resiko dan volume produksi (omzet penjualan) pada tingkat petani.000 145.813 Harga Jual (sell price) Harga Beli (buy price) 246250 400000 600000 700000 Keuntungan (Benefit) (%) 2.2% (Tabel 9).6 Sumber (Source) : data primer diolah (Primary data analyzed) Tabel 9.. 1 2 3 4 5 Pelaku (actors) Petani (farmer) Penebas (harvester) Depo (middle man) Suplier Industri (industry) Keuntungan (benefit) 66..

Share keuntungan paling rendah diterima oleh petani yaitu hanya 5. Dinas Kehutanan dan Perkebunan kehilangan catatan data peredaran kayu sengon sehingga memerlukan adanya penyempurnaan sistem TUK.IV. 2. Hal. Dinas Kehutanan dan Perkebunan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten.33/2007)terdapat hal-hal yang dapat menghambat dalam pengembangan pengusahaan sengon rakyat antara lain: (a) Dengan sistem SKAU. supplier dan industri. depo. KESIMPULAN 1. 2 Juni 2009. Koordinasi yang lemah antara kedua instansi ini dapat mengancam terhadap kelestarian produksi kayu sengon rakyat 114 JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. Departemen Kehutanan. Pada tahun 2008 di Kabupaten Wonosobo produksi menurun sampai 165. Dalam hal penerapan system SKAU (Permenhut 51/2005. 3. perlu adanya peningkatan optimasi dan efisiensi system tata niaga kayu rakyat dari hulu sampai hilir. SARAN Disarankan agar dalam pemberian ijin pendirian sawmill dan pabrik pengolahan kayu sengon oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) sebaiknya memperhatikan potensi hutan rakyat yang ada. Untuk mengoptimalkan penerapan Permenhut tersebut diatas perlu adanya peningkatan koordinasi antara para pihak terkait seperti Balai Peredaran Hasil Hutan sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan.529 m3 karena adanya serangan penyakit Karat Tumor dan adanya masa transisi dalam penerapan sistem tata usaha kayu (TUK) rakyat dari system SKSHH (Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan) yang baru ke system SKAU (Surat keterangan Asal Usul Kayu) sehingga jumlah produksi kayu rakyat banyak yang tidak terpantau.9% di Kabupaten Temanggung. 99 . B. serta meningkatkan koordinasi dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat. Hal ini untuk melindungi petani dari berbagai sistim penjualan kayu rakyat yang tidak menguntungkan petani seperti system ijon. UPT Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Tengah yang menangani Peredaran Hasil Hutan. (b) Adanya peluang munculnya biaya transaksi yang tinggi (pungutan liar).penebas. 6 No. KESIMPULAN DAN SARAN A.115 .6% di Kabupaten Wonosobo dan 2. Perlu dibentuk usaha bersama petani (koperasi) atau badan penyangga yang dapat mengatasi tebang butuh yang cenderung menekan harga kayu sengon di tingkat petani. P62/2006 dan P. belum adanya system pembiayaan modal modal dan sarana produksi untuk mendukung usahatni hutan rakyat. Terdapat 5 (lima) saluran tataniaga kayu sengon baik di Kabupaten Wonosobo dan Temanggung. dimana pelaku pemasaran antara lain petani. Dalam rangka mempertahankan kesinambungan produksi kayu rakyat. Produksi kayu sengon di Wonosobo mengalami peningkatan dari tahun 2005 hingga tahun 2007 jauh di atas tingkat produksi kayu sengon di kabupaten Temanggung. Meskipun tingkat produksi yang menurun di satu pihak tetapi tetap terdapat kecenderungan adanya peningkatan permintaan kayu sengon oleh industri yang menyebabkan kenaikan harga kayu sengon di setiap level pemasaran.

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Temanggung. Suryandari) . Temanggung. Fakultas Pertanian. Wonosobo.. Second Edition Cornell University Press.. Robinson. Wonosobo Dalam Angka. Gujarati. Penerbit Universitas Muhamadiyah Malang.. Rahmawaty. Hardiyanto EB. 1999. Pemasaran Pertanian.. Ekonometrika Dasar. 1990. Pengantar Tata Niaga Pertanian. Fakultas Pertanian USU.. 115 Analisis Tataniaga dan Pasar Kayu Sengon di . Penerbit Erlangga. Upaya Pengendalian Karat Tumor . Z. (UMM Press). Jakarta. Sudiyono. Agricultural Product Prices. Malang. D. Indartik dan Elvida Y. BPS Wonosobo. Tinjauan Aspek Pengembangan Hutan Rakyat. 2005. 2008. Alih Bahasa Sumarno Zain.. 2001. Drama Satya Nusantara. IPB.. Departemen Pertanian Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi. 1982. A. 2004. eUSU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara. Bogor. (Ismatul Hakim.E and Kenneth L.2006. Ithaca. Kerjasama UGM dan PT. Tomek. Statistik Kehutanan Kabupaten Temanggung Tahun 2005. W.DAFTAR PUSTAKA Azzaino... Temanggung.