Jurnal Kimia Indonesia

Vol. 2 (1), 2007, h. 1-6 Artikel Review

Modifikasi Asetilkolinesterase dengan Mutasi Kombinasi Secara In Silico Untuk Biosensor Organofosfat
Sudarko, Devit Suwardiyanto dan A.A Istri Ratnadewi Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Jember Jln. Kalimantan 37, Jember 68121
Email: darko@unej.ac.id Abstrak. Pengawasan lingkungan dari insektisida yang mempengaruhi kesehatan manusia dan ekosistem, telah menjadi pusat perhatian karena penggunaan insektisida di dunia. Deteksi insektisida di lingkungan dapat dilakukan dengan biosensor yang menggunakan asetilkolinesterase. Dalam penelitian ini telah dilakukan modifikasi asetilkolinesterase Torpedo californica secara in silico (simulasi komputer). Modifikasi ini bertujuan untuk meningkatkan sensitifitas dan kespesifikan terhadap organofosfat. Modifikasi asetilkolinesterase dilakukan secara in silico dengan program Modeller 6.2 dan untuk mengetahui efek modifikasi terhadap sensitifitas dan kespesifikannya digunakan program AutoDock 3.0. Strategi yang digunakan untuk memperoleh mutan yaitu dengan kombinasi mutan tunggal yang diharapkan dapat meningkatkan sensitifitas enzim terhadap organofosfat. Dalam penelitian ini tidak dapat diperoleh asetilkolinesterase yang lebih sensitif dan spesifik terhadap organofosfat. Kesulitan prediksi efek mutasi terhadap inhibisi organofosfat terjadi karena adanya dua model pengikatan organofosfat yang dipengaruhi oleh konsentrasi. Namun dengan strategi ini diperoleh mutan yang lebih sensitif dan spesifik terhadap karbamat. Hasil terbaik untuk peningkatan sensitifitas dan kespesifikan karbamat terjadi pada mutan F330A dengan peningkatan ki sebesar 0,42 untuk karbaril dan 0,31 untuk karbofuran. Kata kunci: asetilkolinesterase, biosensor, insektisida, pemodelan homologi, docking.

Pendahuluan Pengawasan lingkungan dari insektisida yang mempengaruhi manusia dan ekosistem, telah menjadi pusat perhatian. Organofosfat dan karbamat merupakan insektisida yang banyak digunakan dan memiliki kemampuan untuk menggantikan organoklorin seperti DDT, aldrin, lindane, dan lain-lain. Insektisida ini memiliki persistansi lingkungan yang rendah dibanding organoklorin, tetapi memiliki tingkat keracunan yang lebih tinggi.1 Biosensor berdasar inhibisi pada aktifitas beberapa enzim telah digunakan untuk pengukuran polutan dalam lingkungan.2 Hal ini, karena sistem sensor tersebut telah mampu memberikan cara analisis suatu polutan secara cepat, mudah dan handal pada jumlah renik. Dalam pengembangan biosensor, penggunaan enzim sangat bermanfaat dan menjanjikan.3,4 Dari penelitian yang telah dilakukan Kovarik et al5 dapat diketahui bahwa subtitusi residu F338A dan Y337A (penomoran berdasarkan asetilkolinesterase tikus), menghasilkan peningkatan konstanta inhibisi organofosfat

sebesar dua kali lipat. Mutasi yang sama dapat dilakukan pada asetilkolinesterase Torpedo c., yaitu pada F331 dan Y334 (Barril et.al, 2001).6(??) Modifikasi asetilkolinesterase Drosophila m. untuk deteksi insektisida yang dilakukan oleh Boublik et al7, menunjukkan bahwa mutasi F330L, Y370A, dan F371I dapat meningkatkan sensitifitas enzim terhadap organofosfat. Subtitusi residu F371I menghasilkan sensitifitas yang lebih tinggi dibanding subtitusi residu F371A. Mutasi yang sama dapat dilakukan pada asetilkolinesterase Torpedo c., yaitu pada residu F290, Y330, dan F331. Salah satu strategi untuk meningkatkan kinerja asetilkolinesterase untuk biosensor organofosfat adalah dengan meningkatkan kespesifikan dan sensitifitas enzim terhadap organofosfat. Pada penelitian ini dilakukan modifikasi sisi aktif asetilkolinesterase secara in silico (simulasi komputer), selanjutnya untuk mengetahui kespesifikan dan sensitifitas enzim hasil modifikasi tersebut dilakukan uji interaksi antara enzim hasil modifikasi dengan substrat maupun beberapa jenis inhibitor (heptenofos, diklorfos, karbofuran, karbaril).

Dapat dibaca di www.kimiawan.org/journal/jki

orientasi. Batasan tersebut diperoleh dari analisis statistik hubungan pasangan-pasangan protein homolog. Kemudian. setiap variabel sesuai dengan genotip dan koordinat atom sesuai dengan fenotip. MODELLER mengimplementasikan pendekatan pemodelan menggunakan perbandingan struktur protein. Linux Debian Sarge Testing yang dilengkapi dengan program aplikasi AutoDockTools. atau sudut dihedral dari dua protein yang berhubungan. Konsep AG berdasar pada evolusi biologis. Jika perubahannya lebih disukai.75 Å yang dipusatkan pada sisi aktif serin. maka algoritma akan mengambil langkah yang berlawanan. Dalam AutoDock. Pencarian lokal diturunkan dari sebuah algoritma oleh Solis dan Wets. Struktur X-ray tunggal digunakan sebagai template untuk pemodelan homologi. Kemudian program AutoDock menghitung energi interaksi antara konformasi ligand fleksibel dan setiap titik grid melalui kombinasi algoritma pencarian. orientasi. Dalam AG. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain. yang meliputi F288L. Energi potensial setiap titik grid dihitung menggunakan program AUTOGRID. F331I. dan Y334A dilakukan dengan program MODELLER. seperti korelasi antara jarak ekivalen Cα . Pertama. dan konformasi sampai sisi ideal ditemukan.05.Sudarko. AutoDock 3.2 yang terdapat pada TRITON 3. Pymol dan ChemOffice 2000 Preparasi Ligand dan Protein. maka diterima dan sebalikknya jika tidak. dibuat dengan mutasi virtual dari pemodelan homologi. Struktur X-ray diperoleh dari protein data bank (E105). fenotip ligand dapat dihitung energinya berdasar fungsi energi bebas. struktur 2D ligand digambar dengan ChemDraw Ultra (modul ChemOffice 2000).26 MHz dengan memori 128 MB dan sistem operasi Microsoft Windows XP Pro. 1993).12 Hasil dan Pembahasan Proses Mutasi in Silico. AutoDock menggunakan AG sebagai metode pencarian global dan sebuah pencarian lokal (PL) adaptive. Proses tersebut membutuhkan waktu kurang lebih 40 menit untuk tiap mutan. penataan ligand didefinisikan dengan sebuah set variabel keadaan yang mendefinisikan translasi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. 2(1).10 Docking.A Istri Ratnadewi Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2005 sampai Juni 2005 di Jurusan kimia. Titik grid yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 80x80 dengan spasi grid 3. Struktur mutan dan wild type Torpedo c. dan mengombinasikannya ke dalam fungsi objektif. dan konformasi baru yang diperoleh dievaluasi dengan fungsi energi. Dari gen tersebut. Ligand dibuat menggunakan ChemOffice 2000. Pemodelan Homologi. Terakhir.8 Pemodelan dimulai dengan penataan sequence yang akan dimodelkan (target) dengan struktur protein tiga dimensi yang telah diketahui (cetakan). AutoDock 3. Analisis ini berdasar pada database penataan 105 famili yang termasuk 416 protein yang telah diketahui strukrur tiga dimensinya. 2007 . struktur 2D diekspor ke struktur 3D dengan Chem3D.2 Å dan tahap rotasi 5°. dimana langkahlangkahnya ditentukan. Selanjutnya. Perubahan energi antara dua konformasi dihitung seperti pada algoritma Monte Carlo. model diperoleh dengan mengoptimasi fungsi objektif dalam ruang kartesian. Autodock 3. Kombinasi kelima macam mutan tunggal tersebut menghasilkan tiga puluh dua macam mutan termasuk asetilkolinesterase asli (wild type) hasil optimasi MODELLER. struktur 3D diminimalisasi energinya dengan teori PM3 dalam MOPAC 7 (modul ChemOffice 2000). akan diperoleh tabel mengenai berbagai korelasi.. komputer Intel Xeon 2. AutoDock merupakan program yang dikembangkan untuk memprediksi interaksi ligand dengan target biomakromolekul. Posisi awal dan sudut dihedral dipilih secara acak dan terakhir simulasi 150 docking dijalankan untuk memperoleh struktur kompleks dari ligand yang secara statistik diterima. batasan hubungan dan term energi CHARM memperkirakan stereokimia yang cocok.4 MHz dual prosessor dengan memori 512 MB dan system operasi Linux Debian Sarge Testing yang dilengkapi dengan program aplikasi AutoDockTools.Cα.11 Program AUTOTORS menentukan ikatan yang mungkin berotasi pada molekul ligand. Mutasi kombinasi mutan tunggal pada asetilkolinesterase. dan konformasi ligand.0 dapat menggunakan algoritma genetik (AG) Lamarckian sebagai fungsi pencarian untuk simulasi docking. F290L. Setelah itu dilakukan penghitungan batasan pada sequence target yang dihitung dari penataannya dengan struktur tiga dimensi template. F330A. ligand pada awalnya diacak diluar protein. serta komputer Intel Pentium 4 2.9 Dengan penelusuran database. Data struktur dimanipulasi menggunakan MODELLER 6. kemudian melakukan translasi.05 dan TRITON 3. Dalam simulasi docking. 2 Jurnal Kimia Indonesia Vol.0. (Sali et al. Tahap translasi yang digunakan sebesar 0.0. Devit Suwardiyanto dan A. Universitas Jember.

105x10-5 terhadap ki wild type.00 12. Kombinasi mutan tunggal yang dilakukan dalam penelitian ini menyebabkan bertambah besarnya ruang gorge asetilkolinesterase. Ikatan asetilkolin seperti pada Gambar 1.00 16. 20. Gambar 4. Pada beberapa mutan.00 6. Y130 dan E199. sedangkan E199 melalui interaksi elektrostatik. seperti pada Gambar 4.400 0.00 Ty p F2 e 88 F3 L 30 A F2 F 88 33 L/ 1I F2 F 88 290 L F2 / F3 L 88 30 F2 L/ Y A 90 33 L 4A F2 / F3 90 30 F2 L/ F A 90 33 F3 L/ Y 1I 30 33 A 4A F2 F /Y 88 33 33 L/ 1I 4A F2 F3 / Y3 88 30 34 F2 L/ F A/Y A 90 33 33 4 1 L F2 / F3 I/Y3 A 3 90 30 L/ A/ 4A F3 Y3 31 3 4 I/Y A 33 4A ki (10 ) -5 W ild Mutan Gambar 2. Model Pengikatan Substrat pada Sisi Aktif Serin Gambar 3.000 Ty F2 pe 8 F3 8L 30 F2 A 8 F3 F2 8L/ F 31I 88 29 F2 L/ F 0 L 8 3 F2 8L/ Y 30 A 90 33 F2 L/ F 4 A 9 33 F2 0L 0 A 9 /F F3 0L/ 331 30 Y3 I F2 A 34 88 F3 /Y3 A L/ 31 34 F2 F I/ 8 33 Y A F2 8L/ 0 A 334 90 F3 /Y A 3 3 F2 L/ F 1 I/ 3 4 90 33 Y3 A L/ 0 A 3 4 F3 /Y A 31 33 I/Y 4A 33 4A W i ld Mutan Gambar 1.00 0. Proses perhitungan docking membutuhkan waktu rata-rata delapan jam tiap perhitungan. dan A201.200 1.000 ki (10 ) -5 0. Gugus asetil asetilkolin terikat pada kantung oksi anion melalui ikatan hidrogen antara gugus karbonil asetilkolin dengan gugus NH peptida. Dari Gambar 3 dapat diketahui bahwa mutan F290L/F330A memilki ki yang lebih tinggi dari wild type. distabilkan oleh kantung oksi anion yang terdiri dari residu G118. Akan tetapi mutan tersebut tidak dapat digunakan karena terjadi peningkatan k1 substrat yang cukup besar. Gugus ekor kuarterner trimetilamonium terikat pada sisi anionik yang terdiri dari residu W84.00 4.800 0. Dari hasil docking. G119. W84 dan Y130 berikatan dengan bagian kation melalui interaksi kation-π dan interaksi hidrofobik.00 8. Bertambahnya ukuran ruang menyebabkan energi internal ligand berkurang dan substrat lebih mudah ke sisi aktif.00 14. Ki heptenofos pada mutan F290L/F330A mengalami peningkatan ki sebesar 0.600 0.200 0. perbesaran ruang gorge menyebabkan perubahan orientasi substrat.00 10. Grafik k1 Substrat dengan Probabilitas Lebih Besar dari 50% 1. Efek Mutasi Asetilkolinesterase pada Inhibisi Organofosfat Data hasil perhitungan docking heptenofos dapat dibuat grafik seperti pada Gambar 3 (grafik hanya menampilkan mutan yang orientasi substratnya ke sisi aktif serin).00 2. Grafik k1 Substrat dengan Probabilitas Lebih Besar dari 50% Dari data probabilitas orientasi substrat dapat dikelompokkan substrat yang memiliki jumlah probabilitas orientasi substrat ke sisi aktif serin dengan nilai lebih besar dari 50% disajikan pada Gambar 2.44x10-5. Heptenofos membentuk ikatan hidrogen dengan residu S122 dan terjadi interaksi dipol-dipol induksi antara gugus C=O residu N85 dan Y70 dengan gugus –CH3 organofosfat. yaitu sebesar 4. Dari hasil docking diketahui bahwa mutan tunggal dan kombinasinya meningkatkan k1 substrat (data hasil docking pada semua mutan tidak ditampilkan pada artikel ini). sehingga k1 substrat meningkat.Modifikasi Asetilkolinesterase dengan Mutasi Kombinasi secara In Silico untuk Biosensor Organofosfat Efek Mutasi Asetilkolinesterase pada Substrat Asetilkolin sebagai substrat didocking ke semua mutan dan dibandingkan hasilnya dengan asetilkolinesterase wild type. Mutan F290L/F330A memiliki orientasi pengikatan heptenofos pada sisi periperal.00 18. Ikatan Heptenofos pada Mutan F290L/ F330A 3 . beberapa mutan memilki probabilitas pengikatan substrat pada sisi periperal.

Probabilitas pada mutan lainnya juga menunjukkan kecenderungan pengikatan ke sisi periperal.14x10-5 untuk diklorfos. Hal tersebut disebabkan inhibisi organofosfat memiliki lebih dari satu tahap inhibisi dan dipengaruhi oleh konsentrasi.Sudarko. Ada dua macam model inhibisi organofosfat. Konstanta kecepatan k+1 dan k-1 menjelaskan ikatan reversibel AB ke sisi periperal. 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Ty p F2 e 88 F3 L 30 A F2 88 F3 3 L/ 1I F2 F 88 29 F2 L/ F 0 L 88 33 F2 L/ Y 0 A 90 33 L 4 F2 / F3 A 3 9 F2 0L/ 0 A 90 F3 L/ 31 F3 Y I 30 33 A/ 4 A F2 88 F3 3 Y3 L/ 1I 34 F2 F3 / Y A 3 33 8 F2 8L/ 0 A/ 4A 90 F3 Y3 L/ 31 3 4 F2 F3 I/Y A 90 30 33 L/ A/ 4A F3 Y 31 33 I/Y 4A 33 4A Mutan Gambar 5.14 Dengan mendocking ulang kompleks ligand yang telah terikat pada sisi periperal asestilkolinesterase akan diperoleh kompleks organofosfat yang terikat di sisi periperal dan sisi aktif sekaligus. Hal tersebut sesuai dengan asumsi Kardos and Sulfatos14 bahwa organofosfat dapat membentuk kompleks AB--AChE-A.14 Model kinetika inhibisi organofosfat pada sisi periperal asetilkolinesterase dapat diilustrasikan pada Gambar 7.2x10-5 terhadap ki wild type. diperoleh tiga belas run dari 150 run yang menunjukkan orientasi ligan ke sisi aktif. yaitu 65. Hal tersebut menunjukkan bahwa organofosfat juga dapat langsung memfosforilasi sisi katalitik tanpa berikatan dengan sisi periperal terlebih dahulu walaupun dengan probabilitas yang kecil. Sedangkan yang mengunakan inhibitor heptenofos diperoleh dua belas run dari 150 run. ki’ menunjukkan perubahan ki sebagai hasil adanya ikatan pada sisi periperal. 2007 . Akan tetapi pada mutan tersebut juga terjadi peningkatan k1 substrat yang cukup besar. Devit Suwardiyanto dan A. Model pengikatan diklorfos pada mutan F290L/F330A/Y334A seperti pada Gambar 6. 2(1). organofosfat akan menyerang sisi aktif serin. Sedangkan k3 menunjukkan reaktifasi enzim. pemodelan inhibisi organofosfat pada asetilkolinesterase dengan AutoDock tidak dapat memprediksi pengaruh mutasi. AutoDock hanya dapat memprediksi probabilitas terbesar keadaan akhir model pengikatan suatu ligand pada makromolekul. dan dua titik sebelah kiri asetilkolinesterase menunjukkan ikatan reversibel AB ke sisi periperal. Pada konsentrasi rendah organofosfat menyerang sisi periperal. AutoDock memiliki keterbatasan tidak dapat memprediksi model inhibisi yang dipengaruhi oleh konsentrasi. Grafik Konstanta Inhibisi Diklorfos Gambar 6. Organofosfat kedua memiliki probabilitas 100% masuk ke sisi aktif asetilkolinesterase dengan nilai ki sebesar 1. yaitu fosforilasi irreversibel pada sisi aktif dan interaksi reversibel pada sisi peripheral. Ikatan F290L/F330A/Y334A diklorfos pada mutan Dari hasil docking diperoleh probabilitas terbesar pengikatan organofosfat terjadi pada sisi periperal dan hanya beberapa run (ulangan) yang menghasilkan orientasi organofosfat ke sisi aktif. Dari Gambar tersebut dapat diketahui bahwa mutan F290L/F330A/Y334A memiliki ki yang lebih tinggi dari wild type. Konstanta inhibisi diklorfos mutan F290L/F330A/Y334A mengalami peningkatan sebesar 4. Ketika sisi periperal telah jenuh.14 AB + AB AChE 4 Jurnal Kimia Indonesia Vol.31x10-5 untuk heptenofos dan 4.13 Pengikatan organofosfat pada asetilkolinesterase juga dipengaruhi oleh konsentrasi organofosfat. Kinetika Inhibisi Organofosfat pada Asetilkolinesterase.A Istri Ratnadewi Data hasil perhitungan docking diklorfos dapat dibuat grafik seperti pada Gambar 5.75 x 10-5. Secara keseluruhan. Pada asetilkolinesterase wild type yang diinhibisi diklorfos. AB + AChE k-1 k+1 ki' ki AChE-A + B k3 AChE + A ki (10 ) -5 W i ld k2 AB AChE AB AChE-A + B Gambar 7.

orientasi karbamat tetap pada sisi aktif serin dan tidak menyebabkan perubahan yang besar pada aktifitas asetilkolinesterase terhadap substrat.02x10-5 ke 1. Model pengikatan karbaril pada mutan F331I ditunjukkan pada Gambar 9.5 2 Gambar 9. Dari hasil docking karbaril dan karbofuran pada semua asetilkolinesterase mutan dan wild type dapat dibuat grafik seperti pada Gambar 8. Konstanta inhibisi karbaril meningkat dari 1. seperti ditunjukkan pada Gambar 10. Mutan F330A bersifat lebih spesifik untuk karbamat dibandingkan dengan mutan F331I. Perubahan tersebut disebabkan perbesaran ruang kantung asil dan perubahan kepolaran residu 331.42x10-5 ke 1. Gugus benzil karbaril dan karbofuran mengarah pada sisi anionik.5 0 Ty p F2 e 88 F3 L 30 A F2 88 F33 F2 L/F 1I 88 29 0 F2 L/F L 88 33 0 F2 L/Y A 90 33 L 4 F2 /F 3 A 90 30 F2 L/F A 90 33 F3 L/Y 1I 30 33 A/ 4A F2 88 F33 Y3 L/ 1 34 F2 F 3 I /Y A 88 30 33 F2 L/F A/Y 4A 90 33 33 L 4 1 F2 /F 3 I/Y A 90 30 33 L/ A/ 4A F 3 Y3 31 34 I/Y A 33 4A Karbaril Karbofuran W ild Mutan Gambar 8. Subtitusi residu F330A menghasilkan k1 yang hampir sama dengan mutan F331I. Inhibisi Karbaril pada Mutan F331I Gambar 10. ki (10 ) -5 1. Mutan yang memiliki peningkatan konstanta inhibisi yang hampir sama bersifat spesifik untuk karbamat.Modifikasi Asetilkolinesterase dengan Mutasi Kombinasi secara In Silico untuk Biosensor Organofosfat Efek Mutasi Asetilkolinesterase pada Inhibisi Karbamat.78 x10-5 dan k1 karbofuran meningkat dari 1. Grafik Perbandingan Konstanta Inhibisi Karbaril dengan Karbofuran Gambar 11. Pada mutan F331I k1 karbaril meningkat dari 1. Inhibisi karbofuran mengalami perubahan orientasi ligan. Inhibisi Karbaril pada Mutan F330A 5 .5 1 0.42x10-5 ke 1.02x10-5 ke 1. 3 2.33x10-5. Subtitusi F330A tidak mempengaruhi ruang kantung asil. Untuk memperoleh mutan yang spesifik untuk karbamat. Orientasi ligan berubah dari sisi esterase ke sisi periperal. Peningkatan k1 ini sesuai dengan eksperimen secara in vitro yang dilakukan oleh Boublik et al7 pada Drosophila m.84x10-5 dan konstanta inhibisi karbofuran meningkat dari 1. perlu dibandingkan konstanta inhibisi karbaril dengan karbofuran. Inhibisi Karbofuran pada Mutan F331I Seperti pada Gambar 11 dan 12. Subtitusi F331I menyebabkan berkurangnya kepolaran residu tersebut. Atom oksigen karbonil karbaril berikatan hidrogen dengan residu S200 dan gugus benzil mengarah pada sisi anionik. Gugus CH3 karbofuran berinteraksi dengan gugus A330 melalui interaksi hidrofobik. Jika dibandingkan dengan k1 substrat maka mutan yang paling bagus adalah F330A dan F331I.45x10-5.

11.. V. X. Radic. 17... J.. F. Mondacca. 1990. Manual : MODELLER (A Program for Protein Structure Modeling).. Li. Protein Eng. Belew. S. A.. E.. Overington. G. Goodsell. R.. Anal. F. 58. 33-40. User’s Guide : AutoDock Version 3. D. S. Simeonrudolf. 531-539 2. 3. 118-126.. J. Olson. A. J.. A. Current Enzyme Inhibition. M. 1639-1662. 1998.0 karena organofosfat memiliki dua model pengikatan. Sali. Enzyme Inhibition Based Biosensor for Environmental Monitoring. Arnaud. Kok..P. Devit Suwardiyanto dan A. 1582-1596. Goudou. Lougarre... S. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mempelajari mekanisme inhibisi organofosfat. F. W.. Kuswandi. Alber. Mutan F330A memiliki konstanta inhibisi satu setengah kali lebih besar dibanding dengan asetilkolinesterase wild type. R. Mutan yang spesifik untuk karbamat yaitu mutan F330A.A. M. 12. F. 1994.A. M.. Goodsell. 43-50.S. Protein Sci. Mascini. Barril.. 7. J. G. A.5. Constustion of an Acethylcholinesterase-Choline oxidase biosensor for aldicarb detection. 2(1). 15. Feyfant. Reiner. Taylor.. A Simple Optical Flow Injection Ammonia sensors. Luque. Derivation of rules for comparative protein modeling from a database of protein structure alignments. 29. Kuswandi. F.. D.. 27-36. Z. Shen. 1. Toxicological Sciences. Interaction of an organophosphate with peripheral site on acetylcholinesterase. Melo.0. Aguet.A Istri Ratnadewi 4. Sanchez. Biosensors and Bioelectronics. S. E. Boublik. 11-20. 14. Taylor.. Yerkovich. Automated Docking Using a Lamarkian Genetic Algorithm and an Empirical Binding Free Energy Function.. Orozco. Narayanaswamy. Inhibisi Karbofuran pada Mutan F330A Kesimpulan Pengaruh modifikasi asetilkolinesterase terhadap inhibisi organofosfat tidak dapat diprediksi menggunakan AutoDock 3. Interactions of the Organophosphates Paraoxon and Methyl Paraoxon with Mouse Brain Acetylcholinesterase.. 8. M. 2007 . Acetylcholinesterase Active Center and Gorge Conformation Analised by Combinatorial mutations and Enantiomeric Phosphonates. B.. yaitu pengikatan ligand pada sisi periperal dan sisi aktif serin. E.. 2003.. Fournier. R... Sultatos.. E. Kalko. Morris... 395-410.M. 19. Bozoglu..N. R. Huey. S. L. Acetylcholinesterase engineering for detection of insecticide residues. 3. A. R.. Flourescence Optical Urea Biosensor with an Ammonium Optrode as Transducer. 9.Sudarko. 2002. B. B. yaiutu dengan subtitusi residu F330A. A... Hart. M. V. O. 2(1).. D. Chem. Friboulet. Berman. Sali... Morris. J... Huey. F. P.S. Badretdinov. 31. Halliday. 1998. P. Hart..A.. Fiser. R. Renom.Y. G. Villatte. J. B. 2004. Olson. M. Halliday. 2002. Wolfbies. D. Biochem... 5. H. Madhusudhan. Rational Design of Reversible Acetylcholinesterase Inhibitors.. Kardos. Biochemistry. 2000. H. Kovarik. Y.. P.Lett. A. 2001. 1993. M.J. 161-166..G. 10. Biosensors&Bioelectronics. S. 6 Jurnal Kimia Indonesia Vol.. 6. Eswar. M. B. 2005. 2002. Amitai. Mini Rev Med Chem. Overington.. 8. E.. Release 7v7. N. R. Dari hasil penelitian ini perlu dilakukan eksperimen lebih lanjut untuk memperoleh asetilkolinesterase yang lebih spesifik dan sensitif untuk karbamat. K. G.. 13. S. S.. P. Z. Gambar 12. A. 373.. Webb. 914-920.. Oliva. W. Hasirci. Belew. F.. Comp. Pustaka 1. Rieger.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful